Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA

SEKOLAH MENENGAH
DISPERSI CAHAYA

OLEH:

KELOMPOK 8

1. MIFTAHULJANNAH MUSLIMIN (10539144615)

2. HARDY WIJAYA (10539144315)

KELAS FISIKA VI D

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR

2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pelangi merupakan salah satu dari berbagai fenomena alam yang sering kita
jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Pelangi yang kita temukan di langit biasanya
berupa untaian spektrum dari beberapa warna yang indah, dengan warna dominan
merah, kuning, hijau, dan biru. Bahkan jika kita sedang beruntung, kita bisa melihat
seberkas cahaya tipis ungu di bawah warna biru kehijau-hijauan. Pelangi yang sering
kita jumpai berbentuk seperempat lingkaran maupun setengah lingkaran. Semua itu
tergantung dari letak pengamatan kita, dan keadaan awan pada saat itu.

Pelangi dapat kita jumpai saat pagi maupun sore hari, ketika udara sangat
panas dan hujan turun rintik-rintik selama masih ada cahaya matahari kita bisa
menemukan pelangi setelah hujan tadi.Kita dapat melihat jelas fenomena ini, jika kita
berdiri membelakangi cahaya matahari. Pelangi dapat pula terbentuk karena udara
berkabut atau berembun. Percikan air di sekitar air terjun menjadi media untuk
menguraikan warna dari cahaya matahari yang bersinar.

Peristiwa terjadinya pelangi adalah gejala disperse cahaya. Gejala disperse


cahaya adalah gejala peruraian cahaya putih (polikromatik) menjadi cahaya
berwarna-warni (monokromatik). Berdasarkan latar belakang di atas, maka
dilakukanlah percobaan tentang Dispersi Cahaya.

B. Rumusan Masalah

1. Apa itu pembiasan cahaya?

2. Apa itu disperse cahaya?

3. Bagaimana menentukan besarnya daya dispersi?


C. Tujuan Percobaan

1. Untuk mengetahui pembiasan cahaya

2. Untuk mengetahui dispersi cahaya

3. Untuk mengetahui cara menentukan besarnya daya disperse

D. Manfaat Percobaan

1. Mengetahui cara menentukan daya disperse

2. Dapar dijadikan sebagai sumber infromasi untuk pembaca

3. Dapat dijadikan sebagai referensi untuk praktikan selanjutnya


BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pembiasan Pada Prisma

Prisma adalah zat bening yang dibatasi oleh dua bidang datar. Apabila seberkas sinar
datang pada salah satu bidang prisma yang kemudian disebut sebagai bidang pembias
I, akan dibiaskan mendekati garis normal. Sampai pada bidang pembias II, berkas
sinar tersebut akan dibiaskan menjauhi garis normal. Pada bidang pembias I, sinar
dibiaskan mendekati garis normal, sebab sinar datang dari zat optik kurang rapat ke
zat optik lebih rapat yaitu dari udara ke kaca. Sebaliknya pada bidang pembias II,
sinar dibiaskan menjahui garis normal, sebab sinar datang dari zat optik rapat ke zat
optik kurang rapat yaitu dari kaca ke udara. Sehingga seberkas sinar yang melewati
sebuah prisma akan mengalami pembelokan arah dari arah semula. Marilah kita
mempelajari fenomena yang terjadi jika seberkas cahaya melewati
sebuah prisma seperti halnya terjadinya sudut deviasi dan dispersi cahaya.

Keterangan:

𝑖1 = 𝑠𝑢𝑑𝑢𝑡 𝑑𝑎𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑒𝑟𝑡𝑎𝑚𝑎


𝑟1 = 𝑠𝑢𝑑𝑢𝑡 𝑏𝑖𝑎𝑠 𝑝𝑒𝑟𝑡𝑎𝑚𝑎
𝑖2 = 𝑠𝑢𝑑𝑢𝑡 𝑑𝑎𝑡𝑎𝑛𝑔 𝑘𝑒𝑑𝑢𝑎
𝑟2 = 𝑠𝑢𝑑𝑢𝑡 𝑏𝑖𝑎𝑠 𝑘𝑒𝑑𝑢𝑎
𝛽 = 𝑠𝑢𝑑𝑢𝑡 𝑝𝑒𝑚𝑏𝑖𝑎𝑠 𝑝𝑟𝑖𝑠𝑚𝑎
𝛿 = 𝑠𝑢𝑑𝑢𝑡 𝑑𝑒𝑣𝑖𝑎𝑠𝑖

