Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU (HHBK)

UNIVERSITAS PATTIMURA FAKULTAS PERTANIAN

JURUSAN KEHUTANAN

TAHUN 2019
Kata Pengantar

Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena
atas limpahan berkat dan anugerahnya, sehingga praktek yang kami lakukan di
Desa HUNITETU , DUSUN RUMAH TITA, KABUPATEN SERAM
BAGIAN BARAT dalam selang waktu kurang empat ( 4 ) hari dapat kami
selesaikan dan selanjutnya kami buat dalam bentuk laporan dari hasil praktek yang
kami lakukan.

Dalam penyusunan laporan ini, kami menyadari bahwa dalam penulisan


yang kami lakukan masih jauh dari kesempurnaan, lebih dari itu kritik dan saran
yang sifatnya membangun dari berbagai pihak khususnya Dosen Mata Kuliah hasil
hutan bukan kayu.

Harapan kami kiranya dengan adanya laporan hasil praktek yang kami buat
ini dapat menjadi pengetahuan tambahan bagi para pembaca khususnya teman-
teman mahasiswa jurusan kehutanan universitas pattimura dalam mengembangan
ilmu dan pengetahuan yang professional. Akhir kata kami menyampaikan banyak
terima kasih.

Ambon, 13 Januari 2019


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

BAB II LANDASAN TEORI

BAB III METODOLOGI

III.1. waktu dan tempat

III. 2. alat dan bahan

III. 3. metodologi

BAB IV HASIL

IV. 1 Lebah madu trigona (pembuatan STUP)

IV. 2 Damar

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Daftar Pustaka

Lampiran
BAB I PENDAHULUAN

Hasil hutan diterjemahkan sebagai seluruh hasil (produk-produk)


yangdihasilkan dari Hutan. Sedangkan hutan secara sederhana dapat diartikan
sebagai sekumpulan pohon pohon, tumbuhan dan hewan serta penyusun ekosistem
lainnya yang satu sama lain tidak terpisahkan dan ditetapkan oleh undang-undang
sebagai hutan. Sehingga, hasil hutan adalah seluruh produkproduk yang dihasilkan
dari hutan, meliputi produk-produk dari pohon, tumbuhan, hewan dan organisme
penyusun ekosistem hutan lainnya. Hasil hutan yang telah disebutkan tadi, adalah
hasil hutan yang dapat ditentutan atau dihitung nilainya, bagaimana dengan
produk-produk yang tidak dapat dihitung nilainya, seperti hutan berfungsi
menghasilkan udara yang bersih dan segar, hutan mampu menampung resapan air
hujan dan selanjutnya mengeluarkan air ke sungai atau mata air, pancuran, juga
fungsi lainnya seperti rekreasi, pariwisata, tempat penelitian, perlindungan satwa,
dan sebagainya.

Hasil hutan bukan kayu (HHBK) merupakan jenis tanaman yang tumbuh, baik
di dalam maupun di luar kawasan hutan. Peranan HHBK sudah dirasakan
masyarakat sebagai salah satu sumber pendapatan, namun sistem pengelolaannya
masih bersifat tradisional sehingga kualitas yang dihasilkan masih jauh dari standar
yang diharapkan dan harganya masih rendah. Pemerintah sebagai pengambil
kebijakan perlu mengatur program pengembangan HHBK melalui agroforestri,
baik di dalam maupun di luar kawasan hutan secara berkesinambungan bersama
masyarakat sehingga menjadi sumber pendapatan masyarakat yang kompetitif.
Produk HHBK memiliki potensi cukup besar dalam meningkatkan nilai ekonomi
lahan hutan. Lima komoditas utama pengembangan HHBK : rotan, bambu, lebah
madu, gaharu dan ulat sutera.
Hasil hutan bukan kayu biasanya juga dimanfaatkan sebagai sumber pendapatan
tambahan selama musim tertentu dan guna mencukupi kebutuhan gizi makanan
untuk jangka pendek pada musim-musim tertentu ( k e m a r a u ). Pada musim ini,
pada beberapa daerah yang mengalami kekeringan, para petani mengalami krisis
pangan dan pendapatan, sehingga mereka mencari makanan dan pendapatan
alternatif dari komoditas hasil hutan bukan kayu. Hal ini dapat dilihat di pulau
Jawa, seperti daerah utara Jawa Tengah dan Timur, yaitu adanya pekerja musiman
pada perum perhutani pada waktu-waktu tertentu, juga masyarakat lokal yang
menjual daun jati, dan ranting-ranting pohon jati sebagai kayu bakar.

