Anda di halaman 1dari 42

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN

DENGAN GASTROINTESTINAL

NAMA :

PAWESTRI UTAMI PJ

QORI FEBRYIANA R.

RIZKA DWI JAYANTI

ROSA AMELIA

ROSTIANA DEWI

STIKes Jayakarta PKP DKI Jakarta

S1 Keperawatan

2018

Jakarta Timu
Daftar Isi
Kata Pengantar iii
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 4
C. Tujuan 4
1. Tujuan Umum......................................................................................................................4
2. Tujuan Khusus.....................................................................................................................4
D. Manfaat 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 6
A. Konsep Teori Gastroenteritis 6
1. Definisi Gastroenteritis 6
2. Klasifikasi Diare 6
3. Manifestasi klinis Diare 8
4. Faktor-faktor yang mempengaruhi Gastroenteritis 8
5. Patofisiologi 11
6. WOC Gastroenteritis 13
7. Komplikasi dari Diare 14
8. Penatalaksanaan 15
9. Pencegahan 15
B. Konsep Asuhan Keperawatan Teoritis 17
1. Pengkajian.........................................................................................................................17
2. Diagnosa Keperawatan 18
3. Intervensi dan rasional 19
BAB III TINJAUAN KASUS 25
A. Kasus 25
B. Asuhan Keperawatan 26
BAB IV PEMBAHASAN 33
A. Pengkajian 33
B. Diagnosa Keperawatan 34
C. Intervensi 35
BAB V PENUTUP 36

i
A. Kesimpulan 36
B. Saran 36
DAFTAR PUSTAKA 38

ii
Kata Pengantar
Puji Syukur atas kami haturkan kehadirat Allah SWT , yang telah memberikan
kemudahan untuk kelompok kami dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini
dibuat sebagai bahan pembelajaran bagi mahasiswa guna memperlancar proses
belajar mengajar. Makalah ini akan membahas tentang asuhan keperawatan klien
dengan gastroenteritis.

Tidak banyak kata yang dapat kami sampaikan. Kami menyadari masih ada
kemungkinan kesalahan dan kekurangan dalam pembuatan makalah ini. Oleh
karena itu, kami sangat menerima kritik dan saran demi menyempurnakan
makalah ini.

Jakarta, 15 November 2018

iii
iv
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Diare akut pada orang dewasa merupakan penyakit yang sering


dijumpai dan secara umum dapat diobati sendiri. Namun, komplikasi
akibat dehidrasi atau toksin dapat menyebabkan morbiditas dan mortalitas,
meskipun penyebab dan penanganannya telah diketahui dengan baik, serta
prosedur diagnostiknya juga makin baik ( Amin L.Z, 2015) Diare
merupakan gangguan Buang Air Besar (BAB) ditandai dengan BAB lebih
dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja cair, dapat disertai dengan darah
(Riskesdas, 2013).
Diare atau mencret didefinisikan sebagai buang air besar dengan
feses tidak berbentuk (unformed stools) atau cair dengan frekuensi lebih
dari 3 kali dalam 24 jam. Bila diare berlangsung kurang dari 2 minggu,
disebut sebagai diare akut. Apabila diare berlangsung 2 minggu atau lebih,
digolongkan pada diare kronik. Feses dapat dengan atau tanpa lendir,
darah, atau pus. Gejala penyerta dapat berupa mual, muntah, nyeri
abdominal, mulas, tenesmus, demam, dan tanda-tanda dehidrasi. (Amin
L.Z, 2015) nyeri abdominal adalah pemicu terjadinya distensi abdmen
(perut kembung). Dstensi abdomen (perut kembung) mengacu pada
pertambahan diameter abdomen (perut), akibat dari meningkatnya
terakanan intra-abdomen sehingga dinding abdomen terdorong keluar.
Distensi dapat terasa ringan, tetapi dapat pula nserius, bergantung pada
besar-kecilnya tekanan. Kondisi tersebut bersifat lokal atau tersebar dan
bisa terjadi secara berangsur-angsur mendadak. Distensi abdomen dapat d
sebabkan oleh lemak, flatus (gas) masa intra-abdomen, tinja, atau cairan.
Cairan dan gas biasanya ditemukan pada saluran cerna tetapi bukan pada
organ peritoneum.pada rongga peritoneum distensi dapat mencerminkan
perdarahan akut, penimbunan cairan asites karena perforasi organ perut
(Nursing, 2011). Diare dapat disebabkan karena makanan beracun atau

1
yang sudah basi dan dapat pula di sebabkan karena enterovirus (semasa
badan dalam keadaan daya tahan kurang baik) (Murwani, 2011).
Diare merupakan keluhan yang sering di temukan pada dewasa.
Diperkirakan pada orang dewasa setiap tahun mengalami diare akut atau
gastroentritis akut sebanyak 99.000.000 kasus di dunia (Simadibrata,
2009). Berdasarkan data World Health Organization (WHO) ada 2 milyar
kasus diare pada orang dewasa di seluruh dunia setiap tahun. Di Amerika
Serikat, insidens kasus diare mencapai 200 juta hingga 300 juta kasus per
tahun. Sekitar 900.000 kasus diare perlu perawatan di rumah sakit. Di
seluruh dunia, sekitar 2,5 juta kasus kematian karena diare per tahun. Di
Amerika Serikat, diare terkait mortalitas tinggi pada lanjut usia. Satu studi
data mortalitas nasional melaporkan lebih dari 28.000 kematian akibat
diare dalam waktu 9 tahun, 51% kematian terjadi pada lanjut usia. Selain
itu, diare masih merupakan penyebab kematian anak di seluruh dunia,
meskipun tatalaksana sudah maju (Amin L.Z, 2015).
Angka prevalensi diare di Indonesia masih berfluktuasi. Period
prevalen diare di Indonesia saat ini adalah 3,5% lebih kecil dari Riset
Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 yaitu 9,0%. Penurunan period prevalen
yang tinggi ini dimungkinkan karena waktu pengambilan sampel yang
tidak sama antara 2007 dan 2013. Sampel diambil dalam rentang waktu
yang lebih singkat. Insiden diare untuk seluruh kelompok umur di
Indonesia adalah 3.5 persen. Lima provinsi dengan insiden dan period
prevalen diare tertinggi adalah Papua (6,3% dan 14,7%), Sulawesi Selatan
(5,2% dan 10,2%), Aceh (5,0% dan 9,3%), Sulawesi Barat (4,7% dan
10,1%), dan Sulawesi Tengah (4,4% dan 8,8%) (Riskesdas, 2013).
Menurut penelitian Endang, et al (2015) Penderita diare pada
dewasa pada tahun 2011-2013 penderita diare terbanyak dialami golongan
umur >15 tahun. Dari data kunjungan pasien di Pusat Layanan Kesehatan
UNNES dari tahun 2013 diketahui bahwa terdapat 214 pasien yang
terkena diare. Pada golongan umur tersebut karena perilaku makan,
kebersihan tempat dan peralatannya terjaga. Kebiasaan menyiapkan
makanan dengan tangan yang belum dicuci setelah buang air atau

