Anda di halaman 1dari 15

Jurnal Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

http://journal.trunojoyo.ac.id/agriekonomika
Agriekonomika Volume 8, Nomor 1, 2019

Upaya Pencapaian Daya Saing Usaha Sapi Perah Melalui Kebijakan


Pemerintah dan Peningkatan Pendapatan Peternak
Supardi Rusdiana dan Soeharsono

Balai Penelitian Ternak Ciawi-Bogor, Indonesia


Received: Maret 2019; Accepted: April 2019; Published: April 2019
DOI: http://doi.org/10.21107/agriekonomika.v8i1.5111

ABSTRAK
Menghadapi persaingan usaha ternak sapi perah dapat diupayakan melalui pengembangan industri
peterakan yang mengarah pada usaha komersial. Usaha ternak sapi perah induk laktasi, dapat diarahkan
pada peningkatan ekonomi dan kesejahteraan peternak. Berdasarkan permasalahan tersebut diatas,
terlihat upaya pencapaian daya saing usaha sapi perah dipeternak masih lemah, sehingga dibutuhkan
dukungan modal usaha. Tulisan ini bertujuan membahas mengenai tinjauan konseptual upaya pencapaian
daya saing usaha sapi perah melalui kebijakan pemerintah dan peningkatan pendapatan peternak. Upaya
Pemerintah untuk menciptakan berbagai produk hasil peternakan dapat bersaing dan mampu memotori
industrialisasi perdesaan. Kebijakan Pemerintah dengan meningkatkan tarif impor pada produk susu sapi
perah akan berpengaruh positif terhadap daya saing usaha ternak sapi perah di peternak. usaha ternak
sapi perah di peternak akan semakin meningkat nilai keuntungan secara kompetitif dan keunggulan
komparatif. Produksi susu sapi perah yang dihasikan dapat memenuhi kebutuhan pasar, dan secara tidak
langsung perekonmian peternak meningkat. Usaha sapi perah dengan skala 4 ekor induk laktasi, peternak
mendapatkan keuntungan bersih sebesar Rp.21.007.000,-/tahun R/C ratio 1,5. Keuntungan pada kelompok
peternak sapi perah Maju Terus sebesar Rp.1.718.794,53,-/tahun nilai R/C ratio 2,18. Ke dua usaha sapi
perah di peternak nilai R/C rasio sangat baik dan >1. Usaha ternak sapi perah di peternak secara ekonomi
layak untuk diusahakan kembali.
Kata kunci: Daya Saing Usaha Sapi Perah, Kebijakan Pemerintah, Pendapatan Peternak

The Effort Achievement Business Competitiveness of Dairy Cow Through Government


Policy and Improvement Livestock Income
ABSTRACT
Facing competition for dairy cattle business can be pursued through the development of the cattle industry
which leads to commercial ventures. Lactation parent dairy cattle business can be directed at improving
the economy and welfare of farmers. Based on the above problems, it is seen that efforts to achieve the
competitiveness of dairy cows in farms are still weak, so business capital support is needed. This paper
aims to discuss the conceptual review of efforts to achieve the competitiveness of dairy cattle business
through government policies and increasing farmers’ income. Government efforts to create various
livestock products can compete and be able to drive rural industrialization. Government policy by increasing
import tariffs on dairy cows’ milk products will have a positive effect on the competitiveness of dairy cattle
business in farmers. Dairy farms in breeders will increasingly increase the value of competitive advantage
and comparative advantage. The milk production of dairy cows can meet market needs, and indirectly
the livestock economy increases. Dairy cattle business with a scale of 4 lactation mothers, farmers get a
net profit of IDR 21,007,000/year R/C ratio 1.5. The advantage in the Forward dairy farmers group is IDR
1,718,794.53/year R/C ratio of 2.18. The two dairy cows in the ranchers have very good R/C ratio and>1.
Dairy farms in breeders are economically viable for re-cultivation
Keywords: Competitiveness of Dairy Cattle Business, Government Policy, Farmer Income
Cite this as:
Rusdiana, S., dan Soeharsono. (2019). Upaya Pencapaian Daya Saing Usaha Sapi Perah Melalui
Kebijakan Pemerintah dan Peningkatan Pendapatan Peternak. Agriekonomika, 8(1), 36-50. http://
doi.org/10.21107/agriekonomika.v8i1.5111

Corresponding author : © 2019 Universitas Trunojoyo Madura
Address : PO. Box. 221. Bogor Jawa Barat, Indonesia
p-ISSN 2301-9948 | e-ISSN 2407-6260
Email : s.rusdiana20@gmail.com
Phone : 081282010532
Agriekonomika, 8(1) 2019: 36-50 | 37

PENDAHULUAN budaya, tidak mudah untuk merubah


Berkembangnya kegiatan usaha pe- kembali tatannya, bagi perkembangan
ternakan sapi perah dipedesaan, sangat perekonomian di masyarakat, terutama di
berpengaruh terhadap peningkatan per- peternak..
ekonomian di masyarakat. Tentunya dapat Dasar pemikiran, bahwa untuk
meningkatkan nilai ekonomi, pada peternak meningkatkan produksi susu sapi perah,
terutama bagi peternak yang memelihara selain ternaknya yang harus produktif
sapi perah. Untuk meningkatkan skala juga sumberdaya manusianya juga yang
usaha sapi perah dan jaminan harga perlu ditingkatkan. Menurut Anindyasari
susu tentunya sangat diarapkan dukunag dkk. (2016), hampir semua peternak sapi
Pemrintaan. Usaha sapi perah sudah perah, bergabung pada kelembagaan
lama diushakan oleh peternak kecil dan koperasi, karena koperasi sebagai
besar di daerah Jawa Barat, baik dataran induk perkembangan usaha sapi perah
tinggi maupun rendah. Ternak sapi perah di peternak. Tercapinya daya saing
selain diusahakan di wilayah dataran usaha sapi perah, untuk meningkatkan
tinggi juga sudah ada ternak sapi perah sumberdaya peternak, tersedianya modal
yang diushakan di dataran rendah, salah usaha, ilmu pengetahuan teknologi.
satunya di Kebon Pedes Kota Bogor-Jawa Sumberdaya peternak dapat ditingkatkan,
Barat (Gultom & Suharno, 2014). Untuk melalui, bimbingan teknis, penyuluhan,
pencapaian produk peternakan yang tinggi dan pada akhirnya peternak terampil
dan berkualitas baik, tentunya manajemen dalam usahanya. Kemudian selain
pemeliharaan usaha sapi perah sudah sumberdaya peternak meningkat, juga
mengacu pada standar SOP. Artinya usaha dukungan pakan ternak yang dapat
sapi perah sudah mengarah pada usaha meningkatkan produktivitas sapi perah.
komerisal, dan sudah dapat bersaing Jenis tanaman pakan ternak yang tumbuh,
dengan usaha-usaha ternak lainnya. disembarang tempat dan berkembangbiak
Usaha ternak sapi perah, dengan dapat dimanfaatkan sebagai pakan
melalui pemberdayaan peternak, dapat ternak. Ternak sapi potong, sapi perah,
diharapkan produk susu sapi perah me- kerbau, kambing dan domba, sangat
ningkat. Meningkatkan produk susu sapi mudah diusahakan oleh peternak, namun
perah, setidaknya akan dapat mengurangi agar produksi ternak tiggi, ditentukan
impor susu. Namun hal tersebut, tentunya dengan penyediaan pakan hajaun yang
dapat ditentukan oleh ketersediaan berkualitas.
teknologi, sosial ekonomi, budaya Menurut Adji (2015), meskipun
masyarakat dan dukungan kelembagaan sumber daya alam dapat mendukung, mata
pasar (Elizabeth, 2007). Peternak dapat pencaharian masyarakat sebagian besar
ditingkatkan usahanya, melalui dukungan peternak, tergantung pada peternak dalam
dan kebijaan Pemrintah pusat dan daerah. pengelolaannya. Program Pemerintah
Dukungan tersbeut baik berupa dana, dalam kebijakannnya berusaha hingga
kredit dan pemberian bibit sapi perah saat ini untuk meningkatkan pendapatan
produktif dan jantan unggul. Ternak sapi dan kesejahteraan masyarakat peternak.
perah untuk menghasilkan pedet dan kebijakan tersebut dapat dilakukan
produksi susu perah meningkat melalui IB, melalui pemberian modal, bibit ternak dan
sinkronisasi, dan pakan yang berkualittas kridit dengan bunga rendah terjangkau
baik. Untuk meningkatkan produksi susu oleh peternak. Indonesia merupakan
sapi perah tinggi, dapat dilihat dari induk negara pengekspor dan sekaligus pe-
produktif dan manajemen pemeliharaan ngimpor produk hasil perkebunan, per-
sapi perah yang baik (Astuti dkk., 2010). tanian, peternakan dan perikanan, baik
Pembangunan ekonomi yang sentralistik bahan olahan maupun jadi. Upaya
dan kapitalistik telah melembaga dengan Pemerintah untuk menciptakan berbagai
kuat. Secara ekonomi, politik maupun produk hasil peternakan dapat bersaing
38 | Supardi Rusdiana dan Soeharsono, Pencapaian Daya Saing Usaha Sapi Perah

