Anda di halaman 1dari 115

Klasifikasi Gulma

Klasifikasi pada tumbuhan ada dua macam yaitu buatan (artificial) dan alami (natural). Cara

klasifikasi pada gulma cenderung mengarah ke sistem buatan. Atas dasar pengelompokan yang

berbeda, maka kita dapat mengelompokan gulma menjadi kelompok-kelompok atau golongan-

golongan yang berbeda pula.

Klasifikasi Gulma

Klasifikasi gulma dapat dibagi menjadi beberapa jenis, diantaranya adalah:

1. Klasifikasi gulma berdasarkan siklus hidupnya atau umur

a. Gulma semusim (annual weed)

Gulma ini berkembang biak secara generatif melalui biji, hanya dapat hidup selama satu daur

yang biasanya kurang dari satu tahun, contoh Ageratum conyzoides (babandotan), Echinochloa

crusgalli, Echinochloa colonum, Limnocharis flava, Fimbristylis littoralis.

b. Gulma dua tahun (biennial weeds)

Yaitu gulma yang menyelesaikan siklus hidupnya lebih dari satu tahun, tetapi tidak lebih dari

dua tahun. Pada tahun pertama digunakan untuk pertumbuhan vegetatif menghasilkan bentuk

roset dan pada tahun kedua berbunga, menghasilkan biji dan kemudian mati. Pada periode roset

gulma tersebut sensitif terhadap herbisida. contoh Dipsacus sylvestris, Echium vulgare, Circium

vulgare, Circium altissimum dan Artemisia biennis.

c. Gulma tahunan (perenial weed)

Gulma tahunan berkembang biak secara generatif melalui biji, dan secara vegetatif melalui

rimpang, stolon dan setek batang. Gulma ini hidup lebih dari satu tahun atau hidup sepanjang

tahun dan berbuah berulangkali. Untuk gulma yang membentuk rimpang atau umbi dapat hidup
sepanjang tahun, contoh Imperata cylindrica (alang-alang).

2. Klasifikasi gulma berdasarkan habitat

a. Gulma fakultatif

Gulma fakultatif tumbuh di habitat yang belum ada campur tangan manusia. Gulma ini tumbuh

pada lahan yang belum dikelola untuk budidaya tanaman, seperti padang alang-alang.

b. Gulma obligat

Jenis gulma ini tumbuh di habitat yang sudah ada campur tangan manusia. Gulma ini biasanya

tumbuh menyertai tanaman budidaya, seperti sawah, ladang dan perkebunan.

3. Klasifikasi gulma berdasarkan karakter

a. Gulma lunak (soft weed)

Gulma lunak yaitu jenis gulma yang tidak begitu berbahaya bagi tanaman yang dibudidayakan,

namun dalam keadaan populasi tinggi harus dikendalikan, contoh Ageratum conyzoides.

b. Gulma keras atau gulma berbahaya (noxius weed)

Gulma berbahaya adalah jenis gulma yang berpotensi allelopati, contoh (I. cylindrica), Mikania

micrantha (sembung rambat), Chromolaena odorata (kirinyuh), Cyperus rotundus (teki berumbi).

4. Klasifikasi gulma berdasarkan morfologi

a. Gulma golongan rumput (grasses)

Gulma golongan rumput sebagian besar termasuk dalam famili Gramineae atau Poaceae, dengan

ciri-ciri umum adalah: Berbatang bulat memanjang, dengan ruas-ruas batang berongga atau
padat. Daun berbentuk pita, bertulang daun sejajar, lidah-lidah daun berbulu, permukaan daun

ada yang berbulu kasar atau halus. Buah berbentuk butiran tersusun dalam bentuk malai. Berakar

serabut, berstolon atau membentuk rimpang, contoh I. Cylindrica, Digitaria ciliaris, Eleusine

indica.

b.Gulma golongan berdaun lebar (broad leaved)

Gulma golongan berdaun lebar sebagian besar temasuk tumbuhan berkeping dua

(Dicotyledoneae) dari berbagai famili. Ciri-ciri umum: Batang tubuh tegak dengan

percabangannya, ada pula yang tumbuh merambat. Daun tunggal maupun majemuk, helaian

daun bulat/bulat telur Bertulang daun melengkung atau menjari dan tepi daun rata, bergerigi atau

bergelombang. Duduk daun berhadapan atau berselangseling. Bunga tunggal atau majemuk

tersusun dalam suatu karangan bunga. Contoh Borreria alata, Ageratum conyzoides, Synedrella

nodiflora.

c. Gulma golongan teki (sedges)

Famili Cyperaceae mempunyai ciri-ciri umum: Daun berbentuk pipih atau berlekuk segi tiga,

memanjang yang tumbuh langsung dari pangkal batang. Permukaan daun biasanya licin tidak

berbulu atau ada yang berbulu agak kasar, tangkai bunga berbentuk seperti lidi, muncul dari

tengah-tengah pangkal batang dan ujungnya tersusun karangan bunga. Perakaran biasanya

membentuk stolon dan bercabang dimana setiap cabang membentuk umbi, contoh Cyperus

rotundus dan Cyperus kyllingia.

d. Gulma golongan pakis-pakisan (fern)

Cyclosorus aridus (pakis kadal).

5. Klasifikasi gulma berdasarkan sistematika


a.Monocotyledoneae

Gulma berakar serabut, susunan tulang daun sejajar atau melengkung, jumlah bagian-bagian

bunga tiga atau kelipatannya, dan biji berkeping satu. Contohnya Imperata cylindrica, Cyperus

rotundus, Cyperus dactylon, Echinochloa crusgalli, Panicum repens.

b. Dicotyledoneae

Gulma berakar tunggang, susunan tulang daun menyirip atau menjari, jumlah bagian-bagian

bunga 4 atau 5 atau kelipatannya, dan biji berkeping dua. Contohnya Amaranthus spinosus,

Mimosa sp., Euphatorium odoratum.

c. Pteridophyta

berkembangbiak secara generatif dengan spora. Sebagai contoh Salvinia sp., Marsilea crenata.

6. Klasifikasi gulma berdasarkan sifat parasit

Berdasarkan parasit atau tidaknya, gulma dibedakan dalam :

a. Gulma non parasit, contohnya Imperata cylindrica, Cyperus rotundus.

b. Gulma parasit, dibedakan lagi menjadi :

- Gulma parasit sejati, contoh Cuscuta australis (tali putri)

- Gulma semi parasit, contohnya Loranthus pentandrus.

- Gulma hiper parasit, contoh Viscum sp.

7. Klasifikasi gulma berdasar daerah asal

Berdasarkan daerah asalnya, gulma dibedakan menjadi:

a. Gulma domestik

Gulma domestik adalah gulma asli di suatu tempat/daerah, contohnya gulma alang-
alang (Imperata cylindrica) di Indonesia.

b. Gulma eksotik

Gulma eksotik yaitu gulma yang berasal dari daerah (negara) lain, contohnya gulma eceng

gondok (Eichhornia crassipes) dan gulma kiambang (Salvinia molesta) berasal dari negara lain.

https://www.perpusku.com/2017/01/klasifikasi-gulma.html ( bahan download 1 )

Pengelompokan GULMA, Mengenal Jenis-jenis Gulma dan Nama

Latinnya

A. Pengertian, Klasifikasi dan Nama Latin Gulma

gulma
Artikel – Apa itu GULMA? Apa yang dimaksud dengan GULMA? Secara umum, pengertian

gulma adalah segala jenis tanaman atau tumbuhan yang tidak ditanam dan tumbuh secara liar

dilahan pertanian, perkebunan atau tempat lain yang kehadirannya tidak diinginkan karena

keberadaannya dapat mengganggu tanaman utama. Di lahan pertanian, baik lahan budidaya

hortikultura maupun lahan budidaya tanaman perkebunan kehadiran gulma dapat berdampak

buruk bagi tanaman utama, yaitu dapat menurunkan hasil tanaman produksi.

Gulma dianggap mengganggu karena adanya kompetisi antara tanaman produksi dan gulma

dalam mendapatkan nutrisi yang ada didalam tanah. Pada jenis gulma tertentu, yaitu gulma yang

tumbuh tinggi dan menutupi tajuk tanaman produksi kompetisi (persaingan) juga terjadi dalam

memperoleh sinar matahari. Selain berkompetisi memperebutkan kebutuhan hara, beberapa jenis

gulma seperti ilalang dan mikania dapat mengeluarkan zat yang bersifat racun bagi tanaman,

yaitu zat allelophaty. Zat beracun tersebut terdapat pada akar gulma dan berdampak negatif

sebagai penghambat pertumbuhan tanaman. Jika suatu areal lahan pertanian atau perkebunan

didominasi oleh gulma ilalang dan mikania, tanaman produksi akan terlihat menguning dan

pertumbuhannya tidak normal.

B. Pengertian GULMA Menurut Beberapa Ahli

1). Mangoensoekarjo (1983) : ” Gulma adalah tumbuhan pengganggu yang nilainya negatif

apabila tumbuhan tersebut merugikan manusia, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Sebaliknya tumbuhan dikatakan memiliki nilai positif apabila mempunyai manfaat atau daya

guna bagi manusia “.

2). Sutidjo (1974) : ” Gulma adalah tumbuhan yang tumbuh tidak sesuai dengan tempatnya dan

tidak dikehendaki serta mempunyai nilai negatif “.


3). Nasution (1986) : ” Gulma merupakan tumbuh-tumbuhan yang tumbuh pada tempat yang

tidak diinginkan sehingga menimbulkan kerugian bagi kehidupan manusia. Kerugian yang

ditimbulkan antara lain pengaruh persaingan (kompetisi) mengurangi ketersediaan unsur hara

tanaman mendorong efek allelophaty “

4). Anderson (1977) : ” Gulma didefinisikan sebagai tumbuhan yang tumbuh pada tempat yang

tidak diinginkan oleh manusia. Dengan demikian apa saja termasuk tanaman budidaya dapat

dipandang sebagai gulma apabila tumbuh pada tempat yang tidak diinginkan. Tumbuhan yang

lebih lazim sebagai gulma biasanya cendrung mempunyai sifat-sifat atau ciri khas tertentu yang

memungkinkanya untuk mudah tersebar luas dan mampu menimbulkan kerugian dan

gangguan “.

5). Sukman dan Yakub (1995) : “Gulma yaitu tumbuhan liar yang dapat berkembang biak

secara vegetatif maupun generatif dan biji yang dihasilkan secara vegetatif maupun generatif

adalah dengan rhizoma,stolon,dll. Pembiakan melalui spora umumnya dilakukan oleh bangsa

pakisan sedangkan pembiakan biji dilakukan oleh bangsa gulma semusim atau tahunan“.

6). Soerjani (1998) dalam Sukman dan Yakub (1991) : “Mendefinisikan gulma sebagai

tumbuhan yang peranan, potensi, dan hakikat kehadirannya belum sepenuhnya diketahui“.

7). Ashton dan Monaco (1991) : “Gulma merupakan pesaing alami yang kuat bagi

tanamanbudidaya dikarenakan mampu memproduksi biji dalam jumlah yang banyak sehingga

kerapatannya tinggi, perkecambahannya cepat, pertumbuhan awal cepatdan daur hidup lama“.

8). Beal Cicit, Sojani (19987) : “Gulma merupakan suatu tumbuhan yang tumbuhnya salah

tempat”.
9). Soerjani (1974) ; theo 197 ; Tjitosoedirdjo (1984) : “Gilma adalah suatu tumbuhan yang

tumbuhnya tidak dikehendaki oleh manusia”.

10). Koestono (2004) : “Gulma adalah tumbuhan yang keberadaannya dapat menimbulkan

gangguan dan kerusakan bagi tanaman budidaya maupun aktifitas manusia dalam mengelola

usaha taninya“.

11). Yakub (1994) : “Gulma adalah segala tanaman yang tumbuh pada tempat yang tidak

diinginkan. Bunga mawar pun, jika tumbuh ditengah sayuran juga termasuk gulma. Kebanyakan

gulma adalah tanaman yang cepat tumbuh dan dapat menghasilkan sejumlah besar biji dalam

waktu singkat“.

D. Klasifikasi Gulma dan Jenis-jenis Gulma

Klasifikasi gulma diperlukan untuk mempelajari karakteristik dan ciri-ciri gulma, dengan tujuan

untuk mempelajari manfaat dan cara pengendaliannya. Masing-masing kelompok gulma

memperlihatkan ciri-ciri, karakteristik dan cara pengendaliannya. Pengelompokan gulma

bermanfaat untuk membantu manusia mengetahui dan mengenal jenis-jenis dan karakteristiknya

sehingga kita dapat melakukan aplikasi herbisida secara tepat dan benar sesuai dengan jenis

gulma sasaran. Berikut ini klasifikasi gulma yang dikelompokkan berdasarkan morfologi, siklus

hidup, habitat tumbuh, dan berdasarkan pengaruhnya terhadap tanaman.

1. Klasifikasi Gulma Berdasarkan Morfologi dan Biotani

Berdasarkan morfologi dan biotaninya, gulma dikelompokkan menjadi golongan yaitu golongan

rumput (grasses) famili poaceae Gramineae), golongan teki (sedges) famili Cyperaceae, dan

golongan daun lebar (Broadleaves/herbaceous)


1). Gulma golongan rumput (Grasses)

Gulma golongan rumput (grasses) termasuk dalam suku/famili Gramineae/Poaceae. Ciri-ciri

umum gulma golongan rumput antara lain memiliki batang bulat atau agak pipih dan rata-rata

berongga. Daun-daun soliter pada buku-buku (ruas), tersusun dalam dua deret, umumnya

memiliki tulang daun sejajar. Gulma terdiri atas dua bagian, yaitu pelepah daun dan helaian

daun. Daun pada umumnya berbentuk garus dengan tepi yang rata. Lidah-lidah daun sering

kelihatan jelas pada batas antara pelepah daun dan helaian daun.

Dasar karangan bunga satuannya anak bulir (spikelet) yang dapat bertangkaiatau tidak (sessilis).

Masing-masing anak bulir tersusun atas satu atau lebih bunga kecil (floret), di mana tiap-tiap

bunga kecil biasanya dikelilingi olehsepasang daun pelindung (bractea) yang tidak sama

besarnya, yang besar disebut lemna dan yang kecil disebut palea.Buah disebut caryopsis atau

grain.Gulma dalam kelompok ini berdaun sempit seperti teki tetapi menghasilkan stolon. Stolon

ini di dalam tanah berbentuk jaringan rumit yang sulit diatasi secara mekanik.

Contoh gulma golongan rumput adalah sebagai berikut :

a). Cynodon dactylon (L.) Pers. (kakawatan, gigirintingan suket grinting)

b). Eleusine indica(L.) Gaena (rumput kelulang, cerulang jukut jampang)

c). Imperata cylindrica (L.) Beauv (alang-alang, carulang, jukut jampang)

d). Echinochloa crus-galli (L.) Cerv( jajagoan)

e). Echinochloa colanum (L.) Cerv (jajagoan leutik)

f). Panicum repens L. (lulampuyangan, jajahean)

g). Paspalum conjugatum Bergrn (jukut japang pait, jukut pait, rumput)

2). Gulma golongan teki (sedges)


Gulma golongan teki termasuk dalam familia Cyperaceae. Batangumumnya berbentuk segitiga,

kadang-kadang juga bulat dan biasanya tidak berongga. Daun tersusun dalam tiga deretan, tidak

memiliki lidah-lidah daun(ligula). Ibu tangkai karangan bunga tidak berbuku-buku. Bunga sering

dalam bulir (spica) atau anak bulir, biasanya dilindungi oleh suatu daun pelindung.Buahnya tidak

membuka. Kelompok teki – tekian memiliki daya tahan luar biasa terhadap pengendalian

mekanis, karena memiliki umbi batang di dalamtanah

yang mampu bertahan berbulan – bulan.

Contoh gulma golongan teki adalah sebagai berikut :

a). Cyperus bervifolius (jukut pendul)

b). Cyperus rotundus L (teki)

c). Cyperus difformia L. (jukut papayungan).

d). Cyperus halpan L. (papayungan)

e). Cyperus iria L. (jekeng, lingih alit).

f). Cyperus kyllingia Endl. (jukut pendul bodas, teki, teki bodot, teki pendul).

g). Fimbristylis littoralis geidlah (F. miliacea (L) cahl (panon munding, tumbaran).

h). Scirpus grossius L.F (waligi, wlingen, lingi, mensing).

