Anda di halaman 1dari 10

I.

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR


28 TAHUN 2004 TENTANG KEAMANAN, MUTU DAN GIZI
PANGAN
Pangan merupakan kebutuhan manusia yang sangat mendasar
karena berpengaruh terhadap eksistensi dan ketahanan hidupnya, baik
dipandang dari segi kuantitas dan kualitasnya. Mengingat kadar
kepentingan yang demikian tinggi, pada dasarnya pangan merupakan salah
satu kebutuhan dasar manusia yang sepenuhnya menjadi hak asasi setiap
rakyat Indonesia.
Tersedianya pangan yang cukup, aman, bermutu dan bergizi
merupakan prasyarat utama yang harus terpenuhi dalam upaya
mewujudkan insan yang berharkat dan bermartabat serta sumber daya
manusia yang berkualitas.
Sumber daya manusia merupakan unsur terpenting dan sekaligus
tujuan utama pembangunan nasional karena sumber daya manusia yang
berkualitas merupakan faktor penentu keberhasilan pembangunan yang
pada akhirnya mampu meningkatkan kesejahteraan dan taraf hidup
masyarakat serta dapat mengurangi atau menghapuskan kemiskinan.
Kualitas sumber daya manusia dimaksud antara lain sangat ditentukan oleh
kualitas pangan yang dikonsumsinya, sehingga segala daya dan upaya
perlu dikerahkan secara optimal agar pangan yang aman, bermutu dan
bergizi tersedia secara memadai serta terjangkau oleh daya beli
masyarakat.
Agar pangan yang aman tersedia secara memadai, perlu
diupayakan terwujudnya suatu sistem pangan yang mampu memberikan
perlindungan kepada masyarakat yang mengkonsumsi pangan sehingga
pangan yang diedarkan dan/atau diperdagangkan tidak merugikan serta
aman bagi kesehatan jiwa manusia. Dengan perkataan lain, pangan
tersebut harus memenuhi persyaratan keamanan pangan.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pangan serta
makin maju dan terbukanya dunia perdagangan baik domestik maupun
antar negara akan membawa dampak pada semakin beragamnya jenis
pangan yang beredar dalam masyarakat baik yang diproduksi di dalam
negeri maupun yang berasal dari impor.
Pangan yang dikonsumsi masyarakat pada dasarnya melalui suatu
mata rantai proses yang meliputi produksi, penyimpanan, pengangkutan,
peredaran hingga tiba di tangan konsumen.
Agar keseluruhan mata rantai tersebut memenuhi persyaratan
keamanan, mutu dan gizi pangan, maka perlu diwujudkan suatu sistem
pengaturan, pembinaan dan pengawasan yang efektif di bidang keamanan,
mutu dan gizi pangan dalam bentuk Peraturan Pemerintah tentang
Keamanan, Mutu dan Gizi Pangan yang merupakan peraturan pelaksanaan
dari Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan.
II. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 18 TAHUN
2012 TENTANG PANGAN
Pembangunan nasional merupakan pencerminan kehendak seluruh
rakyat untuk terus-menerus meningkatkan kemakmuran dan
kesejahteraannya secara adil dan merata dalam segala aspek kehidupan
yang dilakukan secara terpadu, terarah, dan berkelanjutan dalam rangka
mewujudkan suatu masyarakat yang adil dan makmur, baik material
maupun spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pangan merupakan kebutuhan
dasar manusia yang paling utama dan pemenuhannya merupakan bagian
dari hak asasi setiap rakyat Indonesia. Pangan harus senantiasa tersedia
secara cukup, aman, bermutu, bergizi, dan beragam dengan harga yang
terjangkau oleh daya beli masyarakat, serta tidak bertentangan dengan
agama, keyakinan, dan budaya masyarakat. Untuk mencapai semua itu,
perlu diselenggarakan suatu sistem Pangan yang memberikan pelindungan,
baik bagi pihak yang memproduksi maupun yang mengonsumsi pangan.
