Anda di halaman 1dari 17

Politik dan Pemerintahan Amerika Latin:

INTERVENSI AMERIKA SERIKAT DALAM PERANG IRAK- IRAN 1980-1988

Oleh : Mohammad Zehan (1501111688) Mahasiswa Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Riau

Abstrak Artikel ini membahas mengenai perang Irak-Iran pada tahun 1980-1988 yang merupakan perang terpanjang pada abad ke 20. Dimana kedua negara yang terlibat merupakan negara tetangga yang memiliki sejarah panjang. Dilihat dari segi sejarah, kedua negara tersebut sudah memiliki hubungan sejak zaman Kerajaan Mesopotamia yang terletak di lembah Sungai Tigris-Eufrat, yang kini menjadi negara Irak modern, yang berseteru dengan kerajaan Persia atau kini menjadi negara Iran modern. Keterlibatan pemimpin besar yaitu Saddam Hussein dan Khomeini menjadikan konflik ini semakin memanas.

Kata kunci: Perang Irak-Iran, Saddam Hussein, Ayatullah Khomeini

Pendahuluan Timur Tengah adalah sebuah wilayah yang secara politis dan budaya merupakan bagian dari benua Asia atau Afrika-Eurasia. Pusat dari wilayah ini adalah daratan di antara Laut Mediterania dan Teluk Persia serta wilayah yang memanjang dari Anatolia, Jazirah Arab dan Semenanjung Sinai. Kadangkala disebutkan juga area tersebut meliputi wilayah dari Afrika Utara di sebelah barat sampai dengan Pakistan di sebelah timur dan Kaukasus dan/atau Asia Tengah di sebelah utara. Media, dan beberapa organisasi internasional (seperti PBB)

umumnya menganggap wilayah Timur Tengah adalah wilayah Asia Barat Daya (termasuk Siprus dan Iran) ditambah dengan Mesir. 1 Wilayah tersebut mencakup beberapa kelompok suku dan budaya termasuk suku Iran, suku Arab, suku Yunani, suku Yahudi, suku Berber, suku Assyria, suku Kurdi, dan suku Turki. Bahasa utama yaitu: bahasa Persia, bahasa Arab, bahasa Ibrani, bahasa Assyria, bahasa Kurdi dan bahasa Turki. Kebanyakan sastra barat mendefinisikan Timur Tengah sebagai negara-negara di Asia Barat Daya, dari Iran (Persia) ke Mesir. Mesir dengan semenanjung Sinainya yang berada di Asia umumnya dianggap sebagai bagian dari Timur Tengah, walaupun sebagian besar wilayah negara itu secara geografi berada di Afrika Utara. Sehingga Timur Tengah bukan dikatakan benua melainkan antar benua, dengan keragaman topografi, iklim, dan lingkungan fisik serta lingkungan sosial dari karakteristik dua benua yakni Afrika dan Asia. 2 Sejak pertengahan abad ke-20, Timur Tengah telah menjadi pusat terjadinya peristiwa-peristiwa dunia, dan menjadi wilayah yang sangat sensitif, baik dari segi kestrategisan lokasi, politik, ekonomi, kebudayaan, dan keagamaan. Timur Tengah mempunyai cadangan minyak mentah dalam jumlah besar, dan merupakan tempat kelahiran, dan pusat spiritual Islam, kristen, dan agama Yahudi. Iran merupakan salah satu dari sekian negara yang termasuk ke dalam wilayah Timur Tengah. Menarik jika membahas tentang Iran terlebih pasca revolusi Islam yang dilakukan pada tahun 1979. Banyak yang memprediksikan bahwa Iran akan hancur setelah melakukan revolusi Islam. Hal ini banyak diprediksi oleh negara-negara Barat yang tercermin dalam beberapa pemberitaan yang ditulis oleh media pers negara Barat. Negeri yang penuh kontroversi ini telah mampu membuktikan bahwa revolusi Islam yang dilaluinya tidak benar-benar membuatnya collaps. Dikatakan bahwa revolusi Islam dapat terjadi di Iran karena masyarakat Iran yang homogen,

