Anda di halaman 1dari 27

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Teori belajar banyak dikaitkan dengan ruang lingkup bidang psikologi,


bisa diartikan bahwa semua hal yang dibahas dalam belajar, berkaitan pula
dengan keadaan manusia sebagai subjek yang mengalami, mengikuti bahkan
mengembangkan diri melalui belajar. Teori belajar, turut membantu
pelaksanaan pendidikan dengan menjawab atau membahas mengenai masalah
yang muncul dalam belajar sehingga pelaksanaan pendidikan dapat mencapai
tujuan awal sesuai dengan yang diharapakan.
Teori belajar sendiri, secara umum dibagi kedalam empat golongan,
yaitu teori belajar behavioristik (tingkah laku), teori belajar kognitif, teori
belajar humanistik, dan teori belajar sosial. Masing-masing teori belajar
membawa perbedaan fokus, atau penekanan masalah satu sama lainnya.
Dalam pelaksanaan pembelajaran, tentu erat kaitannya dengan teori
belajar yang telah dirumuskan oleh berbagai pihak, termasuk didalamnya para
pakar atau tokoh yang ahli dalam bidang pendidikan. Banyak tokoh yang
berkaitan dengan teori belajar yang ada, dengan pendapatnya masing-masing
dan tentu implikasi dalam pembelajaran yang akan berbeda pula.
Maka dari itu, melalui makalah ini penulis akan membahas siapa saja
tokoh-tokoh yang turut berperan dalam lahirnya teori belajar, dan bagaimana
implikasinya dalam pembelajaran. Namun, dalam hal ini penulis lebih
memfokuskan pada pembahasan teori belajar humanistik, dimulai dari tokoh-
tokohnya hingga implikasinya dalam pembelajaran.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana teori belajar humanistik?
2. Bagaimana pandangan para ahli yang mendukung teori belajar humanistik
dan aplikasinya dalam bidang studi?

C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui dan memahami teori belajar humanistik.
1
2

2. Mengetahui dan memahami pandangan para ahli yang mendukung teori


belajar humanistik dan aplikasinya dalam bidang studi.

D. Sistematika Penulisan

Pada Bab I Pendahuluan, menguraikan mengenai latar belakang, rumusan


masalah dan sistematika penulisan dari isi makalah kami.
Pada Bab II Pembahasan, menguraikan mengenai gambaran teori belajar
humanistik, pandangan para ahli yang mendukung teori belajar humanistik
dan aplikasinya dalam bidang studi.
Pada Bab III Penutup, menguraikan mengenai kesimpulan dan saran untuk
melengkapi makalah kami.

BAB II
PEMBAHASAN
3

A. Teori Belajar Humanistik


Teori belajar adalah suatu teori yang didalamnya terdapat tata cara
pengaplikasian kegiatan belajar mengajar antara pendidik dan peserta didik,
perancangan metode pembelajaran yang akan dilaksanakan dikelas maupun diluar
kelas. Dalam proses pembelajaran, para ahli membagi beberapa teori dalam
memahaminya, karena dengan teori ini para ahli dapat mengklasifikasi aktivitas
pembelajaran, diantara teori belajar yang dikenal dan akan dibahas tentang teori
belajar humanistik.
Menurut teori humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan
manusia. Proses belajar dianggap berhasil jika pelajar memahami lingkungannya
dan dirinya sendiri. Peserta didik dalam proses belajarnya harus berusaha agar
lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori
belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya,
bukan dari sudut pandang pengamatnya.
Tujuan utama para pendidik adalah membantu peserta didik untuk
mengembangkan dirinya, yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal
diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan
potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Para ahli humanistik melihat adanya
dua bagian pada proses belajar, ialah :
a. Proses perolehan informasi baru,
b. Personalia informasi ini pada individu.

Teori humanistik secara jelas menunjukkan bahwa belajar dipengaruhi


oleh bagaimana peserta didik-peserta didik berpikir dan bertindak, dan dipengaruhi
dan diarahkan oleh arti pribadi dan perasaan-perasaan yang mereka ambil dari
pengalaman belajar mereka.
Menurut teori humanistik, proses belajar harus dimulai dan ditujukan
untuk kepentingan memanusiakan manusia itu sendiri. Oleh sebab itu, teori
belajar humanistik sifatnya lebih abstrak dan lebih mendekati bidang kajian
filsafat, teori kepribadian dan psikoterapi. Daripada bidang kajian psikologi
3 bahwa belajar apapun dapat dimanfaatkan
belajar. Teori humanistik berpendapat
4

selama tujuannya untuk memanusiakan manusia, yaitu mencapai aktualisasi diri,


pemahaman diri, serta realisasi diri orang yang belajar secara optimal.

B. Pandangan Para Ahli yang Mendukung Teori Belajar Kognitif dan


Aplikasinya dalam Bidang Studi
Tokoh penting dalam teori belajar humanistik secara teoritik antara lain
Abraham Maslow, Arthur W. Combs, Carl Rogers, Bloom dan Krathwohl, Kolb,
Honey dan Mumford dan Habermas.
Namun dalam makalah ini penulis lebih memfokuskan pada pandangan
teori belajar humanistik menurut Arthur W. Combs, Bloom dan Krathwohl dan
Carl Rogers, dimana penjelasannya akan di bahas pada pembahasan di bawah ini.

1. Teori Belajar Arthur W. Combs dan Aplikasinya dalam Bidang Studi

a. Teori Belajar Arthur W.Combs


Arthur W. Combs (1912-1999) adalah seorang pendidik/ psikolog yang
memulai karir akademis sebagai profesor ilmu biologi dan psikolog sekolah di
sekolah umum di Alliance, Ohio (1935-1941). Ia menerima gelar MA dalam
konseling sekolah di The Ohio State University (1941) dan diterima di program
doktor dalam psikologi klinis pada lembaga dimana Carl Rogers menjabat
sebagai pendidik dan mentor. Dia menyelesaikan gelar doktor pada tahun 1945.
Bersama dengan Donald Snygg (1904 - 1967) mereka mencurahkan
banyak perhatian pada dunia pendidikan. Meaning (makna atau arti) adalah
konsep dasar yang sering digunakan. Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi
individu, pendidik tidak bisa mamaksakan materi yang tidak disukai atau tidak
relevan dengan kehidupan mereka. Perilaku buruk itu sesungguhnya tak lain
hanyalah dari ketidakmauan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan
memberikan kepuasan baginya. Untuk itu pendidik harus memahami perilaku
peserta didik dengan mencoba memahami dunia persepsi peserta didik tersebut
sehingga apabila ingin merubah perilakunya, pendidik harus berusaha merubah
keyakinan atau pandangan peserta didik yang ada.
Combs berpendapat bahwa banyak pendidik membuat kesalahan dengan
berasumsi bahwa peserta didik mau belajar apabila materi pelajarannya disusun
5