Penyelenggaraan Pangan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan
dasar manusia yang memberikan manfaat secara adil, merata, dan
berkelanjutan dengan berdasarkan pada Kedaulatan Pangan, Kemandirian
Pangan, dan Ketahanan Pangan. Hal itu berarti bahwa dalam rangka
memenuhi kebutuhan konsumsi Pangan masyarakat sampai pada tingkat
perseorangan, negara mempunyai kebebasan untuk menentukan kebijakan
Pangannya secara mandiri, tidak dapat didikte oleh pihak mana pun, dan
para Pelaku Usaha Pangan mempunyai kebebasan untuk menetapkan dan
melaksanakan usahanya sesuai dengan sumber daya yang dimilikinya.
Pemenuhan konsumsi Pangan tersebut harus mengutamakan produksi
dalam negeri dengan memanfaatkan sumber daya dan kearifan lokal secara
optimal. Untuk mewujudkan hal tersebut, tiga hal pokok yang harus
diperhatikan adalah (i) ketersediaan pangan yang berbasis pada
pemanfaatan sumber daya lokal secara optimal, (ii) keterjangkauan pangan
dari aspek fisik dan ekonomi oleh seluruh masyarakat, serta (iii)
pemanfaatan pangan atau konsumsi Pangan dan Gizi untuk hidup sehat,
aktif, dan produktif.
Pewujudan ketersediaan pangan yang berbasis pada pemanfaatan
sumber daya lokal secara optimal dilakukan dengan Penganekaragaman
Pangan dan pengutamaan Produksi Pangan dalam negeri. Pewujudan
keterjangkauan Pangan dari aspek fisik dan ekonomi dilakukan melalui
pengelolaan stabilisasi pasokan dan harga Pangan Pokok, pengelolaan
cadangan Pangan Pokok, dan pendistribusian Pangan Pokok. Pemanfaatan
pangan atau konsumsi Pangan dan Gizi akan menghasilkan sumber daya
manusia yang berkualitas sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan
pembangunan. Hal itu dilakukan melalui pemenuhan asupan Pangan yang
beragam, bergizi seimbang, serta pemenuhan persyaratan Keamanan
Pangan, Mutu Pangan, dan Gizi Pangan.
Penyelenggaraan Keamanan Pangan untuk kegiatan atau proses
Produksi Pangan untuk dikonsumsi harus dilakukan melalui Sanitasi
Pangan, pengaturan terhadap bahan tambahan Pangan, pengaturan
terhadap Pangan produk rekayasa genetik dan Iradiasi Pangan, penetapan
standar Kemasan Pangan, pemberian jaminan Keamanan Pangan dan Mutu
Pangan, serta jaminan produk halal bagi yang dipersyaratkan. Pelaku
Usaha Pangan dalam melakukan Produksi Pangan harus memenuhi
berbagai ketentuan mengenai kegiatan atau proses Produksi Pangan
sehingga tidak berisiko merugikan atau membahayakan kesehatan
manusia. Pelaku Usaha Pangan bertanggung jawab terhadap Pangan yang
diedarkan, terutama apabila Pangan yang diproduksi menyebabkan
kerugian, baik terhadap gangguan kesehatan maupun kematian orang yang
mengonsumsi Pangan tersebut.
Masyarakat juga perlu mendapatkan informasi yang jelas mengenai
setiap produk pangan yang dikemas sebelum membeli dan mengonsumsi
Pangan. Informasi tersebut terkait dengan asal, keamanan, mutu,
kandungan Gizi, dan keterangan lain yang diperlukan. Sehubungan dengan
hal tersebut, perlu ditetapkan ketentuan mengenai label dan iklan pangan
sehingga masyarakat dapat mengambil keputusan berdasarkan informasi
yang akurat.
Keberlanjutan dalam pewujudan Kedaulatan Pangan, Kemandirian
Pangan, dan Ketahanan Pangan bergantung kepada kemampuan bangsa
dan negara dalam menciptakan inovasi teknologi di bidang Pangan serta
mendiseminasikannya kepada Pelaku Usaha Pangan. Oleh karena itu,
Pemerintah wajib melakukan penelitian dan pengembangan Pangan secara
terus-menerus, dan mendorong serta menyinergikan kegiatan penelitian
dan pengembangan Pangan yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah,
lembaga pendidikan, lembaga penelitian, Pelaku Usaha Pangan, dan
masyarakat. Dalam mewujudkan Kedaulatan Pangan, Kemandirian
Pangan, dan Ketahanan Pangan, diperlukan kelembagaan Pangan yang
memiliki kewenangan dalam membangun koordinasi, integrasi, dan
sinergi lintas sektor. Kelembagaan tersebut melaksanakan tugas
pemerintahan di bidang Pangan, yang berada di bawah dan bertanggung
jawab kepada Presiden.
