Anda di halaman 1dari 35

RINGKASAN MATERI

BAB 20
AKUNTANSI SEWA
(AKUNTANSI KEUANGAN MENENGAH BERBASIS PSAK)

DISUSUN OLEH :
LISA VIVIANTI (1662201025)
DWI INDAH SEPTIANA (1662201031)
KELAS 4C AKUNTANSI

DOSEN PENGAJAR : IKA BERTY, S.E., M.Ak, Ak.

FAKULTAS EKONOMI JURUSAN AKUNTANSI


UNIVERSITAS LANCANG KUNING
TAHUN 2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan hidayah-Nya
penyusun dapat menyelesaikan Ringkasan Materi Bab 20 yang berjudul “Akuntansi Sewa”
tepat pada waktunya.
Ringkasan ini kami susun untuk memenuhi tugas dari dosen pengajar mata kuliah
Akuntansi Keuangan 2.
Penyusun menyadari, bahwa ringkasan ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu,
kritik dan saran dari pembaca sangat kami butuhkan guna kesempurnaan di masa
mendatang.
Terakhir, tidak lupa penyusun mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang
terlibat dalam peringkasan materi ini, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Semoga materi yang telah kami ringkas ini dapat bermanfaat.

Pekanbaru, Februari 2018

Penyusun

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ....................................................................................... 1


DAFTAR ISI ...................................................................................................... 2
Karakteristik dan Jenis Sewa ............................................................................ 3
Karakteristik Sewa .................................................................................. 3
Akuntansi Sewa untuk Lessee ........................................................................... 7
Sewa Pembiayaan ..................................................................................... 7
Penyajian dan Pengungkapan ................................................................... 14
Sewa Operasi ............................................................................................ 17
Akuntansi Sewa bagi Lessor .............................................................................. 18
Sewa Pembiayaan ..................................................................................... 18
Sewa Operasi ............................................................................................ 24
Sewa bagi Lessor Pabrikan atau Dealer ................................................... 25
Transaksi Jual dan Sewa-Balik ......................................................................... 29
Sewa Pembiayaan ..................................................................................... 29
Sewa Operasi ............................................................................................ 31
Lessor (Pembeli) ....................................................................................... 32
Analisis Laporan Keuangan .............................................................................. 32
Daftar Pustaka .................................................................................................... 34

2
KARAKTERISTIK DAN JENIS SEWA

Karakteristik Sewa

Definisi Sewa

Sewa adalah perjanjian antara lessee (penyewa) dengan lessor (pemberi sewa) di mana
lessee diberikan hak oleh lessor untuk menggunakan aset milik lessor pada periode yang
telah disepakati. Atas diperolehnya hak tersebut, lessee diharuskan melakukan serangkaian
pembayaran kepada lessor. Perjanjian sewa memungkinkan aset tersebut menjadi milik
lessee atau dikembalikan pada lessor pada akhir masa sewa. Sewa dikenal juga sebagai
Leasing.

Keunggulan Sewa

Keuntungan sewa dibandingkan dengan membeli tunai melalui bank :

1. Pendanaan 100%
Pembiayaan dengan sewa mencakup 100% atas nilai asset, sedangkan pembiayaan
melalui bank biasanya hanya mencakup 80% dari nilai aset, sehingga perusahaan harus
mencari dana tambahan 20% agar dapat membeli aset tersebut.
2. Tingkat bunga tetap
Sebagian besar sewa menawarkan tingkat bunga tetap ssehingga pembayaran sewa
juga tetap.
3. Perlindungan terhadap keusangan.
Perjanjian sewa terkadang memberikan opsi kepada lessee mengajukan ke lessor untuk
mengganti aset sewaan yang sudah using atau ketinggalan teknologi dengan aset yang
lebih baru.
4. Fleksibel
Perjanjian sewa lebih fleksibel dan tidak seketat perjanjian pinjaman pada bank
sehingga lebih menjangkau banyak kalangan. Lessor tentunya telah menyediakan
berbagai skema jangka waktu dan besaran cicilan yang diinginkan.
5. Bunga lebih rendah
Rata-rata tingkat bunga sewa lebih rendah dibandingkan suku bunga pinjaman bank.
6. Keuntungan pajak
Dalam sewa pembiayaan, penyerahan aset sewaan tidak dikenakan PPN dan Lessee
tidak memotong PPh 23 atas pembayaran pada lessor.

3
7. Pembiayaan off-balance sheet
Dengan menyewa, memungkinkan bagi lessee untuk tidak mengakui aset dan liabilitas
sewaan di laporan posisi keuangan, sehingga perusahaan dapat menghindari
peningkatan leverage. Sedangkan pembelian yang berasal dari pembiayaan bank,
perusahaan tidak mungkin menghindari pengakuan aset dan liabilitas yang timbul.

Perkembangan Sewa di Indonesia


Sewa (leasing) mulai berkembang di Indonesia pada tahun 1974 setelah terbitnya surat
keputusan bersama (SKB) tiga menteri yaitu menteri keuangan, Menteri Perindustrian, dan
Menteri Perdagangan. Pada 1988, pemerintah melalui Keppres dan Keputusan Menteri
keuangan membuka luas kegiatan industri pembiayaan yang meliputi salah satunya
Leasing. Nilai piutang leasing diperkirakan terus meningkat pada tahun 2014.

Jenis-Jenis Sewa
Berdasarkan PSAK 30 Sewa, Sewa dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:
1. Sewa Operasi (Operating Lease)
Pada sewa ini, tidak terjadi pengalihan resiko dan manfaat yang terkait dengan
kepemilikan suatu aset. Pengalihan risiko dan manfaat tidak harus dalam bentuk
pengalihan kepemilikan, sehingga tidak adanya pengalihan kepemilikan belum tentu
merupakan sewa operasi. Jadi penekanan ada pada substansi transaksinya.
2. Sewa Pembiayaan (Finance lease)
Pada sewa ini terjadi pengalihan secara substansial seluruh resiko dan manfaat yang
terkait dengan kepemilikan suatu aset, terlepas apakah hak milih pada akhirnya dapat
dialihkan atau tidak.

Kriteria Sewa Pembiayaan


1. Perjanjian sewa menyatakan adanya pengalihan kepemilikan aset kepada lessee pada
akhir masa sewa.
2. Lessee memiliki opsi untuk membeli aset pada harga yang cukup rendah dibandingkan
nilai wajar pada tanggal opsi mulai dapat dilaksanakan, sehingga pada awal sewa dapat
dipastikan bahwa opsi akan dilaksanakan.
3. Masa sewa mencakup sebagian besar umur ekonomis aset meskipun hak milik tidak
dialihkan.
4. Pada awal sewa, nilai kini dari jumlah pembayaran sewa minimum secara substansial
mendekati nilai wajar aset sewaan.

4
5. Aset sewaan bersifat khusus dan hanya lessee yang dapat menggunakannya tanpa perlu
modifikasi secara material.

