Anda di halaman 1dari 7

Nama : Affa Safiera

Kelas/No. Absen : XI MIA 4/02

BERARTI

Malam itu, seperti malam-malam biasanya, selepas pulang sekolah, Dewa akan
membersihkan seisi rumah dua lantai. Semuanya ia lakukan sendirian, terkadang dengan
bantuan bi Ijah. Jika ia lapar ia biasa memesan makanan cepat saji dari restoran ayam
langganannya. Namun, ia lebih sering melewatkan jam makan malam. Kemudian ia
menonton kartun kesayangannya dan tertidur hingga pagi datang. Kedua orang tua Dewa
berada di luar negeri untuk menjalankan bisnis mereka di sana. Mereka jarang sekali pulang.
Dewa jarang sekali bisa bertemu ayah bundanya. Ayah bundanya tidak peduli lagi pada
dirinya, pikirnya. Dia pun tidak ingin peduli terhadap apa yang ayah bundanya lakukan.
Akhirnya seperti hari-hari biasanya dengan terburu-buru, Dewa pun berangkat ke sekolah
dengan diantar Pak Munir, sopir pribadi keluarga Dewa.

Hari ini adalah hari pertamanya masuk sekolah sebagai murid kelas 11. Saat tiba di
sekolah jam menunjukkan pukul 06.50 yang berarti bel masuk akan segera dibunyikan 10
menit lagi. Namun, Dewa tak kunjung menemukan kelasnya 11 IPA 7 mengingat tata letak
sekolahnya yang berubah setelah di renovasi. 10 menit adalah waktu yang cukup lama bagi
Dewa hingga akhirnya ia menemukan kelasnya, tepat di ujung koridor lantai 2 SMA Lambo
Bodimana. Saat ia masuk, kelas sudah dipadati beberapa siswa yang hampir semua tak ia
kenal karena setiap kenaikan kelas, ada sistem rollingclass. Dewa memandang seisi kelas.
Hanya ada satu bangku tersisa. Tepat berhadapan dengan meja guru. Mau tak mau Dewa
harus duduk di situ.
Ck ia mendecak kesal. Ia tak suka duduk di depan. Ia lebih suka duduk sendirian di
belakang karna hanya di belakanglah orang-orang tak akan menyadari keberadaannya.
Termasuk gurunya.
“Hei! Lo anak baru ya? Kok gue belum pernah liat lo di SMA ini sebelumnya?” Sapa
teman sebangku Dewa membuyarkan pikirannya. Namun hanya dilihatinya anak perempuan
yang duduk di sebelahnya itu.
“Nama gue Rafa. Rafa Safira. Lo?” Tak peduli teman barunya mengacuhkannya, Rafa
mengulurkan tangannya.
“Dewa.” Sahut Dewa singkat tanpa menoleh sedikitpun ke samping.
“Ih jutek banget sih.” Lirih Rafa yang dibarengi datangnya guru ke kelas mereka.
“Selamat pagi, anak-anak!”
“Selamat pagi, pak!”
“Perkenalkan saya adalah guru Biologi sekaligus wali kelas kalian di 11 IPA 7. Nama
saya Sukardi. Nama lengkap saya Sukardi Lupakan. Umur saya 30 tahun. Ulang tahun saya
tanggan 28 Febuari. Alamat saya di Cimolen, Bandung, Jawa Barat, Pulau Jawa, Indonesia,
Asia Tenggara, Asia, Bumi. Istri saya satu, anak saya 3 laki-laki semua. Ada pertanyaan?”
Jelas Pak Sukardi dengan kecepatan pengucapan kata 5 kata perdetik. Seisi kelas hanya bisa
melongo mendengar wali kelas barunya sambil berusaha mencerna apa yang barusan
dikatakan beliau.
“Baiklah kalau tidak ada yang bertanya. Bagaimana kalau kita buat saja struktur
organisasi kelas ini? Kalian bisa melakukannya tanpa bapak kan? Bapak izin keluar dulu
untuk sarapan karena semalam istri saya bergadang menonton drama Korea kesukaan istri
saya. Jadi istri saya bangun kesiangan dan tidak sempat menyiapkan sarapan.”Pamit Pak
Sukardi lagi-lagi membuat seisi kelas melongo karena kemampuan berbicaranya menyaingi
rapper-rapper profesional.
“Sebelumnya. Kamu yang di depan saya! Kamu tidur, ya? Daritadi saya berbicara
kamu nunduk terus.” Cecar Pak Sukardi. Namun murid yang berada di hadapannya tak
kunjung bangkit dari posisinya.
“Wa, bangun.” Rafa membantu membangunkan Dewa dengan menggoyang-goyang
bahu Dewa. Namun tak ada reaksi dari Dewa.
“Nak? Kamu sakit?” Tanya Pak Sukardi sembari menghampiri tempat duduk Dewa.
Pak Sukardi berusahan meraih tubuh Dewa. Namun tubuh Dewa luglai seketika.
“Wah pingsan dia. Tolong bantu saya gotong ke UKS ya, anak-anak.” Beberapa anak
laki-laki sigap membantu Pak Sukardi.
“Yang lain lanjutkan saja buat struktur organisasi kelasnya.” Pak Sukardi membopong
Dewa dengan dibantu beberapa anak laki-laki di kelas.