2
membersihkan tinja seorang anak atau membiarkan seorang anak bermain
didaerah dimana ada tinja yang terkontaminasi.
Upaya untuk menurunkan angka kematian anak karena diare
dengan melakukan tatalaksana secara tepat dan akurat. WHO
mengembangkan kerangka kerja pelayanan kesehatan yang salah satunya
dalam buku pelayanan kesehatan anak di rumah sakit, di dalamnya berisi
panduan tatalaksana anak sakit di rumah sakit oleh tenaga kesehatan
termasuk perawat. Menurut WHO (2009), tatalaksana diare dapat
dilakukan dengan lima langkah tuntaskan diare (lintas diare). Perawat
sebagai tenaga kesehatan dapat memberikan kontribusi dalam penanganan
diare sesuai dengan perannya. Peran perawat tersebut adalah sebagai
pemberi pelayanan yang mencakup pemberi rasa nyaman, pelindung,
komunikator, mediator dan rehabilitator. Selain itu perawat berperan
sebagai pendidik yang memberikan pemahaman kepada individu, keluarga
ataupun masyarakat di semua lingkup pelayanan kesehatan. Peran perawat
selanjutnya sebagai manajer, yaitu perawat mengelola kegiatan pelayanan
kesehatan sesuai dengan tanggung jawabnya dan dapat mengambil
keputusan dalam memecahkan masalah. Perawat juga dituntut untuk dapat
berpikir kritis dalam pengambilan keputusan, sehingga permasalahan yang
dihadapi dapat terpecahkan dengan baik. Perawat juga mempunyai peran
sebagai pelindung, yaitu melindung i klien baik perlindungan terhadap
terapi atau pelayanan kesehatan yang didapatkan atau membantu klien
dalam pengambilan keputusan (Delaune, Ladner, 2011).
Dalam tatalaksana diare, perawat dapat melaksanakan perannya
dalam beberapa hal, salah satunya adalah memberikan pendidikan kepada
orang tua mengenai rehidrasi oral untuk mengatasi diare. Seperti penelitian
di India yang dilakukan oleh Mazumder et al. (2010), dikemukakan bahwa
pendidikan yang diberikan kepada orang tua atau pengasuh mengenai
pemberian zink dan oralit untuk anak diare, efektif dapat mengurangi diare
pada anak.
Selain perawat dapat melaksanakan perannya dalam tatalaksana
diare di rumah sakit, perawat juga dapat memberikan kontribusi di
masyarakat untuk menangani diare pada anak. Di Etiopia dan Haiti,

3
perawat mempunyai peran yang komprehensif dalam menurunkan angka
diare. Di negara tersebut perawat melakukan strategi menurunkan kejadian
diare dengan melaksanakan peran kepemimpinannya dalam perbaikan
sanitasi. Hal tersebut sangat efektif dilakukan, karena sudah terbukti
menurunkan angka kejadian diare (Wake dan Tolessa, 2011). Pengalaman
negara lain yang telah berhasil menurunkan angka kejadian diare adalah
Bangladesh, yaitu dengan intervensi yang dilakukan terhadap keluarga
dengan pelatihan mencuci tangan, secara signifikan dapat mengurangi
kejadian diare pada anak (Luby et al, 2011).

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas maka dapat di


ambil suatu rumusan masalah adalah “Apakah Asuhan keperawatan
gastrointestinal pada Nn. A?”

C. Tujuan

1. Tujuan Umum
Tujuan makalah ini adalah untuk mengetahui asuhan keperawatan
gatrointestinal pada Nn. A

2. Tujuan Khusus
a. Mengidentifikasi pengertian diare
b. Mengidentifikasi penyebab diare
c. Mengidentifikasi penyebab diare tanda dnan gejala
d. Mengidentifikasi penyebab diare komplikasi
e. Mengidentifikasi penyebab diare penatalaksanaan
f. Mengidentifikasi asuhan keperawatan gastrointestinal

D. Manfaat

Sebagai informasi yang menjelaskan bahwa diare dapat menyerang siapa


saja. Karena kebiasaan perilaku gaya hidup yang tidak sehat. Dan

4
memberikan pendidikan kesehatan sedini mungkin untuk orang tua, anak,
agar menjaga kebersihan serta meninggalkan kebiasaan buruk dengan
mencuci tangan sebelum makan.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Teori Gastroenteritis

1. Definisi Gastroenteritis

Berdasarkan buku yang berjudul Asuhan Keperawatan Klien dengan


gangguan sistem gastrointestinal menyatakan bahwa Gastroenteritis yaitu
radang pada lambung dan usus yang memberikan gejala diare, dengan atau
tanpa disertai muntah, dan sering kali disertai peningkatan suhu tubuh .
diare yang dimaksud yaitu buang air besar berkali-kali dengan jumlah
melebihi 4 kali, dengan bentuk feses cair dan bisa disertai dengan darah
atau lendir (Suratun dan Lusianah, 2010).
Gastroenteritis merupakan peradangan pada lambung, usus kecil dan
usus besar, dengan berbagai kondisi patologis dari saluran gastrointestinal
dengan tanda gejala diare, dengan atau tanpa disertai muntah, serta
ketidaknyamanan abdomen ( Arif Muttaqin, 2011).

2. Klasifikasi Diare

Klasifikasi diare dibagi menjadi diare akut dan kronis. Diare akut,
yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari. Diare kronik, yaitu diare
yang berlangsung lebih dari 14 hari dengan kehilangan berat badan atau
berat badan tidak bertambah (failure to thrive) selama masa diare tersebut
(Kemenkes, 2011).

Menurut sudaryat (2007) diare diklasifikasikan menjadi beberapa


diantaranya:

a) Diare kronik dibagi menjadi 5:

6
1) Diare parsisten : diare yang disebabkan oleh infeksi

2) Protacted diare : diare yang berlangsung lebih dari 2 minggu


dengan tinja cair dan frekuensi lebih dari 4x atau lebih perhari.

3) Diare intraktabel : diare yang timbul berulang kali waktu yang


singkat (misalnya 1-3)

4) Prolonged diare : diare yang berlangsung lebih dari 7 hari

5) Chronic non specific diarrhea : diare yang berlangsung lebih dari 3


minggu tetapi tidak disertai gangguan pertumbuhan dan tidak ada
tanda-tanda infeksi maupun malabsoorpsi

b) Diare akut

1) Diare sekresi (secretory diarrhea) disebabkan oleh:

 Infeksi virus, kuman-kuman patogen dan aptogen

 Hiperperistaltik usus halus yang dapat disebabkan oleh


bahan-bahan kimia, makanan (misalnya keracunan
makanan, makanan yang pedas, sudah basi, dll), gangguan
syaraf, hawa dingin, alergi dsb

 Defisiensi imun terutama SigA (secretory immunoglobin A)


yang mengakibatkan terjadinya bakteri atau jamur tumbuh
berlipat ganda (overgrowth)

2) Diare osmotik (osmotic diarrhea) disebabkan oleh:

 Malabsorpsi makanan

 KKP (kekurangan kalori protein)

 BBLR dan Bayi baru lahir

7
3. Manifestasi klinis Diare

Menurut sodikin (2011), beberapa tanda dan gejala yang terjadi pada kasus
gastroenteritis yaitu :
 Bayi atau anak menjadi rewel, cenggeng, dan gelisah
 Suhu badan meningkat
 Nafsu makan berkurang atau tidak ada
 Timbul diare
 Feses makin cair, mungkin mengandung darah dan lender
 Warna feses berbah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur
empedu
 Terdapat gejala dan tanda dehidrasi : ubun-ubun besar, cekung pada
bayi, tonus otot dan turgor kulit berkurang, selapit lendir pada mulut
dan bibir terlihat kering
 Berat badan menurun
 Pucat dan lemah

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi Gastroenteritis

Menurut Ardiansyah (2012) dalam buku yang berjudul Medikal


Bedah untuk Mahasiswa menyatakan ada beberapa faktor yang menjadi
penyebab munculnya gastroenteritis. Berikut ini beberapa penyebabnya :
a. Infeksi Internal
Infeksi internal ini disebabkan oleh bakteri, antara lain :
1) Shigella
 Munculnya musiman, puncaknya pada bulan Juli—September
 Insiden paling tinggi pada umur 1-5 tahun
 Dapat dihubungkan dengan kejang demam
 Muntah yang tidak menonjol
 Adanya sel polos dalam feses
 Terdapat sel batang dalam darah
2) Salmonella
 Menyerang semua umur, tetapi angka kejadian lebih tinggi
pada bayi di bawah umur 1 tahun
 Menembus dinding usus, feses berdarah dan mucoid
 Ada kemungkinan terdapat peningkatan temperature
 Muntah tidak menonjol

