Anda di halaman 1dari 17

BAHAN AJAR

Sekolah : SMKIT Al-Musthafawiyah


Mata Pelajaran : Administrasi Infrastruktur Jaringan
Kelas/Semester : XI (Sebelas)/I (Satu)
Program : Farmasi Klinis dan Komunitas
Materi Pokok : Routing dan Router
Alokasi Waktu : 3 x 45 Menit

A. Kompetensi Dasar

3.3 Memahami Proses routing


4.3. Mengkaji jenis-jenis routing

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

3.3.1. Menjelaskan konsep routing


3.3.2. Mengklasifikasikan jenis protokol routing
4.3.1. Mempresentasikan konsep routing
C. Tujuan Pembelajaran
Setelah berdiskusi dan menggali informasi, peserta didik akan dapat:
1. Menjelaskan konsep routing
2. Mengklasifikasikan jenis protokol routing
3. Setelah mempraktikan, peserta didik akan dapat mempresentasikan konsep routing

D. Dasar Teori
Routing adalah proses pengiriman data maupun informasi dengan meneruskan paket data
yang dikirim dari jaringan satu ke jaringan lainnya.
Interior Routing Protocol biasanya digunakan pada jaringan yang bernama Autonomous
System, yaitu sebuah jaringan yang berada hanya dalam satu kendali teknik yang terdiri dari
beberapa subnetwork dan gateway yang saling berhubungan satu sama lain.
Konsep Dasar Routing
Bahwa dalam jaringan WAN kita sering mengenal yang namanya TCP/IP (Transmission
Control Protocol/ Internet Protocol) sebagai alamat sehingga pengiriman paket data dapat
sampai ke alamat yang dituju (host tujuan). TCP/IP membagi tugas masing-masingmulai
dari penerimaan paket data sampai pengiriman paket data dalam sistem sehingga jika terjadi
permasalahan dalam pengiriman paket data dapat dipecahkan dengan baik.
Berdasarkan pengiriman paket data routing dibedakan menjadi routing langsung dan routing
tidak langsung. Routing langsung merupakan sebuah pengalamatan secara langsung menuju
alamat tujuan tanpa melaluihost lain. Contoh: sebuah komputer dengan alamat 192.168.1.2
mengirimkan data ke komputer dengan alamat 192.168.1.3.

Gambar 1. Routing Langsung


Routing tidak langsung merupakan sebuahpengalamatan yang harus melalui alamat host lain
sebelum menuju alamat hort tujuan. (contoh: komputer dengan alamat 192.168.1.2
mengirim data ke komputer dengan alamat 192.1681.3, akan tetapi sebelum menuju ke
komputer dengan alamat192.168.1.3, data dikirim terlebih dahulu melalui host dengan
alamat 192.168.1.5 kemudian dilanjutkan ke alamat host tujuan.

Gambar 2. Routing Tidak Langsung

Jenis Konfigurasi Routing


Minimal Routing
Dari namanya dapat diketahui bahwa ini adalah konfigurasi yang paling sederhana tapi
mutlak diperlukan. Biasanya minimal routing dipasang pada network yang terisolasi
dari network lain atau dengan kata lain hanyapemakaian lokal saja.

Gambar 3. Minimal Routing


Static Routing
Dibangun pada jaringan yang memiliki banyak gateway. Jenis ini hanya memungkinkan
untuk jaringan kecil dan stabil. Router meneruskan paket dari sebuah network ke
network yang lainnya berdasarkan rute (catatan: seperti rute pada bis kota) yang
ditentukan oleh administrator. Rute padastatic routing tidak berubah, kecuali jika
diubah secara manual oleh administrator.