1 http://wikipedia.org diakses tanggal 30 April 2018 pada pukul 23.00 WIB

2 William J. Spencer, Global Studies: The Middle East Twelfth Edition, (New York: McGraw Hill, 2009), hal. 4

namun hal ini justru keliru karena Iran justru bangsa yang heterogen. Ervand Abrahamian menyebutnya “a colorfull mosaic and a complex kaleidoscope”. 3 Bersebelahan dengan Iran, Irak atau dikenal dengan al-Jumhuriyyah al- Irakiyah, ibu kota Baghdad ini mempunyai populasi penduduk sekitar 18.317.000 pada sensus tahun 1990. Luas wilayahnya 325.052 km 2 dengan kepadatan penduduk 42,1/km 2 . Bahasa resminya adalah bahasa Arab. Terdapat Agama Islam 95,8% (sunni dan syi’ah), Kristen 3,5 %, dan sedikit Yahudi. Mata uangnya adalah dinar. Negara yang berada di bagian barat daya Asia ini, memiliki batas- batas wilayah; di selatan berbatasan dengan Kuwait dan Arab Saudi, di barat dengan Yordania dan Syria, di utara dengan Turki, dan di timur dengan Iran. 4 Meskipun bersebelahan dan merupakan dua negara yang saling bertetangga, kedua negara ini mempunyai masa lalu konflik yang panjang. Kemudian berulang kembali pada tahun 1980 yang terjadi selama delapan tahun dan menewaskan dan menghabiskan dana yang tidak sedikit. Serta perang Irak-Iran merupakan sebuah prediksi yang luar biasa diluar dugaan. Masing-masing dari negara tersebut dipimpin oleh pemimpin yang superior. Iran dengan pemimpin revolusionernya yakni Khomeini yang mampu mengadakan revolusi Islam Iran. Di sisi lain, Iraq dengan pemimpinnya yang diktator yakni Saddam Hussein yang akhir hayatnya tragis karena dihukum mati atas kesalahannya menggunakan segala cara untuk mencapai ambisinya. Ada dua permasalahan pokok yang dapat diangkat dalam melihat perang Irak-Iran tahun 1980-1988. Bagaimana kegagalan rezim Saddam Hussein dalam menaklukan Iran?. Serta Bagaimana keterlibatan barat dalam hal ini adalah Amerika Serikat yang turut andil dalam menyokong Irak namun akhirnya berbalik arah?

Membicarakan tentang kegagalan rezim Saddam Hussein dalam menginvasi Iran tentunya tidak jauh dari sikap sang penguasa sendiri yang terlalu berambisi

3 Ervand Abrahamian, Iran Between Two Resolutions, (New Jersey: Princeton University, 1982)

4 Muhammad Syafi Antonio, Ensiklopedia Peradaban Islam jilid 5, (Jakarta: PT Tazkia,

237

), hal.

dan

rakyatnya menderita.

dengan

pemerintahannya

yang

diktator

ternyata

hanya

bisa

membuat

Latar Belakang Perang Irak-Iran 1980-1988 Konflik perbatasan antar-negara tetangga bisa berujung perang. Seperti yang terjadi antara Iran dan Irak pada 35 tahun silam. Iran dan Irak memulai perang pada 22 September 1980. Perang yang berlangsung dari tahun 1980-1988 itu menjadi yang terpanjang pada Abad 20. Dibanding Perang Dunia I (1914-1918) dan Perang Dunia II (1939-1945). Irak dan Iran adalah dua negara Islam yang bertetangga. Banyak hal yang memicu terjadinya peperangan diantaranya seperti masalah politik, ekonomi dan sektarian, berikut ini adalah beberapa pemicu konflik:

1. Sengketa atas Shatt Al-Arab dan Khuzestan 5

Shatt Al-Arab adalah sungai sepanjang 200 Km yang terbentuk atas pertemuan Sungai Eufrat dan Tigris di Kota Al Qumah, Irak Selatan, dimana bagian akhir

sungai itu adalah Teluk Persia yang merupakan perbatasan antara Irak dan Iran. Karena letaknya yang strategis menuju Teluk Persia maka sungai tersebut menjadi wilayah sengketa kedua negara. Wilayah lain yang menjadi sengketa adalah provinsi Khuzestan yang kaya akan minyak. Wilayah tersebut menjadi wilayah Iran namun sejak 1969 Irak mengklaim bahwa wilayah tersebut menjadi wilayahnya bahkan Irak menyerukan warga Arab yang tinggal disana untuk memberontak melawan Iran.

2. Munculnya Revolusi Islam di Iran

Pada tahun 1979 terjadi penumbangan rezim Pahlevi yang merupakan rezim boneka bentukan Amerika serikat dan digantikan oleh sistem republik Islam. Pasca penumbangan tersebut muncullah kekhawatiran dikalangan nasionalis Arab dan kaum muslim Sunni karena dikhawatirkan revolusi tersebut akan menyebar di negara-negara Arab lainnya. Kekhawatiran terbesar terjadi di wilayah Irak yang