Indikator lain juga mungkin ada pada sewa pembiayaan yang mencakup salah satu atau
beberapa situasi berikut :
1. Sewa tidak dapat dibatalkan. Jika Lessee dapat membatalkan sewa maka rugi lessor
yang terkait pembatalan ditanggung oleh lessee. Lessee akan dikenakan penalti dan
seluruh risiko terkait aset beralih kepada lessee.
2. Keuntungan atau kerugian dari fluktuasi nilai wajar atas residu dibebankan kepada
lessee. Misalnya, dibebankan pada harga rental.
3. Lessee memiliki kemampuan untuk melanjutkan sewa periode kedua dengan nilai
rental yang secara substansial lebih rendah dari nilai pasar rental. Semakin panjang
masa sewa maka semakin besar kemingkinan seluruh risiko dan manfaat terkait aset
beralih ke lessee.

Sewa juga dikategorikan menjadi sewa guna usaha dengan hak opsi (sewa
pembiayaan) dan sewa guna usaha tanpa hak opsi (sewa operasi). Berdasarkan kriteria di
atas, sewa tanpa hak opsi belum tentu sewa operasi. Hak opsi bukan satu-satunya kriteria
dalam menentukan suatu sewa operasi atau sewa pembiayaan.

Analisis Perjanjian Sewa


Substansi dari perjanjian tidak selalu sama dengan apa yang tertera dalam kontrak,
namun harus dianalisis lebih dalam. Suatu transaksi dapat saja berbentuk kontrak jual beli
biasa, namun substansinya mengandung sewa.

Contoh 20.1 transaksi yang mengandung sewa


PT A mengadakan kontrak pembelian BBM yang dihasilkan oleh kilang milik PT B.
Kilang tersebut dibangun oleh PT B khusus untuk menghasilkan BBM dalam rangka
kontrak dengan PT A. Harga pembelian BBM yang dobayar oleh PT A jauh di atas harga
pasar yang berlaku. PT B harus memenuhi permintaan BBM dari PT A dan tidak boleh
memasok BBM tersebut dari kilang lain selain kilang yang dimaksud dalam kontrak. PT B
juga tidak dapat menjual BBM dari kilang tersebut kepada pihak lain. Pada akhir tahun ke-
20, kilang akan diserahkan pada PT A.

5
Menurut ISAK 8 perjanjian tersebut mengandung sewa karena :
1. Pemenuhan perjanjian tergantung pada penggunaan suatu aset atau aset aset tertentu. PT
B hanya bisa memasok BBM dari kilang tertentu yang dimaksud, dan tidak
menggunakan kilang lain.
2. Perjanjian tersebut memberikan suatu hak untuk menggunakan aset tertentu. PT A
memiliki hak menggunakan kilang tersebut walaupun dioperasikan oleh PT B selama
masa kontrak, karena PT A memiliki kendali atas pengoperasian kilang dalam
menentukan jumlah produksi. Pengendalian juga terjadi ketika PT B tidak
diperkenankan menjual BBM dari kilang tersebut ke pihak lain.

PT A dalam hal ini sebagai lessee harus mengakui kilang tersebut sebagai aset berikut
liabilitas terkait pada awal kontrak. Sedangkan PT B sebagai lessor harus menghentikan
pengakuan kilang. Harga pembelian yang dibayarkan PT A harus dipisahkan antara
komponen sewa dan bukan sewa.

Beberapa terminilogi yang harus diperhatikan dalam menganalisis suatu perjanjian sewa :
1. Sewa yang tidak dapat dibatalkan, adalah sewa yang hanya dapat dibatalkan jika :
- Terjadinya kondisi kontinjensi yang kemungkinannya sangat kecil
- Mendapat persetujuan dari lessor
- Lessee mengadakan perjanjian sewa baru atas aset yang sama atau aset yang setara
dengan lessor yang sama
- Bila ada pembayaran tambahan yang signifikan pada awal sewa oleh lessee
sehingga secara ekonomis dapat dipastikan tidak akan ada pembatalan.
2. Awal sewa adalah tanggal yang lebih awal antara tanggal perjanjian sewa dan tanggal
pihak-pihak menyatakan komitmen terhadap ketentuan pokok sewa. Pada tanggal ini
sewa diklarifikasikan sebagai sewa operasi atau pembiayaan, untuk sewa pembiayaan,
mulai dihitung jumlah aset dan liabilitas yang akan diakui pada awal masa sewa.
3. Awal masa sewa adalah tanggal saat lessee mulai berhak untuk menggunakan aset
sewaan. Awal masa sewa dapat berbeda dengan awal sewa.
4. Masa sewa adalah periode yang tidak dapat dibatalkan di mana lessee telah
menyepakati perjanjian sewa untuk menyewa aset. Keberadaan opsi atas masa sewa
dapat berpengaruh terhadap penentuan jenis sewa karena jika luput memperhitungkan
opsi ini, yang seharusnya sewa pembiayaan dapat dikategorikan menjadi sewa operasi.
5. Pembayaran sewa minimum adalah pembayaran selama masa sewa yang harus dibayar
oleh lessee, yang tidak meliputi rental kontinjen, biaya jasa dan pajak yang dipungut

6
oleh lessor. Nilai sewa minimum ditambah dengan nilai residu yang dijamin
(guaranteed residual value) dan pembayaran untuk melaksanakan opsi jika perjanjian
sewa memberikan lessee opsi untuk memberli aset pada harga yang cukup rendah
dibandingkan nilai wajarnya.
6. Rental Kontinjen adalah bagian dari pembayaran sewa yang jumlahnya tidak tetap
tetapi didasarkan pada perubahan faktor tertentu di masa depan, selain faktor
perjalanan waktu. Tidak termasuk dalam pembayaran sewa minimum yang digunakan
dalam menentukan jenis sewa.
7. Nilai residu yang dijamin adalah bagian dari nilai residu atas aset sewaan yang dijamin
oleh lessee atau pihak terkait dengan lessee. Nilai residu yang dijamin (jika ada)
termasuk dalam komponen pembayaran sewa minimum. Jika lessee menjamin nilai
residu suatu aset, maka ketika aset dikembalikan ke lessor di akhir masa sewa, lessee
harus mengganti kerugian lessor jika nilai wajar aset lebih rendah dari nilai residu
yang dijamin.
8. Umur ekonomis adalah periode atas suatu aset yang diharapkan secara ekonomis dapat
digunakan oleh satu atau lebih pengguna atau jumlah produksi atau unit serupa yang
diharapkan akan diperoleh dari aset oleh satu atau lebih pengguna.
9. Umur manfaat adalah estimasi periode tersisa dari manfaat ekonomis aset yang
diharapkan untuk dikonsumsi oleh entitas, yang dihitung mulai dari awal masa sewa,
tanpa dibatasi oleh masa sewa itu sendiri. Digunakan oleh lessee dalam
mempertimbangkan periode penyusutan atas aset dalam sewa pembiayaan.

