Anda di halaman 1dari 48

CONTOH KASUS YANG DAPAT DISELESAIKAN DENGAN SIKLUS PDCA: DIARE AKUT

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit diare akut atau juga sering disebut gastroenteritis masih merupakan masalah
masyarakat di Indonesia. Dari daftar urutan penyebab kunjungan puskesmas / balai
pengobatan, hamper selalu termasuk diantara 1.000 penduduk setiap tahunnya. Penderita diare
di Indonesia diperkirakan ditemukan sekitar 60 juta kejadian setiap tahunnya, sebagian besar
(70-80%) dari penderita ini adalah anak dibawah umur 5 tahun (+ 40 juta kejadian). Kelompok
ini setiap tahunnya mengalami lebih dari satu kaji kejadian diare, sebagian dari penderita (1-2%)
akan jatuh kedalam dehidrasi dan kalau tidak segera ditolong 50-60% diantaranya dapat
meninggal.
(Sudaryat, Suraatmaja, 2005)
Hasil riset kesehatan dasar (Riskesdes) oleh badan penelitian dan pengembangan kesehatan
(balitbangkes) tahun 2008 penyebab kematian bayi yang terbanyak adalah diare 31,4%
sedangkan penyebab kematian anak yang terbanyak adalah diare 25,2%.
Pembangunan kesehatan secara umum bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan
seoptimal mungkin baik individu, keluarga maupun masyarakat. Menyadari pentingnya
peranan kesehatan tersebut, maka sebagai tenaga kesehatan dituntut berperan aktif melalui
usaha promotif yaitu upaya peningkatan kesehatan preventif yaitu pencegahan penyakit,
kuratif yaitu penyembuhan penyakit melalui pengobatan dan rehabilitatif yaitu pemulihan
kesehatan kepada tiap-tiap individu dan masyarakat agar selalu menjaga, memelihara dan
meningkatkan derajat kesehatan seoptimal mungkin.

(Sudaryat, Suraatmaja, 2005)’

1
1.2 Tujuan
 Untuk mengetahui penyebab infesi puerperalis.
 Melakukan pemecahan masalah dengan metode PDCA pada infeksi puerperalis di
Rumah Sakit

BAB 2
LANDASAN TEORI
PENILAIAN MUTU PELAYANAN KEBIDANAN
MENGGUNAKAN SIKLUS PDCA
1. Penilaian Mutu
Mutu Pelayanan Kesehatan adalah penampilan yang pantas dan sesuai (yang berhubungan
dengan standar-standar) dari suatu intervensi yang diketahui aman, yang dapat memberikan
hasil kepada masyarakat yang bersangkutan dan yang telah mempunyai kemampuan untuk
menghasilkan dampak (Roemer dalam Amirudin, 2007). Mutu merupakan kepatuhan terhadap
standar yang telah ditetapkan (Saifudin, 2006).
Dimensi mutu pelayanan kebidanan adalah :
Kompetensi Teknis (Technical competence)
Akses terhadap pelayanan(Access to service)
Efektivitas (Effectiveness)
Efisiensi (Efficiency)
Kontinuitas (Continuity)
Keamanan (Safety)
Hubungan antar manusia (Interpersonal relations)
Kenyamanan (Amenities
Mutu pelayanan kebidanan dapat diketahui apabila sebelumnya telah dilakukan penilaian.
Dalam praktiknya melakukan penilaian tidaklah mudah, karena mutu dalam pelayanan
kebidanan bersifat multidimensional. Artinya setiap orang dapat berbeda persepsi penilaiannya
tergantung dari dimensi penilaian yang dipakai.

Robert dan Prevost (dalam Saifudin, 2006) menyatakan perbedaan dimensi penilaian yaitu :
 Bagi pemakai jasa pelayanan, mutu terkait dengan dimensi ketanggapan petugas memenuhi
kebutuhan klien, kelancaran komunikasi, keprihatinan dan keramahtamahan petugas
terhadap klien.
 Bagi penyelengara pelayanan, mutu terkait dengan dimensi kesesuaian pelayanan dengan
perkembangan ilmu dan teknologi, serta otonomi profesi sesuai dengan kebutuhan klien.
 Bagi penyandang dana, nutu terkait dengan dimensi efisiensi pemakaian dana, kewajaran
pembiayaan dan kemampuan menekan beban biaya.
Untuk mengatasi adanya perbedaan dimensi ini disepakati bahwa penilaian mutu berpedoman
pada hakekat dasar untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan kesehatan ( health needs and
demannds) klien pengguna pelayanan yang apabila berhasil akan menghasilkan kepuasan
(client satisfaction) terhadap pelayanan kebidanan yang diselenggarakan. Maka mutu
pelayanan kebidanan menunjuk pada tingkat kesempurnaan pelayanan dalam menimbulkan
rasa puas pada klien. Makin sempurna kepuasan, maka semakin sempurna pelayanan yang
dilakukan.
Berkaitan dengan kepuasan, terdapat masalah pokok yang ditemukan yaitu kepuasan bersifat
subjektif. Tiap orang memiliki tingkat kepuasan yang berbeda. Sekalipun pelayanan kebidanan
telah memuasakan klien, tetapi masih banyak ditemukan pelayanan yang tidak sesuai dengan
standar profesi dan kode etik. Untuk mengatasi masalah ini dilakukan pembatasan, yaitu:
1. Pembatasan pada derajat kepuasan pasien
Pengukuran kepuasan dilakukan tidak secara individual, tetapi yang dipakai adalah
kepuasan rata-rata. Pelayanan kebidanan bermutu apabila dapat memuaskan rata-rata
klien.
2. Pembatasan pada upayan yang dilakukan
Pelayanan kebidanan yang menimbulkan kepuasan harus memenuhi kode etik dan
standar pelayanan kebidanan.
Mutu pelayanan kebidanan merujuk pada tingkat kesempurnaan yang dapat memuaskan
dengan tingkat rata-rata klien serta penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik dan standar
profesi kebidanan.
Menurut Amiruddun (2007) dalam pelakukan penilaian mutu ada tiga pendekatan penilaian
mutu, yaitu :
1. Struktur
 Struktur meliputi sarana fisik perlengkapan dan peralatan, organisasi dan
manajemen, keuangan, sumber daya manusia lainnya di fasilitas kesehatan.
 Struktur = input.
 Baik tidaknya struktur sebagai input dapat diukur dari :
 Jumlah, besarnya input
 Mutu struktur atau mutu input
 Besarnya anggaran atau biaya
 Kewajaran

1
2. Proses
 Proses merupakan semua kegiatan yang dilaksanakan secara profesional oleh tenaga
kesehatan (dokter, perawat dan tenaga profesi lain) dan interaksinya dengan klien.
 Proses mencakup diagnosa, rencana pengobatan, indikasi tindakan, prosedur dan
penanganan kasus.
 Baik tidaknya proses dapat diukur dari :
 Relevan tidaknya proses itu bagi klien
 Fleksibilitas dan efektifitas
 Mutu proses itu sendiri sesuai dengan standar pelayananyang semestinya
 Kewajaran, tidak kurang dan tidak berlebihan
3. Outcomes
 Outcome adalah hasil akhir kegiatan dan tindakan tenaga kesehatan profesional
terhadap klien
 Dapat berarti adanya perubahan derajat kesehatan dan kepuasan baikpositif maupun
negatif.
 Outcome jangka pendek adalah hasil dari segala suatu tindakan tertentu atau
prosedur tertentu.
 Outcome jangka panjang adalah status kesehatan dan kemampuan fungsional klien.
3. Siklus PDCA
Konsep siklus PDCA pertama kali diperkenalkan oleh Walter Shewhart pada tahun 1930
yang disebut dengan “Shewhart cycle“.PDCA, singkatan bahasa Inggrisdari 'Plan, Do,
Check, Act' ('Rencanakan, Kerjakan, Cek, Tindak lanjuti'), adalah suatu
proses pemecahan masalah empat langkah interatif yang umum digunakan
dalam pengendalian kualitas. Selanjutnya konsep ini dikembangkan oleh Dr. Walter
Edwards Deming yang kemudian dikenal dengan ”The Deming Wheel”(Tjitro, 2009)
Metode ini dipopulerkan oleh W. Edwards Deming, yang sering dianggap sebagai bapak
pengendalian kualitas modern sehingga sering juga disebut dengansiklus Deming.
Deming sendiri selalu merujuk metode ini sebagai siklus Shewhart, dari nama Walter A.
Shewhart, yang sering dianggap sebagai bapak pengendalian kualitas statistis. Siklus
PDCA berguna sebagai pola kerja dalam perbaikan suatu proses atau system sehaingga
mutu pelayanan kesehatan.
PDCA merupakan rangkaian kegiatan yang terdiri dari perencanaan kerja, pelaksanaan
kerja,pengawan kerja dan perbaikan kerja yang dilakukan terus menerus dan
berkesinambungan mutu pelayanan. Siklus PDCA digunakan dalam pelayanan
kesehatan untuk penyelesaian masalah dalam rangka peningkatan mutu pelayanan
kesehatan.
Siklus PDCA terdiri dari empat tahapan, yaitu:
1) Perencanaan ( Plan )
Tahapan pertama adalah membuat suatu perencanaan. Perencanaan merupakan
suatu upaya menjabarkan cara penyelesaian masalah yang ditetapkan ke dalam
unsur-unsur rencana yang lengkap serta saling terkait dan terpadu sehingga dapat
dipakaisebagai pedoman dalam melaksanaan cara penyelesaian masalah. Hasil
akhir yang dicapai dari perencanaan adalah tersusunnya rencana kerja
penyelesaian masalah mutu yang akan diselenggarakan. Rencana kerja
penyelesaian masalah mutu yang baik mengandung setidak-tidaknya tujuh unsur
rencana yaitu:
 Judul rencana kerja (topic),
 Pernyataan tentang macam dan besarnya masalah mutu yang dihadapi
(problem statement),
 Rumusan tujuan umum dan tujuan khusus, lengkap dengan target yang ingin
dicapai (goal, objective, and target),
 Kegiatan yang akan dilakukan (activities),
 Organisasi dan susunan personalia pelaksana (organization and personnels)
 Biaya yang diperlukan (budget),
 Tolak ukur keberhasilan yang dipergunakan (milestone).
2) Pelaksanaan ( Do )
Tahapan kedua yang dilakukan ialah melaksanakan rencana yang telah disusun.
Jika pelaksanaan rencana tersebut membutuhkan keterlibatan staf lain di luar
anggota tim, perlu terlebih dahulu diselenggarakan orientasi, sehingga staf
pelaksana tersebut dapat memahami dengan lengkap rencana yang akan
dilaksanakan.
Pada tahap ini diperlukan suatu kerjasama dari para anggota dan pimpinan
manajerial. Untuk dapat mencapai kerjasama yang baik, diperlukan keterampilan
pokok manajerial, yaitu :
 Keterampilan komunikasi (communication) untuk menimbulkan pengertian
staf terhadap cara pentelesaian mutu yang akan dilaksanakan
 Keterampilan motivasi (motivation) untuk mendorong staf bersedia
menyelesaikan cara penyelesaian masalah mutu yang telah direncanakan
 Keterampilan kepemimpinan (leadershif) untuk mengkordinasikan kegiatan
cara penyelesaian masalah mutu yang dilaksanakan
 Keterampilan pengarahan (directing) untuk mengarahkan kegiatan yang
dilaksanakan.
3) Pemeriksaan ( Check )
Tahapan ketiga yang dilakukan ialah secara berkala memeriksa kemajuan dan hasil
yang dicapai dan pelaksanaan rencana yang telah ditetapkan. Tujuan dari
pemeriksaan untuk mengetahui :
 Sampai seberapa jauh pelaksanaan cara penyelesaian masalahnya telah
sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan
 Bagian mana kegiatan yang berjalan baik dan bagaian mana yang belum
berjalan dengan baik
 Apakah sumberdaya yang dibutuhkan masih cukup tersedia
 Apakah cara penyelesaian masalah yang sedang dilakukan memerlukan
perbaikan atau
Untuk dapat memeriksa pelaksanaan cara penyelesaian masalah, ada dua alat
bantu yang sering dipergunakan yakni
 Lembaran pemeriksaan (check list)
 Lembar pemeriksaan adalah suatu formulir yang digunakan untuk mencatat
secara periodik setiap penyimpangan yang terjadi. Langkah pembuatan
lembar pemeriksan adalah:
· Tetapkan jenis penyimpangan yang diamati
· Tetapkan jangka waktu pengamatan
· Lakukan perhitungan penyimpangan
 Peta kontrol (control diagram)
 Peta kontrol adalah suatu peta / grafik yang mengambarkan besarnya
penyimpangan yang terjadi dalam kurun waktu tertentu. Peta kontrok dibuat
bedasarkan lembar pemeriksaan. Langkah-langkah yang dilakukan dalam
pembuatan peta kontrol adalah :
· Tetapkan garis penyimpangan minimum dan maksimum
· Tentukan prosentase penyimpangan
· Buat grafik penyimpangan
· Nilai grafik

4) Perbaikan (Action)
Tahapan keempat yang dilakukan adalah melaksanaan perbaikan rencana kerja.
Lakukanlah penyempurnaan rencana kerja atau bila perlu mempertimbangkan
pemilihan dengan cara penyelesaian masalah lain. Untuk selanjutnya rencana kerja
yang telah diperbaiki tersebut dilaksanakan kembali. Jangan lupa untuk memantau
kemajuan serta hasil yang dicapai. Untuk kemudian tergantung dari kemajuan
serta hasil tersebut, laksanakan tindakan yang sesuai.

