Anda di halaman 1dari 208

MANAJEMEN KURIKULUM

MANAJEMEN KURIKULUM

1
MANAJEMEN KURIKULUM

2
MANAJEMEN KURIKULUM

MANAJEMEN
KURIKULUM

Prof. Dr. Syafaruddin, M.Pd.


Dr. H. Amiruddin MS, M.A

Kelompok Penerbit Perdana Mulya Sarana

3
MANAJEMEN KURIKULUM

MANAJEMEN KURIKULUM
Penulis: Prof. Dr. Syafaruddin, M.Pd., dan
Dr. H. Amiruddin MS, M.A.

Copyright © 2017, pada penulis


Hak cipta dilindungi undang-undang
All rights reserved

Penata letak: Muhammad Yunus Nasution


Perancang sampul: Aulia Grafika

Diterbitkan oleh:
PERDANA PUBLISHING
Kelompok Penerbit Perdana Mulya Sarana
(ANGGOTA IKAPI No. 022/SUT/11)
Jl. Sosro No. 16-A Medan 20224
Telp. 061-77151020, 7347756 Faks. 061-7347756
E-mail: perdanapublishing@gmail.com
Contact person: 08126516306

Cetakan pertama: Nopember 2017

ISBN 978-602-5674-62-0

Dilarang memperbanyak, menyalin, merekam sebagian


atau seluruh bagian buku ini dalam bahasa atau
bentuk apapun tanpa izin tertulis dari penerbit atau penulis

4
MANAJEMEN KURIKULUM

KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrohim

S
egala puji dan syukur dipersembahkan kehadirat Allah swt
yang senantiasa menganugerahkan nikmat, taufik dan hidayah-
Nya sehingga penulisan buku ini dapat diselesaikan sebagaimana
yang diharapkan. Sholawat serta salam disampaikan untuk junjungan
alam, nabi Muhammad saw yang membawa risalah Islam sebagai pedoman
hidup untuk meraih kebahagian di dunia ini dan di akhirat nanti, meraih
tempat terbaik surga Jannatun Na’im.
Penulisan buku Manajemen Kurikulum dimaksudkan untuk menyediakan
buku sumber bacaan bagi mahasiswa program magister dan Doktor
bidang pendidikan (khususnya Manajemen Pendidikan dan Pendidikan
Agama Islam), bahkan bagi peminat kajian manajemen pendidikan,
khususnya yang mendalami manajemen kurikulum pendidikan. Kajian
dalam buku ini diharapkan dapat memperluas cakrawala ilmu pengetahuan,
termasuk kajian transdisiplin yang memudahkan para ilmuan dan praktisi
untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan kontemporer.
Dengan selesaikan penulisan buku ini disampaikan terima kasih
kepada Rektor UIN Sumatera Utara bapak Prof. Dr. Saidurrahman, M.Ag,
yang memberikan kemudahan bagi penerbitan buku ini. Mudah-mudahan
kehadiran buku ini bermanfaat untuk membangun budaya ilmu dan
kemaslahatan untuk pengembangan pendidikan yang berkeunggulan,
baik di madrasah, pesantren dan sekolah Islam serta perguruan tinggi
sehingga terwujud peradaban bangsa yang memiliki daya saing lokal,
nasional, regional dan global. Keunggulan pendidikan nasional yang
mampu menghasilkan sumberdaya manusia sebagaimana dimaksudkan
adalah bermuara kepada memiliki kedalaman iman, penguasaan ilmu
pengetahuan, teknologi dan seni yang berbasis kepada peradaban bangsa

5
MANAJEMEN KURIKULUM

Indonesia yang mampu memenangkan persaingan global dan bekerjasama


untuk peradaban baru bagi terwujudnya peradaban baru bangsa-bangsa.
Selain itu terima kasih kepada semua pihak yang memberikan spirit
bagi penulis untuk menyelesaikan dan menerbitkan buku ini yang sudah
lama diharapkan kehadirannya oleh peminat kajian manajemen kurikulum
pendidikan di pentas perbukuan nasional.
Wallahu A’lam bisshowab.

Medan, 16 Juli 2017


Penulis

6
MANAJEMEN KURIKULUM

DAFTAR ISI

Kata Pengantar .......................................................................... 5


Daftar Isi .................................................................................... 7

BAB I
PENDAHULUAN ..................................................................... 11
A. Peluang Pengembangan Kurikulum ..................................... 11
B. Kebijakan Pembaharuan Kurikulum ..................................... 16
C. Relasi antara Pendidikan dan Kurikulum ............................. 20
D. Pendekatan Sistem Pendidikan .............................................. 29

BAB II
KONSEP DASAR MANAJEMEN KURIKULUM................... 35
A. Pengertian Manajemen Kurikulum ....................................... 35
B. Kegiatan Manajemen Kurikulum .......................................... 41
C. Ruang Lingkup, Prinsip dan Fungsi Manajemen Kurikulum 42
D. Karakteristik Manajemen Kurikulum ................................... 43
E. Manajemen Pengembangan Kurikulum Sentralistik ............ 48
F. Manajemen Pengembangan Kurikulum Desentralistik ........ 51

BAB III
PERENCANAAN KURIKULUM .............................................. 54
A. Pengertian Perencanaan Kurikulum ..................................... 54
B. Sifat dan Asas Perencanaan Kurikulum ............................... 58
C. Fungsi dan Prinsip Perencanaan Kurikulum ........................ 60
D. Azas-Azas Perencanaan Kurikulum ...................................... 63
E. Sifat Perencanaan dan Model Kurikulum ............................. 64
F. Organiasi Kurikulum ............................................................ 66

7
MANAJEMEN KURIKULUM

BAB IV
IMPLEMENTASI KURIKULUM .............................................. 69
A. Pengertian Implementasi Kurikulum .................................... 69
B. Prinsip Pelaksanaan Kurikulum ............................................ 73
C. Pelaksanaan Kurikulum dan Pembelajaran .......................... 74
D. Model Pelaksanaan Kurikulum dan Pembelajaran ............... 79
E. Standar Proses ....................................................................... 83
F. Pelaksanaan Proses Pembelajaran ........................................ 90
G. Pengawasan Proses Pembelajaran ........................................ 93

BAB V
EVALUASI KURIKULUM ........................................................ 101
A. Pengertian Evaluasi Kurikulum ............................................ 101
B. Tujuan Evaluasi Kurikulum .................................................. 106
C. Proses Evaluasi Kurikulum ................................................... 109
D. Fungsi Evaluasi Kuriklum ..................................................... 115

BAB VI
PENGEMBANGAN KURIKULUM .......................................... 122
A. Dasar-Dasar Pengembangan ................................................. 122
B. Pengertian Pengembangan Kurikulum ................................. 129
C. Prinsip-Prinsip Pengembangan Kurikulum ........................... 132
D. Pendekatan Pengembangan Kurikulum ................................ 137

BAB VII
KEBIJAKAN KURIKULUM 2013 .......................................... 148
A. Pengertian Kebijakan ............................................................ 148
B. Kebijakan Pendidikan ............................................................ 151
C. Stratifikasi Kebijakan Pendidikan ......................................... 155
D. Kebijakan Kurikulum 2013 ................................................... 158
E. Landasan dan Tujuan Pengembangan Kurikulum 2013 ...... 169
F. Kurikulum 2013 berbasis Kompetensi................................... 171
G. Landasan Kurikulum 2013 ................................................... 173
H. Kurikulum 2013 sebagai Upaya Merealisasikan SNP ........... 176

8
MANAJEMEN KURIKULUM

I. Asumsi dan Keunggulan Kurikulum 2013 ............................ 183


J. Perbandingan Kurikulum 2013 dengan KTSP 2006 .............. 186
K. Perbedaan Esensial Kurikulum 2013 dengan KTSP 2006 ..... 189
L. Kurikulum 2013 dan Tupoksi Guru ...................................... 194

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................... 200


TENTANG PENULIS ................................................................... 204

9
MANAJEMEN KURIKULUM

10
MANAJEMEN KURIKULUM

BAB I

PENDAHULUAN

A. PELUANG PENGEMBANGAN KURIKULUM

S
ejatinya eksistensi dan kelangsungan hidup (survival) pada
masa depan suatu bangsa ditentukan oleh efektivitas fungsi
pendidikan dalam menghasilkan sumberdaya pendidikan
yang memiliki daya saing lokal, nasional, regional dan global. Karena
itu, pendidikan perlu senantiasa dikembangkan dalam rangka transformasi
kebudayaan yang dilakukan melalui proses pendidikan dan pembelajaran
dari situasi negera yang sedang berkembang sehingga dapat berubah
menjadi negara maju. Sistem persekolahan memiliki peran strategis
dalam mengimplementasikan kurikulum sebagai miniatur kebudayaan
bangsa yang senantiasa mengutamakan pencerdasan kehidupan bangsa
sebagai cita-cita kemerdekaan.
Sampai kini kualitas pendidikan bangsa masih cenderung kurang
maksimal dalam peningkatan mutu. Persoalan mutu berkenaan dengan
sistem pendidikan yang dijalankan melalui proses input (masukan), proses,
out put (keluaran) dan outcomes (hasil). Interaksi sumberdaya dengan
proses yang tertata dengan baik diharapkan akan menghasilkan kualitas
pendidikan yang baik. untuk menghasilkan pendidikan bermutu, suatu
lembaga perlu memberikan pelayanan yang sesuai dengan keinginan
dan kebutuhan pelanggan pendidikan. Dalam dunia pendidikan, pelanggan

11
MANAJEMEN KURIKULUM

utamanya adalah peserta didik dan pelanggan selanjutnya adalah pengguna


hasil pendidikan antara lain adalah masyarakat dan pemerintah.1
Dalam kondisi kekinian, tidak mungkin kebudayaan bangsa berkembang
bila pendidikan di sekolah tidak efektif dalam mewujudkan pembelajaran
sesuai dengan tuntutan kurikulum pendidikan nasional yang mampu
mengantisipasi dan merespon dinamika kebudayaan pada era informasi
melalui penyediaan sumberdaya manusia berkualitas unggul. Sejak dari
pendidikan pra sekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah sampai
pendidikan tinggi. Sebab dalam kurikulum, secara konseptual filosofis
dan keilmuan dikemukakan semua stuktur kebudayaan bangsa, baik
pengetahuan, ilmu pengetahuan, teknologi, bahasa, sistem mata pencaharian,
adat istiadat, dan nilai-nilai agama. Semua aspek kebudayaan ini harus
dijaga, dipelihara, dan dikembangkan melalui pelaksanaan sistem pendidikan
berkualitas, dan berkeunggulan bagi terjaminnya eksistensi dan keberlanjutan
masa depan kehidupan bangsa.
Kurikulum merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan,
sekaligus merupakan pedoman dalam pelaksanaan pembelajaran pada
semua jenis dan jenjang pendidikan.2 Sistem pendidikan sebagai suatu
keseluruhan yang terpadu memiliki sejumlah komponen mencakup
dasar dan tujuan pendidikan, pendidik dan tenaga kependidikan, kurikulum,
manajemen, dan lembaga pendidikan yang saling berhubungan dan
berfungsi untuk mencapai tujuan pendidikan. Dengan demikian, pendidikan
berinteraksi dengan lingkungan internal dan eksternal yang mesti direspon
oleh perencana dan pelaksana pendidikan, termasuk para kepala sekolah
dan guru, serta pengawas kurikulum pendidikan. Dengan begitu, maka
pendidikan nasional berhadapan dengan tuntutan kebutuhan internal
sekolah, baik kepala sekolah, guru-guru, tenaga kependidikan, siswa dan
respon atas perubahan eksternal, yang mencakup perubahan peraturan
dan perundang-undangan dalam bidang pendidikan, kemajuan sains
dan teknologi, perubahan nilai-nilai kehidupan, maupun gaya hidup.
Proses pembelajaran yang kurang interaktif, kurang inspiratif,

1
Martini Jamaris. (2013). Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan. Jakarta:
Ghalia Indonesia, h.10.
2
Zainal Arifin. (2015). Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung:
Remaja Rosdakarya, h.1.

12
MANAJEMEN KURIKULUM

membosankan, kurang menantang, kurang memberi motivasi, kepada


peserta didik, untuk berpartisipasi secara aktif, kurang dapat menumbuhkan
prakarsa, kreativitas, kemandirian, sesuai bakat, minat dan perkembangan
peserta didik, serta kurang memberikan keteladanan perlu diperbaiki
agar benar-benar bermakna dan berpengaruh terhadap pencapaian
tujuan pembelajaran. Selain itu, perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan
pembelajaran juga kurang efektif dan efisien. Sebagian guru yang
kurang jelas dalam menentukan tugas pembelajaran. Materi ajar, metode
pengajaran, sumber belajar dan penilaian hasil belajar.3
Untuk pendidikan berkualitas, maka saatnya menggunakan cara
berpikir tentang pembelajaran efektif dengan mempertimbangkan
tiga pendekatan utama, yaitu mempertahankan pembelajaran efektif.
Pendekatan pertama ini fokus terhadap dua konsep, menciptakan waktu
pembelajaran aktif, dan kualitas pengajaran. Hal pertama berkenaan
dengan menggunakan banyak waktu siswa dalam pembelajaran di
sekolah secara aktif mengalami pembelajaran berkaitan dengan hasil
pembelajaran yang diinginkan. Kemudian yang terakhir mengacu kepada
kualitas pengalaman pengajaran Siswa. Kedua konsep telah mempengaruhi
tujuan pengajaran efektif sehingga dapat menjelaskan mengapa seorang
guru lebih efektif dari pada yang lain. Secara mikro, para guru yang
mengajar harus profesional sehingga mampu melaksanakan pembelajaran
efektif. Dalam esensinya guru-guru efektif adalah yang mampu memaksimalkan
semua waktu menjadi pembelajaran aktif dan pengajaran berkualitas.
Kedua pendekatan fokus atas pengajaran sebagai suatu aktivitas mendasarnya
adalah manajerial serta harus memiliki kunci keterampilan mengajar
yang melaksanakan manajemen efektif dalam pembelajaran. Pendekatan
kedua fokus kepada konsep psikologis, prinsip dan proses yang memunculkan
sikap terlibat pembelajaran efektif. Pendekatan ini menekankan atas
psikologis siswa tentang bagaimana menghubungkan terhadap keberhasilan
dan kegagalan suatu aktivitas pendidikan.4
Bagaimanapun dalam kehidupan keseharian, bahwa konsep pem-

3
Abuddin Nata.(2012). Manajemen Pendidikan: Mengatasi Kelemahan Pendidikan
Islam di Indonesia. Jakarta: Prenada, h.331.
4
Chris Cyriacou,ed. (2009). Effective Teaching in School: Theory and Practice.
UK: Stanley Thornes (Publishers) Ltd, h.19.

13
MANAJEMEN KURIKULUM

belajaran dipahami sebagai, proses memperoleh pengetahuan lebih banyak,


mengingat dan menghasilkan ulang, menggunakan fakta atau prosedur,
pemahaman, mencermati sesuatu dengan cara berbeda, perubahan
bagi seorang pribadi.5 Pemahaman atas makna pembelajaran sebagaimana
diungkapkan di atas menunjukkan bahwa siswa berperan aktif supaya
esensi dari tujuan pembelajaran benar-benar dapat tercapai sebagaimana
disusun dalam kurikulum, direncanakan guru pembelajarannya, dan
sekaligus dievaluasi. Dengan begitu pendidikan akan semakin bermakna
dalam kehidupan anak didik untuk menciptakan perubahan kepribadiannya
dan memperoleh keterampilan hidup sebagai generasi penerus yang
berperadaban tinggi, baik sebagai pribadi, keluarga, masyarakat dan bangsa.
Dalam konteks ini, fenomena pendidikan terkini menunjukkan
bahwa permasalahan yang mengemuka dari daya saing sumberdaya
manusia yang cukup mengkhawatirkan adalah angka pengangguran
yang masih cukup tinggi. Ketika lembaga pendidikan menghasilkan
lulusan yang banyak penganggurnya, maka satuan, jenis atau jenjang
pendidikan dapat dikatakan kurang relevan dengan kebutuhan masyarakat
dan dinamika pembangunan nasional. Dengan banyaknya penganggur
terdidik, pendidikan juga dapat dikatakan kurang mampu mendorong
tumbuhnya produktivitas perekonomian nasional bahkan mungkin
dapat menjadi kendala pertumbuhan, pengangguran tenaga terdidik
juga menimbulkan akibat- akibat sosial lebih kompleks, seperti kenakalan,
kegelisahan, kemiskinan, kriminalitas, ketergantungan masyarakat
terhadap pemerintah sebagai ciri masyarakat yang kurang mandiri.6
Tantangan terberat lingkungan pendidikan nasional adalah cepatnya
dinamika lingkungan global, perkembangan sains dan teknologi, perubahan
nilai, perubahan kebutuhan hidup, diferensiasi pekerjaan, dan kompetisi
antar bangsa.7 Di sisi lain, permasalahan pendidikan Indonesia yang
aktual, mendesak, berdampak nasional serta solusinya terutama yang
berkaitan dengan kualitas lulusan, kualifikasi tenaga pendidik, dan

5
Chris Watkins, Eileen Carnell & Caroline Loodge. (2007). Effective Learning
in Classroom. London: Paul Chapman Publishing, h.9.
6
Ace Suryadi.(2014). Pendidikan Indonesia Menuju 2025,Bandung: Rosdakarya,
h.11.
7
H.A.R Tilaar. (2014). Membenahi Pendidikan Nasional, Jakarta:Rinekacipta,
h.6.

14
MANAJEMEN KURIKULUM

kependidikan, perkembangan kurikulum, tata kelola keuangan, manajemen


institusional, ketersediaan dan kesesuaian sarana dan prasarana pendidikan.8
Dengan perubahan zaman, maka tuntutan perubahan kurikulum
dalam dunia pendidikan menjadi keniscayaan dalam tatanan sistem
pendidikan nasional. Sebagaimana halnya perubahan kurikulum dari
kurikulum tingkat satuan pendidikan diubah menjadi kurikulum 2013
yang menggunakan pendekatan saintifik merupakan keniscayaan di
tengah perubahan global terutama dalam konteks eksistensi dan kemajuan
bangsa. Tulisan ini berusaha menjelaskan pendidikan versus perubahan
kurikulum.
Pengembangan kurikulum melibatkan pemikiran-pemikiran secara
falsafati, psikologi, ilmu pengetahuan, teknologi dan budaya. Landasan
filsafati pendidikan menelaah fungsi kurikulum secara mendalam dan
radikal sehingga menemukan sifat yang hakiki (substantive nature)
dan kurikulum dalam pendidikan dan atau pelatihan. Landasan psikologis
menelaah keselarasan antara perkembangan dan kesiapan mental serta
fisik peserta didik dengan kompleksitas materi pelajaran sehingga proses
pembelajaran dan pelatihan menghasilkan pembelajaran yang bermanfaat
selarasa dengan cita-cita peserta didik. Sementara ilmu pengetahuan,
teknologi dan budaya merupakan sumber-sumber materi pelajaran yang
perlu diatur penyampaiannya, baik pada arah horizontal, (cakupan, atau
scopes) maupun pada arah vertikal (kontinuitas, skuens) agar dapat menumbuhkan
kemampuan menalar dengan wawasan yang luas dan mendalam.9
Perubahan dalam pemikiran guru selama proses inovasi kurikulum
muncul menjadi contoh khusus lebih dari proses yang umum dalam
hal pembelajaran guru untuk mengajar.10 Dengan begitu, guru memerlukan
perubahan cara berpikir ketika pengembangan kurikulum diimplementasikan
sebagai suatu kebijakan pendidikan nasional. Oleh sebab itu, kurikulum
baru meniscayakan perubahan pada model pembelajaran sebagai realisasi
tuntutan perubahan kurikulum yang menjadi wilayah tanggung jawab

8
Ace Suryadi, op.cit,h.13.
9
Tedjo Narsoyo Reksoatmodjo. (2010). Pengembangan Kurikulum Pendidikan:
Teknologi dan Kejuruan, Bandung: Adytama, h.3.
10
John O,Neill and Neil Kitson, ed,(1996). Effective Curriculum Management,
London: Routlegde, h.16.

15
MANAJEMEN KURIKULUM

dan kompetensi guru baik pembelajaran di dalam kelas, maupun di luar


kelas, dan penerapan model pembelajaran berbasis e-learning.
Pendapat di atas menegaskan bahwa pengembangan kurikulum
dalam dunia pendidikan merupakan satu keniscayaan. Oleh sebab itu,
pengembangan kurikulum harus memperhatikan faktor landasan filosofis,
psikologis, sosiologis, dan keilmuan dalam rangka memastikan bahwa
pengembangan kurikulum harus menjadi kebijakan pemerintah pusat,
daerah provinsi, kabupaten/kota. Bahkan kebijakan sekolah secara mikro
dapat mengusahakan pengembangan kurikulum, terutama untuk mendisain
keunggulan sekolah, baik proses layanan maupun lulusan yang diharapkan
stakeholders pendidikan.

B. KEBIJAKAN PEMBAHARUAN KURIKULUM


Kebijakan reformasi pendidikan meniscayakan perubahan atau
pengembangan kurikulum pendidikan nasional. Kegiatan ini menjadi
bagian dari kebijakan pendidikan. Di sini dipahami bahwa kebijakan
pendidikan adalah suatu penilaian terhadap sistem nilai dan faktor-
faktor kebutuhan situasional, yang dioperasikan dalam sebuah lembaga
sebagai perencanaan umum untuk panduan dalam mengambil keputusan
agar tujuan pendidikan yang diinginkan bisa tercapai.11
Salah satu variabel yang mempengaruhi sistem pendidikan nasional
adalah kurikulum. Oleh karena itu, kurikulum harus dapat mengikuti
dinamika yang ada dalam masyarakat. Kurikulum harus bisa menjawab
kebutuhan masyarakat luas dalam menghadapi persoalan kehidupan
yang mengemuka ke permukaan dalam realitas sosial. Sudah sepatutnya
kalau kurikulum itu terus diperbaharui seiring dengan realitas, perubahan,
dan tantangan dunia pendidikan dalam membekali peserta didik menjadi
manusia yang siap hidup dalam berbagai keadaan di masa depannya.
Kurikulum harus komprehensif dan responsif terhadap dinamika sosial,
relevan, tidak overload dan mampu mengakomodasikan keberagaman

11
Dinn Wahyudin. (2014). Manajemen Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya,
h.38.

16
MANAJEMEN KURIKULUM

keperluan dan kemajuan teknologi.12 Di sinilah peluang untuk melakukan


inovasi pendidikan, khususnya pengembangan kurikulum dengan mem-
perhatikan faktor kebutuhan anak secara internal dan faktor perubahan
lingkungan eksternal, terutama kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi
dan nilai-nilai kehidupan.
Kebudayaan bangsa menjadi bagian pokok dari isi kurikulum, meskipun
dalam wujud pengetahuan, nilai-nilai, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Dalam suatu sistem pendidikan, kurikulum itu sifatnya dinamis serta
harus selalu dilakukan perubahan dan pengembangan agar dapat meng-
ikuti perkembangan dan tantangan zaman. Meskipun demikian, perubahan
dan pengembangannya harus dilakukan secara sistematis dan terarah
tidak asal berubah. Perubahan dan pengembangan kurikulum tersebut
harus memiliki visi dan arah yang jelas mau dibawa ke mana sistem
pendidikan nasional dengan kurikulum tersebut.13
Menurut Kunandar,14 kurikulum harus dirancang dalam rangka
lebih mengembangkan segala potensi yang ada pada peserta didik. Oleh
karena itu, kurikulum jangan sampai membebani peserta didik, seperti
beban belajar yang terlalu berat. Menurut ketua badan standardisasi
nasional pendidikan (BSNP) Bambang Suhendro bahwa beban belajar
di Indonesia mencapai 1.000-2.000 jam per tahun. Bahkan sekolah-sekolah
tertentu menerapkan jam belajar lebih tinggi sehingga memberatkan
siswa. Beban jumlah jam pelajaran seperti itu terlalu berat, apalagi selain
tatap muka di kelas siswa masih harus mengikuti ekstrakulikuler dan
mengerjakan pekerjaan rumah. Jika dijumlahkan jam yang dibebankan
pada siswa justru membuat siswa tidak ada waktu untuk istirahat. Beban
belajar siswa di Indonesia kelebihan 20% jika dibandingkan dengan beban
belajar siswa di luar negeri yang beban belajar siswa berkisar 800-900
jam per tahun (Media Indonesia, 23-12-2005).
Sebagaimana diberitakan bahwa untuk merespon kondisi di atas,
BSNP merekomendasikan kepada Depdiknas untuk mengurangi beban
belajar sekitar 10% untuk SD/MI kelas I-III satu jam pelajaran 35 menit,

12
Kunandar. (2011). Guru Profesional: Implementasi KTP dan Sukses Sertifikasi.
Jakarta: Rajawali Press, h.113.
13
E. Mulyasa. (2014). Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013.
Bandung: Remaja Rosdakarya, h.59.
14
Kunandar.op.cit.h.113.

17
MANAJEMEN KURIKULUM

dengan jumlah jam pelajaran 577-709 per tahun. Sementara itu, untuk
kelas IV-VI SD/MI setahun berkisar 675-754 jam. Untuk SMP/MTs kelas
VII-IX satu jam pelajaran 40 menit, dengan jumlah jam pelajaran per
tahun 771-861. Sementara itu, SMA/MA kelas X-XI satu jam pelajaran
45 menit dengan jumlah jam pelajaran 969-1083. Perampingan jumlah
pelajaran yang tadinya berkisar 1.000-2.000 jam per tahun ini guna
menyerap usulan berbagai kalangan, termasuk keluhan orang tua murid
yang merasa hak kebebasan anaknya untuk bermain terampas oleh sekolah.
Belum lagi ditambah dengan pekerjaan rumah yang terasa melelahkan
mental anak didik (Media Indonesia, 3-1-2006).
Dalam Kunandar, sebagaimana dikemukakan Indrajati dalam
kaitan pembaharuan kurikulum, Direktur Jenderal pendidikan Dasar
dan menengah Depdiknas berpendapat bahwa salah satu upaya peningkatan
mutu kurikulum adalah dengan pembenahan kurikulum yang dapat
memberikan kemampuan dan keterampilan dasar minimal (minimal
basic skill). Menerapkan konsep belajar tuntas (mastery learning) dan
membangkitkan sikap kreatif, inovatif, demokratis dan mandiri bagi
peserta didik. Oleh karena itu, pembaharuan kurikulum suatu keniscayaan.15
Dalam masyarakat, baik dinegara-negara maju maupun yang
sedang berkembang terdapat kepercayaan bahwa pendidikan merupakan
sarana pencerahan bangsa serta kesadaran adanya hubungan antara
pendidikan dengan kemajuan suatu bangsa. Peserta didik dewasa ini
dihadapkan pada produk-produk teknologi yang merangsang minat
untuk menguasainya namun di sisi lain mereka belum menguasai prasyarat
ilmu untuk mempelajarinya. Dalam hal ini diperlukan institusi pendidikan
atau sekolah sebagai pihak yang diharapkan dapat membantu para
peserta didik untuk dapat mencapai cita-cita mereka.16
Lebih lanjut Sidi berpendapat bahwa kurikulum pendidikan nasional
harus dikembangkan berdasarkan beberapa indikator, sebagaimana
dikemukakan Kunandar,17 yaitu:
Pertama, kurikulum pendidikan harus bersifat luwes, sederhana
dan bisa menampung berbagai kemungkinan perubahan dimasa yang

15
Ibid. h.114-115.
16
Tedjo Narsoyo Reksoatmodjo. Op.cit. h.4.
17
Kunandar, op.cit. h.115-116.

18
MANAJEMEN KURIKULUM

akan datang sebagai dampak perkembangan teknologi dan tuntutan masya-


rakat. Idealnya kurikulum harus selangkah lebih maju dari perkembangan
tekhnologi dan tuntutan masyarakat sehingga kurikulum (dunia pendidikan)
tidak tertinggal dari dinamika masyarakat. Kurikulum harus dikembangkan
secara futuristik dan mampu menjawab tantangan zaman.
Kedua, kurikulum harus bersifat pedoman pokok (general guideline)
kegiatan pembelajaran siswa. Kurukulum tidak terlalu rinci dan dapat
dikembangkan secara keadaan sumber daya pendukung, dan kondisi
daerah setempat. Kurikulum hanya memberikan yang fundamental.
Pengembangan yang sesuai dengan tuntutan waktu dan tempat dicari
sendiri oleh sekolah (guru) masing-masing dengan memperhatikan dan
memanfaatkan karakteristik dan kearifan lokal. Dalam kaitan ini dibutuhkan
profil guru yang memahami hakikat pendidikan dan mampu membaca
keadaan, serta memiliki jiwa kreatif, inovatif dan berwawasan luas. Prinsip
kurikulum seperti ini sangat relevan mengingat perubahan yang ada
dalam masyarakat begitu cepat sehingga banyak hal menjadi cepat usang.
Ketiga pengembangan kurikulum selayaknya dilakukan secara
simultan dengan pengembangan bahan ajar (buku dan lembar kerja peserta
didik) dan media atau alat pembelajaran. Pengembangan sistem satu
paket ini akan mengurangi kecenderungan deviasi tujuan pokok-pokok
bahasan yang diajarkan, karena selama ini ketiga komponen penunjang
pembelajaran tersebut dikembangkan secara terpisah.
Kempat, kurikulum pendidikan hendaknya berpatokan pada standar
global dan regional, berwawasan nasional, dan dilaksanakan secara
lokal. Dengan demikian, kualitas kurikulum pendidikan setara dengan
negara-negara lainya yang mempunyai wawasan keunggulan, namun
dapat disesuaikan dengan kondisi lokal yang berbeda-beda.
Kelima, kurikulum pendidikan hendaknya merupakan satu kesatuan
dan kesinambungan dengan satupun dan jenjang pendidikan di atasnya.
Dengan demikian, kurikulum satu satuan pendidikan merupakan landasan
yang kokoh bagi kurikulum pada satuan pendidikan selunjutnya.
Keenam, pengembangan kurikulum bukan lagi menjadi otoritas
pemerintah pusat tetapi merupakan shared activity dengan pemerintah
daerah, bahkan komunitas. Ke depan pemerintah cukup menangani
kurikulum pendidikan yang sifatnya inti (core curriculum), yang umumnya

19
MANAJEMEN KURIKULUM

meliputi: matematika, IPA dan Bahasa, sedangkan kurikulum yang meliputi


exanted disusun dan dikembangkan oleh daerah sesuai dengan kebutuhannya.
Ketujuh, pengembangan tidak diarahkan untuk menciptakan satu
kurikulum tunggal yang diberlakukan untuk semua sekolah. Kurikulum
pendidikan hendaknya dapat dibedakan untuk kelompok anak rata-
rata, baik karena faktor bawaan atau karena faktor ketersediaan sumber
daya pendukung. Pemberlakuan kurikulum yang berbeda ini juga menuntut
cara perbedaan cara mengukur tingkat pencapaian tujuan pembelajaran
untuk setiap kelompok anak tersebut.
Kedelapan, kurikulum juga mesti memperhatikan pendidikan yang
terjadi di keluarga dan komunitas. Pendidikan di sekolah jelas akan sulit
tercapai tanpa dukungan pendidikan di keluarga dan masyarakat. Ketiga
komponen (sekolah, keluarga dan komunitas) tersebut menjadi pilar
pendidikan sehingga kegiatan dan proses pendidikan merupakan shared
activity dari ketiga pilar pendidikan tersebut.
Kedelapan indikator tersebut harus dicermati sehingga para pengambil
kebijakan dan pelaksananya dapat menjadi indikator tersebut dalam
memaksimalkan upaya pengembangan atau perubahan kurikulum
ke arah yang lebih baik. terutama suatu kurikulum yang mampu menjadi
pedoman pendidikan dan pembelajaran di satu sisi dan sesuai dengan
kebuayaan bangsa, dan mampu memenuhi kebutuhan anak didik untuk
memaksimalkan kecerdasannya, baik kecerdasan intelektual, spiritual,
estetika, dan kecerdasan emosional dan sosial. Dengan begitu kurikulum
yang terus dikembangkan diharapkan mampu merespon dinamika kemajuan
sains dan teknologi, dengan tetap konsisten dengan nilai agama dan
moral bangsa, sekaligus memenuhi keperluan anak untuk hidup dalam
zaman yang berbeda.

C. RELASI ANTARA PENDIDIKAN DAN KURIKULUM


Pendidikan merupakan gejala kebudayaan yang terus mengalami
kemajuan sepanjang kehidupan umat manusia. Karena itu, pendidikan
menjadi sesuatu yang khas manusia, karena kegiatannya berlangsung
dalam konteks memanusiakan manusia melalui kegiatan pendidikan,
dimungkinkan potensi-potensi yang dimiliki setiap pribadi anak dapat
berkembang, melalui pembelajaran yang berpedoman kepada kurikulum

20
MANAJEMEN KURIKULUM

yang ditetapkan untuk dilaksanakan pada setiap sekolah. Karena sebagai


suatu sistem, maka pendidikan memiliki komponen tujuan, anak didik,
pendidik dan tenaga kependidikan, manajemen, sarana dan prasarana,
dan kurikulum pendidikan.
Proses pendidikan berkenaan dengan semua upaya untuk mengem-
bangkan sumberdaya manusia sedangkan manusia yang bermutu itu
pada hakikatnya telah dijabarkan dan dirumuskan secara jelas dalam
rumusan tujuan pendidikan dan tujuan pendidikan itu sendiri searah
dengan tujuan pembangunan secara keseluruhan.18
Dalam konteks pendidikan, maka para pengelola sekolah menempatkan
kurikulum sebagai satu unsur dalam pendidikan. Dengan demikian kurikulum
adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan
pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan
kegiatan belajar mengajar. Isi kurikulum merupakan susunan bahan
kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan penyelenggaraan satuan
pendidikan yang bersangkutan dalam rangka mencapai upaya pencapaian
tujuan pendidikan yang diharapkan oleh para perencana dan pengelola
pendidikan.
Pendidikan harus mampu menghasilkan manusia yang unggul secara
intelektual, mantap secara moral, kompetensi menguasai IPTEK, serta
memiliki komitmen yang tinggi untuk berbagai peran sosial. Pada level
makro, dibutuhkan suatu sistem pendidikan nasional yang demokratis,
desentralisasi, dan berorientasi pada kemajemukan, semua itu tercermin
di antaranya dalam pemerataan dan aksebilitas kesempatan pendidikan.
Desentralisasi kewenangan pendidikan yang harus disertai dengan kebijakan-
kebijakan yang mengatur manajemen mutu. Pada level mikro, proses
pendidikan harus terjadi dalam iklim demokratis, kesempatan melakukan
diversifikasi secara profesional dalam koridor mencerdaskan kehidupan
bangsa ini.19
Suatu kebijakan yang perlu terus dievaluasi adalah berkenaan
dengan kurikulum pendidikan nasional. Keberadaan kurikulum dapat
dipahami sebagai program mata pelajaran, seperti halnya bahasa Inggris,

18
Oemar Hamalik. (2008). Manajemen Pengembangan Kurikulum. Bandung:
Remaja Rosdakarya, h.75.
19
Hasballah.(2016). Kebijakan Pendidikan.Jakarta: Rajawali Press, h.5.

21
MANAJEMEN KURIKULUM

aljabar, sejarah, ekonomi dan lainnya termasuk ilmu pengetahuan modern,


serta teknologi. Dengan kata lain kurikulum mencakup suatu daftar atau
judul mata pelajaran yang disampaikan oleh sekolah. Pandangan lain
menyebutkan bahwa kurikulum adalah isi mata pelajaran tertentu
dalam program atau data dan informasi yang terekam dalam membimbing
pelajar melalui buku catatan yang diperlukan dan disediakan dalam
rencana pembelajaran. Selain itu kurikulum adalah pengalaman pembelajaran
yang direncanakan sekolah. Saat belakangan ini definisi kurikulum
sudah berubah dari isi mata pelajaran dan daftar mata pelajaran atau
mata kuliah kepada semua pengalaman yang diberikan kepada pelajar
dibawah pengawasan dan pengaturan sekolah. Sejatinya, pemahaman
yang lebih luas tentang kurikulum berkenaan dengan pengalaman pelajar.
Tegasnya kurikulum adalah semua pengalaman anak di bawah bimbingan
guru-guru melalui pembelajaran, latihan, bimbingan dan pembinaan
yang harus diikuti guna mencapai pengetahuan, kompetensi dan sikap
yang diharapkan.
Kurikulum merupakan rencana pendidikan yang memberi pedoman
tentang jenis, lingkup dan urutan materi, serta proses pendidikan. Di
sini kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan dengan
memperhatikan tahap perkembangan peserta didik dan kesesuaiannya
dengan lingkungan, kebutuhan pembangunan manusia seutuhnya, per-
kembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tegasnya tujuan yang
hendak dicapai harus teruraikan dalam program yang termuat dalam
kurikulum, bahkan program itulah yang mencerminkan arah dan tujuan
yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran berkelanjutan sesuai
dengan jenjang dan jenis pendidikan pada lembaga pendidikan.
Dalam konteks ini, kurikulum merupakan faktor penting dalam
proses pembelajaran pada suatu lembaga pendidikan. Segala hal yang
harus diketahui, dipahami, dihayati, diamalkan, dan dialami peserta
didik harus ditetapkan dalam kurikulum. Kurikulum menguraikan secara
berencana bagaimana dan apa saja yang harus terjadi dalam proses
pembelajaran yang dilakukan oleh pendidik dan peserta didik. Dengan
demikian kurikulum pendidikan tidak hanya penjabaran mengenai serangkaian
ilmu pengetahuan yang harus diajarkan oleh pendidik atau guru kepada
peserta didik dan anak didik mempelajarinya, akan tetapi juga segala

22
MANAJEMEN KURIKULUM

kegiatan yang bersifat kependidikan yang dianggap perlu karena memiliki


pengaruh terhadap anak didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan.
Dapat disimpulkan bahwa antara pendidikan dengan kurikulum
memiliki hubungan fungsional, yaitu untuk mencapai tujuan pendidikan
nasional diperlukan kurikulum sebagai pedoman penyelenggaraan
pembelajaran sebagai kegiatan yang sangat menentukan pencapaian
tujuan pendidikan. Perubahan perilaku anak didik sebagai arah dan
sasaran pendidikan, hanya mungkin tercapai bila kurikulum pendidikan
benar-benar relevan dengan kebutuhan anak didik sesuai dengan dinamika
bangsa.
Keberadaan kurikulum sangat strategis dalam meningkatkan efektivitas
pembelajaran yang dikembangkan oleh lembaga pendidikan. Kepala
sekolah, wakil kepala sekolah, para guru dan tenaga kependidikan memiliki
peran untuk mendukung maksimalisasi pencapaian tujuan pembelajaran,
yang ditandai dari perubahan tingkah laku peserta didik, baik domain
kognitif, afektif dan psikomotorik. Dengan begitu, peserta didik benar-
benar mencapai hasil pembelajaran yang diharapkan dan direncanakan
oleh guru melalui proses pembelajaran baik di dalam kelas maupun di
luar kelas.
Kebijakan yang bertujuan untuk meningkatkan angka partisipasi
pendidikan menuntut pengembangan kurikulum yang dapat meminimalkan
angka putus sekolah dan mengulang kelas, penyelenggaraan pendidikan
secara terbuka dan polivalen lintas jenis, jalur dan jenjang pendidikan
serta penyelenggaraan pendidikan dengan sistem belajar jarak jauh.
Pengembangan kurikulum yang berorientasi pada mutu pendidikan
ditandai dengan pelaksanaan proses pembelajaran efektif, penilaian
hasil belajar yang berkelanjutan dan memberdayakan peserta didik,
dan penyelenggaraan pendidikan yang didukung oleh ketersediaan
sarana dan prasarana pendidikan yang memadai serta sesuai dengan
tingkat perkembangan dan pertumbuhan.20
Di satu sisi perubahan besar terjadi dengan cara derasnya penyebaran
informasi yang dapat diakses dengan komputer cenderung menciptakan

20
Oemar Hamalik. (2008). Manajemen Pengembangan Kurikulum, Bandung:
Remaja Rosdakarya, h.4.

23
MANAJEMEN KURIKULUM

perubahan baru dalam berbagai aspek pendidikan. Pada saat ini dan
masa depan, internet menjadi faktor potensial menghubungkan pelajar
dengan sumberdaya pembelajaran yang signifikan dan tidak diperoleh
pada masa sebelumnya. Diyakini bahwa internet akan terjadi, jika tidak
ada kesiapan terhadap kemudahan yang ditawarkan internet dengan
berbagai dampak yang dipublikasikanya, maka para guru perlu mendefinisikan
ulang mata pelajaran dan penugasan yang diberikan kepada peserta
didik. Disisi lain dalam keadaan demikian, bahwa masyarakat perlu
menyiapkan generasi muda untuk memperoleh pendidikan dari sekolah.
Pendidikan perlu berkomitmen bagi beragam sasaran, bahkan hal penting
adalah pembelajaran menjadi sangat perlu dikembangkan. Secara fisik
maka ruang sekolah akan berubah secara drastis dalam tampilannya
di masa depan. Pengorganisasian dan pembiayaan bagi pembelajaran
berbasis kepada masyarakat dan guru akan terus menerus menyediakan
pembelajaran bagi kelompok peserta didik dalam ruang yang tidak menetap.21
Neil Burton dan Mark Brundrett, menjelaskan untuk mengantisipasi
perubahan abad ini, ada harapan bahwa para kepala sekolah dasar perlu
mendelegasikan tanggung jawab dari berbagai aspek manajemen kurikulum
kepada guru dengan bidang khusus keahlian atau harapan. Sedangkan
bagi sekolah menengah, ada sebagian harapan pada keseluruhan manajemen
organisasi didasarkan atas hasil rumusan mata pelajaran oleh tim, yang
secara natural mengarah kepada indentifikasi atau memajukan kepada
tanggung jawab untuk pendelegasian pekerjaan kepada guru umum
yang fokus dikenali pada usia anak.22
Kurikulum sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran
memberikan makna bahwa di dalam kurikulum terdapat panduan interaksi
antara pendidik/guru dan peserta didik. Dengan demikian kurikulum
berfungsi sebagai jantung dari proses pendidikan di sekolah untuk mem-
berdayakan potensi peserta didik. Panduan interaksi antara guru dan
peserta didik biasanya disebut pembelajaran. Dengan begitu, pembelajaran

21
Richard L Arends.(2004). Learning to Teach, New York: McGraw Hill,
h.8-9.
22
Neil Burton and Mark Brundrett. (2005). Leading the Curriculum in the
Primary School, London: Paul Chapman, h.2.

24
MANAJEMEN KURIKULUM

akan lebih optimal jika didukung kurikulum sebagai pedoman atau


panduannya.23
Berdasarkan hal tersebut maka pengembangan kurikulum harus
berorientasi pada tujuan pendidikan yang jelas, pandangan tentang anak
yang tepat, pandangan tentang proses pembelajaran yang benar, pandangan
tentang lingkungan yang konstruktif, konsepsi peranan guru yang
efektif, dan sistem evaluasi yang valid. Dengan orientasi pengembangan
kurikulum yang jelas, benar, dan tepat diharapkan pengembangan dan
implementasi kurikulum pada setiap jenjang dan satuan pendidikan
dapat mencapai tujuan dan mutu pendidikan yang diharapkan.24
Empat indikator kompetensi pengembangan kurikulum tersebut
yang harus diwujudkan oleh guru secara kongkrit dan teramati dalam
praktik dengan bukti sebagai berikut:
1. Guru telah menyusun RPP sesuai dengan silabus dalam kurikulum
sekolah.
2. Guru menyampaikan materi pembelajaran dengan lancar, jelas,
dan lengkap.
3. Guru menyesuaikan materi yang diajarkan dengan usia, latar belakang,
dan tingkat perkembangan peserta didik.
4. Guru menghubungkan materi yang diajarkan dengan lingkungan
dan kehidupan sehari-hari peserta didik.
5. Materi yang diajarkan guru adalah materi yang mutakhir.
6. Kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru mencakup
berbagai tipe pembelajaran peserta didik.
7. Guru membantu mengembangkan kemampuan atau keterampilan
generic peserta didik (kreativitas, berfikir kritis, berfikir inovatif, pemecahan
masalah, dan sebagainya).
8. Guru menjelaskan bagaimana memanfaatkan hasil pembelajaran
yang dilaksanakan untuk mengembangkan topik pembelajaran
berikutnya.25

23
Teguh Triwiyanto. (2015). Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran,Jakarta:
Bumi Aksara, h.4.
24
Hairun Nusuf, Ed. (2014). Pengembangan Kurikulum, Jakarta: Rineka Cipta,
h. 3.
25
Ibid

25
MANAJEMEN KURIKULUM

Pengakuan terhadap kurangnya perencanaan sangat sering terjadi


selama pelaksanaan tugas, bahkan banyak komentar atas kegagalan
pendidik untuk menghadirkan suatu tugas yang mencukupi sebab, mereka
tidak memiliki kejelasan pemikiran mereka tentang apa yang harus
diusahakannya. Hal itu ditandai dari ketidak percayaan mereka tentang
kejelasan tujuan kegiatan lembaga dalam pikiran mereka dan konsekuensinya
para pendidik tidak mempercayai sesuatu yang baik diberikan kepada
pemikiran murid-muridnya. Para pendidik menyadari bahwa perencanaan
dan persiapan tidak sederhana, pengetahuan apa yang akan diberikan
atau apakah memiliki materi yang sesuai untuk anak, tetapi juga penge-
tahuan bagaimana interaksi belajar dengan anak khususnya ketika per-
kenakan tugas. Hubungan yang hampir sama antara kurang jelasnya
pengajaran sebagaimana halnya kurangnya pemikiran dan kurang
pemahaman oleh peserta didik semuanya dicatat dalam pembelajaran
hal yang juga penting adalah pencatatan terhadap latar belakang utama
dalam pemahaman tentang rencana pembelajaran.26
Pengertian kurikulum menurut pandangan lama atau sering disebut
pandangan tradisional merumuskan, bahwa: kurikulum adalah sejumlah
mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik untuk memperoleh
ijazah.
Implikasi dari pengertian ini adalah, bahwa:
1. Kurikulum terdiri dari sejumlah mata pelajaran. Mata pelajaran pada
hakikatnya adalah pengalaman nenek moyang masa lampau. Pengalaman-
pengalaman itu dipilih, dianalisa, kemudian disusun secara sistematis
dan logis, sehingga timbullah matapelajaran, seperti: sejarah, ilmu
bumi, ilmu hayat, ilmu sosial dan sebagainya.
2. Matapelajaran itu adalah sejumlah informasi/pengetahuan, sehingga
penyampaian matapelajaran kepada para peserta didik akan membentuk
mereka menjadi manusia intelektualitas.
3. Matapelajaran itu menggambarkan kebudayaan masa lampau.
Pengajaran berarti penyampaian kebudayaan kepada generasi muda.

26
Neville Bennett dan Clive Carre, Ed. (1993). Learning,London: Routledge,
h. 155.

26
MANAJEMEN KURIKULUM

4. Tujuan mempelajari matapelajaran itu adalah untuk memperoleh


ijazah, ijazah sebagai tujuan menguasai matapelajaran berarti telah
mencapai tujuan belajar.
5. Terdapat aspek keharusan bagi setiap siswa mempelajari matapelajaran
yang sama. Faktor minat dan kebutuhan siswa tidak dipertimbangkan
dalam penyusunan kurikulum.
6. Sistem penyampaian yang digunakan oleh pendidik adalah sistem
penuangan (imposisi). Pendidik lebih banyak aktif dalam belajar, sedangkan
peserta didik lebih bersifat pasif belaka.27

Sedangkan kurikulum berasal dari bahasa Latin, yaitu curere, secara


harfiah dipahami sebagai lapangan perlombaan lari. Lapangan tersebut
adalah batas start dan batas finish. Dalam lapangan pendidikan pengertian
tersebut dijabarkan bahwa bahan belajar sudah ditentukan secara pasti
dari mana mulai dibelajarkan dan kapan diakhiri dan bagaimana cara
untuk menguasai bahan agar dapat mencapai gelar. Dulu kurikulum
pernah diartikan sebagai “Rencana Pelajaran”, yang terbagi menjadi
rencana pelajaran minimum dan rencana pelajaran terurai.28
Lebih lanjut dijelaskan oleh Dakir, kurikulum merupakan program
pendidikan bukan sekedar program pengajaran, yaitu program yang
direncanakan diprogramkan dan dirancangkan yang berisi berbagai
bahan ajar dan pengalaman belajar baik yang berasal dari waktu lalu,
sekarang maupun yang akan datang.29
Seperti apa mutu lulusan pendidikan, tergambar dalam kurikulum
sekolah yang salah satunya diturunkan dalam bentuk mata pelajaran.30
Dengan demikian, penyusunan mata pelajaran dengan perangkat pem-
belajaran, baik tujuan/kompetensi, metode, media, dan evaluasi ditetapkan
dalam kurikulum untuk menjadi pedoman sekolah, khususnya guru
dalam mewujudkan kurikulum menjadi pembelajaran yang realistik
dan bermakna bagi perubahan perilaku anak didik.

27
Oemar Hamalik. (1990), Pengembangan Kurikulum Dasar-Dasar dan Pengem-
bangannya,Bandung: Mandar Maju, h.5.
28
Dakir. (2010). Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, Jakarta: Bum
Aksara, h.2.
29
Ibid, h.3.
30
Jejen Musfah. (2017). Manajemen Pendidikan. Jakarta: Kencana, h.15.

27
MANAJEMEN KURIKULUM

Kurikulum merupakan suatu program pendidikan yang berisikan


berbagai bahan ajar dan pengalaman belajar yang diprogramkan, diren-
canakan dan dirancangkan secara sistemik atas dasar norma-norma
yang berlaku yang dijadikan pedoman dalam proses pembelajaran bagi
tenaga kependidikan dan peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan.31
Kedudukan kepala sekolah nampak jelas sebagai faktor kunci dalam
konteks keberhasilan pendidikan. Sejatinya, kepemimpinan sangat menen-
tukan di samping manajemen sekolah. Kepala sekolah sebagai manajer
dalam mengarahkan perubahan, menunjukkan hal-hal berikut: (1) Keter-
aturan struktur, (2) Fungsi pemeliharaan dari hari demi hari, (3) Jaminan
terhadap pelaksanaan pekerjaan, (4) Pemantauan terhadap hasil pekerjaan,
(5) Efisiensi. Sedangkan kepemimpinan berkenaan dengan, kegiatan:
yaitu: (1) perilaku pribadi dan interpersonal, (2) fokus ke masa depan,
(3) perubahan dan pengembangan, (4) kualitas, dan (5) efektivitas.32
Dengan begitu peran kepala sekolah sangat menentukan arah dan
maksimalisasi pelaksanaan kurikulum sebagai bagian integral dari
pengembangan kurikulum untuk memastikan bahwa tujuan pendidikan
dapat tercapai melalui pembelajaran yang efektif. Itu artinya, pelaksanaan
kurikulum menjadi tanggung jawab sekolah sehingga apa yang diharapkan
dari proses pembelajaran untuk mencapai perubahan perilaku (kognitif,
afektif dan psikomotorik) benar-benar terwujud yang ditandai dari hasil
belajar yang tinggi, serta akhlak dan moral anak yang baik.

D. PENDEKATAN SISTEM PENDIDIKAN


Pendidikan adalah dipandang sebagai suatu sistem, karena memiliki
sejumlah unsur/sub sistem yang saling berhubungan dan tidak bisa
dipisahkan dan berfungsi untuk mencapai tujuan sistem. Dalam pendekatan
sistem, maka pendidikan memiliki unsur-unsur, yaitu:
1. Unsur peserta sebagai bahan mentah (raw input) yang akan berubah,
sebagai akibat dari proses pendidikan yang berlangsung di dalam
sistem.

31
Dakir, op.cit, h.3.
32
David H. Hargreaves and David Hopkins.(1994). Development Planning
for School Improvement, London: Cassel Viliers House, h.117.

28
MANAJEMEN KURIKULUM

2. Unsur tujuan pendidikan yang merupakan sasaran yang akan dicapai


atau hasil proses pelatihan (out put) yang keluar dari sistem.
3. Unsur instrumen (instrumental input) yang menentukan hasil dari
sistem pendidikan mencakup :
a. Kurikulum yang meliputi
1) Organisasi dan pendekatan
2) Administrasi dan pendekatan
3) Materi dan kurikulum
4) Metode dan strategi pembelajaran
b. Evaluasi
c. Pengelolaan
d. Ketenagaan
e. Bimbingan dan pembinaan
f. Pembiayaan
g. Fasilitas dan alat-alat pendidikan
4. Unsur lingkungan misalnya: lingkungan organisasi dan masyarakat
serta kultural, yang merupakan faktor yang berpengaruh terhadap
proses pendidikan yang sedang berlangsung.

Salah satu unsur pendekatan sistem yang banyak dikembangkan


adalah “Program Evaluation and Review Technique” (PERT) yang merupakan
mekanisme kerja secara menyeluruh yang menggambarkan kegiatan-
kegiatan perencanaan, pelaksanaan, serta penilaian dari suatu program
pendidikan. Mekanisme kerja tersebut dapat diterapkan dalam bidang
pendidikan dengan kegiatan-kegiatan (1) pembakuan program pendidikan,
(2) pencetakan dan distribusi, (3) penyusunan program kegiatan, (4)
pelaksanaan penataran bagi tenaga-tenaga dalam pendidikan, (5) penataan
bagi para guru (6) menyusun program penyampaian pendekatan pembelajaran.
Dalam konteks ini manajemen pendidikan menjadi sub sistem yang
menentukan hasil pembelajaran, sebagai bagian integral kegiatan pendidikan.

1. Tujuan manajemen Pendidikan


Sesuai dengan uraian-uraian terdahulu yang berhubungan dengan
pengertian dan hakikat manajemen pendidikan, maka tujuan manajemen
pendidikan adalah sebagai berikut:

29
MANAJEMEN KURIKULUM

a. Secara umum, manajemen pendidikan bertujuan untuk menyusun


suatu sistem pengelolaan yang meliputi:
1) Administrasi dan organisasi kurikulum
2) Pengelolaan dan ketenagaan
3) Pengelolaan sarana dan prasarana
4) Pengelolaan pembiayaan
5) Pengelolaan media pendidikan
6) Pengelolaan hubungan dengan masyarakat, yang manajemen
keterlaksanaan proses pembelajaran yang
Relevan, efektif dan efesien yang menunjang tercapainya tujuan
pendidiakan.
b. Secara khusus manajemen manajemen pendidikan bertujuan terciptanya
sistem pengelolaan yang releven, efektif dan efesien yang dapat dilak-
sanakan dan mencapai sasaran dengan suatu pola struktur organisasi
pembagian tugas dan tanggungjawab yang jelas antara pimpinan/
pengelola program, tenaga pelatih fasilitator, tenaga perpustakaan,
tenaga tekhnis lainnya, tenaga tata usaha, dan tenaga pembinaan/
pembimbing.
c. Lancarnya pengelolaan program pendidikan
d. Keterlaksanaan proses pembelajaran berdasarkan pendekatan cara
belajar siswa aktif.