Berdasarkan penelusuran pustaka, paling tidak terdapat 9 (sembilan) fungsi dan


peran hutan, yaitu :

1. menghasilkan kayu industri (industrial wood), untuk plywood, pulp, rayon


dll,
2. menghasilkan kayu bakar dan arang (fuel wood and charcoal),
3. menghasilkan hasil hutan bukan kayu (non-wood forest product),
4. menyediakan lahan untuk pemukiman manusia (human settlement),
5. menyediakan lahan untuk lahan pertanian (agriculture land),
6. memberikan perlindungan terhadap siklus air dalam,
7. tempat penyimpanan karbon (carbon storage),
8. pemeliharaan keanekaragaman hayati dan nabati (biodiersity and habitat
preservation),
9. Selain peran dan fungsi diatas hutan memiliki nilai kontribusi dalam
membangun peradaban manusia yakni nilai social.

Secara ekologis HHBK tidak memiliki perbedaan fungsi dengan hasil hutan kayu,
karena sebagian besar HHBK merupakan bagian dari pohon. Menurut UU
Kehutanan Nomor 41 tahun 1999, disebutkan bahwa HHBK adalah hasil hutan
hayati maupun non hayati atau menurut FAO (2000) adalah barang (goods) yang
dihasilkan benda hayati selain kayu yang berasal dari hutan atau lahan sejenis.
Adapun HHBK yang dimanfaatkan dan memiliki potensi untuk dimanfaatkan oleh
masyarakat, menurut Sumadiwangsa (2000) dikutip oleh Sudarmalik dkk (2006)
dapat dibedakan menjadi beberapa bagian sebagai berikut :

1. getah-getahan : getah jelutung, getah merah, getah balam, getah karet alam
dan lain-lain,
2. tanin : pinang, gambir, Rhizophora, Bruguiera, dan lain-lain,
3. resin : gaharu, kemedangan, jernang, damar mata kucing, damar batu,
damar rasak, kemenyan dan lain-lain,
4. minyak atsiri : minyak gaharu, minyak kayu putih, minyak keruing, minyak
lawang, minyak kayu manis,
5. madu : Apis dorsata, Apis mellifera,
6. rotan dan bambu : segala jenis rotan, bambu dan nibung,
7. penghasil karbohidrat : sagu, aren, nipah, sukun dan lain-lain,
8. hasil hewan : sutra alam, lilin lebah, aneka hewan yang tidak dilindungi,
9. tumbuhan obat dan tanaman hias : aneka tumbuhan obat dari hutan, anggrek
hutan, palma, pakis dan lain-lain.
Menurut Sudarmalik dkk (2006) HHBK dalam pemanfaatannya memiliki
keunggulan dibanding hasil kayu, sehingga HHBK memiliki prospek yang
besardalam pengembangannya. Adapun keunggulan HHBK dibandingkan
denganhasil kayu adalah :

a. pemanfaatan HHBK tidak menimbulkan kerusakan yang besar terhadap


hutandibandingkan dengan pemanfaatan kayu. Karena pemanenannya tidak
dilakukan dengan menebang pohon, tetapi dengan penyadapan,
pemetikan,pemangkasan, pemungutan, dan lain-lain.
b. Beberapa HHBK memiliki nilai ekonomi yang besar per satuan volume
(contohnya, nilai jual gaharu per kg ataupun per cm3 sangat besar).
c. Pemanfaatan HHBK dilakukan oleh masyarakat secara luas dan
membutuhkan modal kecil sampai menengah. Dengan demikian
pemanfaatannya dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan usaha
pemanfaatannya dapat dilakukan oleh banyak kalangan masyarakat.
d. Teknologi yang digunakan untuk memanfaatkan dan mengolah HHBK
adalah teknologi sederhana sampai menengah.
e. Bagian yang dimanfaatkan adalah daun, kulit, getah, bunga, biji, kayu,
batang, buah dan akar cabutan. Dengan demikian pemanfaatan HHBK tidak
menimbulkan kerusakan ekosistem hutan.
 Peranan HHBK

Menurut Sudarmalik dkk (2006) tanaman penghasil HHBK memiliki peran tidak
saja pada aspek ekologis dan ekonomis, tetapi juga sosial budaya. Secara umum
peranan HHBK dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Peranan HHBK terhadap aspek ekologis

Dalam ekosistem hutan, HHBK merupakan bagian dari ekosistem hutan.


Beberapa hasil HHBK diperoleh dari hasil pohon, misalnya getah-getahan,
tanin resin dan minyak atsiri. Sedangkan selebihnya dari palm, hasil satwa
ataupun anggrek. Untuk pohon seperti gaharu (Aquilaria malaccensis), dalam
ekosistem memiliki peranan sebagai pohon dominan dengan ketinggian
mencapai 30 – 40 m. Palm berupa sagu, nipah, dll. Merupakan bagian dari
ekosistem yang berfungsi menjaga abrasi oleh sungai atau laut.

