Anda di halaman 1dari 123

KESETARAAN GENDER PERAWAT LAKI-LAKI DAN

PERAWAT PEREMPUAN
DALAM PELAYANAN KESEHATAN
(Studi deskriptif kualitatif tentang Kesetaraan Gender Antara Perawat Laki-laki
dan Perawat Perempuan dalam Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit Soeradji
Tirtonegoro Klaten )

Disusun Guna Melengkapi Tugas-tugas dan memenuhi


Syarat-syarat guna memperoleh Gelar Sarjana
Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Jurusan Sosiologi

Oleh :
Guntur Prayoga
D 0302030

SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL & ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
2009
PERSETUJUAN

Telah Disetujui untuk dipertahankan di hadapan Panitia Ujian Skripsi


Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sebelas Maret
Surakarta

Menyetujui,
Pembimbing :

Dra.Hj. Trisni Utami, MSi


NIP. 131 792 197

ii
PENGESAHAN

Telah diuji dan disahkan oleh Panitia Penguji Skripsi


Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Sebelas Maret
Surakarta

Hari :
Tanggal :

Tim Penguji

1. Prof. Dr.RB. Soemanto MA (.............................................)


NIP :130604171 Ketua

2. Drs. Th.A. Gutama (.............................................)


NIP : 131597040 Sekretaris

3. Dra. Hj. Trisni Utami M.Si (.............................................)


NIP : 131792197 Penguji

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik


Universitas Sebelas Maret
Surakarta

Dekan

Drs.H. Supriyadi SN, SU


NIP. 130 936 616

iii
MOTTO

Sajak Air
Dengan karakternya yang teduh, jernih dan bening.
”Air tetap mampu menjinakkan panasnya jilatan api yang berkobar sebesar
apapun”
Air menyulam wajah untuk tegar dalam segala bentuk.
”Dan ketegaran itu adalah bentuk kesabaran tak kenal henti dari air dalam
mempertahankan prinsipnya di berbagai kondisi”
Dalam air terkandung sifat-sifat kebebasan nan dinamis.
”Dia sanggup menerima perubahan tanpa harus takut kehilangan jati dirinya”
Air punya arah yang jelas untuk maju.
”Celah sejentik kukupun tetap mampu dijadikannya ruang untuk terus
mengalir sampai pada titik pemberhentian terakhirnya”
(Anonim)

iv
PERSEMBAHAN

Karya ini kupersembahkan pada laki-laki dan perempuan yang mampu


menghargai sesamanya. Serta untuk yang senantiasa aku cintai dan sayangi
Bapak ,Ibu , kakak dan adikku, Om dan Bulik Pranoto, keluarga Besar
Subandi Hadi Sumarta serta keluarga Besar Saebani dan setiap orang yang
berharga dalam hidupku.

v
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan

rahmat dan karunia-Nya karena hanya dengan Rahmat dan Ridho-Nya lah penulis

dapat menyelesaikan sebuah karya sederhana ini sekaligus guna memperoleh gelar

Sarjana. Banyak Hambatan dan Rintangan dalam menyusun skripsi dengan judul

KESETARAAN GENDER PERAWAT LAKI-LAKI DAN PERAWAT

PEREMPUAN DALAM PELAYANAN KESEHATAN (Studi deskriptif

kualitatif tentang Kesetaraan Gender Antara Perawat Laki-laki dan Perawat

Perempuan dalam Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit Soeradji Tirtonegoro

Klaten ) namun berkat dukungan dan semangat yang telah diberikan oleh

keluarga, teman, sahabat dan para dosen karya ini dapat terselesaikan.

Karya ini dapat terselesaikan bukan tanpa bantuan dan dukungan dari

berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan

terima kasih kepada :

1. Drs. Supriyadi SN, SU selaku Dekan FISIP UNS yang telah memberikan ijin

melakukan penelitian.

2. Dra. Hj. Trisni Utami, M.Si selaku ketua jurusan Sosiologi FISIP UNS.

3. Dra. Hj. Trisni Utami, M.Si selaku dosen pembimbing yang sudah bersabar

dan meluangkan waktunya untuk memberi bimbingan dan petunjuknya

hingga terselesaikannya skripsi ini.

vi
4. Dra. Hj. Trisni Utami, M.Si selaku Pembimbing Akademik yang telah

memberi Bimbingan kepada penulis dari semester ke semester hingga akhir

studi.

5. Bapak - Ibu Dosen dan staf Sosiologi FISIP UNS yang telah berkenan

memberikan ilmu dan pengetahuannya, dan seluruh birokrasi kampus yang

telah mambantu.

6. Bapak “Mulyadi, BA” dan Ibu “Pratiwi, BA” yang selalu bersabar untuk

memberikan nasehat-nasehatnya tanpa lelah dan selalu menopang semuanya.

7. Kakakku “Dodi” dan Adekku “Dimas” semoga kalian sukses selalu.

8. Prof. Dr. H. Arif Faisal, Sp. Rad (K), DHSM selaku direktur Rumah Sakit

Soeradji Tirtonegoro Klaten.

9. Ibu Hj. Endang Wuryaningsih, AMK, SPd selaku kepala perawat Rumah

Sakit Soeradji Tirtonegoro Klaten yang telah bersedia meluangkan waktunya

untuk penelitian ini.

10. Seluruh informan yang telah memberikan berbagai informasi yang

dibutuhkan oleh penulis dalam penyusunan skripsi ini.

11. Teman-teman Sosiologi 2002 : Lilik, Sigit, Rofi, Beni, Yuni, Laili, Monik.

Terima kasih atas kebersamaan kalian selama ini.

12. Kawan-kawan seperjuangan di HMI Komisariat FISIP, Abdul “thanks for

all” , mbak Memy, mas Harun, mas Kris, mbak Mima, Haris, Yanu, Peni,

Rini, Dimas, Ageng dan anggota lainnya, yang tidak dapat penulis sebutkan

satu-persatu. Yakin Usaha Sampai!!!!!

vii
13. Dan pihak-pihak lain yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu

Penyusun menyadari bahwa laporan ini belum sempurna. Untuk itu,

penyusun mengharapkan saran dan kritik dari pembaca sekalian. Semoga karya ini

dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan, Amien.

Solo, 16 Mei 2009

Guntur Prayoga

viii
DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i

HALAMAN PERSETUJUAN ..................................................................... ii

HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... iii

HALAMAN MOTTO ................................................................................... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................... v

KATA PENGANTAR ................................................................................... vi

DAFTAR ISI .................................................................................................. ix

DAFTAR TABEL ......................................................................................... xiii

DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xiv

ABSTRAK ...................................................................................................... xv

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................ 1

A. LATAR BELAKANG MASALAH ........................................ 1

B. PERUMUSAN MASALAH .................................................... 5

C. TUJUAN PENELITIAN ......................................................... 5

D. KEGUNAAN PENELITIAN .................................................. 6

E. TELAAH PUSTAKA .............................................................. 7

1. Peran................................................................................... 7

2. Konsep Gender .................................................................. 8

3. Orientasi Peran Gender ...................................................... 14

4. Implikasi Gender dalam Dunia Kerja ................................ 15

ix
5. Kesetaraan Gender ............................................................ 16

6. Perawat............................................................................... 17

7. Pelayanan Kesehatan ......................................................... 18

8. Landasan Teori .................................................................. 20

9. Kerangka Analisis Gender ................................................ 24

F. METODE PENELITIAN ........................................................ 26

1. Jenis Penelitian .................................................................. 26

2. Lokasi Penelitian ............................................................... 26

3. Jenis dan Sumber Data ...................................................... 27

4. Teknik Pengumpulan Data ................................................ 28

5. Teknik Pengambilan Sampel ............................................ 29

6. Validitas Data .................................................................... 30

7. Teknik Analisa Data .......................................................... 31

BAB II DESKRIPSI LOKASI.................................................................. 34

A. PROFIL KOTA KLATEN ...................................................... 34

1. Sejarah Berdirinya Kota Klaten ........................................ 34

2. Demografi Kota Klaten ..................................................... 36

B. PROFIL RSUP SOERADJI TIRTONEGORO ....................... 41

1. Sejarah berdirinya RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro........... 41

2. Fasilitas Pelayanan RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro ........ 45

3. Organisasi RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro....................... 48

C. KODE ETIK KEPERAWATAN ............................................ 50

1. Kode etik keperawatan Indonesia ....................................... 50

x
2. Prinsip Etika Keperawatan................................................... 53

BAB III PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT

BERPRESPEKTIF GENDER .................................................... 56

A. PELAYANAN KESEHATAN DI MASYARAKAT.............. 56

B. STANDAR PELAYANAN KEPERAWATAN...................... 58

C. PERAN-PERAN PERAWAT DALAM PELAYANAN

KESEHATAN ......................................................................... 62

D. PERAWAT DALAM PERSPEKTIF GENDER ..................... 68

1. Sejarah Dunia Keperawatan .............................................. 68

2. Tugas Perawat dalam Perspektif Gender ........................... 71

3. Posisi Struktural Perawat di Rumah Sakit ........................ 73

BAB IV KESETARAAN GENDER DALAM

PELAYANAN KESEHATAN ................................................... 76

A. PROFESI PERAWAT DALAM PERSPEKTIF GENDER .... 77

B. PERAN DAN TANGGUNG JAWAB PERAWAT DALAM

PELAYANAN KESEHATAN ............................................... 85

C. DISTRIBUSI PERAN KEPERAWATAN MENURUT

PERBEDAAN GENDER ........................................................ 92

BAB V PENUTUP..................................................................................... 98

A. KESIMPULAN ....................................................................... 98

B. IMPLIKASI ............................................................................. 102

1. Implikasi Teoritis .............................................................. 102

2. Implikasi Metodologis ...................................................... 104

xi
3. Implikasi Praktis .............................................................. 104

C. SARAN .................................................................................. 104

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

xii
DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1.1 Data Perawat Laki-Laki dan Perempuan menurut Tingkat

Pendidikan di RS. Soeradji Tirtonegoro Klaten ............................ 4

Tabel 2.1 Tingkat Kepadatan Penduduk Kota Klaten ..................................... 38

Tabel 2.2 Penduduk Kota Klaten menurut jenis Kelamin .............................. 39

Tabel 2.3 Pegawai Pemerintah Kabupaten Klaten Menurut Unit Kerja Dan

Jenis Kelamin................................................................................. 40

Tabel 2.4 Data Ketenagaan RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten................ 49

Tabel 5.1 Analisis Data Hasil Penelitian ........................................................ 84

xiii
DAFTAR LAMPIRAN

1. Pedoman Wawancara

2. Hasil Wawancara

3. Struktur Organisasi RSUP Dr. Soeadji Tirtonegoro Klaten

4. Permohonan Ijin Penelitian dari Universitas Sebelas Maret Surakarta

5. Pengesahan Ijin Penelitian dari BAPEDA Klaten

6. Pengesahan ijin Penelitian dari RSUP Dr. Soeadji Tirtonegoro Klaten

7. Kwitansi

xiv
ABSTRAK

Guntur Prayoga. D0302030. Tahun 2009. Kesetaraan Gender Perawat Laki-


Laki Dan Perawat Perempuan Dalam Pelayanan Kesehatan. Skripsi. Jurusan
Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret
Surakarta.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang


menggambarkan peran perawat laki-laki dan perawat perempuan dalam pelayanan
Kesehatan di RSUP. Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten serta menggambarkan dan
melakukan analisis gender terhadap peran perawat dalam pelayanan kesehatan.
Pengambilan sampel penelitian ini menggunakan teknik purposive
sampling. Teknik pengumpulan data yang diterapkan dalam penelitian ini adalah
teknik wawancara mendalam dan dokumentasi. Responden dalam penelitian ini
berjumlah 10 orang perawat (6 orang perempuan dan 4 laki-laki) dan 4 orang
pasien (1perempuan dan 3 laki-laki). Sedangkan untuk menjamin validitas data
digunakan triangulasi sumber.
Adapun hasil penelitian yang telah dilakukan berdasarkan data-data yang
diperoleh baik berupa data primer maupun data sekunder adalah sebagai berikut:
pertama, Marginalisasi peran perempuan di ranah publik akibat dari relasi kuasa
yang dibangun dan berkembang dalam profesi keperawatan membentuk
stereotype bahwa profesi keperawatan merupakan profesi yang dipandang lebih
cocok untuk para perempuan ketimbang laki-laki. Kedua, dilihat dari profesinya
sebagai tenaga kesehatan, tidak ada perbedaan peran gender. Tugas-tugas
sebagaimana yang tercantum dalam undang-undang ataupun kode etik
keperawatan tidak ada yang membedakan tugas perawat berdasarkan gender.
Namun, dalam prakteknya, tugas-tugas pelayanan kesehatan dijalankan secara
luwes dimana pembedaan peran gender masih tampak. Misalnya saat memandikan
pasien, pekerjaan angkat-angkat dan sebagainya. Ini terjadi karena faktor nilai-
nilai budaya dan moral yang diyakini masyarakat. Dari sisi pelayanan, sebagian
pasien juga masih menganggap bahwa perempuan lebih luwes dalam menjalankan
tugas-tugas keperawatan. Ketiga, Proses marginalisasi yang memunculkan
stereotype bahwa perawat merupakan pekerjaan perempuan merembet pada
struktur lembaga. Dalam struktur yang tampak di RSUD Soeradji Tirtonegoro
Klaten, perempuan masih dianggap lebih mampu dalam menjalankan tugas-tugas
keperawatan. Hal ini tampak dari struktur kelembagaan yang didominasi oleh
kaum perempuan. Dari jumlah perawat, dapat juga dilihat bahwa perawat
perempuan lebih banyak ketimbang perawat laki-laki.

xv
ABSTRACT

Guntur Prayoga.D0302030. 2009. The equal gender between male and female
nurse in healthy service. Research paper. Sociology Department. Social and
politic faculty Sebelas Maret University of Surakarta.
This Research is the descriptive qualitative research which is describintg
the role of the male and female nurse in healthy service at RSUP Dr. Soeradji
tirtonegoro Klaten also describing and gender analyze to the nurse’s role in
healthy service.
The sample of this research was taken by using purposive technique
sampling. In collecting data, the writer uses interview and document. The
respondents of this research are ten nurses (six female nurses and four male
nurses) and four patients (female and three male patients). While, for the validity
of the data uses triangulatuion source.
The result of this research based on the primary and secondary data, it can
be seen: first, marginalization of the role of women in public because the power
relationship which was built and expended in the nurse proffesion is a proffesion
in which it is more suitable for woman rather than for man. Second: viewed from
the proffesion as healthy service. There is no difference of gender’s role. The duty
such as there is in law and the erthics nurse code. There is no difference duty of
the nurse based on the gender. However, in practice the duty in healty service do
flexibility where is the difference of gender still appear, such as when taking a
bath for the patient, removed the patient and etc. It is happen because the cultures
value and moral factor that believed by society. From service side, a half of
patients still believe that the woman is more flexibility in doing the nurse duty.
Third : marginalization process makes stereotype in which nurse proffesion is the
women’s job hampered to the Institute Structure. The structure at RSUP Soeradji
Tirtonegoro Klaten, the woman is considered more capable to do the nurse’s duty.
It can be seen in Institute structure in which it is dominated by woman. From the
amount of the nurse, also it can be seen which the female nurse is more than male
nurse.

xvi
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH

Salah satu kebutuhan yang sangat penting bagi manusia adalah

kebutuhan akan kesehatan, selain kebutuhan akan sandang, pangan dan papan.

Penting artinya kebutuhan kesehatan bisa dipenuhi oleh manusia untuk dapat

mempertahankan hidup. Dalam upaya memenuhi kebutuhannya manusia tidak

lepas dari bantuan aktifitas orang lain.

Pembangunan kesehatan diselenggarakan berasaskan kemanusiaan yang

berdasarkan Ke Tuhanan Yang Maha Esa, manfaat, usaha bersama dan

kekeluargaan, adil dan merata, peri kehidupan dalam keseimbangan serta

kepercayaan akan kemampuan dan kekuatan sendiri yang bertujuan untuk

meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap

orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. (UU RI NO

23 TAHUN 1992 Bab II pasal 2 dan 3)

Dapat dilihat dalam UU RI NO 23 TAHUN 1992 Bab II pasal 2 dan 3

yang tertulis diatas bahwa pembangunan kesehatan di Indonesia ditujukan

untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup agar setiap

orang mampu meningkatkan derajat kesehatannya. Dengan kepercayaan

bahwa kita mampu melaksanakan pembangunan kesehatan dengan sumber

daya yang ada.

xvii
Dalam pelaksanaan upaya kesehatan banyak melibatkan instansi baik itu

pemerintah maupun swasta. Selama ini telah dibangun berbagai sarana dan

prasarana kesehatan seperti, Rumah Sakit, Puskesmas, laboratorium, klinik,

perusahaan farmasi, apotek 24 jam dan lain sebagainya. Namun biaya untuk

mencapai kondisi sehat ternyata tidaklah murah bahkan cenderung semakin

mahal. Dengan adanya pembiayaan yang semakin meningkat, maka

pemerintah berupaya membantu upaya kesehatan masyarakat. Salah satu

upaya pemerintah itu diwujudkan dengan jalan mendirikan Rumah Sakit

Pemerintah, dengan rumah sakit pemerintah masyarakat dapat menggunakan

fasilitas kesehatan yang disediakan rumah sakit sesuai dengan kebutuhannya

dengan harga terjangkau. RSUP Soeradji Tirtonegoro Klaten yang merupakan

rumah sakit pemerintah yang ada di Klaten turut membantu upaya kesehatan

masyarakat dengan biaya terjangkau.

Pembangunan di bidang kesehatan khususnya di rumah sakit bertujuan

untuk meningkatkan mutu, cakupan dan efisiensi pelaksanaan rujukan medik

dan rujukan kesehatan secara terpadu. Rumah sakit sebagai pemberi pelayanan

kesehatan dituntut oleh masyarakat sebagai penerima jasa layanan kesehatan

untuk selalu meningkatkan kualitas pelayanannya.

Krisis moneter yang berkepanjangan membawa dampak buruk bagi

masyarakat dan semakin menurunkan kesehatan masyarakat, apalagi

masyarakat yang ekonominya rendah dan miskin. Proses pelayanan kesehatan

pun mengalami proses liberalisasi yang berdampak pada ketimpangan

pelayanan dari segi kualitas, stratifikasi sosial dan juga perbedaan jenis

xviii
kelamin. Pola pelayanan kesehatan masih menganggap pasien hanya sebagai

obyek pelayanan.

Perawat sebagai salah satu komponen yang penting di dalam rumah sakit

mempunyai peran yang cukup besar untuk membantu meningkatkan

pelayanan kesehatan. Jenis pekerjaan perawat digambarkan sebagai pekerjaan

yang cenderung sebagai pekerjaan perempuan, karena dalam pelaksanaannya

membutuhkan sifat kelembutan dan kesabaran dan lebih mengedepankan

emosi. Sebelum menjadi perawat pun sudah dibekali dengan pendidikan cara-

cara merawat yang sering dianggap kerja perempuan. Budaya yang

berkembang dalam masyarakat khususnya masyarakat Jawa, perempuan lebih

dikenal dengan konco wingking sehingga pekerjaan perawat pun seolah-olah

hanya bisa dikerjakan perempuan.

Sesuai dengan perkembangan sosial yang ada maka banyak lelaki

menjadi tertarik untuk menjadi perawat dengan ikut melaksanakan tugas yang

sebelumnya digambarkan sebagai tugas perempuan. Jelas bahwa tidak ada

aturan yang mengikat bahwa seorang perawat harus perempuan. Untuk

menjadi seorang perawat ditentukan atau dilihat bagaimana kemampuan yang

dimiliki baik itu laki-laki maupun perempuan untuk melaksanakan tugas-tugas

tersebut serta bagaimana kesempatan yang diberikan pada laki-laki dan

perempuan untuk mengaktualisasikan kemampuan dirinya.

Untuk dapat mengetahui sejauh mana komposisi perawat Laki-laki dan

Perempuan dapat kita lihat pada tabel sebagai berikut :

xix
Tabel 1.1 Data Perawat Laki-Laki dan Perempuan menurut Tingkat
Pendidikan di RS. Soeradji Tirtonegoro Klaten, Data Per Februari 2007

Tingkat Pendidikan Laki-Laki Perempuan


S1 Keperawatan 7 11
D3 Keperawatan 98 -
SPK 20 31
PK 1 -
D4 Kebidanan - 1
D3 Kebidanan - 9
D3 Anestesi - 1
Bidan - -
D3/SPRG/P Gigi 1 24
DK/PK - 2
Jumlah 127 247
Sumber : Data Bidang Perawat RSUD Soeradji Tirtonegoro Klaten

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa komposisi Perawat Laki-laki masih

kecil jika dibandingkan dengan perawat perempuan 39,06% untuk perawat

laki-laki dan 66,04% untuk perawat perempuan. Dengan jumlah perawat yang

masih relatif lebih kecil dibanding perawat perempuan itulah sebabnya kenapa

prestasi perawat laki-laki menjadi relatif. Walaupun pada tugas tertentu

perawat laki-laki mendapat simpati. Sudah seharusnya perawat laki-laki harus

meningkatkan profesionalitasnya sebab keterbatasan anggota perawat laki-laki

akan sangat berpengaruh pada kinerjanya. Mereka harus lebih bersikap

dewasa dan memantapkan diri dalam setiap tugas pelayanan yang

diembannya, termasuk menghilangkan citra buruk laki-laki, baik di rumah

maupun pada saat tugas.

Pemberian kesempatan yang sama disamping akan lebih menunjukkan

penghormatan pada gender di lingkungan perawat, sedikit banyak diharapkan

juga akan mengurangi stigma negatif di lingkungan perawat. Sosok jati diri

seorang perawat laki-laki memiliki sifat maskulin namun mempunyai sisi

xx
feminis. Melalui pemberian kesempatan itulah perawat laki-laki akan

mempunyai kesempatan yang sama dalam menjalankan tugas dan fungsinya

sebagai bagian integral dari perawat.

