Anda di halaman 1dari 75

PERENCANAAN

SAMBUNGAN BAUT
SI-3212 Struktur Baja
Muhammad Riyansyah, ST., Ph.D.

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 1


Sambungan Baut
 Cepat dalam pengerjaan di lapangan.
 Tidak membutuhkan pekerja dengan keahlian khusus.
 Relatif lebih ekonomis (terutama karena dua alasan
sebelumnya).
 Ada 2 tipe baut:
 Baut biasa – dengan kode material A307, memiliki karakteristik material
yang sama dengan baja ASTM A36 - = 248 dan = 400 .
 Baut mutu tinggi (high-strength bolt) – dengan kode material A325 dan
A490.
 Grup A – ASTM A325, A325M, F1852, A354 Grade BC, dan A449

 Grup B – ASTM A490, A490M, F2280, dan A354 BD

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 2


Tipe Pemasangan Baut
 Ada 3 tipe pemasangan baut:
 Snug-tight – artinya baut dikencangkan sekencang mungkin.
 Pretension – artinya setelah baut dikencangkan dalam kondisi snug-
tight, kemudian pengencangannya ditambah hingga memberikan
tegangan tarik pada baut, lebih-kurang 70% dari kuat tarik minimum
baut.
 Slip-critical joints – mirip dengan pretension, bedanya adalah
permukaan kontak antar komponen yang disambung diperlakukan
secara khusus. Sambungan ini diperlukan jika sambungan menerima
gaya tarik dan gaya geser.
 Untuk kondisi pretension dan slip-critical joints, harus
disebutkan secara jelas pada gambar desain

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 3


Pemasangan Baut Tipe Pretension/Slip-critical
 Metode yang digunakan untuk pemasangan pretension/slip-
critical:
 Turn-of-the-Nut – setelah baut dikencangkan snug-tight, baut diputar
lagi hingga mencapai sepertiga atau satu putaran penuh.
 Calibrated Wrench – baut dikencangkan dengan alat khusus
 Direct Tension Indicator – baut memiliki indikator khusus untuk
menunjukkan bahwa baut sudah mencapai gaya pretension yang
dikehendaki
 Twist-off bolts – baut yang salah satu bagiannya akan berubah bentuk
ketika gaya pretension yang diinginkan telah tercapai.

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 4


Minimum Pretension Force

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 5


Sambungan Slip-Resistant vs Bearing-Type
 Slip-resistant
 Pada sambungan pretension, gaya normal akibat pretension
mengakibatkan friksi antara permukaan dua komponen yang
disambung → kapasitas friksi sambungan.
 Ketika gaya yang bekerja tidak melebihi kapasitas friksi sambungan
yang diizinkan (permissible frictional resistance) → sambungan slip-
resistant
 Bearing-type
 Ketika gaya yang bekerja melebihi kapasitas friksi sambungan yang
diizinkan → sambungan bearing-type

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 6


Sambungan Slip-Resistant vs Bearing-Type

Slip-resistant

Bearing-type

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 7


Ukuran Lubang Baut
 Standard size (STD)
 Diameter lubang adalah diameter baut ditambah 2~3 mm.

 Oversized holes (OVS)


 Diameter lubang adalah diameter baut ditambah 4~8 mm.
 Toleransi lebih besar → mempercepat pemasangan di lapangan.

 Short-slotted holes (SSL) dan Long-slotted holes (LSL)


 Mempercepat pemasangan
di lapangan (toleransi lebih besar)
 Berlaku beberapa persyaratan jika
ingin menggunakan lubang tipe ini.

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 8


Ukuran Lubang Baut

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 9


Diameter Nominal Lubang Baut (Tabel J3.3M)

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 10


Persyaratan utk Lubang Baut Non-STD
 Semua lubang baut non-STD diharuskan menggunakan washers.
 Oversized holes (OVS)
 Boleh digunakan untuk semua tipe pemasangan baut (snug-tight,
pretension, atau slip-critical) selama sambungan tersebut diklasifikasikan
sebagai sambungan slip-resistant.
 Tidak boleh digunakan pada sambungan dengan klasifikasi bearing-type
(ada perpindahan yang relatif cukup besar antara dua komponen yang
disambung sebelum baut bekerja menahan beban).
 Short-slotted holes (SSL) dan Long-slotted holes (LSL)
 Jika sambungan diklasifikasikan slip-resistant, arah gaya tidak
dipersyaratkan.
 Jika sambungan diklasifikasikan bearing-type, maka arah gaya harus
tegak lurus terhadap slot panjang.
 Khusus LSL, hanya boleh dibuat pada salah satu komponen yang
disambung saja.