2. Peranan HHBK terhadap ekonomi rumah tangga

Seperti yang disebutkan diatas bahwa HHBK dapat menjaga adanya


kestabilanpendapatan dan resiliensi (kekenyalan) terhadap perubahan yang
terjadi di luar sistem hutan rakyat. Resiliensi adalah suatu tingkat kelenturan
dari sumber pendapatan terhadap adanya perubahan pasar. Contohnya adanya
perubahan nilai tukar mata uang. Pada saat terjadi krisis moneter, HHBK
memiliki peran yang besar terhadap pendapatan rumah tangga dan devisa
negara, karena HHBK tidak menggunakan komponen import dalam
memproduksi hasil. Dengan efisiensi penggunaan lahan yang tinggi dan
diversifikasi produksi maka kontribusi terhadap pendapatan juga semakin besar.
3. Peranan HHBK terhadap pembangunan wilayah

Dalam pembangunan pedesaan maka kontribusi terbesar dalam menggerakkan


pembangunan adalah dari sektor pertanian dan kehutanan. Dari beberapa pola
pengelolaan hutan rakyat yang ada maka hasil dari hutan rakyat memberikan
kontribusi yang besar terhadap pendapatan desa dan pembangunan wilayah.
Dengan pengaturan terhadap HHBK baik dari proses produksi, pengolahan dan
pemasaran, semua dapat dilakukan oleh masyarakat, sehingga income
(pendapatan) dari kegiatan tersebut masuk dalam wilayah produsen.

 Ketergantungan Masyarakat terhadap HHBK

Manusia dan hutan memiliki hubungan yang unik, dimana manusia merupakan
bagian dari ekosistem hutan itu sendiri. Hubungan timbal balik antara manusia dan
hutan merupakan interaksi yang saling mempengaruhi. Jika hutan rusak maka
kehidupan manusia terancam, sebaliknya jika manusia terpenuhi kesejahteraannya
maka kelestarian hutan terjaga pula. Tingginya nilai dan manfaat hutan bagi
masyarakat berimplikasi pada ketergantungan masyarakat terhadap hasil hutan
kayu, hasil hutan bukan kayu dan satwa liar. Cara hidup tradisional disertai
mahalnya bahan bakar minyak menyebabkan penggunaan kayu sebagai bahan
bakar masih sangat populer dikalangan masyarakat. Kayu bakar belum umum
diperjual belikan, kebutuhannya dipenuhi dari mengambil ranting, cabang dan
batang pohon kering dari dalam hutan maupun dari kebun-kebun masyarakat.
Ketergantungan masyarakat akan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) seperti rotan
(Dracontomelon spp), sagu (Metroxylon sagoo), pala (Myristica lepidota) dan
lainnya sangat tinggi.
 Pemanfataan HHBK

Menurut Departemen Kehutanan (2007) peran masyarakat di dalam dan di sekitar


kawasan konservasi (daerah penyangga) sebagai user/pemohon, dalam
pemanfaatan HHBK dari kawasan konservasi sebagai berikut :

1. Membentuk lembaga/kelompok masyarakat lokal di dalam dan di sekitar


kawasan konservasi (daerah penyangga).
2. Mengajukan permohonan ijin pemanfaatan HHBK dari kawasan konservasi
kepada UPT Ditjen PHKA terkait.
3. Membuat rencana (target, volume) pengambilan jenis, untuk periode
tertentu.
4. Mengembangkan HHBK secara lestari di daerah penyangga dengan
memperhatikan aspek Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan
Ekosistemnya.
5. Melaporkan kegiatan pemanfaatan HHBK dari kawasan konservasi secara
periodik kepada UPT Ditjen PHKA terkait.

Menurut Departemen Kehutanan (2007) pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa


liar berupa HHBK bertujuan agar jenis tumbuhan dan satwa liar dapat didaya
gunakan secara lestari untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat. Tujuan
pemanfaatan HHBK dalam pemberdayaan masyarakat di daerah penyangga
kawasan konservasi :

a. Meningkatkan sosial ekonomi masyarakat daerah penyangga.


b. Rehabilitasi lahan di daerah penyangga.
c. Mencegah erosi dan meningkatkan kualitas lingkungan dan pengaturan tata
air.
d. Mencegah/menekan laju perambahan hutan dan illegal logging. Menjaga
kawasan kawasan konservasi sesuai fungsinya.