Hubungan antara perawat dengan pasien sangat menentukan kualitas

pelayanan yang diberikan oleh perawat tersebut. Perawat harus mampu

memberikan pelayanan yang optimal pada sebagian kliennya. Banyak kejadian

yang mengeluhkan bagaimana pelayanan perawat di rumah sakit seperti ada

pembedaan terhadap pelayanan terhadap jenis kelamin tertentu.

B. PERUMUSAN MASALAH

Dari latar belakang penelitian tersebut di atas penulis merumuskan

permasalahan sebagai berikut :

a. Bagaimanakah kesetaraan gender dalam pembagian peran antara perawat

laki-laki dan perawat perempuan?

b. Bagaimana pelayanan yang diberikan oleh perawat RSUP Soeradji

Tirtonegoro dalam memberikan pelayanan kesehatan terhadap pasien

laki-laki dan perempuan ?

C. TUJUAN PENELITIAN

Adapun tujuan yang ingin dicapai penulis dari penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui kesetaraan gender dalam pembagian peran antara

perawat laki-laki dan perawat perempuan.

xxi
2. Untuk mengetahui pelayanan yang diberikan oleh perawat RSUP Soeradji

Tirtonegoro Klaten dalam memberikan pelayanan Kesehatan kepada

masyarakat.

D. KEGUNAAN PENELITIAN

Disamping untuk menjawab permasalahan dalam perumusan masalah

penelitian , hasil dari penelitian ini dapat berguna untuk menambah wacana

bagi peneliti yang ingin melakukan penelitian serupa berikutnya.

Penelitian ini diharapkan dapat memiliki manfaat :

1. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan perbandingan bagi

penelitian yang terkait dalam permasalahan gender dalam keperawatan.

2. Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai masukan bagi pihak-

pihak yang berkepentingan atau pihak terkait untuk mengambil kebijakan

yang berkaitan dengan isu gender.

3. Hasil penelitian dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menyusun

kebijakan bagi pihak rumah sakit dalam pembagian peran dan tugasnya,

agar perawat mampu bekerja secara efektif dan mampu meningkatkan

profesionalismenya.

xxii
E. TELAAH PUSTAKA

1. Peran

Peran sering diartikan sebagai serangkaian perilaku yang

diharapkan dituntut oleh masyarakat terhadap individu atau pun organisasi

yang memegang kedudukan tertentu dalam masyarakat.

Setiap orang akan melakukan perannya ketika menjalankan hak

dan keawajiban sesuai dengan kedudukannya. Setiap orang akan

menjalankan peran yang berbeda dimana dalam setiap peran tersebut

diharapkan dilakukan dengan cara-cara tertentu. Dalam kamus sosiologi

dijelaskan bahwa peran (role) meliputi :

1) aspek dinamis dari kedudukan

2) perangkat hak-hak dan kewajiban

3) perilaku aktual dari pemegang kedudukan

4) bagian dari aktivitas yang dimainkan seseorang

(Soekamto,1985:400)

Peran yang melembaga merupakan seperangkat harapan perilaku

yang membatasi kebebasan seseorang untuk memilih. Jadi, perilaku peran

yang dilembagakan diarahkan oleh harapan peran, bukan oleh preferensi

pribadi.

Rumah Sakit dalam hal ini merupakan organisasi yang didalamnya

terdapat aturan atau norma yang mengikat anggotanya dalam

berhubungan. Dan hubungan tersebut akan tetap terjaga apabila masing-

xxiii
masing anggotanya menjalankan sejumlah perilaku yang diharapkan

menurut aturan norma yang berlaku dalam organisasi tersebut.

Identitas peran terdiri dari gambaran yang bersifat ideal yang

dimiliki oleh individu sebagai orang yang menduduki posisi sosial.

Seorang individu memiliki sejumlah identitas peran yang berhubungan

dengan berbagai posisi sosial yang mereka miliki dan berbeda-beda

tingkatan dalam perbandingannya satu sama lain. Identitas peran ini

diungkapkan secara terbuka dalam melaksanakan peran dan membantu

menentukan pentingnya suatu identitas peran tertentu dalam konsep diri

seseorang secara keseluruhan.(Johnson, 1986:38). Jadi peran merupakan

sesuatu yang diharapkan lingkungan untuk dilakukan seseorang atau

kelompok yang karena kedudukannya dapat memberi pengaruh pada

lingkungan tersebut.

Adapun yang dimaksud dengan peran perawat laki-laki dan

perawat perempuan dalam hal ini adalah serangkaian tindakan yang

diharapkan dilakukan oleh perawat laki-laki dan perawat perempuan

dalam organisasi rumah sakit, baik itu dalam program kerja organisasi ,

dalam pengambilan setiap kebijakan maupun dalam setiap kegiatan atau

aktivitas yang dilakukan dalam organisasi.

2. Konsep Gender

Konsep gender merupakan suatu sifat yang melekat pada kaum

laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan kultural.

xxiv
Misalnya, perempuan lebih dikenal dengan sifat lemah lembut, keibuan,

emosional dan sebagainya. Sedangkan laki-laki dianggap kuat, rasional,

dan perkasa. Ciri dari sifat-sifat tersebut sebenarnya bisa dipertukarkan.

Artinya masing-masing, baik kaum laki-laki maupun perempuan memiliki

sifat-sifat tertentu.

Sejarah mengenai pembedaan gender terjadi melalui proses

panjang. Terbentuknya perbedaan-perbedaan gender bisa disebabkan oleh

banyak hal, diantaranya adalah proses sosialisasi dan bahkan proses

konstruksi sosial lewat berbagai interaksi yang terjadi dalam masyarakat.

Pembentukan perbedaan-perbedaan gender dibentuk secara sosial dan

kultural, misalnya lewat agama dan kekuasaan. Proses panjang tersebut

kemudian membentuk persepsi manusia yang menganggap perbedaan

gender adalah sebuah kodrat yang harus diterima, seolah-olah perbedaan

tersebut terjadi secara biologis dan tak dapat diubah.

Konstruksi sosial gender secara perlahan berpengaruh terhadap

proses biologis masing-masing kelamin. Misalnya, karena adanya

konstruksi sosial, seorang laki-laki harus memiliki sifat kuat. Maka kaum

laki-laki tersosialisasi dan termotivasi untuk menjadikan dirinya kuat

untuk memenuhi sifat yang dianggap umum oleh masyarakat tersebut.

Sebaliknya, karena dalam konstruksi sosialnya perempuan harus bersikap

lemah lembut, maka sejak bayi, proses sosialisasi yang dibangun

perempuan mengarah pada sifat tersebut. Proses sosialisasi yang

berlangsung secara mapan pada akhirnya mempengaruhi secara fisik dan

xxv
psikis hingga pada akhirnya ada kesulitan untuk membedakan apakah

sifat-sifat tersebut merupakan sifat dasar manusia atau hasil dari proses

konstruksi sosial.

Namun, jika kita berpedoman pada keyakinan bahwa sepanjang

sifat-sifat tersebut masih bisa dipertukarkan, maka sifat-sifat tersebut

adalah hasil bentukan masyarakat, dan sama sekali bukanlah kodrat.

Mungkin jika kita ingin menganalisa lebih jauh lagi, secara

tersirat, masyarakat mulai mengakui kepemilikan kualitas feminin dan

maskulin dalam diri tiap manusia (laki-laki maupun perempuan) walaupun

masih ada keterikatan dengan stereotype tentang laki-laki dan perempuan

secara umum. Konsep maskulin dan feminin menurut Gita Rajan

merupakan konsep yang saling terhubung secara inheren satu dengan yang

lain. Seperti yang diungkapkan dalam kutipan berikut ini :

Masculinity and femininity are inherently relational concepts, which


have meaning in relation to each other, as a social demarcation and a
cultural opposition. This holds regardless of the changing content of
the demarcation in different societies and periods of history.
Masculinity as an object of knowledge is always masculinity-in-
relation.
Gita Rajan
(Signs: Journal of Women in Culture and Society 2006, vol. 31, no.
4] 2006 by The University of Chicago.)

Seks berkaitan dengan karakteristik biologis dan fisik seperti

genital, organ reproduksi, kromosom dan hormone, yang membedakan

laki laki dan perempuan. Karakteristik biologis ini tidak saling terlepas

satu sama lain sepenuhnya karena ada individu yang memiliki keduanya

dan sebenarnya keduanya tidak saling terlepas satu sama lain tetapi

xxvi
merupakan satu continuum. Karakteristik ini dapat membedakan manusia

atas laki laki dan perempuan (Coleman, 2007). Bila sex merupakan

identitas biologis, gender merupakan identitas sosial atau konstruksi sosial

yang melekat pada laki laki dan perempuan.

Gender berarti menjadi laki laki atau perempuan yang mungkin

saja berbeda dengan seperangkat kromosom yang dimiliki seseorang.

Gender berkaitan dengan peran, hak, tanggung jawab, kemungkinan dan

keterbatasan yang dipunyai laki laki dan perempuan dalam suatu

masyarakat. Gender merupakan atribut sosial yang terkait dengan

bagaimana kita berpikir, apa yang kita yakini tentang apa yang boleh (bisa

dilakukan) atau tidak boleh (tak bisa dilakukan) terkait dengan konsep

sosial tentang maskulin dan feminim.

Gender ditentukan berdasarkan karakteristik sosial yang didapat

melalui sosialisasi, sedangkan sex ditentukan sejak seseorang dilahirkan.

Sex bersifat menetap sedangkan gender (dan peran gender) berubah

sepanjang waktu dan bervariasi tergantung budaya. Gender membentuk

kesempatan yang bisa diraih seseorang dalam hidupnya, peran-peran yang

dapat ia mainkan dan bentuk bentuk hubungan yang dipunyai seseorang

norma sosial yang sangat kuat berpengaruh. Peran Gender diperkuat oleh

institusi sosial yaitu keluarga, sekolah, institusi Negara/tempat kerja dan

lain lain.

Proses konstruksi sosial di atas mendapat kritik dari Profesor Keng

Chua yang menghendaki adanya redefinisi konsep gender karena

xxvii
perkembangan yang terjadi di masyarakat. Seperti yang terungkap dalam

kutipan berikut ini :

In the past, gender was conflated with biological sex, we can now
think in terms of gender construction and re-construction. Simone de
Beauvoir first hit on this in her seminal work, The Second Sex (1949)
which critiques the hierarchical binary structure of gender
organisation of her generation. In her thesis that ` a woman is not
born, she is made', she paved the way for a re-thinking of gender
spaces, roles, ideologies, values, beliefs and behaviour. Gender has
come to be thought of not as essentially given, but as socially and
culturally constructed, not as hierarchical and fixed but as equitable
and fluid.
(Professor Keng Chua, Centre for Media Communications and

Asian Studies, Faculty of Arts,2007 Southern Cross University, PO Box

157, Lismore, NSW 2480 Australia kchua@scu.edu.au

Proses kontruksi sosial yang berlangsung sangat lama dan turun

menurun dapat menjadikan terjadinya perbedaan Gender. Perbedaan

gender menimbulkan ketidakadilan gender, ketidakadilan gender

merupakan sistem dan struktur dimana baik laki-laki dan perempuan

menjadi korban dari sistem tersebut. Adapun manifestitasi dari

ketidakadilan gender adalah sebagai berikut :

1) Marginalisasi

Merupakan proses pemiskinan ekonomi terhadap perempuan karena

perbedaan gender, dari segi sumbernya bisa berasal dari kebijakan

pemerintah, keyakinan, tafsiran agama, keyakinan tradisi dan

kebiasaan.

xxviii
2) Subordinasi

Subordinasi adalah suatu pandangan yang merendahkan satu jenis

kelamin tertentu, umumnya perempuan. Anggapan bahwa perempuan

itu irrasional atau emosional sehingga tidak bisa memimpin. Dalam

rumah tangga, masyarakat dan negara banyak kebijaksanaan yang

dibuat tanpa menganggap penting kaum perempuan.

3) Stereotype

Merupakan bentuk pelabelan pada suatu kelompok atau jenis

pekerjaan tertentu. Pelabelan yang dikonstruksi secara sosial terhadap

perempuan adalah bahwa mereka merupakan makhluk yang hanya bisa

mengerjakan sesuatu pekerjaan yang halus saja.

4) Kekerasan

Kekerasan merupakan suatu serangan terhadap fisik maupun

integritas mental psikologis seseorang. Kekerasan yang bersumber dari

anggapan gender pada dasarnya disebabkan oleh kekuasaan.

Kekerasan sering terjadi karena budaya dominasi laki-laki.

5) Beban Ganda

Merupakan pembebanan yang diakibatkan adanya peran domestik

perempuan. Perempuan identik dengan pekerjaan rumah tangga

mereka disamping mereka harus bekerja di luar rumah. Sehingga

perempuan mempunyai beban ganda.

xxix
3. Orientasi Peran Gender

Laki laki dan perempuan mempunyai tugas dan kegiatan yang

berbeda, mempunyai lingkungan sosial yang berbeda. Mereka diharapkan

berperilaku berbeda. Laki laki dan perempuan diharapkan mengenakan

baju, permainan, minat, ketrampilan dan kompetensi dan mobilitas sosial

yang berbeda. Gender berkaitan dengan posisi perempuan dan laki laki

berkaitan dengan struktur kekuasaan (power).

Orientasi peran gender oleh Tang & Tang (2001) didefinisikan

sebagai kepemilikan seseorang atas sifat-sifat kepribadian stereotip

maskulin dan feminin yang diharapkan masyarakat. Sementara menurut

Raguz (1991) orientasi peran gender adalah persepsi seseorang tentang

maskulinitas dan femininitas dalam dirinya. (www.jurnalperempuan.com)

Menurut Constantinople (dalam Spence & Buckner, 1995),

femininitas dan maskulinitas berada pada dua kutub yang berlawanan.

Pemikiran ini kemudian melahirkan sejumlah pertanyaan akan validitas

konsep, karena dirasakan banyak sifat yang berada dalam domain feminin

dan domain maskulin tidak berhubungan satu dengan yang lainnya (sifat

feminin bukan merupakan lawan dari sifat maskulin, dan sebaliknya).

Spence & Buckner (1995) menegaskan bahwa sifat-sifat yang telah

disebutkan tadi tidak berkorelasi sama sekali, sehingga sifat-sifat dalam

domain feminin dan domain maskulin pun tidak perlu memiliki korelasi

yang kuat satu dengan yang lainnya.

xxx
Spence & Helmreich menyatakan bahwa karakteristik

instrumentality sering dikaitkan dengan maskulin, sedangkan karakteristik

expresiveness sering dikaitkan dengan feminin. Lebih lanjut lagi

dijelaskan karakteristik maskulin antara lain mandiri, mudah membuat

keputusan dan tidak mudah menyerah, sedangkan karakteristik feminin

antara lain adalah emosional, suka menolong orang lain serta memahami

perasaan orang lain. (www.jurnalperempuan.com)

4. Implikasi Gender dalam Dunia Kerja

Salah satu bidang yang terkena imbas kerancuan “sex” dan

“gender” adalah bidang kerja. Menurut Novarra jika seorang perempuan

harus bekerja, maka apa yang dikerjakannya di luar rumah tidak jauh dari

perannya dalam rumah tangga. Bahkan di awal era kesetaraan gender,

masih ada pendapat bahwa tabu hukumnya bagi kaum perempuan untuk

bergerak di bidang politik atau bidang publik, jika perannya tidak

sebangun dengan perannya dalam rumah tangga. Misalnya adalah bidang

kerja yang terkait dengan pengasuhan anak, pengurusan rumah tangga,

pembuatan pakaian, perawatan orang sakit dan cacat, dan pendidikan.

Perbedaannya terletak pada lokasi kerja, yaitu di luar rumah, dan dengan

bekerja di luar rumah perempuan pekerja mendapat imbalan atas jasanya.

(www.google.com”gender dalam dunia kerja”)

Pendapat ini perlahan-lahan mulai disanggah dengan adanya fakta

semakin banyak perempuan yang membebaskan diri dari peran

xxxi
tradisionalnya dan lebih terlibat pada kehidupan publik, bahkan berada di

tampuk kepemimpinan.

Selain itu, kini semakin banyak pula institusi-institusi profesional

yang menangani “pekerjaan-pekerjaan perempuan” tersebut dengan

sejumlah karyawan laki-laki terlibat atau bahkan berperan penting di

dalamnya (Vianello, 1990). Hal ini menunjukkan bahwa kini dunia kerja

lebih menitikberatkan faktor kemampuan individu dan mulai

meninggalkan pendapat konvensional tentang pembagian kerja menurut

jenis kelamin. Mungkin jika kita ingin menganalisa lebih jauh lagi, secara

tersirat, masyarakat mulai mengakui kepemilikan kualitas feminin dan

maskulin dalam diri tiap manusia walaupun masih ada keterikatan dengan

stereotip tentang laki-laki dan perempuan secara umum.

5. Kesetaraan Gender

Pola perilaku dan kegiatan laki-laki dan perempuan merupakan

konstruksi secara sosial yang membentruk identitas. Semenjak dulu sudah

dikonstruksikan bahwa peran gender memang sudah ada dan merupakan

kodrat manusia, ditambah dengan proses sosialisasi gender yang sudah

sangat lama didukung adanya legitimasi agama dan budaya. Maka

semakin kuat interpretasi orang bahwa perbedaan peran, posisi dan sifat

perempuan dan laki-laki adalah kodrat. Padahal baik peran posisi dan sifat

ini adalah bentukan sosial dan budaya yang disebut gender.

xxxii
Kesetaraan gender adalah suatu keadaan dimana terjadi kesetaraan

atau keadilan sosial antara laki-laki dan perempuan. (Mandy

Maccdonald,1997:xii) Suatu keadaan yang diisyaratkan oleh pengertian

tersebut adalah penerimaan martabat kedua jenis kelamin dengan ukuran

yang setara. Orang harus mengakui bahwa laki-laki dan perempuan

memiliki hak yang setara dalam berbagai bidang kehidupan sosial, politik

dan ekonomi. Keduanya memiliki hak yang setara dalam tanggung jawab

sebagaimana dalam hal kebebasan.

Tujuan dari kesetaraan gender tidak sekedar memperbaiki status

perempuan yang indikatornya norma laki-laki, melainkan

memperjuangkan martabat dan kekuatan perempuan. Hal tersebut

menuntut perubahan peran baik laki-laki maupun perempuan. Dalam hal

ini kekuatan bukan berarti mendominasi yang lain.

Kesetaraan gender sesuai dengan di atas adalah situasi sosial yang

memberi pemahaman terhadap laki-laki dan perempuan dalam menghayati

bahwa baik laki-laki maupun perempuan memiliki hak, kewajiban dan

kesempatan yang sama.

6. Perawat

Perawat adalah orang yang melakukan proses keperawatan. ( Lu

Verne Wolf dkk 1984: 4 ) Perawatan ialah memberikan pelayanan

pembinaan kesehatan yang diarahkan untuk memelihara dan meningkatkan

xxxiii
kesehatan serta membantu orang dengan cara sebaik mungkin masalah

kehidupan sehari-hari, penyakit dan cidera, cacad maupun kematian.

Dalam melakukan praktek keperawatan terdapat standar praktek

yang harus dipenuhi oleh perawat, standar praktik keperawatan di

Indonesia ditentukan oleh PPNI terdiri dari :

1. Pengkajian

2. Diagnosa Keperawatan

3. Perencanaan

4. Implementasi

5. Evaluasi

7. Pelayanan Kesehatan

Manusia dalam usaha untuk memenuhi kebutuhannya melakukan

aktivitasnya sendiri maupun secara tidak langsung melalui aktivitas orang

lain. Proses Kebutuhan melalui aktivitas orang lain yang langsung disebut

pelayanan. Menurut KepMen PAN No. 63 Tahun 2003 Pelayanan publik

adalah pelayanan yang wajib diselenggarakan oleh negara untuk

pemenuhan kebutuhan dasar atau hak-hak dasar warga negara (publik).

Ada tiga jenis pelayanan publik

a. Pelayanan Barang

b. Pelayanan Administratif

c. Pelayanan Jasa

xxxiv
Pelayanan Kesehatan merupakan salah satu pelayanan jasa yang

penting untuk diperhatikan sesuai dengan tujuan dari pembangunan

Kesehatan yang tertuang dalam UU Kesehatan nomor 23 Tahun 1992,

masyarakat berhak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak

untuk meningkatkan derajat kesehatannya.

Sedangkan menurut sistem kesehatan Nasional rumah sakit

mempunyai fungsi utama menyediakan dan menyelenggarakan upaya

kesehatan yang bersifat penyembuhan dan pemulihan pasien. Akan tetapi

walaupun bersifat sosioekonomi namun diusahakan agar bisa mendapatkan

suatu keuntungan dengan cara pengelolaan yang profesional dengan

memperhatikan prinsip-prinsip ekonomi. Dan menurut Keputusan Menkes

RI Nomor 983/SK/Menkes/XI/92, rumah sakit umum mempunyai misi

memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh

masyarakat dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Begitu pula dengan RSUP Soeradji Tirtonegoro yang ada di Klaten

mempunyai kewajiban untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada

masyarakat tanpa membedakan kelas sosialnya, baik itu dari golongan

miskin ataupun dari golongan mampu maupun membedakan dari jenis

kelamin tertentu.

Ada dua jenis pelayanan yang diberikan rumah sakit :

1. Pelayanan Langsung

xxxv
Pelayanan langsung merupakan pelayanan yang berbentuk

pemeriksaan, pengobatan, perawatan, tindakan medis, tindakan

diagnotis serta tindakan penunjang medis.