3). Golongan gulma daun lebar (Broadleaves)

Gulma berdaun lebar umumnya termasuk Dicotyledoneae danPteridophyta. Daun lebar dengan

tulang daun berbentuk jala. Gulma ini biasanya tumbuh pada akhir masa budi daya. Kompetisi

terhadap tanamanutama berupa kompetisi cahaya.

Contoh gulma berdaun lebar adalah sebagai berikut ;


a). Salvinia molesla D.S Mit het (kimbang, kayambang janji, lukut cai, lukut)

b). Marsilea crenala presl (semangi, samanggen).

c). Azolla pinnala R. Br (kaya apu dadak)

d). Limnocharis fIava (L. Buch (genjer, centong)

e). Ageratum conyzoides L. (bebadotan, wedusan).

f). Borreria alata (Aubl. (DC (kabumpang lemah, goletrak, letah hayam, rumput setawar).

g). Stachyarpheta indica (L.) vahl (jarong, gajihan)

h). Amaranthus spinosus L. (bayam duri, bayem eri, senggang cucuk).

i). Synedrella nodiflora (L.) gaentn (babadotan lalakina, jotang, jotang kuda)

j). Physalis angulata (ciplukan)

2. Klasifikasi Gulma Berdasarkan Siklus Hidup

Berdasarkan siklus hidupnya, gulma dapat dibedakan menjadi gulma semusim (annual weeds),

gulma dua musim (biannual weeds), dan gulma tahunan (perennial weeds).

1). Gulma Semusim (Annual Weeds)

Siklus hidup gulma semusim mulai dari berkecambah, berproduksi, sampai akhimya mati

berlangsung selama satu tahun. Pada umumnya, gulma semusim mudah dikendalikan, namun

pertumbuhannya sangat cepat karena produksi biji sangat banyak. Oleh karena itu, pengendalian

gulma semusim memerlukan biaya yang lebih besar.

Contoh gulma semusim adalah sebagai berikut :

a). Amaranthus sp. (bayam duri)

b). Digitaria sp. (rumput jampang)


c). Eleusine indica (lulangan, rumput belulang)

d). Ipomoea purpurra

e). Setaria sp.

2). Gulma Dua Musim (Biannual Weeds)

Siklus hidup gulma dua musim lebih dari satu tahun, namun tidak lebih dari dua tahun. Pada

tahun pertama gulma ini menghasilkan bentuk roset, pada tahun kedua berbunga, menghasilkan

biji, dan akhimya mati. Pada periode roset, gulma jenis ini pada umumnya sensitif terhadap

herbisida.

Contoh gulma dua musim adalah sebagai berikut :

a). Aretium sp.

b). Circium vulgare

c). Verbascum thapsus

3). Gulma Tahunan (Perennial Weeds)

Siklus hidup gulma tahunan lebih dari dua tahun dan mungkin tidak terbatas (menahun). Jenis

gulma ini kebanyakan berkembang biak dengan biji, meskipun ada juga yang berkembang biak

secara vegetatif. Gulma tahunan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan. Misalnya, pada

musim kemarau jenis gulma ini seolah-olah mati karena ada bagian yang mengering, namun bila

ketersediaan air cukup, gulma akan segera bersemi kembali.

Contoh gulma tahunan adalah sebagai berikut :


a). Cynodon dactylon

b). Cyperus rotundus

c). Imperata cylindrica

3. Klasifikasi Gulma Berdasarkan Habitat Tumbuh

Berdasarkan habitatnya, gulma dapat dibedakan menjadi gulma air (aquatic weeds) dan gulma

daratan (terestrial weeds).

1). Gulma Air (Aquatic Weeds)

Pada umumnya, gulma air tumbuh di air, baik mengapung, tenggelam, ataupun setengah

tenggelam. Gulma air dapat berupa gulma berdaun sempit, berdaun lebar, ataupun teki-tekian

Contoh gulma air adalah sebagai berikut :

a). Cyperus difformis

b). Cyperus iria

c). Echinochloa colonum

d). Echinochloa crus-galli

e). Eichomia grassipes

f). Leersia hexandra

g). Leptochloa chinensis

h). Monochoria vaginalis

i). Salvinia molesia

j). Scirpus mucronatus

2). Gulma Daratan (Terestrial Weeds)


Gulma daratan tumbuh di darat, antara lain di tegalan dan perkebunan. Jenis gulma daratan yang

tumbuh di perkebunan sangat tergantung pada jenis tanaman utama, jenis tanah, iklim, dan pola

tanam

Contoh jenis gulma daratan adalah sebagai berikut :

a). Ageratum conyzoides

b). Axonopus compressus

c). Chromolaena odorata

d). Euphorbia sp.

e). Imperata cylindrica

f). Melastoma malabatricum

g). Mikania micrantha

h). Panicum repens

i). Stachytarpheta indica

4. Klasifikasi Gulma Berdasarkan Pengaruhnya Terhadap Tanaman Perkebunan

Berdasarkan pengaruhnya terhadap tanaman perkebunan, gulma dibedakan menjadi gulma kelas

A, B, C, D, dan E.

1). Gulma Kelas A

Gulma yang digolongkan ke dalam kelas A adalah jenis-jenis gulma yang sangat berbahaya bagi

tanaman perkebunan sehingga harus diberantas secara tuntas

Contoh jenis gulma kelas A adalah sebagai berikut :


a). Imperata cylindrica

b). Mikania sp.

c). Mimosa sp.

2). Gulma Kelas B

Gulma yang digolongkan sebagai gulma kelas B adalah jenis-jenis gulma yang merugikan

tanaman perkebunan sehingga perlu dilakukan tindakan pemberantasan atau pengendalian.

Contoh jenis gulma kelas B adalah sebagai berikut :

a). Brachiaria mutica

b). Gleichenia liniearis

c). Lantana camara

d). Melastoma malabathricum

e). Scleria sumatrensis

3). Gulma Kelas C

Gulma yang digolongkan ke dalam gulma kelas C adalah jenis-jenis gulma atau tumbuhan yang

merugikan tanaman perkebunan dan me- merlukan tindakan pengendalian, namun tindakan

pengendalian tersebut tergantung pada keadaan, misalnya ketersediaan biaya, atau mempertim-

bangkan segi estetika (kebersihan kebun).

Contoh jenis gulma kelas C adalah sebagai berikut :

a) Axonopus compressus

b). Boreria latifolia

c). Cyclocorus aridus


d). Cynodon dactylon

e) Cyperus sp.

f) Echinochloa colonum

g). Eleusine indica

h). Nephrolepsis bisserata

i). Ottochloa nodosa

j). Paspalum conjugatum

k). Sporolobus sp.

4). Gulma Kelas D

Gulma yang digolongkan sebagai gulma kelas D adalah jenis-jenis gulma yang kurang

merugikan tanaman perkebunan, namun tetap me-

merlukan tindakan pengendalian.

Contoh jenis gulma kelas D adalah sebagai berikut :

a). Ageratum conyzoides

c). Cyrtococcum sp.

d). Digitaria sp.

5). Gulma Kelas E

Gulma yang digolongkan ke dalam gulma kelas E adalah jenis-jenis gulma yang pada umumnya

bermanfaat bagi tanaman perkebunan karena dapat berfungsi sebagai pupuk hijau. Gulma kelas

E dibiarkan tumbuh menutupi gawangan tanaman, namun tetap memerlukan tindakan pengen-

dalian jika pertumbuhannya sudah menutupi piringan atau jalur tanaman.


Contoh jenis gulma kelas E adalah sebagai berikut :

a). Calopogonium caereleum

b). Calopogonium mucunoides

c). Centrosema pubescens

d). Pueraria javanica

e). Pueraria phaseoloides

https://mitalom.com/pengelompokan-gulma-mengenal-jenis-jenis-gulma-dan-nama-latinnya/ (

bahan download 2 )

Jenis dan Klasifikasi Gulma

1. Imperata cylindrica (alang alang atau lialang)


Alang-alang atau ilalang ialah sejenis rumput berdaun tajam, yang kerap menjadi gulma di lahan

pertanian. Rumput ini juga dikenal dengan nama-nama daerah seperti alalang, halalang. Alang-

alang dapat berbiak dengan cepat, dengan benih-benihnya yang tersebar cepat bersama angin,

atau melalui rimpangnya yang lekas menembus tanah yang gembur. Berlawanan dengan

anggapan umum, alang-alang tidak suka tumbuh di tanah yang miskin, gersang atau berbatu-

batu. Rumput ini senang dengan tanah-tanah yang cukup subur, banyak disinari matahari sampai

agak teduh, dengan kondisi lembap atau kering. Di tanah-tanah yang becek atau terendam, atau

yang senantiasa ternaungi, alang-alang pun tak mau tumbuh. Gulma ini dengan segera menguasai

lahan bekas hutan yang rusak dan terbuka, bekas ladang, sawah yang mengering, tepi jalan dan

lain-lain.

2. Cyperus rotundus ( teki ladang)


a. Klasifikasi

Kingdom : Plantae

Subkindom : Tracheobionta

Superdivisi : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Liliopsida

Subkelas : Commelinidae

Ordo : Cyperales

Family : Cyperaceae

Genus : Cyperus

Spesies : Cyperus rotundus


b. Habitat

Dapat tumbuh pada bermacam-macam keadaan tanah dengan ketinggian 1 – 1000 m. Gulma ini

termasuk gulma tahunan yang berkembang biak terutama dengan umbinya. Umbi gulma ini

dapat tumbuh pada suhu sekitar 13 – 14°C dan suhu optimum untuk pertumbuhan teki berkisar

antara 30 – 35°C.

c. Pemanfaatan

Umbi Cyperus rotundus berkhasiat sebagai obat kejang peait, peluruh air seni dan bahan

kosmetika.

d. Kandungan kimia

Akar Cyperus rotundus mengandung saonin, flavonoida, disamping minyak atsiri.

e. Pengendalian

Sistem Pergiliran tanaman

3. Mimosa pudica ( putri malu )


Putri malu atau Mimosa pudica adalah perdu pendek anggota suku polong-polongan yang mudah

dikenal karena daun-daunnya yang dapat secara cepat menutup/"layu" dengan sendirinya saat

disentuh.

Klasifikasi

Nama umum : Touch-Me-Not

Nama local : Putri malu

Familia : Leguminoceae

Habitat

Majemuk, berupa polong yang lonjong, bila sudah tua akan rontok dan biji akan keluar.

Pengendalian
Dengan penyemprotan 1,1 kg MSMA + 0,45 kg 2,4-D + 2,2 kg Sodium klorat + 0,61 Surfactant

pada 182 liter air dengan jangka waktu 5 minggu.

4. Ageratum conyzoides L (bebandotan )

Bandotan (Ageratum conyzoides) adalah sejenis gulma pertanian anggota suku Asteraceae.

Terna semusim ini berasal dari Amerika tropis, khususnya Brazil, akan tetapi telah lama masuk

dan meliar di wilayah Nusantara.

Klasifikasi

Kingdom : Plantae

Famili : Asteraceae
Genus : Ageratum

Spesies : Ageratum conyzoides

Penyebaran

Berasal dai Amerika tropis, daerah tropis dan dataran hingga ketinggian 1 – 2100 m diatas

permukaan laut

5.

Oxalis corniculata L.( cacalincingan)

Tempat tumbuhnya tumbuh di tegalan, kebun sepanjang tembok dan pagar, tanggul kecil dan

jalan setapak di hutan, tumbuh baik pada ketinggian mencapai 1300 m dpl
Pengendalian

Secara kimiawi dengan cara pemberian herbisida. trifuralin dengan dosis 2-8 kg bahan aktif/ha.

Bila terdapat dalam jumlah banyak maka yang digunakan adalah velapon 50 EC. Sementara

metil Bromida Rofan dan daramut setelah fangasi terhadap media tumbuh.

Penyebaran

Hindia Barat dan Tengah dan Amerika Selatan,ke bagian Afrika, Ceylon Malesiatelah di

Caroline dan Kepulauan Mariana dan samoa

6. Themede arguens (L) Hack (Memerakan)

Nama umum : Lesser Tassel Grass

Familia : Poaceae
Memiliki akar serabut. Batang pada tanaman ini kaku dan ramping, ketinggian + 30- 90cm. Daun

daunnya runcing ke ujung (acutus), umumnya berambut, seludang jarang yang berambut,

panjang 5-20 cm, lebar 2-8 mm berbentuk garis atau benang (folium linearum) dengan tulang

daun sejajar (paralel nervis). Bunga dapat berupa karangan panicula di akhirr pucuk, panjang 10-

20 cm, warna kemerahan atau keunguan, bercabang halus dan menyebar, spikelet tertutup oleh

rambut tipis, tangkainya ramping dan beberapa rambut halus dan panjang di ujung, tiap skelet

terdiri dari dua floret yang lebih rendah, steril dan sekamnya berjanggut, yang lebih atas

inseksual dan sekamnya kosong.

Pengendalian

secara kimiawi yaitu Rubf H 500 Hsb, Unhnex sp, Esteron 4 sp.

7. Richardia brasiliensis Gomez (Goletrak beuti)


Nama ilmiah : Richardia brasiliensis Gomez

Familia : Rubiaceae

Memiliki akar tunggang. Batang : batangnya berbentuk segiempat, merupakan tanaman

berbatang herba, berbulu dengan tinggi + 6cm. Daun berbentuk elips dimana pada bagian tengah

agak melebar dan ujungnya pendek dan tajam. Tangkai daun tanaman/ gulma ini pendek, dimana

pangkal daun bersatu dengan stipula yang berbentuk mangkok. Letak daun berhadapan.

Pengendalian

Pengendalian yang dilakukan 2 kali aplikasi dalam 3 pont (1 pont = 0,566 lb) Sardox HL

ditambah 1 pont 2,4-D dalam 40 gallon air dengan interval 5 minggu.


8. Eleusine indica (L) Gaertn (Carulang)

Familia : Gramineae

Habitat

tanaman ini cepat tumbuh dan berkembang bila memperoleh cahaya cukup banyak dan air

berlimpah. Bila kondisi tidak menguntungkan gulma ini akan cepat mati, missal menderita

penaungan. Pertumbuhan vegetatif sngat teredusir pada musim kemarau/ bila RH tanah sangat

rendah. Hidup juga pada tanaman kacang-kacangan.


Pengendalian

Untuk pengendalian gulma yang tidak begitu luas, dilakukan secara manual. Pada tempat seperti

sepanjang tepi jalan, saluran air dan sebagainya pemberantasannya menggunakan herbisida.

9. Euphorbia hirta L. (Kirinyuh)

Familia : Euphorbiaceae

Habitat

Tempat hidup tanaman ini adalah tegalan, tanah berpasir dan tanah pertanian diketinggian1-

1400m dpl. perbanyakan dilakukan secara generatif dengan biji.

Pengendalian
Pengendalian dilakukan secara mekanik dengan cara dicabut dan secara kimiawi dengan

menggunakan 2,5 lb MSMA + 5 lb Sodium Chlorate dalam 4 gallon air dengan penyemprotan

dilakukan setiap lima minggu.

http://ruangpertanian.blogspot.com/2014/06/jenis-dan-klasifikasi-gulma.html ( bahan download

3)

Klasifikasi Penggolongan Gulma

Sifat-sifat Gulma secara umum

Gulma merupakan tumbuhan yang mempunyai sifat dan ciri khas tertentu, yang umumnya

berbeda dengan tanaman pokok atau tanaman budidaya. Sifat-sifat dari gulma tersebut antara

lain:

1. Gulma mudah tumbuh pada setiap tempat atau daerah yang berbeda-beda, mulai dari tempat

yang miskin nutrisi sampai tempat yang kaya nutrisi.

2. Gulma dapat bertahan hidup dan tumbuh pada daerah kering sampai daerah yang lembab

bahkan tergenangpun masih dapat bertahan.


3. Kemampuan gulma untuk mengadakan regenerasi atau perkembangbiakan memperbanyak diri

besar sekali, khususnya pada gulma perennial. Gulma perennial (gulma yang hidupnya menahun)

dapat pula menyebar luas dengan cara perkembangbiakan vegetatif disamping secara generatif.

Luasnya penyebaran gulma disebabkan oleh sifat daun yang dapat bermodifikasi, yaitu tumbuh

menjadi tumbuhan baru seperti pada daun Cocor bebek (Calanchoe sp). Demikian juga dengan

bagian-bagian tumbuhan gulma yang lain dapat pula tumbuh menjadi individu gulma yang baru,

seperti akar, batang, umbi dan lain sebagainya. Inilah yang memungkinkan gulma unggul dalam

persaingan (berkompetisi) dengan tanaman budidaya.

4. Gulma juga dapat menghasilkan biji dalam jumlah yang sangat banyak, ini pulalah yang

memungkinkan gulma cepat berkembang biak.

