Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Sudah sejak dulu manusia berusaha agar dapat mencapai usia panjang (usia lanjut).
Bermacam obat pernah dipikirkan untuk memperpanjang usia dan banyak orang mencarinya.
Prose penuaan setiap individu pada orang-orang tubuhnya juga tidak sama secepatnya, ada
kalanya orang lanjut usia masih menunjukan kekurangan-kekurangan yang menyolok.

Usia lanjut adalah suatu proses alamiah yang tidak dapat dihindarkan. Proses menjadi tua
disebabkan oleh factor biologic yang terdiri dari 3 fase yakni progresif, fase stabil dan fase
regresif. Keperawatan lanjut usia khususnya pada kesehatan reproduksi merupakan suatu
pelayanan professional yang berdasarkan ilmu dan kiat atau tekhnik keperawatan yang berbentuk
bio-psiko-sosial-spritual dan cultural yang holistic yang ditujukan pada klien lanjut usia baik
sehat maupun sakit. Pada tingkat individu, keluarga, kelompok dan masyarkat. Dimasa lansia
juga harus diperhatikan pada masalah kesehatan gizi karna sangat berpengaruh sekali untuk
kesehatan lansia, lansia juga memiliki beberapa penyakit salah satunya osteoporosis dan
penyakit-penyakit lainnya.

Adanya pemahaman tentang kesehatan reproduksi pada orang lanjut usia, khususnya
wanita, menjadi begitu penting karena ada begitu banyak perubahan yang terjadi ketika wanita
memasuki usia lanjut. Penurunan kesehatan reproduksi pada pria usia lanjut biasanya terjadi
ketika pria memasuki tahap andropause, yaitu turunnya fungsi reproduksi. Sementara penurunan
kesehatan reproduksi pada wanita terjadi ketika wanita memasuki masa menopause. Untuk itu,
perlu sekali diberikan informasi-informasi yang tepat kepada para lanjut usia mengenai
kesehatan sistim reproduksinya, agar terhindar dari masalah-masalah kesehatan yang
mengancam kondisi tubuh secara keseluruhan.

1
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu lanjut usia ?
2. Apa masalah kesehatan reproduksi pada lanjut usia?
3. Jelaskan apa itu Seksualitas pada lanjut usia!
4. Jelaskan tentang gizi dan penyakit yang diderita oleh lanjut usia !

1.3 Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas kelompok mata kuliah kespro. Dan
diharapkan dapat mengetahui masalah-masalah yang dihadapi oleh lansia salah satunya yaitu
pada kesehatan reproduksinya.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Lanjut Usia

Menurut World Health Organisation (WHO), lansia adalah seseorang yang telah memasuki
usia 60 tahun keatas. Lansia merupakan kelompok umur pada manusia yang telah memasuki
tahapan akhir dari fase kehidupannya. Kelompok yang dikategorikan lansia ini akan terjadi suatu
proses yang disebut Aging Process atau proses penuaan.

Menurut Undang-Undang No 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lanjut usia pada Bab I
pasal 1 ayat 2 , yang dimaksud lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun keatas.
(Masdani;Nugroho 2000) mengemukakan bahwa lansia merupakan kelanjutan dari usia dewasa.
Kedewasaan dapat dibagi menjadi 4 bagian pertama fase iufentus, antara 25 dan 40 tahun, kedua
fase verilitas, antara 40 dan 50 tahun, ketiga fase prasenium, antara 55 dan 65 tahun dan keempat
fase senium, antara 65 hingga tutup usia.

WHO (1999) menggolongkan lanjut usia berdasarkan usia kronologis atau biologis
menjadi 4 kelompok, meliputi :

a) Usia pertengahan (middle age) antara usia 45 sampai 59 tahun


b) Lanjut usia (elderly) antara usia 60 sampai 74 tahun
c) Lanjut usia tua (old) antara usia 75 sampai 90 tahun
d) Usia sangat tua (very old) diatas usia 90 tahun

Menurut UU No 4 Tahun 1965 pasal 1 seorang dapat dinyatakan sebagai seorang jompo
atau lanjut usia setelah yang bersangkutan mencapai umur 55 tahun, tidak mempunyai atau tidak
berdaya mencari nafkah sendiri untuk keperluan hidupnya sehari-hari dan menerima nafkah dari
orang lain. UU No 13 Tahun 1998 tentang kesejahteraan lansian bahwa lansia adalah seseorang
yang mencapau usia 60 tahun keatas.