A. PENGERTIAN DIARE
Menurut WHO (1999) secara klinis diare didefinisikan sebagai bertambahnya defekasi
(buang air besar) lebih dari biasanya/lebih dari tiga kali sehari, disertai dengan perubahan
konsisten tinja (menjadi cair) dengan atau tanpa darah.Secara klinik dibedakan tiga macam
sindroma diare yaitu diare cair akut, disentri, dan diare persisten.
Sedangkan menurut menurut Depkes RI (2005), diare adalah suatu penyakit dengan tanda-
tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair
dan bertambahnya frekuensi buang air besar biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari .
Menurut Simadibrata (2006) diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk
cair atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya
lebih dari 200 gram atau 200 ml/24 jam.
Diare akut diberi batasan sebagai meningkatnya kekerapan, bertambah cairan, atau
bertambah banyaknya tinja yang dikeluarkan, akan tetapi hal itu sangat ocialc terhadap
kebiasaan yang ada pada penderita dan berlangsung tidak lebih dari satu minggu. Apabila
diare berlangsung antara satu sampai dua minggu maka dikatakan diare yang
berkepanjangan (Soegijanto, 2002).

B. KLASIFIKASI DIARE
Departemen Kesehatan RI (2000), mengklasifikasikan jenis diare menjadi empat kelompok
yaitu:
1. Diare akut: yaitu diare yang berlangsung kurang dari empat belas hari (umumnya
kurang dari tujuh hari).
2. Disentri; yaitu diare yang disertai darah dalam tinjanya.
3. Diare persisten; yaitu diare yang berlangsung lebih dari empat belas hari secara terus
menerus.
4. Diare dengan masalah lain: anak yang menderita diare (diare akut dan persisten)
mungkin juga disertai penyakit lain seperti demam, gangguan gizi atau penyakit
lainnya.
Menurut Suraatmaja, (2007)di bagi menjadi 2 yaitu:
1. Berdasarkan lamanya diare:
 Diare akut, yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari.
 Diare kronik, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari
dengan kehilanganberat badan atau berat badan tidak bertambah (failure to
thrive) selama masa diare tersebut.
2. Berdasarkan mekanisme patofisiologi.
 Diare sekresi (secretory diarrhea)
 Diare osmotic (osmotic diarrhea)

Diare akut dapat mengakibatkan:


1. kehilangan air dan elektrolit serta gangguan asam basa yang menyebabkan
dehidrasi, asidosis ocialc dan hypokalemia.
2. Gangguan sirkulasi darah, dapat berupa renjatan hipovolemik sebagai akibat diare
dengan atau tanpa disertai muntah,
3. Gangguan gizi yang terjadi akibat keluarnya cairan berlebihan karena diare dan
muntah (Soegijanto, 2002).
C. ETIOLOGI
Diare dapat menyebabkan hilangnya sejumlah besar air dan elektrolit, terutama natrium
dan kalium dan sering disertai dengan asidosis ocialc.Dehidrasi dapat diklasifikasikan
berdasarkan ocial air dan atau keseimbangan serum elektrolit.Setiap kehilangan berat
badan yang melampaui 1% dalam sehari merupakan hilangnya air dari tubuh.Kehidupan
bayi jarang dapat dipertahankan apabila ocial melampaui 15% (Soegijanto, 2002).
Menurut World Gastroenterology Organization Global Guidelines 2005, etiologi diare
akut dibagi atas empat penyebab:
1. Bakteri : Shigella, Salmonella, E. Coli, Gol. Vibrio, Bacillus cereus, Clostridium
perfringens, Stafilokokus aureus, Campylobacter aeromonas.
2. Virus : Rotavirus, Adenovirus, Norwalk virus, Coronavirus, Astrovirus.
3. Parasit : Protozoa, Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Balantidium coli, Trichuris
trichiura, Cryptosporidium parvum, Strongyloides stercoralis
4. Non infeksi : malabsorpsi, keracunan makanan, alergi, gangguan motilitas,
imunodefisiensi, kesulitan makan, dll. (Simadibrata, 2006).
Menurut Haroen N.S, Suraatmaja dan P.O Asnil (1998), ditinjau dari sudut patofisiologi,
penyebab diare akut dapat dibagi dalam dua golongan yaitu:

1. Diare sekresi (secretory diarrhoe), disebabkan oleh:


a. Infeksi virus, kuman-kuman ocialc dan apatogen seperti shigella, ocialc, E. Coli,
golongan vibrio, B. Cereus, clostridium perfarings, stapylococus aureus,
comperastaltik usus halus yang disebabkan bahan-bahan kimia makanan
(misalnya keracunan makanan, makanan yang pedas, terlalau asam), gangguan
psikis (ketakutan, gugup), gangguan saraf, hawa dingin, alergi dan sebagainya.
b. Defisiensi imum terutama SIGA (secretory imonol bulin A) yang mengakibatkan
terjadinya berlipat gandanya bakteri/flata usus dan jamur terutama canalida.
2. Diare ocial (ocial ocialc) disebabkan oleh:
a. Malabsorpsi makanan: karbohidrat, lemak (LCT), protein, vitamin dan mineral.
b. Kurang kalori protein.
c. Bayi berat badan lahir rendah dan bayi baru lahir.

Sedangkan menurut Ngastiyah (2005), penyebab diare dapat dibagi dalam beberapa ocial
yaitu:
1. Faktor infeksi
 Infeksi enteral
 Merupakan penyebab utama diare pada anak, yang meliputi: infeksi bakteri,
infeksi virus (enteovirus, ocialcss, virus echo coxsackie). Adeno virus, rota virus,
astrovirus, dll) dan infeksi parasit : cacing (ascaris, trichuris, oxyuris,
strongxloides) protozoa (entamoeba histolytica, giardia lamblia, trichomonas
homunis) jamur (canida albicous).
 Infeksi parenteral ialah infeksi diluar alat pencernaan makanan seperti otitis
media akut (OMA) ocialcs/tonsilofaringits, bronkopeneumonia, ensefalitis dan
sebagainya. Keadaan ini terutama terdapat pada bayi dan anak berumur
dibawah dua (2) tahun.
2. Faktor malaborsi
Malaborsi karbohidrat, lemak dan protein.
a. Faktor makanan
b. Faktor psikologis.

D. CARA PENULARAN DIARE


Diare dapat ditularkan dengan berbagai cara yang mengakibatkan timbulnya infeksi antara
lain:
1. Makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi, baik yang sudah dicemari oleh
serangga atau kontaminasi oleh tangan yang kotor.
2. Bermain dengan mainan yang terkontaminasi, apalagi pada bayi sering memasukan
tangan/ mainan / apapun kedalam mulut. Karena virus ini dapat bertahan
dipermukaan udara sampai beberapa hari.
3. Pengunaan sumber air yang sudah tercemar dan tidak memasak air dengan benar
4. Pencucian dan pemakaian botol susu yang tidak bersih.
5. Tidak mencuci tangan dengan bersih setelah selesai buang air besar atau
membersihkan tinja anak yang terinfeksi, sehingga mengkontaminasi perabotan dan
alat-alat yang dipegan.
E. MANIFESTASI KLINIS
Penderita dengan diare cair mengeluarkan tinja yang mengandung sejumlah ion natrium,
klorida, dan bikarbonat.Kehilangan air dan elektrolit ini bertambah bila ada muntah dan
kehilangan air juga meningkat bila ada panas.Hal ini dapat menyebabkan dehidrasi,
asidosis ocialc, dan hipovolemia.Dehidrasi merupakan keadaan yang paling berbahaya
karena dapat menyebabkan hipovolemia, kolaps kardiovaskuler dan kematian bila tidak
diobati dengan tepat.Dehidrasi yang terjadi menurut tonisitas plasma dapat berupa
dehidrasi ocialc, dehidrasi hipertonik (hipernatremik) atau dehidrasi hipotonik.Menurut
derajat dehidrasinya oci tanpa dehidrasi, dehidrasi ringan, dehidrasi sedang atau dehidrasi
berat (Juffrie, 2010).
Diare akut karena infeksi dapat disertai muntah-muntah, demam, tenesmus,
hematoschezia, nyeri perut dan atau kejang perut.Akibat paling fatal dari diare yang
berlangsung lama tanpa rehidrasi yang adekuat adalah kematian akibat dehidrasi yang
menimbulkan renjatan hipovolemik atau gangguan biokimiawi berupa asidosis ocialc
yang berlanjut. Seseoran yang kekurangan cairan akan merasa haus, berat badan
berkurang, mata cekung, lidah kering, tulang pipi tampak lebih menonjol, turgor kulit
menurun serta suara menjadi serak. Keluhan dan gejala ini disebabkan oleh deplesi air
yang ocialc. Karena kehilangan bikarbonat (HCO3) maka perbandingannya dengan asam
karbonat berkurang mengakibatkan penurunan Ph darah yang merangsang pusat
pernapasan sehingga frekuensi pernapasan meningkat dan lebih dalam (pernapasan
Kussmaul)
Gangguan kardiovaskuler pada tahap hipovolemik yang berat dapat berupa renjatan
dengan tanda-tanda denyut nadi cepat (> 120 x/menit), tekanan darah menurun sampai
tidak terukur.Pasien mulai gelisah, muka pucat, akral dingin dan kadang-kadang
sianosis.Karena kekurangan kalium pada diare akut juga dapat timbul aritmia jantung.
Penurunan tekanan darah akan menyebabkan perfusi ginjal menurun sampai timbul
oliguria/anuria. Bila keadaan ini tidak segera diatsi akan timbul penyulit nekrosis tubulus
ginjal akut yang berarti suatu keadaan gagal ginjal akut.
Tabel 1.1 Penilaian Derajat Dehidrasi (Mansjoer, 2000).

Penilaian Ringan Sedang Berat


Keadaan umum baik, sadar gelisah, rewel lesu, lunglai atau tidak
sadar
Mata Normal cekung sangat cekung
Air mata ada tidak ada kering
Mulut dan lidah Basah Kering tidak ada, sangat kering
Rasa haus minum biasa, tidak haus haus, ingin minum malas/tidak oci minum
banyak
Turgor kulit Kembali kembali lambat kembali sangat lambat
Hasil pemeriksaan tanpa dehidrasi Dehidrasi ringan, Bila ada satu tanda
sedang, bila ada tanda ditambah satu atau lebih
ditambah satu atau tanda lain.
lebih tanda lain.

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Menurut Hassan dan Alatas (1998) pemeriksaan laboratorium pada diare adalah:
1. Feses
 Makroskopis dan Mikroskopis
 Ph dan kadar gula pada tinja dengan kertas lakmus dan tablet clinitest, bila
diduga terdapat intoleransi gula.
 Biakan dan uji resisten.
2. Pemeriksaan keseimbangan asam basa dalam darah, dengan menentukan Ph dan
cadangan alkalin atau dengan analisa gas darah.
3. Ureum kreatinin untuk mengetahui faal ginjal.
4. Elektrolit terutama natrium, kalium dan fosfor dalam serium.
5. Pemeriksaan Intubasi deudenum untuk mengetahui jenis jasad renik atau parasit.