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 11


Load Transfer dan Tipe Sambungan
 Sambungan yang meneruskan beban aksial:
 Lap joint – garis kerja resultan beban pada komponen yang satu tidak
sama dengan garis kerja resultan beban pada komponen yang lainnya.
Baut mengalami 1 bidang geser.

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 12


Load Transfer dan Tipe Sambungan
 Sambungan yang meneruskan beban aksial (lanjutan):
 Lap joint (lanjutan) – eksentrisitas menyebabkan momen lentur pada
sambungan, maka umumnya hanya digunakan untuk sambungan yang
tidak terlalu kritis, dan harus menggunakan 2 baut, searah dengan
gaya yang bekerja.
Penggunaan minimal 2
baut mengurangi efek
momen lentur

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 13


Load Transfer dan Tipe Sambungan
 Sambungan yang meneruskan beban aksial (lanjutan):
 Butt joint – garis kerja resultan beban pada komponen yang satu sama
dengan garis kerja resultan beban pada komponen yang lainnya. Terdiri
dari 3 komponen yang dihubungkan. Baut mengalami 2 bidang geser.

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 14


Load Transfer dan Tipe Sambungan
 Sambungan yang meneruskan beban aksial (lanjutan):
 Butt joint (lanjutan):
 Garis kerja resultan beban pada
kedua sisi sambungan berada
pada satu bidang → tidak ada
eksentrisitas pada sambungan
→ tidak ada momen lentur
pada sambungan.
 Komponen disusun sehingga
gaya geser total dibagi kepada
2 bidang geser → kapasitas baut
dgn 2 bidang geser = 2x baut
dgn 1 bidang geser

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 15


Load Transfer dan Tipe Sambungan
 Sambungan yang meneruskan beban aksial (lanjutan):
 Double-plane – baut mengalami 1 bidang geser tapi momen lentur
tidak terjadi.

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 16


Load Transfer dan Tipe Sambungan
 Sambungan yang meneruskan beban aksial (lanjutan):
 Multiple-shear – baut mengalami banyak bidang geser.

 Meskipun sambungan bisa memiliki lebih dari 2 bidang geser, dalam


desain hanya memperhitungkan 2 bidang geser.

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 17


Load Transfer dan Tipe Sambungan
 Sambungan yang meneruskan beban dengan eksentrisitas:
 Sambungan dengan mekanisme geser pada baut
 Sambungan dengan mekanisme geser dan tarik pada baut

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 18


Load Transfer dan Tipe Sambungan
 Sambungan yang meneruskan beban dengan eksentrisitas
(lanjutan):
 Sambungan dengan mekanisme tarik pada baut

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 19


Mekanisme Runtuh pada Sambungan Baut

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 20


Spasi (Spacings) dan Jarak-tepi (Edge-distance)
 Pitch – jarak center-to-center dari baut dalam arah yang
paralel dengan sumbu memanjang dari komponen yang
disambung.
 Gage – jarak center-to-center dari baut dalam arah yang tegak
lurus dengan sumbu memanjang dari komponen yang
disambung.
 Jarak-tepi (edge-distance) – jarak dari titik tengah baut ke tepi
dari komponen
 Jarak-antar-baut – jarak terdekat dari baut, baik dalam arah
yang paralel maupun tegak lurus dari sumbu komponen yang
disambung.

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 21


Spasi (Spacings) dan Jarak-tepi (Edge-distance)

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 22


Jarak Minimum
 Spasi (spacings) minimum:
 Dipersyaratkan utk kemudahan pengerjaan pemasangan baut.
 Mencegah keruntuhan dengan mekanisme bearing pada area di antara
baut-baut
 Untuk STD, OVS, SSL, dan LSL, jarak minimum tidak boleh kurang dari
2 ⁄ ( adalah diameter nominal/lubang), dan direkomendasikan 3 .
(Tidak ada peningkatan kapasitas jika spasi lebih dari 3 digunakan).
 Jarak tepi (edge-distance) minimum:
 Mencegah lubang baut yang terlalu dekat dengan tepi yang bisa
menyebabkan retak pada komponen.
 Mencegah keruntuhan tearing pada komponen.