8
 Adaya kandungan sel polos dalam darah
 Masa inkubasi bakteri 6-40 Jam. Lamanya 2-5 hari
 Organisme dapat ditemukan pada feses selama berbulan-bulan
3) Escherichia Coli
 Baik yang menembus mukosa (feses berdarah) atau yang
menghasilkan entenoksin
 Pasien (biasanya bayi) dapat terlihat sangat sakit
4) Campylobacter
 Sifatnya invasis (feses yang berdarah dan bercampur mukus)
pada bayi dapat menyebabkan diare berdarah tanpa manifestasi
klinis yang lain
 Kram abdomen yang hebat
 Muntah/ dehidrasi jarang terjadi
5) Yersinia enterocolitic
 Feses mukosa
 Sering didapatkan sel sel polos pada feses
 Mungkin ada nyeri abdomen yang berat
 Diare selama 1-2 minggu
 Sering menyerupai usus buntu
 Infeksi oleh virus
6) Retavirus
 Merupakan penyebab paling sering dari diare akut pada bayi,
gejalanya sering didahului atau disertai dengan muntah
 Timbul sepanjang tahun, tetapi biasanya pada musim dingin
 Dapat disertai dengan demam atau muntah
 Didapatkan penurunan HCC
7) Enterovirus
 Biasanya timbul pada musim panas
8) Adenovirus
 Timbul sepanjang tahun
 Menyebabkan gejala pada saluran pencernaan/pernafasan
9) Norwalk
 Sifatnya epidemik atau menular
 Dapat sembuh sendiri (dalam 24-48 Jam)
10) Infeksi Parasit
Biasanya disebabkan oleh cacing (ascaris, thicuris, oxyuris,
strongyloides), protozoa (entamoeba bistolytica, Grandia lamblia,
Trichomonas hominis), dan jamur (Candida albicans).
11) Infeksi Parenteral
Yaitu infeksi yang terjadi diluar alat pencernaan makanan, seperti
otitis media akut (OMA), tonsilitis/tonsilofaringitis (radang

9
amandel/radang pangkal tenggorokan), bronkopneumonia
(peradangan paru), dan ensefalitis (radang jaringan otak).
12) Faktor makanan
Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan.

13) Faktor psikologis


Meliputi rasa takut dan cemas. Walaupun jarang dapat
menimbulkan diare terutama pada anak yang lebih besar.

14) Penyebab lainnya


 Diare akut yang bisa disebabkan oleh konsumsi obat-obatan
yang tidak cocok, seperti sulih hormon tiroid, laktasif (obat-
obatan untuk mengatasi sembelit), antibiotik, asetaminofen,
kemoterapi, dan obat golongan antasida.
 Pemberian makan melalui NGT dan gangguan motilitas
(gerak) usus.
 Mengkonsumsi makanan dan minuman yang terkontaminasi
bakteri
 Berpergian ke negara endemis dengan sanitasi lingkungan dan
kebersihan air yang buruk
 Penggunaan antibiotik dalam jangka panjang
 HIV positif atau AIDS
 Perubahan kualitas udara
 Perilaku personal hygiene, lingkungan dan sanitasi lingkungan
seperti kegiatan mencuci tangan menggunakan sabun, jamban
sehat. Menurut Hidayat (2014) personal hygiene merupakan
perawatan diri sendiri yang dilakukan untuk mempertahankan
kesehatan, baik secara fisik maupun psikologis. Pada
lingkungan yaitu keadaan tempagt tinggal atau lingkungan
sekitar manusia yang dapat mempengaruhi kejadian diare.
Menurut Kemenkes (2011) bahwa kondisi lingkungan seperti
sanitasi lingkungan yang kurang sehat dapat menyebabkan
kejadian diare.

5. Patofisiologi

Menurut Muttaqin (2011), Peradangan pada gastroenteritis disebabkan


oleh infeksi dengan melakukan invasi pada mukosa, memproduksi

10
enterotoksin dan atau memproduksi sitotoksin. Mekanisme ini
menghasilkan peningkatan sekresi cairan dan menurunkan absorbsi cairan
sehingga akan terjadi dehidrasi dan hilangnya nutrisi dan elektrolit.
Menurut Diskin (2008) di buku Muttaqin (2011) adapun mekanisme
dasar yang menyebabkan diare, meliputi hal-hal sebagai berikut :
1) Gangguan osmotik, dimana asupan makanan atau zat yang sukar
diserap oleh mukosa intestinal akan menyebabkan tekanan osmotik
dalam rongga usus meningkat sehingga terjadi pergeseran air dan
elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan ini
akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul
diare.
2) Respons inflamasi mukosa, pada seluruh permukaan intestinal
akibat produksi enterotoksin dari agen infeksi memberikan respons
peningkatan aktivitas sekresi air dan elektrolit oleh dinding usus ke
dalam rongga usus, selanjutnya diare timbul karena terdapat
peningkatan isi rongga usus.
3) Gangguan motalitas usus, terjadinya hiperperistaltik akan
mengakibatkan berkurangnya kesempatan usus untuk menyerap
makanan sehingga timbul diare, sebaliknya bila peristaltik usus
menurun akan mengakibatkan bakteri timbul berlebihan yang
selanjutnya dapat menimbulkan diare pula. Dari ketiga mekanisme
diatas menyebabkan : a) Kehilangan air dan elektrolit (terjadi
dehidrasi yang mengakibatkan gangguan keseimbangan asam basa
(asidosis metabolik, hipokalemia) b) Gangguan gizi akibat
kelaparan (masukan kurang, pengeluaran bertambah) c)
Hipoglekemia, gangguan sirkulasi darah.

Pendapat lain menurut Jonas (2003) pada buku Muttaqin (2011). Selain
itu, diare juga dapat terjadi akibat masuknya mikroorganisme hidup ke
dalam usus setelah berhasil melewati rintangan asam lambung.
Mikroorganisme tersebut berkembang biak, kemudian mengeluarkan
toksin dan akibat toksin tersebut terjadi hipersekresi yang selanjutnya
akan menimbulkan diare. Mikroorganisme memproduksi toksin.
enterotoksin yang diproduksi agen bakteri (E. Coli dan Vibrio cholera)

11
akan memberikan efek langsung dalam peningkatan pengeluaran
sekresi air ke dalam lumen gastrointestinal

12
6. WOC Gastroenteritis

Faktor Mal Absorbsi Faktor Makanan Faktor Psikologi


(Karbohidrat, lemak, protein) (Makanan Basi, Beracun, Alergi) (Rasa takut dan cemas)

Penyerapan sari-sari makanan sel


pencernaan tidak adekuat

Isi rongga usus belebihan

Terdapatnya zat2 makanan tidak dapat Gangguan Sekresi Mordalitas usus


diserap

Tekanan Osmotik Aktivitas sekresi air dan elektrolit Kesempatan usus Menyerap

makanan berkurang

Resorbsi didalam usus terganggu Mengeluarkan isinya

BAB sering, konsistensi cair Inflamasi saluran pencernaan

Kulit disekitar anus lecet & Sekresi cairan &


Tubuh bereaksi Mual
teriritasi, muntah, elektrolit
terhadap invasi
kemerahan dan gatal
mikroorganisme
Anoreksia
Dehidrasi

Kerusakan Suhu tubuh


Nutrisi kurang
Integritas Kulit Defisit Volume meninggkat
dari kebitihan
cairan & tubuh
elektrolit Hipertermi