 Sinar datang adalah sinar yang datang menuju ke prisma


 Sinar bias adalah sinar yang dipantulkan keluar dari prisma
 Sudut datang adalah sudut yang dibentuk antara sinar datang dan garis normal
 Sudut bias adalah sudut yang dibentuk antara sinar bias dan garis normal
 Sudut deviasi adalah sudut yang dibentuk dari perpotongan perpanjangan
sinar dating dan sinar bias
 Sudut pembias adalah sudut yang dibentuk dari kedua bidang prisma atau
disebut sudut puncak prisma

B. Hukum Snellius Pada Pembiasan

Hukum pembiasan pertama kali dinyatakan oleh Willebrord Snellius,


seorang ahli Fisika berkebangsaan Belanda. Snellius melakukan eksperimen dengan
melewatkan seberkas sinar pada balok kaca. Secara sederhana, percobaan Snellius
ditunjukkan seperti pada gambar di bawah ini.
Seberkas cahaya (sinar laser/kotak cahaya) di arahkan menuju permukaan
balok kaca (gambar kiri). Ternyata, sinar dibelokkan pada saat mengenai bidang batas
udara-kaca. Jika digambarkan dalam bentuk dua dimensi (gambar kanan), maka sinar
datang dari udara dibiaskan dalam kaca mendekati garis normal. Sehingga besar
sudut datang (i) selalu lebih besar dari sudut bias (r).

Jika percobaan yang sama diulang dengan sudut datang yang berubah-ubah
yaitu sebesar i1, i2, i3 hingga sudut biasnya r1, r2, r3 ternyata Snellius menemukan
bahwa hasil perbandingan sinus sudut datang dengan sinus sudut biasnya selalu
konstan atau tetap. Dengan hasil percobaannya tersebut, Snellius
mengemukakan Hukum Pembiasan yang berbunyi sebagai berikut.

■ Sinar datang, garis normal dan sinar bias terletak dalam satu bidang datar.

■ Perbandingan sinus sudut datang dengan sinus sudut bias pada dua medium yang
berbeda merupakan bilangan tetap.

Secara matematis, pernyataan Hukum Snellius yang kedua di atas dapat


dituliskan dalam bentuk persamaan berikut:

sin 𝑖1 sin 𝑖2 sin 𝑖3


= =
sin 𝑟1 sin 𝑟2 sin 𝑟3

sin 𝑖1
= 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 (2.1)
sin 𝑟1

Tetapan atau konstanta tersebut disebut dengan indeks bias relatif suatu medium
terhadap medium lain. Jika sinar datang dari medium 1 ke medium 2, maka indeks
bias relatif medium 2 terhadap medium 1 ditulis sebagai berikut.

𝑛2
𝑛21 = (2.2)
𝑛1

Dengan demikian, persamaan (2.1) di atas dapat ditulis ulang sebagai berikut.
sin 𝑖1
= 𝑛21
sin 𝑟1

sin 𝑖1 𝑛2
=
sin 𝑟1 𝑛1

Sehingga kita peroleh rumus hubungan antara sudut datang, sudut bias dan indeks
bias medium sebagai berikut.

𝑛1 sin 𝑖 = 𝑛2 sin 𝑟 (2.3)

Keterangan:

n1 = indeks bias mutlak medium 1


n2 = indeks bias mutlak medium 2
n21 = indeks bias relatif medium 2 terhadap medium 1
i = sudut datang pada medium 1
r = sudut bia pada medium 2
Selain kedua pernyataan Hukum Snellius di atas, masih ada hal lain yang
berlaku pada peristiwa pembiasan cahaya, yaitu sebagai berikut.
1) Jika sinar datang dari medium kurang rapat ke medium lebih rapat, sinar akan
dibiaskan mendekati garis normal. Ini berarti, sudut bias lebih kecil daripada sudut
datangnya (r < i).