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 23


Jarak-Tepi Minimum – STD (Tabel J3.4M)

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 24


Jarak-Tepi Minimum – Non-STD (Tabel J3.5M)

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 25


Jarak Maksimum
 Untuk memastikan dua permukaan komponen yang
disambung menempel (tidak ada gap), untuk mencegah
kemungkinan masuknya air di antara keduanya.
 Jarak-tepi maksimum yang dipersyaratkan adalah 12 (
adalah tebal bagian yang disambung) dan tidak boleh melebihi
150mm.
 Spasi maksimum yang dipersyaratkan:
 Untuk komponen yang dicat → 24 (maksimum 305mm)
 Untuk komponen yang tidak dicat → 14 (maksimum 180mm)
(di mana adalah tebal dari komponen yang lebih tipis)

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 26


Bagian Baut Baja
Alur (Threads)

Baut (Bolt)

Mur (Nut)

Washer

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 27


Tegangan Nominal Baut (Tabel J3.2)

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 28


Tegangan Nominal Baut (Tabel J3.2)

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 29


Kuat Nominal Baut: Tarik atau Geser
 Ditentukan sebagai yang minimum di antara:
 Baut tarik atau geser: Kondisi batas runtuh (rupture) – Pasal J3.6
 Baut geser: Kondisi batas bearing pada lubang baut – Pasal J3.10

 Kondisi batas runtuh (rupture) – Pasal J3.6


Pers. J3-1 =
→ kuat nominal baut: tarik atau geser, N
→ tegangan nominal baut (Tabel J3.2)
utk tarik: , MPa
utk geser: , MPa
→ penampang nominal baut, mm2
→ 0.75

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 30


Kuat Nominal Baut: Tarik atau Geser
 Kondisi batas bearing pada lubang baut – Pasal J3.10
 Untuk baut pada sambungan dengan lubang STD, OVS, SSL
(arah beban tidak dibatasi), dan LSL (arah beban searah slot)
 Jika deformasi pada kondisi beban layan menjadi pertimbangan:
Pers. J3-6a = 1.2 ≤ 2.4

 Jika deformasi pada kondisi beban layan tidak menjadi pertimbangan:


Pers. J3-6b = 1.5 ≤ 3.0

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 31


Kuat Nominal Baut: Tarik atau Geser
 Kondisi batas bearing pada lubang baut – Pasal J3.10
 Untuk baut pada sambungan dengan lubang LSL (arah beban tegak
lurus slot)
Pers. J3-6c = 1.0 ≤ 2.0
di mana
→ kuat tarik dari komponen yang disambung, MPa
→ diameter nominal baut, mm
→ jarak bersih, dalam arah beban, antara tepi lubang dan tepi
lubang berikutnya atau tepi komponen yang disambung, mm
→ tebal komponen yang disambung, mm
→ 0.75

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 32


Kuat Nominal Baut: Tarik atau Geser

A ,
Lubang baut

utk A

utk B

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 33


Kuat Nominal Baut: Tarik atau Geser

= 1.2 ≤ 2.4
atau
= 1.5 ≤ 3.0

Support

= 1.0 ≤ 2.0

bentang lebih besar,


kapasitas lebih kecil

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 34


Kuat Nominal Baut: Kombinasi Tarik-Geser (Bearing-type)
 Kondisi batas runtuh baut (rupture) (Pasal J3.7)
Pers. J3-2 =

= 1.3 − ≤

→ tegangan tarik nominal yg


memperhitungkan efek tegangan geser,
MPa
→ tegangan tarik nominal (Tabel J3.2), MPa
→ tegangan geser nominal (Tabel J3.2),
MPa
→ tegangan geser perlu (dari perhitungan
kombinasi beban LRFD), MPa
14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 35
Kuat Nominal Baut: Slip-Critical (Pretension)
 Untuk sambungan geser, ditentukan sebagai yang minimum:
 Kondisi batas slip – Pasal J3.8
 Kondisi batas baut dan lubang baut – Pasal J3.6 & J3.10 [lihat Slide
30]
 Kuat slip sambungan – Pasal J3.8
Pers. J3-4 = ℎ
→ koefisien slip rata-rata:
Permukaan Kelas A → = 0.30
Permukaan Kelas B → = 0.50
→ faktor berdasarkan rasio pretension,
= 1.13