dan mampu memotori industrialisasi meingkatkan usaha sapi perah. Namun


perdesaan. Kebijakan Pemerintah dengan usaha ternak sapi perah, masih ada
meningkatkan tarif impor pada produk kelembahannya yaitu cara usahaya masih
susu sapi perah akan berpengaruh positif mengacu usaha sambilan. Adibowo &
terhadap daya saing usaha ternak sapi Feryanto (2014), mengemukakan bahwa,
perah di peternak (Khairunnisa 2011). daya saing peternak sapi perah saat
Usaha ternak sapi perah di peternak akan ini cukup tinggi, namun peternak masih
semakin meningkat nilai keuntungan belum mampu meningkatkan produksi
secara kompetitif dan keunggulan susu sapi perah tinggi. Kemungkinan lain
komparatif. rendahnya harga jual susu sapi perah,
Tentunya untuk pemenuhan ke- skala pemeliharaan kecil anatar 2-5 ekor/
butuhan pangan dan sebagai basis dapat peternak, keuntungan yang diterima
mewujudkan ketahanan pangan asal peternak belum optimal (Rusdiana dan
daging, susu secara nasional (Syahyuti Praharani 2009).
dkk., 2015). Menurut Wahyuni (2003) Kebijakan Pemerintah yang
bahwa, pada usaha ternak sapi perah, telah dan sedang diterapkan dinilai
permasalahan sering terjadi, harga pakan, belum optimal memberikan insentif dan
nilai jual susu sapi perah turin, sehingga peningkatan daya saing usaha ternak
merupakan hal yang biasa. Namun hal sapi perah (Adibowo & Feryanto 2014).
tersebut tentunya perlu dukungan baik Berdasarkan permasalahan tersebut
dari lembaga Pemrintah maupun lembaga diatas, sanget terlihat bahwa, daya saing
lainnya, sehingga peternak merasa ter- produk hasil produksi peternakan terutama
lindungi dan terbantu. Pencapaian daya produksi susu sapi perah, masih impor.
saing produk susu sapi perah yang Tulisan ini bertujuan unuk membahas
dihasilkan peternak, tentunya dapat tinjauan konseptual upaya pencapaian
mengimbangi produk dari luar. Melalui daya saing usaha sapi perah melalui
penerapan teknologi pada usaha ternak kebijakan pemerintah dan peningkatan
sapi perah, dapat disesuaikan dengan pendaptan peternak.
kemampuan peternak. Melimpahnya
produk peternakan luar negeri, yang tidak POTENSI PETERNAKAN SAPI PERAH
terhindarkan, dapat diartikan, sebagai DAN PENGEMBANGANNYA
tantangan dan peluang bagi pengusaha Potensi Ternak Sapi Perah
ternak sapi perah besar dan kecil. Perlu Upaya untuk pengentasan kemiskinan
dukungan modal usaha yang kuat, untuk dan memeratakan perekonomian di
meningkatkan perkembangan populasi masyarakat serta meningkatkan nilai
sapi perah dan produksi susu menigkat ekonomi peternak, maka sektor peternakan
(Elizabeth, 2011). dapat ditingkatkan (Asmara dkk., 2016).
Hasil produk peternakan berupa Seiring dengan kemajuan teknologi,
susu sapi perah, yang dihasilkan sebagai dan persaingan perdagangan, tentunya
produk primer tentunya bersifat natural sektor pertanian perlu ditingkatkan,
dan siap saji hasil impor (Elizabeth, 2008). sebagai penyeimbang ekosistem wilayah.
Sampai saat ini sebagian besar ekspor Persaingan perdagangan di Indonesia,
berupa bahan mentah (raw material) dan akan semakin lama akan semakin
mengimpor kembali setelah berbentuk ketat, seiring dengan era globalisasi
produk olahan, baik pada komoditi dan teknologi informasi yang semakin
pangan, hortikultura, perkebunan maupun maju. Produksi susu yang dihasilkan
peternakan (Rachmat dkk., 2012). Usaha oleh peternak, perlu dipaertahankan
ternak sapi perah di peternak masih kualitasnya dan kuantitasnya, agar
sederhana, dan belum mengarah pada harga susu tetap tinggi. Usaha ternak
usaha komersial. Dukungan tenaga kerja dapat dikatakan mampu berperan dalam
peternak terdidik sangat diharapkan,guna mendukung perkembangan ekonomi di
Agriekonomika, 8(1) 2019: 36-50 | 39