2. Pelayanan tidak langsung

Pelayanan tidak langsung merupakan pelayanan yang berupa

pendukung kelancaran pelayanan langsung yaitu pelayanan

administratif. (Djojodibroto 1997:29)

Keseteraan gender dalam pelayanan kesehatan merupakan salah

satu aspek penting dalam pelayanan kesehatan. Pelayanan yang diterima

oleh pengguna layanan rumah sakit tentunya mendapatkan perlakuan yang

adil terhadap perempuan dan laki-laki. Pada penelitian ini akan melihat

pelayanan perawat yang dilakukan terhadap jenis kelamin tertentu dan

terhadap status sosial tertentu yang dimiliki oleh pasien baik itu dari

golongan miskin maupun dari golongan kaya.

8. Landasan Teori

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan paradigma definisi

sosial. Weber sebagai pemuka eksemplar dari paradigma ini mengartikan

sosiologi sebagai tindakan sosial antar hubungan sosial. Yang dimaksud

dengan tindakan sosial itu adalah tindakan individu sepanjang tindakannya

itu mempunyai makna atau arti subyektif bagi dirinya dan diarahkan

kepada tindakan orang lain. (Ritzer,1992:4)

xxxvi
Penelitian ini mengacu pada disiplin ilmu sosiologi. Sosiologi

menurut Pitirin Sorokin didefisinikan sebagai suatu ilmu yang

mempelajari:

1). Hubungan dan pengaruh timbal balik antara macam gejala-

gejala sosial (misalnya antara gejala ekonomi dengan agama,

keluarga dengan moral, hukum dengan ekonomi, gerak

masyarakat dengan politik, dan lain sebagainya).

2). Hubungan dan pengaruh timbal balik antara macam gejala-

gejala non sosial ( misalnya gejala geografis, biologis, dan

sebagainya)

3). Ciri-ciri semua jenis gejala sosial ( Soekanto,1990:21)

Secara umum, obyek kajian sosiologi adalah masyarakat yang

dilihat dari sudut hubungan antar manusia, dan proses yang timbul dari

hubungan antar manusia dengan masyarakat. Mac Iver dan Page

mengatakan bahwa masyarakat ialah suatu sistem dari kebiasaan dan tata

cara, dari wewenang dan kerjasama antar berbagai kelompok dan

penggolongannya, dari pengawasan tingkah laku serta kebebasan-

kebebasan manusia. Masyarakat merupakan jalinan hubungan sosial dan

mayarakat selalu berubah ( Soekanto,1990:21).

Secara definitif Max Weber merumuskan sosiologi sebagai ilmu

yang berusaha menafsirkan dan memahami (interpretative understanding)

tindakan sosial serta antar hubungan sosial untuk sampai kepada

penjelasan kausal. Dalam definisi ini terkandung dua konsep dasarnya :

xxxvii
pertama, konsep tindakan sosial, kedua konsep tentang penafsiran dan

pemahaman.

Bertolak dari konsep dasar tentang tindakan sosial dan antar

hubungan sosial itu, Weber mengemukakan lima ciri pokok yang menjadi

sasaran penelitian sosiologi yaitu :

1. Tindakan manusia, yang menurut si aktor mengandung makna

yang subyektif. Ini meliputi berbagai tindakan nyata.

2. Tindakan nyata , bersifat membatin sepenuhnya dan bersifat

subyektif.

3. Tindakan yang meliputi pengaruh positif dari situasi, tindakan

yang sengaja diulang serta tindakan dalam bentuk persetujuan

secara diam-diam.

4. Tindakan itu memperhatikan tindakan orang lain dan terarah

kepada orang lain itu. (Ritzer,1992:45)

Berdasarkan judul penelitian, peneliti menggunakan Action Theory

karya Max Weber. Beberapa asumsi dasar (fundamental) dikemukakan

oleh Hinkle dengan merujuk karya Mac Iver, Znaniecki, dan Parsons

sebagai berikut:

1) Tindakan manusia muncul dari kesadarannya sendiri sebagai

subyek dan dari situasi eksternal dalam posisinya sebagai obyek.

xxxviii
2) Sebagai subyek manusia bertindak atau berperilaku untuk

mencapai tujuan-tujuan tertentu. Jadi, tindakan manusia bukan tanpa

tujuan.

3) Dalam bertindak manusia menggunakan cara, teknik, prosedur,

metode serta perangkat yang diperkirakan cocok untuk mencapai

tujuan tersebut.

4) Kelangsungan tindakan manusia hanya dibatasi oleh kondisi yang

tidak dapat diubah dengan sendirinya.

5) Manusia memilih, menilai dan mengevaluasi terhadap tindakan

yang akan, sedang dan yang telah dilakukannya.

6) Ukuran-ukuran, aturan-aturan atau prinsip-prinsip moral

diharapkan timbul pada saat pengambilan keputusan.

7) Studi mengenai antar hubungan sosial memerlukan pemakaian

teknik penemuan yang bersifat subyektif seperti metode verstehen,

imajinasi atau simpatik rekonstruktion atau seakan-akan mengalami

sendiri (Ritzer, 2002:53-54).

Melalui rasionalitas sebagai konsep dasar Max Weber melakukan

klasifikasi mengenai tipe-tipe tindakan sosial:

1) Rasionalitas Instrumental (Zwerk Rasionalitas)

Tingkat rasionalitas yang tertinggi ini meliputi

pertimbangan dan pilihan yang sadar yang berhubungan dengan

tujuan tindakan itu dan alat yang diperlukan untuk mencapainya.

xxxix
Sesudah itu dilaksanakan orang dapat menentukan secara obyektif

sesuatu yang berhubungan dengan tujuan yang akan dicapai.

2) Rasionalitas yang Berorientasi Nilai (Werkrasionalitas)

Dibandingkan dengan rasional instrumental, sifat

rasionalitas yang berorientasi nilai yang penting adalah bahwa alat-

alat hanya merupakan obyek pertimbangan dan perhitungan yang

sadar, tujuan sudah ada dalam hubungannya dengan nilai-nilai

individu yang bersifat absolut atau merupakan nilai akhir baginya.

3) Tindakan Tradisional

Tindakan tradisional merupakan tipe tindakan sosial yang

bersifat non rasional. Weber melihat bahwa tipe tindakan ini

sedang hilang karena meningkatnya rasionalitas instrumental.

4) Tindakan Afektif

Tipe tindakan ini ditandai oleh dominasi perasaan atau

emosi tanpa refleksi intelektual atau perencanaan yang sadar.

(Johnson,1986:219-222)

9. Kerangka Analisis Gender

Untuk memberikan batasan dalam analisis, peneliti menggunakan

kerangka analisis gender dengan pendekatan relasi sosial. Pendekatan ini

dimaksudkan untuk menganalisis ketidakadilan gender yang ada dalam

distribusi sumber daya, tanggungjawab dan kekuasaan. Dalam pendekatan

ini ada 3 komponen analisis untuk menginterpretasikan realitas.

xl
a. Sasaran pembangunan sebagai kesejahteraan manusia

Dalam pendekatan ini, pembangunan didasarkan pada tujuan untuk

meningkatkan kesejahteraan manusia. Dalam hal pelayanan kesehatan,

peningkatan kualitas pelayanan kesehatan merupakan salah satu upaya

dalam mewujudkan tujuan tersebut.

b. Konsep relasi sosial

Relasi sosial menggambarkan hubungan secara struktural di

masyarakat yang menciptakan dan memproduksi perbedaan dalam

penempatan posisi seseorang di masyarakat. Konsep ini memberi

makna tentang kesadaran individu, peran dan tanggungjawab individu

serta hubungan antara individu dan masyarakat. Dalam konteks

penelititan ini, analisis ditekankan pada pemahaman informan tentang

relasi yang dibangun dalam dunia keperawatan baik dalam tataran

pembagian peran dan tanggungjawab.

c. Analisis institusional

Analisis institusional memberikan gambaran tentang distribusi

peran dan tanggungjawab yang dibangun dalam sebuah struktur

kelembagaan serta faktor-faktor apa yang berpengaruh terhadap struktur

kelembagaan yang dibangun. Dalam konteks penelitian ini, analisis

dilakukan terhadap struktur Bidang keperawatan yang ada di RSUD

Soeradji Tirtonegoro.

xli
F. METODE PENELITIAN

1. Jenis penelitian

Dalam penelitian ini menggunakan bentuk penelitian kualitatif

dengan tipe deskriptif. Metode kualitatif adalah prosedur penelitian yang

menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari

orang-orang dan perilaku yang dapat diamati. (Moleong, 2002:3 ).

Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif kualitatif,

karena penelitian ini dihasilkan data-data yang berupa kata-kata dan

pernyataan baik secara lisan maupun tulisan. Penelitian ini

mendeskripsikan tentang faktor-faktor yang melatarbelakangi pembagian

fungsi dan peran antara perawat laki-laki dan perawat perempuan di

Rumah Sakit dalam pelayanan Kesehatan. Dalam penelitian jenis ini,

peneliti berusaha menghimpun fakta dengan cermat tanpa berusaha

melakukan hipotesa.

2. Lokasi Penelitian

Penelitian ini mengambil lokasi di Kabupaten Klaten. Adapun

alasan pemilihan lokasi ini adalah:

a. Di RSUP Soradjie Tirtonegoro terdapat banyak jumlah perawat

perempuan daripada perawat laki-laki.

b. Rumah Sakit Soeradji Tirtonegoro adalah satu-satunya Rumah Sakit

umum Pemerintah rujukan bagi warga klaten untuk pelayanan

kesehatan.

xlii
c. Secara historis Klaten dekat dengan keraton baik itu Surakarta

maupun Jogjakarta berpengaruh terhadap Kebudayaan Jawa yang

kental dengan Budaya Patriarkhi, tentunya akan mempengaruhi

kehidupan masyarakat.

3. Jenis dan Sumber Data

Jenis sumber data yang akan dipergunakan dalam penelitian ini

meliputi :

a. Data Primer

Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya.

Jenis data primer yang dimanfaatkan dalam penelitian ini adalah

informasi tentang kesetaraan gender dalam pembagian tugas dan peran

perawat yang didapat dari perawat laki-laki dan perawat perempuan di

RS Soeradji Tirtonegoro Kabupaten Klaten.

Data hasil wawancara diperoleh dari informan sebagai berikut :

Key person: Endang Wuryaningsih ,AMK, S. Pd. K selaku kepala

bidang perawat RSUP Soeradji Tirtonegoro Klaten

Perawat Laki-Laki

Warsana

Joko Mulyono

Bapak Agus

Jarot

Perawat Perempuan

Ibu Puji

xliii
Ibu Tri Maryanti

Ibu Suyatun

Fitri Nuraini

Tatik Handayani

Sri Wahyudati

b. Data Sekunder

Data sekunder merupakan data yang diperoleh bukan secara langsung

dari sumbernya. Dalam penelitian ini sumber data sekunder yang kami

pilih adalah sumber tertulis seperti : buku mengenai perawat, masalah

gender dan sosiologi, majalah, arsip, dokumen, jurnal serta hasil

penelitian terdahulu yang relevan dengan masalah penelitian ini.

4. Teknik pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data adalah cara yang digunakan untuk

mendapatkan data dalam suatu penelitian. Untuk mendapatkan data

sepenuhnya dari lapangan, maka teknik pengumpulan data yang digunakan

dalam penelitian ini adalah :

a) Wawancara mendalam (in-dept interviewing)

Wawancara ini bersifat sangat lentur dan terbuka, pertanyaan yang

diajukan bisa semakin terfokus sehingga informasi yang dikumpulkan

semakin rinci dan mendalam. Kelonggaran dan kelenturan cara ini

akan mampu mengorek kejujuran informan untuk membeikan

informasi yang sebenarnya. Sehingga dari wawancara ini akan

diperoleh informasi yang akurat mengenai kesetaraan gender dalam

xliv
perawat, terutama yang berkaitan dengan sikap, pandangan dan

persepsi perawat mengenai peran dan tugasnya.

b) Dokumentasi

Teknik ini dilakukan untuk mengumpulkan data sekunder yang

bersumber dari dokumen, arsip, jurnal dan sebagainya yang terdapat di

perawat.

5. Teknik Pengambilan Sampel

Untuk pengambilan sampel digunakan tehnik purposive sampling.

Menurut Moleong (2002:165) bahwa purposive sampling mempunyai

maksud menjaring sebanyak mungkin informasi dari berbagai sumber

bangunannya dan untuk menggali informasi yang akan menjadi dasar dari

rancangan dan teori yang akan muncul.

Di dalam penelitian dengan purposive sampling dilakukan dengan

dua tahap, pertama mengidentifikasi seseorang yang akan kita angkat

sebagai informan yang memenuhi syarat tujuan penelitian sebagai key

person, yaitu Kepala Perawat yang dianggap paling mengerti tentang

kegiatan, tingkat kesejahteraan, akses, kontrol, kesadaran kritis dan

partisipasi pada masing-masing bagian perawat Rumah Sakit. Tahap kedua

adalah mewawancarai orang-orang yang telah disebut atau

direkomendasikan oleh informan pertama yang kemudian adalah sebagai

informan kedua dan seterusnya sesuai dengan kebutuhan.

xlv
6. Validitas Data

Ada 4 macam trianggulasi sebagai teknik pemeriksaan yang

memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyidik dan teori. Dalam

penelitian ini peneliti menggunakan teknik trianggulasi terhadap data

(sumber) yaitu dengan cara membandingkan dan mengecek balik derajat

kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang

berbeda dalam metode kualitatif (Patton,1987:331). Hal itu dapat dicapai

dengan jalan :

a. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.

b. Membandingkan apa yang dilakukan orang di depan umum dengan apa

yang dikatakan secara pribadi.

c. Membandingkan apa yang dikatakan orang tentang situasi penelitian

dengan apa yang dikatakannya sepanjang waktu.

d. Membandingkan keadaan dan perspektif seseorang dengan berbagai

pendapat dan pandangan orang seperti rakyat biasa, orang yang

berpendidikan menengah atau tinggi, orang berada maupun

pemerintah.

e. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang

berkaitan. Dengan tujuan yang terpenting adalah bisa mengetahui

adanya alasan-alasan terjadinya perbedaaan-perbedaaan bukan hanya

mengharapkan bahwa hasil perbandingan tersebut merupakan

kesamaan pandangan, pendapat dan pemikiran. (Lexy

Moleong,1998:195)

xlvi
7. Teknik Analisa Data

Analisis data dapat diartikan sebagai proses mengorganisasikan

dan menguraikan data ke dalam pola kategori dalam satu uraian dasar,

sehingga dapat ditemukan tema dan dirumuskannya hipotesa kerja yang

disarankan oleh data. Analisis data terdiri dari tiga komponen yang terjadi

dalam proses bersamaan, yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan

kesimpulan.

Model ini disebut dengan interactive model of analisis yang

digambarkan sebagai berikut.

Pengumpulan Data

Reduksi Data Penyajian Data

Penarikan Kesimpulan

Sumber: Analisis Data Kualitatif, Miles dan Huberman (UI-Press,1992)

Keterangan :

a. Reduksi Data

Proses seleksi, pemfokusan, penyederhanaan, pengabstrakan dan

transformasi data kasar yang muncul dari catatan tertulis lapangan.

Proses ini berlangsung terus sepanjang pelaksanaan penelitian yang

dimulai dari pengumpulan data dimulai. Reduksi data sudah dimulai

xlvii
sejak peneliti mengambil keputusan tentang kerangka kerja yang

dipakai. Pada saat data berlangsung, reduksi data dapat berupa

ringkasan, mengkode, memusatkan tema, membuat batasan penelitian,

maupun menulis memo. Proses reduksi data ini berlangsung sesudah

penelitian lapangan dan sampai laporan akhir penelitian ini selesai.

b. Penyajian Data

Penyajian data merupakan organisasi informasi yang

memungkinkan kesimpulan riset dapat dilakukan. Dengan melihat

suatu penyajian data, peneliti akan dapat mengerti apa yang terjadi dan

memungkinkan untuk mengerjakan sesuatu pada analisis ataupun

tindakan lain berdasarkan pengertian tersebut. Penyajian data dalam

hal ini meliputi berbagai macam matriks, skema, jaringan kerja,

keterikatan kegiatan dan tabel. Hal itu merupakan kegiatan yang

dirancang untuk merakit secara teratur agar mudah dilihat dan

dimengerti sebagai informasi yang lengkap dan saling mendukung.

c. Penarikan Kesimpulan

Dari pengumpulan data peneliti telah mengerti tentang apa arti dari

hal-hal temuan di lapangan dan mencatat keteraturan pola-pola, arahan

sebab-akibat. Namun demikian peniliti tidak terpancang secara kuat

terhadap hal-hal tersebut, tetap terbuka dan skeptis menuju pada

kesimpulan lebih jelas, rinci dan kokoh.

Dalam interactive model of analisis, tiga jenis kegiatan analisis dan

kegiatan pengumpulan data merupakan siklus dan interaktif. Peneliti

xlviii
bergerak di antara ke empat sumbu kumparan itu selama pengumpulan

data selanjutnya bergerak bolak-balik di antara kegiatan itu yaitu

reduksi, penyajian data dan penarikan kesimpulan.

xlix
BAB II

DESKRIPSI LOKASI

A. PROFIL KOTA KLATEN

1. Sejarah berdirinya Kota Klaten

Ada dua versi yang menyebut tentang asal muasal nama Klaten.

Versi pertama mengatakan bahwa Klaten berasal dari kata kelati atau buah

bibir. Kata kelati ini kemudian mengalami disimilasi menjadi Klaten.

Klaten sejak dulu merupakan daerah yang terkenal karena kesuburannya.

Versi kedua menyebutkan Klaten berasal dari kota Melati. Kata

Melati kemudian berubah menjadi Mlati. Berubah lagi jadi kata Klati,

sehingga memudahkan ucapan kata Klati berubah menjadi kata Klaten.

Versi ke dua ini atas dasar kata-kata orangtua sebagaimana dikutip dalam

buku Klaten dari Masa ke Masa yang diterbitkan Bagian Ortakala Setda

Kab. Dati II Klaten Tahun 1992/1993.

Melati adalah nama seorang kyai yang pada kurang lebih 560 tahun

yang lalu datang di suatu tempat yang masih berupa hutan belantara. Kyai

Melati Sekolekan, nama lengkap dari Kyai Melati, menetap di tempat itu.

Semakin lama semakin banyak orang yang tinggal di sekitarnya, dan

daerah itulah yang menjadi Klaten yang sekarang.

Dukuh tempat tinggal Kyai Melati oleh masyarakat setempat lantas

diberi nama Sekolekan. Nama Sekolekan adalah bagian darinama Kyai

l
Melati Sekolekan. Sekolekan kemudian berkembang menjadi Sekalekan,

sehingga sampai sekarang nama dukuh itu adalah Sekalekan. Di Dukuh

Sekalekan itu pula Kyai Melati dimakamkan.

Kyai Melati dikenal sebagai orang berbudi luhur dan lagi sakti.

Karena kesaktiannya itu perkampungan itu aman dari gangguan perampok.

Setelah meninggal dunia, Kyai Melati dikuburkan di dekat tempat

tinggalnya.

Menurut versi dari beberapa kalangan daerah Kabupaten Klaten

semula adalah bekas daerah swapraja [Surakarta]. Kasunanan Surakarta

terdiri dari beberapa daerah yang merupakan suatu kabupaten. Setiap

kabupaten terdiri atas beberapa distrik. Susunan penguasa kabupaten

terdiri dari Bupati, Kliwon, Mantri Jaksa, Mantri Kabupaten, Mantri

Pembantu, Mantri Distrik, Penghulu, Carik Kabupaten angka 1 dan 2,

Lurah Langsik, dan Langsir.

Susunan penguasa Distrik terdiri dari Pamong Distrik (1 orang),

Mantri Distrik (5), Carik Kepanawon angka 1 dan 2 (2 orang), Carik

Kemanten (5 orang), Kajineman (15 orang).

Pada zaman penjajahan Belanda, tahun 1749, terjadi perubahan

susunan penguasa di Kabupaten dan di Distrik. Untuk Jawa dan Madura,

semua propinsi dibagi atas kabupaten-kabupaten, kabupaten terbagi atas

distrik-distrik, dan setiap distrik dikepalai oleh seorang wedono.

Pada tahun 1847 bentuk Kabupaten diubah menjadi Kabupaten

Pulisi. Maksud dan tujuan pembentukan Kabupaten Pulisi adalah di

li
samping Kabupaten itu menjalankan fungsi pemerintahan, ditugaskan pula

agar dapat menjaga ketertiban dan keamanan dengan ditentukan batas-

batas kekuasa wilayahnya.

Berdasarkan Nawala [[Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng

Susuhunan Pakubuwana Senopati Ing Alaga Abdul Rahman Sayidin

Panata Gama VII]], Senin Legi 23 Jumadikir Tahun Dal 1775 atau 5 Juni

1847 dalam bab 13 disebutkan :

“……………………………….” KratonDalam [[Surakarta]]

Adiningrat Nganakake Kabupaten cacah enem.

“………………………………” Kabupaten cacah enem iku Nagara

[[Surakarta]], [[Kartosuro]], [[Klaten]], [[Boyolali]], [[Ampel]], lan

[[Sragen]].

“………………………………” Para Tumenggung kewajiban

rumeksa amrih tata tentreme bawahe dhewe-dhewe serta padha kebawah

marang Raden Adipati.

Sampai sekarang sejarah kota Klaten masih menjadi silang

pendapat. Belum ada penelitian yang dapat menyebutkan kapan persisnya

kota Klaten berdiri. Selama ini kegiatan peringatan tentang Klaten diambil

dari hari jadi pemerintah Kab Klaten, yang dimulai dari awal terbentuknya

pemerintahan daerah otonom tahun 1950.

2. Demografi Kota Klaten

Secara geografis Kabupaten Klaten terletak diantara 110o30'-

110o45' Bujur Timur dan 7o30'-7o45’ Lintang Selatan. Kota Klaten berada

lii
pada dataran rendah dengan didukung banyaknya sumber mata air maka

daerah Kabupaten Klaten merupakan daerah pertanian yang potensial

disamping penghasil Kapur,. Batu kali dan pasir yang berasal dari Gunung

Merapi.

