Anda di halaman 1dari 13

  27

5. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1. Emisi Karbondioksida (CO2) yang Dikeluarkan Kendaraan Bermotor di


Kota Bogor Tahun 2010
Emisi CO2 dari kendaraan bermotor dapat diketahui dengan cara terlebih
dahulu menghitung jarak tempuh kendaraan perhari dari masing-masing jenis
kendaraan. Jarak tempuh ini diperoleh dengan mengalikan rata-rata konsumsi
bahan bakar perhari dari masing-masing jenis kendaraan dengan rata-rata jarak
yang dapat ditempuh kendaraan dalam satu liter atau efisiensi dari masing-masing
jenis kendaraan. Hasil perhitungan tersebut ada pada Tabel 14.
Tabel 14. Rata-rata Jarak Tempuh Perhari dari Masing-masing Jenis Kendaraan
Konsumsi
Jenis Bahan Efisiensi Jarak Tempuh
Jenis Bahan Bakar
Bakar (km/liter) (km/hari)
(liter/hari)
Sepeda Motor Bensin 0,5 40 20
Mobil Penumpang :
a. Angkot Bensin 8,00 4 32
b. Mobil Pribadi Bensin 4,00 5 20
Mobil Barang :
a. Truk Solar 10,00 3 30
b. Tangki Solar 10,00 3 30
c. Pick Up Bensin 6,00 4 24
d. Box Bensin 6,00 4 24
Bis transpakuan Solar 10,00 3 30
Sumber : Hasil Pengolahan Data

Setelah mengetahui jarak tempuh kendaraan perhari, maka dapat diketahui


jarak yang ditempuh kendaraan dalam setahun. Cara untuk mengetahui jarak yang
ditempuh kendaraan dalam setahun yaitu jarak tempuh kendaraan perhari
dikalikan dengan lama hari aktif kendaraan dalam setahun. Pada penelitian ini
diasumsikan hari aktif kendaraan yaitu 365 hari. Pada penelitian ini juga, angkot
yang dibagi tiga shift, yakni shift A, shift B dan shift C masing-masing shiftnya
diasumsikan dalam sehari untuk satu angkotnya beroperasi tiga kali pulang-pergi.
Maka dari itu, jarak tempuh perhari untuk angkot dikali tiga. Hal serupa juga
berlaku untuk bis transpakuan. Jarak tempuh perhari untuk truk, tangki, pick up
dan mobil box juga dikali tiga. Hal ini berdasarkan asumsi bahwa truk, tangki,
pick up dan mobil box dalam satu hari beroperasi tiga kali atau melakukan
bongkar muat sebanyak tiga kali. Jarak tempuh perhari untuk angkot dan bis
28

transpakuan masing-masing menjadi 96 km/hari dan 90 km/hari. Jarak tempuh


perhari untuk truk, tangki, pick up dan mobil box masing-masing menjadi 90
km/hari, 90 km/hari, 72 km/hari dan 72 km/hari. Lebih jelasnya lihat Tabel 15.

Tabel 15. Emisi CO2 yang Dikeluarkan dari Jumlah Kendaraan Bermotor Tahun 2010
Jumlah Jarak Lama Faktor
Kendaraan Tempuh Hari Emisi Emisi CO2
Jenis Kendaraan
Tahun Kendaraan Aktif CO2 (ton)
2010 (unit) (km/hari) (hari) (g/km)
Sepeda Motor 128.281 20 365 40 37.458,05
Mobil Penumpang :
a. Angkot 3.413 96 365 200 23.918,30
b. Mobil Pribadi 38.617 20 365 200 56.380,82
Mobil Barang :
a. Truk 2.591 90 365 850 72.347,20
b. Tangki 136 90 365 850 3.797,46
c. Pick Up 4.584 72 365 200 24.093,50
d. Box 1.199 72 365 200 6.301,94
Bis Transpakuan 30 90 365 850 837,68
Jumlah 178.851 225.134,96
Sumber : Hasil Pengolahan Data