Sedangkan gulma berdaun sempit yaitu apabila helaian daun atau laminanya berbentuk

memanjang dan ukuran lebarnya helaian daun kecil atau sempit. Helaian daun dari golongan ini

umumnya terdiri dari kelampok daun yang berbentuk pita, linearis, jarum dan yang berbentuk

panjang-panjang. Pertulangan daun dari golongan ini umumnya berbentuk lurus-lurus atau

linearis yang umumnya didominasi oleh kelompok tumbuhan dari klas Monocotyledoneae.

Dengan demikian berdasarkan

Dalam berkompetisi dengan tanaman budidaya tumbuhan gulma juga ada yang mengeluarkan

bau dan rasa yang kurang sedap, bahkan dapat mengeluarkan zat pada sekitar tempat tumbuhnya.

Zat itu berbentuk senyawa kimia seperti cairan berupa toksin (racun) yang dapat mengganggu
atau menghambat pertumbuhan tanaman lain yang ada disekitar gulma tersebut, (kejadian

tersebut dikenal juga dengan peristiwa allelopati).

Lihat juga : Tinjauan Ekologi, Sifat Serta Kerugian Yang Diakibatkan Gulma

Gulma dapat dibedakan menjadi beberapa golongan atau kelompok berdasarkan kepada: bentuk

daun, daerah tempat hidup (habitat), daur atau siklus hidup, sifat botani dan morfologi, dan cara

perkembangbiakan.

Penggolongan berdasarkan bentuk daun

Penggolongan berdasarkan bentuk daun ini berpatokan atas lebar atau sempitnya daun. Gulma

berdaun lebar yaitu apabila lebar dari helaian daunnya lebih dari setengah ukuran panjangnya.

Helaian daun tersebut dapat berbentuk oval, bulat, segita, lonjong, membulat atau seperti bentuk

ginjal. Pertulangan daun (nervatio) dari golongan ini umumnya bentuk menyirip. Golongan

gulma berdaun lebar ini umumnya didominasi oleh kelompok tumbuhan dari klas

Dicotyledoneae.

bentuk daun ini maka gulma dapat dibagi dua yaitu gulma berdaun lebar dan gulma berdaun

sempit.

a. Gulma berdaun lebar


Tumbuhan ini mempunyai bentuk daun yang lebar dan luas dan umumnya:

- mempunyai lintasan C3

- nervatio (pertulangan daun) menyirip

- dari kelompok Dicotyledoneae

- bentuk helaian membulat, bulat, oval, lonjong, segitiga, bentuk ginjal, dll.

Contoh:

- Amaranthus spinosus L.

- Ageratum conyzoides (bandotan)

- Portulaca oleracea

- Melastoma malabathricum

- Eupatorium odoratum
- Euphorbia hirta

- Centella asiatica

b. Gulma berdaun sempit

Tumbuhan ini mempunyai bentuk daun sempit dan memanjang;

- mempunyai lintasan C4

- nervatio (pertulangan daun) linearis atau garis-garis memanjang.

- dari kelompok monocotyledoneae

- bentuk daun memanjang seperti pita, jarum, garis dll

contoh:

- Leersea hexandra

- Sprobolus poiretii

- Cyperus rotundus
- Imperata cylindrica

Penggolongan gulma berdasarkan habitat

Berdasarkan habitat atau tempat hidup maka gulma dapat dikelompokkan menjadi beberapa

golongan yaitu:

1. Gulma darat (terristerial weed)

yaitu semua tumbuhan gulma yang hidup dan tumbuhnya di darat, seperti: Imperata cylindrical,

Melastoma malabathricum, dsb. Pada gulma darat ini dapat dibagi lagi menjadi beberapa

kelompok berdasarkan lahan atau arealnya seperti:

A. Gulma sawah tanaman palawija,

contoh:

- Portulaca oleracea

- Cyperus rotundus, dll

B. Gulma ladang,
contoh:

- Leersea hexandra

- Imperata cylindrical

C. Gulma kebun,

contoh:

- Ageratum conyzoides

- Stachytarpita sp

D. Gulma hutan,

contoh:

- Melastoma malabathricum

- Crotalaria sp
E. Gulma Padang rumput,

contoh:

- Sprobolus poiretii

- Andropogon sp

2. Gulma air

yaitu semua tumbuhan gulma yang hidup, tumbuh dan berkembang biaknya terjadi di dalam air,

di daerah perairan atau ditempat yang basah dan tergenang, Contoh dari gulma ini adalah:

Eichornia crassipes, Hydrilla verticilata, Pistia stratiotes, Nymphaea sp.

Lihat juga : 14 Pengertian Gulma Menurut Para Ahli

Penggolongan berdasarkan daur hidup

Menurut Ashton (1991), berdasarkan daur hidup (siklus hidup), maka gulma dapat

dikelompokkan pada beberapa golongan yaitu.

- Annual (semusim)

Adalah tumbuhan gulma yang mempunyai daur hidup hanya satu musim atau satu tahunan,
mulai dari tumbuh, anakan, dewasa dan berkembang biak. Contoh gulma semusim adalah:

Ageratum conyzoides, Stachytarpita sp.

- Biennial (dua musim)

Yaitu tumbuhan gulma yang mempunyai daur hidup mulai dari tumbuh,anakan,dewasa dan

berkembang biak selama dua musim tetapi kurang dari dua tahun. Contoh gulma ini adalah:

Lactuca canadensis L.

- Perinnial (gulma musiman atau tahunan)

Adalah tumbuhan gulma yang dapat hidup lebih dari dua tahun atau lama berkelanjutan bila

kondisi memungkinkan. Contoh gulma ini adalah kebanyakan dari klas monocotyledoneae

seperti; Cyperus rotundus, Imperata cylindrical, dll

Penggolongan berdasarkan sifat morfologi

Menurut Tjitrosoedirdjo et. al (1984), berdasarkan sifat morfologi maka gulma dapat

dikelomp;okkan menjadi tiga golongan yaitu:

- Golongan rumput-rumptan (grasses)

Yaitu semua tumbuhan gulma yang berasal dari keluarga Gramineae (Poaceae). Gulma ini
ukurannya bervariasi, tumbuh bisa tegak maupun menjalar , hidup semusim atau tahunan. Ciri-

ciri kelompok gulma yang tergolong kedalam keluarga rumput ini adalah batangnya umumnya

mempunyai ruas-ruas dan buku. Jarak masing-masing ruas (internodus) bisa sama dan bisa pula

berbeda dan bahkan ada yang cukup panjang, yang tidak sebanding dengan buku (internodus),

batangnya ini ada yang menyebut dengan culm. Ciri lain dari kelompok ini adalah daunnya yang

tidak mempunyai tangkai daun (ptiolus) tapi hanya mempunya pelepah/ upih (vagina) dan

helaian daun (lamina).

Contoh dari gulma ini banyak sekali dan ditemukan pada berbagai tempat, baik di areal tanaman

budidaya maupun di daerah yang terbuka, misalnya; Eleusine indica, Imperata cylindrical,

Panicum repens, Paspalum conjugatum, Axonopus compressus, Leersea hexandra.

- Golongan Teki-tekian (sedges)

Yang termasuk kedalam kelompok gulma ini adalah dari keluarga Cyperaceae. Ciri khas dari

kelompok teki ini adalah batangnya yang berbentuk segitiga, dan pada sebagian besar sistim

perakarannya terdiri dari akar rimpang (rhizome) dan umbi (tuber).

Contoh gulma ini adalah; Cyperus rotundus, Cyperus irinaria, dll.

- Golongan gulma berdaun lebar (broad leaf weed)

Kelompok ini terdiri dari gulma yang berdaun lebar (luas) yang umumnya terdiri dari klas
Dicotyledoneae, pertulangan daun umunya menyirip, misalnya: Ageratum conyzoides,

Eupatorium odoratum, Melastoma malabathricum, Phylanthus niruri, dll.

Penggolongan berdasarkan sifat botani

Menurut Triharso (1994), berdasarkan sifat-sifat botaninya maka gulma dapat dikelompokkan

menjadi beberapa golongan yaitu:

- Golongan gulma Dicotyledoneae (berkeping dua)

Yaitu semua tumbuhan gulma yang berasal dari klas Dikotiledon, seperti: Crotalaria sp,

Melastoma malabathricum, Phyllanthus niruri, Lantana camara, dll.

- Golongan gulma Monocotyledoneae (berkeping satu)

Adalah semua tumbuhan gulma yang berasal dari klas Monokotil seperti: Imperata cylindrical,

Panicum repens, Dactyloptenium sp., Eragrostis amabilis, Cynodon dactylon, cyperus rotundus,

dll.

- Golongan gulma Pteridophyta (pakis-pakisan)

Yaitu semua gulma yang berasal dari kelompok pakis-pakisan, contohnya : Neprolepsis

bisserata.
https://www.atobasahona.com/2016/12/klasifikasi-penggolongan-gulma.html ( BAHAN

DOWNLOAD 4 )

Jenis – Jenis Gulma

DEFINISI GULMA

Gulma adalaha tumbuhan yang tumbuh pada areal yang tidak dikehendaki, tumbuh pada

areal pertanaman. Gulma secara langsung maupun tidak langsung merugikan tanaman budidaya.

Pengenalan suatu jenis gulma dapat dilakukan dengan melihat keadaan morfologinya, habitatnya,

dan bentuk pertumbuhannya. Berdasarkan keadaan morfologinya, dikenala gulma rerumputan

(grasses), teki – tekian (sedges), dan berdaun lebar (board leaf).

Golongan gulma rurumputan kebanyakan berasal dari famili gramineae (poaceae). Ukuran gulma

golongan rerumputan bervariasi, ada yang tegak, menjalar, hidup semusim, atau tahunan.

Batangnya disebut culms, terbagi menjadi ruas dengan buku-buku yang terdapat antara ruas.

Batang tumbuh bergantian pada dua buku pada setiap antara ruas daun terdiri dari dua bagian

yaitu pelepah daun dan helaian daun., contoh gulma rerumputan Panicium repens, Eleusine

indica, Axonopus compressus dan masih banyak lagi.


Golongan teki-tekian kebanykan berasal dari famili Cyperaceae. Golongan ini dari

penampakanya hampir mirip dengan golongan rerumputan, bedanya terletak pada bentuk

batangnya. Batang dari golongan teki-tekian berbentuk segitiga. Selain itu golongan teki-tekian

tidak memiliki umbi atau akar ramping di dalam tanah. Contoh golongan teki-tekian: Cyprus

rotundus, Cyprus compresus.

Golongan gulma berdaun lebar antara lain: Mikania spp, Ageratum conyzoides, Euparotum

odorotum. Berdasarkan habitat tumbuhnya, dikenal gulma darat, dan gulma air. Gulma darat

merupakan gulma yang hidup didarat, dapat merupakan gulma yang hidup setahun, dua tahun,

atau tahunan (tidak terbatas). Penyebaranya dapat melalui biji atau dengan cara vegetatif. Contoh

gulma darat diantaranya Agerathum conyzoides, Digitaria spp, Imperata cylindrical, Amaranthus

spinosus. Gulma air merupakan gulama yang hidupnya berada di air. Jenis gulma air dibedakan

menjadi tiga, yaitu gulma air yang hidupnya terapung dipermukaan air (Eichhorina

crassipes, Silvinia spp), gulma air yang tenggelam di dalam air (Ceratophylium demersum), dan

gulma air yang timbul ke permukaan tumbuh dari dasar (Nymphae sp, Sagitaria spp).

KLASIFIKASI GULMA

Cara klasifiikasi pada tumbuhan ada dua macam yaitu buatan (artificial) dan alami (natural).

Pada klasifikasi sistem buatan pengelompokan tumbuhan hanya didasarkan pada salah satu sifat

atau sifat-sifat yang paling umum saja, sehingga kemungkinan bisa terjadi beberapa tumbuhan

yang mempunyai hubungan erat satu sama lain dikelompokan dalam kelompok yang terpisah dan

sebaliknya beberapa tumbuhan yang hanya mempunyai sedikit persamaan mungkin

dikelompokan bersama dalam satu kelompok. Hal demikian inilah yang merupakan kelemahan
utama dari klasifikasi sistem buatan. Pada klasifikasi sistem alami pengelompokan didasarkan

pada kombinasi dari beberapa sifat morfologis yang penting. Klasifikasi sistem alami lebih maju

daripada klasifikasi sistem buatan, sebab menurut sistem tersebut hanya tumbuh-tumbuhan yang

mempunyai hubungan filogenetis saja yang dikelompokan ke dalam kelompok yang sama.

Cara klasifikasi pada gulma cenderung mengarah ke sistem buatan. Atas dasar pengelompokan

yang berbeda, maka kita dapat mengelompokan gulma menjadi kelompok-kelompok atau

golongan-golongan yang berbeda pula. Gulma dapat dikelompokan seperti berikut ini :

1. Berdasarkan siklus hidupnya, gulma dapat dikelompokan menjadi :

Gulma setahun (gulma semusim, annual weeds), yaitu gulma yang menyelesaikan siklus

hidupnya dalam waktu kurang dari satu tahun atau paling lama satu tahun (mulai dari

berkecambah sampai memproduksi biji dan kemudian mati). Karena kebanyakan umurnya hanya

seumur tanaman semusim, maka gulma tersebut sering disebut sebagai gulma semusim.

Walaupun sebenarnya mudah dikendalikan, tetapi kenyataannya kita sering mengalami kesulitan,

karena gulma tersebut mempunyai beberapa kelebihan yaitu umurnya pendek, menghasilkan biji

dalam jumlah yang banyak dan masa dormansi biji yang panjang sehingga dapat lebih bertahan

hidupnya. Di Indonesia banyak dijumpai jenis-jenis gulma setahun, contohnya Echinochloa

crusgalli, Echinochloa colonum, Monochoria vaginalis, Limnocharis flava, Fimbristylis

littoralis dan lain sebagainya.

Gulma dua tahun (biennial weeds), yaitu gulma yang menyelesaikan siklus hidupnya lebih dari

satu tahun, tetapi tidak lebih dari dua tahun. Pada tahun pertama digunakan untuk pertumbuhan

vegetatif menghasilkan bentuk roset dan pada tahun kedua berbunga, menghasilkan biji dan

kemudian mati. Pada periode roset gulma tersebut sensitif terhadap herbisida. Yang termasuk
gulma dua tahun yaitu Dipsacus sylvestris, Echium vulgare, Circium vulgare, Circium

altissimum dan Artemisia biennis.

Gulma tahunan (perennial weeds), yaitu gulma yang dapat hidup lebih dari dua tahun atau

mungkin hampir tidak terbatas (bertahun-tahun). Kebanyakan berkembang biak dengan biji dan

banyak diantaranya yang berkembang biak secara vegetatif. Pada keadaan kekurangan air (di

musim kemarau) gulma tersebut seolah-olah mati karena bagian yang berada di atas tanah

mengering, akan tetapi begitu ada air yang cukup untuk pertumbuhannya akan bersemi kembali.

Berdasarkan cara berkembangbiaknya, gulma tahunan dibedakan menjadi

dua :

a. Simple perennial, yaitu gulma yang sebenarnya hanya berkembang biak dengan biji, akan

tetapi apabila bagian tubuhnya terpotong maka potongannya akan dapat tumbuh menjadi

individu baru. Sebagai contoh Taraxacum sp. dan Rumex sp., apabila akarnya terpotong menjadi

dua, maka masing-masing potongannya akan tumbuh menjadi individu baru.

b. Creeping perennial, yaitu gulma yang dapat berkembang biak dengan akar yang menjalar

(root creeping), batang yang menjalar di atas tanah (stolon) atau batang yang menjalar di dalam

tanah (rhizoma). Yang termasuk dalam golongan ini contohnya Cynodon dactylon, Sorgum

helepense, Agropyron repens, Circium vulgare. Beberapa diantaranya ada yang berkembang biak

dengan umbi (tuber), contohnya Cyperus rotundus dan Helianthus tuberosus. Contoh gulma

tahunan populer yang perkembangbiakan utamanya dengan rhizoma adalah alang-alang

(Imperata cylindrica). Dengan dimilikinya alat perkembangbiakan vegetatif, maka gulma

tersebut sukar sekali untuk diberantas. Adanya pengolahan tanah untuk penanaman tanaman

pangan atau tanaman setahun lainnya akan membantu perkembangbiakan, karena dengan
terpotong-potongnya rhizoma, stolon atau tubernya maka pertumbuhan baru akan segera dimulai

dan dapat tumbuh berkembangbiak dengan pesat dalam waktu yang tidak terlalu lama apabila air

tercukupi. Adanya pengendalian dengan frekuensi yang tinggi (sering atau berulang-ulang) baik

secara mekanis ataupun secara kimiawi, maka lambat laun pertumbuhannya akan tertekan juga.

Satu cara pengendalian yang efektif, yang juga diperlukan adalah dengan membunuh kecambah-

kecambah yang baru muncul atau tumbuh di atas permukaan tanah.

Berdasarkan habitatnya, gulma dikelompokkan menjadi :

Gulma darat (terrestial weeds), yaitu gulma yang tumbuh pada habitat tanah atau darat.

Contoh Cyperus rotundus, Imperata cylindrica, Cynodon dactylon, Amaranthus

spinosus, Mimosa sp. , dan lain sebagainya.

Gulma air (aquatic weeds), yaitu gulma yang tumbuh di habitat air. Gulma air dibedakan

menjadi dua kelompok, yaitu :

Gulma air garam (saltwater atau marine weeds), yaitu gulma yang hidup pada kondisi air

seperti air laut, di hutan-hutan bakau. Sebagai contoh Enchalus acoroides dan Acrosticum

aureum.

Gulma air tawar (fresh water weeds), yaitu gulma yang tumbuh di habitat air

tawar. Dikelompokkan lagi ke dalam:

Gulma yang tumbuh mengapung (floating weeds), contohnya Eichornia crassipes, Salvinia

cuculata, Pistia stratiotes.

Gulma yang hidup tenggelam (submerged weeds), dibedakan kedalam :


ü Gulma yang hidup melayang (submerged not anchored weeds), contoh Ultricularia

gibba.Gulma yang akarnya masuk ke dalam tanah (submerged anchored weeds), contoh Hydrilla

verticillata, Ottelia alismoides, Najas indica, Ceratophyllum demersum.

ü Gulma yang sebagian tubuhnya tenggelam dan sebagian mengapung (emerged weeds),

contoh Nymphae spp. , Nymphoides indica.

ü Gulma yang tumbuh di tepian (marginal weeds), contoh Panicum repens, Scleria

poaeformis, Rhychospora corymbosa, Polygonum sp., Ludwigia sp., Leersia hexandra, Cyperus

elatus.

Berdasarkan tempat tumbuhnya, gulma dikelompokkan menjadi :

Terdapat di tanah sawah, contohnya Echinochola crusgalli, Echinochola colonum, Monochoria

vaginalis, Limnocharis flava, Marsilea crenata.

Terdapat di tanah kering atau tegalan, contohnya Cyperus rotundus, Amaranthus

spinosus, Eleusine indica.

Terdapat di tanah perkebunan besar, contohnya Imperata cylindrica, Salvinia sp., Pistia

stratiotes.

Berdasarkan sistematikanya, gulma dikelompokan ke dalam :

a. Monocotyledoneae, gulma berakar serabut, susunan tulang daun sejajar atau melengkung,

jumlah bagian-bagian bunga tiga atau kelipatannya, dan biji berkeping satu. Contohnya Imperata

cylindrica, Cyperus rotundus, Cyperus dactylon, Echinochloa crusgalli, Panicum repens.


b. Dicotyledoneae, gulma berakar tunggang, susunan tulang daun menyirip atau menjari,

jumlah bagian-bagian bunga 4 atau 5 atau kelipatannya, dan biji berkeping dua.

Contohnya Amaranthus spinosus, Mimosa sp., Euphatorium odoratum.

c. Pteridophyta, berkembangbiak secara generatif dengan spora. Sebagai contoh Salvinia

sp., Marsilea crenata.

Berdasarkan morfologinya, gulma dikelompokan ke dalam :

Golongan rumput (grasses), Gulma golongan rumput termasuk dalam

familia Gramineae/Poaceae. Dengan ciri, batang bulat atau agak pipih, kebanyakan berongga.

Daun-daun soliter pada buku-buku, tersusun dalam dua deret, umumnya bertulang daun sejajar,

terdiri atas dua bagian yaitu pelepah daun dan helaian daun. Daun biasanya berbentuk garis

(linier), tepi daun rata. Lidah-lidah daun sering kelihatan jelas pada batas antara pelepah daun

dan helaian daun.

Dasar karangan bunga satuannya anak bulir (spikelet) yang dapat bertangkai atau tidak (sessilis).

Masing-masing anak bulir tersusun atas satu atau lebih bunga kecil (floret), di mana tiap-tiap

bunga kecil biasanya dikelilingi oleh sepasang daun pelindung (bractea) yang tidak sama

besarnya, yang besar disebut lemna dan yang kecil disebut palea. Buah disebut caryopsis atau

grain. Contohnya Imperata cyliindrica / alang-alang, Echinochloa crusgalli, Cynodon

dactylon, Panicum repens.

Golongan teki (sedges), Gulma golongan teki termasuk dalam familia Cyperaceae. Batang

umumnya berbentuk segitiga, kadang-kadang juga bulat dan biasanya

tidak berongga.Daun tersusun dalam tiga deretan, tidak memiliki lidah-lidah daun (ligula). Ibu

tangkai karangan bunga tidak berbuku-buku. Bunga sering dalam bulir (spica) atau anak bulir,
biasanya dilindungi oleh suatu daun pelindung. Buahnya tidak membuka. Contohnya Cyperus

rotundus, Fimbristylis littoralis, Scripus juncoides.

Golongan berdaun lebar (broad leaves), Berbagai macam gulma dari

anggota Dicotyledoneae termasuk dalam kelompok ini. Gulma ini biasanya tumbuh pada akhir

masa budidaya. Kompetisi terhadap tanaman utama berupa kompetisi cahaya. Daun dibentuk

pada meristem pucuk dan sangat sensitif terhadap kemikalia. Terdapat stomata pada daun

terutama pada permukaan bawah, lebih banyak dijumpai. Terdapat tunas – tunas pada nodusa,

serta titik tumbuh terletak di cabang. Contoh gulma ini ceplukan (Physalis

angulata L.), wedusan (Ageratum conyzoides L.), sembung rambut (Mikania michranta),

dan putri malu (Mimosa pudica).

Berdasarkan asalnya, gulma dikelompokan ke dalam :

Gulma obligat (obligate weeds) adalah gulma yang tidak pernah dijumpai hidup secara liar dan

hanya dapat tumbuh pada tempat-tempat yang dikelola oleh manusia. Contoh Convolvulus

arvensis, Monochoria vaginalis, Limnocharis flava.

Gulma fakultatif (facultative weeds) adalah gulma yang tumbuh secara liar dan dapat pula

tumbuh pada tempat-tempat yang dikelola oleh manusia. Contohnya Imperata

cylindrica, Cyperus rotundus Opuntia sp.

Berdasarkan parasit atau tidaknya, gulma dibedakan dalam :

Gulma non parasit, contohnya Imperata cylindrica, Cyperus rotundus.

Gulma parasit, dibedakan lagi menjadi :


1) Gulma parasit sejati, contoh Cuscuta australis (tali putri).

Gulma ini tidak mempunyai daun, tidak mempunyai klorofil, tidak dapat melakukan asimilasi

sendiri, kebutuhan akan makannya diambil langsung dari tanaman inangnya dan akar

pengisapnya (haustarium) memasuki sampai ke jaringan floem.

2) Gulma semi parasit, contohnya Loranthus pentandrus.

Gulma ini mempunyai daun, mempunyai klorofil, dapat melakukan asimilasi sendiri, tetapi

kebutuhan akan air dan unsur hara lainnya diambil dari tanaman inangnya dan akar pengisapnya

masuk sampai ke jaringan silem.

3) Gulma hiper parasit, contoh Viscum sp.

Gulma ini mempunyai daun, mempunyai klorofil, dapat melakukan asimilasi sendiri, tetapi

kebutuhan akan air dan hara lainnya diambil dari gulma semi parasit, dan akar pengisapnya

masuk sampai ke jaringan silem.

https://suvisutrisno93.wordpress.com/jenis-jenis-gulma/ ( bahan download 5 )

Gulma merupakan salah satu organisme


pengganggu tanaman (OPT) dalam budidaya tanaman intensif. Seiring dengan majunya

teknologi budidaya tanaman, berkembang pula ilmu mengenai gulma dalam rangka untuk

mengidentifikasi dan usaha pengendaliannya. Namun ilmu gulma berkembang relatif lebih

terlambat dibandingkan dengan ilmu hama dan penyakit tanaman. Hal ini setidaknya disebabkan

oleh dua alasan yaitu, pertama’serangan’ gulma terhadap tanaman relatif tidak spektakuler

dibandingkan serangan hama dan penyakit yang dapat menyebabkan gagal panen, sehingga

perhatian para ilmuwan dan praktisi lebih tertuju pada masalah hama dan penyakit. Kedua,

anggapan bahwa dengan pengolahan tanah dan dengan cara manual telah dapat mengatasi

masalah gulma. Mulai pada tahun 1940-an ketika herbisida kimia 2,4-D ditemukan, ilmu gulma

berkembang lebih pesat.

Klasifikasi gulma diperlukan untuk memudahkan dalam mengidentifikasi gulma. Dasar

klasifikasi gulma ditentukan menurut aspek tertentu, maka klasifikasi gulma sangat beragam.

Nama-nama daerah untuk setiap jenis gulma juga beragam. Berikut ini diuraikan tiga klasifikasi

gulma berdasarkan aspek tertentu, yaitu:

A. Klasifikasi gulma berdasarkan kesamaan respon gulma terhadap

herbisida

Klasifikasi berdasarkan aspek ini paling sering digunakan, dikaitkan dengan usaha pengendalian

gulma atau dalam petunjuk penggunaan suatu herbisida. Kesamaan respon terhadap herbisida
adalah sifat atau gejala umum yang ditunjukkan gulma tersebut apabila terpapar suatu jenis

herbisida.

Namun pada kenyataan di lapangan, gulma dari spesies yang sama kadangkala memberikan

respon yang berbeda terhadap jenis herbisida tertentu. Hal ini disebabkan beberapa faktor seperti

kondisi lingkungan tumbuh yang berbeda (ternaungi atau tidak), fase tumbuh yang tidak sama

(baru berkecambah atau sudah dewasa). Penggolongan ini juga berlaku apabila herbisida tertentu

diaplikasikan dengan dosis rekomendasi dan dengan cara aplikasi yang standar.

Walaupun dasar penggolongan ini memiliki kelemahan, namun sangat membantu dalam

pengambilan keputusan pemilihan herbisida untuk mengendalikan gulma yang ada di lapangan.

1. Gulma golongan Teki-Tekian (sedges)

Kelompok ini mencakup semua anggota dari famili Cyperaceae (suku teki-tekian). Contoh: teki

ladang (Cyperus rotundus), Wudelan (Cyperus kyllinga), dan Scirpus moritimus. Kelompok ini

memiliki daya tahan luar biasa terhadap pengendalian mekanik karena memiliki umbi batang di

dalam tanah yang mampu bertahan berbulan-bulan. Selain itu, gulma ini menjalankan

jalur fotosintesis C4 yang menjadikannya sangat efisien dalam 'menguasai' areal pertanian secara

cepat. Ciri-cirinya adalah letak daun berjejal pada pangkal batang, bentuk daun seperti pita tidak

berongga, tangkai bunga tidak beruas berbentuk silindris, tidak memiliki lidah daun, dan titik

tumbuh tersembunyi.

No Famili Spesies Nama daerah

1 Cyperaceae Cyperus difformis Jebungan

2 Cyperaceae Cyperus iria Menderong


3 Cyperaceae Cyperus rotundus Teki ladang

4 Cyperaceae Cyperus kyllinga Wudelan

5 Cyperaceae Fimbristylis littoralis Tumbaran

6 Cyperaceae Scirpus juncoides Babawangan

Tabel. 1. Contoh gulma golongan Teki-tekian

Gbr.1.Cyperus sp.
Gbr.2. Fimbristylis littoralis

1. Gulma golongan rumput-rumputan (grasses)

Kelompok ini mencakup semua anggota dari famili poaceae atau gramineae. Istilah lain yang

sering digunakan untuk golongan gulma ini adalah gulma berdaun sempit. Gulma dalam

kelompok ini berdaun sempit seperti teki-tekian tetapi memiliki stolon, alih-alih

umbi. Kelompok gulma ini ditandai dengan ciri utama yaitu tulang daun sejajar dengan tulang

daun utama, berbentuk pita, dan terletak berselang seling pada ruas batang. Batang berbentuk

silindris, beruas dan berongga. Akar gulma golongan ini tergolong akar serabut. Contoh gulma

kelompok ini adalah alang-alang (Imperata cylindrica).

No Famili Spesies Nama daerah

1 Poaceae Imperata cylindrica Alang- alang

2 Poaceae Paspalum conjugatum Rumput pait

3 Poaceae Cynodon dactylon Grintingan

4 Poaceae Echinochloa crus-galli Jejagoan

5 Poaceae Echinochloa colona Tuton

6 Poaceae Leptochloa chinensis

7 Poaceae Themeda arguens Rumput merak


8 Poaceae Ottochloa nodosa Rumput sarang buaya

9 Poaceae Eleusine indica Belulangan

10 Poaceae Digitaria adscendens Genjoran

11 Poaceae Setaria plicata Jambe-jambean

Tabel. 2. Contoh gulma golongan Rumput-rumputan

Gbr.3. Echinochloa crus-galli

Gbr.4. Leptochloa chinensis


Gbr.5. Cynodon dactylon

2. Gulma golongan berdaun lebar (broadleaves)

Anggota gulma golongan berdaun lebar paling banyak dijumpai di lapangan dan paling beragam

jenisnya. Semua jenis gulma yang tidak termasuk dalam famili poaceae dan cyperaceae termasuk

dalam golongan gulma berdaun lebar. Berbagai macam gulma dari

anggota Dicotyledoneae termasuk dalam kelompok ini. Ciri utamanya mempunyai daun yang

lebar dengan bentuk yang bermacam-macam tergantung dari famili-nya, ada yang lonjong, bulat,

menjari atau berbentuk hati. Akar yang dimiliki umunya berupa akar tunjang, tetapi jenis paku-

pakuan atau pakis memiliki perakaran serabut. Batang umumnya bercabang, berkayu atau

sukulen. Gulma ini biasanya tumbuh pada akhir masa budidaya. Kompetisi terhadap tanaman

utama berupa kompetisi cahaya. Contoh gulma ini ceplukan (Physalis

angulata L.), wedusan (Ageratum conyzoides L.), sembung rambut (Mikania michranta),

dan putri malu (Mimosa pudica).

No Famili Spesies Nama Daerah

1 Physalis angulata ceplukan

2 Asteraceae Ageratum conyzoides Wedusan


3 Asteraceae Clibadium surinamense Putihan

4 Asteraceae Chromolaena odorata Kirinyuh

5 Asteraceae Mikania michranta Sembung Rambut

6 Mimosa pudica putri malu

7 Amaranthus spinosus Bayam duri

8 Rubiaceae Borreria alata Kentang-kentangan

9 Rubiaceae Borreria sp.

10 Sagittaria guayanensis

11 Marsilea crenata

12 Mimosaceae Mimosa invisa Putri Malu

13 Mimosaceae Mimosa pudica

14 Monochoria vaginalis

15 Oxalis barrilierii

16 Polygala sp.

17 Portucala oleraceae

18 Synedrella nodiflora
19 Onagraceae Ludwigia octovalvis Cacabean

20 Commelinaceae Commelina benghalensis

21 Althernanthera

philoxeroides

22 Limnocharis flava

23 Eclipta prostrata

Tabel. 3. Contoh gulma golongan berdaun lebar

Gbr.6. Monochoria vaginalis


Gbr.7. Marsilea crenata

Gbr.8. Ageratum conyzoides


Gbr. 9. Chromolaena odorata

Gbr. 10. Limnocharis flava

Gbr.11. Ludwigia octovalvis


A. Klasifikasi gulma berdasarkan siklus hidup

1. Gulma semusim (annual weeds)

Gulma semusin/gulma setahun adalah gulma yang siklus hidupnya dalam waktu setahun atau

kurang dari 12 bulan. Ciri utamanya mempunyai pertumbuhan yang cepat dan menghasilkan biji

dalam jumlah yang banyak. Contohnya antara lain bayam duri (Amaranthus spinosus), wedusan

(Ageratum conyzoides), tuton (Echinochloa colonum), jaruman (Eragrostis amabilis), gendong

anak (Euphorbia hirtai), meniran (Spigelia anthelmia), kentangan (Borreria alata), genjoran

(Digitaria adscendens).

2. Gulma dua musiman (biennual weeds)

Secara umum dapat dikatakan bahwa pertumbuhan vegetatif gulma dua musiman terjadi pada

tahun pertama dan pertumbuhan generatif pada tahun kedua. Contohnya adalah Tarraxacum sp.,

Plantago sp., Cyperus difformis.

3. Gulma musiman (perennial weeds)

Gulma golongan ini menghasilkan organ vegetatif secara terus-menerus sehingga

memungkinkan hidupnya lebih dari dua tahun. Gulma yang memiliki organ perkembangbiakan

ganda, secara generatif dengan biji dan secara vegetatif dengan rimpang, umbi, daun atau dengan

stolon, umumnya termasuk dalam golongan gulma musiman. Contohnya adalah kremah

(Alternanthera sessilis), kirinyuh (Chromolaena odorata), rumput pait (Axonopus compressus),

grintingan (Cynodon dactylon), alang-alang (Imperata cylindrica), dan kalamenta (Leersia

hexandra).
B. Klasifikasi gulma berdasarkan habitat/tempat tumbuhnya

1. Gulma air (aquatic weeds)

Gulma air memiliki sifat sebagian atau seluruh siklus hidupnya berada di air. Habitat air dapat

berupa rawa, kolam, bendungan atau sawah. Contohnya adalah enceng gondok (Eichornia

crassipes), kiyambang (Salvinia molesta), Azolla pinata, keladi air (Sagitaria pigmaea), genjer

(Limnocharis flava), mata yuyu (Lindernia procumbens).

2. Gulma darat (terrestrial weeds)

Gulma darat seluruh siklus hidupnya berlangsung di daratan, seperti alang-alang. Gulma darat

memiliki anggota yang paling banyak jumlahnya. Contohnya adalah alang-alang, teki, paku

kawat (Gleichenia linearisi), kucingan (Mimosa invisa).

3. Gulma yang menumpang pada tanaman lain (aerial weeds)

Gulma golongan ini bersifat parasit atau epifit dengan cara tumbuh menempel pada tumbuhan

lain. Contohnya adalah tali putri (Cuscuta sp.), duduwitan (Desmodium sp.), benalu.

http://cahndeso-mbangundeso.blogspot.com/2011/06/klasifikasi-gulma.html ( bahan download 6

Jenis-Jenis Gulma
A. Gulma rerumputan

Imperata cylindrica (alang alang atau lialang)

Klasifikasi

Divisio : Angiospermae (Spermatophyta)

Class : Monocotyledonae

Ordo : Poales (Glumiflorae)

Familia : Gramineae (Poaceae)

Genus : Imperata

Species : Imperata cylindrica

Nama lokal : alang-alang, halalang


Alang-alang dapat berbiak dengan cepat, dengan benih-benihnya yang tersebar cepat bersama

angin, atau melalui rimpangnya yang lekas menembus tanah yang gembur. Berlawanan dengan

anggapan umum, alang-alang tidak suka tumbuh di tanah yang miskin, gersang atau berbatu-

batu. Rumput ini senang dengan tanah-tanah yang cukup subur, banyak disinari matahari sampai

agak teduh, dengan kondisi lembap atau kering. Di tanah-tanah yang becek atau terendam, atau

yang senantiasa ternaungi, alang-alang pun tak mau tumbuh. Gulma ini dengan segera menguasai

lahan bekas hutan yang rusak dan terbuka, bekas ladang, sawah yang mengering, tepi jalan dan

lain-lain.

Rumput grinting (CynodonDactylon)


Klasifikasi :

Kingdom : Plantae (tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas : Commelinidae

Ordo : Poales

Famili : Poaceae (suku rumput-rumputan)

Genus : Cynodon

Spesies : Cynodon dactylon (L.) Pers.

Nama lokal : rumput grinting, rumput bermuda, suket grintingan(jawa), kakawatan (sunda).

Habitatnya Cynodon dactylon adalah tumbuh paling bagus pada suhu di atas 24 °C. Jenis

initoleran terhadap kekeringan. Tumbuh paling baik pada tanahberdrainase baik tetapi toleran

terhadap banjir yang berkepanjangan.Toleran terhadap kisaran pH tanah yang luas, tetapi pH
optimal adalahdi atas 5.5. Juga toleran terhadap kesuburan tanah yang rendah tetapitidak toleran

terhadap naungan.

Penyebarannya selaindari akar yang dapat membuat rimpang dengan cepat juga melalui

buah.Penyebaran buah ini yang dapat meluas.

Rumput Cynodon dactylon, tumbuh di pinggir saluran irigasi. Akarnya yang berkembang pesat

dan menangkap lumpur yang ada disaluran. Sering ditemui saluran irigasi menyempit karena

ditumbuhi rumput ini. Mungkin banyak dampak lainyang ditemui di berbagai tempat, dampak

tersebut yang paling dirasakan sangat merugikan.

Echinochloa colona (L.) (Rumput Bebek)

Klasifikasi Rumput Bebek :

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Sunkingdom : Tracheophyta (Tumbuhan berpembuluh)

Divisi : Spermatophyta (Tumbuhan berbunga)


Kelas : Monocotyledonae (Berkeping satu)

Ordo : Poales

Famili : Poaceae

Genus : Echinochloa

Spesies : Echinochola colona

Nama lokal : rumput bebek

Rumput bebek (Echinochloa colona) adalal tumbuhan rumput yang tumbuh liar. Rumput ini

biasanya ditemukan di area sekitar pinggir jalan, rumah, atau di sekitar sekolah.

Rumput bebek atau Echinochloa colona merupakan jenis rumput yang memiliki akar serabut.

Rumput ini memiliki daun yang berwarna hijau. Rumput bebek juga berkembangbiak

menggunakan bunganya.

Kaso (Saccharum spontaneum L.)


Klasifikasi

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas : Commelinidae

Ordo : Poales

Famili : Poaceae (suku rumput-rumputan)

Genus : Saccharum

Spesies : Saccharum spontaneum L

Nama lokal : Kaso, gelagah, glagah

Saccharum spontaneum mulai tumbuh dari daerah di atas permukaan laut hingga ketinggian

1700 m dpl. Tumbuhan ini memerlukan lingkungan dengan curah hujan tinggi yang biasanya

dapat mencapai 1500 mm per tahun, dan tumbuhan ini juga dapat tumbuh pada kisaran tipe tanah
yang beragam, mulai dari tanah aluvial di tepi sungai hingga tanah berpasir bekas daerah

pertambangan.

Leptochloa chinensis

Klasifikasi

Kingdom : Plantae

Superdivision : Spermatophyta

Division : Magnoliophyta

Class : Liliopsida

Subclass : Commelinidae

Ordo : Cyperales

Family : Poaceae

Genus : Leptochloa P. Beauv.

Species : Leptochloa chinensis (L.) Nees (Ferreira L, 2005)


Nama lokal :Bobontengan

Habitat Lahan basah, rawa, atau sungai di daerah dataran rendah terbuka. Dapat tumbuh di tanah

berat atau ringan, sepanjang sungai dan saluran air, di lahan sawah

B. Gulma teki-tekian

1 . Cyperus rotundus (teki ladang)

Klasifikasi

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)


Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas : Commelinidae

Ordo : Cyperales

Famili : Cyperaceae

Genus : Cyperus

Spesies : Cyperus rotundus L.

Nama lokal : teki ladang

Teki ladang atau Cyperus rotundus adalah gulma pertanian yang biasa dijumpai di lahan terbuka.

Apabila orang menyebut "teki", biasanya yang dimaksud adalah jenis ini, walaupun ada banyak

jenis Cyperus lainnya yang berpenampilan mirip.

Teki sangat adaptif dan karena itu menjadi gulma yang sangat sulit dikendalikan. Ia membentuk

umbi (sebenarnya adalah tuber, modifikasi dari batang) dan geragih (stolon) yang mampu

mencapai kedalaman satu meter, sehingga mampu menghindar dari kedalaman olah tanah (30

cm). Teki menyebar di seluruh penjuru dunia, tumbuh baik bila tersedia air cukup, toleran

terhadap genangan, mampu bertahan pada kondisi kekeringan

2. Mimosa pudica (putri malu )


Klasifikasi

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas : Rosidae

Ordo : Fabales

Famili : Fabaceae (suku polong-polongan)

Genus : Mimosa

Spesies : Mimosa pudica Duchass. & Walp


Nama lokal : Putri malu, si kejut, riyud

Putri malu atau Mimosa pudica adalah perdu pendek anggota suku polong-polongan yang mudah

dikenal karena daun-daunnya yang dapat secara cepat menutup/"layu" dengan sendirinya saat

disentuh. Walaupun sejumlah anggota polong-polongan dapat melakukan hal yang sama, putri

malu bereaksi lebih cepat daripada jenis lainnya. Kelayuan ini bersifat sementara karena setelah

beberapa menit keadaannya akan pulih seperti semula

3. Rumput Kenop (Cyperus kyllingia)

Klasifikasi

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)


Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas : Commelinidae

Ordo : Cyperales

Famili : Cyperaceae

Genus : Cyperus

Spesies : Cyperus kyllingia Endl.

Nama lokal : Rumput kenop, wudelan

tanaman ini tumbuh liar di tempat terbuka / sedikit terlindung dari sinar matahari dan pada

ketinggian 1-1000 m dpl pada bermacam-macam tanah.

perbanyakan dapat secara generatif, dengan biji dan vegetatif, rimpang (stolon). Pengendalian :

dengan cara kimiawi, 2 lb MSMA ditambah 1 lb 2,4-D dan 1 Pt Surfactant dalam 40 galon air

diberikan dalam interval satu minggu atau penyemprotan Roundup dosis 100-120 setiap 15 liter

air atau paracol dosis 100-120 cc tiap 15 liter air

4. Bundung (Scirpus grossus)


Klasifikasi

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub Kelas : Commelinidae

Ordo : Cyperales

Famili : Cyperaceae

Genus : Scirpus

Spesies : Scirpus grossus Linne


Nama lokal : Bundung, lingi, reduk, walingi, wlingen, wlingian, endong, penjalinan

S. grossus, termasuk gulma tahunan yaitu gulma yang umurnya lebih dari 2 tahun. Gulma ini

umumnya berkembang biak secara vegetatif dan generatif. Memiliki organ perkembangbiakan

berupa stolon / rimpang yaitu batang yang menjalar dalam tanah, pada setiap buku / ruas dapat

tumbuh tunas dan akar menjadi individu baru. Pemotongan organ-organ tersebut biasanya terjadi

saat pengolahan tanah.

S. grossus pada umumnya hidup di lahan basah (daerah berair), namun dapat pula ditemukan di

daerah tanah yang subur dengan sirkulasi yang baik.

5. Rumput Jarum (Andropogon aciculatus)


Klasifikasi

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas : Liliopsida (berkeping satu / monokotil)

Sub Kela : Commelinidae

Ordo : Poales

Famili : Poaceae (suku rumput-rumputan)

Genus : Andropogon
Spesies : Andropogon aciculatus

Nama lokal : Rumput jarum, domdoman.

Rumput jarum (Andropogon aciculatus), rumput jenis ini terdapat di kawasan yang rumputnya

tidak tebal dan tanahnya tidak banyak kandungan humus atau tanah yang sedikit keras. Rumput

ini mempunyai tinggi 3 - 5 cm, jika di bawah sinar matahari dan 10 - 15 cm bila ada di tempat

yang teduh.

C. Berdaun lebar

1. Ageratum conyzoides L(bebandotan)

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Super Divis : Spermatophyta (Menghasilkan biji)


Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kela : Asteridae

Ordo : Asterales

Famili : Asteraceae

Genus : Ageratum

Spesies : Ageratum conyzoides L.

Bandotan (Ageratum conyzoides) adalah sejenis gulma pertanian anggota suku Asteraceae.

Terna semusim ini berasal dari Amerika tropis, khususnya Brazil, akan tetapi telah lama masuk

dan meliar di wilayah Nusantara. Disebut juga sebagai babandotan atau babadotan (Sd.);

wedusan (Jw.); dus-bedusan (Md.); serta Billygoat-weed, Goatweed, Chick weed, atau

Whiteweed dalam bahasa Inggris, tumbuhan ini mendapatkan namanya karena bau yang

dikeluarkannya menyerupai bau kambing.

2. Oxalis corniculata L.( cacalincingan)


Klasifikasi

Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas : Rosidae

Ordo : Geraniales

Famili : Oxalidaceae (suku belimbing-belimbingan)


Genus : Oxalis

Spesies : Oxalis corniculata Linn

Nama lokal : Semanggi gunung

tempat tumbuhnya tumbuh di tegalan, kebun sepanjang tembok dan pagar, tanggul kecil dan

jalan setapak di hutan, tumbuh baik pada ketinggian mencapai 1300 m dpl.

Perbanyakan :perbanyakan dilakukan secara generatif, dengan biji

Pengendalian : secara kimiawi dengan cara pemberian herbisida. trifuralin dengan dosis 2-8 kg

bahan aktif/ha. Bila terdapat dalam jumlah banyak maka yang digunakan adalah velapon 50 EC.

Sementara metil Bromida Rofan dan daramut setelah fangasi terhadap media tumbuh.

3. Bayam duri (Amaranthus spinosus L.)

Klasifikasi
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)

Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)

Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)

Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)

Sub Kelas : Hamamelidae

Ordo : Caryophyllales

Famili : Amaranthaceae (suku bayam-bayaman)

Genus : Amaranthus

Spesies : Amaranthus spinosus L.

Nama lokal : bayam kerui (Lampung); senggang cucuk (Sunda); bayam eri, bayam raja,

bayam roda, bayam cikron (Jawa); tarnyak duri, tarnyak lakek (Madura); bayam kikihan, bayam

siap, kerug pasih (Bali); kedawa mawau, karawa rap-rap, karawa in asu, karowa kawayo

(Minahasa); sinau katinting (Makassar); podo maduri (Bugis); maijanga, ma hohoru (Halmahera

Utara); baya (Ternate); loda (Tidore).

Tanaman ini termasuk familia Amaranthaceae. Tumbuhan ini banyak tumbuh liar di kebun-

kebun, tepi jalan, tanah kosong dari dataran rendah sampai dengan ketinggian 1.400 meter di atas
permukaan laut. Tingginya dapat mencapai 1 meter. Tumbuhan ini dapat dikembangbiakkan

melalui bijinya yang bulat, kecil dan hitam.Sebagai tanda khas dari tumbuhan bayam duri yaitu

pada pohon batang, tepatnya di pangkal tangkai daun terdapat duri, sehingga orang mengenal

sebagai bayam duri. Bayam duri tumbuh baik di tempat-tempat yang cukup sinar matahari

dengan suhu udara antara 25 - 35 Celcius.

http://mhdrivaisyafputra.blogspot.com/2015/08/jenis-jenis-gulma.html ( bahan download 7 )

PENGERTIAN GULMA

Gulma adalah tumbuhan yang tidak diinginkan dan tidak dibutuhkan yang mengganggu

pemanfaatan lahan dan sumber air serta memberikan dampak negatif terhadap kesejahteraan

manusia. Gulma dapat menyebabkan reduksi hasil pertanian, reduksi nilai lahan, reduksi kualitas

tumbuhan, meningkatkan biaya untuk pengendalian serangga dan penyakit, serta reduksi

efisiensi manusia (Monaco et al., 2002).

KARAKTERISTIK GULMA

Karakteristik ideal gulma adalah memiliki kebutuhan germinasi yang dapat tercukupi di berbagai

lingkungan. Discontinuous germination dan biji memiliki daya hidup yang lama, pertumbuhan

yang cepat, produksi biji secara kontinyu selama kondisi pertumbuhan mendukung, self-
compatibility, cross-polination, menghasilkan biji yang banyak pada kondisi lingkungan yang

sesuai, dapat melakukan produksi biji pada berbagai macam kondisi lingkungan, adaptasi untuk

short-distance dan long-distance dispersal, serta kemampuan membentuk rossete, choking

growth, dan allelochemical. Perennial memiliki reproduksi vegetatif yang bagus atau regenerasi

dari fragment (Monaco et al., 2002).

PENGENDALIAN GULMA

Tahap pengendalian gulma terdiri dari 6 bagian yaitu scouting, pencegahan, praktik mekanik,

kontrol biologis, dan kontrol secara kimiawi. Scouting adalah mengetahui jenis gulma yang ada

pada lahan serta estimasi kepadatan serta lokasi gulma. Pencegahan adalah mencegah gulma

baru menginvasi suatu area atau membatasi pertumbuhan gulma. Praktik mekanik meliputi

tillage, hand weedling, mowing, mulching burning, dan flooding. Kontrol biologis dilakukan

dengan menggunakan organisme untuk mengurangi atau mengeliminasi efek kerusakan dari

gulma. Kontrol secara kimiawi dilakukan dengan menggunakan bahan kimia yang secara selektif

membunuh gulma. Bahan kimia tersebut dinamakan herbisida (Monaco et al., 2002).

KLASIFIKASI GULMA

Klasikasi gulma dapat didasarkan pada siklus hidup menjadi gulma annual dan gulma biennial.

Gulma annual melengkapi siklus hidupnya pada waktu kurang lebih 1 tahun. Tumbuhan annual

dibagi menjadi summer annual dan winter annual. Gulma annual pada umumnya tumbuh dengan

cepat dan dapat bereproduksi di berbagai kondisi lingkungan. Gulma annual dapat dengan

mudah dikendalikan secara kultural, mekanik, atau kimiawi. Gulma biennial adalah gulma yang

dapat hidup lebih dari 1 tahun tetapi kurang dari 2 tahun. Fase terminal dari tumbuhan biennial
adalah pembungaan. Tumbuhan yang telah berbunga menandakan siklus hidupnya telah lengkap.

Gulma biennial dapat dikendalikan dengan mudah saat seedling atau rosette stage. Gulma

perennial adalah gulma yang struktur vegetatifnya dapat hidup lebih dari 2 tahun. Gulma

perennial memerlukan perpaduan pengendalian secara mekanik, kultural, dan kimiawi (Smith,

1995).

Gulma menurut jumlah kotiledon dapat dibedakan menjadi monokotil dan dikotil. Gulma

monokotil pada umumnya memiliki daun sempit sedangkan gulma dikotil pada umumnya

memiliki daun lebar. Tumbuhan monokotil memiliki bunga kelipatan tiga, satu kotiledon, tulang

daun pada umumnya paralel, jaringan vaskular yang tersebar, dan tidak memiliki pertumbuhan

sekunder dengan kambium vaskular. Tumbuhan dikotil memiliki bunga kelipatan empat dan

lima, dua kotiledon, venasi daun netlike, jaringan vaskular primer yang membentuk cincin, dan

memiliki pertumbuhan sekunder dengan kambium vaskular (Smith, 1995).

Berdasarkan morfologi, gulma dibedakan menjadi gulma berdaun sempit (grasses), gulma teki-

tekian (sedges), gulma berdaun lebar (broad leaves), dan gulma pakis-pakisan (ferns). Gulma

bedaun sempit memiliki ciri daun menyerupai pita, batang tanaman beruas-ruas, tanaman

tumbuh tegak atau menjalar, dan memiliki pelepah serta helaian daun. Contoh gulma berdaun

sempit adalah Axonopus compressus. Guma teki-tekian memiliki ciri mirip dengan gulma

berdaun sempit dengan batang berbentuk segitiga. Contoh gulma teki-tekian adalah Cyperus

aromaticus. Gulma berdaun lebar memiliki ciri daun lebar, tanaman tumbuh tegak atau menjalar,

dan pada umumnya merupakan dikotil. Contoh gulma berdaun lebar adalah Ageratum

conyzoides (Barus, 2003).


Berdasarkan habitat, gulma dapat dibedakan menjadi gulma air (aquatic weeds) dan gulma

daratan (terestrial weeds). Gulma air tumbuh di air, dapat berdaun sempit maupun lebar atau

teki-tekian. Contoh gulma air adalah Cyperus difformis. Gulma daratan adalah gulma yang

tumbuh di darat. Contoh gulma daratan adalah Ageratum conyzoides (Barus, 2003).

DAFTAR PUSTAKA

Monaco, T. J., Stephen C. W., Floyd M. A. 2002. Weed Sciences Principles and Practices. John

Wiley & Sons. New York. p 3-50, 183-196.

Smith, A. E. 1995. Handbook of Weed Management. Marcel Dekker, Inc. New York. p 22-31.

Barus, E. 2003. Pengendalian Gulma di Perkebunan. Kanisius. Yogyakarta. p 13-18.

https://semestapengetahuan.wordpress.com/2017/06/07/gulma-karakteristik-pengendalian-

serta-klasifikasinya/ ( bahan download 8 )

TAKSONOMI GULMA

I. PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang

Gulma merupakan golongan tumbuhan yang hidup bersama dengan ekosistem pertanian

yang mendatangkan kerugian sepanjang sejarah budidaya pertanian. Masalah gulma timbul
pada saat suatu jenis tumbuhan atau sekelompok tumbuhan mulai mengganggu aktivitas

manusia baik kesehatannya maupun kesenangannya. Yang termasuk dalam kelompok gulma

tidak saja tumbuhan yang merugikan manusia dalam beberapa hal, tetapi juga semua

tumbuhan yang tidak bermanfaat atau yang belum diketahui manfaatnya.

Gulma adalah tumbuhan yang tumbuhnya salah tempat. Sebagai tumbuhan, gulma selalu

berada di sekitar tanaman yang dibudidayakan dan bearasosiasi dengannya secara khas. Karena

luasnya penyebaran, gulma mempunyai berbagai nama sesuai dengan asal daerah dan

negaranya seperti Weed (Inggris), Unkraut (Jerman), Onkruit (Belanda), Tzao (Cina), serta

banyak nama yang lainnya.

Budidaya tanaman, tidak lepas dari berbagai kendala dan gangguan dari berbagai jenis

organisme pengganggu tanaman (OPT), antara lain hama, penyakit, maupun gulma. Salah satu,

yang paling sering menyerang adalah gulma. Gulma adalah tumbuhan yang keberadaannya

tidak diinginkan serta dapat menimbulkan gangguan dan kerusakan bagi tanaman budidaya

maupun aktivitas manusia dalam mengelola usahataninya.

Sangat sulit untuk mencegah pertumbuhan dan perkembangan gulma pada area

pembudidayaan tanaman, karena gulma memiliki sifat-sifat, antara lain pertumbuhannya cepat,

mempunyai daya saing yang kuat dalam memperebutkan faktor-faktor kebutuhan hidupnya,

mempunyai toleransi yang besar terhadap kondisi lingkungan yang ekstrem, mempunyai daya

berkembang biak yang besar secara vegetatif dan atau generatif, alat perkembangbiakannya

mudah tersebar melalui angin, air, maupun binatang, dan bijinya mempunyai sifat dormansi

yang memungkinkannya untuk bertahan hidup dalam kondisi yang kurang menguntungkan.
Dengan sifat-sifat tersebut, gulma dapat dengan mudah tumbuh serta berkembang dengan

pesat di area tanaman budidaya. Pada umumnya, gulma dibagi menjadi 3 golongan

berdasarkan ciri morfologinya, yaitu teki-tekian, berdaun lebar, dan rumput-rumputan. Untuk

mengendalikan gulma, dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain kultur teknis, cara

mekanis, cara hayati, penggunaan racun rumput (herbisida), dan pengendalian gulma secara

terpadu.

I.2. Tujuan dan Kegunaan

Tujuan dari praktikum ilmu gulma gulma yaitu untuk mengidentifikasi jenis-jenis gulma

yang tumbuh pada lahan pertanian serta untuk mengetahui kegunaan dan habitat dari gulma.

Kegunaannya, yaitu agar praktikan dapat mengidentifikasi jenis gulma apa saja yang

tumbuh pada lahan pertanian dan mengetahui cara serta kegunaan dan haboitrat dari gulma.

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Klasifikasi

2.1.1 Gulma Aeschynomene indica L.

Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida

Bangsa : Rosales

Suku : Caesalpiniaceae

Marga : Aeschynomene

Jenis : Aeschynomene indica L.

Sinonim : Tidak diketahui

Nama Umum : Rumput Ali musa

2.1. 2 Gulma Crotalaria incana L.

Crotalaria adalah genus tanaman herba dan semak berkayu di Fabaceae keluarga

(Subfamili Faboideae) umumnya dikenal sebagai rattlepods.

Kingdom : Plantae

Devisi : Magnoliophyta

Sub divisi : Angiospermae

Kelas : Magnoliopsida

Bangsa : Fabales

Suku : Papilionaceae

Marga : Crotalaria
Jenis : Crotalaria Incana L.

2.2. Habitat

2.2.1 Gulma Aeschynomene indica L.

Tanaman ini sering tumbuh di tempat basah, habitat berlumpur, seperti dataran banjir,

rawa dan sawah . Hal ini juga diketahui dari lahan kering.Telah diamati dalam hubungan dengan

Sesbania spp. dan Acacia nilotica spp. Tomentosa. Tumbuh di habitat terganggu , seperti parit

pinggir jalan (Ibrahim,2010).

Tanaman ini, kadang-kadang berkembang mirip node dengan nodul akar dari banyak

tumbuhan polong lainnya, tetapi node tumbuh pada batang di samping akar . Mereka berisi

spesies Bradyrhizobium, bakteri pengikat nitrogen yang dapat melakukan fotosintesis. Bakteri

simbiosis Blastobacter denitroficans juga mendiami node. Spesies ini rentan terhadap antraknosa

penyakit tanaman yang disebabkan oleh jamur Colletotrichum gloeosporioides.

2.2.2 Gulma Crotalaria incana L.

Gulma ini biasa ditemukan di hutan-hutan dan perkebunan, biasanya menjadi tanaman

perangkap bagi hama tanaman.

2.3. Asal Tanaman

2.3.1 Gulma Aeschynomene indica L.

Spesies ini sejatinya ditemukan tidak jelas karena diduga telah diperkenalkan secara luas

, tapi mungkin termasuk bagian dari Afrika, Asia , Australia , dan Amerika Serikat tenggara . Hal

ini kemungkinan spesies naturalisasi di banyak pulau di Pasifik , Karibia , dan Samudra Hindia ,
termasuk Fiji , Kepulauan Society, Mikronesia, Puerto Rico , Mauritius , dan Réunion .Hal ini

juga diperkenalkan di Amerika Selatan (Anonim,2011).

2.3. 2 Gulma Crotalaria incana L.

Beberapa 600 atau lebih spesies Crotalaria dijelaskan di seluruh dunia , sebagian besar

dari daerah tropis , setidaknya 500 spesies diketahui dari Afrika . Beberapa spesies Crotalaria

ditanam sebagai tanaman hias . Nama umum rattlepod atau rattlebox berasal dari fakta bahwa

benih menjadi longgar dalam pod ketika mereka dewasa , dan mainan ketika pod ini terguncang .

Nama ini berasal dari κροταλον Yunani, yang berarti " Castanet " , dan merupakan akar yang

sama dengan nama untuk ular derik ( Crotalus ).

2.4. Deskripsi

2.4.1 Gulma Aeschynomene indica L.

Spesies ini adalah herbal tahunan atau biasanya tumbuh 30 sentimeter hingga 2,5 meter .

Batangnya biasanya tipis , sekitar setengah sentimeter lebar, tetapi dapat tumbuh tebal di dasar,

sampai dengan 2,5 cm lebar . Ini adalah spons atau periang , atau kadang-kadang kosong dan

berbentuk silindrik . Hal ini sebagian besar berbulu tapi kadang-kadang memiliki rambut

kelenjar dengan basis TBC . Daun yang sampai 10 cm panjang . Setiap daun terdiri dari banyak

sempit, selebaran tipis masing-masing hingga 1,3 sentimeter panjang . Beberapa daun sensitif .

The memacu stipula mencapai 1,5 sentimeter panjang . Perbungaan terdiri dari 1 sampai 6 bunga

dengan kemerahan atau ungu - coreng kuning atau keputihan Corolla . The panjang, sempit pod

legum adalah sampai 4,8 sentimeter panjang dan lurus atau melengkung , sampai dengan 13

kamar . Ini berisi biji berbentuk ginjal hitam atau cokelat setiap 2 atau 3 milimeter panjang .
2.4. 2 Gulma Crotalaria incana L.

Spesies Crotalaria digunakan sebagai tanaman pangan oleh larva beberapa spesies

Lepidoptera termasuk Endoclita sericeus , Etiella zinckenella dan Utetheisa ornatrix . Alkaloid

beracun yang dihasilkan oleh beberapa anggota genus ini dikenal untuk dimasukkan oleh larva

Utetheisia dan digunakan untuk mengamankan pertahanan mereka dari predator.

Crotalaria spectabilis Roth diperkenalkan ke AS dari India untuk pupuk hijau . Sebagai

legum yang mendukung bakteri pengikat nitrogen , itu dianggap sebagai "pembangun tanah . "

Namun, juga beracun bagi ternak ( seperti banyak kacang-kacangan ) , dan telah menyebar

dengan cepat di seluruh Amerika Serikat Tenggara di mana sekarang dianggap sebagai spesies

invasif .

Alkaloid monocrotaline , sebuah pyrrolizidine alkaloid , prinsip beracun utama Crotalaria

spectabilis , digunakan untuk menginduksi hipertensi paru eksperimental di laboratorium hewan.

Larva ngengat pakan Ornate pada tanaman dan re - tujuan senyawa beracun sebagai pertahanan ,

buang air ketika mereka terancam oleh potensi predasi .

2.5. Manfaat

2.5.1 Gulma Aeschynomene indica L.

Tanaman ini digunakan sebagai pupuk hijau . Hal ini sangat tidak cocok untuk hewan

tapi kadang-kadang diberikan sebagai pakan ternak . Hal ini dapat menjadi racun , namun benih

dapat meracuni babi , menyebabkan hilangnya koordinasi , jatuh , dan kematian. Pemeriksaan

jaringan otak hewan yang terkena mengungkapkan pembengkakan dan perdarahan.Senyawa

beracun dalam biji rotenoids terkait dengan rotenone racun .


Batang bernas digunakan untuk perangkat mengambang , seperti rakit dan mengapung

untuk jaring penangkap ikan . Tanaman ini juga digunakan sebagai spermisida . Arang yang

dibuat menjadi bubuk mesiu.

2.5. 2 Gulma Crotalaria incana L.

Crotalaria longirostrata , juga dikenal sebagai " longbeak rattlebox " atau " chipilín " ,

digunakan sebagai sayuran berdaun di Oaxaca dan Amerika Tengah . Hal ini dianggap sebagai

gulma di Amerika Serikat .

Crotalaria pallida serbuk sari dapat menyebabkan reaksi alergi pada manusia , termasuk

pembengkakan pada mata dan wajah , ruam pada leher dan bahu , dan gatal-gatal . Gejala dapat

memakan waktu hingga seminggu untuk membersihkan .

III. PEMBAHASAN

Crotalaria spectabilis Roth diperkenalkan ke AS dari India untuk pupuk hijau . Sebagai

legum yang mendukung bakteri pengikat nitrogen , itu dianggap sebagai "pembangun tanah . "

Namun, juga beracun bagi ternak ( seperti banyak kacang-kacangan ) , dan telah menyebar

dengan cepat di seluruh Amerika Serikat Tenggara di mana sekarang dianggap sebagai spesies

invasif .

Beberapa 600 atau lebih spesies Crotalaria dijelaskan di seluruh dunia , sebagian besar

dari daerah tropis , setidaknya 500 spesies diketahui dari Afrika . Beberapa spesies Crotalaria
ditanam sebagai tanaman hias . Nama umum rattlepod atau rattlebox berasal dari fakta bahwa

benih menjadi longgar dalam pod ketika mereka dewasa , dan mainan ketika pod ini terguncang .

Nama ini berasal dari κροταλον Yunani, yang berarti " Castanet " , dan merupakan akar yang

sama dengan nama untuk ular derik ( Crotalus ).

Gulma Aeschynomene indica L. ini sangat tidak cocok untuk hewan tapi kadang-kadang

diberikan sebagai pakan ternak . Hal ini dapat menjadi racun , namun benih dapat meracuni babi

, menyebabkan hilangnya koordinasi , jatuh , dan kematian. Pemeriksaan jaringan otak hewan

yang terkena mengungkapkan pembengkakan dan perdarahan.Senyawa beracun dalam biji

rotenoids terkait dengan rotenone racun .

Batang bernas digunakan untuk perangkat mengambang , seperti rakit dan mengapung

untuk jaring penangkap ikan . Tanaman ini juga digunakan sebagai spermisida . Arang yang

dibuat menjadi bubuk mesiu.

IV. PENUTUP

4.1. Kesimpulan

Berdasarkan jenis gulma yang telah dibahas, maka dapat disimpulkan :

1. Gulma Aeschynomene indica L. Tanaman ini digunakan sebagai pupuk hijau . Hal ini sangat

tidak cocok untuk hewan tapi kadang-kadang diberikan sebagai pakan ternak . Hal ini dapat

menjadi racun , namun benih dapat meracuni babi , menyebabkan hilangnya koordinasi , jatuh ,
dan kematian. Pemeriksaan jaringan otak hewan yang terkena mengungkapkan pembengkakan

dan perdarahan.Senyawa beracun dalam biji rotenoids terkait dengan rotenone racun .

2. Pada gulma Gulma Crotalaria incana L. serbuk sari dapat menyebabkan reaksi alergi pada

manusia , termasuk pembengkakan pada mata dan wajah , ruam pada leher dan bahu , dan gatal-

gatal.

4.2. Saran

Dapat disarankan agar gulma diatas sangat berguna dalam pembuatan pupuk hijau

sehingga dapat meningkatkan produktivitas pertanian karena dapat merangsang pertumbuhan

vegetatif dan generatif tanaman.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2011. Keberadaan Gulma Aeschynomene Indica L. http // : www.

gulmaaeschinomene. pertanian. gramedia.com. Diakses pada tanggal 20 Nopember 2013.

Ibrahim,2010. Habitat Gulma Aeschynomene Indica L. http//: www. bookstore.

pertanian.co.id. Diakses pada tanggal 20 Nopember 2013.

Ratna.A, 2013. Gulma Crotalaria Indicana L. http//:www.wikipedia .com. Diakses

pada tanggal 20 Nopember 2013


http://agronomiunhas.blogspot.com/2013/12/laporan-taksonomi-gulma.html (bahan
download 9 )

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Konsepi dan metode analisis vegetasi sesungguhnya sangat beragam tergantun kepada

keadaan vegetasi itu sendiri dan tujuannya. Contoh yang digunakan untuk mempelajari suksesi

dan evaluasi hasil suatu pengendalian gulma. Pada area yang luas dengan vegetasi semak rendah

misalnya digunakan metode garis (line intercept), untuk pengamatan sebuah peta dengan

vegetasi yang tumbuh menjalar (creeping) digunakan metode titik (point intetcept), dan untuk

daerah yang luas serta tidak tersedia waktu yang cukup digunakan metode estimasi visual (visual

estimation). Juga harus diperhatikan keadaan geologi, tanah, topografi, dan data vegetasi yang

mungkin telah ada sebelumnya, serta fasilitas kerja atau keadaan seperti peta, lokasi yang

dicapai, waktu yang tersedia, dan sebagainya. Kesemuanya untuk memperoleh efisiensi

pendataan vegetasi.
Vegetasi menggambarkan perpaduan berbagai jenis tumbuhan di suatu wilayah atau

daerah. Suatu tipe vegetasi menggambarkan suatu daerah dari segi penyebaran tumbuhan yang

ada baik secara ruang dan waktu. Rawa-rawa, padang rumput dan hutan merupakan suatu contoh

vegetasi. Suatu vegetasi kadangkala dibagi menjadi beberapa komunitas yang tumbuh bersama di

suatu daerah. Beberapa komunitas tersebut juga disebut assosiasi yaitu sekumpulan tumbuhan

yang tumbuh bersama pada lingkungan yang sama. Komunitas tumbuhan akan selalu di

dominasi oleh jenis tumbuhan tertentu sebagai gulma. Komunitas tumbuhan sering kali

digunakan oleh ahli ekologi untuk menjelaskan suatu vegetasi di suatu wilayah. Adapun sifat-

sifat dasar yang dimiliki oleh komunitas tumbuhan adalah:

a) Mempunyai komposisi floristic yang tetap

b) Fisiognomi (struktur, tinggi, penutupan, tajuk daun, dsb)

c) Mempunyai penyebaran yang karakteristik dengan lingkungan habitatnya

Batasan gulma sampai saat ini masih bersifat kontroversi, tergantung kepada konsepsi

dan ruang kajiannya. Gulma sebagai tumbuhan yang telah berhasil menyesuaikan diri dalam

ekosistem yang telah dikembangkan oleh manusia dalam membudidayakan tanaman pada suatu

lahan. Dalam ekosistem termasuk dalam ekosistem pertanian (gulma agrestal), setiap spesies

mampu berkembang biak dengan cepat dan bersaing dengan tanaman budidaya dalam hal
pemanfaatan unsure hara, air, ruang, CO2, dan cahaya baik di lahan sawah maupun lahan kering.

Akibat hal tersebut berpengaruh merugikan terhadap tanaman budidaya, berupa penurunan hasil

panen, inang bagi hama dan penyakit, menyulitkan pekerjaan pemeliharaan tanaman dan

pemanenan, serta meningkatkan biaya produksi. Pengenalan spesies gulma dan sifat-sifatnya

sangat diperlukan untuk menentukan pengendalian yang tepat. Maka dari itu, dibuatlah makalah

taksonomi gulma, khususnya pada gulma Fimbristylis littoralis Gaudich dan Brachiaria

mutica untuk mengetahui informasi mengenai gulma tersebut agar menambah wawasan kita.

1.2 Tujuan dan Kegunaan

Tujuan dari praktikum taksonomi gulma ialah untuk mengetahui spesies gulma yang

mengganggu khususnya pada gulma Fimbristylis littoralis Gaudich dan Brachiaria mutica yang

bersaing dengan tanaman yang dibudidayakan.

Sedangkan kegunaan dari praktikum ini yaitu mahasiswa dapat menambah wawasan

mengenai gulma-gulma tertentu khususnya pada aspek klasifikasi gulma, habitat gulma, asal

tanaman, deskripsi dan manfaat dari gulma tersebut. Serta mahasiswa juga dapat mengenali

spesies gulma khususnya pada gulma Fimbristylis littoralis Gaudich dan Brachiaria mutica yang

bersaing dengan tanaman yang dibudidayakan sehingga ke depannya kita dapat megantisipasi

tanaman yang kita budidayakan dari gulma agar bisa terhindar atau tidak terganggu

pertumbuhannya.
II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Klasifikasi

2.1.1 Gulma Fimbristylis littoralis Gaudich

Nama daerah : Panon munding (Sunda), Tumbaran (Jawa)

Habitat : Daerah tropis

Nama lokal : Babawangan

Nama lain : Grasslike fimbry,


Globe fringerush

Kingdom : Plantae

Famili : Cyperaceae

Genus : Fimbristylis

Ordo : Poales

Divisio : Magnoliophyta
2.1.2 Gulma Brachiaria mutica

Kingdom : Plantae

Divisio : Spermatophyta

Subdivisio : Angiospermae

Kelas : Monocotyledoneae

Ordo : Gramineae

Famili : Graminales

Genus : Brachiaria

Spesies : mutica

2.2 Habitat

2.2.1 Gulma Fimbristylis littoralis Gaudich

Fimbristyllis littoralis Gaudich adalah gulma yang hidup pada ekosistem padi sawah.

Gulma ini juga termasuk pada bagian tumbuhan yang tahan genangan. Gulma ini termasuk ke

dalam golongan teki yang terdapat di pertanaman padi sawah. Gulma ini tidak terlalu

menimbulkan gangguan ekonomis, sehingga masih dapat ditolelir.


2.2.2 Gulma Brachiaria mutica

Brachiaria mutica (Forsk.) Stapf adalah rumput tahunan yang tumbuh ditanah lembab

atau basah, dengan suasana terbuka atau suasana ternaung, berbunga sepanjang tahun. Daerah

penyebarannya meliputi 0-1200 m diatas permukaan laut. Sering tumbuh mengelompok.

Brachiaria mutica (Forsk.) Stapf merupakan gulma penting di tanah alluvial/

hidromorfik dan gulma penting di saluran drainase. Rumput ini sering terdapat di sawah, di tepi

parit, di tepi hutan, di tepi kolam ikan, pada tempat basah/lembab.

2.3 Asal Tanaman

2.3.1 Gulma Fimbristylis littoralis Gaudich

Suatu jenis fimbry yang dikenal dengan nama bola bumi fringerush. Gulma ini berasal

dari pantai tropis Asia, tetapi sejak itu telah menyebar ke kebanyakan benua sebagai suatu jenis

baru. Ini merupakan suatu rumput liar yang tersebar luas dalam beberapa area dan kadang-

kadang dikhawatirkan pada padi. Puncak batang masing-masing diduduki oleh suatu spikelets,

masing-masing berhubungan dengan suatu peduncle. Spikelet bola lonjong dan warna coklat
kemerah-merahan di dalam. Spikelets berbunga dan kemudian berkembang menjadi buah-buah

kecil, yang berwarna coklat.

2.3.2 Gulma Brachiaria mutica

Rumput ini berasal dari daerah Afrika (Uganda, Kenya, Tanzania) menyebar ke berbagai

daerah termasuk ke daerah Asia dan pasifik. Dan mulai di introduksikan ke Indonesia tahun 1958

(Siregar dan Djajanegara, 1971), seiring dengan penelitian breeding dan penemuan ciltivar-

cultivar baru rumput Brachiaria. Dari penemuan jenis baru ini, maka Brachiaria memiliki

beberapa spesies diantaranya Brachiaria mutica (A.Rich.) Stapf, Brachiaria decumbens,

Brachiaria humidicola, Brachiaria ruziziensis, Brachiaria dictyoneura, Brachiaria

distachya (Forsea, 1992). Jenis-jenis rumput ini kemudian memiliki nama-nama lokal seperti

palisade grass, palisade signal grass, yasiknaentotang pada jenis Brachiaria brizantha (A.Rich.),

atau rumput signal, pada jenis rumput Brachiariadecumbens. Sedangkan di Indonesia

biasanya menyebut jenis rumput Brachiaria dengan menyingkat namanya seperti rumput Bebe,

Bede, Beha, Br dan blabakan (di jawa). Rumput ini juga berpotensi untuk dikembangkan di

Indonesia karena bisa tumbuh baik di wilayah manapun di Indonesia, termasuk pada daerah asam

(pH 3,5–5,5) seperti di Kalimantan Timur (Ibrahim, 1995).

2.4 Deskripsi
2.4.1 Gulma Fimbristylis littoralis Gaudich

Gulma golongan teki termasuk dalam familia Cyperaceae.Batang umumnya berbentuk

segitiga, kadang-kadang juga bulat dan biasanya tidak berongga.Daun tersusun dalam tiga

deretan, tidak memiliki lidah-lidah daun (ligula).Ibu tangkai karangan bunga tidak berbuku-

buku. Bunga sering dalam bulir (spica) atau anak bulir, biasanya dilindungi oleh suatu daun

pelindung. Buahnya tidak membuka. Contohnya Cyperus rotundus, Fimbristylis littoralis,

Scripus juncoides dan Cyperus kyllingia.

Ciri-cirinya adalah :

1. Penampang lintang batang berbentuk segi tiga membulat, dan tidak berongga,

2. Memiliki daun yang berurutan sepanjang batang dalam tiga baris,

3. Tidak memiliki lidah daun, dan

4. Titik tumbuh tersembunyi.

2.4.2 Gulma Brachiaria mutica

Tumbuhnya semi tegak sampai tegak (prostate/semierect-erect), merupakan rumput yang

berumur panjang, tumbuh membentuk hamparan lebat, tinggi hamparan dapat mencapai 30 – 45

cm dan tangkai yang sedang berbunga dapat mencapi tinggi 1m (Jayadi, 1991), atau tanaman

yang tumbuh creeping parennial (Humpreys, 1974). Sedangkan (Schultze-Kraft dan Teitzel,

1992). Memiliki rhizoma yang pendek dan tinggi batang sekitar 30-200 cm. Bentuk daun linear
biasanya berukuran 10- 100 cm x 3-20 mm, berambut atau berbulu dan berwarna hijau

gelap.Infloresence (bunga) terdiri dari 2-16 tandan (racemes) dengan panjang 4- 20

cm, spikelet dalam satu baris; luasrachis 1 mm, berwarna ungu, spikelet berbentuk elips panjang

4 -6 mm, berbulu atau berbulu pada ujungnya, panjang glume sepertiga dari panjang spikelet

(Schultze-Kraft dan Teitzel, 1992).

Rumput ini tumbuh baik pada daerah humid–sub humids tropis dan dapat tumbuh pada

musim kering kurang dari 6 bulan. Tumbuh baik pada jenis tanah apapun termasuk tanah

berpasir atau tanah asam, seperti dilaporkan oleh Mannetje dan Jones (1992) yang melaporkan

bahwa Brachiaria brizantha, Brachiaria decumbensdan Brachiaria humidicola sangat toleran

terhadap tanah-tanah yang asam dan respon terhadap pemupukan yang mengandung unsur N, P,

K, walaupun tidak tahan terhadap tanah berdrainase rendah. Tahan terhadap injakan, dan

renggutan (AAK, 1983). Tinggi tempat yang cocok untuk tanaman ini sampai 3000 m dpl

dengan suhu optimal untuk tumbuh adalah 30–350C (Anonim, 1999).

Perbanyakan rumput ini biasanya menggunakan biji, biji yang dibutuhkan per hektar

adalah 1,5 –12 Kg/Ha tergantung pada kaulitas biji. Biji biasanya di sebarkan kemudian ditanam

pada kedalaman kurang lebih 2-4 cm pada tanah. Biji yang baru panen sulit untuk berkecambah,

oleh karena itu sebaiknya biji ditoreh terlebih dahulu, direndam menggunakan asam sulfat atau

disimpan dahulu selama 6-8 bulan sebelum digunakan. Selain menggunakan biji, rumput

Brachiaria brizantha dapat diperbanyak dengan menggunakan sobekan atau stek batang

(Schultze-Kraft dan Teitzel, 1992).


Brachiaria mutica tumbuh dengan cepat, dan dapat dipanen/digunakan untuk

pengembalaan ringan (light grazing) pada umur 3-5 bulan setelah biji disebar. Bisa tumbuh

dengan baik apabila ditanam bersama legum pohon atau herba seperti Desmodium heterocarpon,

centrosema pubescens, Pueraria phaseoloides, Stylosanthes, leucaena leucochepala dll. Serta

tahan terhadap hama spittlebug (famili Cercopidae). Rumput ini juga dapat terus menerus

tumbuh/dirotasi dengan tinggi pemotongan 20-30 Cm, dapat dipanen dengan cara grazing atau

sistem cut and carry. Panen yang dihasilkan mencapai 8-20 t/ha/tahun, dengan stocking rates 1,5

sapi jantan/ha pada musim kering dan 2,5 sapi jantan pada musim hujan. Sedangkan panen biji

dapat diperoleh pada umur rumput 6-8 bulan tergantung pada kondisi lingkungan, hasil panen

biji mencapai 100 – 500 Kg/ha.

2.5 Manfaat

2.5.1 Gulma Fimbristylis littoralis Gaudich

Adapun manfaat dari Gulma Fimbristylis littoralis Gaudich ialah dapat dijadikan sebagai

bahan/pakan ternak, juga dapat berfungsi sebagai over crop atau tumbuhan penutup yang bernilai

positif terhadap pencegahan atau antisipasi banjir atau degradasi suatu lahan. Manfaat lain dari

gulma ini adalah dapat dijadikan sebagai kerajinan tangan seperti tikar. Hal ini tentu saja
memberikan dampak positif dan juga menambah nilai tambah dari gulma tersebut agar lebih

bermanfaat.

2.5.2 Gulma Brachiaria mutica

a. Konservasi dan reklamasi lahan

Brachiaria sudah luas pemanfaatannya baik di tingkat penelitian maupun peternak.

Pemanfaatannya pun tidak terbatas kepada penggunaanya sebagai hijauan pakan ternak. Siregar

(1982) melaporkan bahwa Brachiaria merupakan spesies rumput yang efektif dalam mengatasi

erosi tanah. Selanjutnya Siregar dan Djajanegara (1981) mengatakan bahwa Brachiaria

mutica yang ditanam setelah pembabatan alang-alang diikuti pemotongan ”improved” pasture,

yang selanjutnya dapat dimanfaatkan oleh ternak. Begitupun Haryanto (1982),

melaporkan Brachiaria decumbens (Bede) yang ditanam dengan pemupukan sebanyak 1800

kg/ha/tahun dapat menekan pertumbuhan alang-alang. Kemampuan menekan alang-alang ini

disebabkan karena Bede cepat tumbuh dan memiliki perakaran yang membentuk hamparan di

permukaan tanah (Whyte, R.G., 1959), sehingga pupuk yang diberikan akan diserap terlebih

dahulu oleh Bede dan tidak ada kesempatan bagi alang-alang. Hal ini mengakibatkan lama-

kelamaan Bede akan menutupi alang-alang dan menyebabkan alang-alang mati. Adapun

komposisi, produksi hijauan dan presentase Bede dan alang-alang.


Sedangkan Ciat (1983), melaporkan bahwa Brachiaria humidicola yang ditanam

campuran dengan P.phaseoloides dapat menutupi semua area penelitian yang asalnya savana

pada tahun pertama, Tabel 6. Hasil ini lebih baik jika dibandingkan dengan Andropogon yang

baru menutupi lahan penelitian pada tahun ke dua. Selain itu Brachiria humidicola juga mampu

beradaptasi pada daerah zural yang kandungan pasirnya tinggi, miskin drainasenya dan tahan

terhadap kondisi kimia lahan tersebut. Disebutkan juga Brachiaria humidicolayang ditanam

secara campuran dengan P. phesoeloides mampu menekan pertumbuhan rumput liar dan dapat

berproduksi 3 ton/ha.

b. Brachiaria sebagai cover crop

Rumput sangat penting sebagai agen pengikat tanah dalam melindungi tanah, menjaga

kestabilannya dan untuk menanggulangi gulma di perkebunan dan merupakan sumber nutrient

untuk herbivora.

c. Brachiaria sebagai hijauan pakan ternak

Brachiaria sebagai pakan ternak sudah dikenal di Indonesia, Siregar et al., (1985)

melaporkan bahwa brachiaria adalah salah satu rumput yang diberikan peternak dengan cara cut-

carry. Selain sebagai cut-carry, penelitian mengenai Brachiaria di padang pengembalaan pun

menunjukkan bahwa Brachiaria memiliki nilai positif sebagai rumput gembala. Ginting dan Pond
(1996) melakukan penelitian dengan mengembalakan domba ekor tipis pada padang

penggembalaan yang ditanami Brachiaria brizantha selama 6 minggu istirahat 6 minggu (GM1),

1 minggu istirahat 6 minggu (GM2) dan 12 minggu istirahat 12 minggu, hasil yang diperoleh

disajikan pada Tabel 9. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa Brachiaria memiliki KCBK

yang tinggi dan memberikan pertambahan bobot badan yang baik.

Brachiaria humidicola dan Brachiaria dictyoneura yang diberikan pada domba di Brazil

adalah berturut-turut 11,3%; 59,1%; 75,2% dan 9,3%; 58,2%; 68,4%. Sedangkan

kecernaan Brachiaria decumbens cv Basilisk pada umur tanam 14 hari dan 56 hari berturut-turut

adalah 62,35% dan 54,8% (Bulo et al., 1994). Bagian rumput Brachiaria yang disukai oleh

ternak biasanya adalah bagian daunnya, penelitian melaporkan bahwa domba mengkonsumsi

69% bagian daunnya dan 31% batangnya pada B. humidicola dan pada B. dictyoneura domba

menkonsumsi 85% bagiandaunnya dan 15% bagian batangnya (Ciat, 1983).

III. PEMBAHASAN

Dalam praktikum ini kita dapat mengetahui berbagai jenis gulma yang berada di sekitar

kita, tanpa kita sadari praktikan tidak mengenal secara baik keadaan tanaman baik nama latin,

morfologi gulmaa itu sendiri maupun tipe dan jenis gulma tersebut. Gulma adalah tumbuhan

yang tumbuh pada areal yang tidak dikehendaki, tumbuh pada areal pertanaman. Gulma secara
langsung maupun tidak langsung merugikan tanaman budidaya. Pengenalan suatu jenis gulma

dapat dilakukan dengan melihat keadaan morfologinya, habitatnya, dan bentuk pertumbuhanya.

Berdasarkan keadaan morfologinya, dikenal gulma rerumputan (grasses), teki-tekian (sedges),

dan berdaun lebar (board leaf).

Golongan gulma rurumputan kebanyakan berasal dari famili gramineae (poaceae).

Ukuran gulma golongan rerumputan bervariasi, ada yang tegak, menjalar, hidup semusim, atau

tahunan. Batangnya disebut culms, terbagi menjadi ruas dengan buku-buku yang terdapat antara

ruas. Batang tumbuh bergantian pada dua buku pada setiap antara ruas daun terdiri dari dua

bagian yaitu pelepah daun dan helaian daun., contoh gulma rerumputan Panicium repens,

Eleusine indica, Axonopus compressus dan masih banyak lagi.

Golongan teki-tekian kebanykan berasal dari famili Cyperaceae. Golongan ini dari

penampakanya hampir mirip dengan golongan rerumputan, bedanya terletak pada bentuk

batangnya. Batang dari golongan teki-tekian berbentuk segitiga. Selain itu golongan teki-tekian

tidak memiliki umbi atau akar ramping di dalam tanah. Contoh golongan teki-tekian: Cyprus

rotundus, Cyprus compresus.

Golongan gulma berdaun lebar antara lain: Mikania spp, Ageratum conyzoides,

Euparotum odorotum. Berdasarkan habitat tumbuhnya, dikenal gulma darat, dan gulma air.

Gulma darat merupakan gulma yang hidup didarat, dapat merupakan gulma yang hidup setahun,
dua tahun, atau tahunan (tidak terbatas). Penyebaranya dapat melalui biji atau dengan cara

vegetatif. Contoh gulma darat diantaranya Agerathum conyzoides, Digitaria spp, Imperata

cylindrical, Amaranthus spinosus. Gulma air merupakan gulama yang hidupnya berada di air.

Jenis gulma air dibedakan menjadi tiga, yaitu gulma air yang hidupnya terapung dipermukaan air

(Eichhorina crassipes, Silvinia) spp, gulma air yang tenggelam di dalam air (Ceratophylium

demersum), dan gulma air yang timbul ke permukaan tumbuh dari dasar (Nymphae sp, Sagitaria

spp).

Cara klasifiikasi pada tumbuhan ada dua macam yaitu buatan (artificial) dan alami

(natural). Pada klasifikasi sistem buatan pengelompokan tumbuhan hanya didasarkan pada salah

satu sifat atau sifat-sifat yang paling umum saja, sehingga kemungkinan bisa terjadi beberapa

tumbuhan yang mempunyai hubungan erat satu sama lain dikelompokan dalam kelompok yang

terpisah dan sebaliknya beberapa tumbuhan yang hanya mempunyai sedikit persamaan mungkin

dikelompokan bersama dalam satu kelompok. Hal demkian inilah yang merupakan kelemahan

utama dari kalsifikasi sistem buatan. Pada klasifikasi sistem alami pengelompokan didasarkan

pada kombinasi dari beberapa sifat morfologis yang penting. Klasifikasi sistem alami lebih maju

daripada klasifikasi sistem buatan, sebab menurut sistem tersebut hanya tumbuh-tumbuhan yang

mempunyai hubungan filogenetis saja yang dikelompokan ke dalam kelompok yang sama.

Cara klasifiksi pada gulma cenderung mengarah ke sistem buatan. Atas dasar

pengelompokan yang berbeda, maka kita dapat mengelompokan gulma menjadi kelompok-
kelompok atau golongan-golongan yang berbeda pula. Gulma dapat dikelompokan seperti

berikut ini :

1. Berdasarkan siklus hidupnya, gulma dapat dikelompokan menjadi :

a. Gulma setahun (gulma semusim, annual weeds), yaitu gulma yang menyelesaikan siklus hidupnya

dalam waktu kurang dari satu tahun atau paling lama satu tahun (mulai dari berkecambah sampai

memproduksi biji dan kemudian mati). Karena kebanyakan umurnya hanya seumur tanaman

semusim, maka gulma tersebut sering disebut sebagai gulma semusim. Walaupun sebenarnya

mudah dikendalikan, tetapi kenyataannya kita sering mengalami kesulitan, karena gulma tersebut

mempunyai beberapa kelebihan yaitu umurnya pendek, menghasilkan biji dalam jumlah yang

banyak dan masa dormansi biji yang panjang sehingga dapat lebih bertahan hidupnya. Di

Indonesia banyak dijumpai jenis-jenis gulma setahun, contohnya Echinochloa crusgalli,

Echinochloa colonum, Monochoria vaginalis, Limnocharis flava, Fimbristylis littoralis dan lain

sebagainya.

b. Gulma dua tahun (biennial weeds), yaitu gulma yang menyelesaikan siklus hidupnya lebih dari

satu tahun, tetapi tidak lebih dari dua tahun. Pada tahun pertama digunakan untuk pertumbuhan

vegetatif menghasilkan bentuk roset dan pada tahun kedua berbunga, menghasilkan biji dan

kemudian mati. Pada periode roset gulma tersebut sensitif terhadap herbisida. Yang termasuk
gulma dua tahun yaitu Dipsacus sylvestris, Echium vulgare, Circium vulgare, Circium

altissimum dan Artemisia biennis.

c. Gulma tahunan (perennial weeds), yaitu gulma yang dapat hidup lebih dari dua tahun atau

mungkin hampir tidak terbatas (bertahun-tahun). Kebanyakan berkembang biak dengan biji dan

banyak diantaranya yang berkembang biak secara vegetatif. Pada keadaan kekurangan air (di

musim kemarau) gulma tersebut seolah-olah mati karena bagian yang berada di atas tanah

mengering, akan tetapi begitu ada air yang cukup untuk pertumbuhannya akan bersemi kembali.

2. Berdasarkan habitatnya, gulma dikelompokkan menjadi :

a. Gulma darat (terrestial weeds), yaitu gulma yang tumbuh pada habitat tanah atau darat. Contoh

Cyperus rotundus, Imperata cylindrica, Cynodon dactylon, Amaranthus spinosus, Mimosa sp. ,

dan lain sebagainya.

b. Gulma air (aquatic weeds), yaitu gulma yang tumbuh di habitat air.
IV. PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Berdasarkan dari pembahasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa :

1. Gulma Fimbristylis littoralis Gaudich dan gulma Brachiaria mutica merupakan gulma dari

tanaman padi. Dikatakan sebagai gulma padi, karena habitat gulma ini selalu berada pada

pertanaman padi dalam kata lain merupakan pasangan hidup dari tanaman padi.

2. Gulma Fimbristylis littoralis Gaudich berasal dari famili cyperaceae dan gulma Brachiaria

muticamerupakan salah satu famili dari graminales yang banyak ditemukan pada daerah daratan.

Meskipu beberapa dari spesies fimbristylis senang hidup di perairan/daerah lembab, namun lebih

banyak dan dominan hidupnya di daratan. Berbeda dengan Brachiaria mutica yang habitatnya

memang sepenuhnya di darat.

3. Gulma Fimbristylis littoralis Gaudich merupakan suatu jenis fimbry yang dikenal dengan

nama bola bumi fringerush. Gulma ini berasal dari pantai tropis Asia, tetapi sejak itu telah

menyebar ke kebanyakan benua sebagai suatu jenis baru. Ini merupakan suatu rumput liar yang

tersebar luas dalam beberapa area dan kadang-kadang dikhawatirkan pada padi. Puncak batang

masing-masing diduduki oleh suatu spikelets, masing-masing berhubungan dengan suatu


peduncle. Spikelet bola lonjong dan warna coklat kemerah-merahan di dalam. Spikelets

berbunga dan kemudian berkembang menjadi buah-buah kecil, yang berwarna coklat.

4. Gulma Brachiaria mutica berasal dari daerah Afrika (Uganda, Kenya, Tanzania) menyebar ke

berbagai daerah termasuk ke daerah Asia dan pasifik. Dan mulai di introduksikan ke Indonesia,

seiring dengan penelitian breeding dan penemuan ciltivar-cultivar baru rumput Brachiaria. Dari

penemuan jenis baru ini, maka Brachiaria memiliki beberapa spesies diantaranya Brachiaria

mutica (A.Rich.) Stapf, Brachiaria decumbens, Brachiaria humidicola, Brachiaria ruziziensis,

Brachiaria dictyoneura, Brachiaria distachya. Jenis-jenis rumput ini kemudian memiliki nama-

nama lokal seperti palisade grass, palisade signal grass, ya siknaentotang pada jenis Brachiaria

brizantha (A.Rich.), atau rumput signal, pada jenis rumput Brachiaria decumbens. Sedangkan di

Indonesia biasanya menyebut jenis rumput Brachiaria dengan menyingkat namanya seperti

rumput Bebe, Bede, Beha, Br dan blabakan (di jawa). Rumput ini juga berpotensi untuk

dikembangkan di Indonesia karena bisa tumbuh baik di wilayah manapun di Indonesia, termasuk

pada daerah asam (pH 3,5–5,5) seperti di Kalimantan Timur.

5. Manfaat dari kedua gulma tersebut pada umumnya sama, yaitu sebagai pakan ternak dan over

cropnamun pada gulma Fimbristylis littoralis Gaudich memiliki nilai tambah lebih karena bisa

dijadikan kerajinan tangan berupa tikar.


4.2 Saran

Sebaiknya dalam menentukan buruk atau tidaknya suatu makhluk hidup ada baiknya

mempelajari dan mengenal betul. Karena gulma yang selalu dianggap sebagai benalu/tanaman

pengganggu ternyata memiliki nilai tambah dan dapat dijadikan sebagai kerajinan tangan berupa

tikat misalkan saja pada gulma Fimbristylis littoralis Gaudich.

DAFTAR PUSTAKA

anonim, mengenal Gulma, www.mediatani.com/

AAK. 1983. Hijauan Makanan Ternak Potong, Kerja dan Perah. Kanisius. Yogyakarta

Abdullah Sani, R dan Basery, M. 1982. The Integration of Cattle with Coconut Cultivation. I.
Growth Performance and Production System.

Ciat. 1983. Annual Report. Tropical Pastures Program Centro Internacional de Agriculture
Tropical. Colombia.

Chen, C. P. dan Othman, A. 1983. Effect of Cattle Production on Forage Under Oil Palm. Proceeding
of The Sevent annual Conference of The Malaysia. Society of Animal Production.
Ginting, S. P., and K. R. POND. 1996. Effects of Grazing Systems on Pasture Production and
Quality of Brachiaria Brizantha and Liveweight Gain of Lambs.

Haryanto, B., M. E. Siregar dan T. Herawati, 1982. Fariasi Komposisi Brachiaria decumbens vs
Imperata cylindrica dengan Pemotongan dan Pemupukan Nitrogen Berat. Ilmu dan Peternakan.
Puslitbang Peternakan. Vol 1, no 1, 29 – 31.

Humphreys, L. R. 1974. A guide to Better Pastures for The Tropics and Sub Tropics. Wright
Stephenson & Co. Pty. Ltd. Australia. 3rd Edition.

Ibrahim, T. M dan C. N Jacobson. 1985. Evaluation of grass and Legume in Swards for Extensive
Management in South Sulawesi. Research Report 1984/1985. Balai Penelitian Ternak. Bogor.

Jayadi, S. 1991. Tanaman Makanan Ternak Tropika. FakultasPeternakan. Institut


Pertanian Bogor

Mardi, Siregar, M.E dan A. Djajanegara. 1971. Penggunaan Rumput Brachiaria brizantha Dalam
Usaha Transformasi Padang Alang-Alang Menjadi Pasture. Buletin Lembaga Penelitian
Peternakan, LPP. Bogor No 3, 1-7.

Nasrullah., R. Salam. 1994. Pengaruh Berbagai Jenis Tanaman Pakan Penutup Tanah Terhadap
Pertumbuhan Anakan Kopi Robusta Pada Sistem Tumpang Sari. Prosiding Seminar Komunikasi
dan Aplikasi Hasil Penelitian Peternakan Lahan Kering. Kupang. Indonesia

NG, T. T. 1972. Comparative Responses of Some Tropical Grasses to Fertilizer Nitrogen in Sarawak,
E. Malaysia. Tropical Grasslands, G. 229-230.

Schultze-Kraft. 1992. Forages (Edi). Plant Resources of South-East Asia (PROSEA).


No.4. Wageningen, Netherlands and Bogor. Indonesia.
Siregar, M. E., A. Djajanegara dan M. H. Harahap. 1973. Pengaruh Tingkat Pemupukan TSP
Terhadap Produksi Segar Rumput Setaria sphacelata, Brachiaria brizantha dan Digitaria
decumbens. Buletin L.P.P. Bogor. No 11, 1-7.

Whyte, R. G., T. G. R. Moir and J. P. Cooper. 1959. Grasses in Agriculture. FAO. Agric. Studies. No
12 Research Buletin, 10, 384-392.

Yuhaeni, S. 1990. Produksi Beberapa Hijauan Makanan Ternak di Bawah Naungan Pohon Kelapa
pada Berbagai Umur yang Berbeda. Balai Penelitian Ternak Ciawi (un published).

http://karya-tani-unhas.blogspot.com/2013/12/taksonomi-gulma_18.html ( bahan download 10 )