Alternatif lain untuk pembangunan sektor kehutanan adalah pengembangan jenis


tanaman hasil hutan bukan kayu, karena memiliki potensi yang cukup tinggi.
Potensi produktivitas berbagai jenis HHBK cukup tinggi dalam mendukung
diversifikasi pendapatan masyarakat. Salah satu kelemahan masyarakat adalah
belum dikuasainya teknologi pemanenan dan pengelolaan pasca panen, sehingga
menyebabkan banyak HHBK yang tidak termanfaatkan. Karena itu pada masa
yang akan datang sangat diperlukan penguatan kelembagaan dan peningkatan
kapasitas masyarakat dalam pengelolaan, pemanenan, dan perlakuan pasca panen,
sehingga masyarakat memperoleh hasil dalam jumlah dan kualitas yang
memuaskan.
BAB II . LANDASAN TEORI

Ada berbagai tanaman yang merupakan hasil hutan bukan kayu ialah :

1. Damar
2. Rotan
3. Bambu
4. Cengkeh
5. Pala
6. Dan lain lain
7. Dan lebah madu

Ada beberapa tanaman yang akan di beri penjelasan :

1. Rotan

Rotan ( Calmus spp) adalah termasuk tumbuhan liana atau merambat, termasuk
dalam divisi Spermatophyta, sub divisi Angiospermae, kelas Monocotiledone, sub
kelas Lepidocarioodae, dan Family Palmae atau Aracaceae. Rotan adalah
tumbuhan yang merambat dan memiliki batang silindris yang terdiri atas berbagai
ruas batang serta memiliki duri yang menutupi hampir pada semua batang. Salah
satu ciri khas dari tumbuhan rotan adalah adanya sulur atau fagella yang
memungkinkan tumbuhan ini dapat merambat pada pohon atau tumbuhan berkayu
lainnya. Rotan tumbuh secara alami dalam kawasan hutan yang merambat atau
melata di atas tanah, yang secara umum hanya dijumpai pada kawasan hutan tropis
basah, bahkan rotan juga banyak ditemukan di sekitar pemukiman penduduk, dekat
kebun maupun lading.

Rotan adalah salah satu produk andalan hasil hutan bukan kayu Indonesia.
Lapis dkk (2004) menyatakan bahwa rotan adalah pengertian yang dipergunakan
untuk mendiskripsikan berbagai jenis tanaman merambat yang tumbuh secara
alami di hutan tropis Asia. Dikemukakan juga bahwa terdapat sekitar 600 jenis
rotan, dan hanya 10% dari jumlah tersebut yang bernilai secara komersil, dan dari
600 jenis tersebut, setengahnya tumbuh di Indonesia. Sedangkan Dransfields dan
Manokaran (1996) memperkirakan terdapat sekitar 500 species rotan menyebar
diseluruh dunia . Selanjutnya dikemukanan bahwa jenis rotan yang dominan adalah
dari jenis Calamus spp (370-400 species), diikuti oleh jenis Daemonorops spp (115
species), jenis Korthalsia spp (26 species). Tetapi hanya 20% dari jenis tersebut
yang memiliki nilai komersiil. Indonesia sampai dengan tahun 1977 masih
memasok sekitar 90% dari kebutuhan dunia dan selebihnya diperoleh dari
Malaysia. Tetapi dewasa ini potensi rotan Indonesia terus menurun pada potensi
kira-kira 75-80%.

Rotan merupakan hasil hutan bukan kayu yang memiliki nilai strategis baik
dari segi ekonomi dan ekologi. Rotan dapat memberikan pendapatan tambahan
bagi penduduk yang hidup di sekitar hutan, baik sebagai pemetik/pengumpul rotan
maupun sebagai pengrajin rotan. Sedangkan dari segi ekologi, karena memiliki
perakaran yang cukup kokoh dan dapat dibudidayakan oleh masyarakat lokal,
maka perlu pembinaan dan partisipasi semua pihak untuk mendapatkan manfaat
ekolohgi dan lingkungan secara keseluruhan. Pemanfaatan rotan secara tradisional
didasarkan pada kenyataanbahwa rotan adalah bahan baku yang serba guna. Rotan
dapat dimanfaatakan untuk membuat berbagai macam produk kerajinan, dari
produk anyaman, perabotan, dan barang turunan lainnya. Beberapa masyarakat
lokal yang tinggal dekat dengan sumber penghasil rotan atau hutan, memanfaatkan
rotan untuk dipergunakan sebagai tali sebagai penganti paku baik untuk membuat
rumah, maupun membuat pagar kebun. Sedangkan untuk penggunaan sebagai
pengikat atap dipergunakan untuk atap yang terbuat dari daun-daunan tumbuhan
monokotil, seperti pohon sagu, pandan maupun rumput alang alang.

Sedangkan pemanfaatan rotan untuk skala industri atau tujuan komersil


dapat dikelompokkan ke dalam dua kategori yaitu :

 Industri bahan baku rotan adalah industri yang hanya mengolah rotan
menjadi bahan baku industri rotan. Kegiatan pada industri rotan kelompok
ini terdiri atas memanen, mengumpulkan, membersihkan, mengeringkan dan
menguliti. Sehingga industri ini lebih sering dinamakan dengan industri
yang menyiapkan rotan mentah dan setengah olahan ataupun lebih dikenal
dengan nama rotan asalan.
 .Industri kerajinan rotan adalah industri yang mengolah rotan menjadi
barang kerajinan rotan. Bahanbakuindustri ini dapat berasal dari industri
bahan baku rotan ataupun memperolehnya langsung dari hutan dalam bentuk
rotan mentahan.Produk-produk kerajian yang terbuat dari rotan seperti
keranjang, tikar, mebel, tangkai sapu, pemukul permadani, tongkat,
perangkap ikan, perangkap binatang, tirai dan tali rotan.
2. Bambu

Bambu adalah tanaman peradaban, karena penggunaan bambu dalam kehidupan


manusia sudah berlangsung sejak peradaban itu dimulai. Di negara negara Asia,
seperti Indonesia, China, Jepang, Korea dan beberapa negara tropis lainnya, peran
bambu sangat dominan dalam segala aspek kehidupan. Bambu merupakan bahan
perumahan yang cukup murah, melimpah dan mudah tumbuh di tanah-tanah
marginal sekalipun. Begitu pentingya nilai komoditas bambu untuk kehidupan kita
ini, maka tidak salah pilih apabila menjadikan bambu sebagai komoditas hasil
hutan bukan kayu unggulan, terutama produk-produk turunannya untuk daerah-
daerah padat penduduk seperti pulau Jawa.

Bambu adalah salah satu komoditas hasil hutan bukan kayu yang penggunaanya
sangat luas di Indonesia terutama di daerah pedesaan. Tanaman bambu termasuk
dalam family Graminae, suku Bambusease dan sub family Bambusoidae .
Tanaman bambu mudah dikenali dari batangnya yang beruas-ruas, berlubang pada
bagian tengah batang (holowclums), tumbuh berumpun, memiliki sistem perakaran
akar serabut komplex (complexrhizome ), serta memiliki ranting yang tumbuh
pada tiap mata tunas ruas. Karena ciri-ciri taxonomis tersebut, terutama akar yang
lebat dan kuat serta berumpun, menghijau sepanjang tahun, maka tanaman bambu
sangat cocok ditanam pada daerah-daerah marginal, tandus, pinggir sungai dan
tempat-tempat yang sangat rentan terhadap tanah longsor dan erosi. Daun bambu
juga sangat disukai oleh ternak seperti kambing maupun sapi, serta kelinci. Jenis
pakan ini biasanya adalah makan alternatif pada musim kemarau, di mana bambu
masih bertahan hijau pada saat musim kemarau.
3. Damar

Damar adalah resin yang dihasilkan dari pohon yang termasuk dalam famili
Dipterocarpacea, seperti Shorea spp , Vatica spp dan Dryobalanops spp. Indonesia,
khususnya Pulau Sumatera dan Kalimantan adalah dikenal sebagai daerah
penghasil damar di dunia. Berdasarkan kenampakan fisiknya, damar dapat
dibedakan menjadi dua, yaitu damar batu atau hitam dan damar mata kucing.

 Damar hitam atau batu adalah yaitu damar bermutu rendahberwarna


coklat kehitaman, karenanya jenis damar ini sering juga disebut dengan
damar hitam. Damar ini biasanya keluar dengan sendirinya dari pohonyang
terluka, yang kemudian membentuk gumpalan-gumpalan besar yang jatuh
dari kulit pohon, yang lama kelamaan terkumpul didekat pangkal pohon.
Oleh karena gumpalan tersebut nampak seperti batu, maka damar ini
diistilahkan sebagai damar batu Jenis damar inidapat dikumpulkan dengan
menggali tanah di sekeliling pohon. Pohon-pohon damar yang telah tua,
biasanya menghasilkan banyak damar hitam di sekeliling pangkal pohonnya.
Berdasarkan warnanya damar batu bisa berwarna hitam atau kecoklatan.
 Damar mata kucing adalah jenis damar yang bening, transparan
ataukekuningan. Damar mata kucing adalah damar yang bermutu tinggi,
sebanding dengan kopal. Jenis damar ini dipanendengan cara melukai kulit
pohon. Sekitar 40 spesies dari genus Shorea spp dan Hopea spp
menghasilkan damar mata kucing, di antaranya yang terbaikadalah
Shoreajavanica dan Hopeadryobalanoides. Disebut mata kucing karena
kualitas kristal dari damar ini dapat memantulkan cahaya seperti halnya
mata kucing. Contoh dari damar mata kucing.
 Pemanfaatan damar

