Anda di halaman 1dari 5

TUGAS M2 KB1

Kompetensi Guru

Nama : Budi Wijaya, S.Pd


No.Peserta : 19100442110063

Revolusi industri 4.0 tidak hanya menuntut keterampilan bagi para tenaga
kerja namun juga guru. Fenomena di dunia kerja banyak tenaga kerja asing
yang masuk ke indonesia, hal ini sangat bertentangan dengan tingginya
tingkat pengangguran lulusan SMK yang sulit mencari kerja.

1. Bagaimana pandangan anda dengan fenomena ini?

Fenomena yang menarik saat ini adalah maraknya tenaga kerja asing (TKA) yang
memasuki wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Hal ini bisa menjadi wadah transfer
ilmu pengetahuan dan tehnologi dalam masyarakat sekaligus menjadi pendapatan negara. Namun
yang sangat miris adalah sikap pemerintah yang seakan tidak membatasi TKA yang masuk ke
indonesia. Yang mana seharusnya diberi kesempatan adalah-tenaga-tenaga ahli bukan
tenaga anskiils seperti yang terjadi sekarang ini. Hal ini menjadi faktor penghambat terserapnya
tenaga kerja lokal sehingga terjadi gejolak dalam masyarakat karena meningkatnya
pengangguran.
https://www.kompasiana.com/sukriadijaya/5ca9b220a8bc15185125dcc2/masuknya-tenaga-kerja-
asing-ke-indonesia

Meskipun demikian kita tidak boleh menutup diri terhadap kebutuhan transformasi ilmu
pengetahuan dan kebudayaan melalui TKA untuk mengelola kekayaan negara kita yang luar
biasa. Tapi kita Sebagai sebuah negara yang besar dan kaya akan potensi alam kita wajib
menjaga kedaulatan negara kita dari serbuan paham yang tidak sesuai dengan pondasi negara
kita yakni pancasila dan UUD 1945 agar generasi muda kita tidak mudah dipengaruhi oleh
budaya asing. Maka dari itu pemerintah harus meningkatkan kualitas pendidikan di Negara ini
agar masyarakat tidak kalah bersaing dengan TKA yang mencari pekerjaan di Negara ini.

2. Sebagai guru, apa yang harus diperbaiki untuk menjadikan dunia


kerja lebih melirik lulusan SMK.
Agar siap untuk masuk ke dunia kerja, lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) harus
berkualitas. Caranya adalah dengan lebih memperbanyak pelajaran praktik. Sebagai suatu
jenis pendidikan yang bertujuan menghasilkan lulusan yang siap kerja dan berusaha,
kurikulum dan proses pembelajaran pendidikan kejuruan harus memberikan porsi yang lebih
besar kepada praktik keterampilan. Sekolah kejuruan juga harus memiliki daya adaptasi yang
baik terhadap perkembangan teknologi yang cepat. Ke depan, SMK harus diprioritaskan dan
difokuskan terhadap jurusan yang benar-benar dibutuhkan. Dalam hal ini peran guru sangat
penting penting dalam mencetak lulusan SMK yang berkualitas. Sekolah-sekolah SMK harus
mempertajam fungsi dan perannya dalam mempersiapkan siswa-siswa agar dapat memiliki
keterampilan tertentu yang dapat langsung bermanfaat untuk memasuki dunia kerja

Beberapa langkah yang harus di lakukan untuk membangun penyelarasan dunia pendidikan dan
dunia kerja itu adalah sebagai berikut :

1. Penyusunan Proyeksi Kebutuhan


Pekerjaan pertama yang harus di lakukan untuk menyelaraskan dunia pendidikan dan
dunia kerja adalah membangun data proyeksi kebutuhan antara kompetensi yang dibutuhkan
dunia kerja dengan prediksi jumlah lulusan pada setiap lokasi di Indonesia.

2. Kurikulum Berbasis Kompetensi sesuai Kebutuhan Dunia Kerja


Kurikulum, setuju atau tidak setuju tetap merupakan kata kunci dalam penyelarasan
dunia pendidikan dan dunia kerja. Di sini juga di perlukan adanya penetapan standar mutu
lulusan yang disesuaikan dengan kompetensi yang dibutuhkan oleh dunia
kerja. Kecenderungan untuk merevisi kurikulum menjadi berbasis kompetensi sesuai dengan
kebutuhan dunia usaha/pasar kerja telah lama di wacanakan oleh Pemerintah. Meskipun
implementasinya secara spesifik belum terlihat secara nyata. Perlu dukungan dari semua
pihak untuk mendorong percepatan revisi kurikulum tersebut. Tetapi perlu terus di ingatkan
bahwa sebagus apapun kurikulum, pada muaranya akan kembali kepada guru sebagai tokoh
sentral untuk menentukan metode yang tepat dalam pembelajarannya. Karena guru yang
menyampaikan langsung ke peserta didik. Kurikulum tidak bisa bicara, guru lah yang
berbicara.

3. Membangun Culture of Doing


Untuk mendapatkan pendidikan yang berfokus pada hal-hal yang berguna, maka kita
perlu membangun culture of doing. Culture of doing merangsang peserta didik untuk
merubah pola pikir dari budaya “mengetahui” menjadi budaya “melakukan”. Hal ini karena
meskipun secara akademik, peserta didik menguasi materi pembelajaran, tetapi
mereka sering mengeluh merasa tidak ada hubungan antara apa yang mereka pelajari dengan
dunia nyata. Dengan terbentuknya culture of doing, maka pola pendidikan di Indonesia akan
menghasilkan peserta didik yang siap menghadapi tantangan dunia nyata sekaligus
beradaptasi langsung dengan dunia kerja.