2. Fungsi-fungsi Manajemen Pendidikan


Manajemen pendidikan mempunyai fungsi yang terpadu dengan
proses pendidikan khususnya dengan pengelolaan proses pembelajaran.
Dalam hubungan ini terdapat beberapa fungsi manajemen pendidikan
sebagai berikut:
a. Fungsi perencanaan, mencakup berbagai kegiatan menentukan
kebutuhan, penentuan strategi pencapaian tujuan, menentukan isi
program pendidikan dan lain-lain. Dalam rangka pengelolaan perlu
dilakukan kegiatan penyusunan rencana, yang menjangkau ke depan
untuk memperbaiki keadaan dan memenuhi kebutuhan dikemudian
hari, menentukan tujuan yang hendak ditempuh, menyusun program
yang meliputi pendekatan, jenis dan urutan kegiatan, menetapkan

30
MANAJEMEN KURIKULUM

rencana biaya yang diperlukan serta menentukan jadwal dan proses


kerja.
b. Fungsi organisasi, meliputi pengelolaan ketenagaan, sarana dan
prasarana, distribusi tugas dan tanggungjawab dalam pengelolaan
secara integral. Untuk itu perlu dilakukan kegiatan-kegiatan seperti:
mengidentifikasi jenis dan tugas tanggungjawab dan wewenang,
merumuskan aturan hubungan kerja.
c. Fungsi koordinasi, yang berupaya menstabilisasi antara berbagai
tugas, tanggungjawab dan kewenangan untuk menjamin pelaksanaan
dan berhasil program pendidikan.
d. Fungsi motivasi (penggerakan), yang dimaksudkan untuk meningkatkan
efesiensi proses dan keberhasilan program pelatihan. Hal ini diperlukan
sehubungan dengan adanya pembagian tugas dan tanggungjawab
serta kewenangan tadi, sehingga terjadi peningkatan kegiatan personal,
yang pada gilirannya diharapkan meningkatkan keberhasilan program
ini.
e. Fungsi Kontrol, yang berupaya melakukan pengawasan, penilaian,
monitoring, perbaikan terhadap kelemahan-kelemahan dalam sistem
manajemen pendidikan tersebut.

3. Strategi sistem dalam Pendidikan


Dari sudut pola pikir sistem dalam pendidikan, maka terdapat tiga
komponen utama yang saling mendukung, yakni (1) sistem perencanaan
yang berkenaan dengan identifikasi input, spesifikasi hasil yang diharapkan
dan mengembangkan indikator perilaku, (2) sistem pemprograman yang
berkenaan dengan memilih alternatif komponen, integrasi komponen
dan uji validasi sistem, (3) sistem manajemen yang berkenaan dengan
monitoring evaluasi analisis data, desain perubahan dan penyesuaian.
Ketiga sistem tersebut terkait, dan sistem manajemen menunjang sistem
perencanaan dan sistem pemprograman; yang merupakan strategi
terpadu. Perhatikan bagan di bawah ini.

31
MANAJEMEN KURIKULUM

II. Sistem Pemprograman I. Sistem Perencanaan


A. Mempertimbangkan memilih A. Identifikasi infut
alternatif memilih B. Spesifikasi hasil yang diharapkan
B. Integrasi komponen terpilih C. Mengembangkan indikator perilaku
C. Uji dan validasi sistem

III. Sistem Manajemen


A. Sistem monitoring dan evaluasi hasil
belajar
B. Analisis data monitoring dan evauasi
E. Desain dan introduksi perubahan dan
penyesuaian yang dikehendaki.

Strategi sistem dalam Pendidikan

Keberadaan kurikulum menempati fungsi strategis dalam konteks


pelaksanaan pendidikan di setiap sekolah, sejak dari pendidikan pra sekolah,
dasar, menengah dan pendidikan tinggi dalam menghasilkan sumberdaya
manusia yang unggul dalam segala aspek kepribadian manusia. Di
sini dipahami bahwa kurikulum merupakan kerangka konseptual yang
disusun untuk dilaksanakan dalam wujud pembelajaran yang berisikan
tujuan atau kompetensi, mata pelajaran beserta isinya, metode, sumber
belajar, media, dan evaluasi. Perancang dan pelaksananya di tingkat
sekolah adalah kepala sekolah, staf, guru dan tenaga kependidikan.
Karena itu, kurikulum menjadi pedoman bagi sekolah dalam membelajarkan
siswa untuk mencapai hasil belajar yang berwujud perubahan tingkah
laku. Untuk itu, kurikulum ditempatkan juga sebagai alat dalam mewujudkan
pembelajaran. Sebagai pedoman tertulis maka peranan guru sangat
strategis dalam menafsirkan dan mengimplementasikan kurikulum
baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
Bidang manajerial kurikulum di sekolah menjadi bagian integral
dari manajemen pendidikan yang dilaksanakan oleh kepala sekolah
dengan bekerjasama secara intensif dan berkelanjutan dengan staf,
guru-guru, tatausaha, pegawai, komite sekolah dan pengawas pendidikan.
Oleh sebab itu, manajemen pendidikan bertujuan untuk meningkatkan
efisiensi dan efektivitas keterlaksanaan sistem proses belajar mengajar,
yang meliputi manajemen/administrasi kurikulum, program ketenagaan,
program sarana dan prasarana, program pembiayaan dan program hubungan
dengan masyarakat. Kelima jenis program tersebut mempunyai implikasi

32
MANAJEMEN KURIKULUM

tertentu dalam kerangka pengembangan kurikulum. Manajemen atau


administrasi kurikulum yang mencakup sistem penyampaian, media
dan bimbingan diperlukan faktor pertimbangan dalam rangka perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi kurikulum. Manajemen atau administrasi
kurikulum (dalam arti sempit) merupakan kegiatan-kegiatan yang manajerial/
administratif yang bersifat teknis memberikan dukungan yang cukup
besar dalam proses manajemen kurikulum, sebagaimana halnya dengan
manajemen/administrasi perkantoran bersama dengan berbagai instrumen
yang memadai.
Program ketenagaan, meliputi semua unsur ketenagaan yang terlibat
dalam proses perencanaan, pelaksanaan dan evluasi kurikulum, baik
dari lingkungan departemen/instansional, maupun dari lingkungan
sistem sekolah, baik dari kelompok ahli dari berbagai bidang, dan lembaga
kemasyarakatan dan orangtua. Kebutuhan ketenagaan dalam jumlah
dan kualitas kemampuan dirancang dan direncanakan secara seksama.
Unsur tenaga ahli kurikulum, pejabat instansi, ahli dalam bidang studi,
supervisor dan administrator yang berpengalaman sangat dibutuhkan
dalam rangka kegiatan dan proses perencanaan kurikulum. Administrator
sekolah, pada pengawas dan guru-guru harus disiapkan sedemikian
rupa agar mampu melaksanakan tugas-tugasnya dalam rangka implementasi
kurikulum di sekolah/lembaga pendidikan lainnya. Para pakar kurikulum,
konsultan dan unsur-unsur terkait harus disiapkan untuk melaksanakan
tugas-tugas monitoring dan evaluasi kurikulum. Itu sebabnya, program
ketenagaan menjadi unsur yang sangat penting dan sekaligus merupakan
faktor kunci dalam pengembangan kurikulum secara keseluruhan.
Program sarana dan prasarana, berkenaan dengan semua fasilitas
perlengkapan dan peralatan yang dibutuhkan dalam kegiatan perencanaan,
pelaksanaan dan evaluasi kurikulum. Dalam rangka kegiatan perencanaan
kurikulum diperlukan dalam rangka kegiatan perencanaan kurikulum
diperlukan fasilitas ruangan pertemuan serta perlengkapan perkantoran
yang memenuhi persyaratan kualitas. Dalam rangka implementasi kurikulum
dibutuhkan bantuan sekolah, perlengkapan dan peralatan pendidikan/
pembelajaran yang layak dan dalam jumlah yang cukup memadai. Hal
serupa juga bertalian dengan kebutuhan fasilitas, perlengkapan dan
peralatan yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan evaluasi dan
perbaikan kurikulum. Jumlah dan jenis fasilitas berkualitas, perlengkapan

33
MANAJEMEN KURIKULUM

dan peralatan supaya direncanakan sesuai dengan kebutuhan kurikulum


yang masing-masing jenjang dan satuan pendidikan.
Program pembiayaan, merupakan unsur penunjang yang sangat
penting dalam kerangka pengembangan kurikulum dan perlu direncanakan
secara teliti dan seksama. Program pembiayaan itu berkenaan dengan
kebutuhan biaya untuk perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kurikulum.
Program ini meliputi biaya unsur ketenagaan, pengadaan fasilitas, perleng-
kapan dan peralatan, biaya yang berarti, program pembiayaan pendidikan
harus mencakup program pembiayaan pengembangan kurikulum secara
menyeluruh.
Program hubungan dengan masyarakat, meliputi pengembangan
kurikulum secara nasional, pengembangan kurikulum tingkat provinsi,
pengembangan kurikulum tingkat daerah kabupaten, dan pengembangan
kurikulum tingkat sekolah sebgai kurikulum unggulan, pada gilirannya
perlu melibatkan masyarakat pada semua jenjang sosial. Hal ini perlu
di program pola dan struktur hubungan, kerjasama, dan kemitraan antara
lembaga pendidikan dan lembaga-lembaga kemasyarakatan termasuk
lembaga bisnis dan industri. Bila hubungan itu harmonis dan efektif
maka pihak masyarakat bersedia memberikan kontribusi dalam proses,
pengembangan kurikulum dan memberikan kemudahan untuk mensosiali-
sasikan kurikulum kepada masyarakat.

34
MANAJEMEN KURIKULUM

BAB II

KONSEP DASAR MANAJEMEN KURIKULUM

A. PENGERTIAN MANAJEMEN KURIKULUM

U
ntuk memahami secara lebih mendalam tentang manajemen
kurikulum, maka perlu terlebih dahulu dikemukakan beberapa
definisi manajemen kurikulum. Dengan pengajuan pendapat
sejumlah pakar pendidikan dan kurikulum, maka dapat dijadikan dasar
pemahaman yang lebih luas tentang manajemen kurikulum.
Salah satu pendapat menjelaskan bahwa manajemen kurikulum
khususnya merupakan substansi manajemen yang utama di sekolah.
Prinsip dasar manajemen kurikulum ini berusaha agar proses pembelajaran
dapat berjalan dengan baik dengan tolak ukur pencapaian tujuan oleh
siswa dan mendorong guru untuk menyusun dan terus menerus menyem-
purnakan strategi pembelajarannya. Tahapan manajemen kurikulum
di sekolah dilakukan melalui empat tahap: a) perencanaan; b) pengorgani-
sasian; c) pelaksanaan; d) pengendalian.1
Di sini muara proses dan aktivitas manajemen adalah mencapai
efektivitas. Karena itu, fungsi manajemen yang melalui sejumlah proses
dan aktivitas dalam organisasi adalah mempertemukan efektivitas individu
manajer dan pekerja, efektivitas kelompok (unit tugas), dan efektivitas
organisasi (totalitas sistem) yang bermuara kepada pencapaian tujuan

1
Dinn Wahyudin.(2014). Manajemen Kurikulum. Bandung: Remaja Rosdakarya,
h. 18-19.

35
MANAJEMEN KURIKULUM

akhir organisasi. Setidaknya tujuan yang dicapai adalah produksi berkualitas


tinggi, pelayanan yang baik dan kepuasan kerja pada pegawai. Di sini
diharapkan benar-benar menyatu tujuan individu, tujuan kelompok dan
tujuan organisasi dalam jangka waktu lama. Jadi berbagai dimensi yang
mendorong pencapaian efektivitas individu, kelompok dan organisasi
saling terkait sebagai suatu kesatuan yang bersifat sistemik. Apalagi
konsep organisasi sebagai sistem sosial memang telah memberikan kontribusi
penting bagi kelangsungan hidup organisasi dalam berbagai jenis dan
aktivitasnya untuk kesejahteraan umat manusia.
Pakar lain menjelaskan bahwa:”Management is the attainment of
organizational goals in an effective and efficient manner through planning,
organizing, leading and controlling organizational resources.2 Itu artinya
manajemen adalah pencapaian tujuan organisasi secara efektif dan efisien
melalui perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengendalian
sumberdaya organisasi.
Tegasnya, kegiatan manajemen selalu saja melibatkan alokasi dan
pengendalian uang, sumberdaya manusia dan pisik untuk mencapai tujuan
yang ditetapkan. Sebagai ilmu, manajemen memiliki pendekatan sistemik
yang selalu digunakan dalam memecahkan masalah. Pendekatan manajemen
bertujuan untuk menganalisis proses, membangun kerangka konseptual
kerja, mengidentifikasi prinsip-prinsip yang mendasarinya dan membangun
teori manajemen dengan menggunakan pendekatan tersebut. Karena
itu, manajemen adalah proses universal berkenaan dengan adanya jenis
lembaga, berbagai posisi dalam lembaga, atau pengalaman pada lingkungan
yang beragam luasnya antara berbagai persoalan kehidupan.
Apa sebenarnya peranan manajer? Meminjam pendapat Henry
Mintzberg’s, ada tiga peran utama manajer. Dengan demikian, paling
tidak ada tiga peran utama yang diharapkan dari perilaku para manajer
sebagai orang yang menjalankan kegiatan manajemen sebagai profesional,
yaitu:
1) Peran interpersonal, mencakup hasil dari kedudukannya, yaitu: (a)
sebagai tokoh, sebagai pimpinan unit kerja (bagian, departemen,
atau seksi), maka seorang manajer secara rutin mengerjakan kewajiban

2
Richard L. Daft.(2010). Management. New Jersey: Prentice Hall, h.5.

36
MANAJEMEN KURIKULUM

tertentu secara rutin, (b) sebagai pemimpin, seorang manajer men-


ciptakan lingkungan, bekerja untuk meningkatkan kinerja pegawai
dan mengurangi konflik, memberikan umpan balik, dan mendorong
pertumbuhan individu, (c) juru bicara, bagi pimpinan atasan atau
bawahan, manajer berinteraksi dengan orang lain-teman sejawat
dalam bagian lain, staf ahli, atau pegawai bidang lain dan penyedia
serta klien. Dalam peran ini, para manajer dalam membangun sekaligus
diharuskan membangun hubungan yang baik di dalam dan di luar
organisasi.
2) Peran informasional, sebagai hasil dari hubungan di dalam dan di
luar organisasi, maka manajer biasanya memiliki lebih banyak informasi
dari pada bawahan atau anggota stafnya. Ada tiga peran kunci utama
dalam hal ini yang dijalankan oleh manajer, yaitu: (a) sebagai pemantau,
secara tetap manajer mamantau lingkungan untuk menentukan
apa yang sedang berlangsung, maka manajer mengumpulkan informasi
secara langsung dengan menanyakan masalah, dan secara tidak
langsung dengan menerima informasi, (b) sebagai penyebar informasi,
maka manajer memberikan beberapa informasi kepada bawahan
yang diperlukan mereka, (c) juru bicara, seorang manajer selalu
berbicara kepada unit kerjanya kepada orang-orang luar yang bekerja
dalam unit kerjanya. Kadang-kaang sebagai juru bicara memberikan
informasi kepada atasan, dan kadang memberikan informasi kepada
bawahan.
3) Peran pengambilan keputusan, dalam melaksanakan peran keempat
sebagai pengambil keputusan, para manajer membuat pilihan, secara
pribadi atau bersama atau mempengaruhi pilihan yang lain, yaitu:
(a) enterpreneur, yaitu manajer membagi dan memunculkan gagasan
baru atau metode yang dapat meningkatkan kualitas kinerja pada
unit operasional, maka manajer dapat memainkan peran sebagai
wirausaha, (b) mengatasi kehancuran, dalam hal ini manajer menangani
masalah kerusakan, seorang manajer menanganinya dengan membuat
daftar masalah, kegagalan peralatan, menyerang, merusakkan kontrak,
dan perilaku lain dari lingkungan kerja yang mengurangi produktivitas,
(c) pengalokasian sumberdaya, yaitu manajer menentukan seseorang
dalam unit kerja yang mengusahakan sumberdaya, uang, fasilitas,
peralatan dan akses kepada manajer, (d) negosiator, yaitu: seorang

37
MANAJEMEN KURIKULUM

manajer harus menghabiskan waktu signifikan untuk bernegosiasi,


sebab dengan hanya manajer yang memiliki informasi dan kewenangan
yang diperlukan untuk melakukan hal tersebut, termasuk bernegosiasi
hal kontrak, dengan penyedia, pemilik sumberdaya di luar organisasi,
dan kesepakatan dengan organisasi tenaga kerja.3

Keberadaan satu organisasi sebagaimana halnya berbagai departemen


pada satu pemerintahan, khususnya departemen pendidikan dan kebudayaan,
sekolah, akademi, universitas dan kewenangan lain dalam bidang pendidikan
atau sistem pendidikan yang dikelola para ahli yang disebut manajer.
Dalam hal ini, para manajer akan melakukan, yaitu: (1) pengintegrasian
sumberdaya dalam mencapai sasaran secara efektif, (2) menjadi agen/
pelopor perubahan yang efektif, (3) memelihara dan mengembangkan
sumberdayanya.4
Tegasnya manajemen adalah tugas-tugas. Manajemen adalah disiplin
ilmu. Tetapi manajemen juga merupakan orang-orang yang bekerja.
Setiap pencapaian/prestasi manajemen adalah prestasi manajer. Setiap
kegagalan adalah sebagai kegagalan manajer. Dengan demikian, organisasi
merupakan sejumlah orang yang bekerjasama dalam mencapai tujuan
bersama, maka manajemen adalah usaha menggerakkan orang yang
ada dalam organisasi melakukan sesuatu untuk mencapai tujuan.
Menurut Zais,5 kurikulum dapat dipahami sebagai program mata
pelajaran, seperti halnya bahasa Inggris, aljabar, sejarah, ekonomi dan
lainnya. Dengan kata lain kurikulum mencakup suatu daftar atau judul
mata pelajaran yang disampaikan oleh sekolah. Pandangan lain menyebutkan
bahwa kurikulum adalah isi mata pelajaran tertentu dalam program
atau data dan informasi yang terekam dalam membimbing pelajar melalui
buku catatan yang diperlukan dan disediakan dalam rencana pembelajaran.
Selain itu kurikulum adalah pengalaman pembelajaran yang direncanakan
sekolah. Saat belakangan ini definisi kurikulum sudah berubah dari

3
Richard L Daft dan Dorothy Marcic.(2009). Understanding Management,
London:South Western, h.22.
4
K.B Everard, Geoffrey Morris, dan Ian Wilson. (2004). Effective School Management,
London: Paul Chapman Publishing, h.4.
5
Robert S. Zais. (1976). Curriculum Principles and Foundation. New York:
Harper and Row Publishers, h.7.

38
MANAJEMEN KURIKULUM

isi mata pelajaran dan daftar mata pelajaran atau mata kuliah kepada
semua pengalaman yang diberikan kepada pelajar dibawah pengawasan
dan pengaturan sekolah.
Kemudian Ornstein dan Hunkins,6 mengajukan definisi yang lebih
luas tentang kurikulum berkenaan dengan pengalaman pelajar. Tegasnya
kurikulum adalah semua pengalaman anak di bawah bimbingan guru-
guru.
Dari pendapat di atas dipahami bahwa Kurikulum merupakan rencana
pendidikan yang memberi pedoman tentang jenis, lingkup dan urutan
materi, serta proses pendidikan. Jika dikaitkan dengan pendidikan maka
kurikulum disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan dengan mem-
perhatikan tahap perkembangan peserta didik dan kesesuaiannya dengan
lingkungan, kebutuhan pembangunan manusia seutuhnya, perkembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi (Hamalik, 1995:19). Tujuan yang hendak
dicapai harus teruraikan dalam program yang termuat dalam kurikulum,
bahkan program itulah yang mencerminkan arah dan tujuan yang ingin
dicapai dalam proses pembelajaran.
Manajemen kurikulum adalah kurikulum sebagai rancangan pendidikan
mempunyai kedudukan yang sangat strategis dalam seluruh aspek kegiatan
pendidikan. Mengingat pentingnya peranan kurikulum di dalam pendidikan
dan perkembangan kehidupan peserta didik, maka dalam penyusunan
kurikulum tidak bisa dilakukan tanpa menggunakan landasan kokoh dan
kuat.7 Salah satu landasan memperkuat bangunan kurikulum adalah
landasan manajerial, sehingga manajemen kurikulum perlu dikembangkan
dalam menyusun kurikulum baru, atau mengembangkan kurikulum
yang sudah dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu.
Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa manajemen
kurikulum adalah proses mendayagunakan semua unsur manajemen
dalam rangka memaksimalkan pencapaian tujuan kurikulum pendidikan
yang dilaksanakan di lembaga pendidikan.
Bidang kurikulum dan pengajaran adalah satu bagian dari manajemen
operasional pendidikan di sekolah secara mikro. Manajemen pendidikan

6
Allan C. Ornstein dan Francis P. Hunkins.(1978). Curriculum Foundations,
Principles, and Issues. New Jersey ; Prentice Hall, Englewood Cliffs, h.6.
7
Ibid, h.190.

39
MANAJEMEN KURIKULUM

di sekolah menjadi faktor signifikan dalam merencanakan, melaksanakan


dan mengawasi keseluruhan kegiatan pendidikan dan pembinaan siswa
di sekolah. Pencapaian tujuan pendidikan nasional, institusional, kurikulum
dan tujuan pembelajaran, atau standar kompetensi/kompetensi inti menjadi
tanggung jawab manajemen pendidikan. Oleh sebab itu, kurikulum harus
dikelola dengan efektif dan efisien untuk memastikan bahwa pembelajaran
berlangsung efektif.
Dengan memadukan seluruh kekuatan sumberdaya organisasi
sebagaimana dikemukakan di atas, maka berbagai kegiatan dilakukan
dengan bekerjasama untuk menjalankan tugas pokok dan fungsi sehingga
dapat mencapai tujuan yang diinginkan. Sebab dengan begitu, seluruh
harapan yang dituangkan dalam visi, misi, tujuan dan sasaran organisasi
dapat dicapai jika sumberdaya manusia, para manajer, pimpinan, staf
dan pegawai yang bekerjasama mencapai tujuan pribadi dan tujuan
organisasi dalam melayani stakeholders di masyarakat.
Dalam konteks ini dapat dikemukakan pendapat lain yang menegaskan
bahwa manajemen kurikulum adalah sebagai suatu sistem pengelolaan
kurikulum yang kooperatif, komprehensif, sistemik, dan sistematik dalam
rangka mewujudkan ketercapaian tujuan kurikulum.8
Manajemen kurikulum berkenaan dengan bagaimana kurikulum
dirancang, diimplementasikan (dilaksanakan) dan dikendalikan (dievaluasi
dan disempurnakan), oleh siapa, kapan, dan dalam lingkup mana. Manajemen
kurikulum juga berkaitan dengan kebijakan siapa yang diberi tugas,
wewenang, dan tanggung jawab dalam merancang, melaksanakan,
dan mengendalikan kurikulum. Dari sudut mana pemberian tugas, wewenang
dan tanggung jawab dalam pengembangan kurikulum. Secara umum,
dibedakan antara manajemen pengembangan kurikulum terpusat (centralized
curriculum development management atau top down curriculum development)
dan manajemen pengembangan kurikulum tersebar (decentralized
curriculum development management atau bottom up curriculum development).9
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa manajemen
kurikulum adalah proses pendayagunaan sumberdaya kurikulum yang

8
Rusman. (2009). Manajemen Kurikulum. Jakarta: Rajawali Press, h.3.
Teguh Triwiyanto. (2015). Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta:
9

Bumi Aksara, h.25.

40
MANAJEMEN KURIKULUM

mencakup perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan


untuk mencapai tujuan pembelajaran dan pendidikan.

B. KEGIATAN MANAJEMEN KURIKULUM


Dalam konteks KTSP, Tita Lestari (2006) mengemukakan tentang
siklus manajemen kurikulum yang terdiri dari empat tahap berikut.
1. Tahap perencanaan; meliputi langkah-langkah sebagai: 1) analisis
kebutuhan; 2) merumuskan dan menjawab pertanyaan filosofi; 3)
menentukan desain kurikulum; 4) membuat rencana induk: pengem-
bangan, pelaksanaan dan penilaian.
2. Tahap pengembangan, meliputi langkah-langkah: 1) perumusan
rasional atau dasar pemikiran; 2) perumusan visi, misi dan tujuan;
3) penentuan struktur dan isi program; 4) pemilihan dan pengorganisasian
materi; 5) pengorganisasian kegiatan pembelajaran; 6) pemilihan
sumber, alat dan sarana belajar; 7) penentuan cara mengukur hasil
belajar.
3. Tahap implementasi atau pelaksanaan meliputi langkah: 1) penyusunan
rencana pembelajaran; 2) penjabaran materi; 3) penentuan strategi
dan metode pembelajaran; 4) penyediaan sumber, alat, dan sarana
pembelajaran; 5) penentuan cara dan alat penilaian proses dan hasil
belajar dan 6) setting lingkungan pembelajaran.
4. Tahap penilaian; untuk melihat sejauh mana kekuatan dan kelemahan
dari kurikulum yang dikembangkan, baik bentuk penilaian formatif
maupun sumatif. Penilaian kurikulum dapat mencakup context, input,
proses, produk (CIPP). Penilaian produk berfokus pada mengukur pen-
capaian proses pada akhir program (identik dengan evaluasi sumatif).10

Tahap atau proses manajemen kurikulum sebagaimana dikemukakan


di atas memberikan pemahaman bahwa langkah atau proses manajemen
kurikulum mencakup proses perencanaan, pelaksanaan, dan pengevaluasian
untuk memastikan bahwa tujuan kurikulum benar-benar dapat tercapai.
Dengan demikian, manajemen kurikulum menjadi tanggung jawab

10
Ibid., h. 19.

41
MANAJEMEN KURIKULUM

para perencana, pelaksana dan pengawas pendidikan untuk menjamin


bahwa pembelajaran berlangsung dengan baik dan menghasilkan pen-
capaian tujuan yang diinginkan sebagaimana ditunjukkan dalam perubahan
perilaku anak didik. Dalam kondisi ini, pengetahuan anak didik terus
bertambah dan berkembang, keterampilannya meningkat kepada yang
lebih tinggi dan sikap kepribadiannya menjadi lebih baik.

C. RUANG LINGKUP, PRINSIP DAN FUNGSI MANAJEMEN


KURIKULUM
Manajemen merupakan proses atau kegiatan manajerial yang ada
pada setiap organisasi. Setiap manajer atau pengelola organisasi pendidikan
maka dipastikan melakukan penataan terhadap semua sumberdaya organisasi
untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Oleh sebab itu, faktor
kurikulum sebagai isi dan proses aktivitas kurikulum menjadi bagian
integral yang harus dikelola oleh para manajer setiap lembaga pendidikan.
Menurut Dinn Wahyudin.11 lingkup manajemen kurikulum meliputi
perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi kurikulum.
Pada satuan tingkat pendidikan kegiatan kurikulum lebih mengutamakan
untuk merealisasikan dan merelevansikan antara kurikulum nasional
dalam bentuk standar kompetensi atau kompetensi dasar dengan kebutuhan
daerah dan kondisi sekolah yang bersangkutan sehingga kurikulum
tersebut merupakan kurikulum yang integritas dengan peserta didik
maupun dengan lingkungan dimana sekolah itu berada. Sedangkan
menyangkut prinsip, ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
melaksanakan manajemen kurikulum, yakni sebagai berikut.
1. Produktivitas, hasil yang akan diperoleh dalam kegiatan kurikulum
merupakan aspek yang harus dipertimbangkan dalam manajemen
kurikulum.
2. Demokratisasi, pelaksanaan manajemen kurikulum harus berdasarkan
demokrasi yang menempatkan pengelola, pelaksana dan subjek
didik pada posisi yang seharusnya dalam melaksanakan tugas dengan
penuh tanggung jawab untuk mencapai tujuan kurikulum.

11
Dinn Wahyudin. Op.cit. h.20-21.

42
MANAJEMEN KURIKULUM

3. Kooperatif, untuk memperoleh hasil yang diharapkan dalam kegiatan


manajemen kurikulum perlu adanya kerja sama positif dari berbagai
pihak yang terlibat.
4. Efektivitas dan efisiensi, rangkaian kegiatan manajemen kurikulum
harus mempertimbangkan efektivitas dan efisiensi untuk mencapai
tujuan kurikulum.
5. Mengarahkan visi, misi dan tujuan yang ditetapkan dalam kurikulum.
Ada beberapa fungsi dari manajemen kurikulum, diantaranya: 1)
meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya kurikulum; 2)
meningkatkan keadilan dan kesepakatan kepada siswa untuk mencapai
hasil yang maksimal; 3) meningkatkan relevansi dan efektifitas pem-
belajaran sesuai dengan kebutuhan peserta didik maupun lingkungan
sekitar peserta didik; 4) meningkatkan efektivitas kinerja guru maupun
aktivitas peserta didik; 5) meningkatkan efektivitas dan efisiensi
proses belajar mengajar; 6) meningkatkan partisipasi masyarakat
untuk membantu mengembangkan.12

D. KARAKTERISTIK MANAJEMEN KURIKULUM


Manajemen kurikulum dalam konteks karakteristiknya dapat dilihat
berdasarkan lingkup yang terbatas pada pelaksanaan kurikulum di
suatu sekolah dimulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan
dan evaluasi kurikulum. Aktivitas manajerial sebagaimana dimaksudkan
mencakup pekerjaan yang sangat luas terutama proses menyiapkan
naskah konseptual kurikulum. Adapun karakteristik perencanaan kurikulum,
sebagai berikut:

1. Karakteristik Perencanaan Kurikulum


Karakteristik dalam hal perencanaan kurikulum terdiri dari:
1) Pengertian perencanaan kurikulum;
2) Fungsi perencanaan kurikulum;
3) Model perencanaan kurikulum;
4) Desain kurikulum.

12
Ibid., h. 20-21.

43
MANAJEMEN KURIKULUM

Secara lebih terperinci, karakteristik perencanaan kurikulum adalah


sabagai berikut:
a. Perencanaan kurikulum harus berdasarkan konsep yang jelas,
b. Perencanaan kurikulum harus dibuat dalam kerangka kerja yang
komperhensif,
c. Perencanaan kurikulum harus bersifat reaktif dan antisipasi.
d. Tujuan-tujuan pendidikan harus meliputi rentang yang luas akan
kebutuhan dan minat yang berkenaan dengan individu dan masyarakat.
e. Rumusan berbagai tujuan pendekatan harus diperjelas dengan ilustrasi
konkret,
f. Masyarakat luas mempunyai hak dan tanggung jawab untuk mengetahui
berbagai hal,
g. Dengan keahlian profesional mereka, pendidikan berhak dan bertanggung
jawab mengidentifikasikan program sekolah yang akan membimbing
siswa,
h. Perencanaan dan pengembangan kurikulum paling efektif jika dikerjakan
secara bersama-sama,
i. Perencanaan kurikulum harus memuat artikulasi program sekolah
dan siswa pada jenjang dan tingkatan sekolah,
j. Program sekolah harus dirancang untuk mengkordinasikan semua
unsur dalam kurikulum kerangka kerja pendidikan,
k. Partisipasi kooperatif harus dilaksanakan dalam kegiatan perencanaan
krikulum,
l. Dalam perencanaan kurikulum harus diadakan evaluasi secara
kontiniu,
m. Berbagai jenjang sekolah, dari TK sampai Perguruan Tinggi hendaknya
merespons dan mengakomodasi perubahan, pertumbuhan dan perkem-
bangan siswa.13

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa karakteristik


perencanaan kurikulum perlu diperhatikan perencana kurikulum, baik
dalam kerangka penyusunan kurikulum yang benar-benar baru (perumusan
awal), maupun dalam rangka pengembangan kurikulum agar sasaran

13
Ibid., h. 22-23.

44
MANAJEMEN KURIKULUM

perencanaan kurikulum memenuhi harapan stakeholders pendidikan


dan pertumbuhan dan perkembangan anak didik.

2. Karakteristik Pengorganisasian Kurikulum


Ada beberapa bentuk organisasi kurikulum yang masing-masing
memiliki ciri-ciri tersendiri, yaitu:
a. Kurikulum mata pelajaran; memiliki ciri:1) terdiri atas sejumlah
mata pelajaran yang terpisah; 2) tidak berdasarkan kebutuhan, minat,
dan masalah yang dihadapi siswa; 3) bentuk kurikulum yang tidak
dipertimbangkan kebutuhan, masalah, dan tuntutan masyarakat
yang senantiasa berubah dan berkembang;
b. Kurikulum dengan mata pelajaran berkolerasi; memiliki ciri: 1) ber-
bagai mata pelajaran dikorelasikan satu dengan yang lainnya; 2)
sudah dimulai adanya usaha yang merelevansikan pelajaran dengan
permasalahan kehidupan sehari-hari; 3) metode penyampaian meng-
gunakan metode korelasi.
c. Kurikulum bidang studi; memiliki ciri-ciri: 1) kurikulum terdiri
atas suatu bidang pengajaran, 2) sistem penyampaian bersifat terpadu,
3) minat, masalah, serta kebutuhan siswa dan masyarakat dipertimbangkan
sebagai dasar penyusunan kurikulum.
d. Kurikulum integrasi; memiliki ciri-ciri antara lain: 1) berdasarkan
psikologi belajar, 2) berdasarkan kebutuhan, minat dan tingkat per-
kembangan siswa, 3) sistem penyampaian menggunakan sistem
pengajaran unit, 4) peran guru sama aktifnya dengan peran siswa.
e. Kurikulum inti; memiliki dua ciri-ciri yakni ciri-ciri pokok dan ciri-
ciri umum. Ciri-ciri pokok antara lain core pelajaran meliputi pengalaman-
pengalaman yang penting untuk pertumbuhan dan perkembangan
semua siswa. Adapun ciri-ciri umum antara lain: a) perencanaan
oleh guru-guru secara kooperatif; b) pengalaman belajar disusun dalam
unit-unit yang luas komprehensif berdasarkan tantangan, minat,
kebutuhan, dan masalah dari kalangan siswa dan masyarakat sekitarnya;
c) guru dan siswa saling mengenal satu sama lain dengan lebih baik;

45
MANAJEMEN KURIKULUM

d)pengalaman-pengalaman belajar bersifat fungsional serta melibatkan


banyak kegiatan dan tanggung jawab terhadap para siswa.14

Kegiatan manajemen kurikulum berkaitan dengan dua hal, yaitu:


(a) berkaitan dengan tugas guru, dan (b) berkaitan dengan proses pem-
belajaran.
a. Kegiatan yang berkaitan dengan tugas guru.
Kegiatan yang berkaitan dengan tugas guru ini meliputi:
1) Pembagian tugas membelajarkan, pembagian tugas biasanya dilakukan
dalam rapat guru pada awal tahun pembelajaran atau menjelang
awal semester baru.
2) Pembagian tugas membina kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan ekstra-
kurikuler atau kegiatan tambahan diluar kurikulum yang berlaku
ini seperti kegiatan pramuka, koperasi, unit kesehatan sekolah,
olahraga, kesenian, dan lain-lain.
b. Kegiatan yang berkaitan dengan proses pelaksanaan pembelajaran.
Kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan proses pembelajaran meliputi:
1) Penyusunan jadwal pmbelajaran. Jadwal pembelajaran merupakan
penjabaran dari seluruh program pembelajaran di sekolah jadwal
pembelajaran merupakan pedoman bagi guru bahwa dia akan
membelajarakan dikelas mana dan hari apa saja, serta jam berapa
saja.
2) Penyusunan program pembelajaran, kegiatan penyusunan program
pembelajaran ini meliputi: (a) menghitung jumlah pokok bahasan
dan sub pokok bahasan yang harus disampaikan dalam jangka
waktu tertentu (semester atau caturwulan): (b) menghitung
jumlah jam pelajaran yang tersedia menurut kurikulum yang
berlaku; (c) menghitung jumlah jam yang efektif pada semester
atau caturwulan berdasarkan kalender akademik yang berlaku;
(d) membuat rencana pelaksanaan pembelajaran untuk satu
jangka waktu tertentu (satu semester atau catuwulan).
3) Pengisian daftar kemajuan kelas, menggambarkan tentang kemajuan
kelas tentang penguasaan materi pelajaran.

14
Ibid., h. 23-24.

46
MANAJEMEN KURIKULUM

4) Kegiatan mengelolah kelas. Merupakan upaya yang dilakukan


oleh guru dalam melaksanakan proses pembelajaran agar tujuan
pembelajaran bisa tercapai secara efektif dan efesien. Hal ini menyangkut
strategi pembelajaran, pemanfaatan media, tempat duduk, dan
lain-lain.
5) Penyelenggaraan evaluasi hasil belajar. Evaluasi hasil belajar berguna
untuk mendapatkan umpan balik bagi guru tentang tercapainya
tujuan pembelajaran.
6) Laporan hasil pembelajaran. Hasil belajar yang diperoleh oleh
siswa harus dilaporkan kepada orang tua atau wali murid. Laporan
kepada orang tua atau wali murid ini bisa disebut rapor.
7) Kegiatan bimbingan dan penyuluhan. Kegiatan bimbingan dan
penyuluhan ditujukan bagi seluruh peserta didik disekolah tanpa
terkecuali. Bimbingan dan penyuluhan tidak hanya untuk siswa
yang bermasalah saja tetapi semua siswa, termasuk siswa yang
berprestasi.

Sebagaimana dikemukakan Kemp dalam pusat kurikulum (2007:20)


menegaskan bahwa kurikulum (desain kurikulum) dapat bervariasi
mulai dari yang sepenuhnya standar (seluruh komponen dirumuskan
secara tuntas oleh pusat), sebagian besar komponen (komponen dasar
dan komponen utama), sebagian komponen dirumuskan oleh tim pusat,
sedangkan komponen lainnya (penjabarannya) dikembangkan oleh
daerah atau satuan satuan pendidikan, sampai dengan yang seluruh
komponennya dikembangkan oleh satuan pendidikan. Kurikulum yang
seluruh komponennya dikembangkan oleh pusat pengelolaannya sepenuhnya
sentralistik, sedangkan kurikulum yang seluruh komponennya dikembangkan
oleh satuan pendidikan pengelolaannya sepenuhnya desentralistik, dan
kurikulum yang sebagian komponen dirumuskan oleh pusat dan sebagian
oleh satuan pendidikan terletak diantaranya atau sentral-desentral. Manajemen
sentral-desentral tersebut masih bervariasi, lebih berat kearah sentralisasi
atau desentralisasi atau seimbang antara keduanya.
Berdasarkan pendapat di atas, manajemen pengembangan kurikulum
dapat dilakukan melalui dua jenis, yaitu manajemen pengembangan
kurikulum sentralistik dan manajemen pengembangan kurikulum desentralistik.
Berikut uraian dari masing-masing jenis tersebut.

47
MANAJEMEN KURIKULUM

E. MANAJEMEN PENGEMBANGAN KURIKULUM SENTRALISTIK


Manajemen pengembangan kurikulum sentralistik berarti terpusat,
yaitu pengembangan kurikulum berasal dari pusat (pemerintah). Pada
negara yang bersifat kesatuan seperti Indonesia, sentralisasi ini berada
pada tingkat pemerintah pusat, sedangkan pada negara federal sentralisasi
berada pada tingkat pemerintah federal (pusat) atau tingkat negara
bagian. Dalam manajemen pengembangan kurikulum yang terpusat
atau sentralistik, bukan hanya tugas, wewenang dan tanggung jawab
pengembangan kurikulum yang dipegang oleh pejabat pusat, tetapi
juga inisiatif, gagasan, bahkan model kurikulum yang akan dkembangkan
dapat berasal dari pemegang kekuasaan di pusat. Biasanya daerah atau
sekolah sebagai penyelenggara pendidikan hanya mengembangkan
kurikulum yang sudah ada.
Manajemen kurikulum sentralistik menghasilkan kurikulum nasional,
satu kurikulum yang berlaku diseluruh wilayah negara. Dalam manajemen
kurikulum sentralisitik, bisa jadi seluruh perangkat kurikulum, mulai
dari landasan atau dasar-dasar pengembangan kurikulum, struktur dan
sebaran mata pelajaran, silabus atau garis besar program pembelajaran,
rincian materi dan kegiatan pembelajaran, buku, media, alat-alat penunjang,
penilaian hasil belajar beserta pedoman-pedoman pelaksanaannya disusun
oleh pusat. Di pihak lain, bisa saja yang disusun oleh pusat. Di pihak lain,
bisa saja yang disusun hanya landasan atau dasar-dasar penyusunan
kurikulum, struktur dan sebaran mata pelajaran, sedangkan penjabaran
lebih lanjut dalam silabus, satuan pelajaran, rincian materi, buku, media
dan alat pembelajaran dikembangkan oleh darah atau satuan pendidikan
(sekolah).
a. Kurikulum seragam untuk seluruh daerah dan sekolah, dapat dikem-
bangkan standar kemampuan dan tingkat pencapaian yang bersifat
nasional.
b. Lebih mudah dalam pengendalian atau pengawasan dan evaluasinya
karena kurikulum seragam.
c. Pembinaan para pelaksana kurikulum lebih mudah karena pengetahuan
dan keterampilan yang dituntut untuk melaksanakannya hampir
sama.

48
MANAJEMEN KURIKULUM

d. Penyediaan media dan sumber belajar lebih mudah karena jenisnya


sama untuk setiap daerah dan satuan pendidikan dan
e. Memungkinkan diadakan penilaian hasil belajar yang bersifat nasional
karena desain atau rancangan kurikulum dan sasaran belajarnya
sama untuk seluruh daerah dan satuan pendidikan.

Tabel 1
Ciri sentralistik pada kurikulum yang berlaku di Indonesia

Nama
No. Ciri Sentralistik
Kurikulum
1. Rencana Rumusan Keputusan MPRS Nomor II/MPRS/1960 mengenai
Pelajaran manusia sosialis Indonesia sebagai suatu bagian dari
1960 sosialisme Indonesia yang menjadi tujuan pembangunan
nasional semesta berencana, yaitu tata masyarakat adil
dan makmur berdasarkan pancasila. Dalam pelaksanaan-
nya di berbagai sekolah sesuai dengan jiwa dari keputusan
MPRS tersebut. Kurikulum yang berlaku tunggal dari pusat
sampai daerah.
2. Kurikulum Awal masa Orde baru terdapat TAP MPRS Nomor XXVII/
1968 MPRS/1966 tentang Agama, Pendidikan, dan kebudayaan,
dirumuskan mengenai tujuan pendidikan sebagai pembentuk
manusia pancasilais sejati berdasarkan ketetuan-ketentuan
seperti yang dikehendaki oleh pembukaan dan isi UUD 1945.
Lembaga pendidikan dan strukturnya disederhanakan, per-
kembangan pramuka sangat diperhatikan pemerintah. Kuri-
kulum yang berlaku tunggal dari pusat sampai daerah.
3. Kurikulum Tujuan-tujuan pendidikan dijabarkan secara sentralistik
1975 yang dijabarkan melalui tujuan intruksional umum, tujuan
instruksional umum, tujuan instruksional khusus dan ber-
bagai dan berbagai rincian lainnya sehinga jelas apa yang
akan dicapai melalui kurikulum tersebut. Kurikulum yang
berlaku tunggal dan seragam dari pusat sampai daerah.
4. Kurikulum Masa ini ditandai dengan tiga ciri kebijakannya, yaitu
1984 semesta, menyeluruh dan terpadu. Kebijakan ini menghen-
daki satu sistem dan pengelola tunggal terhadap sistem ter-
sebut. Kurikulum seragam pada setiap jenjang dan jenis
pendidikan.
5. Kurikulum Kurikulum 1994 merupakan respons terhadap UU Nomor
1994 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional. UU ini
memiliki semangat sentralistik yang kuat, kurikulum di atur
secara nasional. Tujuan, isi, metode dan evaluasi kurikulum,
serta pembelajaran masih ditentukan oleh pemerintah pusat.

49
MANAJEMEN KURIKULUM

6. Kurikulum Pemerintah bertanggung jawab dalam mempersiapkan guru


2013 dan kepala sekolah untuk melaksanakan kurikulum. Peme-
rintah bertanggung jawab dalam melakukan evaluasi pelak-
sanaan kurikulum secara asional. Kurikulum seragam pada
setiap jenjang dan jenis pendidikan. Perencanaan, Pelak-
sanaan dan evluasi masih diatur oleh pusat.

Sumber: Pusat Kurikulum, 2007, Hidayat dan Kemendikbud 2013

Tabel di atas memperlihatkan bahwa hampir semua kurikulum


yang berlaku di Indonesia (kecuali kurikulum 2006) yang merupakan
kurikulum sentralistik. Bahkan kurikulum 2013 masih mempertahankan
ciri sentralistiknya. Selain kelebihan, terdapat beberapa kekurangan
dari manajemen kurikulum sentralistik, yaitu:
a. Wilayah yang cukup luas memiliki keragaman dalam kondisi, kebutuhan
dan tingkat kemajuannya, kurikulum yang bersifat nasional tidak
dapat mengakomodasi keragaman kondisi tersebut.
b. Pemahaman dan penguasaan kurikulum nasional oleh para pelaksana
diseluruh wilayah tanah air membutuhkan waktu yang relatif lebih
lama dan
c. Penerapan satu jenis kurikulum untuk wilayah yang cukup luas
dapat menghadapi banyak hambatan dan keungkinan penyimpangan.

Kelebihan dan kekurangan jenis manajemen pengembangan kurikulum


sentralistik memang sangat tergantung pada keragaman kondisi sosial,
politik, budaya dan ekonomi suatu negara atau daerah. Keragaman
tersebut dapat juga menjadi kekuatan dan sekaligus kelemahan yang
seharusnya dapat dikelola demi terlaksananya kurikulum untuk mencapai
tujuan pendidikan.

F. MANAJEMEN PENGEMBANGAN KURIKULUM


DESENTRALISTIK
Dalam manajemen kurikulum desentralistik, penyusunan desain,
pelaksanaan, dan pengendalian kurikulum (evaluasi dan enyempurnaan),
dilakukan secara lokal oleh satuan pendidikan. Penyusunan desain kurikulum

50
MANAJEMEN KURIKULUM

dilakukan oleh guru-guru, melibatkan ahli, komite sekolah/madrasah


dan pihak-pihak lain di masyarakat yang memiliki perhatian dan kepedulian
terhadap kurikulum. Pengembangan kurikulum demikian disebut pengem-
bangan kurikulum berbasis sekolah (School Based Curriculum Devlopment
atau SBCD) atau biasa disebut dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
(KTSP). Kurikulum disusun pada setiap satuan pendidikan sesuai dengan
jenis, jalur dan jenjang pendidikannya.
Penyusunan jenis kurikulum SBCD dapat mencakup seluruh komponen
kurikulum atau hanya sebagian komponen. Penyusunannya dapat dilakukan
oleh seorang, sekelompok atau seluruh guru dan ditujukan untuk memenuhi
kebutuhan/program satuan pendidikan dan sesuai dengan kondisi
satuan pendidikan dan masyarakat sekitarnya. SBCD merupakan pengem-
bangan kurikulum yang berbeda bahkan dapat berlawanan dari pengem-
bangan kurikulum birokratis (mengikuti gagasan, konsep pemegang
kebijakan, hierarkis dari sekolah dasar sampai menengah).
Dalam pengembangan SBCD, desain kurikulum yang meliputi
sarana atau tujuan kurikulum, materi atau isi kurikulum, model pembelajaran
dan penilaian hasil belajar disesuaikan dengan kebutuhan, tantangan,
karakteristik dan tahap perkembangan sekolah dan masyarakat tempat
sekolah berada. Kurikulum menjadi lebih bermakna karena bertolak
dari situasi dan kondisi setempat dan diarahkan kepada pemenuhan
kebutuhan, tuntutan, dan perkembangan setempat. Pengembangan
kurikulum oleh satuan pendidikan akan menghasilkan desain kurikulum
yang beragam, tetapi lebih mudah dipahami, dikuasai, dan dilaksanakan
oleh guru sebab mereka yang mengembangkan atau minimal ikut serta
dalam pengembangannya.

51
MANAJEMEN KURIKULUM

Tabel 2
Ciri Desentralistik Kurikulum 2006 (KTSP)

Komponen
No. Ciri Desentralistik
Kurikulum
1. Tujuan Kurikulum satuan pendidikan (KTSP) adalah kurikulum ope-
rasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing
satuan pendidikan. Peraturan pemerintah Nomor 19 Tahun
2005 Pasal 17 ayat (2) menyatakan bahwa sekolah dan komite
sekolah, atau madrasah dan komite madrasah, mengem-
bangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan silabus-
nya berdasarkan kerangka dasar kurikulum dan standar
kompetensi lulusan, dibawah supervisi dinas kabupaten/
kota yang bertanggung jawab dibidang pendidikan SD,
SMP, SMA, dan SMK serta departemen yang menangani
urusan pemerintahan dibidang agama untuk MI, MTs, MA,
dan MAK. Penyusunan kurikulum pada tingkat satuan pen-
didikan jenjang pendidikan dasar dan menengah berpedoman
pada paduan yang disusun oleh badan standar Nasional
Pendidikan (BSNP).
2. Isi Latar belakang (dasar pemikiran penyusunan KTSP), tujuan
pengembangan KTSP, prinsip pengembangan KTSP sesuai
dengan karakteristik sekolah.
3. Metode Kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh
tiap-tiap satuan pendidikan. Sekolah dan kepala sekolah
mengembangkan KTSP dan silabus berdasarkan kerangka
dasar kurikulum, dan standar kompetensi di bawah koor-
dinasi dan supervisi dinas pendidikan kabupaten/kota dan/
atau provinsi.
4. Evaluasi Evaluasi pembelajaran berbasis kelas, proses pengumpulan
dan penggunaan informasi oleh guru melalui sejumlah
bukti untuk membuat keputusan tentang pencapaian hasil
belajar/kompetensi siswa. Penilaian hasil belajar oleh satuan
pendidikan bertujuan menilai pencapaian standar kompetensi
lulusan untuk semua mata pelajaran.

Sumber: Pusat Kurikulum, 2007

Pengembangan kurikulum oleh satuan pendidikan memiliki beberapa


kelebihan, yaitu:
a. Kurikulum sesuai dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik dan per-
kembangan satuan pendidikan dan masyarakat setempat sehingga

52
MANAJEMEN KURIKULUM

satuan pendidikan secara langsung atau tidak langsung dapat mem-


bantu perkembangan masyarakat dan
b. Lebih mudah dilaksanakan karena disain kurikulum disusun oleh
guru-guru sendiri dengan mempertimbangkan faktor-faktor pendukung
pelaksanaan yang ada di sekolah dan masyarakat sekitar.

Pengembangan kurikulum oleh satuan pendidikan juga memiliki


beberapa kelemahan, yaitu:
a. Tidak semua guru memiliki keahlian atau kecakapan dalam pengem-
bangan kurikulum, atau tidak semua satuan pendidikan/daerah
memiliki guru atau orang yang ahli atau cakap dalam pengembangan
kurikulum
b. Kurikulum dapat bersifat lokal, lulusannya kurang memiliki kemampuan
atau daya saing secara nasional
c. Desain kurikulum sangat beragam, dapat menimbulkan kesulitan
dalam pengawasan dan evaluasi kurikulum dan evaluasi hasil belajar
secara nasional dan
d. Kepindahan peserta didik dari satu sekolah atau daerah ke sekolah
atau daerah lain dapat menimbulkan kesulitan.

53
MANAJEMEN KURIKULUM

BAB III

PERENCANAAN KURIKULUM

A. PENGERTIAN PERENCANAAN KURIKULUM

S
alah satu fungsi yang mendasar dari manajemen adalah
perencanaan, selain pengorganisasian, penggerakan dan
pengawasan. Dalam kajian ini, dipahami bahwa perencanaan
adalah proses dasar yang digunakan untuk memilih tujuan dan menentukan
cakupan pencapaiannya. Merencanakan berarti mengupayakan penggunaan
sumberdaya manusia (human resources), sumberdaya alam (natural
resources) dan sumberdaya lainnya untuk mencapai tujuan.1
Ada beberapa definisi tentang perencanaan yang rumusnya berbeda-
beda antara satu dengan yang lain. Veithzal Rivai dan Sylviana Murni
mengemukakan bahwa perencanaan ialah suatu cara yang memuaskan
untuk membuat kegiatan dapat berjalan dengan baik, disertai dengan
berbagai langkah yang antisipatif guna memperkecil kesenjangan yang
terjadi sehingga kegiatan tersebut mencapai tujuan yang telah ditetapkan.2
Perencanaan adalah proses penyusunan, penetapan, dan pemanfaatan
sumber-sumber daya secara terpadu dan rasional agar kegiatan-kegiatan

1
H.B Siswanto.(2015).Pengantar Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara. h.42.
2
Veithzal Rivai dan Sylviana Murni.(2010). Education Managemen Analisis
Teori dan Praktik, Jakarta: Raja Grafindo Persada, cet. 2, h.207.

54
MANAJEMEN KURIKULUM

yang akan dilaksanakan dapat berjalan secara efektif dan efisien sesuai
dengan tujuan yang diharapkan.3
Dalam suatu organisasi perencanaan memiliki peran penting untuk
menentukan langkah- langkah melaksanakan kegiatan sehingga tercapai
tujuan. Kematangan dan kesalahan dalam perencanaan akan memberi
pengaruh positif dan negatif pada masa yang akan datang. Oleh karena
itu, suatu perencanaan yang dibuat manajer satu organisasi harus me-
mikirkan dampak jangka pendek dan jangka panjang yang mungkin
terjadi di masa depan.
Adapun pengertian perencanaan secara umum menurut Waterson
dalam Sudjana menuliskan bahwa perencanaan pada hakikatnya adalah
usaha sadar, terorganisasi, dan terus menerus yang dilakukan untuk
memilih alternatif yang terbaik dari sejumlah alternatif tindakan yang
ada untuk mencapai tujuan tertentu.4
Dalam konteks ini perencanaan memilik tiga karakteristik, yaitu:
1. Perencanaan tersebut harus menyangkut masa yang akan datang
2. Terdapat suatu elemen identifikasi pribadi atau organisasi yaitu serangkaian
tindakan di masa akan datang dan akan diambil oleh perencana
3. Masa yang akan datang, tindakan dan identifikasi pribadi, serta organisasi
merupakan unsur yang penting dalam setiap perencanaan.5

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perencanaan


adalah proses menetapkan tujuan, sasaran dan kegiatan yang dilaksanakan
pada masa akan datang dalam mencapai tujuan yang akan dicapai dengan
mendayagunakan berbagai sumberdaya organisasi.
Sedangkan kurikulum adalah semua pengalaman yang diharapkan
dikuasai peserta didik di bawah bimbingan guru. Pengalaman tersebut
dapat bersifat intra kurikulum, ko kurikuler, dan ekstra kurikuler.6

3
Zainal Arifin. (2014). Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung:
Rosdakarya, h.25.
4
Nana Sudjana. (2002). Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah,
Bandung: Sinar Baru Algensindo, h.46
5
H.B Siswanto. Op.cit. 42.
6
Sukiman. (2015). Pengembangan Kurikulum Perguruan Tinggi. Bandung: Remaja
Rosdakarya, h.4.