Damar teristimewa ditanam untuk diambil resinnya, yang diolah menjadi kopal.
Resin ini adalah getah yang keluar tatkala kulit (pepagan) atau kayu damar dilukai.
Getah akan mengalir keluar dan membeku setelah kena udara beberapa waktu
lamanya. Lama-kelamaan getah ini akan mengeras dan dapat dipanen; yang
dikenal sebagai kopal sadapan. Getah juga diperoleh dari deposit damar yang
terbentuk dari luka-luka alami, di atas atau di bawah tanah; jenis yang ini disebut
kopal galian. Pada masa lalu resin damar terutama dihasilkan dari tegakan-tegakan
alam di Maluku dan Sulawesi. Kayu damar berwarna keputih-putihan, tidak awet,
dan tidak seberapa kuat. Di Bogor dan Damar dapat dimanfaatkan sebagai bahan
baku industri seperti pembuatan plastik, plester dan vernis. Jenis damar tertentu
bahkan dapat dijadikan obat-obatan.

4. Lebah madu

Lebah madu telah di kenal oleh manusia sejak zaman budaya-budaya kuno
beberapa ribu tahun yang lalu.Pembudidayaan lebah madu yang kini populer
berasal dari kawasan Laut Tengah (Afrika Utara, Eropa selatan dan Asia Kecil)
yang selanjut menyebar ke seluruh wilayah dunia. Bangsa Mesir Kuno membuat
corong dari tanah liat sebagai sarang lebah, kemudian dari keranjang anyaman. Di
Afrika lebah madu dipelihara dalam bongkahan kayu berbentuk silinder dan sarang
tersebut digantung di pohon. Bangsa Rusia sebagai pengembang lebah madu secara
modern, malahan disebut sebagai daerah lahan madu. Rusia mulai
mengembangkan peternakan madu sejak abad ke 10 hingga kini secara besar-
besaran. Mereka yang menemukan sarang lebah madu yang bisa dipindah-
pindahkan, teknik tersebut diperkenalkan oleh Peter Prokovich (1775-1850).

mencakup sekitar tujuh spesies lebah dalam genus Apis, dari sekitar 20.000 spesies
yang ada. Saat ini dikenal sekitar 44 subspesies. Mereka memproduksi dan
menyimpan madu yang dihasilkan dari nektar bunga. Selain itu mereka juga
membuat sarang dari malam, yang dihasilkan oleh para lebah pekerja di koloni
lebah madu. Lebah madu yang ada di alam Indonesia adalah A. andreniformis, A.
cerana dan A. dorsata, serta khusus di Kalimantan terdapat A. koschevnikovi.
BAB III METODOLOGI

3.1. waktu dan tempat

Praktek dilakukan pada tanggal 06 Desember 2018 berlokasi di DESA


HUNITETU, DUSUN RUMAH TITA, KABUPATEN SERAM BAGIAN
BARAT (Hutan Pendidikan,universitas pattimura Ambon)

3.2. alat dan bahan

Budidaya lebah trigona (pembuatan STUP)

Alat:

1. Parang
2. Gergaji
3. Solasi ban
4. Paku
5. Cutter
6. Tali raffia
7. Mistar pengukur
8. karung
9. Alat tulis penulis
10.Pantada damar

Bahan:

1. Bambu
2. Lebah trigona
3. Daun lengkuas
4. Royal jeli
5. Propolis
6. Damar
3.3. metologi (tahapan kegiatan)
 Lebah Trigona (pembuatan STUP)
 Tahap pertama

Mencari bambu yang akan digunakan untuk pemeliharaan atau di gunakan


sebagai rumah lebah. Setelah bambu di temukan maka bambu itu di potong
menggunakan parang sesuai dengan ruasnya. Bambu tersebut berjunlah 3 (tiga)
buah bambu kemudian di potong menjadi 3 (tiga) ruas sehingga satu bambu
menghasilkan 3 ruas bambu, sehingga semunya berjumlah Sembilan ruas
bamboo. Setekah bambu di potong menjadi beberapa ruas dan di bersihkan,
setalah itu bambu tersebut di rendam dalam air, dengan tujuan agar bamboo
tersebut tetap awet dalam jangka waktu tertentu.