Indonesia. Ternak sapi perah selain untuk dilakukan melalui dukungan baik dari
mendapatkan produksi susu dan daging lembaga Pemerintah pusat dan daerah
juga dapat bersaing dengan usaha-lainnya. serta suwasta. Dukungan dan dorongan
Peningkatan nilai tambah (utility), dapat untuk menigkatkan usaha ternak sapi
dilakukan dengan menggunakan kajian perah dapat dilakukan denga memberikan
deskriftif, dengan memperluas jaringan pinjaman modal usaha, jaminan harga
pemasaran hasil produk peternakan yang jual susu sapi perah serta pemberian bibit
dihasilkan (Saptana & Rosgaanda, 2004). yang produktif. Kemajuan usaha ternak
Peternak sapi perah, pemahamnnya sapi perah di peternak dapat dilhat dari
bukan untuk menghasilkan produksi susu jumlah skala usaha meningkat, produksi
sapi perah saja, melainkan kondisi pasar susu tinggi, nilai jual susu sapi perah
untuk susu sapi perhah dan ternak. tinggi dan pendapatan peternak menigkat.
Dengan meningkatnya keterampil- Cahyono (2010), mengemukan bahwa,
an peternak serta dengan meningkatnya kelembagaan dapat diartikan dari bebera
motivasi peternak dalam usaha, ke- peran, yang menyangkut keberhsilan dari
berhasilan peternak akan meningkat. terbentuknya kelembagaan. Kelembagaan
Pemahaman usaha ternak sapi perah dapat sudah lama dikembangkan di Indonesia,
difokuskan pada pemberian teknologi, tujuannya untuk memperkuat kelompok
yang dapat meningkatkan usaha. namun peternak dan juga dapat meningkatkan
pemberian teknologi dan inovasi peternak nilai ekonomi.
harus diimbangi dengan kemampuan Taufik (2015), mengemukakan
peternak. billa teknologi yang diberikan bahwa kelembagaan merupakan konsep
kepada peternak, tidak sesuai dengan yang  berpadu dengan struktur, melibatkan
kemampuan peternak, maka teknolgi pola aktivitas sosial, budaya, ekonomi
tersebut akan mubazir tidak bermanfaat, guna eningkatkan nilai ekonomi yang
karena tidak terpakai. Peternak memahami perlu dipenuhi untuk hati-hari. Dengan
teknologi yang diberikan dan sesuai dukungan kelembagaan diharapkan
dengan kemampuan peternak, sehingga usaha ternak sapi perah dapat meningkat
peternak dapat melaksanakan dengan produktivitasnya. Menurut Siswoyo dkk.
baik. Menurut Winarso dkk. (2005), proses (2013), kelembagaan merupakan hal
diseminasi teknologi dan disertai dengan yang sangat penting, dan bukan dilihat
pemahaman peternak, maka teknologi dari segi ekonominya saja, melainkan
yang diterima peterak akan bermanfaat, juga dilihat dari keseluruhan usaha
hasilnya baik. Teknologi mempunyai dan kelompok peternak. Siswoyo dkk.
potensi usaha ternak dan mempunyai (2013), kelembagaan kelompok peternak
3 makna kunci utama yaitu, perilaku mempunyai beberapa syarat sebagai
peternak, kondisi dan hubungan sosial anggota kelompok diantaranya: membayar
dan kemapuan untuk berusaha (Adawiyah simpanan pokok, mempunyai ternak dan
& Rusdiana, 2013). Penerapan teknologi selalu hadir dalam rapat terkecuali sakit
pada usaha ternak sapi perah, dapat dan kesibukan lainnya. Dengan dukungan
meningkatkan produktivitas ternak dan kelembagaan yang kuat, tentunya peternak
juga menigkatkan pendapatan peternak dapat meningkatkan usahanya lebih baik
(Adawiyah, 2017). lagi, karena jaminan untuk usaha sudah
tercatat dalam kelembagaan. Lembaga
Upaya Pencapaian Daya Saing Usaha peternak dapat dibentuk, tujuannya
Sapi Perah untuk meningkatkan pendapatan dan
Upaya pemahaman peternak pada usaha kesejahteraan anggotannya.
ternak sapi perah, dapat dilakukan melalui Dalam kontek kelembagaan
dukungan kebijakan Pemerintah pusat pertanian maupun peternakan, dibutuhkan
dan daerah. Upaya untuk tercapainya juga pemahaman terminologi lokal
daya saing usaha sapi perah, dapat yang dapat diinterpretasikan kepada
40 | Supardi Rusdiana dan Soeharsono, Pencapaian Daya Saing Usaha Sapi Perah

anggotanya. Perlunya mempertahankan untuk mempermudah peternak dalam


hasil produk dalam negeri, dan termasuk memasarkan hasil produksi ternak
hasil peternakan, sehingga sangat perlu sapi perah. Pemahaman dan potensi
perhatian yang khusus dari Pemerintah pemberdayaan peternak dan dukungan
(Silvia dkk., 2015). Produk yang dihasilkan kelembagaan, akan lebih terarah dari
siap untuk diterima oleh konsumen konsep yang diberikan. Pemasaran susu
artinya untuk memasrkan produk susu sapi perah cukup mudah, dan koperasi
sapi perah peternak tidak mengalami siap menerima dengan harga sesuai
hambatan artinya lancar. Harga susu kesepakatan bersama. Kualitas dan
sapi perah di peternak terjamin, dengan kuantitas susu sapi perah, koperasi tidak
adanya dukungan kelembagaan, selian itu mempermasalahkan, sehingga peternak
juga dukungan dari lembaga pemerintah merasa nyaman dengan kondisi usahanya.
setempat, sangat mendukung untuk per- Alur kelembagaan dan penenttuan
kembangan usaha ternak sapi perah, kemampuan peternak untuk pemasaran
sehingga peternak merasa terlindungi. produk hasil ternak sapi perah, terlihat
Penurunan komoditas peternakan pada Bagan 1.
dapat bepengaruh kepada harga susu sapi Berdasarkan Gambar 1, alur
perah, daging dan dapat mengakutakan kelembagaan dan penenttuan kemampuan
terjadinya fluktuatif harga beli. Masih peternak untuk pemasaran produk hasil
tiingginya daya beli masyarakat terhadap ternak sapi perah cukup baik. Upaya
produk luar, sehingga perlu diperhatkan untuk pemberdayaan peternak sapi
oleh Pemerintah. Melalui jaminan perah cukup meningkat dan beragam.
harga susu sapi perah di peternak yang Meningkatnya kemandirian peternak,
cukup baik, dan ketersediaan bahan akan berdampak pada penigkatan
baku pakan ternak sapi perah. Alur dan ekonomi peternak. Beberapa kendala
dukungan kelembagaan dimaksudkan dalam pengembangan usahnya, pertama

Gambar 1
Alur Kelembagaan dalam Penentuan Hasil Peternakan Usaha Sapi Perah
Sumber: Elizabeth, 2008
Agriekonomika, 8(1) 2019: 36-50 | 41