dan disajikan sebagaimana mestinya. Padahal arti tidaklah menyatu pada materi
pelajaran itu. Sehingga yang penting ialah bagaimana membawa peserta didik
untuk memperoleh arti bagi pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan
menghubungkannya dengan kehidupannya.
Combs memberikan lukisan persepsi diri dalam dunia seseorang seperti
dua lingkaran (besar dan kecil) yang bertitik pusat pada satu. Lingkaran kecil (1)
adalah gambaran dari persepsi diri dan lingkungan besar (2) adalah persepsi
dunia. Makin jauh peristiwa-peristiwa itu dari persepsi diri makin berkurang
pengaruhnya terhadap perilakunya. Jadi, hal-hal yang mempunyai sedikit
hubungan dengan diri, makin mudah hal itu terlupakan.
Inti dari teori ini adalah meaning, belajar terjadi bila mempunyai arti bagi
individu, pendidik tidak bisa mamaksakan materi yang tidak disukai atau tidak
relevan dengan kehidupan mereka. Di sini pendidik harus peka terhadap peserta
didiknya. Kemudian pendidik dituntut untuk mampu memotivasi dan
memberikan atau bahkan mengubah pandangan peserta didiknya bahwa suatu
pelajaran itu, yang semisal tidak disenangi peserta didik, akan memberikan
manfaat untuknya kelak. Dengan begitu diharapkan pada diri peserta didik akan
muncul dorongan instrinsik untuk belajar. peserta didik bersedia belajar karena
kesadaran dari dalam dirinya sendiri. Ia pun akan menjadi peserta didik yang
orientasinya tidak hanya sekedar pada nilai (skor) tetapi lebih kepada ilmu
pengetahuannya. Ia akan mampu memahami materi suatu pelajaran secara baik
dan mendalam.

Implikasi pandangan Arthur W.Combs dalam belajar :


1) Belajar menekankan pada makna atau manfaat aplikatif yang dapat
digunakan oleh peserta didik dalam lingkungannya.
2) Belajar adalah membawa peserta didik untuk memperoleh arti bagi
pribadinya dari materi pelajaran tersebut dan menghubungkannya dengan
kehidupannya.
3) Belajar lebih banyak memberikan materi yang terkait erat dengan hubungan
diri peserta didik agar hasil belajar tidak dilupakan oleh sisiwa.
6

b. Aplikasi Teori Belajar menurut Arthur W. Combs dalam Pembelajaran


dikaitkan dengan Bidang Studi
1) Bidang Studi IPA
Dalam pembelajaran IPA di SD kelas 3 mengenai “Makhluk
Hidup” sebaiknya seorang guru tidak menggunakan metode konvensional
atau ceramah yang sering kali membuat siswa kurang memahami arti dan
makna pembelajaran yang disampaikan, guru hendaknya memahami
perilaku siswa dengan mencoba memasuki dunia persepsi siswa sehingga
selain memberikan ilmu pengetahuan, ia juga dapat merubah perilakunya.
Guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan siswa yang ada
dengan memahami semua itu seorang guru dapat mengaitkan bahan ajar
dengan kehidupannya, seorang guru dapat menggunakan pendekatan teori
belajar Artur W Combs sebagai suatu cara agar dalam proses pembelajaran
mengenai “Makhluk Hidup” yang dapat memberikan arti dan makna
kepada siswa.
Pendekatan teori belajar Artur W Combs dapat membuat siswa
lebih kreatif dan aktif dalam mencari ilmu pengetahuan baru. Pendekatan
teori belajar ini juga memberikan pengalaman/hal baru selama proses
pembelajaran berlangsung, karena dengan ini siswa dapat bersentuhan
langsung dengan objek yang akan dipelajari. Seperti pembelajaran dengan
konsep makhluk hidup, guru dapat menghadirkan makhluk aslinya dalam
proses pembelajaran ataupun dapat mengajak siswa ke luar kelas untuk
mengamati makhluk hidup yang ada di lingkungan sekitar.
Contohnya, guru dapat menghadirkan hewan seperti ayam,
kucing, dan kelenci serta tumbuhan seperti bunga, rumput, dan pohon-
pohon yang ada di sekitar lingkungan sehari-hari siswa. Sehingga siswa
dapat belajar dengan senang dan bergairah, serta memberikan pengalaman
unik dalam pembelajaran. Siswa akan menganggap bahwa belajar IPA itu
menyenangkan, tidak sulit ataupun membosankan.
Jadi dengan pendekatan teori belajar ini, siswa tidak lagi hanya
sebatas menerima materi dari apa yang guru jelaskan dan materi yang
7

telah ada dibuku, yang membuat anak bosan ataupun terdapat materi yang
sulit dimengerti, karena dengan pendekatan teori belajar Artur W Combs
siswa dapat mengambil pelajaran dan mengaitkannya dengan kehidupan
sehari-hari yang manfaatnya nanti, siswa dapat lebih mencintai makhluk
hidup dilingkungan sekitarnya, mengetahui cara menjaga dan merawat
mahluk hidup disekitarnya.