G. PENCEGAHAN
Pada dasarnya ada tiga tingkatan pencegahan penyakit secara umum yakni: pencegahan
tingkat pertama (Primary Prevention) yang meliputi promosi kesehatan dan pencegahan
khusus, pencegahan tingkat kedua (Secondary Prevention) yang meliputi diagnosis dini
serta pengobatan yang tepat, dan pencegahan tingkat ketiga (tertiary prevention) yang
meliputi pencegahan terhadap cacat dan rehabilitasi (Nasry Noor, 1997).
1. Pencegahan Primer
Pencegahan primer penyakit diare dapat ditujukan pada social penyebab,
lingkungan dan social pejamu.Untuk social penyebab dilakukan berbagai upaya
agar mikroorganisme penyebab diare dihilangkan.Peningkatan air bersih dan
sanitasi lingkungan, perbaikan lingkungan biologis dilakukan untuk memodifikasi
lingkungan. Untuk meningkatkan daya tahan tubuh dari pejamu maka dapat
dilakukan peningkatan status gizi dan pemberian imunisasi
 Penyediaan Air Bersih
Sebagian besar kuman infeksius penyebab diare ditularkan melalui jalur fecal-
oral mereka dapat ditularkan dengan memasukkan kedalam mulut, cairan atau
benda yang tercemar dengan tinja misalnya air minum, jari-jari tangan,
makanan yang disiapkan dalam panic yang dicuci dengan air tercemar (Depkes
RI, 2006). Masyarakat yang terjangkau oleh penyediaan air yang benar-benar
bersih mempunyai resiko menderita diare lebih kecil dibandingkan dengan
masyarakat yang tidak mendapatkan air bersih (Depkes RI, 2006).
 Tempat Pembuangan Tinja
Tempat pembuangan tinja yang tidak memenuhi syarat sanitasi akan
meningkatkan risiko terjadinya diare berdarah pada anak balita sebesar dua kali
lipat dibandingkan keluarga yang mempunyai kebiasaan membuang tinjanya
yang memenuhi syarat sanitasi (Wibowo, 2003).
 Status Gizi
Pada ada anak dengan malnutrisi, kelenjar timusnya akan mengecil dan
kekebalan sel-sel menjadi terbatas sekali sehingga kemampuan untuk
mengadakan kekebalan nonspesifik terhadap kelompok ocialc berkurang
(Suharyono, 1986)
 Pemberian Air Susu Ibu (ASI)
Pada bayi yang tidak diberi ASI secara penuh, pada 6 bulan pertama kehidupan
resiko terkena diare adalah 30 kali lebih besar. Pemberian susu formula
merupakan cara lain dari menyusui. Penggunaan botol untuk susu formula
biasanya menyebabkan risiko tinggi terkena diare sehingga oci mengakibatkan
terjadinya gizi buruk (Depkes RI, 2006
 Kebiasaan Mencuci Tangan
Kebiasaan yang berhubungan dengan kebersihan perorangan yang penting
dalam penularan kuman diare adalah mencuci tangan.Mencuci tangan dengan
sabun, terutama sesudah buang air besar, sesudah membuang tinja anak,
sebelum menyiapkan makanan, sebelum menyuapi makanan anak dan
sebelum makan, mempunyai dampak dalam kejadian diare (Depkes RI, 2006).
 Imunisasi
Diare sering timbul menyertai campak sehingga pemberian imunisasi campak
juga dapat mencegah diare oleh karena itu beri anak imunisasi campak segera
setelah berumur 9 bulan (Depkes RI, 2006).

Anak harus diimunisasi terhadap campak secepat mungkin setelah usia 9 bulan.
Diare dan disentri sering terjadi dan berakibat berat pada anak-anak yang sedang
menderita campak dalam 4 mingggu terakhir.Hal ini sebagai akibat dari penurunan
kekebalan tubuh penderita. Selain imunisasi campak, anak juga harus mendapat
imunisasi dasar lainnya seperti imunisasi BCG untuk mencegah penyakit TBC,
imunisasi DPT untuk mencegah penyakit diptheri, pertusis dan tetanus, serta
imunisasi polio yang berguna dalam pencegahan penyakit polio (Depkes RI, 2006).
2. Pencegahan Skunder
Pencegahan tingkat kedua ini ditujukan kepada sianak yang telah menderita diare
atau yang terancam akan menderita yaitu dengan menentukan ocialc dini dan
pengobatan yang cepat dan tepat, serta untuk mencegah terjadinya akibat samping
dan komplikasi. Prinsip pengobatan diare adalah mencegah dehidrasi dengan
pemberian oralit (rehidrasi) dan mengatasi penyebab diare.Diare dapat disebabkan
oleh banyak ocial seperti salah makan, bakteri, parasit, sampai radang.Pengobatan
yang diberikan harus disesuaikan dengan klinis pasien.Obat diare dibagi menjadi
tiga, pertama kemoterapeutika yang memberantas penyebab diare seperti bakteri
atau parasit, obstipansia untuk menghilangkan gejala diare dan spasmolitik yang
membantu menghi langkan kejang perut yang tidak menyenangkan.Sebaiknya
jangan mengkonsumsi golongan kemoterapeutika tanpa resep dokter. Dokter akan
menentukan obat yang disesuaikandengan penyebab diarenya ocial bakteri, parasit.
Pemberian kemoterapeutika memiliki efek samping dan sebaiknya diminum sesuai
petunjuk dokter (Fahrial Syam, 2006).
3. Pencegahan Tertier
Pencegahan tingkat ketiga adalah penderita diare jangan sampai mengalami
kecatatan dan kematian akibat dehidrasi.Jadi pada tahap ini penderita diare
diusahakan pengembalian fungsi fisik, psikologis semaksimal mungkin.Pada tingkat
ini juga dilakukan usaha rehabilitasi untuk mencegah terjadinya akibat samping dari
penyakit diare.Usaha yang dapat dilakukan yaitu dengan terus mengkon sumsi
makanan bergizi dan menjaga keseimbangan cairan.Rehabilitasi juga dilakukan
terhadap mental penderita dengan tetap memberikan kesempatan dan ikut
memberikan dukungan secara mental kepada anak.Anak yang menderita diare
selain diperhatikan kebutuhan fisik juga kebutuhan psikologis harus dipenuhi dan
kebutuhan ocial dalam berinteraksi atau bermain dalam pergaulan dengan teman
sepermainan.
H. PENGOBATAN
Menurut Kemenkes RI (2011), prinsip tatalaksana diare pada balita adalah LINTAS DIARE
(Lima Langkah Tuntaskan Diare), yang didukung oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia dengan
rekomendasi WHO. Rehidrasi bukan satu-satunya cara untuk mengatasi diare tetapi
memperbaiki kondisi usus serta mempercepat penyembuhan/menghentikan diare dan
mencegah anak kekurangan gizi akibat diare juga menjadi cara untuk mengobati diare.
Adapun program LINTAS DIARE yaitu:
1. Rehidrasi menggunakan Oralit osmolalitas rendah
2. Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut
3. Teruskan pemberian ASI dan Makanan
4. Antibiotik Selektif
5. Nasihat kepada orang tua/pengasuh
a. Oralit
Untuk mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah tangga
dengan memberikan oralit osmolaritas rendah, dan bila tidak tersedia berikan cairan
rumah tangga seperti air tajin, kuah sayur, air matang.Oralit saat ini yang beredar di
pasaran sudah oralit yang baru dengan osmolaritas yang rendah, yang dapat
mengurangi rasa mual dan muntah.Oralit merupakan cairan yang terbaik bagi
penderita diare untuk mengganti cairan yang hilang.Bila penderita tidak oci minum
harus segera di bawa ke sarana kesehatan untuk mendapat pertolongan cairan
melalui ocial.Pemberian oralit didasarkan pada derajat dehidrasi (Kemenkes RI, 2011).

1. Diare tanpa dehidrasi


Umur < 1 tahun : ¼ - ½ gelas setiap kali anak mencret
Umur 1 – 4 tahun : ½ - 1 gelas setiap kali anak mencret
Umur diatas 5 Tahun : 1 – 1½ gelas setiap kali anak mencret
3. Diare dengan dehidrasi ringan sedang
4. Dosis oralit yang diberikan dalam 3 jam pertama 75 ml/ kg bb dan selanjutnya
diteruskan dengan pemberian oralit seperti diare tanpa dehidrasi.

5. Diare dengan dehidrasi berat


6. Penderita diare yang tidak dapat minum harus segera dirujuk ke Puskesmas
untuk di ocial.(Kemenkes RI, 2011)

7. Untuk anak dibawah umur 2 tahun cairan harus diberikan dengan sendok
dengan cara 1 sendok setiap 1 sampai 2 menit. Pemberian dengan botol tidak
boleh dilakukan.Anak yang lebih besar dapat minum langsung dari gelas.Bila
terjadi muntah hentikan dulu selama 10 menit kemudian mulai lagi perlahan-
lahan misalnya 1 sendok setiap 2-3 menit.Pemberian cairan ini dilanjutkan
sampai dengan diare berhenti (Juffrie, 2010).
b. Zinc
Zinc merupakan salah satu mikronutrien yang penting dalam tubuh. Zinc dapat
menghambat enzim INOS (Inducible Nitric Oxide Synthase), dimana ekskresi enzim
ini meningkat selama diare dan mengakibatkan hipersekresi epitel usus. Zinc juga
berperan dalam epitelisasi dinding usus yang mengalami kerusakan morfologi dan
fungsi selama kejadian diare (Kemenkes RI, 2011).
Pemberian Zinc selama diare terbukti mampu mengurangi lama dan tingkat
keparahan diare, mengurangi frekuensi buang air besar, mengurangi volume tinja,
serta menurunkan kekambuhan kejadian diare pada 3 bulan berikutnya.Berdasarkan
bukti ini semua anak diare harus diberi Zinc segera saat anak mengalami diare. Dosis
pemberian Zinc pada balita:
1. Umur <6 bulan : ½ tablet (10 mg) per hari selama 10 hari
2. Umur > 6 bulan : 1 tablet (20 mg) per hari selama 10 hari.
Zinc tetap diberikan selama 10 hari walaupun diare sudah berhenti. Cara pemberian
tablet zinc : Larutkan tablet dalam 1 sendok makan air matangatau ASI, sesudah larut
berikan pada anak diare (Kemenkes RI, 2011).

c. Pemberian ASI/makanan
Pemberian makanan selama diare bertujuan untuk memberikan gizi pada penderita
terutama pada anak agar tetap kuat dan tumbuh serta mencegah berkurangnya
berat badan.Anak yang masih minum ASI harus lebih sering di beri ASI. Anak yang
minum susu formula juga diberikan lebih sering dari biasanya. Anak usia 6 bulan atau
lebih termasuk bayi yang telah mendapatkan makanan padat harus diberikan
makanan yang mudah dicerna dan diberikan sedikit lebih sedikit dan lebih sering.
Setelah diare berhenti, pemberian makanan ekstra diteruskan selama 2 minggu untuk
membantu pemulihan berat badan (Kemenkes RI, 2011).
d. Pemberian antibiotika hanya atas indikasi
Antibiotika tidak boleh digunakan secara rutin karena kecilnya kejadian diare pada
balita yang disebabkan oleh bakteri.Antibiotika hanya bermanfaat pada penderita
diare dengan darah (sebagian besar karena shigellosis), suspek kolera (Kemenkes RI,
2011).
e. Pemberian Nasihat
Menurut Kemenkes RI (2011), ibu atau pengasuh yang berhubungan erat dengan
balita harus diberi nasehat tentang:
1. Cara memberikan cairan dan obat di rumah
2. Kapan harus membawa kembali balita ke petugas kesehatan bila :
 Diare lebih sering
 Muntah berulang
 Sangat haus
 Makan/minum sedikit
 Timbul demam
 Tinja berdarah
 Tidak membaik dalam 3 hari.
Obat-obat yang diberikan untuk mengobati diare ini dapat berupa :
o Kemoterapi
o Obstipansia
o Spasmolitik
o Probiotik

1. Kemoterapi.
Untuk terapi kausal yang memusnahkan bakteri penyebab penyakit digunakan obat
golongan sulfonamide tau antibiotic
2. Obstipansia
Untuk terapi simptomatis dengan tujuan untuk menghentikan diare, yaitu dengan
cara :
o Menekan peristaltic usus (loperamid)
o Menciutkan selaput usus atau adstringen (tannin)
o Pemberian adsorben untuk menyerap racun ayng dihasilkan bakteri atau
racun penyebab diare yang lain (carbo adsorben, kaolin)
o Pemberian mucilage untuk melindungi selaput lender usus yang luka
3. Spasmolitik
Zat yang dapat melemaskan kejang-kejang otot perut (nyeri perut) pada diare
(ocialc sulfat)
4. Probiotik untuk meningkatkan daya tahan tubuh
Lactobacillus dan bifidobacteria (disebut Lactid Acid Bacteria / LAB) merupakan
probiotik yang dapat menghasilkan antibiotic alami yang dapat mencegah /
menghambat pertumbuhan bakteri pathogen. LAB dpat menghasilkan asam laktat
yang mneybabkan Ph usus menjadi asam, suasana asam akan menghambat
pertumbuhan bakteri pathogen. LAB ini dapat membantu memperkuat dan
memperbaiki pencernaan bayi, mencegah diare.
I. KOMPLIKASI
Menurut Ngastiyah (2005) komplikasi dari daire ada :
1. Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, ocialc atau hipertonik)
2. Renjatan hipovolemik.
3. Hipokalemia(dengan gejala meteorismus, hipotoni otot, lemah, bradikardia,
perubahan elektrokardiogram.
4. Hipoglikemia.
5. Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi enzim lactase.
6. Kejang, terjadi pada dehidrasi hipertonik.
7. Malnutrisi ocial protein, (akibat muntah dan diare, jika lama atau kronik).

BAB 3
TINJAUAN KASUS
PDCA ( Plan, Do, Check, Action) dengan contoh kasus diare akut di ruang seruni, RSUD Sehat
sentosa.