Dalam mewujudkan Kedaulatan Pangan, Kemandirian Pangan, dan
Ketahanan Pangan, masyarakat dapat berperan serta melalui pelaksanaan
produksi, distribusi, perdagangan, konsumsi Pangan, penyelenggaraan
Cadangan Pangan Masyarakat, pencegahan dan penanggulangan rawan
Pangan dan Gizi, penyampaian informasi dan pengetahuan Pangan dan
Gizi, pengawasan kelancaran penyelenggaraan Ketersediaan Pangan,
keterjangkauan Pangan, Penganekaragaman Pangan, Keamanan Pangan,
dan/atau peningkatan Kemandirian Pangan rumah tangga. Masyarakat
dapat juga menyampaikan permasalahan, masukan, dan/atau penyelesaian
masalah Pangan kepada Pemerintah dan Pemerintah Daerah. Undang-
Undang tentang Pangan dimaksudkan sebagai landasan hukum bagi
Penyelenggaraan Pangan yang mencakup perencanaan Pangan,
Ketersediaan Pangan, Keterjangkauan Pangan, konsumsi Pangan dan Gizi,
Keamanan Pangan, label dan iklan Pangan, pengawasan, sistem informasi
Pangan, penelitian dan pengembangan Pangan, kelembagaan Pangan,
peran serta masyarakat, dan penyidikan. Undang-Undang tentang Pangan
ini menyesuaikan dengan perkembangan eksternal dan internal mengenai
Pangan di Indonesia, seperti demokratisasi, desentralisasi, globalisasi,
penegakan hukum, dan kondisi aktual masyarakat Indonesia.

III. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 8 TAHUN


1999 TENTANG PERLINDUNGAN KONSUMEN
Pembangunan dan perkembangan perekonomian umumnya dan
khususnya di bidang perindustrian dan perdagangan nasional telah
menghasilkan berbagai variasi barang dan/atau jasa yang dapat dikonsumsi. Di
samping itu, globalisasi dan perdagangan bebas yang didukung oleh kemajuan
teknologi telekomunikasi dan informatika telah memperluas ruang gerak arus
transaksi barang dan/atau jasa melintasi batasbatas wilayah suatu negara,
sehingga barang dan/jasa yang ditawarkan bervariasi baik produksi luar negeri
maupun produksi dalam negeri.
Kondisi yang demikian pada satu pihak mempunyai manfaat bagi
konsumen karena kebutuhan konsumen akan barang dan/atau jasa yang
diinginkan dapat terpenuhi serta semakin terbuka lebar kebebasan untuk
memilih aneka jenis kualitas barang dan/atau jasa sesuai dengan keinginan dan
kemampuan konsumen.
Disisi lain, kondisi dan fenomena tersebut di atas dapat mengakibatkan
kedudukan pelaku usaha dan konsumen menjadi tidak seimbang dan konsumen
berada pada posisi yang lemah. Konsumen menjadi objek aktivitas bisnis untuk
meraup keuntungan yang sebesarbesarnya oleh pelaku usaha melalui kiat
promosi, cara penjualan, serta penerapan perjanjian standar yang merugikan
konsumen.
Faktor utama yang menjadi kelemahan konsumen adalah tingkat
kesadaran konsumen akan haknya masih rendah. Hal ini terutama disebabkan
oleh rendahnya pendidikan konsumen. Oleh karena itu, Undangundang
Perlindungan Konsumen dimaksudkan menjadi landasan hukum yang kuat bagi
pemerintah dan lembaga perlindungan konsumen swadaya masyarakat untuk
melakukan upaya pemberdayaan konsumen melalui pembinaan dan pendidikan
konsumen.