Sumber : Arif Muttaqin (2011), suriandi (2010) &


Modivikasi
13
7. Komplikasi dari Diare
a. Kehilangan Air (dehidrasi)
Dehidrasi terjadi karena kehilangan banyak air, akibat output cairan
yang lebih besar daripada pemasukan (input). Dehidrasi karena
kehilangan terlalu banyak cairan ini merupakan penyebab terjadinya
kematian pada diare

b. Gangguan keseimbangan Asam Basa ( Metabolik Asidosis)


Ini terjadi karena pasien kehilangan natrium bikarbonat yang keluar
bersama tinja. Akibatnya, metabolisme lemak menajdi tidak sempurna,
sehingga benda- benda kotor tertinbum dalam tubuh, termasuk
penimbunan asam laktat karena adanya anoreksia jaringan. Produk
metabolisme yang bersifat asam pun meningkat karena tidak dapat
dikeluarkan oleh ginjal, karena terjadi oliguria (produksi urine yang
sedikit) atau anuria (urine tidak keluar sama sekali) dan terjadinya
pemindahan ion natrium dari cairan ekstraseluler ke dalam cairan
intraseluler.

c. Hipoglikemia
Hipoglikemia terjadi pada 2-3% anak yang menderita diare, namun
frekuensinya lebih sering pada anak yang sebelumnya telah menderita
KKP (kekurangan kalori protein). Ini terjadi karena adanya gangguan
penyimpanan/ penyediaan glikogen dalam hati dan adanya gangguan
absorbsi glukosa. Gejala ini akan muncul jika kadar glukosa darah
menurun hingga 40% pada bayi dan 50% pada anak-anak.

d. Gangguan Gizi
Terjadinya penurunan berat badan dalam waktu singkat yang
disebabkan oleh faktor-faktor berikut ini :
1) Asupan makanan sering dihentikan/ terlalu dibatasi oleh orang
tua, karena takut anak akan menderita diare atau muntah yang
bertambah hebat
2) Pemberian ASI secara tidak langsung (ASI dibiarkan terlalu lama
di udara terbuka sehingga feses menjadi encer)
3) Makanan yang diberikan sering tidak dapat dicerna dan diabsorbsi
dengan baik, karena terjadinya hiperperistaltik

14
e. Gangguan sirkulasi
Diare dapat mengakibatkan renjatan (shock) hipovolemik yang
kemudian menyebabkan perfusi jaringan berkurang dan hipoksia
(kekurangan pasokan oksigen pada sel atau salah satu bagian tubuh),
asidosis yang bertambah berat, mengakibatkan perdarahan otak, dan
kesadaran menurun. Jika tidak ditangani segera pasien akan
meninggal.

8. Penatalaksanaan
1) Penggantian cairan dan elektrolit
2) Antibiotik
Antibiotik diindikasikan pada pasien dengan gejala seperti demam,
feses berdarah, leukosit pada feses, mengurangi eksresi dan
kontaminasi lingkungan, persisten atau penyelamatan jiwa pada diare
infeksi, dan pasien immunocompromised.
3) Obat Anti diare

9. Pencegahan

1) Memberikan ASI
Pemberian ASI pada bayi dilakukan untuk menghidari adanya
kontaminasioleh bakteri dan mikroorganisme lain penyebab diare.
Pemberian ASI memberikan antibodi dan zat zat lain yang
terkandung di dalamnya memberikan perlindungan secara
imunologi
2) Memperbaiki makanan pendamping ASI
Pemberian makanan pendamping ASI diberikan pada saat bayi
mulai terbiasa dengan makanan orang dewasa, hal ini disebabkan
karena pemberian makanan pendampng ASI meningkatkan risiko
terjadinya diare ataupun penyakit lain yang menyebabkan kematian.
3) Menggunakan air bersih yang cukup
Menggunakan air yang bersih dan melindungi air dari kontaminasi
bisa dengan mengambil air dari sumber air yang bersih, simpan air
dengan bersih dan tertutup, menggunakan gayung khusus untuk
mengambil air, jaga sumber air dari pencernaan seperti: air bekas
mandi anak dan binatang. Minum air yang matang (masak samapi

15
mendidih) serta cuci semua alat masak dan alat makan dengan
bersih dan cukup
4) Mencuci tangan
Kebiasaan mencuci tangan dapat mengurangi risiko terserang
gangguan pencernaan dan diare sebesar 48%. Mencuci tangan
dengan sabun khususnya setelah kontak dengan feses dapat
menurunkan diare.
5) Menggunakan jamban
Penggunaan jamban dapat menurunkan risiko terhadap diare,
jamban yang berfungsi dengan baik dibersihkan secra teratur, serta
menggunakan alas kaki bila akan buang air besar. Jarak jamban
sebaiknya berjauhan dengan sumber air minum, paling sedikit 10
meter.
6) Membuang tinja bayi dengan benar
Membuang tinja bayi sesegera mungkin, bila tidak dibuang
dijamban dapat dibaung dalam lubang atau kebun yang kemudian
ditimbun dan jangan lupa mencuci tangan dengan sabun
7) Pemberian imunisasi campak
Salah satu upaya pencegahan diare, karena anak yang sakit campak
sering dengan diare. Sehingga imunisasi campak sangat penting
untuk mencegah diare pada anak
8) Pengelolaan sampah
Dengan cara menyediakan tempat sampah, sampah dikumpulkan
setiap hari dan dibuang di tempat pembuangan sampah.

B. Konsep Asuhan Keperawatan Teoritis

1. Pengkajian
Pengkajian keperawatan adalah proses sistematis dari
pengumpulan verivikasi, komunikasi dan dari data tentang pasien.
Pengkajian ini didapat dari dua tipe yaitu data suyektif dan dari
persepsi tentang masalah kesehatan mereka dan data obyektif yaitu
pengamatan / pengukuran yang dibuat oleh pengumpul data (Potter,
2005). Pengkajian pada pasien gastroenteritis menurut Arif Muttaqin
(2011).

16
a. Dengan keluhan Diare :
- P ( Provoking, presipitasi) Faktor apa saja yang diketahui
pasien atau keluarga yang memungkinkan menjadi penyebab
terjadinya diare.
- Q (Kualitas, kuantitas)
Berapa kali pasien BAB sebelum mendapat intervensi
kesehatan Bagaimana bentuk feses BAB? Apakah encer,
cair, bercampur lendir dan darah?
Apakah disertai adanya gangguan gastrointestinal (mual,
nyeri abdomen, muntah , anoreksia)?
- T (waktu, onset) Berapa lama keluhan awal mulai terjadi?
Apakah bersifat akut atau mendadak? Durasi dan
penanganan rehidrasi. Intervensi yang akan dilakukan pada
diare kecepatan gejala awal mulai terjadi diare menjadi
pengkajian penting dalam memberikan intervensi langsung
yang lebih dari satu bulan akan berbeda dengan diare yang
terjadi kurang dari satu minggu.
b. Dengan keluhan muntah
Pengkajian adanya keluhan muntah pada pasien akan
menentukan intervensi selanjutnya. Muntah merupakan gejala
gastroenteritis dengan keterlibatan bagian proksimal intestinal
respons dan inflamasi khususnya dari neurotoksin yang
diproduksi oleh agen infeksi.
c. Dengan keluhan demam
Peningkatan suhu tubuh secara umum merupakan respons
sistemik dari ainvasi agen infeksi penyebab gastroenteritis.
Penurunan volume cairan tubuh yang terjadi secara akut juga
merangsang hipotalamus dalam meningkatkan suhu tubuh.
Keluhan demam sering didapatkan pada pasien gastroenteritis.
d. Nyeri abdomen
Keluhan nyeri pada abdomen dapat dikaji dengan pendekatan
PQRST.
- P : keluhan nyeri dicetuskan akibat perasaan mules, sering
mual/ muntah dan keinginan untuk melakukan BAB.
- Q : keluhan nyeri sulit digambarkan oleh pasien, khususnya
pada pasien anakanak. Ketidaknyamanan abdomen bisa

17
bersifat kolik akut atau perut seperti dikocok-kocok akibat
mules.
- R : keluhan nyeri berlokasi pada seluruh abdomen dengan
tidak ada pengiriman respons nyeri ke organ lain.
- S : skala nyeri pada pasien GE bervariasi pada rentang 1-4
(nyeri ringan sampai nyeri tak tertahankan)
- T : tidak ada waktu spesifik untuk munculnya keluhan nyeri.
Nyeri pada GE biasanya berhubungan dengan adanya mules
dan keinginan untuk BAB yang tinggi.
Kondisi feses Keluhan perubahan kondisi feses bervariasi pada
pasien GE. Keluhan yang lazim adalah konsistensi feses yang
encer, sedangkan beberapa pasien lain mengeluh feses dengan
lendir dan darah.