Berdasarkan Tabel 15 diatas, emisi CO2 yang dihasilkan kendaraan


bermotor dari berbagai jenis pada tahun 2010 sebesar 225.134,96 ton. Jenis
kendaraan yang paling banyak mengemisikan CO2 adalah jenis mobil pribadi
yaitu sebesar 56.380,82 ton. Mobil truk menghasilkan emisi sebesar 72.347,20 ton
yang dikeluarkan dari 2.591 unit kendaraan. Sementara itu untuk sepeda motor
dengan jumlah kendaraan terbanyak yakni 128.281 unit atau 71,73 % dari 178.851
unit total kendaraan bermotor mengemisikan CO2 sebesar 37.458,05 ton.
Angkotan kota dengan jumlah kendaraan sebanyak 3.413 unit atau 1,91 %
mengemisikan CO2 sebesar 23.918,30 ton.

5.2. Prediksi Jumlah Kendaraan Bermotor di Kota Bogor serta Emisi CO2
yang Dikeluarkannya Hingga 30 Tahun Mendatang
Berdasarkan data kendaraan bermotor di Kota Bogor pada tahun 2000,
2005 dan 2010 yang tertera pada Tabel 13, maka rata-rata pertambahan pertahun
dari kendaraan bermotor pada tahun 2000 hingga 2010 sebanyak 13.260 unit.
Jenis kendaraan yang pertambahan pertahunnya paling banyak adalah sepeda
motor dengan pertambahan pertahunnya sebanyak 10.827 unit. Lebih jelasnya
lihat Tabel 16.
29

Tabel 16. Rata-rata Pertambahan Pertahun dari Masing-masing Jenis Kendaraan Bermotor
Jumlah Kendaraan (unit) Rata-rata
Jenis Tahun Tahun Tahun Pertambahan
2000 2005 2010 Pertahun (unit)
Sepeda Motor 20.009 73.145 128.281 10.827
Mobil Penumpang :
a. Angkot 2.412 3.316 3.413 100
b. Mobil Pribadi 18.159 28.388 38.617 2.046
Mobil Barang :
a. Truk 1.951 2.271 2.591 64
b. Tangki 46 91 136 9
c. Pick Up 3.124 3.854 4.584 146
d. Box 549 874 1.199 65
Bis Transpakuan 30 3
Jumlah 46.250 111.939 178.851 13.260
Sumber : Hasil Pengolahan Data

Jika pertambahan kendaraaan bermotor pertahunnya dari tahun 2000


hingga 2010 tersebut terus berlanjut dan tidak ada kebijakan atau tindakan
penekanan terhadap jumlah kendaraan, maka diprediksikan jumlah kendaraan
pada 30 tahun mendatang yakni pada tahun 2040 dari berbagai jenis akan
mencapai 576.654 unit. Lebih jelasnya bisa dilihat pada Tabel 17.
Tabel 17. Prediksi Jumlah Kendaraan Bermotor di Kota Bogor 30 Tahun Mendatang
Jumlah Kendaraan (unit)
Jenis
2015 2020 2025 2030 2035 2040
Sepeda Motor 182.417 236.553 290.689 344.825 398.961 453.097
Mobil Penumpang :
a. Angkot 3.914 4.414 4.915 5.415 5.916 6.416
b. Mobil Pribadi 48.846 59.075 69.304 79.533 89.762 99.991
Mobil Barang :
a. Truk 2.911 3.231 3.551 3.871 4.191 4.511
b. Tangki 181 226 271 316 361 406
c. Pick Up 5.314 6.044 6.774 7.504 8.234 8.964
d. Box 1.524 1.849 2.174 2.499 2.824 3.149
Bis Transpakuan 45 60 75 90 105 120
Jumlah 245.152 311.452 377.753 444.053 510.354 576.654
Sumber : Hasil Pengolahan Data