55
MANAJEMEN KURIKULUM

Itu artinya hakikat kurikulum adalah seluruh pengalaman belajar


yang direncanakan dan dilaksanakan dalam pengawasan sekolah untuk
mencapai tujuan pembelajaran dengan terwujudnya perubahan perilaku
siswa ditandai pencapaian kompetensi yang diharapkan.
Perencanaan merupakan bagian konsep manajemen, sedangkan
kurikulum bagian dari konsep dalam ilmu pendidikan. Dengan kata
lain, perencanaan kurikulum adalah suatu proses ketika peserta dalam
banyak tingkatan membuat keputusan tentang tujuan belajar, cara
mencapai tujuan-tujuan tersebut melalui situasi mengajar-belajar, serta
telaah keefektifan dan kebermaknaan metode tersebut. Tanpa perencanaan
kurikulum, sistematika berbagai pengalam belajar tidak akan saling
berhubungan dan tidak mengarah pada tujuan yang diharapkan.7
Perencanaan kurikulum menjadi bagian kegiatan awal untuk menyusun
konsep kurikulum yang menjadi program pendidikan di sekolah, tidak
hanya rencana pembelajaran, tetapi rencana atas konsep kurikulum
yang akan diajarkan di sekolah. Itu artinya perencanaan kurikulum mencakup
spektrum yang sangat luas, baik rencana tentang tujuan, materi/isi
mata pelajaran, metode, media, dan evaluasi ditetapkan untuk menjadi
pedoman dalam pelaksanaan kurikulum dalam wujud pembelajaran.
Dapat disimpulkan bahwa perencanaan kurikulum adalah langkah
awal membangun kurikulum ketika pekerja kurikulum membuat keputusan
dan mengambil tindakan untuk menghasilkan perencanaan yang akan
digunakan oleh guru dan peserta didik.
Kegiatan pengembangan kurikulum harus dilakukan berdasarkan
ilmu manajemen karena pengembangan kurikulum menuntut adanya
perencanaan sampai dengan pengawasan bahkan termasuk monitoring
dan evaluasi.8
Perencanaan kurikulum dan pembelajaran terkait dengan fungsi
atau proses manajemen kurikulum dan pembelajaran. Fungsi atau proses
tersebut meliputi perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi kurikulum

7
Oemar Hamalik, Op.cit.h. 171
8
Zainal Arifin. Op.cit. h.25.

56
MANAJEMEN KURIKULUM

dan pembelajaran. Fungsi atau proses manajemen kurikulum tersebut


terkait dengan pengembangan kurikulum dan pembelajaran.9
Perencanaan kurikulum merupakan proses menetapkan tujuan,
sasaran, dan program kurikulum yang menjadi pedoman pelaksanaan
pembelajaran dalam mencapai tujuan pendidikan di sekolah. Perencanaan
kurikulum dan pembelajaran terkait dengan fungsi atau proses manajemen
kurikulum dan pembelajaran. Fungsi atau proses tersebut meliputi peren-
canaan, pelaksanaan dan evaluasi kurikulum dan pembelajaran. Fungsi
atau proses manajemen kurikulum tersebut terkait dengan pengembangan
kurikulum dan pembelajaran.10
Proses perencanaan kurikulum dan kemudian diharapkan prosesnya
dari perencanaan dan langkah rancangan kepada pelaksanaan aktual
dengan lebih mudah, setelah peninjauan ulang dengan sejumlah proyek
inovatif.11
Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan penataan mengenai
tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai produktivitas
pendidikan. Produktivitas pendidikan dimaknai sebagai efisiensi dan efektivitas
dalam mencapai tujuan pendidikan.12
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perencanaan
kurikulum adalah proses menetapkan rancangan kurikulum yang akan
dilaksanakan pada masa akan datang dalam praktik pembelajaran untuk
mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan sebagai langkah dalam
mencapai tujuan pendidikan nasional.
Adapun tujuan perencanaan kurikulum, yaitu:
a. Sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk
mencapai tujuan pendidikan tertentu.
b. Standar pengawasan dalam pelaksanaan kurikulum, yaitu mencocokkan
pelaksanaan dengan perencanaan.

9
Teguh Triwiyanto.(2015). Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta:
Bumi Aksara, 2015, h.86.
10
Ibid. h.86.
11
Allan C. Ornstein dan Francis P. Hunkins.(1978). Curriculum Foundations,
Principles, and Issues. New Jersey ; Prentice Hall, Englewood Cliffs, h. 223
12
Teguh Triwiyanto. Op.cit. h.23.

57
MANAJEMEN KURIKULUM

c. Mengetahui siapa saja yang terlibat (struktur organisasinya), baik


kualifikasinya maupun kuantitasnya untuk mencapai tujuan pendidikan.
d. Merupakan gambaran kurikulum yang sistematik, termasuk biaya
dan kualitas pekerjaan, dan
e. Menimbulkan kegiatan-kegiatan yang tidak produktif, serta menghemat
biaya, tenaga dan waktu.13

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perencanaan


kurikulum merupakan langkah awal dalam pengelolaan kurikulum
pendidikan yang diharapkan menghasilkan wujud kurikulum sebagaimana
diharapkan sehingga manajemen kurikulum berfungsi di setiap pelaksanaan
manajemen pendidikan di sekolah. Dalam perencanaan ada sejumlah
langkah yang mencakup perumusan standar kompetensi lulusan, isi
dan proses pembelajaran sebagai pelaksanaan kurikulum, dan menyusun
perangkat evaluasi. Hal tersebut harus didukung manajer, guru, tenaga
kependidikan, sarana dan prasarana, dan pembiayaan. Sebab untuk
persiapan, pelaksanaan dan evaluasi kurikulum memerlukan dukungan
sumberdaya manusia (pimpinan, pendidik dan tenaga kependidikan),
serta sarana dan prasarana serta pembiayaan.

B. SIFAT DAN ASAS PERENCANAAN KURIKULUM


Perencanaan kurikulum menjadi bagian integral dari manajemen
kurikulum. Untuk itu perencanaan berarti menyiapkan langkah pelaksanaan
kurikulum di masa akan datang berdasarkan kebutuhan anak pada setiap
jenis dan jenjang pendidikan. Dengan kata lain, setiap satuan pendidikan
perlu disusun kurikulumnya dengan memperhatikan faktor anak didik
dan keadaan bangsa di tengah perubahan zaman. Suatu perencanaan
kurikulum memiliki sifat-sifat sebagai berikut:
a. Bersifat strategis, karena merupakan instrumen yang sangat penting
untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.
b. Bersifat komprehensif, yang mencakup keseluruhan aspek-aspek
kehidupan dan penghidupan masyarakat.

13
Ibid, h.103.

58
MANAJEMEN KURIKULUM

c. Bersifat integratif, yang mengintegrasikan rencana yang mencangkup


pengembangan dimensi kualitas dan kuantitas.
d. Bersifat realistik, berdasarkan kebutuhan nyata peserta didik dan
kebutuhan masyarakat.
e. Bersifat humanistik, menitikberatkan pada pengembangan sumber
daya manusia, baik kuantitatif maupun kualitatif.
f. Bersifat futuralistik, mengacuh jauh ke depan dalam merencanakan
masyarakat yang maju.
g. Merupakan bagian integral yang mendukung manajemen pendidikan
secara sistemik.
h. Perencanaan kurikulum mengacu kepada pengembangan kompetensi
sesuai dengan standar nasional.
i. Bersifat spesifikasi untuk melayani keragaman peserta didik.
j. Bersifat desentralistik, karena dikembangkan oleh daerah sesuai dengan
kondisi dan potensi daerah.

Perencanaan kurikulum disusun berdasarkan asas-asas sebagai


berikut:
a. Objektivitas
Perencanaan kurikulum memiliki tujuan yang jelas dan spesifik ber-
dasarkan tujuan pendidikan nasional, data input yang nyata sesuai
dengan kebutuhan.
b. Keterpaduan
Perencanaan kurikulum memadukan jenis dan sumber dari semua
disiplin ilmu, keterpaduan sekolah dan masyarakat, keterpaduan
internal, serta keterpaduan dalam proses penyampaian.
c. Manfaat
Perencanaan kurikulum menyediakan dan menyajikan pengetahuan
dan keterampilan sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan
dan tindakan, serta bermanfaat sebagai acuan strategis dalam penyeleng-
garaan pendidikan.
d. Efisiensi dan efektivitas
Perencanaan kurikulum disusun berdasarkan prinsip efisiensi dana,
tenaga, waktu dan efektif dalam mencapai tujuan dan hasil pendidikan.

59
MANAJEMEN KURIKULUM

e. Kesesuaian
Perencanaan kurikulum disesuaikan dengan sasaran peserta didik,
kemampuan tenaga kependidikan, kemajuan IPTEK, dan perubahan/
perkembangan masyarakat.
f. Keseimbangan
Perencanaan kurikulum memperhatikan keseimbangan antara jenis
bidang studi, sumber yang tersedia, serta antara kemampuan dan
program yang akan dilaksanakan.
g. Kemudahan
Perencanaan kurikulum memberikan kemudahan bagi para pemakainya
yang membutuhkan pedoman berupa bahan kajian dan metode untuk
melaksanakan proses pembelajaran.
h. Berkesinambungan
Perencanaan kurikulum ditata secara berkesinambungan sejalan
dengan tahapan-tahapan dan jenis dan jenjang suatu pendidikan.
i. Pembakuan
Perencanaan kurikulum dibakukan sesuai dengan jenjang dan jenis
suatu pendidikan, sejak dari pusat, provinsi, kabupaten/kotamadya.
j. Mutu
Perencanaan kurikulum memuat perangkat pembelajaran yang
bermutu, sehingga turut meningkatkan mutu proses belajar dan
kualitas lulusan secara keseluruhan.

C. FUNGSI DAN PRINSIP PERENCANAAN KURIKULUM


Untuk mengarahkan perubahan, maka para manajer yang menjalankan
kepemimpinan untuk mencapai visi, misi, tujuan, dan sasaran organisasi,
perlu menyusun rencana dengan jelas dan menyiapkan sumberdaya
pendukung termasuk sumberdaya manusia, sarana dan prasarana serta
anggaran. Dengan demikian, manajer atau pimpinan perlu menyusun
perencanaan kurikulum secara cermat, teliti, menyeluruh dan rinci,
karena memiliki multi fungsi sebagai berikut:
Seorang perencana kurikulum dituntut untuk memiliki ketelitian
dan kecermatan yang tinggi dalam merencanakan kurikulum baik secara

60
MANAJEMEN KURIKULUM

menyeluruh maupun secara rinci karena perencanaan kurikulum memiliki


multi fungsi sebagai berikut :
1. Perencanaan kurikulum sebagai pedoman atau alat manajemen,
yang berisi petunjuk tentang jenis dan sumber daya, serta sebagai
sistem kontrol.
2. Perencanaan kurikulum berfungsi sebagai penggerak roda organisasai
lembaga pendidikan dan tata laksana untuk menciptakan perubahan
dalam masyarakat sesuai dengan tujuan lembaga pendidikan(organisasi)
tersebut.
3. Perencanaan kurikulum berfungsi sebagai motivasi untuk melaksanakan
sistem pendidikan sehingga mencapai hasil yang optimal.14

Sementara itu ada delapan prinsip yang harus diperhatikan dalam


kegiatan perencanaan kurikulum, yaitu:
1. Perencanaan yang dibuat harus memberikan kemudahan dan mampu
memicu pemilihan dan pengembangan pengalaman belajar yang
potensial sesuai dengan hasil (tujuan) yang diharapkan sekolah.
2. Perencanaan hendaknya dikembangkan oleh guru sebagai pihak yang
langsung bekerja sama dengan siswa.
3. Perencanaan harus memungkinkan para guru menggunakan prinsip-
prinsip belajar dalam memilih dan memajukan kegiatan-kegiatan
belajar di sekolah.
4. Perencanaan harus memungkinkan para guru menyesuaikan pengalaman-
pengalaman dengan kebutuhan-kebutuhan pengembangan, kesanggupan,
dan taraf kematangan siswa (level of pupils).
5. Perencanaan harus menggiatkan para guru untuk mempertimbangkan
pengalaman belajar sehingga anak-anak dilibatkan dalam kegiatan-
kegiatan di dalam dan di luar sekolah.
6. Perencanaan harus merupakan penyelenggaraan suatu pengalaman
belajar yang kontiniu sehingga kegiatan-kegiatan belajar siswa dari
sejak awal sungguh mampu memberikan pengalaman.

14
Oemar Hamalik.(2006). Manajemen Pengembangan Kurikulum. Bandung:
Remaja Rosda Karya, h.152.

61
MANAJEMEN KURIKULUM

7. Kurikulum harus direncanakan sedemikian rupa sehingga mampu


membantu pembentukan karakter, kepribadian, dan perlengkapan
pengetahuan dasar siswa yang bernilai demokratis dan yang sesuai
dengan karakter kebudayaan bangsa Indonesia.
8. Perencanaan harus realistis, fleksibel (dapat dikerjakan), dan acceptable
(dapat diterima dengan baik).15

Perencanaan kurikulum berfungsi sebagai pedoman atau alat manajemen,


yang berisi petunjuk tentang jenis dan sumber peserta yang diperlukan,
media penyampaiannya, tindakan yang perlu dilakukan, sumber biaya,
tenaga, sarana yang diperlukan, sistem kontrol dan evaluasi, peran unsur-
unsur ketenagaan untuk mencapai tujuan manajemen organisasi.
Perencanaan kurikulum berfungsi sebagai penggerak roda organisasi
dan tata laksana untuk menciptakan perubahan dalam masyarakat sesuai
dengan tujuan organisasi. Perencanaan kurikulum yang matang besar
sumbangannya terhadap pembuatan keputusan oleh pimpinan, dan oleh
karenanya perlu memuat informasi kebijakan yang relevan, disamping
seni kepemimpinan dan pengetahuan yang telah dimilikinya.
Perencanaan kurikulum berfungsi sebagai motivasi ubtuk melaksanakan
sistem pendidikan sehingga mencapai hasil optimal.
Adapun didalam referensi lain dikemukakan bahwa prinsip-prinsip
perencanaan kurikulum yakni semua jenis perencanaan kurikulum terjadi
pada semua tingkat pendidikan dan disesuaikan dengan tingkatan kelas.
Secara umum, sebuah perencanaan kurikulum yang realistis disusun
berdasarkan prinsip-prinsip berikut, 16 yaitu:
1. Perencanaan kurikulum berkenaan dengan pengalaman-pengalaman
siswa.
2. Perencanaan kurikulum dibuat berdasarkan berbagai keputusan
tentang konten dan proses.
3. Perencanaan kurikulum mengandung keputusan-keputusan tentang
berbagai isu dan topik.
4. Perencanaan kurikulum melibatkan banyak kelompok.

15
http://www.media-guru.co.cc/2010/06/manajemen-perencanaan-kurikulum.html
16
Ibid.,

62
MANAJEMEN KURIKULUM

5. Perencanaan kurikulum dilaksanakan pada berbagai tingkatan.


6. Perencanaan kurikulum adalah sebuah proses yang berkelanjutan.

Pendapat di atas menegaskan bahwa perencanaan kurikulum dirumuskan


dengan mempertimbangkan prinsip yang luas dan komprehensif, yaitu
berkenaan dengan pengalaman siswa, berisikan konten/proses, memuat
adanya topik-topik, penyusunan melibatkan kelompok/tim, mendistribusikan
materi untuk semua tingkatan dan sifatnya berkelanjutan. Dengan demikian
prinsip perencanaan kurikulum berkenaan dengan pemenuhan kebutuhan
tugas perkembangan anak didik yang mengakomodir tercapainya berbagai
kompetensi sebagain dasar kedewasaan anak.

D. AZAS-AZAS PERENCANAAN KURIKULUM


Dalam menyusun kurikulum (konseptual/program), maka ada beberapa
azas yang harus diperhatikan para penyusun kurikulum pendidikan.
Paling tidak, sebuah perencanaan kurikulum disusun berdasarkan azas-
azas sebagai berikut,17 yaitu:
1. Objektivitas
Perencanaan kurikulum memiliki tujuan yang jelas dan spesifik ber-
dasarkan tujuan pendidikan nasional, data input yang nyata sesuai
dengan kebutuhan.
2. Keterpaduan
Perencanaan kurikulum memadukan jenis dan sumber dari semua
disiplin ilmu, keterpaduan sekolah dan masyarakat, keterpaduan
internal, serta keterpaduan dalam proses penyampaian.
3. Manfaat
Perencanaan kurikulum menyediakan dan menyajikan pengetahuan
dan keterampilan sebagai bahan masukan untuk pengambilan keputusan
dan tindakan, serta bermanfaat sebagai acuan strategis dalam penyeleng-
garaan pendidikan.

17
Oemar Hamalik, op.cit. h. 155-156

63
MANAJEMEN KURIKULUM

4. Efisiensi dan Efektivitas


Perencanaan kurikulum disusun berdasarkan prinsip efisiensi dana,
tenaga, dan waktu dalam mencapai tujuan dan hasil pendidikan.
5. Kesesuaian
Perencanaan kurikulum disesuaikan dengan sasaran peserta didik,
kemampuan tenaga kependidikan, kemajuan IPTEK, dan perubahan/
perkembangan masyarakat.
6. Keseimbangan
Perencanaan kurikulum memperhatikan keseimbangan antara jenis
bidang studi, sumber yang tersedia, serta antara kemampuan dan
program yang akan dilaksanakan.
7. Kemudahan
Perencanaan kurikulum memberikan kemudahan bagi para pemakainya
yang membutuhkan pedoman berupa bahan kajian dan metode untuk
melaksanakan proses pembelajaran.
8. Berkesinambungan
Perencanaan kurikulum ditata secara berkesinambungan sejalan
dengan tahapan, jenis, dan jenjang satuan pendidikan.
9. Pembakuan
Perencanaan kurikulum dibakukan sesuai dengan jenjang dan jenis
satuan pendidikan, sejak dari pusat sampai daerah.
10. Mutu
Perencanaan kurikulum memuat perangkat pembelajaran yang
bermutu, sehingga turut meningkatkan mutu proses belajar dan kualitas
lulusan secara keseluruhan.

E. SIFAT PERENCANAAN DAN MODEL KURIKULUM


Suatu perencanaan kurikulum memiliki sifat-sifat sebagai berikut:18
1. Bersifat strategis karena merupakan instrumen yang sangat penting
untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

18
Dakir.(2004). Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum,Jakarta:Rineka
Cipta, h. 117-118.

64
MANAJEMEN KURIKULUM

2. Bersifat komprehensif yang mencakup keseluruhan aspek-aspek


kehidupan dan penghidupan masyarakat.
3. Bersifat integratif yang mengintegrasikan rencana yang luas, mencakup
pengembangan dimensi kualitas dan kuantitas.
4. Bersifat realistik, berdasarkan kebutuhan nyata peserta didik dan
kebutuhan masyarakat.
5. Bersifat humanistik yaitu menitikberatkan pada pengembangan
sumber daya manusia, baik kuantitatif maupun kualitatif.
6. Bersifat futuralistik yaitu mengacu jauh ke depan dalam merencanakan
masyarakat yang maju.
7. Bersifat desentralistik karena dikembangkan oleh daerah sesuai
dengan kondisi dan potensi daerah.

Perencanaan kurikulum merupakan kegiatan yang komplek yang


berkaitan dengan pengambilan keputusan. Maka dalam mendiskusikan
dan mengkoordinasikan proses diperlukan model-model dalam penyajiannya,
yakni berdasarkan asumsi-asumsi rasionalitas tentang pemprosesan
informasi atau data secara cermat.
Adapun model-model dalam perencanaan kurikulum yang disebutkan
oleh Oemar Hamalik adalah:19
1. Model Perencanaan Rasional Deduktif atau Rasional Tyler.
Model ini menitikberatkan logika dalam merancang program kurikulum
dan bertitik tolak dari spesifikasi tujuan (Goals and Objectives). Namun
model ini cenderung mengabaikan masalah-masalah dalam lingkungan
tugas. Model ini dapat diterapkan pada semua tingkat pembuatan
keputusan namun lebih cocok digunakan untuk sistem pendidikan
yang sentralistik yang menitikberatkan pada sistem perencanaan
pusat, dimana kurikulum dianggap sebagai suatu alat untuk mengem-
bangkan atau mencapai tujuan di bidang sosial ekonomi.
2. Model Interaktif Rasional (The rasional-interactive model).
Model ini memandang rasional sebagai tuntutan kesepakatan antara
pendapat-pendapat yang berbeda, yang tidak mengikuti urutan logika.
Model ini seringkali dinamakan model situasional. asumsi rasionalitasnya

19
Oemar Hamalik, op.cit. h. 154.

65
MANAJEMEN KURIKULUM

menekankan pada respons fleksibel kurikulum yang tidak memuaskan


dan inisiatif pada tingkat sekolahan atau tingkat lokal. Implemantasi
perencanaan merupakan fase krusial dalam pengembangan kurikulum,
dimana diperlukan saling beradaptasi antara perencana dan pengguna
kurikulum.
3. The Disciplines Model.
perencanaan ini menitikberatkan pada guru-guru, mereka sendiri
yang merencanakan kurikulum berdasarkan pertimbangan sistematik
tentang relevansi pengetahuan filosofis, sosiologi dan psikologi.
4. Model tanpa perencanaan (non planning model)
Ini merupakan suatu model perencanaan kurikulum berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan intuitif guru-guru didalam ruang kelas
sebagai bentuk pembuatan keputusan.

Secara umum dalam sebuah perencanaan kurikulum dapat mengandung


keempat tipe diatas, namun untuk membedakannya antara satu dengan
yang lain, diperlukan analisis variabel kebermaknaan bagi praktik peren-
canaan.20 Dalam konteks ini perencanaan kurikulum tidak bisa dilaksanakan
oleh setiap orang atau sembarangan, sebab proses penyusuanan awal
dan pengembangan kurikulum selain berkenaan dengan kebijakan pemerintah,
juga memerlukan para ahli baik dari segi pengalaman dalam bidang
praktik pendidikan dan pembelajaran sekaligus memang memerlukan
pakar dalam bidang pendidikan.

F. ORGANIASI KURIKULUM
Untuk memastikan bahwa isi kurikulum disusun dengan baik supaya
anak didik mudah menerima bahan yang disampaikan oleh guru, maka
diperlukan struktur organisasi yang jelas dari kurikulum yang direncanakan
atau disusun. Menurut Sukiman, organisasi kurikulum adalah pola atau
bentuk pengaturan unsur-unsur atau komponen-komponen kurikulum
yang disusun dan disampaikan kepada peserta didik. Organisasi kurikulum
merupakan struktur program kurikulum yang berupa kerangka umum
program-program pembelajaran yang disampaikan kepada peserta didik

20
Ibid. h. 156.

66
MANAJEMEN KURIKULUM

guna tercapainya tujuan pendidikan atau pembelajaran yang ditetapkan.


Organisasi kurikulum merupakan asas yang sangat penting bagi proses
pengembangan kurikulum dan berhubungan erat dengan tujuan penyampaian
bahan pembelajaran, menentukan isi bahan pembelajaran, menentukan
cara penyampaikan bahan pembelajaran, menentukan bentuk pengalaman
yang akan disajikan kepada terdidik dan menentukan peranan pendidik
dan terdidik dalam implementasi kurikulum.21
Kemudian menurut Rusman, organisasi kurikulum sangat terkait
dengan pengaturan bahan yang ada dalam kurikulum, sedangkan yang
menjadi sumber bahan pelajaran dalam kurikulum adalalah nilai budaya,
nilai sosial, aspek siswa dan masyarakat serta ilmu pengetahuan dan
teknologi. Ada beberapa faktor yang dipertimbangkan dalam organisasi
kurikulum, diantaranya berkaitan dengan ruang lingkup (scope), urutan
bahan (sequence), konstinuitas, keseimbangan, dan keterpaduan (integrated)
1. Ruang lingkup (scope) dan urutan bahan pelajaran merupakan salah
satu faktor yang harus dipertimbangkan dalam suatu kurikulum.
Setiap pola kurikulum memiliki ruang lingkup materi pelajaran yang
berbeda. Organisasi kurikulum berdasarkan mata pelajaran lingkup
materi pelajarannya cenderung menyajikan bahan pelajaran yang
bersumber dari kebudayaan dan informasi atau pengetahuan hasil
temuan masa lalu yang telah tersusun secara logis dan sistematis.
Sementara itu, organisasi kurikulum integritas lingkup materi pelajarannya
diambil dari masyarakat maupun dari aspek siswa. (minat bakat
dan kebutuhan) tidak hanya lingkup materi pelajaran yang harus
diperhatikan dalam organisasi kurikulum, tetapi bagaimana urutan
(sequence) bahan tersebut harus disajikan dalam kurikulum.
2. Kontinuitas kurikulum dalam organisasi kurikulum perlu diperhatikan
terutama berkaitan dengan substansi bahan yang dipelajari siswa,
jangan sampai terjadi pengulangan ataupun loncat-loncat yang
tidak jelas tingkat kesukarannya. Pendekatan spiral merupakan salah
satu upaya dalam menerapkan faktor ini. Artinya materi yang dipelajari
siswa semakin lama semakin mendalam yang dikembangkan berdasarkan
keluasaan secara vertikal maupun horizontal

21
Sukiman, op.cit. h.58.

67
MANAJEMEN KURIKULUM

3. Keseimbangan bahan pelajaran perlu dipertimbangkan dalam organisasi


kurikulum. Semakin dinamis perubahan dan perkembangan dalam
ilmu pengetahuan, sosial budaya maupun ekonomi akan berpengaruh
terhadap dimensi kurikulum. Ada dua aspek yang harus diperhatikan
dalam keseimbangan pada organisasi kurikulum: (1) keseimbangan
terhadap substansi bahan atau isi kurikulum dan (2) keseimbangan
yang berkaitan dengan cara atau proses belajar. Keseimbangan subtansi
isi kurikulum harus dilihat secara komprehensif untuk kepentingan
siswa sebagai individu, tuntutan masyarakat maupun kepentingan
pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Aspek estetika,
intelektual, moral, sosial-emosional, personal, relegius, seni apresiasi
dan kinestetik, semuanya harus terakomodasi dalam isi kurikulum
4. Alokasi waktu yang dibutuhkan dalam kurikulum harus menjadi
bahan pertimbangan dalam organisasi kurikulum.22

Berdasarkan pendapat di atas jelas dapat dipahami bahwa organisasi


kurikulum sejatinya merupakan bagian dari perencanaan kurikulum.
Sebab yang dimaksudkan dengan organisasi kurikulum adalah pengaturan
materi/isi kurikulum, khususnya berkaitan dengan bahan mata pelajaran.
Hal ini penting diperhatian para perencana kurikulum agar guru mudah
mengajarkan, dan anak didik juga mudah memahami atau mengusai
keterampilan yang disampaikan guru kepada anak didik.

22
Rusman. (2009). Manajemen Kurikulum. Jakarta: Rajawali Press, h.60.

68
MANAJEMEN KURIKULUM

BAB IV

IMPLEMENTASI KURIKULUM

A. PENGERTIAN IMPLEMENTASI KURIKULUM

S
etelah perencanaan kurikulum selesai disusun, maka pemerintah
menyiapkan atau menetapkan kebijakan untuk memberlakukan
atau melaksanakan kurikulum. Pelaksanaan kurikulum berarti
proses mewujudkan kurikulum dalam realisasi pembelajaran di sekolah-
sekolah.
Untuk pelaksanaan kurikulum, maka guru dituntut untuk secara
profesional merancang pembelajaran efektif dan bermakna (menyenangkan),
mengorganisasikan pembelajaran, memilih pendekatan, dan pembentukan
kompetensi secara aktif serta menerapkan kriteria keberhasilan.1
Secara etimologi kata kurikulum diambil dari bahasa Yunani, Curere
berarti jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari mulai atau start sampai
finish. Pengertian inilah yang kemudian diterapkan dalam bidang pendidikan.
Dalam bahasa Arab, kurikulum sering disebut dengan istilah al-manhaj
yang berarti jalan yang terang yang dilalui manusia dalam bidang kehidup-
annya.2
Berdasarkan pengertian tersebut, kurikulum jika dikaitkan dengan

1
E. Mulyasa. (2014). Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, h.99.
2
Nana Sudjana.(2002). Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum di Sekolah,
Bandung: Sinar Baru Algensindo, h. 2

69
MANAJEMEN KURIKULUM

pendidikan. Menurut Muhaimin kurikulum berarti jalan terang yang


dilalui oleh pendidik atau guru dengan peserta didik untuk mengembangkan
pengetahuan, keterampilan dan sikap serta nilai-nilai.3
Keberhasilan proses pembelajaran di sebuah lembaga pendidikan
tidak bisa terlepas dari kurikulum. Dalam konteks ini, kurikulum mempunyai
kedudukan yang sentral dalam proses pendidikan karena kurikulum
mengarahkan segala bentuk aktifitas pendidikan dengan tujuan tercapainya
tujuan pendidikan. Kurikulum memberikan rancangan pendidikan yang
berfungsi memberikan pedoman dalam proses pendidikan.4
Sedangkan dalam terminologi, terdapat perbedaan pengertian kurikulum.
Dalam pengertian lama kurikulum didefinisikan sebagai sejumlah materi
pelajaran yang harus ditempuh dan dipelajari oleh peserta didik untuk
memperoleh sejumlah pengetahuan, yang telah tersusun secara sistematis
dan logis. Pendefinisian ini walau terasa kurang tepat, tetapi memang
ada benarnya jika ditarik dari asal kata kurikulum di atas tadi, yakni curere
yang biasa diartikan dengan jarak yang harus ditempuh oleh pelari.5
Berdasarkan pengertian ini, sebetulnya ingin dikatakan bahwa
kurikulum lebih menekankan pada isi pelajaran dari sejumlah mata
pelajaran yang berada di sekolah atau madrasah yang harus ditempuh
para peserta didik untuk mencapai suatu ijazah. Kurikulum juga merupakan
keseluruhan mata pelajaran yang disajikan oleh suatu lembaga pendidikan.
Pengertian ini terasa masih sangat sempit, karena kurikulum tidak
lain hanya sejumlah materi saja.
Dalam pengertian lain Ramayulis mendefinisikan bahwa kurikulum
merupakan salah satu komponen yang sangat penting menentukan dalam
suatu sistem pendidikan, karena itu kurikulum merupakan alat untuk
mencapai tujuan pendidikan dan sekaligus sebagai pedoman dalam
pelaksanaan pengajaran pada semua jenis dan tingkat pendidikan.6

3
Muhaimin. (2005). Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di
Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi, Jakarta: Raja Grafindo Persada, h.1.
4
Nana Saodih Sukmadinata.(2004). Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktik,
Bandung: Remaja Rosda Karya, h. 4
5
Oemar Hamalik.(2007).Dasar-Dasar Pengembangan Kurikulum, Bandung:Remaja
Rosdakarya, h. 1
6
Ramayulis. (2005). Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia, h. 9.

70
MANAJEMEN KURIKULUM

Sedangkan menurut M. Arifin mendefinisikan kurikulum adalah


seluruh bahan pelajaran yang harus disajikan dalam proses kependidikan
dalam satu sistem institusional pendidikan.7 Dari beberapa definisi di
atas dapat disimpulkan, bahwa kurikulum merupakan sejumlah mata
pelajaran atau kegiatan yang mencakup program pendidikan agar mencapai
tujuan pendidikan yang diharapkan. Definisi tersebut kemudian berkembang
sesuai dengan tuntutan dan dinamika zaman.
Kegiatan pengembangan kurikulum harus dilakukan berdasarkan
ilmu manajemen karena pengembangan kurikulum menuntut adanya
perencanaan sampai dengan pengawasan bahkan termasuk monitoring
dan evaluasi.8
Sebuah kurikulum lembaga pendidikan yang diatur dan dikembangkan
dengan baik akan menghasilkan peserta didik yang sesuai dengan tujuan
pendidikan nasional. Kurikulum merupakan seperangkat rencana dan
pengaturan mengenai isi bahan pelajaran serta cara yang digunakan
sebagai pedoman untuk menggunakan aktivitas belajar mengajar. Kurikulum
dipandang sebagai program pendidikan yang direncanakan dan dilaksanakan
dalam mencapai tujuan pendidikan yang memerlukan sebuah inovasi
dan pengembangan. Karenanya kurikulum selalu bersifat dinamis, selalu
berubah, menyesuaikan diri dengan kebutuhan mereka yang belajar.
Hal ini dikarenakan masyarakat dan siapa saja yang belajar mengalami
perubahan juga.
Pengembangan rencana pembelajaran dan pelaksanaan bimbingan
merupakan bagian dari isi kurikulum, isi kurikulum bukan hanya mata
pelajaran saja, tetapi ditambah dengan proses pembelajaran di luar mata
pelajaran semisal kerja keras, kedisiplinan, kebiasaan belajar, dan jujur
dalam belajar. Semua itu merupakan tanggung jawab sekolah yang wajib
diberikan kepada peserta didik.
Dalam pengertian tersebut terlihat jelas, bahwa kegiatan-kegiatan
kurikulum tidak terbatas dalam ruang kelas saja melainkan juga mencakup
kegiatan di luar kelas. Dengan demikian tidak ada pemisahan tegas antara
intra dan ekstra kurikulum. Singkatnya, semua kegiatan yang memberi

7
M. Arifin. (1996). Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara, h.183
Zainal Arifin. (2012). Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum, Bandung:
8

Remaja Rosdakarya,h.25.

71
MANAJEMEN KURIKULUM

pengalaman dalam proses pendidikan atau belajar bagi peserta didik,


pada hakikatnya adalah kurikulum. Oleh karenanya, dalam pengertian
yang sangat luas ini kurikulum sering dimaknai dengan sejumlah pengalaman
belajar yang didapat oleh peserta didik baik di dalam maupun di luar kelas.
Dari beberapa definisi di atas, terdapat berbagai penafsiran dan
pemahaman tentang kurikulum, sehingga kita peroleh penggolongan
kurikulum sebagaimana dikatakan Majid sebagai berikut:
1. Kurikulum dapat dilihat sebagai produk, yakni sebagai hasil karya
pengembangan kurikulum, biasanya dalam suatu panitia. Hasilnya
dituangkan dalam bentuk buku atau pedoman kurikulum, misalnya
berisi sejumlah mata pelajaran yang harus diajarkan. Inilah yang
disebut dengan dokumen kurikulum.
2. Kurikulum dapat pula dipandang sebagai program, yakni alat yang
dilakukan oleh sekolah atau madrasah untuk mencapai tujuannya.
Ini dapat berupa mengajarkan berbagai mata pelajaran, tetapi dapat
juga meliputi segala kegiatan yang dianggap dapat mempengaruhi
perkembangan siswa. Misalnya perkumpulan sekolah, pertandingan,
pramuka, warung sekolah dan lain-lain.
3. Kurikulum dapat pula dipandang sebagai hal-hal yang diharapkan
agar dapat dipelajari oleh siswa yakni pengetahuan, sikap, keterampilan
tertentu. Apa yang diharapkan akan dipelajari tidak selalu sama dengan
apa yang benar-benar dipelajari.
4. Kurikulum sebagai pengalaman siswa. Ketiga pandangan di atas
berkenaan dengan perencanaan kurikulum. Sedangkan pandangan
yang keempat ini mengenai ini mengenai apa yang secara aktual
menjadi kenyataan pada setiap siswa. Ada kemungkinan, bahwa apa
yang diwujudkan pada diri anak berbeda dengan apa yang diharap-
kan menurut rencana.9

Dari berbagai macam pengertian kurikulum diatas, secara garis


besar kurikulum dapat disimpulkan sebagai seperangkat rencana dan
pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang

9
Abdul Majid.(2006), Perencanaan Pembelajaran dalam Mengembangkan
Kompetensi Guru, Bandung: Remaja Rosdakarya, h. 34

72
MANAJEMEN KURIKULUM

digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran


untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

B. PRINSIP PELAKSANAAN KURIKULUM


Dalam pelaksanaan kurikulum di setiap satuan pendidikan menggunakan
prinsip-prinsip sebagai berikut.
1. Pelaksanaan kurikulum didasarkan pada potensi, perkembangan
dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna
bagi dirinya. Dalam hal ini peserta didik harus mendapatkan pelayanan
pendidikan yang bermutu, serta memperoleh kesempatan untuk
mengekspresikan dirinya secara bebas, dinamis dan menyenangkan.
2. Kurikulum dilaksanakan dengan menegakkan kelima pilar belajar,
yaitu (1) belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Esa, (2) belajar untuk memahami dan menghayati (3) belajar untuk
mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (4) belajar untuk
hidup bersama dan berguna bagi orang lain, (5) belajar untuk mem-
bangun dan menemukan jati diri melalui pembelajaran yang aktif,
kreatif, efektif dan menyenangkan.
3. Pelaksanaan kurikulum memungkinkan peserta didik mendapat
pelayanan yang bersifat perbaikan, pengayaan, dan/atau percepatan
sesuai dengan potensi, tahap perkembangan dan kondisi peserta didik
dengan tetap memperhatikan keterpaduan pengembangan pribadi
peserta didik yang dimensi ketuhanan, keindividuan, kesosialan dan
moral.
4. Kurikulum dilaksanakan dalam suasana hubungan peserta didik
dan pendidik yang saling menerima dan menghargai, akrab terbuka
dan hangat dengan prinsip tutwuri handayani, ing madia mangun
karsa, ing ngarsa sung tulada (dibelakang memberikan daya dan
kekuatan, di tengah membangun semangat dan prakarsa, di depan
memberikan contoh teladan)
5. Kurikulum dilaksanakan dengan menggunakan kedekatan multi
strategi dan multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai
dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar, dengan
prinsip alam takambang jadi guru (semua yang terjadi, tergelar dan

73
MANAJEMEN KURIKULUM

berkembang di masyarakat dan lingkungan sekitar serta lingkungan


alam semesta dijadikan sumber belajar, contoh dan teladan).
6. Kurikulum dilaksanakan dengan mendayagunakan kondisi alam
sosial dan budaya serta kekayaan daerah untuk keberhasilan pendidikan
dengan muatan seluruh bahan kajian secara optimal.
7. Kurikulum yang mencakup seluruh komponen kompetensi mata
pelajaran, muatan lokal, dan pengembangan diri diselenggarakan
dalam keseimbangan, keterkaitan, dan kesinambungan yang cocok
dan memadai antar kelas dan jenis serta jenjang pendidikan.10

Untuk itu, dalam mengimplementasikan kurikulum tidak dapat


hanya dengan memandang satu aspek saja, akan tetapi aspek-aspek
di atas harus saling berkaitan dan harus diperhatikan.

C. PELAKSANAAN KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN


Sesungguhnya kurikulum memang merupakan alat dalam pencapaian
tujuan pendidikan. Namun jika tidak tersedia kurikulum yang merupakan
hasil penyusunan kurikulum maka tidak ada pedoman melakukan pem-
belajaran oleh guru. Itu artinya kurikulum merupakan seperangkat rencana
dan pengaturan tentang kompetensi yang dibakukan dan cara pencapaiannya
disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan anak didik melalui tindakan
awal dengan rancangan kurikulum. Oleh sebab itu, didalam kurikulum
terdapat sejumlah pernyataan kompetensi yang dibuat dan perlu dicapai
secara tuntas (belajar tuntas) setiap kali dilakukan pembelajaran. Dalam
hal ini kurikulum dilaksanakan dalam rangka membantu dan memudahkan
peserta didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang
meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial-emosional, kognitif, bahasa,
fisik/motorik, kemandirian dan seni yang dibawanya sejak dari lahir.
Potensi-potensi tersebut hanya akan dapat berkembang secara maksimal
jika dikembangkan melalui pengalaman belajar.
Pelaksaan kurikulum dan pembelajaran merupakan perwujudan
kurikulum yang masih bersifat dokumen tertulis menjadi aktual dalam

10
Kunandar. (2011). Guru Profesional: Implementasi KTSP dan Sukses dalam
Sertifikasi guru. Jakarta: Rajawali Press, h.142-143.

74
MANAJEMEN KURIKULUM

serangkaian aktivitas pembelajaran. Perencanaan kurikulum dan pembelajaran


(yang berupa kebijakan) tidak akan memberikan makna apapun apabila
kebijakan tersebut tidak diimpelementasikan dalam bentuk program
kurikuler dan kegiatan pembelajaran. Untuk mengimplementasikan
kebijakan tersebut, rekomendasi kebijakan yang telah dirumuskan perlu
dimasukkan kedalam program kurikulum atau kegiatan pembelajaran.
Bagaimanapun, proses pengembangan kurikulum nasional dituangkan
dalam kebijakan pendidikan. Di sini dipahami bahwa penyusunan kebijakan
pendidikan, harus dengan dukungan hasil penelitian lapangan, sehingga
atas dasar itu maka dapat disusun suatu program kurikulum untuk
dilaksanakan oleh kebanyakan pendidik. Bahkan pelaksanaan kurikulum
oleh guru untuk membelajarkan peserta didik sehingga kurikulum terlaksana
dalam sistem kelas dan anak didik dapat mengikuti program yang disajikan
dalam kurikulum tingkat pendidikan tertentu.
Perencanaan untuk penyusun kebijakan membutuhkan keterlibatan
banyak pihak dan masukan agar produk yang dihasilkan dapat mengakomodasi
banyak kalangan. Semakin banyak yang dilibatkan, semakin baik sebuah
produk kebijakan. Produk kebijakan yang dihasilkan juga dapat dijadikan
sebagai deseminasi dalam pelaksanaan yang nantinya akan lebih mudah.
Dalam kerangka melaksanakan kurikulum pada setiap satuan pendidikan
dan pembelajaran harus sesuai dengan perencanaan, maka dibutuhkan
kesiapan, terutama kesiapan pelaksanaan. Apapun desain atau perencanaan
kurikulum dan pembelajaran yang dimiliki, maka keberhasilan pelaksanaan
pembelajaran sangat tergantung pada pelaksana sebagaimana halnya
tugas kepala sekolah, guru, atau pengawas. Meskipun kurikulum masih
sederhana, apabila guru memiliki kemampuan, semangat dan dedikasi
yang tinggi maka hasilnya akan lebih lanjut dari pada desain kurikulum
yang hebat, tetapi kemampuan, semangat dan dedikasi guru rendah. Itu
artinya guru profesional menjadi syarat bagi efektivitas pelaksanaan
kurikulum pada tingkat pembelajaran yang unggul.
Sumber daya pendidikan yang lain seperti sarana, prasarana, biaya,
organisasi dan lingkungan juga merupakan kunci keberhasilan pendidikan,
namun guru merupakan kunci utama keberhasilan pelaksanaan keberhasilan
kurikulum. Dengan sarana, prasarana, dan biaya yang terbatas namun
memiliki guru yang kreatif dan berdedikasi tinggi, untuk dapat mengem-
bangkan program, kegiatan, dan alat bantu pelajaran yang inovatif. Keber-

75
MANAJEMEN KURIKULUM

adaan guru sebagai ujung tombak pelaksanaan kurikulum dan pembelajaran


menjadikan guru harus selalu ditingkatkan kompetensinya. Dengan kata
lain, pemberdayaan kompetensi pendidik secara maksimal akan berpengaruh
terhadap kinerja pendidik dan kualitas pendidikan secara berkelanjutan.
Pelaksanaan kurikulum dan pembelajaran sejalan dengan kebijakan
standar pendidikan nasional, terutama sebagai dasar atau standar dalam
proses pendidikan sehingga pelaksanaanya menyesuaikan dengan standar
pendidikan nasional. Dasar atau landasan tersebut digunakan untuk
menjadikan lulusan sesuai atau bahkan lebih dari standart kompetensi
lulusan yang telah ditetapkan. Kurikulum merupakan salah satu komponen
pendidikan yang starategis karena merupakan sperangkat rencana
dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara
yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran
untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Untuk mencapai tujuan
tersebut dibutuhkan strategi dan pendekatan dalam pelaksanaannya.
Pelaksanaan kurikulum dan pembelajaran dalam usaha mencapai tujuan
yang sesuai dengan karakteristik, kebutuhan, dan perkembangan daerah
dan sekolah, memerlukan pelaksanaan yang terprogram dan sistematis.
Institusi yang menangani provinsi dan kabupaten/kota dalam melak-
sanakan tugasnya bekerjasama dengan pusat kurikulum lembaga penjamin
mutu pendidikan (LPMP), pusat pengembangan penataran guru (PPPG),
badan penelitian dan pengembangan (BLITBANG), KEMDIGBUD, badan
penelitian dan pengembangan daerah (BALITBANGDA), badan perencanaan
pembangunan daerah (BAPPEDA), kementrian agama, kantor wilayah
kementrian agama, kantor wilayah perwakilan wilayah kementrian agama,
perguruan tinggi, dewan pendidikan, organisasi profesi, komite sekolah,
musyawarah kerja kepala sekolah/madrasah (MKKS/M), Musyawarah
mata pembelajaran (MGMP), dan kelompok kerja guru (KKG).
Pelaksanaan kurikulum dan pembelajaran secara sinergi dapat mem-
percepat dan menghasilkan pencapaian sesuai dengan tujuan pendidikan.
Layanan yang diberikan dan aktivitas pelaksanaan dari institusi-institusi
di atas dapat dilihat pada tabel 3:

76
MANAJEMEN KURIKULUM

Tabel 3
Pelaksanaan kurikulum an pembelajaran untuk berbagai institusi

Institusi/
Aspek Aktivitas Pelaksanaan
Layanan
Kurikulum dan Ruang - Adanya pertukaran informasi kurikulum
pembelajaran lingkup dan pembelajaran
- Adanya pertukaran narasumber kurikulum
dan pembelajaran.
- Adanya program pendampingan kurikulum
dan pembelajaran
- Adanya kerjasama
- Adanya pendampingan pengelola sekolah
- Hasil pengembangan kurikulum
Pelaksanaan BAPPEDA - Tingkat fasilitas kegiatan
program/ - Memasukkannya sebagai bagian dari peren-
kegiatan canaan pembangunan pendidikan di daerah
Dinas - tingkat peran sebagai pembina
pendidikan - Intensitas pengarah
kota - Mengeluarlan surat keputusan/ SK tentang
kurikulum dan pembelajaran
- Adanya dukungan dana
- Adanya dukungan sarana
- Adanya dukungan prasaran untuk kelan-
caran kegiatan
LPMP - Intensitas sebagai lembaga yang memberi-
kan pendampingan dalam pengembangan
kurikulum dan pembelajaran yang sinergis
PPPG - Intensitas sebagai lembaga yang memberi-
kan pendampingan dalam pengembangan
kurikulum pembelajaran kurikulum yang
sinergis
Perguruan - intensitas membinan kurikulum dan pem-
tinggi belajaran
- kedekatan sebagi mitra kerja dalam melak-
sanakan peran pembinaan kurikulum dan
pembelajaran
- kedekatan mitra kerja dalam melaksana-
kan tugas pembinaan kurikulum an pem-
belajaran

77
MANAJEMEN KURIKULUM

Dewan - intensitasa mitra dalam pengembangan


pendidikan kurikulum dan pembelajaran
- kemauan menampung informasi
- kemauan menyampaikan informasi, serta
aspirasi masyarakat berkaitan dengan kuri-
kulum pembelajaran
Komite - Kedekatan mitra sekolah dalam pengem-
sekolah bangan kurikulum dan pembelajaran
- Frekuensi komite sekolah mengidentifikasi
kebutuhan lokal
- Frekunsi komite sekolah mengidentifikasi
keunggulan lokal
- Kemauan mengakomodasi kebutuhan untuk
pengembangan kurikulum dan pembela-
jaran
- Kemauan mengakomodasi keunggulan lokal
untuk pengembangan kurikulum dan pem-
belajaran.
MKKS - Intensitas mitra dalam pengembangan
kurikulum dan pembelajaran
MGMP - Intensitas mitra dalam pengembangan
kurikulum dan pembelajaran
Organisasi - Intensitas mitra kurikulum dan pembela-
profesi jaran untuk memberikan masukan sesuai
dengan profesi dalam pengembangan
kurikulum
- Intensitas kurikulum dan dan pembelajaran
memberikan masukan sesuai dengan bidang
keilmuannya dalam pengembangan kuri-
kulum
Program kerja Peningkatan - Frekuensi mengadakan lokakarya, seminar,
kemampuan pelatitahan, penataran, studi banding, pene-
litian dan pengembangan
- Tingkat kerjasama dengan perguruan tinggi
dan lembaga-lembaga lain yang terkait
- Tingkat pertukaran ide, pengalaman,
informasi
- Kelengkapan penyediaan kepustakaan

78
MANAJEMEN KURIKULUM

Pendamping- - Terkajinya dokumen kebijakan nasional


an pengem- dan daerah
bangan - Terkajinya karakteristik, kebutuhan, dan
kurikulum perkembangan daerah/ sekolah
- Terlaksananya analisis SWOT terhadap
kondisi sekolah
- Terlaksanakannya perumusan standar kom-
petensi dan kompetensi dasar program
muatan lokal
Layanan - Ketersediaan narasumber pelatihan/loka
Teknis karya/seminar tentang optimalisasi peran
- Ketersediaan narasumber pelatihan/loka
karya/seminar tentang optimalisasi peran
- Ketersediaan narasumber pelatihan/loka
karya/seminar tentang berbagai kebijakan-
kebijakan kurikulum
- Ketersediaan narasumber pelatihan/loka
karya/seminar tentang implementasi kuri-
kulum.
Layanan - Adanya layanan konsultasi pelaksanaan
Konsultasi (implementasi) kurikulum dan pembelajaran
- Adanya narasumber untuk membantu me-
ngembangkan kurikulum dan pembelajaran
Pemantauan - Terlaksananya pemantauan terhadap pelak-
kurikulum sanaan kurikulum dan pembelajaran secara
periodik.
Evaluasi - Terlaksananya evaluasi terhadap pelaksana-
kurikulum an kurikulum dan pembelajaran secara
periodik
Penyempur- - Terlaksananya penyempurnaan kurikulum
naan dan pemelajaran.
kurikulum

Sumber: Pusat Kurikulum, 2007

D. MODEL PELAKSANAAN KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN


Menurut Rusman,11 menggolongkan model-model pelaksanaan
kurikulum dan pembelajaran sebagai berikut:

11
Rusman. Op.cit. h.77.

79
MANAJEMEN KURIKULUM

1. The Concers-Based Adoption Model (CBAM)


CBAM adalah sebuah model deskriptif yang dikembangkan melalui
identifikasi tingkat kepedulian guru terhadap inovasi kurikulum. Perubahan
dalam inovasi ini dibagi menjadi dua dimensi, yaitu tingkatan-tingkatan
kepedulian terhadap inovasi dan tingkatan-tingkatan penggunaan inovasi.
Perubahan yang terjadi merupakan proses, bukan peristiwa yang terjadi
ketika program baru diberikan kepada guru, merupakan pengalaman
pribadi dan individu melakukan perubahan.
Model ini menjadikan guru sebagai agen dalam melakukan inovasi
kurikulum. Kurikulum yang merupakan dokumen dalam pelaksanaanya
sebenarnya membutuhkan guru untuk melaksanakan (pembelajaran).
Proses (pembelajaran) ini tentu saja banyak dipengaruhi oleh pengalaman
pribadi guru. Oleh karena itu, perlu disiapkan sungguh-sungguh guru
yang akan melaksanakan kurikulum ini, terutama memperkuat kepedulian
guru untuk melakukan inovasi kurikulum.

2. Model Leithwood
Model ini difokuskan pada guru. Asumsi yang mendasari model
ini antara lain (a) setiap guru mempunyai kesiapan yang berbeda (b)
pelaksanaan merupakan proses timbal balik dan (c) pertumbuhan
dan perkembangan dimungkinkan adanya tahap-tahap individu untuk
identifikasi. Mengembangkan profil yang merupakan hambatan untuk
perubahan dan bagaimana para guru dapat mengatasi hambatan tersebut.
Model ini tidak hanya menggambarkan hambatan dan pelaksanaan,
tetapi juga menawarkan cara dan strategi kepada para guru dalam mengatasi
hambatan yang dihadapi. Setiap guru mempunyai kesiapan yang berbeda
ketika akan melaksanakan kurikulum sehingga perlu adanya persiapan-
persiapan ketika akan melaksanakan kurikulum. Persiapan-persiapan
dapat dilakukan melalui aktivitas pembelajaran mandiri, pelatihan,
seminar dan magang.

3. Model Teori
Model ini dimaksudkan untuk menggugah masyarakat dalam meng-
adakan perubahan. Dengan model ini diharapkan adanya minat (interest)

80
MANAJEMEN KURIKULUM

dalam diri guru untuk memanfaatkan perubahan. Esensi model teori


yaitu:
a. Trusting-menumbuhkan kepercayaan diri;
b. Opening-menumbuhkan dan membuka keinginan
c. Realizing-mewujudkan, dalam arti setiap orang bebas berbuat dan
mewujudkan keinginannya untuk perbaikan;dan
d. Interpending-saling ketergantungan dengan lingkungan

Model ini memfokuskan pada perubahan sosial. Model ini menyediakan


suatu skala yang membantu guru mengidentifikasi, bagaimana lingkungan
akan menerima ide-ide baru sebagai harapan untuk mengimplementasikan
inovasi dalam praktik, serta menyediakan beberapa petunjuk untuk menye-
diakan perubahan.
Model-model pelaksanaan kurikulum di atas menunjukkan pelaksanaan
kurikulum dapat dilakukan berdasarkan kebutuhan, situasi, dan kondisi
yang ada pada saat pelaksanaan kurikulum. Pelaksanaan kurikulum
sangat terkait dengan perubahan dan penyesuaian kurikulum dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terus berubah.
Kesiapan dan pelaksanaan kurikulum akan berdampak terhadap keberhasilan
tujuan atau kompetensi yang akan dicapai oleh peserta didik. Sebagai
perbandingan, berikut perbedaan pelaksanaan KTSP 2006 dengan kurikulum
2013 pada tabel 4:

Tabel 4
Perbandingan Pelaksanaan Kurikulum dan Pembelajaran

Pelaksanaan Pelaksanaan
No.
Kurikulum 2006 Kurikulum 2013
1. Materi disusun untuk memberi- Materi disusun seimbang mencakup
kan pengetahuan kepada siswa kompetensi sikap, pengetahuan dan
keterampilan
2. Pendekatan pembelajaran adalah Pendekatan pembelajaran berdasarkan
siswa diberitahu tentang materi pengamatan, pertanyaan, pengumpul-
yang harus dihafal (siswa diberi- an data, penalaran dan penyajian hasil-
tahu) nya melalui pemanfaatan berbagai
sumber belajar (siswa mencari tahu)

81
MANAJEMEN KURIKULUM

Penialaian pada pengetahuan Penilaian autentik pada aspek kom-


melalui ulangan dan ujian petensi sikap, pengetahuan, dan
keterampilan berdasarkan portofolio
Penilaian pada pengetahuan Prinsip-prinsip pelaksanaan kurikulum
melalui ulangan dan ujian diaksanakan melalui pendekatan
Prinsip-prinsip pelaksanaan scientific:
kurikulum melalui: (a) Materi pembelajaran berbasis pada
(a) Siswa harus mendapatkan fakta atau fenomena yang dapat
pelayanan pendidikan yang dijelaskan dengan logika atau
bermutu, serta memperoleh penalaran tertentu, bukan sebatas
kesempatan untuk mengeks- kira-kira, khayalan, legenda atau
presikan dirinya secara bebas, dongeng semata
dinamis dan menyenangkan; (b) Penjelasan guru, respon siswa dan
(b) Menegakkan 5 pilar belajar; interaksi edukatif guru siswa ter-
(c) Peserta didik mendapat pela- bebas dari prasangka serta merta,
yanan yang bersifat perbaikan, pemikiran subjektif, atau penalaran
pengayaan dan percepatan yang menyimpang dari alur ber-
(d)Suasana hubungan peserta pikir logis
didik dan pendidik yang saling (c) Mendorong dan menginspirasi siswa
menerima dan menghargai, berpikir secara kritis, analitis, dan
akrab, terbuka dan hangat tepat dalam mengidentifikasi, me-
(e) Menggunakan pendekatan mahami, memecahkan masalah dan
multi strategi dan multimedia, mengaplikasikanmateri pembelajaran
sumber belajar dan teknologi (d) Mendorong dan menginspirasi siswa
yang memadai dan meman- mampu berpikir hipotesis dalam
faatkan lingkungan sekitar melihat perbedaan, kesamaan, dan
sebagai sumber belajar tautan satu sama lain dari materi
(f) Mendayagunakan kondisi pembelajaran
alam, sosial, dan budaya, (e) Mendorong dan menginspirasi siswa
serta kekayaan daerah dan mampu memahami, menerapkan
(g) Diselenggarakan dalam dan mengembangkan pola berpikir
keseimbangan, keterkaitan yang rasional dan objektif dalam
dan kesinambungan yang merespon materi pembelajaran
cocok dan memadai antar (f) Berbasis pada konsep, teori dan fakta
kelas dan jenis, serta jejang empiris yang dapat dipertanggung-
pendidikan jawabkan dan
(g) Tujuan pembelajaran dirumuskan
secara sederhana dan jelas namun
menarik sistem penyajiaannya

Sebagai contoh pelaksanaan KTSP, penelitian Pathuddin (2013:122)


di Sulawesi Tengah menunjukkan pelaksanaan kurikulum berdasarkan
kebutuhan, situasi, dan kondisi yang ada pada saat pelaksanaan kurikulum.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa;

82
MANAJEMEN KURIKULUM

a. kebijakan dinas pendidikan kabupaten/kota dalam membentuk jaringan


kurikulum belum sepenuhnya sesuai dengan panduan jaringan kurikulum
belum sepenuhnya sesuai dengan panduan jaringan kurikulum
yang dikeluarkan oleh pusat kurikulum;
b. Syarat anggota jaringan kurikulum ditingkat kabupaten/kota, yaitu
bagi yang pernah mengikuti Training of trainer (TOT) tingkat nasional
dan belum ada anggota dari perguruan tinggi dari unsur masyarakat;
c. Pemahaman kepala sekolah dan guru tentang panduan pengembangan
kurikulum yang dikeluarkan Badan Standar Nasional Pendidikan
(BSNP) masih rendah;
d. Masih banyak guru dan kepala sekolah mengalami masalah dalam
mengembangkan kueikulum terutama dalam membuat silabus dan
Rancangan Program Pembelajaran (RPP);
e. Masalah yang dialami dalam mengembangkan materi sesuai kondisi
daerah dan kurangnya sumber belajar; dan
f. Masalah yang dialami sekolah dalam mengembangkan muatan lokal
adalah tidak adanya guru yang sesuai.

