Anda di halaman 1dari 18

Wilna Ilhara

Rabu, 25 Januari 2017


Makalah Penyakit Kecacingan dan Filariasisi

MAKALAH
PENYAKIT KECACINGAN DAN FILARIASIS

Diajukan sebagai salah satu syarat untuk melengkapi tugas


Mata Kuliah Epidemiologi Penyakit Menular

OLEH :
WILNA ILHARA
PROGRAM STUDI KESEHATAN LINGKUNGAN
INSTITUT KESEHATAN INDONESIA
JAKARTA, 2017

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya sehingga penulis
dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Penyakit Kecacingan dan Filariasis”. Makalah ini
merupakan pembelajaran untuk mengetahui faktor resiko dan penyebab penyakit kecacingan dan
filariasis.
Harapan penulis semoga Makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi
para pembaca. Penulis sadar dalam penulisan makalah ini masih terdapat kekurangan. Penulis
mengharapkan saran dan kritik dari segala pihak.
Demikianlah makalah ini penulis buat. Semoga bermanfaat. Atas kritik dan sarannya
penulis mengucapkan terimakasih.

Jakarta, Januari 2017

Penulis

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
KATA PENGANTAR................................................................................................. ii
DAFTAR ISI.............................................................................................................. iii
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang..................................................................................................... 3
1.2 Rumusan Masalah................................................................................................ 3
1.3 Tujuan .................................................................................................................. 3
1.3.1 Tujuan Umum............................................................................................... 3
1.3.2 Tujuan Khusus.............................................................................................. 3
BAB II PEMBAHASAN........................................................................................... 4
2.1 Pengertian Penyakit Kecacingan dan Filariasis................................................... 4
2.1.1 Penyakit Kecacingan.................................................................................... 4
2.1.1.1 Epidemiologi Penyakit Kecacingan...................................................... 4
2.1.2 Filariasis....................................................................................................... 5
2.1.2.1 Epidemiologi Filariasis......................................................................... 5
2.1.2.2 Etiologi Filariasis.................................................................................. 6
2.2 Cara Penularan Penyakit Kecacingan dan Filariasis............................................ 7
2.2.1 Penularan Penyakit Kecacingan................................................................... 7
2.2.2 Penularan Filariasis...................................................................................... 8
2.3 Gejala dan Tanda Klinis Penyakit........................................................................ 9
2.3.1 Gejala dan Tanda Penyakit Kecacingan....................................................... 9
2.3.1.1 Cacing Kremi........................................................................................ 9
2.3.1.2 Cacing Gelang...................................................................................... 10
2.3.1.3 Cacing Pita............................................................................................ 10
2.3.1.4 Cacing Tambang................................................................................... 11
2.3.2 Gejala dan Tanda Filariasis........................................................................... 11
2.3.2.1 Diagnosis Filariasis............................................................................... 11
2.4 Cara Pengobatan dan Pencengahan Penyakit....................................................... 12
2.4.1 Pengobatan dan Pencengahan Penyakit Kecacingan.................................... 12
2.4.1.1 Pengobatan Kecacingan........................................................................ 12
2.4.1.2 Pencengahan Kecacingan..................................................................... 12
2.4.2 Pengobatan dan Pencengahan Penyakit Filariasis........................................ 13
2.4.2.1 Pengobatan Filariasis............................................................................ 13
2.4.2.2 Pencengahan Filariasis.......................................................................... 13
BAB III PENUTUP.................................................................................................... 15
3.1 Kesimpulan.......................................................................................................... 15
3.2 Saran..................................................................................................................... 15
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................. 16