Ditinjau dari ketinggiannya, wilayah kabupaten Klaten terdiri dari

dataran dan pegunungan, dan berada dalam ketinggian yang bervariasi,

yaitu 3,72% terletak di ketinggian 0-100 meter dari permukaan air laut.

77,52% terletak di ketinggian 100-500 meter dari permukaan air laut dan

12,76% terletak di ketinggian 500-1000 meter dari permukaan air laut.

Keadaan iklim Kabupaten Klaten termasuk iklim tropis dengan

musim hujan dan kemarau silih berganti sepanjang tahun, temperatur

udara rata-rata 28-30o Celsius dengan kecepatan angin rata-rata sekitar 153

mm setiap bulannya dengan curah hujan tertinggi bulan Januari (350mm)

dan curah hujan terrendah bulan Juli (8mm).

Adapun batas-batas wilayah kota klaten adalah :

Sebelah Utara : Kabupaten Boyolali

Sebelah Timur : Kabupaten Sukoharjo

Sebelah Selatan : Kabupaten Gunung Kidul (DI Yogyakarta )

Sebelah Barat : Kabupaten Sleman (DI Yogyakarta )

Luas Wilayah Kota Klaten sebesar 655,56 kilometer persegi yang

terbagi dalam 26 kecamatan, 401 kelurahan, dengan rata-rata kepadatan

1.955 jiwa per kilometer persegi. Dari 26 Kecamatan yang ada, jumlah

liii
penduduk terbesar berada di wilayah kecamatan Trucuk 79.198 jiwa per

kilometer persegi. Sedangkan wilayah dengan kepadatan penduduk

terpadat adalah Klaten Tengah dengan rata-rata kepadatan penduduk

sebesar 4.860 jiwa perkilo meter persegi. Tabel di bawah ini

memperlihatkan kepadatan penduduk kota Klaten tahun 2004.

Tabel 2.1 Tingkat Kepadatan Penduduk Kota Klaten

KECAMATAN Luas Jumlah Jumlah Rata-Rata Rata-rata


Wilayah Desa Penduduk Penduduk Penduduk
per Desa PerKm2
Prambanan 24,43 16 45.583 2.849 1.866
Gantiwarno 25.64 16 40.494 2.531 1.579
Wedi 24.38 19 54.887 2.889 2.251
Bayat 39.43 18 63.798 3.544 1.618
Cawas 34.47 20 64.695 3.235 1.877
Trucuk 38.81 18 79.198 4.400 2.342
Kali Kotes 12.98 7 36.520 5.217 2.814
Kebonarum 9.67 7 21.206 3.029 2.193
Jogonalan 26.70 18 57.368 3.187 2.149
Manisrenggo 26.96 16 41.197 2.575 1.528
Karangnongko 26.74 14 38.046 2.718 1.423
Ngawen 16.97 14 43.734 3.364 2.577
Ceper 24.45 13 63.447 3.525 2.595
Pedan 19.17 18 47.836 3.417 2.495
Karang dowo 29.23 14 51.659 2.179 1.767
Juwiring 29.70 19 61.436 3.233 2.062
Wonosari 31.14 18 61.609 3.428 1.981
Delanggu 18.78 16 44.381 2.774 2.363
Polanharjo 23.84 18 45.458 2.525 1.907
Karanganom 24.06 19 49.075 2.583 2.040
Tulung 32.00 18 54.659 3.037 1.708
Jatinom 35.53 18 56.811 3.156 1.599
Kemalang 51.66 13 34.772 2.675 673
Klaten Selatan 14.43 12 40.226 3.352 2.787
Klaten Tengah 8.92 9 43.355 4.817 4.860
Klaten Utara 10.38 8 40.252 5.032 3.878
Jumlah 655.56 401 1.281.786 3.196 1.955
Sumber : Kota Klaten dalam Angka 2004, BPS Kota Klaten

liv
Tabel 2.2 Penduduk Kota Klaten menurut jenis Kelamin :

KECAMATAN Dewasa Jumlah Anak Jumlah


Laki- Perempuan Laki- Perempuan
Laki laki
Prambanan 16.173 18.011 34.184 5.770 5.629 11.399
Gantiwarno 14.339 16.744 31.083 4.673 4.738 9.411
Wedi 19.619 21.687 41.306 6.826 6.755 13.581
Bayat 23.084 24.757 47.841 8.054 7.903 15.957
Cawas 24.318 25.946 50.264 7.636 6.896 14.431
Trucuk 28.850 30.022 58.872 10.497 9.829 20.326
Kali Kotes 13.065 13.836 26.901 4.826 4.793 9.619
Kebonarum 7.684 8.675 16.359 2.463 2.384 4.847
Jogonalan 21.202 22.208 43.410 7.197 6.761 13.958
Manisrenggo 14.814 16.428 31.242 4.958 4.997 9.955
Karangnongko 13.611 15.089 28.700 4.825 4.521 9.346
Ngawen 16.302 17.092 33.394 5.249 5.091 10.340
Ceper 23.238 24.603 47.841 7.957 7.649 15.606
Pedan 17.832 18.880 36.712 5.729 5.395 11.124
Karang dowo 18.895 20.514 39.409 6.308 3.492 12.250
Juwiring 22.206 24.017 46.223 7.702 7.511 15.213
Wonosari 21.884 24.584 46.468 7.719 7.512 15.231
Delanggu 16.608 17.691 34.299 5.329 4.753 10.982
Polanharjo 16.774 18.129 34.903 5.140 5.145 10.555
Karanganom 18.043 19.461 37.504 5.925 5.646 11.571
Tulung 19.843 21.224 41.067 7.008 6.584 13.592
Jatinom 20.175 22.116 42.291 7.393 7.127 14.520
Kemalang 12.539 13.365 25.904 4.449 4.419 8.868
Klaten Selatan 14.455 15.935 30.390 5.154 4.676 9.830
Klaten Tengah 15.910 17.366 32.276 5.167 4.912 10.079
Klaten Utara 14.622 15.844 30.466 4.965 4.821 9.786
Jumlah 466.085 504.224 970.309 159.088 152.389 311.477
Sumber : Kota Klaten dalam Angka 2004, BPS Kota Klaten

Jumlah Penduduk Kota Klaten pada tahun 2004 adalah 1.281.786

jiwa terdiri dari 625.173 jiwa laki-laki dan 656.613 jiwa perempuan. Sex

rationya 95,21% yang berarti setiap 100 orang perempuan terdapat 95

orang laki-laki.

lv
Tabel 2.3 Pegawai Pemerintah Kabupaten Klaten Menurut Unit Kerja Dan Jenis

Kelamin Tahun 2007 :

Bagian/Dinas/Kantor Jenis Kelamin Jumlah


Jumlah Laki- Perempuan
laki
Badan Pengawasan Daerah 38 9 47
Badan Perencanaan Daerah 39 9 48
Badan Kepegawaian Daerah 43 16 59
BKD 40 31 71
Dinas Pekerjaan umum 428 32 460
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan 5.783 6.392 12.130
Dipertan dan Ketahanan Pangan 234 84 318
Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi 63 40 103
Diperindag, koperasi dan PNMD 93 36 129
Dispenda 95 45 140
Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial 456 837 1293
Sekretariat Daerah 5 0 5
Sekretariat DPRD 31 7 38
Kantor Informasi dan Kehumasan 33 12 45
Kantor Arsip dan Perpustakaan 12 13 25
Kantor Lingkungan Hidup 11 4 15
Kantor Satpol PP 47 3 50
Kantor Pemberdayaan masyarakat 20 11 31
Kantor Kesbanglinmas 26 10 36
Kantor Perhubungan 42 6 48
Kantor Pariwisata 21 14 35
Kantor Pengelolaan Pasar 143 19 162
Jumlah 7.703 7.630 15.288
Sumber : Kota Klaten dalam Angka 2007, BPS Kota Klaten

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa perbandingan pegawai

pemerintah dalam dinas kesehatan dan kesejahteraan sosial masih

didominasi oleh jenis kelamin perempuan sebesar 837 (65%) dibanding

dengan jenis kelamin laki-laki yang hanya sebesar 456 (35%).

lvi
B. PROFIL RUSP Dr. SOERADJI TIRTONEGORO

1. Sejarah berdirinya RSUP Dr. Soradji Tirtonegoro

Rumah sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Soeradji Tirtonegoro

didirikan pada tanggal 20 Desember 1927, secara bersama-sama oleh

perkebunan-perkebunan (onderming) milik pemerintah Belanda yang

terdiri dari perkebunan Tembakau, tebu dan rami. Saat itu Rumah Sakit

tersebut dinamakan Dr. SCHEURER HOSPITAL dikelola oleh Zending

Kristen yang antara lain bergerak di bidang kesejahteraan umat. Rumah

Sakit itu dipimpin oleh Dr. Bakker.

Pada Tahun 1942 wilayah Indonesia dikuasai Jepang, dengan

demikian Dr. SCHEURER HOSPITAL juga dikuasai oleh Jepang. Selama

dikuasai oleh Jepang rumah Sakit ini dipimpin oleh Dr. Maeda dan Dr.

Suruta . Setelah Jepang kalah pada tahun 1945, rumah sakit ini di bawah

penguasaan Pemerintah Republik Indonesia dan nama Rumah Sakit

diganti menjadi Rumah Sakit Umum Tegalyoso Klaten, dipimpin oleh Dr.

Soenoesmo. Nama Rumah Sakit diambil dari nama desa dimana rumah

sakit ini berkedudukan yaitu Desa Tegalyoso.

Dalam Masa Peralihan dari Rumah Sakit di bawah pengelolaan

Zending menjadi Rumah Sakit Pemerintah RI masih terdapat beberapa

tenaga dokter asing antara lain Dr. Horner dan Dr. Bakker Yunior. Selama

masa itu semua karyawan RSU Tegalyoso Klaten diberi kesempatan untuk

memilih, tetap bekerja di RSU Tegalyoso untuk kemudian diangkat

lvii
menjadi Pegawai Negeri atau pindah ke rumah sakit Zending yang lain

yaitu RS Bethesda Yogyakarta atau RS jebres Surakarta.

Pada tahun 1952 Dr. Soenoesmo meninggal dunia karena sakit

setelah menjalani operasi appendicitis. Sebagai pengganti pimpinan RSU

Tegalyoso Klaten ditunjuk Dr. Horner didampingi oleh Dr. Bakker

Yunior.

Mulai tahun 1953 RSU Tegalyoso dipimpin oleh Dr. Soepaat

Soemosoedirijo dan sejak tahun 1945 RSU Tegalyoso Klaten secara penuh

telah dikelola oleh departemen Kesehatan RI dan disebut sebagai Rumah

Sakit Umum Pusat Tegalyoso Klaten.

Selama Kurun waktu yang panjang dan setelah melalui berbagai

perubahan kearah manajemen rumah sakit yang sesuai dengan

perkembangan jaman, maka berdasarkan SK Menteri Kesehatan RI No.

1442A/Menkes/SK/XII/1997 tertanggal 20 Desember 1997 nama RSUP

Tegalyoso berganti nama menjadi RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro. Dr.

Soeradji Tirtonegoro merupakan salah satu tokoh pergerakan pada

perkumpulan BOEDI Oetomo dan mengabdi sebagai Dokter di Wilayah

klaten.

a. Profil

1) Nama Rumah Sakit : RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro

2) Alamat : Jl. Dr. RT Soeradji Tirtonegoro No 1

Klaten Jawa Tengah

3) Tanggal Berdiri : 20 Desember 1927

lviii
4) Luas Lahan : 50.572 meter persegi

5) Jumlah Jenis Layanan : 20 jenis

6) Jumlah SDM : 764 orang

b. Visi

Visi Rumah Sakit Soeradji Tirtonegoro adalah :

Menjadi Rumah Sakit yang berkualitas dan mandiri dalam pelayanan,

pendidikan, dan penelitian dalam bidang kesehatan tingkat nasional

c. Misi :

1. Menyelenggarakan pelayanan Kesehatan paripurna, berkualitas dan

terjangkau.

2. Menyelenggarakan pendidikan, pelatihan, penelitian dan

pengembangan ilmu bidang kesehatan dengan standar mutu yang

tinggi.

3. Mewujudkan kepuasan pelanggan untuk mencapai kemandirian

rumah sakit.

4. Meningkatkan kesejahteraan karyawan.

d. Tugas dan Fungsi

1. Tugas Pokok

Tugas pokok RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro adalah melaksanakan

upaya kesehatan secara berdaya guna dan berhasil guna dengan

mengutamakan upaya penyembuhan dan pemulihan yang

dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan

dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan.

lix
2. Fungsi

RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten mempunyai tugas pokok

sebagaimana tersebut di atas karena Rumah Sakit berfungsi sebagai

a. Menyelenggarakan Pelayanan Medis.

b. Menyelenggarakan pelayanan Penunjang Medis & Non Medis

c. Menyelenggarakan Pelayanan dan asuhan Keperawatan

d. Menyelenggarakan pelayanan rujukan

e. Menyelenggarakan pendidikan dan Pelatihan

f. Menyelenggarakan Penelitian dan Pengembangan

g. Menyelenggarakan Administrasi dan Pengembangan

e. Tujuan

1. Tercapainya produk pelayanan Kesehatan yang berkualitas unggul

sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

2. Terselenggaranya pendidikan, pelatihan dan pengembangan

sehingga dihasilkan SDM yang profesional dan mampu melakukan

penapisan ilmu pengetahuan dan teknologi kedokteran.

3. Terwujudnya kepuasan seluruh pelanggan dengan pengelolaan

yang efektif dan efisien.

4. Terwujudnya peningkatan kesejahteraan karyawan.

f. Keyakinan Dasar dan Nilai Dasar

1. Keyakinan Dasar

a. Karyawan yang berkualitas dan berkomitmen tinggi kepada

Rumah sakit adalah aset yang paling berharga

lx
b. Kepuasan dan kesetiaan pasien adalah dasar kelangsungan

hidup rumah sakit

c. Mutu pelayanan rumah sakit sebagai pengikat kesetiaan

pelanggan

d. Kebersamaan adalah Kunci utama dalam mencapai kesuksesan.

2. Nilai Dasar

a. Jujur dan Ikhlas

b. Integritas

c. Keterbukaan

d. Profesionalisme

e. Kerendahatian

f. Kerja cerdas

g. Kesediaan untuk melayani

h. Melayani adalah Ibadah

g. Motto

BERSIH NYAMAN DAN AKURAT

h. Kebijakan Mutu

RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro berkomitmen selalu menerapkan

Pelayanan Prima untuk kepuasaan customer.

2. Fasilitas pelayanan RSUP dr. Soeradji tirtonegoro

a) Fasilitas Pelayanan Rawat Jalan

1) Poliklinik Spesialis Bedah

2) Poliklinik Spesialis Bedah Orthophedi

lxi
3) Poliklinik Spesialis Penyakit Dalam

4) Poliklinik Spesialis Anak

5) Poliklinik Bayi Sehat Tumbuh Kembang

6) Poliklinik Spesialis Kebidanan dan Kandungan

7) Poliklinik USG

8) Poliklinik Spesialis THT

9) Poliklinik Spesialis Mata

10) Poliklinik Spesialis Syaraf

11) Poliklinik Spesialis Paru-paru

12) Poliklinik Spesialis Kulit dan Kelamin

13) Poliklinik Spesialis Rehabilitasi Medik

14) Poliklinik Gigi Mulut & Spesialisasi Orthodonsi

15) Poliklinik Pemeriksaan Kesehatan

16) Konsultasu Konsultasi Psikologi

17) Poliklinik Konsultasi Gizi

18) Poliklinik Poliklinik Umum

19) Poliklinik Spesialis sore

20) Poliklinik Cendana

Poliklinik Cendana yaitu Poliklinik yang menyediakan waktu/jam

pelayanan poliklinik berdasarkan pada kesempatan /perjanjian antara

pasien dengan dokter. Tempat pendaftarannya di Poliklinik Cendana

atau bisa melalui Telpon (0272) 321103.

lxii
b) Fasilitas Pelayanan Rawat Inap

1. Tersedia sejumlah 306 tempat tidur, terdiri dari :

VIP/Instalasi Cendana : 41 TT

Kelas I : 17 TT

Kelas II : 64 TT

Kelas III : 184 TT

2. Ruang ICU / Instalasi Rawat Intensif

3. Ruang NICU/ PICU (Neonatal Intensive Care Unit/ Pediatric

Intensive Care Unit )

c) Fasilitas Pelayan Penunjang

1) Instalasi Rawat Darurat : 24 Jam

2) Radiologi

3) Laboratorium

4) Farmasi

5) Ambulance

6) Instalasi bedah Sentral

7) Pelayanan Bedah Sehari

8) Unit Hemodialisis

9) Unit CT Scanner

10) Pemularasan Jenazah

11) Rehabilitasi Medik

12) Instalasi Gizi

13) Instalasi Pemeliharaan Rumah Sakit

lxiii
14) Instalasi Tu Rawat Pasien

15) Kamtib

16) Pengelolaan Air Limbah

17) Telepon, hunting System dan akses ke setiap ruang/satuan kerja

18) Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit terintregasi

19) Kasir

20) Email : rsdst @ indosat.net.id

d) Fasilitas Pelayanan Unggulan

Klinik Kosmetik Medik (Kecantikan) dan Orthodonsi (Gigi)

Pengembangan dan Penambahan Fasilitas Pelayanan Tahun 2004

- Penambahan peralatan CT Scanner

- Hemodialisis (cuci darah)

- Pelayanan Poliklinik VIP

- Pembangunan tahap I gedung Instalasi Rawat Darurat

3. Organisasi RSUP DR. Soeradji Tirtonegoro

Susunan organisasi RSUP terdiri atas :

a. Direktur

b. Wakil Direktur Pelayanan

c. Wakil Direktur Umum dan Keuangan

d. Bidang Pelayanan

e. Bidang Keperawatan

f. Bagian Sekretariat

g. Bagian Perencenaan dan Informasi

lxiv
h. Bagian Keuangan

i. Komite Medis dan Staf Medis Fungsional

j. Satuan Pengawas Intern

k. Instalasi-Instalasi

Tabel 2.4 DATA KETENAGAAN RSUP Dr. SOERADJI TIRTONEGORO


KLATEN

NO. Kualifikasi Tahun 2005 Tahun 2006 Tahun 2007


Pendidikan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Jenis Kelamin
/Profesi L P L P L P
I Tenaga Medik
1 Dokter PTT 2 2 -
2 Dokter Umum 5 4 9 10 3
3 Dr. Sp. Bedah 3 2 1 3
4 Dr. Sp.Penyakit 3 3 3
Dalam
5 Dr. Sp.Kes. Anak 4 1 3 1 3
6 Dr. Sp.Obsgyn 2 1 3 2 1
7 Dr. Sp.Radiologi 1 1 2 2
8 Dr. Sp.Anaestesi 1 1 1
9 Dr. Sp.Patologi 1 1 1
Klinik
10 Dr. Sp.Mata 2 2 1 1
11 Dr. Sp.THT 2 1 1 1 1
12 Dr. Sp.Kulit dan 1 2 2
Kelamin
13 Dr. Sp.Paru 1 1 1
14 Dr. Sp.Syaraf 1 2 2
15 Dr. Sp. Bedah 1 1 1
Ortoapedi
16 Dr. Sp.Putologi 1 1 1
Anatomi
17 Dr. 1 1 1
Sp.Rehabilitasi
Medik
18 Dr. 1 1 1
Sp.Orthodhonsi
19 Dr. Sp.Lainnya - - - 4 1
20. Dr. Sp.Gigi - - - 1

lxv
21. Dr. MHA/MARS - - - -
Jumlah Tenaga Medik 38 8 15 32 40 9
II Jumlah Psikolog 1 1 2 2
III Jumlah Apotheker 1 3 1 3 4
IV Jumlah Tenaga 45 38 43 53 27 50
Paramedik non
Keperawatan
V Jumlah Tenaga Perawat 120 105 122 169 127 247
VI Jumlah Tenaga Bidan 2 30 3 25 1 24

VII Jumlah Tenaga Non 130 100 124 101 115 103
Medik
VIII Jumlah Tenaga 10 46 15 60 23 60
Kontrak/Honorer

C. KODE ETIK KEPERAWATAN INDONESIA

Kode etik adalah pernyataan standar profesional yang digunakan sebagai

pedoman perilaku dan menjadi kerangka kerja untuk membuat keputusan.

Aturan yang berlaku untuk seorang perawat Indonesia dalam

melaksanakan tugas/fungsi perawat adalah kode etik perawat nasional Indonesia,

dimana seorang perawat selalu berpegang teguh terhadap kode etik sehingga

kejadian pelanggaran etik dapat dihindarkan.

1. KODE ETIK KEPERAWATAN INDONESIA :

a. Perawat dan Klien

1) Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan menghargai

harkat dan martabat manusia, keunikan klien dan tidak terpengaruh

oleh pertimbangan kebangsaan, kesukuan, warna kulit, umur, jenis

kelamin, aliran politik dan agama yang dianut serta kedudukan

sosial.

lxvi
2) Perawat dalam memberikan pelayanan keperawatan senantiasa

memelihara suasana lingkungan yang menghormati nilai-nilai

budaya, adat istiadat dan kelangsungan hidup beragama klien.

3) Tanggung jawab utama perawat adalah kepada mereka yang

membutuhkan asuhan keperawatan.

4) Perawat wajib merahasiakan segala sesuatu yang dikehendaki

sehubungan dengan tugas yang dipercayakan kepadanya kecuali

jika diperlukan oleh yang berwenang sesuai dengan ketentuan

hukum yang berlaku.

b. Perawat dan praktek

1) Perawat memelihara dan meningkatkan kompetensi dibidang

keperawatan melalui belajar terus-menerus

2) Perawat senantiasa memelihara mutu pelayanan keperawatan yang

tinggi disertai kejujuran profesional yang menerapkan pengetahuan

serta ketrampilan keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien.