E. STANDAR PROSES
Berdasarkan Permendikbud Nomor 65 Tahun 2013, standar proses
adalah kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran pada satuan pendidikan
untuk mencapai satuan pendidikan untuk mencapai standar kompetensi
lulusan. Standar proses dikembangkan mengacu pada standar kompetensi
lulusan dan standar isi yang telah ditetapkan sesuai dengan ketentuan
dengan peraturan pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar
Nasional Pendidikan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah
Nomor 32 Tahun 2013 tentang Perubahan atas peraturan pemerintah
Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara
interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta
didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup
bagi prakarsa, kreativitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat
dan perkembangan fisik, serta psikologis peserta didik. Untuk itu, setiap
satuan pendidikan melakukan perencanaan pembelajaran, pelaksanaan

83
MANAJEMEN KURIKULUM

proses pembelajaran, serta penilaian proses pembelajaran untuk meningkatkan


efesiensi dan efektivitas capaian kompetensi lulusan. Sesuai dengan standar
kompetensi lulusan dan standar isi maka prinsip pembelajaran yang
digunakan antara lain:
1. Dari peserta didik diberi tahu menuju peserta didik mencari tahu;
2. Dari pendidik sebagai satu-satunya sumber belajar menjadi belajar
berbasis aneka sumber belajar;
3. Dari pendekatan tekstual menuju proses sebagai penguatan pengguna
pendekatan ilmiah;
4. Dari pembelajaran berbasis konten menuju pembelajaran berbasis
kompetensi;
5. Dari pembelajaran parsial menuju pembelajaran terpadu;
6. Dari pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menuju
pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multidimensi;
7. Dari pembelajaran verbalisme menuju keterampilan aplikatif;
8. Peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisik (hard skills)
dan keterampilan mental (soft skills);
9. Pembelajaran yang mengutamakan pembudayaan dan pemberdayaan
peserta didik sebagai pembelajar sepanjang hayat;
10. Pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai dengan memberi keteladanan
(ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun
karso), dan mengembangkan kreativitas peserta didik dalam proses
pembelajaran (tut wuri handayani);
11. Pembelajaran yang berlangsung di rumah, di sekolah dan masyarakat;
12. Pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah
pendidik, siapa saja adalah kelas;
13. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan
efesiensi dan efektivitas pembelajaran; dan
14. Pengakuan atas perbedaan individual dan latar belakang budaya
peserta didik.

Terkait dengan prinsip di atas dikembangkan standar proses yang


mencakup perencanaan proses pembelajaran, pelaksanaan proses pem-
belajaran, penilaian hasil pembelajaran dan pengawasan proses pembelajaran.
Karakteristik pembelajaran pada setiap satuan pendidikan terkait erat pada

84
MANAJEMEN KURIKULUM

standar kompetensi lulusan dan standar isi. Standar kompetensi lulusan


memberikan kerangka konseptual tentang sasaran pembelajaran yang
harus dicapai. Sementara itu, standar isi memberikan kerangka konseptual
tentang kegiatan belajar dan pembelajaran yang diturunkan dari tingkat
kompetensi dan ruang lingkup materi.
Sesuai dengan standar kompetensi lulusan, sasaran pembelajaran
mencakup pengembangan ranah sikap, pengetahuan dan keterampilan
yang dielaborasi untuk setiap satuan Pendidikan. Ketiga ranah kompetensi
tersebut memiliki lintasan perolehan (proses psikologi) yang berbeda.
Sikap diperoleh melalui aktivitas menerima, menghargai, menghayati
dan mengamalkan. Pengetahuan diperoleh melalui aktivitas mengingat,
memahami, menerapkan, menganalisis, mengevaluasi dan mencipta.
Keterampilan diperoleh melalui aktivitas mengamati, menanya, mecoba,
menalar, menyanyi dan mencipta. Karakteristik kompetensi beserta perbedaan
lintasan perolehan turut serta memengaruhi karakteristik standar proses.
Untuk memperkuat pendekatan ilmiah (scientific), tematik terpadu
(tematik antar mata pelajaran), dan tematik (dalam suatu mata pelajaran)
perlu diterapkan pembelajaran berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/
inquiry learning). Untuk mendorong kemampuan peserta didik dalam meng-
hasilkan karya kontekstual, baik individual maupun kelompok maka
sangat disarankan menggunakan pendekatan pembelajaran yang meng-
hasilkan karya berbasis pemecahan masalah.(project based learning).

Table 5
Rincian Gradasi Sikap, Pengetahuan, dan Keterampilan

Sikap Pengetahuan Keterampilan


Menerima Mengingat Mengamati
Menjalankan Memahami Menanya
Menghargai Menerapkan Mencoba
Menghayati Menganalisis Menalar
Mengamalkan Mengevaluasi Menyaji
Mencipta

Sumber: Kemendigbud, 2013

85
MANAJEMEN KURIKULUM

Karakteristik proses pembelajaran disesuaikan dengan karakteristik


kompetensi. Pembelajaran tematik terpadu di SD/MI, SLB/Paket A disesuaikan
dengan tingkat perkembangan peserta didik. Pembelajaran tematik
terpadu di SMP/MTs/SMPLB/Paket B disesuaikan dengan karakteristik
kompetensi yang mulai memperkenalkan mata pelajaran dengan memper-
tahankan tematik terpadu pada IPA dan IPS. Karakteristik proses pembelajaran
di SMA/MA/SMALB/SMK/MAK/Paket C/Paket C kejuruan secara keseluruhan
berbasis mata pelajaran, meskipun pendekatan tematik masih dipertahankan.
Sementara itu, standar proses pada SDLB, SMPLB dan SMALB diperuntukkan
bagi tunanetra, tunarungu, tunadaksa, dan tunalaras yang intelegensinya
normal.
Secara umum, pendekatan belajar yang dipilih berbasis pada teori
tentang taksonomi tujuan pendidikan yang dalam lima dasawarsa terakhir
secara umum sudah dikenal luas. Berdasarkan teori taksonomi tersebut,
capaian pembelajaran dapat dikelompokkan dalam tiga ranah, yaitu ranah
kognitif, apektif dan psikomotor. Pencapaian teori taksonomi dalam tujuan
pendidikan di berbagai Negara dilakukan secara adaptif sesuai dengan
kebutuhannya masing-masing. Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang sistem Pendidikan Nasional telah mengadopsi taksonomi dalam
bentuk rumusan sikap, pengetahuan dan keterampilan.
Proses pembelajaran sepenuhnya diarahkan pada pengembangan
ketiga ranah tersebut secara utuh/holistic, artinya pengembangan ranah
yang satu tidak bisa dipisahkan dengan ranah lainnya. Dengan demikian,
proses pembelajaran secara utuh melahirkan kualitas pribadi yang mencerminkan
keutuhan penguasaan sikap, pengetahuan dn keterampilan. Standar
proses pada suatu kurikulum dapat dilihat melalui pengertian, cakupan,
prinsip, perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, penilaian
pembelajaran dan pengawasan pembelajaran. Dengan demikian, dapat
dibandingkan keberadaan standar proses dan dapat diukur tinggi rendahnya
kualitas pembelajaran dengan menjadikan standar proses sebagai dasar.

86
MANAJEMEN KURIKULUM

Tabel 6
Perbandingan Standar Proses KTSP 2006 dan Kurikulum 2013

Aspek KTSP 2006 Kurikulum 2013


Pengertian Standar proses adalah standar Standar proses adalah kriteria
nasional pendidikan yang ber- mengenai pelaksanaan pem-
kaitan denngan pelaksanaan belajaran pada satuan pendi-
pembelajaran pada satu satuan dikan untuk mencapai standar
pendidikan untuk mencapai kompetensi lulusan.
standar kompetensi lulusan
Cakupan Standar proses mencakup Standar proses mencakup
perencanaan proses pembela- perencanaan proses pembela-
jaran, pelaksanaan proses jaran, pelaksanaan proses
pembelajaran, penilaian hasil pembelajaran, penilaian hasil
pembelajaran, dan pengawas- pembelajaran dan pengawas-
an proses pembelajaran untuk an proses pembelajaran
terlaksananya proses pembela-
jaran yang efektif dan efesien.
efisien.
Prinsip Proses pembelajaran pada Prinsipnya terdiri atas
satuan pendidikan diseleng- (1) Dari peserta didik diberi
garakan secara interaktif, tahu menuju peserta
inspiratif, menyenangkan, didik mencari tahu
menantang, memotivasi (2) Dari guru sebagai satu-
peserta didik untuk berparti- satunya sumber belajar
sipasi aktif, serta memberikan menjadi belajar berbasis
ruang yang cukup bagi pra- aneka sumber belajar
karsa, kreativitas dan keman- (3) Dari pendekatan tekstual
dirian sesuai dengan bakat, menuju proses sebagai
minat dan perkembangan penguatan penggunaan
fisik, serta psikologis peserta pendekatan ilmiah
didik. (4) Dari pembelajaran ber-
basis konten menuju
pembelajaran berbasis
kompetensi
(5) Dari pembelajaran parsial
menuju pembelajaran
terpadu
(6) Dari pembelajaran yang
menekankan jawaban
tunggal menuju pembela-
jaran dengan jawaban
yang sebenarnya multi-
dimensi

87
MANAJEMEN KURIKULUM

(7) Dari pembelajaran


verbalisme menuju
keterampilan aplikatif
(8) Peningkatan dan keseim-
bangan antara menetap-
kan keterampilan fisik
(hard skils) dan keteram-
pilan mental (soft skill)
(9) Pembelajaran yang meng-
utamakan pembudayaan
dan pemberdayaan
peserta didik sebagai
pembelajar sepanjang
hayat
(10) Pembelajaran yang
menerapkan nlai-nilai
dengan memberi ketela-
danan (ing ngarso sung
tulodo), membangun
kemauan (ing madyo
mangun karso) dan
mengembangkan
kreativitas peserta didik
dalam proses pembela-
jaran (tut wuri handayani)
(11) Pembelajaran yang ber-
langsung di rumah, di
sekolah dan di masya-
rakat.
(12) Pembelajaran yang
menerapkan prinsip
bahwa siapa saja adalah
guru, siapa saja adalah
siswa dan dimana saja
adalah kelas
(13) Pemanfaatan teknologi
informasi dan komuni-
kasi untuk meningkatkan
efesiensi dan efektivitas
efisiensi.
pembelajaran dan
(14) Pengakuan atas perbeda-
an individu dan latar
belakang budaya
peserta didik.

88
MANAJEMEN KURIKULUM

Perencanaan Perencanaan proses pembela- Perencanaan pembelajaran


Pembelajaran jaran meliputi silabus dan dirancang dalam bentuk silabus
Rencana Pelaksanaan Pem- dan rencana pelaksanaan
belajaran (RPP) yang memuat pembelajaran (RPP) yang
sekurang-kurangnya tujuan mengacu pada standar isi.
pembelajaran, materi ajar, Perencanaan pembelajaran
metode pengajaran, sumber me;iputi penyusunan rencana
meliputi
belajar dan penilaian hasil pelaksanaan pembelajaran
belajar. dan penyiapan media dan
sumber belajar, perangkat
penilaian pembelajaran, dan
skenario Pembelajaran.
pembelajran. Penyu-
suna
sunansilabus
silabus dan RPP disesuai-
kan pendekatan pembelajar-
an yang digunakan.
Pelaksanaan Pelaksanaan proses pembela- Pelaksanaan pembelajaran
Pembelajaran jaran harus memerhatikan merupakan implementasi dari
jumlah maksimal peserta didik RPP, meliputi kegiatan pen-
per kelas dan beban mengajar dahuluan, inti dan penutup.
maksimal per pendidik, rasio
maksimal buku teks pelajaran
setiap peserta didik dan rasio
maksimal jumlah peserta didik
setiap pendidik. Pelaksanaan
pross pembelajaran
proses pembelajarandilakukan
dilakukan
dengan mengembangkan
budaya membaca dan menulis

89
MANAJEMEN KURIKULUM

Penilaian Penilaian hasil pembelajaran Penilaian pembelajaran meng-


Pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar gunakan pendekatan penilaian
dan menengah menggunakan autentik (authentic assessment)
berbagai teknik penilaian yang menilai kesiapan siswa,
sesuai dengan kompetensi proses dan hasil belajar secara
dasar yang harus dikuasai. utuh. Keterpaduan penilaian
Teknik penilaian dapat berupa ketiga komponen tersebut akan
tes tertulis, observasi tes praktik menggambarkan kapasitas,
dan penguasaan perseorangan gaya dan perolehan belajar
atau kelompok. Untuk mata siswa atau bahkan mampu
pelajaran selain kelompok menghasilkan dampak instruk-
mata pelajaran ilmu penge- sional (instructional effect) dan
tahuan dan teknologi pada dampak pengiring (nurturant
jenjang pendidikan dasar dan effect) dari pembelajaran. Hasil
menengah, teknik penilaian penilaian autentik dapat di-
observasi secara individual gunakan sebagi
sebagaibahan
bahanuntuk
untuk
sekurang-kurangnya dilaksana- memperbaiki proses pembela-
kan satu kali dalam satu jaran. Sesuai dengan standar
semester penilaian pendidikan. Evaluasi
proses pembelajaran dilakukan
saat proses pembelajaran
dengan menggunakan angket,
catatan, observasi, anekdot
dan refleksi.
Pengawasan Pengawas proses pembelajaran Pengawasan proses pembela-
Pembelajaran meliputi pemantauan, supervisi, jaran dilakukan melalui kegiatan
evaluasi, pelaporan dan peng- pemantauan, supervisi, eva-
ambilan langkah tindak lanjut luasi, pelaporan, serta tindak
yang diperlukan lanjut secara berkala dan ber-
kelanjutan. Pengawasan proses
pembelajaran dilakukan oleh
kepala satuan pendidikan dan
pengawas.

Sumber:Kemendikbud, 2013

F. PELAKSANAAN PROSES PEMBELAJARAN


Pelaksana kurikulum secara langsung dan operasional adalah para
guru yang diberikan amanah menjadi guru, baik guru kelas, maupun
guru mata pelajaran. Karena itu tugas atau pekerjaan mengajar adalah
profesi yang menuntut pemenuhan kompetensi utama guru, baik kompetensi
pedagogik, kompetensi kepribadian, kompetensi sosial dan kompetensi

90
MANAJEMEN KURIKULUM

profesional. Berdasarkan pengertian profesi, dapat dipaham bahwa profesi


merupakan pekerjaan yang memerlukan keahlian yang dipelajari. Ada
beberapa ciri pekerjaan profesional,12 yaitu:
Pertama; setiap profesi dapat dipastikan adanya imbalan atau peng-
hargaan yang diberikan akibat pekerjaan yang dilakukannya. Imbalan
yang diberikan bukan atas dasar belas kasihan seseorang akan tetapi di-
dasarkan atas tindakatan tertentu atau pekerjaannya.
Kedua; pekerjaan profesional bukan sekedar pekerjaan, melainkan
pekerjaan itu adalah pekerjaan yang spesial. Artinya pekerjaan yang tidak
dapat dilakukan oleh orang lain yang tidak memiliki profesi tersebut.
Ketiga; pengetahuan dan kemampuan itu diperoleh melalui pendidikan
tertentu. Artinya, pekerjaan profesional didapatkan dari pendidikan
dan latihan baik formal maupun non formal.
Keempat; pekerjaan profesional dibingkai oleh kode etik yang dikeluarkan
oleh organisasi profesi. Artinya, dalam melaksanakan tugas pekerjaannya,
seorang profesional tidak akan terlepas dari aturan yang jelas sebagai
prosedur standar pelayanan.
Kelima; suatu profesi selain dibutuhkan oleh masyarakat juga memiliki
dampak sosial kemasyarakatan, sehingga masyarakat memiliki kepekaan
yang sangat tinggi terhadap setiap efek yang ditimbulkannya dari pekerjaan
profesi itu.
Dalam konteks ini pelaksana kurikulum adalah guru yang diberikan
amanah bertugas mengajar dan mendidik siswa. Pelaksanaan pembelajaran
merupakan implementasi dari rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP) yang meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup.
Berikut penjelasan dari tiap-tiap kegiatan.

1. Kegiatan Pendahuluan
Dalam kegiatan pendahuluan, pendidik sebaiknya:
a. Menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti
proses pembelajaran.

12
Wina Sanjaya dan Andi Budimanjaya.(2017).Paradigma Baru Mengajar,
Jakarta: Prenada, h.32-33.

91
MANAJEMEN KURIKULUM

b. Memberi motivasi belajar siswa secara kontekstual sesuai manfaat


dan aplikasi materi ajar dalam kehidupan sehari-hari, dengan memberikan
contoh dan perbandingan lokal, nasional dan internasional
c. Mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan pengetahuan
sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari.
d. Menjelaskan tujuan pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan
dicapai dan
e. Menyampaikan cakupan materi dan penjelasan uraian kegiatan sesuai
silabus.

2. Kegiatan inti
Kegiatan inti merupakan model pembelajaran, metode pembelajaran,
media pembelajaran,dan sumber belajar yang disesuaikan dengan karak-
teristik peserta didik dan mata pelajaran. Pemilihan pendekatan tematik,
tematik terpadu, scientifik, inquiry dan penyingkapan (discovery) dan/
atau pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah
(project based learning) disesuaikan dengan karakteristik kompetensi
dan jenjang pendidikan.

a. Sikap
Sesuai dengan karakteristik sikap maka salah satu alternatif yang
dipilih adalah proses afeksi mulai dari menerima, menjalankan, menghargai,
menghayati hingga mengamalkan. Seluruh aktivitas pembelajaran ber-
orientasi pada tahapan kompetensi yang mendorong siswa untuk melakukan
aktivitas tersebut.

b. Pengetahuan
Dimiliki melalui aktivitas mengetahui, memahami, menerapkan,
menganalisis, mengevaluasi hingga mencipta. Karakteristik aktivitas
belajar dalam domain keterampilan. Untuk memperkuat pendekatan
scientific, termasuk terpadu dan tematik sangat disarankan untuk menerapkan
belajar berbasis penyingkapan/penelitian (discovery/inquiry Learning).
Untuk mendorong peserta didik menghasilkan karya kreatif dan konstektual,
baik individual, maupun kelompok, disarankan menggunakan pendekatan

92
MANAJEMEN KURIKULUM

pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis pemecahan masalah


(project based learning).

c. Keterampilan
Keterampilan dapat diperoleh melalui kegiatan mengamati, menanya,
mencoba, menalar, dan mencipta. Seluruh isi materi (topik dan subtopik)
mata pelajaran yang diturunkan dari keterampilan harus mendorong
siswa untuk melakukan proses pengamatan hingga penciptaan. Untuk
mewujudkan keterampilan tersebut perlu melakukan pembelajaran
yang menerapkan modus belajar berbasis penyingkapan/penelitian (discovery
incuiry Learning) dan pembelajaran yang menghasilkan karya berbasis
pemecahan masalah (project based Learning).

3. Kegiatan Penutup
Dalam kegiatan penutup, peserta didik baik secara individual maupun
kelompok melakukan refleksi untuk mengevaluasi:
a. Seluruh rangkaian aktivitas pembelajaran dan hasil-hasil yang diperoleh
untuk selanjutnya secara bersama menemukan manfaat langsung
maupun tidak langsung dari hasil pembelajaran yang telah berlangsung.
b. Memberikan umpan balik terhadap proses dan hasil pembelajaran,
c. Melakukan kegiatan tidak lanjut dalam bentuk pemberian tugas,
baik tugas individual maupun kelompok,
d. Menginformasikan rencana kegiatan pembelajaran untuk pertemuan
berikutnya.

G. PENGAWASAN PROSES PEMBELAJARAN


Pengawasan proses pembelajaran dilakukan oleh kepala satuan
pendidikan dan pengawas. Pengawas proses pembelajaran dilakukan
melalui kegiatan pemantauan, supervisi, evaluasi, pelaporan, serta tindak
lanjut secara berkala dan berkelanjutan. Secara berurutan, pengertian
dari kelima kegiatan tersebut sebagai berikut:
1. Pemantauan adalah aktivitas mengamati proses pembelajaran yang
berlangsung.

93
MANAJEMEN KURIKULUM

2. Supervisi adalah bantuan yang memberikan kepada guru untuk


meningkatkan kualitas pembelajaran. Supervisi diperlukan untuk
pertumbuhan profesional (professional growth), dan merupakan
satu dari dimensi pemberdayaan guru, yang meliputi pertumbuhan
profesional (professional growth) pengambilan keputusan (decision
making), status, efikasi diri (self efficacy), otonomi (autonomy), dan
pengaruh (imfact).
3. Evaluasi adalah pengukuran keberhasilan atau kegagalan berdasarkan
pelaksanaan dari perencanaan pembelajaran.
4. Pelaporan adalah upaya untuk mengkomunikasikan, menjelaskan,
mempengaruhi, dan melakukan suatu tindakan sebagai bagian
dari pengawasan proses pembelajaran.
5. Tindak lanjut adalah upaya perbaikan atas dasar evaluasi.

Pengawas proses pembelajaran dilakukan dengan prinsip objektif


dan transparan guna peningkatan mutu secara berkelanjutan dan menetapkan
peringkat akreditasi.
Dalam proses pembelajaran, sistem pengawasan internal dilakukan
oleh kepala sekolah, pengawas, dinas pendidikan dan lembaga penjaminan
mutu pendidikan diwujudkan dalam bentuk evaluasi diri sekolah (EDS).
Kepala sekolah, pengawas, dan lembaga penjaminan mutu pendidikan
(LPMP) melakukan pengawasan dalam rangka peningkatan mutu. Selain
itu, kepala sekolah dan pengawas juga melakukan pengawasan dalam
bentuk supervisi akademik dan supervisi manajerial.
Proses penagawasan dapat dilakukan dengan cara berikut.
1. Pemantauan
Pemantauan proses pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan,
pelaksanaan, dan penilaian hasil pembelajaran. Pemantauan dilakukan
melalui diskusi kelompok terfokus, pengamatan, pencatatan, perekaman,
wawancara dan dokumentasi.
2. Supervisi
Supervisi proses pembelajaran dilakukan pada tahap perencanaan,
pelaksanaan dan penilaian hasil pembelajaran yang dilakukan melalui
pemberian contoh, diskusi, konsultasi atau pelatihan.

94
MANAJEMEN KURIKULUM

3. Pelaporan
Hasil kegiatan pemantauan, supervisi dan evaluasi proses pembelajaran
disusun dalam bentuk laporan untuk kepentingan tindak lanjut pengem-
bangan profesionalitas pendidik secara berkelanjutan.
4. Tindak Lanjut
Tindak lanjut hasil pengawasan dilakukan dalam bentuk:
a) Penguatan dan penghargaan kepada pendidik yang menunjukkan
kinerja yang memenuhi atau melampaui standar; dan
b) Pemberian kesempatan kepada pendidik untuk mengikuti program
pengembangan profesionalitas berkelanjutan.

Pelaksanaan kurikulum dibagi menjadi dua tingkatan yaitu pelaksanaan


kurikulum tingkat sekolah dan tingkat kelas. Dalam tingkat sekolah
yang berperan adalah kepala sekolah dan tingkat kelas yang berperan
adalah pendidik. Walaupun dibedakan antara tugas kepala sekolah dan
tugas guru dalam pelaksanaan kurikulum serta diadakan perbedaan
tingkat dalam pelaksanaan administrasi, yaitu tingkat kelas dan tingkat
sekolah, namun antara kedua tingkat dalam pelaksanaan administrasi
kurikulum tersebut senantiasa bergandengan dan bersama-sama ber-
tanggungjawab melaksanakan proses administrasi kurikulum.
Pada tingkat sekolah, kepala sekolah bertanggungjawab untuk melak-
sanakan kurikulum dilingkungan sekolah yang dipimpinnya. Dia berkewajiban
melakukan kegiatan-kegiatan yakni menyusun rencana tahunan, menyusun
jadwal pelaksanaan kegiatan, memimpin rapat dan membuat notulen
rapat, membuat statistik dan menyusun laporan.
Adapun Curriculum implementation, membicarakan seberapa jauh
kurikulum dapat dilaksanakan. Oleh karena itu, yang perlu dipantau
adalah proses pelaksanaannya atas dasar evaluasi perlu tidaknya kurikulum
direvisi untuk penyempurnaan.13

a. Kepala Sekolah Sebagai Pemimpin


Tanggung jawab kepala sekolah adalah memimpin sekolah melaksanakan

13
Dakir.(2010). Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum.Jakarta: Rineka
Cipta, h.15.

95
MANAJEMEN KURIKULUM

dan membina serta mengembangkan kurikulum. Kepemimpinan adalah


suatu proses mempengaruhi orang-orang lain atau kelompok agar mereka
berbuat untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Berbagai cara
dilakukan seorang pemimpin dalam melaksanakan kepemimpinanya
seperti: persuasive, mempengaruhi atau dengan cara lain. Cara-cara ini
sering digunakan oleh seorang pemimpin dalam usahanya memotivasi
bawahanya agar mereka bertindak kearah tujuan yang diharapkan itu.
Cara-cara ini sering digunakan oleh seseorang pemimpin dalam usahanya
memotivasi bawahanya agar mereka bertindak kearah tujuan yang diharapkan
itu. Cara-cara inipun sering digunakan kepala sekolah didalam melaksanakan
kepemimpinanya dalam rangka melaksanakan kurikulum di sekolah.
Pengangkatan seseorang menjadi kepala sekolah dilakukan berdasarkan
beberapa kemungkinan:
a. Karena memiliki kepribadian yang baik atau yang menonjol sehingga
dihormati dan memiliki kewibawaan sebagai pemimpin.
b. Karena dia mempunyai prestasi kerja dan prestasi pendidikan yang
tinggi. Dan ada kelompok yang berpendapat, bahwa pengangkatan
seseorang menjadi kepala sekolah akan yakin memajukan sekolah
tersebut dan berhasil melaksanakan program sekolah sebaik-baiknya.
c. Telah memiliki pengalaman kerja yang cukup, dan berkat pengalaman
itu diharapkan mampu memecahkan berbagai masalah, khususnya
dalam pelaksanaan kurikulum.

Pada umumnya seorang pemimpin (termasuk kepala sekolah) harus


memiliki sifat/sikap/tingkah laku tertentu yang justru merupakan kelebihan
dibandingkan orang lain/bawahanya yang dipimpin. Sifat/sikap/tingkah
laku tersebut antara lain:
1) Mampu mengelola sekolah (managerial skills)
Kemampuan ini ditandai dengan pengetahuan dan keterampilanya
dalam mengelola pelaksanaan kurikulum, misalnya organisasi guru
bidang studi, pembentukan regu-regu guru dan koordinator bidang
studi, pemberian tugas pada guru, mendorong, mengawasi dan menilai
kegiatan guru dalam pelaksanaan program sekolah sesuai dengan
tuntutan kurikulum yang ada.

96
MANAJEMEN KURIKULUM

2) Kemampuan profesional atau keahlian dalam jabatanya


Keahliannya ini memungkinkan kepala sekolah tersebut untuk
melaksanakan fungsi-fungsi dan tugas-tugas administrasi yang dibebankan
kepadanya. Sebagai kepala sekolah dia juga sebagai guru, yang harus
memiliki kemampuan profesional kependidikan, termasuk penguasaan
dalam bidang program pendidikan keguruan.
3) Bersikap rendah hati dan sederhana
Sikap rendah hati berarti tidak pernah menyombongkan diri tentang
kemampuan, pengetahuan dan kelebihan-kelebihannya dalam bidang
pendidikan. sikap ini menuntut pemimpin/ kepala sekolah atau yang
lebih banyak mendengarkan, memikirkan dan bertahta/mencari informasi,
bukan memerintah atau menyuruh, kendatipun bertindak demikian
dalam situasi tertentu tidak dilarang sepenuhnya.
4) Selain dari sikap-sikap tersebut, maka kepala sekolah sebaiknya memiliki
ciri-ciri kepribadian, antara lain:
a. Bersikap suka menolong
b. Sabar dan memiliki kestabilan emosi
c. Percaya pada diri sendiri
d. Berfikir kritis, dan sebagainya.

b. Perilaku Seorang Administrator


Prilaku seorang administrator penting sekali dalam hubungan dengan
perencanaan program, pengorganisasian staf, pergerakan semua pihak
yang perlu dilibatkan dalam pelaksanaan kegiatan sepervisi, penilaia
terhadap personal sekolah.
Pendapat Castetter dikemukakan Hamalik, bahwa ada beberapa
perilaku yang perlu dikembangkan oleh seorang administrator dalam
kegiatan sehari-harinya diantaranya:
1. Respond to day in day out for assistance subordinate.
2. Render intellectual out emotional support member of his group in carrying
out the program educational
3. Permits atitude to subordinate in performing their responsibilities
4. Encourages subordinates in participate in planning
5. Makes him self available to staff for solving problems

97
MANAJEMEN KURIKULUM

6. Exhibits integrity in performance appraisal


7. Get feedback from individuals
8. Is motivates to help other to help themselves

c. Penyusunan Rencana Tahunan


Perencanaan berfungsi sebagai pedoman dalam melaksanakan
kegiatan-kegiatan manajerial sekolah. Berdasarkan jangka waktunya,
perencanaan terdiri dari rencana jangka panjang (minimal rencana
untuk 5 sampai 10 tahun) dan jangka pendek (rencana tahunan, bulanan)
berdasarkan garapan seorang administrator sekolah, kepala sekolah
bertanggung jawab membuat rencana-rencana, yaitu:
1) Perencanaan bidang kemuridan/kesiswaan.
2) Perencanaan bidang personal/tenaga kependidikan.
3) Perencanaan bidang sarana kependidikan.
4) Perencanaan bidang ketatausahaan sekolah.
5) Perencanaan bidang pembiayaan/anggaran pendidikan.
6) Perencanaan bidang Organisasi sekolah.
7) Perencanaan bidang hubungan kemasyarakatan/komunikasi pendidikan.14

Rencana-rencana tersebut perlu disusun secara menyeluruh yang


mencakup semua bidang garapan dalam berbagai jenjang perencanaan.
1) Dalam menyusun perencanaan tersebut, kepala sekolah harus mem-
perhatikan persyaratan-persyaratan, bahwa rencana disusun dengan
kerjasama dan musyawarah antara kepala sekolah dengan guru-
guru. Keterlibatan para guru sangat penting untuk menimbulkan
rasa tanggung jawab dalam mensukseskan pelaksanaan semua rencana.
2) Perencanaan disusun berdasarkan tujuan yang jelas. Tujuan ini
harus sesuai dengan tujuan-tujuan institusional dan tujuan kurikuler.
3) Perencanaan disusun berdasarkan realitas sebenarnya, rumusan
rencana sederhana, jangan muluk-muluk dan mudah dilaksanakan.
4) Perencanaan dibuat secara terinci. Tujuan yang spesifik dan operasional,
kegiatan-kegiatan yang jelas dan berurutan, perincian alat/perlengkapan

14
Oemar Hamalik, op.cit, h.176.

98
MANAJEMEN KURIKULUM

dan prosedur penilaian yang akan ditempuh, sehingga menjadi pedoman


yang lebih mudah untuk dilaksanakan.
5) Perencanaan harus luwes, jadi mudah diadakan penyesuaian dengan
kebutuhan, masalah dan tuntutan lingkungan sekolah dan sekitarnya,
bilamana diperlukan.
6) Perencanaan memuat bidang garapan yang berkesinambungan
satu sama lain berdasarkan prinsip bertahap dan bergilir dilihat dari
prinsip prioritas.
7) Perencanaan hendaknya memperhatikan prinsip faktor efisiensi dimana
adanya penghematan tenaga, biaya dan waktu, serta penggunaan
sumber-sumber yang telah tersedia dengan baik sehingga tercapainya
tujuan-tujuan rencana secara maksimal.
8) Perencanaan harus mencegah adanya duplikasi dalam pelaksanaannya
karena itu perencanaan disusun secara kritis, dan diadakan pemeriksaan
ulang sebelum dilaksanakan rencana-rencana yang diputuskan pada
setiap sekolah.15

Dalam konteks ini manajemen dan organisasi kelas merupakan


susunan keterampilan dan pendekatan guru berguna untuk membangun
dan pemeliharaan, keteraturan, dan lingkungan pembelajaran produktif.16
Ada sedikit gangguan dan perilaku tugas dalam efektivitas guru di
kelas. Guru efektif mengusahakan lingkungan kelas yang positif bagi
siswa mereka dengan kerjasama untuk menjamin bahwa rutinitas, prosedur
dan pengharapan mereka jelas, bahkan para guru memiliki waktu yang
lebih pada saat memulai tahun pelajaran untuk bekerjasama dengan
siswa atas upaya menciptakan iklim kelas positif yang memungkinkan
pribadi siswa terpelihara dengan rasa hormat dan adil, mengajar para
siswa secara aktif, memberikan penjelasan dan arahan, sebagai pengharapan
siswa dan memberikan mereka guru berkualitas dan terpilih. Di dalam
kelas ada peluang keberhasilan mencapai harapan-harapan. Bila isu tentang
disiplin terjadi, guru efektif tidak berpikir tentang apa yang dilakukan,

15
Oemar Hamalik, Ibid, h.176.
16
James H. Stronge dan Jennifer L. Hindman. (2006).The Teacher Quality
Index. Alexandria: ASCD, h.13.

99
MANAJEMEN KURIKULUM

mereka memberikan respon dalam keadaan perilaku siswa yang dapat


diprediksi. Dalam lingkungan pembelajaran produktif yang sudah tertata,
guru efektif mampu menangkap waktu pengajaran yang selalu kehilangan
dalam aktivitas administratif, disiplin dan transisi. Siswa yang terlibat
secara aktif dalam pembelajaran teratur dan kelas yang positif sebagai
suatu lingkungan pembelajaran positif adalah berhubungan dengan
pencapaian prestasi lebih tinggi.

100
MANAJEMEN KURIKULUM

BAB V

EVALUASI KURIKULUM

A. PENGERTIAN EVALUASI KURIKULUM

P
enggunaan kata “evaluasi” sering dijumpai dalam kegiatan
pembelajaran untuk mengetahui hasil belajar, atau dalam
manajemen sebagai bagian dari pelaksanaan fungsi pengawasan.
Karena itu, sesungguhnya evaluasi merupakan bagian dari proses peng-
awasan yang dilaksanakan para manajer atau pimpinan organisasi. Sebagai
bagian fungsi manajemen, maka pengawasan organisasi mengacu kepada
proses yang sistematis dari pengaturan aktivitas organisasi untuk membuat
mereka konsisten dengan pengharapan yang tersusun dalam rencana,
target dan standar kinerja.1
Evaluasi adalah proses pemantauan untuk memastikan derajat
pencapaian tujuan yang ditetapkan melalui proses perencanaan dalam
satu organisasi. Organisasi pendidikan secara makro adalah Departemen
atau Kementerian Pendidikan Nasional. Sedangkan secara messo pengaturan
pendidikan dilakukan oleh Dinas Pendidikan Provinsi dan Kabupaten/Kota.
Secara mikro pengaturan kurikulum pendidikan dilakukan oleh sekolah,
madrasah atau pesantren, termasuk perguruan tinggi.
Proses pembuatan keputusan sebagaimana dilakukan dalam perencanaan
tidak sempurna jika tidak dilakukan terhadap evaluasi proses atau evaluasi

1
Richard L Daft. (2008). New Era of Management, New Jersey: South Western,
h.378.

101
MANAJEMEN KURIKULUM

hasil terhadap suatu kegiatan sebagai pelaksanaan program. Jika hasil


yang diinginkan tidak tercapai atau jika yang diharapkan tidak terwujud
atau terjadi dalam kenyataan menjadi hal yang tidak diinginkan. Dengan
begitu, diperlukan satu tindakan perbaikan yang harus dilakukan. Dalam
konteks ini evaluasi adalah bentuk pengawasan manajerial. Kegiatan
tersebut mencakup pengumpulan data untuk mengukur hasil kinerja
dan membandingkan dengan sasaran-sasaran yang ditetapkan. Jika
hasil yang dicapai kurang dari pada apa yang diinginkan maka perlu
waktu menilai ulang dan kembali kepada langkah sebelumnya/awal.
Di sinilah pengambilan keputusan berjalan dan berproses terus menerus
menjadi dinamis dalam proses manajemen. Evaluasi adalah selalu suatu
yang mudah bila pada tahap sasaran yang jelas, target terukur dan terjadwal
ketika menyusunnya.2
Evaluasi adalah serangkaian kegiatan membandingkan realisasi
masukan (input), keluaran (output) dan hasil (outcome) terhadap rencana
dan standar. Masukan adalah segala sesuatu sumber dan/atau daya
yang diperlukan dalam sistem pendidikan untuk menciptakan hasil-hasil
pendidikan. Proses adalah segala kegiatan yang dilakukan untuk mengolah
masukan pendidikan, seperti pembelajaran, pengembangan tenaga kependidikan
dan kurikulum. Out put adalah salah satu jenis hasil pendidikan, ketika
peserta didik belum sampai pada klasifikasi hasil pendidikan. Evaluasi
dilaksanakan terhadap pelaksanaan rencana untuk menilai keberhasilan
pelaksanaan dari suatu program atau kegiatan berdasarkan indikator
dan sasaran kinerja yang tercantum dalam program atau kegiatan.3
Tegasnya evaluasi adalah penyediaan informasi untuk kepentingan
memfasilitasi pembuatan keputusan dalam berbagai langkah pengembangan
kurikulum. Informasi berkaitan dengan program sebagai kesatuan utuh
atau hanya berkenaan dengan beberapa komponen. Evaluasi juga meng-
aplikasikan pemilihan kriteria, sekumpulan data dan analisis.4
Para ahli mendefinisikan evaluasi kurikulum dengan beragam pengertian.
Menurut Sukmadinata, evaluasi kurikulum memegang peranan penting

2
John R. Schermerhorn. (2010). Introduction to Management, New Jersey
:John Willey & Sons, Inc, h.165.
3
Teguh Triwiyanto. (2015). Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran, Jakarta:
Bumi Aksara, 2015, h.183.
4
Rusman. (2009). Manajemen Kurikulum. Jakarta: Rajawali Press, h.98.

102
MANAJEMEN KURIKULUM

baik dalam penentuan kebijaksanaan pendidikan pada umumnya, maupun


pada pengambilan keputusan dalam kurikulum. Evaluasi menurut Tyler
yang dikutip oleh Wahyudin adalah “the process for determining the degree
to which these change in behavior are actually taking place”, evaluasi berfokus
pada upaya untuk menentukan tingkat perubahan yang terjadi pada hasil
belajar (behavior). Evaluasi kurikulum sebagai usaha sistematis mengumpulkan
informasi mengenai suatu kurikulum untuk digunakan sebagai pertimbangan
mengenai nilai dan arti dari kurikulum dalam suatu konteks tertentu.5
Sedangkan menurut Nasution, evaluasi kurikulum merupakan hal
yang kompleks karena banyaknya aspek yang harus dievaluasi, banyaknya
orang yang terlibat, dan luasnya kurikulum yang harus diperhatikan.
Disamping itu, evaluasi kurikulum juga berhubungan dengan definisi
kurikulum yang diberikan, apakah berupa bahan pelajaran menurut
disiplin ilmu ataukah dalam arti yang luas meliputi pengalaman anak
di dalam maupun di luar kelas.6
Istilah evaluasi biasanya merujuk kepada proses membuat penilaian,
menetapkan nilai atau memutuskan yang baik.7 Selain itu, evaluasi dilakukan
untuk menilai efisiensi, efektivitas, manfaat, dampak, dan keberlanjutan
dari suatu program atau kegiatan.
Efisiensi adalah pendayagunaan sumber-sumber pendidikan yang
terbatas sehingga mencapai hasil yang optimal. Efektivitas adalah keberhasilan
suatu organisasi pendidikan dalam mencapai tujuannya. Manfaat adalah
nilai atau hasil lebih yang diperoleh dari hasil pendayagunaan sumber-
sumber pendidikan yang sudah dilakukan. Selanjutnya, dampak adalah
hasil atau keuntungan sebagai akibat dari program atau kegiatan yang
dilaksanakan.8
Keberadaan kurikulum sebagai kumpulan konseptual tentang tujuan,
materi, metode, media dan evaluasi proses dan hasil menjadi pedoman
pelaksanaan pembelajaran bagi anak didik, khususnya yang dijadikan
guru sebagai pedoman untuk membelajarkan anak didik, sehingga

5
Dinn Wahyudin.(2014). Manajemen Kurikulum, Bandung: Remaja Rosdakarya,
h. 27.
6
Sukiman. Op.cit, 194.
7
Richard L Arends. (2004). Learning to Teach, New York: McGraw Hill, h.218.
8
Teguh Triwiyanto, op.cit, h.183.

103
MANAJEMEN KURIKULUM

potensi mereka berkembang secara maksimal. Oleh sebab itu, kurikulum


dari waktu ke waktu menghadapi lingkungan internal dan eksternal.
Karena dalam manajemen pendidikan, bidang kurikulum merupakan
bagian integral dari manajerial yang harus mendapat peninjauan terus
menerus sejalan dan dinamika perkembangan zaman. Dalam pengembangan
kurikulum evaluasi merupakan salah satu komponen penting dan tahap
yang harus ditempuh oleh guru untuk mengetahui keefektifan kurikulum.
Hasil yang diperoleh dapat dijadikan balikan (feed back) bagi guru dalam
memperbaiki dan menyempurnakan kurikulum.9
Pemantauan dan penilaian kurikulum merupakan salah satu fungsi
manajemen kurikulum sebagai tugas yang harus dikerjakan seorang
manajer mulai dari tingkat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
sebagai perancang, pelaksana, dan evaluator sistem pendidikan nasional,
tingkat provinsi, kabupaten dan kota serta kecamatan dalam ruang lingkup
kewilayahan pendidikan, pada semua jenjang pendidikan baik formal
maupun non formal.10
Hasil-hasil evaluasi kurikulum dapat digunakan oleh para pemegang
kebijakan pendidikan dan para perencana, dan pengembang kurikulum
dalam memilih dan menetapkan kebijaksanaan pengembangan sistem
pendidikan dan pengembangan model kurikulum yang digunakan. Hasil-
hasil evaluasi kurikulum juga dapat digunakan oleh guru-guru, kepala
sekolah dan para pelaksana pendidikan lainnya, dalam memahami dan
membantu perkembangan siswa, memilih bahan pelajaran, memilih
metode dan alat-alat bantu pelajaran, cara penilaian serta fasilitas pendidikan
lainnya. Sukmadinata juga berpendapat bahwa evaluasi kurikulum sukar
dirumuskan secara tegas, hal itu disebabkan beberapa faktor:
1. Evaluasi kurikulum berkenan dengan fenomena-fenomena yang
terus berubah.
2. Objek evaluasi kurikulum adalah sesuatu yang berubah-ubah sesuai
dengan konsep kurikulum yang digunakan.

Zainal Arifin.(2012).Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum, Bandung:


9

Remajarosdakarya, h.263.
10
Oemar Hamalik.(2008). Manajemen Pengembangan Kurikulum, Bandung:
Remaja Rosdakarya.h.217.

104
MANAJEMEN KURIKULUM

3. Evaluasi kurikulum merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh


manusia yang sifatnya juga berubah.11

Menurut S Hamid Hasan yang dikutip oleh Rusman, evaluasi kurikulum


dan pendidikan memiliki karakteristik yang tak terpisahkan. Karakteristik
itu adalah lahirnya berbagai definisi untuk suatu istilah teknis yang sama.
Demikian dengan evaluasi yang diartikan oleh berbagai pihak dengan
berbagai pengertian. Hal tersebut disebabkan filosofi keilmuan yang
dianut seseorang berpengaruh metodologi evaluasi, tujuan evaluasi,
dan pada gilirannya terhadap pengertian evaluasi. Sementara itu menurut
Morrison evaluasi adalah perbuatan pertimbangan berdasarkan seperangkat
kriteria yang disepakati dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam hal
ini ada tiga faktor utama yaitu: 1) pertimbangan; 2) deskripsi objek penilaian;
3) kriteria yang dapat dipertanggungjawabkan.12
Menurut Sukmadinata, evaluasi dan kurikulum merupakan dua
disiplin yang berdiri sendiri. Ada pihak lain yang berpendapat antara
keduanya tidak ada hubungan, tetapi ada pihak lain yang menyatakan
keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Pihak yang memandang
ada hubungan, hubungan tersebut merupakan hubungan sebab akibat.
Perubahan dalam kurikulum berpengaruh pada pelaksanaan kurikulum.
Hubungan antara evaluasi dengan kurikulum bersifat organis, dan prosesnya
berlangsung secara evolusioner. Pandangan-pandangan lama yang tidak
sesuai lagi dengan tuntutan zaman, secara berangsur-rangsur diganti
dengan pandangan baru yang lebih sesuai.13
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa evaluasi
merupakan proses menilai keberhasilan dari suatu program yang dilaksanakan,
apakah sudah mencapai tujuan atau belum dalam rangka memberikan
masukan dan membuat keputusan untuk perbaikan program yang dilak-
sanakan lebih lanjut. Dengan begitu, evaluasi kurikulum dapat dilakukan
oleh semua level manajemen kementerian pendidikan nasional, termasuk
yang diberikan kewenangan adalah Pusat Kurikulum Nasional sebagai
unit pelaksana teknis penyusunan dan pengembangan kurikulum pendidikan.

11
Nana Syaodih Sukmadinata. Op.cit. h. 172.
12
Rusman. (2010). Manjemen Kurikulum, Jakarta: Raja Grapinfo, h, 91.
13
Nana Syaodih Sukmadinata.op.cit, h. 172.

105
MANAJEMEN KURIKULUM

Tim pengembang kurikulum pada tingkat satuan pendidikan melaksanakan


pengembangan kurikulum dengan berpedoman kepada peraturan dan
perundang-undangan yang berlaku yang menjadi acuan kebijakan pemerintah
dalam meningkatkan kualitas relevansi dan program pendidikan nasional
pada semua jenjang pendidikan, tidak terkecuali satuan pendidikan yang
dikembangkan dan dalam tanggung jawab Kementerian Agama RI.

B. TUJUAN EVALUASI KURIKULUM


Kurikulum hanyalah sebagai benda mati berupa kumpulan konseptual
yang dihasilkan manusia berdasarkan pikiran, pengalaman, peradaban,
sejarah, dan nilai-nilai maupun dokumen tentang rencana, pelaksanaan,
dan evaluasi pembelajaran anak didik di dalam maupun di luar kelas
(perpustakaan, laboratorium, atau praktik lapangan, observasi, studi
proyek, dll). Pada tingkat pelaksanaan kurikulum sebagaimana kegiatannya
diwujudkan dalam pembelajaran anak didik, dan evaluasi terhadap praktik
pembelajaran, tidak bisa serta merta diketahui hasilnya kecuali dilakukan
evaluasi oleh evaluator, baik pejabat bidang pendidikan, maupun kepala
sekolah, pengawas dan guru.
Untuk menilai kebaikan suatu kurikulum yang dipraktikkan dalam
lembaga pendidikan maka perlu diadakan evaluasi kurikulum. Suatu
evaluasi yang baik dilakukan secara komprehensif mencakup semua
langkah kegiatan, dan komponen kurikulum, menilai dari dokumen kurikulum,
pelaksanaan, hasil yang telah dicapai, fasilitas penunjang serta para pelaksana
kurikulum.14
Ada beberapa model evaluasi kurikulum. Upaya mengembangkan
model diskrepensi (Discrepancy Model) dengan menilai discrepancy atau
kesenjangan antara yang diharapkan dengan yang dilaksanakan. Stake,
mengembangkan model kontingensi-kontingensi (contoingency-congruence
Model). Model ini pada prinsipnya juga membandingkan yang diharapkan
dengan yang dilaksanakan, tetapi selanjutnya para pelaksana kurikulum

14
Nana Syaodih Sukmadinata.(2007). Kurikulum dan Pembelajaran dalam
Muhammad Ali, dkk, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bandung: Pedagogiana Press,
h.457.

106
MANAJEMEN KURIKULUM

membuat rancangan untuk mendekatkan harapan dan pelaksanaan tersebut


sehingga cocok/sesuai dengan kegiatan belajar siswa.
Stufflebeam mengembangkan model CIPP atau context, input, process
dan product. Evaluasi ini bersifat menyeluruh, seluruh komponen dari
kurikulum dievaluasi, mulai dari context atau tujuan dalam keterkaitannya
dengan tuntutan masyarakat atau lapangan; input atau masukan yaitu
siswa sebagai subjek yang belajar guru sebagai subjek yang mengajar,
desain kurikulum sebagai rancangan pembelajaran, media dan sarana-
prasarana sebagai alat bantu pengajaran; proses atau aktivitas siswa
belajar dengan arahan, bantuan dan dorongan dari guru, product atau
hasil, baik hasil yang dapat dilihat dalam jangka pendek pada akhir pendidikan
atau hasil jangka panjang setelah belajar atau belajar pada jenjang yang
lebih tinggi lagi.15
Tujuan evaluasi adalah mengukur capaian kegiatan, yaitu sejauh
mana kegiatan dapat dilaksanakan. Arikunto, sebagaimana dikemukakan
oleh Teguh Triwiyanto,16 menyatakan bahwa agar pengukuran tujuan
dapat diketahui secara cermat dan teliti sampai diketahui bagian mana
dari kegiatan yang dapat diimplementasikan dan bagian mana yang
tidak dapat diimplementasikan beserta penyebabnya sehingga tujuan
evaluasi tersebut perlu dirinci. Untuk dapat mengadakan rincian terhadap
tujuan evaluasi, evaluator harus mampu mengenali komponen-komponen
kegiatan.
Dengan melakukan evaluasi dapat diketahui sejauh mana tujuan
pendidikan melalui komponen kurikulum telah dicapai. Dalam konteks
ini, evaluasi yang dikembangkan berdasarkan pandangan filosofis fenomenologi
yang melahirkan pendekatan kualitatif dalam evaluasi kurikulum bertujuan
untuk menekankan cita-cita demokratis karena segenap anggota masyarakat
dan stakeholders lain memiliki wewenang untuk mengambil keputusan
dari evaluasi. Itu artinya evaluasi bukan milik sekelompok orang yang
dinamakan pengambil keputusan tetapi dimiliki setiap orang yang memiliki
kepentingan dan kepedulian terhadap kurikulum.17

15
Mohammad Ali dkk.(2007). Ilmu dan Aplikasi Pendidikan,Bandung: Pedagogiana
Press, h. 457.
16
Teguh Triwiyanto. Op.cit. h.183.
17
S. Hamid Hasan. Op.cit. h.46.

107
MANAJEMEN KURIKULUM

Dengan demikian, evaluasi kurikulum menjadi proses penting untuk


menentukan hasil yang dicapai. Di sini dapat ditegaskan bahwa keberadaan
evaluasi dapat menjadi proses untuk meninjau ulang kemajuan pendidikan
dan melakukan inovasi dan gagasan baru untuk mengembangkan kurikulum
selanjutnya. Posisi hasil evaluasi kurikulum tidak dapat diabaikan begitu
saja sampai dilakukan kembali evaluasi berikutnya. Dipahami bahwa
harus ada tindak lanjut yang dilakukan para evaluator dan perancang
kurikulum bahkan sampai kepada guru sebagai wujud dari tanggung
jawab dalam mengelola sekolah sebagai bentuk akuntabilitas publik.
Dengan kata lain, hasil evaluasi merupakan balikan yang dapat digunakan
untuk meningkatkan kinerja sekolah. Fungsi utama dari kegiatan evaluasi,
yaitu diagnosis, prediksi, seleksi dan penetapan peringkat atau nilai dari
tugas atau kegiatan yang telah dikerjakan para praktisi pendidikan.
Di sisi lain dipahami bahwa evaluasi kurikulum adalah menyempurnakan
kurikulum dengan cara mengungkapkan proses pelaksanaan kurikulum
yang telah berhasil mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Evaluasi kurikulum
dimaksudkan untuk memeriksa kinerja kurikulum secara keseluruhan
ditinjau dari berbagai kriteria, indikator kinerja yang dievaluasi adalah
efektivitas, efisiensi, relevansi dan kelayakan program.18
Dalam konteks kurikulum, evaluasi kurikulum didefinisikan sebagai
rangkaian kegiatan membandingkan realisasi masukan (input), proses,
keluaran (output) dan hasil (outcome) terhadap rencana dan standar
kurikulum. Oleh sebab itu, evaluasi kurikulum berfungsi untuk menilai
keberhasilan pelaksanaan dari suatu kurikulum yang diterapkan pada
pendidikan. Evaluasi kurikulum bertujuan untuk menilai efisiensi, efektivitas,
manfaat, dampak dan keberlanjutan dari suatu kurikulum.
Evaluasi kurikulum menjadi tugas para manajer, perencana, pengembang
dan pengawas pendidikan. Menurut Hamid Hasan, tujuan evaluasi kurikulum
adalah sebagai berikut:
1. Menyediakan infromasi mengenai pelaksanaan pengembangan dan
pelaksanaan suatu kurikulum sebagai masukan bagi pengambilan
keputusan.

18
Dinn Wahyudin.(2014). Manajemen Kurikulum, Bandung: Remajarosdakarya,
h.148.

108
MANAJEMEN KURIKULUM

2. Menentukan tingkat keberhasilan dan kegagalan suatu kurikulum


serta faktor-faktor yang berkontribusi dalam suatu lingkungan tertentu.
3. Mengembangkan berbagai alternatif pemecahan masalah yang
dapat digunakan dalam upaya perbaikan kurikulum.
4. Memahami dan menjelaskan karakteristik suatu kurikulum dan pelak-
sanaan suatu kurikulum.

Tujuan evaluasi kurikulum adalah mengukur capaian kurikulum


yaitu, sejauh mana kurikulum dapat dilaksanakan. Proses evaluasi kurikulum
dan sampai pembelajaran dapat digambarkan sebagaimana dalam gambar
berikut:

Input Proses Output Outcomes

Keberhasilan
Tingkat studi
Pencapaian, selanjutnya,
hasil belajar, keberhasilam
Proses
Kurikulum sikap, memperoleh
Pembelajaran pekerjaan,
tingkah laku
dan penghasilan
persamaan sikap dan
tingkah laku
k j

Evaluasi kurikulum untuk menilai efisinsi, efektivitas,


manfaat, dampak dan keberlanjutan dari suatu kurikulum.