5 http://news.liputan6.com, 22-9-1980: Perang Terpanjang Abad 20 Iran Vs Irak Dimulai, diakses pada 30 April 2018 pada pukul 23.10 WIB

wilayahnya bersebalahan dengan Iran dan terdapat kaum minoritas Syiah di wilayahnya. Pada masa pemerintahan Khomeini yang berambisi dan juga berusaha mengekspor revolusi Islamnya ke negara-negara lain dan Irak menjadi sasaran yang pertama karena di Irak minoritas Sunni menguasai dan menindas mayoritas Syiah dan minoritas Kurdi yang secara etnik linguistik dekat dengan bangsa Persia. Selain itu Khomeini menaruh dendam terhadap rezim di Bagdad yang pada tahun 1978 mengusirnya dari Irak karena dia berkampanye melawan pemerintah Syiah. Sehubungan dengan itu pemerintah Iran menghasut umat Syiah dan Suku Kurdi di Irak untuk memberontak dan merebut kekuasaan serta membentuk suatu republik Islam menurut pola Republik Islam Iran. Di lain pihak Baghdad menghasut minoritas Kurdi di Irak untuk mendukung minoritas Arab dalam memperjuangkan otonominya, dan membantu sejumlah jendral Iran dan pengikut-pengikutnya Bakhtiar di pengasingan untuk menyusun kekuatan guna menumbangkan kekuasaan Khomeini. Iraq dibawah pemerintahan Saddam Hussein dan Partai Baath memiliki ambisi untuk menjadi kekuatan dominan di wilayah Arab di bawah bendera Pan-Arabisme sejak meninggalnya presiden Mesir yakni Gamal A. Nasser. Rsevolusi Islam yang terjadi di Iran, dianggap sebagai penghalang karena bertentangan dengan prinsip nasionalisme sekuler Arab. 6

3. Terjadi Percobaan Pembunuhan terhadap Pejabat Irak

Pertengahan tahun 1980, terjadi percobaan pembunuhan terhadap Deputi Perdana Menteri Irak, Tariq Azis. Irak pun menangkap beberapa orang yang diduga terlibat dalam percobaan pembunuhan tersebut, selain itu Irak juga mendeportasi ribuan warga Syiah Iran keluar dari Irak. Pemimpin Irak Sadam Hussein menyalahkan Iran karena diduga terdapat agen Iran yang juga terlibat didalamnya. Kejadian tersebut pun semakin memanaskan hubungan kedua negara sehingga perang pun sulit untuk dihindarkan.

6 Daliman, Sejarah Asia Barat Daya. (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia: Universitas sebelas Maret Surakarta, 1933), hal. 78

Menurut para pengamat ada dua faktor yang menyebabkan invansi yang dilakukan Saddam Hussein ke Iran yaitu pertama, adanya kekhawatiran di kalangan penguasa negara Arab terhadap kemungkinan menularnya revolusi Khomeini ke negara-negara Arab; yang kedua, ambisi Saddam Hussein untuk bisa tampil sebagai pemimpin Arab. 7

Perang Iran-Irak dan Kegagalan Rezim Saddam Hussein Setelah rezim Saddam Hussein melakukan pelanggaran di wilayah Iran, Saddam Hussein akhirnya mengeluarkan instruksi menyerang Iran. Menyusul dukungan penuh dari Barat, baik dana, militer maupun politik, Republik Islam Iran diprediksikan akan mudah ditundukkan Rezim Saddam Hussein. Apalagi sejumlah wilayah di Iran mampu diduduki oleh Irak. Namun kegigihan bangsa Iran dalam membela tanah air mereka membuat musuh kewalahan dan pesimis. Saddam Husein berniat menguasai provinsi kaya minyak Khuzestan, barat daya Iran dan memisahkannya dari Iran. Setelah itu, Saddam Hussein juga berencana akan menggulingkan Republik Islam Iran yang baru didirikan oleh Khomeini. Saddam Hussein saat itu, berpikir akan menjadi pahlawan Arab dan dunia dengan menundukkan Iran. Ambisi kuat Saddam Hussein itu adalah hasil bisikan para musuh Revolusi Islam Iran baik dari dalam maupun luar Irak. Karena bisikan-bisikan itu, Saddam Hussein menganggap Iran sebagai negara yang mudah ditundukkan. Bahkan, Saddam Hussein dalam pidatonya menjanjikan akan menundukkan Iran dalam kurun tiga hari. Tiga hari sebelum perang Irak-Iran, Saddam Hussein menyobek perjanjian Aljazair di depan kamera televisi. Perjanjian Aljazair yang ditandatangani Saddam Hussein dengan pemerintah Iran pada tahun 1975, telah menentukan perbatasan Irak dan Iran. Dengan penyobekan perjanjian itu, perang telah dimulai. Saddam Hussein dan para pendukungnya menduga perang akan berlangsung dalam waktu singkat. Koran Amerika Serikat, Herald Tribune, beberapa bulan sebelum dimulainya perang melaporkan, “Para analis Amerika Serikat menyatakan bahwa