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 36


Kuat Nominal Baut: Slip-Critical (Pretension)
 Kuat slip sambungan – Pasal J3.8 (lanjutan)
Pers. J3-4 → gaya pretension minimum (Tabel J3.1)
ℎ → faktor pengisi (filler)
→ jumlah bidang slip yang diperlukan

 Faktor pengisi (filler) ℎ


 Bila tidak ada pengisi (filler) atau di mana baut telah ditambahkan utk
mendistribusikan beban pada pengisi → ℎ = 1.0
 Bila baut-baut tidak ditambahkan utk mendistribusikan beban pada
pengisi:
 Utk satu pengisi antara bagian-bagian tersambung → ℎ = 1.0

 Utk dua atau lebih pengisi antara bagian-bagian tersambung → ℎ = 0.85

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 37


Kuat Nominal Baut: Slip-Critical (Pretension)
 Koefisien slip rata-rata,
 Permukaan Kelas A – permukaan baja mill scale bersih, tanpa di-cat,
atau permukaan dengan pelapis Kelas A pada baja blast-cleaned atau
di-galvanis dicelup-panas dan permukaan dikasarkan → = 0.30
 Permukaan Kelas B – permukaan baja blast-cleaned tanpa di-cat atau
permukaan dengan pelapis Kelas B pada baja blast-cleaned → =
0.50
 Faktor rasio pretension, = 1.13 – penggunaan nilai selain
nilai yang sudah dipersyaratkan diperbolehkan, selama
mendapatkan persetujuan dari insinyur yang memiliki izin
bekerja sebagai perencana.

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 38


Kuat Nominal Baut: Slip-Critical (Pretension)
 Koefisien reduksi,
 Utk STD dan SSL (slot tegak lurus dengan arah beban) → = 1.00
 Utk OVS dan SSL (slot searah dengan arah beban) → = 0.85
 Utk LSL → = 0.70

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 39


Kuat Nominal Baut: Slip-Critical (Pretension)
 Untuk sambungan kombinasi tarik dan geser → gaya tarik
akan mengurangi kuat slip dari baut (yang dihitung
berdasarkan Pasal J3.8), maka kuat slip harus dikalikan
dengan faktor

Pers. J3-5a =1−


→ kuat tarik perlu (dari hasil perhitungan
kombinasi beban LRFD), kN
→ jumlah baut yang menerima gaya tarik

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 40


DESAIN SAMBUNGAN BAUT
BEBAN PADA TITIK PUSAT
SAMBUNGAN

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 41


Sambungan Baut + Beban Tanpa Eksentrisitas

4 4

4 4

Beban yang didistribusikan ke semua baut secara merata

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 42


Contoh 1
 Tentukan jumlah baut A325, dengan ukuran baut 1-in (dia.
25.4m), jika

 = 27.5 = 122.3  Permukaan → Kelas A


 = 40.0 = 177.9  Jarak tepi 1.75 = 44.5
 Tipe sambungan → slip-critical  Jarak antar baut 3 =
 Tipe lubang baut → STD 76.2
 Tebal komponen = 15.9

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 43


Contoh 1
 Langkah 1: Tentukan kuat perlu, =
= 1.2 122.3 + 1.6(177.9) = 431.4

 Langkah 2: Tentukan kapasitas per 1 baut,


 Mekanisme slip-critical geser → cek kondisi batas slip (Pasal J3.8) + cek
kondisi batas runtuh baut dan bearing lubang baut (Pasal J3.6 & J3.10)
 Sambungan slip-critical → = ℎ (Pers. J3-4)
 Lubang baut STD → = 1.00
 Permukaan Kelas A → = 0.30
 Filler tidak ada → ℎ = 1.00
 Gaya pretension, utk baut A325 ukuran 1-in (25.4mm) → = 51 =
226.9 (Tabel J3.1)
 Jumlah bidang geser → =1

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 44


Contoh 1
 Langkah 2: Tentukan kapasitas per 1 baut, (lanjutan)
Kondisi batas slip (Pasal J3.8)
Pers. J3-4 = ℎ
= (1.00)(0.30)(1.13)(1.00)(226.9)(1)
= 76.9 /

Kondisi batas runtuh baut (Pasal J3.6)