Komponen Evaluasi Kurikulum dan pembelajaran

C. PROSES EVALUASI KURIKULUM


Sebagai suatu sistem keberadaan kurikulum dalam dunia pendidikan
diyakini bermanfaat bagi perubahan perilaku anak didik jika kurikulum
tersebut dilaksanakan sesuai dengan aturan dan prosedur yang ditetapkan
oleh para manajer pendidikan pada tingkat makro (menteri pendidikan,
dirjen pendidikan dasar dan menengah, para direktur), tingkat messo

109
MANAJEMEN KURIKULUM

(Gubernur, kepala dinas pendidikan dan kebudayaan provinsi, kabupaten/


kota) maupun tingkat mikro (kepala sekolah/madrasah, wakil kepala sekolah/
madrasah, pengawas, dan guru-guru) di dalam sistem persekolahan.
Karena itu, penyelenggara pendidikan bertanggung jawab terhadap pencapaian
keberhasilan pelaksanaan kurikulum yang ditetapkan. Oleh sebab itu,
program penilaian merupakan serangkaian tindakan yang dilakukan
dalam rangka penilaian kurikulum sebagai alat pengelola dan evaluator
dalam menyelenggarakan penilaian kurikulum. Program penilaian kurikulum
memuat hal-hal berikut:
a. Penentuan tujuan program penilaian
b. Penilaian terhadap instrumen penilaian
c. Pengadministrasian penilaian
d. Pengolahan data
e. Penganalisaan penafsiran
f. Pendayagunaan hasil penilaian
g. Pencatatan dan pelaporan.19

S. Hamid Hasan,20 proses yang dapat dilalui oleh seorang evaluator


dalam melaksanakan evaluasi adalah:
a. Kajian terhadap evaluan, yaitu langkah pertama yang harus dilakukan
evaluator terhadap kurikulum atau bentuk kurikulum yang menjadi
evaluannya. Tujuannya adalah untuk mendapatkan pemahaman
terhadap karakteristik kurikulum. Evaluator harus mempelajari secara
mendalam latar belakang kelahiran suatu kurikulum, landasan filosofis
dan teoretis kurikulum tersebut, ide kurikulum, model kurikulum yang
digunakan untuk dokuen kurikulum, proses pengembangan dokumen
kurikulum, proses implementasi kurikulum dan evaluasi hasil belajar.
b. Pengembangan proposal evaluasi, berdasarkan kajian yang dilakukan
pada langkah pertama maka evaluator kemudian mengembangkan
proposalnya. Untuk itu maka evaluator memutuskan pendekatan dan
jenis evaluasi yang akan dilakukan. Evaluator dapat menentukan apakah

19
Oemar Hamalik. (2008). Manajemern Pengembangan Kurikulum, Bandung:
Remaja Rosdakarya, h.217.
20
S. Hamid Hasan. Op.cit. h.160.

110
MANAJEMEN KURIKULUM

yang akan digunakannya adalah evaluasi kuantitatif ataukah evaluasi


kualitatif.
c. Pertemuan dan diskusi, dengan pengguna jasa evaluasi merupakan
langkah penting dan menentukan. Hasil diskusi dengan pengguna
jasa akan menentukan apakah proposal yang diajukan akan dapat
ditindaklanjuti atau tidak. Jika evaluator berhasil meyakinkan calon
pengguna jasa evaluasi maka proposal yang diajukan mungkin akan
disetujui dan pekerjaan evaluasi akan dapat dilaksanakan. Sebaliknya,
jika pada pertemuan tersebut evaluator tersebut tidak berhasil meyakinkan
calon pengguna jasa evaluasi maka proposal tersebut tidak terlaksana.
Artinya, tidak ada pekerjaan evaluasi yang dilakukan berdasarkan
proposal tersebut.
d. Revisi proposal, tidak lanjut dari hasil pertemuan antara pengguna
jasa evaluasi dengan evaluator. Apabila dalam pertemuan dan pembicaraan
tersebut berbagai komponen harus direvisi maka adalah kewajiban
evaluator untuk melakukan revisi tersebut. Hasil revisi harus diperlihatkan
kembali kepada pengguna jasa evaluasi dan disetujui.
e. Rekruitmen personalia, kegiatan ini bisa saja dilakukan ketika proposal
disusun.
f. Pengurusan persyaratan administrasi, setiap kegiatan yang berkenaan
dengan evaluasi kurikulum memerlukan berbagai formalitas administrasi.
Evaluator harus mendapatkan persetujuan dari pengguna kurikulum,
pimpinan sekolah atau atasannya dan mungkin juga dari pejabat
yang terkait dengan masalah keamanan sosial politik.
g. Pengorganisasian pelaksanaan, suatu kegiatan manajemen yang
tingkat kerumitannya ditentukan oleh ruang lingkup pekerjaan evaluasi
dan jumlah evaluator yang terlibat. Semakin luas objek yang harus
dievaluasi maka semakin banyak jumlah evaluator yang dibutuhkan
dan akan semakin rumit pula pekerjaan manajemen yang harus dilakukan.
h. Analisis data, merupakan tindak lanjut setelah proses pengumpulan
data evaluasi berhasil dilakukan. Ketika model yang digunakan adalah
model kuantitatif dan dengan demikian data utama evaluasi adalah
data kuantitatif. Proses selanjutnya dalam pengelolaan data pada
umumnya menggunakan jasa komputer. Analisis data adalah pekerjaan
professional dan harus dilakukan oleh evaluator utama beserta evaluator

111
MANAJEMEN KURIKULUM

tim. Analisis data merupakan bentuk tanggungjawab professional dan


memerlukan wawasan dan pemahaman terhadap evaluan untuk
menghasilkan analisis yang dapat dipertanggungjawabkan.
i. Penulisan laporan, merupakan langkah yang harus dilakukan oleh
evaluator dan para tim. Pada umumnya ada dua jenis laporan yang
dapat dijadikan sebagai bentuk dalam penulisan hasil laporannya,
diantaranya adalah (1) laporan eksekutif, yaitu model laporan yang
ditulis dan dikembangkan untuk dibaca oleh para eksekutif yang
pada umumnya memiliki waktu yang terbatas, (2) laporan lengkap,
yaitu model laporan yang dikembangkan untuk dibaca oleh orang
yang memiliki waktu yang luang.
j. Pembahasan laporan dengan pengguna jasa, pembahasan ini diperlukan
untuk melihat kelengkapan laporan. Dalam pembahasan ini jika pengguna
jasa memerlukan tambahan informasi yang memang tercantum
dalam kontrak maka adalah kewajiban evaluator untuk melengkapi
laporan tersebut.
k. Penulisan laporan akhir, sebagai hasil dari revisi yang harus dilakukan
evaluator kertika terjadi pembahasan laporan dengan pengguna jasa.
Jika dalam pembahasan tersebut pihak pengguna sudah tidak mengajukan
revisi maka laporan awal dapat langsung dijadikan laporan akhir.
Jika dari hasil pembahasan diperlukan berbagai revisi maka evaluator
harus menulis laporan akhir berdasarkan revisi tersebut.

Dalam konteks ini, evaluasi kurikulum yang dilaksanakan akan


menghasilkan tindak lanjut dengan melakukan pembentukan ulang
dan pelaksanaan ulang kurikulum. Proses yang ditempuh ini mensyaratkan
pengaturan ulang dan penyesuaian kebiasaan pribadi cara guru mengajar,
cara bekerja, penekanan program, ruang kelas untuk pembelajaran,
dan penjadwalan program kurikulum. Itu berarti para penduduk berusaha
untuk mengganti dari program sekarang dengan program baru dengan
memodifikasi program baru yang dapat mencapai apa yang diinginkan
dengan temuan bahwa ada penolakan besar atas kurikulum sebelumnya.
Meskipun pengalaman para pemimpin pendidikan dalam aktivitas
kurikulum telah diwujudkan bahwa implementasi adalah suatu aspek
pengembangan kurikulum, hanya sepuluh atau tujuh belas tahun belakangan
persoalan pelaksanaan menjadi kepedulian utama pendidik. Bila evaluasi

112
MANAJEMEN KURIKULUM

pelaksanaan diperlukan pertimbangan berbagai asumsi pendidikan dalam


pelaksanaannya, banyak asumsi bahwa pelaksanaan/kurikulum adalah
hal yang sederhana dari langkah lain.
Dalam konteks ini, evaluasi kurikulum menjadi tahap penentuan
apakah suatu program kurikulum masih dapat dipertahankan secara
argumentatif untuk mencapai tujuan pendidikan nasional, tujuan institusi,
maupun tujuan kurikulum, dan tujuan mata pelajaran sebagai langkah
progresif dalam mencapai kompetensi dan profil lulusan setiap satuan
pendidikan nasional.
Evaluasi kurikulum dilakukan dengan mencermati capaian tujuan
kurikulum yang ditetapkan. Evaluasi kurikulum dilakukan melalui
beberapa prinsip berikut:
1. Prinsip relevansi, artinya relevan antara pendidikan dengan tuntutan
kehidupan. Prinsip relevansi berkaitan dengan tiga segi, yaitu relevansi
pendidikan dengan lingkungan peserta didik; relevansi dengan perkembangan
kehidupan masa sekarang dan masa depan; dan relevansi pendidikan
dengan tuntutan dunia kerja.
2. Prinsip efektivitas, artinya sejauh mana sesuatu yang direncanakan
atau diinginkan dapat terlaksana atau tercapai. Prinsip efektivitas
belajar peserta didik.
3. Prinsip efisiensi, artinya perbandingan antara hasil yang dicapai
(output) dan usaha yang telah dikeluarkan (input). Prinsip efisiensi
dapat ditinjau dari waktu, tenaga, peralatan dan biaya.
4. Prinsip kesinambungan, artinya saling hubung atau jalin-menjalin
antara berbagai tingkat dan jenis pendidikan. Kesinambungan antara
berbagai tingkat sekolah harus mempertimbangkan bahwa (a) bahan
pelajaran pada tingkat sekolah selanjutnya hendaknya sudah diajarkan
pada tingkat sekolah sebelumnya; dan (b) bahan pelajaran yang
sudah diajarkan pada tingkat sekolah lebih rendah tidak perlu diajarkan
pada tingkat sekolah yang lebih tinggi. Kesinambungan antara berbagai
bidang studi harus memperhatikan urutan penyajian dan terjalin
dengan baik.
5. Prinsip fleksibilitas, artinya ada ruang gerak yang memberikan kebebasan
dalam bertindak (tidak kaku). Fleksibilitas mencakup fleksibilitas peserta

113
MANAJEMEN KURIKULUM

didik dalam memilih program pendidikan, serta fleksibilitas pendidikan


dalam mengembangkan program pembelajaran.

Dalam konsep yang luas, evaluasi kurikulum merupakan proses


komprehensif yang di dalamnya meliputi pengukuran. Evaluasi pada
hakikatnya merupakan suatu proses membuat keputusan suatu nilai
dari suatu objek. Keputusan evaluasi (value Judgement) tidak hanya didasarkan
pada pengukuran (quantitative description), dapat pula didasarkan
pada hasil pengamatan (qualitative description). Baik yang didasarkan pada
hasil pengukuran (measurement) maupun bukan pengukuran
(nonmeasurement) pada akhirnya menghasilkan keputusan nilai tentang
suatu program/kurikulum yang dievaluasi.21
Permendikbud 159 Tahun 2014 menjelaskan bahwa evaluasi kurikulum
adalah serangkaian kegiatan terencana, sistematis dan sistemik dalam
mengumpulkan dan mengolah informasi, memberikan perimbangan
dalam pengambilan keputusan untuk menyempurnakan kurikulum.
Evaluasi kurikulum dilakukan melalui pendekatan, strategi dan model
evaluasi kurikulum sesuai dengan tujuan atau sasaran evaluasi. Pendekatan
evaluasi kurikulum merupakan cara pandang dalam mengevaluasi kurikulum
yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif atau pendekatan
kuantitatif.
1. Pendekatan kualitatif merupakan pendekatan yang menggunakan
penilaian ahli berdasarkan kriteria sesuai dengan model yang diterapkan
untuk memperoleh informasi dan data yang diperlukan.
2. Pendekatan kuantitatif merupakan pendekatan yang mengunakan
instrumen yang sudah divalidasi sesuai dengan model yang diterapkan
untuk memperoleh informasi dan data yang diperlukan.

Selain pendekatan, evaluasi kurikulum juga dilakukan dengan meng-


gunakan strategi dan model evaluasi kurikulum. Strategi evaluasi kurikulum
dilakukan secara deduktif atau induktif dengan langkah-langkah sistematik
dan sistemik yang digunakan untuk mendapatkan data dan informasi
yang akurat dan valid. Sementara itu, model evaluasi kurikulum merupakan

21
Rusman, op.cit. h. 94.

114
MANAJEMEN KURIKULUM

kerangka konseptual dan operasional yang digunakan untuk mengevaluasi


perangkat dokumen, buku, pelatihan, pendampingan dan monitoring
untuk kelancaran pelaksanaan pembelajaran. Model evaluasi kurikulum
yang digunakan dalam pendekatan kualitatif antara lain evaluasi bebas
tujuan, analisis kesesuaian atau kesenjangan, studi, kasus, iluminatif
dan responsif. Dalam pendekatan kuantitatif model evaluasi kurikulum
yang digunakan antara lain evaluasi bebas tujuan, pendekatan sistem,
dan penilaian akuntabilitas.

D. FUNGSI EVALUASI KURIKLUM


Evaluasi kurikulum berfungsi sebagai upaya penyempurnaan kurikulum
secara berkelanjutan pada tingkat nasional, daerah dan satuan pendidikan.
Evaluasi kurikulum bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai;
1. Kesesuaian antara ide kurikulum dan desain kurikulum;
2. Kesesuaian antara desain kurikulum dan dokumen kurikulum;
3. Kesesuaian antara dokumen kurikulum dan implementasi kurikulum;
dan
4. Kesesuaian antara ide kurikulum, hasil kurikulum dan dampak kurikulum.

Ide kurikulum merupakan pikiran pokok kurikulum yang terdiri


atas dasar filosofis, sosiologis, psiko-paedagogis, teoritis, yuridis, sistem,
dan model kurikulum yang digunakan sebagai landasan dan kerangka
dan pengembangan kurikulum. Rancangan perangkat rencana dan pengaturan
mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan
sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran disebut dengan desain kurikilum, yang di buat untuk mencapai
tujuan pendidikan tertentu. Sementara itu, yang dimaksud dengan dokumen
kurikulum adalah sekumpulan dokumen yang berfungsi sebagai perangkat
operasional kurikulum yang meliputi:
1) Dokumen kurikulum setiap satuan pendidikan atau program program
pendidikan;
2) Dokumen kurikulum setiap mata pelajaran;
3) Pedoman implementasi kurikulum;
4) Buku teks pelajaran;

115
MANAJEMEN KURIKULUM

5) Buku panduan guru; dan


6) Dokumen kurikulum lainnya.

Agar mencapai tujuan yang nyata, ide, desain dan dokumen yang
telah ditentukan harus diimplementasikan. Dalam hal ini implementasi
kurikulum merupakan proses realisasi desain kurikulum yang diterjemahkan
dalam aspek-aspek penyediaan perangkat dokumen, buku, pelatihan,
pendampingan dan monitoring untuk kelancaran pelaksanaan pembelajaran.
Implementasi dari ide, desain, dan dokumen diharapkan dapat menghasilkan
perubahan dalam kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan sebagai
capaian pembelajaran yang diwujudkan dalam bentuk kualitas pribadi
dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Hasil tersebut diharapkan dapat
berdampak pada perubahan sikap perilaku kolektif masyarakat di sekitarnya.
Evaluasi kurikulum dilakukan terhadap pengembangan dokumen
kurikulum, implementasi kurikulum, hasil kurikulum dan dampak kurikulum,
yang mencakup hal-hal berikut :
1) Pengembangan dokumen kurikulum dilakukan untuk mendapatkan
informasi mengenai kesesuaian antara substansi dokumen kurikulum
dan desain kurikulum.
2) Evaluasi implementasi kurikulum dilakukan untuk mendapatkan
informasi mengenai kesesuaian antara implementasi kurikulum dan
dokumen kurikulum. Evaluasi implementasi kurikulum mencakup:
a. Evaluasi implementasi kurikulum terbatas, yaitu evaluasi terhadap
muatan atau mata pelajaran untuk tingkat kelas atau untuk satuan
pendidikan tertentu; dan
b. Evaluasi implementasi kurikulum penuh, yaitu evaluasi terhadap
muatan pembelajaran atau mata pelajaran untuk seluruh tingkat
kelas atau seluruh satuan pendidikan.
3) Evaluasi terhadap hasil kurikulum dilakukan untuk mendapatkan
informasi mengenai kesesuaian antara capaian pembelajaran dengan
kompetensi inti dan standar kompetensi lulusan.
4) Evaluasi dampak kurikulum dilakukan untuk mendapatkan informasi
mengenai implikasi pemerolehan kompetensi sikap, pengetahuan
dan keterampilan peserta didik terhadap perubahan sikap perilaku
kolektif masyarakat disekitarnya.

116
MANAJEMEN KURIKULUM

Evaluasi kurikulum dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan


dan Kebudayaan, kementerian agama, dinas pendidikan provinsi, dinas
pendidikan kabupaten/kota, kantor wilayah kementerian agama, kantor
kementrian agama kabupaten/kota, komite satuan pendidikan /dewan
pendidikan, satuan pendidikan, dan masyarakat sesuai dengan kewenangan
masing-masing. Dalam melaksanakan evaluasi kurikulum, terdapat
beberapa tahapan yang dijelaskan sebagai berikut :
1) Evaluasi reflektif, dilakukan pada saat pengembangan dokumen
kurikulum. Evaluasi reflektif digunakan untuk pengambilan keputusan
perbaikan proses pengembangan dokumen kurikulum.
2) Evaluasi formatif, dilakukan setelah implementasi kurikulum secara
terbatas atau penuh. Evaluasi formatif digunakan untuk pengambilan
keputusan perbaikan implementasi kurikulum.
3) Evaluasi sumatif, dilakukan setelah implementasi kurikulum secara
penuh paling sedikit lima tahun. Evaluasi sumatif digunakan untuk
pengambilan keputusan penyempurnaan kurikulum.

Ulfatin (2014:335) menawarkan evaluasi, termasuk kurikulum


2013 juga perlu untuk dilakukan perbaikan. Tiga bagian penting yang
perlu mendapatkan perhatian dalam evaluasi kurikulum antara lain
makna kurikulum, organisasi dan struktur kurikulum dan kompetensi
lulusan. Pertama, makna kurikulum bisa bervariasi, mulai kurikulum
yang dipandang secara programatik. Kurikulum 2013 hendaknya dipandang
secara programatik sehingga mampu menjelaskan seberapa luas program-
program yang menjadi tanggung jawab sekolah. Kedua, organisasi kurikulum
2013 sudah mencerminkan keterpaduan komponen-komponen kurikulum,
namun keterpaduan tersebut hanya tampak antar submata pelajaran
dalam struktur kurikulum, belum pada keseluruhan kegiatan sekolah
termasuk ekstrakulikuler. Ketiga, rumusan standar kompetensi lulusan
masih tampak parsial yang menggambarkan satuan domain pengetahuan,
sikap dan keterampilan, serta menggambarkan bahwa rumusan kompetensi
lulusan berada pada tingkat domain standar kebutuhan perkembangan
anak secara teoretis pendidikan.
Penilaian kurikulum harus mencakup aspek pengetahuan, keterampilan,
dan sikap secara utuh dan proporsional, sesuai dengan kompetensi inti
yang telah ditentukan. Penilaian aspek pengetahuan, dapat dilakukan

117
MANAJEMEN KURIKULUM

dengan ujian tulis, lisan, dan daftar isian pertanyaan. Penilaian aspek
keterampilan dapat dilakukan dengan ujian praktik, analisis keterampilan
dan analisis tugas, serta penilaian oleh peserta didik sendiri. Adapun
penilaian aspek sikap, dapat dilakukan dengan daftar isian sikap (pengamatan
pribadi) dari diri sendiri, dan daftar isian sikap yang disesuaikan dengan
kompetensi inti.
Dalam PP Nomor 32 Tahun 2013 tentang Penataan standar Nasional
Pendidikan dikemukakan beberapa ketentuan tentang penilaian/evaluasi
kurikulum sebagai berikut:
1. Evaluasi kurikulum merupakan upaya mengumpulkan dan mengolah
informasi dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan kurikulum
pada tingkat nasional, daerah, dan satuan pendidikan.
2. Evaluasi kurikulum dilakukan oleh pemerintah, pemerintah daerah,
satuan pendidikan, dan/atau masyarakat.
3. Evaluasi muatan nasional dan muatan lokal dilakukan oleh pemerintah.
4. Evaluasi muatan lokal dilakukan oleh pemerintah daerah sesuai dengan
kewenangannya masing-masing.
5. Evaluasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dilakukan oleh satuan
pendidikan yang berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan setempat.
6. Evaluasi muatan nasional, muatan lokal, dan Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan dapat dilakukan oleh masyarakat.
7. Evaluasi Kurikulum digunakan untuk penyempurnaan kurikulum.

Untuk mendapatkan data yang lengkap, utuh, dan menyeluruh


tentang penilaian kurikulum dapat dilakukan dengan menilai rancangan
kurikulum dan menilai pengembangan kurikulum di kelas. Kedua hal
tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut.

1. Menilai Rancangan Kurikulum


Rancangan kurikulum harus diarahkan dan diprioritaskan terhadap
program pembelajaran, dan layanan sebagai kerangka kerja untuk perencanaan
kelas. Ketika membangun suatu rancangan kurikulum, guru harus dilibatkan
secara langsung dalam proses dialog. Inilah garis besar yang menjadi
poin-poin referensi di masa depan, yang dapat dibandingkan kemajuannya
dengan kriteria dari kurikulum yang paling baik.

118
MANAJEMEN KURIKULUM

a. Keputusan evaluasi seharusnya dibuat oleh setiap orang yang terlibat


dalam perencanaan. Dalam hal ini anggota sekolah, orangtua, administrator,
anggota masyarakat, dan barangkali orang-orang dari perguruan
tinggi setempat dalam membentuk tim evaluasi kurikulum. Jika dalam
kelompok tersebut tidak ada yang terlatih dalam hal evaluasi, maka
langkah pertama adalah mengadakan pelatihan.
b. Beberapa pertanyaan berikut perlu dijawab dalam kaitannya dengan
evaluasi kurikulum: (1) Siapa yang harus dan tidak harus dilibatkan
dalam perancangan kurikulum? (2) Masalah dan isu apa yang perlu
dijadikan sasaran? (standar, tujuan, asumsi, organisasi kunci, ilustrasi
skenario) (3) Bagaimanakah kelompok membagi tugas dengan anggota
sekolah dan masyarakat dalam menganalisis rancangan, rancangan
alternatif, standar kompetensi nasional dan lokal, serta kaitannya
dengan pemuda sekarang dan masa depan? (4) Bagaimanakah rancangan
draft dipadukan dengan anggota sekolah lain, dan dengan masyarakat?
(5) Apakah asumsi, konsep, dan kesan tentang peserta didik, belajar,
pengetahuan, pembelajaran, kurikulum, dan persekolahan dipertimbangkan
dalam analisis rancangan dan praktik kurikulum, proposal, dan pernyataan
rancangan kurikulum akhir? (6) Apakah asumsi dan prinsip yang ber-
kaitan dengan kesimpulan dari peserta didik tertentu yang dipertimbangkan
dan digunakan? (7) Dalam cara apakah peserta didik dan guru ber-
hubungan? (8) Dalam cara dan untuk apa persamaan, keadilan, dan
pelayanan terhadap seluruh peserta didik dipertimbangkan? (9)
Bagaimanakah pandangan alternatif yang menyenangkan, bagaimanakah
konflik dipecahkan, untuk apakah partisipan merasakan bahwa mereka
diperlakukan secara adil dan bijaksana? Serta (10) Kapankah perhatian
direfresentasikan?
c. Pengumpulan data dilakukan untuk mendeskripsikan sebuah rancangan
kelompok termasuk observasi dan rekaman dari setiap pertemuan.
Menganalisis data mentah, termasuk mengidentifikasi isu-isu rancangan
khusus mencakup hal-hal berikut: (1) Platform: standar kompetensi,
tujuan, asumsi, inklusi, kenyamanan, kekuasaan, rasa percaya diri
peserta didik, dan civik agensi; (2) Pengorganisasian kurikulum: jenis
pegorganisasian, kapasitas untuk peserta didik, kemenarikan, kapasitas
materi, dan sebagainya; (3) Isi: perspektif materi kurikulum yang dikem-
bangkan; (4) Penjabaran organisasi terhadap kegiatan yang berlebihan;

119
MANAJEMEN KURIKULUM

cakupan dan urutan; (5) Bahan-bahan: peralatan seperti komputer


dan program komputer, atau peralatan laboratorium untuk matematika
dan sains, misalnya.

Kriteria yang digunakan untuk menafsirkan dan memutuskan data


merupakan pernyataan yang mendeskripsikan tentang kualitas. Kriteria
untuk menafsirkan dan memutuskan data mencakup: kejelasan bahasa
dan pikiran, cakupan yang komprehensif, kelayakan, koherensi, efisiensi,
kenyamanan, keaslian, keterlibatan, efektivitas, keinklusifan, dan kesamaan.
Sehubungan dengan itu, pengolah data, pembuat keputusan, dan pengguna
keputusan tentang evaluasi sebuah rancangan kurikulum memerlukan
beberapa orang yang harus dilibatkan dalam menganilisis data.
Tujuan utama pelibatan anggota sekolah dalam perancangan kurikulum
adalah untuk menciptakan kondisi umum terhadap perencanaan kurikulum.
Karena perbedaan antara perancangan dengan perencanaan tidak terlalu
mencolok dalam pengembangan kurikulum, banyak pertimbangan dalam
perancangan kurikulum juga digunakan untuk mengevaluasi perencanaan
kurikulum. Tantangannya disini adalah bahwa pemecahan masalah
dan pemikiran guru sering merupakan kegiatan pribadi, padahal semua
itu akan memperngaruhi dalam pengembangan kurikulum; mengapa
mereka menekankan pada suatu informasi atau bahan tertentu, atau
bagaimana mereka memandang peserta didiknya dalam kaitannya dengan
penafsiran terhadap rancangan kurikulum.
Beberapa hal yang harus dijadikan bahan pertimbangan dalam
menilai rancangan kurikulum adalah sebagai berikut.
a. Pemain utama dalam evaluasi adalah guru; tetapi kepala sekolah,
supervisor, dan konsultan juga memiliki kepentingan dalam proses
evaluasi, karena itu mereka perlu memahami hubungan antara peran-
cangan, perencanaan guru, dan kondisi kelas secara khusus.
b. Pertimbangkanlah beberapa pertanyaan berikut ini; (1) Bagaimanakah
guru menafsirkan tujuan, rasional, dan konsep kunci terhadap rancangan
kurikulum, (2) Bagaimanakah guru menafsirkan minat dan kesiapan
peserta didik dalam memahami materi dan membentuk kompetensi?
(3) Apakah guru merasa nyaman dengan kompetensi dasar dan materi
standar, dan strategi belajar yang digunakan?

120
MANAJEMEN KURIKULUM

c. Analisis dan pengumpulan data dapat dilakukan dengan (1) melakukan


analisis isi terhadap jurnal untuk mengidentifikasi ide-ide yang diper-
timbangkan, dan kriteria yang digunakan, serta (2) mewawancarai
guru tentang alasan mereka memilih menjadi guru, dan apa yang
mereka lakukan dalam kegiatan pembelajaran.
d. Kriteria yang digunakan untuk menilai kualitas guru dalam perencanaan
kurikulum sama dengan kriteria yang disarankan dalam perancangan
kurikulum.
e. Pengolah data, pembuat keputusan, dan pengguna keputusan bertugas
mengumpulkan data. Dalam melaksanakan tugasnya mereka harus
melibatkan guru, karena informasi yang dihasilkan adalah untuk
guru dalam menilai pembelajaran yang dilakukannya.22

Dapat disimpulkan bahwa evaluasi kurikulum melibatkan banyak


komponen sumberdaya manusia dalam pelaksana kurikulum. Perencana
dan pengembangan kurikulum, atau Pusat Kurikulum Nasional sebagai
unit manajerial yang melakukan evaluasi kurikulum, dinas pendidikan
dan kebudayaan provinsi, kabupaten dan kota, serta pihak sekolah. Dengan
demikian, upaya untuk memastikan keberhasilan kurikulum dalam praktik
pembelajaran, berarti ada pula evaluasi proses (formatif) dan evaluasi
hasil (sumatif). Karena itu, dalam proses evaluasi kurikulum dalam rangka
perbaikan atau pengembangan kurikulum, maka diperlukan data atau
informasi untuk pengambilan keputusan sebagaimana dimaksudkan
dalam kerangka perbaikan.

22
E. Mulyasa.(2014). Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013.
Bandung: Remaja Rosdakarya, h.135-141.

121
MANAJEMEN KURIKULUM

BAB VI

PENGEMBANGAN KURIKULUM

A. DASAR-DASAR PENGEMBANGAN

P
engembangan kurikulum sebagai bagian dari ilmu pendidikan
meniscayakan adanya keinginan atau inisiatif para pengelola
pendidikan untuk memastikan relevansi pendidikan dengan
kebutuhan masyarakat sesuai dengan tuntutan perubahan internal dan
eksternal dunia pendidikan. Semua segmen stakeholders pendidikan
(orang tua, masyarakat, dunia usaha dan industri) khususnya pengguna
jasa lulusan menjadi faktor yang harus diperhatikan kebutuhannya terhadap
pendidikan yang disediakan para pengelola pendidikan, sejak dari perencanaan,
pelaksanaan program sampai kepada evaluasi program kurikulum.
Kegiatan pengembangan kurikulum harus dilakukan berdasarkan
ilmu manajemen karena pengembangan kurikulum menuntut adanya
perencanaan sampai dengan pengawasan bahkan termasuk monitoring
dan evaluasi.1
Hasil evaluasi kurikulum sejatinya memerlukan pengembangan
atau bahkan perubahan kurikulum pendidikan. Itu artinya hasil evaluasi
kurikulum meniscayakan upaya mengembangkan kurikulum. Menurut
Sukiman, setiap pegembangan kurikulum hendaknya menggunakan
landasan yang kuat sehingga akan melahirkan kurkulum yang sesuai

Zainal Arifin.(2012). Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum, Bandung:


1

Remaja Rosdakarya, h.25.

122
MANAJEMEN KURIKULUM

dengan kebutuhan. Adapun yang dimaksud dengan landasan kurikulum


di sini adalah bidang-bidang yang dapat dijadikan dasar pokok keputusan
tentang kurikulum karena berdasarkan landasan-landasan tersebut
dapat dijawab pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti: 1) bagaimanakah
tujuan hidup manusia, 2) hal-hal apakah harus diajarkan kepada generasi
muda agar dapat membimbing mereka kehidupan yang baik; 3) seberapa
jauh peranan dan tanggungjawab sekolah dalam hal ini, 4) relevansi
pendidikan terhadap kebutuhan dan struktur masyarakat, 5) peranan
teknologi dan struktur keluarga terhadap praktik kependidikan disekolah,
6) pemenuhan kebutuhan dasar manusia jalur pendidikan di sekolah,
dan 7) relevansi struktur kurikulum dengan tahap-tahap perkembangan
kedewasaan anak didik, dan masih banyak lagi pertanyaan yang relevan.
Melalui kajian terhadap bidang-bidang yang menjadi landasan pengembangan
kurikulum ini, hal-hal yang bersifat normatif dan ideal yang menjadi tumpuan
tujuan penyelenggaraan pendidikan dapat dianalisis, dan ini sangat ber-
manfaat untuk mencegah agar program pendidikan yang lahir tidak mudah
goyah dan berubah-ubah karena rapuhnya pondasi yang mendasarinya.2
Salah satu aspek yang berpengaruh secara signifikan terhadap keber-
hasilan pendidikan nasional adalah aspek kurikulum. Di sini keberadaan
kurikulum merupakan salah satu komponen yang memiliki peran strategis
dalam sistem pendidikan. Kurikulum dipahami sebagai sistem program
pembelajaran yang diimplementasikan untuk mencapai tujuan pendidikan
(institusional dan Kurikulum) yang memungkinkan pencapaian mutu
sekolah.3
Pencapaian mutu pendidikan yang unggul menjadi sasaran program
pendidikan yang mengakar pada kurikulum. Pelayanan pendidikan yang
bermutu merupakan refleksi dari penerapan nilai-nilai kemanusiaan,
nilai-nilai keagamaan, nilai-nilai etika, nilai-nilai demokrasi dalam pelak-
sanaan pendidikan. Hal ini disebabkan pendidikan merupakan proses
pemanusiawian manusia sehingga perlu menghormati kebebasan peserta
didik untuk menjadi dirinya senidiri.4 yang menjadi faktor penting diperhatikan
dalam pengembangan kurikulum pendidikan.

2
Sukiman. (2015). Pengembangan Kurikulum, Bandung: Rosda Karya, h. 25-26
3
Rusman.(2009). Manajemen Kurikulum, Jakarta: Rajawali Press, h.1.
4
Martini Jamaris.(2013). Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan, Jakarta:
Ghalia Indonesia, h.13.

123
MANAJEMEN KURIKULUM

Namun mutu pendidikan yang diharapkan harus dibarengi peningkatan


yang berkelanjutan melalui pengembangan model pembelajaran sebagai
implementasi dari kurikulum, sehingga umpan balik dari evaluasi terhadap
pelaksanaan meniscayakan adanya pengembangan kurikulum pendidikan
yang dapat dibuat perubahannya dalam rentang waktu tertentu.
Dalam perkembangannya bidang studi pengembangan kurikulum
dewasa ini telah diakui sebagai ilmu terapan. Sebagai ilmu terapan, penge-
tahuan tentang pengembangan kurikulum harus dapat digunakan untuk
menciptakan kurikulum bidang studi pada jenjang pendidikan tertentu
yang efektif. Dengan demikian, pengembangan kurikulum harus berorientasi
kepada kebutuhan bidang studi dan jenjang pendidikan tertentu serta
disesuaikan dengan tingkat perkembangan anak didik.5
Menurut James A. Beane, et al, ada tiga fondasi atau landasan dalam
pengembangan kurikulum, yaitu landasan filsafat, sosiologi dan psikologi.
Senada dengan ini, Nana Sudjana menyebutkan adanya tiga landasan,
yaitu landasan filosofis, landasan sosial budaya, dan landasan psikologis.
S. Nasution menambahkan satu lagi, yaitu landasan organisastoris, diuraikan
sebagai berikut:

1. Landasan Filosofis
Landasan filosofis dimaksudkan, pentingnya filsafat dalam megem-
bangkan kurikulum lembaga pendidikan. Pendidikan berintikan interaksi
antara manusia, terutama antara pendidik dan peserta didik untuk mencapai
tujuan pendidikan, dalam interaksi tersebut banyak persoalan yang bersifat
mendasar, seperti apakah yang menjadi tujuan pendidikan, siapa pendidik
dan peserta didik, apa isi pendidikan dan bagaimana proses interaksi pen-
didikan tersebut. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membutuhkan jawaban
yang mendasar yang esensial, yaitu jawaban-jawaban filosfis.

2. Landasan Psikologis
Landasan psikologis dalam pengembangan kurikulum yang dimaksud
adalah faktor-faktor psikologis yang harus dijadikan dasar pertimbangan

5
Tedjo Narsoyo Reksoatmodjo. (2010). Pengembangan Kurikulum Pendidikan
Teknologi Kejuruan, Bandung: Refika Aditama, h.7.

124
MANAJEMEN KURIKULUM

dalam pengembangan kurikulum. Kurikulum sebagai program pendidikan


secara umum terdiri empat unsur, yaitu, tujuan, materi atau bahan
pelajaran, strategi pembelajaran dan penilaian. Menurut S. Nasution,
landasan psikologis ini dalam pengembangan kurikulum sangat diperlukan,
terutama dalam: 1) seleksi dan organisasi bahan pelajaran, 2) menentukan
kegiatan belajar yang paling serasi, dan 3) merencanakan kondisi belajar
yang optimal agar tujuan belajar tercapai.

3. Landasan Sosial Budaya


Landasan sosial budaya adalah pentingnya aspek-aspek sosial dan
budaya yang berkembang di masyarakat dijadikan acuan dalam pengem-
bangan kurikulum. Hal ini berangkat dari satu premis bahwa pendidikan
lahir dari, oleh, dan untuk masyarakat dan budaya. Di sini ada hubungan
timbal balik yang harmonis antara pendidikan, masyarakat dan budaya

4. Landasan Agama
Landasan agama ini muncul terutama dari pemikir pendidikan Islam,
yang umumnya mempunyai pendirian bahwa segala sistem yang ada
dalam masyarakat, termasuk sistem pendidikan harus meletakkan dasar
falsafah, tujuan, dan kurikulumnya pada ajaran-ajaran agama yang
pokok adalah Al-Quran dan As-Sunnah, dan sumber lainnya adalah
ijtihad. Dari sumber-sumber inilah aspek-aspek atau unsur-unsur pendidikan
dikembangkan, seperti perumusan tujuan pendidikan, materi dan strategi
pelaksanaannya.

5. Landasan Organisatori
Landasaan ini berkenaan dengan masalah, dalam bentuk yang
bagaimana bahan pelajaran dalam kurikulum akan disusun, dikelompokkan
dan disajikan?. Apakah dalam bentuk mata pelajaran yang terpisah-
pisah, ataukah diusahakan adanya hubungan antara pelajaran yang
dikerjakan misalnya dalam bentuk broad-field. Ataukah diusahakan
hubungan secara lebih mendalam dengan menghapuskan segala batas-
batas mata pelajaran, jadi dalam bentuk kurikulum yang terpadu. Tidak
sedikit jenis organisasi kurikulum yang dikembangkan oleh para ahli

125
MANAJEMEN KURIKULUM

kurikulum. S. Nasution mengelompokkan organisasi kurikulum menjadi


dua kelompok besar, yaitu:
1) Kurikulum berdasarkan mata pelajaran (subject curriculum), yang
meliputi:
a) Kurikulum mata pelajaran terpisah-pisah (separate subject curriculum)
b) Kurikulum mata pelajaran gabungan (correlated curriculum)
2) Kurikulum terpadu (integrated curriculum), yang diantara lain meliputi
a) Kurikulum inti (core curriculum)
b) Kurikulum pengalaman (activity curriculum)6

Bagaimanapun, Jenis organisasi yang akan digunakan biasanya


dipengaruhi oleh aliran psikologi (khsus psikologi belajar) yang dianut.
Bagi yang mengikuti paham psikologi sosiasi yang berpendirian bahwa
keseluruhan sama jumlah bagian-bagiannya cendrung memilih kurikulum
yang subject-centered, atau yang berpusat pada mata pelajaran, yang
dengan sendirinya kan terpisah-pisah. Sebaliknya psikologi Gestalt lebih
mengutamakan keseluruhan, karena keseluruhan itu bermakna dan
lebih relevan dengan kebutuhan anak dan masyarakat.
Perlu dipahamami di sini bahwa tidak ada jenis organisasi kurikulum
yang baik dan tidak baik. Setiap organisasi kurikulum mempunyai kebaikan
atau kelebihan, tetapi tidak lepas dari kekurangan ditinjau dari segi-segi
tertentu. Selain itu bermacam-macam organisasi kurikulum dapat dijalankan
secara bersama di satu sekolah bahkan dapat membantu atau melengkapi
yang satu dengan yang lain.
Sementara menurut Sukmadinata, dalam pengembangan kurikulum
banyak pihak yang turut berpartisipasi, yaitu administrator pendidikan,
ahli pendidikan, ahli kurikulum, ahli bidang ilmu pengetahuan, guru-
guru, dan orangtua murid, serta tokoh-tokoh masyarakat. Dari pihak-
pihak tersebut yang secara terus menerus terlibat dalam pengembangan
kurikulum adalah administrator, guru, dan orangtua. Pertama, peranan
administrator pendidikan. Para administrator pendidikan ini terdiri atas:
direktur bidang pendidikan, pusat pengembangan kurikulum, kepala
kantor wilayah, kepala kantor kabupaten dan kecamatan serta kepala
sekolah. Peranan para administrator ditingkat pusat (direktur dan kepala

6
Sukiman. op.cit, h. 33.

126
MANAJEMEN KURIKULUM

pusat) dalam pengembangan kurikulum adalah menyusun dasar-dasar


hukum, menyusun kerangka dasar serta program inti kurikulum. Kerangka
dasar dan program inti tersebut akan menentukan minimum course
yang dituntut.7
Pemerintah pusat, atau administrator tingkat pusat bekerja sama
dengan para ahli pendidikan dan ahli bidang studi di Perguruan Tinggi
serta meminta persetujuannya terutama dalam menyusun kurikulum
sekolah dalam memajukan peradaban bangsa. Bertolak dari kerangka
dasar dan program inti tersebut para administrator daerah (kepala kantor
wilayah) dan administrator lokal (kabupaten, kecamatan dan kepala
sekolah) mengembangkan kurikulum sekolah bagi daerahnya yang sesuai
dengan kebutuhan darerah. Para kepala sekolah mempunyai wewenang
dalam membuat operasionalisasi sitem pendidikan pada masing-masing
sekolah. Para kepala sekolah ini, sesungguhnya yang secara terus menerus
terlibat dalam mengembangkan kurikulum sendiri, tetapi dalam pelaksanaannya
sering harus didorong dan dibantu oleh para admistrator. Administrator
lokal harus bekerja sama dengan kepala sekolah dan guru dalam mengem-
bangkan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, mengkomuni-
kasikan sistem pendidikan kepada masyarakat, serta mendorong pelaksanaan
kurikulum oleh guru-guru di kelas. Peranan kepala sekolah lebih banyak
berkenaan dengan implemntasi kurikulum di sekolahnya. Kepala sekolah
juga mempunyai peranan kunci dalam menciptakan kondisi untuk pengem-
bangan kurikulum di sekolahnya. Ia merupakan figur kunci di sekolah,
kepemimpinan kepala sekolah sangat mempengaruhi suasana sekolah
dan pengembangan kurikulum.
Kedua, peranan ahli. Pengambangan kurikulum bukan saja didasarkan
atas perubahan tuntutan kehidupan dalam masyarakat, tetapi juga perlu
dilandasi perkembangan konsep-konsep dalam ilmu. Mengacu pada
kebijaksanaan-kebijaksanaan yang ditetapkan pemerintah, baik kebijaksanaan
pembangunan secara umum maupun pembangunan pendidikan, perkem-
bangan tuntutan masyarakat, dan masukan-masukan dari pelaksanaan
pendidikan dan kurikulum yang sedang berjalan, para ahli pendidikan
dan kurikulum memberikan alternatif konsep pendidikan dan model

Nana Syaodih Sukmadinata, (2013). Pengembangan Kurikulum, Bandung:Remaja


7

Rosdakarya, h, 155.

127
MANAJEMEN KURIKULUM

kurikulum yang dipandang paling sesuai dengan keadaan dan tuntutan


di atas. Pengembangan kurikulum bukan hanya sekedar memilih dan
menyusun bahan pelajaran dan metode magajar, tetapi meyangkut penentuan
arah dan orientasi pendidikan, pemilihan sistem dan model kurikulum,
baik model konsep, model desain, model evaluasinya, serta berbagai perangkat
dan pedoman penjabaran serta pedoman implemntasi dari model-model
tersebut.
Ketiga, peranan guru, guru memegang peranan yang cukup penting
baik didalam perencanaan maupun pelaksanaan kurikulum. Dia adalah
perencana, pelaksana dan pengembang kurikulum bagi kelasnya. Sekalipun
ia tidak mencetuskan sendiri konsep-konsep tentang kurikulum, guru
merupakan penerjemah kurikulum yang datang dari atas. Dia yang mengolah,
meramu kembali kurikulum dari pusat untuk disajikan dikelasnya. Karena
guru juga merupakan barisan pengembang kurikulum yang terdepan
maka guru pulalah yang selalu melakukan evaluasi dan penyempurnaan
terhadap kurikulum. Peranan guru bukan hanya menilai perilaku dan
prestasi belajar murid-murid dalam kelas, tetapi juga menilai implementasi
kurikulum dalam lingkup yang lebih luas. Hasil-hasil penilaian demikian
akan sangat membantu pengembangan kurikulum, untuk memahami
hambatan-hambatan dalam implementasi kurikulum dan juga dapat
membantu mencari cara untuk mengoptimalkan kegiatan guru.
Guru juga bukan hanya berperan sebagai guru di dalam kelas dia
juga seorang komuniktor, pendorong kegiatan belajar, pengembang
alat-alat belajar, pencoba, penyusun, organisasi, manajer sistem pengajaran,
pembimbing baik di sekolah maupun dimasyarakat dalam hubungannya
dengan pelaksanaan pendidikan seumur hidup. Guru juga berperan sebagai
pelajar dalam masyarakatnya, sebab ia harus selalu belajar struktur sosial
masyarakat, nilai-nilai utama masyarakat, pola-pola tingkah laku dalam
masyarakat. Hal-hal di atas diperlukan untuk mempersiapkan guru dalam
berbagai situasi dan kagiatan pendidikan.
Keempat, peranan orang tua murid. Orang tua yang juga mempunyai
peranan dalam pengembangan kurikulum. Peranan mereka dapat berkenaan
dengan dua hal: pertama dalam menyusun kurikulum dan kedua dalam
pelaksanaan kurikulum. Dalam penyusunan kurikulum mingkin tidak
semua dapat ikut serta, hanya terbatsa pada beberapa orang saja yang
cukup waktu dan mempunyai latar belakang yang memadai. Peranan

128
MANAJEMEN KURIKULUM

orang tua lebih besar dalam pelaksanaan kurikulum. Dalam pelaksanaan


kurikulum diperlukan kerja sama yang sangat erat antara guru atau
sekolah dengan para orang tua murid. Sebagian kegiatan belajar yang
dituntut kurikulum dilaksanakan di rumah, dan orang tua sewajarnya
mengikuti atau mengamati kegiatan belajar anaknya di rumah. Orang
tua juga secara berkala menerima laporan kemajuan anak-anaknya
dari sekolah dan sebagainya. Rapor juga merupakan suatu alat komunikasi
tentang program atau kegiatan pendidikan yang dilaksanakan di sekolah.
Orang tua juga dapat turut berpartisipasi dalam kegiatan di sekolah melalui
berbagai kegiatan seperti diskusi, lokakarya, seminar, pertemuan orang
tua, guru, pameran sekolah dan sebagainya.8
Pengembangan kurikulum berdasarkan manajemen, berarti melak-
sanakan kegiatan pengembangan kurikulum berlandaskan pola pikir
manajemen, atau berdasarkan proses manajemen sesuai fungsi-fungsi
manajemen.9 Rangkaian proses perencanaan, pengorganisasian, koordinasi,
pelaksanaan dan evaluasi/pengawasan. Aktivitas manajemen kurikulum/
pengajaran ini adalah kolaborasi kepala sekolah, dengan wakil kepala
sekolah bersama guru-guru melaksanakan kegiatan manajerial dalam
memaksimalkan pencapaian tujuan dalam pelaksanaan pembelajaran.
Dalam konteks ini penyusunan dan pengembangan kurikulum
menjadi tugas strategis bagi pengelola pendidikan, baik pihak pemerintah
maupun pihak swasta atau yayasan yang mengelola pendidikan formal
di sekolah, pesantren dan madrasah. Prinsip utamanya adalah bahwa
perubahan kurikulum harus mengacu kepada pencapaian tujuan secara
maksimal. Sebab pencapaian tujuan pembelajaran adalah berkenaan
dengan pengembangan potensi anak sebagai kebutuhan dasar dalam
pendidikan agar anak benar-benar dewasa sesuai dengan tuntutan kebijakan
pendidikan nasional.

B. PENGERTIAN PENGEMBANGAN KURIKULUM


Berbicara mengenai pengembangan kurikulum, banyak pendapat

8
Nana Syaodih Sukmadinata.op.cit, h. 157-158.
Oemar Hamalik. (2008). Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Remaja
9

Rosdakarya, h.133.

129
MANAJEMEN KURIKULUM

para ahli ilmu pendidikan dan kurikulum. Mengacu kepada pendapat


Oemar Hamalik, 10pengembangan kurikulum adalah perencanaan
kesempatan-kesempatan belajar yang dimaksudkan untuk membawa
siswa ke arah perubahan-perubahan yang diinginkan dan menilai sampai
di mana perubahan-perubahan itu telah terjadi pada diri siswa.
Zaman terus berubah. Kurikulum yang diterapkan terus menghadapi
berbagai peluang dan hambatan. Lingkungan pendidikan baik internal
maupun eksternal mengalami perubahan. Itu artinya pengembangan
kurikulum menjadi satu keniscayaan. Kurikulum selain sebagai pedoman
juga sebagai alat dalam membelajarkan anak didik. Dalam hal ini, membelajarkan
anak didik di dalam kelas dan di luar kelas berhadapan dengan perubahan
tuntutan sehingga diperlukan pengembangan kurikulum. Proses membelajarkan
anak akan menjadi kurang terarah jika kurikulum tidak memenuhi harapan
dan pemenuhan tugas perkembangan anak. Apalagi perkembangan
anak sangat beragam yang perlu dilayani melalui kurikulum dan pembelajaran
di dalam dan di luar kelas. Kesempatan belajar anak harus dilayani dengan
sebaik-baiknya.
Pendapat lain menjelaskan bahwa pengembangan kurikulum ialah
mengarahkan kurikulum sekarang ke tujuan pendidikan yang diharapkan
karena adanya berbagai pengaruh yang sifatnya positif yang datangnya
dari luar atau dari dalam sendiri, dengan harapan agar peserta didik
dapat menghadapi masa depannya dengan baik.11
Dalam kajian ini dipahami bahwa kegiatan pengembangan adalah
penyusunan, pelaksanaan, penilaian, dan penyempurnaaan kurikulum.
Istilah pengembangan menunjukkan pada suatu kegiatan menghasilkan
suatu alat atau cara yang baru. Selama kegiatan tersebut, penilaian dan
penyempurnaan terhadap alat atau cara tersebut terus dilakukan. Bila
setelah mengalami penyempurnaan-penyempurnaan akhirnya alat atau
cara tersebut dipandang cukup mantap untuk digunakan seterusnya,
maka berahkhirlah kegiatan pengembangan tersebut.
Pengertian pengembangan sebagaimana dimaksud berlaku pula

10
Oemar Hamalik.(2008). Manajemen Pengembangan Kurikulum. Bandung:
Remaja Rosdakarya, h.97.
11
Dakir. (2010). Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Bumi
Aksara, h.91.

130
MANAJEMEN KURIKULUM

dalam bidang kurikulum. Kegiatan pengembangan kurikulum mencakup


kegiatan penyusunan kurikulum itu sendiri, pelaksanaan di sekolah-
sekolah yang disertai dengan penilaian yang intensif, dan penyempurnaan-
penyempurnaan yang dilakukan terhadap komponen-komponen tertentu
dari kurikulum tersebut atas dasar hasil penilaian. Bila kurikulum itu
sudah dianggap cukup matang, setelah mengalami penilaian dan penyem-
purnaan, maka berakhirlah tugas pengembangan kurikulum tersebut
untuk kemudian dilanjutkan dengan tugas pembinaan. Jadi, pengembangan
kurikulum atau disebut dengan curriculum development pada dasarnya
adalah proses yang dimulai dari kegiatan menyusun kurikulum, meng-
implementasikan, mengevaluasi, dan memperbaiki sehingga diperoleh
suatu bentuk kurikulum yang dianggap ideal.12
Menurut Sukmadinata mengembangkan suatu kurikulum banyak
pihak yang turut berpartisipasi, yaitu: administrator pendidikan, ahli
pendidikan, ahli kurikulum, ahli bidang ilmu pengetahuan, guru-guru,
dan orangtua murid serta tokoh-tokoh masyarakat. Dari pihak tersebut
yang secara terus-menerus turut terlibat dalam pengembangan kurikulum
adalah: admistrator, guru, dan orangtua.13
Istilah pengembangan kurikulum mencakup dimensi yang luas.
Itu artinya pengembangan kurikulum adalah istilah yang komprehensif
yang meliputi perencanaan, penerapan, dan evaluasi karena pengembangan
kurikulum menunjukkan perubahan-perubahan dan kemajuan-kemajuan.
Peningkatan kurikulum sering digunakan bersinonim dengan pengembangan
kurikulum meskipun dalam beberapa kasus dipandang sebagai hasil
pengembangan setlah dilakukan evaluasi kurikulum dan kemudian dilakukan
perubahan ke arah yang lebih baik.
Adapun pengembangan kurikulum dengan pendekatan fungsi manajemen
seperti pendapat Hamalik yang dikutip oleh Wahyudin menjelaskan bahwa,
pengembangan kurikulum berlandaskan manajemen berarti melaksanakan
kegiatan pengembangan kurikulum berdasarkan pola pikir manajemen
atau berdasarkan proses menajemen sesuai dengan fungsi-fungsi manajemen
yang terdiri atas : 1) perencanaan kurikulum; 2) pengorganisasian; 3)
implementasi kurikulum; 4) ketenagaan dalam pengembangan kurikulum;

12
Sukiman. op.cit, h. 5-6.
13
Nana Syaodih Sukmadinata.op.cit. h.155.

131
MANAJEMEN KURIKULUM

5) kontrol kurikulum yang mencakup evaluasi kurikulum; 7) mekanisme


pengembangan kurikulum secara menyeluruh. Keenam fungsi manajemen
pengembangan kurikulum di atas merupakan tahap-tahap dari proses
manajemen pengembangan kurikulum.14
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pengembangan
kurikulum adalah proses memaksimalkan pelaksanaan kurikulum
dalam mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan sebagaimana
dalam kurikulum yang ditetapkan pemerintah setelah dilaksanakan
dalam waktu tertentu. Biasanya pengembangan kurikulum ini adalah
proses pembaruan kurikulum setelah dilakukan evaluasi kurikulum
setelah dilaksanakan, bisa saja dilakukan atas kebijakan pemerintah
dan juga dapat dilakukan oleh pihak sekolah bersama dengan guru dalam
mendukung optimalisasi pelaksanaan kurikulum pendidikan di sekolah
dan luar sekolah terhadap perkembangan anak didik.