2) Bidang Studi IPS


Dalam pembelajaran IPS tentang “ Keanekaragaman Budaya “ di
kelas 4 SD, guru hendaknya tidak lagi memberikan materi pembelajaran
dengan metode konvensional atau ceramah kepada siswa. Guru dapat
menghadirkan sebuah video yang mewakili kebudayaan setiap daerah, atau
bisa melakukan kunjungan karya wisata ke museum tentang kebudayaan,
ataupun melakukan diskusi setiap siswa untuk menerangkan ciri khas dari
setiap daerah di indonesia, penggunaan media seperti kartu bergambarkan
kebudayaan khas masing-masing daerah, yang kemudian bisa siswa
aplikasikan langsung dengan diskusi kelompok dalam pembelajaran.
Dengan semua cara diatas menjadikan siswa belajar tidak hanya
dengan mendengar penjelasan guru, tetapi juga dengan melihat, merasakan
dan mengikuti keseluruhan proses dari setiap pembelajaran, sehingga
belajar menjadi bermakna bagi siswa. Hal tersebut dapat mengarahkan
siswa untuk belajar secara aktif dan tidak hanya dituntut belajar dari buku,
namun siswa juga dapat menggali pengetahuan dengan diri sendiri
sehingga proses pembelajaran berlangsung tidak membosankan, siswa
tidak merasa terpaksa dalam mengikuti pembelajaran yang berlangsung.
Dalam pembelajaran IPS ini guru dapat menanamkan sikap dan
kepribadian siswa untuk saling menghargai dan juga mencintai setiap ciri
khas kebudayaan dari setiap daerah di indonesia. Seorang siswa bisa
mengenal sekaligus menghargai kebudayaan yang dimiliki oleh temannya,
dan menyadari bahwa di kehidupan sehari-harinya ia pasti akan menemui
orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda/beragam. Mengenal
dan menjaga kebudayaan yang diajarkan hingga makna sukarela tertanam
8

pada diri siswa, turut memupuk sikap melestarikan budaya yang tentu
berdampak postif bagi kehidupan anak sekarang ataupun nanti.

3) Bidang Studi Matematika


Belajar terjadi bila mempunyai arti bagi individu. Guru tidak bisa
memaksakan materi yang tidak disukai atau tidak relevan dengan
kehidupan mereka. Perilaku buruk siswa sebenarnya tak lain hanyalah dari
ketidakmampuan siswa untuk melakukan sesuatu yang tidak akan
memberikan kepuasan baginya.
Untuk itu guru harus memahami perlaku siswa dengan mencoba
memahami dunia persepsi siswa tersebut sehingga apabila ingin merubah
perilakunya, guru harus berusaha merubah keyakinan atau pandangan
siswa yang ada. Contohnya, siswa mampu menunjukkan perilaku teliti dan
peduli melalui menata benda-benda di sekitar ruang kelas berdasarkan
dimensi, berat, atau urutan jumlah. Dengan ini, siswa akan mengetahui
mengenai materi dimensi, berat maupun urutan jumlah.
Pembelajaran matematika ini terjadi dengan hal yang cukup
sederhana, seorang guru yang akan mengajarkan konsep dimensi, berat,
maupun urutan jumlah bisa menggunakan media benda yang ada didalam
kelas, guru meminta siswa ikut berpartisipasi dalam menata dan
membersihkan kelas, disamping siswa tanpa disadari ikut melaksanakan
pembelajaran matematika dengan konsep tersebut, perilaku menata kelas
dilakukan dengan tujuan lainnya, yakni mempersiapkan kondisi kelas yang
bersih sehingga belajar lebih kondusif. Dalam kegiatan ini, perilaku afektif
yang dimunculkan dari makna pembelajaran sendiri adalah teliti, peduli
dengan sekitar, dan juga sikap gotong royong seluruh anggota kelas.

4) Bidang Studi PKN


Dalam pembelajaran PKN di kelas 2 SD, guru dalam hal ini
mengajarkan konsep “Kedisiplinan”, guru dapat menggunakan metode
bermain peran, dalam satu kelas, guru membagi siwa kedalam kelompok-
kelompok kecil, dengan tema drama kedisiplinan yang berb eda.
Setiap kelompok yang tidak sedang tampil, menyimak drama yang
dibawakan temannya. Contohnya, satu kelompok siswa membawakan
9

drama dengan judul “Terlambat Pergi ke Sekolah”, dari drama tersebut


siswa yang berperan, maupun yang menyimak diharapkan dapat
mengambil hikmah, dengan mengetahui konsekuensi dari keterlambatan
yang diawali dari sikap ketidakdisiplinan pada saat mempersiapkan diri
untuk berangkat ke sekolah. Dari keterlambatan yang diawali
ketidakdisiplinan seperti tidur larut malam, yang mengakibatkan terlambat
bangun dipagi hari, sehingga terlambat hadir didalam kelas, yang
berujung pada hukuman karena melanggar tata tertib yang ada.
Setelah memahami materi PKN mengenai disiplin, dengan
keterlibatan langsung dalam pembelajaran, konsep mengenai disiplin, bisa
lebih lama melekat pada ingatan siswa, dan diakhiri dengan tindakan
disiplin pada kehidupan kesehariannya.
Pembelajaran mengenai disiplin ini, dapat tersampaikan dengan
baik, secara disadari maupun tidak oleh anak, karena proses pembelajaran
menggunakan drama yang lebih menyenangkan. Disamping itu, anak akan
lebih memahami bahwa perilaku disiplin yang ia terapkan dalam
kesehariannya akan membawa banyak dampak postif bagi kehidupannya.

5) Bidang Studi Bahasa Indonesia


Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia tentang “Keterampilan
Menulis Puisi“ di kelas 3 SD, guru hendaknya tidak lagi memberikan
materi pembelajaran mengenai “Keterampilan Menulis Puisi“ hanya
dengan memberikan contoh sebuah puisi, lalu menugaskan siswa untuk
membuat sebuah puisi. Akan lebih baik apabila guru sebelumnya
menstimulus siswa terlebih dahulu, kita ambil contoh pembelajaran
menulis puisi dengan tema “Lingkungan Sekitar”, hal ini dapat dilakukan
dengan cara mengajak siswa untuk melakukan kegiatan diluar ruangan
kelas, seperti jalan-jalan disekitar lingkungan sekolah, lalu setelah itu kita
meminta siswa untuk menuliskan apa yang telah dilihat dan dirasakan
ketika jalan-jalan disekitar lingkungan sekolah kedalam sebuah puisi, serta
membacakan hasil karyanya didepan kelas.
Dengan semua cara diatas, dapat menjadikan siswa belajar tidak
hanya dengan mendengar penjelasan guru, tetapi juga dengan melihat,
10

merasakan dan mengikuti keseluruhan proses dari setiap pembelajaran,


sehingga belajar menjadi bermakna bagi siswa. Selain itu, siswa juga dapat
menggali pengetahuan secara mandiri, sehingga proses pembelajaran
berlangsung tidak membosankan. Karena berlangsung tidak hanya didalam
kelas, siswa juga dapat menemukan banyak insprirasi berdasarkan pada
hasil temuannya sendiri.
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia yang tertuang dalam
pembuatan puisi ini, selain siswa mampu untuk mebuat sebuah materi
seperti tujuan pembelajaran, guru juga dapat menanamkan sikap dan
kepribadian siswa untuk lebih menghargai dan juga mencintai lingkungan
sekitar, menumbuhkan kreatifitas dan juga rasa percaya diri pada dirinya.