 Tahap kedua

Mengambil ratu lebah pada tempat yang telah di tunjukan oleh dosen, setelah
mengambil ratu lebah kemudian di masukan ke dalam bambu yang telah di
sediakan. Buatlah bambu tersebut sebaik baik mungkin agar ratu lebah merasa
nyaman dan tidak terganggu aktivitasnya di dalam bambu.

 Tahap ketiga

Pada tahap bamboo yang telah di rendam itu diangkat dan di keringkan, setalah
bambu kering selanjutnya mengukur panjang ruas ,tebal pangkal dan tebal
ujung, diameter pangkal dan diameter ujung pada setiap bambu yang telah
tersedia. Setelah diukur bambu di beri lubang dengan ukuran tertentu untuk
menjadi jalan masuk bagi ratu lebah trigona, setelah itu masukan royal jeli di
dalam bamboo, kemudian menempel propolis di samping atau di pinggir lubang
yang telah tersedia guna sebagai pancingan agar ratu lebah trigon adapt mencari
jalan masuk. Setelah itu bambu di ikat dengan tali raffia berjejeran kemudian
bambu bamboo tersebuat di gantung pada pohon kasbi karet berdekayan dengan
bambu yang telah diisi dengan bibit lebah trigona, setelah mengambil daun
langkuas untuk menutupi bagian ujung dari bambu bambu tersebut.
 Damar
 Tahap pertama
Warga hunitetu sebelum memanen getah damar langka awal yang dibuat
yaitu membuat jalan keluarnya getah atau aliran agar getah dapat keluar
dengan baik, cara membuat jalan atau aliran yaitu dengan cara mengupas
kulit pohon maupun dengan cara mencicang batang pohon dengan teratur
atau membuat luka pada batang pohon. Setelah itu dibiarkan sampai tiga
bulan kemudian agar geteah yang keluar dapat mengeras
 Tahap kedua
Setelah tiga bulan terhitung dari pembuatan jalan keluar atau aliran getah
warga akan kembali untuk melihatnya dan apailah getah getah tersebuat
telah mengeras dan siap di panen.
 Tahap tingga
Apabila getah damar tersebut siap dipanen maka ada cara cara yang telah
biasa dilakukan yaitu dengan menggunakan parang untuk melepaskan getah
yang tertempel pada batang pohon dan menggunakan pentada damar untuk
menada getah yang dilepaskan, setelah itu getah damar tersebut dimasukan
kedalam karung yang tekah tersedia untuk diangkut.
BAB IV . HASIL

IV. 1 Lebah Trigona (pembuatan STUP)

Dalam praktek yang kami lakukan ini penyediaan alat dan bahan sampai pada
prosesnya kami lakukan dengan cara yang sederhana atau dapat dikatakan cara
tradisional dimana cara cara tersebut orang atau warga yang ada di DESA
HUNITETU dapat dilakukan juga.

Dan ini adalah hasil dari pengukuran bambu yang kelompok kami lakukan :

 Bambu 1:

Panjang ruas : 45,5

Diameter pangkal : 7.8 cm

Diameter ujung : 7.9 cm

Tebal pangkal : 0.9 cm

Tebal ujung : 1 cm

 Bambu 2 :

Panjang ruas : 56.1

Diameter pangkal : 7.4cm

Diameter ujung : 7.7 cm

Tebal pangkal : 0.8 cm

Tebal ujung :1.5 cm


 Bambu 3 :

Panjang ruas : 59.1

Diameter pangkal : 8.9cm

Diameter ujung : 8.6cm

Tebal pangkal : 1.3 cm

Tebal ujung : 1.1cm

Dari hasil praktek yang kami lakukan kami tidak dapat menyatakan bahwa praktek
lebah madu yang kami lakukan ini berhasil atau tidak, karena praktek yang kami
lakukan hanya sebatas pembuatan rumah lebah trigona tersebut. Dan untuk
pemeliharaanya kami mempercayakan warga sekitar, jika di beri kesempatan untuk
kembali dan melihatnya harapan kami yaitu praktek yang kami lakukan dapat
berhasil dan dapat mengahsilakan hasil yang baik.

IV. 2 Damar

Kami dapat mengetahui segala informasi menganai cara cara pemanenan getah
damar yaitu kami mewawancarai warga dusun rumah tita.

Dari hasil yang kami dapat bahwa pengahasilan warga dusun rumah tita
bergantung juga pada hasil getah damar yang mereka peroleh. Hasil getah damar
merupakan salah satu tunjangan bagi warga dusun rumah tita sebagai asset untuk
menghasilkan uang demi persekolahan anak mereka selain dari hasil kopra dan
juga coklat. Jadi dfapat di ketahui bahwa getah damar sangat berperan penting bagi
perekonomian warga dusun rumah tita.