BAB I
PEMBAHASAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit infeksi kecacingan dan filariasis merupakan salah satu penyakit yang masih
banyak terjadi di masyarakat. Penyakit kecacingan yang diakibatkan oleh infeksi Soil
Transmitted Helminth merupakan salah satu penyakit yang masih menjadi masalah kesehatan di
Indonesia. Infeksi kecacingan ini dapat mengakibatkan menurunnya kondisi kesehatan, gizi,
kecerdasan dan produktivitas penderita sehingga secara ekonomi banyak menyebabkan kerugian,
karena adanya kehilangan karbohidrat dan protein serta kehilangan darah yang pada akhirnya
dapat menurunkan kualitas sumber daya manusia.
Lima spesies cacing yang termasuk dalam kelompok Soil Transmitted Helminth yang
masih menjadi masalah kesehatan, yaitu Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Strongyloides
stercoralis dan cacing tambang (Necatoramericanus dan Ancylostoma sp). Infeksi cacing
tambang masih merupakan masalah kesehatan di Indonesia, karena menyebabkan anemia
defisiensi besi dan hipoproteinemia. Spesies cacing tambang yang banyak ditemukan di
Indonesia ialah N. americanus. Kejadian infeksi kecacingan pada anak menurut Aria Gusti
(2004), berhubungan negatif signifikan dengan perilaku sehat. Kejadian infeksi cacing tambang
pada suatu wilayah biasanya saling menyertai antara 3 spesies cacing usus penyebabnya, yaitu
Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan cacing tambang.
Diagnosis data epidemiologi berupa pengamatan manifestasi klinis, pemeriksaan
penunjang termasuk pemeriksaan imunologis. Pengobatan dilakukan dengan mebendazole,
albendazole, pirantel pamoat dan berbagai terapi suportif. Belum ada vaksin yang efektif
terhadap cacing tambang sehingga perbaikan higiene dan sanitasi adalah hal yang utama.
Sedangkan Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit menular menahun yang
disebabkan oleh cacing filaria dan ditularkan oleh nyamuk Mansonia, Anopheles, Culex,
Armigeres. Filariasis merupakan salah satu penyakit tertua yang paling melemahkan yang
dikenal di dunia. Penyakit filariasis lymfatik merupakan penyebab kecacatan menetap dan
berjangka lama terbesar kedua di dunia setelah kecacatan mental. Di Indonesia, mereka yang
terinfeksi filariasis bisa terbaring di tempat tidur selama lebih dari lima minggu per tahun, karena
gejala klinis akut dari filariasis yang mewakili 11% dari masa usia produktif. Untuk keluarga
miskin, total kerugian ekonomi akibat ketidakmampuan karena filariasis adalah 67% dari total
pengeluaran rumah tangga per bulan.
Data WHO, diperkirakan 120 juta orang di 83 negara di dunia terinfeksi penyakit
filariasis dan lebih dari 1,5 milyar penduduk dunia (sekitar 20% populasi dunia) berisiko
terinfeksi penyakit filariasis. Dari keseluruhan penderita, terdapat dua puluh lima juta penderita
laki-laki yang mengalami penyakit genital ( umumnya menderita hydrcocele) dan hampir lima
belas juta orang, kebanyakan wanita, menderita lymphoedema atau elephantiasis pada kakinya.
Sekitar 90% infeksi disebabkan oleh Wucheria Bancrofti, dan sebagian besar sisanya disebabkan
Brugia Malayi. Vektor utama Wucheria Bancrofti adalah nyamuk Culex, Anopheles, dan Aedes.
Nyamuk dari spesies Mansonia adalah vektor utama untuk parasit Brugarian, namun di beberapa
area, nyamuk Anopheles juga dapat menjadi vektor penularan filariasis. Parasit Brugarian
banyak terdapat di daerah Asia bagian selatan dan timur terutama India, Malaysia, Indonesia,
Filipina, dan China.
Hampir seluruh wilayah Indonesia adalah daerah endemis filariasis, terutama wilayah
Indonesia Timur yang memiliki prevalensi lebih tinggi. Sejak tahun 2000 hingga 2009 di
laporkan kasus kronis filariasis sebanyak 11.914 kasus yang tersebar di 401 kabupaten/kota.
Hasil laporan kasus klinis kronis filariasis dari kabupaten/kota yang ditindaklanjuti dengan
survey endemisitas filariasis, sampai dengan tahun 2009 terdapat 337 kabupaten/kota endemis
dan 135 kabupaten/kota non endemis.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa pengertian penyakit kecacingan dan filariasis?
2. Bagaimana cara penularan penyakit kecacingan dan filariasis?
3. Apa gejala dan tanda penyakit kecacingan dan filariasis?
4. Bagaimana cara pengobatan dan pencengahan dari penyakit kecacingan dan filariasis ?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui gambaran umum tentang penyakit kecacingan dan filariasis.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui pengertian penyakit kecancingan dan filariasis.
2. Untuk mengetahui bagaimana cara penularan dari penyakit kecacingan dan filariasis
3. untuk mengetahui gejala dan tanda penyakit kecacingan dan filariasis.
4. Untuk mengetahui cara pengobatan dan pencegahan dari penyakit kecacingan dan filariasis.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Penyakit Kecacingan dan Filariasis