3) Perawat dalam membuat keputusan didasarkan pada informasi yang

akurat dan mempertimbangkan kemampuan serta kualifikasi

seseorang bila melakukan konsultasi, menerima delegasi dan

memberikan delegasi kepada orang lain .

4) Perawat senantiasa menjunjung tinggi nama baik profesi

keperawatan dengan selalu menunjukkan perilaku profesional.

lxvii
c. Perawat dan masyarakat

Perawat mengemban tanggung jawab bersama masyarakat untuk

memprakarsai dan mendukung berbagai kegiatan dalam memenuhi

kebutuhan dan kesehatan masyarakat.

d. Perawat dan teman sejawat

1) Perawat senantiasa memelihara hubungan baik dengan sesama

perawat maupun dengan tenaga kesehatan lainnya, dan dalam

memelihara keserasian suasana lingkungan kerja maupun dalam

mencapai tujuan pelayanan kesehatan secara keseluruhan.

2) Perawat bertindak melindungi klien dari tenaga kesehatan yang

memberikan pelayanan kesehatan secara tidak kompeten, tidak etis

dan ilegal.

e. Perawat dan Profesi

1) Perawat mempunyai peran utama dalam menentukan standar

pendidikan dan pelayanan keperawatan serta menerapkannya

dalam kegiatan pelayanan dan pendidikan keperawatan

2) Perawat berperan aktif dalam berbagai kegiatan pengembangan

profesi keperawatan

3) Perawat berpartisipasi aktif dalam upaya profesi untuk membangun

dan memelihara kondisi kerja yang kondusif demi terwujudnya

asuhan keperawatan yang bermutu tinggi.(Nursalam 2001:12)

lxviii
2. PRINSIP-PRINSIP ETIKA KEPERAWATAN

a. Otonomi (Autonomy)

Prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan bahwa individu

mampu berpikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri. Orang

dewasa dianggap kompeten dan memiliki kekuatan membuat sendiri,

memilih dan memiliki berbagai keputusan atau pilihan yang harus

dihargai oleh orang lain. Prinsip otonomi merupakan bentuk respek

terhadap seseorang, atau dipandang sebagai persetujuan tidak

memaksa dan bertindak secara rasional. Otonomi merupakan hak

kemandirian dan kebebasan individu yang menuntut pembedaan diri.

Praktek profesional merefleksikan otonomi saat perawat menghargai

hak-hak klien dalam membuat keputusan tentang perawatan dirinya.

b. Berbuat baik (Beneficience)

Beneficience berarti, hanya melakukan sesuatu yang baik.

Kebaikan, memerlukan pencegahan dari kesalahan atau kejahatan,

penghapusan kesalahan atau kejahatan dan peningkatan kebaikan oleh

diri dan orang lain. Terkadang, dalam situasi pelayanan kesehatan,

terjadi konflik antara prinsip ini dengan otonomi.

c. Keadilan (Justice)

Prinsip keadilan dibutuhkan untuk terpai yang sama dan adil

terhadap orang lain yang menjunjung prinsip-prinsip moral, legal dan

kemanusiaan. Nilai ini direfleksikan dalam prkatek profesional ketika

lxix
perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktek

dan keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan

kesehatan.

d. Tidak merugikan (Nonmaleficience)

Prinsip ini berarti tidak menimbulkan bahaya/cedera fisik dan

psikologis pada klien.

e. Kejujuran (Veracity)

Prinsip veracity berarti penuh dengan kebenaran. Nilai ini

diperlukan oleh pemberi pelayanan kesehatan untuk menyampaikan

kebenaran pada setiap klien dan untuk meyakinkan bahwa klien sangat

mengerti. Prinsip veracity berhubungan dengan kemampuan seseorang

untuk mengatakan kebenaran. Informasi harus ada agar menjadi

akurat, komprensensif, dan objektif untuk memfasilitasi pemahaman

dan penerimaan materi yang ada, dan mengatakan yang sebenarnya

kepada klien tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan

keadaan dirinya selama menjalani perawatan. Walaupun demikian,

terdapat beberapa argument mengatakan adanya batasan untuk

kejujuran seperti jika kebenaran akan kesalahan prognosis klien untuk

pemulihan atau adanya hubungan paternalistik bahwa ”doctors knows

best” sebab individu memiliki otonomi, mereka memiliki hak untuk

mendapatkan informasi penuh tentang kondisinya. Kebenaran

merupakan dasar dalam membangun hubungan saling percaya.

lxx
f. Menepati janji (Fidelity)

Prinsip fidelity dibutuhkan individu untuk menghargai janji dan

komitmennya terhadap orang lain. Perawat setia pada komitmennya

dan menepati janji serta menyimpan rahasia klien. Ketaatan, kesetiaan,

adalah kewajiban seseorang untuk mempertahankan komitmen yang

dibuatnya. Kesetiaan, menggambarkan kepatuhanperawat terhadap

kode etik yang menyatakan bahwa tanggung jawab dasar dari perawat

adalah untuk meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit,

memulihkan kesehatan dan meminimalkan penderitaan.

g. Karahasiaan (Confidentiality)

Aturan dalam prinsip kerahasiaan adalah informasi tentang klien

harus dijaga privasi klien. Segala sesuatu yang terdapat dalam

dokumen catatan kesehatan klien hanya boleh dibaca dalam rangka

pengobatan klien. Tidak ada seorangpun dapat memperoleh informasi

tersebut kecuali jika diijinkan oleh klien dengan bukti persetujuan.

Diskusi tentang klien diluar area pelayanan, menyampaikan pada

teman atau keluarga tentang klien dengan tenaga kesehatan lain harus

dihindari.

h. Akuntabilitas (Accountability)

Akuntabilitas merupakan standar yang pasti bahwa tindakan

seorang profesional dapat dinilai dalam situasi yang tidak jelas atau

tanpa terkecuali. (Verne Wolf dkk,1984:210)

lxxi
BAB III

PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT

BERPERSPEKTIF GENDER

A. PELAYANAN KESEHATAN DI MASYARAKAT

Menurut KepMen PAN No. 63 Tahun 2003 Pelayanan publik adalah

pelayanan yang wajib diselenggarakan oleh negara untuk pemenuhan

kebutuhan dasar atau hak-hak dasar warga negara (publik). Ada tiga jenis

pelayanan publik

a. Pelayanan Barang

b. Pelayanan Administratif

c. Pelayanan Jasa

Pelayanan Kesehatan merupakan salah satu pelayanan jasa yang

penting untuk diperhatikan sesuai dengan tujuan dari pembangunan Kesehatan

yang tertuang dalam UU Kesehatan nomor 23 Tahun 1992, masyarakat berhak

untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak untuk meningkatkan

derajat kesehatannya.

Ada dua jenis pelayanan yang diberikan rumah sakit. Pertama,

Pelayanan Langsung, Yakni pelayanan yang berbentuk pemeriksaan,

pengobatan, perawatan, tindakan medis, tindakan diagnotis serta tindakan

penunjang medis. Kedua, Pelayanan tidak langsung, yang merupakan

pelayanan berupa pendukung kelancaran pelayanan langsung yaitu pelayanan

administratif. (Djojodibroto 1997:29)

lxxii
Menurut sistem Kesehatan Nasional, Rumah Sakit mempunyai fungsi

utama menyediakan dan menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat

penyembuhan dan pemulihan pasien. Akan tetapi walaupun bersifat

sosioekonomi namun diusahakan agar bisa mendapatkan suatu keuntungan

dengan cara pengelolaan yang profesional dengan memperhatikan prinsip-

prinsip ekonomi. Keputusan Menkes RI Nomor 983/SK/Menkes/XI/92

menyebutkan bahwa rumah sakit umum mempunyai misi memberikan

pelayanan kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat dalam

rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Sistim Kesehatan Nasional (SKN) juga menyebutkan bahwa :"Upaya

kesehatan, termasuk upaya kesehatan di rumah sakit harus bersifat

menyeluruh, terpadu, merata, dapat diterima dan dapat dijangkau oleh

masyarakat luas. Untuk itu perlu digunakan hasil pengembangan ilmu

pengetahuan serta teknologi tepat guna, dengan biaya yang dapat dipikul oleh

pemerintah dan masyarakat luas, tanpa mengabaikan mutu pelayanan kepada

perorangan".

Kriteria mutu pelayanan dalam hal ini tidaklah semata-mata didasarkan

pada mutu pengobatan dan tindakan medis yang dilakukan saja, tetapi juga

menyangkut aspek-aspek sosio-ekonomi seperti keterjangkauan biaya,

perhatian pada kebutuhan pelayanan individual pasien, dan kemampuan

pemerintah dalam menunjang pembiayaan.

Agar penyelenggaraan pelayanan kesehatan dapat mencapai tujuan

yang diinginkan maka pelayanan harus memenuhi berbagai syarat, di

lxxiii
antaranya : tersedia (available), wajar (appropriate), berkesinambungan

(continue), dapat diterima (acceptable), dapat dicapai (accesible), dapat

dijangkau (affordable), serta bermutu (quality).

Kesemua syarat tersebut sama pentingnya dan pada akhir-akhir ini

upaya meningkatkan mutu pelayanan semakin mendapat perhatian yang lebih

besar. Hal ini mudah dipahami karena apabila pelayanan kesehatan yang

bermutu dapat diselenggarakan, bukan saja akan meningkatkan efektifitas

pelayanan kesehatan, tetapi sekaligus juga akan dapat meningkatkan efisiensi

pelayanan kesehatan.(www.google.com”pelayanan kesehatan masyarakat”)

Hal tersebut diterjemahkan oleh RSUP Soeradji Tirtonegoro Klaten

dengan membangun misi untuk menjadi rumah sakit yang berkualitas dan

mandiri dalam pelayanan, pendidikan, dan penelitian dalam bidang kesehatan

tingkat nasional. RSUP Soeradji Tirtonegoro Klaten merasa mempunyai

kewajiban untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat tanpa

membedakan kelas sosialnya, baik itu dari golongan miskin ataupun dari

golongan mampu maupun membedakan dari jenis kelamin tertentu.

B. STANDAR PELAYANAN KEPERAWATAN RSUP Dr.Soeradji

Tirtonegoro :

Standar I : Pengkajian Keperawatan

Perawat mengumpulkan data tentang status kesehatan klien secara sistematis,

menyeluruh, akurat, singkat dan berkesinambungan.

Proses :

lxxiv
1. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi,

pemeriksaan fisik dan mempelajari data penunjang (pengumpulan

data diperoleh dari hasil wawancara, pemeriksaan fisik,

pemeriksaan laboraturium, dan mempelajari klien lainnya)

2. Sumber data adalah klien, keluarga atau orang terkait, tim

kesehatan, rekam medis dan catatan lain.

3. Data yang dikumpulkan, difokuskan untuk mengidentifikasi :

a. Status kesehatan klien saat ini

b. Status kesehatan klien masa lalu

c. Satus fisiologis-psikologis-sosial-spiritual

d. Respon terhadap terapi

e. Harapan terhadap tingkat kesehatan yang optimal

f. Resiko-resiko tinggi masalah

STANDAR II : Diagnosis Keperawatan

Perawat menganalisis data pengkajian untuk merumuskan diagnosis

keperawatan

Proses :

1. Proses diagnosis terdiri dari analisis, interpretasi data, identifikasi

masalah klien dan perumusan diagnosis keperawatan.

2. Komponen diagnosis keperawatan terdiri dari : masalah, penyebab,

dan tanda atau gejala.

3. Bekerjasama dengan klien, dekat dengan klien, petugas kesehatan

lain untuk memvalidasi diagnosis keperawatan

lxxv
4. Melakukan pengkajian ulang dan merevisi diagnosis data terbaru.

STANDAR III : Perencanaan

Perawat membuat rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi

masalah dan meningkatkan kesehatan klien.

Proses :

1. Proses terdiri dari penetapan prioritas masalah, tujuan dan

rencana tindakan keperawatan

2. Bekerjasama dengan klien dalam menyusun rencana tindakan

keperawatan.

3. Perencanaan bersifat individual sesuai dengan kondisi atau

kebutuhan klien.

4. Mendokumentasikan rencana keperawatan.

STANDAR IV : Implementasi

Perawat membuat rencana tindakan yang telah diidentifikasi dalam

rencana asuhan keperawatan

1. Bekerjasama dengan klien dalam melaksanakan tindakan

keperawatan

2. Kolaborasi dengan profesi kesehatan lain untuk meningkatkan

status kesehatan klien.

3. Melakukan tindakan keperawatan untuk mengatasi kesehatan

klien

4. Melakukan supervisi terhadap tenaga pelaksana keperawatan di

bawah tanggung jawabnya

lxxvi
5. Menjadi koordinator pelayanan dan advokasi terhadap klien

untuk mencapai tujuan kesehatan

6. Menginformasikan kepada klien tentang status kesehatan dan

fasilitas-fasilitas kesehatan yang ada

7. Memberikan pendidikan pada klien dan keluarga mengenai

konsep, ketrampilan asuhan diri serta membantu klien

memodifikasi lingkungan yang digunakannya

8. Mengkaji ulang dan merevisi pelaksanaan tindakan keperawatan

berdasarkan respon klien

STANDAR V : Evaluasi

Perawat mengevaluasi kemajuan klien terhadap tindakan dalam

pencapaian tujuan dan merevisi data dasar perencanaan

Proses :

1. Menyusun perencanaan evaluasi hasil dari intervensi secara

komperhensif, tepat waktu dan terus menerus

2. Menggunakan data dasar respon klien dalam mengukur

perkembangan ke arah pencapaian tujuan

3. Memvalidasi dan menganalisis data baru dengan sejawat dan

klien

4. Bekerjasama dengan klien, keluarga untuk memodifikasi

perencanaan.

lxxvii
G. PERAN-PERAN PERAWAT DALAM PELAYANAN KESEHATAN

Perawat, sebagai salah satu profesi yang ada di rumah sakit yang

secara profesional menjadi bagian integral dari pelayanan kesehatan. Perawat

adalah orang yang melakukan proses keperawatan, yakni memberikan

pelayanan pembinaan kesehatan yang diarahkan untuk memelihara dan

meningkatkan kesehatan serta membantu orang dengan cara sebaik mungkin

masalah kehidupan sehari-hari, penyakit dan cidera, cacat maupun kematian.

(Lu Verne Wolf dkk 1984: 4)

Dalam paradigma keperawatan, manusia dipandang sebagai makhluk

bio-sosio-psiko-kultural-spiritual yang utuh dan unik, mandiri, dinamis,

rasional dan berkemampuan beradaptasi untuk memenuhi kebutuhan dasarnya,

agar dapat bertahan hidup dan berkembang. Mereka mengembangkan dirinya

melalui proses interaksi yang membentuk pola berfikir, keyakinan dan

perilaku berupa nilai dan budaya. Proses interaksi ini tidak bisa dipisahkan

dari lingkungan yang ada di sekitarnya.

Menurut Nursalam (2001:04) ada dua komponen yang mempengaruhi

perilaku manusia dalam berinteraksi. Pertama, Komponen internal, seperti :

faktor genetik, struktur anatomis, fisiologis, psikologis, nilai, keyakinan serta

faktor internal lain yang potensial mempengaruhi perubahan sistem manusia.

Kedua, Komponen eksternal seperti Faktor eksternal terdiri dari : keadaan

fisik, demografis, ekologis, hubungan interpersonal dan nilai sosial budaya

dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, serta faktor eksternal lain

yang potensial mempengaruhi perubahan pada sistem manusia.

lxxviii
Dalam konteks keperawatan, kedua komponen tersebut memiliki

pengaruh terhadap kesehatan. Sehat dalam hal ini tidak hanya dipandang

sebagai suatu keadaan yang terbebas dari penyakit, namun lebih kepada

keseimbangan bio-psiko-sosio-spiritual yang optimum, yang dapat

meningkatkan kemampuan dan potensi manusia di masyarakat.

Keperawatan merupakan suatu bentuk pelayanan profesional yang

merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu

dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosiokultural-spiritual

yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan

komunitas, baik sakit maupun sehat serta mencakup seluruh siklus hidup

manusia. Aktivitasnya berupa bantuan yang diberikan karena adanya

kelemahan fisik dan atau mental, keterbatasan pengetahuan serta kurangnya

kemauan melaksanakan kegiatan sehari-hari secara mandiri.

Menurut Kozier Barbara (Nursalam, 2002:8), peran yang dibangun

perawat, secara garis besar digambarkan sebagai berikut:

1. Care Giver

Sebagai care giver, seorang perawat harus memiliki kemampuan untuk :

a. Memberikan pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga,

kelompok atau masyarakat sesuai diagnosis masalah yang terjadi mulai

dari masalah yang bersifat sederhana sampai pada masalah yang

kompleks.

b. Memperhatikan individu dalam konteks sesuai kehidupan klien.

lxxix
Perawat harus memperhatikan klien berdasarkan kebutuhan signifikan

dari klien. Perawat menggunakan proses keperawatan untuk

mengidentifikasi diagnosis keperawatan mulai dari masalah fisik

sampai pada masalah psikologis.

2. Conselor

Konseling adalah proses membantu klien untuk menyadari dan mengatasi

tekanan psikologis atau masalah sosial untuk membangun hubungan

interpersonal yang baik dan untuk meningkatkan perkembangan

seseorang. Didalamnya diberikan dukungan emosional dan intelektual.

Dalam hal ini, peran perawat ditunjukkan dengan :

a. Mengidentifikasi perubahan pola interaksi klien terhadap keadaan

sehat sakitnya.

b. Meningkatkan kemampuan beradaptasi guna merancang metode

berinteraksi.

c. Memberikan konseling atau bimbingan penyuluhan kepada individu

atau keluarga dalam mengintegrasikan pengalaman kesehatan dengan

pengalaman yang lalu.

d. Pemecahan masalah di fokuskan pada masalah keperawatan

3. Education

Peran berperan sebagai seorang pendidik, layaknya seorang guru. Pada

intinya, aktivitas yang dilakukan adalah memberikan pengetahuan dan

kesadaran baru yang mampu merubah perilaku dalam bidang kesehatan.

lxxx
Nursalam juga menjabarkan peran perawat dengan singkatan CARE. Ia

mendeskripsikan konsep CARE sebagai berikut.

C: Communication. Seorang perawat harus memiliki kemampuan

berkomunikasi secara lengkap, akurat dan cepat dan harus didukung fakta

yang memadai.

A: Aktivity. Aktivitas yang dilaksanakan adalah memberikan asuhan kepada

klien yang ditunjang oleh sikap kesungguhan dan empati serta

bertanggungjawab terhadap setiap tugas yang diembannya. Selain itu, ia juga

harus bisa membangun kerjasama dengan teman sejawat dan tenaga kesehatan

lainnya.

R : Review. Prinsip utama dalam peran ini adalah moral dan etika

keperawatan. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya kesalahan-

kesalahan yang bisa berakibat fatal bagi konsumen dan profesi keperawatan.

Karena itu, seorang perawat harus mampu menjaring berbagai informasi dan

mengikuti perubahan yang terjadi dalam hal pelayanan kesehatan yang

senantiasa berkembang.

E : Education. Seorang perawat dituntut untu berkomitmen terhadap

profesinya dengan terus menerus menggali ilmu melalui pendidikan formal

dan informal sampai pada suatu keahlian tertentu.

Tugas-tugas perawat juga diatur dalam Keputusan Menteri Negara

Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor : 94/Kep/M.PAN/II/2001. Dalam

pasal 4 disebutkan bahwa tugas pokok perawat adalah memberikan pelayanan

keperawatan berupa asuhan keperawatan / kesehatan kepada individu ,

lxxxi
keluarga , kelompok dan masyarakat dalam upaya kesehatan, pencegahan

penyakit , penyembuhan penyakit , dan pemulihan serta pembinaan peran serta

masyarakat dalam rangka kemandirian dibidang keperawatan / kesehatan.

Ketika menjalankan perannya dalam pelayanan kesehatan, perawat

dituntut untuk memiliki komitmen kerja yang tinggi. Komitmen terdiri dari

tiga komponen. Keyakinan yang kuat terhadap nilai-nilai dan tujuan profesi,

kesediaan untuk berusaha dengan sungguh-sungguh demi kepentingan profesi

dan berkeinginan untuk mempertahankan profesinya. Dari komponen tersebut,

motivasi menjadi faktor penting seseorang memilih untuk menjalankan

profesinya.

Dalam profesi perawat, ada bermacam motivasi yang mendasari para

perawat memilih profesi mereka. Seperti yang terungkap dalam wawancara

yang dilakukan peneliti terhadap beberapa perawat di Rumah sakit klaten.