PLAN : merencanakan
Judul rencana : penurunan angka diare akut di RSUD Sehat Sentosa
Rumusan pernyataan dan uraian masalah
70% diare akut di RSUD Sehat Sentosa pada bulan januari 2013 mengalami peningkatan. Diare
akut: yaitu diare yang berlangsung kurang dari empat belas hari (umumnya kurang dari tujuh
hari). Diare akut terjadi karena:
1. Faktor infeksi
a. infeksi enteral: infeksi saluran pencernaan makanan yang merupakan penyebab
utama diare pada anak
b. infeksi parenteral: merupakan infeksi diluar system pencernaan makanan yang dapat
menimbulkan diare seperti otitis media akut (OMA), konsilitis/ konsilofaringitis,
bronkopneumonia, dll.
2. Faktor malabsorbsi
o Malabsorbsi karbohidrat
o Malabsorbsi lemak
o Malabsorbsi protein
3. Faktor makanan
Makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan
4. Faktor psikologis
Rasa takut dan cemas

Diare akut dengan dehidrasi berat pada anak, bila tidak segera ditangani secara baik dan benar
bisa menyebabkan kematian.
Rumusan tujuan:
Menurunkan angka diare akut pada anak di RSUD Sehat Sehat Sentosa dari 70% pada bulan
januari 2013 menjadi 30% pada bulan maret 2013

Uraian kegiatan:
Rencana asuhan pada pasien diare akut antara lain antara lain :
1. Lakukan rehidrasi
2. Kolaborasi dengan dokter spesialis anak
3. Pemberian terapi peroral maupun parenteal sesuai advis dokter
4. Lakukan pemeriksaan TTV dan teruskan observasi TTV
5. Berikan nurisi/diet pada pasien diare dengan rendah serat
6. Observasi intake dan output
7. Berikan KIE tentang kebersihan diri
Metode dan kriteria penilaian:
1. menjaga kebersihan diri dan lingkungan
2. status gizi harus seimbang
3. kebiasaan mencuci tangan

Waktu
No. Kegiatan Januari Februari Maret
1 Melakukan rehidrasi O

2 Pemberian terapi peroral O


maupun parenteal sesuai
advis dokter

3 Melakukan pemeriksaan O
TTV dan teruskan
observasi TTV
4 Memberikan nurisi/diet O
pada pasien diare dengan
rendah serat
5 Mengobservasi intake dan O
output

6 Evaluasi dari factor O


penyebab diare

7 Memberikan KIE tentang O


kebersihan diri
8 Evaluasi O O O

o Pelaksana
bertugas untuk mengidentifikasi
- 1 orang bertugas Kegiatan ini dilaksanakan oleh 3 orang yaitu :
- 1 orang untuk penyuluhan
- 1 orang bertugas untuk evaluasi
o Biaya
Tidak Ada

DO : Melaksanakan
1. Melakukan rehidrasi
2. Melakukan kolaborasi dengan dokter spesialis anak
3. Pemberian terapi peroral maupun parenteal sesuai advis dokter
4. Melakukan pemeriksaan TTV dan teruskan observasi TTV
5. Memberikan nurisi/diet pada pasien diare dengan rendah serat
6. Mengobservasi intake dan output
7. Memberikan KIE tentang kebersihan diri

CHECK : Mengamati perubahan/pemeriksaan

No Kegiatan Dilakukan Tidak dilakukan


1 menjaga kebersihan diri dan
lingkungan

2 status gizi harus seimbang

3 kebiasaan mencuci tangan

Action : Perbaikan
Dalam pelaksanaan perencanaan kegiatan penurunan angka diare akut pada anak di
RSUD Sentosa Sehat ditemukan bahwa faktor kebersihan yang menjadi penyebab
terjadinya diare akut pada anak. Setelah dilakukan evaluasi pada tahap check ditemukan
kurangnya menjaga kebersihan pasien sehingga ini merupakan factor utama terjadinya
diare akut. Oleh karena itu dilakukan langkah perbaikan pada pasien dengan cara
mengajarkan cuci tangan yang benar, menjaga kebersihan perseorangan dan
kebersihan lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
Saifuddin (2003), Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, YBPSP, Jakarta
Amiruddin (2007), Pendekatan Mutu dan Kepuasan Pelanggan dalam Pelayanan Kesehatan,
http://ridwanamiruddin.files.wordpress.com/2007/06/mutu-ugd-rs-swasta-bapelkes-
210607.ppthttp://puslit.petra.ac.id/journals/mechanical/
http://askep-askeb.cz.cc/
Depkes RI. (2005). Pedoman Teknis Imunisasi Tingkat Puskesmas. Depkes RI.
Juffrie, Mohammad. Dkk. (2010).Gastroenterologi-hepatologi Jilid I. Jakarta: IDAI.
Mansjoer,Arif, dkk., (2000). Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3. Jakarta: Medica Aesculpalus FKUI.
Ngastiyah, (2005).Perawatan Anak Sakit. Jakarta ; EGC
Soegijanto S. 2006. Ilmu Penyakit Anak “Diagnosa dan Penatalaksanaan”. Surabaya: Airlangga
University Press.
Suraatmaja, S. (2007).Aspek Gizi Air Susu Ibu.Jakarta: EGC.

MENYELESAIKAN MASALAH MENGGUNAKAN PDCA

BAB I

PENDAHULUAN

1. -Latar Belakang

Keluarga berencana (KB) adalah program nasional yang bertujuan meningkatkan derajat
kesehatan, kesejahteraan ibu, anak dan keluarga khususnya, serta bangsa pada umumnya.
Salah satunya dengan cara membatasi dan menjarangkan kehamilan.
Masalah yang akan dihadapi oleh keluarga yang memiliki anak dalam jumlah banyak
terutama disertai tidak diaturnya jarak kelahiran adalah peningkatan risiko terjadinya
pendarahan ibu hamil pada trimester ketiga, angka kematian bayi meningkat, ibu tidak
memiliki waktu yang cukup untuk merawat diri dan anaknya, serta terganggunya proses
perkembangan fisik dan mental anak yang diakibatkan kurang gizi, berat badan lahir
rendah (BBLR) dan lahir premature.

Proyeksi penduduk telah dirumuskan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dengan perkiraan
penduduk Indonesia sekitar 273,65 juta jiwa pada tahun 2025. Laju pertumbuhan
penduduk Indonesia tahun 1971-1980 adalah 2,30%, tahun 1980-1990 adalah 1,97%, tahun
1990-2000 sebanyak 1,49% dan tahun 2005-2010 adalah 1,3%. Hal ini menujukkan adanya
penurunan laju pertumbuhan penduduk Indonesia. Sedangkan laju pertumbuhan di
Provinsi Riau berturut-turut untuk tahun yang sama adalah 3,11%, 4,25%, 4,22%, 4,35%,
dan 4,05%. Hal ini menunjukkan laju pertumbuhan penduduk di Provinsi Riau masih jauh
lebih tinggi dari laju pertumbuhan penduduk Indonesia.

Revitalisasi program KB perlu dilakukan, karena dalam lima tahun terakhir pertumbuhan
akseptor (pengguna) KB baru hanya berkisar antara 0,3 persen sampai 0,5 persen. Badan
Koordinator Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menargetkan pertumbuhan akseptor
KB aktif minimal satu persen mulai 2012. Pada 2011, jumlah akseptor KB aktif tercatat
sebanyak 37.000. Dengan revitalisasi program KB yang dimulai akhir Juni lalu, diharapkan
jumlah akseptor aktif mencapai 40.000 pada akhir 2012. Bila revitalisasi program KB tidak
segera dilakukan, Indonesia terancam pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali.

Jumlah akseptor baru KB berdasarkan alat kontrasepsi di Provinsi Riau tahun 2012
sebanyak 90.197 orang (67,16%) dari target 134.300 orang. Akseptor baru metode
kontrasepsi jangka panjang (MKJP) sebanyak 5.656 orang dan non MKJP sebanyak 84.541
orang.

Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Harapan Raya tahun 2012 sebanyak 81.689
orang yang terdiri dari pria 48.191 orang dan wanita 33.498 dengan jumlah Pasangan Usia
Subur (PUS) sebanyak 17.822 orang. Dari semua PUS yang ada, akseptor KB aktif MKJP
sebanyak 2.131 orang dan non MKJP sebanyak 12. 464 orang. Akseptor baru KB sebanyak
1.388 orang (63,17%) dari target 2.197 orang, target MKJP hanya tercapai 30,29% (128
orang) dari 423 orang dan target non MKJP 71,02% (1.260 orang) dari 1.774 orang.
Akseptor baru pria sebanyak 60 orang (4,32%) dari 2.197 orang akseptor baru, dimana
seluruh akseptor ini merupakan akseptor non MKJP.
Berdasarkan Human Development Report tahun 2011 masih rendahnya angka cakupan
KB-MKJP dikarenakan masih sangat rendahnya tingkat pengetahuan PUS tentang metode
kontrasepsi jangka panjang. Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2006-
2007 menunjukkan wanita kawin yang mengetahui metode Mini Operasi Wanita (MOW)
sebesar 63 persen dan metode Mini Operasi Pria (MOP) sebesar 39 persen, sedangkan
pria kawin yang mengetahui metode MOW 44 persen dan MOP sebesar 31 persen.
Bandingkan dengan pengetahuan mereka tentang metode kontrasepsi modern lainnya
seperti Pil, Suntik, IUD, dan kondom yang sudah mencapai rata-rata diatas 80 persen.

Hal tersebut juga didukung dengan angket prepenelitian yang penulis lakukan terhadap
pengunjung Puskesmas Harapan Raya, dan didapatkan hanya 5% pengunjung yang
mengetahui tentang KB-MKJP. Sedangkan 95% lainnya tidak mengetahui tentang KB-
MKJP.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Puskesmas dan Penanggung Jawab


Program KB di Puskesmas Harapan Raya, penulis menilai masih diperlukan suatu upaya
untuk meningkatkan pengetahuan KB MKJP di Puskesamas Harapan Raya dengan
mensosialisasikan KB-MKJP sehingga pada akhirnya dapat meningkatkan angka cakupan
akseptor KB-MKJP.

2. Tujuan Kegiatan
2.1. Tujuan Umum

Peningkatan mutu sosialisasi KB-MKJP di Puskesmas Harapan Raya tahun 2013.

2.2. Tujuan Khusus


1) Teridentifikasinya masalah-masalah yang ada pada masing-masing program
di Puskesmas Harapan Raya
2) Teranalisanya setiap permasalahan yang ada pada masing-masing program
di Puskesmas Harapan Raya
3) Diketahuinya prioritas masalah dari permasalahan yang ada pada masing-
masing program di Puskesmas Harapan Raya melalui metode skoring
4) Diperolehnya penyebab timbulnya masalah belum optimalnya kegiatan
sosialisasi KB MKJP di Puskesmas Harapan Raya
5) Diperolehnya alternatif pemecahan masalah untuk mengoptimalkan kegiatan
sosialisasi KB MKJP di Puskesmas Harapan Raya
6) Terlaksanakannya upaya pemecahan masalah dalam rangka peningkatan
mutu kegiatan sosialisasi KB MKJP di Puskesmas Harapan Raya
7) Terevaluasinya kegiatan pemecahan masalah belum optimalnya kegiatan
sosialisasi KB MKJP di Puskesmas Harapan Raya
8) Diperolehnya solusi dan perbaikan bagi pihak terkait untuk pelaksanaan
upaya pelayanan sosialisasi KB MKJP di Puskesmas Harapan Raya

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Dasar KB

Gerakan KB Nasional adalah gerakan masyarakat yang menghimpun dan mengajak


segenap potensi masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam melembagakan dan
membudayakan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS) dalam rangka
meningkatkan mutu sumber daya manusia. Tujuan gerakan KB Nasional adalah
mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera yang menjadi dasar bagi terwujudnya
masyarakat yang sejahtera melalui pengendalian kelahiran dan pertumbuhan penduduk
Indonesia.

-Aseptor KB (peserta keluarga berencana/family planning participant) ialah PUS yang mana
salah seorang menggunakan salah satu cara/ alat kontrasepsi untuk pencegahan
kehamilan, baik melalui program maupun non program.

2.2 Konsep Pelayanan Keluarga Berencana di Puskesmas

Tujuan umum dari program KB adalah menurunkan angka kelahiran dan meningkatkan
kesehatan ibu sehingga di dalam keluarganya akan berkembang Norama Keluarga Kecil
Bahagia Sejahtera (NKKBS). Sasaran dalam program ini adalah Pasangan Usia Subur (PUS)
yang ditetapkan berdasarkan survei PUS yang dilaksanakan sekali dalam satu tahun dan
pelaksanaannya di koordinasikan oleh Petugas Lapangan KB (PLKB).