Gambar 4. Static Routing

Kekurangan static routing adalah :

• Dengan menggunakan next hop, static routing yang menggunakan next hop akan
mengalami multiple lookup atau lookup yang berulang. lookup yg pertama yang
akan dilakukan adalah mencari network tujuan, setelah itu akan kembali melakukan
proses lookup untuk mencari interface mana yang digunakan untuk menjangkau next
hopnya.
• Dengan menggunakan exit interface, kemungkinan akan terjadi eror ketika
meneruskan paket. Jika link router terhubung dengan banyak router, maka router tidak
bisa memutuskan router mana tujuanya karena tidak adanya next hop pada tabel
routing, karena itulah, akan terjadi eror.
Kelebihan static routing adalah :

• Dapat mencegah trjadinya eror dalammeneruskan paket ke router tujuan apabila


router yang akan meneruskan paket memiliki link yang terhubung dengan banyak
router.itu disebabkan karena router telah mengetahui next hop, yaitu IP address router
tujuan.
• Proses lookup hanya akan terjadi satu kali saja ( single lookup ) karena router
akan langsung meneruskan paket ke network tujuan melalui interface yang sesuai
pada routing table.
• Routing static dengan menggunakan next hop cocok digunakan untuk jaringan
multiaccess network atau point to multipoint sedangkan untuk jaringan point to point,
cocok dengan menggunakan exit interface dalam mengkonfigurasi static route.
Dinamis Routing
Biasanya digunakan pada jaringan yang memiliki lebih dari satu rute. Dinamic routing
memerlukan routing protocol untuk membuat tabel routing yang dapat memakan
resource komputer. Dynamic router mempelajari sendiri Rute yang terbaik yang akan
ditempuhnya untuk meneruskan paket dari sebuah network ke network lainnya.
Administrator tidak menentukan rute yang harus ditempuh oleh paket-paket tersebut.
Administrator hanya menentukan bagaimana cara router mempelajari paket, dan
kemudian router mempelajarinya sendiri. Rute pada dinamic routing berubah, sesuai
dengan pelajaran yang didapatkan oleh router.
Apabila jaringan memiliki lebih dari satu kemungkinan rute untuk tujuan yang sama
maka perlu digunakan dynamic routing. Sebuah dynamic routing dibangun berdasarkan
informasi yang dikumpulkan oleh protokol routing. Protokol ini didesain untuk
mendistribusikan informasi yang secara dinamis mengikuti perubahan kondisi jaringan.
Protokol routing mengatasi situasi routing yang kompleks secara cepat dan akurat.
Protokol routng didesain tidak hanya untuk mengubah ke rute backup bila rute utama
tidak berhasil, namun juga didesain untuk menentukan rute mana yang terbaik untuk
mencapai tujuan tersebut.
Pengisian dan pemeliharaan tabelrouting tidak dilakukan secara manual oleh admin.
Router saling bertukar informasi routing agar dapat mengetahui alamat tujuan dan
menerima tabel routing. Pemeliharaan jalur dilakukan berdasarkan pada jarak terpendek
antara device pengirim dan device tujuan.
Gambar 5. Dinamis Routing

RIP (Routing Information Protocol)


Routing Information Protocol (RIP) adalah sebuah protokol routing dinamis yang
digunakan dalam jaringan LAN (Local Area Network) dan WAN (Wide Area
Network).
Oleh karena itu protokol ini diklasifikasikan sebagai Interior Gateway Protocol (IGP).
Protokol ini menggunakan algoritma Distance-Vector Routing. Pertama kali
didefinisikan dalam RFC 1058 (1988).