Sementara itu, setelah mengetahui jumlah kendaraan bermotor yang telah


diprediksikan hingga tahun 2040, maka besarnya emisi CO2 yang dikeluarkan
oleh kendaraan bermotor tersebut dapat diketahui. Maka pada tahun 2015, dengan
jumlah kendaraan bermotor sebanyak 245.152 unit akan mengemisikan CO2
sebesar 275.540,13 ton, tahun 2020 akan mengemisikan CO2 sebesar 325.945,33
ton, tahun 2025 sebesar 376.350,52 ton, tahun 2030 sebesar 426.755,70 ton, tahun
2035 sebesar 477.160,87 ton dan tahun 2040 akan mengemisikan CO2 sebesar
30

527.566,07 ton. Besarnya emisi CO2 yang dihasilkan dari jumlah kendaraan
bermotor yang telah diprediksikan hingga 30 tahun mendatang bisa dilihat pada
Gambar 10.
700,000

527,566.07
600,000 576,654
477,160.87
510,354
500,000
426,755.70
444,053
376,350.52
400,000 377,753
325,945.33
311,452
300,000 275,540.13
245,152

200,000

100,000

0
2015 2020 2025 2030 2035 2040
Jumlah Kendaraan
Jumlah Kendaraan Bermotor (unit)
Jumlah Emisi
Emisi CO yang
2 Dikeluarkan (ton)

Sumber : Hasil Pengolahan Data


Gambar 10. Grafik Prediksi Jumlah Kendaraan Bermotor serta Emisi CO2 yang
Dikeluarkannya Hingga 30 Tahun Mendatang

Berdasarkan data dari Health and Safety Information (1989) yang


menyatakan bahwa batas aman menghirup CO2 di udara adalah 5000 ppm volume
(0,5 %) dengan batas waktu paparan selama 8 jam dan jika menghirup CO2
sebanyak 15000 ppm volume (1,5 %) maka batas waktu paparan yang
diperkenankan yaitu selama 10 menit. Sementara itu jika menghirup CO2 sebesar
4%-5% sekitar 30 menit maka akan mengakibatkan intensitas bernafas meningkat
empat kali lipat dari intensitas normal. Selain itu juga akan berakibat sesak nafas
dan keracunan, sedangkan menurut Garner, et al. (2011) jika menghirup CO2
sebesar 7,5 % selama 20 menit maka akan mengakibatkan rasa cemas, khawatir,
tegang, denyut jantung dan tekanan darah meningkat. Berdasarkan pernyataan
31

tersebut maka dapat disimpulkan bahwa durasi dalam menghirup CO2 dapat
mempengaruhi kesehatan manusia. Maka dari itu jika jumlah emisi CO2 yang
dikeluarkan di Kota Bogor sebesar 527.566,07 ton terlalu lama terhirup oleh
manusia maka akan mengakibatkan gangguan kesehatan, sehingga dibutuhkan
ruang terbuka hijau untuk menyerap emisi CO2 agar manusia tidak terlalu lama
menghirup emisi CO2 yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor.
Presentase kontribusi dalam mengemisikan CO2 dari masing-masing jenis
kendaraan pada tahun 2040 bisa dilihat pada Tabel 18.

Tabel 18. Presentase Kontribusi Emisi CO2 dari Masing-masing Jenis Kendaraan Bermotor di
Kota Bogor Tahun 2040

Jumlah
Presentase
Kendaraan Emisi CO2
Jenis Kendaraan Kontribusi
Tahun 2040 (ton/tahun)
Emisi CO2 (%)
(unit)
Sepeda Motor 453.097 132.304,32 25,08
Mobil Penumpang :
a. Angkot 6.416 44.963,33 8,52
b. Mobil Pribadi 99.991 145.986,86 27,67
Mobil Barang :
a. Truk 4.511 125.958,40 23,88
b. Tangki 406 11.336,54 2,15
c. Pick Up 8.964 47.114,78 8,93
d. Box 3.149 16.551,14 3,14
Bis Transpakuan 120 3.350,70 0,64
Jumlah 576.654 527.566,07 100,00
Sumber : Hasil Pengolahan Data

