Anda di halaman 1dari 15

eJournal Administrasi Bisnis, 2017, 5 (4): 1420-1434

ISSN 2355-5408 , ejournal.adbisnis.fisip-unmul.ac.id


© Copyright 2017

Efektivitas Pengelolaan Daya Tarik Wisata Alam Oleh


Dinas Pariwisata Dalam Usaha Meningkatkan Kunjungan
Wisatawan Di Kutai Barat
Chrystianto Perkasa 1

Ringkasan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengelolaan daya
tarik wisata alam oleh Dinas Pariwisata dalam rangka untuk meningkatkan
kunjungan wisatawan di Kutai Barat dan untuk menganalisis efektivitas
pengelolaan daya tarik wisata alam yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata
Kabupaten Kutai Barat dalam meningkatkan kunjungan wisatawan. Adapun
alat analisis yang digunakan adalah Analisis Data Kualitatif atau Model
Interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : Efektivitas pengelolaan daya
tarik wisata alam dalam rangka meningkatkan kunjungan wisata, dilakukan
melalui Program pengembangan wisata alam, Pelaksanaan pengembangan
objek wisata alam, Pengembangan sarana prasarana wisata, dan melakukan
promosi wisata serta Evaluasi proses dan hasil pengelolaan daya tarik wisata.
Sedangkan pengelolaan daya tarik wisata yang dilakukan oleh Dinas
Pariwisata Kutai Barat dalam meningkatkan kunjungan wisatawan,
melaluipeningkatan daya tarik objek wisata alam,Peningkatan akses dan
akomodasi pariwisata,terpeliharanya objek wisata alam dan kelestarian
lingkungan hidup, dan peningkatan kunjungan wisatawan baik lokal maupun
mancanegara.

Kata Kunci : Daya tarik wisata dan Kunjungan wisatawan

Pendahuluan
Dalam era globalisasi sekarang ini, bidang pariwisata merupakan salah
satu kegiatan yang mempunyai peranan yang sangat strategis dalam menunjang
pembangunan perekonomian nasional. Sektor ini dicanangkan selain sebagai
salah satu sumber penghasil devisa yang cukup andal, juga merupakan sektor
yang mampu menyerap tenaga kerja dan mendorong perkembangan investasi.
Untuk mengembangkan sektor ini pemerintah berusaha keras membuat rencana
dan menjajaki berbagai alternatif untuk menyelenggarakan otonomi daerah.
Pelaksanaan pembangunan daerah pada dasarnya merupakan bagian
integral dari pembangunan nasional yang diarahkan untuk mengembangkan
daerah dan menserasikan laju pertumbuhan antar daerah di Indonesia. Dalam
pengembangan daerah sudah barang tentu dibutuhkan peningkatan
pendayagunaan, potensi daerah secara optimal.

1
Mahasiswa Program S1 Administrasi Bisnis, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,
Universitas Mulawarman. Email: dodol.wang@gmail.com
Efektivitas Pengelolaan Daya Tarik Wisata Alam (Chrys)