Adapun proses-proses yang terjadi pada masa penuaan. Proses ini berawal sejak selesainya
pertumbuhan pada usia 25 tahun. Beberapa orang menyadari di mulainya proses penuaan (di
luar, rambut yang menjadi putih) dan proses ini tidak menimbulkan permasalahaan. Kemudian

2
proses penuaan terjadi semakin cepat dan perubahan fisiologis semakin jelas. Kerapuhan akibat
perubahan fisiologis tidak selalu mudah di bedakan dari penurunan jasmani yang menyertai
malnutrisi. Perubahan degenerative dalam proses penuaan mencakup :

1. Penurunan kemampuan mencium bau dan mengecap


2. Penurunan daya pendengaran
3. Penurunan daya penglihatan
4. Osteoarthritis
5. Osteoporosis
6. Penyakit pembuluh arteri
7. Penurunan toleransi glukosa
8. Penurunan ukuran dan kekuatan otot

Hanya sedikit yang biasa kita lakukan untuk mencegah semua keadaan ini, kecuali
mungkin menghindari keadaan kegemukan. Berat badan yang berlebihan membuat gerakan lebih
sulit dan menambah rasa nyeri pada keadaan artritis.Kegemukan juga menggangu toleransi
glukosa dan menjadi penyabab timbulnya penyakit pembuluh nadi.
2.2 Masalah Kesehatan Reproduksi pada Lanjut Usia
Masalah kesehatan reproduksi pada manula (manusia lanjut usia) terjadi pada masa
menopause dan masa andropause berikut penjelasan tentang masa menopause dan masa
andropause.
a. Masa Menopause
Menopause berasal dari bahasa Yunani yang berarti bukan atau penghentian sementara.
Berdasarkan definisinya, kata menopause berarti masa istirahat. Namun secara Lingulitik
istilah yang lebih tepat adalah menocease yang berarti berhentinya masa menstruasi.
Menopause adalah masa berhentinya haid secara alamiah yang biasamya terjadi antara usia
45-50 tahun, atau masa berhentinya haid sama sekali. (Koes Irianto, 2014)
Menopause adalah saat didalam pertengahan kehidupan seorang wanita dimana ia
mengalami menstruasi terakhir kalinya. Pada saat ini kelenjar kandung telur atau ovarium
tidak menghasilkan telur lagi. (Ronald Hutapea, 2005). Tahap-tahap terjadinya
menopause akan terjadi seperti ada tahapan pramenopause yaitu (fungsi reproduksinya
menurun sampai timbulnya keluhan atau tanda-tanda menopause), ada pun tahap

4
Perimenopause adalah masa perubahan yang lambat laun menuju menopause. Hal ini akan
berdampak pada hormon yang dihasilkannya, kondisi fisik dan perasaan, dan ini bisa
berlangsung bulanan atau bertahun-tahun. Produksi estrogen di ovarium menurun selama
masa perimenopause kadar hormon bisa berfluktuasi, dan ini mengakibatkan perubahan
persis seperti waktu mau akil balig dulu. Gejala ini dipengaruhi oleh persepsi wanita itu
terhadap penuaan, menopause yang diinduksi terjadi kalau seseorang diangkat atau rusak
akibat operasi histerektomi, kemoterapi atau radiasi. Dalam hal ini menopause langsung
terjadi tanpa didahului perimenopause.
Pada masa menopause wanita lanjut usia akan mengalami perubahan-perubahan yang
bersifat drastis. Perubahan pada masa menopause ini menyangkut perubahan organ
reproduksi, perubahan hormon, perubahan fisik, maupun perubahan psikologis. Seorang
yang berada pada masa menopause, harus siap menjalani masa ini, karena masa menopause
adalah masa peralihan, yang biasanya seseorang mengalami masalah pada masa transisi ini.

Menurut Lastiko (2004), perubahan yang terjadi selama masa menopause adalah :

 Perubahan Organ Reproduksi

Perubahan organ reproduksi disebabkan oleh berhentinya haid, berbagai reproduksi akan
mengalami perubahan. Sel telur tidak lagi di produksi, sehingga juga akan mempengaruhi
komposisi hormon dalam organ reproduksi.

 Perubahan Hormon

Sesuatu yang berlebihan atau kurang, tentu mengakibatkan timbulnya suatu reaksi pada
kondisi menopause reaksi yang nyata adalah perubahan hormon estrogen yang menjadi
berkurang. Meski perubahan terjadi juga pada hormon lainnya, seperti progesteron, tetapi
perubahan yang mempengaruhi langsung kondisi fisik tubuh maupun organ reproduksi,
juga psikis adalah perubahan hormon estrogen. Menurunnya kadar hormon ini
menyebabkan terjadi perubahan haid menjadi sedikit, jarang, dan bahkan siklus haidnya
mulai terganggu. Hal ini disebabkan tidak tumbuhnya selaput lendir rahim akibat
rendahnya hormon estrogen.

2
 Perubahan Fisik

Akibat perubahan organ reproduksi maupun hormon tubuh pada masa menopause
mempengaruhi berbagai keadaan fisik tubuh seorang wanita. Keadaan ini berupa keluhan
ketidaknyamanan yang timbul dalam kehidupan sehari-hari.