c. Kesimpulan Teori Belajar Menurut Arthur W.Combs


Menurut Arthur W.Combs belajar terjadi bila mempunyai arti bagi
individu, pendidik tidak bisa mamaksakan materi yang tidak disukai atau
tidak relevan dengan kehidupan mereka. Di sini pendidik harus peka,
memotivasi dan memberikan bahkan mengubah pandangan peserta didiknya.
Bahwa suatu pelajaran yang baik yang disenangi atau tidak disenangi peserta
didik, tetap akan memberikan manfaat untuknya kelak.
2. Teori Belajar Bloom dan Krathwohl dan Aplikasinya dalam Bidang Studi

a. Teori Belajar Bloom dan Krathwohl


Bloom dan Krathwohl lebih menekankan perhatiannya pada apa yang pasti
dikuasai oleh peserta didik, setelah melalui peristiwa-peristiwa belajar. Tujuan
belajar yang dikemukakannya dirangkum dalam tiga kawasan yang dikenal
dengan sebutan Taksonomi Bloom. Melalui taksonomi Bloom inilah telah
berhasil memberikan inspirasi kepada banyak pakar pendidikan dalam
mengembangkan teori-teori maupun praktek pembelajaran. Pada tatanan praktis,
taksonomi Bloom ini telah membantu para pendidik untuk merumuskan tujuan-
tujuan belajar yang akan dicapai, dengan rumusan yang mudah dipahami.
Berpijak pada taksonomi Bloom ini pulalah para praktisi pendidikan dapat
merancang program-program pembelajarannya. taksonomi Bloom ini telah
11

banyak dikenal dan paling popular di lingkungan pendidikan. Secara ringkas,


ketiga kawasan dalam taksonomi Bloom tersebut adalah sebagai berikut:
1) Kognitif
Kognitif terdiri dari enam tingkatan:
a) Mengingat ( mengingat, menghafal );
b) Memahami ( menginterpretasikan );
c) Menerapkan ( menggunakan konsep untuk memecahkan suatu masalah );
d) Menganalisis ( menjabarkan suatu konsep );
e) Mengevaluasi (membandingkan ide, nilai, metode, suatu konsep secara utuh);
f) Mengkreasi (merancang, membangun sesuatu yang baru );

2) Psikomotor
Psikomotor terdiri dari lima tingkatan, yaitu:
a) Peniruan ( menirukan gerak );
b) Penggunaan ( menggunakan konsep untuk melakukan gerak );
c) Ketepatan ( melakukan gerak dengan benar );
d) Perangkaian ( melakukan beberapa gerakan sekaligus dengan benar );
e) Naturalisasi ( melakukan gerak secara wajar ).

3) Afektif
Afektif terdiri dari lima tingkatan, yaitu:
a) Pengenalan ( ingin menerima, sadar akan adanya sesuatu );
b) Merespon ( aktif berpartisipasi );
c) Penghargaan ( menerima nilai-nilai, setia kepada nilai-nilai tertentu);
d) Pengorganisasian ( menghubung - hubungkan nilai-nilai yang dipercayai );
e) Pengalaman ( menjadikan nilai-nilai sebagai bagian dari pola hidup )

b. Aplikasi Teori Belajar menurut Bloom dan Krathwohl dalam


Pembelajaran dikaitkan dengan Bidang Studi

1) Bidang Studi IPA (Ranah Kognitif)


Tujuan kognitif atau Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup
kegiatan mental (otak). Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut
aktifitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Dalam ranah kognitif
itu terdapat enam jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah
sampai jenjang yang tertinggi yang meliputi 6 tingkatan:
a) Mengingat (Remember)
Menarik kembali informasi yang tersimpan dalam memori jangka
panjang. Mengingat merupakan proses kognitif yang paling rendah
tingkatannya. Untuk mengkondisikan agar “mengingat” bisa
menjadi bagian belajar bermakna bagi siswa, tugas mengingat
12

hendaknya selalu dikaitkan dengan aspek pengetahuan yang lebih


luas dan bukan sebagai suatu yang lepas dan terisolasi.
Contoh: Guru bertanya kepada siswa tentang materi yang sudah
dipelajari oleh siswa seperti “Coba siapa yang ingat tentang sifat-sifat
cahaya?”
b) Memahami (Understand)
Mengkonstruk makna atau pengertian berdasarkan pengetahuan
awal yang dimilik oleh siswa, mengaitkan informasi yang baru
dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa, atau dapat pula
mengintegrasikan pengetahuan yang baru ke dalam skema yang telah
ada dalam pemikiran siswa.
Contoh: Nah sekarang siapa yang dapat menyebutkan pengertian
cahaya? Dan kenapa cahaya dapat menerangi benda-benda
disekitarnya?

c) Mengaplikasikan (Applying)
Mencakup penggunaan suatu prosedur guna menyelesaikan
masalah atau mengerjakan tugas. Oleh karena itu mengaplikasikan
berkaitan erat dengan pengetahuan prosedural.
Contoh: Guru menanyakan kepada siswa “Apa saja manfaat cahaya
untuk kehidupan sehari-hari beserta contohnya?”

d) Menganalisis (Analyzing)
Menguraikan suatu permasalahan atau obyek ke unsur-unsurnya
dan menentukan saling keterkaitan antar unsur-unsur tersebut dan
struktur besarnya.
Contoh: Guru bertanya kepada siswa “Dapatkah kita melihat benda-
benda yang ada di sekeliling kita dalam keadaan gelap? Mengapa kita
hanya bisa melihat benda-benda yang ada disekeliling kita ketika ada
cahaya yang mengenai benda tersebut?”

e) Mengevaluasi (Evaluate)
Membuat suatu pertimbangan berdasarkan kriteria dan standar
yang ada.
13

Contoh: Guru memberikan soal-soal kepada siswa mengenai cahaya


dan membahasnya bersama-sama.
f) Membuat (Create)
Menggabungkan beberapa unsur menjadi suatu bentuk kesatuan.
Membuat mencakup kemampuan untuk menghasilkan sesuatu yang
baru dengan cara mengorganisir beberapa unsur atau bagian menjadi
suatu pola atau struktur yang sebelumnya tidak tampak.
Contoh: Guru dan siswa membuat sebuah percobaan untuk
membuktikan sifat-sifat cahaya misalnya menggunakan senter dan
beberapa kertas yang berlubang kecil, untuk membuktikannya.