Jam menunujukkan pukul 13.00, jam istirahat makan siang sudah lewat. Namun Rafa
masih tak beranjak dari tempat duduknya di samping ranjang UKS menunggui Dewa teman
sebangkunya sejak pukul 08.00 pagi tadi. Dilihatinya wajah yang pucat itu. Dewa membuka
matanya dengan rasa pusing tersisa.
“Lo udah sadar? Masih sakit, ya?” Baru saja Dewa hendak bangkit dari kasur, rasa
sakit kembali menyerang perutnya. Reflek ia pegangi perutnya.
“Eh.. Lo mau ngapain? Mau gue bantu?”
“Obat maag di etalase.” Kata Dewa lemah menunjuk etalase di belakang Rafa. Rafa
pun mengambilkan dan membantu Dewa meminum obat itu.
“Oh iya, wa. Lo mulai hari ini jadi partner gue. Gue ketua kelas kita, lo wakilnya.”
Rafa berusaha membuka obrolan.
“Gak mau.” Sahut Dewa ketus.
“Gak bisa! Ini udah disetujui satu kelas! Lo harus mau!”
“Terserah.” Dewa membuang muka.
“Eh eh.. Lo ngambek??” Satu detik, dua detik, tiga detik tak ada jawaban dari Dewa.
“Yaelah wa jadi cowok kok ambekan sih lo.” Rafa menertawainya. Dewa yang
merasa enakan bangkit dari kasurnya menuju kelas tanpa memperdulikan Rafa yang terus
meledek di belakangnya.

Sesampainya di kelas, yang tersisa hanya dia sendirian. Dia menoleh melihat jam
menunjukkan pukul 14.30. Semua temannya sudah pulang menyisakan dirinya dan teman
sebangkunya yang sejak masuk kelas tak dilihatnya lagi batang hidungnya, namun tak ia
perdulikan. Ketika Dewa keluar kelas, ia disambut oleh satu plastik besar berisi roti aneka
rasa.
“Nih buat lo. Lo sakit maag kan? Lo belum makan kan?” Cecar Rafa tanpa jeda.
Namun yang ditanyainya terlihat tak acuh dan meneruskan jalannya tanpa menerima plastik
tersebut.
“Ya udah kalo lo gak mau jawab, gue jawab sendiri aja. Iya, gue sakit maag. Gue
belum makan nich dari seminggu yang lalu. Bagi uangnya dong, paaak..” Rafa berusaha
menyejajari langkah Dewa sambil berbicara sendiri menengadahkan tangannya ke arah Dewa
memperagakan seorang pengemis. Dewa yang melihat nya tak bisa menahan tawanya
Tawanya pecah seketika.
“Bisa ketawa lo? Gue kira lo cuma bisa jutekin sama nyuekin orang.” Heran Rafa.
Tawa masih tersisa di wajah Dewa.
“Nih ambil! Gue udah bujuk-bujuk ibu kantinnya biar masih mau buka. Hargain
dong.” Rafa menyodorkan plastik tersebut untuk yang kesekian kali. Namun kali ini disambut
oleh tangan Dewa.
“Banyak banget.” Komentar Dewa singkat.
“Buat makan sebulan biar lo gak pingsan lagi.” Ledek Rafa menjulurkan lidahnya
kemudian pergi meninggalkan Dewa yang masih dengan senyumannya.

Kemudian aktifitas Dewa di rumah berjalan seperti biasanya. Pulang-rebahan-bersih


bersih rumah-makan (kalau ingat)-menonton kartun kesukaan-ketiduran-berangkat sekolah
diantar Pak Munir.

Sampai di sekolah Dewa mempunyai kebiasaan baru, berbohong kepada Rafa yang
setiap pagi selalu menanyai Dewa apakah ia sudah makan atau belum. Namun, Rafa tak
lantas percaya dengan apa yang diomongkan Dewa. Rafa akan menyuruh Dewa untuk
memakan satu roti lagi darinya sebagai dessert katanya.