Dan dari hasil yang kami dapat juga yaitu cara cara memanen sampai menjual
getah damar tersebut.

Mereka telah mengetahui waktu kapan dan saat seperti apa mereka akan memanen
getah damar tersebut, sehingga pada saat mempersiapkan segaka sesuatu demi
memperlancarka pekerjaan meraka semuanya telah siap sesuai kebutuhan. Langka
lanyanya yaitu :

1. Membuat jalan atau aliran agar getah dapat keluar, dan dibiarkan selama tiga
bulan, tetapi dalam tahap persiapan untuk memanen warga setiap bulan
sekali atau dua kali meraka kembali untuk mengecek getah getah tersebut
agar mereka dapat mengetahui apakah sudah saatnya di panen atau belum.
Bahkan mereka juga dapat memantau bahwa getah tersebut baik atau tidak.
Pada dusun rumah tita juga berlaku sasi dengan tujuan sasi di pasang selama
penantian pemanenan, tujuan sasi ialah agar tetap menjaga getah getah
tersebut dari tangan tangan orang yang tidak betanggung jawab, hingga
getah tersebut siap di panen maka sasi akan dilepas.
2. Menyediakan alat untuk pemanenan ( parang,penada getah,dan karung uang
akan digunakan untuk mengangkut getah)
3. Memanen hasil getah, warga yang telah siap untuk memanen hasil getah
tersebut mereka ke lokasi yang telah siap untuk di panen dengan membawa
alat alat tersebut, setelah tiba mereka menyadiakan semua alat demi
memperlacar jaln pekerjaan.
Pemanenan di lakukan dengan cara getah getah yang tertembel pada batang
pohon ataupun yang telah jatuh dan mengeras di bawah pohon dapat di
lepaskan menggukan parang tetapi sebelum mlepasakn getah yang adap pada
batang pohon mereka sudah menyediakan penada jadi pada saat pelepasan
dari batang pohon getah tersebut tidak jatuh langsung ketanah tetapi jatuh
pada penada yang telah tersedia setelah itu getah yang telah di lepaskan
dimasukan kedalam karung. Untuk getah yang terdapat di bawah pohon dan
telah bersentuhsn langsung dengan tanah di angkat dan dipisakan pada
karung yang berbeda denga tujuan agar tidak tercampur dgan getah yang
terdapat pada batang pohon, sehingga pada proses pembersihanpun muda
dilakukan.
4. Setelah proses memanen selesai getah getah yang di dapat di angkut dan di
bawah ketempat yang telah disiapkan untuk di jual. Di tempat tersebut getah
akan di timbang dan akan di bayar sesuia dengan harga yang di tentukan.
Dari informasi yang kami dapat bahwa pada dusun rumah tita harga yang di
berikan sangatlah murah, sehingga terkadang juga warga merasa resah
karena hasil yang mereka dapat terkadang tidak sesuai dengan apa yang
mereka usahakan.

VI. 3 potensi HHBK lain yang dijumpai pada dusun rumah tita adalah

1. rotan.

Terdapat kelimpahan yang kami lihat di daerah pengamatan (hutan pendidikan)


masih banyak yang masih kecil-kecil dan dalam tahap pertumbuhan. Mengenai
pemanfaatannya sendiri kami sendiri belum menjumpainya didesa

2. Bambu

Bambu diolah untuk kepentingan warga seperti membuat dinding dapur, tempat
tidur(tapalang),dan beberapa kerajinan tangan lainnya.

3. Cengke
4. Pala
BAB V PENUTUP

V. 1 Kesimpulan

Proses pembudidayaan lebah madu pada dasarnya tidaklah harus mengelurkan


banyak uang tetapi dengan menggukan keteram

Pada dusun Rumah Tita (Honitetu) sebenarnya memiliki potensi HHBK yang baik,
sebut saja damar, tinggal bagaimana kita mengelolanyaenjadi sesuatu yang
bernilai.

V. 2 Saran

Sebaiknya perlu dilakukan inventarisasi lebih lagi mengenai potensi HHBK yang
ada di hutan pendidikan Honitetu guna memperoleh data yang lebih baik.

Alangkah lebih baik lagi jika dilakukan sosialisasi bagaimana cara memanfaatkan
potensi HHBK terhadap masyarakat sehingga mampu meningkatkan daya terampil
serta kesejahteraan masyarakat desa setempat.
DAFTAR PUSTAKA

BUKU PEGANGAN HASIL HUTAN BUKAN KAYU / Oleh: Wahyudi

https://foresteract.com/hasil-hutan-bukan-kayu-hhbk/

https://www.google.com/amp/s/id.m.wikihow.com/Membuat-Kotak-Lebah-
Madu%3famp=1