AKUNTANSI SEWA UNTUK LESSEE


Sewa Pembiayaan
Pengakuan Awal dan Pengukuran

Pengakuan Aset dan Liabilitas


Pada sewa pembiayaan, lessee mengakui aset dan liabilitas di awal masa sewa sebesar
nilai terendah antara nilai wajar aset sewaan atau sebesar nilai kini dari pembayaran sewa
minimum. Nilai aset dan liabilitas diakui pada nilai yang sama kecuali jika terdapat uang
muka atas sewa, maka diakui setelah dikurangi uang muka.
Contoh : Jika nilai wajar aset adalah Rp 100.000.000 dan nilai kini pembayaran sewa
minimum adalah Rp 97.000.000, maka jurnal yang dicatat lessee pada awal masa sewa :
Aset Sewa Pembiayaan 97.000.000
Liabilitas Sewa Pembiayaan 97.000.000

7
Jika nilai wajar aset adalah Rp 97.000.000 dan lessee sudah membayar uang muka sebesar
Rp 10.000.000, maka jurnalnya :
Aset Sewa Pembiayaan 97.000.000
Uang muka sewa 10.000.000
Liabilitias sewa pembiayaan 87.000.000

Tingkat Diskonto
Nilai kini dari pembayaran sewa minimum dihitung menggunakan tingkat bunga
implisit atau tingkat bunga inkremental. Tingkat bunga implisit mengacu kepada tingkat
bunga yang digunakan oleh lessor dalam menghitung pembayaran sewa. Tingkat bunga
inkremental adalah tingkat bunga yang dikenakan kepada lessee atas sewa yang sejenis atau
seandainya aset dibeli dengan sumber pendanaan lain.

Nilai Residu
Nilai residu ada yang terjamin dan tidak terjamin. Jika nilai residu terjamin, maka nilai
tersebut termasuk dalam pembayaran sewa minimum, sehingga nilai aset yang diakui dapat
lebih besar disbanding yang tidak dijamin. Apabila dijamin oleh lessee dan pada akhir masa
sewa nilai wajar masa aset lebih rendah dari nilai residu yang dijamin, maka lessee
mengakui kerugian dan harus membayar kepada lessor sebesar selisih nilai wajar atas nilai
yang dijamin tersebut. Jika sebaliknya, maka lessee dapat mengakui keuntungan apabila
terdapat kesepakatan atas pembagian keuntungan.

Biaya Langsung Awal


Biaya langsung awal adalah biaya inkremental yang dapat diatribusikan secara
langsung dengan negosiasi dan pengaturan sewa. Biaya ini dikeluarkan lessee dalam sewa
pembiayaan ditambahkan ke dalam jumlah yang diakui sebagai aset.

Pengukuran Setelah pengakuan awal

Pemisahan antara beban keuangan dan pelunasan produk


Setelah mengakui aset dan liabilitas, lessee membayar sewa minimim secara periodik
kepada lessor dengan jumlah pembayaran yang ditentukan oleh lessor setelah
memperhitungkan imbal hasil bagi lessor. Lessee harus memisahkan bagian beban bunga
dan pelunasan produk atas pembayaran sewa minimum setiap periode. Jika ada pembayaran
lain berupa rental kontinjen, maka dibebankan pada periode terjadinya.

8
Penyusutan
Lessee akan menyusutkan aset dengan periode penyusutan tergantung dari kriteria
sewa pembiayaan mana yang terpenuhi dalam perjanjian sewa. Jika aset tersebut beralih
atau besar kemungkinan beralih (opsi pembelian) kepada lessee di akhir masa sewa, maka
disusutkan sepanjang masa sewa atau umur manfaat, mana yang lebih pendek. Apabila aset
tidak beralih ke lessee di akhir masa sewa, maka disusutkan sepanjang masa sewa.

Nilai Residu
Jika perjanjian sewa terdapat nilai residu yang dijamin, maka beban penyusutan atas
aset sewaan yang diakui lessee, setelah memperhitungkan nilai residu yang dijamin
tersebut. Sebaliknya dengan nilai residu yang tidak dijamin.

Contoh 20.2 Sewa Pembiayaan bagi lessee tanpa nilai residu


Pada tanggal 1 Januari 2015, PT Lessee menandatangani kontrak sewa sebuah mesin
selama 4 tahun dengan PT Lessor. Nilai wajar mesin saat awal sewa sebesar Rp
150.000.000, tanpa nilai residu. PT Lessee mulai menggunakan mesin tersebut pada tanggal
2 Januari 2015. Pada akhir masa sewa, mesin dikembalikan ke PT Lessor yaitu tanggal 31
Desember 2018. PT Lessor menetapkan pembayaran sewa dilakukan secara tahunan tiap
awal periode mulai 2 Januari 2015 sebesar Rp 41.933.445. PT Lessee membayar biaya
langsung awal sebesar Rp 10.000.000 di luar pembayaran sewa. Tingkat bunga implisit
yang ditetapkan PT Lessor adalah sebesar 10%. Umur ekonomis mesin diestimasikan 5
tahun. Metode penyusutan yang digunakan kedua perusahaan adalah garis lurus.

Analisis Sewa :
1. Aset dikembalikan ke PT Lessor pada akhir masa sewa.
2. Tidak ada opsi untuk membeli aset yang ditawarkan kepada PT Lessee dalam perjanjian
sewa.
3. Masa sewa (4 tahun) meliputi sebagian besar umur ekonomis aset sewaan (5tahun)
4. Pada awal sewa, nilai kini dari jumlah pembayaran sewa minimum secara substansial
mendekati nilai wajar aset sewaan. Kriteria ini terpenuhi dengan perhitungan berikut :
Pembayaran sewa minimum Rp 41.933.445
Faktor nilai kini anuitas due of 1 (n=4, i=8%) 3,5770969 x
Nilai kini pembayaran sewa minimum (dibulatkan) Rp 150.000.000
Nilai Wajar Aset Rp 150.000.000

9
5. Tidak terdapat informasi terkait aset sewaan bersifat khusus dan hanya lessee yang
dapat menggunakannya tanpa perlu dimodifikasi secara material.

Berdasarkan analisis tersebut, jenis sewa adalah sewa pembiayaan. Berikut jurnal pada
awal masa sewa :
2 Jan 2015 Aset Sewa Pembiayaan 160.000.000
Liabilitas sewa pembiayaan 150.000.000
Kas 10.000.000

Jika tidak terdapat biaya langsung awal, maka nilai aset yang diakui sama dengan nilai
liabilitasnya. Pengakuan aset dilakukan pada awal masa sewa yaitu 2 Jan 2015, sedangkan
1 Jan 2015 adalah awal sewa.

Tabel Amortisasi bagi Lessee-Tanpa nilai residu.


Tanggal Penerimaan Pendapatan Pengurangan Piutang Sewa
Sewa Bunga (8%) Pokok Piutang
2/1/15 150.000.000
2/1/15 41.933.445 - 41.933.445 108.066.555
2/1/16 41.933.445 8.645.324 33.288.121 74.778.434
2/1/17 41.933.445 5.982.275 35.951.170 38.827.264
2/1/18 41.933.445 3.106.181 38.827.264 0

Tanggal 2 Jan 2015 ada 2 baris karena pembayaran sewa pertama dilakukan langsung
di awal masa sewa, sehingga seluruh pembayaran merupakan pelunasan pokok. Beban
bunga dihitung dari 8% dikali liabilitas sewa pada tanggal pembayaran sebelumnya,
sehingga tidak ada beban bunga yang diakui tanggal 2 Jan 2015. Beban bunga belum terjadi
jika waktu belum berjalan dari awal masa sewa. Pengurangan pokok liabilitas diperoleh
dari selisih antara pembayaran sewa dengan beban bunga.