 Perubahan Emosi

Selain fisik perubahan psikis juga sangat mempengaruhi kualitas hidup seorang wanita
dalam menjalani masa menopause sangat tergantung pada masing-masing individu,
pengaruh ini sangat tergantung pada pandangan masing-masing wanita terhadap
menopause, termasuk pengetahuannya tentang masa menopause.

Adapun upaya untuk mengatasi masalah perubahan pada lansia seperti :

1. Terapi Nonhormonal
a. Arus panas (hot flush)
Dianjurkan untuk meningkatkan asupan vitamin B kompleks untuk menekan stress
dengan menormalkan sistem saraf tubuh. Meningkatkan konsumsi makanan tinggi
fitoestrogen seperti kacang – kacangan terutama kedelai dan olahannya (tahu, tempe,
susu kedelai), dan papaya. Makan sumber vitamin E yang tidak saja dapat
memperlancar oksigen tapi juga mencegah pengendapan kolesterol di arteri sehingga
peredaran darah menjadi lancar.
Tips mengatasi Hot Flushes : Gunakan pakaian tipis yang memudahkan anda
membuka atau memakainya kembali saat suhu tubuh tidak stabil. Hindari makanan
yang panas, pedas, minuman berkafein dan beralkohol, karena dapat memicu hot
flushes dan keringat.
Bawalah tisu untuk mengusap wajah dan tubuh ketika berkeringat. Gunakan pakaian
tidur dan penutup alas tidur berbahaan katun karena akan member rasa lebih dingin
dan nyaman dibandingkan bahan lain.
b. Kulit kering dan keriput
Makanlah makanan alami bersifat membangun dan tidak merusak, terutama buah-
buahan dan sayuran.Tingkatkan asupan vitamin E yang terdapat di biji – bijian
6
terutama biji-bijian yang sudah berkecambah. Vitamin E diyakini dapat menyerap
dan menghancurkan pigmen tanda-tanda penuaan yang timbul pada kulit. Perbanyak
minum air putih dan hindari merokok.
c. Insomnia (sulit tidur).
Menjalani gaya hidup yang positif dan hilangkan pikiran negative. Melakukan
aktivitas fisik d siang hari. Aktivitas fisik secara teratur dapat membuat tidur lebih
nyenyak. Jangan membiarkan perut dalam kondisi kelaparan.
d. Gangguan psikis dan emosi
Memperbanyak makanan sumber fitoestrogen dan vitamin B6, misalnya kedelai dan
produknya seperti tempe, tahu, dan susu kedelai. Vitamin B6 penting untuk
memperlancar kerja sistem saraf dan menurunkan tingkat stress. Meningkatkan
asupan kalsium menurut Gay Gaer Luce dapat mengurangi kesedihan dengan
mempengaruhi fungsi sistem saraf. Perasaan marah dan depresi bisa diakibatkan oleh
ketidak seimbangan natrium dan kalium dalam cairan tubuh. Oleh karena itu kurangi
garam dan tingkatkan asupan kalium, misalnya jeruk atau pisang. Menghargai dan
mencintai diri sendiri dengan cara menerima apa adanya.
e. Oesteoporosis
Meningkatkan asupan kalsium bisa dari Susu atau ikan, misalnya ikan teri.
Meningkatkan asupan vitamin D dari Susu dan paparan sinar matahari pagi (jam
08.00 – 09.00). Meningkatkan asupan estrogen alami (fitoestrogen) dengan banyak
mengkonsumsi produk kedelai seperti susu kedelai, tempe dan tahu. Meningkatkan
aktifitas fisik (Wirakusumah. Emma. S, 2004).
2. Terapi Hormonal
Gejala-gejala menopause dan osteoporosis bisa dibantu dengan menggunakan terapi
penyulihan atau penggantian hormone (HRT = Hormone Replacement Therapy) yang
dilakukan dengan memasukkan hormon-hormon seksual didalam tablet atau beberapa
bentuk lainnya. HRT tidak sesuai bagi setiap perempuan dan adanya beberapa kondisi
medis, seperti kanker payudara . HRT perlu waktu lama untuk persiapan sehingga bisa
sesuai dengan setiap individu. Salah satu kerugian HRT adalah bahwa kebanyakan
persiapan HRT menyebabkan sedikit pendarahan bulanan pada perempuan yang secara