Pers. J3-1 =
= 0.75 457 0.25 × 25.4
= 173.7 /

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 45


Contoh 1
 Langkah 2: Tentukan kapasitas per 1 baut, (lanjutan)
Kondisi batas bearing lubang baut (Pasal J3.10)
Utk jarak tepi → = 44.5 − 0.5 25.4 + 2 + 2 = 29.8
Utk jarak antar baut → = 76.2 − 25.4 + 2 + 2 = 46.8
Pers. J3-6b = 1.5 ≤ 3.0
= (0.75)1.5(29.8)(15.9)(448.2)
= 238.9

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 46


Contoh 1
 Langkah 3: Kuat nominal diambil yg minimum di antara kondisi
batas slip, kondisi batas runtuh baut, dan kondisi batas
bearing lubang baut → 76.9 kN/baut
 Langkah 4: Jumlah baut yang diperlukan
431.4
= = 5.6 ≈ 6
76.9

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 47


DESAIN SAMBUNGAN BAUT
BEBAN EKSENTRIK
TERHADAP TITIK PUSAT
SAMBUNGAN
metode analisa elastik
metode reduced eccentricity
metode instantaneous center of rotation

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 48


Metode Analisis Elastik

Beban yang didistribusikan ke masing-masing baut bergantung


pada posisi baut dan jaraknya dari titik berat sambungan

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 49


Metode Analisis Elastik
 Dari keseimbangan gaya,
= ×

= ×

×
=

×
=

×ℎ
=

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 50


Contoh 2
 Tentukan gaya pada baut
yang menerima beban paling
besar, dari sambungan baut
sebagai berikut:
 Beban terfaktor, = 30 =
133.5
 Pitch, =3 = 76.2
 Gage, =3 = 76.2
 Eksentrisitas, = 7.5 =
190.5

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 51


Contoh 2
 Diagram benda bebas

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 52


Contoh 2
 Dengan Metode Analisis Elastik, beban bergantung pada
posisi dan jaraknya dari titik pusat sambungan,
= × = 133.5 × 190.5
1 2
= 25.4
Baut (mm) (mm)
1 -38.1 114.3 3 4

2 38.1 114.3
3 -38.1 38.1
4 38.1 38.1
5 -38.1 -38.1 5 6
6 38.1 -38.1
7 -38.1 -114.3
8 38.1 -114.3 7 8

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 53


Contoh 2
Baut (mm) (mm)
1 -38.1 114.3 1 2
2 38.1 114.3
3 -38.1 38.1
4 38.1 38.1 3 4
5 -38.1 -38.1
6 38.1 -38.1
7 -38.1 -114.3
8 38.1 -114.3 5 6

∑ = ∑(ℎ + )
∑ = ∑ℎ + ∑ 7 8
∑ = 8 38.1 + 4 38.1 + 4 114.3
∑ = 69,677.3
14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 54
Contoh 2
 Gaya akibat beban vertikal,

= 1 2

133.5
= = 16.7
8 3 4

 Gaya akibat beban momen,


× 5 6
=

×ℎ 7 8
=

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 55


Contoh 2

Total
Baut (mm) (mm) (kN) (kN) (kN)
(kN)

1 -38.1 114.3 16.7 -13.9 41.7 41.8


2 38.1 114.3 16.7 13.9 41.7 51.7
3 -38.1 38.1 16.7 -13.9 13.9 14.2
4 38.1 38.1 16.7 13.9 13.9 33.6
5 -38.1 -38.1 16.7 -13.9 -13.9 14.2
6 38.1 -38.1 16.7 13.9 -13.9 33.6
7 -38.1 -114.3 16.7 -13.9 -41.7 41.8
8 38.1 -114.3 16.7 13.9 -41.7 51.7

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 56


Metode Reduced Eccentricity
 “Metode Analisis Elastik” terlalu konservatif dalam memperkirakan momen
yang bekerja pada sambungan
 Eksentrisitas aktual yang terjadi sebenarnya lebih kecil
 Metode Reduced Eccentricity:
 Jika ada SATU BARIS ( = 1) baut
(searah beban)
1+2
= −
4
 Jika ada DUA atau LEBIH BARIS ( = 2
atau lebih) baut (searah beban)
1+
= −
2
[Cat: dan dalam inch]
 Perhitungan selanjutnya, mengikuti
“Metode Analisis Elastik”