“Latar Belakang keluarga saya itu kan kurang mampu. ”Saya sejak dari dulu
seneng jadi perawat dan suka melihat seorang perawat yang selalu membantu
orang lain dalam kesusahan, serta panggilan jiwa saya untuk selalu berbuat
pahala di dunia ini kan kata orang jawa urip nyang ndonyo ki gur mampir
ngombe alias seumur jagung” (Warsana)

Saya itu merasa terpanggil jiwanya untuk membantu sesama manusia yang
membutuhkan pertolongan, dalam keluarga saya itu sangat terbiasa dan di
didik untuk selalu menolong orang lain. Sedih saya kalau melihat penderitaan
orang lain dan mungkin ini yang mungkin saya bisa perbuat untuk sedikit
meringankan beban mereka, wis dianggep menghibur orang lain tentunya
sesuai dengan segala kemampuan yang kita miliki. Menjadi Perawat itu sudah
sejak kecil menjadi cita-cita yang saya impikan. (Ibu Puji )

Pokoknya saya pengen mengabdi kepada keluarga, masyarakat serta Nusa


dan Bangsa ini, disamping merawat itu sebuah pengabdian bisa juga untuk
membantu keluarga mencari nafkah. (Ibu Tri Maryanti)

Kalau saya ditanya kenapa saya memilih untuk menjadi perawat mungkin
dulu awalnya saya itu sedikit mendapat paksaan dari keluarga saya untuk

lxxxii
masuk ke sekolah perawat karena alasannya sangat rasional. Perempuan itu
pantesnya jadi perawat kata ibu dan Bapak saya dan akhirnya setelah saya
rasakan ada benarnya juga bahwa perempuan itu lebih bisa untuk menjadi
perawat karena rata-rata perempuan itu sabar dan penuh rasa sayang. (Ibu
Suyatun)

Seolah ada panggilan jiwa yang saya rasakan yang bisa menuntun menjadi
seorang perawat. Sebagai seorang Laki-laki saya merasa tertantang untuk
ikut membantu orang sakit. Ada sebuah kebanggan ketika saya bisa ikut
membantu menyembuhkan sesama manusia. (Joko Mulyono)

Dulu desa saya itu banyak orang sakit dan waktu itu ingin sekali rasanya ikut
membantu akan tetapi saya tidak sanggup dan nggak tahu sama sekali
bagaimana cara merawat orang yang sedang sakit. Nah dari situ awalnya
saya merasa termotivasi untuk menajadi seorang perawat. (Bapak Agus)

Ya pokoknya saya itu seneng berbuat baik pada siapapun kapanpun dan
dimanapun. Dulu waktu kecil {agak lupa umur berapa} saya sakit dirawat
selama 30 hari, dari situ muncul keinginan saya untuk menjadi seorang
perawat. (Fitri Nuraini)

Dulu kan profesi menjadi seorang perawat kan masih jarang dan masih
banyak dibutuhkan. Ya dari keluarga saya dibebaskan untuk memilih profesi
apa saja yang penting bisa cepet untuk menyelesaikan pendidikan dan
mendapatkan uang walaupun hanya cukup untuk bertahan hidup.ha...ha...ha...
(Jarot)

Agama mengajarkan kita untuk selalu mencari kebaikan di dunia ini, ya


ibadah kan nggak hanya dengan Solat kan bisa juga dengan berbuat baik
dengan sesamanya.{habluminannas}. Cari uang yang halal, dan dari kecil
saya pengennya merawat siapapun tapi sebenernya saya pengen jadi dokter
tapi berhubung nggak ada biaya ya jadi perawat. (Tatik Handayani)

Jadi Perawat ya karena orang tua yang nyuruh saya untuk menjadi perawat
mas, awalnya saya nggak begitu suka tapi lama-lama saya malah jadi seneng
dan merasa cocok menjadi perawat. Mungkin sudah kodrat dari yang di atas
kalau perempuan itu lebih peka dan telaten untuk melakukan pekerjaan ini.
(Sri Wahyudati)

Secara teoritis peran perawat dapat dikatakan mendukung teori aksi

yang terdapat dalam paradigma definisi sosial yang menekankan pada

tindakan sosial karya Max Weber yang diklasifikasikan dalam 4 (empat) tipe

tindakan yaitu rasional instrumental, rasionalitas yang berorientasi nilai,

lxxxiii
tindakan tradisional dan tindakan afektif. Pendekatan ini menekankan kepada

tindakan dari perawat baik laki-laki maupun perawat perempuan dalam

menjalankan perannya yang dipengaruhi oleh persepsi mereka terhadap

pekerjaan sebagai perawat dan juga pada budaya patriarki yang masih melekat

kuat di dalamnya.

Dalam hal ini peran perawat mempunyai kecenderungan kepada tipe

tindakan rasionalitas berorientasi nilai dan mengarah kepada tindakan

tradisional. Hal ini dapat dilihat dari niat, motif dan orientasi dari masing-

masing perawat.

H. PERAWAT DALAM PERSPEKTIF GENDER

a. Sejarah Dunia Keperawatan

Dunia keperawatan jika dilihat dari perpektif gender didominasi

oleh perempuan. Hal ini diakui juga oleh beberapa perawat yang ada di

RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten. Menurut mereka, dunia

keperawatan memang identik dengan dunia perempuan. Karena tugas-

tugas yang dijalankan lebih dekat dengan dunia perempuan. Misalnya saja,

untuk melakukan tugas keperawatan, diperlukan ketelititan, ketelatenan

dan kesabaran, sebuah sikap dimana perempuan dianggap memiliki nilai

lebih dibandingkan dengan laki-laki. Bahkan ada yang mengatakan bahwa

tugas keperawatan bermula dari naluri keibuan (mother instinct).

Jika kita memperhatikan sejarah perkembangan dalam dunia

perawat, perempuan memang terlihat begitu dominan dalam dunia

lxxxiv
keperawatan. Pada awal berkembangnya agama Kristen, dikenal sebuah

lembaga diakones, yakni pembantu pendeta dalam gereja, memberi

nasehat, mengobati orang sakit serta mengunjungi tempat tawanan.

Diakones menjadi satu lembaga wanita yang pertama dari organisasi

agama Kristen yang bekerja dan mengembangkan pekerjaan perawatan.

Kemudian, pada era pemerintahan Konstantin yang Agung sekitar

tahun 325 M, dibangun sebuah bangunan khusus untuk menampung

orang-orang sakit yang membutuhkan pertolongan dan perawatan, yakni

xenodochoion atau lebih dikenal dengan nama hospital. Pada era tersebut,

semua yang bertugas untuk memberikan perawatan terhadap orang sakit

adalah para wanita (non).

Kemudian, pada masa-masa perang, seperti perang ketika zaman

perang salib, dunia keperawatan semakin berkembang dengan banyaknya

orang sakit dan terlukan akibat perang. Dan pada era ini, perawat diambil

dari orde-orde keagamaan dan para wanita istri dari prajurit yang ikut

berperang.

Tokoh-tokoh yang menonjol dalam perkembangan dunia

keperawatan juga para perempuan. Di dunia barat, dikenal seorang tokoh

yang mempelopori dunia keperawatan modern seperti Genevieve Bouzuet,

Perawat Perancis pada masa setelah revolusi Perancis yang memelopori

pekerjaan perawat yang dijalankan oleh orang-orang yang tidak terikat

dengan ordo keagamaan. Kemudian, ada juga Florence Nightingale

lxxxv
(1820), seorang Perawat Inggris yang memelopori dunia keperawatan

modern dengan pemikiran-pemikirannya seperti :

i. Menetapkan standar manajemen rumah sakit

ii. Menegaskan bahwa nutrisi merupakan bagian penting dari asuhan

keperawatan

iii. Meyakinkan bahwa akupasional merupakan suatu terapi bagi orang

sakit

iv. Mengidentifikasi kebutuhan personal pasien dan peran perawat untuk

memenuhinya

v. Mengembangkan standar okupasi bagi pasien wanita

vi. Mengembangkan pendidikan keperawatan

vii. Menetapkan 2 komponen keperawatan yaitu kesehatan dan penyakit

viii. Meyakinkan bahwa keperawatan berdiri sendiri dan berbeda dengan

profesi kedokteran.

ix. Menekankan kebutuhan pendidikan lanjut bagi perawat

Di Dunia Islam, keperawatan juga mengenal nama Rufaidhah binti

Sa’ad, seorang perempuan pada masa Nabi Muhammad yang

mengembangkan keperawatan di dunia Islam. Rufaidah adalah public

health nurse dan social worker, yang menjadi inspirasi bagi profesi

perawat di dunia Islam. Ia mengabdikan dirinya untuk merawat orang sakit

dengan membangun tenda di luar masjid Nabawi. Dan ketika perang, ia

mendirikan Rumah sakit lapangan dan melatih para wanita muslim untuk

lxxxvi
merawat orang-orang yang terluka saat perang. Beberapa pengaruhnya

dalam dunia keperawatan adalah sebagai pelopor sekolah keperawatan di

dunia Islam, penyokong advokasi pencegahan penyakit (preventive care)

dan penyebaran pentingnya penyuluhan kesehatan (health education).

b. Tugas Perawat dalam perspektif gender

Seperti yang telah disebutkan di atas, keperawatan merupakan

suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari

pelayanan kesehatan. Tugas-tugas keperawatan secara tegas diatur dalam

Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor :

94/Kep/M.PAN/II/2001. Dalam pasal 4 disebutkan bahwa tugas pokok

perawat adalah memberikan pelayanan keperawatan berupa asuhan

keperawatan / kesehatan kepada individu , keluarga , kelompok dan

masyarakat dalam upaya kesehatan, pencegahan penyakit , penyembuhan

penyakit , dan pemulihan serta pembinaan peran serta masyarakat dalam

rangka kemandirian dibidang keperawatan / kesehatan.

Sikap profesionalitas para perawat terlihat dari kesadaran mereka

untuk tidak membedakan tugas-tugas keperawatan dari sisi gender. Seperti

yang tergambar dari pernyataan-pernyataan berikut :

Semuanya sama saja mas, antara perawat laki-laki dan perawat


perempuan dimana harus menjalankan segala tugas dan tanggung jawab
dalam bidangnya. (Warsana)

Soal tugas keperawatan menurut pandangan saya semua sama baik


perawat laki-laki maupun perempuan. (Tri Maryanti)

Kalau pembedaan secara kegiatan saya rasa tidak ada mas, mungkin yang
ada hanya etika saja. (Suyatun).

lxxxvii
Secara tegas tidak dibedakan, tapi sebagai manusia ciptaan Allah yang
dikarunia oleh kemampuan masing-masing kan berbeda. (Endang
Wuryaningsih ,AMK, S. Pd. K)

Namun dalam praktek di lapangan, pekerjaan dijalankan secara

luwes dengan mengutamakan kualitas layanan. Pemberian pelayanan

dengan memperhatikan faktor gender dilakukan dengan alasan

profesionalitas.

Kerja tu kan luwes tho mas, jadi ya bisa minta tolong sama rekan perawat
yang lain apabila nggak mampu untuk melakukan tugasnya. Misalnya
kebetulan ada pasien perempuan meminta kami untuk memandikannya, ya
minta tolong sama perawat wanitanya. (Warsana)

Kalau dalam proses perawatannya memang kadang-kadang ada pasien


yang meminta untuk dirawat oleh jenis kelamin tertentu. Misalnya seperti
yang selama ini saya alami saya sering memandikan pasien [sibin] baik
laki maupun pasien perempuan. (Tri Maryanti)
Dalam beberapa hal saya perempuan tidak mampu untuk melakukan tugas
maka saya minta tolong pada perawat yang lain. (Suyatun)

ya dalam prakteknya tetep yang laki-laki seringkali cenderung untuk


membantu dalam hal-hal yang berat-berat. Misalnya seperti angkat
pasien. (Endang Wuryaningsih ,AMK, S. Pd. K)

Terkait dengan pelayanan yang diberikan, para pasien memiliki persepsi

yang berbeda terhadap pelayanan yang dilakuka para perawat di RSUP Dr.

Soeradji Tirtonegoro Klaten. Seperti yang tergambar dalam pernyataan-

pernyataan berikut :

Cukup memuaskan, sampai saat ini nggak ada masalah berarti. Para
perawatnya juga lumayan baik mas dan mereka semua cukup ramah untuk
melayani kami.(Bagus)

Alhamdulillah baik sekali, doktere penak isoh dijak gojek yo lucu dadi
asyik nang kene cepet mari. Perawatnya pun juga baek2 baek. Tapi
kadang-kadang Beda juga mas. kalau sama perawat perempuan lebih
telaten dan sabar melayani kalau laki-laki galak, dan pendiam,

lxxxviii
(Tri Jati S)

Secara umum yang saya rasakan cukup bisa dikatakan agak baek. Namun
dalam beberapa hal masih ada pembedaan yang sangat jelas bahwa
pasien yang nggak punya duit diacuhkan begitu saja. (Joko W)

Secara umum, semua pasien baik laki-laki mapun perempuan

mendapatkan perlakuan yang sama dalam pelayanan kesehatan. Namun

dalam beberapa hal faktor gender juga berpengaruh terhadap pemberian

pelayanan. Misalnya saja persoalan memandikan pasien. Dalam

pemahaman para perawat, mereka mengungkapkan bahwa mereka harus

profesional dalam pekerjaan. Sehingga ketika diharuskan memandikan

pasien dengan jenis kelamin yang berbeda dengan dirinya, mereka tidak

ada masalah. Namun terkadang para pasien yang meminta untuk

dimandikan oleh sesama jenis mereka dengan alasan persoalan etika.

c. Posisi Struktural Perawat di Rumah Sakit

i. Perbandingan jumlah perawat berdasarkan gender

Jika dillihat dari segi kuantitas, di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro

Klaten, jumlah perawat laki-laki masih lebih sedikit jika dibandingkan

dengan perawat perempuan. Data Perawat Laki-Laki dan Perempuan

menurut Tingkat Pendidikan di RS. Soeradji Tirtonegoro Klaten, Data

Per Februari 2007

Tingkat Pendidikan Laki-Laki Perempuan


S1 Keperawatan 7 11
D3 Keperawatan 98 -
SPK 20 31

lxxxix
PK 1 -
D4 Kebidanan - 1
D3 Kebidanan - 9
D3 Anestesi - 1
Bidan - -
D3/SPRG/P Gigi 1 24
DK/PK - 2
Jumlah 127 247
Sumber : Data Bidang Perawat RSUD Soeradji Tirtonegoro Klaten

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa komposisi Perawat Laki-laki

masih kecil jika dibandingkan dengan perawat perempuan 39,06%

untuk perawat laki-laki dan 66,04% untuk perawat perempuan.

ii. Struktur Pejabat di Bagian Keperawatan di Rumah Sakit

Di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten, perawat dimasukan dalam

bidang tersendiri untuk memudahkan dalam hal pengelolaan, yakni

Bidang Keperawatan.

Pembentukan struktur organisasi memberikan tingkat akses informasi

dan kewenangan yang berbeda pada tiap masing-masing perawat.

Seseorang yang menduduki jabatan di struktur diatas tentu saja

memiliki akses informasi dan kewenangan lebih dibandingkan dengan

yang ada dibawahnya. Dan konsekuensi logisnya, para perawat yang

menjabat dalam struktur memiliki tanggungjawab yang lebih dalam

proses pelayanan kesehatan.

Para perawat di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro Klaten menyadari

bahwa jabatan dalam struktur organisasi menentukan besar kecilnya

akses informasi, kewenangan dalam menetapkan kebijakan. Seperti

yang tergambar dalam petikan berikut.

xc
Akses semua punya mas, tinggal besar kecilnya pengaruh yang dia
miliki. Kebijakan tentang Kenaikan Pangkat seorang Perawat.(Puji)

Terus terang saya kurang mengamati sapa saja yang punya akses ke
para atasan, kalau yang saya tahu hanya beberapa yang mampu dan
punya akses ke pembuat kebijakan, misalnya kepala bagian,kepala
ruang. (Warsana)

Para kepala ruang yang langsung punya akses terhadap pembuat


kebijakan, apalagi sekarang kan era otonomi daerah jadi perawat
dituntut untuk lebih memahami kebijakan dan sebisa mungkin untuk
mengontrolnya. (Endang Wuryaningsih ,AMK, S. Pd. K)

Dalam penentuan struktur organisasi, yang diperhatikan adalah prestasi

kerja dan lama pengabdian serta golongan kerja, karena para perawat

tercatat sebagai Pegawai Negeri Sipil. Namun dalam kenyataannya

struktur kelembagaan perawat di RSUP Soeradji Tirtonegoro Klaten

menempatkan perempuan dalam posisi strategis lembaga. Hal seperti

ini terjadi karena stereotip bahwa dunia perawat lebih dekat dengan

kaum perempuan menjadi salah satu alasannya. Seperti yang tergambar

dalam pernyataan berikut :

Hanya dunia keperawatan itu kan punya kecenderungan lebih dekat


dengan para perawat perempuan. Mas tentunya paham bagaimana
sejarah tentang kemunculan perawat itu sendiri baik versi Islam
maupun versi barat. Di indonesia khususnya jawa posisi perempuan
lebih dipandang bisa dan mampu untuk mengemban status perawat.
ini bisa dilihat dalam ruangan ini (bagian keperawatan) kebanyakan
mereka perempuan. (Endang Wuryaningsih ,AMK, S. Pd. K)

xci
BAB IV

KESETARAAN GENDER DALAM PELAYANAN KESEHATAN

Pelayanan kesehatan merupakan salah satu bentuk pelayanan publik yang

menjadi hak-hak dasar yang dimiliki warga negara. Seperti yang tertuan dalam

UU Kesehatan nomor 23 Tahun 1992, disebutkan bahwa masyarakat berhak untuk

mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak untuk meningkatkan derajat

kesehatannya.

Rumah sakit merupakan salah satu komponen vital dalam pemberian

pelayanan kesehatan terhadap masyarakat. Menurut sistem Kesehatan Nasional,

Rumah Sakit mempunyai fungsi utama menyediakan dan menyelenggarakan

upaya kesehatan yang bersifat penyembuhan dan pemulihan pasien. Akan tetapi

walaupun bersifat sosioekonomi namun diusahakan agar bisa mendapatkan suatu

keuntungan dengan cara pengelolaan yang profesional dengan memperhatikan

prinsip-prinsip ekonomi. Keputusan Menkes RI Nomor 983/SK/Menkes/XI/92

menyebutkan bahwa rumah sakit umum mempunyai misi memberikan pelayanan

kesehatan yang bermutu dan terjangkau oleh masyarakat dalam rangka

meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

Di dalam rumah sakit antara dokter, perawat dan pasien termasuk

keluargan pasien merupakan hubungan yang sangat kompleks terus berkembang

sesuai dengan tata nilai, dan norma dalam masyarakat. Dari tenaga kesehatan yang

ada, perawat adalah tenaga yang paling banyak kontak dengan pasien. Mereka

xcii
memberikan pelayanan pembinaan kesehatan yang diarahkan untuk memelihara

dan meningkatkan kesehatan serta membantu orang dengan cara sebaik mungkin

masalah kehidupan sehari-hari, penyakit dan cidera, cacat maupun kematian.

Dalam paradigma keperawatan ada dua komponen yang mempengaruhi

perilaku manusia dalam berinteraksi. Pertama, Komponen internal, seperti : faktor

genetik, struktur anatomis, fisiologis, psikologis, nilai, keyakinan serta faktor

internal lain yang potensial mempengaruhi perubahan sistem manusia. Kedua,

Komponen eksternal seperti Faktor eksternal terdiri dari : keadaan fisik,

demografis, ekologis, hubungan interpersonal dan nilai sosial budaya dan

penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, serta faktor eksternal lain yang

potensial mempengaruhi perubahan pada sistem manusia. Sehat dalam hal ini

tidak hanya dipandang sebagai suatu keadaan yang terbebas dari penyakit, namun

lebih kepada keseimbangan bio-psiko-sosio-spiritual yang optimum, yang dapat

meningkatkan kemampuan dan potensi manusia di masyarakat. Dari paradigma

tersebut tergambar posisi penting perawat dalam usaha peningkatan pelayanan

kesehatan bagi masyarakat. Nursalam (2001:04)

A. PROFESI PERAWAT DALAM PERSPEKTIF GENDER

Perawat, di dalam masyarakat dianggap sebagai profesi yang cocok

untuk perempuan. Adanya konsep gender, menyebabkan ada jenis pekerjaan

yang hanya dianggap cocok untuk perempuan. Misalnya karena perempuan

dianggap tekun, sabar, teliti. Di samping perawat, ada pula pekerjaan-

pekerjaan lain seperti , guru, penerima tamu, sekretaris, atau pembantu rumah

xciii
tangga. Pekerjaan-pekerjaan tersebut dipandang masih merupakan

perpanjangan tangan dari pekerjaan rumah tangga.

Stereotype terhadap profesi keperawatan sebagai pekerjaan yang cocok

untuk perempuan ini diperkuat dengan faktor sejarah yang mewarnai profesi

ini. Jika kita melihat sejarah perkembangan keperawatan, maka pada awal

kemunculannya hingga sekarang peran perempuan begitu dominan dalam

pengembangan profesi ini.

Pada awal berkembangnya agama Kristen, dikenal sebuah lembaga

diakones, yakni pembantu pendeta dalam gereja, memberi nasehat, mengobati

orang sakit serta mengunjungi tempat tawanan. Diakones menjadi satu

lembaga wanita yang pertama dari organisasi agama Kristen yang bekerja dan

mengembangkan pekerjaan perawatan.(www.PPNI.co.id “sejarah

keperawatan”)

Kemudian, pada era pemerintahan Konstantin yang Agung sekitar

tahun 325 M, dibangun sebuah bangunan khusus untuk menampung orang-

orang sakit yang membutuhkan pertolongan dan perawatan, yakni

xenodochoion atau lebih dikenal dengan nama hospital. Pada era tersebut,

semua yang bertugas untuk memberikan perawatan terhadap orang sakit

adalah para wanita (non).

Kemudian, pada masa-masa perang, seperti perang ketika zaman

perang salib, dunia keperawatan semakin berkembang dengan banyaknya

orang sakit dan terluka akibat perang. Dan pada era ini, perawat diambil dari

orde-orde keagamaan dan para wanita istri dari prajurit yang ikut berperang.

xciv
Tokoh-tokoh yang menonjol dalam perkembangan dunia keperawatan

juga para perempuan. Di dunia barat, dikenal seorang tokoh yang

mempelopori dunia keperawatan modern seperti Genevieve Bouzuet, Perawat

Perancis pada masa setelah revolusi Perancis yang memelopori pekerjaan

perawat yang dijalankan oleh orang-orang yang tidak terikat dengan ordo

keagamaan. Kemudian, ada juga Florence Nightingale (1820), seorang

Perawat Inggris yang memelopori dunia keperawatan modern dengan

pemikiran-pemikirannya seperti :

g. Menetapkan standar manajemen rumah sakit

h. Menegaskan bahwa nutrisi merupakan bagian penting dari asuhan

keperawatan

i. Meyakinkan bahwa akupasional merupakan suatu terapi bagi orang sakit

j. Mengidentifikasi kebutuhan personal pasien dan peran perawat untuk

memenuhinya

k. Mengembangkan standar okupasi bagi pasien wanita

l. Mengembangkan pendidikan keperawatan

m. Menetapkan 2 komponen keperawatan yaitu kesehatan dan penyakit

n. Meyakinkan bahwa keperawatan berdiri sendiri dan berbeda dengan

profesi kedokteran.

o. Menekankan kebutuhan pendidikan lanjut bagi perawat

Di Dunia Islam, keperawatan juga mengenal nama Rufaidhah binti

Sa’ad, seorang perempuan pada masa Nabi Muhammad yang

xcv
mengembangkan keperawatan di dunia Islam. Rufaidah adalah public health

nurse dan social worker, yang menjadi inspirasi bagi profesi perawat di dunia

Islam. Ia mengabdikan dirinya untuk merawat orang sakit dengan membangun

tenda di luar masjid Nabawi. Dan ketika perang, ia mendirikan Rumah sakit

lapangan dan melatih para wanita muslim untuk merawat orang-orang yang

terluka saat perang. Beberapa pengaruhnya dalam dunia keperawatan adalah

sebagai pelopor sekolah keperawatan di dunia Islam, penyokong advokasi

pencegahan penyakit (preventive care) dan penyebaran pentingnya

penyuluhan kesehatan (health education).