PT Lessee mencatat pembayaran dengan jurnal :

2 Jan 2015 Liabilitas Sewa Pembiayaan 41.933.445


Kas 41.933.445

10
Pada akhir tahun 2015, PT Lessee mencatat penyusutan Rp. 40.000.000 (160.000.000 : 4
tahun). Disusutkan 4 tahun karena PT Lessee mengembalikan aset ke PT Lessor pada akhir
masa sewa. Jurnal penyusutannya :

31 Des 2015 Beban Penyusutan 40.000.000


Akumulasi Penyusutan 40.000.000

Pembayaran sewa berikutnya tanggal 2 Jan 2016. Sesuai prinsip Akrual, akhir tahun 2015
PT Lessee harus mengakui beban bunga terkait jumalh yang akan dibayar pada awal tahun
2016 dengan jurnal :

31 Des 2015 Beban Penyusutan 8.645.324


Utang Bunga 8.645.324

Pada saat pembayaran tanggal 2 Jan 2016, PT Lessee tinggal menghapus utang bunga yang
sudah diakui pada akhir tahun lalu (asumsikan tidak ada jurnal pembalik)

2 Jan 2016 Aset sewa pembiayaan 33.288.121


Utang Bunga 8.645.324
Kas 41.933.445

Jurnal pada akhir masa sewa, PT Lessee mengembalikan aset sewaan kepada PT Lessor dan
menghentikan pengakuannya :
31 Des 2018 Akumulasi penyusutan 160.000.000
Aset sewa pembiayaan 160.000.000

Contoh 20.3 Sewa Pembiayaan bagi lessee dengan Nilai Residu

Pada tanggal 1 Januari 2015, PT Lessee menandatangani kontrak sewa sebuah mesin
selama 4 tahun dengan PT Lessor. Nilai wajar mesin saat awal sewa sebesar Rp
150.000.000, dengan nilai residu Rp 30.000.000. PT Lessee mulai menggunakan mesin
tersebut pada tanggal 2 Januari 2015. Pada akhir masa sewa, mesin dikembalikan ke PT
Lessor yaitu tanggal 31 Desember 2018. PT Lessor menetapkan pembayaran sewa
dilakukan secara tahunan tiap awal periode mulai 2 Januari 2015 sebesar Rp 35.768.978.
Tingkat bunga implisit yang ditetapkan PT Lessor sebesar 8% sedangkan tingkat bunga
incremental bagi PT Lessee adalah sebesar 10%. Umur ekonomis mesin diestimasikan 5
tahun. Metode penyusutan yang digunakan kedua perusahaan adalah garis lurus.

11
Pembayaran Sewa 35.768.978
Faktor nilai kini anuitas due of 1 (n=4, i=8%) 3,5770969 x
Nilai kini pembayaran sewa 127.949.104
Nilai residu yang dijamin 30.000.000
Faktor nilai kini (n=4, i=8%) 0.7350298 x
Nilai kini residu yang dijamin 22.050.896
Jumlah nilai kini pembayaran sewa minimum 150.000.000
Nilai wajar aset 150.000.000

Perhitungan tersebut memenuhi kriteria sewa pembiayaan karena jumlah nilai kini
pembayaran sewa minimum sama dengan nilai wajarnya. Jika nilai residu tidak dijamin
oleh PT Lessee, maka nilai kini dari jumlah pembayaran sewa minimum adalah

Pembayaran Sewa 35.768.978


Faktor nilai kini anuitas due of 1 (n=4, i=8%) 3,5770969 x
Nilai kini pembayaran sewa 127.949.104
Nilai residu yang dijamin 00
Faktor nilai kini (n=4, i=8%) 0.7350298 x
Nilai kini residu yang dijamin 00
Jumlah nilai kini pembayaran sewa minimum 127.949.104
Nilai wajar aset 150.000.000

Jumlah nilai kini pembayaran sewa minimum masih mendekati nilai wajar aset
sehingga memebuhi kriteria sewa pembiayaan.

Tabel Amortisasi bagi Lessee – Nilai Residu dijamin


Tanggal Penerimaan Pendapatan Pengurangan Piutang Sewa
Sewa Bunga (8%) Pokok Piutang
2/1/15 150.000.000
2/1/15 35.768.978 - 35.768.978 114.231.022
2/1/16 35.768.978 9.138.482 26.630.497 87.600.525
2/1/17 35.768.978 7.008.042 28.760.936 58.839.589
2/1/18 35.768.978 4.707.167 31.061.811 27.777.778
31/12/18 30.000.000 2.222.222 27.777.778 0

12
Nilai residu yang dijamin sebesar Rp 30.000.000 ikut diperhitungkan sebagai nilai
pada akhir masa sewa, sehingga masih ada pengakuan beban bunga dan pekunasan pokok
pada saat itu. Pada nilai residu yang tidak dijamin, nilai liabilitas yang diakui lebih rendah
dan nilai residu tidak diperhitungkan pada akhir masa sewa.
Tanggal Penerimaan Pendapatan Pengurangan Piutang Sewa
Sewa Bunga (8%) Pokok Piutang
2/1/15 127.949.104
2/1/15 35.768.978 - 35.768.978 92.180.126
2/1/16 35.768.978 7.374.410 28.394.568 63.785.558
2/1/17 35.768.978 5.102.845 30.666.134 33.119.484
2/1/18 35.768.978 2.649.554 33.119.424 0
31/12/18 - - - -

Perbandingan jurnal bagi Lessee antara nilai residu dijamin dan tidak dijamin.

Tanggal Jurnal Nilai Residu Dijamin Nilai Residu tidak


Dijamin
2/1/10 Aset Sewa Pembiayaan 150.000.000 127.949.104
Liabilitas Sewa 150.000.000 127.949.104
Pembiayaan

Liabilitas sewa pembiayaan 35.768.978 35.768.978


Kas 35.768.978 35.768.978
31/12/10 Beban penyusutan 30.000.000 31.987.276
Akumulasi penyusutan 30.000.000 31.987.276

Beban Bunga 9.138.482 7.374.410


Utang Bunga 9.138.482 7.374.410
2/1/11 Liabilitas sewaan 26.630.497 28.394.568
Utang bunga 9.138.482 7.374.410
Kas 35.768.978 35.768.978
31/12/13 Liabilitas sewa pembiayaan 27.777.778
Beban bunga 2.222.222
Akumulasi penyusutan 120.000.000 127.949.104
Aset sewa pembiayaan 150.000.000 127.949.104

13
Jika nilai wajar aset pada akhir masa sewa hanya Rp 20.000.000 maka PT Lessee harus
membayar sejumlah Rp 10.000.000 pada saat mengembalikan aset tersebut dengan jurnal :
31 Des 2018 Liabilitas sewa pembiayaan 27.777.778
Beban bunga 2.222.222
Kerugian 10.000.000
Akumulasi penyusutan 120.000.000
Aset sewa pembiayaan 150.000.000
Kas 10.000.000

Opsi pembelian
Nilai opsi pembelian akan diperhitungkan oleh lessee seperti halnya nilai residu yang
dijamin dalam nilai kini pembayaran minimum. Perbedaan perlakuan akuntansi antara opsi
pembelian dan nilai residu yang dijamin hanya pada perhitungan penyusutan aset, yaitu
pada opsi pembelian aset sewaan disusutkan selama umur manfaat.