Kutai Barat memiliki potensi wisata yang cukup besar, baik wisata
budaya maupun wisata alam. Objek wisata di Kutai Barat tersebar di hampir
semua Kecamatan, sehingga semua Kecamatan memiliki kesempatan untuk
mengembangkan wilayahnya.
Sejalan dengan potensi wisata tersebut di atas, Dinas Pariwisata
Kabupaten Kutai Barat memiliki visi “Terwujudnya Kutai Barat sebagai
TujuanWisata yang menarik, aman, nyaman, dan meningkatkan ekonomi
berbasis masyarakat serta menciptakan kondisi kepariwisataan yang kompetitif
dan potensial. Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Pariwisata
Kabupaten Kutai Barat mengenai jumlah kunjungan wisatawan terlihat adanya
ketidakstabilan dari tahun ketahun. Ketidakstabilan tersebut terlihat dari tahun
2008 sampai tahun 2015. Selama tiga tahun terakhir terjadi penurunan jumlah
pengunjung, pada tahun 2013 jumlah wisatawan sebanyak 33.579 orang,
kemudian pada tahun 2014 sebanyak 26.657 orang dan pada tahun 2015 terjadi
penurunan kembali berjumlah 24.487 orang. Padahal pengembangan objek
wisata di Kabupaten Kutai Barat memiliki prospek yang baik khususnya
dalam meningkatkan Pendapatan Daerah yang berasal dari Pajak dan Retribusi
Daerah.
Dalam kaitannya dengan pengembangan pariwisata, daerah diharapkan
bisa memiliki komoditas strategis yang akan dikembangkan dan mempunyai
nilai ekonomis tinggi serta memberikan keuntungan yang besar kepada
masyarakat dan memiliki keunggulan komparatif sehingga bisa bersaing
didalam era otonomi daerah. Untuk melakukan semua itu pemerintah daerah
tidak perlu menunggu petunjuk dari pemerintah pusat, sehingga dengan
demikian tujuan pendapatan masyarakat dapat tercapai.
Berkaitan permasalahan penurunan kunjungan wisata, maka Pemerintah
Kabupaten Kutai Barat melalui Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Barat
mengembangkan daya tarik wisata, sebagai salah satu upaya untuk
meningkatkan kunjungan wisata yang berdampak pada peningkatan retribusi
daerah untuk mendukung peningkatan Pembangunan Daerah di Kabupaten
Kutai Barat.
Berangkat dari berbagai permasalahan tersebut, Pemerintah Daerah
Kabupaten Kutai Barat sudah seharusnya mampu berpikir dan bertindak secara
strategis dengan membuat suatu perencanaan yang strategis dan mampu
mengakomodir seluruh aspek yang terkait dengan upaya pengembangan
pariwisata agar pembangunan pariwisata di daerah ini dapat berhasil menarik
kunjungan wisata.
Berdasarkan uraian latar belakang yang telah penulis kemukakan di atas,
maka penulis termotivasi untuk melakukan penelitian secara secara ilmiah
terkait dengan pengembangan objek wisata dalam rangka meningkatkan
kunjungan wisata dengan menetapkan judul penelitian “Efektivitas
Pengelolaan Daya Tarik Wisata Oleh Dinas Pariwisata Dalam Usaha
Meningkatkan Kunjungan Wisatawan di Kutai Barat.

1421
eJournal Administrasi Bisnis, Volume 5, Nomor 4, 2017: 1420-1434

Kerangka Dasar Teori


Pengertian Obyek Wisata
Objek-objek wisata tentunya harus terus dikembangkan
karenapengembangan pariwisata pada suatudaerah tujuan wisata, baik
secaralokal, regional atau ruang lingkupnasional pada suatu negara sangat
eratkaitannya dengan pembangunandaerah tersebut. Berkembangnyapariwisata
di suatu daerah akanmendatangkan banyak manfaat bagimasyarakat, yakni
secara ekonomis,sosial, dan budaya. Namun, jikapengembangannya tidak
dipersiapkandan dikelola dengan baik, justru akanmenimbulkan berbagai
permasalahanyang menyulitkan atau bahkanmerugikan masyarakat.
Menurut Chafid Fandeli (2000: 58), obyek wisata adalah perwujudan
dari pada ciptaan manusia, tata hidup, seni budaya serta sejarah bangsa dan
tempat atau keadaan alam yang mempunyai daya tarik untuk dikunjungi
wisatawan. Sedangkan obyek wisata alam adalah obyek wisata yang daya
tariknya bersumber pada keindahan sumber daya alam dan tata lingkungannya.
Menurut Chafid Fandeli (2000: 58) dalam Nining Yuningsih(2005:18),
obyek wisata adalah perwujudan daripada ciptaan manusia, tatahidup, seni
budaya serta sejarah bangsa dan tempat atau keadaan alam yangmempunyai
daya tarik untuk dikunjungi wisatawan. Sedangkan obyek wisataalam adalah
obyek wisata yang daya tariknya bersumber pada keindahansumber daya alam
dan tata lingkungannya.
Pengertian Pariwisata
Secara umum kepariwisataan adalah semua unsur dan kegiatan yang
ada kaitannya dengan perencanaan, pelaksanaan, pengawasan pariwisata baik
yang dilakukan oleh pemerintah, swasta maupun masyarakat.Secara khusus
kepariwisataan adalah segara sesuatu yang berhubungan wisata serta usaha-
usaha yang berhubungan dengan penyelenggaraan wisata.
Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009,
pariwisata adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai
fasilitas serta layanan yangdisediakan oleh masyarakat, pengusaha, pemerintah
dan pemerintah daerah. Sedangkankepariwisataan adalah keseluruhan kegiatan
yang terkait dengan pariwisata yang bersifatmultidimensi serta multi disiplin
yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang danNegara serta interaksi
antara wisatawan dengan masyarakat setempat, sesama wisatawan,pemerintah,
pemerintah daerah dan pengusaha.
Definisi Konsepsional
Konsep merupakan gambaran abstrak perihal apa yang menjadikan
variabel atau penelitian. Hal ini di maksudkan agar adanya bahasan-bahasan
yang jelas terhadap apa yang disiarkan atau yang dijadikan sebagai objekdalam
penelitian.
Adapun definisi konsepsional dari masing-masing variabel dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut :

1422
Efektivitas Pengelolaan Daya Tarik Wisata Alam (Chrys)

1. Pengelolaan daya tarik wisata alam adalah Pengembangan sumber daya


wisata alam dan dikelola pengembangan produk pariwisata dan
pengembangan pemasaran pariwisata melalui pendekatan pemberdayaan
masyarakat lokal dalam rangka pengembangan pariwisata
2. Efektivitas peningkatan kunjungan wisatawan adalah suatu upaya yang
dilakukan oleh pemerintah dengan cara meningkatkan daya tarik wisata,
seperti mengusahakan, mengelola dan membuat obyek-obyek baru sebagai
obyek dan daya tarik wisata, agarwisatawan ingin mengunjungi serta
mendapatkan suatu pengalaman tertentu dalam kunjungannya tersebut.

Metode Penelitian
Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian diskriptif
kualitataif.Penelitian diskriptif bertujuan menggambarkan secara tepat sifat-
sifat individu, keadaan, gejala atau kelompok tertentu, atau frekwensi adanya
suatu hubungan tertentu antara satu gejala dan gejala lain dalam masyarakat
(Koentjaraningrat, 2004:29).Sedangkan menurut Bogdan dan Biklen (1982)
bahwa penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data
diskriptif. Ucapan atau tulisan dan prilaku yang dapat diamati orang-orang
(subyek) sendiri. Ada lima ciri pokok dalam penelitian kualitatif menurut
Danim (2000), yaitu :
1. Penelitian kualitatif mempunyai latar belakang alami dan penelitian
berperan sebagai instrument utamanya.
2. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif, mengingat data yang dikumpulkan
lebih banyak berupa kata-kata dan gambar dan bukan angka-angka.
Kalaupun ada angka-angka, sifatnya hanya sebagai penunjang. Data yang
diperoleh meliputi transkrip interview, catatan lapangan, foto, dokumen dan
lain-lain.
3. Penelitian kualitatif lebih menekankan pada proses kerja, dimana seluruh
fenomena yang dihadapi diterjemahkan kedalam kegiatan sehari-hari,
terutama yang berkaitan langsung dengan maslah sosial.
4. Penelitian kualitatif cenderung menganalisis data secara induktif.
Abstraksi-abstraksi disusun oleh penelitian atas dasar data yang telah
dikumpul dan dikelompokan bersama-sama melalui pengumpulan data
selama kerja lapangan di lokasi penelitian.
5. Penelitian kualitatif lebih menekankan pada makna, dimana fokus
penelaahan terpaut langsung dengan maslah kehidupan manusia.
Memperhatikan ciri-ciri yang melekat pada penelitian kualitatif serta
untuk mencermati efektivitas pengelolaan objek wisata Oleh Dinas Pariwisata
dan Kebudayaan Kutai Barat dalam rangka peningkatan kunjungan wisata,
maka sangat beralasan jika dalam penelitian ini menggunakan pendekatan
tersebut. Hal ini untuk mengetahui efektivitas pengelolaan objek wisatadalam
rangka peningkatan kunjungan wisata.

1423
eJournal Administrasi Bisnis, Volume 5, Nomor 4, 2017: 1420-1434

Fokus Penelitian
Untuk membatasi ruang pembahasan penelitian, maka penelitian ini
difokuskan pada :
1. Pengelolaan daya tarik wisata, indikatornya adalah :
a. Program pengembangan wisata alam
b. Pengembangan sarana prasarana wisata
c. Promosi wisata
d. Pengelolaan daya tarik wisata
2. Efektivitas pengelolaan daya tarik wisata dalam meningkatkan kunjungan
wisatawan.