2.1.1 Pengertian Penyakit Kecacingan
Kecacingan merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit berupa cacing.
Dimana dapat terjadi infestasi ringan maupun infestasi berat. Keluarga netamoda saluran cerna
salah satunya ialah penyakit cacing yang ditularkan melalui tanah. Penularan dapat terjadi
melalui 2 cara yaitu : 1) infeksi langsung atau 2) larva yang menembus kulit. Cacing-cacing yang
menginfestasi anak dengan prevalensi yang tinggi ini adalah cacing gelang (arcaris
lumbricoides), cacing cambuk (trichiura), cacing tambang (necator americanus) dan cacing pita.
Penularan langsung terjadi bila telur cacing dari tepi anak masuk ke dalam mulut tanpa pernah
berkembang di tanah seperti pada cacing kremi (Oxyuris vermucularis).
Selain itu, pada infeksi Ascaris lumbricoides (cacing gelang), dan Toxocara canis
penularan langsung dapat terjadi setalah periode berkembangnya telur di tanah kemudian telur
tertelan melalui tangan atau makanan yang tercemar. Sedangkan pada cacing
tambang/anjilostomiasis dan stronggiloidiasis penularan melalui kulit terjadi saat telur menetas
terlebih dahulu di tanah kemudian larva yang sudah berkembang menginfeksi melalui kulit.
2.1.1.1 Epidemiologi
Penyakit kecacingan di Indonesia masih merupakan masalah besar atau
masih merupakan masalah kesehatan masyarakat karena prevelensinya yang masih sangat tinggi
yaitu kurang lebih antara 45-65%, bahkan di wilayah-wilayah tertentu yang sanitasi yang buruk
prevalensi kecacingan bisa mencapai 80%. Cacing-cacing yang menginfestasi anak dengan
prevalensi yang tinggi ini adalah cacing gelang (arcaris lumbricoides), cacing cambuk (trichiura),
cacing tambang (necator americanus) dan cacing pita. Cacing yang tinggal di usus manusia ini
memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap kejadian penyakit lainnya misalnya kurang
gizi dengan infestasi cacing gelang yang suka makan karbohidrat dan protein diusus sebelum
diserap oleh tubuh, kemudian penyakit anemia (kurang kadar darah) karena cacing tambang suka
menghisap darah diusus dan cacing cambuk dan pita suka sekali menganggu pertumbuhan dan
perkembangan anak serta mempengaruhi masalah-masalah non kesehatan lainnya misal turunnya
prestasi belajar anak.

2.1.2 Pengertian Filariasis

Filariasis ( penyakit kaki gajah) adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh
cacing filaria dan ditularkan oleh nyamuk Mansonia,Anopheles, Culex, Armigeres. Cacing
tersebut hidup di saluran dan kalenjer getah bening. Apabila tidak mendapatkan pengobatan
dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan, payudara, dan alat kelamin
baik pada perempuan maupun laki-laki. Infeksi cacing filaria dapat menyebabkan gejala klinis
akut dan atau kronik (Depkes RI, 2005).