Penyajian dan Pengungkapan

Laporan posisi keuangan (Neraca)

Pada sewa pembiayaan, lessee mengakui aset dan liabilitas sewaan dalam laporan
posisi keuangan. Jika aset sewaan tersebut digunakan untuk kegiatan operasi dapat
disajikan sebagai bagian dari aset tetap. Aset sewaan juga harus dianalisis terhadap
kemungkinan penurunan nilai.

Sedangkan liabilitas sewaan disajikan terpisah menurut jatuh temponya. Ketentuan


pemisahan ini tidak berlaku untuk lembaga keuangan. Hanya berlaku jika laporan keuangan
lembaga keuangan dikonsolidasikan dengan induk perusahaannya dan entitas induk
diharuskan melakukan pemisahan lancar dan tidak lancar.

14
Contoh Penyajian liabilitas sewaan, Laporan keuangan konsolidasi PT Astra
International,Tbk

15
Pengungkapan sewa aset

Laporan Laba Rugi

Pada sewa pembiayaan, lessee mengakui beban penyusutan dan beban bunga dalam
laporan laba rugi, kecuali jika beban dimasukkan dalam jumlah tercatat aset lainnya.

16
Sewa Operasi

Pengakuan dan Pengukuran


Pengakuan beban
Perlakuan akuntansinya sangat sederhana karena lessee hanya perlu mengaui beban
atas pembayaran sewa dengan dasar garis lurus selama masa sewa kecuali terdapat dasar
sistematis lain yang dapat mencerminkan pola waktu dari manfaat aset yang dinikmati
pengguna.

Pengukuran beban
Pada dasarnya nilai beban sewa diukut berdasarkan jumlah pembayaran sewa yang
dilakukan oleh lessee. Namun, terkadang lesee mendapatkan insentif tertentu dari lessor
agar bersedia melaksanakan perjanjian sewa. Berupa pembayaran tunai di muka kepada
lesse atau potongan pembayaran sewa, yang nantinya akan diakui manfaat agregat dari
insentif sebagai pengurang beban rental selama masa sewa (ISAK 23: Sewa Operasi-
Insentif)

Contoh 20.4 Sewa Operasi Insentif


Pada awal yahun 2015 PT Lessee menyewa gedung selama 4 tahun keoada lessor dengan
pembayaran sewa Rp 10.000.000 perbulan. Sewa diklasifikasikan sebagai sewa operasi. PT
LEssor membebaskan PT Lessee atas pembayaran sewa selama 6 bulan pertama, sehingga
PT Lessee mengakui dan membayar beban sewa pada tahun 2015 sebesar Rp 60.000.000
sekalipin gedung telah digunakan selama 1 tahun. Berdasarkan ISAK 23, PT lessee
seharusnya mengakui beban sewa tahun 2015 sebesar Rp 105.000.000 dengan perhitungan
berikut :

Jumlah pembayaran sewa keseluruhan (Rp 10.000.000x42 bulan) 420.000.000


Periode sewa sesuai perjanjian 48 bulan
Beban sewa perbulan (Rp 420.000.000:48bulan) 8.750.000
Beban sewa per tahun berdasarkan ISAK 23 (8.750.000x12) 105.000.000

Beban sewa 2015 menjadi lebih tinggi, namun pada tahun selanjutnya menjadi lebih
rendah.

17
Penyajian dan Pengungkapan

Laporan laba rugi


Pada sewa operasi, lessee mengakui beban sewa dalam laporan laba rugi, kecuali jika
beban tersebut dimasukkan dalam jumlah tercatat aset lainnya.

AKUNTANSI SEWA BAGI LESSOR

Sewa Pembiayaan

Pengakuan Awal dan Pengukuran

Pengakuan Piutang

Dalam sewa pembiayaan, pada awal masa sewa lessor mengakui piutang sewa
sebesar nilai investasi bersih, yaitu investasi kotor yang didiskontokan dengan tingkat
bunga implisit. Investasi kotor adalah pembayaran sewa minimum yang akan diterima
lessor bedasarkan sewa pembiayaan ditambah nilai residu (jika ada).

Selain mengakui piutang sewa, lessee juga menghentikan pengakuan aset sewaan
karena semua risiko dan manfaat yang terkait dengan kepemilikan asset telah dialihkan
kepada lessee. Nilai piutang yang diakui biasanya sama dengan nilai aset yang dihentikan
pengakuannya, kecuali jika terdapat uang muka atas sewa, maka piutang yang diakui
setelah dikurangi uang muka. Sebagai ilustrasi,nilai wajar aset pada awal masa sewa adalah
Rp 100.000.000 yang sama dengan nilai investasi bersih. Jurnal yang dicatat lessor adalah :

Piutang Sewa Pembiayaan Rp 100.000.000


Aset Rp 100.000.000

Jika lessee telah membayar uang muka sewa sebesar Rp 100.000.000,maka jurnal yang
dicatat lessor adalah :
Piutang Sewa Pembiayaan Rp 90.000.000
Sewa Diterima di Muka Rp 10.000.000
Aset Rp 100.000.000

Tingkat Diskonto

18
Nilai kini investasi kotor (Investasi bersih) dihitung menggunakan tingkat bunga
implisit. Pembayaran sewa juga dihitung dan ditentukan oleh lessor menggunakan tingkat
bunga implisit.

Nilai Residu

Jika aset disewakan memiliki nilai residu,maka diperhitungkan dalam nilai investasi
kotor terlepas apakah nilai residu dijamin atau tidak. Perlakuan ini berbeda dengan lessee
yang hanya memperhitungkan nilai residu yang dijamin dalam pembayaran sewa minimum.

Biaya Langsung Awal

Biaya langsung awal yang dikeluarkan lessor dalam sewa pembiayaan ditambahkan ke
dalam nilai investasi bersih. Hal ini dapat membutuhkan penyesuaian pada tingkat bunga
implisit menjadi lebih rendah sehingga pendapatan bunga yang diakui lessor menjadi lebih
rendah.

Pengukuran Setelah Pengakuan Awal

Pemisahan antara Pendapatan Sewa dan Pelunasan Pokok

Lessor harus memisahkan antara bagian pendapatan sewa (bunga) dan pelunasan
pokok atas pembayaran sewa minimum pada setiap periode. Pengakuan pendapatan sewa
didasarkan pada suatu pola yang mencerminkan suatu tingkat pengembalian periodik yang
konstan atas investasi bersih lessor dalam sewa pembiayaan.

Contoh 20.5 Sewa Pembayaran Bagi Lessor tanpa Nilai Residu

Mengacu pada contoh 20.2,nilai pembayaran sewa yang ditentukan oleh lessor berasal dari
perhitungan berikut :

Nilai wajar aset sewaan Rp 150.000.000


Nilai kini atas nilai residu 0
Jumlah yang akan diperoleh kembali melalui pembayaran sewa Rp 150.000.000
Faktor nilai kini anuitas due of 1 (n=4,i=8%) 3,5770969
Nilai pembayaran sewa tahunan(Rp 150.000.000/3,5770969) Rp 41.933.445

Karena perhitungan pembayaran sewa bedasarkan nilai wajar asset sewaan,maka nilai
piutang atau nilai kini dari jumlah pembayaran sewa minimum yang akan diterima lessor

19
berdasarkan sewa pembiayaan ditambah nilai residu (jika ada) akan sama dengan nilai
wajar asset sewaan. Berdasarkan analisis pada contoh 20.2,perjanjian sewa dikategorikan
sebagai sewa pembiayaan. Pada awal masa sewa lessor akan mencatat sebagai berikut.