Upaya pemberdayaan ini penting karena tidak mudah mengharapkan
kesadaran pelaku usaha, yang pada dasarnya prinsip ekonomi pelaku usaha
adalah mendapat keuntungan yang semaksimal mungkin dengan modal
seminimal mungkin. Prinsip ini sangat merugikan kepentingan konsumen,
baik secara langsung maupun tidak langsung.
Atas dasar kondisi sebagaimana dipaparkan di atas, perlu upaya
pemberdayaan konsumen melalui pembentukan undangundang yang dapat
melindungi kepentingan konsumen secara integratif dan komprehensif serta
dapat diterapkan secara efektif di masyarakat.
Piranti hukum yang melindungi konsumen tidak dimaksudkan untuk
mematikan usaha para pelaku usaha, tetapi justru sebaliknya perlindungan
konsumen dapat mendorong iklim berusaha yang sehat yang mendorong
lahirnya perusahaan yang tangguh dalam menghadapi persaingan melalui
penyediaan barang dan/atau jasa yang berkualitas.
Disamping itu, Undang-undang tentang Perlindungan Konsumen ini
dalam pelaksanaannya tetap memberikan perhatian khusus kepada pelaku
usaha kecil dan menengah. Hal itu dilakukan melalui upaya pembinaan dan
penerapan sanksi atas pelanggarannya. Undangundang tentang Perlindungan
Konsumen ini dirumuskan dengan mengacu pada filosofi pembangunan nasional
bahwa pembangunan nasional termasuk pembangunan hukum yang
memberikan perlindungan terhadap konsumen adalah dalam rangka
membangun manusia Indonesia seutuhnya yang berlandaskan pada falsafah
kenegaraan Republik Indonesia yaitu dasar negara Pancasila dan konstitusi
negara UndangUndang Dasar 1945.
Disamping itu, Undang-undang tentang Perlindungan Konsumen pada
dasarnya bukan merupakan awal dan akhir dari hukum yang mengatur tentang
perlindungan konsumen, sebab sampai pada terbentuknya Undangundang
tentang Perlindungan Konsumen ini telah ada beberapa undangundang yang
materinya melindungi kepentingan konsumen, seperti:
a. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1961 tentang Penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undangundang Nomor 1 Tahun 1961 tentang
Barang, menjadi Undangundang;
b. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1966 tentang Hygiene;
c. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-
pokok Pemerintahan di Daerah;
d. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal;
e. Undang-undang Nomor 3 Tahun 1982 tentang Wajib Daftar Perusahaan;
f. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian;
g. Undang-undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan;
h. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1987 tentang Kamar Dagang dan
Industri;
i. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan;
j. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1994 tentang Agreement Establishing
The World Trade Organization (Persetujuan Pembentukan Organisasi
Perdagangan Dunia);
k. Undang-undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas;
l. Undang-undang Nomor 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil;
m. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan;
n. Undang-undang Nomor 12 Tahun 1997 tentang perubahan Atas
Undang-undang Hak Cipta sebagaimana telah diubah dengan Undang-
undang Nomor 7 Tahun 1987;
o. Undang-undang Nomor 13 Tahun 1997 tentang Perubahan
Atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1989 tentang Paten;
p. Undang-undang Nomor 14 Tahun 1997 tentang Perubahan
Atas Undang-undang Nomor 19 Tahun 1989 tentang Merek;
q. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan
Hidup;
r. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1997 tentang Penyiaran;
s. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1997 tentang Ketenagakerjaan;
t. Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan
Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.

Perlindungan konsumen dalam hal pelaku usaha melanggar hak atas


kekayaan intelektual (HAK) tidak diatur dalam Undang-undang tentang
Perlindungan Konsumen ini karena diatur dalam Undang-undang Nomor 12
Tahun 1997 tentang Hak Cipta, Undang-undang Nomor 13 Tahun 97 tentang
Paten, dan Undang-undang Nomor 14 Tahun 1997 tentang Merek, yang
melarang menghasilkan atau memperdagangkan barang dan/atau jasa yang
melanggar ketentuan tentang HAKI.