2.1.2.1 Epidemiologi

Filariasis menyebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Dari tahun ke


tahun jumlah provinsi yang melaporkan kasus filariasis terus bertambah. Bahkan di beberapa
daerah mempunyai tingkat endemisitas yang cukup tinggi. Perkembangan jumlah penderita
kasus filariasis dari tahun 2000 – 2009 dapat dilihat dari Gambar 1 di bawah ini

GAMBAR 1. KASUS FILARIASIS DI INDONESIA TAHUN 2000-2009


Sumber : Dikjen PP & PL Depkes RI, 2009

Berdasarkan laporan
tahun 2009, tiga provinsi dengan jumlah kasus terbanyak filariasis adalah Nanggroe Aceh
Darussalam (2.359 orang), Nusa Tenggara Timur (1.730 orang) dan Papua (1.158 orang). Tiga
provinsi dengan kasus terendah adalah Bali (18 orang), Maluku Utara (27 orang), dan Sulawesi
Utara (30 orang), dapat dilihat pada Gambar 2. Kejadian filariasis di NAD sangat menonjol bila
dibandingkan dengan provinsi lain dan merupakan provinsi dengan jumlah kasus tertinggi di
seluruh Indonesia.

GAMBAR 2. PENDERITA FILARIASIS PER PROVINSI TAHUN 2009

2.1.2.2 Etiologi
Filariasis disebabkan oleh infeksi cacing filaria yang hidup di saluran dan kelenjar getah
bening. Anak cacing yang disebut mikrofilaria, hidup dalam darah. Mikrofilaria ditemukan
dalam darah tepi pada malam hari. Filariasis di Indonesia disebabkan oleh tiga spesies cacing
filaria yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, Brugia timori.

2.2 Cara Penularan Penyakit


2.2.1 Penularan Penyakit Kecacingan
Penularan kecacingan secara umum melalui dua cara
1. Anak buang air besar sembarangan – Tinja yang mengandung telur cacing mencemari tanah –
telur menempel di tangan atau kuku ketika mereka sedang bermain – ketika makan atau minum,
telur cacing masuk ke dalam mulut – tertelan – kemudian orang akan cacingan dan seterusnya
terjadilah infestasi cacing.
2. Anak buang air besar sembarangan – tinja yang mengandung telur cacing mencemari tanah-
dikerumuni lalat – lalat hinggap di makanan atau minuman – makanan atau minuman yang
mengandung telur cacing masuk melalui mulut – tertelan – dan selanjutnya orang akan
kecacingan – infestasi cacingpun terjadi.

GAMBAR 3. SIKLUS PENULARAN KECACINGAN

Siklus masuknya penyakit kecacingan pada tubuh manusia melalui dua cara yaitu pertama : telur
yang infektif masuk melalui mulut, tertelan kemudian masuk usus besar, beberapa lama/hari
kemudian menetas jadi larva lalu menjadi dewasa dan berkembang biak. Kedua : telur menetas
di tanah lalu menjadi larva infektif kemudian masuk melalui kulit kaki atau tangan menerobos
masuk ke pembuluh darah terus ke jantung berpindah paru-paru, lalu tenggorokan masuk
kerongkongan lalu usus halus kemudian menjadi deasa dan berkembang biak.
2.2.2 Penularan Filariasis
Pada saat nyamuk menghisap darah manusia/hewan yang mengandung mikrofilaria,
mikrofilaria akan terbawa masuk ke dalam lambung nyamuk dan melepaskan selubungnya
kemudian menembus dinding lambung nyamuk bergerak menuju otot atau jaringan lemak di
bagian dada. Mikrofilaria akan mengalami perubahan bentuk menjadi larva stadium I (L1),
bentuknya seperti sosis berukuran 125-250μm x 10-17μm dengan ekor runcing seperti cambuk
setelah 3 hari. Larva tumbuh menjadi larva stadium II (L2) disebut larva preinfektif yang
berukuran 200-300μm x 15-30μm dengan ekor tumpul atau memendek setelah 6 hari. Pada
stadium II larva menunjukkan adanya gerakan. Kemudian larva tumbuh menjadi larva stadiumIII
(L3) yang berukuran 1400μm x 20μm. Larva stadium L3 tampak panjang dan ramping disertai
dengan gerakan yang aktif setelah 8-10 hari pada spesies Brugia dan 10-14 hari pada spesies
Wuchereria. Larva stadium III (L3) disebut sebagai larva infektif.
Apabila seseorang mendapat gigitan nyamuk infektif maka orang tersebut berisiko tertular
filariasis. Pada saat nyamuk infektif menggigit manusia, maka larva L3 akan keluar dari
probosisnya dan tinggal di kulit sekitar lubang gigitan nyamuk kemudian menuju sistem limfe.
Larva L3 Brugia malayi dan Brugia timori akan menjadi cacing dewasa dalam kurun waktu 3,5
bulan, sedangkan Wuchereria bancrofti memerlukan waktu lebih 9 bulan (Depkes RI, 2005).
GAMBAR 3. SIKLUS PENULARAN FILARIASIS