2 Jan 2015 Piutang Sewa Pembiayaan Rp 150.000.000


Aset Rp 150.000.000

Tabel Amortisasi bagi lessor-Tanpa Nilai Residu

Tanggal Penerimaan Pendapatan Pengurangan Piutang


Sewa Bunga(8%) Pokok Piutang Sewa
2/1/15 150.000.000
2/1/15 41.933.445 - 41.933.445 108.066.555
2/1/15 41.933.445 8.645.324 33.288.121 74.778.434
2/1/15 41.933.445 5.982.275 35.951.170 38.827.264
2/1/15 41.933.445 3.106.181 38.827,26 0

Berdasarkan perjanjian sewa,pembayaran sewa pertama dilakukan langsung di awal


masa sewa. Atas penerimaan sewa tersebut PT Lessor mencatat jurnal sebagai berikut.

2 Jan 2015 Kas Rp 41.933.445


Piutang Sewa Pembiayaan Rp 41.933.445

Penerimaan sewa berikutnya pada tanggal 16 januari 2016,sesuai prisip akrual,pada


akhir tahun 2010 PT Lessor mengakui pendapatan sewa pembiayaan(pendapatan bunga)
terkait jumlah yang aka diterima padaa awal tahun 2016 dengan jurnal sebagai berikut.

31 Des 2015 Piutang Bunga Rp 8.645.324


Pendapatan Sewa Pembiayaan Rp 8.645.324

Penggunaan akun piutang bunga bertujuan agar dapat dibedakan dengan pokok piutang
piutang pokok sewanya. Pada saat pembayaran tanggal 2 januari 2016, PT Lessor tinggal
menghapus piutang bunga yang sudah diakui pada akhir tahun lalu (dengan asumsi tidak
ada jurnal pembalik),sebagai berikut.

20
31 Des 2015 Kas Rp 41.933.445
Piutang sewa pembiayaan Rp 33.288.121
Piutang Bunga Rp 8.645.324

Alternatif Pencatatan

PSAK 30 (Revisi 2011) menyatakan bahwa selisih antara nilai investasi bruto dengan
investasi neto diakui sebagai pendapatan pembiayaan tangguhan. Pembahan di atas belum
menyinggung istilah tersebut. Oleh sebagai pendapatan pembiayaan tangguhan.
Pembahasan diatas belum menyinggung istilah tersebut. PT Lessor memiliki alternatif
pencatatan dengan mengakui piutang sebesar nvestasi kotor. Nilai piutang yang dicatat
berdasarkan penjumlahan pembayaran sewa tak terdiskonto, yaitu sebesar
Rp167.733.780,25 (Rp 41.933.445x4 atau penjumlahan kolom penerimaan sewa pada table
20.5). Jurnal alternative :

2 Jan 2015 Piutang Sewa Pembiayaan Rp 167.733.780


Aset Rp 150.000.000
Pendapatan Pembiayaan Tangguhan Rp 17.733.780

2 Jan 2015 Kas Rp 41.933.445


Piutang Sewa Pembiayaan Rp 41.933.4455

31 Des 2015 Pendapatan pembiayaan tangguhan Rp 8.6456.324


Pendapatan Sewa Pembiayaan Rp 8.645.324

2 Jan 2016 Kas Rp 41.933.445


Piutang Sewa Pembiayaan Rp 41.933.445

Alternatif pencatatan ini menyebabkan nilai piutang yang diakui lebih tinggi karena
tak terdiskonto,namun pada penyajian laporan keuangan,nilai piutang ini (investasi kotor)
disaling hapuskan dengan pendapatan pembiayaan tangguhan yang belum diamortasikan
sehingga menghasilkan nilai yang sama dengan piutang berdasarkan investasi bersih.

Contoh 20.6 Sewa Pembiayaan bagi Lessor dengan Nilai Residu

Mengacu pada contoh 20.3, terlepas apakah nilai residu dijamin atau tidak, maka nilai
pembayaran sewa yang ditentukan oleh lessor berasal dari perhitungan berikut

21
Nilai Wajar Aset Sewaan Rp 150.000.000
Nilai Kini atas nilai residu(30.000.000x0,73502985) * 22.050.895 _
Jumlah yang akan diperoleh kembali mellaui pembayarab sewa Rp 127.949.104
Faktor nilai kini anuitas due of l (n=4,i=8%) 3,5770969
Nilai pembayaran sewa tahunan(RP 127.949.104/3,5770969) Rp 35.768.978

*Faktor nilai single sum n=4,i=8%

Nilai pada table amortisasi leesee akan sama dengan lessor jika tingkat bunga yang
digunakan sama dengan nilai residu dijamin (tidak ada nilai residu). Jika kondisi ini tidak
terpenuhi,maka kita harus membuat tabel amortisasi untuk masing-masing pihak.

Tabel Amortisasi bagi lessor-Nilai Residu dijamin dan Tidak dijamin

Tanggal Penerimaan Pendapatan Pengurangan Piutang


Sewa Bunga (8%) Pokok Piutang Sewa

2/1/10 150.000.000
2/1/10 35.768.978 0 35.768.978 114.231.022
2/1/10 35.768.978 9.138.482 26.630.497 87.600.525
2/1/10 35.768.978 7.008.042 28.760.936 58.839.589
2/1/10 35.768.978 4.707.167 31.061.811 27.777.778
31/12/13 30.000.000 2.222.222 27.777.778 0

PT Lessor akan mencatat jurnal sebagai berikut

31 Des 2018 Kas Rp 10.000.000


Aset Rp 20.000.000
Piutang Sewa Pembiayaan Rp 27.777.778
Pendapatan Sewa Pembiayaan Rp 2.222.222

Jika nilai residu tidak dijamin,maka PT Lessor tidak menerima pembayaran kas dari PT
Lessee. Sebagai gantinya PT Lessor akan mengakui kerugian sebesar Rp 10.000.000.

22
Penyajian dan Pengungkapan

Laporan Posisi Keuangan (Neraca)

Pada sewa pembiayaan, lessor mengakui piutang dan menghentikan pengakuan aset
dalam laporan posisi keuangan, piutang tersebut disajikan dalam kelompok piutang
pembiayaan dan harus di analisis terhadap kemungkinan penurunan nilai seperti yang diatur
dalam PSAK 55 (Revisi2011) .Piutang pembiayaan dipisahkan menurut jatuh temponya.
Bagian tempo kurang dari 1 tahun sejak tanggal pelaporan disajikan sebagai aset lancar dan
sisanya disajikan sebagai aset tidak lancar. Pada perusahaan (multifinance) laporan posisi
keuangan tidak dipisahkan antara lancar ataupun tidak lancar.

Contoh penyanjian dan pengungkapan asset dan liabilitas sewaan.