7 M Riza Sihbudi. Dinamika Revolusi Iran Sejak Jatuhnya Syah hingga Wafatnya Khomeini. (Jakarta: Pustaka Hidayat, 1989), hal. 111

kekuatan militer Iran saat ini lemah dan tidak akan mampu mempertahankan perbatasan negaranya. Untuk itu, perang tidak akan berlangsung lama, yakni hanya beberapa hari. Kalaupun bertahan lama, perang itu tidak akan melewati seminggu atau dua minggu.” Akan tetapi fakta berbeda dengan prediksi yang ada. Perang Irak-Iran bertahan hingga delapan tahun. Bangsa Iran mampu membuktikan kepada dunia bahwa mereka mampu bertahan menghadapi arogansi para musuh. Perang itu kemudian disebut dengan istilah Perang Pertahanan Suci. Pada awal perang, Rezim Saddam Hussein berhasil menguasai sejumlah wilayah Iran. Posisi Iran dengan keterbatasan logistik militer, berada dalam kondisi terpojok. Sedangkan militer Irak dengan 250 ribu personel yang didukung dengan ribuan mortir, tank, panser dan peralatan militer lainnya berhasil menguasai kota dan desa-desa Iran sepanjang perbatasan kedua negara. Bersamaan dengan itu, lebih dari 100 jet tempur Irak berusaha membombardir 19 kota Iran dan pos-pos militer negara ini pada hari pertama perang. Akan tetapi serangan udara itu gagal total. Kondisi berbeda di wilayah perairan. Militer Iran berhasil memukul mundur angkatan laut Irak pada bulan-bulan pertama perang. Dengan demikian, angkatan laut Republik Islam Iran mampu mempertahankan kekuatannya di perairan Teluk Persia. Kota strategis yang dapat dikuasai Rezim Saddam Hussein adalah Khozestan di barat daya Iran. Kota itu sebenarnya tidak mudah ditundukkan militer Saddam Hussein. Pasukan Garda Revolusi Islam Iran yang dikenal dengan Pasdaran mampu mempertahankan Khozestan selama sebulan. Dari sisi lain, pesawat-pesawat Iran mampu menyerang pos-pos strategis Irak. Kegigihan para pejuang Iran menyadarkan Saddam Hussein yang sebelumnya beranggapan bahwa menundukkan Iran adalah hal yang mudah. Serangan balik militer Iran dan kegigihan para pejuang memaksa Rezim Saddam Hussein untuk mengakui kekuatan terselubung Iran yang ternyata diluar prediksi semua pihak. Setelah serangan Irak itu, Republik Islam Iran segera mengkoordinasi kekuatan militernya dengan cepat. Di kancah politik, antek-antek penentang

revolusi yang bermitra dengan para musuh mulai tersingkir dan kondisi Iran mulai bisa dikendalikan. Dengan pembentukan kekuatan sipil yang kemudian disebut dengan istilah Basij, kekuatan besar yang berbasis pada relawan telah terbentuk untuk menghadapi segala serangan musuh. Titik balik bagi Iran terjadi pada bulan Maret 1982 dalam operasi militernya

di bawah kode sandi "Operasi Kemenangan yang Tak Dapat Disangkal"

(Operation Undeniable Victory). Dalam operasi militer itu, pasukan gabungan Pasadan-Basij milik Iran berhasil menembus garis depan pasukan Irak yang sebelumnya dianggap tidak bisa ditembus & memecah pasukan Irak di utara & selatan Khuzestan sehingga pasukan Irak terpaksa mundur. Bulan Mei 1982, Iran berhasil merebut kembali wilayah Khorramshahr. Dalam pertempuran di wilayah tersebut, Irak kehilangan 7.000 tentara, sementara Iran 10.000 sehingga menjadikan pertempuran itu sebagai salah satu pertempuran paling berdarah dalam inisiatif serangan balik Iran. Sejak kemenangan tersebut, Iran berganti menjadi pihak yang menekan Irak dan pada bulan Juni berhasil mendapatkan kembali seluruh wilayahnya yang sebelumnya dikuasai oleh Irak.

Saddam Hussein yang melihat bahwa moral pasukannya sudah terlanjur runtuh akibat serangkaian kekalahan melawan Iran pun menyatakan akan segera menarik seluruh pasukannya dari Iran dan menawarkan gencatan senjata kepada Iran. Tawaran gencatan senjata itu mencakup pembayaran ganti rugi perang sebesar 70 juta dollar AS oleh negara-negara Arab. Iran menolak tawaran gencatan senjata tersebut dan menyatakan bahwa mereka akan menyerbu Irak dan tidak akan berhenti sampai rezim yang berkuasa di Irak digantikan oleh rezim pemerintahan republik Islam. Karena jika Iran berkompromi dan Saddam Hussein

masih bercokol sebagai Presiden Irak maka tujuan perang ini tidak mencapai apa-

apa dan berarti sekian banyak warga sipil yang telah gugur secara sia-sia. 8

Irak berusaha memaksa Iran menghentikan perang dan menuju meja perundingan dengan berbagai cara. Di awal tahun 1984, Irak membeli sejumlah alutsista baru dari Uni Soviet dan Perancis. Tak lama kemudian, Irak melakukan