3 Gejala dan Tanda Klinis Penyakit


2.3.1 Gejala dan Tanda Klinis Penyakit Kecacingan
Secara umum gelaja atau ciri-ciri penyakit cacingan adalah badan kurus, tidak
nafsu makan, lemas, mual muntah, nyeri perut, diare atau tinja berdarah, batuk kering, terlihat
pucat, mendah mengantuk. Setiap cacing memiliki gejala yang berbeda, hal ini penting untuk
dibedakan karena masing-masing cacing memiliki ciri atau gejala yang khas atau berbeda satu
sama lain.
2.3.1.1 Gejala Klinis Cacing Kremi
Cacing kremi menginfeksi usus, namun sering juga orang yang terinfeksi tidak
menunjukan gejala sama sekali. Ketika malam hari, cacing betina bergerak menuju liang anus
(dubur) karena inging bertelur. Aktifitas cacing inilah yang memberikan gejala khas cacingan
kremi yaitu anak tidak bisa tidur karena anusnya gatal.
Infeksi cacing kremi sangat menular dan menyebar dengan sangat mudah karena
kurangnya kebersihan tangan pada anak-anak. Pasalnya ketika anak menggaruk anusnya
kemudian bersentuhan tangan dengan kawannya, lalu tangan tersebut digunakan untuk makan
tanpa mencuci tangan terlebih dahulu, kawannya tadi bisa tertular. Ciri ciri anak cacingan cacing
kremi adalah nyeri perut, mual, gatal yang intens pada permukaan dubur atau vagina, tidak bisa
tidur karena gatal.
2.3.1.2 Cacing Gelang
Cacing gelang berukuran besar mendekati ukuran cacing tanah pada
umumnya. Dikenal dengan nama Ascaris. Cacing ini hidup menginfeksi usus kecil maupun usus
besar. Hidup dan berkembang biak di alam usus manusia. Namun, tidak menunjukkan gejala
yang khas, seseorang bisa tahu karena terlihat adanya cacing pada tinja atau feses yang keluar.
Gejala cacing gelang antara lain nyeri perut samar, mual muntah, diare atau tinja berdarah, batuk
kering, berat badan turun, terdapat cacing pada muntahan atau tinja, jika banyak dapat
menyumbat (obstruksi) usus. Gejala ini dapat muncul 4 sampai 16 hari setelah menelan larva
cacing gelang dan bisa menjadi sangat serius jika infeksi tersebut berasl dari telur yang banyak.
2.3.1.3 Cacing Pita
Cacing pita biasa menyerang manusia karena tertelan melalui air dan makan
makanan yang terkontaminasi dengan larva dan telur cacing pita. Jika telur cacing pita tertelan,
mereka cendrung untuk menjauh dari daerah usus dan brkembang menjadi kista pada organ dan
jaringan tubuhn lainnya. Hal ini di kenal sebagai infeksi cacing pita invasif. Namun jka yang
tertelan berupa larva cacing pita maka akan tumbuh menjadi cacing pita dewasa dalam usus.
Gejala dan ciri-ciri kecacingan cacing pita tergantung pada jenis infeksinya. Apakah pada usus
atau organ tubuh (invasif). Cacing pita pada usus : nyeri perut, mual, diare, melabsorpsi nutrisi
dari makanan, berat badan menurun, kelemahan dan kelelahan. Cacing pita invasif : gejala
neurologis/kejang, demam, benjolan/kista, reaksi alergi terhadap larva cacing pita.
2.3.1.4 Cacing Tambang
Gejala penyakit cacing tambang ini awal mulanya tidak spesifik seperti mual,
muntah, malas makan, sakit perut dan badan kurus. Cacing akan menggingit dinding usus halus
untuk menghisap darah manusis dan sebagian darah keluar ke lumen usus sehingga