kelompok peternak tidak memahami yang mandiri. Gambaran maju mundurnya


makana usaha. Belum berkembangnya usaha ternak sapi perah di peternak, dilihat
teknologi untuk pengolahan produk dri jumlah peternak yang memelihara
susu sapi perah yang dihasilkan, masih dukungan kelembagaan serta pasar
mengandalkan koperasi. Usaha ternak produk hasil ternak sapi perah. Kemudian
sapi perah masih kecil dan terbatasnya perlunya pemberdayaan peternak,
sumber permodalan, serta rendahnya agar peternak lebih fokus dalam usaha
kualitas peternak (SDM). Menurut ternakya. Prinsip-prinsip dasar, dalam
Dewi dkk. (2010), peran sumberdaya pemikirannya, perlu juga memperhatikan
mamanusia sangat menentukan untuk peternak, agar peternak dapat merancang
keberhasilan perekonomian masyarrakat usahanya lebih kearah usaha komersial.
maupun untuk rumah tangga. Peternak Rancangan usaha peternakan sapi
melakukan usahanya belum professional, perah, dapat berjalan dengan baik,
sehingga masih membutuhkan dukungan apabila rancangan usaha tersebut
dari koperasi setempat. dapat dilakukan oleh peternak sesuai
dengan kondisi lingkungan yang ada.
PENINGKATAN USAHA TERNAK SAPI Salah satunya lahan, penyediaan pakan,
PERAH modal, semangat peternak untuk usaha
Pemberdayaan Peternak Sapi Perah (Rusdiana dkk., 2013). Pemberdayaan
Pemberdayaan peternak pada usaha peternak untuk perkembangan usahanya,
sapi perah, yaitu melalui dukungan mellaui penerapan teknologi, sehingga
modal usaha, jaminan harga susu, dapat bersaing dengan usaha lainnya
ternak. Peningkatan kapasitas usaha, (Rusdiana dkk., 2011). Peternak mampu
dukungan penyuluhan, pendampingan, untuk mengidentifikasi nilai-nilai positif,
pendidikan dan pelatihan bagi peternak dengan memiliki kepercayaan yang tinggi,
serta pasca panen. Setrategi awal yang sehingga usaha yang dilakukannya
harus diterapkan dalam pelaksanaannya, berjalan lancar.
fasilitasi dalam penyediaan produksi dan
siap pasar. Pemberdayaan peternak, Peningkatan Nilai Jual Produk Susu
merupakan proses yang sangat perlu Sapi Perah
diperhatikan, karena ujung tombak Harga jual hasil peternakan merupakan
kecukupan protein hewani asal susu nilai baru yang perlu dilakukan oleh
sapi perah adalah peternak. Santosa lembaga riset pasar. Agar peternak dapat
dkk. (2013), mengemukakan untuk me- mengetahui nilai jual produk susu sapi
ningkatkan peningkatan populasi sapi perah yang dihasilkan dan tidak ketinggal
perah dapat dilakukan pada sebuah inpormasi hal harga pangan. Menurut
daerah, yang dengan didukung potensi Elizabeth (2008), bahwa Indonesia
dari daerah tersebut. Peternak dapat merupakan negara yang memiliki
diperankan sebagai pelaku utama, yang sumberdaya genetik (SDG) dari komoditi
dapat memutarkan perekonomian daerah pertanian, perkebunan dan peternakan.
dan negera. Sedangkan penyuluh sebagai Sumberdaya manusia yang ada,
fasilitator, bukan sebagai guru sebagai namun tinggal bagaimana kemampuan
petunjuk saja, yang perlu dihargai dalam sumberdayanya untuk mengolahnya
berkarirnya. Manfaat adanya pendamping dengan baik. Peternak dapat diberdayakan
atau fasilitator untuk kemajuan peternak, menjadi peternak yang mandiri dan dapat
dan peternak dapat berdiskusi sekitar berhasil dalam usahanya. Produksi yang
usaha ternak, maka keberhasilan usaha dihasilkan daari peternakan baik berupa
peternak akan semakin meningkat. susu, daging tentunya untuk memenuhi
Pemberdayaan peternak dalam kebutuhan pangan bagi masyarakat
penempatannya, sangat perlu melepaskan pada umumnya. Pangan merupakan titik
peternak, agar usahanya dengan kondisi sentral yang perlu di sediakan setiap saat.
42 | Supardi Rusdiana dan Soeharsono, Pencapaian Daya Saing Usaha Sapi Perah

Kebutuhan pangan sangat tinggi, sehingga (Sumaryanto, 2009). Hubungan kebutuhan


perlu penanganan yang sangat khusus, dan penyediaan pangan asal susu sapi
karena pangan merupakan titik sentarl perah, dapat dilakukana, melaui upaya
untuk kesehatan bagi manusia. Suryana peningkatan sumber daya peternak.
& Khalil (2017), mengemukakan bahwa, Peternak dapat memanafaaatkan kondisi
sebagai contoh komunitas internasional lingkungan yang ada, sesuai denggan
mengakui bahwa Singapura memiliki kepentiannya dan mengarah pada
ketahanan pangan yang sangat tangguh. peniingkatan kemajuan dan peningkatan
Kemampuan produksinya pangan ekonomi peternak. Upaya untuk me-
yang dihasilkan dalam hitungan ekonomi ningatkan kemampuan peternak dalam
sangat minimal. Lebih lanjut 2016 usahanya, maka dapat dilakukan melalui
Singapura pencapaian seluruh aspek bimbingan khusus dan pemberian modal
pangan, dan berdasarkan ukuran Global serta kapasitasnya (Rusdiana & Praharani,
Food Secutity (GFSI) peringkat ke tiga dari 2015).
113 negara yang dievaluasi (The Economist Meningkatkan keuntungan usaha
Intellegence Unit 2016) (Suryana dan sapi perah, bukan untuk menghasilkan
Hkalil 2017). Hal tersebut disebabkan oleh konsep saja, tetapi perlu dengan
karena pembinaan SDM yang semakin pelaksanaan yang dapat memenuhi
meningkat dan lahan untuk diproduksi kebutuhan konsumen, dan tercapinya
semakin rendah, sehingga produk dan produksi peternakan. Menurut Budiman
kebutuhan tidak akan sebanding dengan (2013), mengemukakan bahwa, peternak
kondisi yang ada. Usaha ternak sapi dapat diberdayakan usahanya melalui
perah dapat difokuskan pada peningkatan pelatihan dan tatacara usaha pemeliharaan
produksi susu dan pedet, sehingga hasil ternak sapi perah. Tercapinya daya saing
produksi yang dihasilkan lebih optimal. produksi hasil peternakan Indonesia,
Produk yang dihasilkan, pasca panen perlu melakukan pemebrdayaan peternak
dan pengolahan hasil, perlu mengimbangi melalui kelompok peternak. Penerapan
sasaran kebutuhan pasar, sehingga tidak teknologi, untuk pengolahan produk
belebih dalam proses prduksinya. Harga hasil peternakan, berupa susu melalui
pangan asal prduk susu sapi perah, yang keragaman kebutuhan konseumen.
siap bersaing dengan pasar luar, maka Menurut Elizabeth (2008), kemungkinan
perlu kosentrasi pasar pangan dan terarah. pengolahan hasil produksi susu sapi
Dalam rangka mewujudkan pembangunan perah masih banyak dilakukan dengan
peternakan, perlu upaya dukungan bagi cara tradisional, sehingga yang dihasilkan
selain dari kelembagaan Pemerintah, juga belum oftimal. Pengolahannya yang masih
kemandirian peternak dalam usahanya. terkesan menjadi tertinggal, sehingga akan
Peningkatan usaha ternak sapi terdesak oleh produk olahan modern.
perah, peterrnak perlu memahami kondisi
lingungan sekitar. Upaya Pemerintah, Peluang Usaha Sapi Perah
dalam menerapkan kebijakan, tentunya Secara umum usaha sapi perah sangat
untuk memenuhi kebutuhan pagan asal berpeluang tinggi untuk dikembangkan,
produk ternak. Upaya yang dilakukan baik secara usaha rakyat maupun secara
peternak sapi perah, agar usaha tersebut suwasta. Hasil produksi susu sapi perah
meningkat, sehingga dapat menghasilkan dan daging sapi masih banyak dibutuhkan
produk susu dan daging yang berkualitas. untuk dikonsumsi, selain kebutuhan protein
Secara tidak langsung peternak selain hewani juga kegemaran minum susu.
mendapatkan keuntungan, juga peternak Sektor peternakan dituntut, sebagai peran
dapat mempertahankan ternaknya. Output untuk dapat meningkatkan perekonomian
usaha ternak sapi perah, dapat diarahkan masyarakat secara nasional. Peluang
sebagai upaya, mempu meningkatkan usaha sapi perah sangat terbuka lebar,
usaha ternak sapi perah berkelanjutan. apabila sektor peternaan sebagai peran
Agriekonomika, 8(1) 2019: 36-50 | 43