5.3. Potensi Serapan CO2 dari Keadaan Pohon Eksisting di Kebun Raya
Bogor Menggunakan ArcView 3.2 serta Ekstensi CITYgreen 5.0.
Pohon dalam melangsungkan hidupnya memerlukan energi dari sinar
matahari yang diserap oleh kloroplas, air dan hara yang diserap dari dalam tanah
serta CO2 di udara yang masuk melalui stomata dan diubah menjadi karbohidrat,
kemudian disebarkan keseluruh bagian pohon meliputi daun, batang, ranting,
bunga dan buah. Pohon mampu mengurangi kadar karbondioksida (CO2) di
atomosfir dengan melakukan fotosintesis. Fotosintesis sendiri merupakan proses
kimia pada tumbuhan dengan menggunakan energi matahari untuk mengubah
nutrisi menjadi gula dan karbohidrat. Fotosintesis dipengaruhi oleh cahaya, suhu,
konsentrasi CO2, ketersediaan air dan nutrisi. Proses fotosintesis terjadi melalui
dua tahap. Tahap pertama yaitu tahap foto atau biasa disebut reaksi terang. Pada
32

reaksi ini terjadi penggunaan energi matahari untuk membuat ATP dan NADPH.
Reaksi ini terjadi di bagian granum. Tahap kedua yaitu proses sintesis atau biasa
disebut dengan siklus calvin. Proses ini terjadi di bagian stroma. Pada siklus
calvin ini terjadi pembuatan gula yang diubah dari CO2 dengan bantuan ATP dan
NADPH yang telah terbentuk pada reaksi terang. Adapun persamaan reaksi kimia
dari proses fotosintesis tersebut terbentuk dari reaktan karbondioksida (CO2) dan
air (H2O) menghasilkan produk yaitu karbohidrat (C6H12O6) dan oksigen (O2).
Persamaan reaksi tersebut yaitu :
  6 CO2 + 6 H2O C6H12O6 + 6 O2

  1 mol + 1 mol - -

  1 mol + 1 mol 1 mol + 1 mol

  1 mol + 1 mol

Dari persamaan reaksi tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa 1 mol C6H12O6
setara dengan 6 mol CO2, sehingga massa CO2 yang dihasilkan dalam proses
fotosintesis dapat dihitung. Perhitungan tersebut yaitu :
n = 6 x mol C6H12O6 x Mr CO2
gr = 6 x 1 x 44
Mr CO2 = Ar C + (2 x Ar O)
= 12 + (2 x 16)
= 44
Massa CO2 = 6 x mol C6H12O6 x Mr CO2
= 6 x 1 x 44
= 264 gram

Dari perhitungan tersebut, massa dari masing-masing reaktan dan produk dari
persamaan reaksi fotosintesis yaitu sebagai berikut :

264 g CO2 + 108 g H2O 180 g C6H12O6 + 192 g O2


 

Berdasarkan persamaan reaksi tersebut, dengan 264 g karbondioksida (CO2) dan


108 g (H2O) yang diserap menghasilkan 180 g karbohidrat (C6H12O6) dan 192 g
oksigen (O2). Persamaan tersebut menandakan bahwa dengan menghitung
karbohidrat (C6H12O6) yang dihasilkan sama dengan menghitung banyaknya
karbondioksida (CO2) yang diserap atau yang masuk melalui stomata yang
terdapat pada daun. Maka banyaknya CO2 yang diserap dapat dihitung dengan
33

mengetahui jumlah stomata dalam daun. Semakin banyak jumlah stomata dalam
daun maka semakin besar pula CO2 yang diserap, dengan demikian semakin
banyak daun pada pohon maka akan semakin banyak CO2 yang diserap oleh
pohon.
Cara mudah untuk mengetahui seberapa besar karbondioksida (CO2) yang
diserap oleh kanopi pohon tersebut, maka pada penelitian ini digunakan perangkat
lunak ArcView 3.2 beserta ekstensi CITYgreen 5.0. Gambar 11 berikut ini
merupakan hasil analisis dari keadaan eksisting Kebun Raya Bogor.