2) Jika sinar datang dari medium lebih rapat ke medium kurang rapat, cahaya akan
dibiaskan menjauhi garis normal. Jadi, sudut datang lebih kecil dari sudut bias (i < r).

3) Jika sinar datang tegak lurus batas dua medium, maka sinar tidak dibiaskan
melainkan diteruskan.
C. Dispersi Cahaya

Dispersi adalah peristiwa penguraian cahaya polikromatik (putih) menjadi


cahaya cahaya monokromatik (me, ji, ku, hi, bi, ni, u) pada prisma
lewat pembiasan atau pembelokan. Hal ini membuktikan bahwa cahaya putih terdiri
dari harmonisasi berbagai cahaya warna dengan berbeda-beda panjang gelombang.

Sebuah prisma atau kisi kisi mempunyai kemampuan untuk


menguraikan cahaya menjadi warna warna spektralnya. Indeks cahaya suatu bahan
menentukan panjang gelombang cahaya mana yang dapat diuraikan menjadi
komponen komponennya. Untuk cahaya ultraviolet adalah prisma dari kristal, untuk
cahaya putih adalah prisma dari kaca, untuk cahaya infrared adalah prisma dari garam
batu.
Peristiwa dispersi ini terjadi karena perbedaan indeks bias tiap warna cahaya.
Cahaya berwarna merah mengalami deviasi terkecil sedangkan warna ungu
mengalami deviasi terbesar.

Daya Dispersi = 𝛿𝑢 −𝛿𝑚

𝛿𝑚 = sudut deviasi merah

𝛿𝑢 = sdut deviasi ungu


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Alat Dan Bahan

1. Meja Optik : 1 buah

2. Sumber Cahaya : 1 buah

3. Diafragma 1 Celah : 1 buah

4. Rel Presisi : 1 buah

5. Lensa F = 100mm : 1 buah

6. Kertas : 3 buah

7. Mistar/Busur Derajat : 1 buah

8. Layar : 1 buah

B. Prosedur Pembelajaran

1. Susun alat dengan urutan : sumber cahaya, lensa 100 mm , diafragma 1 celah, dan
meja optik. Lensa dipasang 10 cm dari sumber cahaya

2. Siapkan kertas HVS, lipat ujung kertas hingga lipatan tersebut berdiri tegak ±2cm

3. Simpan kertas tersebut di atas meja optic dan letakkan prisma diatasnya

4. Arahkan sinar yang keluar melalui diafragma ke permukaan I prisma. Putarlah


secara perlahan-lahan sehingga sinar yang keluar dari permukaan II prisma terurai
pada lipatan kertas. Tulislah urutan warna yang terjadi : Merah-Jingga-Kuning-
Hijau-Biru-Nila-Ungu
5. Tandai sisi-sisi prisma dan jejak sinar dating, sinar warna merah, dan sinar warna
ungu

6. Singkirkan prisma dan perpanjangan sinar yang masuk dan sinar yang keluar dari
prisma dan ukur sudut deviasi untuk warna merah dan ungu

7. Ulangi percobaan dengan sinar dating yang lain sebanyak 3 kali

8. Isikan data percobaan ke dalam tabel berikut:

No Sinar Datang Sudut Deviasi Ungu Sudut Deviasi Merah


1 I
2 II
3 III
Hitung nilai (daya dispersi masing-masing percobaan)

Daya Dispersi = 𝛿𝑢 −𝛿𝑚

𝛿𝑚 = sudut deviasi merah

𝛿𝑢 = sdut deviasi ungu

9. Berapa sudut deviasi rata-ratanya?

C. Evaluasi

1. Apa yang dimaksud dengan dispersi?

2. Apakan deviasi warna ungu selalu lebih besar dari warna merah?

3. Mana yang lebih besar indeks biasnya, warna merah atau warna ungu?

4, Tulislah rumus sudut dispersi warna kuning dan merah!