Jika memperhatikan sejarah di atas, awal mula kemunculan profesi

perawat baik di dunia Barat maupun Islam, dipelopori oleh para perempuan.

Dan tokoh-tokoh yang berpengaruh dalam pengembangan profesi ini juga para

perempuan.

Dalam proses sejarah tersebut, misalnya, ketika dilihat dari masa

perang pada sejarah perawat dalam dunia Barat dan Islam, perempuan

menempati posisi di garis belakang untuk membantu para laki-laki dalam

berperang. Artinya, perempuan dianggap tidak pas ketika ikut mengangkat

senjata dalam berperang. Mereka lebih dibutuhkan di garis belakang untuk

menyediakan makanan bagi pasukan serta merawat para korban yang terluka

akibat peperangan.

Proses sejarah tersebut bisa dipandang sebagai sebuah proses

konstruksi sosial yang membangun pandangan masyarakat terhadap profesi

perawat. Dalam perspektif teori fungsional struktural, masyarakat merupakan

xcvi
suatu sistem sosial yang terdiri atas bagian-bagian atau elemen-elemen yang

saling berkaitan dan saling menyatu dalam keseimbangan. Bagian-bagian

tersebut bisa berupa agama, pendidikan, struktur politik, keluarga dan

sebagainya. Asumsi dasar dalam teori ini adalah bahwa setiap struktur dalam

sistem sosial, fungsional terhadap yang lainnya. (Ritzer, 2004 : 21)

Terbentuknya perbedaan-perbedaan gender bisa disebabkan oleh

banyak hal, diantaranya adalah proses sosialisasi dan bahkan proses konstruksi

sosial lewat berbagai interaksi yang terjadi dalam masyarakat. Pembentukan

perbedaan-perbedaan gender dibentuk secara sosial dan kultural, misalnya

lewat agama dan kekuasaan. Proses panjang tersebut kemudian membentuk

persepsi manusia yang menganggap perbedaan gender adalah sebuah kodrat

yang harus diterima, seolah-olah perbedaan tersebut terjadi secara biologis dan

tak dapat diubah. Persepsi manusia tentang gender kemudian menentukan

peran-peran tertentu yang dianggap pantas atau tidak pantas disandang

perempuan atau laki-laki di dalam masyarakat.

Faktor sejarah bisa dipandang sebagai sebuah dialektika sosial

masyarakat. Sedangkan stereotype merupakan bentuk pelabelan terhadap

suatu kelompok dan atau jenis pekerjaan tertentu yang terbentuk dari

konstruksi sosial.

Dialektika sejarah yang berkembang dalam profesi ini kemudian

membentuk stereotype bahwa profesi keperawatan merupakan profesi

dipandang lebih cocok untuk para perempuan ketimbang laki-laki. Akibat

xcvii
adanya stereotype ini, dalam dunia keperawatan kemudian didominasi oleh

para perempuan.

Stereotype seperti ini muncul dalam persepsi yang ada pada perawat di

RSUP Soeradji Tirtonegoro Klaten. Seperti yang tergambar dalam pernyataan

berikut.

Dunia keperawatan itu kan punya kecenderungan lebih dekat dengan


para perawat perempuan. Mas tentunya paham bagaimana sejarah
tentang kemunculan perawat itu sendiri baik versi Islam maupun versi
barat. (Endang Wuryaningsih ,AMK, S. Pd. K)

Secara teori persepsi yang muncul dalam organisasi keperawatan ini

mempunyai kecenderungan kepada tipe tindakan tradisional, karena apa yang

mereka lakukan seringkali bersifat non rasional dalam arti bahwa mereka

seringkali dapat menerima setiap bentuk ketidakadilan dan diskriminasi

terhadap salah satu jenis kelamin. Dalam hal ini perawat laki-laki seringkali

menjadi korban karena dengan mendasarkan pada penerimaan norma-norma

tingkah laku individu dengan dalih perawat hanya bisa dilakukan oleh jenis

kelamin perempuan dikarenakan sesuai dengan stereotipe yang muncul bahwa

seorang perawat haruslah lemah lembut luwes dan berperasaan yang ini hanya

dimiliki oleh jenis kelamin perempuan.

Persepsi yang muncul dari perawat tersebut merupakan bentukan

konstruksi sosial dari proses sejarah yang berkembang dan dipelajari hingga

kini. Artinya, pembelajaran sejarah tentang keperawatan yang menunjukkan

dominasi para perempuan memperkuat stereotype bahwa profesi perawat

merupakan profesi “milik” perempuan.

xcviii
Menurut Novarra, jika seorang perempuan harus bekerja, maka apa

yang dikerjakannya di luar rumah tidak jauh dari perannya dalam rumah

tangga. Bahkan di awal era kesetaraan gender, masih ada pendapat bahwa tabu

hukumnya bagi kaum perempuan untuk bergerak di bidang politik atau bidang

publik, jika perannya tidak sebangun dengan perannya dalam rumah tangga.

Perbedaannya terletak pada lokasi kerja, yaitu di luar rumah, dan dengan

bekerja di luar rumah perempuan pekerja mendapat imbalan atas jasanya.

(www.jurnalperempuan.com)

Dialektika sejarah yang berkembang dalam dunia keperawatan dan

masyarakat pada dasarnya juga berhubungan dengan relasi kuasa. Relasi kuasa

ini tampak dari sejarah ketika kaisar konstantin mendirikan sebuah rumah

sakit, ia mempekerjakan perawat yang seluruhnya adalah perempuan.

Akibat dari relasi kuasa ini kemudian memarginalisasikan peran

perempuan di ranah publik. Hanya ada perkerjaan-perkerjaan tertentu yang

dipandang pantas disandang oleh perempuan. Dan pekerjaan tersebut tidak

jauh dari peran mereka dalam rumah tangga. Profesi perawat dipandang

sebagai profesi yang cocok untuk perempuan karena memerlukan kelembutan,

kesabaran dan melibatkan emosi, sifat-sifat yang dianggap lebih dekat dengan

para perempuan. Adanya relasi kekuasaan ini kemudian mebentuk struktur

pengetahuan masyarakat yang pada akhirnya memberikan label bahwa

pekerjaan perawat adalah pekerjaan perempuan. Kesempatan kerja yang lain

seperti dalam bidang politik dan pemerintahan lebih mengutamakan kaum

laki-laki karena perempuan dianggap tidak pandai memimpin.

xcix
Dalam sebuah rumah tangga, di dunia ini didominasi oleh pemahaman

bahwa pemimpin dalam sebuah keluarga adalah laki-laki. Pemahaman ini

kemudian meluas ke ranah publik sehingga sektor kerja tertentu terutama

terkait dengan kepemimpinan, kaum perempuan kemudian dipinggirkan, dan

dikonsentrasikan ke dalam pekerjaan-pekerjaan yang berkaitan dengan

“kodratnya”.

Jika melihat dialektika sejarah tentang gender di masyarakat dengan

kacamata fungsional struktural, terlihat jelas bahwa pandangan terhadap peran

perempuan dalam keluarga (salah satu elemen masyarakat) menentukan

pandangan perempuan dalam ranah publik (masyarakat). Dari analisis sejarah

tersebut bisa dilihat bahwa relasi kuasa membentuk struktur pengetahuan

masyarakat yang pada akhirnya mempengaruhi tindakan manusia dalam

berinteraksi. Dalam konteks keperawatan, para penguasa (yang didominasi

laki-laki) turut berperan dalam proses marginalisasi peran gender dengan

mengkonsentrasikan peran perempuan ke dalam pekerjaan-pekerjaan tertentu

yang dianggap pantas. “Kodrat” perempuan dibentuk secara kultural untuk

memperkuat alasan-alasan dalam proses marginalisasi tersebut. Konstruksi

tersebutlah yang membentuk persepsi bahwa profesi perawat adalah “milik”

perempuan.

B. PERAN DAN TANGGUNGJAWAB PERAWAT DALAM PELAYANAN

KESEHATAN

Jika memandang secara profesional, profesi perawat pada dasarnya

tidak membedakan pembedaan peran gender seperti yang terlihat dalam

c
persepsi masyarakat hasil bentukan sejarah. Hal ini bisa dilihat dari definisi

perawat hingga tugas-tugas keperawatan yang tidak terdapat pembedaan yang

dikaitkan dengan peran gender.

Keperawatan Merupakan suatu bentuk pelayanan profesional yang

merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, didasarkan pada ilmu

dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko-sosiokultural-spiritual

yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan

komunitas, baik sakit maupun sehat serta mencakup seluruh siklus hidup

manusia. Aktivitasnya berupa bantuan yang diberikan karena adanya

kelemahan fisik dan atau mental, keterbatasan pengetahuan serta kurangnya

kemauan melaksanakan kegiatan sehari-hari secara mandiri.

Paradigma keperawatan diatas kemudian diterjemahkan dalam

aktivitas riil pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Di Indonesia, paradigma

tersebut diterjemahkan ke dalam standar praktek keperawatan profesional

yang harus ditentukan oleh PPNI, yaitu :

6. Pengkajian

Proses Perawat mengumpulkan data tentang status kesehatan klien secara

sistematis, menyeluruh, akurat, singkat, berkesinambungan.

7. Diagnosa Keperawatan

Perawat menganalisis data pengkajian untuk merumuskan diagnosis

keperawatan.

8. Perencanaan

ci
Perawat membuat rencana tindakan keperawatan untuk mengatasi masalah

dan meningkatkan kesehatan klien.

9. Implementasi

Perawat membuat rencana tindakan yang telah diidentifikasi dalam

rencana asuhan keperawatan.

10. Evaluasi

Perawat mengevaluasi kemajuan klien terhadap tindakan dalam

pencapaian tujuan dan merevisi data dasar perencanaan. (Nursalam,

2002:8)

Menurut Kozier Barbara (Nursalam, 2001:14), peran yang dibangun

perawat, secara garis besar digambarkan sebagai berikut:

4. Care Giver

Sebagai care giver, seorang perawat harus memiliki kemampuan untuk :

c. Memberikan pelayanan keperawatan kepada individu, keluarga,

kelompok atau masyarakat sesuai diagnosis masalah yang terjadi mulai

dari masalah yang bersifat sederhana sampai pada masalah yang

kompleks.

d. Memperhatikan individu dalam konteks sesuai kehidupan klien.

Perawat harus memperhatikan klien berdasarkan kebutuhan signifikan

dari klien. Perawat menggunakan proses keperawatan untuk

mengidentifikasi diagnosis keperawatan mulai dari masalah fisik

sampai pada masalah psikologis.

cii
5. Conselor

Konseling adalah proses membantu klien untuk menyadari dan mengatasi

tekanan psikologis atau masalah sosial untuk membangun hubungan

interpersonal yang baik dan untuk meningkatkan perkembangan

seseorang. Didalamnya diberikan dukungan emosional dan intelektual.

Dalam hal ini, peran perawat ditunjukkan dengan :

e. Mengidentifikasi perubahan pola interaksi klien terhadap keadaan

sehat sakitnya.

f. Meningkatkan kemampuan beradaptasi guna merancang metode

berinteraksi.

g. Memberikan konseling atau bimbingan penyuluhan kepada individu

atau keluarga dalam mengintegrasikan pengalaman kesehatan dengan

pengalaman yang lalu.

h. Pemecahan masalah di fokuskan pada masalah keperawatan

6. Education

Peran berperan sebagai seorang pendidik, layaknya seorang guru. Pada

intinya, aktivitas yang dilakukan adalah memberikan pengetahuan dan

kesadaran baru yang mampu merubah perilaku dalam bidang kesehatan.

Nursalam juga menjabarkan peran perawat dengan singkatan CARE. Ia

mendeskripsikan konsep CARE sebagai berikut.

C: Communication. Seorang perawat harus memiliki kemampuan

berkomunikasi secara lengkap, akurat dan cepat dan harus didukung fakta

yang memadai.

ciii
A: Aktivity. Aktivitas yang dilaksanakan adalah memberikan asuhan

kepada klien yang ditunjang oleh sikap kesungguhan dan empati serta

bertanggungjawab terhadap setiap tugas yang diembannya. Selain itu, ia juga

harus bisa membangun kerjasama dengan teman sejawat dan tenaga kesehatan

lainnya.

R : Review. Prinsip utama dalam peran ini adalah moral dan etika

keperawatan. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya kesalahan-

kesalahan yang bisa berakibat fatal bagi konsumen dan profesi keperawatan.

Karena itu, seorang perawat harus mampu menjaring berbagai informasi dan

mengikuti perubahan yang terjadi dalam hal pelayanan kesehatan yang

senantiasa berkembang.

E : Education. Seorang perawat dituntut untuk berkomitmen terhadap

profesinya dengan terus menerus menggali ilmu melalui pendidikan formal

dan informal sampai pada suatu keahlian tertentu.

Tugas-tugas perawat juga diatur dalam Keputusan Menteri Negara

Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor: 94/Kep/M.PAN/II/ 2001. Dalam

pasal 4 disebutkan bahwa tugas pokok perawat adalah memberikan pelayanan

keperawatan berupa asuhan keperawatan / kesehatan kepada individu,

keluarga, kelompok dan masyarakat dalam upaya kesehatan, pencegahan

penyakit, penyembuhan penyakit, dan pemulihan serta pembinaan peran serta

masyarakat dalam rangka kemandirian dibidang keperawatan / kesehatan.

Peran sering diartikan sebagai serangkaian perilaku yang diharapkan

dituntut oleh masyarakat terhadap individu atau pun organisasi yang

civ
memegang kedudukan tertentu dalam masyarakat. dalam konteks

keperawatan, peran yang menjadi tanggungjawab perawat adalah memberikan

pelayanan kesehatan sesuai dengan tugas yang diembannya.

Arah dari pelayanan kesehatan adalah menyehatkan masyarakat. Sehat

dalam hal ini tidak hanya dipandang sebagai suatu keadaan yang terbebas dari

penyakit, namun lebih kepada keseimbangan bio-psiko-sosio-spiritual yang

optimum, yang dapat meningkatkan kemampuan dan potensi manusia di

masyarakat.

Kualitas layanan kesehatan bisa dilihat dari tanggapan yang diberikan

oleh para pasien terhadap pelayanan rumah sakit. Pada dasarnyanya secara

umum kualitas layanan kesehatan yang dilakukan RSUP Dr. Soeradji

Tirtonegoro Klaten mendapat tanggapan positif dari para pasien. Mereka

menganggap bahwa rumah sakit telah memberikan pelayanan yang baik

seperti yang tampak dalam beberapa pernyataan berikut :

Cukup memuaskan, sampai saat ini nggak ada masalah berarti. Para
perawatnya juga lumayan baik mas dan mereka semua cukup ramah untuk
melayani kami.(Bagus)

Alhamdulillah baik sekali, doktere penak isoh dijak gojek yo lucu dadi
asyik nang kene cepet mari. Perawatnya pun juga baek2 baek. Tapi
kadang-kadang Beda juga mas. kalau sama perawat perempuan lebih
telaten dan sabar melayani kalau laki-laki galak, dan pendiam,
(Tri Jati S)

Secara umum yang saya rasakan cukup bisa dikatakan agak baek. Namun
dalam beberapa hal masih ada pembedaan yang sangat jelas bahwa
pasien yang nggak punya duit diacuhkan begitu saja. (Joko W)

Dari pernyataan tersebut, ada seorang pasien yang merasakan

perbedaan pemberian layanan terkait perbedaan gender. Ia menanggap bahwa

cv
pelayanan perawat lebih baik ketimbang perawat laki-laki. Ini menunjukkan

masih adanya pandangan perbedaan peran gender berdasarkan pada konsep

gender.

Namun, jika memperhatikan tugas dan peran yang dijalankan perawat

secara umum, tidak ada yang secara tegas menggambarkan perbedaan peran

dan tugas terkait dengan perbedaan peran gender. Secara umum, tugas, peran

dan tanggungjawab seorang perawat bisa dilakukan oleh laki-laki dan

perempuan. Yang membedakan tugas dan tanggungjawab tersebut bukanlah

peran gender, namun lebih kepada tingkat pendidikan dan keilmuan serta

kedudukan para perawat dalam lembaga mereka keperawatan di rumah sakit.

Karena itu, ketika konstruksi sosial yang membentuk sejarah dan

dialektika sosial di masayarakat mengarahkan pada pandangan bahwa profesi

perawat adalah profesi yang lebih cocok kepada perempuan, tak lebih dari

hasil pembentukan struktur pengetahuan masyarakat lewat relasi kuasa.

Seiring dengan perkembangan zaman, saat ini semakin banyak

institusi-institusi profesional yang menangani “pekerjaan-pekerjaan

perempuan” dengan sejumlah karyawan laki-laki terlibat atau bahkan berperan

penting di dalamnya (Vianello, 1990). Hal ini menunjukkan bahwa kini dunia

kerja lebih menitikberatkan faktor kemampuan individu dan mulai

meninggalkan pendapat konvensional tentang pembagian kerja menurut jenis

kelamin. Seperti yang terjadi di dunia keperawatan dimana pada era sekarang

ini perawat laki-laki juga menjadi bagian penting dari dunia keperawatan.

Motivasi utama dari profesi ini adalah kemanusiaan, selain dari motivasi

cvi
pribadi untuk mendapatkan penghidupan yang layak. Sehingga, baik laki-laki

dan perempuan memiliki potensi untuk mengembangkan profesi ini. Artinya,

pandangan bahwa profesi perawat adalah “milik” perempuan pada saat ini

tidak terlalu menonjol.

Mungkin jika kita ingin menganalisa lebih jauh lagi, secara tersirat,

masyarakat mulai mengakui kepemilikan kualitas feminin dan maskulin

dalam diri tiap manusia (laki-laki maupun perempuan) walaupun masih ada

keterikatan dengan stereotype tentang laki-laki dan perempuan secara umum.

C. DISTRIBUSI PERAN KEPERAWATAN MENURUT PERBEDAAN

PERAN GENDER

Jika dillihat dari segi kuantitas, di RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro

Klaten, jumlah perawat laki-laki masih lebih sedikit jika dibandingkan dengan

perawat perempuan. Data Perawat Laki-Laki dan Perempuan menurut Tingkat

Pendidikan di RS. Soeradji Tirtonegoro Klaten, Data Per Februari 2007

Tingkat Pendidikan Laki-Laki Perempuan


S1 Keperawatan 7 11
D3 Keperawatan 98 -
SPK 20 31
PK 1 -
D4 Kebidanan - 1
D3 Kebidanan - 9
D3 Anestesi - 1
Bidan - -
D3/SPRG/P Gigi 1 24
DK/PK - 2
Jumlah 127 247
Sumber : Data Bidang Perawat RSUD Soeradji Tirtonegoro Klaten

cvii
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa komposisi Perawat Laki-laki

masih kecil jika dibandingkan dengan perawat perempuan 39,06% untuk

perawat laki-laki dan 66,04% untuk perawat perempuan. Data secara

kuantitatif menunjukkan bahwa di RSUP Soeradji Tirtonegoro Klaten,

Perempuan lebih mendominasi profesi ini meskipun dalam rentang tidak

terlalu besar. Dari data tersebut, menunjukkan bahwa profesi perawat masih

terikat dengan stereotype peran gender. Hal ini juga terungkap dalam

pernyataan salah satu perawat yang ada di RSUP Soeradji Tirtonegoro Klaten

ia berikut adalah pernyataanya :

Di indonesia khususnya jawa posisi perempuan lebih dipandang bisa


dan mampu untuk mengemban status perawat. ini bisa dilihat dalam
ruangan ini (bagian keperawatan) kebanyakan mereka perempuan.
(Endang Wuryaningsih ,AMK, S. Pd. K)

Dalam memberikan peran sebagai seorang perawat, secara umum tidak

ada pembedaan dalam distribusi tugas keperawatan terkait dengan perbedaan

peran gender. Hal ini tampak dari apa yang diceritakan oleh para informan

lewat pernyataan berikut ini.

Semuanya sama saja mas, antara perawat laki-laki dan perawat


perempuan dimana harus menjalankan segala tugas dan tanggung jawab
dlm bidangnya. (Warsana)

Soal tugas keperawatan menurut pandangan saya semua sama baik


perawat laki-laki maupun perempuan. (Tri Maryanti)

Kalau pembedaan secara kegiatan saya rasa tidak ada mas, mungkin yang
ada hanya etika saja. (Suyatun).
Secara tegas tidak dibedakan, tapi sebagai manusia ciptaan Allah yang
dikarunia oleh kemampuan masing-masing kan berbeda. (Endang
Wuryaningsih ,AMK, S. Pd. K)

cviii
Namun dalam praktek di lapangan, pekerjaan dijalankan secara luwes

dengan mengutamakan kualitas layanan. Pemberian pelayanan dengan

memperhatikan faktor gender dilakukan dengan alasan profesionalitas.