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 57


Metode Instantaneous Center of Rotation
 Pada “Metode Analisis Elastik” dan “Metode Reduced
Eccentricity”, sambungan diasumsikan elastik.
 Kenyataannya, tidak demikian. Sambungan memiliki titik pusat
rotasi sesaat (instantaneous center of rotation), dan titik ini
semestinya dijadikan titik acuan dalam melakukan analisa
sambungan baut.
 Posisi titik pusat rotasi ini tidak tetap, bergantung pada kondisi
sambungan (makanya disebut “sesaat”).
 Saat sambungan menerima beban, sambungan akan mulai
mengalami slip atau leleh pada baut. Tapi, sambungan tidak
lantas fail, melainkan terjadi redistribusi beban, di mana baut-
baut di bagian dalam menerima beban lebih besar.

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 58


Metode Instantaneous Center of Rotation

Titik pusat
rotasi sesaat

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 59


Metode Instantaneous Center of Rotation
 Deformasi baut diasumsikan proporsional terhadap jarak baut
dan titik pusat rotasi sesaat.
 Gaya geser ultimate yang mampu diterima oleh satu baut
pada kondisi ini tidak sama dengan gaya geser murni yang
mampu diterima oleh satu baut. Melainkan bergantung pada
load-deformation relationship dari baut:
. .
= 1−
→ gaya geser ultimate dari satu baut (Pasal J3.6),
= , kN
Δ → deformasi baut proporsional terhadap , dengan
Δ = 0.34 = 8.6 , mm
14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 60
Contoh 3
 Sambungan bearing-type, dengan
baut A325 ukuran ⁄ atau
22.2 yang kuat nominalnya
adalah = (0.25 ×
22.2 ) 457 = 176.9
 Tentukan posisi titik pusat rotasi
sesaat dari sambungan tersebut.
 Berapakah beban maksimum
yang mampu ditahan oleh sistem
sambungan.

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 61


Contoh 3
 Penyelesaian soal dilakukan dengan trial-and-error, dengan
memisalkan posisi titik pusat rotasi sesaat,
= 3 = 76.2
 Total deformasi baut yang nilai -nya
maksimum,
Δ = 0.34 = 8.6
 Kuat geser murni 1 baut,
. .
= 1−

=

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 62


Contoh 3
 Trial-1 → =3 = 76.2
×
Baut (mm) (mm) (mm) (mm) (kN) (kN)
(kNm)

1 38.1 76.2 85.2 5.3 123.5 55.2 10.5

2 114.3 76.2 137.4 8.6 130.2 108.3 17.9

3 38.1 -76.2 85.2 5.3 123.5 55.2 10.5

4 114.3 -76.2 137.4 8.6 130.2 108.3 17.9

= 137.4 ( = = 137.4 ) → Δ = Δ = 8.6


∑ × 56.8 × 10
∑ = 327.2 ≠ = = 279.7 Not OK
+ 76.2 + 127

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 63


Contoh 3
 Trial-2 → = 2.4 = 61.0
×
Baut (mm) (mm) (mm) (mm) (kN) (kN)
(kNm)

1 22.86 76.2 79.6 5.5 124.0 35.6 9.9

2 99.06 76.2 125.0 8.6 130.2 103.2 16.3

3 22.86 -76.2 79.6 5.5 124.0 35.6 9.9

4 99.06 -76.2 125.0 8.6 130.2 103.2 16.3

= 125.0 ( = = 137.4 ) → Δ = Δ = 8.6


∑ × 52.3 × 10
∑ = 277.7 ≈ = = 278.2 OK
+ 61.0 + 127

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 64


Contoh 4
 Batang tarik, dihubungkan dengan sambungan:
 8 baut, A325, ukuran 7/8 in.
 Tipe sambungan bearing-type.
 Beban = 80 = 355.9
 Beban = 100 = 444.8
 Baut terpasang sedemikian
sehingga alur berada di luar
bidang geser baut.
 Cek kapasitas sambungan
apakah mencukupi.