Definisi dan Pengertian Gateway


Kata Gateway pada dasarnya merupakan frasa kata yang berasal dari bahasa Inggris yaitu kata
gate yang artinya gerbang ataupun pagar pembatas dan kata way yang artinya merupakan
sebuah jalan. Jika diartikan dari frasa katanya, maka kata gateway dapat diartikan sebagai
gerbang pembuka jalan.
Jika dikaitkan dengan jaringan komputer, maka pengertian gateway adalah sebuah
perangkat yang digunakan sebagai media untuk menghubungkan satu jaringan komputer
dengan satu ataupun beberapa jaringan komputer lainnya yang menggunakan sistem protokol
yang berbeda sehingga setiap jaringan komputer dapat saling mengakses informasi yang
dimiliki oleh jaringan komputer lain yang protokolnya berbeda.
Fungsi Gateway dalam Jaringan Komputer
Jika dikaji dari pengertiannya, maka fungsi gateway adalah sebagai media untuk
menghubungkan satu jaringan komputer dengan jaringan komputer lainnya yang berbeda
protokol, sedangkan jika dirinci secara lebih mendalam maka fungsi gateway adalah sebagai
berikut :
Protocol Converting
Fungsi gateway yang pertama adalah sebagai protocol converting. Seperti yang telah
dijelaskan diatas, gateway berguna sebagai penghubung beberapa jaringan komputer yang
berasal dari protocol yang berbeda. Nah, untuk bisa menghubungkan dua jaringan komputer
yang berbeda protocol, gateway harus mengkonversi setiap protocol yang ada sehingga
beberapa jaringan tersebut dapat saling dihubungkan.
Mempermudah Akses Informasi
Fungsi gateway yang kedua adalah sebagai alat untuk mempermudah akses informasi
pengguna jaringan komputer. Jaringan komputer yang dengan protocol yang berbeda pada
dasarnya tidak dapat disambungkan satu sama lainnya. Ketika jaringan komputer tidak dapat
dihubungkan satu sama lainnya, maka secara otomatis satu jaringan komputer tidak akan bisa
mengakses informasi yang ada di jaringan komputer lainnya. Nah, ketika gateway digunakan
dan jaringan komputer telah terhubung, maka secara otomatis akses informasi dapat berjalan
dengan lebih mudah.
Itulah definisi ataupu pengertian gateway dan fungsi gateway dalam jaringan komputer.
Semoga dengan membaca tulisan ini, Anda dapat lebih mudah dalam memahami pola maupun
struktur jaringan komputer.

VLSM ( Variable Length Subnet Mask )

VLSM adalah teknik yang memungkinkan administrator jaringan untuk membagi ruang
alamat IP ke subnet yang berbeda ukuran, tidak seperti ukuran Subnetting. Untuk
menyederhanakan VLSM adalah dengan memecah alamat IP ke subnet (beberapa tingkat)
dan mengalokasikan sesuai dengan kebutuhan individu pada jaringan. Hal ini juga dapat
disebut IP tanpa kelas pengalamatan. Sebuah classful menangani mengikuti aturan umum
yang telah terbukti berjumlah pemborosan alamat IP.
Sebelum Anda dapat memahami VLSM, Anda harus sangat akrab dengan alamat IP struktur.
Cara terbaik Anda dapat mempelajari bagaimana subnet subnet (VLSM) adalah dengan
contoh. Mari kita bekerja dengan diagram di bawah ini:

Melihat diagram, gambar tersebut memiliki tiga LAN terhubung satu sama lain dengan dua
link WAN.
Hal pertama yang harus diwaspadai adalah jumlah subnet dan jumlah host. Dalam hal ini,
sebuah ISP dialokasikan 192.168.1.0/24. Kelas C
HQ = 50 host yang
RO1 = 30 host
RO2 = 10 host
2 WAN link
Kami akan mencoba dan subnet 192.168.1.0 / 24 untuk kesungguhan ini jaringan yang
memungkinkan sejumlah total 254 host saya sarankan Anda mendapatkan akrab dengan tabel
di bawah ini