23
Laporan Laba Rugi

Lessor mengakui pendapatan sewa dalam laporan laba rugi, kecuali jika beban
tersebut dimasukkan dalam jumlah tercatat aset lainnya. Misalnya, jika aset sewaan
digunakan dalam kegiatan administrasi dan pemasaran, maka beban penyusutan disajikan
dalam kelomppok beban operasi pada laporan laba rugi. Namun jika digunakan dalam
proses produksi,maka beban penyusutan dimasukkan dalam nilai perolehan persediaan.

Contoh penyajian pendapatan sewa pembiayaan

Sewa Operasi

Pengakuan dan pengukuran

Perlakuan akuntansi untuk sewa operasi bagi lessor juga sederhana karena lessor
hanya perlu mengakui pendapatan atas pembayaran sewa yang diterima. Mengacu pada
ilustrsi 20.1,jika sewa dikategorikan sebagai sewa operasi,maka PT Lessor membuat jurnal
pada tiap tanggal pembayaran sewa sebagai berikut

Kas RP 41.933.445
Pendapatan Sewa Rp 41.933.445

24
Pengukuran Pendapatan

Nilai pendapatan sewa diukur berdasarkan jumlah pembayaran sewa yang diterima
dari lessee. Namun terkadang lessor memberikan insentif tertentu agar lessee bersedia
melaksanakan perjanjian sewa. Insentif dimaksud dapat berupa uang tunai dimuka atau
potongan pembayaran sewa.

Biaya Langsung Awal

Biaya Langsung Awal yang dikeluarkan lessor dalam sewa operasi diakui sebagai
asset sewaan dan dibebankan selama masa sewa dengan dasar yang sama dengan
pendapatan sewa.

Penyajian dan Pengungkapan

Laporan Laba Rugi

Pendapatan Sewa dari sewa operasi diakui sebagai pendapatan dengan dasar garis
lurus selama masa sewa,kecuali terdapat dasar sistematis lain yang lebih mencerminkan
pola waktu atas manfaat kegunaan asset sewaan yang menurun.

Laporan Posisi Keuangan

Lessor mengakui pendapatan sewa dalam laporan laba rugi dengan dasar garis lurus
selama masa sewa,kecuali terdapat dasar sistematis lain yang lebih mencerminkan pola
waktu atas manfaat penggunaan asset sewaan yang menurun.

Sewa bagi Lessor Pabrikan atau Dealer

Sewa pembiayaan atas asset oleh lessor pabrikan atau dealer meberikan dua jenis
penghasilan,yaitu sebagai berikut.

1. Laba atau rugi yang ekuivalen dengan laba atau rugi dari penjualan atas asset yang
disewakan,pada harga jual normal setelah dikurangi potongan penjualan(jika ada).
2. Penghasilan pembiayaan (bunga) selama masa sewa.

25
Sewa seperti ini sering disebut Sales-Type Lease, karena ada unsur penjualan dalam
suatu sewa.

Pengakuan Awal dan Pengukuran

Pengakuan Piutang dan Pendapatan

Biaya penjualan sewa dengan nilai residu tidak dijamin lebih rendah daripada nilai
residu dijamin. Perbedaan antara pendpatan penjualan dan biaya penjualan merupakan laba
penjualan (laba kotor) seperti halnya penjualan biasa.

Tingkat Diskonto

Nilai kini dari pembayaran sewa minimum dihitung pada tingkat bunga pasar. Jika
tingkat bunga ditentuukan secara artifial terlalu rendah,laba penjualan dibatasi sebesar laba
apabila menggunakan tingkat bunga pasar.

Nilai Residu

Jika asset yang disewakan memiliki nilai residu,maka diperhitungkan dalam nilai
investasi kotor terlepas apakah nilai residu dijamin atau tidak. Perlakuan ini sama dengan
pada lessor dengan sewa pembiayaan biasa pada pembahan sebelumnya.

Biaya Langsung Awal

Biaya langsung awal yang dikeluarkan oleh lessor pabrikan atau dealer sehubungan
dengan negosiasi dan pengaturan sewa diakui sebagai beban ketika laba penjualan diakui.

Pengukuran Setelah Pengakuan Awal

Lessor harus memisahkan antara bagian pendapatan sewa (bunga) dan pelunasan
pokok atas pembayaran sewa minimum pada setiap periode.

Contoh 20.7 Sewa bagi Lessor Pabrikan atau Dealer

Mengacu pada contoh 20.5 dan 20.6, jika biaya perolehan aset bagi PT Lessor adalah
Rp100.000.000 maka berikut perhitungan yang diperlukan.

26
Perhitungan Sewa bagi lessor Pabrikan atau Dealer

Akun Nilai Residu


Dijamin Tidak Dijamin
Piutang Sewa Pembiayaan 150.000.000 150.000.000
Pendapatan Penjualan 150.000.000 150.000.000
Biaya Penjualan 100.000.000 77.949.102
Laba Penjualan 50.000.000 50.000.000

Pendapatan penjualan untuk sewa dengan nilai residu dijamin diakui sebesar nilai
wajar aset yang sama dengan nilai residu yang tidak dijamin, pendapatan penjualan yang
diakui lebih rendah sebesar Rp 22.050.895 yaitu sebesar nilai kini dari nilai residu tidak
dijamin Rp 30.00.000x 0,73502985), sehingga pendapatan penjualan menjadi Rp
127.949.104. Biaya penjualan untuk sewa dengan nilai residu yang dijamin sebesar biaya
perolehan aset. Jika nilai residu tidak dijamin, maka dikurangi sebesar nilai kini dari nilai
residu tidak dijamin (Rp 100.000.000-Rp22.050.895) menjadi RP 77.949.104. Laba
penjualan adalah selisih pendapatan penjualan dengan biaya penjualan dan nilainya sama
untuk sewa dengan nilai residu dijamin atau tidak dijamin.

27
Tanggal Jurnal Nilai Residu Dijamin Nilai Residu Tidak Dijamin
2/1/15 Piutang Sewa Pembiayaan 150.000.000 150.000.000
Biaya Penjuualan 100.000.000 77.949.104
Pendapatan Penjualan 150.000.000 150.000.000
Aset 100.000.000 77.949.104

Kas 35.768.978 35.768.978


Piutang Sewa 35.768.978 35.768.978
Pembiayaan

31/12/15 Piutang Bunga 9.138.481 9.138.481


Pendapatan Sewa 9.138.481 9.138.481
pembiayaan

2/1/16 Kas 35.768.978 35.768.978


Piutang Bunga 9.138.481 9.138.481
Piutang Sewa 26.630.497 26. 630.497
Pembiayaan

31/12/18 Aset 30.000.000 30.000.000


Piutang Sewa Pembiayaan 27.777.778 27.777.778
Pendapatan Sewa 2.222.222 2.222.222
Pembiayaan

Perbandingan jurnal bagi Lessor Pabrikan/Dealer antara nilai residu dijamin dan tidak
dijamin.

Pada akhir masa sewa.PT Lessee mengembalikan aset sewaan kepada PT Lessor.
Sama halnya dengan sewa pembiayaan pada umumnya, jika nilai residu dijamin dan nilai
wajar asset pada akhir masa sewa lebih rendah,maka PT Lessor menerima pembayaran dari
PT Lessee seperti contoh 20.6.