Total Area :
86,33 Hektar = 213,31 acres

Komposisi Tutupan Lahan :


(51,47 %) 44,43 ha = 109,79 acres : Pohon-pohon; Dibawah kanopi ditutupi rumput
sebesar 50% - 75%
(1,82 %) 1,57 ha = 3,88 acres : Permukaan yang tidak dapat ditembus air; Aspal ;
Mengalirkan air ke selokan terbukan
(35,97 %) 31,05 ha = 76,73 acres : Ruang Terbuka – Sebaran rumput;Tutupan rumput
sebesar 50% - 75%
(4,21 %) 3,63 ha = 8,98 acres : Perkotaan : Perumahan; 0,125ac Lots
(6,53 %) 5,64 ha = 13,93 acres : Area air

Kemampuan dalam menangkap karbon:


-Distribusi Umur : Tidak Diketahui/ Rata-rata
-Kapasitas Tampung (tons) : 4.724,77
-Rata – rata Serapan Karbon (C)
(ton/tahun) : 36,78 = 134,61 Serapan CO2 (ton/tahun)

Sumber : Hasil Pengolahan Data


Gambar 11. Hasil Analisis CITYgreen 5.0 dari Keadaan Eksisting Kebun Raya Bogor
34

Berdasarkan Gambar 11 tersebut, hasil analisis CITYgreen 5.0 menyatakan


bahwa luasan tutupan kanopi pohon di Kebun Raya Bogor yaitu seluas 44,43 ha.
Luasan tersebut menghasilkan serapan karbon (C) dari keadaan eksisting Kebun
Raya Bogor (KRB) sebesar 36,78 ton/tahun. Hal ini berarti dalam satu hektar
tutupan kanopi pohon menghasilkan serapan karbon (C) sebesar 0,83 ton/tahun.
Serapan karbon (C) sebesar 36,78 ton/tahun tersebut jika mengacu pada
perhitungan Johnson dan Coburn (2010) serta U.S. Greenhouse Gas Emissions
and Sinks (2004) yang menyatakan bahwa 1 ton serapan karbon (C) setara dengan
3,66 ton karbondioksida (CO2), maka nilai serapan karbon (C) dari keadaan
eksisting Kebun Raya Bogor sebesar 36,78 ton/tahun tersebut sama dengan
menyerap karbondioksida (CO2) sebesar 134,61 ton/tahun. Besarnya serapan CO2
tersebut hanya mampu menyerap emisi CO2 sebesar 0,06 % dari 225.134,96 ton
emisi CO2 yang dikeluarkan kendaraan bermotor saat ini.
Sementara itu, untuk daya simpan karbon (C) dari keadaan eksisting
Kebun Raya Bogor yaitu sebesar 4.724,77 ton/tahun. Nilai daya simpan tersebut
lebih besar daripada nilai daya serapnya, karena berdasarkan hasil analisis
CITYgreen 5.0 bahwa tipe pohon di Kebun Raya Bogor termasuk tipe pohon tua.
Semakin tua umur pohon tersebut, maka kapasitas simpan karbonnya akan
semakin besar. Hal tersebut dikarenakan umur pohon dapat berpengaruh terhadap
besarnya kapasitas karbon (C). Oleh karena itu, semakin bertambahnya umur
pohon maka akan semakin besar diameter batang dan tajuk pohon tersebut. Secara
umum biomassa pada tiap bagian pohon akan meningkat seiring dengan besarnya
diameter pohon. Semakin besar diameter batang dan tajuk pohon, maka total
biomassa pohon pun akan semakin besar, sehingga jumlah karbon (C) yang
disimpan dalam pohon berumur tua lebih besar daripada karbon (C) yang
diserapnya.