2. Diagnosa Keperawatan

Menurut Donna L. Wong (2009) dan Sodikin (2011), Diagnosa


keperawatan yang mungkin muncul antara lain sebagai berikut :

a. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan


cairan yang berlebihan dari traktus gastrointestinal dalam feses
atau muntahan (emesis).

b. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


berhubungan dengan kehilangan cairan akibat diare, dan asupan
cairan yang tidak adekuat.

c. Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan mikroorganisme


yang menginvasi traktus gastroentestinal.

d. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi karena


defekasi yang sering dan feses yang cair.

e. Ansietas (cemas ) berhubungan dengan perpisahan dengan orang


tua, lingkungan tidak kenal, prosedur yang menimbulkan stress.

18
3. Intervensi dan rasional

Menurut Donna L. Wong (2009) dan Sodikin (2011), Intervensi


keperawatan dan Rasional yang mungkin muncul pada setiap
Diagnosa Keperawatan antara lain sebagai berikut :
a. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan
gastroentestinal berlebihan melalui feses atau muntahan (emesis).
 Batasan karakteristik mayor adalah ketidakcukupan asupan
cairan oral, keseimbangan negatif antara asupan dan haluaran,
kulit/membran mukosa kering. Untuk batasan karakteristik
minor adalah penurunan haluaran urine atau haluaran urine
berlebih, penurunan turgor kulit, haus, mual, anoreksia.
 Batasan karakteristik menurut Nanda (2010) antara lain
perubahan status mental, penurunan tekanan darah, penurunan
tekanan nadi, turgor kulit, haluaran urine, membran mukosa
kering, kulit kering, peningkatan hematokrit, peningkatan suhu
tubuh, haus dan kelemahan.
Intervensi dan Rasional :
1) Beri larutan rehidrasi oral untuk rehidrasi dan penggantian
kehilangan cairan melalui feses.
Rasional : Berikan larutan rehidrasi oral sedikit tapi sering,
khususnya bila anak muntah, karena muntah bukan merupakan
kontraindikasi pemberian oralit kecuali pada muntah yang hebat.
2) Berikan dan pantau pemberian cairan infus sesuai program .
Rasional : untuk mengatasi dehidrasi dan vomitus yang hebat.
3) Berikan oralit secara bergantian dengan cairan rendah natrium
seperti ASI atau susus formula.
Rasional : untuk terapi rumatan (kebanyakan pakar susu formula
yang diberikan harus bebas laktosa jika bayi tidak dapat
mentoleransi susu formula biasa).
4) Setelah rehidrasi, berikan makanan seperti biasa pada anak, selama
makanan tersebut dapat ditoleransi.
Rasional : pemberian kembali secara dini makanan yang biasa
dikonsumsi akan membawa manfaat mengurangi frekuensi
defekasi dan meminimalkan penurunan berat badan serta
memperpendek lama sakit.
5) Pertahankan asupan dan keluaran cairan (urine, feses dan cairan).

19
Rasional : untuk mengevaluasi keefektifan intervensi.
6) Pantau berat jenis urine setiap 8 jam atau sesuai indikasi.
Rasional : untuk menilai status hidrasi.
7) Timbang berat badan anak
Rasional : untuk menilai keadaan dehidrasi.
8) Kaji tanda-tanda vital (TTV), turgor kulit, membran mukosa, dan
status mental.
Rasional : untuk menilai status hidrasi.
9) Hindari masukan cairan seperti jus buah, minuman berkarbonat,
dan gelatin. Rasional : Karena cairan ini biasanya tinggi
karbohidrat, rendah elektrolit dan mempunyai osmolalitas tinggi.

b. Perubahan nutrisi kurang dari krbutuhan tubuh berhubungan


dengan kehilangan cairan akibat diare, dan asupan cairan yang
tidak adekuat.
 Batasan karakteristik mayor adalah asupan makanan tidak
adekuat, adanya penurunan berat badan. Untuk batasan
karakteristik minor adalah berat badan . Untuk batasan
karakteristik minor adalah berat badan 10% sampai 20%
ataulebih dibawah berat badan ideal untuk tinggi dan kerangka
tubuh, kelemahan otot dan nyeri tekan.
 Batasan karakteristik menurut Nanda (2010) adalah kram
abdomen, nyeri abdomen, berat badab 20% atau lebih di bawah
berat badab ideal, diare, bising usus hiperaktif, kurang
makanan, kurang informasi, dan kurang minat pada makanan.
Intervensi dan Rasional :
1) Setelah rehidrasi, instruksikan ibu melanjutkan pemberian ASI.
Rasional : tindakan ini cenderunga mnegurangi intensitas dan
lamanya sakit.
2) Hindari pemberian diet pisang, beras, apel, dan roti panggang atau
teh.
Rasional :Karena diet ini memiliki kandungan energi dan protein
yang rendah, kandungan hidrat arang yang terlampaui tinggi.
3) Amati dan catat respon anak terhadap pemberian makanan.
Rasional : untuk menilai toleransi anak terhadap makanan/susu
formula yang diberikan.
4) Beri tahu keluarga untuk menerapkan diet yang tepat.
Rasional : untuk menghasilkan kepatuhan terhadap program
terapeutik.

20
5) Monitor berat badan pasien sesuai indikasi. (Nanda, 2007)
Rasional : untuk menilai keadaan dehidrasi. (L. Wong, 2009)
6) Sediakan makanan yang sesuai dengan kesukaan pasien dan
program diet. (Nanda, 2007)
Rasional : pemberian kembali secara dini makanan yang biasa
dikonsumsi akan membawa manfaat mengurangi frekuensi
defekasi dan meminimalkan penurunan berat badan serta
memperpendek lama sakit. (L. Wong, 2009)

c. Risiko menularkan infeksi berhubungan dengan mikroorganisme


yang menhinvasi traktus gastrointestinal / GI.
 Batasan Karakteritik menurut Newfield (2007): Kurangnya
pengetahuan untuk menghindari paparan patogen, kerusakan
jaringan dan peningkatan paparan lingkungan, malnutrisi, tidak
memadai imunitas dan batasan karakteristik menurut Carpenito
(2006) : perubahan atau insufisiensi leukosit, imunodefisiensi,
demam, urine keruh, kesulitan makan, muntah, ketidakstabilan
suhu, letargi.
Intervensi dan Rasional :
1) Implementasikan kewaspadaan standar pengendalian infeksi
lainnya dirumah sakit yang meliputi pembuangan feses serta
penyisihan barang-barang cucian yang tepat dan penampungan
specimen yang tepat.
Rasional : untuk mengurangi risiko penyebaran infeksi
2) Pertahankan kebiasaan mencuci tangan yang cermat
Rasional : untuk mengurangi risiko penyebaran infeksi.
3) Pasang popok dengan tepat dan rapat
Rasional : untuk mengurangi kemungkinan resiko penyebaran
infeksi.
4) Gunakan popok disposibel yang superabsorben.
Rasional : untuk menahan feses pada tempatnya dan mengurangi
kemungkinan terjadinya dermatitis popok.
5) Upayakan bayi dan anak kecil tidak meletakkan tangannya dan
benda apapun pada daerah yang terkontaminasi.
Rasional : untuk mengurangi risiko penyebaran infeksi.
6) Bila mungkin ajarkan tindakan protektif kepada anak.
Rasional : untuk mencegah penyebaran infeksi seperti membiasakn
mencuci tangan setelah menggunakan toilet..