C. PRINSIP-PRINSIP PENGEMBANGAN KURIKULUM


Untuk melakukan tindakan pengembangan kurikulum sebagai pekerjaan
yang sistematik, maka perlu dipedoman sejumlah prinsip pengembangan
kurikulum. Menurut Sukiman, dalam pengembangan kurikulum terdapat
sejumlah perinsip umum yang diapakai sebagai rambu-rambu atau pedoman
agar kurikulum yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan keinginan
yang diharapkan semua pihak yakni peserta didik sendiri, keluarga, lembaga
pendidikan, masyarakat dan juga pemerintah. Adapun prinsip-prinsip
umum tersebut dapat dikemukakan yaitu:
1. Prinsip Berorientasi pada Tujuan
Prinsip berorientasi pada tujuan dimaksudkan agar perumusan unsur-
unsur kurikulum lainnya serta semua kegiatan pembelajaran didasarkan
dan mengacu pada tujuan yang akan dicapai. Tujuan merupakan suatu
yang sangat esensial sebab sangat besar maknanya, baik dalam rangka
perncanaan maupun dalam rangka penilaian. Dalam perencanaan,
tujuan memberikan petunjuk untuk memilih dan menetapkan materi/
isi pelajaran, mengalokasikan waktu, memilih strategi pembelajaran,

14
Dinn Wahyudin.(2014). Majemen Kurikulum, Bandung: Remaja Rosdakarya,
h. 73.

132
MANAJEMEN KURIKULUM

memilih media, dan menyediakan ukuran (standar) untuk mengukur


prestasi belajar peserta didik. Tujuan-tujuan sekaligus merupakan
kriteria untuk menilai mutu dan efesiensi pengajaran.
2. Prinsip Relevansi
Dalam pengembangan kurikulum, prinsip relavansi yang dimaksud
adalah, adanya hubungan, kaitan, kesesuain, atau keserasian antar
unsur-unsur kurikulum sendiri dan antara isi kurikulum dengan
tuntutan dan kebutuhan hidup yang ada di masyarakat
3. Prinsip Efektivitas
Efektivitas merupakan suatu kegiatan berhubungan dengan sejauh
mana apa yang direncanakan atau diinginkan dapat terlaksana atau
tercapai. Suatu usaha dapat dikatakan efektif jika usaha itu mampu
mendekati perencanaan yang telah ditentukan. Sebaliknya usaha
itu tidak efektif jika usaha itu semakin dengan apa yang direncanakan.
4. Prinsip Efisiensi
Prinsip efisiensi adalah berhubungan dengan perbandingan antara
hasil yang dicapai dengan usaha yang dijalankan atau biaya yang
dikelarkan. Sebaliknya jika hasil yang dicapai tidak sebanding dengan
apa yang dikelurkan, maka dapat dikatakan tidak efisien. Dalam pengem-
bangan kurikulum, prinsip efesiensi harus mendapat perhatian, termask
efesiensi segi waktu, tenaga, peralatan, dan biaya. Efesiensi waktu
perlu direncanakan, kegiatan belajar mengajar peserta didik agar
tidak banyak membuang waktu di lembaga pendidikan.
5. Prinsip Kontinuitas (kesinambungan)
Kesinambungan dimaksud adanya semacam hubungan yang saling
menjalin antara berbagai tingkat dan jenis program pendidikan terutama
mengenai tujuan dan bahan pembelajaran. Kontiunitas ini dapat
dilihat dari segi
a. Kontiunitas antara Berbagai Tingkat Lembaga Pendidikan
Dalam pengembangan kurikulum, hendaknya dipertimbangan
hal-hal berikut ini: pertama, kemampuan/kompetensi dan bahan-
bahan pelajaran yang dibutuhkan untuk belajar pada tingkat berikutnya
hendaknya sudah diajarkan pada tingkat sebelumnya. Misalnya,
pada tingkat Sekolah Dasar, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi harus
ada kesinambungan kurikulum secara hierarkis funsional menurut

133
MANAJEMEN KURIKULUM

bidang telaahnya masing-masing. Kedua, kemampuan kompotensi


dan bahan-bahan pelajaran yang sudah diajarkan pada tingkat
lembaga pendidikan yang lebih rendah tidak perlu diajarkan lagi
pada lembaga pendidikan yang lebih tinggi.
b. Kontiunitas antara Berbagai Mata Pelajaran
Kompotensi dan bahan yang diajarkan dalam berbagai mata pelajaran
sering mempunyai hubungan satu sama lainnya. Untuk itu, urutan
dalam penyajian berbagai mata pelajaran hendaknya diupayakan
agar hubungan tersebut dapat terjalin dengan baik. Misalnya,
untuk memahami tentang mawaris (warisan) dalam mata pelajaran
agama, sebelumnya perlu memahami mata pelajaran matemakia
c. Prinsip Fleksibilitas
Prinsip fleksibilitas maksudnya adalah, hendaknya kurikulum
memiliki sifat lentur dalam arti ada semacam ruang gerak yang
memberikan sedikit kebebasan dalam bertindak bagi guru/pendidik
dan peserta didik. Fleksibilitas bagi peserta didik diwujudkan dalam
bentuk kebebasan dalam memilih program pendidikan, dan fleksibilitas
bagi guru adalah dalam bentuk pengembangan program pembelajaran.
Fleksibilitas dalam memilih program pendidikan dapat diwujudkan
dalam bentuk pengadaan program-program pilihan yang dapat
dibentuk jurusan/program spesialisasi ataupun program-program
pendidikan keterampilan yang dapat dipilih peserta didik atas
dasar kemampuan dan minatnya.
d. Prinsip Belajar Seumur Hidup
Prinsip belajar seumur hidup (long life learning) merupakan konsep
pendidikan yang mengarah pada ide pendidikan yang memberikan
kesempatan bagi setiap peserta didik untuk mempunyai kesadaran
dan kemauan untuk selalu membuka diri, mengembangkan kemampuan
dan kepribadian melalui kegiatan belajar. Tidak harus terikat dengan
sistem pendidikan sekolah (pendidikan formal), melainkan secara
belajar mandiri sepanjang hidup.
e. Prinsip Sinkronisasi
Prinsip Sinkronisasi dimaksudkan adanya sifat yang searah dan
setujuan dengan semua kegiatan yang dilakukan oleh kurikulum.
Kegiatan-kegiatan kurikuler yang diinginkan, bukan saling meng-

134
MANAJEMEN KURIKULUM

hambat kegiatan kurikuler yang lain sehingga dapat menganggu


keterpaduan. Kurikulum sebagai suatu sistem komponen-komponen
kurikulum harus bersifat padu dan membentuk satu kesatuan
yang utuh. Dengan keterpaduan semua komponen yang ada dalam
sistem itu, semua kegiatan yang diarahkan oleh satu komponen
dengan yang lain tidak bertentangan kurikulum yang bersifat
sinkron, pada gilirannya, akan memungkinkan tercapainya tujuan
pendidikan yang diharapkan.15

Sementara itu, prinsip-prinsip pengembangan kurikulum menurut


Hamalik (2002) adalah sebagai berikut:
1. Berorientasi pada tujuan, artinya pengembangan kurikulum diarahkan
untuk mencapai tujuan tertentu, yang bertitik tolakdari tujuan pendidikan
nasional. Tujuan kurikulum mengandung aspek-aspek pengetahuan,
keterampilan, sikap dan nilai yang selanjutnya menumbuhkan perubahan
tingkah laku peserta didik yang mencakup ketiga aspek tersebut dan
bertalian dengan aspek-aspek yang terkandung dalam tujuan pendidikan
nasional.
2. Relevansi (kesesuaian) artinya pengembangan kurikulum yang meliputi
tujuan, isi dan sistem penyampaiannya harus relevan (sesuai) dengan
kebutuhan dan keadaan masyarakat, tingkat perkembangan dan kebutuhan
peserta didik, serta serasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan
dan teknologi.
3. Efesiensi dan efektivitas, artinya pengembangan kurikulum harus
mempertimbangkan segi efesiensi dalam pendayagunaan daya, waktu,
tenaga dan sumber-sumber yang tersedia agar dapat mencapai hasil
yang optimal.
4. Fleksibilitas (keluwesan) artinya kurikulum haruslah luwes, mudah
disesuaikan, diubah, dilengkapi atau dikurangi berdasarkan tuntutan
dan keadaan ekosistem dan kemampuan setempat, jadi tidak statis
atau kaku.
5. Berkesinambungan (kontiunitas), artinya kurikulum disusun secara
berkesinambungan dimana bagian-bagian, aspek-aspek, materi dari

15
Sukiman, op.cit,h. 40

135
MANAJEMEN KURIKULUM

bahan kajian disusun secara berurutan, tidak terlepas-lepas, melainkan


satu sama lain memiliki hubungan fungsional yang bermakna, sesuai
dengan jenjang pendidikan struktur dalam satuan pendidikan, tingkat
perkembangan peserta didik.
6. Keseimbangan, artinya penyusunan kurikulum harus memerhatikan
keseimbangan secara proporsional dan fungsional antara berbagai
program dan sub-program, antara semua mata ajaran dan antara
aspek-aspek perilaku yang ingin dikembangkan. Keseimbangan juga
perlu diadakan antara teori dan praktek, antara unsur-unsur keilmuan
sains, sosial humaniora dan keilmuan perilaku. Dengan keseimbangan
tersebut diharapkan terjalin perpaduan yang lengkap dan menyeluruh.
7. Keterpaduan, artinya kurikulum dirancangdan dilaksanakan berdasarkan
prinsip keterpaduan. Perencanaan terpadu bertitik tolak dari masalah
atau topik dan konsistensi antara unsur-unsurnya. Pelaksanaan terpadu
dengan melibatkan semua pihak, baik dilingkungan sekolah maupun
pada tingkat inter-sektoral. Dengan keterpaduan ini diharapkan terbentuk-
nya pribadi yang bulat dan utuh. Di samping itu juga dilaksanakan
keterpaduan dalam proses pembelajaran, baik dalam interaksi antara
siswa dan guru maupun antara teori dan praktik.
8. Mutu, artinya pengembangan kurikulum berorientasi pada pendidikan
mutu dan mutu pendidikan. Pendidikan mutu berarti pelaksanaan
pembelajaran yang bermutu, sedangkan mutu pendidikan berorientasi
pada hasil pendidikan yang berkualitas. Pendidikan yang bermutu
ditentukan oleh derajat mutu guru, kegiatan belajar mengajar, peralatan/
media yang bermutu. Hasil pendidikan yang bermutu diukur berdasarkan
kriteria tujuan pendidikan nasional yang diharapkan.

Prinsip-prinsip tersebut perlu dipertimbangkan oleh para perancang


kurikulum, baik dalam penyusunan kurikulum maupun dalam pengembangan
kurikulum meskipun sudah ada drat kurikulum yang dilaksanakan sebelumnya.
Namun karena perubahan sosial terjadi, seiring dengan kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi maka prinsip-prinsip kurikulum diproses
selanjutnya.

136
MANAJEMEN KURIKULUM

D. PENDEKATAN PENGEMBANGAN KURIKULUM


Proses pengembangan kurikulum tidak boleh dikerjakan dengan
serampangan. Karena perubahan dan pengembangan kurikulum harus
terencana, terarah dan terpadu. Mengingat potensi anak yang dikembangkan
melalui optimalisasi pengembangan kurikulum maka kemajuan dan
peningkatan kualitas pembelajaran dipastikan dapat diraih dengan semestinya.
Menurut Wahyudin, pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak
atau sudut pandang seseorang terhadap suatu proses tertentu. Istilah
pendekatan merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses
yang sifatnya masih sangat umum. Dengan demikian, pendekatan pengem-
bangan kurikulum menunjuk pada titik tolak atau sudut pandang secara
umum tentang proses pengembangan kurikulum16. Wahyudin juga ber-
pendapat jika dilihat dari cakupan pengembangannya ada dua pendekatan
yang dapat diterapkan dalam pengebangan kurikulum. Pertama, pendekatan
top down atau pendekatan administratif, yaitu pendekatan dengan sistem
komando dari atas ke bawah; dan kedua adalah pendekatan grass root,
atau pengembangan kurikulum yang diawali oleh inisiatif dari bawah
lalu disebarluaskan pada tingkat atau skala yang lebih luas. Istilah singkatnya
sering dinamakan pengembangan kurikulum dari bawah ke atas. Berikut
sekilas tentang kedua pendekatan tersebut.

1. Pendekatan Top Down


Dikatakan pendekatan top down karena pengembangan kurikulum
muncul atas inisiatif para pejabat pendidikan atau para kepala kantor
wilayah. Selanjutnya dengan menggunakan semacam garis komando,
pengembangan kurikulum diteruskan ke bawah. Biasanya pendekatan
ini banyak dipakai oleh negara-negara yang memiliki sistem pendidikan
sentralisasi. Dilihat dari cakupan pengembangannya, pendekatan top
down bisa dilakukan, baik untuk menyusun kurikulum yang benar-benar
baru ataupun untuk penyempurnaan kurikulum yang sudah ada. Prosedur
kerja atau proses pengembangan kurikulum model ini dilakukan dengan
menggunakan langkah-langkah sebagai berikut: 1). Dimulai dengan pembentukan
tim pengarah oleh pejabat pendidikan. Anggota tim biasanya terdiri dari

16
Wahyudin.2014. Op.cit, h.47

137
MANAJEMEN KURIKULUM

pejabat yang ada di bawahnya, seperti para pengawas pendidikan, ahli


kurikulum, ahli disiplin ilmu, dan bisa juga ditambah dengan para tokoh
dari dunia kerja. Tugas tim pengarah ini adalah merumuskan konsep
dasar, garis-garis kebijakan, menyiapkan rumusan falsafah dan tujuan
umum pendidikan. 2). Menyusun tim atau kelompok kerja untuk menjabarkan
kebijakan atau rumusan-rumusan yang telah disusun oleh tim pengarah.
Anggota kelompok kerja ini adalah para ahli kurikulum, para ahli disiplin
ilmu dari perguruan tinggi, ditambah dengan guru-guru senior yang
sudah berpengalaman. Tugas pokok tim adalah merumuskan tujuan-
tujuan yang lebih operasional, dari tujuan-tujuan umum, memilih dan
menyusun sequence bahan pelajaran, memilih strategi pengajaran dan
alat untuk petunjuk evaluasi, serta menyusun pedoman-pedoman pelaksanaan
kurikulum petunjuk evaluasi. 3). Apabila kurikulum sudah selesai disusun
oleh tim atau kelompok kerja, selanjutnya hasilnya diserahkan kepada
tim perumus untuk dikaji dan diberi catatan-catatan atau revisi. Jika
dianggap perlu, kurikulum itu diujicobakan atau dievaluasi kelayakannya
oleh suatu tim yang ditunjuk para administrator. Hasil uji coba itu digunakan
sebagai bahan penyempurnaan. 4). Para administrator selanjutnya memerin-
tahkan kepada setiap sekolah untuk mengimplementasikan kurikulum
yang telah disusun itu17.

2. Pendekatan Grass Root


Pemegang kebijakan kemudian turun ke stafnya atau dari atas ke
bawah. Jadi, dalam model grass root, inisiastif pengembangan kurikulum
dimulai dari lapangan atau dari guru-guru sebagai implementator, kemudian
menyebar pada lingkungan yang lebih luas. Oleh karena sifatnya yang
demikian, pendekatan ini lebih banyak digunakan dalam penyempurnaan
kurikulum. Dalam kondisi yang bagaimana kira-kira guru dapat berinisiatif
memperharui/menyempurnakan kurikulum dengan pendekatan semacam
ini? Minimal ada syarat sebagai kondisi yang memungkinkan, yaitu:
1). Manakala kurikulum itu benar-benar bersifat lentur sehingga memberikan
kesempatan kepada setiap guru secara lebih terbuka untuk memperbaharui
atau menyempurnakan kurikulum yang sedang diberlakukan. Kurikulum

17
Ibid,h. 48

138
MANAJEMEN KURIKULUM

yang bersifat kaku, yang hanya mengandung petunjuk dan persyaratan


teknis sangat sulit dilakukan pengembangannya dengan pendekatan
ini. 2). Hanya mungkin terjadi manakala guru memiliki sikap profesional
yang tinggi desertai kemampuannya yang memadai. Sikap profesional
itu biasanya ditandai dengan keinginan untuk mencoba dan mencoba
sesuatu yang baru dalam upaya meningkatkan kinerjanya.
Menurut Wahyudin, ada beberapa langkah penyempurnaan kurikulum
yang dapat dilakukan manakala menggunakan pendekatan grass roots
ini.
(1) Menyadari adanya masalah. Pendekatan grass roots biasanya diawali
dari keresahan guru tentang kurikulum yang berlaku. Misalnya dirasakan
ketidakcocokan penggunaan strategi pembelajaran, atau masalah
kurangnya motivasi belajar siswa sehingga kita merasa terganggu.
Pemahaman dan kesadaran guru akan adanya suatu masalah merupakan
kunci dalam grass roots. Tanpa adanya kesadaran masalah, tidak
mungkin graas roots dapat berlangsung;
(2) Mengdakan refleksi. Kalau kita merasakan adanya masalah maka
selanjutnya kita berusahan mencari penyebab munculnya masalah
tersebut. Refleksi dikaji dengan mengkaji literatur yang relevan dengan
masalah yang kita hadapi atau mengkaji sumber informasi lain misalnya
melacak sumber-sumber internet atau melakukan diskusi dengan
teman sejawat dan mengkaji sumber dari lapangan, misalnya melakukan
wawancara dengan siswa, orang tua, atau sumber lain;
(3) Mengajukan hipotesi atau jawaban sementara. Berdasarkan hasil
kajian refleksi, selanjutnya guru memetakan berbagai kemungkinan
muculnya masalah dan cara penanggulangannya;
(4) Menentukan hipotesis yang sangat mungkin dekat dan dapat dilakukan
sesuai dengan situasi dan kondisi lapangan;
(5) Mengimplementasikan perencanaan dan menggevaluasi secara terus
menerus sehingga terpecah masalah yang hadapi;
(6) Membuat dan menyusun laporan hasil pelaksanaan pengembangan
melalui grass roots. Langkah ini sangat penting dilakukan sebagai
bahan publikasi sehingga memungkinkan dapat dimanfaatkan dan

139
MANAJEMEN KURIKULUM

diterapkan oleh orang lain yang pada gilirannya hasil pengembangan


dapat tersebar.18

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan-


pendekatan kurikulum adalah faktor yang digunakan dalam memahami
hakikat kurikulum yang dilaksanakan sehingga dalam praktiknya, kurikulum
benar-benar terealisasikan menjadi pembelajaran aktif yang diharapkan.
Dengan demikian, pelaksanaan kurikulum menghasilkan pembelajaran
dan keluaran/prestasi belajar siswa yang nantinya akan dievaluasi secara
menyeluruh sehingga menghasilkan pembelajaran baru yang lebih bermakna.
Kurikulum tingkat satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar
dan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman
pada standar kompetensi lulusan dan standar

Tabel 7
Perubahan Paradigma Kurikulum

Kurikulum Tingkat
Aspek Kurikulum lama
Satuan Pendidikan
Siswa Pasif Aktif-kreatif-produktif
Kurikulum Subject Based Competency Based
Guru Instruktif Fasilitatif
Sarana Prasarana Weaknessess Adequate
Pembelajaran Pasif Learning Aktif Learning
Evaluasi Subject Oriented Competency
Manajemen Sentralistik Desentralistik (MBS)
Supervisi dan Model tagihan Model bimbingan dan
pengawasan pemberdayaan
Lingkungan dan Cenderung pasif Kondusif (peduli)
Masyarakat

Isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh Badan


Standar Nasional Pendidikan (BSNP). Kurikulum dikembangkan berdasarkan
prinsip-prinsip berikut:

18
Wahyudin.(2014). Menejemen Kurikulum, Bandung: Remaja Rosdakarya,
h.49

140
MANAJEMEN KURIKULUM

1. Berpusat pada potensi, perkembangan kebutuhan dan kepentingan


peserta didik dan lingkungan.
Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik
memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri
dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi
peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan
dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.
2. Beragam dan terpadu.
Kurikulum dikembangkan dengan mementingkan keragaman karakteristik
peserta didik, kondisi daerah dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa
membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status
sosial ekonomi dan gender kurikulum meliputi substasi komponen
muatan wajib kurikulum, muatan lokal dan pengembangan diri secara
terpadu serta disusun dalam berkaitan dan kesinambungan yang
bermakna dan tepat antarsubstansi.
3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan teknologi dan
seni.
Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan,
teknologi dan seni berkembang secara dinamis. Oleh karena itu, semangat
dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan me-
manfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi
dan seni.
4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan.
Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku
kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan
dengan kebutuhan kehiduoan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasya-
rakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan
keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan
akademik dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.
5. Menyeluruh dan berkesinambungan.
Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi,
bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan
disajikan secara berkesinambungan antar semua jenjang pendidikan

141
MANAJEMEN KURIKULUM

6. Belajar sepanjang hayat.


Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan,
dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat.
Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan
formal, nonformal dan informal, dengan memperhatikan kondisi dan
tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan
manusia seutuhnya.
7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.
Kurikulum dikembangkan dengan memerhatikan kepentingan nasional
dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat,
berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan
daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan
motto Bhinneka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

Perubahan atau pengembangan kurikulum bukanlah pekerjaan


yang mudah atau sederhana. Menurut Sudjana (2002), ada sepuluh
langkah yang harus ditempuh dalam melakukan pembaharuan kurikulum,
yakni:
1. Mengenal atau mengidentifikasi kebutuhan perubahan kurikulum,
artinya menilai ada tidaknya masalah-masalah pokok yang harus
dilakukan perubahan. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemilaian
dan pengukuran pedahuluan terhadap kurikulum yang sedang berjalan.
2. Mobilisasi suatu perubahan kurikulum, artinya setelah ditemukan
masalah pokok yang menjadi garapan perubahan kurikulum, barulah
dipikirkan wadah yang akan mengorganisasi perubahan tersebut.
Wadah tersebut bisa berupa badan atau komite yang bisa bekerja
secara rutin.
3. Studi tentang masalah dan kebutuhan masyarakat, artinya dalam
mengembangkan suatu kurikulum dilakukan analisis terhadap sektor-
sektor masyarakat, baik masalahnya maupun kebutuhannya. Beberapa
aspek yang perlu dianalisis dan diteliti untuk keperluan pembaharuan
kurikulum antara lain: potensi sosial ekonomi, sistem nilai-nilai (sosial
dan moral) yang berlaku, masalah dan kebutuhan masyarakat, lapangan
pekerjaan (job analysis), masalah-masalah sosial, seperti ketegangan/
konflik sosial, dan pengangguran.

142
MANAJEMEN KURIKULUM

4. Studi tentang karakteristik dan kebutuhan peserta didik, artinya dalam


mengembangkan kurikulum harus memperhatikan perkembangan,
pertumbuhan, bakat, minat, kesanggupan, dan kebutuhan peserta
didik.
5. Formulasi tujuan pendidikan, artinya dalam mengembangkan kurikulum
harus menjabarkan tujuan pendidikan secara umum yang bersifat
filosofis, sosiologis, dan psikologis kedalam tujuan-tujuan institusional
yang bersifat tingkah laku operasional sehingga mudah dipahami
oleh para guru di lapangan.
6. Menetapkan aktivitas belajar dan mata pelajaran, artinya (sebagai
isi kurikulum) yang memadai dan menunjang tercapainya tujuan
pendidikan tersebut. Pemilihan aktivitas belajar dan pemilihan mata-
mata pelajaran yang serasi dengan tujuan, merupakan tugas berat
dan memerlukan penghayatan yang tinggi terhadap nilai-nilai ilmu
pengetahuan beberapa kriteria dalam memilih aktivitas belajar dan
jenis mata pelajaran adalah: (1) mata pelajaran harus berorientasi
dan mendukung tercapainya tujuan pendidikan; (2) pengalaman
belajar hendaknya sesuai dengan minat dan kebutuhan peserta didik;
(3) pengalaman belajar hendaknya mencakup berbagai aspek kegiatan
belajar; (4) memeberi kesempatan kepada peserta didik untuk mem-
praktikkan hal-hal yang telah dipelajarinya; (5) mata pelajaran yang
dipilih harus berorientasi akademis, praktis, dan sesuai dengan tingkat
perkembangan peserta didik;(6) mata pelajaran yang dipelajari berguna
dan berhubungan nilai-nilai dan kepentingan masyarakat ; (7) mata
pelajaran dan aktivitas belajar mendorong minat dan pembentukan
sikap peserta didik.
7. Mengorganisasi pengalaman belajar dan perencanaan unit-unit pelajaran,
artinya pengembangan kurikulum harus memperhatikan pengorganisasian
pengalaman belajar dan perencanaan unit-unit pelajaran secara tepat.
8. Pengujian kurikulum yang diperbaharui, artinya kurikulum yang
telah diperbaharui sebelum dilaksanakan di lapangan harus diuji cobakan
(Tryout) terlebih dahulu agar mempercepat hasil yang optimal. Hasil
uji coba dianalisis, diamati untuk diadakan revisi seperlunya.
9. Pelaksanaan kurikulum baru, artinya kurikulum baru yang telah disusun,
direvisi dan telah diujicobakan, hendaknya diterapkan dengan mengerahkan

143
MANAJEMEN KURIKULUM

seluruh opini masyarakat agar menerima ide-ide pembaharuan dalam


kurikulum tersebut.
10. Evaluasi dan revisi berikutnya, artinya kurikulumm baru yang sudah
diberlakukan dievaluasi dan dimonitoring untuk melihat kualitas
dan efektivitas kurikulum tersebut untuk selanjutnya dilakukan
revisi kalau diperlukan.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa pembaharuan


kurikulum adalah suatu keniscayaan dan keharusan dalam rangka menuju
mutu pendidikan yang berkualitas dan mampu merespon tuntutan terhadap
kehidupan berdemokrasi, globalisasi dan otonomi daerah (SLTP 2001).
Pemerintah melalui departemen pendidikan nasional kini melakukan
pembaharuan kurikulum dengan menerapkan kurikulum tingkat satuan
pendidikan (KTSP) merupakan hasil revisi dari kurikulum berbasis kompetensi
untuk menggantikan kurikulum sebelumnya yang cenderung content
based. Kurikulum baru tersebut menekankan aspek kompetensi yang
diharpakan akan menghasilkan lulusan yang lebih baik dan siap menghadapi
kehidupan di masyarakat. KTSP ingin memusatkan diri pada pengembangan
seluruh kompetensi peserta didik. Peserta didik dibantu agar kompetensinya
muncul dan berkembang secara maksimal. Melalui proses belajar mengajar
yang menekankan kompetensi dengan pendekatan Contextual Teaching
and Learning (CTL) dan lifeskill diharapkan peserta didik akan menjadi
pribadi yang unggul secara akademis maupun non akademis.
Ada beberapa alasan mengapa KTSP menjadi pilihan dalam upaya
perbaikan kondisi pendidikan tanah air, antara lain: (1) potensi siswa
sudah berbeda-beda dan potensi tersebut akan berkembang jika stimulusnya
tepat; (2) mutu hasil pendidikan yang masih rendah serta mengabaikan
aspek-aspek moral, akhlak, budi pekerti, seni dan olahraga serta lifeskill;
(3) persaingan global sehingga menyebabkan siswa/anak yang mampu
akan berhasil/eksis dan yang kurang mampu akan gagal; (4) persaingan
kemampuan SDM produk lembaga pendidikan; serta (5) persaingan
terjadi pada lembaga pendidikan sehingga perlu rumusan yang jelas
mengenai tandar kompetensi lulusan, yang selanjutnya standar kompetensi
mata pelajaran perlu dijabarkan menjadi sejumlah kompetensi dasar.
Selama ini hasil pendidikan hanya tampak dari kemampuan peserta
didik menghafal sejumlah fakta-fakta tanpa mengerti bagaimana hubungan

144
MANAJEMEN KURIKULUM

antara fakta yang ada dengan kehidupan sehari-hari. Hal ini sesuai dengan
yang disinyalir pemerintah.
“Sebagian besar dari siswa tidak mampu menghubungkan antara
yang mereka pelajari dan bagaimana pengetahuan tersebut akan dipergunakan
atau dimanfaatkan. Siswa memiliki kesulitan untuk memahami konsep
akademik sebagaimana mereka biasa diajarkan, yaitu menggunakan
sesuatu yang abstrak dan metode ceramah. Mereka sangat butuh untuk
memahami konsep-konsep yang berhubungan dengan tempat kerja
dan masyarakat pada umumnya di mana mereka akan hidup dan
bekerja” (Depdiknas 2002).
Dalam melakukan pengembangan kurikulum, sulit bagi kita untuk
melepaskan diri dari konsep model pengembangan kurikulum yang
merupakan bagian integral dalam studi pengembangan kurikulum, bahkan
sering dianggap sebagai bagian yang lebih penting dibandingkan dengan
dimensi lain, karena produk akhir dari proses pengembangan kurikulum
adalah suatu kurikulum yang siap pakai. Suatu model berkenaan dengan
penyajian suatu objek tertentu, baik secara fisik maupun konseptual sehingga
mudah dipahami oleh pengamat. Menurut Fred Percipal dalam Hamalik
(2000: 2), “Model aphysical or conceptual representation of an object or
system, incorporating certain specific features of the original”. Rumusan
ini menunjukkan bahwa suatu model adalah suatu penyajian konseptual
dari suatu objek atau sistem yang mengombinasikan atau menyatukan
bagian-bagian khusus tertentu dari objek yang aslinya. Jadi suatu
model bukan yang aslinya, melainkan semacam rancangan sebagai
reproduksi dari bentuk yang asli.
Secara umum, ada dua pendekatan yang dapat diterapkan dalam
pengembangan kurikulum. Pertama pendekatan top down, yaitu pendekatan
dengan sistem komando dari atas ke bawah dan pendekatan kedua dari
model grassroots, di mana pengembangan kurikulum diawali oleh inisiatif
dari bawah lalu disebarluaskan pada tingkat atau skala yang lebih luas.
Model pengembangan kurikulum pendekatan grassroot/induktif
dikembangkan dari guru sebagai pengembang kurikulum melalui lima
tahap sampai pada penetapan kerangka kerja sebelum kemudian diimplemen-
tasikan di sekolah sebagai lembaga pendidikan.
Pengembangan kurikulum menurut cara yang tradisional, dilakukan

145
MANAJEMEN KURIKULUM

secara deduktif, dengan urutan: 1) Penentuan prinsip-prinsip dan kebijaksanaan


dasar; 2) Merumuskan desain kurikulum yang bersifat menyeluruh didasarkan
atas komitmen-komitmen tertentu; 3) Menyusun unit-unit kurikulum
sejalandengan desain yang menyuluh; dan 4) Melaksanakan kurikulum
di kelas.
Sejatinya kurikulum merupakan sebuah perencanaan untuk menye-
diakan seperangkat kesempatan belajar bagi individu supaya menjadi
terdidik. Perencanaan kurikulum merupakan beberapa rencana unit-
unit kecil pada bagian-bagian tertentu dari sebuah kurikulum. Langkah-
langkah pengembangan kurikulum model Saylor dkk adalah sebagai
berikut.
1. Perumusan goals dan objective. Saylor, dkk. mengklasifikasikan tujuan
menjadi empat domain, yaitu pengembangan pribadi, kompetensi
sosial, keterampilan belajar yang berkesinambungan, dan spesialisasi.
2. Merancang kurikulum, yaitu tahapan dalam menentukan kesempatan
belajar untuk setiap domain, bagaimana dan kapan kesempatan belajar
itu diberikan.
3. Implementasi kurikulum, yaitu tahapan untuk menentukan metode
dan strategi yang akan digunakan untuk menjalin hubungan dan
berinteraksi dengan para siswa.
4. Evaluasi kurikuium, meliputi: 1) evaluasi program pendidikan sekolah
secara keseluruhan, meliputi tujuan institusional, subtujuan institusional,
tujuan instruksional, efektivitas instruksional, dan prestasi siswa
dalam beberapa bagian program sekolah; 2) evaluasi program untuk
menentukan apakah tujuan institusionai dan tujuan instruksional
sudah tercapai atau belum?

146
MANAJEMEN KURIKULUM

Bagan 1
Konsep proses pengembangan kurikuium model Saylor, Alexander,
dan Lewis

Tujuan Institusional
dan tujuan
Instruksional

Implementasi Evaluasi
Perancangan Kurikulum Kurikulum
Kurikulum

147
MANAJEMEN KURIKULUM

BAB VII

KEBIJAKAN KURIKULUM 2013

A. PENGERTIAN KEBIJAKAN

K
ebijakan adalah pernyataan kehendak yang diikuti oleh unsur
pengaturan dan/atau paksaan sehingga dalam pelaksanaannya,
kebijakan yang diterapkan dapat mencapai tujuan yang dikehendaki.
Oleh karena itu, pelaksanaan kebijakan memerlukan kekuasaan (power)
dan wewenang (authority) untuk membina kerjasama dan meredam
serta menyelesaikan berbagai kemungkinan konflik sebagai akibat dari
pencapaian kehendak.1
Kebijakan dalam perspektif administrasi, kebijakan diartikan sebagai
tindakan politik untuk memengaruhi perilaku orang lain.2 Dalam pengertian
operatifnya, kebijakan dapat diartikan bahwa:
1. Suatu penggarisan ketentuan-ketentuan,
2. Yang bersifat sebagai pedoman, pegangan atau bimbingan untuk
mencapai kesepahaman dalam maksud, cara dan atau sarana,
3. Bagi setiap usaha dan kegiatan sekelompok manusia yang berorganisasi
4. Sehingga terjadi dinamisasi gerak tindak yang terpadu, sehaluan dan
seirama mencapai tujuan bersama tertentu.3

1
Rahayu Kusuma Dewi, Studi Analisis Kebijakan, Bandung: Pustaka Setia, 2016,
h. 16.
2
Yoyon Bahtiar Irianto, Kebijakan Pembaharuan Pendidikan: Konsep, Teori dan
Model, Jakarta: Rajawali Press, 2011, h. 34.
3
Hasbullah, Kebijakan Pendidikan, Jakarta: Rajawali, 2010, h. 37.

148
MANAJEMEN KURIKULUM

Kebijakan merupakan segala perbuatan yang dikehendaki pemerintah


untuk dilakukan atau tidak dilakukan yang dirumuskan dalam suatu
kebijakan untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai melalui program-
program pemerintah.4
Selanjutnya dapat dikemukakan bahwa kebijakan adalah proses
politik sebagai kebutuhan, sasaran, dan maksud yang diterjemahkan
ke dalam satu perangkat sasaran, hukum, kebijakan, dan program yang
mempengaruhi alokasi sumberdaya, tindakan, dan keluaran yang menjadi
dasar evaluasi, perbaikan, dan kebijakan baru.5
Secara konseptual, dapat disimpulkan bahwa:
Pertama, terminologi kebijakan dapat saja disebut sebagai serangkaian
tindakan sebagai suatu arahan untuk mencapai tujuan.Hal yang ber-
kaitan dengan kebijakan dalam sebuah organisasi merupakan komponen-
komponen masukan yang perlu dimanfaatkan dalam usaha memperoleh
setiap produk atau keluaran. Proses untuk mencapai produk atau
keluaran tersebut senantiasa dilakukan melalui apa yang disebut kebijakan.
Berdasarkan unsur-unsur tersebut maka setiap kebijakan akan selalu
mengandung sesuatu yang oleh orang banyak diberikan makna yang
prinsipil dan tidak merugikan orang banyak, karena setiap kebijakan
selalu didasarkan atas peraturan perundang-undangan.

Kedua; dalam konteks tata negara dikemukakan bahwa:


1. Kebijakan negara itu selalu mempunyai tujuan tertentu atau merupakan
tindakan yang berorientasi kepada tujuan;
2. Kebijakan itu berisi tindakan-tindakan atau pola-pola tindakan pejabat-
pejabat pemerintah;
3. Kebijakan itu adalah merupakan apa yang benar-benar dilakukan oleh
pemerintah;
4. Kebijakan negara itu bisa bersifat positif dalam arti merupakan beberapa
bentuk tindakan pemerintah mengenai suatu masalah tertentu atau
bersifat negatif dalam arti merupakan keputusan pejabat pemerintah
untuk tidak melakukan sesuatu;

4
Yoyon, Op.cit, h. 34.
5
Bruce S. Cooper, Lance D. Fusarelli, E. Vance Randall, Better Policies, Better
Schools: Theories and Applications, USA: Pearson Education, Inc, 2004, h. 3.

149
MANAJEMEN KURIKULUM

5. Kebijakan pemerintah setidaknya dalam arti yang positif didasarkan


atau selalu dilandaskan pada peraturan perundang-undangan yang
bersifat memaksa (otoritatif).6

Pendapat lain menjelaskan bahwa konsep kebijakan negara, yaitu:


1. Kebijakan negara lebih merupakan tindakan yang mengarah pada
tujuan dari pada sebagai perilaku atau tindakan yang serba acak
atau kebetulan. Kebijakan negara dalam sistem politik modern pada
umumnya bukan merupakan tindakan yang serba kebetulan tetapi
merupakan tindakan yang direncanakan lebih dahulu;
2. Kebijakan pada hakikatnya terdiri atas tindakan yang saling berkait
dan berpola yang mengarah pada tujuan tertentu yang dilakukan
oleh pejabat-pejabat pemerintah dan bukan merupakan keputusan-
keputusan yang berdiri sendiri;
3. Kebijakan bersangkut paut dengan apa yang senyatanya dilakukan
pemerintah dan bidang-bidang tertentu, misalnya dalam mengatur
penyelenggaraan pendidikan, ekonomi, perumahan rakyat, pengentasan
kemiskinan, dan sebagainya;
4. Kebijakan negara mungkin berbentuk positif mungkin juga negatif.
Dalam bentuknya yang positif, kebijakan negara mungkin akan
mencakup beberapa berbentuk tindakan pemerintah yang dimaksudkan
untuk memengaruhi masalah tertentu. Sedangkan dalam bentuk
negatif, kemungkinan meliputi keputusan-keputusan pejabat pemerintah
untuk tidak bertindak, atau tidak melakukan tindakan apapun dalam
masalah-masalah di mana sangat diperlukannya campur tangan
pemerintah.7

Dapat disimpulkan bahwa kebijakan merupakan keharusan dalam


eksistensi suatu organisasi.Itu artinya, kebijakan merupakan produk
organisasi dalam rangka merespon kebutuhan internal dan eksternal
organisasi untuk memenuhi kebutuhan dan memecahkan masalah yang
dihadapi sehingga visi, misi dan tujuan organisasi dapat dicapai dengan

6
Yoyon, op.cit,h.35.
7
Hasbullah, Op.cit, h.40.

150
MANAJEMEN KURIKULUM

sebaik-baiknya. Dengan begitu, berbagai undang-undang, peraturan,


keputusan, dan panduan organisasi dihasilkan sebagai kebijakan organisasi.

B. KEBIJAKAN PENDIDIKAN
Kebijakan publik dalam pendidikan dibuat agar menjamin pendidikan
menjadi kepentingan publik. Pada awalnya persekolahan, pendidikan
merupakan urusan swasta yang disediakan oleh sebagian kecil masyarakat.
Namun sekolah diciptakan pemerintah untuk seluruh warga. Selanjutnya
kebijakan dalam pendidikan ditetapkan oleh pemerintah yang mengatur
pengelolaan sekolah pemerintah yang diatur tidak hanya kurikulum, pedagogi,
dan penilaiannya, tetapi juga kondisi guru, dan pemeliharaan sarana fisik
sekolah. Fungsi kebijakan dalam pendidikan adalah:1) menyediakan
akuntabilitas norma budaya yang menurut pemerintah perlu ada dalam
pendidikan, dan 2) melembagakan mekanisme akuntabilitas untuk mengukur
kinerja siswa dan guru.8
Menurut Rahayu Kusuma Dewi, kebijakan adalah ketetapan yang
memuat berbagai prinsip untuk mengarahkan cara-cara bertindak yang
dibuat secara terencana dan konsisten dalam mencapai tujuan tertentu.9
Kebijakan publik berfungsi sebagai pedoman umum untuk kebijakan
dan keputusan-keputusan khusus di bawahnya.10
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa kebijakan
publik dalam bidang pendidikan diwujudkan sebagaimana dituangkan
dalam undang-undang, peraturan pemerintah, keputusan presiden, peraturan
presiden, peraturan dan atau keputusan Direktorat Jenderal pada Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Riset dan Teknologi.
Sebagai perwujudan dari reformasi di Indonesia adalah desentralisasi
termasuk otonomi dalam bidang pendidikan dengan mengeluarkan undang-
undang tentang otonomi daerah.
Dampak yang ditimbulkan dari kebijakan desentralisasi pendidikan
adalah sebagai berikut:

8
Nanang Fattah, Analisis Kebijakan Pendidikan, Bandung: Remaja Rosdakarya,
2013, h.132-133.
9
Rahayu Kusuma Dewi, op.cit, h.16.
10
Said Zainal Abidin, Kebijakan Publik, Jakarta: Suara Bebas, 2006, h.23.

151
MANAJEMEN KURIKULUM

a. Kemungkinan daerah akan memanfaatkan kondisi yang ada untuk


mendapatkan atau memperoleh pendapatan daerah. Tentu saja, hal
ini sangat riskan dilakukan karena berhubungan langsung dengan
masyarakat atau rakyat kecil äkar rumput” (grass roots) yang semestinya
mendapatkan pendidikan gratis dari pemerintah.
b. Desentralisasi pendidikan ini memberi peluang kekuasaan yang cukup
kuat dan besar bagi para kepala dinas pendidikan. Hal ini membuka
peluang bagi terciptanya raja-raja kecil di daerah, khususnya ketika
kontrol pemerintah provinsi dan pusat tidak lagi berperan dalam
pengambilan keputusan. Dengan demikian, para kepala dinas pendidikan
pemerintah kota atau kabupaten tersebutlah yang secara individual
memiliki kekuasaan dan kewenangan dalam pengambilan keputusan
decision making.
c. Kebijakan ini juga ada kemungkinan akan menimbulkan jurang yang
semakin lebar Antara si kaya dan si miskin. Hal ini bisa terjadi karena
daerah-daerah dengan PAD besar akan memberikan porsi dana pen-
dapatannya itu untuk kesejahteraan guru-gurunya. Sementara daerah
lainnya tidak mungkin melakasanakannya. Hal itu sampai terjadi
karena mereka tidak memiliki dana yang cukup besar untuk menambah
insentif bagi para guru-guru mereka.
d. Desentralilsasi pendidikan ini juga bisa berdampak negatif terhadap
pemerataan pendistribusian tenaga guru. Dengan kata lain, daerah-
daerah kaya akan menyedot tenaga guru yang berkualitas, sekaligus
secara kuantitas guru-guru itu akan berkumpul di daerah yang kaya
tersebut. Bagaimana halnya dengan daerah-daerah yang PAD-nya sangat
kecil? Mereka akan ditinggalkan oleh guru-guru mereka. Akhirnya
tempat-tempat tertentu di Indonesia ini akan kelebihan tenaga guru,
sementara daerah lainnya akan mengalami kekurangan tenaga guru.
e. Ada juga yang mengatakan bahwa desentralisasi ini hanya akan
memindahkan praktik-praktik kotor korupsi, kolusi, dan nepotisme
(KKN) dari pusat ke daerah. Praktik KKN dibidang pendidikan yang
selama ini banyak dilakukan oleh para penguasa orde baru, ada kemung-
kinan akan bergerak secara perlahan, tetapi pastimenuju daerah-
daerah yang ‘basah’ dan kaya. Bila daerah-daerah tersebut membuka
peluang untuk mereka menjalankan misi dan visi malingnya, tidak

152
MANAJEMEN KURIKULUM

akan mustahil KKN akan menjadi semakin “sukses” berkembang


didaerah tersebut.
f. Selain penjelasan diatas, kita dapat juga memprediksi tentang kemungkinan
beragamnya hasil belajar siswa. Hal ini disebabkan pembuatan silabus
materi pembelajaran dibuat berdasarkan kebutuhan siswa, keadaan
sekolah dan kondisi daerah. Perbedaan-perbedaan tersebut memberi
kemungkinan terjadinya keberagaman hasil belajar siswa. Kalau kondisi
sudah menjadi begini rupa, akan sulit bagi kita untuk mendapatkan
angka-angka yang dapat berbicara dalam skala nasional. Pada akhirnya,
kondisi ini akan mengarah pada titik meratanya mutu/kualitas hasil
belajar/tamatan siswa kita.11

Sebagai kebijakan publik, maka desentralisasi melalui analisis SWOT,


maka ada beberapa dimensi analisis, yaitu:

1. Kekuatan Kebijakan Desentralisasi


Kekuatan kebijakan desentralisasi pendidikan adalah:
a. Sudah merupakan kebijakan yang populis;
b. Mendapat dukungan yang kuat dari berbagi pihak, khususnya dari
wakil rakyat yang menduduki kursi DPR-RI;
c. Sebagai hal yang telah lama ditunggu tunggu menyusul adanya perubahan
social politik;
d. Kesiapan anggaran yang cukup dengan ditetapkannya anggaran
pendidikan sebesar 20 persen dari APBN tahun 2003;
e. Efisiensi perjalanan anggaran sebagai wujud pemangkasan birokrasi.

Ketentuan di atas merupakan kebijakan yang populis, desentralisasi


pendidikan pasti didukung oleh berbagai lapisan masyarakat, khususnya
masyarakat pendidikan di daerah. Kekuatan lain yang juga amat mendukung
bagi lahirnya kebijakan ini adalah dukungan dari pihak legislatif. Kekuatan
lainnya adalah kesadaran yang tinggi dari masyarakat untuk menghadapi
perubahan.Termasuk dalam hal ini adalah kesadaran masyarakat menyikapi

11
Sam M. Chan dan Tuti T. Sam, Kebijakan Pendidikan Era Otonomi Daerah,
Jakarta: Rajawali Press, 2005, h.10-11.

153
MANAJEMEN KURIKULUM

desentralisasi pendidikan. Anggota masyarakat amat dituntut partisipasinya


dalam menjalani perubahan tersebut.
Kekuatan yang tidak kalah pentingnya adalah dukungan dana anggaran
pendidikan yang cukup tinggi dibandingkan anggaran sebelumnya yaitu
kurang dari 4%. Kita berharap anggaran pendidikan yang disepakati
20% dari APBN dijadikan prioritas utama sebelum penganggaran bidang
lainnya.

2. Kelemahan Kebijakan Desentralisasi


Adapun kelemahann yang mungkin timbul dalam implementasi
kebijakan desentralisasi pendidikan melalui UU Otonomi Daerah adalah:
a. Kurang siapnya SDM daerah terpencil;
b. Tidak meratanya pendapatan asli daerah (PAD), khususnya daerah-
saerah miskin;
c. Mental korup yang telah membudaya dan mendarah daging;
d. Menimbulkan raja-raja kecil di daerah surplus;
e. Dijakdikan komoditas;
f. Belum jelasnya pos-pos pendidikan, sehingga akan cukup merepotkan
Depdiknas dalam mengalokasikannya. Walhasil akan menguntungkan
departemen-departamen lain yang mengelola pendidikan atau pelatihan,
padahal departemen lain telah memperoleh dana ddari APBN. Sementara
itu, hasilnya masih diragukan karena ditangani bukan oleh para ahli/
professional pendidikan.

Kelemahan-kelemahan di atas tentu harus dicarikan jalan keluarnya


agar dapat diminimalisasi keberadaannya.

3. Peluang Implementasi Kebijakan


Setelah melihat kekuatan sekaligus kelemahan dari kebiajakan
desentralisasi pendidikan, harus dicarikan celah peluang keberhasilan
dalam pelaksanaanya. Mengingat kebijakan ini lahir dari arus paling
bawah (grass roots), walaupun baru terlaksana sekarang di era reformasi,
kebijakan ini memiliki peluang yang cukup signifikan dalam hal keberhasilan
pelaksanaannya karena telah menjadi fokus perhatian dari berbagai

154
MANAJEMEN KURIKULUM

pihak. Oleh karena itu, dukungan dan kontrol dari masyarakat dapat
terus berjalan selama kebijakan ini digunakan.

4. Tantangan Implementasi
Adapun tantangan yang harus diperhitungkan dalam pengimplemen-
tasian kebijakan ini adalah munculnya individu-individu/ lembaga-lembaga
serakah yang mencari kesempatan dalam kesempitana.Sekali lagi bagai-
manapun harus diwaspadai mental-mental korup haus uang.
Tangan-tangan lainnya adalah memberi pengertian kepada lembaga
di luar Depdiknas yang selam ini memperoleh budget dari Depdiknas
untuk kepentingan kegiatan pelatihan/pendidikan. Hal ini harus dipertegas
sehingga tidak terjadi dualisme dalam anggaran pendidikan yang pada
akhirnya merugikan Depdiknas. Tentu ini akan mengurangi jatah bagi
biaya pendidikan yang akan merugikan sekaligus mempengaruhi proses
pembangunan masyarakat madani.
Dalam praktiknya, maka implementasi kebijakan desentralisasi
pendidikan melalui undang-undang otonomi daerah, pada kenyataannya
menunjukkan bahwa terdapat proses implementasi kebijakan yang tidak
melibatkan seluruh stakeholders, khususnya daerah-daerah yang secara
finansial belum memiliki kemampuan untuk turut mengimplementasi
kebijakan tersebut. Sesungguhnya masih ada daerah-daerah tertinggal
di kabupaten-kabupaten yang harusnya menjadi bagian integral dalam
proses pengimplementasian kebijakan.Namun ada kecendrungan yang
kuat menciptakan pemekaran kabupaten baru, padahal dari segi kemampuan
keuangan daerah sejatinya masih memerlukan dukungan pemerintah
pusat, sehingga sangat dipaksakan untuk menjadi kabupaten baru sebagai
upaya percepatan pembangunan, termasuk dalam bidang pendidikan.

C. STRATIFIKASI KEBIJAKAN PENDIDIKAN


Dalam praktiknya, kebijakan dibuat oleh top manager atau top
leader sehingga memiliki level dalam kebijakannya. Menurut M. Hasbullah,12
kebijakan pendidikan merupakan produk sistem dan politik pendidikan,

12
Ibid, h.47.

155
MANAJEMEN KURIKULUM

oleh karenanya stratifikasi kebijakan pendidikan pada dasarnya sangat


luas dan beragam, dari yang bersifat makro seperti UUD 1945 (Konstitusi
negara). Keputusan atau Peraturan presiden, Peraturan menteri Pendidikan,
hingga yang bersifat mikro seperti Peraturan Desa, peraturan sekolah
dan lain-lain.
Berdasarkan UU Nomor 32 tahun 2004, tentang pemerintah daerah,
kebijakan dan kewenangan pengelolaan pemerintahan daerah yang ada
bersifat sentralistik, dalam artian kewenangannya ditentukan oleh pemerintah
pusat, dan ada kewenangan pemerintah yang diserahkan kepada daerah
dalam pengelolaannya atau desentralisasi, termasuk dalam hal ini kebijakan
di bidang pendidikan.
Stratifikasi kebijakan pendidikan juga dapat dilihat dari daya ikat
terhadap wilayah pemberlakuan. Dalam konteks ini, ada kebijakan pendidikan
yang bersifat nasional dan ada yang bersifat daerah, artinya ada kebijakan
pendidikan yang hanya berlaku di suatu provinsi, atau berlaku di suatu
kabupaten/kota tertentu saja.Sedangkan bila dilihat dari sisicakupannya,
ada kebijakan pendidikan yang bersifat makro, ada juga kebijakan pendidikan
yang bersifat makro.
Secara ringkas, stratifikasi kebijakan pendidikan meliputi:
1. Kebijakan pendidikan di tingkat pusat, yaitu kebijakan pendidikan
yang ditetapkan oleh lembaga pemerintah di tingkat pusat dan mempunyai
ruang lingkup nasional. Karena ruang cakupannya secara nasional,
maka kebijakan ini akan berlaku di semua wilayah NKRI. Contoh
kebijakan ini seperti pelaksanaan seleksi nasional masuk perguruan
tinggi negeri (SNMPTN), dan Ujian Nasional (UN).
2. Kebijakan pendidikan di tingkat daerah, yaitu kebijakan pendidikan
yang ditetapkan oleh lembaga pemerintah di tingkat daerah dan mem-
punyai ruang lingkup daerah. Karena ruang cakupannya berada di
tingkat daerah, maka hanya berlaku pada daerah yang mengeluarkan
kebijakan tersebut. Wujud kebijakan pendidikan di daerah ada dua
macam; yaitu pertama, Peraturan Daerah (PERDA) tentang pendidikan
yang perumusannya berada di tangan eksekutif (Bupati/Walikota)
dan legislatif (DPRD), kedua; keputusan/peraturan bupati/walikota
tentang pendidikan. Contoh; kebijakan pendidikan yang bersifat desentralisasi
misalnya penerimaan siswa baru (PSB) mulai dari SD, hingga SMP/

156
MANAJEMEN KURIKULUM

MA/SMK, keputusan Bupati/walikota tentang hal-hal yang berkenaan


dengan pendidikan di daerahnya, dan lain-lain.

Secara umum ada empat tingkat kebijakan pemerintah, yaitu:


1. Tingkat kebijakan nasional (national policy level), biasanya sebagai
penentu kebijakan pada level ini adalah MPR/DPR/DPD, berlaku secara
nasional disebut juga sebagai kebiajakan administratif. Salah satu
produk MPR (bersama DPR dan DPD) adalah konstitusi UUD 1945
berikut amandemennya yang berisi pasal-pasal tentang pendidikan
nasional, dan selalu menjadi konsideran bagi perumusan kebijakan
pendidikan di bawahnya.
2. Tingkat kebijakan umum; tingkat kebijakan ini pada biasanya sangat
ditentukan oleh pemerintah atau eksekutif, karenanya sering disebut
sebagai kebijakan eksekutif. Sifat kebijakan pendidikan yang bersifat
umum (general policy level), merupakan kebijakan pendidikan eksekutif.
Oleh karena yang menentukan adalah mereka yang berada pada posisi
eksekutif. Termasuk ke dalam kebijakan pendidikan eksekutif ini adalah:
a. Undang-undang
Kekuasaan membuat undang-undang berada di tangan Presiden
meskipun harus dengan persetujuan DPR. Produk kebijakan pendidikan
dalam bentuk UU antara lain: UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, UU No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan
Dosen.
b. Peraturan Pemerintah
Peraturan pemerintah merupakan kebijakan pendidikan yang dibuat
dalam rangka mengoperasikan undang-undang, kekuasaan pem-
buatannya ada pada kepala pemerintahan, yaitu Presiden. Produk
kebijakan pendidikan dalam bentuk PP antara lain: PP No. 55 Tahun
1998 tentang Perubahan atas PP No. 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan
Dasar, PP No. 41 Tahun 2009 tentang Tunjangan Profesi Guru dan
Dosen, Tunjangan Khusus Guru dan Dosen, serta Tunjangan Kehormatan
Profesor, dan lain-lain.
c. Keputusan, Peraturan dan Instruksi Presiden
Berisikan kebijakan umum penyelenggaraan pemerintahan di
bidang pendidikan yang kekuasaan pembuatannya ada di tangan

157
MANAJEMEN KURIKULUM

Presiden. Contoh kebijakan pendidikan dalam kategori ini antara


lain Kepres RI No. 102 Tahun 2001 tentang Kedudukan, Tugas,
Fungsi, Kewenangan, Susunan Organisasi, dan Tata Kerja Departemen.
3. Tingkat kebijakan khusus (special policy level); sebagai penentu tingkat
kebijakan ini adalah para Menteri sebagai pembantu Presiden, dalam
hal ini Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Bentuk kebijakannya
seperti Keputusan Menteri, Peraturan Menteri, Instruksi Menteri,
dan Surat Edaran Menteri. Contoh kebijakan pendidikan yang bersifat
khusus pada level kementerian antara lain:
a. Keputusan Mendiknas RI No. 056/P/2007 tentang Pembentukan
Konsorsium Sertifikasi Guru;
b. Permendiknas RI No. 36 Tahun 2007 tentang Penyaluran Tunjangan
Profesi bagi Guru;
c. Peraturan Bersama Mendiknas dan Kepala BLN No. 03/V/PB/2010;
Nomor 14 Tahun 2010, tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan
Fungsional Guru dan Angka Kreditnya;
d. Permendikbud RI No. 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum
2013;
4. Tingkat kebijakan teknis (technical policy level); lazim disebut kebijakan
operatif, karena kebijakan ini merupakan pedoman pelaksanaan.
Penentu kebijakan ini berada pada Pejabat Eselon 2 ke bawah, seperti
Direktorat Jenderal atau pimpinan lembaga non-departemen. Produk
kebijakannya dapat berupa peraturan, keputusan dan instruksi pimpinan
lembaga. Berdasarkan technical policy level inilah para gubernur, bupati,
kepala dinas dan sebagainya, melaksanakan kebijakan sesuai dengan
faktor kondisional dan situasional daerahnya.