utama, dan didukung oleh kebijakan dapat bersaing dengan luar. Upaya
Pemrintah. Penyediaan pangan dan bahan mengurangi impor produk olahan, dimana
baku industri, tentunya sebagai penguat ekspor secara bertahap dapat diusahakan
dan penyedia lapangan kerja. Menurut pada olahan. Adawiyah & Rusdiana
Sahara & Idris (2007), bahwa tenaga (2016), mengemukakan bahwa, peternak
kerja peternak, pada saat memproduksi, dapat memperkuat posisi usahanya
maka perlunya diawali dengan persiapan dengan bekerjsama usaha kemitraan,
pemeliharaan samapi akhir panen. Peluang sehingga kekuatan untuk penjualan hasil
untuk meningkatkan kinerja peternak, produk terjamin. Menurut Suradisastra
untuk mendpatkan nilai ekonomi tinggi (2008), bahwa secara sosial peternak
bagi peterna. Di era globalisasi merupakan dapat dibentuk kedalam kelompok
masa terbuka luasnya peluang pasar kedlama bentuk kelembagaan dalam
bagi produk-produk perdagangan seluruh komunitas peternak. Secara sosial budaya
negara, termasuk produk peternakan. dan ekonomi, ternak sapi perah dapat
Prinsip dasar liberalisasi, globalisasi dibududayakan dimasyarakat secara
perdagangan luar dan dalam pada saat ini umum.
dipandag sanget pelik dan bersaing setelah Namun pada umumnya di
adanya MEA (Adawiyah dkk., 2016a). dukungan lingkungan sekitrar dapat
Menurut Adibowo & Feryanto (2014), menjamin untuk usaha ternak sapi peraah
Perdagangan bebas, membuat Pemerintah tidak menggangu kondisi lingkungan
relatif tidak dapat bergerak bebas untuk penduduk. Kemudian mayarakat petermak,
melindungi produk dalam negerinya. secara sosial dalam kehidupan sehari-
Tantangan usaha perdagagan globalisasi, hari sapi perah sebagai mata pecaharian
dengan penyediaan penyediaan produk utama, sehingga sapi perah menjadi
yang aman, harga bersaing, yang salah satu pigur usaha yang dominan.
bermutu tinggi dan berkualitas terjamin Secara ekonnomi kelayakan usaha ternak
(Winasro dkk., 2005). Elizabeth (2007), sapi perah, dapat dihitung, melalui biaya
menyatakan bahwa, fenomena sosiologis produksi dan pendapatan. Hal yang sama
metamorphosis peternak dapat diarahkan dikemukakan oleh Rusdiana dan Praharani
pada terpinggirkan pendapatan secara (2015) dan Adawiyah dkk., (2016b),
ekonomi. Kokohnya pasar domestik peternak agar mendpatakan keuntungan
produk, supaya tidak hanya dibanjiri yang optimal, maka usaha ternak perlu
produk impor dan kontiniutas penyediaan dilakukan dengan cara diversifikasi contoh
produk yang memadai. Kondisi lingkungan ternak sapi perah dan tanaman pangan,
usaha dapat mempengaruhi kestabilan atau dengan lainnya. Untuk mengetahui
produksi pada usaha sapi perah. Peternak nilai skala usaha di tingkat peternak, maka
dapat memahami usaha sapi perah, sehing keuntungan yang diperoleh dapat dihitung
sangat bepeluang tinggi untuk ditingkatkan berdasarkan jumlah biaya produksi
usahanya dan dapat bersaing dengan dan jumlah pendapatan. Pendapatan
produk lainnya, tentunya di pasar global peternak akan terlihat, apabila biaya
(Rachmat dkk., 2012). dihitung berdasarkan jumlah biaya yang
Upaya peningkatan nilai tambah dikeluarkan pendapatan selama satu
produk peternakan dan pengembangan tahun (Simatupang dkk., 2004).
perdagangan produk hasil olehan yang Menurut Adawiyah dan Rusdiana
dapat bersaing dengan negara luar. (2013), bahwa,keuntungan peternak dapat
Persaingan usaha semakin ketat, karena dihitung berdasarkan jumlah ternak ternak
bertambahnya jumlah penduduk di dunia yang dijual dan dikurangi biaya produksi.
juga, teknologi yang semakin canggih. Pengeluaran biaya untuk pakan oleh
Indonesia harus melangkah ke arah peternak diasumsikan ke dalam biaya
industrialisasi dengan mengembangkan tenaga kerja keluarga. Menurut Winarso
dan meningkatkan produk olahan yang dkk., (2005); Rusdiana dkk., (2010);
44 | Supardi Rusdiana dan Soeharsono, Pencapaian Daya Saing Usaha Sapi Perah

bahwa, dengan menggunakan metode pangan dan budidaya hijauan pakan


analisis ekonomi, yang merupakan angka ternak (Rusdiana & Praharani, 2009).
banding antara nilai skala usaha dan Faktor produksi pada usaha ternak sapi
biaya yang dikeluarkan pada usaha kan perah, yaitu biaya pembelian bibit, biaya
terlihatsecara riil nilai ekonomi. Rusdiana pembuatan kandang, biaya pakan, biaya
dan Soeharsono (2017) menyatakan tenaga kerja dan biaya kesehatan ternak.
bahwa, keuntungan akan dapat diketahui Biasanya keuntungan yang di dapat pada
oleh setiap peternak, apabila usaha usaha ternak sapi perah di peternak,
tersebut sudah dilakukan selama satu berupa hasil penjualan susudan ternak
tahun. Diantaraya adalah untuk pembelian afkir. Asumsi pada biaya usaha ternak
bibit sapi, penyusutan kandang atau sapi perah dipat dihitung untuk biaya 1
bangunan, penyusutan peralatan dan ekor induk laktasi dapat menghasilkan
sebagainya (Rusdiana dkk., 2017). Pada 1 ekor pedet minimal 2-3 tahun. Pada
biaya tetap adalah biaya yang dikeluarkan tahun berikutnya biaya untuk modal usaha
relatif tetap untuk setiap periodenya, akan berkurang, karena biaya untuk
seperti pajak, tenaga kerja, administrasi, pembuatan kandang dan pembelian bibit
dan lain sebagainya (Rusdiana dan sudah dilakukan pada tahun awal usaha.
Wahyuning 2009). Menurut Elizabeth Menurut Riyanto (2013), bahwa usaha
(2008) bahwa, belum adanya kebijakan riil ternak sapi perah, dapat menggunakan
yang mendorong berkembangnya industri input produksi sesuai dengan kebutuhan
di dalam negeri. usaha, sehingga usaha dapat meningkat
prouksinya (Riyanto, 2013). Rusdiana
Nilai Ekonomi Usaha Sapi Perah di Pe- dan Praharani (2009), menyatakan untuk
ternak mendapatkan nilai rugi laba pada usaha
Biaya produksi untuk skala usaha 3-6 ekro, ternak sapi perah dapat didefinisikan total
tenaga kerja peternak dapat dilakukan penerimaan, total biaya produksi dihitung
anatar 1-2 orang. Menurut Aisyah (2012), berdasarkan R/C ratio.
bahwa, peternak sapi perah dalam Untuk memaksimalkan keuntungan
usahanya rata-rata belum mencapai kondisi pada usaha ternak sapi perah, alokasi
yang efisien. Pendapat Sari (2013), usaha faktor produksi dalam penggunaanya tidak
ternak sapi perah di peternak juga belum berlebihan sesuai kebutuhan (Rusdiana &
memberikan keuntungan yang optimal. Wahyuning, 2009). Tenaga kerja peternak
Menurut Sanosa dan Purbayu (2013), sapi perah, dapat dilihat dari umur
untuk mendapatkan keuntungan yang peternak, serta ketersediaan waktu kerja
optmal peternak harus mengefisiensikan yang di gunakan oleh peternak (Rusdiana
penggunaan input produksi, dan tidak dkk., 2014). Vurahan waktu kenaga kerja
berlebih dalam penggunaannya, agar peternak dan jumlah ternak yang dipelihara,
tercapai efieisnsi ekonomi. Hasil penelitian sangat berpengaruh terhadap waktu kerja
Halolo (2013), bahwa usaha ternak sapi yang digunakan, bersama-sama, karena
perah di peternak sefisien apabila tingkat merupakan faktor untuk meningkatkan
efisiensinya sudah mencapai sebesar 1,4, pendapatan peternak (Taslim, 2011) dan
dari setiap pengeluaran biaya sebesar (Rusdiana & Mahesya, 2016). Adanya
Rp.100,-. Estimasi perhitungannya, dapat peluang pasar, meningkatnya permintaan
dilihat dari jumlah ternak yang dipelihara produksi susu sapi dan harga susu sapi
dan jumlah biaya produksi. Kemudian yang cukup baik. Apabila produksi susu
dihitung pendapatannya berdasarkan hasil sapi perah diimbangi dengan permintaan,
penjualan pedet, induk apkir dan produksi maka nnilai jual susu sapi perah akan
susu. seimbang dengan kebutuhan. Menurut
Pupuk kandang, biasanya tidak Halolo dkk.,, (2013); dan Santosa dkk.,
dijual, dikembalikan kelahan pertanian (2013) pada usaha ternak sapi perah
milik peternak sebagai penyubur tanaman biaya pakan mencapai 62,5% dari total
Agriekonomika, 8(1) 2019: 36-50 | 45