2
normal sudah berhenti menstruasi tetapi persiapan HRT sekarang tersedia bagi perempuan
tua dimana tidak ada pendarahan bulanan yang dialaminya (Nash Barbara,2006).
b. Masa Andropause
Menurut Prof.Peter H.C. Lim dari Parkway Group Helathcare keadaan menopause
tidak hanya terbatas pada perempuan lanjut usia tetapi pada pria setengah baya dan sudah
lansia. Banyak dari gejala yang menyertai menopause dan proses penuaan pada laki-laki
mirip pada keadaan hipogonadisme. Hal ini termasuk menurunnya kegiatan seksual. Ciri-
cirinya seperti menitipisnya rambut dan pertumbuhan janggut, berkurangnya masa dan
kekuatan otot, kurang tenaga keringat berlebih dan kadang-kadang muka menjadi merah
dan panas (hot flushes), dan mundurnya perasaan nyaman pada tubuh secara keseluruhan.
Andropause umumnya terjadi pada pria separuh baya. Namun tidak seperti
menopause pada wanita, dimana hormon estrogen mengalami penurunan secara tiba – tiba,
hormon testosteron pada pria menurun perlahan sesuai dengan pertambahan usia (proses
penuaan). Penurunan dimulai usia 30 tahunan, menurun sekitar 1-2% walaupun bervariasi
pada tiap individu. Andropause dipengaruhi banyak faktor, baik factor internal maupun
eksternal diantaranya gaya hidup, penyakit seperti hipertensi, diabetes mellitus, dan lainnya
serta juga bisa dipengaruhi oleh cacat bawaan seperti hypoplasia adrenal kongenital.
Banyak persoalan yang harus diwaspadai ketika usia sudah diatas 60 tahun. Selain
bermacam penyakit yang mulai mengganggu kesehatan. Ada beberapa penyebab disfungsi
ereksi pada mereka yang sudah berusia lanjut diantaranya factor pembuluh darah yang
sudah menyempit, penyakit jantung, kencing manis dan kegemukan pada orang tua.
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pada masa andropause yaitu Menurut Setiawan
(2010), andropause dapat disebabkan oleh berbagai faktor antara lain akan dipaparkan
sebagai berikut.

1. Faktor Lingkungan
Faktor lingkungan yang berperan dalam terjadinya andropause ialah adanya
pencemaran lingkungan yang bersifat kimia, psikis, dan faktor diet atau makanan.
Faktor yang bersifat kimia yaitu pengaruh bahan kimia yang bersifat estrogenic.
Bahan kimia tersebut antara lain DDT, asam sulfur, difocol, pestisida, insektisida,
herbisida, dan pupuk kimia. Efek estrogenic yang ditimbulkan dari bahan-bahan

8
tersebut dapat menyebabkan penurunan hormon testosteron.Sedangkan faktor psikis
yang berperan yaitu kebisingan, ketidaknyamanan, dan keamanan tempat tinggal dan
faktor diet yang berpengaruh yaitu kebiasaan mengkonsumsi alkohol dan diet yang
tidak seimbang.
2. Faktor Organik
Faktor organik yang berperan dalam terjadinya andropause yaitu adanya perubahan
hormonal. Pada pria yang telah mengalami penuaan, perubahan hormonal yang
terjadi antara lain akan dipaparkan sebagai berikut :
 Hormon Testosteron

Testosteron adalah zat androgen utama yang tidak hanya diproduksi oleh
testis, tapi juga oleh ovarium pada wanita dan kelenjar adrenal.Dalam keadaan
normal, kira-kira hanya 2% hormon testosteron berada dalam bentuk bebas (tidak
terikat), sisanya terikat pada Sex Hormone Binding Globulin (SHBG), dan hanya
sedikit yang terikat pada albumin serta cortisol binding globulin. Sedangkan yang
menunjukkan bioavailabilitas testosteron ialah yang memiliki bentuk bebas dan
terikat pada albumin, bukan yang terikat pada SHBG. Pada usia lanjut terdapat
penurunan jumlah testosteron bebas dan bioavailabilitasnya, seiring dengan
meningkatnya SHBG. Kondisi yang dapat mempengaruhi penurunan kadar
hormontestosteron ialah penuaan, keturunan, peningkatan BMI, stress fisik
maupun psikis, dan atrofi testis akibat trauma, orchitis, serta varikokel.
Sedangkan kondisi yang mempengaruhi peningkatan SHBG, sehingga dapat
mempengaruhi jumlah testosteron bebas adalah obat-obatan,adapun obat yang
dapat meningkatkan SHBG antara lain estrogen, obat anti epilepsi, serta golongan
barbiturate. Selain itu SHBG dapat meningkat akibat penurunan Insulin
GrowthFactor-1 (IGF-1) dan orang yang memiliki kebiasaan merokok.

 Hormon dehydroepiandrosteron (DHEA) dan dehydroepiandrosteronsulphat


(DHEAS)

Hormon DHEA dan DHEAS merupakan hormon yang berbentuk steroid C-


19 dan merupakan steroid terbesar dalam tubuh manusia.Hormon ini terutama
disekresi oleh zona reticularis kelenjar adrenal.Dalam darah, hormon ini terutama