2) Bidang Studi PKN (Ranah Afektif)


a) Menerima: Kesediaan untuk menyadari adanya suatu fenomena di
lingkungannya. Dalam pengajaran bentuknya berupa mendapatkan
perhatian, mempertahankannya, dan mengarahkannya.
Contoh: Guru menjelaskan arti pentingnya keutuhan suatu Negara
seperti NKRI.

b) Menanggapi: Memberikan reaksi terhadap fenomena yang ada di


lingkungannya. Meliputi persetujuan, kesediaan, dan kepuasan dalam
memberikan tanggapan.
Contoh: Guru menanyakan kepada siswa “Apa saja yang dapat kita
lakukan sebagai warga Negara dalam mempertahankan keutuhan
Negara kita?”.

c) Menilai: Berkaitan dengan harga atau nilai yang diterapkan pada suatu
objek, fenomena, atau tingkah laku. Penilaian berdasar pada
internalisasi dari serangkaian nilai tertentu yang diekspresikan ke dalam
tingkah laku.
Contoh: Setelah menanyakan hal seperti diatas, guru membahas
jawaban-jawaban yang dikemukakan oleh siswa.

d) Mengelola: Memadukan nilai-nilai yang berbeda, menyelesaikan


konflik di antaranya, dan membentuk suatu sistem nilai yang konsisten.
14

Contoh: Kemudian guru menanyakan tentang berbagai gangguan yang


dapat mengancam keutuhan NKRI dan permasalahan yang pernah
terjadi di Indonesia.

e) Menghayati: Memiliki sistem nilai yang mengendalikan tingkah-


lakunya sehingga menjadi karakteristik gaya-hidupnya.
Contoh: Guru menjelaskan upaya-upaya yang dilakukan dalam
Menjaga Keutuhan Wilayah NKRI serta perilaku atau Sikap yang dapat
dilakukan untuk mempertahankan tanah air.

3) Bidang Studi Pendidikan Jasmani dan Olahraga (Ranah Psikomotor)


a) Persepsi: Penggunaan alat indera untuk menjadi pegangan dalam
membantu gerakan.

Contoh: Seorang guru menjelaskan arti penting berolahraga dan


menjaga kesehatan tubuh.

b) Kesiapan: Kesiapan fisik, mental, dan emosional untuk melakukan


gerakan.

Contoh: Guru olahraga memulai berolahraga atau senam diikuti oleh


siswanya.

c) Respon terpimpin atau penggunaan: Tahap awal dalam mempelajari


keterampilan yang kompleks, termasuk di dalamnya imitasi dan
gerakan coba-coba.

Contoh: siswa dalam hal ini mengikuti gurunya dengan gerakan coba-
coba yang dilakukannya.

d) Mekanisme atau ketepatan: Membiasakan gerakan-gerakan yang telah


dipelajari sehingga tampil dengan meyakinkan dan cakap.
Contoh: Setelah melihat guru olahraganya berkali-kali dengan gerakan
yang sama akhirnya siswa dapat membiasakan gerakannya dengan
tepat.
e) Respon tampak yang kompleks: Gerakan motoris yang terampil yang di
dalamnya terdiri dari pola-pola gerakan yang kompleks.
15

Contoh: Setelah itu siswa juga dapat menggerakan tubuhnya dengan


tepat walau dengan gerakan yang sukar.

f) Penyesuaian: keterampilan yang sudah berkembang sehingga dapat


disesuaikan dalam berbagai situasi.

Contoh: siswa terampil dengan gerakan yang berbeda-beda dan dapat


menyesuaikan pola geraknya dengan menunjukan kemahirannya.

g) Penciptaan: Membuat pola gerakan baru yang disesuaikan dengan


situasi, kondisi atau permasalahan tertentu.

Contoh: siswa dapat berkreativitas untuk melahirkan pola gerak-gerik


yang baru atas dasar inisiatif dirinya.

c. Kesimpulan Teori Belajar Menurut Bloom dan Krathwohl


Menurut Bloom dan Krathwohl, apa yang pasti dicapai pesrta didik
setelah melalui proses belajar lah yang ditekankan, yang kemudian dikenal
dengan 3 ranah yakni kognitif, afektif, dan psikomotor. Setelah proses belajar
berlangsung, setiap siswa mengalami perubahan dalam dirinya, ada
penambahan ilmu pengetahuan yang hasilnya akan sesuai dengan tujuan awal
dari pembelajaran. Baik penekanannya dalam ranah kognitif, afektif maupun
psikomotor.

3. Teori Belajar Carl Rogers dan Aplikasinya dalam Bidang Studi


a. Teori Belajar Carl Rogers
Carl Ransom Rogers (1902-1987) lahir di Oak Park, Illinois pada tanggal
8 Januari 1902 disebuah keluarga Protestan yang fundamentalis. Rogers
merupakan tokoh humanistis dalam teori-teori balajar dari psikologi humanistik.
Perhatian psikologi humanistik yang terutama tertuju pada masalah bagaimana
tiap-tiap individu dipengaruhi dan dibimbing oleh maksud-maksud pribadi yang
mereka hubungkan kepada pengalaman-pengalaman mereka sendiri.
Carl R. Rogers adalah seorang psikolog humanistik yang gagasan-
gagasannya berpengaruh terhadap pikiran dan praktek pendidikan. Lewat karya-
karyanya yang tersohor seperti “Freedom to learn and Freedom to learn for the
16

80’s” dia menyarankan suatu pendekatan pendidikan yang berupaya menjadikan


belajar dan mengajar lebih manusiawi dan karenanya lebih bersifat pribadi dan
penuh makna.
Carl R. Rogers kurang menaruh perhatian kepada mekanisme proses
belajar. Belajar dipandang sebagai fungsi keseluruhan pribadi. Mereka
berpendapat bahwa belajar yang sebenarnya tidak dapat berlangsung bila tidak
ada keterlibatan intelektual maupun emosional peserta didik. Oleh karena itu,
menurut teori belajar humanistik bahwa motivasi belajar harus bersumber pada
diri peserta didik.
Roger membedakan dua ciri belajar, yaitu:
1) Belajar yang bermakna, belajar yang bermakna terjadi jika dalam proses
pembelajaran melibatkan aspek pikiran dan perasaan peserta didik.
2) Belajar yang tidak bermakna, belajar yang tidak bermakna terjadi jika dalam
proses pembelajaran melibatkan aspek pikiran akan tetapi tidak melibatkan
aspek perasaan peserta didik.