21
7) Anjurkan pasien untuk meminum obat antibiotik sesuai program.
(Nanda, 2007)
8) Kolaborasi dengan medis untuk pemberian terapi sesuai indikasi
dan pemeriksaan laboratorium. (Nanda, 2007)
d. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan iritasi karena
defekasi yang sering dan feses cair.
 Batasan karakteristik mayor : gangguan epidermis dan dermis.
Untuk batasan karakteristik minor : lecet, jaringan nekrotik
(warna, konsistensi, pelekatan) dan jumlah.
Intervensi dan Rasional :
1) Ganti popok dengan sering
Rasional : untuk menjaga agar kulit tetap bersih dan kering.
2) Bersihkan bagian bokong secari hati-hati dengan sabun lunak non
alkalis dan air.
Rasional : karena feses pasien diare bersifat sangat iritasi pada
kulit.
3) Oleskan salep seperti zink oksida.
Rasional : untuk melindungi kulit terhadap iritasi (tipe salepnya
bisa berbeda bagi setiap anak dan mungkin memerlukan waktu
untuk mencobanya dahulu ).
4) Bila mungkin biarkan kulitutuh yang berwarna agak merah terkena
udara.
Rasional : untuk memepercepat kesembuhan.
5) Hindari pemakaian tisu pembersih komersial yang mengandung
alkohol pada kulit yang mengalami ekskoriasi.
Rasional : karena penggunaan tisu ini akan menimbulkan rasa
perih.

e. Ansietas (takut) berhubungan dengan keterpisahan anak dari orang


tuanya, lingkungan tidak biasa, dan prosedur yang menimbulkan
distress.
 Batasan karakteristik menurut Nanda NIC & NOC (2007)
antara lain: gelisah, resah, ketakutan, kesedihan yang
mendalam, mudah tersinggung.
Intervensi dan Rasional:
1) Lakukan perawatan mulut dan berikan dot kepada bayi
Rasional : untuk memberikan rasa nyaman.
2) Anjurkan kunjungan dan partisipasi keluarga dalam perawatan
anak sesuai kemampuan keluarga.

22
Rasional : untuk mencegah stress pada anak karena berpisah
dengan keluarga.
3) Sentuh, peluk, dan bicara dengan anak sebanyak mungkin
Rasional : untuk memberikan rasa nyaman dan mengurangi stress.
4) Lakukan stimulus dan pengalihan sensorik yang sesuai dengan
tingkat dan kondisi perkembangan anak
Rasional : untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan
yang optimal.

23
BAB III
TINJAUAN KASUS

A. Kasus

Seorang perempuan berusia 25 tahun dirawat diruang seruni bawah


dengan riwayat saat masuk rumah sakit demam, diare dan muntah. Selain
itu klien juga memiliki riwayat penyakit gula (Diabetes militus) sejak usia
21 tahun trias gejala. Pada saat pengkajian didapatkan klien mengatakan
badan terasa lemas, panas sudah 2 hari, perut terasa kembung, mual,
muntah 3x/hari, BAB 7x/hari dengan warna kuning kehijauan bercampur
lendir, dan mengatakan perut seperti teremas dan nyeri pada anus. Hasil
pemeriksaan fisik didapatkan mata cekung, mukosa bibir kering, turgor
kulit menurun, BB 80 Kg, TB 156 cm, anus tampak kemerahan dan lecet.
Hasil pemeriksaan abdomen yang tidak normal adalah perkusi didapatkan
hasil hypertimpani dan auskultasi peristaltik meningkat 40x/menit. Tanda-
tanda vital klien 90/60 mmHg, HR 112x/menit, RR 24x/menit, S 39 0C.
Hasil pemeriksaan GDS 264mg/dL,tidak ada luka pada kaki. Klien
memiliki kebiasaan jajan sembarangan, langsung makan tanpa
memperhatikan apakah sudah cuci tangan atau belum. Selama perawatan
klien mendapatkan terapi infus RL 28TPM, injeksi Metampiron
500mg/8jam IV, injeksi simetidine 200mg/8jam IV, injeksi cefotaxime
500mg/8jam dan New Diatab 3x2 tablet (1,2 gram/8jam per oral).

24
B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Nama lengkap : Nn. A
b. Umur : 25 tahun
c. jenis kelamin : perempuan
d. status perkawinan : belum kawin
e. agama : Islam
f. suku bangsa : Jawa
g. pendidikan : SMA
h. pekerjaan : wiraswasta
i. Alamat : Jl. cilangkap Rt 05 Rw 07

1) Identifikasi penanggung jawab


a. Nama : Tn. S
b. Umur : 56 tahun
c. Jenis kelamin : laki laki
d. Pekerjan : buruh
e. Hubungan dengan klien : anak
f. Alamat : Jl. cilangkap Rt 05 Rw 07

2) Riwayat penyakit antara lain :


a. Keluhan utama
Nn. A berusia 25 tahun dirawat diruang seruni bawah dengan
riwayat saat masuk rumah sakit demam, diare dan muntah.
Pada saat pengkajian didapatkan klien mengatakan badan terasa
lemas, panas sudah 2 hari, perut terasa kembung, mual, muntah
3x/hari, BAB 7x/hari dengan warna kuning kehijauan
bercampur lendir, dan mengatakan perut seperti teremas dan
nyeri pada anus.
b. Riwayat kesehatan masa lalu atau lampau
Penyakit gula (Diabetes militus) sejak usia 21 tahun trias
gejala

3) Pemeriksaan fisik
a. Inspeksi : mata cekung, mukosa bibir kering, anus
tampak kemerahan dan lecet. BB 80 Kg, TB 156 cm,
b. Palpasi : turgor kulit menurun. terlihat penurunan
kesadaran
c. Perkusi : didapatkan hasil hypertimpani dan
auskultasi peristaltik meningkat 40x/menit.
d. Auskultasi : peristaltik meningkat 40x/menit

25
e. Tanda – tanda vital : Tanda-tanda vital klien 90/60
mmHg, HR 112x/menit, RR 24x/menit, S 390C.
f. Laboratorium : Hasil pemeriksaan GDS 264mg/dL,

2. Analisa Data

DATA ETIOLOGI MASALAH


Data Subyektif: Kehilangan Kekurangan volume
 Klien mengatakan badan terasa cairan aktif cairan
lemas
 Klien mengatakan panas sudah 2
hari
 Klien mengatakan muntah
3x/hari
 Klien mengatakan BAB 7x/hari
dengan warna kuning kehijauan
bercampur lendir
Data Objektif :
 Mata klien terlihat cekung
 Mukosa bibir keing
 Turgor kulit menurun
 Tanda-tanda vital
Tekanan darah : 90/60 mmHg
HR :112 x/menit
RR: 24 x/menit
S: 390C
Data Subyektif : Inflamasi Diare
 Klien mengatakan BAB 7x/hari gastrointestinal
dengan warna kuning kehijauan
bercampur lendir
 Klien mengatakan perut seperti
teremas
 Klien mengatakan perut terasa
mual
 Klien mengatakan perut terasa
kembung
 Klien mengatakan nyeri pada
anus
 Klien memiliki kebiasaan jajan

26
sembarangan, langsung makan
tanpa memperhatikan apakah
sudah cuci tangan atau belum.
Data Obyektif:
 Bising Usus 40x/menit
 Pemeriksaan abdomen yang
tidak normal adalah perkusi
didapatkan hasil hypertimpani
 Anus tampak kemerahan
Data subyektif: Kurang Ketidakefektifan
 Klien mengatakan memiliki pengetahuan manajemen kesehatan
kebiasaan jajan sembarangan,
langsung makan tanpa
memperhatikan apakah sudah
cuci tangan atau belum.
 Klien juga memiliki riwayat
penyakit gula (Diabetes militus)
sejak usia 21 tahun trias gejala
Data obyektif:
 Hasil pemeriksaan GDS
264mg/dL
 Tidak ada luka pada kaki

3. Diagnosa keperawatan
a. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan
kehilangan cairan aktif
b. Diare berhubungan dengan inflamasi gastrointestinal
c. Ketidakefektifan manajemen kesehatan berhubungan
dengan kurang pengetahuan

4. Rencana keperawatan

Diagnosa Tujuan dan kriteria hasil Intervensi Keperawatan


keperawatan
Kekurangan Setelah dilakukan tindakan Manajemen elektrolit/cairan:

27
volume cairan keperawatan selama  Monitor tanda-tanda vital
berhubungan 3x24jam diharapkan klien:  Monitor manifestasi dari

dengan  Tanda-tanda vital: ketidakseimbangan


Tekanan darah elektrolit
kehilangan
dipertahankan pada  Berikan cairan yang
cairan aktif
3 ditingkatkan ke 4 sesuai
 Berikan serat yang
dengan batas normal
diresepkan pasien untuk
diastolik (110-130
mengurangi kehilangan
mmHg), sistolik (70-
cairan dan elektrolit
90 mmHg)
Suhu dipertahankan melalui diare
 Monitor respon pasien
pada 3 ditingkatkan
terhadap terapi elektrolit
ke 4 dalam keadaan
yang diresepkan
normal 36-36,50C  Pantau adanya tanda dan
Respiratory
gejala overhidrasi yang
dipertahankan pada
memburuk atau dehidrasi
3 ditingkatkan ke 4  Timbang berat badan
dalam batas normal harian dan pantau gejala
18-24 x/menit  Jagapencatatan
Nadi dipertahankan
intake/asupan dan output
pada 3 ditingkatkan
yang akurat
ke 4 dalam batas  Konsultasikan dengan
normal 80-100 dokter jika tanda dan
x/menit gejala
 Turgor kulit
ketidakseimbangan
dipertahankan pada
cairan atau elektrolik
3 ditingkatkan ke 4
menetap atau memburuk
 Kelembaban
membran mukosa
dipertahankan pada
3 ditingkatkan ke 4
 Keseimbangan
intake dan output
dipertahankan pada

28
3 ditingkatkan ke 4
Diare Setelah dilakukan tindakan Manajemen diare:
berhubungan keperawatan selama 3x24  Amati turgor kulit secara
dengan jam diharapkan klien: berkala
inflamasi  Ukur diare/output

gastrointestinal pencernaan
 Berikan makanan dalam
porsi kecil dan lebih
sering serta tingkatkan
porsi secara bertahap
 Anjurkan pasien
menghindari makanan
pedas dan yang
menimbulkan gas dalam
perut
 Anjurkan pasien untuk
mencoba menghindari
makanan yang
mengandung laktosa
 Identifikasi faktor yang
bisa menyebabkan diare
 Monitor persiapan
makanan yang aman
 Instruksikan diet rendah
serat, tinggi protein,
tinggi kalori, sesuai
kebutuhan
 Instruksikan pasien atau
keluarga untuk mencatat
warna, volume,frekuensi,
dan konsistensi tinja
 Beritahu dokter jika
peningkatan frekuensi
atau suara perut
 Konsultasikan dengan

29
dokter jika tanda dan
gejala diare menetap

Ketidakefektifan Setelah dilakukan tindakan Pendidikan kesehatan:


manajemen keperawatan selama  Identifikasi faktor
kesehatan 3x24jam diharapkan klien: internal atau eksternal
berhubungan  Melakukan perilaku yang dapat
dengan kurang kesehatan secara meningkatkan atau
pengetahuan rutin dipertahankan mengurangi motivasi
pada 2 ditingkatkan untuk berperilaku sehat
 Bantu individu, keluarga
ke 4
 Memonitor perilaku dan masyarakat untuk
personal terkait memperjelas keyakinan
dengan risiko dan nilai-nilai kesehatan
 Tentukan pengetahuan
dipertahankan pada
kesehatan dan gaya
3 ditingkatkan ke 4
 Mengikuti diet sehat hidup perilaku saat ini
dpertahankan pada 3 pada individu, keluarga,
ditingkatkan ke 4 kelompok sasaran
 Hindari penggunaan
tehnik dengan menakuti-
nakuti sebagai strategi
unutk memotivasi orang
agar mengubah perilaku
kesehatan atau gaya
hidup

30
BAB IV
PEMBAHASAN

A. Pengkajian

Pada kasus ini, gastroenteritis menyerang perempuan berusia 25 tahun


dirawat diruang seruni bawah dengan riwayat saat masuk rumah sakit
demam, diare dan muntah. Hal ini sama dengan sumber literature yang
menyebutkan bahwa gastroenteritis yaitu radang pada lambung dan usus
yang memberikan gejala diare, dengan atau tanpa disertai muntah, dan
sering kali disertai peningkatan suhu tubuh dan untuk insiden
gastroenteritis. Menurut penelitian Endang, et al (2015) Penderita diare pada
dewasa pada tahun 2011-2013 penderita diare terbanyak dialami golongan
umur >15 tahun. Dari data kunjungan pasien di Pusat Layanan Kesehatan
UNNES dari tahun 2013 diketahui bahwa terdapat 214 pasien yang terkena
diare. Pada golongan umur tersebut karena perilaku makan, kebersihan
tempat dan peralatannya terjaga. Kebiasaan menyiapkan makanan dengan
tangan yang belum dicuci setelah buang air atau membersihkan tinja
seorang anak atau membiarkan seorang anak bermain didaerah dimana ada
tinja yang terkontaminasi.

Pada kasus, BAB 7x/hari dengan warna kuning kehijauan bercampur


lendir, dan mengatakan perut seperti teremas dan nyeri pada anus. Hal ini
sama dengan sumber literature yang menyebutkan bahwa ada infeksi
internal yang disebabkan oleh bakteri (Campylobacter, Escherichia Coli)
dan terjadi manifestasi tersebut. Pada pemeriksaan fisik kasus kami
didapatkan mata cekung, mukosa bibir kering, turgor kulit menurun, anus
tampak kemerahan dan lecet. Menurut Riskesdas (2013) Diare merupakan
gangguan Buang Air Besar (BAB) ditandai dengan BAB lebih dari 3 kali
sehari dengan konsistensi tinja cair, dapat disertai dengan darah.

31
Pada kasus ini klien memiliki kebiasaan jajan sembarangan, langsung
makan tanpa memperhatikan apakah sudah cuci tangan atau belum. Hal ini
sama dengan literatur yang menyebutkan faktor-faktor penyebab diare
yaitu Perilaku personal hygiene, lingkungan dan sanitasi lingkungan
seperti kegiatan mencuci tangan menggunakan sabun, jamban sehat.
Menurut Hidayat (2014) personal hygiene merupakan perawatan diri
sendiri yang dilakukan untuk mempertahankan kesehatan, baik secara fisik
maupun psikologis menurut penelitian Sunardi (2017), perilaku hidup
sehat yang sederhana seperti mencuci tangan dengan sabun merupakan
salah satu cara untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang
pemeliharaan kesehatan pribadi dan pentingnya berperilaku hidup bersih
dan sehat. Menurut penelitian Fajriyati (2013), riset global juga
menunjukkan bahwa kebiasaan CPTS (cuci tangan pakai sabun) tidak
hanya mengurangi, tapi mencegah diare hingga 50%. Menurut penelitian
Burton, et al (2011) menunjukkan bahwa cuci tangan dengan sabun lebih
efektif dalam memindahkan kuman dibandingkan dengan cuci tangan
hanya dengan menggunakan air. Masyarakat menanggap CPTS tidak
penting, mereka cuci tangan pakai sabun ketika tangan berbau, berminyak
dan kotor.

B. Diagnosa Keperawatan

Pada diagnosa keperawatan prioritas pada kasus ditemukan diagnosa


keperawatan yang sama dengan yang tercantum di sumber literature Hal
ini tercantum pada sumber literature kekurangan volume cairan terjadi
karena kehilangan banyak air, akibat output cairan yang lebih besar
daripada pemasukan (input) sedangkan pada kasus penyebabnya adalah
muntah 3x/hari, BAB 7x/hari.

Pada diagnosa keperawatan kedua kasus yang berbeda yaitu kekurangan


volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan aktif. hal ini karena
pasien mengalami diare penyebabnya adalah kebiasaan pasien suka jajan
sembarangan, langsung makan tanpa memperhatikan apakah sudah cuci
tangan atau belum sehingga makanan yang dikonsumsi pasien

32
terkontaminasi bakteri yang menyebabkan Inflamasi gastrointestinal oleh
bakteri yang hidup didalam gastrointestinal.

Pada kasus ditemukan diagnose yang berbeda dengan sumber literature.


Kami mengambil diagnose ketidakefektifan manajemen kesehatan
berhubungan dengan kurang pengetahuan karena pasien tidak memahami
bagaimana manajemen kesehatan yang baik sehingga perlu pendidikan
kesehatan mengenai perilaku hidup sehat dan bersih supaya pasien bisa
memilih jajanan yang sehat dan tidak menyebabkan diare.

C. Intervensi

Pada sumber literature, intervensi dibuat berdasarkan manajemen


tindakan. Sementara pada kasus, intervensi dibuat berdasarkan NANDA,
NOC dan NIC.
Sementara untuk tujuan dan kriteria hasil pada kasus diambil dari
data objektif dan data subjektif yang didapat.

33
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

Gastroenteritis yaitu radang pada lambung dan usus yang


memberikan gejala diare, dengan atau tanpa disertai muntah, dan sering
kali disertai peningkatan suhu tubuh. diare yang dimaksud yaitu buang air
besar berkali-kali dengan jumlah melebihi 4 kali, dengan bentuk feses cair
dan bisa disertai dengan darah atau lendir. Tanda dan gejala penyakit diare
yaitu anak menjadi rewel, cenggeng, dan gelisah, suhu badan meningkat,
nafsu makan berkurang, feses makin cair, mungkin mengandung darah dan
lendir, warna feses berubah menjadi kehijau-hijauan karena bercampur
empedu, terdapat gejala dan tanda dehidrasi : ubun-ubun besar, cekung
pada bayi, tonus otot dan turgor kulit berkurang, selapit lendir pada mulut
dan bibir terlihat kering, berat badan menurun, pucat dan lemah. Adapun
dampak dari penyakit ini yaitu kehilangan air (dehidrasi), Gangguan
keseimbangan Asam Basa ( Metabik Asidosis), Hipoglikemia, Gangguan
Gizi, Gangguan sirkulasi. Gastroenteritis yaitu merupakan peradangan
pada lambung, usus kecil dan usus besar, dengan berbagai kondisi
patologis dari saluran gastrointestinal dengan tanda gejala diare, dengan
atau tanpa disertai muntah, serta ketidaknyamanan abdomen.
Penatalaksanaan dari diare yaitu pengganti cairan dan elektrolit, antibiotik,
dan obat anti diare. Adapun asuhan keperawatan Diare yang berupa
pengkajian, analisa data dan diagnosa keperawatan serta intervensi
keperawatan.

B. Saran

Setelah kita mempelajari apa yang telah di bahas diharapkan


pembaca agar dapat lebih menjaga kesehatan dengan menjaga pola makan
yang sehat, tidak jajan sembarangan, dan selalu terapkan mencuci tangan
sebelum makan. Kiranya makalah ini dapat berguna dan memberi

34
wawasan tentang penyakit diare secara menyeluruh terutama asuhan
keperawatan peradangan pada penderita diare.

35
DAFTAR PUSTAKA

(PDF) FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN DIARE PADA


BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS REJOSARI PEKANBARU.
Available from:
https://www.researchgate.net/publication/326125670_FAKTOR_YANG_MEMPE
NGARUHI_KEJADIAN_DIARE_PADA_BALITA_DI_WILAYAH_KERJA_PU
SKESMAS_REJOSARI_PEKANBARU [accessed Nov 05 2018].

Amin, Lukman Zurkifli. 2015. Tatalaksana Diare Akut. Tersedia di:


http://www.kalbemed.com/Portals/6/08_230CME-Tatalaksana%20Diare
%20Akut.pdf diakses pada tanggal: 5 november 2018

Burton. 2011. The Effect Of Hand Washing With Water Or Soap On Bacterial
Contamination Of Hands. Int. J. Environ. Res. Public Health, 8, 97-
104.doi:10.3390/ijerph8010097

Dinas Kesehatan Provinsi Riau. (2015). Profil Kesehatan Riau.

Endang, et al. 2015. Unnes Journal of Public Health (4) (1) (2015) ISSN 2252-
6528. Hubungan Praktik Cuci tangan Kriteria pemilihan warung makan langgan
dan sanitasi warung dengan kejadian diare pada mahasiswa universitas negeri
semarang.

Fazriyati, W. (2013). Kebiasaan CTPS di RS tekan infeksi nosokomial.


http://health.kompas.com/read/2013/09/26/1643106/kebiasaan.CTPS.di.RS.Tekan.
Infeksi.Nosokomial. diakses tanggal 21November 2018

Jurnal Nursing. 2011. Nursing : Menafsirkan Tanda-tanda dan Gejala Penyakit.


Jakarta : Indeks Permata Puri

Kemenkes RI. 2011. Situasi diare Indonesia. Buletin Jendela Data dan Infromasi
Kesehatan (Triwulan II) 1-39.

36
Murwani, arita. 2011. Perawata Pasien Penyakit Dalam.Yogyakarta: Gosyen
Pusblishing

Muttaqin, Arif. 2011.Gangguan Gastrointestinal : Aplikasi asuhan keperawatan


Medikal Bedah.Jakata : Salemba Medika.

Riskesdas. (2013). Laporan Riset Kesehatan Dasar.

Simadibrata K, Marcellus. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyait Dalam, Jilid I: edisi
V.Jakarta InternaPublishing

Sodikin.2011Asuhan Keperawatan Anak : Gangguan Sistem Gastrointestinal dan


Hepatobilier.Jakarta : Salemba Medika.

Suraatmaja, sudaryat. 2007. Kapita selekta gastroenterologi. Sagung Seto, Jakarta

Suriadi dan Yuliani, Rita.2010.Asuhan Keperawatan Pada Anak.Edisi 2.Jakarta :


Sagung Seto.

Wardani, septi.2014. PERAN PERAWAT DALAM TATALAKSANA DIARE


AKUT PADA ANAK DI RS DR. SOEDJONO MAGELANG. Tersedia di:
http://etd.repository.ugm.ac.id/index.php?
mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ=html&buku_id=77
071&obyek_id=4. Diakses pada tanggal: 11 november 2018

Wong, Donna L, dkk.2009.Buku Ajar Keperawatan Pediatrik, Volume 2. Edisi


6.Jakarta : EGC.

37