2
berbentuk ikatan dengan sulfat disebut sebagai dehydroepiandrosteron sulfat
(DHEAS). Konsentrasi DHEAS dalam darah kira-kira 300-500 kali konsentrasi
konsentrasi DHEA.Sekresi DHEAS selain oleh kelenjar adrenal, sebagian kecil
berasal dari konversi DHEA jaringan perifer. Hormon DHEAS, terutama akan
dimetabolisir menjadi DHEA, kemudian berubah lagi menjadi σ5-
androstenedion, kemudian akhirnya menjadi testosteron. Sisanya, sebagian kecil
akan dimetabolisir menjadi σ5-androstenediol sulfat tanpa kehilangan gugus
sulfatnya dan atau sebaliknya. DHEA dalam sirkulasi kebanyakan berasal dari
DHEAS dan sebagian kecil berasal dari kelenjar adrenal.DHEA yang berasal
dalam sirkulasi sebagian besar terikat albumin, sisanya pada SHBG dan dalam
bentuk bebas. Puncak kadar DHEA/DHEAS ialah pada umur 20-30 tahun.
Berikutnya mulai terjadi penurunan secara perlahan-lahan dengan kecepatan kira-
kira 2% per tahun.

3. Faktor Psikogenik
Faktor-faktor psikogenik yang sering dianggap dapat mendorong timbulnya keluhan
adropause antara lain akan dipaparkan sebagai berikut.
a. Pensiun.
b. Penolakan terhadap kemunduran.
c. Stress tubuh/fisik.

Untuk mekanisme pasti mengenai hubungan berbagai gangguan psikologis dalam


terjadinya berbagai keluhan pria andropause, belumlah begitu jelas. Akan tetapi
berbagai gangguan psikologis tersebut dapat menurun kan kadar testosteron dalam
darah perifer.

2.3 Seksualitas Pada Lanjut Usia

Seksualitas adalah bagian integral dari kepribadian yang merupakan ekpresi dan
pengalaman diri yang bersifat multidimensi dan holistik. Seksualitas bukan hanya seks, tidak
hanya bagian tubuh tertentu saja atau urusan tempat tidur, tetapi ekspresi kepribadian, perasaan
fisik dan simbolik tentang kemesraan, menghargai dan saling memperhatikan secara timbal

10
balik. Perilaku seksual ditentukan oleh kebutuhan akan cinta dan kasih sayang, rasa aman secara
psikologis serta harga diri sebagai wanita atau pria.

Seksualitas secara umum adalah sesuatu yang berkaitan dengan alat kelamin atau hal-hal
yang berhubungan dengan perkara-perkara hubungan intim antara laki-laki dengan perempuan

a. Perubahan seksualitas pada lanjut usia pria


 Terjadinya penurunan sirkulasi testosteron tetapi jarang menyebabkan gangguan
fungsi seksual pada lansia yang sehat.
 Kelenjer penis tampak menurun
 Kontrol ejakulasi meningkat
 Dorongan seksual jarang terjadi pada pria diatas 50 tahun
 Tingkat orgasme menurun atau hilang
 Ejakulasi dikeluarkan tanpa kekuatan penuh dan mengandung sedikit sperma
b. Perubahan seksualitas pada lanjut usia wanita
 Dinding vagian menjadi lebih tipis dan mudah teriritasi
 Pengembangan dinding vagina berkurang pada panjang dan lebar
 Fase orgasme lebih pendek
 Penurunan elefasi uterus
 Kemampuan multiple orgasme masih baik
 Selama hubungan seksual dapat terjadi iritasi pada kandungan kemih dengan
uretra

Semakin bertambahnya umur manusia, terjadi proses penuaan secara degenerative yang
akan berdampak pada perubahan-perubahan pada diri manusia, tidak hanya perubahan fisik
tetapi juga kognitif, perasaan, sosial, dan seksual salah satunya adalah perubahan pada system
repsoduksi dan penurunan fungsi serta potensi seksual.

Pada masa lanjut usia, seorang lansia akan mengalami hambatan-hambatan seperti
hambatan pada aktivitas seksual lanjut usia. Hambatan aktivitas seksual ini terbagi menjadi dua
bagian yaitu :

2
1. Hambatan Eksternal
Hambatan aktivitas seksual yang datang dari lingkungan. Biasanya berupa pandangan
sosial, yang menganggap bahwa aktivitas seksual tidak layak lagi dilakukan oleh para
lanjut usia.
2. Hambatan Internal
Merupakan hambatan aktivitas seksual yang terutama berasal dari subyek lanjut usia
sendiri. Hambatan internal psikologik seringkali disulit dipisahkan secara jelas dengan
hambatan eksternal. Seringkali seorang lansia sudah merasa tidak bisa dan tidak pantas
berpenampilan untuk bisa menarik lawan jenisnya.