5.4. Skenario terhadap Kebun Raya Bogor


Skenario ini dibuat untuk mengetahui karakter tutupan kanopi pohon yang
mana yang paling berpotensi untuk menyerap karbondioksida (CO2). Hasil dari
skenario ini akan digunakan sebagai bahan masukan untuk mengembangkan
Ruang Terbuka Hijau (RTH) dalam menyerap karbondioksida (CO2).
35

1. Skenario Pertama (Pohon-pohon di Kebun Raya Bogor saat ini diasumsikan


pohon berumur muda)
Pohon berumur muda spesifikasinya dalam CITYgreen 5.0 yakni pohon
yang rata-rata diameternya <10 inchi (25,4 cm). Luas tutupan kanopi pada
skenario pertama ini sama dengan luas kanopi pada keadaan eksisting Kebun
Raya Bogor yakni seluas 44,43 ha. Hasil analisis dari skenario pertama ini bisa
dilihat pada Gambar 12.

Total Area :
Total Area :
86,33 Hektar = 213,31 acres

Komposisi Tutupan Lahan :


(51,47 %) 44,43 ha = 109,79 acres : Pohon-pohon; Dibawah kanopi ditutupi rumput
sebesar 50% - 75%
(1,82 %) 1,57 ha = 3,88 acres : Permukaan yang tidak dapat ditembus air; Aspal ;
Mengalirkan air ke selokan terbukan
(35,97 %) 31,05 ha = 76,73 acres : Ruang Terbuka – Sebaran rumput;Tutupan rumput
sebesar 50% - 75%
(4,21 %) 3,63 ha = 8,98 acres : Perkotaan : Perumahan; 0,125ac Lots
(6,53 %) 5,64 ha = 13,93 acres : Area air

Kemampuan dalam menangkap karbon:


-Distribusi Umur : Pohon Muda
-Kapasitas Tampung (tons) : 3.542,21
-Rata – rata Serapan Karbon (C)
(ton/tahun) : 79,83 = 292,18 Serapan CO2 (ton/tahun)
Sumber : Hasil Pengolahan Data
Gambar 12. Hasil Analisis CITYgreen 5.0 dari Skenario Pertama
36

Tutupan kanopi pohon seluas 44,43 ha tersebut menghasilkan serapan


karbon (C) sebesar 79,83 ton/tahun atau dalam satu hektarnya sebesar 1,80
ton/tahun. Hasil analisis CITYgreen ini tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian
Lukmanniah (2011). Hasil analisis CITYgreen dari penelitian Lukmanniah (2011)
menyatakan bahwa tutupan kanopi pohon seluas 0,01618 ha menghasilkan
serapan karbon (C) sebesar 0,03 ton/tahun. Maka dalam satu hektarnya menyerap
karbon (C) sebesar 1,85 ton/tahun. Setelah dikonversi ke potensi serapan CO2,
dengan skenario ini Kebun Raya Bogor mampu menyerap CO2 sebesar 292,18
ton/tahun. Hal ini berarti dengan skenario ini mampu meningkatkan potensi
serapan CO2 sebesar 157,57 ton atau 117,06 %, yakni dari 134,61 ton/tahun
menjadi 292,18 ton/tahun. Peningkatan tersebut dikarenakan skenario ini
menggunakan pohon berumur muda yang mana pohon bermuda ini merupakan
tipe pohon yang sedang dalam masa pertumbuhan, sehingga serapan CO2 dengan
skenario ini nilainya lebih besar dari serapan CO2 keadaan eksisting Kebun Raya
Bogor. Selain itu, pohon-pohon di Kebun Raya Bogor sudah lebih dari 30 tahun,
yang mana pohon tersebut tidak lagi aktif dalam proses penyerapan karbon yang
baru, tetapi karbon yang diserap seluruhnya akan disimpan hingga umur 100
tahun dan tidak akan digunakan untuk proses pertumbuhan karena umurnya sudah
tua.
Besarnya presentase Kebun Raya Bogor dengan skenario ini dalam
menyerap emisi CO2 yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor yang telah
diprediksikan hingga tahun 2040 dapat dilihat pada Tabel 19.
Tabel 19. Presentase Potensi Serapan CO2 Kebun Raya Bogor dari Skenario Pertama
Emisi CO2 Kendaraan Potensi Serapan CO2 KRB Presentase
Tahun
Bermotor (ton) Skenario Pertama (ton) Serapan (%)
2015 275.540,13 48,7 0,018
2020 325.945,33 97,39 0,030
2025 376.350,52 146,09 0,039
2030 426.755,70 194,79 0,046
2035 477.160,87 243,48 0,051
2040 527.566,07 292,18 0,055
Sumber : Hasil Pengolahan Data