Mari kita mulai dengan HQ dengan 50 host, dengan menggunakan tabel di atas:
Disini meminjam 2 bit dengan nilai 64. Ini adalah yang paling dekat kita bisa mendapatkan
untuk 50 host.
HQ – alamat 192.168.1.0 / 26 Jaringan
HQ = 192.168.1.1 Gateway alamat
192.168.1.2 alamat, bermanfaat Pertama
192.168.1.62 – alamat dapat digunakan terakhir. Jumlah total ruang alamat -192.168.1.2
untuk 192.168.1.62
192.168.1.63 akan menjadi alamat broadcast (ingat untuk cadangan alamat pertama dan
terakhir untuk Jaringan dan Broadcast)
HQ Jaringan Topeng 255.255.255.192 – kami mendapat 192 dengan menambahkan nilai bit
dari kiri ke nilai yang kami pinjam = 128 +64 = 192
Alamat HQ akan terlihat seperti ini 192.168.1.0 / 26
RO1 = 30 host
Kami meminjam 3 bit dengan nilai 32; ini lagi adalah yang paling dekat kita bisa
mendapatkan jumlah host yang diperlukan.
RO1 alamat akan mulai dari 192.168.1.64 – alamat Jaringan
Sekarang kita menambahkan 32 ke 64 kami pinjam sebelumnya = 32 +64 = 96
RO1 = 192.168.1.65 Gateway alamat
192.168.1.66 – alamat IP Pertama digunakan
192.168.1.94 – alamat IP terakhir yang dapat digunakan
192.168.1.95 Broadcast address – address space total – 192.168.1.66 -192.168.1. 94
Jaringan Masker 255.255.255.224 Yaitu 128 +64 +32 = 224 atau 192.168.1.64/27
RO2 = 192.168.1.96 Jaringan alamat
Kami meminjam 4 bit dengan nilai 16. Itu yang paling dekat kita bisa pergi.
96 +16 = 112
Jadi, 192.168.1.97 Gateway-alamat
192.168.1.98 – alamat dapat digunakan Pertama
192.168.1.110 – alamat dapat digunakan terakhir
192.168.1.111 siaran
Tuan Jumlah total ruang alamat – 192.168.1.98 192.168.1.110 untuk
Jaringan Masker 255.255.255. 240 atau 192.168.1.96 / 28
WAN link = kita meminjam 6 bit dengan nilai 4
= 112 + 4 = 116
WAN link dari HQ untuk RO1 alamat jaringan akan menjadi 192.168.1.112 / 30:
HQ se0 / 0 = 192.168.1.113
RO1 se0 / 0 = 192.168.1.114
Masker untuk kedua link = 255.255.255 252 (kami punya 252 dengan menambahkan nilai bit
kita meminjam yaitu.
124 +64 +32 +16 + 8 +4 = 252
WAN link 2 = 112 +4 = 116
WAN Link dari HQ untuk RO2 alamat Jaringan = 192.168.1.116 / 30
HQ = 192.168.1.117 subnet mask 255.255.255.252
RO2 = 192.168.1.118 Subnet mask 255.255.255.252

Usable IP addresses
Subnet Prefix / Usable IP
Subnet mask + Network and
CIDR address/hosts
Broadcast address

/26 255.255.255.192 62 64

/27 255.255.255.224 30 32

/28 255.255.255.240 14 16

/29 255.255.255.248 6 8

/30 255.255.255.252 2 4
Misalnya jika Anda ingin memiliki subnet dengan 50 host maka Anda dapat dengan mudah
melihat dari tabel bahwa Anda akan memerlukan ukuran blok 64. Untuk subnet 30 host Anda
akan memerlukan ukuran 32 blok.

CIDR (Classless Inter-Domain Routing)


Classless Inter-Domain Routing (CIDR) adalah sebuah cara alternatif untuk
mengklasifikasikan alamat-alamat IP berbeda dengan sistem klasifikasi ke dalam kelas A,
kelas B, kelas C, kelas D, dan kelas E. Disebut juga sebagai supernetting. CIDR merupakan
mekanisme routing dengan membagi alamat IP jaringan ke dalam kelas-kelas A, B, dan C.
CIDR digunakan untuk mempermudah penulisan notasi subnet mask agar lebih ringkas
dibandingkan penulisan notasi subnet mask yang sesungguhnya. Untuk penggunaan notasi
alamat CIDR pada classfull address pada kelas A adalah /8 sampai dengan /15, kelas B adalah
/16 sampai dengan /23, dan kelas C adalah /24 sampai dengan /28. Subnet mask CIDR /31
dan /32 tidak pernah ada dalam jaringan yang nyata.
Berdasarkan Routing Operasi secara garis besar dibedakan menjadi 2 distance vector dan link
state.
1. Distance Vector ;
 Protocol routing yang menitik beratkan pada jarak dan arah. didalam melakukan
pemutusan routing terdekat ditentukan pada jarak dan arah terdekat (Hop Count).
 Setiap router akan mengirimkan routing table ke router terdekat tanpa mengetahui
topologi/ bagaimana mereka terkoneksi. distance vector tidak mampu melihat topologi
yang ada dibelakang network terdekatnya.
 Update dikirim setiap 30 detik yang bisa menyebabkan cpu load dalam router itu tinggi,
selain CPU load itu tinggi juga memakan bandwidth yang besar. secara default distance
vector merupakan classfull IP.