Hari-hari Dewa berjalan begitu seterusnya sampai pada pelajaran Biologi mereka
terlibat dalam tugas kelompok.
“Oke anak. Kali ini kita akan melakukan tes golongan darah berkelompok. Satu
kelompok beranggotakan dua orang. Teknisnya satu orang mengetes golongan darah yang
lain, lalu bergantian. Laporan hasil praktikum dijadikan satu untuk sekelas. Paham semua?”
Jelas Pak Sukardi dengan cepat layaknya seorang rapper sedang latihan untuk sebuah show.
Pak Sukardi pun membacakan nama-nama kelompok. Tiba giliran nama Rafa disebut “Rafa
Safira dengan Dio Dewantara.”
“Lo sekelompok sama gue dong, wa. Hehehehe.” Cengir Rafa senang.
“Ya anak-anak bisa langsung mulai ke laboratorium sekarang.” Aba-aba dari Pak
Sukardi untuk memulai praktikum.
“Wa, gue mau kasih tau lo sesuatu.” Rafa setengah berbisik. Dewa masih menunggu
kelanjutan kalimat itu.
“Sebenernya gue takut darah. Jadi bisa gak kalo kita karang aja hasil praktikum kita?”
Tawar Rafa dengan muka yang mulai terlihat pucat.
“Gak mau. Gue pengen tau golongan darah gue apa.” Sahut Dewa datar.
“Ya udah lo gabung sama yang lain aja ya..” Rafa setengah memohon.
“Gak mau. Gue maunya sama lo. Apa sih yang lo takutin dari darah? Lo gak usah
takut, gue bakal jagain lo biar lo gak kenapa-napa.” Ujar Dewa berusaha menenangkan dan
senyum yang tulus.
“Wow! Gak salah denger nih? Itu kayaknya kalimat terpanjang yang gue denger
keluar dari mulut lo deh.”
“Dasar lebay! Ayo kita ke lab sekarang.” Ajak Dewa terlihat lebih bersemangat dari
biasanya.

Setelah selesai tes golongan darah, Rafa menjadi lebih diam dari biasanya. Rasa
takutnya akan darah belum bisa hilang 100% meskipun agak mereda karena ada Dewa yang
menenangkannya. Dewa merasa bersalah, maka sepulang sekolah Dewa berniat mentraktir
Rafa dengan maksud menghiburnya supaya lupa akan takutnya.
“Lo jangan diem aja dong, fa. Pesen gih semau lo, gue yang traktir.” Tawar Dewa
berusaha menghibur.
“Gue ngikut lo aja.” Rafa masih terlihat lemas.
“Beef steak buat 6 orang, sama cola buat 4 orang ya mba.” Ujar Dewa kepada sang
waitress.
“Lo ngundang orang lagi?”
“Enggak.”
“Terus sebanyak itu buat siapa?”
“Buat kita biar nggak pingsan. Hehehe..” Cengir Dewa tanpa dosa disambut tawa
Rafa.
“Ngomong-ngomong sorry ya fa. Gue gak nyangka lo setakut itu sama darah.” Dewa
merasa bersalah.
“Nggak papa. Harusnya gue yang berterima kasih sama lo. Karena berkat lo gue jadi
sedikit lebih berani liat darah. Makasih ya hehe..”
“Sama-sama. Tapi sekarang lo udah nggak kenapa-kenapa kan?”
“Kalo gue bisa bawa pulang es krim kayanya gue bakal ngerasa lebih baik sih.”
“Bawa pulang se-tokonya, se-mbak-mbaknya deh buat lo.” Mereka berdua pun
tertawa bersama.

Usai dari cafe mereka menuju kedai es krim di dekat taman kota. Hingga tak terasa
jam sudah menunjukkan pukul 20.00. Mereka memutuskan untuk menikmati es krim mereka
di tengah taman kota sembari melihat bintang.
“Wa, lo punya cita-cita jadi apa?” Dewa terlihat berpikir.
“Entahlah. Gue gak pernah kepikiran tuh.” Dewa mengedikkan bahunya.
“Gimana sih lo. Masa ada orang gak punya cita-cita. Hopeless banget sih idup lo.”
Ledek Rafa.
“Bodo amat.” Sahut Dewa tak acuh.
“Kalo orang tua lo kerjanya apa?”
“Nyokap bokap punya perusahaan di luar negeri.”
“Wow keren! Kenapa lo gak coba jadi kayak orang tua lo?”
“Gue gak mau gue jadi kayak orang tua gue. Terlalu sibuk. Apaan coba punya orang
tua tapi gue berasa kayak anak yatim piatu.”
“Heh! Ngomong apa lo barusan!? Harusnya lo tuh bersyukur masih punya orang tua!
Sesibuk apapun orang tua lo, lo masih bisa liat mereka. Lo masih bisa perbaikin hubungan lo!
Seenak jidat lo aja ngomong kayak gitu!”
“Kok lo nyolot sih!?! Lo gak tau rasanya jadi gue. Boro-boro ketemu, dianggap anak
sama orang tua gue aja gue gak yakin.”
“Lo tuh ya. Harusnya lo sebagai anak yang lebih perhatian sama orang tua lo.
Mungkin mereka sebenernya pengen ketemu sama lo, tapi belum bisa.”
“Udah cukup ya lo ikut campur sama hidup gue. Stop sampe di sini jangan deket-
deket gue lagi.” Ucap Dewa untuk yang terakhir kali sebelum ia meninggalkan Rafa
sendirian.