Demikian juga perlindungan konsumen di bidang lingkungan hidup tidak


diatur dalam Undangundang tentang Perlindungan Konsumen ini karena
telah diatur dalam Undan-gundang Nomor 23 Tahun 1997 tentang
Pengelolaan Lingkungan Hidup mengenai kewajiban setiap orang untuk
memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mencegah dan
menanggulangi pencemaran dan perusakan lingkungan hidup. Dikemudian
hari masih terbuka kemungkinan terbentuknya undang-undang baru yang
pada dasarnya memuat ketentuanketentuan yang melindungi konsumen.
Dengan demikian, Undang-undang tentang Perlindungan Konsumen ini
merupakan payung yang mengintegrasikan dan memperkuat penegakan
hukum di bidang perlindungan konsumen.
IV. UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 36 TAHUN
2009 TENTANG KESEHATAN
Dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 tercantum jelas cita-cita
bangsa Indonesia yang sekaligus merupakan tujuan nasional bangsa Indonesia.
Tujuan nasional tersebut adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan
seluruh tumpah darah Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang
berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi serta keadilan sosial.
Untuk mencapai tujuan nasional tersebut diselenggarakanlah upaya
pembangunan yang berkesinambungan yang merupakan suatu rangkaian
pembangunan yang menyeluruh terarah dan terpadu, termasuk di antaranya
pembangunan kesehatan.
Kesehatan merupakan hak asasi manusia dan salah satu unsur
kesejahteraan yang harus diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Pancasila dan Pembukaan Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
Oleh karena itu, setiap kegiatan dan upaya untuk meningkatkan derajat
kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dilaksanakan berdasarkan prinsip
nondiskriminatif, partisipatif, perlindungan, dan berkelanjutan yang sangat
penting artinya bagi pembentukan sumber daya manusia Indonesia,
peningkatan ketahanan dan daya saing bangsa, serta pembangunan nasional.
Upaya untuk meningkatkan derajat kesehatan yang setinggi-tingginya
pada mulanya berupa upaya penyembuhan penyakit, kemudian secara
berangsurangsur berkembang ke arah keterpaduan upaya kesehatan untuk
seluruh masyarakat dengan mengikutsertakan masyarakat secara luas yang
mencakup upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif yang bersifat
menyeluruh terpadu dan berkesinambungan. Perkembangan ini tertuang ke
dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN) pada tahun 1982 yang selanjutnya
disebutkan kedalam GBHN 1983 dan GBHN 1988 sebagai tatanan untuk
melaksanakan pembangunan kesehatan.
Selain itu, perkembangan teknologi kesehatan yang berjalan seiring
dengan munculnya fenomena globalisasi telah menyebabkan banyaknya
perubahan yang sifat dan eksistensinya sangat berbeda jauh dari teks yang
tercantum dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.
Pesatnya kemajuan teknologi kesehatan dan teknologi informasi dalam era
global ini ternyata belum terakomodatif secara baik oleh Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.
Perencanaan dan pembiayaan pembangunan kesehatan yang tidak
sejiwa dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992, yaitu menitikberatkan
pada pengobatan (kuratif), menyebabkan pola pikir yang berkembang di
masyarakat adalah bagaimana cara mengobati bila terkena penyakit. Hal itu
tentu akan membutuhkan dana yang lebih besar bila dibandingkan dengan
upaya pencegahan. Konsekuensinya, masyarakat akan selalu memandang
persoalan pembiayaan kesehatan sebagai sesuatu yang bersifat
konsumtif/pemborosan. Selain itu, sudut pandang para pengambil kebijakan
juga masih belum menganggap kesehatan sebagai suatu kebutuhan utama dan
investasi berharga di dalam menjalankan pembangunan sehingga alokasi dana
kesehatan hingga kini masih tergolong rendah bila dibandingkan dengan negara
lain.
Untuk itu, sudah saatnya kita melihat persoalan kesehatan sebagai
suatu faktor utama dan investasi berharga yang pelaksanaannya didasarkan
pada sebuah paradigma baru yang biasa dikenal dengan paradigma sehat, yakni
paradigma kesehatan yang mengutamakan upaya promotif dan preventif tanpa
mengabaikan kuratif dan rehabilitatif.