2. Link State ;
 Protocol routing yang menitik beratkan pada perhitungan metric cost.
 Dalam routing link-state router-router akan melakukan pertukaran informasi antar
jaringan dan membangun topologi table.
 Setiap router akan menggunakan Dijkstra's algorithm untuk menghitung route terbaik
dalam setiap tujuannya.
Pertanyaan :
1.Kalau menggunakan metode Distance Vector maka dari R1 ke R2 akan lewat
mana?
2.Kalau menggunakan metode Link State maka dari R1 ke R2 akan lewat mana?

IP Classless
Classless secara sederhana dapat diartikan "tanpa kelas" atau "tidak menggunakan kelas".
Kemudian jika dikaitkan dengan pengalamatan IP, maka pengalamatan IP classless dapat
diartikan menjadi "pengalamatan IP tanpa mengenal kelas". Yaitu dengan cara
menggunakan Classless-Inter Domain Rouing (CIDR) atau juga dapat dikenal dengan istilah
panjang prefiks. Format pengalamatannya adalah dengan memberi tanda slash (/) di belakang
alamat IP kemudian diikuti dengan variabel panjang prefiks.
Contoh: 172.26.78.3/28
172.26.78.3 = alamat IP, /28 = panjang prefiks (CIDR)
Dengan metode classless dapat menyederhanakan tabel routing dengan cara satu tabel routing
dapat untuk beberapa jaringan sehingga menghemat penggunaan kapasitas router dalam
membuat tabel routing. Selain itu, metode ini memungkinkan untuk menggunakan alamat IP
kelas A dan B dengan panjang prefiks tertentu yang belum dipakai.
Namun dalam rangka menjawab permasalahan menipisnya kapasitas jumlah host IPv4 yang
diperkirakan akan habis seluruhnya dalam beberapa tahun lagi, maka dibuatlah protokol atau
sistem pengalamatan yang baru yaitu IPv6 dengan panjang 128-bit dan
bersifat classless sehingga mampu mendukung jumlah host hingga 3,4 x 1038 host.
Contoh IPv6: 21da:00d3:0000:2f3b:02aa:00ff:fe28:9c5a
Rumus untuk mencari jumlah host yang dapat saling terhubung adalah 2 pangkat h-2. pada
contoh diatas, IP tersebut memiliki jumlah bit h sebanyak 5. jadi perhitungan jumlah host
yang dapat terhubung adalah sebanyak 25-2= 30 buah host. kemudian berikut ini adalah baris
IP yang dipakai:
- network IP : 192.168.10.0/27 (IP Address yang menyatakan alamat network)
- 1st IP : 192.168.10.1/27 (IP Address pertama yang dapat digunakan host)
- last IP : 192.168.10.30/27 (IP Address terakhir yang dapat digunakan host)
- Broadcast IP : 192.168.10.31/27 (IP Address untuk menirim paket secara massal)