Implikasi teori belajar menurut Carl Rogers :


1) Hasrat untuk belajar
Menurut Rogers manusia itu mempunyai hasrat alami untuk belajar. Hal
ini dibuktikan dengan rasa ingin tahunya anak kalau ia sedang
mengeksplorasi lingkungannya. Dorongan ingin tahu untuk belajar ini
merupakan asumsi dasar pendidikan humanistik. Di dalam kelas yang
humanistik anak-anak diberi kebebasan untuk memuaskan dorongan ingin
tahunya, untuk memenuhi minatnya dan untuk menemukan apa yang penting
dan berarti tentang dunia disekitarnya. Orientasi ini bertentangan sekali
dengan kelas-kelas gaya lama dimana pendidik atau kurikulum menentukan
apa yang harus dipelajari oleh anak-anak.

2) Belajar yang berarti


Prinsip kedua ini adalah belajar yang berarti, yang mempunyai makna. Hal ini
terjadi apabila yang dipelajari relevan dengan kebutuhan dan maksud anak.
Anak akan belajar dengan cepat apabila yang dipelajari itu mempunyai arti
baginya.
17

3) Belajar tanpa ancaman


Menurut Rogers, belajar itu mudah dilakukan dan hasilnya dapat disimpan
dengan baik apabila berlangsung dalam lingkungan yang bebas ancaman.
Proses belajar berjalan dengan lancar manakala murid dapat menguji
kemampuannya, dapat mencoba pengalaman-pengalaman baru atau membuat
kesalahan-kesalahan tanpa mendapat kecaman yang biasanya menyinggung
perasaan.
4) Belajar atas inisiatif sendiri
Bagi para humanist, belajar itu paling bermakna manakala hal itu dilakukan
atas inisiatif sendiri dan apabila melibatkan perasaan dan pikiran peserta
didik. Tidak perlu diragukan bahwa menguasai bahan pelajaran itu penting
tetapi tidak lebih penting daripada memperoleh kecakapan untuk mencari dan
menemukan sumber, merumuskan masalah, menguji praduga dan menilai
hasil.
5) Belajar dari perubahan
Perubahan merupakan fakta hidup yang sentral. Ilmu pengetahuan dan
teknologi selalu maju dan melaju. Apa yang dipelajari dimasa lalu tidak lagi
dapat membekali orang untuk hidup dan berfungsi dengan berhasil didunia
mutakhir ini. Apa yang dibutuhkan dewasa ini ialah orang-rang yang mampu
belajar dilingkungan yang sedang berubah dan akan terus berubah.

b. Aplikasi Teori Belajar menurut Carl Rogers dalam Pembelajaran


dikaitkan dengan Bidang Studi

1) Bidang Studi IPA


Dalam pembelajaran IPA tentang struktur dan fungsi bagian
tumbuhan di kelas 4 SD, guru hendaknya tidak memberikan materi dengan
metode ceramah kepada siswa. Akan lebih baik apabila guru benar-benar
menghadirkan berbagai macam tumbuhan yang nantinya dijadikan sebagai
bahan yang akan didiskusikan oleh siswa di kelas. Namun apabila disekitar
lingkungan sekolah terdapat kebun yang ditumbuhi berbagai macam jenis
18

tumbuhan, maka siswa dapat diajak untuk mengamati tumbuhan di kebun


tersebut secara langsung. Terlebih jika didalam kebun yang ada
dilingkungan sekolah tersebut ditumbuhi oleh TOGA (tanaman obat dan
keluarga). Jadi, selain menjelaskan bagian-bagian tumbuhan secara
langsung, siswa juga bisa mengenal dan mengetahui tumbuhan yang
memiliki manfaat sebagai obat. Hal ini tentu menjadikan pembelajaran
menjadi lebih menarik. Siswa akan mengetahui bahwa tumbuhan yang
sedang ia pelajari ternyata juga dapat ia manfaatkan sebagai obat didalam
kehidupan sehari-harinya.
Siswa belajar tidak hanya dengan mendengar penjelasan guru,
tetapi juga dengan melihat, menyentuh, merasakan dan mengikuti
keseluruhan proses dari setiap pembelajaran, sehingga belajar menjadi
bermakna bagi siswa. Siswa diarahkan untuk belajar secara aktif dan tidak
hanya dituntut belajar dari buku, namun siswa juga dapat menggali
pengetahuan dari alam sekitarnya. Posisi guru dalam hal ini hanya sebagai
fasilitator, motivator, dan stimulator. Dalam pembelajaran IPA ini guru dapat
menanamkan sikap dan kepribadian siswa untuk mencintai lingkungan
sekitarnya serta pembiasaan siswa untuk selalu merawat lingkungan
sekitarnya.

2) Bidang Studi IPS


Dalam pembelajaran IPS, konsep “Denah dan Arah Mata Angin”
pada kelas 1 SD, guru dapat membawakannya dengan terlebih dahulu
membuat ilustrasi cerita yang terkait dengan konsep denah dan arah mata
angin, ilustrasi yang menstimulus siswa untuk turut serta berfikir mengenai
konsep yang sedang dibawakan oleh guru, seperti “Anak-anak, jika Ibu akan
pergi ke ruang Kepala Sekolah, dan sekarang Ibu berada di kelas, Ibu harus
berjalan kemana?”. Setelah itu, siswa secara berkelompok dapat
mendiskusikan jawabannya. Untuk itu, guru perlu memberi waktu pada
siswa untuk berdiskusi menemukan jawabannya. Selanjutnya, masing-
masing kelompok diminta untuk mengungkapkan pendapatnya. Diakhir
19

diskusi, guru bersama siswa membahas pemecahan ilustrasi tadi dengan


menggunakan bantuan denah dan arah mata angin.
Setelah selesai, siswa akan mengetahui manfaat penunjuk arah.
Memahami bagaimana caranya menujukan tempat bagi oranglain,
mengingat suatu tempat beserta jalan untuk menujunya dan sebagainya.
Guru dapat meminta siswa untuk membuat denah yang menjukan jalan
untuk pergi ke sekolah sebagai pekerjaan rumah.
Penerapan belajar seperti diatas lebih bermakna, dari sekedar
mencontohkan denah yang dilakukan hanya oleh guru. Maka dari itu, selain
pembelajaran dapat tersampaikan dengan baik, guru bisa memfasilitasi
siswa untuk mengembangkan pikiran dan perasaan melalui proses
menemukan yang terjadi selama pembelajaran, dan melatih kebebasan siswa
dalam berpendapat atau mengungkapkan pemikirannya.