Dalam rangka implementasi paradigma sehat tersebut, dibutuhkan
sebuah undang-undang yang berwawasan sehat, bukan undang-undang yang
berwawasan sakit.
Pada sisi lain, perkembangan ketatanegaraan bergeser dari sentralisasi
menuju desentralisasi yang ditandai dengan diberlakukannya UndangUndang
Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah
terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan
Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2008 tentang Pemerintahan
Daerah.
Undang-Undang tersebut memuat ketentuan yang menyatakan bahwa
bidang kesehatan sepenuhnya diserahkan kepada daerah masing-masing yang
setiap daerah diberi kewenangan untuk mengelola dan menyelenggarakan
seluruh aspek kesehatan. Sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan Undang-
Undang Nomor 32 Tahun 2004, Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan
Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 yang mengatur tentang pembagian urusan
antara pemerintah, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota.
Berdasarkan hal tersebut, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang
Kesehatan perlu disesuaikan dengan semangat otonomi daerah.
Oleh karena itu, perlu dibentuk kebijakan umum kesehatan yang dapat
dilaksanakan oleh semua pihak dan sekaligus dapat menjawab tantangan era
globalisasi dan dengan semakin kompleksnya permasalahan kesehatan dalam
suatu Undang-Undang Kesehatan yang baru untuk menggantikan Undang-
Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan.

V. PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR


69 TAHUN 1999 TENTANG LABEL DAN IKLAN PANGAN
Terciptanya perdagangan pangan yang jujur dan bertanggung jawab
merupakan salah satu tujuan penting pengaturan, pembinaan, dan pengawasan
di bidang pangan sebagaimana dikehendaki oleh Undang-undang Nomor 7
Tahun 1996 tentang Pangan. Salah satu upaya untuk mencapai tertib
pengaturan di bidang pangan adalah melalui pengaturan di bidang label dan
iklan pangan, yang dalam prakteknya selama ini belum memperoleh pengaturan
sebagaimana mestinya.
Banyaknya pangan yang beredar di masyarakat tanpa mengindahkan
ketentuan tentang pencantuman label dinilai sudah meresahkan. Perdagangan
pangan yang kedaluwarsa, pemakaian bahan pewarna yang tidak diperuntukkan
bagi pangan atau perbuatan-perbuatan lain yang akibatnya sangat merugikan
masyarakat, bahkan dapat mengancam kesehatan dan keselamatan jiwa
manusia, terutama bagi anak-anak pada umumnya dilakukan melalui penipuan
pada label pangan atau melalui iklan. Label dan iklan pangan yang tidak jujur
dan atau menyesatkan berakibat buruk terhadap perkembangan kesehatan
manusia.
Dalam hubungannya dengan masalah label dan iklan pangan maka
masyarakat perlu memperoleh informasi yang benar, jelas dan lengkap baik
mengenai kuantitas, isi, kualitas maupun hal-hal lain yang diperlukannya
mengenai pangan yang beredar di pasaran. Informasi pada label pangan atau
melalui iklan sangat diperlukan bagi masyarakat agar supaya masingmasing
individu secara tepat dapat menentukan pilihan sebelum membeli dan atau
mengkonsumsi pangan. Tanpa adanya informasi yang jelas maka kecurangan-
kecurangan dapat terjadi.
Perdagangan pangan yang jujur dan bertanggung jawab bukan semata-
mata untuk melindungi kepentingan masyarakat yang mengkonsumsi pangan.
Melalui pengaturan yang tepat berikut sanksi-sanksi hukum yang berat,
diharapkan setiap orang yang memproduksi pangan atau memasukkan pangan
ke dalam wilayah Indonesia untuk diperdagangkan dapat memperoleh
perlindungan dan jaminan kepastian hukum. Persaingan dalam perdagangan
pangan diatur supaya pihak yang memproduksi pangan dan pengusaha iklan
diwajibkan untuk membuat iklan secara benar dan tidak menyesatkan
masyarakat melalui pencantuman label dan iklan pangan yang harus memuat
keterangan mengenai pangan dengan jujur.