menyababkan BAB berdarah. Gejala lain cacing tambang yaitu : anemia, nyeri di perut bagian
atas, demam di sertai batuk dengan bunyi nafas mengi karena larva cacing di paru-paru, ruam
yang menonjol dan terasa gatal (bisa muncul di tempat masuknya larva pada kulit). Cacing ini
menyebabkan Cutaneous larva migrans atau creeping eruption, yaitu migrasi larva di kulit
(lapisan kulit). Ditandai dengan timbul kelainan pada kulit berupa erupsi peradangan berbentuk
lurus atau berliku-liku yang menonjol di atas permukaan kulit. Jika menjumpai ciri-ciri atau
gejala cacingan cacing tambang sebaiknya langsung periksakan ke dokter agar mendapat
kepastian dan terapi yang tepat.
2.3.2 Gejala dan Tanda Filarisis
Gejala-gejala yang terdapat pada penderita Filariasis meliputi gejala awal (akut) dan gejala
lanjut (kronik). Gejala awal (akut) ditandai dengan demam berulang 1-2 kali atau lebih setiap
bulan selama 3-4 hari apabila bekerja berat, timbul benjolan yang terasa panas dan nyeri pada
lipat paha atau ketiak tanpa adanya luka di badan, dan teraba adanya tali urat seperti tali yang
bewarna merah dan sakit mulai dari pangkal paha atau ketiak dan berjalan kearah ujung kaki atau
tangan. Gejala lanjut (kronis) ditandai dengan pembesaran pada kaki, tangan, kantong buah
zakar, payudara dan alat kelamin wanita sehingga menimbulkan cacat yang menetap (Depkes RI,
2005).
2.3.2.1 Diagnosis
Diagnosa klinis ditegakkan bila ditemukan gejala dan tanda klinis akut ataupun kronis.
Sebagai diagnosa pembantu, pemeriksaan darah jari yang dilakukan pada malam hari (pukul
20.00 sd 02.00) waktu setempat. Seseorang yang dinyatakan sebagai penderita Filariasis, apabila
sediaan darah tebal ditemukan mikrofilaria.
2.4 Cara Pengobatan dan Pencengahan Penyakit
2.4.1 Pengobatan dan Pencengahan Penyakit Kecacingan
2.4.1.1 Pengobatan
Pengobatan kecacingan adalah obat yang mempunyai efek sebagai anti parasit dapat
digunakan untuk pengobatan cacingan ini, ada dua jenis obat yang biasa digunakan yaitu:
1. Pyrantel pamoat
Dosis untuk pengobatan cacingan yang belum diketahui jenisnya adalah dewas/anak : 10mg/kg
BB, diberikan dalam dosis tunggal.
2. Mebendazole
Dosis untuk pengobatan cacingan yang belum diketahui jenisnya. Apabila ada anggota keluarga
yang terkena cacingan, sebaiknya pengobatan juga diberikan untuk seluruh anggota keluarga
untuk mencengah/mewaspadai terjadinya penularan cacingan tersebut.
2.4.1.2 Pencengahan
Cara pencengahan dari penyakit kecacingan adalah menjaga kebersihan lingkungan
dan diri. Melakukan upaya pencengahan dengan jaga kebersihan dengan baik, jangan buang air
besar di sembarang tempat, cuci tangan sebelum makan atau memegang makanan, cuci sayuran
dengan bersih sebelum di masak, cuci tangan dengan bersih setelah buang air besar, mengunting
kuku untuk mencengah infeksi telur cacing, masak daging dan ikan hingga benar-benar matang,
simpan makanan di tempat yang terlindung dari kontaminasi pencemar seperti lalat,
menggunakan alas kaki ketika berada di luar rumah, cuci tangan dan kaki usai bermain, maupun
usai bepergian.
2.4.2 Pengobatan dan Pencengahan Penyakit Filariasis