3) Bidang Studi Matematika


Dalam pembelajaran matematika tentang “Operasi Hitung
Penjumlahan Dan Pengurangan” di kelas 2 SD, guru menjelaskan konsep
penjumlahan dan pengurangan kemudian mengaplikasikan konsep tersebut
dengan menggunakan media uang receh atau uang kertas.
Pembelajaran konsep penjumlahan dan pengurangan seperti itu
akan mudah dipahami oleh siswa karena penjumlahan dan pengurangan
mata uang tersebut sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari siswa,
misalnya untuk membeli kue atau mainan. Siswa dituntun untuk
mengembangkan kemampuan dirinya dalam hal operasi penjumlahan
maupun pengurangan menggunakan mata uang, hal ini akan menarik minat
siswa dalam belajar karena mereka akan berpikir bahwa pengetahuan itu
sangat diperlukan dalam kehidupannya. Dengan demikian pembelajaran itu
akan terasa bermakna bagi siswa karena dapat bermanfaat dalam penerapan
di kehidupannya sehari-hari.

4) Bidang Studi PKN


Dalam pembelajaran PKN misalnya tentang konsep “Hidup
Rukun” di kelas 1 SD, guru dapat menggunakan metode diskusi dan tanya
20

jawab dengan siswa mengenai hidup rukun. Guru dapat melontarkan


pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan hidup rukun kepada
siswa di kelas sebagai bahan diskusi bersama.
Siswa dipancing untuk menyebutkan contoh-contoh atau sikap
yang harus dilakukan untuk mewujudkan hidup rukun baik di keluarga,
sekolah, maupun di lingkungan masyarakat. Dalam hal ini guru tidak
langsung memberikan penjelasan materi karena guru harus mempunyai
kepercayaan kepada siswa bahwa siswa sudah memiliki pengetahuan
mengenai materi tersebut dari fakta-fakta yang terdapat di sekitarnya.
Untuk menunjang pembelajaran agar lebih menyenangkan dan
mudah diserap oleh siswa, guru dapat mensiasatinya dengan meminta
siswa untuk menyanyikan lagu yang berisi tentang hidup rukun.
Pembelajaran dilakukan dengan tujuan agar siswa memahami
pentingnya hidup rukun dengan sesama dan siswa dapat menyadari serta
mengaplikasikan sikap dan nilai-nilai apa yang harus dilakukannya dalam
kehidupannya sehari-hari untuk mewujudkan kerukunan dalam hidup
berbangsa dan bernegara.

5) Bidang Studi Bahasa Indonesia


Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, penerapan teori belajar ini
dicontohkan dalam pembelajaran membuat kalimat berpola S-P-O-K
(Subjek - Predikat – Objek – Keterangan) di kelas. Guru menuntun siswa
agar dapat membuat kalimat berpola dengan baik. Siswa dibebaskan untuk
memperoleh referensi atau sumber belajar yang terdapat di lingkungannya
yang dapat ia manfaatkan, posisi guru hanya sebagai fasilitator dalam
pembelajaran.
Pembelajaran dapat dilakukan dengan memberikan kebebasan
berpikir siswa untuk membuat contoh-contoh kalimat berpola dengan
benar. Materi pembelajaran ini sangat perlu untuk dikuasai oleh siswa
karena penggunaan kalimat berpola adalah suatu kebutuhan dasar dalam
berinteraksi dengan sesamanya di kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu,
21

guru harus mampu mendorong siswa untuk belajar atas dasar inisiatif
sendiri.
Dengan diberikannya pelajaran tersebut, maka siswa akan paham
bagaimana menggunakan kalimat yang baik dalam berkomunikasi kepada
orang lain. Selain untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pembelajaran ini
juga dapat dimanfaatkan oleh guru untuk mengembangkan potensi-potensi
dalam diri siswa yang memiliki minat terhadap sastra.

c. Kesimpulan Teori Belajar Menurut Carl Rogers


Menurut pendapat Carl R. Rogers praktek pendidikan menitikberatkan
pada segi pengajaran, bukan pada peserta didik yang belajar. Praktek tersebut
ditandai oleh peran pendidik yang dominan dan peserta didik hanya
menghafalkan pelajaran.
Dapat ditegaskan belajar menurut Carl R. Rogers adalah untuk
membimbing anak kearah kebebasan dan kemerdekaan, mengetahui apa yang
baik dan yang buruk, dapat melakukan pilihan tentang apa yang dilakukannya
dengan penuh tanggungjawab sebagai hasil belajar. Kebebasan itu hanya
dapat di pelajari dengan memberi peserta didik kebebasan sejak mulanya
sejauh ia dapat memikulnya sendiri, hal ini dilakukan dalam konteks belajar.

BAB III
PENUTUP
22

A. Kesimpulan

Teori belajar humanistik menekankan studi tentang seseorang


secara utuh, tidak hanya melalui penglihatan pengamat tetapi juga
pengamatan atas perilaku individu, mengintegralkan dengan perasaan batin
dan citra rasa. Tujuan belajarnya adalah untuk memanusiakan manusia.
Proses belajar dianggap berhasil jika peserta didik memahami lingkungannya
dan dirinya sendiri. Teori belajar ini berusaha memahami perilaku belajar dari
sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang pengamatnya. Tujuan
utama para pendidik adalah membantu peserta didik mengembangkan dirinya,
yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri
sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-
potensi yang ada dalam diri mereka.

Tokoh penting dalam teori belajar humanistik secara teoritik antara


lain Abraham Maslow, Arthur W. Combs, Carl Rogers, Bloom dan
Krathwohl, Kolb, Honey dan Mumford dan Habermas.