8 Syafiq Basri, Iran Pasca Revolusi Sebuah Reportase Perjalanan, (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1987), hal. 210

serangan udara ke sejumlah kota dengan persenjataan barunya itu. Irak berharap Iran merasa tertekan dan kemudian menerima tawaran dari Irak untuk berunding di tempat netral, namun nyatanya Iran tetap menolak tawaran berunding dari Irak. Iran yang kehilangan begitu banyak personilnya akibat sejumlah penyerbuan yang gagal sebelumnya belum mengendurkan serangan. Bulan Februari 1984, Iran menggelar “Operasi Fajar” yang ditargetkan ke kota Kut al- Amara dengan tujuan memotong jalur perairan yang menghubungkan Baghdad dan Basra. Dalam kedua operasi militer itu, Iran mengerahkan 500.000 personil Basij dan Pasdaran. Pertempuran dalam Operasi Fajar sekaligus menjadi head-to-head kekuatan militer yang dominan di masing-masing negara. Iran unggul dengan jumlah tentara tapi kekurangan alutsista pendukung seperti pasukan udara & artileri, sementara Irak kalah jauh dalam hal jumlah tentara tapi unggul dalam hal alutsista. Periode antara tanggal 29 Februari hingga 1 Maret merupakan salah satu episode pertempuran terbesar dalam Perang Irak-Iran di mana dalam pertempuran itu, masing-masing pihak kehilangan 20.000 tentaranya. Iran kembali melancarkan agresi militer antara akhir Februari hingga Maret 1984 di bawah kode sandi “Operasi Khaibar” dengan memakai sejumlah serangan pendobrak ke Kota Basra. Agresi militer tersebut berujung keberhasilan pasukan Iran merebut Pulau Majnun yang kaya minyak. Irak sempat melancarkan serangan balik untuk merebut wilayah tersebut termasuk dengan memakai senjata kimia. 9 Namun, pasukan Iran tetap berhasil mempertahankan pulau tersebut hingga menjelang akhir perang. Walaupun berada pada posisi tertekan, pada tahun 1985 Irak masih sempat melakukan penyerbuan balik ke Iran dengan menyerang Teheran dan kota-kota penting di Iran lainnya usai mendapatkan bantuan finansial dari negara-negara Arab sekutunya dan juga bantuan alutsista terbaru dari Uni Soviet, Cina, & Perancis. Serangan Irak tersebut tidak membawa perubahan yang signifikan dalam

9 William Ochsenwald, The Middle East A History Fourth Edition, (New York: McGraw Hill, 1976), hal. 539

arah peperangan dan sekalipun wilayahnya diserang, di tahun itu Iran tetap melakukan penyerbuan ke wilayah Irak di bawah kode sandi “Operasi Badr”. Menurut majalah Arabia pada Desember 1985, pemboman Irak atas pulau Kharq bukan semata-mata demi alasan perang, melainkan juga berhubungan dengan perebutan pasaran minyak yang semakin menciut. Usaha tersebut perlu dilakukan Irak, karena dengan dibukanya jalur pipa Irak ke Yanbu (Saudi Arabia) maka kapasitas produksi minyak Irak menjadi berlipat ganda. Kini ada tambahan produksi Irak sebesar kira-kira 1,6 juta barel sehari. 10 Meskipun Irak telah membom Pulau Kharq, efek bagi Iran tidak sebesar yang diperkirakan. Malah pada Oktober 1985 ekspor minyak Iran mencapai 1,7 juta barel sehari (lebih dari ekspor saat-saat sebelum pemboman). Penyebabnya ialah pertama, kemampuan Iran untuk dengan cepat memperbaiki kerusakan- kerusakan yang timbul. Kedua karena Pulau Kharq merupakan salah satu terminal minyak dengan fasilitas terbesar di dunia hingga kerusakan 10 dari 14 tempat penambatan kapal itu tidak terlalu mengurangi kapasitas besar yang dimiliki pulau itu.

Pada bulan Februari 1986, operasi semenanjung Al-Faw, tenggara Irak mengejutkan para pengamat. Operasi para pejuang Iran itu mampu menguasai pulau Al-Faw. Al-Faw merupakan pelabuhan minyak Irak terbesar yang mengekspor minyak mentah dari selatan Irak. Operasi besar Karbala 5 di timur Basrah juga mempunyai tujuan yang sama. Operasi itu dilakukan di wilayah pertahanan yang dibuat oleh para pakar Rusia. Wilayah itu mempunyai sistem pertahanan kokoh yang sulit ditembus musuh. Dalam operasi pelik pada awal tahun 1987 itu, 80 jet tempur dan 700 tank dan berbagai jenis panser hancur lebur. Setelah operasi itu, Majalah Newsweek menulis, “Serangan Iran di dekat Basrah untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir ini memungkinkan kemenangan satu pihak atas lainnya.” Barat setelah itu, bergegas menyelamatkan Rezim Saddam Hussein. Dukungan Barat atas Saddam Hussein kian mengemuka. Pada tanggal 20 Agustus 1988 gencatan senjata kedua pihak disepakati menyusul