4. Membangun Keterampilan Kewirausahaan berbasis Muatan Lokal


Penyelarasan dunia pendidikan dan dunia kerja harus mampu melatih lulusan untuk
dapat mandiri menjadi wirausaha yang membuka lapangan kerja bagi dirinya maupun orang
lain.

5. Membangun Kemitraan
Pola kemitraan antara dunia pendidikan dengan pemangku kepentingan (stakeholder)
dan dunia usaha/kerja perlu terus di bangun. Untuk itu perlu dukungan pemerintah dan
perusahaan untuk memberikan kesempatan yang luas bagi peserta didik untuk belajar secara
langsung di dunia kerja dengan sistem magang/prakerin/praktek kerja lapangan (PKL) untuk
membuat mereka siap memasuki dunia kerja.
https://www.kompasiana.com/sinlyevanputra/55201794813311eb719de194/menyelaraskan-dunia-
pendidikan-dan-dunia-kerja

3. Kompetensi apa yang harus dikuasai guru dalam pengembangan


pendidikan sesuai dengan perkembangan saat ini.
 Kompetensi pedagogik merupakan kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, sekurang-
kurangnya meliputi :
1.pemahaman wawasan atau landasan kependidikan,
2.pemahaman terhadap peserta didik,
3.pengembangan kurikulum/silabus,
4.perancangan pembelajaran,
5.pelaksanaan pembelajaran yang mendidik dan dialogis,
6.pemanfaatan teknologi pembelajaran,
7.evaluasi proses dan hasil belajar, dan
 Kompetensi kepribadian sekurang-kurangnya mencakup
1.berakhlak mulia,
2.arif dan bijaksana,
3.mantap,
4.berwibawa,
5.stabil,
6.dewasa,
7.jujur,
8.mampu menjadi teladan bagi peserta didik dan masyarakat,
9.secara objektif mengevaluasi kinerja sendiri,
 Kompetensi sosial merupakan kemampuan guru sebagai bagian dari masyarakat, sekurang-
kurangnya meliputi
1. berkomunikasi lisan, tulisan, dan/atau isyarat,
2. menggunakan teknologi komunikasi dan informasi secara fungsional
3. bergaul secara efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan,
pimpinan satuan pendidikan, orang tua/wali peserta didik,
4. bergaul secara santun dengan masyarakat sekitar dengan mengindahkan norma serta
sistem nilai yang berlaku, dan
5. menerapkan prinsip-prinsip persaudaraan dan semangat kebersamaan.
 Kompetensi profesional merupakan kemampuan guru dalam menguasai pengetahuan bidang
ilmu, teknologi, dan/atau seni yang sekurang-kurang meliputi penguasaan
1. materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai standar isi program satuan pendidikan,
mata pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang diampunya, dan
2. konsep-konsep dan metode disiplin keilmuan, teknologi, atau seni yang relevan yang
secara konseptual menaungi atau koheren dengan program satuan pendidikan, mata
pelajaran, dan/atau kelompok mata pelajaran yang diampu

4. Apa upaya yang telah anda lakukan untuk meningkatkan kompetensi


sebagai guru.

Upaya-upaya yang saya lakukan untuk menunjukkan dan meningkatkan kompetensi saya
dibidang :

1. Kompetensi Pedagogik dengan :


1. Membangun hubungan baik dengan semua siswa dengan interaksi keseharian tidak
terlalu formal dengan siswa, saya dan siswa seperti teman untuk memudahkan siswa
bertanya saat pembelajaran dikelas tanpa malu-malu dan ketika diminta untuk
mengerjakan tertentu respon siswa cepat.
2. Membuat Penelitian Tindakan Kelas ( PTK )

2. Kompetensi Kepribadian dengan :


1. Menampilkan pribadi yang jujur, mantap, arif, dewasa dan berwibawa yang dapat
diteladani oleh peseta didik
2. Menunjukkan etos kerja, disiplin, bertangung jawab, rasa bangga dan percaya diri
sebagai Guru

3. Kompetensi Sosial dengan :


1. Berkomunikasi secara santun, efektif, empatik serta bersikap tidak diskriminatif di
lingkungan sekolah dan masyarakat dan menjadi teladan bagi siswa
2. Menjaga hubungan baik dengan orang tua dengan mengikut sertakan orang tua untuk
mengatasi kesulitan belajar siswa
3. Ikut serta dalam organisasi sosial di sekolah dan masyarakat

4. Kompetensi Profesional dengan :


1. Menguasai materi, kompetensi inti, kompetensi dasar serta tujuan mata pelajaran
yang saya ampu
2. Memilih, mengolah dan mengembangkan materi mata pelajaran sesuai tingkat
perkembangan peserta didik
3. Menggunakan dan memanfaatkan media digital dan peralatan digital untuk
mendukung kesusksesan siswa dalam belajar
4. Menambah wawasan keilmuan dengan mengikuti kegiatan MGMP Teknik
Pengelasan SMK dan kegiatan Diklat Peningkatan Kompetensi Guru, Workshop,
seminar.