Kerja tu kan luwes tho mas, jadi ya bisa minta tolong sama rekan perawat
yang lain apabila nggak mampu untuk melakukan tugasnya. Misalnya
kebetulan ada pasien perempuan meminta kami untuk memandikannya, ya
minta tolong sama perawat wanitanya. (Warsana)

Kalau dalam proses perawatannya memang kadang-kadang ada pasien


yang meminta untuk dirawat oleh jenis kelamin tertentu. Misalnya seperti
yang selama ini saya alami saya sering memandikan pasien [sibin] baik
laki maupun pasien perempuan. (Tri Maryanti)

Dalam beberapa hal saya perempuan tidak mampu untuk melakukan tugas
maka saya minta tolong pada perawat yang lain. (Suyatun)

ya dalam prakteknya tetep yang laki-laki seringkali cenderung untuk


membantu dalam hal-hal yang berat-berat. Misalnya seperti angkat
pasien. (Endang Wuryaningsih ,AMK, S. Pd. K)

Keluwesan kerja yang dibangun dalam hubungan kerja keperawatan

seperti tampak dalam pernyataan di atas menyiratkan bahwa pandangan

terhadap perbedaan peran gender masih berlaku, namun tidak dalam posisi

untuk meminggirkan antara satu dan yang lainnya, tapi lebih kepada usaha

untuk mencapai kualitas layanan yang diinginkan. Seperti pada kasus

memandikan pasien. Secara profesional, masing-masing perawat baik laki-laki

maupun perempuan dituntut untuk bersedia memandikan setiap pasien baik

laki-laki maupun perempuan. Namun karena adanya faktor etika yang

ditentukan oleh pandangan moral dan agama, sehingga kadang terjadi ada

pasien yang meminta dimandikan dengan perawat yang sejenis dengan

kelaminnya.

cix
Kemudian dalam kasus angkat mengangkat, laki-laki terkadang lebih

diutamakan dalam pelaksanaan tugas ini. Ini menunjukkan bahwa stereotype

laki-laki lebih kuat secara fisik ketimbang perempuan masih ada.

Secara profesional, sebenarnya para perawat memahami tugas dan

tanggungjawab masing-masing (perawat laki-laki dan perempuan) bahwa

mereka memiliki posisi yang setara serta tugas dan tanggungjawab yang sama.

Tapi karena faktor sosial budaya masyarakat yang terpengaruh yang

terkonstruksi oleh pemahaman peran gender yang dipengaruhi budaya

patriarkhis, maka dalam pelaksanaan tugas dan tanggungjawabnya masih

terjadi pembedaan peran gender yang pada akhirnya memperlihatkan posisi

yang tidak setara antara perawat laki-laki dan perempuan.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa Konstruksi sosial gender

secara perlahan berpengaruh terhadap proses biologis masing-masing kelamin.

Misalnya, karena karena adanya konstruksi sosial, seorang laki-laki harus

memiliki sifat kuat. Maka kaum laki-laki tersosialisasi dan termotivasi untuk

menjadikan dirinya kuat untuk memenuhi sifat yang dianggap umum oleh

masyarakat tersebut. Sebaliknya, karena dalam konstruksi sosialnya

perempuan harus bersikap lemah lembut, maka sejak bayi, proses sosialisasi

yang dibangun perempuan mengarah pada sifat tersebut. Proses sosialisasi

yang berlangsung secara mapan dalam pada akhisnya mempengaruhi secara

fisik dan psikis hingga pada akhirnya ada kesulitan untuk membedakan

apakah sifat-sifat tersebut merupakan sifat dasar manusia atau hasil dari proses

konstruksi sosial.

cx
Distribusi peran dan tanggungjawab dalam profesi keperawatan juga

tampak dalam struktur kelembagaan yang ada. Di bidang keperawatan RSUP

Soeradji Tirtonegoro Klaten, struktur kelembagaan yang ada menunjukkan

bahwa perempuan lebih dominan dalam menduduki jabatan-jabatan penting

dalam manajerial. pengelolaan manajemen kerja profesi. Struktur tersebut

menetukan besar kecilnya akses informasi serta kewenangan seseorang dalam

menetukan kebijakan tertentu, seperti yang tergambar dalam pengakuan par

ainforman berikut ini :

Akses semua punya mas, tinggal besar kecilnya pengaruh yang dia
miliki. Kebijakan tentang Kenaikan Pangkat seorang Perawat.(Puji)

Terus terang saya kurang mengamati sapa saja yang punya akses ke
para atasan, kalau yang saya tahu hanya beberapa yang mampu dan
punya akses ke pembuat kebijakan, misalnya kepala bagian,kepala
ruang. (Warsana)

Para kepala ruang yang langsung punya akses terhadap pembuat


kebijakan, apalagi sekarang kan era otonomi daerah jadi perawat
dituntut untuk lebih memahami kebijakan dan sebisa mungkin untuk
mengontrolnya. (Endang Wuryaningsih, AMK, S. Pd. K)

Struktur organisasi yang didominasi oleh para perempuan seperti yang

tergambar di atas menunjukkan bahwa di RSUP Soeradji Tirtonegoro Klaten,

menunjukkan bahwa dalam soal akses informasi dan kebijakan, perawat

perempuan mendapat akses yang lebih besar dibandingkan dengan perawat

laki-laki. Perempuan masih dianggap sebagai yang terdepan dalam

pengelolaan manajemen keperawatan.

cxi
Padahal, jika dilihat peran, tugas dan tanggungjawab perawat secara

umum, tidak ada penegasan bahwa profesi ini lebih mengutamakan kaum

perempuan dibanding kaum laki-laki.

Kondisi tersebut tidak lepas dari faktor sejarah dan konstruksi sosial

yang berlangsung secara mapan sejak awal kemunculan profesi ini dimana

adanya relasi kuasa dan pandangan budaya patriarkhi mengakibatkan profesi

perawat menjadi salah satu bidang pekerjaan yang diarahkan untuk para

perempuan. Akibatnya peran perempuan menjadi lebih dominan sehingga

memunculkan ketidaksetaraan antara perawat laki-laki dan perempuan.

cxii
BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Kesetaraan gender adalah suatu keadaan dimana terjadi kesetaraan

atau keadilan sosial antara laki-laki dan perempuan. Suatu keadaan yang

diisyaratkan oleh pengertian tersebut adalah penerimaan martabat kedua

jenis kelamin dengan ukuran yang setara. Orang harus mengakui bahwa

laki-laki dan perempuan memiliki hak yang setara dalam berbagai bidang

kehidupan sosial, politik dan ekonomi. Keduanya memiliki hak yang

setara dalam tanggung jawab sebagaimana dalam hal kebebasan.

Di masyarakat, pola perilaku dan kegiatan laki-laki dan perempuan

merupakan konstruksi secara sosial yang membentuk identitas. Semenjak

dulu sudah dikonstruksikan bahwa peran gender memang sudah ada dan

merupakan kodrat manusia, ditambah dengan proses sosialisasi gender

yang sudah sangat lama didukung adanya legitimasi agama dan budaya.

Maka semakin kuat interpretasi orang bahwa perbedaan peran, posisi dan

sifat perempuan dan laki-laki adalah kodrat. Padahal baik peran, posisi dan

sifat ini adalah bentukan sosial dan budaya yang disebut gender.

Dalam dunia keperawatan, kesetaraan gender yang terbangun dapat

dilihat dalam matrik sebagai berikut :

cxiii
Tabel 5.1 Analisis Data Hasil Penelitian

No. Sudut Analisis


Pandang
1. Sejarah Dialektika sejarah yang berkembang dalam profesi ini
Keperawatan membentuk stereotype bahwa profesi keperawatan
merupakan profesi dipandang lebih cocok untuk para
perempuan ketimbang laki-laki. Kondisi tersebut tak lepas
dari adanya relasi kuasa dalam budaya masyarakat.
Akibat dari relasi kuasa ini kemudian memarginalisasikan
peran perempuan di ranah publik. Hanya ada perkerjaan-
perkerjaan tertentu yang dipandang pantas disandang oleh
perempuan. Dan pekerjaan tersebut tidak jauh dari peran
mereka dalam rumah tangga, dimana salah satunya adalah
profesi perawat.
2. Profesi Jika dilihat dari profesinya sebagai tenaga kesehatan, tidak
sebagai ada perbedaan peran gender. Tugas-tugas sebagaimana
Tenaga yang tercantum dalam undang-undang ataupun kode etik
Kesehatan keperawatan tidak ada yang membedakan tugas perawat
berdasarkan gender. Namun, dalam prakteknya, tugas-
tugas pelayanan kesehatan dijalankan secara luwes dimana
pembedaan peran gender masih tampak. Misalnya saat
memandikan pasien, pekerjaan angkat-angkat dan
sebagainya. Ini terjadi karena faktor nilai-nilai budaya dan
moral yang diyakini masyarakat. Dari sisi pelayanan,
sebagian pasien juga masih menganggap bahwa perempuan
lebih luwes dalam menjalankan tugas-tugas keperawatan.
3. Struktur Proses marginalisasi yang memunculkan stereotype bahwa
Kelembagaan perawat merupakan pekerjaan perempuan merembet pada
struktur lembaga. Dalam struktur yang tampak di RSUP
Soeradji Tirtonegoro Klaten, perempuan masih dianggap
lebih mampu dalam menjalankan tugas-tugas keperawatan.
Hal ini tampak dari struktur kelembagaan yang didominasi
oleh kaum perempuan. Dari jumlah perawat, dapat juga
dilihat bahwa perawat perempuan lebih banyak ketimbang
perawat laki-laki.

Jika dilihat dengan kerangka analisis Kabber, fenomena kesetaraan

yang terbangun dalam profesi keperawatan di RSUP Soeradji Tirtonegoro

Klaten dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

cxiv
1. Analisis Berdasarkan Tinjauan Tujuan Profesi Keperawatan

Jika ditinjau dari tujuan dan profesi keperawatan, yakni berperan dalam

peningkatan layanan kesehatan masyarakat, maka pada dasarnya tidak ada

pembedaan peran gender dalam profesi keperawatan. Baik kaum laki-laki

maupun perempuan posisinya setara dan memiliki potensi untuk

berkembang dan mengembangkan profesi ini sebagai bagian dari

pengabdian mereka terhadap kemanusiaan serta usaha mereka untuk

mendapatkan penghidupan yang layak.

2. Analisis Relasi Sosial Yang Terkait Dengan Profesi Keperawatan

Munculnya stereotype bahwa profesi perawat hanya cocok untuk perawat,

bisa dilihat dari relasi sosial yang terbangun dalam masyarakat. Relasi ini

ditentukan oleh proses sosialisasi dan adanya faktor kuasa yang

berpengaruh terhadap struktur pengetahuan masyarakat. Adanya

pandangan bahwa perempuan memiliki sifat-sifat lemah lembut, teliti, dan

lebih emosional membuat profesi perawat dianggap lebih cocok bagi para

perempuan. Selain itu, adanya budaya patriarkhi dimana dalam rumah

tangga, perempuan dianggap tidak mampu memimpin, dan hanya bertugas

dalam pekerjaan rumahan seperti merawat anak, membersihkan rumah,

memasak dan sebagainya mengakibatkan akses pekerjaan yang terbatas

bagi perempuan. Ketika perempuan bekerja di luar rumah, maka pekerjaan

yang dijalankan tidak jauh berbeda dengan apa yang mereka lakukan

dalam rumah tangga. Hal ini menyebabkan proses marginalisasi

perempuan dalam akses pekerjaan dimana perempuan diarahkan pada

cxv
profesi tertentu yang dekat dengan pekerjaan mereka di rumah, salah

satunya adalah profesi sebagai perawat. Akibatnya, dalam dunia

keperawatan perempuan menjadi lebih dominan ketimbang laki-laki.

Proses sosialisasi yang kurang berimbang mengakibatkan kontruksi sosial

yang terbentuk menjadi bias gender.

3. Analisis Institusional Pada Lembaga Keperawatan

Proses konstruksi peran gender yang timpang tersebut berpengaruh dalam

struktur kerja yang dibangun dalam lembaga keperawatan. Dalam kerja-

kerja teknis, laki-laki masih dianggap lebih kuat secara fisik sehingga

untuk pekerjaan-pekerjaan yang memerlukan kekuatan fisik lebih, maka

laki-laki lebih dikedepankan. Sedangkan dari struktur kelembagaan yang

ada, perempuan lebih memiliki akses terhadap informasi dan kewenangan

dalam pengambilan kebijakan karena mereka menduduki posisi-posisi

penting. Sedangkan dilihat dari kualitas layanan, masyarakat masih ada

yang menganggap bahwa perempuan dianggap lebih cakap dalam

menjalankan profesi ini.

Dari analisis di atas, peneliti menyimpulkan bahwa secara

profesional, masing-masing perawat baik laki-laki dan perempuan

mengakui bahwa mereka memiliki posisi yang setara antara satu dan yang

lainnya. Namun, adanya konstruksi sosial yang terpengaruh budaya

patriarkhi memunculkan pembedaan peran gender. Pada akhirnya,

pemahaman tentang peran gender tersebut menentukan distribusi peran

dan tanggungjawab yang memperlihatkan bahwa perawat laki-laki dan

cxvi
perempuan tidaklah setara. Dalam hal pemberian pelayanan kesehatan,

secara professional tidak ada pembedaan terhadap pasien laki-laki dan

perempuan. Namun, faktor budaya dan etika masyarakat setempat

membuat pelayanan kesehatan diberikan secara luwes dengan tujuan untuk

meningkatkan kualitas layanan kesehatan.

B. IMPLIKASI

1. Implikasi teoritis

Dalam penelitian ini menggunakan teori aksi yang terdapat dalam

paradigma definisi sosial yang menekankan pada tindakan sosial karya

Max Weber. Secara definitif Max Weber merumuskan sosiologi sebagai

ilmu yang berusaha menafsirkan dan memahami (interpretatif

understanding) tindakan sosial serta antar hubungan sosial untuk sampai

pada penjelasan kausal. Dalam definisi ini terkandung dua konsep

dasarnya, yaitu konsep tindakan dan konsep tentang penafsiran dan

pemahaman.

Hasil penelitian ini secara teoritis mendukung teori aksi ini, dimana

pendekatan ini menekankan kepada tindakan dari perawat laki-laki dan

perawat perempuan dalam berperan menjadi perawat di Rumah Sakit

Soeradji Tirtonegoro Klaten yang dipengaruhi persepsi mereka tentang

profesi perawat yang hanya bisa dilakukan oleh perempuan dan juga pada

konstruksi budaya patriarkhi yang masih melekat kuat di dalamnya.

cxvii
Pembentukan perbedaan-perbedaan gender dibentuk secara sosial dan

kultural, misalnya lewat agama dan kekuasaan. Proses panjang tersebut

kemudian membentuk persepsi manusia yang menganggap perbedaan

gender adalah sebuah kodrat yang harus diterima, seolah-olah perbedaan

tersebut terjadi secara biologis dan tak dapat diubah. Persepsi manusia

tentang gender kemudian menentukan peran-peran tertentu yang dianggap

pantas atau tidak pantas disandang perempuan atau laki-laki di dalam

masyarakat.

Dalam penelitian ini juga menggunakan teknik analisis gender. Analisis

gender merupakan sistem analisis terhadap ketidakadilan yang ditimbulkan

oleh perbedaan gender. Kedua jenis kelamin laki-laki dan perempuan

dapat menjadi korban ketidakadilan. Analisis gender juga membantu

peneliti untuk mengarahkan perhatian tidak hanya pada perilaku perawat

laki-laki dan perawat perempuan saja, melainkan pada sistem dan struktur

sosial yang dikonstruksi oleh keyakinan dan ideologi sosial yang bias

gender.

Dalam hal ini peneliti menggunakan teknik analisis kerangka Kabber

yang menggunakan kerangka analisis gender dengan pendekatan relasi

sosial. Pendekatan ini dimaksudkan untuk menganalisis ketidakadilan

gender yang ada dalam distribusi sumber daya, tanggungjawab dan

kekuasaan. Dalam pendekatan ini ada 3 komponen analisis untuk

menginterpretasikan realitas. Sasaran pembangunan sebagai kesejahteraan

manusia, konsep relasi sosial dan analisis institusional.

cxviii
2. Implikasi metodologis

Dalam penelitian ini, untuk mendapatkan deskripsi tentang profesi

keperawatan secara menyeluruh tidak cukup hanya dengan melakukan

wawancara mendalam dengan para informan. Analisis sejarah diperlukan

untuk merunut bagaimana dialektika sosial yang terjadi sehingga

membentuk realitas yang sekarang ini tampak.

3. Implikasi Praktis

Secara praktis, fenomena yang diangkat dalam penelitian ini menunjukkan

bahwa pada dasarnya profesi keperawatan tidak berkaitan dengan

perbedaan peran gender yang dikonstruksi di masyarakat. Namun adanya

konstruksi sosial yang terbangun sacara mapan mengakibatkan pandangan

yang membedakan peran gender tersebut masih kuat hingga kini.

C. SARAN

Dari berbagai kesimpulan diatas, peneliti mencoba memberi masukan sebagai

berikut :

1. Perlu adanya upaya untuk mengubah pandangan yang menganggap

bahwa profesi keperawatan identik dengan kaum perempuan.

Pengubahan ini bisa dilakukan dengan memberikan pengetahuan gender

dalam pendidikan keperawatan.

2. Adanya dominasi perempuan dalam struktur kelembagaan profesi

perawat juga perlu perubahan. Artinya, setiap orang baik laki-laki

maupun perempuan mendapat kesempatan yang sama untuk berkembang

cxix
dan mengembangkan profesi ini. Penentuan struktur lembaga tidak

didasarkan pada perbedaan peran gender, namun lebih kepada prestasi

kerja, komitmen terhadap profesi dan kemampuan individu.

cxx
DAFTAR PUSTAKA

Abdullah Irwan. 1997. Sangkan Paran Gender. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Djojodibroto. 1997. Pelayanan Publik. Rajawali Press, Jakarta.

Fakih, Mansour. 1999. Analisis Gender dan Transformasi Sosial.Yogyakarta :

pustaka Pelajar

Johnson, Doyle Paul. 1989. Teori Sosiologi Klasik 2dan Modern Jilid I,

Terjemahan Robert Lawang, Gramedia, Jakarta

Johnson, Doyle Paul. 1989 . Teori Sosiologi Klasik 2dan Modern Jilid 2,

Terjemahan Robert Lawang, Gramedia, Jakarta

Lu Verne Wolf dkk . 1984. Sejarah Keperawatan, Terjemahan UI Press, Jakarta

Moleong, Lexy.1991. Metode Penelitian Kualitatif , Rosdakarya , Bandung

Miles, MB & Huberman.1982. Analisis Data Kualitatif, UI- Press, Jakarta.

Mandy,Mccdonald. 1997. Gender Planning in Development Agencies, Oxford

Oxfam publication,

Miftahudin, Fauzi Abdullah & Roem Topati Masang. 1996. Pisau Bedah Analisis

Gender : Tujuh Kerangka Analisis Gender. Terjemahan bebas dari A.

Toll Kit : Concept & Frame work for Gender Analysis &Planning.

OXFAM UK/I Gender Learning Team.

Nursalam. 2001. Proses dan Dokumentasi Keperawatan Konsep dan Praktik.

Salemba Medika, Jakarta

Ritzer, George .1985. Sosiologi Ilmu pengetahuan Berparadigma Ganda,

Terjemahan oleh : Drs Alimandan, Rajawali Press, Jakarta.

cxxi
Saptari, Ratna& Briggitte Holzner.1997. Perempuan dan Perubahan Sosial

(Sebuah Pengantar studi Perempuan)

Suryadi, Ace & Eep Idris (2004). Kesetaraan gender (Dalam Bidang Pendidikan)

, Bandung, PT Gresindo

Susanto, Astrid (1985), Pengantar Sosiologi dan Perubahan Sosial, Bina Cipta,

Jakarta

Slamet, Y. 2001. Teknik Pengambilan Sampel untuk penelitian Kualitatif dan

Kuantitatif. Surakarta: UNS Press

Soekanto,Soerjono.1985.Kamus Sosiologi. Rajawali Press. Jakarta

Biro Pusat Statistik. 2007. Kota Klaten dalam Angka 2007. Klaten

Poloma, Margaret M. 2003. Sosiologi Kontemporer. PT Raja Grafindo Persada.

Jakarta.

Soekanto,Soerjono.1993.Beberapa teori Sosiologi tentang Struktur Masyarakat.

PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Soekanto,Soerjono.1993. Sosiologi Suatu Pengantar. Rajawali Press. Jakarta

Sutopo,HB. 2002. Metode Penelitian Kualitatif. Sebelas Maret University Press.

Surakarta

Illich Ivan. 2005. Matinya Gender. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Sumber Selain Buku

Internet :

www.google.Com Januari 2009.Quality Assurance Keperawatan

www.google.Com Januari 2009.Etika Keperawatan di Indonesia

cxxii
www.google.Com Januari 2009.Sejarah Keperawatan Indonesia

www.ippni.com :”Kode etik keperawatan’’

www.klaten.co.id sejarah perkembangan kota klaten

www.university of Chicago.com Signs: Journal of Women in Culture and Society

2006, vol. 31, no. 4] 2006 by The University of Chicago

Professor Keng Chua, Centre for Media Communications and Asian Studies,

Faculty of Arts,2007 Southern Cross University, PO Box 157, Lismore, NSW

2480 Australia

Skripsi :

Windyarini, Tatik. 2005. Peran Perempuan dalam Gerakan Militan Islam


(Analisis Gender mengenai Pola Relasi dan Peran Publik Perempuan
dalam Gerakan Militan Islam di Kota Surakarta). FISIP UNS
Laili Nur. 2006. Keluarga Amalgamansi Keturunan arab dan Analisis gender
(Studi Deskriptif Kualitatif mengenai keluarga amalgamansi Keturunan
Arab di Kecamatan Pasar Kliwon, Surakarta)

cxxiii