10 Syafiq Basri, Op.,Cit, hal. 223

diterimanya resolusi 598 usulan Iran. 11 Saddam Hussein dengan bantuan Barat dan sejumlah negara Arab dapat diselamatkan dari keterpurukan. Dalam serangan masif Rezim Saddam ke Iran, banyak poin luar biasa yang dapat digaris bawahi. Salah satu poin penting itu adalah kekompakan Barat dan sejumlah negara Arab untuk menghadapi Iran. Dalam perang Irak-Iran selama delapan tahun, sepuluh negara Barat dan Arab kompak menyerang Iran. Di antara negara pengekspor senjata ke Irak adalah Uni Soviet. Menurut data yang ada, 53 % senjata Irak selama perang, dijamin oleh Uni Soviet. Setelah itu pengekspor senjata disusul Perancis dengan menjamin 20% kebutuhan senjata Rezim Saddam Hussein. Pada dekade 1980, Saddam Hussein membeli senjata senilai 25 milyar dolar AS. Serta sebanyak itu juga ditanggung oleh sejumlah negara Arab seperti Arab Saudi, Kuwait dan Uni Emirat Arab. Setelah perang selama delapan tahun, Irak mempunyai hutang sebesar 80 milyar dolar dengan enam negara Arab selatan Teluk Persia.

Politik Amerika di Perang Irak-Iran 1980-1988 Di antara sekian pendukung Saddam Hussein, Amerika Serikat memiliki peran istimewa. Kendati negara ini secara lahir tidak banyak memberikan perangkat perang kepada rezim Baath, namun Amerika Serikat berperan sebagai salah satu otak penting dalam agresi militer Saddam Hussein ke Iran. Meski sebelumnya, hubungan Amerika Serikat dan Irak sempat renggang, namun dengan dimulainya perang, Washington semakin giat untuk mendekati Baghdad dan menyokongnya secara penuh. Amerika Serikat bahkan mengeluarkan rezim Baath Irak dari daftar negara-negara pendukung terorisme dan pada akhir 1984, Washington secara resmi menjalin hubungan diplomatik dengan Baghdad. Pada masa-masa akhir perang, satelit mata-mata dan pesawat pengintai Amerika Serikat yang ditempatkan di Arab Saudi, aktif memberikan

11 William J. Spencer, Op.,Cit, hal. 9

bantuan informasi dan data mengenai kekuatan dan posisi militer Iran kepada pusat komando tentara Saddam. 12 Bersamaan dengan itu, Gedung Putih melancarkan propaganda anti- Republik Islam Iran secara luas di kancah internasional. Di penghujung dekade 80-an, dukungan Washington terhadap Baghdad mencapai puncaknya. Militer Amerika Serikat terlibat langsung dalam perang dengan Iran. Kapal-kapal perang dan pesawat tempur Amerika Serikat menyerang pangkalan dan kilang minyak Iran. Bahkan lebih brutalnya lagi, militer Amerika Serikat menembak jatuh pesawat penumpang sipil Iran di kawasan Teluk Persia. Pada ranah propaganda, media-media Barat dan Arab menyokong penuh agresi militer Saddam Hussein terhadap Iran. Lewat serangan propagandanya itu, mereka berusaha menutup-nutupi kejahatan perang rezim Baath dan mengesankan Iran sebagai ancaman. Media-media pro-Saddam Hussein bahkan berusaha menyensor beragam berita yang mengungkap kekalahan militer Irak dan sebaliknya mereka berusaha menampilkan posisi lemah dan terdesak Iran. Menariknya, justru ketika rezim Baath menyerang Kuwait, media-media Barat dan Arab yang dulunya menyokong agresi rezim Baath ke Iran malah berbalik arah mengecam Saddam Hussein dan mengakui bahwa dukungan mereka sebelumnya terhadap agresi militer Irak ke Iran merupakan kekeliruan. Ironisnya lagi, selama perang Irak-Iran berlangsung, peran PBB yang banyak diintervensi negara-negara Barat terutama Amerika Serikat justru menguntungkan rezim Baath. Dewan Keamanan yang semestinya membela Iran sebagai pihak yang diserang dan mendesak Irak menghentikan agresinya ternyata hanya cukup mengeluarkan seruan gencatan senjata. Rangkaian resolusi yang dijatuhkan Dewan Keamanan PBB terkait kejahatan perang rezim Saddam Hussein semacam serangan terhadap permukiman sipil dan penggunaan senjata terlarang, sama-sekali tidak efektif dan sangat lemah. Dijatuhkannya Resolusi 597 terhadap Irak justru ditetapkan pada saat