biaya produksi. Usaha ternak sapi perah di diapkirkan. Nilai R/C rasio bila >1 maka
peternak, dalam usahanya cukup beragam, nilai riil ekonomi untung bila nilai riil R/C
baik cara skala pemberian, pemberian ratio <1 nilai ekonomi rugi. Keuntungan
pakan maupun cara pemeliharaan. yang dipeoleh peternak biasanya hasil
Fadhil dkk. (2017), menyatakan penjualan pedet, induk afkir dan jantan
bahwa peternak beranggapan bahwa yang dibesarkan (Rusdiana dan Praharani
pakan hijauan mudah diperoleh disekitar 2009). Pada usaha ternak sapi perah
lingkungan pemukiman penduduk. Per- laktasi skala 4 ekor dan pada usaha ternak
hitungan ekonomi dalam analsiis usaha sapi perah di kelompk peternak Maju Terus
dapat melihat kepekaan atau sensitivitas terlihat pada Tabel 1 dan 2
usahanya, kemudian bila terjadi perubahan Tabel 1 dan 2, menunjukkan bahwa
usaha maka, dapat dihitung biaya atau usaha ternak sapi perah dengan skala 4
benefit, rugi dan untung (Astuti dkk., ekor induk laktasi, peternak mendapatkan
2010). Produksi susu sapi perah yang keuntungan bersih sebesar Rp.
dihasilkan setiap hari, dapat dipengaruhi 21.007.000,-/tahun R/C ratio 1,5 (Rusdian
oleh penyediaan pakan konsentrat dan & Praharani, 2009). Sedagkan keuntungan
hiajuan pakan yang berkualitas baik. kelompok peternak sapi perah laktasi Maju
Produksi susu sapi perah yang dihasilkan Terus sebesar Rp 1.718.794,53,-/peterak
berkurang, tentunya induk harus segera nilai R/C ratio 2,18.diantara ke dua usaha

Tabel 1
Usaha Sapi Perah pada Skala 4 Ekor Laktasi/tahun di Peternak
Uraian voleme Harga (Rp) Jumlah (Rp.)
A.Biaya tetap
Penyusutan ternak selama 5 tahun
Pembelian bibit sap perah awal 4 ekor 12.000.000 48.000.000
Penjualan sapi betina afkir 4 ekor 0.7000.000 38.800.000
Penyusutan ternak tahun 2.300.000 2.300.000
Penyusutan kandang/5 tahun tahun 500.000 500.000
Tenaga kerja (432/Hok/tahun tahun 2.160.000 2.160.000
jumlah biaya tetap 4.960.000
B.Biaya variabel
-Konsentrat kg//ekor 5 kg 1.500 10.800.000
ampas tahu kg/ekor 20 kg 500 14.400.000
ketela pohon kg/ekor 4 kg 1000 5.760.000
pakan hijauan/kg/ekor 40 kg 100 5.760.000
biaya abis pakan tahun 250.000 250.000
jumlah biaya produksi 37.220.000
C.Produksi
produksi susu 7 bulan 15 liter 3.250 51.187.000
penjualan pedet umur 1-3 bulan 4 ekor 3.000.000 12.000.000
Jumlah 63.187.000
Jumlah biaya 42.180-.000
pendapatan bersih/tahun 21.007.000
pendapatan bersih/bulan 1.750.583
R/C 1,5
Sumber: Rusdiana dan Praharani, 2009
46 | Supardi Rusdiana dan Soeharsono, Pencapaian Daya Saing Usaha Sapi Perah

Tabel 2
Usaha Ternak Sapi Perah Laktasi/ekor di Kelompok Petermak Maju Terus
Kelompok Ternak Maju Terus
Uraian
Jumlah Vol. Harga (Rp) Nilai (Rp)
Biaya usaha ternak sapi perah
Penerimaan
A.Penerimaan tunai penjualan susu 314,14 liter 6.867 2.157.199,3
Total penerimaan tunai 2.157.199,38
B. pendapatan tunai
Penerimaan non tunai untuk pedet 62,00 liter 6.867 425.754,00
penerimaan non tunai 425.754,00
Total Penerimaan (A+B) 2.582.953,38
C.Biaya tunai
-Pakan hijauan 610,86 kg 255,26 155.928,12
-Konsentrat 51,64 kg 2.282,14 117.849,71
-Ampas tahu 985,14 kg 446,05 439.421,70
-Mieral 1.827,59
-Obat-obatan 8.000.000
-Pelicin ambing 0,17 kg 24.000 4.080
-KLK 3,26 HKP 25.000 81.500
-Transportasi 39.482,76
-Listrik 6.068,97
-Iuran koperasi 10.000
Total biaya tunai 864.158,85
D.Biaya diperhitungkan
-TKDK 6,47 HKP 25.000 161.750
-Penyusutan kandang 35.531,61
-Penyusutan peralatan 37.169,50
-Sewa lahan 85.756,27
Total biaya diperhitungkan 320.216,38
Total biaya (C+D) 1.184.357.2
-Pendapatan atas biaya tunai 1.178.794.53
-Pendapatan atas biaya total 1.398.578,16
R/C Ratio Tunai 2,99 6
R/C Ratio Total 2,18
Sumber: Gultom dan Suharno, 2014
sapi perah di peternak nilai R/C rasio layak untuk di kembangkan dan dapat
sangat baik (Gultom & Suharno, 2014). bersaing dengan usaha lainya.
Hasiil penelitian Rahayu (2013), pada
usaha ternak sapi perah dengan skala 3 SIMPULAN
ekor sinduk laktasi keuntung peternak Kebijakan Pemerintah dengan me-
sebesar Rp.7.803.395,833/tahun.Nilai R/C ningkatkan tarif impor pada produk susu
rasio tersebut menunjukkan bahwa, usaha sapi perah akan berpengaruh positif ter-
ternak sapi perah di peternak >1. Usaha hadap daya saing usaha. Produksi susu
sapi perah di peternak secara ekonomi sapi perah yang dihasikan dapat memenuhi
Agriekonomika, 8(1) 2019: 36-50 | 47

kebutuhan pasar, dan secara tidak langsung Adji, R. (2015). Pertanian Indonesia,
perekonmian peternak meningkat. Usaha Potensi Besar Tetapi Belum
sapi perah dengan skala 4 ekor induk Dioptimalkan. Diunduh 17 Juni 2015.
laktasi, peternak mendapatkan keuntungan http://www.kompasianacCom/jurnal//
bersih sebesar Rp.21.007.000,-/tahun R/C adji/artikel/ pertanian-indonesia-
ratio 1,5. Keuntungan pada kelompok potensi-besar
peternak sapi perah Maju Terus sebesar
Asmara, A., Purnamadewi, Y. L., dan Lubis,
Rp.1.718.794,53,-/tahun nilai R/C ratio
D. (2016). Keragaan Produksi Susu
2,18. Ke dua usaha sapi perah di peternak
dan Efisiensi Usaha Peternakan
nilai R/C rasio sangat baik dan >1. Usaha
Sapi Perah Rakyat di Indonesia.
ternak sapi perah secara ekonomi layak
Jurnal Manajemen dan Agribisnis,
untuk diusahakan kembali oleh peternak.
13(1), 14-25.
Diharapkan upaya Pemerintah untuk
menciptakan berbagai produk hasil pe- Adawiyah, R. Cut., Rusdiana, S., dan
ternakan dapat bersaing, mampu memotori Adiati, U. (2016a). Peningkatan
industrialisasi peternakan rakyat. Perekonomian Melalui Perbaikan
Pertanian dalam Menghadapi MEA.
DAFTAR PUSTAKA Proseding Nasional, Penyuluh dan
Komunikasi Pertanian (pp. 167-176).
Astuti, Melani., Widiati, R., dan Yustina, Y.
Yogyakarta: Program Pasca Sarjana
Y. (2010). Efisiensi Produksi Usaha
Universitas Gajah Mada-UGM.
Sapi Perah Rakyat (Studi Kasus
pada Peternak Anggota Koperasi Adawiyah, R. Cut,, dan Rusdiana, S.
Usaha Peternakan dan Pemerahan (2016). Usahatani Tanaman Pangan
Sapi Perah Kaliurang, Sleman, dan Peternakan dalam Analisis
Yogyakarta). Buletin Peternakan, Ekonomi di Peternak. Jurnal Riset
34(1), 64-69. Agribisnis dan Peternakan, 1(2), 37-
49.
Aisyah, S. (2012). Analisis Efisiensi
Penggunaan Faktor-faktor Produksi Adawiyah, R. Cut., Rusdiana, S., dan
pada Usaha Ternak Sapi Perah Ichwan, M. (2016b). Diversifikasi
Rakyat di Kecamatan Geasan Usaha Pertanian dalam Rangka
Kabupaten Semarang Jawa Tengah. Antisipasi MEA Kebutuhan Pangan
Economic Development Journal., di Indonesia. Prosiding Seminar
1(1), 34-41. Nasional, Balai Besar Pengkajian
dan Pengembangan Teknologi
Adawiyah, R. Cut., dan Rusdiana, S.
Pertanian (pp. 1157-1166). Jambi.
(2013). Pemberdayaan Petani
dalam Pengelolaan Tanaman Anindyasari, D., Setiadi, A., dan Ekowati,
Pangan dan Ternak Guna T. (2016). Efisiensi Pemasaran Susu
Meningkatkan Pendapatan Petani. Segar di Kecamatan Banyumanik,
Prosiding Seminar Nasional BB Kecamatan Getasan dan Kecamatan
Padi Sukamandi (pp. 156-163). Cepogo. Jurnal Litbang Jawa
Sukamandi. Tengah, 14(1), 1-8.
Harmini, A., dan Willcharo, F. (2014). Adawiyah, R. Cut. (2017). Urgensi
Daya Saing Usaha Ternak Sapi Komunikasi dalam Kelompok Kecil
Perah Rakyat di Kecamatan Pujon untuk Mempercepat Proses Adopsi
Kabupaten Malang Jawa Timur. Teknologi Pertanian. Forum Agro
Media Ekonomi, 22(1), 73-95. Ekonomi, 35(1), 59-74.
48 | Supardi Rusdiana dan Soeharsono, Pencapaian Daya Saing Usaha Sapi Perah

Abdullah, B. (2013). Strategi Pemberdayaan Stephanie, G. G., dan Suharno. (2014).


Petani. Diunduh 7 September 2018]. Kinerja Usaha Ternak Sapi Perah
http://arisbudimansp.blogspot. di Kelurahan Kebon Pedes, Kota
co.id/jurnal/2013/10/strategi/ Bogor. Forum Agribisnis, 5(1), 47-66.
pemberdayaan-petani-dalamsetiap.
Retno, K. 2011. Analisis Daya Saing dan
html.
Dampak Kebijakan Pemerintah
Cahyono, S. (2011). Peran Kelembagaan Terhadap Usaha Peternakan Sapi
Petani dalam Mendukung Perah (Studi Kasus: Peternak
Keberlanjutan Pertanian sebagai Anggota Koperasi Produksi Susu
Basis Pengembangan Ekonomi dan Usaha Peternakan Bogor
Lokal. 13 September 2016. http:// KUNAK, Jawa Barat). 28 April 2019.
itb.ac.id/jurnal/Peran-Kelembagaan- https://repository.ipb.ac.id/jspui/
Petani-dalam-Mendukung kemajuan tesis/bitstream/123456789/49990/1/
petani. H11rkh.pdf
Dewi, D., Sjafri, H. M., dan Nunung. K. Sahara, D., dan Idris. (2007). Kajian Struktur
(2010). Peran Pengembangan Biaya dan Alokasi Curahan Tenaga
Sumber Daya Manusia dalam Kerja pada Sistem Usahatani (Studi
Peningkatan Pendapatan Rumah Kasus di Kabupaten Konawe). Jurnal
Tangga Petani di Daerah Istimewa Pengkajian dan Pengembangan
Yogyakarta. Forum Pascasarjana, Teknologi pertanian, 10(2), 137-148.
33(3), 155-177.
Dameria, H. R., Santoso, S. I., dan Marzuki,
Rosganda, E. (2007). Fenomena Sosiologis S. (2013). Effort Efficiency Dairy
Metamorphosis Petani: Ke Arah Cattle Farming Semarang Regency.
Keber-Pihakan Masyarakat Petani Jurnal Agromedia, 31(2), 1-8.
di Perdesaan yang Terpinggirkan
Rusdiana, S., dan Praharani, L. (2009).
Terkait Konsep Ekonomi Kerakyatan.
Profil dan Analisis Usaha Sapi Perah
Forum Agro Ekonomi, 26(2), 173-78,
di Kecamatan Cepogo, Kabupaten
Rosganda, E. (2008). Diagnosa Boyolali. Prosiding Seminar Nasional
Kemarjinalan Kelembagaan Lokal Peningkatan Daya Saing Agribisnis
untuk Menunjang Perekonomian Berorientasi Kesejahteraan Petani
Rakyat di Pedesaan. Jurnal SOCA, (pp. 1-9.). Bogor: PSE.
8(2), 58-64.
Rusdiana, S., dan Sejati, W. K. (2009).
Rosganda, E. (2011). Strategi Pencapaian Upaya Pengembangan Agribisnis
Diversifikasi dan Kemandirian Sapi Perah dan Peningkatan Produksi
Pangan dalam Rangka Mewujudkan Susu Melalui Pemberdayaan
Ketahanan Pangan: Antara Harapan Koperasi Susu. Jurnal Agro Ekonomi,
dan Kenyataan. Buku IPTEK. Badan 27(2), 43-51.
Litbang Pertanian. Kementerian
Rusdiana, S., Wibowo, B., dan Praharani,
Pertanian. Hal. 98-103
L. (2010). Penyerapan Sumberdaya
Fadhil, M., Hartono, M., dan Suharyati, Manusia dalam Analisis Fungsi
S. (2017). Faktor-faktor yang Usaha Penggemukan Sapi Potong
Mempengaruhi Conception Rate Rakyat di Pedesaan. Prosiding
Sapi Perah pada Peternakan Seminar Nasional Teknologi
Rakyat di Propinsi Lampung. Jurnal Peternakan dan Veteriner (pp. 20-
Penelitian Peternakan Indonesia, 29). Bogor: Puslitbangnak.
1(1), 1-7.
Agriekonomika, 8(1) 2019: 36-50 | 49