Jumlah IP yang dapat dipakai pada host adalah sebanyak 30. yaitu
dari 192.168.10.1sampai 192.168.10.30. itu adalah pada group IP Network yang pertama.
untuk mencari grup network yang selanjutnya, tinggal tambahkan Broadcast IP Address
Network pertama (192.168.10.31) dengan angka 1 pada byte terakhir, sehingga grup network
yang ke-2 memiliki IP Network 192.168.10.32. selanjutnya, dengan cara yang sama seperti
diatas, tentukan host IP address network ini berdasarkan jumlah yang telah ditentukan (30
host). sehingga pada grup IP Network yang ke-2 baris IP yang dipakai adalah:
- network IP : 192.168.10.32/27 (IP Address yang menyatakan alamat network)
- 1st IP : 192.168.10.33/27 (IP Address pertama yang dapat digunakan host)
- last IP : 192.168.10.62/27 (IP Address terakhir yang dapat digunakan host)
- Broadcast IP : 192.168.10.63/27 (IP Address untuk menirim paket secara massal)

Untuk grup IP Network yang selanjutnya dapat kita cari sendiri berdasarkan pola yang
sama seperti diatas. perlu diingat, bahwa IP grup network pertama tidak bisa berhubungan
dengan IP pada network ke-2 dan IP network lainnya.hal inilah yang menjadi keunggulan
daripada IP Address dengan tipe Classless, dimana jumlah host yang dapat terhubung bisa
kita lebih persempit. di kantor-kantor teknik IP Classless ini dapat diimplementasikan
sehingga komputer karyawan tidak bisa terhubung dengna komputer bos. bagaimana jika
dalam implementasinya kita ingin menghubungkan 2 buah komputer saja?,anda tinggal
menggunakan IP dengan prefiks /30.

IP Classful
Classful secara sederhana dapat diartikan "dengan kelas" atau "menggunakan kelas".
Kemudian jika dikaitkan dengan pengalamatan IP, maka pengalamatan IP classful dapat
diartikan menjadi "pengalamatan IP berdasarkan kelas". Pengalamatan dengan metode ini ada
pada pengalamatan IPv4. Ya, seperti sudah diketahui IPv4 dibagi menjadi kelas A, B, C, D,
dan E.
Dengan pengalamatan IP classful, jaringan yang dapat dibentuk hanya sebatas kapasitas
masing-masing kelas, dan kapasitas host yang besar yang dimiliki oleh kelas A dan B sering
tidak terpakai secara optimum. Selain itu juga telah membuat tabel routing global menjadi
membengak melebihi kapasitas router. Oleh sebab itu metode ini sudah tidak digunakan lagi
dan diganti dengan classless.
Pada saat address Internet distandarkan (awal 80-an), address Internet dibagi ke dalam kelas:
Class A : Network prefix 8 bit
Class B : Network prefix 16 bit
Class C : Network prefix 24 bit
Class D : Multicast
Class E : Eksperimen

Tiap IP address mempunyai satu kunci yg mengidentifikasi kelas


Class A : IP address mulai dg “0”
Class B : IP address mulai dg “10”
Class C : IP address mulai dg “110”
Class D : IP address mulai dg “1110
Class E : IP address mulai dg “11110”

Classful ip address mempunyai sejumlah masalah :


1. Terlalu sedikit network address untuk jaringan yang besar (address class A dan clasas
B telah lenyap
2. Hierarki 2 tingkat tidak sesuai utk jaringan besar dg address Class A dan Class B
3. Tidak fleksibel. Misalkan perusahaan memerlukan 2000 address
 Address class A dan B berlebihan (overkill!)
 Address class C tidak mencukupi (memerlukan 10 address class C)
4. Tabel Routing Membengkak. Routing pada backbone Internet memerlukan satu entry
untuk tiap network address. Pada 1993 ukuran tabel routing mulai melebihi kapasitas
router.
5. Internet memerlukan address lebih dari 32-bit dari beberapa alasan diatas maka
sekarang IP CLASSFUL tidak dipakai lagi,dan beralih ke IP CLASSLESS.

Administrative distance

Pada umumnya protocol routing mempunyai struktur metric dan algoritma yang berbeda
dengan protocol yang lain. Pada jaringan yang memiliki beberapa routing protocol, pertukaran
informasi routing dan kemampuan untuk memilih jalur terbaik sangatlah penting.