Keesokan paginya Dewa menemukan bangku sampingnya kosong namun tak


dihiraukan olehnya. Sampai seminggu keadaan masih sama, bangku sampingnya tetap
kosong. Akhirnya Dewa memutuskan untuk bertanya pada teman sekelasnya.
“Lo tau Rafa kenapa gak?” Tanya Dewa kepada teman di belakang bangkunya.
Tertulis Dafa di bedge namanya.
“Lo gak tau Rafa udah pindah??” Heran Dafa.
“Ha? Pindah apa?? Gue gak ngerti.”
“Pindah sekolah. Seisi sekolah juga udah tau kali.”
“Kenapa?”
“Katanya sih Rafa diadopsi sama bule. Terus dia ngikut orang tua angkatnya tinggal
di luar negeri.”
“Rafa anak panti??” Dewa terkejut setengah tak percaya.
“Iya. Lo baru tau?? Emang pas perkenalan lo kemana? Oh iya lo kan pingsan waktu
itu.”
“Lo tau alamat panti asuhannya nggak?” Cecar Dewa panik.
“Panti Asuhan Mulyo Jati di ujung jalan Garuda. Kalo lo gak nemu tanya aja sama
ibu-ibu di sana pasti pada tau.”
“Oke makasih.”

Lalu sepulang sekolah Dewa menuju ke sana dan bertemu dengan pengelola panti
asuhan Mulyo Jati.
“Permisi, bu. Saya Dewa teman Rafa.”
“Ooh nak Dewa. Rafa sering cerita tentang nak Dewa lho.. Katanya nak Dewa ini
sahabat terbaik yang pernah dimiliki Rafa. Nak Dewa mengingatkan Rafa pada adiknya yang
meninggal 3 tahun lalu karena kanker. Adik Rafa itu kelihatannya jutek dan cuek tapi aslinya
ia Cuma butuh sedikit lebih diperhatikan. Sama seperti nak Dewa.”
“Kalo saya boleh tau kemana ya Rafa diadopsi?”
“Waah nak Dewa. Saya sudah berjanji untuk tidak memberitahukan identitas orang
yang mengadopsi Rafa. Tapi nak Dewa gak usah khawatir, orang tua Rafa yang baru baik
sekali kok orangnya. Sebelum Rafa pergi Rafa titip pesan untuk nak Dewa. Katanya Rafa
minta maaf kalau dia terlalu lancang ikut campur urusan nak Dewa, tapi itu hanya karena
Rafa sayang sama sahabatnya. Dia ingin sahabatnya jadi orang yang lebih baik. Rafa juga
bilang dia sudah memaafkan kata-kata kasar nak Dewa. Lalu, dia berpesan supaya nak Dewa
memaafkan orang tua nak Dewa, belajar giat, menemukan cita-cita nak Dewa, dan Rafa mau
nak Dewa tidak usah cari Rafa. Bukan karena Rafa nggak mau ditemui. Tapi Rafa ingin
menghargai privasi kedua orang tua barunya.” Seketika Dewa menangis dan berjanji untuk
melaksanakan semua pesan Rafa. Dewa baru merasakan betapa berartinya setiap waktu
bersama sahabatnya itu. Semoga kamu bisa bahagia dengan kehidupanmu yang baru, Rafa
Safira, batin Dio Dewantara.
Interpretasi Nilai Karakter

 Nilai Sosial
“Nama gue Rafa. Rafa Safira. Lo?” Tak peduli teman barunya mengacuhkannya, Rafa
mengulurkan tangannya.
 Nilai Sosial
“Wah pingsan dia. Tolong bantu saya gotong ke UKS ya, anak-anak.” Beberapa anak
laki-laki sigap membantu Pak Sukardi.
 Nilai Sosial
“Nih buat lo. Lo sakit maag kan? Lo belum makan kan?” Cecar Rafa tanpa jeda.
Namun yang ditanyainya terlihat tak acuh dan meneruskan jalannya tanpa menerima
plastik tersebut.