Hasil Penelitian dan Pembahasan


Pengelolaan Daya Tarik Wisata
Pengelolaan dapat diartikan sebagai manajemen, manajemen adalah
sebagai suatu proses yang diterapkan oleh individu atau kelompok dalam
upaya-upaya koordinasi untuk mencapai suatu tujuan. Pengertian tersebut
dalam skala aktifitas juga dapat diartikan sebagai aktifitas menerbitkan,
mengatur, dan berpikir yang dilakukan oleh seseorang, sehingga mampu
mengemukakan, menata, dan merapikan segala sesuatu yang ada disekitarnya,
mengetahui prinsip-prinsipnya serta menjadi hidup selaras dan serasi, sehingga
menjadi daya tarik bagi wisatawan.
Menurut Undang – undang RI nomor 10 tahun 2009 tentang
kepariwisataan dijelaskan bahwa wisata adalah kegiatan perjalanan yang
dilakukan oleh seseorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi
tempattertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari
keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi.
Sesuai dengan penerapan ndang – undang RI nomor 10 tahun 2009
tentang kepariwisataan dan fokus penelitian ini, ada beberapa hal yang perlu
dikaji, meliputi :
1). Program Pengembangan Wisata Alam
Wisata alam menjadi pilihan utama dalam pengembangan wisata di
Kabupaten Kutai Barat, karena diyakini memiliki dampak yang kecil bagi
lingkungan. Berbeda dengan wisata massal yang seringkali aktivitas
wisatanya merugikan bagi ekosistem lokasi wisata, ekowisata berkontribusi
dalam membangun kesadaran konservasi lewat pendidikan. Pendidikan
lingkungan merupakan proses penyadaran tentang pentingnya lingkungan
hidup untuk mendorong terwujudnya kepedulian semua lapisan dan
golongan masyarakat yang sadar akan lingkungan.
Pengembangan wisata alam di Kabupaten Kutai Barat akan berjalan
dengan baik jika memiliki perencanaan yang baik pula. Perencanaan
merupakan suatu proses secara berkelanjutan yang melibatkan keputusan
atau pilihan, tentang cara-cara alternatif menggunakan sumber daya yang

1424
Efektivitas Pengelolaan Daya Tarik Wisata Alam (Chrys)

tersedia, dengan tujuan untuk mencapai tujuan tertentu pada beberapa waktu
dimasa depan.
Dalam pengembangan objek wisata hendaknya merancang langkah-
langkah yang terarah dan terpadu terutama terkait pendidikan tenaga kerja
dan perencanaan pengembangan fisik. Untuk mengetahui program
pengembangan wisata alam, maka dikemukakan beberapa pernyataan dari
beberapa informan melalui hasil wawancara yang dilakukan penulis dengan
beberapa informan.
Untuk menunjang pelaksanaan pengembangan pariwisata, maka
pemerintah harus lebih responsif dan akuntabel guna memberikan informasi
kepada masyarakat. Pengembangan wisata alam di di Kabupaten Kutai
Barat akan berjalan dengan baik jika memiliki perencanaan yang baik pula.
Perencanaan merupakan suatu proses berkelanjutan yang melibatkan
keputusan atau pilihan, tentang cara-cara alternatif menggunakan sumber
daya yang tersedia, dengan tujuan untuk mencapai tujuan tertentu pada
beberapa waktu dimasa depan. Perencanaan pengembangan ekowisata yang
dilakukan dengan baik tentu akan memberikan manfaat yang sebesar-
besarnya dan dapat pula memperkecil semua efek sampingan yang kurang
menguntungkan. Karena itu pentingnya perencanaan dalam pengembangan
wisata adalah agar perkembangan wisata sesuai dengan apa yang telah
dirumuskan dan berhasil mencapai sasaran yang dikehendaki, baik itu
ditinjau dari segi ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan hidup.
Pertumbuhan wisata yang tidak terkendali sebagai akibat dari perencanaan
akan menimbulkan dampak yang tidak baik dan tentunya akan merugikan
semua pihak.
Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa dinamika
perkembangan pemanfaatan kawasan ini menuntut adanya respon dari
pemerintah untuk mengelola kawasan agar lebih tertata dan memiliki
manfaat yang lebih luas. Pengelolaan kawasan, telah mewacanakan
pengembangan wisata alam di Kabupaten Kutai Barat. Pengembangan
sektor wisata selain untuk menata kawasan juga diharapkan dapat membawa
dampak yang luas terhadap perekonomian di suatu daerah.
2). Pengembangan Sarana Prasarana Wisata
Agar kunjungan wisatawan dapat ditingkatkan, maka diperlukan
sejumlah sarana dan prasarana yang memadai dan tentu saja sarana dan
prasarana tersebut harus dapat mendukung dalam kegiatan baik secara
kualitas maupun kuantitas. Kabupaten Kutai Barat, secara kualitas maupun
kuantitas belum memiliki sarana dan prasarana wisata yang memadai dalam
mendukung kunjungan wisatawan, seperti jalan, akomodasi. Hal tersebut
berdampak pada upaya pengembangan pariwisata. Hal ini terlihat dengan
belum adanya akses ketepat-tempat wisata yang potensial karena sarana
berupa jalan aspal maupun transportasi belum menjangkau wilayah-wilayah
tersebut.