Berikut pandangan para tokoh dibahas didalam makalah ini mengenai teori
belajar humanistik :
a. Arthur W. Combs, memandang bahwa belajar terjadi bila mempunyai
arti bagi individu, pendidik tidak bisa mamaksakan materi yang tidak
disukai atau tidak relevan dengan kehidupan mereka. Jadi meaning
(makna/ arti) yang ditekankan.
b. Bloom dan Krathwohl, memandang bahwa apa yang pasti dikuasai oleh
peserta didik, setelah melalui peristiwa-peristiwa belajar-lah yang
menjadi makna dari belajar. Yang kemudian dikenal dalam
pengelempokan 3 ranah, yakni ranah kognitif, afektif, dan psikomotor.
c. Carl Rogers memandang bahwa yang dimaksud dengan belajar adalah
membimbing anak kearah kebebasan dan kemerdekaan, mengetahui apa
yang baik dan yang buruk, dapat melakukan pilihan tentang apa yang
23
dilakukannya dengan penuh tanggungjawab sebagai hasil belajar.
23

Rogers juga membagi konsep belajar menjadi 2, yakni belajar


bermakna dan belajar tidak bermakna.

Aplikasi teori belajar humanistik dalam pembelajaran di SD dapat


dilaksanakan hampir pada semua mata pelajaran yang ada, selama materi-
materi pembelajaran tersebut lebih berorientasi pada pembentukan
kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, dan analisis terhadap fenomena
sosial. Dan pada pembelajaran yang hasil belajarnya nanti dapat diaplikasikan
lagi dalam kehidupan nyata atau kehidupan sehari-hari peserta didik.

B. Saran
Dengan adanya teori-teori belajar, termasuk didalamnya teori belajar
humanistik ini, kita sebagai pendidik dapat lebih memahami makna
“memanusiakan manusia” secara utuh, dimana peserta didik yang akan kita hadapi
nantinya, merupakan sebuah individu yang kompleks, membutuhkan
pengembangan potensi yang tentunya harus kita fasilitasi dalam prosesnya.
Para calon pendidik maupun yang telah menjadi pendidik anak bangsa
Indonesia saat ini, hendaknya lebih banyak memaknai dan mencoba
mengimplementasikan setiap sisi positif yang dapat diambil dari masing-masing
teori belajar yang ada pada saat proses pendidikan sesungguhnya berlangsung.

LAMPIRAN

A. Pertanyaan
1. Anita Rahayu
24

Kebebasan dan kemerdekaan seperti apa yang dimaksud Carl Rogers dalam
teori belajar humanistiknya? Lalu, apakah aplikasi teori belajarnya dapat
diaplikasikan pada bidang studi lain selain IPA?
2. Nurul Lisa Muraida
Apakah perbedaan yang mendasar dari belajar menurut Arthur W.Combs
dengan Bloom dan Krathwohl?
3. Ai Roudhotul Munawaroh
Jika dilihat dalam implikasi sejalan dengan prinsip humanistik, ada
implikasi “peserta didik harus dapat memilih apa yang ingin mereka
pelajari”, lalu bagaimana dengan keadaan saat ini yang sumber belajar
berpusat/ diatur sepenuhnya oleh pihak guru?

B. Jawaban
1. Kebebasan dan kemerdekaan yang dimaksud Carl Rogers adalah proses
belajar yang dilakukan melibatkan peserta didik secara aktif, mereka bebas
untuk mengemukakan pendapat, mengeksplorasi, dan melaksanakan
pembelajaran yang mereka minati. Pendidik humanistik hanya memfasilitasi
peserta didik selama proses pembelajaranya.
Teori belajar humanistik dapat diaplikasikan pada setiap pelajaran, selama
pelajaran/ bidang studi tersebut berkaitan dengan tujuan pembentukan
karakter, sesuai dengan tujuan pokok belajar humanistik yakni mencapai
aktualisasi diri yang dapat diperoleh salah satunya melalui pembelajaran
bermakna.

2. Arthur W.Combs menekankan makna belajar, yang dapat diaplikasikan


dalam kehidupan sehari-hari peserta didik secara tidak spesifik, sedangkan
Bloom dan Krathwohl, menekankan perolehan apa yang pasti dicapai oleh
siswa setelah belajar yang secara spesifik dikelompokan menjadi ranah
kognitif dengan orientasi pengetahuan, afektif dengan sikap, dan psikomotor
dengan keterampilan.
25

3. Implikasi sebagaimana yang telah disebutkan diatas, merupakan implikasi


dari penerapan murni teori belajar humanistik yang bertolak pada peserta
didik sesuai dengan minatnya, namun jika pada prakteknya ditemukan hal
seperti itu, kita kembali ingat bahwa dalam pembelajaran tidak hanya
menggunakan satu teori belajar, namun bisa saja menggabungkan teori
belajar lain yang kemudian direlevankan sesuai dengan nilai, kultur/budaya
dan norma yang ada di lingkungan dimana nantinya proses pembelanjaran
tersebut dilaksanakan.

TEORI HUMANISTIK
DAN APLIKASINYA DALAM BIDANG STUDI
MAKALAH
26

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Kelompok Mata Kuliah


Belajar dan Pembelajaran Bidang Studi
Dosen Pengampu
Dra. Hj. Komariah, M.Pd

Disusun Oleh :
Agung Setiabudhi 1303832
Diah Ayu Lestari 1306624
Reni Apriyani 1305715
Restiani Octavia 1301101
Syifa Eka Oktaviana 1304986

4D PGSD

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PENDIDIK SEKOLAH DASAR


KAMPUS CIBIRU
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
2015
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..............................................................................................i
27

DAFTAR ISI...........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang.................................................................................................1
B.Rumusan Masalah............................................................................................1
C.Tujuan Penulisan..............................................................................................2
D.Sistematika Penulisan............................................................................................ 2
BAB II PEMBAHASAN
A.Teori Belajar Humanistik.................................................................................3
B.Pandangan Para Ahli Teori Belajar Humanistik Dan Aplikasinya Dalam
Bidang Studi...................................................................................................3
1. Pandangan Tokoh Arthur W. Combs dan Aplikasinya................................3
2. Pandangan Tokoh Bloom dan Krathwohl dan Aplikasinya......................11
3. Pandangan Tokoh Carl Rogers dan Aplikasinya.......................................16
BAB III PENUTUP
A.Kesimpulan....................................................................................................23
B.Saran..............................................................................................................24
DAFTAR PUSTAKA

ii