D. KEBIJAKAN KURIKULUM 2013


1. Pengertian Kurikulum 2013
Pada tahun 2013 pemerintah mengeluarkan keputusan tentang
kurikulum baru yaitu kurikulum 2013. Secara sederhana kurikulum
2013 merupakan kelanjutan dari kurikulum berbasis kompetensi yang
telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi sikap, penge-
tahuan, dan keterampilan secara terpadu. Selain itu penataan kurikulum

158
MANAJEMEN KURIKULUM

2013 dilakukan sebagai amanah dari Undang-undang Nomor 20 Tahun


2003 tentang sistem Pendidikan Nasional dan peraturan presiden nomor
5 Tahun 2010 tantang rencana pembangunan jangka menengah nasional.13
Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang terintegrasi dalam
suatu model kurikulum yang dapat mengintegrasikan skill, themes,
concept, and topics baik dalam bentuk within singel disciplines, across several
disciplines, and within and across learnes.14 Dengan kata lain bahwa kurikulum
terpadu sebagai sebuah sistem dan pendekatan pembelajaran yang melibatkan
beberapa disiplin ilmu atau mata pelajaran/bidang studi untuk memberikan
pengalaman yang bermakna dan luas terhadap peserta didik. Dikatakan
bermakna karena dalam konsep kurikulum terpadu peserta didik akan
memahami konsep-konsep yang mereka pelajari itu secara utuh dan
realistis. Serta dikatakan luas karena peserta didik tidak hanya dalam
suatu ruang lingkup melainkan semua lintas disiplin yang dipandang
berkaitan antara satu dengan yang lain.
Inti dari kurikulum 2013 ada pada upaya penyederhanaan dan sifatnya
yang tematik-instegratif. Kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak
generasi yang siap dalam menghadapi tantangan masa depan. Karena
itu kurikulum disusun untuk mengantisipasi tantangan masa depan.
Titik berat kurikulum 2013 adalah bertujuan agar peserta didik atau
siswa memiliki kemampuan yang lebih baik dalam melakukan:
a. Observasi;
b. Bertanya (wawancara);
c. Bernalar; dan
d. Mengkomunikasikan (Mempesentasikan) apa yang mereka peroleh
atau yang mereka ketahui setelah menerima mata pelajaran.

Adapun objek pembelajaran kurikulum 2013 adalah fenomena


alam, sosial, seni dan budaya. Melalui pendekatan tersebut peserta didik
diharapkan memiliki kompetensi sikap, keterampilan dan pengetahuan
yang lebih baik. Mereka akan lebih kreatif, inovatif, dan lebih produktif
sehingga nantinya mereka bisa sukses dalam menghadapi berbagai persoalan

Loeloek Endah Poerwati, Sofan amri, Panduan Memahami Kurikulum 2013,


13

Jakarta: PT. Prestasi Pustakarya, 2013, h. 68.


14
Ibid, h. 28.

159
MANAJEMEN KURIKULUM

serta tantangan dimasa mendatang. Untuk itu dapat disimpulkan bahwa


kurikulum 2013 merupakan kurikulum berbasis karakter dan kompetensi
(outcomes-based curiculum) dengan pengembangan menggunakan pencapaian
kompetensi yang dirumuskan dari Standar Kompetensi Lulusan (SKL)
serta penilaian hasil belajar diukur dengan pencapaian kompetensi.

2. Tujuan dan Fungsi Kurikulum 2013


Kurikulum 2013 tidak asing terdengar dikemukakan pada berbagai
media massa, bahwa melalui pengembangan Kurikulum 2013 kita akan
mampu menghasilkan insane Indonesai yang produktif, kreatif, inovatif,
afektif melalui penguatan sikap, keterampilan dan pengetahuan yang
terintegrasi. Dalam hal ini pengembangan kurikulum difokuskan pada
pembentukan kompetensi dan karakter peserta didik berupa paduan
pengetahuan, keterampilan dan sikap yang dapat didemonstrasikan
peserta didik sebagai wujud pemahaman terhadap konsep yang dipelajarinya
secara kontekstual. Kurikulum 2013 memungkinkan para guru menilai
hasil belajar peserta didik dalam proses pencapaian sasaran belajar yang
mencerminkan penguasaan dan pemahaman terhadap aa yang dipelajari.
Oleh karena itu peserta didik perlu mengetahui kriteria penguasaan kompetensi
dan karakter yang akan dijadikan sebagai standar penilaian hasil belajar,
sehingga para peserta didik dapat mempersiapkan dirinya melalui penguasaan
terhadap sejumlah kompetensi dan karakter tertentu sebagai prasyarat
untuk melanjutkan ke tingkat penguasaan kompetensi dan karakter berikutnya.
Mengacu pada penjelasan UU No. 20 Tahun 2003 bagian umum
dikatakan bahwa: Strategi pembangunan pendidikan nasional dalam
undang-undang ini meliputi:... 2. Pengembangan dan pelaksanaan kurikulum
berbasis kompetensi,..danpada pejelasan pasal 35 bahwa kompetensi
lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup
sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional
yang telah disepakati. Maka diadakan perubahan kurikulum dengan
tujuan untuk melanjutkan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi
yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi sikap,
pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu. Untuk mencapai tujuan
tersebut menuntut perubahan pada berbagai aspek lain terutama dalam
implementasinya dilapangan. Pada proses pembelajaran, dari siswa diberi
tahu menjadi siswa mencari tahu, sedangkan pada proses penilaian, dari

160
MANAJEMEN KURIKULUM

berfokus pada pengetahuan melalui penilaian out put secara utuh dan
menyeluruh, sehingga penambahan jam pelajaran.15
Itu artinya kurikulum 2013 sebagai kurikulum nasional lebih diperkaya
dan dipermudah tata kelola dan implementasinya oleh para guru. Dalam
hal ini tujuan utamanya adalah akselerasi pencapaian mutu pendidikan
nasional supaya dapat lebih kompetitif dengan pendidikan bangsa lain
yang lebih modern.

3. Implementasi Kurikulum 2013


Implementasi Kurikulum 2013 berbassis karakter dan kompetensi
harus melibatkan semua komponen (stakeholders), termasuk komponen-
komponen tersebut antara lain kurikulum, rencana pembelajaran, proses
pembelajaran, mekanisme penilaian, kualitas hubungan, pengelolaan
pembelajaran, pengelolaan sekolah/madrasah, pelaksanaan pengembangan
diri peserta didik, pengembangan sarana dan prasarana, pembiayaan,
serta etos kerja seluruh warga dan lingkungan sekolah/madrasah.
Implementasi kurikulum 2013 menuntut kerjasama yang optimal
diantara para guru, sehingga memerlukan pembelajaran berbentuk tim,
dam menuntut kerjasama yang kompak diantara para anggota tim.
Kerjasama antar guru sangat penting dalam proses pendidikan yang
akhir-akhir ini mengalami perubahan yang sangat pesat. Implementasi
Kurikulum 2013 akan dilaksanakan secara terbatas seperti pada jenjang
pendidikan sekolah dasar menengah dimulai dari kelas I dan IV untuk
SD, kelas VII SMP dan kelas IX untuk SMA. Apa yang diungkapkan tersebut
merupakan asumsi bahwa kurikulumm 2013 dapat diterapkan dalam
setiap jenis dan jenjang pendidikan dan pada berbagai ranah pendidikan.
Meskipun demikian kurikulum tidak dapat digunakan untuk memecahkan
seluruh permasalahan pendidikan.Waktu terus berlalu tanpa kompromi.
Keberhasilan Kurikulum 2013 dapat diketahui dari perwujudan
indikator standar kompetensi lulusan (SKL) dalam pribadi peserta didik
secara utuh. Kata utuh perlu ditekankan, karena hasil pendidikan sebagai
output dari setiap satuan pendidikan belum menunjukkan SKL pada per-

E. Mulyasa, Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013, Bandung:


15

PT Remaja Rosdakarya, 2013, h. 65-66.

161
MANAJEMEN KURIKULUM

mukaannya saja, atau kulitnya saja. Keberhasilan Kurikulum 2013 dalam


membentuk kompetensi dan karakter disekolah dapat diketahui dari ber-
bagai perilaku sehari-hari yang tampak dalam setiap aktivitas peserta
didik dan warga sekolah lainnya. Perilaku tersebut antara lain diwujudkan
dalam bentuk kesadaran, kejujuran, keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian,
kepedulian, kebebasan dalm bertindak, kecermatan, ketelitian dan komitmen.
Keberhasilan implementasi Kurikulum 2013 dapat dinilai dari indikator-
indikator sebagai berikut:
1. Adanya lulusan yang berkualitas, produktif, kreatif dan mandiri;
2. Adanya peningkatan mutu pembelajaran;
3. Adanya peningkatan efesiensi dan efektivitas pengelolaan dan pendaya
gunaan sumber belajar;
4. Adanya peningkatan perhatian serta partisipasi masyarakat;
5. Adanya peningkatan tanggungjawab sekolah;
6. Tumbuhnya sikap, keterampilan, dan pengetahuan secara utuh dikalangan
peserta didik;
7. Terwujudnya pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan
(PAKEM);
8. Terciptanya iklim yang aman, nyaman, dan tertib, sehingga pembelajaran
dapat berlangsung dengan tenang dan menyenangkan (joyfull learning);
9. Adanya proses evaluasi dan perbaikan secara berkelanjutan (continous
quality improvement).

Dalam implementasi Kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan


kompetensi bukan hanya tanggungjawab sekolah semata tetapi merupakan
tanggungjawab semua pihak: orang tua, pemerintah, dan masyarakat.
Oleh karena itu pengembangan rencana, pelaksanaan, dan evaluasi pem-
belajaran dimulai dari analisis karakter dan kompetensi yang akan dibentuk
atau yang diharapkan muncul setelah pembelajaran. Bedanya kurikulum
lain, kurikulum 2013 lebih fokus dan berangkat dari karakter serta
kompetensi yang akan dibentuk kemudian memikirkan mengembangkan
tujuan yang akan dicapai. Semua komponen lebih dirahkan pada pembentukan
karakter dan kompetensi peserta didik yang diharapkan, baik real curriculum
maupun hidden curriculum. Dalam hal ini semakin banyak pihak yang
terlibat dalam pembentukan karakter dan kompetensi akan semakin

162
MANAJEMEN KURIKULUM

efektif hasil yang diperoleh. Oleh karena itu, untuk mengefektifkan program
pendidikan dan meningkatkan kompetensi dalam Kurikulum 2013 diper-
lukan koordinasi, komunikasi dan jalinan kerjasama antara sekolah,
orang tua, masyarakat dan pemerintah baik dalam pelaksanaan, maupun
evaluasi dan pengawasan.16
Implementasi kurikulum dapat diwujudkan guru dituntut untuk
secara profesional merancang pembelajaran efektif dan menyenangkan
(bermakna), mengorganisasikan pembelajaran, memilih pendekatan
pembelajaran yang tepat, menentukan prosedur pembelajaran dan pem-
bentukan kompetensi secara efektif, serta menetapkan kriteria keberhasilan.

a) Merancang pembelajaran efektif dan bermakna


Implementasi kurikulum 2013 merupakan aktualisasi kurikulum
dalam pembelajaran dan pembentukan kompetensi serta karakter peserta
didik, hal tersebut menuntut keaktifan guru dalam menciptakan dan
menumbuhkan berbagai kegiatan sesuai dengan rencana yang telah
diprogramkan. Saylor (1981) dalam Mulyasa (2002) mengatakan bahwa
“Instruction is thus the implementation of curriculum plan, usually, but not
necessarly, involving teaching in the sense of student, teacher interaction
in an aducational setting”. Dalam hal ini guru harus dapat mengambil
keputusan atas dasar penilaian yang tepat ketika peserta didik ketika
peserta didik belum dapat membentuk kompetensi dasar, apakah pembelajaran
dihentikan, diubah metodenya atau mengulang dulu pembelajaran yang
lalu. Guru harus menguasai prinsip-prinsip pembelajaran, pelatihan dan
penggunaan media pembelajaran, pemilihan, dan penggunaan metode
pembelajaran keterampilan menilai hasil-hasil belajar peserta didik,
serta memilih dan menggunakan strategi atau pendekatan pembelajaran.
Kompetensi-kompetensi tersebut merupakan bagian integral bagi seorang
guru sebagai tenaga profesional yang hanya dapat dikuasai dengan
baik melalui pengalaman praktik yang intensif.
Guru harus menyadari bahwa pembelajaran memiliki sifat yang
sangat kompleks karena melibatkan aspek pedagogis, psikologis, dan
didaktis secara bersamaan. Aspek pedagogis menunjuk pada kenyataan

16
Ibid, h. 7-12.

163
MANAJEMEN KURIKULUM

bahwa pembelajaran berlangsung dalam suatu lingkungan pendidikan.


Untuk itu guru harus mendampingi peserta didik menuju kesuksesan
belajar atau penguasaan sejumlah kompetensi tertentu. Aspek psikologis
menunjuk pada kenyataan bahwa peserta didik pada umumnya memiliki
taraf per-kembangan yang berbeda yang menuntut materi yang berbeda
pula. Selain itu aspek psikologis menunjuk pada kenyataan bahwa proses
belajar itu sendiri megandung variasi seperti belajar keterampilan motorik,
belajar konsep, belajar sikap, dan seterusnya Gagne, (1984) perbedaan
tersebut menuntut pembelajaran yang berbeda sesuai dengan jenis belajar
yang sedang berlangsung. Aspek didaktis menunjuk pada pengaturan
belajar peserta didik oleh guru. Dalam hal ini guru harus menentukan
secara tepat jenis belajar manakah yang paling berperan dalam proses
pembelajaran tertentu, dengan mengingat kompetensi dasar yang harus
dicapai. Kondisi eksternal yang harus diciptakan oleh guru menunjuk
variasi juga dan tidak sama antara jenis belajar yang satu dengan yang
lain, meskipun ada pula kondisi yang paling dominan dalam segala jenis
belajar. Untuk kepentingan tersebut guru harus memiliki pengetahuan
yang luas mengenai jenis-jenis belajar, kondisi internal dan eksternal
peserta didik serta cara melakukan pembelajaran yang efektif dan bermakna.
Pembelajaran menyenangkan efektif dan bermakna dapat dirancang
oleh setiap guru, dengan prosedur sebagai berikut.
1. Pemanasan dan Apersepsi
Pemanasan dan apersepsi perlu dilakukan untuk menjajaki pengetahuan
peserta didik dengan menyajikan materi yang menarik dan mendorong
mereka untuk mengetahui berbagai hal baru. Pemanasan dan apersepsi
ini dapat dilakukan dengan prosesur sebagai berikut.
a. Pembelajaran dimulai dengan hal-hal yang diketahui dan dipahami
peserta didik.
b. Peserta didik dimotivasi dengan bahan ajar yang menarik dan
berguna bagi kehidupan mereka
c. Peserta didik digerakkan atau tertarik dan bernafsu untuk mengetahui
hal-hal yang baru
2. Eksplorasi
Eksplorasi merupakan tahapan kegiatan pembelajaran untuk mengenalkan
bahan dan mengaitkannya dengan pengetahuan yang telah dimiliki

164
MANAJEMEN KURIKULUM

peserta didik.Hal tersebut dapat ditempuh dengan prosedur sebagai


berikut.
a. Perkenalkan materi standar kompetensi dan kompetensi dasar
yang harus dimilki oleh peserta didik.
b. Kaitkan materi standard dan kompetensi dasar yang baru dengan
pengetahuan dan kompetensi yang sudah dimiliki oleh peserta
didik
c. Pilihlah metode yang paling tepat dan gunakan secara bervariasi
untuk meningkatkan penerimaan peserta didik terhadap materi
standar kompetensi baru.
3. Konsolidasi Pembelajaran
Konsolidasi merupakan kegiatan untuk mengaktifkan pseserta didik
dalam pembentukan kompetensi dan karakter, serta menghubungkannya
dengan kehidupan peserta didik. Konsolidasi pembelajaran ini dapat
dilakukan prosedur sebagai berikut:
a. Libatkan peserta didik secara aktif dalam menafsirkan dan memahami
materi dan komptetensi baru.
b. Libatkan peserta didik secara aktif dalam proses pemecahan masalah
(problem solving) terutma dalam masalah-masalah actual.
c. Letakkan penekanan pada kaitan struktural , yaitu kaitan antara
materi standard dan kompetensi baru dengan berbagi aspek kegiatan
dan kehidupan dalam kehidupan dalam masyarakat.
d. Pilihlah metode yang paling tepat sehingga materi standar dspst
diproes menjadi kompetensi dan karakter peserta didik.
4. Pembentukan sikap, kompetensi dan karakter
Pembentukan sikap, kompetensi, dan karakter peserta didik dapat dilakukan
dengan prosedur sebagai berikut:
a. Dorong peserta didik untuk menerapkan konsep, pengertian, kom-
petensi dan karakter yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-
hari.
b. Praktekkan pembelajaran secara langsung, agar peserta didik
dapat membangun sikap, kompetensi dan karakter baru dalam
kehidupan sehari-hari berdasarkan pengertian yang dipelajari;

165
MANAJEMEN KURIKULUM

c. Gunakan metode yang paling tepat agar terjadi perubahan sikap,


kompetensi dan karakter peserta didik secara nyata.
5. Penilaian Formatif
Penialain formatif perlu dilakukan untuk perbaikan yang pelaksanaannya
dapat dilakukan dengan prosedur sebagai berikut.
a. Kembangkan cara-cara untuk menilai hasil pembelajaran peserta
didik
b. Gunakan hasil penilaian tersebut untuk menganalisis kelemahan
atau kekurangan peserta didik dan masalah-masalah yang dihadapi
guru dalam membentuk karakter dan kompetensi peserta didik.
c. Pilihlah metodologi yang paling tepat sesuai dengan kompetensi
yang ingin di capai.

Prosedur pembelajaran efektif dan bermakna sebagaimana diuraikan


di atas dapat di lukiskan sebagai berikut.

ALOKASI WAKTU
PEMANASAN APERSEPSI 5 - 10%
Tanya Jawab tentang pengetahuan dan Pengalaman

EKSPLORASI
Memperoleh/mencari informasi baru
25 – 30%

KONSOLIDASI PEMBELAJARAN
Negoisasi dalam rangka mencapai pengetahuan baru 35 - 40%

PEMBENTUKAN SIKAP DAN PERILAKU


Pengetahuan diproses menjadi nilai, sikap dan perilaku.
10 -%

PENILAIAN FORMATIF
10%

166
MANAJEMEN KURIKULUM

Dalam pembelajaran efektif dan bermakna peserta didik perlu dilibatkan


secara aktif, karena mereka adalah pusat dari kegiatan pembelajaran
serta pembentukan kompetensi dan karakter. Peserta didik harus dilibatkan
dalam tanya jawab yang terarah dan mencari pemecahan terhadap ber-
bagai masalah pembelajaran. Peserta didik harus didorong untuk menafsirkan
informasi yang diberikan oleh guru, sampai informasi tersebut dapat
diterima oleh akal sehat. Strategi seperti ini memerlukan pertukaran
pikiran, diskusi dan perdebatan dalam rangka mencapai pengertian yang
samaterhadap setiap materi standar. Melalui pembelajaran efektif dan
bermakna, kompetensi dapat diterima dan tersimpan lebih baik, karena
masuk otak dan membentuk karakter melalui proses yang logis dan sistematis.
Dalam pembelajaran efektif dan bermakna setiap materi pelajaran
yang baru harus dikaitkan dengan berbagai pengalaman sebelumnya.
Materi pembelajaran baru disesuaikan secara aktif dengan pengetahuan
yang sudah ada, sehingga pembelajaran harus dimulai dengan hal yang
sudah di kenal dan dipahami peserta didik, kemudian guru menambahkan
unsur-unsur pembelajaran dan kompetensi baru yang disesuaikan dengan
pengetahuan dan kompetensi yang sudah dimiliki peserta didik.
Agar peserta didik belajar secara aktif guru perlu menciptakan strategi
yang tepat guna, sedemikian rupa, sehingga mereka mampunyai motivasi
yang tinggi untuk belajar. Motivasi yang seperti ini akan dapat tercipta
kalau guru dapat meyakinkan peserta didik akan kegunaan materi pem-
belajaran bagi kehidupan nyata peserta didik. Demikian juga, guru harus
dapat menciptakan situasi sehingga materi pembelajaran selalu tampak
menarik dan tidak membosankan. Untuk kepentingan tersebut, guru
harus mampu bertindak sebagai fasilitator yang perannya tidak terbatas
pada penyampaian informasi kepada peserta didik.Sesuai kemajuan
dan tuntutan zaman, guru harus memiliki kemampuan untuk memahami
peserta didik dengan berbagai keunikannya agar dapat membantu mereka
dalam menghadapi kesulitan belajar. Untuk itu guru dituntut memahami
berbagai pendekatan agar pembelajaran agar dapat membimbing peserta
didik secara optimal.

b) Mengorganisasikan Pembelajaran
Dalam mengorganisir pembelajaran guru dituntut memperhatikan
yang berkaitan dengan pengorganisasian pembelajaran dalam implementasi

167
MANAJEMEN KURIKULUM

kurikulum 2013 seperti: pelaksanaan pembelajaran, pengadaan dan


pembinaan tenaga ahli, pendayagunaan lingkungan dan sumber daya
masyarakat, serta pengembangan dan penataan kebijakan.

c) Memilih dan menentukan Pendekatan Pembelajaran


Implementasi kurikulum 2013 berbasis kompetensi dalam pembelajaran
dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan. Pendekatan tersebut antara
lain pendekatan pembelajaran kontekstual teaching learning (contextual
teaching and learning), bermain peran, pembelajaran partisipatf (parcitivative
teaching and learning), belajar tuntas (mastery learning), dan pembelajaran
konstruktivisme (contructivism and Learning).

d) Melaksanakan pembelajaran pembentukan kompetensi


dan karakter
Pembelajaran dalam implementasi kurikulum 2013 merupakan
keseluruhan proses belajar, pembentukan kompetensi dan karakter peserta
didik yang direncanakan. Untuk kepentingan tersebut, kompetensi inti,
kompetensi dasar, materi standar, indikator hasil belajar dan waktu yang
diperlukan harus ditetapkan sesuai dengan kepentingan pembelajaran
sehingga peserta didik diharapkan memperoleh kesempatan dan pengalaman
belajar yang optimal. Dalam hal ini, pembelajaran pada hakikatnya adalah
proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga
terjadi perubahan perilaku kearah yang lebih baik. Dalam interaksi
tersebut banyak sekali faktor yang mempengaruhinya baik faktor internal
yang datang dari dalam diri individu maupun faktor eksternal yang datang
dari lingkungan. Pada umumnya kegiatan pembelajaran mencakup kegiatan
awal atau pembukaan, kegiatan inti atau pembentukan kompetensi dan
karakter, serta kegiatan akhir atau penutup.

e) Menetapkan Kriteria Keberhasilan


Keberhasilan implementasi kurikulum 2013 dalam pembentukan
kompetensi dan karakter peserta didik dapat dilihat dari segi proses dan
dari segi hasil. Dari segi proses dan dari segi hasil. Dari segi proses pembentukan
kompetensi dan karakter dikatakan berhasil dan berkualitas apabila seluruhnya
atau setidaknya sebagian besar (75%) peserta didik terlibat secara aktif,

168
MANAJEMEN KURIKULUM

baik fisik, mental, maupun sosial dalam pembelajaran, disamping menunjukkan


kegairahan belajar yang tinggi, semangat belajar yang besar, dan rasa
percaya pada diri sendiri. Sedangkan dari segi hasil, proses pembentukan
kompetesi dan karakter dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan
peilaku yang positif pada diri peserta didik seluruhnya atau setidaknya
sebagian besar (75%). Lebih lanjut menentukan kompetensi dan karakter
dikatakan berhasil dan berkualitas apabila masukan merata, menghasilkan
output yang banyak dan bermutu tinggi,serta sesuai dengan kebutuhan,
perkembangan masyarakat dan pembangunan. Untuk itu, keberhasilan
implementasi kurikulum 2013 berbasis kompetensi dan karakter dapat
dilihat dalam jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang.17

E. LANDASAN DAN TUJUAN PENGEMBANGAN KURIKULUM


2013
Pengembangan kurikulum 2013 dilandasi secara filosofis, yuridis
dan konseptual sebagai berikut:
1. Landasan filosofis
a. Filosofis pancasila yang memberikan berbagai prinsip dasar dalam
pembangunan pendidikan.
b. Filosofis pendidikan yang berbasis pada nilai-nilai luhur, nilai
akademik, kebutuhan peserta didik dan masyarakat.
2. Landasan yuridis
a. RPJMM 2010-2014 sektor pendidikan tentang perubahan metodologi
pembelajaran dan penataan kurikulum PP No 19 Tahun 2005
tentang Standar Nasional Pendidikan INPRES Nomor 1 tahun
2010, tentang percepatan pelaksanaan perioritas pembangunan
nasional, penyempurnaan kurikulum dan metode pembelajaran
aktif berdasarkan nilai-nilai budaya bangsa untuk membentuk
daya saing dan karakter bangsa.
3. Landasan Konseptual
a. Relevansi Pendidikan (link and match);

17
Ibid, h. 99-134.

169
MANAJEMEN KURIKULUM

b. Kurikulum berbasis kompetensi dan karakter;


c. Pembelajaran konseptual (conceptual teaching and learning);
d. Pembelajaran aktif (student active learning);
e. Penilaian yang valid, utuh dan menyeluruh.

Seperti yang dikemukakan diberbagai media massa, bahwa melalui


pengembangan kurikulum 2013 kita akan menghasilkan insan Indonesia
yang produktif, kreatif, inovatif dan efektif melalui penguatan sikap,
keterampilan dan pengetahuan yang berintegrasi. Dalam hal ini, pengem-
bangan kurikulum difokuskan pada pembentukan kompetensi dan karakter
peserta didik, berupa paduan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang
dapat didemonstrasikan peserta didik sebagai wujud pemahaman terhadap
konsep yang dipelajarinya secara konseptual. Kurikulum 2013 memungkinkan
para guru menilai hasil belajar peserta didik dalam proses pencapaian
sasaran belajar yang mencerminkan penguasaan dan pemahaman terhadap
apa yang dipelajari. Oleh karena itu, peserta didik perlu mengetahui
kriteria penguasaan kompetensi dan karakter yang akan dijadikan sebagai
standar penilaian hasil belajar, sehingga para peserta didik dapat mempersiapkan
dirinya melalui penguasaan terhadap sejumlah kompetensi dan karakter
tertentu, sebagai prasyarat untuk melanjutkan ketingkat penguasaan
kompetensi dan karakter berikutnya.
Mengacu kepada penjelasan UU No. 20 Tahun 2003, bagian umum
dikatakan, bahwa: “Strategi pembangunan pendidikan nasional dalam
undang-undang ini meliputi: … 2. pengembangan dan pelaksanaan kurikulum
berbasis kompetensi…” dan pada penjelasan pasal 35, bahwa “kompetensi
lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup
sikap, pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan standar nasional
yang telah disepakati.” Maka diadakan perubahan kurikulum dengan
tujuan untuk “Melanjutkan Pengembangan kurikulum berbasis kompetensi
yang telah dirintis pada tahun 2004 dengan mencakup kompetensi sikap,
pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu.”
Untuk mencapai tujuan tersebut menuntut perubahan pada berbagai
aspek lain, terutama dalam implementasinya di lapangan. Berbagai aspek
lain, terutama dalam implementasinya dilapangan pada proses pembelajaran
dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu, sedangkan pada proses
penilaian, dari berfokus pada pengetahuan melalui penilaian output menjadi

170
MANAJEMEN KURIKULUM

berbasis kemampuan melalui penilaian proses, portofolio dan penilaian


output secara utuh dan menyeluruh, sehingga memerlukan penambahan
jam pelajaran.

F. KURIKULUM 2013 BERBASIS KOMPETENSI


Dalam rangka mempersiapkan lulusan pendidikan memasuki era
globalisasi yang penuh tantangan dan ketidak pastian, diperlukan pendidikan
yang dirancang berdasarkan kebutuhan nyata dilapangan.Untuk kepentingan
tersebut pemerintah melakukan penataan kurikulum.Kurikulum 2013
merupakan tindak lanjut dari kurikulum berbasis kompetensi (KBK)
yang pernah diuji coba pada tahub 2004.KBK atau (Competency Based
Curriculum) dijadikan acuan dan pedoman bagi pelaksana pendidikan
untuk mengembangkan berbagai ranah pendidikan (pengetahuan, keterampilan
dan sikap) dalam seluruh jenjang dan jalur pendidikan khususnya pada
jalur pendidikan sekolah.
Pada hakikatnya kompetensi merupakan perpaduan dari pengetahuan,
keterampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berpikir
dan bertindak. Burke (1995) mengemukakan bahwa kompetensi: “….is
a knowledge, skills, and abilities or capabilities that a person achieves, wich
become part of his or her being to the exent he or she can statisfactorily perporm
particular cognitive, afektive, and psychomotor behaviors”. Dalam hal ini,
kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan
yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya,
sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif dan psiko-
motorik dengan sebaik-baiknya. Pengertian tersebut mengandung arti
bahwa kompetensi merupakan penguasaan terhadap suatu tugas, keterampilan,
sikap dan apresiasi yang harus dimiliki oleh peserta didik untuk dapat
melaksanakan tugas-tugas pembelajaran sesuai dengan jenis pekerjaan
tertentu. Dengan demikian terdapat hubungan (link) antara tugas-tugas
yang dipelajari peserta didik di sekolah dengan kemampuan yang diperlukan
oleh dunia kerja. Untuk itu, kurikulum menuntut kerjasama yang baik
antara pendidikan dengan dunia kerja terutama dalam mengidentifikasi
dan menganalisis kompetensi yang perlu diajarkan kepada peserta didik
disekolah.
Kompetensi yang harus dikuasai peserta didik perlu dinyatakan sedemikian

171
MANAJEMEN KURIKULUM

rupa agar dapat dinilai, sebagai hasil wujud belajar peserta didi yang
mengacu pada pengalaman langsung. Peserta didik perlu mengetahui
tujuan belajar dan tingkat-tingkat penguasaan yang akan digunakan
sebagai kriteria pencapaian secara eksplisit, dikembangkan berdasarkan
tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dan memiliki kontribusi terhadap
kompetensi-kompetensi yang sedang dipelajari. Penilaian terhadap pencapaian
kompetensi perlu dilakukan secara objektif, berdasarkan kinerja peserta
didik dengan bukti penguasaan mereka terhadap pengetahuan, keterampilan
nilai dan sikap sebagai hasil belajar.dengan demikian dalam pembelajaran
yang dirancang berdasarkan kompetensi, penialain tidak dilakukan
berdasarkan pertimbangan yang bersifat subyektif.
Beberapa aspek atau ranah yang terkandung dalam konsep kompetensi
dapat diuraikan sebagai berikut.
1. Pengetahuan (knowledge); yaitu kesadaran dalam bidang kognitif,
misalnya seorang guru mengetahui cara melakukan identifikasi kebutuhan
belajar dan bagaimana melakukan pembelajaran terhadap peserta
didik sesuai dengan kebutuhannya.
2. Pemahaman (understanding); yaitu kedalaman kognitif dan afektif
yang dimiliki oleh individu. Misalnya seorang guru yang akan melaksanakan
pembelajaran harus memliki pemahaman yang baik terhadap karakteristik
dan kondisi peserta didik agar dapat melaksanakan pembelajaran
secara efektif dan efesien.
3. Kemampuan (skill);adalah sesuatu yang dimiliki oleh individu untuk
melakukan tugas atau pekerjaan yang dibebankan kepadanya. Misalnya
kemampuan guru dalam memilih dan membuat alat peraga sederhana
untuk memberi kemudahan belajar kepada peserta didik.
4. Nilai (value); adalah suatu standar perilaku yang telah diyakini dan
secara psikologis telah menyatu dalam diri seseorang. Misalnya standar
perilaku guru dalam pembelajaran (kejujuran, keterbukaan, demokratis
dan lain-lain).
5. Sikap (attitude); yaitu perasaan (sering tidak senang, suka-tidaksuka)
atau reaksi terhadap krisis ekonomi, perasaan terhadap kenaikan
upah/gaji dan sebagainya.
6. Minat (interest); adalah kecendrungan seseorang untuk melakukan

172
MANAJEMEN KURIKULUM

sesuatu perbuatan. Misalnya minat untuk mempelajari atau melakukan


sesuatu.

Berdasarkan analisis kompetensi di atas kurikulum 2013 berbasis


kompetensi dapat dimaknai sebagai sesuatu konsep kurikulum yang
menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan (kompetensi)
tugas-tugas dengan standar performasi tertentu, sehingga hasilnya dapat
dirasakan oleh peserta didik berupa penguasaan terhadap seperangkat
kompetensi tertentu. Kurikulum ini diarahkan untuk mengembangkan
pengetahuan, pemahaman, kemampuan, nilai, sikap dan minat peserta
didik, agar dapat melakukan sesuatu dalam bentuk kemahiran, ketepatan
dan keberhasilan dengan penuh tanggungjawab.
Kurikulum 2013 berbasis kompetensi memfokuskan pada pemerolehan
kompetensi-kompetensi tertentu oleh peserta didik. Oleh karena itu, kurikulum
ini mencakup sejumlah kompetensi dan seperangkat tujuan pembelajaran
yang dinyatakan sedemikian rupa, sehingga pencapaiannya dapat diamati
dalam bentuk perilaku atau keterampilan peserta didik sebagai suatu
kriteria keberhasilan. Kegiatan pembelajaran perlu diarahkan untuk
membantu peserta didik menguasai sekurang-kurangnya tingkat kompetensi
minimal, agar mereka dapat mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan.
Sesuai dengan konsep belajar tuntas dan pengembangan bakat, setiap
peserta didik harus diberi kesempatan untuk mencapai tujuan sesuai
dengan kemampuan dan kecepatan belajar masing-masing.

G. LANDASAN KURIKULUM 2013


Paling tidak terdapat dua landasan teoretis yang mendasari kurikulum
2013 berbasis kompetensi. Pertama, adanya pergeseran dari pembelajaran
kelompok kea rah pembelajaran individual. Dalam pembelajaran individual
setiap peserta didik dapat belajar sendiri sesuai dengan cara dan kemampuan
masing-masing. Untuk itu, diperlukan pengaturan kelas fleksibel baik
sarana maupun waktu, dimungkinkan peserta didik belajar dengan
kecepatan yang berbeda, penggunaan alat yang berbeda serta mempelajari
bahan ajar yang berbeda pula.Kedua, pengembangan konsep belajar tuntas
(mastery learning) atau belajar sebagai penguasaan (learning for mastery)
adalah salah satu falsafah pembelajaran yang mengatakan bahwa dengan

173
MANAJEMEN KURIKULUM

sistem pembelajaran yang tepat semua peserta didik dapat mempelajari


semua bahan yang diberikan dengan hasil yang baik dengan demikian
setiap peserta didik dapat mencapai tujuan pembelajaran secara optimal,
jika diberikan waktu yang cukup.Jika asumsi tersebut diterima maka
perhatian harus dicurahkan kepada waktu yang diperlukan untuk
kegiatan belajar.Dalam hal ini perbedaan antara peserta didik yang pandai
dengan yang kurang (bodoh) memerlukan waktu yang cukup lama untuk
mempelajari sesuatu atau memecahkan suatu masalah sementara yang
pandai bisa lebih cepat melakukannya.
Landasan pemikiran di memberikan beberapa implikasi dalam
pembelajaran. Pertama, meskipun meskipun secara klasikal pembelajaran
harus lebih menekankan pada kegiatan individual dengan memperhatikan
perbedaan peserta didik.Dalam hal ini misalnya tugas diberikan secara
individu bukan secara kelompok. Kedua, perlu diupayakan lingkungan
belajar yang kondusif, dengan metode dan media yang bervariasi sehingga
memungkinkan setiap peserta didik belajar dengan tenang dan menyenangkan.
ketiga, agar setiap peserta didik dapat mengerjakan tugas dengan yang
baik dalam pembelajaran perlu diberikan waktu yang cukup terutama
dalam penyelesaian tugas dan praktek. Jika alokasi waktu yang tersedia
disekolah tidak mencukupi, maka berilah kebebasan pada peserta didik
untuk menyelesaikan tugas diluar kelas pada kegiatan ekstra kurikuler.
Sedikitnya dapat tiga hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan
kurikulum 2013 berbasis kompetensi yaitu penetapan kompetensi yang
akan dicapai, pengembangan strategi untuk mencapai kompetensi dan
evaluasi. Kompetensi yang ingin dicapai merupakan pernyataan tujuan
(goal statement) yang hendak diperoleh peserta didik, menggambarkan
hasil belajar (learning outcomes) pada aspek pengetahuan, keterampilan,
nilai dan sikap. Strategi mencapai kompetensi adalah upaya untuk membantu
peserta didik dalam menguasai kompetensi yang ditetapkan, misalnya:
membaca, menulis, mendengarkan, berkreasi dan mengobservasi, sampai
terbentuk suatu kompetensi. Sedangkan evaluasi merupakan kegiatan
penilaian terhadap pencapaian kompetensi bagi setiap peserta didik.
Kurikulum 2013 berbasis kompetensi antara lain mencakup seleksi
kompetensi yang sesuai; spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk
menentukan kesuksesan pencapaian kompetensi; dan pengembangan
sistem pembelajaran. Disamping itu, kurikulum berbasis kompetensi

174
MANAJEMEN KURIKULUM

memiliki sejumlah kompetensi yang harus dikuasai oleh peserta didik,


penilaian dilakukan berdasarkan standar khusus sebagai hasil demonstrasi
kompetensi yang ditunjukkan oleh peserta didik, pembelajaran lebih
menekankan pada kegiatan individual personal untuk menguasai kompetensi
yang dipersyaratkan, peserta didik dapat dinilai kompetensinya kapan
saja bila mereka telah siap, dal dalam pembelajaran peserta didik dapat
maju sesuai dengan kecepatan dan kemampuan masing-masing.
Dari berbagai sumber sedikitnya dapat diidentifikasikan lima karakteristik
kurikulum berbasis kompetensi, yaitu; mendayagunakan keseluruhan
sumber belajar; pengalaman lapangan; strategi individual personal;
kemudahan belajar dan belajar tuntas. Kelima hal tersebut dijelaskan
sebagai berikut.

1. Mendayagunakan keseluruhan sumber belajar


Suatu faktor yang menyebabkan rendahnya kualitas pembelajaran
antara lain belum dimanfaatkannya sumber belajar secara maksimal,
baik oleh guru maupun oleh peserta didik. Hal tersebut lebih dipersulit
lagi oleh suatu kondisi yang turun temurun yang mana guru mendominasi
kegiatan pembelajaran. Dalam kurikulum 2013 berbasis kompetensi,
gur hendaknya tidak lagi berperan sebagai aktor/aktris utama dalam
proses pembelajaran, karena pembelajaran dapat dilakukan dengan
mendayagunakan aneka ragam sumber belajar. Dengan demikian, tidak
ada lagi anggapan bahwa kegiatan pembelajaran baru diakatakan sempurna
kalau ada ceramah dari guru. Untuk memperoleh hasil belajar yang optimal
peserta didik dituntut tidak hanya mengandalkan diri dari apa yang terjadi
di dalam kelas, tetapi harus mampu dan mau menelusuri aneka ragam
sumber belajar yang diperlukan.
Pendayagunaan sumber belajar memiliki arti yang sangat penting,
selain melengkapi, memelihara, dan memperkaya khasanah belajar, sumber
belajar juga dapat meningkatkan aktivitas dan kreativitas belajar, yang
sangat menguntungkan baik bagi guru, maupun bagi peserta didik. Dengan
didayagunakannya sumber belajar secara maksimal, dimungkinkan orang
yang belajar menggali berbagai jenis ilmu pengetahuan yang sesuai dengan
bidangnya, sehingga pengetahuannya senantiasa aktual, serta mampu
mengikuti akselerasi tekhnologi dan seni yang senantiasa berubah.

175
MANAJEMEN KURIKULUM

Pada hakikatnya tidak ada satu sumber belajar pun yang dapat memenuhi
segala macam keperluan belajar mengajar dengan demikian, berbicara
sumber belajar perlu dipandang dalam arti luas jamak dan beraneka
ragam. Momentum pemilihan sumber suatu belajar, perlu dikaitkan dengan
tujuan yang ingin dicapai dalammproses pembelajaran. Dengan kata
lain sumber belajar dipilih dan diginakan dalam proses belajar apabila
sesuai dan menunjang tercapainya tujuan. Dalam keanekaragaman sifat
dan kegunaan sumber belajar secara umum dapat dirimuskan kegunaan
sebagai berikut:
a. Merupakan pembuka jalan dan pengembangan wawasan terhadap
proses belajar mengajar yang akan ditempuh. Disini sumber belajar
merupakan peta dasar yang perlu dijajaki secara umum agar wawasan
terhadap proses pembelajaran yang akan dikembangkan dapat diperoleh
lebih awal.
b. Merupakan pemandu secara teknis dan langkah-langkah operasional
untuk menelusuri secara lebih teliti menuju pada penguasaan keilmuan
secara tuntas.
c. Memberikan berbagai macam ilustrasi dan contoh-contoh yang berkaitan
dengan aspek-aspek bidang keilmuan yang dipelajari dengan berbagai
bidang keilmuan yang dipelajari dengan berbagai bidang keilmuan
lainnya.
d. Memberikan petunjuk dan gambaran kaitan bidang keilmuan lainnya.
e. Menginformasikan sejumlah penemuan baru yang pernah diperoleh
orang lain yang berhubungan dengan bidang keilmuan tertentu.
f. Menunjukkan berbagai permasalahan yang timbul yang merupakan
konsekuensi logis dalam suatu bidang keilmuan yang menuntut
adanya kemampuan pemecahan dari orang yang mengabdikan diri
dalam bidang tersebut.

H. KURIKULUM 2013 SEBAGAI UPAYA MEREALISASIKAN SNP


Kedudukan guru profesional merupakan garda terdepan dan ujung
tombak implementasi kurikulum dan pembelajaran yang berhadapan
langsung dengan anak didik. Dengan kata lain, tanpa guru profesional

176
MANAJEMEN KURIKULUM

perubahan kurikulum tidak akan memberikan sumbangan yang berarti


terhadap kualitas pembelajaran dan mutu lulusan pada umumnya.18
Di samping Undang-Undang nomor 20 tahun 2003 tentang sistem
pendidikan nasional yang mengatur kebijakan dan arah praktik pendidikan
nasional, maka Standar Nasional Pendidikan (SNP) telah digulirkan oleh
pemerintah dalam Peraturan Pemerintah nomor 19 tahun 2005. Keberadaan
SNP tersebut merupakan kriteria minimal tentang sistem pendidikan
di seluruh wilayah hukum negara kesatuan repubik Indonesia (NKRI)
yang berlaku dari Sabang sampai Merauke. Sesungghnya dengan ditetap-
kannya SNP dimaksudkan untuk meningkatkan mutu pendidikan, agar
sejalan dengan perkembangan dan kebutuhan masyarakat, serta akselerasi
ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS). Penataan terhadap empat
standar dilakukan terutama dalam kaitannya dengan implementasi
kurikulum 2013. Hasil penataan tersebut dituangkan dalam PP Nomor
32 tahun 2013 yang ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudoyono
tanggal 7 Mei 2013. Penataan dilakukan berdasarkan pertimbangan
terhadap perkembangan zaman, akselerasi IPTEKS yang berdampak
kepada kebutuhan peserta didik.19
Penetapan standar kompetensi dan standar mutu pendidikan nasional
merupakan jaminan bagi laju pertumbuhan ekonomi dan peningkatan
produktivitas nasional. Di samping itu, merupakan acuan penyelenggaraan
serta bentuk akuntabilitas sekolah dan pemerintah daerah kepada masyarakat,
yang memberikan kebebasan kepada guru dan kepala sekolah untuk
berkreasi sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Jika standar
kompetensi dan standar mutu pendidikan telah dikembangkan sesuai
dengan visi, misi dan tujuan pendidikan nasional, kemudian dituangkan
kedalam kurikulum serta ditunjang oleh guru dan kepala sekolah profesional
maka pendidikan dapat diharapkan menghasilkan SDM berkualitas,
mampu membawa Indonesia keluar dari krisis yang berkepanjangan serta
dapat mengikuti percepatan informasi dalam era globalisasi.20
Berkaitan dengan itu, Pemerintah telah melakukan berbagai penataan

18
E. Mulyasa, Guru dalam Implementasi Kurikulum 2013, Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2015, h.1.
19
Ibid, h.21.
20
E. Mulyasa, Pengembangan dan Impelementasi…. Op.cit,h.23.

177
MANAJEMEN KURIKULUM

dalam standarisasi pendidikan, seperti yang dituangkan dalam peraturan


pemerintah (PP) Republik Indonesia nomor 19 tahun 2005 tentang standar
nasional pendidikan. dan PP Nomor 32 tahun 2013 tentang perubahan
atas peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional
pendidikan. Dalam kedua peraturan tersebutdikemukakan bahwa :”standar
nasional pendidikan adalah kriteria minimal tentang sistem pendidikan
di seluruh wilayah hukum negara kesatuan repubik Indonesia”. Standar
nasional pendidikan bertujuan untuk menjamin mutu pendidikan nasional
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat”.
Lebih lanjut Mulyasa menjelaskan bahwa perubahan standar nasional
pendidikan dimaksud adalah diselaraskan untuk mengimbangi dinamika
perkembangan masyarakat, baik lokal, nasional maupun global sehingga
fungsi dan tujuan pendidikan nasional dapat diwujudkan secara optimal.
Perwujudan fungsi dan tujuan pendidikan nasional terutama untuk mening-
katkan sumberdaya manusia agar masyarakat dan bangsa kita memiliki
nilai tambah dan nilai jual sehingga dapat bersaing, bersanding dan ber-
tanding dengan negara-negara lain dalam tatanan global dan internasional.
Penataan standar juga dilakukan dalam rangka pengembangan
dan perubahan kurikulum yang secara periodik perlu penyesuaian dengan
perkembangan dan kebutuhan zaman. Oleh karena itu penataan lebih
difokuskan kepada empat standar dan pasal-pasal yang berkaitan dengan
kurikulum dan pembelajaran. Empat elemen perubahan tersebut adalah
standar kompetensi lulusan, standar isi, standar proses dan standar penilaian,
sedangkan standar pendidik dan standar tenaga kependidikan, standar
sarana dan prasarana, standar pengelolaan dan standar pembiayaan tidak
dilakukan perubahan secara signifikan. Dengan demikian, kedua peraturan
tersebut, baik PP no.19 tahun 205 dan PP No.32 tahun 2013 masih berlaku
dan harus dijadikan pedoman pelaksanaan serta direalisasikan secara
efektif, produktif. Penataan pelaksanaan tersebut tidak menambah maupun
mengurangi jumlah standar, jumlahnya masih delapan, standarnyapun
masih sama seperti semula.
Delapan standar nasional pendidikan tersebut, garis besarnya sebagai
berikut: (Diadaptasi dari PP. No. 32 tahun 2013).
1. Standar Kompetensi Lulusan (SKL). SKL adalah kriteria mengenai
kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan,

178
MANAJEMEN KURIKULUM

dan keterampilan. SKL tersebut digunakan sebagai acuan utama pengem-


bangan Standar Isi, Standar Proses, Standar Penilaian Pendidikan,
Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, Standar Sarana dan Prasarana,
Standar Pengelolaan, dan Standar Pembiayaan. SKL digunakan sebagai
pedoman penilaian dalam penentuan kelulusan peserta didik dari
satuan pendidikan. SKL meliputi kompetensi untuk seluruh mata
pelajaran atau mata kuliah, yang mencakup sikap spiritual, sikap
sosial, pengetahuan, dan keterampilan.
2. Standar Isi (SI). SI adalah kriteria mengenai ruangn lingkup materi
dan tingkat kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan pada
jenjang dan jenis pendidikan tertentu. SI mencakup ruang lingkup
materi dan tingkat kompetensi. Ruang lingkup materi dirumuskan
dengan mempertimbangkan muatan wajib yang ditetapkan dalam
ketentuan peraturan perundang-undangan; konsep keilmuan; dan
karakteristik satuan pendidikan dan program pendidikan. tingkat
kompetensi dirumuskan berdasarkan tingkat perkembangan peserta
didik; Kualifikasi Kompetensi Nasional Indonesia (KKNI); dan penguasaan
kompetensi secara berjenjang.
3. Standar Proses (SP). SP adalah kriteria mengenai pelaksanaan pembelajaran
pada satuan pendidikan untuk mencapai SKL. Proses pembelajaran
pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif,
menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi
aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas,
dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan
fisik serta psikologis peserta didik. Setiap satuan pendidikan harus
melakukan perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian pembelajaran,
serta melakukan pengawasan secara efektif, agar pembelajaran
dapat diselenggarakan secara efektif dan efisien.
4. Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan (SPTK). SPTK adalah kriteria
mengenai pendidikan prajabatan dan kelayakan fisik maupun mental
serta pendidikan dalam jabatan. Secara garis besar standar pendidik
dan tenaga kependidikan tersebut dapat dideskripsikan sebagai berikut:
a. Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi
sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki
kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.

179
MANAJEMEN KURIKULUM

b. Kualifikasi akademik adalah tingkat pendidikan minimal yang


harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan
ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan
perundang-undangan yang berlaku.
c. Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan
dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi:
1) Kompetensi Pedagogik;
2) Kompetensi Kepribadian;
3) Kompetensi Profesional; dan
4) Kompetensi Sosial.
Di samping itu, dan yang paling penting mereka juga harus memiliki
kompetensi spiritual dan moral secara proporsional.
d. Seseorang yang tidak memiliki ijazah atau sertifikat, tetapi memiliki
keahlian khusus yan diakui dan diperlukan dapat diangkat menjadi
pendidik setelah melewati uji kelayakan dan kesetaraan.
e. Kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran
dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.
5. Standar Sarana dan Prasarana (SPS). SPS adalah kriteria mengenai
ruang belajar, tempat berolahraga, tempat beribadah, perpustakaan,
laboratorium, bengkel kerja, tempat bermain, tempat berkreasi dan
berekreasi serta sumber belajar lain, yang diperlukan untuk menunjang
proses pembelajaran, termasuk penggunaan teknologi informasi
dan komunikasi. Standar sarana dan prasarana dikembangkan oleh
BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri, antara lain sebagai
berikut:
a. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki sarana yang meliputi
perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber
belajar lainnya, bahan habis pakai serta perlengkapan lain yang
diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur
dan berkelanjutan.
b. Setiap satuan pendidikan wajib memiliki prasarana yang meliputi
lahan, ruang kelas, ruangan pimpinan, satuan pendidikan, ruang
pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan, ruang laboratorium,
ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin, instalasi
daya dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat ber-

180
MANAJEMEN KURIKULUM

main, tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan


untuk menunjang proses pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan.
c. Standar keragaman jenis peralatan laboratorium, ilmu pengetahuan
alam (IPA), laboratorium bahasa, laboratorium komputer, dan
peralatan pembelajaran lain pada satuan pendidikan dinyatakan
dalam daftar yang berisi jenis minimal peralatan yang harus tersedia.
d. Standar buku teks pelajaran di perpustakaan dinyatakan dalam
rasio minimal jumlah buku teks pelajaran untuk masing-masing
mata pelajaran di perpustakaan satuan pendidikan untuk setiap
peserta didik.
6. Standar Pengelolaan (SPe). SPe adalah kriteria mengenai perencanaan,
pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat
satuan pendidikan, kabupaten/kota, provinsi, atau nasional agar ter-
capai efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan. Garis
besar standar pengelolaan yang perlu diketahui antara lain sebagai
berikut:
a. Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan dasar
dan menengah menerapkan manajemen berbasis sekolah yang
ditujukan dengan kemandirian, kemitraan, partisipasi, keterbukaan,
dan akuntabilitas.
b. Pengelolaan satuan pendidikan pada jenjang pendidikan tinggi
menerapkan otonomi perguruan tinggi dalam batas-batas yang
diatur dalam ketentuan perundang-undangan yang berlaku mem-
berikan kebebasan dan mendorong kemandirian dalam pengelolaan
akademik, operasional, personalia, keuangan, dan area fungsional
pengelolaan lainnya yang diatur oleh masing-masing perguruan
tinggi.
c. Setiap satuan pendidikan harus memiliki pedoman yang mengatur
tentang:
1) Kurikulum tiap satuan pendidikan dan silabus;
2) Kalender pendidikan/akademik, yang menunjukkan seluruh
kategori aktivitas satuan pendidikan selama satu tahun, dan
dirinci secara semesteran, bulanan, dan mingguan;
3) Struktur organisasi satuan pendidikan;
4) Pembagian tugas di antara pendidik;

181
MANAJEMEN KURIKULUM

5) Pembagian tugas di antara tenaga kependidikan;


6) Peraturan akademik;
7) Tat tertib satuan pendidikan yang minimal meliputi tata tertib
pendidik, tenaga kependidikan dan peserta didik serta penggunaan
dan pemeliharaan sarana dan prasarana;
8) Kode etik hubungan antara sesama warga di dalam lingkungan
satuan pendidikan dan hubungan antara warga satuan pendi-
dikan dengan masyarakat;
9) Biaya operasional satuan pendidikan.
d. Setiap satuan pendidikan dikelola atas dasar rencana kerja tahunan
yang merupakan penjabaran rinci dari rencana kerja jangka menengah
satuan pendidikan yang meliputi masa 4 (empat) tahun.
e. Untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah, rencana kerja
tahunan harus disetujui rapat dewan pendidik setelah memperhatikan
pertimbangan dari komite sekolah/madrasah, sedangkan untuk
pendidikan tinggi harus disetujui oleh lembaga berwenang sebagai-
mana diatur oleh masing-masing perguruan tinggi sesuai ketentuan
perundang-undangan yang berlaku.
f. Pengelolaan satuan pendidikan dilaksanakan secara mandiri,
efisien, efektif, dan akuntabel.
7. Standar Pembiayaan (Spem). Spem adalah kriteria mengenai komponen
dan besarnya biaya operasi satuan pendidikan yang berlaku selama
satu tahun. Biaya operasi satuan pendidikan adalah bagian dari dana
pendidikan yang diperlukan untuk membiayai kegiatan operasi satuan
pendidikan agar dapat berlangsungnya kegiatan pendidikan yang
sesuai standar nasional pendidikan secara teratur dan berkelanjutan.
Standar pembiayaan ini antara lain sebagai berikut:
a. Pembiayaan pendidikan terdiri atas biaya investasi, biaya operasi,
dan biaya personal.
b. Biaya investasi meliputi biaya pembelian sarana dan prasarana,
pengembangan sumber daya manusia, dan modal kerja tetap.
c. Biaya personal meliputi biaya pendidikan yang harus dikeluarkan
oleh peserta didik untuk bisa mengikuti proses pembelajaran secara
teratur dan berkelanjutan.

182
MANAJEMEN KURIKULUM

d. Biaya operasi satuan pendidikan meliputi: (1) Gaji pendidik dan


tenaga kependidikan serta segala tunjangan yang melekat pada
gaji; (2) Bahan atau peralatan habis pakai; (3) biaya operasi pendidikan
tak langsung berupa daya air, jasa telekomunikasi, pemeliharaan
sarana dan prasarana, uang lembur, transportasi, konsumsi, pajak,
asuransi, dan sebagainya.
e. Standar biaya operasi satuan pendidikan ditetapkan dengan Peraturan
Menteri berdasarkan usulan BSNP.
8. Standar Penilaian Pendidikan (SPP). SPP adalah kriteria mengenai
mekanisme, prosedur, dan instrument penilaian hasil belajar. penilaian
hasil belajar oleh satuan pendidikan dilakukan untuk menentukan
tingkat keberhasilan peserta didik dan nilai pencapaian SKL untuk
semua mata pelajaran. Penilaian hasil belajar mempertimbangkan
hasil penilaian oleh pendidik untuk semua mata pelajaran dilakukan
melalui ujian sekolah/madrasah untuk menentukan kelulusan peserta
didik dari satuan pendidikan.

I. ASUMSI DAN KEUNGGULAN KURIKULUM 2013


Dalam Kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan kompetensi,
asumsi merupakan parameter untuk menentukan tujuan dan kompetensi
yang akan dispesifikasikan. Konsistensi dan validitas setiap kompetensi
harus sesuai dengan asumsi, meskipun tujuannya selalu diuji kembali
berdasarkan masukan yang memungkinkan terjadinya perubahan.
Sedikitnya terdapat tujuh asumsi yang mendasari Kurikulum 2013
berbasis karakter dan kompetensi.Ketujuh asumsi tersebut adalah sebagai
berikut.
Pertama: banyak sekolah yang memiliki sedikit guru profesional,
dan tidak mampu melakukan proses pembelajaran secara optimal. Oleh
Karena itu, penerapan kurikulum berbasis kompetensi menuntut peningkatan
kemampuan professional guru.
Kedua: banyak sekolah yang hanya mengoleksi sejumlah mata pelajaran
dan pengalaman, sehingga mengajar diartikan sebagai kegiatan menyajikan
materi yang terdapat dalam setiap mata pelajaran.

183
MANAJEMEN KURIKULUM

Ketiga: peserta didik bukanlah tabung kosong atau kertas putih bersih
yang dapat diisi atau ditulis sekehendak guru, melainkan individu yang
memiliki sejumlah potensi yang perlu dikembangkan. Pengembangan
potensi tersebut menuntut iklim kondusif yang dapat mendorong peserta
didik belajar bagaimana belajar (learning how to learn), serta menghubungkan
kemampuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-
hari.
Keempat: peserta didik memiliki potensi yang berbeda dan bervariasi,
dalam hal tertentu memiliki potensi tinggi, tetapi dalam hal lain mungkin
biasa-biasa saja, bahkan rendah. Di samping itu, mereka memiliki tingkatan
yang berbeda dalam menyikapi situasi baru, sehingga guru harus dapat
membantu menghubungkan pengalaman yang sudah dimiliki dengan
situasi baru.
Kelima: pendidikan berfungsi mengkondisikan lingkungan untuk
membantu peserta didik mengembangkan berbagai potensi yang dimilikinya
secara optimal. Dalam hal ini (Sukmadinata: 2000) memberikan ilustrasi
dengan mengumpamakan pendidikan ibarat bertani, petani menyediakan
lahan yang gembur, mengatur air, udara, cahaya yang diperlukan tanaman,
memupuk, menyayangi dan mencegah tanaman dari hama-hama. Guru
seperti petani yang penuh rasa sayang dan perhatian, dengan tekun dan
telaten merawat tanaman kesayangannya. Petani tidak perlu menarik-
narik pohon supaya tinggi, membeber-beberkan daun supaya lebar, memberi
parfum supaya wangi. Kalau pohon tersebut punya potensi tinggi, daun
lebar, bunga, atau buahnya wangi, ciri-ciri tersebut akan dicapainya
sendiri asalkan diciptakan kondisi dan perlakukan lingkungannya tidak
mendukung para peserta didik, seperti halnya tanaman bisa menjadi
bonsai.
Keenam: kurikulum sebagai rencana pembelajaran harus berisi
kompetensi-kompetensi potensial yang tersusun secara sistematis, sebagai
jabaran dari seluruh aspek kepribadian peserta didik, yang mencerminkan
keterampilan yang dapat diterapkan dalam kehidupan.
Ketujuh: kurikulum sebagai proses pembelajaran harus menyediakan
berbagai kemungkinan kepada seluruh peserta didik untuk mengembangkan
berbagai potensinya secara optimal. Dalam hal ini tugas guru adalah
memberikan kemudahan dan kesempatan belajar kepada peserta didik

184
MANAJEMEN KURIKULUM

untuk menemukan id dan menerapkan strategi belajar sesuai dengan


kemampuan dan kecepatan belajar masing-masing.
Implementasi kurikulum 2013 diharapkan dapat menghasilkan
insan yang produktif, kreatif, dan inovatif. Hal ini dimungkinkan, karena
Kurikulum ini berbasis karakter dan kompetensi, yang secara konseptual
memiliki beberapa keunggulan. Pertama: Kurikulum 2013 menggunakan
pendekatan bersifat alamiah (kontekstual), karena berangkat, berfokus,
dan bermuara pada hakekat peserta didik untuk mengembangkan berbagai
kompetensi sesuai dengan potensinya masing-masing. Dalam hal ini
peserta didik merupakan subjek belajar, dan proses belajar berlangsung
secara alamiah dalam bentuk bekerja dan mengalami berdasarkan kom-
petensi tertentu, bukan transfer pengetahuan (transfer of knowledge).
Kedua: Kurikulum 2013 yang berbasis karakter dan kompetensi
boleh jadi mendasari pengembangan kemampuan-kemampuan lain.
Penguasaan ilmu pengetahuan, dan keahlian tertentu dalam suatu
pekerjaan, kemampuan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-
hari, serta pengembangan aspek-aspek kepribadian dapat dilakukan
secara optimal berdasarkan standar kompetensi tertentu.
Ketiga: ada bidang-bidang studi atau mata pelajaran tertentu yang
dalam pengembangannya lebih tepat menggunakan pendekatan kompetensi,
terutama yang berkaitan dengan keterampilan.
Berdasarkan asumsi-asumsi di atas, dalam implementasi kurikulum
2013 dilakukan penambahan beban belajar pada semua jenjang pendidikan,
sebagai berikut.
Beban belajar di SD/MI
Kelas I, II, dan III masing-masing 30, 32, 34 sedangkan untuk kelas
IV, V, dan VI masing-masing 36 jam setiap minggu, dengan lama
belajar untuk setiap jam belajarnya yaitu 35 menit.

Beban belajar di SMP/MTs


Dari semula 32 menjadi 38 jam untuk masing-masing kelas VII, VIII,
dan IX, dengan lama belajar untuk setiap jam belajarnya yaitu 40
menit.

185
MANAJEMEN KURIKULUM

Beban belajar di SMA/MA


Kelas X bertambah dari 38 jam menjadi 42 jam belajar, dan untuk
kelas XI dan XII bertambah dari 38 jam menjadi 44 jam belajar,
dengan lama belajar untuk setiap jam belajarnya yaitu 45 menit.

Kebijakan penambahan jam ini dimaksudkan agar guru memiliki


waktu yang lebih leluasa untuk mengelola dan mengembangkan proses
pembelajaran yang berorientasi pada peserta didik atau mengembangkan
pembelajaran aktif, kreatif, dan menyenangkan. Implikasi dari penambahan
beban belajar ini, guru dituntut untuk memiliki keterampilan mengembangkan
berbagai pendekatan dan metode pembelajaran yang memungkinkan
peserta didik belajar dan membentuk kompetensi dirinya.dalam pada
itu, guru juga dituntut untuk secara kreatif menciptakan lingkungan
yang kondusif, dengan manajemen kelas yang efektif, untuk menciptakan
pembelajaran yang menyenangkan, sehingga peserta didik dapat belajar
dengan menyenangkan (joyfull teaching and learning). Di samping penambahan
jam pembelajaran, dalam implementasi kurikulum 2013 juga rencananya
akan dilakukan pendampingan, terutama pendampingan bagi guru-
guru dalam melaksanakan pembelajaran tematik integratif.

J. PERBANDINGAN KURIKULUM 2013 DENGAN KTSP 2006


Tema Kurikulum 2013 adalah kurikulum yang dapat menghasilkan
insan Indonesia yang: produktif, kreatif, inovatif, afektif melalui penguatan
sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Beberapa keunggulan
kurikulum ini telah dibahas dalam subbab terdahulu, namun demikian
untuk lebih memantapkan pemahaman tentang inovasi kurikulum
ini dirasakan perlu untuk mengkaji dan menganalisis beberapa hal mendasar
yang dikembangkan dalam kurikulum 2013.Oleh karena itu, dalam
subbab ini disajikan secara khusus bagaimana perbandingan kurikulum
2013 dengan KTSP 2006.Perbandingan tersebut disajikan dalam bentuk
tabel berikut (Kemdiknas, 2013).

186
MANAJEMEN KURIKULUM

Tabel 1
Perbandingan Tata Kelola Pelaksanaan Kurikulum

Elemen Ukuran Tata Kelola KTSP 2006 Kurikulum 2013


Kewenangan Hampir mutlak Terbatas
Kompetensi Harus tinggi Sebaiknya tinggi.
Bagi yang rendah
masih terbantu
Guru dengan adanya buku
Bebasan Berat Ringan
Efektivitas waktu Rendah (banyak Tinggi
untuk kegiatan waktu untuk
pembelajaran persiapan)
Peran Penerbit Besar Kecil
Variasi Materi dan Tinggi Rendah
Buku Proses
Variasi harga/bebas Tinggi Rendah
siswa
Hasil pembelajaran Tergantung Tidak sepenuhnya
sepenuhnya tergantung guru,
Siswa pada guru tetapi juga buku
yang disediakan
pemerintah
Titik Penyimpangan Banyak Sedikit
Peman- Besar Penyimpangan Tinggi Rendah
tauan Pengawasan Sulit, hampir Mudah
tidak mungkin

187
MANAJEMEN KURIKULUM

Tabel 2
Perbandingan Tata Kelola Pelaksanaan Kurikulum

Proses Peran KTSP 2006 Kurikulum 2013


Guru Hampir mutlak Pengembangan dari
(dibatasi hanya SK-KD) yang sudah disiapkan
Penyusunan
Pemerintah Hanya sampai SK-KD Mutlak
Silabus
Pemerintah Supervisi Supervisi
Daerah penyusunan pelaksanaan
Penerbit Kuat Lemah
Guru Hampir mutlak Kecil, untuk buku
Penyediaan pengayaan
Buku Pemerintah Kecil, untuk kelayak- Mutlak untuk buku
an penggunaan di teks, kecil untuk
sekolah buku pengayaan
Guru Hampir mutlak Kecil, untuk pengem-
Penyusunan bangan dari yang ada
Rencana pada buku teks
Pelaksanaan
Pembelajaran Pemerintah Supervisi penyusun- Supervisi pelaksana-
Daerah an dan pemantauan an dan pemantauan
Guru Mutlak Hampir mutlak
Pelaksanaan Pemerintah Pemantauan kese- Pemantauan kese-
Pembelajaran Daerah suaian dengan ren- suaian dengan buku
cana (variatif) teks (terkendali
Pemerintah Sulit, karena variasi Mudah, karena
Penjaminan
terlalu besar mengarah pada
Mutu
pedoman yang sama

Adapun langkah penguatan tata kelola dilakukan dengan: (1)


Menyiapkan buku pegangan pembelajaran yang terdiri dari buku siswa,
dan buku guru; (2) Menyiapkan guru supaya memahami pendayagunaan
sumber belajar yang telah disiapkan dan sumber lain yang dapat mereka
manfaatkan; (3) Memperkuat peran pendampingan dan pemantauan
oleh pusat dan daerah dalam pelaksanaan pembelajaran. Perbedaan
esensial kurikulum tersebut dapat dipahami dalam subbab di bawah ini.

188
MANAJEMEN KURIKULUM

K. PERBEDAAN ESENSIAL KURIKULUM 2013 DENGAN KTSP


2006
Perubahan dan pengembangan kurikulum mulai dari sekolah dasar
(SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA),
dan sekolah menengah kejuruan (SMK) dilakukan untuk menjawab
tantangan zaman yang terus berubah agar peserta didik mampu bersaing
di masa depan, dalam konteks nasional maupun global. Perubahan dan
pengembangan Kurikulum 2013 dapat dikaji perbedaannya dengan
KTSP 2006, dalam tabel-tabel berikut ini (dimodifikasi dan dikembangkan
dari materi sosialisasi kurikulum 2013).

Tabel 3
Perbedaan Esensial Kurikulum SD

KTSP 2006 Kurikulum 2013 Status


Mata pelajaran ter- Tiap mata pelajaran mendukung Benarnya
tentu mendukung semua kompetensi (sikap, keteram-
kompetensi tertentu pilan, pengetahuan)
Mata pelajaran di- Mata pelajaran yang dirancang ter- Benarnya
rancang berdiri kait satu dengan yang lain dan me-
sendiri dan memiliki miliki kompetensi dasar yang diikat
kompetensi dasar oleh kompetensi inti tiap kelas
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia sebagai penghela Idealnya
sejajar dengan mapel lain (sikap dan keterampilan
mapel lain berbahasa)
Tiap mata pelajaran Semua mata pelajaran diajarkan Idealnya
diajarkan dengan dengan pendekatan yang sama
pendekatan berbeda (saintifik) melalui mengamati,
menanya, mencoba, menalar, ….
Tiap jenis konten Bermacam jenis konten pembelajaran Baiknya
pembelajaran diajar- diajarkan terkait dan terpadu satu
kan terpisah sama lain (cross curriculum atau
(separated curriculum) integrated curriculum)
Konten ilmu pengetahuan diinteg-
rasikan dan dijadikan penggerak
konten pembelajaran lainnya
Tematik untuk kelas Tematik Integratif untuk kelas I-VI Baiknya
III (belum integrative)

189
MANAJEMEN KURIKULUM

Kurikulum sekolah dasar 2013 lebih ditekankan pada aspek afektif,


dengan penilaian yang ditekankan pada nontes dan portofolio.
Dalam implementasi kurikulum yang berbasis kompetensi dan karakter
ini, murid SD idealnya tidak lagi banyak menghafal, karena kurikulum
ini dirancang untuk mempersiapkan peserta didik memiliki budi pekerti
atau karakter yang baik, sebagai bekal untuk mengikuti pendidikan pada
jenjang berikutnya. Berikut adalah perbedaan lebih lanjut kurikulum
2013 untuk sekolah dasar.

1. Tematik Integratif
Pembelajaran tematik integratif sebelumnya hanya dilaksanakan
pada kelas rendah saja, dan kelas tinggi setiap mata pelajaran terkesan
terpisah atau berdiri sendiri.Dalam implementasi kurikulum 2013, murid
sekolah dasar tidak lagi mempelajari masing-masing mata pelajaran secara
terpisah. Pembelajaran berbasis tematik integrative yang diterapkan pada
tingkatan pendidikan dasar ini menyuguhkan proses belajar berdasarkan
tema untuk kemudian dikombinasikan dengan mata pelajaran lainnya.

2. Delapan Mata Pelajaran


Untuk tingkat SD, saat ini ada 10 mata pelajaran yang diajarkan,
yaitu Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia,
Matematika, IPA, IPS, Seni Budaya dan Keterampilan, Pendidikan Jasmani
Olahraga dan Kesehatan, serta Muatan Lokal dan Pengembangan Diri.
Dalam kurikulum 2013, mata pelajaran untuk anak SD yang semula
berjumlah 10 mata pelajaran dipadatkan menjadi delapan mata pelajaran,
yaitu Agama, PPKn, Matematika, Bahasa Indonesia, Pendidikan Jasmani
dan Kesehatan, Seni Budaya, IPA, dan IPS. Bahkan semula rencananya
hanya enam mata pelajaran saja, karena IPA dan IPS rencananya diintegrasi-
kan ke dalam mata pelajaran lainnya.

3. Pramuka sebagai Ekstra Kurikuler Wajib


Dalam implementasi kurikulum 2013, Pramuka merupakan ekstra-
kurikuler wajib dan itu diatur dalam undang-undang.Pramuka ini menjadi
ekstrakurikuler wajib pada satuan pendidikan dasar dan menengah, untuk
berbagai jenis dan jenjang pendidikan.untuk meningkatkan layanan

190
MANAJEMEN KURIKULUM

secara profesional, maka dalam implementasi pramuka, Kemendikbud


bekerja sama dengan Kemenpora.

4. Bahasa Inggris hanya Ekskul


Sebelumnya terjadi polemik mengenai bahasa Inggris di SD, yaitu
bahasa Inggris akan dihapus dari kurikulum. Rencana penghapusan
bahasa Inggris dari kurikulum SD ini didasari kekhawatiran akan mem-
bebani siswa dan memprioritaskan terhadap penguasaan Bahasa Indonesia.
Ternyata untuk tingkat SD ini, dalam kurikulum baru 2013 Bahasa Inggris
termasuk dalam kegiatan ekstra kurikuler bersama dengan Palang Merah
Remaja (PMR), UKS, dan Pramuka.

5. Belajar di Sekolah Lebih Lama


Pemadatan mata pelajaran dalam kurikulum 2013 bukan mengurangi
jam belajar, justru membuat lama belajar anak di sekolah bertambah. Metode
baru pada kurikulum ini mengharuskan anak-anak untuk ikut aktif dalam
pembelajaran dan mengobservasi setiap tema yang menjadi bahasan.
Untuk kelas I-III yang awalnya belajar selama 26-28 jam dalam per minggu
bertambah menjadi 30-32 jam per minggu. Sedangkan untuk kelas IV-VI
yang semula belajar selama 32 jam per minggu di sekolah bertambah
menjadi 36 jam per minggu.
Itulah isi perubahan kurikulum baru yang rencananya akan diterapkan
pada tahun ajaran baru Juli 2013 untuk anak-anak SD. Sistem pembelajaran
berbasis tematik integrative ini telah dijalankan di banyak negara, seperti
Inggris, Jerman, Perancis, Finlandia, Skotlandia, Australia, Selandia Baru,
Sebagian Amerika Serikat, Korea Selatan, Singapura, Hongkong, dan
Filipina. Penambahan jam belajar di sekolah dianggap masih sesuai karena
dibandingkan dengan negara lain, Indonesia terbilang masih singkat
durasinya untuk anak usia 7-9 tahun. Dengan pemadatan mata pelajaran
dan pembelajaran berbasis tematik, anak-anak jga tidak akan lagi kerepotan
membawa buku yang banyak dalam tasnya.
Selanjutnya, perbedaan esensial dari kurikulum SMP adalah sebagai
berikut ini.

191
MANAJEMEN KURIKULUM

Tabel 4
Perbedaan Esensial Kurikulum SMP

KTSP 2006 Kurikulum 2013 Status


Mata pelajaran tertentu Tiap mata pelajaran mendukung Benarnya
mendukung kompetensi semua kompetensi (sikap,
tertentu keterampilan, dan pengetahuan)
Mata pelajaran dirancang Mata pelajaran dirancang terkait Benarnya
sendiri berdiri sendiri satu dengan yang lain dan memi-
dan memiliki kompetensi liki kompetensi dasar yang diikat
dasar sendiri oleh kompetensi inti tiap kelas
Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia sebagai alat Idealnya
sebagai pengetahuan komunikasi dan carrier of
knowledge
Tiap mata pelajaran Semua mata pelajaran diajarkan Idealnya
diajarkan dengan dengan pendekatan yang sama,
pendekatan yang yaitu pendekatan saintifik melalui
berbeda mengamati, menanya, mencoba,
menalar,….
TIK adalah mata TIK merupakan sarana pembela- Baiknya
pelajaran sendiri jaran, dipergunakan sebagai media
pembelajaran mata pelajaran lain

Adapun perbedaan esensial kurikulum SMA/SMK dapat dilihat


dalam tabel berikut ini.

Tabel 5
Perbedaan Esensial Kurikulum SMA/SMK

KTSP 2006 Kurikulum 2013 Status


Mata pelajaran ter- Tiap mata pelajaran mendukung semua Benarnya
tentu mendukung kompetensi (Sikap, keterampilan,
kompetensi tertentu pengetahuan) dengan penekanan
yang berbeda
Mata pelajaran Mata pelajaran dirancang terkait satu Benarnya
dirancang berdiri dengan yang lain dan memiliki kompe-
sendiri dan memiliki tensi dasar yang diikat oleh kompetensi
kompetensi dasar inti tiap kelas
sendiri

192
MANAJEMEN KURIKULUM

Bahasa Indonesia Bahasa Indonesia sebagai alat Idealnya


sebagai pengetahuan komunikasi dan carrier of knowledge
Tiap mata pelajaran Semua mata pelajaran diajarkan dengan Idealnya
diajarkan dengan pendekatan yang sama, yaitu pendekat-
pendekatan yang an saintifik melalui mengamati, mena-
berbeda nya, mencoba, menalar,….
Untuk SMA, ada Tidak ada penjurusan SMA. Ada mata Idealnya
penjurusan sejak pelajaran wajib, peminatan, antar
kelas XI minat, dan pendalaman minat.
SMA dan SMK tanpa SMA dan SMK memiliki mata pelajaran Baiknya
kesamaan wajib yang sama terkait dasar-dasar
kompetensi pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
Penjurusan di SMK Penjurusan di SMK tidak terlalu detail Baiknya
sangat detail (sampai bidang studi), di dalamnya
(Sampai keahlian) terdapat pengelompokkan peminatan
dan pendalaman

Kurikulum 2013 dipastikan sebagai pembaharuan untuk meningkatkan


kualitas pendidikan dan pembelajaran.Menghadapi berbagai perbedaan
tersebut, dilakukan langkah penguatan tata kelola dengan cara menyiapkan
beberapa hal sebagai berikut.
1. Buku pedoman pembelajaran yang terdiri dari Buku Siswa dan Buku
Guru.
2. Guru dilatih untuk memahami pendayagunaan sumber belajar yang
telah disiapkan dan sumber lain yang dapat dimanfaatkan.
3. Pendampingan dan pemantauan oleh pusat dan daerah terhadap
pelaksanaan pembelajaran.

Menurut E. Mulyasa dalam rangka menyukseskan implementasi


Kurikulum 2013, dan menyiapkan guru yang siap menjadi fasilitator
pembelajaran sebagaimana diuraikan di atas,; hendaknya diadakan
musyawarah antara kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan,
pengawas sekolah, dan komite sekolah. Musyawarah tersebut diperlukan,
terutama untuk menganalisis, mendiskusikan, dan memahami buku
pedoman dan berbagai hal yang terkait dengan implementasi Kurikulum
2013, sebagai berikut:
1. Kerangka Dasar dan Struktur Kurikulum

193
MANAJEMEN KURIKULUM

2. Pedoman Implementasi Kurikulum 2013


3. Pedoman Pengelolaan
4. Pedoman Evaluasi Kurikulum
5. Standar Kompetensi Lulusan
6. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar
7. Buku Guru
8. Buku Siswa
9. Silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
10. Standar Proses dan Model Pembelajaran
11. Dokumen Standar Penilaian
12. Pedoman Penilaian dan Rapor
13. Buku Pedoman Bimbingan dan Konseling.21

Mencermati kelengkapan kurikulum 2013 sebagaimana dimaksud,


nampak jelas bahwa keberadaan kurikulum 2013 merupakan kebijakan
pembaharuan pendidikan nasional yang diarahkan untuk meningkatkan
kualitas pendidikan sehingga setiap lulusan mampu berkompetisi dengan
kemajuan pendidikan yang sudah dicapai oleh bangsa lain.

L. KURIKULUM 2013 DAN TUPOKSI GURU


Dalam kehidupan sehari-hari sering kita menyaksikan orang-orang
yang suka mengkritisi pekerjaan orang lain, padahal pekerjaannya sendiri
belum tentu benar. Layaknya seorang komentator sepak bola, yang sangat
piawai mengomentari berbagai kekurang dan peluang-peluang dalam
setiap pertandingan, padahal kalau dia disuruh bermain/bertanding
belum tentu bisa.Ini jangan terjadi pada diri kita, dan tidak boleh dilakukan
oleh siapapun, apalagi dilakukan oleh guru.Oleh karena itu, sebelum
mengomentari pekerjaan orang lain, mengkritisi orang lain, eloknya
memahami tugas pokok dan fungsi (tupoksi) kita sebagai guru dan merealisasi-
kannya dengan baik dan bermutu, mulai dari perencanaan, pelaksanaan
sampai evaluasi kinerja. Apa yang diilustrasikan di atas perlu mendapat
perhatian, karena pada umumnya banyaknya percekcokan, perselisihan di

21
Ibid, h. 44-45.

194
MANAJEMEN KURIKULUM

setiap lembaga, disebabkan oleh kurang pahamnya setiap orang yang terlibat
dalam organisasi/lembaga terhadap tupoksinya; boleh jadi juga tidak
tahu hak dan kewajiban yang berujung pada menuntut hak tetapi tidak
melakukan kewajiban.
Tupoksi guru yang paling utama berkaitan dengan pembelajaran,
yakni merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, serta
menilai/memonitor hasil pembelajaran.Oleh karena itu, terdapat tiga
peran atau tugas utama yang harus dilakukan oleh setiap guru, baik
guru senior maupun guru yang masih baru. Ketiga tugas pokok dan fungsi
guru tersebut menyangkut tiga fungsi manajerial, yaitu perencanaan,
pelaksanaan, dan pengendalian.
1. Perencanaan menyangkut penetapan tujuan, kompetensi, dan karakter
yang akan dibentuk, serta memperkirakan cara mencapainya. Perencanaan
merupakan fungsi sentral dari manajemen pembelajaran dan harus
berorientasi ke masa depan. Dalam pengambilan dan pembuatan
keputusan tentang proses pembelajaran, guru sebagai manajer pembela-
jaran harus melakukan berbagai pilihan menuju tercapainya tujuan.
Guru sebagai manajer pembelajaran harus mampu mengambil keputusan
yang tepat untuk mengelola berbagai sumber, baik sumber daya,
sumber dana, maupun sumber belajar untuk membentuk kompetensi
dasar, dan mencapai tujuan pembelajaran.
2. Pelaksanaan atau sering juga disebut implementasi adalah proses
yang memberikan kepastian bahwa pembelajaran telah memiliki
sumber daya manusia dan sarana prasarana yang diperlukan, sehingga
dapat membentuk kompetensi, karakter dan mencapai tujuan yang
diinginkan. Dalam fungsi pelaksanaan ini termasuk pengorganisasian
dan kepemimpinan yang melibatkan penentuan berbagai kegiatan,
seperti pembagian pekerjaan ke dalam berbagai tugas khusus yang
harus dilakukan guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran.
Dalam fungsi manajerial pelaksanaan proses pembelajaran, selain
tercakup fungsi pengorganisasian terdapat pula fungsi kepemimpinan.
Hal tersebut sejalan dengan pendapat Dubrin (1990), bahwa fungsi
pelaksanaan merupakan fungsi manajerial yang mempengaruhi
pihak lain dalam upaya mencapai tujuan, yang akan melibatkan
berbagai proses antarpribadi, misalnya bagaimana memotivasi dan
memberikan ilustrasi kepada peserta didik, agar mereka dapat mencapai

195
MANAJEMEN KURIKULUM

tujuan pembelajaran dan membentuk kompetensi pribadinya secara


optimal.
3. Pengendalian atau ada juga yang menyebut evaluasi dan pengendalian
bertujuan menjamin kinerja yang dicapai sesuai dengan rencana
atau tujuan yang telah ditetapkan. Dalam proses manajerial terakhir
ini perlu dibandingkan kinerja aktual dengan kinerja yang telah ditetapkan
(kinerja standar). Guru sebagai manajer pembelajaran harus mengambil
langkah-langkah atau tindakan perbaikan apabila terdapat perbedaan
yang signifikan atau adanya kesenjangan antara proses pembelajaran
aktual di dalam kelas dengan yang telah direncanakan.

Pembelajaran dapat dikatakan efektif dan efisien, apabila dapat men-


capai dan merealisasikan hasil yang diharapkan, membentuk kompetensi
dan karakter sesuai dengan kompetensi Inti (KI) dan kompetensi dasar
(KD). Untuk kepentingan tersebut diperlukan manajemen sistem pembelajaran,
sebagai keseluruhan proses untuk melaksanakan pembelajaran secara
efektif dan efisien.
Guru diharapkan membimbing dan mengarahkan pengembangan
kurikulum dan pembelajaran secara efektif, serta melakukan pengembangan
program, dan pengawasan dalam pelaksanaannya. Dalam proses pengem-
bangan program, guru hendaknya tidak membatasi diri pada pembelajaran
dalam arti sempit, tetapi harus menghubungkan program-program pem-
belajaran dengan seluruh kehidupan peserta didik, kebutuhan masyarakat,
dunia usaha, serta perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
Pengembangan program juga harus dilakukan secara adaptif, fleksibel,
dan situasional; agar senantiasa dapat diimplementasikan secara efektif
dan efisien dalam kondisi dan situasi yang bagaimanapun.Hal ini penting,
karena guru merupakan seorang manajer pembelajaran, yang bertanggung-
jawab terhadap perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian terhadap perubahan
dan perbaikan program pembelajaran. Untuk kepentingan tersebut, sedikitnya
terdapat empat langkah yang harus dilakukan, yakni menilai kesesuaian
program yang ada dengan tuntutan kebudayaan dan kebutuhan peserta
didik, meningkatkan perencanaan program, memilih dan melaksanakan
program, serta memonitor dan mengevaluasi perubahan program.
Untuk menjalankan tugas pokok dan fungsi guru maka diperlukan
kompetensi. Itu artinya tupoksi bisa dilakukan dengan baik, apabila ditunjang

196
MANAJEMEN KURIKULUM

oleh kompetensi yang memadai, serta mengacu pada kemampuan dalam


melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui pendidikan.dalam hal
ini, kompetensi guru menunjuk kepada performansi dan perbuatan
yang rasional untuk memenuhi spesifikasi tertentu dalam melaksanakan
tugas-tugas pendidikan. Dikatakan rasional karena mempunyai arah
dan tujuan, sedangkan performansi merupakan perilaku nyata, yang
tidak hanya dapat diamati, tetapi mencakup sesuatu yang tidak kasat
mata.
Kompetensi merupakan komponen utama dari standar profesi di
samping kode etik sebagai regulasi perilaku profesi yang ditetapkan dalam
prosedur dan sistem pengawasan tertentu.Kompetensi dimaknai sebagai
perangkat perilaku efektif yang terkait dengan eksplorasi dan investigasi,
menganalisis dan memikirkan, serta memberikan perhatian, dan mempersepsi
yang mengarahkan seseorang menemukan cara-cara untuk mencapai
tujuan tertentu secara efektif dan efisien.Kompetensi bukanlah suatu
titik akhir dari suatu upaya melainkan suatu proses yang berkembang
dan belajar sepanjang hayat (lifelong learning process).
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 Tentang
Guru dan Dosen menyatakan bahwa kompetensi adalah seperangkat
pengetahuan keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati,
dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.
Sejalan dengan itu, Finch and Crunkilton, (1992: 220) mengemukakan
bahwa: “Competencies are those tasks, skills, attitudes, values, and appreciation
that are deemed critical to successful employment.”Kalimat tersebut mengandung
makna bahwa kompetensi mencakup tugas, keterampilan, sikap, nilai,
dan apresiasi yang diungkapkan secara kritis untuk keberhasilan kerja.Hal
tersebut dapat diartikan bahwa kompetensi merupakan perpaduan
antara sikap, kemampuan, dan pengetahuan yang diterapkan dalam
melaksanakan tugas di tempat kerja.
Kompetensi guru merupakan perpaduan antara kemampuan personal,
keilmuan, teknologi, sosial, emosional, dan spiritual yang secara kaffah
membentuk standar profesi, yang mencakup penguasaan materi, pemahaman
terhadap peserta didik, pembelajaran yang mendidik, pengembangan
pribadi dan profesionalisme. Penguasaan materi meliputi pemahaman
karakteristik dan substansi ilmu sumber bahan pembelajaran, pemahaman
disiplin ilmu yang bersangkutan dalam konteks yang lebih luas, penggunaan

197
MANAJEMEN KURIKULUM

metodologi ilmu yang bersangkutan untuk memverifikasi dan memantapkan


pemahaman konsep yang dipelajari, penyesuaian substansi dengan tuntutan
dan ruang gerak kurikuler, serta pemahaman manajemen pembelajaran.
Hal ini menjadi penting dalam memberikan dasar-dasar pembentukan
kompetensi dan profesionalisme guru di sekolah.Dengan menguasai
materi pembelajaran, guru dapat memilih, menetapkan, dan mengembangkan
alternatif strategi dari berbagai sumber belajar yang mendukung pembentukan
kompetensi inti dan kompetensi dasar (KI-KD).Pemahaman terhadap
peserta didik meliputi berbagai karakteristik, tahap-tahap perkembangan
dalam berbagai aspek dan penerapannya (kognitif, afektif, dan psikomotor)
dalam mengoptimalkan perkembangan dan pembelajaran. Guru dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya dihadapkan pada sekelompok individu
yang memiliki karakteristik berbeda sesuai dengan jumlahnya. Pemahaman
terhadap karakteristik peserta didik oleh para guru menjadi prasyarat
dalam pembelajaran, pembimbingan, dan pelatihan yang sesuai dengan
karakteristik dan kebutuhan masing-masing individu peserta didik. Pem-
belajaran yang mendidik terdiri atas pemahaman konsep dasar proses
pendidikan dan pembelajaran bidang studi yang bersangkutan serta
penerapannya dalam pelaksanaan dan pengembangan pembelajaran.
Pembelajaran yang mendidik merupakan upaya memfasilitasi perkembangan
potensi individu secara optimal dan bersinergi antara pengembangan
potensi pada setiap aspek kepribadian.Upaya memfasilitasi perkembangan
setiap aspek kepribadian dalam pembelajaran dilakukan dengan mengacu
pada pembentukan individu yang utuh dalam kompetensi kecakapan
hidup yang bertakwa, bermartabat, bermoral, dan bertanggung jawab.
Pengembangan pribadi dan profesionalisme mencakup pengembangan
instuisi keagamaan, kebangsaan yang berkepribadian, sikap dan kemampuan
mengaktualisasi diri, serta sikap dan kemampuan mengembangkan
profesionalisme kependidikan. Guru dalam melaksanakan tugasnya
harus bersikap terbuka, dan kritis untuk mengaktualisasi penguasaan
isi bidang studi, pemahaman terhadap karakteristik peserta didik, dan
melakonkan pembelajaran yang mendidik. Di samping itu, guru perlu
dilandasi sifat ikhlas dan bertanggung jawab atas profesi pilihannya,
sehingga berpotensi menumbuhkan kepribadian yang tangguh dan
memiliki jati diri.
Keempat standar kompetensi guru tersebut masih bersifat umum

198
MANAJEMEN KURIKULUM

dan perlu dikemas dengan menempatkan manusia sebagai makhluk


ciptaan Allah yang beriman dan bertakwa, serta sebagai warga negara
Indonesia yang demokratis dan bertanggung jawab.Pengembangan
keempat standar kompetensi guru tersebut perlu didasarkan pada landasan
konseptual, landasan teoretik, dan peraturan perundangan yang berlaku;
landasan empirik dan fenomena pendidikan yang ada, kondisi, strategi,
dan hasil di lapangan, serta kebutuhan stakeholders.Standar kompetensi
guru merupakan jabaran tugas dan fungsi guru dalam merancang, melak-
sanakan, dan menilai pembelajaran, serta mengembangkan pribadi peserta
didik secara utuh dan menyeluruh, sesuai dengan kompetensi inti dan
kompetensi dasar. Standar kompetensi di atas, selanjutnya harus dijabarkan
ke dalam indikator standar kompetensi: rumpun kompetensi, butir kompetensi,
dan indikator kompetensi; serta pengalaman belajar dan asesmen sebagai
tagihan konkret yang dapat diukur dan diamati untuk setiap indikator
kompetensi.
Dalam perkembangannya; pemerintah merumuskan empat kompetensi
guru, yang mencakup kompetensi professional, kompetensi pedagogic,
kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial. Keempat kompetensi
tersebut, meskipun secara teoretis konseptual dapat dikaji secara terpisah
satu dengan yang lainnya; tetapi dalam pelaksanaannya menyatu membentuk
kepribadian guru, yang satu sama lain saling terintegrasi membentuk
pribadi guru. Seperti dikemukakan dalam Peraturan Menteri Pendidikan
Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar
Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, bahwa kompetensi yang
harus dimiliki oleh tenaga guru antara lain: kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian, kompetensi profesional, dan kompetensi sosial yang diperoleh
melalui pendidikan profesi. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi
dalam kinerja guru.

199
MANAJEMEN KURIKULUM

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Said Zainal. 2006. Kebijakan Publik, Jakarta: Suara Bebas.


Ali, Muhammad. dkk.2007. Ilmu dan Aplikasi Pendidikan,Bandung:
Pedagogiana Press.
Arends, Richard L.2004. Learning to Teach, New York: McGraw Hill.
Arifin, M. 1996. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Arifin, Zainal. 2016. Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung:
Remajarosdakarya.
Bennett, Neville dan Clive Carre, Ed. 1993. Learning,London: Routledge.
Burton, Neil and Mark Brundrett. 2005. Leading the Curriculum in the
Primary School ,London: Paul Chapman.
Cooper, Bruce S., Lance D. Fusarelli, E. Vance Randall. 2004. Better Policies,
Better Schools: Theories and Applications, USA: Pearson Education,
Inc.
Cyriacou,Chris, ed. 2009. Effective Teaching in School: Theory and Practice.
UK: Stanley Thornes (Publishers) Ltd.
Daft, Richard L.2010. Management. New Jersey: Prentice Hall.
Daft, Richard L dan Dorothy Marcic.2009. Understanding Management,
London:South Western.
Dakir. 2010. Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: Bumi
Aksara.
Dewi, Rahayu Kusuma. 2016. Studi Analisis Kebijakan, Bandung: Pustaka
Setia.

200
MANAJEMEN KURIKULUM

Everard, K.B Geoffrey Morris, dan Ian Wilson. 2004. Effective School
Management, London: Paul Chapman Publishing.
Fattah, Nanang. 2013. Analisis Kebijakan Pendidikan, Bandung: Remaja
Rosdakarya.
Hamalik, Oemar. 2008. Manajemen Pengembangan Kurikulum, Bandung:
Remajarosdakarya.
Hamalik, Oemar.2008. Dasar-dasar Pengembangan Kurikulum. Remaja
Rosdakarya.
Hargreaves, David H and David Hopkins.1994. Development Planning
for School Improvement, London: Cassel Viliers House.
Hasballah.2016. Kebijakan Pendidikan.Jakarta: Rajawali Press.
Irianto, Yoyon Bahtiar. 2011. Kebijakan Pembaharuan Pendidikan: Konsep,
Teori dan Model,Jakarta: Rajawali Press.
Jamaris, Martini. 2013. Orientasi Baru dalam Psikologi Pendidikan, Jakarta:
Ghalia Indonesia.
Kunandar. 2011.Guru Profesional: Implementasi kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: Rajawali
Press.
M. Chan, Sam, dan Tuti T. Sam. 2005. Kebijakan Pendidikan Era Otonomi
Daerah, Jakarta: Rajawali Press.
Majid, Abdul.2006, Perencanaan Pembelajaran dalam Mengembangkan
Kompetensi Guru, Bandung: Remaja Rosdakarya.
Muhaimin. 2005. Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam
di Sekolah, Madrasah dan Perguruan Tinggi, Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
Mulyasa, E. 2015. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remajarosdakarya.
Mulyasa, E. 2014. Guru dalam Implementasi Kurikulum 2013. Bandung:
Remaja Rosdakarya.
Mulyasa, E.2014. Pengembangan dan Implementasi Kurikulum 2013.
Bandung: Remaja Rosdakarya.
Musfah, Jejen. 2017. Manajemen Pendidikan. Jakarta: Kencana.

201
MANAJEMEN KURIKULUM

Nata, Abudin.2012. Manajemen Pendidikan: Mengatasi Kelemahan Pendidikan


Islam di Indonesia. Jakarta: Prenada.
Neill, John O and Neil Kitson, ed,1996. Effective Curriculum Management,
London: Routlegde.
Ornstein, Allan C dan Francis P. Hunkins.1978. Curriculum Foundations,
Principles, and Issues. New Jersey; Prentice Hall, Englewood Cliffs.
Poerwati, Loeloek Endah dan Sofan Amri. 2013. Panduan Memahami
Kurikulum 2013, Jakarta: PT. Prestasi Pustakarya.
Ramayulis. 2005. Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Kalam Mulia.
Rivai, Veithzal dan Sylviana Murni.(2010). Education Managemen Analisis
Teori dan Praktik, Jakarta: Raja Grafindo Persada, cet. 2.
Rusman.2009. Manajemen Kurikulum, Jakarta: Rajawali Press.
Reksoatmodjo, Tedjo Narsoyo. 2010. Pengembangan Kurikulum Pendidikan
Teknologi Kejuruan, Bandung: Refika Aditama.
Schermerhorn, John R.2010. Introduction to Management, New Jersey:
John Willey & Sons, Inc.
Siswanto, H.B.2015.Pengantar Manajemen. Jakarta: Bumi Aksara.
Sudjana, Nana.2002. PembinaandanPengembanganKurikulumdiSekolah, Bandung:
Sinar Baru Algensindo.
Sukiman. 2015. Pengembangan Kurikulum, Bandung: Rosda Karya.
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2013. Pengembangan Kurikulum, Bandung:Remaja
Rosdakarya.
Sukmadinata, Nana Saodih.2007. Kurikulum dan Pembelajaran dalam
Muhammad Ali,dkk, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan. Bandung: Pedagogiana
Press.
Suryadi, Ace.2014. Pendidikan Indonesia Menuju 2025,Bandung: Rosdakarya.
Tilaar, H.A.R. 2014. Membenahi Pendidikan Nasional, Jakarta:Rinekacipta.
Triwiyanto, Teguh.2015. Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta:
Bumi Aksara.
Uno, Hamzah. B. 2006. Perencanaan Pembelajaran, Jakarta: Bumi Aksara.
Wahyudin, Dinn. 2014. Menejemen Kurikulum, Bandung: Remaja Rosdakarya.

202
MANAJEMEN KURIKULUM

Watkins,Chris, Eileen Carnell & Caroline Loodge. 2007. Effective Learning


in Classroom. London: Paul Chapman Publishing.
Zais, Robert S.1976. Curriculum Principles and Foundation. New York:
Harper and Row Publishers.

203
MANAJEMEN KURIKULUM

TENTANG PENULIS

Prof. Dr. Syafaruddin M.Pd, lahir di Asahan-Sumatera Utara,


16 Juli 1962, delapan bersaudara putra kedua dari bapak Mahmud Siahaan
dan Ibu Nurhani Siregar. Menyelesaikan Sekolah Dasar tahun 1975, Madrasah
Tsanawiyah tahun 1979, Madrasah Aliyah tahun 1982 di Pulau Rakyat
Kabupaten Asahan. Kemudian menyelesaikan Strata Satu (S.1) program
Pendidikan Agama Islam pada Fakultas Tarbiyah IAIN Sumatera Utara
tahun 1987.
Selanjutnya menyelesaikan strata dua (S.2) program Administrasi
pendidikan meraih gelar Magister Pendidikan (M.Pd.) pada PPS Universitas
Negeri Padang tahun 2000, kemudian tahun 2008 menyelesaikan program
Doktor bidang Manajemen Pendidikan pada PPS Universitas Negeri Jakarta.
Menikah dengan Dra. Gusnimar, MA. tahun 1990. Sekarang dianugerahi
anak tiga orang, yaitu: Ahmad Taufik Al Afkari, S.Pd, M.Kom (26 tahun),
Dina Nadira Amelia, S.PdI (24 tahun), Ahdiana Fadwani Maulafia (21
tahun).
Bertugas pada Fakultas Tarbiyah IAIN SU sejak tahun 1990 sebagai
tenaga pengajar, mengasuh mata kuliah Ilmu Pendidikan, Manajemen
Pendidikan. Pada tahun 2000 menjabat Ketua Progam Studi Diploma
II, Pendidikan Agama Islam di Fakultas Tarbiyah IAIN SU. Pada tahun
2003 bertugas mengajar mata kuliah Metodologi Penelitian pada Akademi
Pengajian Dakwah Sungai Patani Kedah Darul Aman Malaysia. Sejak
tahun 2008-2011 dipercaya menjadi Pembantu Dekan I Fakultas Tarbiyah
IAIN SU, kemudian terpilih sebagai Dekan Fakultas Tarbiyah IAIN SU
(2011-2015), kembali diamanahkan memimpin Fakultas Ilmu tarbiyah
dan Keguruan UIN Sumatera Utara Medan, (2015-2016), dan tahun

204
MANAJEMEN KURIKULUM

2016 diangkat sebagai Wakil Rektor I UIN Sumatera Utara Medan sampai
sekarang.
Pernah Latihan Orientasi Kehumasan Departemen Agama di Jakarta
tahun 1990, dan pada tahun 1993 mengikuti Pelatihan pengembangan
Tenaga Edukatif (PPTE) di IAIN Sumatera Utara. Semasa mahasiswa mengikuti
Basic Training, dan Intermediate Training di HMI Cabang Medan. Kemudian
aktif sebagai Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Fakultas
Tarbiyah IAIN SU (1985), dan Lembaga Dakwah Islam Divisi Pendidikan
HMI Cabang Medan (1986), Pengurus Pembina Iman Tauhid Islam (PITI)
Sumatera Utara (1987). Saat ini aktif sebagai Ketua Penyunting Jurnal
Tarbiyah IAIN SU (2004), Wakil Sekretaris Jenderal DPP Al-Ittihadiyah
(2004-2011), Ketua Pengurus Daerah Ikatan Sarjana Manajemen Pendidikan
Indonesia (ISMaPI) Provinsi Sumatera (2010-2015), ketua DPP Ikatan Sarjana
Pendidikan Agama Islam Indonesia (2010-2015), dan Ketua Majelis Pendidikan
DPP Al-Ittihadiyah, tahun 2013 -2015, diangkat sebagai Plt. Ketua Umum
DPW Al Ittihadiyah Sumayatera Utara, dan terpilih menjadi Ketua Umum
DPW Al Ittihadiyah periode (2015-2020).
Karya penulis yang diterbitkan, di antaranya: Manajemen Mutu
Terpadu dalam Pendidikan (Grasindo,2002), Sistem Pengambilan Keputusan
Pendidikan (Grasindo, 2004), Visi Baru Al-Ittihadiyah (Citapustaka Media,
2004), Pengantar Filsafat Ilmu (Citapustaka Media, 2005), Manajemen
Lembaga Pendidikan Islam (Ciputat Press, 2005), Ilmu Pendidikan: Rekonstruksi
Budaya Abad XXI (Citapustaka Media, 2005), Manajemen Pembelajaran
(Ciputat Press, 2005), Al-Ittihadiyah: Menjalin Kebersamaan, Membangun
Bangsa, (Hijri Pustakautama, 2006), Pendidikan Bermutu Unggul (Citapustaka
Media, 2006), Ilmu Pendidikan Islam: Melejitkan Potensi Budaya Umat,
(Hijri Pustakautama, 2006), Kepemimpinan Pendidikan (Citapustaka Media,
2007), Efektivitas Kebijakan Pendidikan (Rinekacipta, 2008), Kepemimpinan
Pendidikan dalam Konteks Otonomi Daerah (Quantum Teaching Press,
2010), Kepemimpinan dan Kewirausahaan, (Media Perintis Publishing,
2010), dan Pendidikan Pra Sekolah (Media Perintis Publishing, Medan,
2011), Pengelolaan Pendidikan (Media Perintis Medan, 2010), Inovasi Pendidikan
(Perdana Publishing, 2012), Manajemen Organisasi Pendidikan (Perdana
Publishing, 2015), Sosiologi Pendidikan (Perdana Publishing, 2016), dan
Administrasi Pendidikan (Perdana Puiblishing, 2016).

205
MANAJEMEN KURIKULUM

Dr. H. Amiruddin MS. MA, Lahir 28 Agustus 1955 di Kabupaten


Deli Serdang, Kecamatan Galang, dalam satu desa Kampung Pulau Tagor.
Ayahnya bernama H. Muhammad Sareh dan Ibunya bernama Hj. Siti
Djahimah. Pada masa sekolah belajar di Sekolah Rakyat Pulo Hali sampai
kelas tiga, kemudian setelah kelas 4 pindah ke Sekolah Dasar Negeri
Dua, Kota Galang dan ujian kelas enam lulus dari Sekolah Dasar Negeri
Satu, Galang Kota. Melanjutkan pendidikan PGA 4 tahun dan PGA 6 Tahun,
tamat tahun 1972. Seterusnya melanjutkan Kuliyah ke Fakultas Tarbiyah
IAIN Sumut Tahun 1973 dan memperoleh gelar Sarjana Muda Tahun
1977. Sembari kuliyah, Amiruddin MS mempelajari dan mendalami Bahasa
Inggris sehingga mulai tanggal 7 Maret 1977 dipercaya mengajar Bahasa
Inggris di Lembaga Bahasa IAIN Sumatera Utara, mata kuliyah Bahasa
Inggris. Disamping itu juga mengajar Bahasa Inggris dibeberapa kursus
Bahasa Inggris seperti Ganesha English Course, Tropical English Course,
Vidya English Course dan lain-lain. Pada Tahun 1982, menyelesaikan Program
S-1 dengan gelar Doktorandus di Fakultas Tarbiyah IAIN Sumatera Utara
dan Tahun 2008 menyelesaikan Program S-2 di UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
Riwayat Keluarga, bersaudara Sembilan orang, yaitu Siti Rapeah,
Siti Raniah, Hasan Basri, Siti Mahida, Juraidah, Erniyati MS, Evi Zulinda,
Budy Kurniawan dan Alm, Amsaruddin. Tahun 1977 menikah dengan
Hj. Siti Supiati, putri Alm.H.B.Suarno dan Hj. Mujinem. Dari pernikahannya
mendapatkan empat orang anak yaitu Mhd. Azmi Jauhari SH, Muhammad
Dhuha Shalihin SE, Fitri Amriati dan dokter Yunita Wulandari dan empat
orang menantu yaitu Minda Mora Harahap, S.Pd, M.Hum, Khairani Nasution,
SE, Denny Ardiansyah, SH dan Bima Pranachitra,S.S,M.Hum. Tahun
2007 mendapat anak angkat Hj. Fauliza Syafriani istri dari DR.Ir.H.Firdaus
CES di Pekan Baru. Saat ini memiliki cucu delapan orang yaitu Mhd. Nanda
Afithra, Farhani Amanda Mumtas, Mhd. Zikri Akbar, Mhd. Fathir Azra,
Mhd. Imad Aqel, Mhd. Alfarisi Duhran, Sulthan Muhammad Pranatama,
Asy-Syifa Qalby Rizki. Disamping itu beliau sangat suka member peluang
kepada pelajar/mahasiswa yang berprestasi menjadi Anak atau Mahasiswa
asuh.
Riwayat Pekerjaan, Tahun 1974, mengajar Bahasa Inggris di beberapa
Kursus Bahasa Inggris di Medan, memberi kuliyah sebagai dosen Bahasa
Inggris di Fakultas Tarbiyah & Ushuluddin UMSU, di Fakultas Hukum

206
MANAJEMEN KURIKULUM

Universitas Amir Hamzah mengajar Hukum Islam dan di Universitas


Darmawangsa mengajar Hukum Islam. Pada tahun 1976 mengajar di
SMA Yayasan Persit Chandra Kirana Kodam I/BB sampai menjadi Kepala
Sekolah SMA selama 10 tahun yaitu tahun 1986. Diangkat menjadi PNS
tahun 1986 bulan Maret di tugaskan di MAN I Medan sampai tahun 1986,
dan sejak tahun 2000 sampai saat ini bertugas sebagai dosen di Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sumatera Utara Medan.
Perjalanan ke luar negeri menunaikan Ibadah Haji dan Umrah ke
Tanah Suci Makkah dan Madinah. Berdakwah ke Singapura, Malaysia,
Thailand, Hongkong, China dan beberapa kawasan di Asia Tenggara.
Tadabur Alam dan Dakwah ke Dubai, Timur Tengah dan ASEAN.
Riwayat Organisasi, menjadi Pengurus Pelajar PGA Galang tahun
1970-an, menjadi pengurus HMI Komisariat Fak. Tarbiyah IAIN Sumut,
Tahun 1992-1996 memimpin Pesantern Nurul Hakim Tembung Medan,
menjadi Wakil Ketua Golkar Kota Medan Tahun 1998-1999, menjadi Ketua
IPHI Kota Medan Tahun 1997 sampai dengan 2007, menjadi Pengurus
IPHI Jakarta tahun 2001 sampai 2010 dan mendirikan Majelis Zikir Tazkira
tahun 2004, Tahun 2012 menjadi Ketua Umum Persatuan Tarbiyah Islamiyah
Sumatera Utara. Tahun 1997, menjadi anggota DPRD di Kota Medan dari
Fraksi Golkar dan menjadi wakil Ketua Komisi E dan Tahun 2001 kembali
bertugas sebagai dosen PNS di Fakultas Tarbiyah IAIN Sumut, dengan
mata kuliyah Ilmu Pendidikan Islam, Bahasa Inggris dan Perbandingan
Pendidikan Akhlak dan Tasawuf, Pendidikan Karakter dan Psychologi
Agama Islam.
Disamping menjadi Guru dan Dosen, Amiruddin MS adalah penceramah
mulai berkarir dari 19 Mei 1976 di Pasar Lima Jalan Darussalam Medan
dan terus menjadi Muballigh sampai saat ini mengasuh 127 Majelis Taklim
di Medan Sumatera Utara dan berbagai Daerah dan Instansi Swasta,
Pemerintah, ABRI, Polisi, BUMN dan Ormas Islam.
Karya-karya yang pernah di tulis oleh Amiruddin MS sebagai berikut:
Pendidikan Budi Pekerti Berbasis Islam (2011), Mengenal dan Beramal
bersama Majelis Zikir Tazkira (2009), Melestarikan Nilai-nilai Ramadhan
(2012), Makna Hablumminallah dan Hablumminannas pada Ibadah
Qurban (1425 H), Dalam Dekapan “Idul Fitri” (1431 H), Iman, Ilmu dan
Amal “Tiga Pilar Muhammad SAW Membangun Peradaban” (2008), Pilar-
pilar Peradaban Islam (2010), Hijri, Jurnal Manajemen Kependidikan dan

207
MANAJEMEN KURIKULUM

Keislaman (2012), Muharran dan Hijrah Rasullah Muhammad SAW,


Peringatan Maulid Rasullah Muhammad SAW & Zikir Akbar bersama
Majelis Zikir Tazkira Sumatera Utara, Dimensi Kecerdasan Emosional
dan Spiritual pada Pendidikan Pesantren (2008), Dahsyatnya Muhasabah
dan Tafakkur (2011), Nasehat Perkawinan (2006), Pendidikan dan Pengamalan
Ibadah Haji dan Umroh (Teori dan Praktek) (2012).
Sedangkan artikel yang ditulis diantaranya; Nilai Sosial Ibadah
Haji (Waspada, Agustus 2009), Marhaban Ya Ramadhan (Waspada, Agustus
2009), Teologi Konservasi Lingkungan Menurut Islam (Waspada, 2010),
Islam Versus Radikalisme (Waspada, Maret 2010), Islam dan Keadilan
(Waspada, Mei 2010), Falsafah Iqro’ (Waspada, Juni 2010), Menumbuhkembang-
kan Pilar Peradaban Islam dalam Konteks Kekinian (Analisa, Agustus
2010), Dalam Dekapan Idul Fitri (Waspada, September 2010), Indahnya
Halal Bi Halal (Waspada, September 2010), Dimensi Sosial Ibadah Haji
(Waspada, November 2010), Memahami Hidup (Analisa, Maret 2011),
Berdiamlah Sejenak dan Bermuhasabahlah ! (Waspada, Maret 2011),
Menangkap Spirit Hijrah (Waspada, November 2012), Maulid dan Spirit
Kesadaran Sosial (Waspada, Februari 2013), Belajar dari Kepemimpinan
Umar Bin Khattab (Waspada, Maret 2013), Hijrah sebagai Momentum
Perubahan (Waspada, November 2013), Cermin Kejujuran (Waspada,
Juli 2013), Membangun Kebersamaan & Jiwa Rela Berkorban.

208