12 Iran Indonesia radio IRIB World Servie, Perang Irak-Iran dan Kegagalan Rezim Saddam (Bagian kedua), diakses pada tanggal 30 April 2018 pukul 23.15 WIB

tentara Baath Irak benar-benar dalam tekanan militer Iran. Untungnya, resolusi tersebut masih memperhatikan sebagian dari tuntutan Iran seperti identifikasi pelaku penyerangan, pembayaran ganti-rugi, penarikan mundur tentara Irak dari perbatasan internasional, dan pertukaran tawanan. Tak berbeda jauh dengan PBB, lembaga-lembaga internasional lain seperti Komite Hak Asasi Manusia PBB, Amnesti Internasional, dan Palang Merah Internasional juga menerapkan langkah yang sangat lemah dalam menindak kejahatan perang Saddam Hussein terhadap Iran. Saddam Hussein adalah seorang diktator yang dikenal rela menggunakan segala cara untuk meraih dan mempertahankan kekuasaannya. Sepanjang delapan tahun agresi militer rezim Baath Irak terhadap Iran, Saddam Hussein berkali-kali melanggar hukum internasional dan melakukan tindak kejahatan perang yang begitu sadis. Tiap kali tentara Baath menelan kekalahan dalam medan pertempuran, mereka segera membalas kekalahannya itu dengan melancarkan serangan udara ke wilayah perkotaan Iran dan membantai warga sipil. Begitu halnya dengan perlakuan rezim Baath Irak terhadap para tawanan Iran. Mereka diperlakukan dengan sangat keji dan di luar kaidah kemanusiaan. Sedemikian brutalnya penyiksaan yang dilakukan tentara Saddam terhadap mereka, sampai-sampai banyak tawanan Iran yang gugur syahid di kamp-kamp tawanan rezim Baath. Tidak hanya itu saja, Saddam Hussein bahkan mendukung aksi-aksi teror yang dilancarkan kelompok-kelompok kontra-Revolusi Islam terhadap masyarakat dan para pejabat Iran. Tindakan paling brutal Saddam Hussein dalam perang Irak-Iran adalah penggunaan senjata kimia secara luas untuk membantai tentara dan warga sipil Iran dan bahkan rakyatnya sendiri. Semenjak digelarnya perang, secara bertahap tentara Baath mulai menggunakan senjata kimia. Namun dengan semakin unggulnya serangan balasan para pejuang Republik Islam Iran, tentara Baath pun makin gencar dan luas menggunakan senjata kimia. Pada Juni 1987, Saddam Hussein mengeluarkan perintah serangan bom kimia terhadap kota Sardasht, barat Iran. Akibat serangan keji itu, sekitar 110

warga sipil gugur syahid dan 5 ribu lainnya cidera. Berikutnya pada Maret 1988, pesawat-pesawat tempur Baath melakukan serangan serupa terhadap etnis kurdi Irak di kota Halabcheh. Dalam serangan itu, tercatat lebih dari 5 ribu warga sipil gugur syahid sementara 7 ribu lainnya mengalami luka-luka. Bahkan kini, meski perang sudah 35 tahun berlalu, namun dampak dari serangan bom kimia itu masih bertahan dan sekitar 45 ribu warga Iran masih menderita penyakit akibat serangan bom kimia rezim Saddam Hussein. Saddam memperoleh senjata terlarang itu lewat bantuan negara-negara Barat. Mereka menyerahkan lebih dari 18 ribu ton bahan kimia untuk digunakan dalam berbagai jenis bom, rudal, dan peluru artileri. Berdasarkan laporan PBB, sejumlah perusahaan dari Amerika Serikat, Jerman, Inggris, dan Perancis memiliki peran dominan dalam memasok bahan kimia untuk keperluan memproduksi senjata kepada Irak. Tentu saja beberapa negara lainnya seperti Uni Soviet, Spanyol, Argentina, dan Belanda juga turut membantu dalam mempersenjatai Irak dengan senjata kimia. Namun yang patut disesalkan juga adalah upaya negara-negara Barat yang berusaha menghalang-halangi upaya masyarakat internasional untuk menghukum rezim Baath atas kejahatannya dalam menggunakan senjata kimia. Hal itu terlihat dari aksi veto Amerika Serikat pada Maret 1986 terhadap draft resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengecam penggunaan senjata kimia oleh rezim Saddam Hussein. Akibat dukungan buta semacam itulah sampai-sampai Saddam Husein dalam pembelaannya saat diadili pada Desember 2006 secara lantang menyatakan, “Dengan bangga saya bertanggung jawab atas seluruh serangan dengan senjata konvensional dan kimia terhadap Iran”. Melihat besarnya persenjataan perang yang dimiliki Irak baik dari negara- negara blok Timur maupun blok Barat di kala itu, banyak analis politik dan militer yang memprediksikan bahwa Irak bakal keluar sebagai pemenang. Namun tampaknya mereka gagal dalam melihat kekuatan Iran yang berporos pada kepemimpinan tangguh Khomeini. Bapak pendiri Republik Islam Iran ini juga menerapkan strategi yang sama ketika menghadapi rezim diktator Syah Pahlevi, yaitu dengan memobilisasi kekuatan rakyat.