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 65


Contoh 4
 Langkah 1: Tentukan kuat perlu, =
= 1.2 355.9 + 1.6(444.8) = 1138.8

 Langkah 2: Tentukan kapasitas per 1 baut,


 Mekanisme → bearing-type, kombinasi tarik-geser (Pasal J3.7)
 Baut → A325 ukuran = ⁄ = 22.2
 Sambungan bearing-type, kombinasi tarik-geser →
=

= 1.3 − ≤
= 0.75
 Jumlah bidang geser → =1
14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 66
Contoh 4
 Langkah 2: Tentukan kapasitas per 1 baut, (lanjutan)
Uraikan gaya,

Vertikal = × 1138.8 = 509.3

Horizontal = × 1138.8 = 1018.5


Tabel J3.2 = 620 = 457
Tegangan pada baut akibat geser
. ×
= = = 164.5
( )( . × . )

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 67


Contoh 4
 Langkah 2: Tentukan kapasitas per 1 baut, (lanjutan)
Kuat tarik baut (yg memperhitungkan pengaruh geser pada
baut),

Pers. J3-3a = 1.3 − ≤

= 1.3(620) − (164.5) ≤ (620)


.
= 508.4
Pers. J3-2 =
= 0.75 508.4 0.25 × 22.2
= 147.6

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 68


Contoh 4
 Langkah 3: Kuat tarik (yg sudah memperhitungkan pengaruh
geser) sambungan untuk total jumlah baut,
= ×
= 8 × 147.6 = 1180.7

 Langkah 4: Bandingkan kuat tarik-geser sambungan dengan


beban yang bekerja
Geser = 164.5 ≤ = 457 → OK
Tarik = 1018.5 ≤ = 1180.7 → OK
Maka sambungan cukup untuk menahan beban.

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 69


Contoh 5
 Cek kapasitas sambungan baut dengan informasi sebagai
berikut:
 Tipe baut A325, ukuran 7/8 in → = ⁄ = 22.2
 Tipe lubang → STD
 Tipe sambungan → slip-critical
 Permukaan komponen yang disambung → Kelas B

 Filler → ℎ = 1.00
 Beban geser pada baut → = 40 = 177.9 ; = 50 = 222.4
 Beban tarik pada baut → = 50 = 222.4 ; = 50 = 222.4

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 70


Contoh 5
 Langkah 1: Tentukan kuat perlu,
= 1.2 177.9 + 1.6(222.4) = 569.3
= 1.2 222.4 + 1.6 222.4 = 622.7

 Langkah 2: Tentukan kapasitas per 1 baut,


 Mekanisme slip-critical → = 1.00
 Permukaan Kelas B → = 0.50
 Filler → ℎ = 1.00
 Baut A325, = ⁄ = 22.2 → = 39 = 173.5
 Bidang geser → =1

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 71


Contoh 5
 Langkah 2: Tentukan kapasitas per 1 baut, (lanjutan)
Pers. J3-4 = ℎ
= (1.00)(0.5)(1.13)(1.00)(173.5)(1)
= 98.0

Reduksi akibat gaya tarik pada baut,

Pers. J3-5a =1−


.
=1− = 0.735
. .

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 72


Contoh 5
 Langkah 2: Tentukan kapasitas per 1 baut, (lanjutan)
Kapasitas per 1 baut yang tereduksi,
= ×
= 0.735 98.0 = 72.0

 Langkah 3: Tentukan kapasitas sambungan,


× = 12 × 72.0 = 864.0

 Langkah 4: Bandingkan kuat perlu dan kapasitas sambungan,


= 569.3 ≤ 864.0 → OK

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 73


Tugas – Soal 1
 Cek beban maksimum yang mampu diterima sambungan
baut mekanisme geser + beban dengan eksentrisitas, jika:
 Eksentrisitas beban = 450
 Baut A325, ukuran M24 ( = 24 )
 Baut terpasang dengan SATU BIDANG GESER, yang berada di LUAR
ALUR 450

75 75
 Kondisi batas bearing
diasumsikan cukup kuat
 Hitung dengan: 75

 Metode Reduced Eccentricity 75

 Metode Instantaneous
Center of Rotation

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 74


Tugas – Soal 2
 Cek beban maksimum yang mampu diterima sambungan
baut mekanisme geser + beban dengan eksentrisitas, jika:
 Eksentrisitas beban = 450
 Baut A325, ukuran M24 ( = 24 )
 Baut terpasang dengan SATU BIDANG GESER, yang berada di ALUR
450
 Kondisi batas bearing
75 75
diasumsikan cukup kuat
 Hitung dengan:
 Metode Reduced Eccentricity 75

 Metode Instantaneous 75

Center of Rotation

14-Apr-16 SI-3212 – Sem 2 – 2015/2016 - MR 75

Anda mungkin juga menyukai