Penyajian dan Pengungkapan

Penyajian dan pengungkapan pada sewa pembiayaan bagi lessor pabrikan atau
dealer sama dengan dan sewa pembiayaan biasa.

28
TRANSAKSI JUAL DAN SEWA-BALIK

Tujuan dilakukan transaksi jual dan sewa oleh lessee ialah untuk pendanaan tanpa
harus kehilangan manfaat dari aset operasionalnya. Ketika menjual aset, lessee
mendapatkan dana sebesar nilai aset yang dijual dan masih dapat memanfaatkan sisa dana
tersebut atas jumlah yang belum dibayarkan sebagaii pembayaran sewa kepasa lessor.

Lessee (1) Menjual Aset Lessor


(2) Menyewakan Aset

Sewa Pembiayaan

Pengakuan dan Pengukuran

Lessee (Penjual)

Suatu transaksi jual dan sewa-balik merupakan sewa pembiayaan, maka selisih lebih
hasil penjualan dari jumlah tercatat tidak dapat diakui segera sebagai pendapatan oleh
lessee, tetapi ditangguhkan dan diamortisisakan selama masa sewa.

Contoh 20.8 Transaksi jual dan sewa-balik

Mengacu pada contoh 20.2 dan 20.4 sebelumnya menyewanya dari PT Lessor,PT Lesse
memiliki asset sewaan tersebut dengan biaya perolehan RP 100.000.000 dan kemudian
menjualnya kepada PT Lessor seharga Rp 150.000.000 PT Lessor akan mengakui nilai
wajar aset tersebut sebesar Rp 150.000.000 dan kemudian digunakan sebagai dasar
perhitungan pembayaran sewa kepada PT Lessee. Asumsi tidak ada biaya langsung awal
untuk kedua pihak,maka jurnal yangdicatat oleh kedua belah pihak.

29
Ikhtisar Jurnal Lessee dan Lessor pada Transaksi Jual dan Sewa-Balik

PT LESSE PT LESSOR

2/1/15

Kas 150.000.000 Aset 150.000.000

Aset 100.000.000 Kas 150.00.000

Pendapatan Tangguhan 50.000.000

Asset Sewa Pembiayaan 150.000.000 Piutang Sewa Pembiy 150.000.000

Liabilitas Sewa Pembiaya 150.000.000 Aset 150.000.000

Liabilitas Sewa Pembiaya 41.933.445 Kas 41.933.445

Kas 41.933.445 Piutang Bunga 41.933.445

31/1/15

Beban Penyusutan 37.500.000 Tidak dijurnal

Akumulasi Penyusutan 37.500.000

Beban bunga 8.645.324 Piutang bunga 8.645.324

Utang Bunga 8.645.324 Pend. Sewa pembia 8.645.324

Pend. Tangguhan 12.500.000 Tidak Dijurnal

Pend. penjualan 12.500.000

30
Lessor (Pembeli)

Pengakuan piutang sewa pembiayaan pada lessor juga mengacu kepada ketentuan
dalam sewa pembiayaan pada pembahasan sebelumnya,yaitu sebesar nilai wajar aset. Nilai
wajar aset adalah harga jual dari lessee kepada lessor.

Penyajian dan Pengungkapan

Penyajian aset mengacu pada ketentuan pada sewa pembiayaan. Pengungkapan khusus
diperlukan untuk pengaturan sewa yang material dan tidak biasa dari perjanjian atau
persyaratan transaksi jual dan sewa-balik.

SEWA OPERASI

Pengakuan dan Pengukuran

Lessee (Penjual)

Jika suatu transaksi jual dan sewa nalik merupakan sewa operasi :

1. Jika Lessee menjual aset tersebut pada nilai wajarnya, maka laba atau rugi diakui
segera.
2. Jika harga jual dibawah nilai wajarnya, maka laba atau rugi diakui segera.
3. Jika harga jual di atas nilai wajar, selisih lebih dari nilai wajar tersebut
ditangguhkan dan diamortisasi selama periode penggunaan aset.
4. Jika nilai wajar aset pada saat transaksi jual dan sewa balik lebih rendah daripada
jumlah tercatatnya, rugi sebesar selisih antara jumlah tercatat dan nilai wajar diakui
segera.

Pengakuan Keuntungan atau Kerugian bagi Lessee dalam Tranksaksi Jual dan Sewa-Balik
Sewa Operasi

Harga Jual=Nilai Harga Jual>Nilai Wajar Harga Jual <Nilai


Wajar (150=150) (160>150) Wajar (130<150)

31
Nilai Wajar>Biaya Laba lebih besar 50 Laba sebesar 5- (nilai Laba sebesar 30(harga
Perolehan diakui wajar-biaya perolehan) jual-biaya
diakui segera. Laba perolehan)diakui
(150>100) sebesar 10 (harga jual- segera
nilai
wajar)ditangguhkan
dan diamortisasi

Niilai wajar < Biaya Rugi sebesar 50 Rugi ssebesar 50(biaya Rugi sebesar 70(biaya
Perolehan diakui segera perolehan-nilai perolehan-harga
wajar)diakui segera. jual)diakui segera. Jika
(150<200) Laba sebesar 10(harga rugi tersebut
jual-nilai wajar) dikompesasikan
ditangguhkan segera dengan pembayaran
sewa di masa depan
yang lebih rendah dari
harga pasar,maka rugi
tersebut harus
ditangguhkan segera

Lessor (Pembeli)

Pengakuan pendapatan sewa operasi bagi lessor (pembeli) juga mengacu kepda
ketentuan dalam sewa operasi pada pembahasan sebelumnya.

Penyajian dan Pengungkapan

Penyajian aset mengacu kepada ketentuan sewa operasi, kecuali laba untuk
tangguhan yang diakui lessee disajikan sebagai liabilitas pada laporan posisi keuangan.
Pengungkapan khusus diperlukan untuk pengaturan sewa yang material dan tidak biasa dari
perjanjian atau persyaratan transaksi jual dan sewa-balik.

ANALISIS LAPORAN KEUANGAN

Perlakuan akuntansi atas sewa pembiayaan dan sewa operasi memilik banyak
dampak terhadap penyajian laporan keuangan. Pada sewa pembiayaan, lessee megakui

32
asset sekaligus liabilitas. Sementara pada sewa operasi, lessee tidak mengakui aset maupun
liabilitas di laporan posisi keuangan. Lessee hanya mengakui beban atas pembayaran sewa.
Istilah ini disebut off balance sheet financing.

Pada sewa pembiayaan,sekalipun asset bertambah, namun liabilitas juga bertambah


dengan porsi yang lebih besar pada liabilitas jangka panjang. Penambahan ini akan
berdampak negatif terhadap rasio keuangan. Untuk diperlukan analisis yang memadai
untuk menentukan klasifikasi suatu sewa agar penyajian di laporan keuangan
mencerminkan substansi transaksinya.

33
DAFTAR PUSTAKA

Martani, Dwi dkk. 2015. Akuntansi Keuangan Menengah Berbasis PSAK. Jakarta: Salemba
Empat.
PT Astra International Tbk. 2013. Laporan Keuangan Konsolidasian.
PT Astra International Tbk. 2013. Laporan Keuangan.
PT BFI Finance Indonesia. 2013. Laporan Keuangan.

34