1425
eJournal Administrasi Bisnis, Volume 5, Nomor 4, 2017: 1420-1434

3). Melakukan Promosi Wisata


Seiring dengan pertambahan populasi penduduk yang cukup pesat,
mengakibatkan kecenderungan pasar potensial yang akan melakukan
perjalanan. Terlebih lagi perjalanan yang dilakukan bukan sekedar hiburan,
akan tetapi mempunyai tujuan tertentu yang akan membawa pengaruh
cukup besar terhadap pribadi, keluarga, maupun lingkungannya. Tujuan
perjalanan yang dilakukan tersebut tidak lain karena ingin memenuhi
kebutuhan dan keinginan mereka yang beraneka ragam. Salah satunya
adalah mencari pengalaman wisata atau bersantai, yaitu melarikan diri dari
lingkungan yang sifatnya rutin dan stress, kemudian mencari kesempatan
mengadakan rekreasi demi kepuasan batin yang diperoleh.
Salah satu kunci sukses dalam bersaing di bidang kepariwisataan yaitu
fokus pada promosi objek wisata untuk menarik wisatawan. Wisatawan
merupakan asset utama, maka keberadaannya harus ditingkatkan karena
membawa dampak terhadap peningkatan pembangunan. Kebutuhan dan
keinginan wisatawan harus selalu dipenuhi dengan berbagai cara, misalnya
menggunakan bantuan dan perlengkapan yang akurat dan cepat,
menyediakan produk-produk wisata yang bermanfaat dan lengkap serta
menerima masukan yang diberikan wisatawan, sehingga wisatawan akan
tetap percaya dan puas terhadap layana yang diberikan.
Melalui promosi pariwisata sangat mendukung pengenalan wisatawan
terhadap Kabupaten Kutai Barat sebagai salah satu tujuan wisata. Target
yang diharapkan mulai wisatawan lokal sampai mancanegara. Dalam hal ini
bagian promosi wisata harus mempunyai gagasan dan cara yang dapat
menarik perhartian wisatawan yang berkunjung ke Kabupaten Kutai Barat.
Efektivitas Pengelolaan Daya Tarik Wisata Dalam Meningkatkan
Kunjungan
Pengelolaan sebuah pariwisata di sebuah wilayah tertentu harus dikelola
oleh sebuah instansi pemerintah yang khusus menangani tentang pariwisata.
Adanya Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Barat yang melakukan kegiatan-
kegiatan prioritasnya untuk kepentingan pariwisata yang tugas pokoknya
adalah memperbaiki, mengembangkan, dan meningkatkan pelayan di bidang
pariwisata di Kabupaten Kutai Barat. Tujuan utama pengelolaan daya tarik
wisata adalah untuk meningkatkan kunjungan wisata di Kabupaten Kutai
Barat.
Kabupaten Kutai Barat yangmemiliki panorama indah sertamenyimpan
potensi alam yang baiktentu tidak bisa dikenal masyarakatdan wisatawan
begitu saja tanpaadanya pengelolaan daya tarik wisata dan promosi yang
dilakukan.Oleh karena itu dengan adanya PeranDinas PariwisataKabupaten
Kutai Barat yang sepatutnyamemiliki kapasitas untuk melakukan pengelolaan
daya tarik wisata harus memiliki serangkaianperencanaan yang
matang.Dibutuhkannya sebuah strategidalam hal ini, strategi yangdirencanakan
nantinya akandilaksanakan sesuai dengan program-programpemerintah.