Pemerintah menyadari perkembangan teknologi pangan sangat
berpengaruh terhadap pelabelan pangan. Perkembangan tersebut tidak
mungkin dicakupi secara keseluruhan melalui Peraturan Pemerintah ini. Namun,
hal itu tidak mungkin pula untuk dikesampingkan tanpa membuka peluang
untuk pengaturan lebih lanjut. Dalam kondisi yang demikian, Peraturan
Pemerintah ini sekaligus memerintahkan kepada instansi terkait untuk
mengaturnya manakala diperlukan. Sudah barang tentu pengaturannya
disesuaikan dengan lingkup tugas dan kewenangan yang melekat pada instansi
yang bersangkutan.
Tidak hanya masalah yang berhubungan dengan kesehatan saja yang
perlu diinformasikan secara benar dan tidak menyesatkan melalui label dan atau
iklan pangan, namun perlindungan secara batiniah perlu diberikan kepada
masyarakat. Masyarakat Islam merupakan jumlah terbesar dari penduduk
Indonesia yang secara khusus dan non diskriminatif perlu dilindungi melalui
pengaturan halal. Bagaimanapun juga, kepentingan agama atau kepercayaan
lainnya tetap dilindungi melalui tanggung jawab pihak yang memproduksi
pangan atau memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia untuk
diperdagangkan bagi keperluan tersebut.
Selain daripada keterangan-keterangan yang wajib dimuat pada label
sebagaimana diinginkan oleh Pasal 30 ayat (2) Undang-undang Nomor 7 Tahun
1996 tentang Pangan, diatur juga hal-hal lain yang sekiranya dapat
diinformasikan kepada masyarakat. Untuk menampung pengaturan tersebut
maka pokok-pokok yang mendasari pengaturan yang berkaitan dengan label
tentang nutrisi atau gizi bagi kepentingan kelompok masyarakat tertentu diatur
di dalam Peraturan Pemerintah ini. Pengaturan selanjutnya diserahkan kepada
Menteri Kesehatan yang lebih memahami tentang aspek kesehatan masyarakat,
termasuk akibat sampingan pangan tertentu terhadap kesehatan kelompok
masyarakat tertentu.
Sebagaimana telah diuraikan di atas, pengaruh pangan yang dikonsumsi
terhadap kesehatan manusia perlu diwaspadai. Oleh karena itu, iklan tentang
pangan perlu secara khusus diatur dan dikendalikan dengan sebaik-baiknya
melalui Peraturan Pemerintah ini. Penggunaan anak-anak berusia di bawah lima
tahun secara tegas dilarang untuk mengiklankan pangan yang tidak secara
khusus ditujukan untuk konsumsi oleh mereka. Larangan ini sangat diperlukan
untuk menghindarkan anak-anak terhadap pengaruh iklan yang bersifat negatif
atau menyesatkan yang secara mudah diterima oleh anak-anak yang secara
alamiah belum mampu membedakan hal-hal yang baik atau yang buruk.
Peraturan Pemerintah ini mewajibkan agar label ditulis dengan
menggunakan bahasa Indonesia, angka Arab dan atau huruf Latin. Ketentuan ini
berlaku mengikat tidak hanya terhadap pangan yang diproduksi di dalam negeri,
namun berlaku juga terhadap pangan yang dimasukkan ke dalam wilayah
Indonesia untuk diperdagangkan. Tujuan pengaturan ini dimaksudkan agar
informasi tentang pangan dapat dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat, baik
di kota maupun di desa-desa.
Dengan tidak mengesampingkan pengaturan yang sudah ada dalam
lingkungan Undang-undang yang mengatur tentang Kesehatan, maka Peraturan
Pemerintah tentang Label dan Iklan Pangan sebagai pelaksanaan dari Undang-
undang Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan merupakan pelengkap terhadap
pengaturan yang sudah ada. Tujuan daripada pengaturan tersebut adalah untuk
lebih memperkuat jaminan kepastian hukum bagi masyarakat yang
mengkonsumsi pangan.
Pada akhirnya, keterpaduan tugas di bidang pengawasan dalam
pelaksanaan Peraturan Pemerintah ini sangat tergantung pada kemampuan
aparatur negara untuk menghindari timbulnya ekses yang tidak diharapkan.