Ruang lingkup dalam program KB terdiri dari:

1. Mengadakan penyuluhan KB, baik di Puskesmas maupun di masyarakat (pada saat


kunjungan rumah, posyandu, pertemuan dengan kelompok Pembinaan Kesejahteraan
Keluarga, dasawisma dan sebagainya). Termasu ke dalamnya kegiatan penyuluhan ini
adalah konseling untuk PUS.
2. Menyediakan dan pemasangan alat-alat kontrasepsi, memberikan pelayanan
pengobatan efek samping KB.
3. Mengadakan kursus keluarga berencana untuk para dukun bersalin. Dukun diharapkan
dapat bekerjasama dengan Puskesmas dan bersedia menjadi motivator KB untuk ibu-
ibu yang mencari pertolongan pelayanan dukun.
2.3. Manfaat Keluarga Berencana

—- Manfaat yang didapatkan apabila mengukuti program keluarga berencana antara lain :

1. Menekan angka kematian akibat berbagai masalah yang melingkupi kehamilan,


persalinan dan aborsi yang tidak aman.
2. Mencegah Kehamilan terlalu dini (tubuhnya belum sepenuhnya tumbuh; belum cukup
matang dan siap untuk dilewati oleh bayi. Lagipula, bayinya pun dihadang oleh risiko
kematian sebelum usianya mencapai 1 tahun)
3. Mencegah kehamilan terjadi di usia tua.

Perempuan yang usianya sudah terlalu tua untuk mengandung dan melahirkan terancam
banyak bahaya. Khususnya bila ia mempunyai problema-problema kesehatan lain, atau
sudah terlalu sering hamil dan melahirkan.

1. Menjarangkan Kehamilan

Kehamilan dan persalinan menuntut banyak energi dan kekuatan tubuh perempuan.
Kalau ia belum pulih dari satu persalinan tapi sudah hamil lagi, tubuhnya tak sempat
memulihkan kebugaran, dan berbagai masalah bahkan juga bahaya kematian,
menghadang.

2. Terlalu sering hamil dan melahirkan

Perempuan yang sudah punya lebih dari 4 anak dihadang bahaya kematian akibat
pendarahan hebat dan macam-macam kelainan lain, bila ia terus saja hamil dan
bersalin lagi.

2.4. Konsep Dasar Kontrasepsi


Kontrasepsi adalah upaya untuk mencegah terjadinya kehamilan. Upaya itu dapat bersifat
sementara dan permanen. Kontrasepsi ideal harus memenuhi syarat-syarat sebagai
berikut:

1. Dapat dipercaya

2. tidak menimbulkan efek yang menganggu kesehatan

3. Daya kerjanya dapat diatur menurut kebutuhan

4. Tidak menimbulkan gangguan sewaktu melakukan koitus.

5. Tidak memerlukan motivasi terus menerus

6. Mudah pelaksanaannya

7. Murah harganya sehingga dapat dijangkau oleh seluruh lapisan masyarakat

8. Dapat diterima penggunaannya oleh pasangan bersangkutan.

2.5. Jenis Kontrasepsi

2.5.1 Metoda Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP)

Metode kontrasepsi Jangka Panjang merupakan kontrasepsi yang dapat bertahan


antara 3 tahun sampai seumur hidup. Seperti IUD, Implant/susuk KB, Steril pada
pria/wanita.

A. Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR)

Ada beberapa jenis alat KB yang bekerja dari dalam rahim untuk mencegah pembuahan
sel telur oleh sperma. Biasanya alat ini disebut spiral, atau dalam bahasa Inggrisnya Intra-
Uterine Devices, disingkat IUD.Spiral bisa bertahan dalam rahim dan terus menghambat
pembuahan sampai 10 tahun lamanya. setelah itu harus dikeluarkan dan diganti. Bahan
spiral yang paling umum digunakan adalah plastik, atau plastik bercampur tembaga.

Spiral tidak melindungi dari berbagai penyakit yang menular melalui hubungan seksual,
termasuk HIV/AIDS. Selain itu spiral akan memperparah penyakit, menyebabkan
komplikasi-komplikasi serius, umpamanya radang mulut rahim yang bisa membuat pasien
kehilangan kesuburan (mandul). Cara kerjanya adalah sebagai berikut :

1. Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii


2. Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri

3. AKDR bekerja terutama mencegah sperma dan ovum bertemu

4. Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus

Keuntungan penggunaannya adalah sebagai berikut :

1. Memilki efektivitas tinggi (6 kegagalan dalam 1000 kehamilan)

2. AKDR dapat efektif segera setelah pemasangan

3. Metode jangka panjang (10 tahun proteksi dari CuT-380A dan tidak perlu diganti)

4. Sangat efektif karena tidak perlu lagi mengingat-ingat

5. Tidak mempengaruhi hubungan seksual

6. Meningkatkan kenyamanan seksual karena tidak perlu takut untuk hamil

7. Tidak ada efek samping hormonal dengan Cu AKDR (CuT-380A)

8. Tidak mempengaruhi kualitas dan volume ASI

9. Dapat dipasang segera setelah melahirkan atau sesudah abortus (apabila tidak terjadi
infeksi)

10. Dapat digunakan sampai menopause (1 tahun atau lebih setelah haid terakhir )

11. Tidak ada interaksi dengan obat-obat

12. Membantu mencegah kehamilan ektopik.

Kerugian penggunaannya adalah :

Efek samping yang umum terjadi adalah sebagai berikut :

 Perubahan siklus haid (umumnya pada 3 bulan pertama dan berkurang setelah tiga bulan )
 Haid lebih lama dan banyak
 Perdarahan antar menstruasi
 Saat haid lebih sakit

Komplikasi lain :

 Merasakan sakit dan kejang selama 3 sampai 5 hari setelah pemasangan


 Perdarahan berat pada waktu haid
 Perforasi dinding uterus
 Tidak mencegah IMS termasuk HIV/AIDS
 Tidak baik digunakan pada perempuan dengan IMS atau perempuan yang sering berganti
pasangan.
 Penyakit radang panggul terjadi sesudah perempuan dengan IMS memakai AKDR

B. Kontrasepsi Mantap

Kontrasepsi mantap adalah satu metode kontrasepsi yang dilakukan dengan cara
mengikat atau memotong saluran telur (pada perempuan) atau saluran sperma (pada
lelaki). Kontap adalah salah satu cara kontrasepsi untuk mengakhiri
kelahiran. Kontrasepsi mantap ( Kontap ) dikenal ada dua macam, yaitu Kontap Pria dan
Kontap Wanita.

MOW ( metoda operasi wanita )

MOW adalah tindakan penutupan terhadap kedua saluran telur kanan dan kiri, yang
menyebabkan sel telur tidak dapat melewati sel telur, dengan demikian sel telur tidak dapat
bertemu dengan sperma laki-laki sehingga tidak terjadi kahamilan. Keuntungan MOW :

 Tidak ada efek samping dan perubahan dalam fungsi dan hasrat seksual
 Dapat dilakukan pada perempuan umur diatas 26 th
 Tidak mempengaruhi ASI ( air susu ibu )
 Perlindungan terhadap terjadinya kehamilan sangat tinggi
 Dapat digunakan seumur hidup
 Tidak menggangu kehidupan suami isteri
 Tidak mempengaruhi kehidupan suami isteri
 Dapat dilakukan dengan menggunakan bius lokal

Keutungan dari Kontap di bandingkan kontrasepsi yang lain adalah :

o Lebih Aman ( keluhan lebih sedikit )


o Lebih Praktis ( hanya memerlukan satu kali tindakan )
o Lebih Efektif ( tingkat kegagalan sangat kecil )
o Lebih Ekonomis

Langkah-langkah persiapan pelayanan Kontap Wanita (MOW) adalah :

1. Sebelum menjalani tindakan, lakukan puasa mulai tengah malam, atau sekurang-
kurangnya 6 jam sebelum operasi.
2. Mencukur rambut kemaluan dan rambut di perut bagian bawah antara pusar dan
tulang kemaluan sampai bersih.
3. Tidak memakai perhiasan , kosmetik, cat kuku dan lain-lain.
4. Bawalah surat persetujuan dari suami yang telah di tandatangani atau di cap jempol.
5. Menjelang operasi harus kencing terlebih dahulu.
6. Datang ke klinik tempat operasi tepat pada waktunya ditemani oleh suami atau
anggota keluarga yang telah dewasa , langsung segera melapor ke petugas

Akseptor telah selesai menjalani pemasangan kontap wanita/MOW harus melakukan hal
sebagai berikut :

1. Istirahat secukupnya
2. Minumlah obat sesuai dengan anjuran
3. 7 hari setelah pemasangan tidak bekerja berat, kemudian secara bertahap boleh
bekerja seperti biasa
4. Perawatan luka , bekas luka operasi harus selalu bersih dan kering
5. Kalau ada keluhan, muntah yang hebat, nyeri perut, sesak napas, pendarahan, demam,
segera kembali ke tempat pelayanan terdekat
6. Persetubuhan boleh dilakukan setelah 1 minggu ( setelah luka kering )
7. Tidak ada pantangan makanan
8. Kontrol untuk pemeriksaan diri setelah 1 minggu, 1 bulan, 3 bulan, dan setahun, atau
bila ada keluhan.

MOP ( metoda operasi pria )

MOP adalah tindakan penutupan terhadap kedua saluran mani sebelah kanan dan sebelah kiri
sehingga pada waktu senggama tidak dapat menyebabkan kehamilan. Keuntungan dari kontap
pria adalah :

 Perlindungan terhadap terjadinya kehamilan sangat tinggi


 Dapat digunakan seumur hidup
 Tidak menggannggu kehidupan suami isteri

Syarat untuk mendapatkan pelayanan kontap pria adalah :

1. Dilakukan atas permohonan pasangan suami isteri yang syah , tanpa paksaan dari pihak
lain dalam bentuk apapun , telah dianugerahkan 2 orang anak dengan umur anak terkecil
sekitar 2 tahun dengan mempertimbangkan umur isteri sekurang-kurangnya 25 tahun.
2. Setiap calon peserta Kontap Pria harus memenuhi syarat kesehatan, artinya tidak
menemukan hambatan atau kontradiksi untuk menjalani kontap.

Nasehat yang diberikan setelah tindakan dilakukan antara lain :


1. Istirahatkan satu sampai dua hari

2. Jagalah luka bekas operasi jangan sampai terkena air atau kotoran

3. Pakailah celana dalam yang bersih

4. Minumlah obat yang diberikan sesuai dengan anjuran.

5. Kembali memeriksakan diri ke klinik setelah satu minggu

C. Implant atau susuk

Merupakan alat kontrasepsi yang terdiri dari 6 tube kecil dari plastik dengan panjang masing-
masing 3cm. Hormon yang dikandung dalam susuk ini adalah progesterone, yakni hormon
yang berfungsi menghentikan suplai hormon estrogen yakni hormon yang mendorong
pembentukan lapisan dinding lemak dan, dengan demikian menyebabkan terjadinya
menstruasi.

Alat KB yang ditempatkan di bawah kulit ini efektif mencegah kehamilan dengan cara
mengalirkan secara perlahan-lahan hormon yang dibawanya. Selanjutnya hormon akan
mengalir ke dalam tubuh lewat pembuluh-pembuluh darah. Susuk KB bekerja efektif selama
5 tahun. Jika dalam waktu tersebut si pemakai menginginkan kehamilan, maka susuk dapat
segera diangkat. Tapi jika tidak, si pemakai tidak perlu repot-repot lagi menggunakan alat
KB lain. Hanya sesekali ia perlu memeriksakan kesehatan ke dokter atau bidan yang
memasangkan susuk tersebut.

—-Dibandingkan pil atau suntikan KB, hormon yang terkandung dalam susuk ini lebih sedikit.
Namun demikian, efek sampingan yang dibawanya tetap ada. Oleh karena itu,
sebelumnya pemakai harus mengkonsultasikan riwayat dan kondisi kesehatannya terlebih
dulu kepada dokter. Selain itu hanya dokter dan petugas medis yang terlatih, yang dapat
memasangkan susuk KB ini.

Beberapa hal yang perlu diketahui mengenai pemasangan susuk KB ini adalah:

1. AKBK atau susuk disusupkan dibawah kulit lengan kiri bagian atas. Hal ini tergantung
pada kebiasaan kita yang umumnya lebih banyak menggunakan tangan kanan
dibanding tangan kiri. Oleh karena itu, bagi mereka yang kidal dianjurkan untuk
memasang susuk di bawah kulit lengan kanan bagian atas.
2. Cara menyusupkan susuk ini adalah dengan sedikit menyayat kulit, maka sebelumnya
pemakai akan dibius lokal terlebih dahulu untuk mengurangi rasa sakit.
3. Susuk dipasang pada waktu menstruasi atau haid. Atau dapat juga setelah 40 hari
melahirkan.
4. Setelah susuk dipasang, luka bekas sayatan harus dijaga tetap bersih dan kering, tidak
boleh kena air selama 5 hari.
5. Pemeriksaan ulang dilakukan oleh dokter atau bidan terlatih; 1 minggu setelah susuk
dipasang, dan setelah itu 1 tahun sekali selama pemakaian.
6. Sesudah 5 tahun, susuk harus diambil dan diganti dengan yang baru.

—-Pasien dianjurkan untuk segera pergi kerumah sakit/klinik/petugas kesehatan lainnya jika:

1. Luka bekas pemasangan berdarah atau membengkak (infeksi).

2. Terjadi pendarahan yang banyak sekali, lebih hebat dari haid.

3. Sakit Kepala berat dan mata berkunang-kunang.

4. Terlambat haid disertai tanda-tanda kehamilan misalnya pusing, mual dan muntah-
muntah (risiko kegagalan 2:1000).

—-

2.5.2. Metoda Non-Kontrasepsi Jangka Panjang (Non-MKJP)

1. Pil Kombinasi

Pil kombinasi sangat efektif bila digunakan setiap hari, jika penggunaan dihentikan
maka kehamilan dapat terjadi. Pada bulan-bulan pertama pemakaian mungkin dapat
menimbulkan efek samping, antara lain :

1. Mual

2. Perdarahan

3. Keputihan diantara masa haid

4. Kenaikan berat badan

5. Sakit kepala.
—-Semua gejala ini tidak berbahaya dan cukup man untuk hampir semua wanita karena
efek samping jarang terjadi. Keuntungan lain dari metoda ini adalah dapat digunakan
wanita berbagai golongan umur, baik yang sudah maupun yang belum mempunyai
anak.

2. Suntik KB

Sangat efektif untuk mencegah kehamilan bila dilakukan secara rutin dan teratur
setiap 1 bulan atau 3 bulan (sesuai dengan jenis suntikan KB yang diberikan). Bila
berhenti memakai cara KB ini, kehamilan dapat segera terjadi. Aman digunakan pada
masa menyusui, setelah 6 minggu setelah melahirkan. Membantu mencegah kanker
rahim, mencegah kehamilan di luar rahim. Efek samping yang mungkin terjadi pada
pemakaian suntik KB antara lain :

1. Perdarahan ringan diantara 2 masa haid

2. Setelah pemakaian satu tahun sering tidak mengalami haid

3. Kenaikan berat badan juga biasa terjadi atau timbul sakit kepala ringan

3. Pil Progestin

Pilihan yang baik bagi ibu yang menyusui dan ingin menggunakan pil, mulai diminum
pada minggu ke 6 setelah melahirkan. Jika digunakan pada masa menyusui, biasanya
terjadi perubahan pola haid terutama Keputihan diantara masa haid.—-

4. Kondom

Selain mencegah kehamilan juga dapat melindungi terhadap infeksi penyakit


menular seksual (PMS) termasuk HIV / AIDS. Kondom mudah digunakan dan efektif
bila apabila penggunaannya benar. Beberapa pria merasa bahwa kondom
mengganggu hubungan seks dan mengurangi kenikmatan.

5. Metode Sederhana/ Vaginal

Spermisid/tissu KB, diafragma dan kap, merupakan cara KB yang dapat dipakai sendiri
oleh wanita. Penggunaannya adalah dengan memasukkan ke dalam vagina setiap
akan melakukan hubungan seks. Efektif bila digunakan secara benar. Cara ini juga
dapat membantu mencegah penyakit menular seksual.

6. Sistem Kalender

Wanita harus mengetahui masa subur wanita dalam siklus haidnya. Yang
dimaksudkan dengan sistem kalender adalah mengatur jadwal berhubungan seksual
dimana hubungan seksual tidak dilakukan pada masa subur (masa subur diperkirakan
dengan indicator jadwal menstruasi). Namun pada kenyataannya cara ini sering
kurang efektif dan diperlukan kerjasama yang baik dengan pasangan, karena sulit
untuk menghindari hubungan seksual untuk waktu yang lama. Tidak ada efek
samping fisik dan cara ini dianjurkan apabila cara KB lain sulit dipergunakan pada
waktu menderita demam, infeksi vagina, setelah melahirkan atau pada waktu
menyusui.

7. Metode LAM (Lactational Amenorrhoe Methode) / Pemberian ASI

Cara KB melalui menyusui eksklusif (menyusui bayi dari 0 s/d 4 bulan tanpa makanan
tambahan). Seorang wanita menyusui dikatakan menggunakan metoda LAM, bila :

 Menyusui secara penuh atau bayinya tidak mendapat makanan tambahan, ibu
sering memberikan ASI, siang dan malam.
 Belum mendapat haid
 Bayinya belum berumur 6 bulan.
 Wanita sebaiknya sudah merencanakan penggunaan cara KB lain, bila tidak
menggunakan LAM.

2.6. Permasalahan yang Dihadapi Program Keluarga Berencana

—- Permasalahan yang dihadapi program KB antara lain:

1. Kepercayaan, Pada Dasarnya Semua Kepercayaan Yang Ada Di Indonesia


Menerima Gagasan Dari KB Walaupun Terdapat Erbedaan Pandangan Tentang
Metode Pelaksanaan Dan Alat Kontrasepsi Yang Digunakan.
2. Budaya, Seperti Faktor Pengambilan Keputusan Yang Dilakukan Tidak Oleh Istri
Belum Puas Bila Tidak Memiliki Anak Perempuan Atau Lelaki, Percaya Banyak Anak
Banyak Rezeki, Serta Anggapan Bahwa Perempuan Yang Hamil Dan Melahirkan
Sehingga Yang Harus Menggunakan Alat Kontrasepsi Agar Tidak Hamil.
3. Perempuan Yang Karena Kemiskinan Dan Pendidikan Rendah Terpaksa Menikah
Pada Usia Muda
4. Terbatasnya Alat Kontrasepsi Yang Dapat Digunakan Pria
5. Dengan Adanya Alat-Alat Kontrasepsi Yang Dapat Mencegah Terjadinya
Kehamilan Terutama Kondom Yang Dapat Membantu Mencegah Penyakit
Kelamin, Dikhawatirkan Akan Semakin Banyaknya Praktek Prostitusi Di Masyarakat.
6. Adanya Efek Samping Atau Masalah Kesehatan Akibat Penggunaan Alat
Kontrasepsi..
2.7. Sosialisasi

Sosialisasi adalah penyebarluasan informasi (program, kebijakan, peraturan) dari satu


pihak (pemilik program, kebijakan, peraturan) kepada pihak-pihak lain (aparat,
masyarakat yang terkena program, dan masyarakat umum). Isi informasi yang
disebarluaskan bermacam-macam tergantung pada tujuan program.

Pada dasarnya, sosialisasi memberikan dua kontribusi fundamental bagi kehidupan kita.
Pertama, memberikan dasar atau fondasi kepada individu bagi terciptanya partisipasi
yang efektif dalam masyarakat, dan kedua memungkinkan lestarinya suatu masyarakat,
karena tanpa sosialisasi akan hanya ada satu generasi saja sehingga kelestarian
masyarakat akan sangat terganggu.

Fungsi sosialisasi adalah mengalihkan segala macam informasi yang ada dalam
masyarakat tersebut kepada anggota-anggota barunya agar mereka dapat segera
dapat berpartisipasi di dalamnya.

Sosialisasi dapat dilakukan melalui tiga metode berikut ini.

1. Komunikasi tatap muka seperti pertemuan warga (musyawarah dusun, musyawarah


desa), kunjungan rumah, kunjungan ke tempat-tempat berkumpulnya warga,
lokakarya dalam rangka CAP, rapat evaluasi.
2. Komunikasi Massa seperti penyebarluasan leaflet, pamflet, poster, komik,
newsletter, dan pemutaran film.
3. Pelatihan Pelaku seperti pelatihan untuk Panitia Perencana, Juru Ukur, Pengawas
Konstruksi, dan Tukang.

Proyek peningkatan mutu dimulai dengan melakukan observasi, wawancara dan melihat
data sekunder. Metode yang digunakan dalam proyek peningkatan mutu ini adalah
metode Plan, Do, Check, and Action(PDCA cycle) yang didasari atas masalah yang dihadapi
(problem-faced) ke arah penyelesaian masalah (problem solving).

Konsep PDCA cycle pertama kali diperkenalkan oleh Walter Shewhart pada tahun 1930 yang
disebut dengan “Shewhart cycle“. Selanjutnya konsep ini dikembangkan oleh Dr. Walter
Edwards Deming yang kemudian dikenal dengan ” The Deming
Wheel”. PDCA cycle berguna sebagai pola kerja dalam perbaikan suatu proses atau sistem.
Ada beberapa tahap yang dilakukan dalam PDCA cycle, yaitu:

1) Perencanaan ( Plan )

Tahapan pertama adalah membuat suatu perencanaan. Perencanaan merupakan suatu upaya
menjabarkan cara penyelesaian masalah yang ditetapkan ke dalam unsur-unsur rencana yang
lengkap serta saling terkait dan terpadu sehingga dapat dipakaisebagai pedoman dalam
melaksanaan cara penyelesaian masalah. Hasil akhir yang dicapai dari perencanaan adalah
tersusunnya rencana kerja penyelesaian masalah mutu yang akan diselenggarakan. Rencana
kerja penyelesaian masalah mutu yang baik mengandung setidak-tidaknya tujuh unsur
rencana yaitu:

a. Judul rencana kerja (topik)


b. Pernyataan tentang macam dan besarnya masalah mutu yang dihadapi (problem
statement)
c. Rumusan tujuan umum dan tujuan khusus, lengkap dengan target yang ingin dicapai
(goal, objective, and target)
d. Kegiatan yang akan dilakukan (activities)
e. Organisasi dan susunan personalia pelaksana (organization and personnels).
f. Biaya yang diperlukan (budget).

2) Pelaksanaan ( Do )

Tahapan kedua yang dilakukan ialah melaksanakan rencana yang telah disusun. Jika
pelaksanaan rencana tersebut membutuhkan keterlibatan staf lain di luar anggota tim, perlu
terlebih dahulu diselenggarakan orientasi, sehingga staf pelaksana tersebut dapat memahami
dengan lengkap rencana yang akan dilaksanakan.

Pada tahap ini diperlukan suatu kerjasama dari para anggota dan pimpinan manajerial. Untuk
dapat mencapai kerjasama yang baik, diperlukan keterampilan pokok manajerial, yaitu :

1. Keterampilan komunikasi (communication) untuk menimbulkan pengertian staf terhadap


cara pentelesaian mutu yang akan dilaksanakan
2. Keterampilan motivasi (motivation) untuk mendorong staf bersedia menyelesaikan cara
penyelesaian masalah mutu yang telah direncanakan
3. Keterampilan kepemimpinan (leadershif) untuk mengkordinasikan kegiatan cara
penyelesaian masalah mutu yang dilaksanakan
4. Keterampilan pengarahan (directing) untuk mengarahkan kegiatan yang dilaksanakan.

3) Pemeriksaan ( Check )
Tahapan ketiga yang dilakukan ialah secara berkala memeriksa kemajuan dan hasil yang dicapai
dan pelaksanaan rencana yang telah ditetapkan. Tujuan dari pemeriksaan untuk mengetahui :

 Sampai seberapa jauh pelaksanaan cara penyelesaian masalahnya telah sesuai


dengan rencana yang telah ditetapkan.
 Bagian mana kegiatan yang berjalan baik dan bagaian mana yang belum berjalan
dengan baik.
 Apakah sumberdaya yang dibutuhkan masih cukup tersedia.
 Apakah cara penyelesaian masalah yang sedang dilakukan memerlukan perbaikan
atau.
 Untuk dapat memeriksa pelaksanaan cara penyelesaian masalah, ada dua alat bantu
yang sering dipergunakan yakni:
1) Lembaran pemeriksaan (check list) : Lembar pemeriksaan adalah suatu formulir yang
digunakan untuk mencatat secara periodik setiap penyimpangan yang terjadi. Langkah
pembuatan lembar pemeriksan adalah:
 Tetapkan jenis penyimpangan yang diamati.
 Tetapkan jangka waktu pengamatan.
 Lakukan perhitungan penyimpangan.
 Peta kontrol (control diagram)
2) Peta kontrol adalahsuatu peta / grafik yang mengambarkan besarnya penyimpangan yang
terjadi dalam kurun waktu tertentu. Peta kontrok dibuat bedasarkan lembar pemeriksaan.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam pembuatan peta kontrol adalah :

Tetapkan garis penyimpangan minimum dan maksimum

Tentukan prosentase penyimpangan

Buat grafik penyimpangan

Nilai grafik

4) Perbaikan (Action)

Tahapan keempat yang dilakukan adalah melaksanaan perbaikan rencana kerja. Lakukanlah
penyempurnaan rencana kerja atau bila perlu mempertimbangkan pemilihan dengan cara
penyelesaian masalah lain. Untuk selanjutnya rencana kerja yang telah diperbaiki tersebut
dilaksanakan kembali. Jangan lupa untuk memantau kemajuan serta hasil yang dicapai.
Untuk kemudian tergantung dari kemajuan serta hasil tersebut, laksanakan tindakan yang
sesuai.

BAB III
3.1 Plan (Perencanaan)
1) Judul rencana.
Kegiatan Peningkatan Mutu Sosialisasi KB-MKJP Di Puskesmas Harapan Raya

2) Rumusan pernyataan dan uraian masalah

Harapan Raya memiliki beberapa program, salah satu diantaranya adalah program KIA-KB.
Program KIA-KB ini memiliki satu orang petugas yang bertanggung jawab. Dalam program
KB ini memiliki beberapa elemen kegiatan diantaranya memberikan penerangan kepada
PUS mengenai manfaat KB, sehingga diharapkan dapat meningkatkan angka cakupan
akseptor KB. Tapi di Puskesmas Harapan Raya sendiri angka cakupan ini belum mencapai
target yakni hanya 30 %. Hal ini disebabkan kurangnya sosialisasi tentang KB MKJP itu
sendiri. Dapat dilihat dari kurangnya media informasi yang tersedia seperti tidak adanya
poster, folder dan kegiatan penyuluhan-penyuluhan tentang KB MKJP ini.

3) Rumusan tujuan

Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Harapan Raya tahun 2012 sebanyak 81.689
orang yang terdiri dari pria 48.191 orang dan wanita 33.498 dengan jumlah Pasangan Usia
Subur (PUS) sebanyak 17.822 orang. Dari semua PUS yang ada, akseptor KB aktif MKJP
sebanyak 2.131 orang dan non MKJP sebanyak 12. 464 orang. Akseptor baru KB sebanyak
1.388 orang (63,17%) dari target 2.197 orang, target MKJP hanya tercapai 30,29% (128
orang) dari 423 orang dan target non MKJP 71,02% (1.260 orang) dari 1.774 orang. Akseptor
baru pria sebanyak 60 orang (4,32%) dari 2.197 orang akseptor baru, dimana seluruh
akseptor ini merupakan akseptor non MKJP.

4) Uraian kegiatan

1. Observasi

2. Wawancara dengan Kepala Puskesmas serta staff yang bertanggung jawab terhadap
bagian atau program KB di Puskemas Harapan Raya.

3. Data sekunder mengenai laporan evaluasi program Puskesmas Harapan Raya tahun
2012, khususnya mengenai program KIA-KB.

Dari data-data tersebut teridentifikasikan beberapa masalah, yaitu :

Tabel 3.1 Identifikasi Masalah


No Aspek yang dinilai Masalah Metode identifikasi masalah

1. Wawancara dengan ka program


promkes mengatakan bahwa kader
memiliki kesibukan lain di luar posyandu
PROMKES
1. Kader Data sekunder: Dari 511 kader yang dilatih
1. Pembinaan posyandu yang hanya 446 kader yang aktif diposyandu
peran serta aktif masih rendah (87% ) (data tahun 2012)
masyarakat
2. Penyuluhan 2. Data sekunder: Dari 757 kali
2. Penyuluhan luar gedung tidak penyuluhan yang ditargetkan hanya 704
1 Kesehatan tercapai target kali yang terealisasi (data tahun 2012)

Wawancara dengan kepala program


Kesling, mengatakan bahwa jumlah
Alur rujukan dari
petugas pemeriksa yang masih kurang
bagian Poli tidak
berjalan dengan
KESLING baik
Data sekunder : angka kunjungan yang
2 Klinik sanitasi - sangat rendah, dalam bulan Juni 0

Wawancara:

Tidaknya jadwal khusus penyuluhan


mengenai KB, dan MKJP khususnya.

Observasi:

Tidak tersedianya media informasi


mengenai KB-MKJP.
Sosialisasi KB MKJP
masih kurang. Observasi:
KIA/KB
Belum optimalnya Tidak dilakukan 2 pemeriksaan yang
Keluarga Berencana
ANC dengan termasuk ke dalam 7T ANC, yaitu: test
3 Ante Natal Care standar 7 T PMS dan temuwicara
Data sekunder:

Dari 1370 target BTA pada tahun 2012


hanya 63 kasus yang tercatat BTA (+)

Observasi:

Cara penemuan kasus baru hanya


menunggu pasien datang berobat ke
Puskesmas, kurangnya tenaga kerja

Angka penemuan Wawancara dengan PJ program Imunisasi


BTA (+) masih
P2P Kurangnya jumlah vaksin yang tersedia.
rendah
Surveilance Data sekunder:
Cakupan imunisasi
Epidemiologi
HB-0 (hepatitis) Dari 90% target cakupan imunisasi HB-0
4 Imunisasi masih rendah pada tahun 2012, hanya tercapai 40%

Observasi :

- Peresepan tidak selalu dilakukan


oleh dokter

- Adanya perubahan resep oleh


petugas apotek
Pengobatan
PENGOBATAN
rasional kurang - Pemberian antibiotik hanya untuk
5 Pengobatan dasar berjalan 3 hari

Observasi :

Jumlah kunjungan konseling gizi dalam 1


- Angka minggu adalah 0
kunjungan yang
Wawancara dengan PJ Gizi :
sangat rendah
-Rendahnya angka kunjungan ulang
- Alur
rujukan dari bagian -Kurangnya rujukan pasien dari unit
PENINGKATAN GIZI
Poli tidak berjalan pelayanan oleh dokter yang
6 Konseling gizi dengan baik bersangkutan.
Data sekunder:

Jumlah kunjungan pasien pada bulan


Maret: 6 orang, sedangkan jumlah
kunjungan pada bulan April berjumlah 9
orang

5) Metode dan criteria penilaian

Setelah melakukan brain storming bersama Kepala Puskesmas, dokter penanggung jawab
serta staff Puskesmas Harapan Raya pada tanggal 2 Juni 2013, didapatkan beberapa masalah
di Puskesmas Harapan Raya. Kemudian dilakukan konfirmasi terhadap permasalahan yang
ditemukan serta beberapa faktor yang diduga sebagai penyebab, lalu diperoleh kritik dan
saran, baik dari pimpinan maupun staff Puskesmas, yang digunakan untuk menyaring
masalah yang ditemukan.

Berdasarkan permasalahan yang ditemukan ditetapkan satu prioritas masalah dengan


metode scoring yang menggunakan pertimbangan 4 aspek yaitu:

1. Urgensi/kepentingan

nilai 1 tidak penting

nilai 2 penting

nilai 3 sangat penting

2. Solusi

nilai 1 tidak mudah

nilai 2 mudah

nilai 3 sangat mudah

3. Kemampuan merubah

nilai 1 tidak mudah


nilai 2 mudah

nilai 3 sangat mudah

4. Biaya

nilai 1 tinggi

nilai 2 sedang

nilai 3 rendah

Masalah yang mempunyai total angka tertinggi yang akan menjadi prioritas masalah. Di bawah
ini dapat dilihat penetuan prioritas masalah:

Tabel 3.2 Penentuan Prioritas Masalah

Kemampuan
No Aspek Masalah Urgensi Solusi Mengubah Biaya Σ Rank

Sosialisasi KB
MKJP masih
1. kurang 2 3 3 3 54 I

Belum optimalnya
pemeriksaan ANC
2. (7T) 3 3 1 3 27 II

Pengobatan rasional
di poliklinik kurang
3. berjalan 3 3 1 3 27 II

Alur rujukan ke poli


gizi dari bagian Poli
tidak berjalan
4. dengan baik 3 3 1 3 27 II

Penyuluhan luar
gedung tidak
5. tercapai target 2 3 2 1 12 III

Angka penemuan
BTA (+) masih
6. rendah 3 2 2 1 12 III
Cakupan imunisasi
HB-0 (hepatitis)
7. masih rendah 3 3 1 1 9 III

Angka kunjungan ke
poli gizi yang sangat
8. rendah 3 1 1 3 9 III

Alur rujukan ke
klinik sanitasi dari
bagian Poli tidak
9. berjalan dengan baik 2 3 1 3 18 IV

- Kader
posyandu yang aktif
10. masih rendah 2 1 1 1 2 V

—-Berdasarkan tabel di atas, didapatkan masalah yang menduduki rangking pertama dengan
total bobot 54, yaitu jumlah akseptor KB MKJP tidak mencapai target. Setelah didapatkan
proritas masalah dan dilakukan observasi serta diskusi dengan penanggung jawab program KB
dan Kepala Puskesmas Harapan Raya, teridentifikasi beberapa penyebab dari jumlah akseptor
KB MKJP yang tidak mencapai target. Solusi yang diberikan diharapkan dapat mengoptimalkan
cakupan target akseptor MKJP. Alternatif pemecahan masalah dapat dilihat pada tabel sebagai
berikut:

Tabel 3.3 . Alternatif pemecahan masalah

Pelaks
Alternatif anaan
Pemecahan Kegiat Wa Kriteria
No Masalah Masalah Tujuan Sasaran Tempat an ktu keberhasilan

Kurangny Mengusulkan
a tenaga penambahan
dalam hal petugas Jun Indikator
mensosiali pelaksanaan Ka. Puskesma i jangka pendek :
sasikan sosialisasi KB- Puskesm s Harapan 201 Usulan
1. KB-MKJP MKJP as Raya Bidan 3 diterima oleh
Diharapkan kepala
kepada Puskesmas
Tidak kepala
adanya puskesmas Indikator
alokasi dapat jangka panjang
dana mempertimba : Usulan
khusus Mengusulkan ngkan untuk penambahan
untuk tersediannya menambah tenaga dan
sosialisasi dana untuk petugas dan Ka. Jun dana untuk
KB sosialisasi KB dana untuk Puskesma i kegiatan
khususnya khususnya kegiatan puskesm s Harapan 201 sosialisasi
2. MKJP MKJP sosialisasi ini as Raya Bidan 3 dapat terealisasi
Tidak
adanya
pelaksana
an Adanya
penyuluha media Jun
n Melakukan informasi PJ Puskesma i
mengenai penyuluhan mengenai KB program s Harapan 201
3. KB-MKJP KB-MKJP MKJP KB Raya Bidan 3

Tidak
adanya
media
informasi Membuat Tersedianya
yang Poster dan media Jun
berhubung folder informasi PJ Puskesma i
an dengan mengenai KB- mengenai KB program s Harapan 201
4. KB MKJP MKJP MKJP KB Raya Bidan 3

Kurangny
a Melakukan Jun
Pengetahu konseling Menambah i Meningkatnya
an PUS kepada setiap pengetahuan PJ Puskesma pengetahuan
tentang pengunjung PUS tetang program s Harapan 201 PUS mengenai
5 KB MKJP poli KB KB MKJP KB Raya Bidan 3 KB MKJP

6) Waktu

Keterangan:
 Menyebarkan kuesioner awal untuk menilai tingkat pengetahuan para pengunjung KIA-KB
terhadap KB MKJP dari tanggal 5 Juni-5 Juli 2013.
 Menyebarkan folder mengenai KB-MKJP kepada pengunjung poli KIA-KB, pengunjung
puskesmas secara umum dan PUS di posyandu dari tanggal 12 Juni-5 Juli 2013.
 Melakukan konseling tentang manfaat dan keuntungan KB MKJP pada para pengunjung poli
KIA-KB dari tanggal 2 Juni-5 Juli 2013
 Menyediakan poster tentang KB MKJP di Puskesmas Harapan Raya pada tanggal 18 Juni
2013
 Mengadakan penyuluhan mengenai manfaat dan keuntungan KB-MKJP di Ruang tunggu
puskesmas Harapan Raya pada tanggal 20 Juni 2013
7) Pelaksanaan
Bidan Fiyanti : Membuat dan membagikan kuisioner
Bidan Lailatul : memberikan konseling & penyuluhan.
Bidan Putri : membuat poster dan folder.
Kader : Membagikan kuisioner, mencari sasaran penyuluhan
8) Biaya
Jumlah biaya yang diperlukan + 1.500.000,-
a. Pembuatan poster Rp 100.000,-
b. Biaya kader Rp 50.000 x 5 Rp 250.000
c. Konsusmsi Rp 5.000 x 200.000 Rp 1.000.000
d. foto copy Rp 100.000
JUMLAH : 1.450.000,-

3.2 Do ( Pelaksanaan )
Implementasi yang dilakukan dalam proyek peningkatan mutu sosialisasi metoda kontrasepsi jangka
panjang di Puskesmas Harapan Raya ini adalah :
 Menyebarkan kuesioner awal untuk menilai tingkat pengetahuan para pengunjung KIA-KB
terhadap KB MKJP dari tanggal 5 Juni-5 Juli 2013. Hasil kuesiner awal menunjukkan tingkat
pengetahuan pengunjung tentang KB-MKJP kurang yaitu 70%
Hasil Kuesioner Awal

No Penilaian Range Persentase (%)