1426
Efektivitas Pengelolaan Daya Tarik Wisata Alam (Chrys)

Peningkatan daya tarik wisata alam di Kabupaten Kutai Barat telah


diupayakan suatu perencanaan yang berkesinambungan, dimulai dengan
pemetaan dan telaah potensi yang terdapat dikawasan wisata alam tersebut.
Untuk mengetahui peningkatan daya tarik objek wisata alam, maka
dikemukakan beberapa pernyataan dari beberapa informan melalui hasil
wawancara yang dilakukan penulis dengan beberapa informan.
Pembahasan
Pembangunan kepariwisataan pada hakekatnya merupakan upaya untuk
mengembangkan dan memanfaatkan obyek dan daya tarik wisata yang
terwujud antara lain dalam bentuk kekayaan alam yang indah, keragaman flora
dan fauna, kemajemukan tradisi dan seni budaya.
Pengelolaan daya tarik wisata alam dalam rangka meningkatkan
kunjungan wisatawan dilakukan dengan menempatkan kegiatan/elemen
kawasan serta tata bangunan sesuai dengan fungsinya yang serasi, seimbang
dan selaras dalam tatanan kawasan; menjadi perangkat pengendali kawasan;
menjadi pengarah di dalam upaya meningkatkan efisiensi pemanfaatan dan
penggunaan lahan serta menjadi penyelenggara dalam pembangunan fisik
kawasan yang seimbang dan lestari.
Berikut akan diuraiakan pembahasan penelitian ini, sesuai dengan fokus
penelitian yang penulis lakukan, sebagai berikut :
Terkait dengan pengelolaan daya tarik wisata alam dapat dinilai dari
aspek-aspek sebagai berikut :
a. Program Pengembangan Wisata Alam
Kebijakan-kebijakan yang telah dijalankan oleh Pemerintah dalam hal
ini Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Barat dalam hal pengembangan obyek
wisata alam di Kabupaten Kutai Barat secara keseluruhan telahberjalan
sesuai rencana.Kebijakan-kebijakan yang telah ditetapkan tentunya akan
melahirkanprogram-program sebagai kumpulan kegiatan-kegiatan nyata dan
terpaduserta berkesinambungan guna pengembangan obyek wisata.
Program pengembangan wisata alam bertujuan untuk memberikan
pedoman pengembangan kepariwisataan di Kabupaten Kutai Barat.
Pengembangan wisata alam di Kabupaten Kutai Barat akan berjalan dengan
baik jika memiliki perencanaan yang baik pula. Perencanaan merupakan
suatu proses berkelanjutan yang melibatkan keputusan atau pilihan, tentang
cara-cara alternatif menggunakan sumber daya yang tersedia, dengan tujuan
untuk mencapai tujuan tertentu pada beberapa waktu dimasa depan.
Perencanaan pengembangan ekowisata yang dilakukan dengan baik tentu
akan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya dan dapat pula
memperkecil semua efek sampingan yang kurang menguntungkan. Karena
itu pentingnya perencanaan dalam pengembangan wisata adalah agar
perkembangan wisata sesuai dengan apa yang telah dirumuskan dan berhasil
mencapai sasaran yang dikehendaki, baik itu ditinjau dari segi ekonomi,
sosial, budaya dan lingkungan hidup. Pertumbuhan wisata yang tidak

1427
eJournal Administrasi Bisnis, Volume 5, Nomor 4, 2017: 1420-1434

terkendali sebagai akibat dari perencanaan akan menimbulkan dampak yang


tidak baik dan tentunya akan merugikan semua pihak.
Dalam perencanaan pengembangan wisata alam di Kabupaten Kutai
Barat, pengelola kawasan perlu melibatkan stakeholder terkait. Stakeholders
dalam sektor ekowisata adalah siapapun yang mempengaruhi dan
dipengaruhi oleh sektor ekowisata. Mereka adalah penduduk lokal,
pemerintah daerah, LSM, sektor swasta, pengunjung maupun pihak lain
yang tidak secara langsung terkait dengan ekowisata. Menurut Cooksey dan
Kikula dalam Adiyoso (2009:57), pendekatan perencanaan pembangunan
harus terbuka dan melibatkan masyarakat sehingga para perencana dan
masyarakat dapat mengkombinasikan pendekatan “dari atas ke bawah” dan
“dari bawah ke atas”. Masyarakat lokal merupakan pihak-pihak yang secara
langsung akan terkena dampak bagi kebijakan pengelolaan kawasan.
Kegiatan pengembangan ekowisata merupakan upaya untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat setempat, jadi kebutuhan dari masyarakat ini juga
perlu ditampung.
Pelaksanaan pengembangan wisata alam di Kabupaten Kutai Barat
akan berjalan sesuai dengan yang diinginkan jika memiliki perencanaan
yang baik pula. Perencanaan merupakan suatu proses berkelanjutan yang
melibatkan keputusan atau pilihan, tentang cara-cara alternatif menggunakan
sumber daya yang tersedia, dengan tujuan untuk mencapai tujuan tertentu
pada beberapa waktu dimasa depan. Perencanaan pengembangan ekowisata
yang dilakukan dengan baik tentu akan memberikan manfaat yang sebesar-
besarnya dan dapat pula memperkecil semua efek sampingan yang kurang
menguntungkan. Perencanaan dalam pengembangan wisata adalah agar
perkembangan wisata sesuai dengan apa yang telah dirumuskan dan berhasil
mencapai sasaran yang dikehendaki, baik itu ditinjau dari segi ekonomi,
sosial, budaya dan lingkungan hidup. Pertumbuhan wisata yang tidak
terkendali sebagai akibat dari perencanaan akan menimbulkan dampak yang
tidak baik dan tentunya akan merugikan semua pihak.
Dalam perencanaan pengembangan wisata alam di Kabupaten Kutai
Barat, pengelola kawasan perlu melibatkan stakeholder terkait. Stakeholders
dalam sektor ekowisata adalah siapapun yang mempengaruhi dan
dipengaruhi oleh sektor ekowisata. Mereka adalah penduduk lokal,
pemerintah daerah, sektor swasta, pengunjung maupun pihak lain yang tidak
secara langsung terkait dengan ekowisata. Menurut Cooksey dan Kikula
dalam Adiyoso (2009:57), pendekatan perencanaan pembangunan harus
terbuka dan melibatkan masyarakat sehingga para perencana dan masyarakat
dapat mengkombinasikan pendekatan “dari atas ke bawah” dan “dari bawah
ke atas”. Masyarakat lokal merupakan pihak-pihak yang secara langsung
akan terkena dampak bagi kebijakan pengelolaan kawasan. Kegiatan
pengembangan ekowisata merupakan upaya untuk meningkatkan