Administrative distance (AD) adalah fitur yang dimiliki oleh router untuk memilih jalur
terbaik ketika terdapat dua atau lebih jalur menuju tujuan yang sama dari dua routing protocol
yang berbeda. Administrative distance menyatakan “reliability” dari sebuah routing protocol.
Tiap routing protocol diprioritaskan terhadap yang lain dengan bantuan besaran/nilai
Administrative Distance (AD).
Pemilihan Jalur Tebaik [The Best Path]
Administrative distance adalah kriteria pertama yang digunakan oleh router untuk
menentukan routing protocol yang harus dijalankan, jika terdapat dua routing protocol yang
menyediakan jalur untuk tujuan yang sama. AD adalah sebuah ukuran “trustworthiness” dari
source of routing information. AD hanya mempunyai local significance, dan tidak
melakukan advertise dalam routing update.

Nilai AD yang lebih kecil, lebih dipercaya/reliable. Contoh, Jika sebuah router menerima
informasi tentang jalur menuju jaringan tertentu dari Open Shortest Path First (OSPF) (default
administrative distance – 110) dan Interior Gateway Routing Protocol (IGRP) (default
administrative distance – 100), Router akan memilih IGRP karena IGRP lebih
dipercaya/reliable karena memiliki AD yang lebih kecil dibandingkan OSPF.
Jika source address untuk IGRP hilang atau tidak dikenal, maka router akan
memilih/menjalankan routing OSPF sampai IGRP aktif kembali.

Tabel Nilai Default Administrative Distance (AD) pada Router Cisco:

Default Distance
Route Source
Values
Connected interface 0
Static route 1
Enhanced Interior Gateway Routing Protocol (EIGRP)
5
summary route
External Border Gateway Protocol (BGP) 20
Internal EIGRP 90
IGRP 100
OSPF 110
Intermediate System-to-Intermediate System (IS-IS) 115
Routing Information Protocol (RIP) 120
Exterior Gateway Protocol (EGP) 140
On Demand Routing (ODR) 160
External EIGRP 170
Internal BGP 200
Unknown* 255
* Jika administrative distance 255, artinya router tidak mengenali source, sehingga route/jalur
tidak akan diinstall/disimpan dalam table routing.

Jika anda menggunakan “route redistribution”, anda harus memodifikasi administrative


distance dari Routing Protocol yang digunakan sehingga bisa melakukan prioritas. Contoh,
anda ingin router memilih protocol RIP (AD 120) daripada IGRP (AD 100) ke tujuan yang
sama. Anda harus memperbesar administrative distance untuk IGRP lebih dari 120, atau
menurunkan administrative distance RIP lebih kecil dari 100.

Anda juga bisa memodifikasi administrative distance dengan menggunakan “distance


command” pada “routing process subconfiguration mode”. Command ini menunjukkan
bahwa “administrative distance” diterapkan pada “route/jalur” yang digunakan oleh “routing
protocol” tertentu. Anda harus menggunakan prosedur ini ketika melakukan migrasi jaringan
dari satu “routing protocol” tertentu ke “routing protocol” yang lain, dan route/jalur yang
dipilih paling akhir adalah yang mempunyai nilai “administrative distance” terbesar.
Perubahan administrative distance bisa menyebabkan “routing loops” dan “black holes”. Jadi,
harap berhati-hati jika anda ingin merubah administrative distance.

Berikut contoh 2 routers, R1 & R2, yang terhubung via Ethernet. Interface Loopback
melakukan “advertise” RIP dan IGRP pada kedua router. Terlihat bahwa IGRP lebih disukai
(preferred) daripada RIP pada tabel routing karena administrative distance-nya 100.