Berdasarkan Tabel 19, diperkirakan pada tahun 2040 dengan skenario


pertama ini hanya mampu menyerap emisi CO2 sebesar 0,055 % dari 527.566,07
ton emisi CO2 yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor. Nilai serapan ini
37

sangatlah kecil untuk mengurangi emisi CO2 yang dikeluarkan oleh kendaraan
bermotor, maka dari itu dibuatlah skenario kedua. Skenario kedua ini dilakukan
untuk meningkatkan presentase Kebun Raya Bogor dalam menyerap emisi CO2
yang dikeluarkan oleh kendaraan bermotor.
2. Skenario Kedua (Skenario Pertama Ditambah dengan Ruang-ruang Kosong
yang Diasumsikan telah Ditanami Pohon Berumur Muda)
Ruang-ruang kosong yang dimaksud adalah hamparan rumput yang tidak
tertutupi kanopi pohon eksisting. Hamparan rumput tersebut seluas 31,05 ha,
sehingga luas total kanopinya menjadi 75,49 ha. Hasil analisis dengan skenario
kedua ini bisa dilihat pada Gambar 13.

Total Area :
86,33 Hektar = 213,31 acres

Komposisi Tutupan Lahan :


(87,44 %) 75,49 ha = 186,52 acres : Pohon-pohon; Dibawah kanopi ditutupi rumput
sebesar 50% - 75%
(1,82 %) 1,57 ha = 3,88 acres : Permukaan yang tidak dapat ditembus air; Aspal ;
Mengalirkan air ke selokan terbukan
(4,21 %) 3,63 ha = 8,98 acres : Perkotaan : Perumahan; 0,125ac Lots
(6,53 %) 5,64 ha = 13,93 acres : Area air

Kemampuan dalam menangkap karbon:


-Distribusi Umur : Pohon Muda
-Kapasitas Tampung (tons) : 6.003,67
-Rata – rata Serapan Karbon (C)
(ton/year) : 135,30 = 495,20 Serapan CO2 (ton/tahun)