2.4.2.1 Pengobatan Filariasis
Pengobatan massal menggunakan kombinasi Diethyl Carbamazine Citrate (DEC) dosis
tunggal 6mg/kg berat badan, Albendazol 400 mg (1 tablet) dan Paracetamol (sesuai takaran)
yang diberikan sekali setahun selama 5 tahun pada penduduk yang berusia 2 tahun ke atas.
Sebaiknya minum obat anti filariasis sesudah makan dan dalam keadaan istirahat/tidak bekerja.
Upaya ini dimaksudkan untuk membunuh mikrofilaria dalam darah dan cacing dewasa. Sasaran
pengobatan massal adalah seluruh penduduk yang tinggal di daerah endemis, kecuali:
1. Anak-anak berusia < 2tahun
2. Ibu hamil dan menyusui
3. Orang yang sedang sakit
4. Orang tua yang lemah
5. Penderita serangan epilepsi
Setiap orang yang ditemukan mikrofilaria dalam darahnya mendapat pengobatan yang
memadai agar tidak menderita klinis filariasis dan tidak menjadi sumber penularan terhadap
masyarakat sekitarnya (Depkes RI, 2005).
2.4.2.2 Pencengahan Filariasis
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 94 Tahun 2014 tentang
Penanggulangan Filariasis. Upaya pencengahan filariasis oleh masyarakat dengan
menghindarkan diri dari gigitan nyamuk seperti : menggunakan kelambu sewaktu tidur, menutup
ventilasi rumah dengan kawat kasa nyamuk, menggunakan obat nyamuk semprot atau obat
nyamuk bakar. Mengoles kulit dengan obat anti nyamuk. Memberantas nyamuk dengan cara
membersihkan tanaman air pada rawa-rawa yang merupakan tempat perindukan nyamuk,
menimbun, mengeringkan tempat perindukan nyamuk, membersihkan semak-semak disekitar
rumah.
Peranan petugas kesehatan dalam pencengahan penyakit filariasis yaitu dengan
menemukan kasus filariasis secara dini melalui kunjungan lapangan, melakukan penatalaksanaan
kasus dan konseling, melaksanakan penyuluhan langsung ke masyarakat, menggalang kemitraan
dengan kelompok-kelompok potensial (organisasi wanita, PKK, agama, dan pemuda).
BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
Kecacingan merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit berupa cacing.
Dimana dapat terjadi infestasi ringan maupun infestasi berat. Penularan dapat terjadi melalui 2
cara yaitu : 1) infeksi langsung atau 2) larva yang menembus kulit. Penularan langsung terjadi
bila telur cacing dari tepi anak masuk ke dalam mulut tanpa pernah berkembang di tanah seperti
pada cacing kremi (Oxyuris vermucularis). Gelaja atau ciri-ciri penyakit cacingan adalah badan
kurus, tidak nafsu makan, lemas, mual muntah, nyeri perut, diare atau tinja berdarah, batuk
kering, terlihat pucat, mendah mengantuk. Setiap cacing memiliki gejala yang berbeda.
Filariasis ( penyakit kaki gajah) adalah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh
cacing filaria dan ditularkan oleh nyamuk Mansonia,Anopheles, Culex, Armigeres. Cacing
tersebut hidup di saluran dan kalenjer getah bening. Apabila seseorang mendapat gigitan nyamuk
infektif maka orang tersebut berisiko tertular filariasis. Gejala-gejala yang terdapat pada
penderita Filariasis meliputi gejala awal (akut) dan gejala lanjut (kronik). Pengobatan
menggunakan kombinasi Diethyl Carbamazine Citrate (DEC) dosis tunggal 6mg/kg berat badan,
Albendazol 400 mg (1 tablet) dan Paracetamol (sesuai takaran). Upaya pencengahan filariasis
oleh masyarakat dengan menghindarkan diri dari gigitan nyamuk seperti : menggunakan
kelambu sewaktu tidur, menutup ventilasi rumah dengan kawat kasa nyamuk, menggunakan obat
nyamuk semprot atau obat nyamuk bakar.
3.2 Saran
Disarankan kepada masyarakat dan pemerintah untuk bekerja sama dalam
menciptakan lingkungan sehat yang memenuhi syarat agar terhindar dari penyakit, tidak hanya
penyakit kecacingan dan filariasis tetapi penyakit-penyakit berbasis lingkungan lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Aria Gusti, Hubungan Perilaku Sehat dan Sanitasi Lingkungan dengan Infeksi Cacing yang Ditularkan
Melalui Tanah di Nagari Kumanis Kab. Sawahlunto Sijunjung, UGM, 2004.
BPS, 2009, Laporan Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional Indonesia tahun 2000-2008. Badan Pusat
Statistik (BPS) RI, Jakarta, 2009.
Elmi, Sembiring T, Dewiyani B.S, Hamid E.D, Pasaribu S, Lubis C.P, Status Gizi Dan Infestasi Cacing
Usus Pada Anak Sekolah Dasar, Fakultas Kedokteran Bagian Ilmu Kesehatan Anak Universitas
Sumatera Utara, 2004.
Ginting S. A, Hubungan Antara Status Sosial Ekonomi Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah
Dasar Di Desa Suka Kecamatan Tiga Panah Kabupaten Karo Sumatera Utara, Digitized by
USU digital library, 2003.
Kemenkes RI, 2009, Laporan Kasus Klinis Filariasis di Indonesia tahun 2000 2009, Subdit Filariasis,
Kementrian Kesehatan (Kemenkes) RI, Jakarta,2009.
Kemenkes RI, 2009, Laporan Pemberian Obat Masal Pencegahan (POMP) Filariasis di Indonesia tahun
2000- 2009, Subdit Filariasis, Kementrian Kesehatan (Kemenkes) RI, Jakarta,2009 .
Notoatmodho, Soekidjo. Kesehatan Masyarakat Ilmu dan Seni. Jakarta: Rhineka Cipta ; 2007.
Onggowaluyo, J. S, Cacing tambang, dalam Parasitologi Medik 1 Helmintologi, Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC, 2001, p. 16 – 24.
Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi Kemenkes RI. 2010. Filariasis di Indonesia. Buletin Jendela
Epidemiologi, Volume 1, Juli 2010.
Restila, Ridha. Perbedaan Faktor Resiko Kejadian Filariasis di Wilayah Kerja Puskesmas Andalas
Puskesmas Padang Pasir Kota Padang Tahun 2011. (Skripsi). Padang : FK Unand 2007.
Sudomo, M, Penyakit Parasitik yang Kurang Diperhatikan di Indonesia, Orasi Pengukuhan Profesor
Riset Bidang Entomologi dan Moluska, Jakarta, 2008.
WHO, 2004, Regional Strategic Plan for Elimination of Lymphatic Filariasis (2004-2007), World Health
Organization (WHO), Genewa, 2004.
WHO, G.M, Reaching the People LeftBehind : a Neglected Success, 2007 Manalu SM, Biran S.I, Infeksi
Cacing Tambang, Cermin Dunia Kedokteran Vol. 19 No.4, Oktober- Desember 2006.

Diposting oleh wilna ilhara di 18.15


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Posting Lama Beranda


Langganan: Posting Komentar (Atom)

Arsip Blog
 ▼ 2017 (1)
o ▼ Januari (1)

 Makalah Penyakit Kecacingan dan Filariasisi


 ► 2013 (1)

Mengenai Saya

wilna ilhara
Lihat profil lengkapku

Tema Tanda Air. Diberdayakan oleh Blogger.