R1#show ip route

Gateway of last resort is not set

172.16.0.0/24 is subnetted, 1 subnets


C 172.16.1.0 is directly connected, Ethernet0
I 10.0.0.0/8 [100/1600] via 172.16.1.200, 00:00:01, Ethernet0
C 192.168.1.0/24 is directly connected, Loopback0

R2#show ip route

Gateway of last resort is not set

172.16.0.0/24 is subnetted, 1 subnets


C 172.16.1.0 is directly connected, Ethernet0
C 10.0.0.0/8 is directly connected, Loopback0
I 192.168.1.0/24 [100/1600] via 172.16.1.100, 00:00:33,
Agar router R1 lebih memilih RIP daripada IGRP, ubah distance seperti dibawah ini:

R1(config)#router rip
R1(config-router)#distance 90
Sekarang lihat pada routing tabel. Router lebih memilih RIP. Router melihat RIP dengan AD
90, walaupun defaultnya 120. Catatan, bahwa nilai baru AD hanya untuk router proses dari
single router (dalam hal ini R1). R2 masih memiliki IGRP dalam routing tabelnya.

R1#show ip route

Gateway of last resort is not set


172.16.0.0/24 is subnetted, 1 subnets
C 172.16.1.0 is directly connected, Ethernet0
R 10.0.0.0/8 [90/1] via 172.16.1.200, 00:00:16, Ethernet0
C 192.168.1.0/24 is directly connected, Loopback0

R2#show ip route

Gateway of last resort is not set

172.16.0.0/24 is subnetted, 1 subnets


C 172.16.1.0 is directly connected, Ethernet0
C 10.0.0.0/8 is directly connected, Loopback0
I 192.168.1.0/24 [100/1600] via 172.16.1.100, 00:00:33,
Tidak ada panduan secara umum merubah AD, karena kebutuhan setiap jaringan berbeda dan
bervariasi. Anda harus menentukan matrix AD yang sesuai untuk jaringan secara keseluruhan.

Penerapan lain Administrative Distance

Salah satu alasan merubah nilai administrative distance adalah ketika anda menggunakan
Routing Static untuk membackup routing lain seperti IGP. Hal ini digunakan untuk
mengaktifkan link backup ketika primay link down/fail.

Contoh, anda menggunakan routing tabel R1. Dalam hal ini terdapat line ISDN yang berfungsi
sebagai backup jika link utama/primary down/fail. Berikut contoh “Floating Static” untuk rute
ini:

ip route 10.0.0.0 255.0.0.0 Dialer 1 250

!--- Note: The Administrative Distance is set to 250.


Jika interface Ethernet down/fail, atau secara manual dijatuhkan (shutdown) pada interface
Ethernet, “floating static route” segera beraksi dalam tabel routing. Semua traffic yang menuju
network 10.0.0.0/8 selanjutnya akan melalui interface Dialer 1 sebagai link backup. Berikut
tabel routing setelah primary link down:

R1#show ip route
Gateway of last resort is not set
172.16.0.0/24 is subnetted, 1 subnets
C 172.16.1.0 is directly connected, Ethernet0
S 10.0.0.0/8 is directly connected, Dialer1
C 192.168.1.0/24 is directly connected, Loopback0

Konfigurasi Router Static Routing


#ip route network destination id subnet mask default gateway keterangan : network
destination id adalah alamat jaringan yang menjadi tujuan paket data dikirimkan. subnet
mask adalah subnet mask dari jaringan yang menjadi tujuan paket data dikirimkan.
default gateway adalah IP Address Gateway, biasanya IP Address Router yang
berhubungan langsung.
Dinamis Routing
#router rip
#network 1
#network 2
#network n
#end

B. Evaluasi
Latihan soal 1

a) Buat lah topologi jaringan seperti berikut ini

b) Konfigurasi lah jaringan berikut supaya PC A tersambung ke PC B


Latihan Soal 2

a) Buat lah topologi jaringan seperti berikut ini

b) Konfigurasi lah jaringan berikut supaya PC 1 tersambung ke PC 2 dengan menggunakan


 Routing Static
 Routing Dinamis (RIP)
Latihan Soal 3

a) Buatlah topologi jaringan seperti berikut

b) Konfigurasi lah jaringan berikut supaya PC 1 tersambung ke PC 2 dengan menggunakan :


 Routing Static
 Routing Dinamis (RIP)

=== Selamat Bekerja ===

Anda mungkin juga menyukai