Ada tiga sebab mengapa kehidupan seksual tidak harmonis, yaitu

1. Komunikasi seksual diantara pasangan tidak baik


2. Pengetahuan tentang seksual yang kurang
3. Gangguan fungsi seksual pada salah satu maupun kedua pihak bisa karena perubahan
fisiologis maupun patologis.
 Perubahan fisik pada system reproduksi
Perubahan system reproduksi pada lansia ditandai dengan menciutnya ovary dan
uterus. Terjadi atrofi payudara. Pada laki-laki testis masih dapat memproduksi
spermatozoa, meskipun adanya penurunan secara berangsur-angsur. Dorongan
seksual menetap sampai usia 70 tahun (asal kondisi kesehatan baik), yaitu dengan
kehidupan seksual dapat diupayakan sampai masa lanjut usia. Selaput lender
vagina menurun permukaan menjadi halus, sekresi menjadi berkurang dan reaksi
sifatnya menjadi alkali (Watson,2003)
 Penurunan fungsi dan potensi seksual
Penurunan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering kali berhubungan
dengan berbagai gangguan fisik. Seperti gangguan jantung, metabolisme,
vaginitis, dan baru selesai operasi prostatektomi. Pada wanita mungkin ada
kaitannya dengan masa menopause, yang berarti fungsi seksual mengalami
penurunan karena sudah tidak produktif walaupun sebenarnya tidak harus begitu
karena kebutuhan biologis selama orang masih sehat dan masih memerlukan tidak

12
salahnya bila dijalankan terus secara wajar dan teratur tanpa mengganggu
kesehatannya.
Menurut Kuntjoro tahun 2002, faktor psikologis yang menyertai lansia
berkaitan dengan seksualitas, antara lain seperti rasa tabuk atau malu bila
mempertahankan kehidupan seksual pada lansia.
2.4 Gizi dan Penyakit Pada Lansia
a. Gizi
Para ahli gizi menganjurkan bahwa untuk lansia yang sehat, menu sehari-hari
hendaknya tidak berlebih, tetapi cukup mengandung zat gizi sesuai dengan
persyaratan kebutuhan lansia, membatasi konsumsi lemak yang tidak kelihatan
(menempel pada bahan pangan, terutama pangan hewani), membatasi konsumsi gula
dan minuman yang banyak mengandung gula, menghindari konsumsi garam yang
terlalu banyak, cukup banyak mengkonsumsi makanan yang berserat (buah-buahan,
sayuran dan sereal) untuk menghindari sembelit atau kontipasi.
Menu makanan manula sehari-hari disusun berdasarkan konsep gizi seimbang
sebagai contoh :
 Kelompok makanan pokok (utama) : nasi (1 porsi = 25gr)
 Kelompok lauk pauk : daging (1 potong = 50gr), tahu (1 potong = 25gr)
 Kelompok sayuran : bayam (1 mangkok = 1001gr)
 Kelompok buah-buahan : papaya (1 potong = 100gr) dan susu 1 gelas 100gr

Pada manula juga membutuhi Kecukupan gizi sama seperti kecukupan gizi pada kelompok
penduduk yang lebih muda usianya. Satu-satunya pengecualian adalah penurunan kebutuhan
akan energi yang mengikuti pertambahan umur. Sebab-sebab yang melandasi kondisi ini adalah :

1. Keadaan fisik menurun bersamaan dengan bertambahnya usia, sehingga energi yang di
keluarkan lebih sedikit.
2. Perubahan pada komposisi dan fungsi tubuh menyebabkan penurunan BMR (basal
metabolic rate)
Pada lansia memilik perubahan fisiologis yang berkaitan dengan kebutuhan zat gizi
Menurut (Darmojo,2010) adapun perubahan fisiologis sebagai berikut :
a. Komposisi tubuh

2
Komposisi tubuh dapat memberikan indikasi status gizi dan tingkat bugaran jasmani
seseorang. Akibat penuaan pada masa otot berkurang. Masa tubuh yang berlemak
berkurang sebanyak 6,3% sedangkan banyak 2% masa lemak bertambah dari berat badan.
Jumlah cairan tubuh berkurang dari 60% dari berat badan pada orang muda menjadi 45%
dari berat badan wanita usia lanjut (kawas dan broak mayer,2006;Arisman,2008).
b. Gigi dan mulut
Gigi merupakan unsur penting untuk pencapaian derajat kesehatan dan gizi yang baik.
Perubahan fisiologis yang terjadi ada jaringan keras gigi sesuai perubahan pada gigi.
setelah gigi erupsi, morfologi gigi berubah karena pemakaian kemudian tinggal
digantikan gigi permanen. pada usia lanjut gigi permanen menjadi kering, lebih rapuh,
berwarna lebih gelap, dan bahkan sebagian gigi telah tinggal (Arisman,2004). Dengan
hilangnya gigi akan mengganggu hubungan oklusi gigi atas dan bawah akan
mengakibatkan daya kunyah menurun. Pada lansia saluran pencernaan tidak dapat
mengimbangi ketidak sempurnaan fungsi kunyah sehingga akan mempengaruhi
kesehatan umum (Darmojo,2010)
c. Indra pengecap dan pencium
Dengan bertambahnya umur, kemampuan mengecap, mencerna, dan metaboisme
makanan berubah. Dalam Darmojo (2010) menyatakan 80% tunas pengecap hilang pada
usia 80 tahun. Wanita pasca menopause cenderung berkurang kemampuan merasakan
manis dan asin. Keadaan ini dapat menyebabkan lansia kurang menikmati makanan dan
mengalami penurunan nafsu makan dan asupan makanan.
d. Gastrointestinal
Motilitas lambung dan pengosongan Lambung menurun seiring dengan meningkatnya
usia. Lapisan lambung lansia menipis di atas 60 tahun, sekresi HCL dan pepsin
berkurang. Akibatnya penyerapan vitamin dan zat besi berkurang sehingga berpengaruh
pada kejadian osteoporosis dan osteomalasia pada lansia. Pada manusia lanjut
usia,reseptor pada esophagus kurang sensitive dengan adanya makanan. Hal ini
menyebabkan kemampuan peristaltic esopha Gus mendorong makanan ke lambung
menurun sehingga pengosongan esophagus terlambat (Darmojo.2010).