Selain itu, keberanian dan keimanan para pejuang Iran merupakan faktor lain yang menjadi kunci rahasia kemenangan Iran. Kekuatan iman dan semangat jihad merupakan sumber perlawanan rakyat Iran dalam menghadapi agresi militer rezim Baath Irak. Karena itu, kekuatan rakyat dan iman yang menjelma dalam pasukan rakyat suka rela Iran atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Basij” menjadi motor utama gerak perlawanan bangsa Iran. Tentu saja kemenangan dalam setiap perang juga tergantung pada dukungan di balik front perang. Semangat rela berkorban rakyat yang rela menyerahkan jiwa dan raganya sebagai bagian dari Basiji merupakan modal besar bagi Iran dalam melawan serangan musuh. Dengan semangat kemenangan Revolusi Islam yang mereka raih saat menggulingkan rezim syah dukungan Amerika, rakyat Iran juga bangkit bergerak menentang agresi militer Saddam Hussein. Meski saat itu, rezim Baath mendapat dukungan penuh dari Barat dan Timur sementara bangsa Iran menghadapi sanksi dan embargo, namun mereka tetap berhasil menggagalkan konspirasi Barat dan agresi militer Saddam Hussein. Di mata para analis dalam negeri Iran, kepercayaan diri merupakan langkah pertama yang mendorong rakyat Iran untuk membuat persenjataan perang secara mandiri dan belajar bagaimana memanfaatkan keterbatasan sarana dan fasilitas menjadi modal kekuatan membela diri di segala bidang.

Kesimpulan Perang Irak-Iran yang terjadi selama delapan tahun dan menewaskan tidak sedikit warga sipil dari kedua belah pihak, diwarnai oleh kepentingan pribadi dan golongan. Bisa dilihat bahwa kegagalan rezim Saddam Hussein untuk mengalahkan negara revolusi Islam bentukan Khomeini adalah sikap Saddam Hussein yang sedari awal sudah meremehkan Iran. Selain unggul dalam jumlah personel militer, Iran juga memiliki senjata yang tak kalah dengan Irak. Meskipun Irak dimotori oleh negara-negara Barat dan Arab, namun ketangguhan revolusi Islam yang sebelumnya sudah terbentuk, mampu mengalahkan Irak. Terlebih karena semangat yang luar biasa warga sipil Iran untuk membela negaranya.

Peran negara Barat khususnya Amerika Serikat sangat penting terlebih untuk pendanaan perang Irak-Iran. Amerika Serikat tidak memberikan pendanaan itu secara cuma-cuma melainkan juga mempunyai kepentingan di Timur Tengah. Baik dari segi kepentingan politik, ekonomi, maupun dalam bidang keamanan dan militer. Amerika Serikat tidak hanya terlibat dalam perang Irak-Iran melainkan berbagai konflik di Timur Tengah. Usaha untuk memecah belah kekuatan Irak dan Iran juga tidak luput dari target Amerika Serikat. Buktinya, Amerika Serikat menggagalkan usaha PBB untuk menjatuhkan sanksi kepada rezim Saddam Hussein yang telah melakukan agresi. Bantuan demi bantuan pun mengalir untuk Irak, dalam hal politik, ekonomi dan militer. Anehnya, Amerika tidak hanya menyokong Irak untuk melakukan invasinya terhadap Iran. Tetapi bersamaan dengan itu pula, melalui jalur Israel, Amerika Serikat memberikan bantuan persenjataan dan militer kepada Iran. Jadi Amerika Serikat tidak sepenuhnya berpihak ke Irak, melainkan juga ke Iran.

Daftar Pustaka

Abrahamian, Ervand. 1982. Iran Between Two Resolutions. New Jersey: Princeton University

Ensiklopedia Peradaban Islam jilid 5. Jakarta: PT

Tazkia Basri, Syafiq. 1987. Iran Pasca Revolusi Sebuah Reportase Perjalanan. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan

Daliman. 1933. Sejarah Asia Barat Daya. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia: Universitas sebelas Maret Surakarta Sihbudi, M Riza. 1989. Dinamika Revolusi Iran Sejak Jatuhnya Syah hingga Wafatnya Khomeini. Jakarta: Pustaka Hidayat Spencer, William J. 2009. Global Studies: The Middle East Twelfth Edition. New York:

McGraw Hill Ochsenwald, William. 1976. The Middle East A History Fourth Edition, (New York:

Antonio, Muhammad

McGraw Hill

Website:

http://wikipedia.org diakses tanggal 30 April 2018 pada pukul 23.00 WIB

http://news.liputan6.com, 22-9-1980: Perang Terpanjang Abad 20 Iran Vs Irak Dimulai, diakses pada 30 April 2018 pada pukul 23.10 WIB

Iran Indonesia radio IRIB World Servie, Perang Irak-Iran dan Kegagalan Rezim Saddam (Bagian kedua), diakses pada tanggal 30 April 2018 pukul 23.15 WIB