1 Baik 68-100 20%

2 Sedang 34-67 10%

3 Kurang 0-33 70%

Total 100

 Menyebarkan folder mengenai KB-MKJP kepada pengunjung poli KIA-KB, pengunjung


puskesmas secara umum dan PUS di posyandu dari tanggal 12 Juni-5 Juli 2013
 Melakukan konseling tentang manfaat dan keuntungan KB MKJP pada para pengunjung poli
KIA-KB dari tanggal 2 Juni-5 Juli 2013.
 Menyediakan poster tentang KB MKJP di Puskesmas Harapan Raya pada tanggal 18 Juni 2013.
 Mengadakan penyuluhan mengenai manfaat dan keuntungan KB-MKJP di Ruang tunggu
puskesmas Harapan Raya pada tanggal 20 Juni 2013.
 Rekomendasi kepada Kepala Puskesmas untuk menambah petugas dan dana untuk pelaksanaan
sosialisasi KB MKJP di Puskesmas Harapan Raya.
 Rekomendasi kepada pemegang program KB-MKJP untuk melanjutkan kegiatan sosialisasi ini
3.3 Check (Pemeriksaan)
Evaluasi yang dilakukan dalam proyek peningkatan mutu sosialisasi metoda kontrasepsi jangka
panjang di Puskesmas Harapan Raya ini adalah :
 Tahap evaluasi ini mulai dilaksanakan dari tanggal 7-13 Juli dengan memberikan kuesioner akhir
pada PUS pengunjung ke Puskesmas Harapan Raya, terutama pengunjung poli KB, dan PUS yang
akan melakukan MOW di rumah sakit PMC.Setelah dilaksanakannya penyuluhan, konseling dan
penyediaan media informasi. Kemudian dilakukan pembagian kuesioner akhir kepada PUS
pengunjung di Puskesmas Harapan Raya. Hasil kuesioner akhir menunjukkan bahwa tingkat
pengetahuan KB-MKJP meningkat, dimana pengunjung memiliki pengetahuan kurang menjadi
15%
Tabel 3.6 Hasil Kuesioner Akhir setelah intervensi

No Penilaian Range Persentase (%)

1 Baik 68-100 75%

2 Sedang 34-67 10%

3 Kurang 0-33 15%


Total 100

 Diterimanya usulan penambahan tenaga dan alokasi dana khusus untuk kegiatan sosialisasi KB-
MKJP oleh Kepala Puskesmas Harapan Raya.
3.4 Action (Perbaikan)
Kegiatan sosialisasi tentang KB-MKJP ini dapat dijadikan standarisasi untuk pelaksanaan sosialisasi di
Puskesmas Harapan Raya.
Sosialisasi dapat dilakukan melalui tiga metode berikut ini:
1) Komunikasi tatap muka seperti pertemuan warga (musyawarah dusun, musyawarah desa),
kunjungan rumah, kunjungan ke tempat-tempat berkumpulnya warga, lokakarya dalam
rangka CAP, rapat evaluasi.
2) Komunikasi Massa seperti penyebarluasan leaflet, pamflet, poster, komik, newsletter, dan
pemutaran film.
3) Pelatihan Pelaku seperti pelatihan untuk Panitia Perencana, Juru Ukur, Pengawas
Konstruksi
Dilakukan kegiatan sosialisasi dalam bentuk penyuluhan baik di Puskesmas maupun di luar Puskesmas,
pemasangan poster, penyebaran folder dan berkoordinasi dengan kepala Puskesmas dan pihak-pihak
terkait untuk mendukung kegiatan sosialisasi ini.

BAB IV
PEMBAHASAN
—-
—-Program keluarga berencana (KB) merupakan program yang dicanangkan pemerintah dengan tujuan
mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera yang menjadi dasar bagi terwujudnya masyarakat yang
sejahtera melalui pengendalian kelahiran dan pertumbuhan penduduk Indonesia.Menurut Badan Pusat
Statistik (BPS), terjadinya penurunan laju pertumbuhan penduduk Indonesia, namun tidak demikian
halnya dengan laju pertumbuhan Provinsi Riau yang dilaporkan semakin meningkat. Meskipun laju
pertumbuhan penduduk dipengaruhi oleh hal lain seperti angka kematian dan migrasi (perpindahan)
penduduk, angka kelahiran juga merupakan faktor yang tidak kalah pentingnya. Oleh sebab, menurut
BKKBN sangat diperlukannya revitalisasi program KB yang selama ini di canangkan pemerintah.
—-Metoda kontrasepsi menurut jangka waktu pemakaiannya dibagi atas dua kelompok, yaitu metoda
kontrasepsi jangka panjang (MKJP) dan metoda kontrasepsi non-MKJP. Dilihat angka kegagalanya,
metoda MKJP dilaporkan terjadi pada 0-2:1000 pengguna sedangkan metoda non-MKJP dilaporkan
terjadi pada >10:1000 pengguna. Dari hal tersebut terlihat bahwa metoda MKJP lebih efektif untuk
dapat mencegah terjadinya kehamilan pada penggunanya. Dari semua PUS yang ada di wilayah kerja
Puskesmas Harapan Raya, akseptor KB aktif MKJP sebanyak 2.131 orang dan non MKJP sebanyak
12.464 orang. Target MKJP hanya tercapai 30,29% dan target non-MKJP 71,02%. dapat dilihat bahwa
masih tingginya minat PUS di wilayah kerja Puskesmas Harapan Raya untuk menggunakan metoda non-
MKJP dibandingkan dengan menggunakan metoda MKJP, meskipun sebagaimana telah disebutkan di
atas bahwa metoda MKJP jauh lebih efektif mencegah kehamilan disbanding dengan metoda non-
MKJP.
—-Setelah dilakukan observasi, wawancara, dan melihat data sekunder yang ada, diketahui bahwa target
cakupan KB-MKJP di wilayah kerja Puskesmas Harapan Raya belum tercapai, yakni 30 % dari 80 %
target yang ditetapkan. Hal ini dapat disebabkan oleh banyak faktor, salah satunya adalah sosialisasi
tentang KB MKJP ini kepada masyarakat belum dilaksanakan dengan optimal ataupun metoda yang
digunakan sebelumnya belum tepat untuk masyarakat di wilayah kerja Pusekesmas Haapan Raya.
Pernyataan tersebut didukung oleh angket prepenelitian yang disebar kepada pengunjung Puskesmas
Harapan Raya, dimana 95 % pasien memiliki pengetahuan yang kurang tentang KB-MKJP, dan juga
dari angket yang disebarkan ini dapat diketahui bahwa banyak anggapan yang salah mengenai KB-
MKJP, serta tidak dijumpai adanya media informasi seperti poster, folder, ataupun pelaksanaan
penyuluhan mengenai KB-MKJP ini di Puskesmas Harapan Raya. Hal ini sesuai dengan pendapat yang
disampaikan oleh Hasan Mustafa bahwa sosialisasi yang benar dapat menghindari terjadinya
kesalahpahaman dan kekeliruan dalam pelaksanaan suatu kegiatan dan untuk melaksanakan kegiatan
sosialisasi diperlukan metode penyediaaan media informasi seperti poster, folder. Melihat keadaan
tersebut maka dirasakan perlu dilakukan kegiatan peningkatan mutu sosialisasi mengenai KB-MKJP,
baik di Puskesmas sendiri maupun di luar Puskesmas.
—-Melalui proyek peninkatan mutu ini, diketahui masalah-masalah yang diperkirakan merupakan
penyebab dari kurang optimalnya sosialisasi KB-MKJP di Puskesmas harapan Raya yaitu kurangnya
pengetahuan PUS mengenai KB-MKJP, kurangnya tenaga dalam hal mensosialisasikan KB-MKJP,
tidak tersedia media informasi mengenai KB-MKJP, tidak adanya alokasi dana khusus untuk sosialisasi
KB khususnya MKJP, dan tidak adanya pelaksanaan penyuluhan mengenai KB-MKJP.
—-Kurangnya pengetahuan PUS mengenai KB-MKJP dipikirkan disebabkan oleh beberapa faktor,
yaitu kurangnya media informasi mengenai KB-MKJP dan tidak adanya penyuluhan ataupun konseling
dari pihak yang berkompeten mengenai KB-MKJP di Puskesmas Harapan Raya. Dalam proyek
peningkatan mutu sosialisasi KB-MKJP ini, telah dilakukan pengadaan media informasi yang ditujukan
kepada semua pengunjung Puskesmas Harapan Raya, khususnya PUS yang berkunjung ke poliklinik
KIA-KB berupa penyebaran folder dan pemasangan poster mengenai KB-MKJP, dan kegiatan ini juga
disertai dengan pelaksanaan konseling mengenai KB-MKJP kepada setiap PUS yang berkunjung ke
poliklinik KIA-KB, penyuluhan dalam gedung Puskesmas Harapan Raya dan kegiatan penyuluhan di
luar gedung yaitu di kantor Lurah Simpang Tiga di depan para kader Posyandu wilayah kerja Puskesmas
Harapan Raya. Dipikirkan bahwa dengan pengadaan media informasi, kegiatan konseling dan kegiatan
penyuluhan dalam gedung maupun luar gedung dapat memberikan pengetahuan dan informasi yang
benar mengenai KB-MKJP kepada pengunjung Puskesmas Harapan Raya. Khusus untuk kegiatan
penyuluhan kepada kader posyandu di wilayah kerja Puskesmas Harapan Raya, diharapkan para kader
yang telah mendapat penyuluhan dapat memberikan pengetahuan dan informasi yang benar mengenai
KB-MKJP saat melaksanakan kegiatannya sebagai kader Posyandu di Posyandu nantinya. Hal ini sesuai
dengan yang disampaikan oleh Hasan Mustafa sosialisasi merupakan kegiatan penyebarluasan informasi
(program, kebijakan, peraturan) dari satu pihak (pemilik program, kebijakan, peraturan) kepada pihak-
pihak lain (aparat, masyarakat yang terkena program, dan masyarakat umum). Isi informasi yang
disebarluaskan bermacam-macam tergantung pada tujuan program.
—-Kurangnya tenaga dalam hal mensosialisasikan KB-MKJP dipikirkan juga sebagai penyebab karena
melihat banyaknya kegiatan yang harus dilakukan dan jumlah tenaga yang tersedia di Puskesmas
Harapan Raya. Dalam proyek peningkatan mutu ini, diusulkan penambahan petugas pelaksanaan
sosialisasi KB-MKJP dan usulan mengenai alokasi dana khusus untuk kegiatan sosialisasi KB-MKJP
kepada Kepala Puskesmas Harapan Raya dengan tujuan agar pelaksanaan sosialisasi KB-MKJP tidak
terkendala.
—-Dari kuesioner akhir yang disebarkan, diketahui bahwa setelah dilakukannya upaya-upaya dalam
proyek peningkatan mutu ini pengetahui pengunjung Puskesmas Harapan raya, khususnya PUS
meningkat, dimana didapatkan hanya 15% pengunjung yang masuk dalam kategori pengetahuan kurang,
yang pada kuesinor awal sebelum dilakukannya upaya-upaya tersebut didapatkan 70% pengunjung
masuk dalam kategori pengetahuan kurang tersebut.
BAB V

PENUTUP

—-

5.1 Simpulan

—- Berdasarkan wawancara, observasi, data sekunder di Puskesmas Harapan Raya didapatkan


beberapa masalah berdasarkan pendekatan program yang ada, diantaranya Sosialisasi KB MKJP belum
optimal, belum optimalnya pelaksanaan ANC, Pengobatan rasional belum berjalan, Alur rujukan ke poli
gizi belum berjalan dengan baik, penyuluhan luar gedung tidak mencapai target, angka penemuan BTA
positif masih rendah, cakupan imunisasi HB-0 masih rendah, angka kunjugan ke poli gizi masih rendah,
alur rujukan ke klinik sanitasi tidak berjalan dengan baik, kader posyandu yang aktif masih rendah.

—- Berdasarkan permasalahan yang terindentifikasi di atas, dicari prioritas masalah berdasarkan


sistem skoring dan didapatkan masalah sosialisasi KB MKJP sebagai prioritas masalah utama.

Kegiatan sosialisasi tentang KB MKJP di Puskesmas Harapan Raya masih belum optimal disebabkan
oleh berbagai faktor diantaranya adalah kurangnya tenaga dalam mensosialisasikan KB MKJP, tidak
adanya alokasi dana khusus untuk sosialisasi KB MKJP, tidak adanya pelaksanaan penyuluhan khusus
KB MKJP, tidak tersedianya media informasi mengenai KB MKJP dan masih rendahnya pengetahuan
PUS tentang manfaat KB MKJP, dimana dari angket prepenelitian hanya 5 % yang mengetahui tentang
KB MKJP.

Oleh karena itu, dilakukan kegiatan sosialisasi dalam bentuk penyuluhan baik di Puskesmas
maupun di luar Puskesmas, pemasangan poster, penyebaran folder dan berkoordinasi dengan kepala
Puskesmas dan pihak-pihak terkait untuk mendukung kegiatan sosialisasi ini.

—- Evaluasi keberhasilan sosialisasi ini, dilakukan kegiatan penyebaran kuesioner, baik sebelum
maupun setelah dilakukan intervensi. Didapatkan hasil berupa peningkatan pengetahuan PUS yang
berkunjung ke Puskesmas Harapan Raya, dan adanya partisipasi PUS yang mengikuti kegiatan Kontap
wanita di RS PMC. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan sosialisasi yang dilakukan sudah berhasil.
Sehingga kegiatan sosialisasi ini dapat dijadikan standarisasi untuk pelaksanaan kegiatan sosialisasi
berikutnya.