Sumber : Hasil Pengolahan Data


Gambar 13. Hasil Analisis CITYgreen 5.0 dari Skenario Kedua
38

Serapan karbon (C) yang dihasilkan dari analisis CITYgreen 5.0 dari
skenario kedua ini adalah sebesar 135,30 ton/tahun. Serapan karbon (C) sebesar
135,30 ton/tahun tersebut setelah dikonversi ke serapan CO2, maka dengan
skenario ini Kebun Raya Bogor mampu menyerap CO2 sebesar 495,20 ton/tahun.
Skenario ini mampu meningkatkan potensi serapan CO2 dari keadaan eksisting
Kebun Raya Bogor sebesar 360,59 ton atau 267,88 %, yakni dari 134,61 ton/tahun
menjadi 495,20 ton/tahun. Hal ini selain dikarenakan luasan tutupan kanopinya
lebih besar dari skenario pertama, skenario ini juga menggunakan pohon berumur
muda yang mana pohon berumur muda ini merupakan tipe pohon yang sedang
dalam masa pertumbuhan, sehingga lebih banyak menyerap CO2. Maka dari itu,
tipe pohon muda ini dikatakan tipe pohon yang produktif dalam menyerap CO2,
karena CO2 yang diserap mayoritas digunakan untuk proses pertumbuhan.
Besarnya presentase Kebun Raya Bogor dengan skenario kedua yang luas
tutupan kanopi pohonnya lebih luas 32,97 ha dari skenario pertama ini mampu
menyerap emisi CO2 pada tahun 2040 sebesar 0,094 %. Besarnya presentase ini
hanya mampu menyerap emisi CO2 sebesar 495,20 ton dari 527.566,07 ton CO2
yang diemisikan oleh kendaraan bermotor. Lebih jelasnya lihat Tabel 20.

Tabel 20. Presentase Potensi Serapan CO2 Kebun Raya Bogor dari Skenario Kedua
Emisi CO2 Kendaraan Potensi Serapan CO2 KRB Presentase
Tahun
Bermotor (ton) Skenario Kedua (ton) Serapan (%)
2015 275.540,13 82,53 0,030
2020 325.945,33 165,07 0,051
2025 376.350,52 247,60 0,066
2030 426.755,70 330,13 0,077
2035 477.160,87 412,67 0,086
2040 527.566,07 495,20 0,094
Sumber : Hasil Pengolahan Data

Berdasarkan hasil analisis dari keadaan eksisting Kebun Raya Bogor,


skenario pertama dan skenario kedua tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa
dalam hal serapan karbon (C), pohon berumur muda lebih berpotensi daripada
pohon berumur tua. Namun, dalam hal simpanan karbon dari hasil analisis
tersebut dinyatakan bahwa pohon berumur tua kapasitas simpannya lebih besar
daripada pohon berumur muda. Hal tersebut dikarenakan umur pohon dapat
berpengaruh terhadap besarnya kapasitas karbon (C), sehingga umur pohon
berbanding lurus dengan diameter batang dan tajuk pohon. Oleh karena itu,
39

semakin bertambah umur pohon maka akan semakin besar diameter batang dan
tajuk pohon tersebut. Secara umum biomassa pada tiap bagian pohon pun akan
meningkat dengan semakin besarnya diameter pohon. Semakin besar diameter
batang dan tajuk pohon maka total biomassa pohon pun akan semakin besar
sehingga jumlah karbon (C) yang disimpan dalam pohon berumur tua lebih besar
daripada karbon (C) yang diserapnya.
Selain itu berdasarkan hasil analisis dari kondisi eksisting Kebun Raya
Bogor, skenario pertama dan skenario kedua juga menyatakan bahwa karakter
tutupan kaopi pohon yang paling berpotensi dalam menyerap karbondioksida
(CO2) yaitu skenario kedua. Hal tersebut dikarenakan, selain tutupan kanopi
pohon pada skenario kedua lebih luas, skenario kedua juga menggunakan pohon
berumur muda. Oleh karena itu, untuk mengembangkan ruang terbuka hijau di
daerah perkotaan dalam hal serapan karbondioksida (CO2), tidak bisa dilihat dari
luasan atau kuantitasnya saja, tetapi juga kualitas dari komponen ruang terbuka
hijau (pohon) juga harus diperhatikan. Maka dari itu, agar emisi karbondioksida
(CO2) yang diserap lebih besar, sebaiknya menggunakan pohon berumur muda
yang mempunyai tajuk yang rindang dan dari jenis yang memiliki intensitas
fotosintesis yang tinggi serta jumlah stomata yang banyak, sehingga
karbondioksida (CO2) yang diserap lebih banyak.