5. Dalam peristiwa apakah fenomena alam seperti percobaan ini dapat Anda amati?
BAB IV

HASIL , ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

𝐵𝑎𝑡𝑎𝑠 𝑈𝑘𝑢𝑟 10°


NST Busur Derajat : 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑆𝑘𝑎𝑙𝑎 = = 1,0°
10

Tabel 4.1 Data Hasil Percobaan

No Sinar Datang Sudut Deviasi Ungu Sudut Deviasi Merah


1 I 41,0° 38,5°
2 II 41,5° 40,0°
3 III 42,5° 41,5°

B. Analisis Data

I. δI = δu – δm III. δI = δu – δm

= 41,0° - 38,5° = 42,5° - 41,5°

= 2,5° = 1,0°

II. δI = δu – δm

= 41,5° - 40,0°

= 1,5°

𝛿𝐼 +𝛿𝐼𝐼 +𝛿𝐼𝐼𝐼
δ̅ =
3

2,5° + 1,5° +1,0°


=
3
5,0°
=
3

= 1,7°

C. Evaluasi

1. Apa yang dimaksud dengan dispersi?

 Dispersi adalah peristiwa penguraian cahaya polikromatik (putih) menjadi


cahaya cahaya monokromatik (me, ji, ku, hi, bi, ni, u) pada prisma
lewat pembiasan atau pembelokan.

2. Apakan deviasi warna ungu selalu lebih besar dari warna merah?

 Iya. Sudut deviasi warna ungu selalu lebih besar dari warna merah

3. Mana yang lebih besar indeks biasnya, warna merah atau warna ungu?

 Indeks bias warna ungu lebih besar daripada indeks bias warna merah

4, Tulislah rumus sudut dispersi warna kuning dan merah!

 δ = δk – δm

5. Dalam peristiwa apakah fenomena alam seperti percobaan ini dapat Anda amati?

 Contoh peristiwa dispersi pada kehidupan sehari-hari adalah pelangi. Pelangi


hanya dapat kita lihat apbila kita membelakangi matahari dan hujan terjadi di
depan kita. Jika seberkas cahaya matahari mengenai titik-titik air yang besar,
maka sinar itu dibiaskan oleh bagian depan permukaan air. Pada saat sinar
memasuki titik air, sebagian sinar akan dipantulkan oleh bagian belakang
permukaan air, kemudian mengenai permukaan depan, dan akhirnya dibiaskan
oleh permukaan depan. Karena dibiaskan, maka sinar ini pun diuraikan
menjadi pektrum matahari.Peristiwa inilah yang kita lihat di langit dan disebut
pelangi.

D. Pembahasan

Pada percobaan dispersi kali ini tujuan percobaan yaitu menentukan besar
daya dispersi. Data percobaan diambil sebanyak 3 kali. Percobaan dilakukan dengan
melukis jalannya sinar yang masuk melalui prisma kemudian mengamati warna-
warna yang tampak akibat pembiasan dari prisma dan mengukur besarnya sudut
deviasi warna ungu dan sudut deviasi warna merah. Adapun untuk mengukur
besarnya disperse digunakan persamaan δ = δu – δm

Dari percobaan diperoleh besarnya sudut deviasi warna ungu dan sudut
deviasi warna merah yaitu:

No Sinar Datang Sudut Deviasi Ungu Sudut Deviasi Merah


1 I 41,0° 38,5°
2 II 41,5° 40,0°
3 III 42,5° 41,5°

Dari hasil analisis data diperoleh besarnya daya dispersi I (δI) = 2,5° , daya

dispersi II (δII) = 1,5° , dan daya dispersi III (δIII) = 1,0° dan untuk daya disperse

rata-rata yaitu 𝛿 ̅ = 1,7°


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Dispersi adalah peristiwa penguraian cahaya polikromatik (putih) menjadi cahaya


cahaya monokromatik (me, ji, ku, hi, bi, ni, u) pada prisma lewat pembiasan atau
pembelokan.

2. Besarnya daya dispersi I (δI) = 2,5° , daya dispersi II (δII) = 1,5° , dan daya

dispersi III (δIII) = 1,0° dan untuk daya dispersi rata-rata yaitu 𝛿 ̅ = 1,7°

B. Saran

Diharapkan untuk praktikan selannjutnya untuk dapat lebih memahami materi


tentang percobaan disperse cahaya agar mempermudah menjalankan pratikum,serta
penggunaan waktu yang disediakan dapat dioptimalkan dengan baik.

Anda mungkin juga menyukai