14
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi status nutrisi pada Lansia seperti :
1. Penurunan Hormon
Menurunnya estrogen dapat menimbulkan perubahan kerja ussu menjadi lambat,
sehingga dapat menimbulkan gangguan buang air besar misalnya sembelit. Rendahnya
hormone estrogen dan hormone paratiroid menyebabkan pengapuran pada tulang artinya
tulang kekurangan kalium sehingga kropos dan mudah patah.
2. Gizi
Gizi seimbang sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tubuh baik untuk energi,
penambahan kalsium dan sebagainya.
Terapi yang dapat dilakukan oleh wanita menopause
 Olahraga teratur dan hindari stress. Untuk mencegah gejala lebih awal dan
meningkatkan kekuatan tulang dengan jalan kaki, jogging, meditasi dan yoga
 Konsumsi makanan kaya kalsium. Untuk mengurangi pengeroposan pada patah
tulang dengan asupan susu, keju, kacang-kacangan serta roti.
 Terapi sulih hormon. Tujuan dasar terapi ini untuk menggantikan estrogen yang
hilang agar jangka panjang dan pendek dapat teratasi.
 Makan buah-buahan dan sayuran seperti papaya, kedelai, bengkoang dan terong yang
banyak mengandung zat antioksidan pencegah penuaan dan serangan radikal bebas.
Mengandung vitamin B1, vitamin B6, vitamin B12, asam folat serta vitamin E dan
vitamin A
 Kurangi asupan kafein. Untuk mempercepat penyerapan kalsium dengan menghindari
kopi, teh, minuman soda dan alkohol.
 Jauhi rokok menyebabkan terjadinya menopause lebih awal dan rentan osteoporosis.
3. Osteoporosis
Osteoporosis adalah hilangnya masa tulang atau penipisan dari tulang yang
mengakibatkan menjadi kurang padat. Salah satu penyebabnya adalah berkurangnya
estrogen sesudah menopause.

2
b. Penyakit
1. Osteoporosis
Osteoporosis adalah hilangnya masa tulang atau penipisan dari tulang
yang mengakibatkan menjadi kurang padat. Salah satu penyebabnya adalah
berkurangnya estrogen sesudah menopause, wanita dapat kehilangan 2-5% masa
tulang pertahun selama 5 tahun. Hal ini mendatangkan resiko tinggi, karena
tulang menjadi rapuh dan mudah patah.
Pada permulaan osteoporosis tidak ada gejala apa-apa, tetapi selanjutnya
dapat mengakibatkan nyeri pinggang dan perut. Dalam kurun 50 tahun kedepan
beban yang ditimbulkan akan meingkat secara dramatis. Beberapa medikasi juga
dapat ditempuh. Terapi estrogen dapat membantu menghentikan osteoporosis,
tetapi tidak dianjurkan hanya semata-mata untuk tujuan osteoporosis, harus ada
gejala menopause lainnya. Orang-orang yang mendapat resiko osteoporosis
tertinggi adalah yang bercirikan : kulit putih atau asia; kondisi penyakit hormonal
seperti diabetes, hipertiroid atau cushing, berat badan berkurang, menopause dini,
merokok, ada riwayat osteoporosis dalam keluarga, asupan tinggi kafein, alkohol
dan protein.
2. Osteo Artritis (OA)
OA adalah peradangan sendi yang terjadi akibat peristiwa mekanik dan
biologik yang mengakibatkan penipisan rawan sendi, tidak stabilnya sendi, dan
perkapuran. OA merupakan penyebab utama ketidakmandirian pada usia lanjut,
yang dipertinggi risikonya karena trauma, penggunaan sendi berulang dan
obesitas.
3. Hipertensi
Hipertensi merupakan kondisi dimana tekanan darah sistolik sama atau lebih
tinggi dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih tinggi dari 90mmHg, yang
terjadi karena menurunnya elastisitas arteri pada proses menua. Bila tidak
ditangani, hipertensi dapat memicu terjadinya stroke, kerusakan pembuluh darah
(arteriosclerosis), serangan/gagal jantung, dan gagal ginjal.