1428
Efektivitas Pengelolaan Daya Tarik Wisata Alam (Chrys)

kesejahteraan masyarakat setempat, jadi kebutuhan dari masyarakat ini juga


perlu ditampung.
Sementara itu muncul kesadaran dari stakeholders untuk menuntut
hak mereka, misalnya masyarakat lokal yang selama ini telah
dikesampingkan oleh pemerintah tiba-tiba sadar akan hak-haknya.
Perbedaan kepentingan dari berbagai pihak itu jika tidak dipahami dan
dicari jalan tengah akan dapat menyebabkan konplik. Menurut Riyadi dan
Bratakusumah (2004:195), dalam proses pembangunan perlu sekali
mengetahui pelaku-pelaku yang berbeda ini, beserta kepentingan dan
harapan mereka, kekhawatiran serta potensi mereka yang dapat
disumbangkan pada usaha pembangunan yang menyeluruh di daerah
tersebut.
b. Pengembangan Sarana Prasarana Wisata
Dalam era globalisasi sekarang ini, bidang pariwisata merupakan
salah satu kegiatan yang mempunyai peranan yang sangat strategis dalam
menunjang pembangunan perekonomian nasional. Sektor ini dicanangkan
selain sebagai salah satu sumber penghasil devisa yang cukup andal, juga
merupakan sektor yang mampu menyerap tenaga kerja dan mendorong
perkembangan investasi. Untuk mengembangkan sektor ini pemerintah
berusaha keras membuat rencana dan berbagai kebijakan yang mendukung
kearah kemajuan sektor ini.Salah satu kebijakan tersebut adalah menggali,
menginventarisir dan mengembangkan obyek-obyek wisata yang ada
sebagai daya tarik utama bagi wisatawan.
Pengembangan objek wisata alam hendaknya merancang langkah-
langkah yang terarah dan terpadu terutama terkait peningkatan akses dan
akomodasi wisatawan serta perencanaan pengembangan fisik.
Keterkaitannya diharapkan membuat pengembangan tersebut menjadi
realistis dan proporsional. Menurut Soekadijo (2006), sebuah objek wisata
yang baik harus dapat menarik wisatawan sebanyak-banyaknya, menahan
wisatawan untuk tinggal dalam waktu yang cukup lama dan memberi
kepuasan kepada wisatawan.
Dalam membangun obyek wisata alam tersebut harus memperhatikan
strategi sang sesuai dengan pengembangan objek wisata alam, seperti sosial
ekonomi masyarakat setempat, sosial budaya daerah setempat, nilai-nilai
agama, adat istiadat, lingkungan hidup, dan obyek wisata itu sendiri.
Pembangunan obyek dan daya tarik wisata dapat dilakukan oleh Pemerintah,
Badan Usaha maupun Perseorangan dengan melibatkan dan bekerjasama
pihak-pihak yang terkait.
Penanganan objek wisata alam memerlukan keseriusan pihak
pengelola kawasan wisata, baik didalam menggali potensi alam yang ada
maunpun upaya pengelolaannya terutama dalam rangka pelestarian
lingkungan hidup. Dalam pengelolaan objek wisata alam, maka pemahaman