Rusdiana, S,. Praharani, L., dan Paat, Rusdiana, S., Hutasoit, R., and Ferasyi,
C. (2011). Kontribusi Antara Usaha T. R. (2017). Beef Cattle Business
Tanaman Pangan dan Ternak by Profit Sharing in Farmers on
dalam Menunjang Kesejahteraan Plantation Area. Proceedings of the
Petani di Pedesaan. Prosiding 7th AIC-ICRM health and life Sciences
Seminar Nasional (pp. 663-669), (pp. 293-299). Banda Aceh: The
Mandado: Balai Pengkajian dan Annual International Conperence
Pengembangan Teknologi Pertanian, 2017 Syiah Kuala University.
Sulawesi Utara.
Simatupang, P., dan Prajogo, U.,
Rachmat, M., Elizabeth, R., Supadi. Hadi. (2004). Daya Saing Usaha
H. Supriyadi. P. U. Hadi. S. Peternakan Menuju 2020. Wartazoa,
Nuryanti. (2012). Studi Kebutuhan 4(2):45-57
Pengembangan Produk Olahan
Saptana., Pranadji, T., Syahyuti., dan
Pertanian dalam Rangka Liberalisasi
Elizabeth, R. (2004). Transformasi
Perdagangan. Jakarta: Badan
Kelembagaan Guna Memperkuat
Litbang Pertanian. Kementerian
Ekonomi Rakyat di Pedesaan. (Suatu
Pertanian.
Kajian Atas Kasus di Kabupaten
Rahayu, E. T. (2013). Analisis Pendapatan Tabanan, Bali). Jurnal SOCA, 3(2),
Usaha Ternak Sapi Perah di 56-62.
Kecamatan Cepogo, Kabupaten
Suradisastra, K. (2008). Strategi Pem-
Boyolali. Sains Peternakan, 11(2),
berdayaan Kelembagaan Petani.
99-105.
Forum penelitian Agro Ekonomi
Riyanto, A., & Santoso, P. B. (2013). Analisis (FAE), 26(2), 82-91. http://dx.doi.
Keuntungan dan Skala Usaha org/10.21082/fae.v26n2.2008.82-91
Peternakan Sapi Perah Rakyat di
Sumaryanto. (2009). Analisis Volatilitas
Kota Semarang. Diponegoro Journal
Harga Eceran Beberapa Komoditas
of Economics, 2(1), 1-8.
Pangan Utama dengan Model Arch/
Rusdiana, S., Budiarsana, I. G. M., Garch. Jurnal Agro Ekonomi, 27(2),
dan Sumanto. (2014). Analisis 135-163. http://dx.doi.org/10.21082/
Pendapatan Usaha Pertanian dan jae.v27n2.2009.135-163
Peternakan Kerbau di Kabupaten
Siswoyo, H., D. J. Setyono dan A. M. Fuah.
Lombok, Nusa Tenggara Barat.
(2013). Institutional Analysis and Its
JAREE, 1(2), 56-67.
Roles on the Income of “Simpay
Rusdiana, S., dan Praharani, L. (2015). Tampomas” Group of Farmers in
Peningkatan Usaha Ternak Domba Sumedang Regency of West Java (A
Melalui Diversifikasi Tanaman Case Study Conducted on The Group
Pangan: Ekonomi Pendapatan Pe- Farmers of “Simpay Tampomas” in
tani. Agriekonomika, 4(1), 80-95. Cimalaka District of Sumedang).
Jurnal Ilmu Produksi dan Teknologi
Rusdiana, S., dan Maesya, A. (2016).
Hasil Peternakan, 1(3), 173-177.
Pertumbuhan Ekonomi dan Ke-
butuhan Pangan di Indonesia Santosa, S. I., Setiadi, A., dan Wulandari,
Agriekonomika, 6(1), 12-25. R. (2013). Analisis Potensi Pe-
ngembangan Usaha Peternakan
Rusdiana, S., and Soeharsono. (2017).
Sapi Perah dengan Menggunakan
Farmer Group Performance Bali
Paradigma Agribisnis di Kecamatan
Cattle In Luwu District East : The
Musuk Kabupaten Boyolali. Buletin
Economic Analysis. The International
Peternakan, 37(2). 125-135.
Journal of Tropical Veterinary and
Biomedical Research, 2(1), 18-29.
50 | Supardi Rusdiana dan Soeharsono, Pencapaian Daya Saing Usaha Sapi Perah

Syahyuti., Sunarsih., Wahyuni, S., Taslim. (2011). Pengaruh Faktor Produksi


Sejati, W. K., dan Aziz, M. (2015). Susu Usaha Ternak Sapi Perah
Kedaulatan Pangan sebagai Basis Melalui Pendekatan Analisis Jalur di
untuk Mewujudkan Ketahanan Jawa Barat. Jurnal Ilmu Ternak, 10(1),
Pangan Nasional. Forum Agro 46-52. https://doi.org/10.24198/jit.
Ekonomi, 32(2). 95-109. http://dx.doi. v10i1.461
org/10.21082/fae.v33n2.2015.95-
Taufik, M. (2015). Peran Kelembagaan
109
Pertanian Terhadap Pembangunan
Suryana, A., dan Khalil, M. (2017). Pertanian di NTB. Tesis. Fakults
Proses dan Dinamika Penyusunan Pertanian Universitas Mataram NTB.
Undang-undang Nomor 18 tahun
Wahyuni, S. (2003). Kinerja Kelompok Tani
2012 Tentang Pangan. Forum Agro
dalam Sistem Usaha Tani Padi dan
Ekonomi, 35(1), 1-17. http://dx.doi.
Metode Pemberdayaannya. Jurnal
org/10.21082/fae.v35n1.2017.1-17
Litbang Pertanian, 22(1).
Sari, D. R., Anatanyu, S., Suprapto.
Winarso, B., R. Sajuti, dan C. Muslim.
(2013). Analisis Usaha Tani Ternak
(2005). Tinjauan Ekonomi Ternak
Sapi Perah Kecamatan Getasan
Sapi Potong di Jawa Timur. Forum
Kabupaten Semarang. Jurnal
Penelitian Agro-Ekonomi, 23(1), 61-
Agrista, 1(1), 1-12.
71.
Silvia, H., Syamsun, M., dan Kartika, L.
(2015). Analisis Strategi Peningkatan
Daya Saing Komoditas Kentang di
Kabupaten Karo, Sumatera Utara,.
Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia
(JIPI), 20(2), 164-170. http://dx.doi.
org/10.18343/jipi.20.2.164