16
4. Diabetes Mellitus
Sekitar 50% dari lansia memiliki gangguan intoleransi glukosa dimana gula darah
masih tetap normal meskipun dalam kondisi puasa. Kondisi ini dapat
berkembang menjadi diabetes melitus, dimana kadar gula darah sewaktu diatas
atau sama dengan 200 mg/dl dan kadar glukosa darah saat puasa di atas 126
mg/dl. Obesitas, pola makan yang buruk, kurang olah raga dan usia lanjut
mempertinggi risiko DM. Sebagai ilustrasi, sekitar 20% dari lansia berusia 75
tahun menderita DM. Beberapa gejalanya adalah sering haus dan lapar, mudah
lelah, berat badan terus berkurang, gatal-gatal, mati rasa, dan luka yang lambat
sembuh.
5. Dimensia
Merupakan kumpulan gejala yang berkaitan dengan kehilangan fungsi intelektual
dan daya ingat secara perlahan-lahan, sehingga mempengaruhi aktivitas
kehidupan sehari-hari. Alzheimer merupakan jenis demensia yang paling sering
terjadi pada usia lanjut. Adanya riwayat keluarga, usia lanjut, penyakit
vaskular/pembuluh darah (hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi), trauma kepala
merupakan faktor risiko terjadinya demensia. Demensia juga kerap terjadi pada
wanita dan individu dengan pendidikan rendah.
6. Penyakit jantung coroner
Penyempitan pembuluh darah jantung sehingga aliran darah menuju jantung
terganggu. Gejala umum yang terjadi adalah nyeri dada, sesak napas, pingsan,
hingga kebingungan.
7. Kanker
Mutasi karena suatu sebab sehingga ia tidak bisa lagi menjalankan fungsi
normalnya. Kanker merupakan sebuah keadaan dimana struktur dan fungsi
sebuah sel mengalami perubahan bahkan sampai merusak sel-sel lainnya yang
masih sehat. Faktor resiko yang paling utama adalah usia. Dua pertiga kasus
kanker terjadi di atas usia 65 tahun. Mulai usia 40 tahun resiko untuk timbul
kanker meningkat

2
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Lanjut usia (lansia) adalah seseorang yang telah memasuki umur 60 tahun keatas, lansia
juga termasuk dalam usia lanjut dari usia dewasa. Kedewasaan itu sendiri dapat dibagi menjadi 4
bagian pertama fase iufentus, antara 25 dan 40 tahun, kedua fase verilitas, antara 40 dan 50
tahun, ketiga fase prasenium, antara 55 dan 65 tahun dan keempat fase senium, antara 65 hingga
tutup usia. Proses awal penuaan yang terlihat seperti rambut yang berubah warna menjadi
keputihan. Pada lansia mempunyai masalah kesehatan dalam reproduksinya seperti jika lansia
wanita dapat terjadi masa menopause yaitu terhentinya masa menstruasi sedangkan untuk lansia
pria dapat terjadi masa endropause yaitu menurunnya hormon estrogen secara perlahan-lahan.
Dimasa lansia dapat menyebabkan penurunanya seksualitas atau hambatan aktivitas seksual pada
usia lanjut.
Gizi untuk lansia sangatlah penting untuk faktor kesehatannya. Lansia sangat
membutuhkan gizi seimbang karna untuk mengurangi atau memperlambat datangnya penyakit
yang akan diderita oleh lansia, penyakit yang sering terjadi pada lansia seperti osteoporosis,
diabetes mellitus, serta hipertensi.

3.2 Saran

Dalam pemberian perhatian khsuus kepada kelompok usia lanjut berikut khususnya pada
gizi usia lanjut berikut dengan pelayanan kesehatan reproduksinya, diharapkan tenaga kesehatan
lebih sering memberikan penyuluhan terhadap kelompok usia lanjut dan keluarganya tentang
pentingnya memeriksakan kesehatannya ke tempat pelayanan kesehatan terdekat.

18
DAFTAR PUSTAKA

Hartono, Andry.2009 Gizi Kesehatan Masyarakat, Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran.


Hutapea, Ronald.2005. Sehat dan Ceria di Usia Senja, Jakarta: Rineka Cipta.
Irianto, Koes. 2014.Gizi Seimbang dalam Kesehatan Reproduksi, Bandung: Alfabeta.
Ma’rifatul, Lilik. 2011.Keperawatan Lanjut Usia, Jakarta: Graha Ilmu.
Rebecca.2007.Simple Guides Menopause, Jakarta: Erlangga.
Fatmah. 2010. Gizi Usia Lanjut. Jakarta : Erlangga.
Oenzil,fadil.2012. Gizi meningkatkan kualitas manula.Jakarta:EGC.
Darmojo, Boedhi.2000.Beberapa masalah penyakit pada Usia Lanjut. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI.