Anda di halaman 1dari 77

LAMPIRAN I : KEPUTUSAN BPK-RI

NOMOR : 9/K/I-XIII.2/12/2015
TANGGAL : 29 DESEMBER 2015

PETUNJUK PELAKSANAAN
PEMERIKSAAN INVESTIGATIF

BADAN PEMERIKSA KEUANGAN


REPUBLIK INDONESIA
2015
Direktorat Penelitian dan Pengembangan
Badan Pemeriksa Keuangan
Gd. Arsip Lantai II Ruang 216
Jl. Gatot Subroto No. 31
Jakarta Pusat 10210
BUKU 1

PETUNJUK PELAKSANAAN
PEMERIKSAAN INVESTIGATIF

Badan Pemeriksa Keuangan


Republik Indonesia
Daftar Isi Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI i
BAB I PENDAHULUAN
A Latar Belakang ....... 1
B Tujuan ....... 1
C Lingkup ....... 2
D Dasar Hukum Penyusunan ....... 3
E Sistema!ka Penulisan ....... 4

BAB II GAMBARAN UMUM PEMERIKSAAN INVESTIGATIF


A Pendahuluan ....... 5
B Penger!an Pemeriksaan Inves!ga!f ....... 7
C Aksioma dan Prinsip Pemeriksaan
Inves!ga!f ....... 8
D Peraturan Terkait Pemeriksaan Inves!ga!f ....... 11
E Karakteris!k Pemeriksa Inves!ga!f ....... 14
F Keahlian Pemeriksa Inves!ga!f ....... 15
G Tahapan Pemeriksaan Inves!ga!f ....... 16

BAB III PRAPERENCANAAN PEMERIKSAAN INVESTIGATIF


A Umum ....... 17
B Memperoleh Informasi Awal ....... 18
C Menverifikasi Informasi Awal ....... 19
D Menganalisis Informasi Awal ....... 20
E Menyimpulkan Hasil Informasi Awal ....... 22

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan i


Daftar Isi Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

BAB IV PERENCANAAN PEMERIKSAAN INVESTIGATIF


A Umum ....... 25
B Mengembangkan Hipotesis ....... 25
C Menyusun Petunjuk Pemeriksaan
Investigatif ....... 26

BAB V PELAKSANAAN PEMERIKSAAN INVESTIGATIF


A Umum ....... 29
B Mengumpulkan Bukti ....... 29
C Menganalisis dan Mengevaluasi Bukti ....... 34
D Menyusun Konsep Simpulan ....... 37
E Mendiskusikan Konsep Simpulan ....... 38

BAB VI PELAPORAN PEMERIKSAAN INVESTIGATIF


A Umum ....... 41
B Menyusun Konsep Hasil Pemeriksaan ....... 41
Investigatif
C Finalisasi Laporan Hasil Pemeriksaan
Investigatif ....... 44

BAB VII PENUTUP


A Pemberlakuan Petunjuk Pelaksanaan ....... 45
B Pemutakhiran Petunjuk Pelaksanaan ....... 45
C Pemantauan Petunjuk Pelaksanaan ....... 45

GLOSARIUM

ii Badan Pemeriksa Keuangan Direktorat Litbang


BAB I

Badan Pemeriksa Keuangan


Republik Indonesia
Bab I Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
01 Pemeriksaan investigatif merupakan salah Latar Belakang
Penyusunan Juklak
satu jenis pemeriksaan BPK. Tujuan dari Pemeriksaan
pemeriksaan investigatif diantaranya Investigatif
adalah mengungkap indikasi tindak pidana.
Selanjutnya jika pemeriksa menemukan
indikasi tindak pidana, temuan tersebut
akan dilaporkan kepada instansi yang
berwenang.

02 Sejak tahun 2008, BPK menggunakan


Petunjuk Teknis Pemeriksaan Investigatif
Atas Tindak Pidana Korupsi yang
Mengakibatkan Kerugian Negara/Daerah
sebagai pedoman pemeriksaan investigatif.

03 Petunjuk pelaksanaan (juklak) ini disusun


sebagai upaya untuk menyempurnakan
petunjuk teknis di atas. Juklak ini sudah
mengadopsi perubahan-perubahan yang
dipandang perlu, baik menyangkut tujuan,
lingkup, maupun isi dari metodologi
pemeriksaan investigatif.

B. Tujuan
Tujuan Juklak
04 Tujuan disusunnya juklak ini adalah untuk: Pemeriksaan
1. Memberikan pedoman kepada Investigatif
pemeriksa sehingga terdapat
pemahaman yang sama atas

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 1


Bab I Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

pemeriksaan investigatif mulai dari


tahap praperencanaan, perencanaan,
pelaksanaan, dan pelaporan. Selanjut-
nya hasil pemeriksaan investigatif dapat
segera ditindaklanjuti oleh instansi
yang berwenang;
2. Mengefektifkan pelaksanaan pemerik-
saan investigatif agar mencapai hasil
pemeriksaan yang optimal sesuai
dengan standar pemeriksaan.

C. Lingkup
lingkup juklak 05 Lingkup juklak ini adalah pemeriksaan
investigatif guna mengungkap penyimpang-
an yang berindikasi tindak pidana pada
pengelolaan dan tanggung jawab keuangan
negara (selanjutnya disebut sebagai
Pemeriksaan Investigatif), mulai dari tahap
praperencanaan hingga tahap pelaporan.

Pemeriksaan 06 Pemeriksaan investigatif yang diatur


Investigatif
dalam juklak ini adalah pemeriksaan yang
dilakukan sesudah ditemukannya indikasi
awal penyimpangan yang berindikasi tindak
pidana (PITP) dalam lingkup pengelolaan
dan tanggung jawab keuangan negara.

Penyimpangan yang 07 PITP adalah istilah yang dipakai sebagai


Berindikasi Tindak
Pidana (PITP)
payung dari berbagai macam fraud
(kecurangan). Contoh PITP antara lain:
1. menyuap pejabat negara;
2. menyalahgunakan wewenang;
3. melakukan korupsi;
4. menggelapkan aset; dan
5. melakukan kecurangan atas laporan
keuangan.
2 Badan Pemeriksa Keuangan Direktorat Litbang
Bab I Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

08 Juklak ini tidak mengatur metodologi


pemeriksaan investigatif guna menghitung
kerugian negara serta pedoman
manajemen pemeriksaan investigatif dan
pemberian keterangan ahli.

09 Juklak ini tidak mengatur hal-hal yang


bersifat teknis dalam pemeriksaan.
Petunjuk secara rinci dalam beberapa
langkah dalam juklak ini diuraikan pada
petunjuk-petunjuk teknis yang terkait.

D. Dasar Hukum Penyusunan

10 Dasar hukum penyusunan Juklak ini adalah:


1. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004
tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara
(Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 66, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2004 Nomor 4400);
2. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2006
tentang Badan Pemeriksa Keuangan
Republik Indonesia (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor
85, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2006 Nomor
4654);
3. Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan
Nomor 01 Tahun 2007 tentang Standar
Pemeriksaan Keuangan Negara
(Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 42, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia
Tahun 2007 Nomor 4707);

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 3


Bab I Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

4. Surat Keputusan Badan Pemeriksa


Keuangan Nomor 31/SK/I-
VIII.3/8/2006 tentang Tata Cara
Pembentukan Peraturan, Keputusan,
dan Naskah Dinas Pada Badan
Pemeriksa Keuangan Republik
Indonesia;
5. Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan
Nomor 09/K/I-XIII.2/7/2008 tentang
Petunjuk Pelaksanaan Tata Cara
Penyusunan atau Penyempurnaan
Pedoman Pemeriksaan dan Non
Pemeriksaan; dan
6. Keputusan Badan Pemeriksa Keuangan
Nomor 3/K/I-XIII.2/7/2014 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Pelaksana
Badan Pemeriksa Keuangan Republik
Indonesia.

E. Sistematika Penulisan
11 Juklak ini disusun dengan sistematika
penyajian sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan
Bab II Gambaran Umum
Pemeriksaan Investigatif
Bab III Praperencanaan Pemeriksaan
Investigatif
Bab IV Perencanaan Pemeriksaan
Investigatif
Bab V Pelaksanaan Pemeriksaan
Investigatif
Bab VI Pelaporan Pemeriksaan
Investigatif
Bab VII Penutup

4 Badan Pemeriksa Keuangan Direktorat Litbang


BAB II

Badan Pemeriksa Keuangan


Republik Indonesia
Bab II Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

BAB II
GAMBARAN UMUM
PEMERIKSAAN INVESTIGATIF

A. Pendahuluan
01 Secara metodologi pemeriksaan investigatif
adalah pemeriksaan yang dirancang
untuk menemukan penyimpangan yang
berindikasi tindak pidana.

02 Penyimpangan adalah tindakan di luar Definisi


Penyimpangan
ukuran (kaidah) yang berlaku.

03 Dalam konteks ilmu hukum, penyimpa- Penyimpangan


dalam Ilmu Hukum
ngan dikenal sebagai Perbuatan Mela-
wan Hukum, yaitu perbuatan yang
bertentangan dengan hukum pada
umumnya. Pada hakekatnya perbuatan
melawan hukum adalah perbuatan yang
melanggar ketentuan baik tertulis maupun
tidak tertulis berupa kepatutan dalam
masyarakat.

04 Penyimpangan dalam konteks ilmu audit Penyimpangan dalam


dibedakan menjadi dua, yaitu kekeliruan Ilmu Audit

(error) dan kecurangan (fraud). Hal yang


membedakan antara kedua penyimpangan
tersebut antara lain unsur kesengajaan.

05 Kecurangan adalah setiap tindakan, Definisi Kecurangan


pernyataan, penghilangan atau penyem-
bunyian yang dilakukan untuk mengelabui
pihak lain, khususnya salah saji atau
penyembunyian fakta material atas

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 5


Bab II Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

suatu transaksi yang diketahui palsu


atau kecerobohan yang mengakibatkan
ketidaksesuaian dengan kenyataan dan
dengan sengaja mengelabui pihak lain
sehingga menanggung kerugian sebagai
akibatnya (Merriam-Webster Dictionary of
Law).

Penyebab Kecurangan 06 Empat faktor yang menjadi penyebab


kecurangan, yaitu motivasi (motivation),
kesempatan (opportunity), rasionalisasi
(rationalization), serta kemampuan
(capability).

07 Motivasi pelaku untuk melakukan


kecurangan sangat beragam, mulai dari
alasan ekonomi, tekanan dari atasan,
sampai balas dendam. Adanya kesempatan
bagi pelaku untuk melakukan tindakan
curang terkait dengan lemahnya sistem
pengendalian intern entitas yang diperiksa.
Rasionalisasi terkait dengan pembenaran
diri si pelaku terkait dengan budaya di
entitas yang diperiksa, misalnya tidak
adanya hukuman setimpal yang diberikan
atas kecurangan yang diperiksa atau
keyakinan untuk mengembalikan aset
yang diambil. Ketiga penyebab tersebut
hanya akan terlaksana apabila pelaku
memiliki kemampuan untuk melakukan
tindakan kecurangan, misalnya keahlian
teknologi yang memudahkan pelaku untuk
memalsukan dokumen.

08 Suatu kecurangan dalam pengelolaan dan


tanggung jawab keuangan negara disebut
6 Badan Pemeriksa Keuangan Direktorat Litbang
Bab II Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

sebagai tindak pidana, jika perbuatan


tersebut dinyatakan sebagai tindak pidana
oleh undang-undang. Jenis-jenis tindak
pidana menurut undang-undang antara
lain tindak pidana korupsi, perbankan,
perpajakan, dan kepabeanan.

B. Pengertian Pemeriksaan Investigatif

09 Terminologi pemeriksaan investigatif Pemeriksaan


Investigatif dan
dalam juklak ini identik dengan terminologi Akuntansi Forensik
akuntansi/pemeriksaan forensik yang
digunakan dalam berbagai literatur, yaitu
aplikasi keterampilan/keahlian keuangan/
akuntansi dan cara berpikir investigatif
untuk memecahkan masalah-masalah
hukum. Hal ini memiliki makna bahwa
hasil pemeriksaan investigatif dapat
dijadikan alat bukti untuk suatu tuntutan
di pengadilan atau di luar pengadilan.
Sebagai disiplin ilmu, pemeriksaan
investigatif mencakup keahlian keuangan,
pengetahuan bisnis, pengetahuan tentang
kecurangan, teknologi informasi, serta
pemahaman akan sistem hukum.

10 Pemeriksaan investigatif dapat diman- Pemanfaatan


Pemeriksaan
faatkan dalam berbagai bidang yaitu Investigatif
pemeriksaan atas kecurangan (fraud
examination), proses litigasi, penghitungan
kerugian, penelusuran dan penilaian
aset, serta reviu bisnis. Pemeriksaan
investigatif menerapkan teknik-teknik
untuk merekonstruksi suatu peristiwa
atau transaksi untuk memastikan fakta
mengenai “siapa, apa, dimana, kapan,

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 7


Bab II Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

mengapa, dan kerugian yang dapat dinilai


dalam bentuk uang” di sekitar lingkungan
kejadian atau transaksi yang sedang
diperiksa.

Tujuan Pemeriksaan 11 Pemeriksaan investigatif bertujuan untuk


Investigatif
mengungkap adanya indikasi tindak pidana.

C. Aksioma Dan Prinsip Pemeriksaan Investigatif


Aksioma Pemeriksaan 12 1. Aksioma Pemeriksaan Investigatif
Investigatif
Pernyataan dalam pemeriksaan investi-
gatif antara lain:
a. Tidak sama dengan kejahatan
lainnya, pada hakikatnya PITP itu
disembunyikan keberadaannya.
Perampok bank menggunakan
ancaman atau paksaan, sementara
pelaku PITP perbankan tidak saja
mencuri uang bank, tetapi juga
menutupi jejak pencuriannya.
Ada banyak cara untuk menyembu-
nyikan PITP sehingga dibutuhkan
teknik pemeriksaan yang
nonkonvensional sesuai dengan
kewenangan, misalnya dengan
menggunakan keahlian komputer
forensik (forensic computer).

b. Terkait dengan perolehan bukti,


pemeriksan melakukan pembuk-
tian 2 (dua) sisi (reverse proof).
Untuk membuktikan bahwa PITP
telah terjadi, pemeriksa juga
mencoba membuktikan bahwa PITP
tidak terjadi. Karena melakukan
pembuktian dua sisi, pemeriksa
8 Badan Pemeriksa Keuangan Direktorat Litbang
Bab II Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

harus memperoleh informasi/data


baik yang bersifat memberatkan
maupun yang meringankan
pelaku. Artinya, dalam melakukan
pembuktian, seorang pemeriksa
mempertimbangkan kemungkinan
adanya penyangkalan dari pihak
lain.
c. Penetapan adanya tindak pidana
adalah mutlak kewenangan
pengadilan. Dalam pelaksanaan
pemeriksaan, tanggung jawab
pemeriksa adalah mengungkap
fakta dan proses kejadian.
Oleh karena itu, pemeriksa tidak boleh
menyatakan pendapat mengenai salah atau
tidak bersalahnya seseorang atau pihak
tertentu. Dengan asumsi bahwa kasus
akan dilimpahkan ke tingkat litigasi maka
dalam melakukan pemeriksaan seorang
pemeriksa harus mempertimbangkan
kemungkinan- kemungkinan yang terjadi
di persidangan.

13 2. Prinsip Pemeriksaan Investigatif


Pelaksanaan pemeriksaan investigatif
memerlukan penerapan kecerdasan,
pertimbangan yang sehat dan
pengalaman, serta pemahaman
terhadap ketentuan perundang- Prinsip Pemeriksaan
Investigatif
undangan dan prinsip-prinsip pemerik-
saan investigatif guna memecahkan
masalah yang dihadapi. Beberapa
prinsip dalam melakukan pemeriksaan
yang perlu diperhatikan adalah:

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 9


Bab II Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

a. Pemeriksaan harus dilandasi


praktik-praktik terbaik yang diakui,
dengan cara membandingkan antar
praktik yang ada dengan merujuk
kepada yang terbaik pada saat itu.
Upaya ini dilakukan terus menerus
untuk mencari solusi terbaik.
b. Pemeriksaan investigatif adalah
upaya mencari kebenaran, dengan
memperhatikan keadilan dan
berdasarkan pada ketentuan
peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
c. Kegiatan pemeriksaan termasuk
pengumpulan bukti-bukti dengan
prinsip kehati-hatian sehingga
bukti tersebut dapat diterima di
pengadilan.
d. Pastikan bahwa seluruh dokumen-
tasi dalam keadaan aman,
terlindungi dan diberi indeks
dan jejak pemeriksaan tersedia.
Hal ini diperlukan jika dokumen
digunakan sebagai referensi atas
penyidikan kasus di kemudian hari.
e. Pastikan bahwa pemeriksa
investigatif mengerti hak-hak
asasi manusia dan senantiasa
menghormatinya guna menghin-
dari kemungkinan penuntutan dari
yang bersangkutan.
f. Semakin dekat selang waktu antara
terjadinya penyimpangan dengan
saat meresponnya, kemungkinan
peluang penyimpangan dapat
terungkap semakin besar.

10 Badan Pemeriksa Keuangan Direktorat Litbang


Bab II Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

g. Pelaksanaan pemeriksaan
harus dapat mengumpulkan
fakta-fakta sehingga bukti yang
diperoleh dapat memberikan
kesimpulan sendiri, yaitu telah
terjadi penyimpangan dan
pihak yang diindikasikan terlibat
teridentifikasi.
h. Informasi yang diperoleh dari hasil
wawancara akan dipengaruhi oleh
daya ingat pemberi informasi.
Sepanjang diperlukan, pernyataan
dan keterangan yang diberikan
oleh pemberi informasi sebaiknya
dimintakan konfirmasi kembali.
i. Jawaban yang benar akan
diperoleh jika pertanyaan yang
diajukan cukup jumlahnya dan
pertanyaan tersebut disampaikan
kepada orang yang juga cukup
jumlahnya.
j. Karena informasi sangat penting
dalam pemeriksaan investigatif,
maka segala kemungkinan upaya
untuk memperoleh informasi
harus dipertimbangkan.

D. Peraturan Terkait Pemeriksaan Investigatif

14 1. Peraturan Terkait Pemeriksaan Peraturan terkait


Pemeriksaan
Investigatif antara lain:
Investigatif
a. Pasal 13 Undang-Undang Nomor
15 Tahun 2004 yang mengatur
kewenangan BPK untuk melakukan
pemeriksaan investigatif.
b. Pasal 10, Pasal 24 ayat (1), (2), (4)

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 11


Bab II Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

Undang-Undang Nomor 15 Tahun


2004 Jo. Pasal 9 ayat (1) huruf b,
c, dan d Undang-Undang Nomor
15 Tahun 2006 yang mengatur
kewenangan meminta informasi
atau dokumen.
c. Pasal 10 huruf d, Pasal 11, Pasal 24
ayat (3) Undang-Undang Nomor
15 Tahun 2004 yang mengatur
permintaan keterangan dan
pemanggilan.
d. Pasal 11 huruf c Undang-Undang
Nomor 15 Tahun 2006 yang
mengatur pemberian keterangan
ahli tentang kerugian negara dalam
proses pengadilan.
e. Pasal 16 ayat (3) dan Pasal 17 ayat
(5) Undang-Undang Nomor 15
Tahun 2004 yang mengatur laporan
hasil pemeriksaan.
f. Pasal 25 ayat (1), (2), dan Pasal 26
ayat (1) Undang-Undang Nomor
15 Tahun 2004 serta Pasal 36 ayat
(1), (2) Undang-Undang Nomor 15
Tahun 2006 yang mengatur tentang
sanksi pidana bagi pemeriksa dan
anggota BPK.

Peraturan terkait 15 2. Peraturan terkait tindak pidana khusus


Tindak Pidana Khusus
antara lain:
a. Undang-Undang Nomor 31 Tahun
1999 tentang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi sebagaimana
telah diubah dengan Undang-
Undang Nomor 20 Tahun 2001.
12 Badan Pemeriksa Keuangan Direktorat Litbang
Bab II Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

b. Undang-Undang Nomor 7
Tahun 1992 tentang Perbankan
sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 10 Tahun
1998 dan Undang-Undang Nomor
23 Tahun 1999 tentang Bank
Indonesia sebagaimana telah
diubah terakhir dengan Undang-
Undang Nomor 6 Tahun 2009
tentang Penetapan Peraturan
Pemerintah Pengganti Undang-
Undang Nomor 2 Tahun 2008
tentang Perubahan Kedua Atas
Undang-Undang Nomor 23 Tahun
1999 tentang Bank Indonesia
Menjadi Undang-Undang.
c. Undang-Undang Nomor 6
tahun 1983 tentang Ketentuan
Umum dan Tata Cara Perpajakan
sebagaimana diubah beberapa kali
terakhir dengan Undang-Undang
Nomor 16 Tahun 2009.
d. Undang-Undang Nomor 10
Tahun 1995 tentang Kepabeanan
sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 17 Tahun
2006.
e. Undang-Undang Nomor 8 Tahun
2010 tentang Pencegahan dan
Pemberantasan Tindak Pidana
Pencucian Uang.
f. Undang-Undang Nomor 8 Tahun
1995 tentang Pasar Modal.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 13


Bab II Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

Peraturan terkait 16 3. Peraturan terkait proses penegakan


Penegakan Hukum
hukum antara lain:
a. Undang-Undang Nomor 8 Tahun
1981 tentang Hukum Acara Pidana.
b. Undang-Undang Nomor 2 Tahun
2002 tentang Kepolisian.
c. Undang-Undang Nomor 16 Tahun
2004 tentang Kejaksaan.
d. Undang-Undang Nomor 14 Tahun
1985 tentang Mahkamah Agung
sebagaimana telah diubah dengan
Undang-Undang Nomor 3 Tahun
2009.
e. Undang-Undang Nomor 48
Tahun 2009 tentang Kekuasaan
Kehakiman.

E. Karakteristik Pemeriksa Investigatif


Karakteristik 17 Karakteristik yang harus dimiliki oleh
Pemeriksa Investigatif
seorang pemeriksa investigatif adalah:
1. Kreatif (creative). Kemampuan untuk
melihat sesuatu, yang orang lain
menganggap situasi tersebut adalah
normal. Dengan interpretasinya ia
yakin bahwa situasi tersebut adalah
tidak normal.
2. Rasa ingin tahu (curious). Keinginan
untuk menemukan apa yang
sesungguhnya terjadi dalam rangkaian
situasi.
3. Pantang menyerah (persistance).
Kemampuan untuk maju terus pantang
mundur walaupun fakta (seolah-olah)
tidak mendukung, ketika dokumen atau
informasi sulit diperoleh.

14 Badan Pemeriksa Keuangan Direktorat Litbang


Bab II Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

4. Daya nalar (common sense).


Kemampuan untuk menggunakan
daya nalar dan logika berfikir untuk
menghubungkan penyimpangan yang
terjadi dengan unsur kesengajaan.
5. Pengetahuan bisnis (business
accumen). Kemampuan untuk
memahami bagaimana bisnis
sesungguhnya berjalan, dan bukan
sekedar memahami bagaimana
transaksi dicatat.
6. Percaya diri (self confidence).
Kemampuan untuk mempercayai
diri akan temuannya, sehingga dapat
bertahan pada saat diuji dengan
pertanyaan silang dari Jaksa Penuntut
Umum dan Pembela.
F. Keahlian Pemeriksa Investigatif
18 Keahlian-keahlian yang harus dimiliki Keahlian Kolektif
Pemeriksa Investigatif
pemeriksa investigatif secara kolektif,
antara lain:
1. mengidentifikasi kecurangan walaupun
dengan informasi awal yang minim;
2. mengidentifikasi masalah-masalah
keuangan yang terkait dengan aduan-
aduan kecurangan;
3. memahami dan menerapkan teknik-
teknik investigatif;
4. memahami bukti yang dapat diakui
sebagai bukti hukum;
5. menginterpretasikan berbagai infor-
masi keuangan tanpa bias;
6. mengkomunikasikan temuan-temuan
pemeriksaan dengan baik; dan
7. memahami dengan baik ilmu

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 15


Bab II Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

akuntansi, auditing, hukum, teknologi


informasi, dan lain-lain.

G. Tahapan Pemeriksaan Investigatif

19 Tahapan pemeriksaan investigatif dapat


dijelaskan dalam bagan arus berikut:

20 Bab-bab selanjutnya akan membahas


tahapan pemeriksaan investigatif di atas.

16 Badan Pemeriksa Keuangan Direktorat Litbang


BAB III

Badan Pemeriksa Keuangan


Republik Indonesia
Bab III Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

BAB III
PRAPERENCANAAN
PEMERIKSAAN INVESTIGATIF

A. Umum
01 Ruang lingkup dari pemeriksaan investigatif Ruang Lingkup
Pemeriksaan
guna mengungkap PITP adalah PITP yang Investigatif
terjadi dalam pengelolaan dan tanggung
jawab keuangan negara, seperti tindak
pidana korupsi, tindak pidana di bidang
perpajakan, tindak pidana di bidang
perbankan, tindak pidana di pasar modal,
dan lain-lain.

02 Pemeriksaan investigatif hanya dilakukan


ketika terdapat predikasi yang memadai.
Predikasi tersebut dapat berasal dari
temuan pemeriksaan non investigatif,
informasi pihak internal, maupun eksternal
BPK.

03 Dalam pemeriksaan investigatif, pemeriksa Penelusuran Fakta


terkait PITP atau
harus melakukan penelusuran yang Kerugian Negara
mengarah pada upaya menemukan fakta
yang dapat mengungkap adanya PITP dan/
atau kerugian negara.

04 Tujuan praperencanaan pemeriksaan Tujuan


Praperencanaan
investigatif adalah untuk menetapkan Pemeriksaan
adanya alasan (predikasi) yang cukup kuat Investigatif
dan akurat sehingga pemeriksaan dapat
dilaksanakan dengan objektif dan dapat
dipertanggungjawabkan.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 17


Bab III Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

Tahap 05 Tahap praperencanaan pemeriksaan


Praperencanaan
Pemeriksaan investigatif meliputi kegiatan-kegiatan
Investigatif berikut:
1. memperoleh informasi awal;
2. memverifikasi informasi awal;
3. menganalisis informasi awal; dan
4. menyimpulkan hasil analisis informasi
awal.

Tahap praperencanaan dikenal juga sebagai


penelaahan informasi awal

B. Memperoleh Informasi Awal


Informasi Awal 06 Informasi awal adalah keterangan
permulaan mengenai suatu PITP.

07 Tidak semua informasi yang diterima


sebagai dasar pelaksanaan pemeriksaan
investigatif memiliki keandalan dan
validitas yang sama. Oleh karena itu,
untuk setiap informasi awal yang diterima
perlu dilakukan verifikasi dan analisis atas
informasi awal terlebih dahulu.

Sumber Informasi 08 Informasi awal dapat bersumber dari luar


Awal
maupun dalam BPK. Sumber internal dapat
berupa Temuan Pemeriksaan (TP), Laporan
Hasil Pemeriksaan (LHP), dan inisiatif Badan.
Sumber eksternal misalnya permintaan
instansi berwenang, instansi pemerintah,
Dewan Perwakilan Rakyat/Daerah (DPR/D),
LHP Aparat Pengawas Intern Pemerintah,
dan pengaduan masyarakat.

18 Badan Pemeriksa Keuangan Direktorat Litbang


Bab III Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

C. Menverifikasi Informasi Awal


09 Informasi awal mengenai PITP biasanya
memuat hal-hal yang bersifat umum, tidak
menjelaskan secara rinci masalah yang
terjadi, dan cenderung memuat informasi
yang tendensius, berpihak, memiliki motif
yang tidak sehat dan subjektif, sehingga
tingkat keandalan dan validitas informasi
bisa (1) sangat mungkin terjadi, (2)
mungkin terjadi, (3) diragukan, dan (4) tidak
mungkin terjadi. Oleh karena itu informasi
ini harus ditangani secara objektif.

10 Berikut adalah hal-hal yang harus menjadi Substansi Informasi


Awal
acuan pemeriksa dalam memverifikasi
informasi awal:
1. Kewenangan BPK
Pemeriksa harus yakin bahwa PITP
terjadi pada lingkup pengelolaan
dan pertanggungjawaban keuangan
negara.
2. Nilai Kebenaran
Pemeriksa harus yakin bahwa informasi
awal berasal dari sumber informasi
yang handal dan memiliki validitas
informasi yang tinggi. Misalnya:
informasi awal yang diperoleh dari
pengembangan temuan AKN adalah
berasal dari sumber informasi yang
“sangat diandalkan”, dan memiliki
validitas informasi yang “tinggi”.
Sedangkan informasi yang diperoleh
dari seseorang tanpa identitas adalah
berasal dari sumber yang “tidak
diketahui” dan memiliki validitas

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 19


Bab III Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

informasi yang “rendah”.


3. Kelengkapan Informasi
Pemeriksa harus yakin apakah informasi
awal yang diperoleh telah didukung
dengan data pendukung yang memadai.
D. Menganalisis Informasi Awal
Tujuan Analisis 11 Tujuan menganalisis informasi awal adalah
Informasi Awal
menjelaskan seluruh informasi awal ke
dalam pendekatan 5W + 1H/2H.

Pendekatan dalam 12 Selain dengan menggunakan pendekatan


Menganalisis 5W + 1H/2H dalam menganalisis informasi
Informasi Awal
awal yang diterima, pemeriksa juga
menggunakan laporan-laporan BPK yang
terdahulu yang relevan untuk menetapkan
cukup tidaknya alasan dilakukan
pemeriksaan.

Hasil Analisis 13 Hasil analisis informasi awal mencakup


Informasi Awal
unsur 5W + 1H/2H
1. Pihak-pihak yang bertanggung jawab
(who)
Dengan menjawab pertanyaan “who”
diharapkan pemeriksa memperoleh
informasi tentang pihak-pihak yang
bertanggung jawab atas PITP yang
terjadi atau pihak-pihak terkait yang
akan dimintakan keterangannya.
2. Jenis PITP (what)
Dengan menjawab pertanyaan “what”
diharapkan pemeriksa memperoleh
informasi tentang substansi PITP yang
dilaporkan. Informasi ini akan berguna
pada saat pengembangan hipotesis
awal untuk menetapkan jenis PITP.

20 Badan Pemeriksa Keuangan Direktorat Litbang


Bab III Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

3. Di mana terjadinya (where)


Dengan menjawab pertanyaan “where”
diharapkan pemeriksa memperoleh
informasi tentang dimana PITP terjadi,
khususnya entitas/unit kerja dimana
PITP terjadi. Informasi ini amat
berguna pada saat menetapkan ruang
lingkup pemeriksaan investigatif dan
juga membantu pada saat menentukan
locus delicti (tempat terjadinya PITP).
4. Waktu terjadinya PITP (when)
Dengan menjawab pertanyaan “when”
diharapkan pemeriksa memperoleh
informasi tentang kapan terjadinya
PITP. Informasi ini akan berguna
dalam penetapan ruang lingkup
pemeriksaan investigatif. Penentuan
tempus delicti (waktu terjadinya PITP)
akan membantu pemeriksa dalam
memahami ketentuan yang akan
digunakan.
5. Penyebab terjadinya PITP (why)
Dengan menjawab pertanyaan “why”
diharapkan pemeriksa memperoleh
informasi tentang mengapa seseorang
melakukan PITP. Hal ini terkait dengan
motivasi seseorang melakukan
kecurangan sehingga dapat membantu
pemeriksa dalam membuktikan adanya
unsur niat seseorang melakukannya.
6. Modus operandi PITP (how)
Dengan menjawab pertanyaan “how”
diharapkan pemeriksa memperoleh
informasi tentang bagaimana PITP itu
dilakukan. Informasi ini akan membantu
pemeriksa dalam menyusun modus

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 21


Bab III Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

operandi PITP tersebut.


7. Kerugian yang dapat dinilai dalam
bentuk uang dari PITP (how much)
Pemeriksa melakukan evaluasi atas
kerugian yang dapat dinilai dalam
bentuk uang (how much). Unsur how
much dapat menjadi substitusi dari
unsur how.

14 Pemeriksa dapat mengusulkan untuk


menyampaikan informasi awal yang
berasal dari TP/LHP kepada instansi yang
berwenang, jika hasil analisis menunjukkan
bahwa informasi awal tersebut telah
mengungkap secara jelas PITP (5W+1H/2H).
Sebelum menyampaikan kepada instansi
berwenang, pemeriksa memaparkan
terlebih dahulu kepada instansi berwenang
TP/LHP tersebut.

Informasi Tambahan 15 Jika dari hasil analisis dianggap perlu


untuk mendapatkan informasi tambahan,
pemeriksa dapat melakukan pengumpulan
informasi tambahan melalui pemeriksaan
pendahuluan dengan mempertimbangkan
faktor-faktor antara lain:
1. sensitivitas isu tersebut;
2. kecenderungan PITP di tempat lain; dan
3. kemungkinan kemudahan mendapat-
kan tambahan informasi yang
diperlukan.
4.
E. Menyimpulkan Hasil Informasi Awal
Simpulan Analisis 16 Hasil analisis informasi awal dituangkan
Informasi Awal dalam suatu laporan hasil penelaahan
informasi awal, yang berisi simpulan

22 Badan Pemeriksa Keuangan Direktorat Litbang


Bab III Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

sebagai berikut:
1. cukup alasan untuk dilakukan
pemeriksaan investigatif dengan syarat
telah terpenuhi minimum unsur 4W +
1H (Who, What, Where, When, dan
How/How Much); dan
2. tidak cukup alasan untuk dilakukan
pemeriksaan investigatif karena tidak
memenuhi syarat.

17 Laporan hasil analisis informasi awal


disampaikan juga kepada AKN terkait
sebagai bahan untuk pemeriksaan
keuangan, kinerja, maupun PDTT.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 23


Bab III Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

24 Badan Pemeriksa Keuangan Direktorat Litbang


BAB IV

Badan Pemeriksa Keuangan


Republik Indonesia
Bab IV Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

BAB IV
PERENCANAAN
PEMERIKSAAN INVESTIGATIF

A. Umum
01 Tujuan perencanaan pemeriksaan Tujuan Perencanaan
Pemeriksaan
investigatif adalah agar pelaksanaan Investigatif
pemeriksaan investigatif berjalan efisien
dan efektif serta mencapai tujuan.

02 Tahap perencanaan pemeriksaan Tahap Perencanaan


Pemeriksaan
investigatif mencakup: Investigatif
1. mengembangkan hipotesis; dan
2. menyusun petunjuk pemeriksaan
investigatif.

B. Mengembangkan Hipotesis
03 Hipotesis adalah kesimpulan sementara Hipotesis
berdasarkan hasil penelaahan informasi
awal atas PITP.

04 Hipotesis juga merupakan pernyataan


sementara yang bersifat prediksi dari
hubungan antara dua atau lebih variabel
yang berguna untuk:
1. memberikan batasan serta memper-
sempit ruang lingkup pemeriksaan
investigatif;
2. mempersiapkan pemeriksa terhadap
semua fakta dan hubungan antar fakta
yang telah teridentifikasi;
3. sebagai alat yang sederhana dalam
membangun fakta-fakta yang tercerai-

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 25


Bab IV Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

berai tanpa koordinasi ke dalam suatu


kesatuan penting dan menyeluruh; dan
4. sebagai panduan dalam pengujian serta
penyesuaian fakta dan antar fakta.

05 Hipotesis yang masih bersifat umum


selanjutnya diuraikan menjadi beberapa
hipotesis yang lebih spesifik. Pemeriksa
dapat menyusun lebih dari satu hipotesis.

06 Setelah memahami predikasi jenis PITP,


mendapatkan informasi umum dari media
massa terkait dengan kasus yang diperiksa,
serta memperoleh dan mempelajari laporan
pemeriksaan BPK, pemeriksa menyusun
hipotesis secara singkat dan jelas.

Isi Hipotesis 07 Hipotesis berisi kemungkinan:


1. jenis PITP yang terjadi;
2. siapa/pihak yang terkait;
3. dimana PITP terjadi;
4. kurun waktu terjadinya; dan
5. bagaimana PITP terjadi.
Unsur mengapa (why) dan kerugian yang
dapat dinilai dalam bentuk uang (how
much) biasanya akan terjawab dalam tahap
pelaksanaan pemeriksaan.

C. Menyusun Petunjuk Pemeriksaan Investigatif


Tujuan Penyusunan 08 Tujuan penyusunan petunjuk pemeriksaan
Petunjuk Pemeriksaan
Investigatif
investigatif adalah untuk menentukan
langkah-langkah pemeriksaan dalam
rangka membuktikan hipotesis. Petunjuk
pemeriksaan merupakan bagian dari
Program Pemeriksaan (P2). Bentuk P2

26 Badan Pemeriksa Keuangan Direktorat Litbang


Bab IV Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

mengacu kepada Manajemen Pemeriksaan


Investigatif, Penghitungan Kerugian Nega-
ra, dan Pemberian Keterangan Ahli.

09 Petunjuk pemeriksaan investigatif minimal Isi Petunjuk


Pemeriksaan
mencakup empat hal berikut: Investigatif
1. situasi;
2. tujuan;
3. rencana langkah; dan
4. komunikasi.

10 Situasi mencakup:
1. Masalah
a. Pernyataan situasi atau permasa-
lahan yang memuat substansi PITP
yang dilaporkan atau telah terjadi
dan bagaimana keadaannya pada
saat ini.
b. Penyampaian data/bukti pendu-
kung, fakta-fakta atau informasi
tambahan yang menyertai PITP
yang dilaporkan atau yang telah
terjadi dengan pendekatan
terpenuhinya unsur 5W + 1H/2H
dan unsur PITP.
2. Analisis Masalah
a. Permasalahan yang dikemukakan
beserta bukti atau informasi yang
menyertai, diuraikan dan dianalisis
lebih lanjut guna memperkuat
gambaran substansi PITP yang
telah terjadi yang nantinya akan
dibuktikan.
b. Analisis masalah merupakan dasar
dirumuskannya hipotesis, lebih
lanjut diuraikan ke dalam langkah-

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 27


Bab IV Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

langkah pemeriksaan investigatif.


3. Simpulan
a. Merupakan simpulan atas analisis
masalah yang telah dibuat.
b. Mencantumkan hipotesis semen-
tara secara rinci yang nantinya
dibuktikan melalui pelaksanaan
pemeriksaan investigatif.

11 Tujuan
Tujuan pemeriksaan investigatif adalah
untuk mengungkap adanya PITP
sebagaimana dirumuskan dalam hipotesis
awal. Tujuan ini dituangkan dalam
suatu pernyataan yang secara ringkas
menggambarkan hal-hal yang diharapkan
akan dicapai dalam pelaksanaan
pemeriksaan. Dalam suatu kasus yang
kompleks, tujuan dapat dijabarkan lebih
lanjut ke dalam sub-sub komponen yang
saling terkait untuk mencapai tujuan secara
keseluruhan.

12 Rencana Langkah
Rencana langkah pemeriksaan investigatif
berisi penjabaran langkah-langkah
pemeriksaan investigatif yang akan
dilakukan guna mencapai tujuan yang telah
ditetapkan.

13 Komunikasi
Bagian ini menyajikan matriks komunikasi
yang menguraikan secara rinci mengenai
arus informasi (siapa melapor kepada
siapa), waktu pelaporan serta kepada siapa
laporan harus diserahkan.

28 Badan Pemeriksa Keuangan Direktorat Litbang


BAB V

Badan Pemeriksa Keuangan


Republik Indonesia
Bab V Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

BAB V
PELAKSANAAN
PEMERIKSAAN INVESTIGATIF

A. Umum
01 Pada tahap ini pemeriksa investigatif
telah memiliki hipotesis awal yang berisi
mengenai: apa, siapa, dimana, kapan, dan
bagaimana PITP dilakukan/kerugian yang
dapat dinilai dalam bentuk uang yang
terjadi.

02 Tujuan pelaksanaan pemeriksaan Tujuan Pelaksanaan


Pemeriksaan
investigatif adalah mengumpulkan bukti Investigatif
untuk mendukung hipotesis.

03 Tahap pelaksanaan pemeriksaan inves- Tahap Pelaksanaan


tigatif meliputi: Pemeriksaan
1. mengumpulkan bukti; Investigatif

2. menganalisis dan mengevaluasi bukti;


3. menyusun konsep simpulan; dan
4. mendiskusikan konsep simpulan.

B. Mengumpulkan Bukti
04 Pelaksanaan pengumpulan bukti bertujuan Tujuan Pengumpulan
Bukti
untuk melengkapi bukti pemeriksaan yang
diperlukan dalam rangka mengungkap:
1. fakta dan proses kejadian;
2. sebab dan akibat PITP; dan
3. pihak yang diduga terkait PITP.
Pada saat pemeriksa mengumpulkan
bukti, pemeriksa harus terlebih dahulu
memahami jenis-jenis bukti pemeriksaan

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 29


Bab V Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

yang harus dikumpulkan dan keterkaitan


antara jenis bukti dengan alat bukti
menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun
1981 tentang Hukum Acara Pidana dan
alat bukti menurut Undang-Undang Nomor
11 Tahun 2008 tentang Informasi dan
Transaksi Elektronik. Pengumpulan bukti
dilakukan berdasarkan hipotesis yang
disusun pemeriksa.

Strategi Pembuktian 05 Strategi pembuktian adanya PITP umumnya


PITP
meliputi tiga langkah dasar, yaitu:
1. Pemeriksa membangun kasus secara
menyeluruh melalui wawancara dan
menganalisis dokumen yang tersedia.
2. Pemeriksa menggunakan bukti tidak
langsung untuk mengidentifikasikan
kasus dan berupaya mendapatkan bukti
langsung untuk membangun kasus.
3. Pemeriksa meminta keterangan kepada
pihak terkait guna mengungkap kasus,
mengidentifikasikan pelaku, dan
mengungkap adanya unsur kesengajaan
(intent) pelaku.

Teknik Pemeriksaan 06 Teknik Pemeriksaan


Dalam upaya mengungkap PITP yang
sudah dirumuskan dalam hipotesis awal,
pemeriksa dapat mengumpulkan bukti
dengan teknik pemeriksaan sebagai berikut:
1. Inspeksi
Inspeksi mencakup pemeriksaan
atas catatan/dokumen, baik internal
maupun eksternal, dalam bentuk
kertas, elektronik atau media lain,
atau pemeriksaan fisik atas suatu aset.

30 Badan Pemeriksa Keuangan Direktorat Litbang


Bab V Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

Berita acara pemeriksaan fisik atas


suatu aset harus dibuat segera setelah
pemeriksaan fisik.
2. Observasi
Melihat langsung suatu proses atau
prosedur yang dilakukan oleh orang
lain.
3. Konfirmasi eksternal
Bukti audit sebagai respon langsung
tertulis dari pihak ketiga dalam bentuk
kertas, elektronik, atau media lain.
4. Penghitungan ulang
Pengecekan akurasi penghitungan
matematis dalam dokumen atau
catatan, dapat dilakukan secara manual
atau elektronik.
5. Pelaksanaan kembali
Pelaksanaan prosedur atau
pengendalian secara independen oleh
pemeriksa yang semula merupakan
bagian pengendalian intern entitas.
6. Prosedur analitis
Prosedur analitis terdiri dari
pengevaluasian informasi keuangan
yang dilakukan dengan menelaah
hubungan yang dapat diterima antara
data keuangan dengan non keuangan.
7. Permintaan keterangan
Pencarian informasi kepada orang yang
memiliki pengetahuan baik keuangan
maupun non keuangan, di dalam atau
di luar entitas.
Permintaan keterangan dapat dilakukan
secara tertulis maupun lisan dengan tujuan
untuk memperoleh, melengkapi, dan/atau
meyakini informasi yang dibutuhkan dalam

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 31


Bab V Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

kaitan dengan pemeriksaan.


Permintaan keterangan dilakukan dengan
beberapa cara misalnya wawancara dan
wawancara mendalam.

a. Wawancara adalah suatu


percakapan dengan mempertanya-
kan kepada seseorang dan mencatat
tanggapan seseorang tersebut.
Dalam pemeriksaan investigatif,
pemeriksa berupaya memperoleh
informasi dari pihak yang memiliki
atau diduga memiliki keterangan
terkait kasus. Wawancara bersifat
netral dan tidak menuduh.
Tujuan wawancara adalah
mengumpulkan informasi yang
penting bagi pemeriksaan
investigatif yang sedang
dilaksanakan dan mengenai
perilaku dari orang yang
diwawancarai.
b. Wawancara mendalam adalah
wawancara yang dilakukan
terhadap penanggung jawab atau
pihak yang diduga terkait dengan
PITP.
Tujuan wawancara mendalam
adalah memperoleh informasi yang
dapat dipakai untuk mengungkap
segala sesuatu yang menyangkut
bagaimana PITP terjadi.
Pelaksanaan wawancara secara
rinci diatur pada petunjuk teknis
tersendiri.

32 Badan Pemeriksa Keuangan Direktorat Litbang


Bab V Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

8. Teknik pemeriksaan alternatif


Selain menerapkan teknik-teknik di
atas pemeriksa dapat mengembangkan
teknik alternatif dalam rangka
membuktikan hipotesis pemeriksaan.

07 Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Hal-hal yang Harus


Diperhatikan dalam
pengumpulan bukti: Pengumpulan Bukti
1. Keberhasilan pelaksanaan pemeriksa-
an investigatif tergantung pada
situasi, kondisi, dan kreativitas
pemeriksa investigatif dalam
menerapkan prosedur serta teknik-
teknik pemeriksaan secara tepat
untuk mendapatkan bukti-bukti yang
kompeten dan relevan.
2. Pemeriksa harus memahami hubungan
antara bukti pemeriksaan dengan alat
bukti apa saja yang dapat diterima
menurut hukum untuk membuktikan
hipotesis pemeriksaan.

08 Dokumentasi kerta kerja pemeriksaan Dokumentasi KKP


(KKP) yang terkait dengan praperencanaan,
perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan
pemeriksaan berisi informasi yang cukup
agar pemeriksa yang berpengalaman,
tetapi tidak memiliki hubungan dengan
pemeriksaan yang dijalankan dapat
memastikan bahwa dokumentasi yang
tersedia dapat menjadi bukti yang
mendukung pertimbangan dan simpulan
pemeriksa.

09 KKP disimpan oleh pejabat yang


berwenang sebagaimana diatur dalam

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 33


Bab V Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

Pedoman Manajemen Pemeriksaan


Investigatif, Penghitungan Kerugian Negara,
dan Pemberian Keterangan Ahli. Masa
penyimpanan KKP disesuaikan dengan
masa daluarsa penuntutan kasus pidana
sebagaimana diatur dalam ketentuan
perundang-undangan yang berlaku.

C. Menganalisis dan Mengevaluasi Bukti


Tujuan Analisis dan 10 Tujuan menganalisis dan mengevaluasi
Evaluasi Bukti
bukti adalah:
1. untuk menyempurnakan hipotesis
awal yang telah dirumuskan
karena pada dasarnya perumusan
hipotesis merupakan kegiatan yang
terus-menerus seiring berjalannya
pemeriksaan;
2. untuk menilai kesesuaian bukti
(relevansi) dengan hipotesis serta
menjadi landasan perlu tidaknya
mencari bukti tambahan; dan
3. untuk menyusun rangkaian kejadian
dan modus operandi.

11 Hasil analisis bukti dapat memberikan


petunjuk untuk memperoleh bukti-bukti
lain yang relevan sebagai bukti dukungan
atas validitas bukti yang telah diperoleh
sebelumnya.

12 Hasil analisis bukti dapat menunjukkan


gambaran mengenai suatu peristiwa.
Rangkaian dari berbagai analisis bukti
akan menggambarkan secara menyeluruh
keadaan yang sesungguhnya mengenai

34 Badan Pemeriksa Keuangan Direktorat Litbang


Bab V Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

suatu dugaan yang ingin diuji kebenarannya


(hipotesis).
13 Teknik menganalisis bukti Teknik Menganalisis
Bukti
1. Sesuai dengan hipotesis yang
telah disusun dalam perencanaan
pemeriksaan, pemeriksa berupaya
memperoleh bukti-bukti yang relevan
melalui berbagai teknik pemeriksaan
sebagaimana dijelaskan pada paragraf
06.
2. Setiap bukti dipelajari dan dianalisis
oleh pemeriksa. Tahapan ini
merupakan tahapan yang menentukan
dalam proses pemeriksaan investigatif.
Kemampuan pemeriksa dalam
mempelajari dan menganalisis bukti
sangat krusial untuk mengungkap PITP.
3. Pemeriksa harus menilai relevansi
bukti yang diperoleh. Untuk sementara
pemeriksa dapat mengabaikan bukti
yang tidak relevan, namun tidak
tertutup kemungkinan bukti tersebut
kemudian akan menjadi relevan bagi
pemeriksaan.
4. Setelah menentukan relevansi suatu
bukti, pemeriksa melakukan verifikasi
bukti. Verifikasi dilakukan dengan
menilai kebenaran bukti. Dalam
melakukan penilaian, pemeriksa
dapat meminta dokumen pendukung.
Misalnya untuk menilai kebenaran
suatu kontrak, pemeriksa dapat
meminta dokumen pendukung seperti
Surat Perintah Kerja (SPK).
5. Setelah pemeriksa menilai kebenaran
bukti, langkah selanjutnya adalah

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 35


Bab V Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

memasukkan bukti-bukti yang dapat


menggambarkan fakta.
6. Pemeriksa menganalisis hasil rangkaian
bukti-bukti secara berkala untuk menilai
apakah hipotesis yang disusun telah
menggambarkan kondisi sebenarnya
hingga pada akhirnya analisis disusun
untuk menyimpulkan terbukti atau
tidak terbuktinya suatu PITP.

14 Pemeriksa dapat menggunakan professional


judgmentnya dalam melakukan evaluasi
terhadap bukti apabila pemeriksa tidak
memperoleh cukup bukti dan informasi
untuk membuat simpulan.

15 Pemeriksa tidak dapat menggunakan


professional judgment apabila bukti yang
diperoleh menunjukkan secara jelas suatu
kondisi tanpa perlu interpretasi.

Teknik Mengevaluasi 16 Teknik mengevaluasi bukti


Bukti Pemeriksa dapat menyusun bagan arus
kejadian atau menarasikan kronologi fakta
kejadian. Hal utama yang diungkapkan
adalah urutan proses dan kerangka waktu
kejadian. Penyusunan bagan arus dan/atau
kronologi fakta kejadian sangat bermanfaat
bagi pemeriksa untuk memahami kejadian
sesungguhnya.
Bagan arus kejadian merupakan salah satu
teknik untuk memudahkan pemeriksa
memahami proses kejadian. Melalui bagan
arus kejadian pemeriksa dapat menyusun:
Siapa, Apa, Dimana, Kapan, Mengapa, dan
Bagaimana suatu proses kejadian/Kerugian

36 Badan Pemeriksa Keuangan Direktorat Litbang


Bab V Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

yang dapat dinilai dalam bentuk uang.


Perbuatan PITP yang dilakukan dalam
satu rangkaian proses kejadian umumnya
dikenal dengan istilah kasus posisi.
Kasus posisi merupakan suatu titik awal
dan akhir dari perbuatan PITP. Posisi awal
umumnya ditandai adanya PITP, dan posisi
akhir ditandai adanya keuntungan pribadi/
pihak lain/golongan. Keuntungan pribadi/
pihak lain/golongan tersebut di sisi lain
menimbulkan kerugian negara.
Kronologi fakta dijabarkan dalam bentuk
naratif dengan memperhatikan aspek
waktu kejadian. Kronologi fakta harus
didasarkan pada urutan kejadian yang
sesungguhnya berdasarkan bukti-bukti
yang diterima.
Dalam menyusun kronologi fakta,
pemeriksa harus mempertimbangkan
kemungkinan adanya rekayasa dokumen
bukti, sehingga aspek “kapan” yang
ditunjukkan dari suatu dokumen bukti
tidak menggambarkan kondisi sebenarnya.
Dalam melakukan evaluasi bukti, kasus
posisi harus didukung dengan kualitas dan
kuantitas bukti yang dapat diterima dalam
proses pengadilan. Apabila menggunakan
bukti-bukti tidak langsung, maka harus
didukung bukti-bukti pendukung lainnya.

D. Menyusun Konsep Simpulan

17 Setelah melakukan analisis bukti, Menyusun Konsep


pemeriksa kemudian menyusun konsep Simpulan

simpulan. Konsep simpulan yang dibuat


dapat mendukung atau tidak mendukung

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 37


Bab V Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

hipotesis pemeriksaan.

isi simpulan 18 Konsep simpulan menjawab 5W + 1H/2H


sebagai berikut:
1. Pihak-pihak yang bertanggung jawab
(who)
Informasi ini menjelaskan pihak-pihak
yang bertanggung jawab atau pihak-
pihak terkait PITP.
2. Jenis PITP (what)
Informasi ini menjelaskan jenis PITP
yang terjadi.
3. Di mana terjadinya (where)
Informasi ini menjelaskan dimana PITP
terjadi.
4. Waktu terjadinya PITP (when)
Informasi ini menjelaskan kapan
terjadinya PITP
5. Penyebab terjadinya PITP (why)
Informasi ini menjelaskan mengapa
seseorang melakukan PITP.
6. Modus operandi PITP (how)
Informasi ini menjelaskan bagaimana
PITP dilakukan.
7. Kerugian yang dapat dinilai dalam
bentuk uang dari PITP (how much)
Informasi ini menjelaskan seberapa
besar indikasi kerugian negara yang
terjadi.

E. Mendiskusikan Konsep Simpulan


Mendiskusikan Konsep 19 Pemeriksa dapat mendiskusikan konsep
Simpulan simpulan dan terpenuhi atau tidaknya
unsur PITP dengan pihak internal BPK di
luar tim pemeriksa. Langkah ini dilakukan

38 Badan Pemeriksa Keuangan Direktorat Litbang


Bab V Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

melalui mekanisme paparan selama proses


pemeriksaan jika dibutuhkan.

20 Pemeriksa dapat mendiskusikan terpenuhi


atau tidaknya indikasi tindak pidana dengan
pihak instansi yang berwenang. Dalam
hal ini instansi berwenang diposisikan
sebagai ahli. Langkah ini dilakukan melalui
mekanisme paparan menjelang akhir
pekerjaan lapangan namun sebelum
sidang badan.

21 Hasil diskusi baik dengan pihak internal


maupun eksternal BPK dapat menjadi
bahan masukan untuk perolehan bukti lain
yang dibutuhkan.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 39


Bab V Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

40 Badan Pemeriksa Keuangan Direktorat Litbang


BAB VI

Badan Pemeriksa Keuangan


Republik Indonesia
Bab VI Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

BAB VI
PELAPORAN
PEMERIKSAAN INVESTIGATIF

A. Umum
01 LHP Investigatif merupakan dokumen LHP Investigatif
tertulis yang berisi simpulan hasil
pemeriksaan investigatif. Seluruh informasi
dan bukti yang relevan yang diperoleh
pemeriksa dirangkai dan diungkapkan
menjadi sebuah laporan yang akan
dijadikan dasar pengambilan keputusan
oleh instansi berwenang.

02 Tujuan pelaporan pemeriksaan investigatif Tujuan Pelaporan


Pemeriksaan
adalah menyampaikan PITP yang Investigatif
ditemukan dalam pemeriksaan investigatif
kepada instansi berwenang sesuai
ketentuan perundang-undangan.

03 Tahap penyusunan LHP adalah sebagai Tahapan Penyusunan


LHP
berikut:
1. Penyusunan Konsep Hasil Pemeriksaan
(KHP).
2. Finalisasi simpulan.

B. Menyusun Konsep Hasil Pemeriksaan Investigatif


04 Pemeriksa menyusun KHP berdasarkan KHP Investigatif
temuan pemeriksaan dan informasi relevan
yang diperoleh selama pemeriksaan
dengan memperhatikan karakteristik
laporan yang baik.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 41


Bab VI Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

Karakteristik Laporan 05 Karakteristik Laporan yang baik:


Pemeriksaan
Investigatif 1. Akurat
Pemeriksa harus mengecek seluruh
materi laporan antara lain tanggal,
data, informasi, dan pihak terkait
sebelum menulis laporan. Informasi
yang dilaporkan adalah fakta yang
benar dan dapat diverifikasi. Informasi
dan fakta yang relevan dari instansi
yang diperiksa harus didokumentasikan
dalam KKP untuk mendukung laporan.
Konfirmasi/penegasan merupakan
salah satu ukuran untuk memastikan
bahwa seluruh fakta yang relevan telah
dikumpulkan secara akurat sebelum
dituangkan dalam LHP.
2. Jelas
Laporan disusun dengan jelas,
menyajikan rincian dan informasi
yang relevan dengan pemeriksaan,
menggunakan bahasa yang mudah
dimengerti.
3. Tidak memihak
Laporan tidak bias, tidak memuat
prasangka pemeriksa, berdasarkan
fakta yang didukung oleh bukti.
4. Relevan
Laporan hanya mengungkap informasi
yang relevan dengan masalah yang
diperiksa.
5. Tepat waktu
Laporan pemeriksa disusun segera
setelah pekerjaan lapangan selesai,
sebagaimana telah direncanakan dalam
program pemeriksaan.

42 Badan Pemeriksa Keuangan Direktorat Litbang


Bab VI Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

06 Konsep LHP Investigatif memuat simpulan, Isi LHP Investigatif


informasi umum, serta uraian hasil
pemeriksaan dan lampiran.
Isi LHP investigatif secara detil adalah:
1. Bab I: Simpulan
Simpulan memuat hasil pemeriksaan
yang secara ringkas dan jelas
mengungkap PITP.
2. Bab II: Informasi Umum
Bab ini memuat:
a. Dasar penugasan pemeriksaan;
b. Tujuan;
c. Lingkup pemeriksaan;
d. Standar pemeriksaan; dan
e. Gambaran objek/aktivitas/kegiat-
an/entitas yang diperiksa.
3. Bab III: Uraian Hasil Pemeriksaan
Bab ini memuat dasar hukum objek/
kegiatan yang diperiksa dan materi
temuan.
Dasar hukum
Dasar hukum objek/aktivitas/kegiatan/
entitas yang diperiksa menguraikan
peraturan perundang-undangan yang
mendasari objek/aktivitas/kegiatan/
entitas yang diperiksa termasuk
ketentuan internal dari entitas yang
diperiksa.
Materi temuan
a. Jenis PITP;
b. Fakta dan proses kejadian;
c. Penyebab dan akibat PITP;
d. Pihak yang diduga terkait; dan
e. Bukti pemeriksaan yang relevan.
4. Lampiran

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 43


Bab VI Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

07 Jika pemeriksa tidak dapat mengungkap


terjadinya PITP, maka konsep LHP hanya
memuat Bab I (Simpulan) dan Bab II (Informasi
umum).

Tanggapan 08 Tanggapan dalam pemeriksaan investigatif dapat


diperoleh selama pemeriksaan berlangsung
antara lain melalui mekanisme wawancara serta
konfirmasi data dan informasi. Tanggapan tidak
dimintakan kepada manajemen entitas yang
diperiksa secara kelembagaan, namun kepada
individu yang terkait dengan kasus yang sedang
diperiksa (pihak terkait).

C. Finalisasi Laporan Hasil Pemeriksaan Investigatif


Finalisasi LHP 09 Berdasarkan hasil diskusi konsep simpul-
an dan tambahan bukti, pemeriksa mem-
finalisasi LHP.

Penyampaian LHP 10 LHP disampaikan kepada instansi


berwenang serta pihak lain yang diputuskan
oleh BPK. Pengaturan lebih lanjut mengenai
pelaporan diatur dalam petunjuk teknis
tersendiri.

44 Badan Pemeriksa Keuangan Direktorat Litbang


BAB VII

Badan Pemeriksa Keuangan


Republik Indonesia
Bab VII Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

BAB VII
PENUTUP

A. Pemberlakuan Petunjuk Pelaksanaan


01 Juklak ini mulai berlaku pada tanggal Pemberlakuan Juklak
ditetapkan dan digunakan sebagai
acuan bagi BPK dan pelaksananya dalam
menjalankan pemeriksaan investigatif.
B. Pemutakhiran Petunjuk Pelaksanaan
02 Agar juklak ini dapat dimanfaatkan sesuai Pemutakhiran Juklak
dengan tujuan dan fungsinya, maka
juklak ini perlu senantiasa dievaluasi,
disempurnakan, atau dimutakhirkan sesuai
dengan perubahan kondisi.

03 Perubahan atas Juklak ini akan dilakukan


melalui Keputusan BPK tentang Perubahan
atas Juklak dimaksud

C. Pemantauan Petunjuk Pelaksanaan

04 Petunjuk Pelaksanaan Pemeriksaan Pemantauan Juklak


oleh Dit. Litbang
Investigatif merupakan dokumen yang
dapat berubah sesuai dengan perubahan
peraturan perundang-undangan dan/
atau kondisi lain. Oleh karena itu, Ditama
Revbang dhi. Direktorat Penelitian
dan Pengembangan (Dit. Litbang) ber-
tugas melaksanakan pemantauan
atas implementasi Juklak, termasuk
menampung dan menyelesaikan
masalah yang timbul serta melakukan

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 45


Bab VII Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

penyempurnaan yang diperlukan sesuai


dengan perkembangan dan kebutuhan.
Masukan atau pertanyaan terkait dengan
Juklak dapat disampaikan kepada:

Subdirektorat Litbang PDTT


Direktorat Penelitian dan Pengembangan
Direktorat Utama Perencanaan, Evaluasi,
dan Pengembangan
Lantai II Gedung Arsip Ruang 216
Badan Pemeriksa Keuangan
Jl. Gatot Subroto 31 Jakarta 10210
Telp. (021) 25549000, pesawat 3313

WAKIL KETUA, KETUA


BADAN PEMERIKSA
KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA,

ttd ttd

SAPTO AMAL DAMANDARI HARRY AZHAR AZIS

Salinan sesuai dengan aslinya


BADAN PEMERIKSA KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA
Kepala Direktorat Utama Pembinaan dan Pengembangan
Hukum Pemeriksaan Keuangan Negara,

Nizam Burhanuddin

46 Badan Pemeriksa Keuangan Direktorat Litbang


Glosarium Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

GLOSARIUM

Aksioma Pernyataan yang dapat diterima sebagai


kebenaran tanpa pembuktian.
Badan Sebutan untuk BPK RI atau juga sebagai
pemberi tugas pemeriksaan. Badan terdiri
dari Ketua, Wakil Ketua, dan Anggota BPK
RI.
BA Berita Acara (BA), yaitu laporan tertulis yang
bersifat autentik, dibuat oleh pejabat yang
berwenang, mengenai suatu kejadian
tertentu.
BAP Berita Acara Pemeriksaan (BAP), yaitu laporan
tertulis mengenai jalannya pemeriksaan
berupa pendengaran keterangan saksi,
tersangka, atau keterangan ahli, atau
pun tentang tindakan-tindakan lain dalam
rangka pemeriksaan/penyidikan.
Bukti Bukti yang diperoleh pada saat melakukan
Pemeriksaan pemeriksaan antara lain: bukti pemeriksaan
fisik, bukti hasil konfirmasi, bukti
dokumentasi, observasi, bukti hasil tanya
jawab dengan instansi yang diperiksa, dan
prosedur analitis.
Bukti dapat menjadi bukti hukum, namun
secara umum bukti pemeriksaan tidak serta
merta dapat dijadikan sebagai bukti hukum.
Salah satu kendala yang menghambat
diperolehnya bukti hukum oleh pemeriksa
adalah masalah kewenangan. Sebagai
contoh: permintaan keterangan yang

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 47


Glosarium Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

dilakukan pemeriksa pada instansi yang


diperiksanya tidak serta merta dapat
menjadi bukti keterangan saksi (atau
mungkin terdakwa).
Bukti yang relevan Bukti yang merupakan salah satu bagian dari
rangkaian bukti-bukti (chain of evidence)
yang menggambarkan suatu proses
kejadian atau jika bukti tersebut secara
tidak langsung menunjukkan kenyataan
dilakukan atau tidak dilakukannya suatu
perbuatan.
Bukti utama Bukti asli yang mewakili secara langsung
suatu transaksi/kejadian. Bukti utama
menghasilkan kepastian yang paling kuat
atas fakta.
Bukti tambahan Bukti yang lebih rendah mutunya jika
dibandingkan dengan bukti utama.
Bukti tambahan tidak dapat digunakan
dengan tingkat keandalan yang sama
dengan bukti utama.
Bukti langsung Fakta tanpa kesimpulan ataupun anggapan.
Bukti ini menjelaskan suatu fakta atau
materi yang dipersoalkan. Suatu bukti dapat
dikatakan langsung jika didukung dengan
pihak yang mempunyai pengetahuan nyata
mengenai persoalan yang bersangkutan
dengan menyaksikannya sendiri. Dalam
hal adanya uang suap (kickback), bukti
langsung yang diperlukan adalah check dari
pemasok.
Bukti tidak Bukti yang mengungkapkan secara tidak
langsung langsung suatu tindak pelanggaran
atau fakta dari seseorang yang mungkin
mempunyai niat atau motif melakukan

48 Badan Pemeriksa Keuangan Direktorat Litbang


Glosarium Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

pelanggaran.
Dalam kasus uang suap, penyimpanan uang
dari sumber yang tidak dikenal ke rekening
seseorang pada waktu berdekatan dengan
perbuatan jahat, dapat merupakan bukti
tidak langsung.
Bukti tidak langsung digunakan untuk
menetapkan suatu fakta dengan didukung
oleh bukti lainnya yang setingkat dengan
fakta yang diperiksa. Meskipun bukti ini
mungkin benar, tetapi bukti tidak langsung
tidak dapat menetapkan suatu fakta secara
meyakinkan.
Entitas 1. Satuan yang berwujud; wujud
2. Kesatuan unit
Forensik 1. Belonging to, used in, or suitable to court
of judicature or to public discussion and
debate.
2. Argumentative, rhetorical.
3. Relating to or dealing with the
application of scientific knowledge to
legal problems.

Terjemahan:

1. Berkenaan dengan pengadilan atau


perdebatan publik.
2. Bersifat argumentasi, retorik
3. Berkenaan dengan penerapan
pengetahuan ilmiah pada masalah
hukum.
Hasil Pemeriksaan Produk dari pelaksanaan tugas pemeriksaan
yang terdiri dari KKP, LHP dan dokumen
pemeriksaan lainnya.

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 49


Glosarium Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

Hipotesis Skenario terburuk dari suatu kasus


penyimpangan, yaitu berdasarkan dugaan,
kemungkinan peristiwa terburuk terjadi.
Misalkan dugaan kasus penerimaan
uang suap atau kickback, penggelapan,
perbedaan kepentingan, penyimpangan
dalam penyajian laporan keuangan dan lain-
lain.
Kerugian Negara/ Berkurangnya kekayaan negara/daerah
Daerah yang disebabkan oleh suatu tindakan yang
melanggar hukum/kelalaian seseorang.
Keterangan Ahli Keterangan-keterangan yang diberikan
oleh seorang yang memiliki keahlian
khusus tentang hal yang diperlukan untuk
membuat terang suatu perkara pidana guna
kepentingan pemeriksaan.
Keterangan Saksi Salah satu bukti dalam perkara pidana yang
berupa keterangan dari saksi mengenai
suatu peristiwa pidana yang ia dengar
sendiri, ia lihat sendiri, dan ia alami
sendiri dengan menyebut alasan dari
pengetahuannya itu.
KKP Kertas Kerja Pemeriksaan yaitu catatan-
catatan yang dibuat dan data yang
dikumpulkan oleh pemeriksa secara
sistematis pada saat melaksanakan tugas
pemeriksaan mulai tahap persiapan
pemeriksaan sampai dengan tahap
kesimpulan akhir pembuatan laporan.
Konfirmasi Bukti yang diperoleh pada saat melakukan
pemeriksaan dengan cara mengajukan
pertanyaan dalam rangka mendapatkan
penegasan dari pihak lain.

50 Badan Pemeriksa Keuangan Direktorat Litbang


Glosarium Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

Matematis Hal-hal yang berkaitan dengan angka,


seperti penghitungan dan nilai.
P2 Program Pemeriksaan (P2), langkah
pemeriksaan di lapangan yang harus
dilaksanakan oleh tim pemeriksa.
Pembuktian Cara membuktikan kesalahan terdakwa
berdasarkan alat bukti yang ditentukan oleh
undang-undang.
Petunjuk Perbuatan, kejadian, atau keadaan yang
karena persesuaianya baik antara yang satu
dengan yang lain maupun dengan tindak
pidana itu sendiri, menandakan bahwa
telah terjadi suatu tindak pidana dan siapa
pelakunya.
Petunjuk Teknis Petunjuk yang memuat teknik-teknik
Pemeriksaan dan urutan langkah pemeriksaan yang
harus dilakukan terhadap suatu objek
pemeriksaan tertentu yang disesuaikan
dengan tujuan dan sarana pemeriksaan.
Predikasi The totality of circumstances that would
(predication) lead to a reasonable, professionally trained,
and prudent individual to believe a fraud
has occurred, is occurring, and/or will occur.
Predication is the basis upon which an
examination is commenced. Investigative
Audit should not be conducted without
proper predication”
Terjemahan:
Keseluruhan dari peristiwa, keadaan
pada saat peristiwa itu, dan segala hal
yang terkait atau berkaitan yang dapat
membawa seseorang yang memiliki akal
sehat, profesional, dan memiliki tingkat
kehati-hatian, untuk yakin bahwa fraud

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 51


Glosarium Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

Keseluruhan dari peristiwa, keadaan


pada saat peristiwa itu, dan segala hal
yang terkait atau berkaitan yang dapat
membawa seseorang yang memiliki akal
sehat, profesional, dan memiliki tingkat
kehati-hatian, untuk yakin bahwa fraud
telah, sedang atau akan terjadi. Predikasi
adalah dasar untuk memulai pemeriksaan
investigatif. Pemeriksaan investigatif
sebaiknya tidak dilakukan tanpa adanya
predikasi yang memadai.

Prosedur 1. Tahap kegiatan untuk menyelesaikan


suatu aktivitas.
2. Langkah-langkah yang secara pasti
dalam memecahkan suatu masalah.
Standar 1. Ukuran tertentu yang dipakai sebagai
patokan atau ukuran baku.
2. Sesuatu yang dianggap tetap nilainya
sehingga dapat dipakai sbagai ukuran
nilai (harga).
Tim Pemeriksa Terdiri dari penanggung jawab, pengedali
teknis, ketua tim dan anggota tim.
TP Temuan Pemeriksaan; indikasi
permasalahan yang ditemui di dalam
pemeriksaan di lapangan.
Wawancara Usaha/kegiatan untuk memperoleh
keterangan dari orang yang memiliki
atau diduga memiliki keterangan. Tujuan
wawancara adalah mengumpulkan
informasi yang penting bagi pemeriksaan
investigatif dan mengenai perilaku dari
orang yang diwawancarai.

52 Badan Pemeriksa Keuangan Direktorat Litbang


Glosarium Buku 1: Juklak Pemeriksaan Investigatif

Direktorat Litbang Badan Pemeriksa Keuangan 53