1429
eJournal Administrasi Bisnis, Volume 5, Nomor 4, 2017: 1420-1434

sifat atau karakteristik objek wisata alam diperlukan guna mencari bentuk
pengelolaan yang tepat.
c. Promosi Pariwisata
Promosi merupakan variable khusus pemasaran untuk menarik
perhatian wisatawan potensial ke destinasi tertentu dan menikmati berbagai
kegiatan yang dirancang dalam parawisata. Dalam konteks bisnis promosi
dimaknai untuk menginfornasikan, membujuk, dan mengingatkan
wisatawan baik secara langsung maupun tidak langsung tentang suatu
produk atau brand yang dijual kepada calon wisatawan tentang produk yang
ditawarkan dengan memberitahukan tempat-tempat dimana orang dapat
melihat atau melakukan pembelian pada waktu dan tempat yang tepat. Cara
promosi akan berbeda beda tergantung dimana akan berpromosi, online atau
kombinasi keduanya.
Dalam pemasaran promosi merupakan suatu kegiatan menyadarkan
calonpembeli akan adanya produk suatu perusahaan. Sehingga jika khalayak
yangmembutuhkan produk tersebut mereka akan berusaha untuk mencarinya
denganmendatangi tempat-tempat penjualan yang terdekat dari tempat
tinggalnya. Tetapiuntuk menarik calon pembeli pada sebuah produk baru
maka perusahaan harusdapat menyakinkan dan menumbuhkan daya tarik
pada produknya.
Promosi pariwisata yang diadakan adalah untukmemberitahukan,
membujuk atau mengingatkan konsumen atau wisatawansupaya wisatawan
yang bersangkutan mempunyai kenginginan untuk datangberkunjung ke
daerah yang telah dipromosikan. Oleh karena itu promosi harusdilakukan
untuk media komunikasi yang efektif, sebab orang-orang yang
menjadisasaran promosi mempunyai selera dan keinginan yang berbeda-
beda.
Promosi yang telah dilakukan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai
Barat yaitu melalui media cetak yang berupa brosur, leaflet, booklet, dan
melalui surat kabar; media elektronik yang berupa radio, kerjasama dengan
TV swasta, dan website; serta media luar ruang yang berupa pameran.
Namun penggunaan media digital seperti internet dan media sosial
penggunaannya kurang efektif.
Dalam mengembangkan dan memasarkan sektor pariwisata di
Kabupaten Kutai Barat, Dinas Pariwisata Kabupaten Kutai Barat telah
melakukan beberapa kegiatan promosi, baik melalui media elektronik,
media cetak, dan melalui pameran seperti disebutkan di atas.
d. Pengelolaan Daya Tarik Wisata
Dalam pengembangan wisata alam di Kabupaten Kutai Barat, perlu
melakukan pengelolaan dan tindakan yang korektif apabila dalam
pelaksanaan kegiatan wisata telah mengganggu konservasi dan kelestarian
lingkungan.

1430
Efektivitas Pengelolaan Daya Tarik Wisata Alam (Chrys)

Proses perencanaan pengembangan wisata alam di Kabupaten Kutai


Barat dapat digambarkan menjadi tiga kegiatan yaitu pengambilan
kebijakan, proses perencanaan itu sendiri dan pelaksanaan. Conyers dan
Hills (1990) dalamPrimadany Ryalita Sefira, dkk. (2013:54),
menggambarkan proses perencanaan melalui tiga aktivitas yang saling
berhubungan, dimana aktivitas yang satu diikuti aktivitas yang lainnya, yaitu
diawali dengan pengambilan kebijakan (policy making), dikembangkan
melalui proses perencanaan, dan kemudian diimplementasikan.
Dari ketiga kegiatan utama tersebut pihak yang berperan dibedakan
menjadi 3 aktor yaitu: 1) pengambil kebijakan atau yang membuat
keputusan politis; 2) perencana (planners), yaitu orang yang memegang
perencanaan karena posisi ataupun pelatihan profesional yang diperolehnya;
dan 3) implementasi yang dilakukan secara terpisah oleh administrator
dalam hal ini penenti kebijakan.
Pengambil kebijakan dalam kegiatan wisata alam adalah para
pimpinan. Pengambilan kebijakan ini didasarkan pada peraturan
perundangan yang ada dengan melihat adanya dinamika perkembangan
pengelolaan kawasan. Aktor kedua adalah perencana. Di dalam perencanaan
pengembangan wisata alam harus tetap lestari dan menjaga agar lingkungan
tetap terjaga dan berkelanjutan.
Peningkatan daya tarik objek wisata di Kabupaten Kutai Barat perlu
ditngkatkan, karena ada beberapa hal lagi yang harus diingat. Bahwa tidak
cukup dengan hanya potensi alam yang baik saja, tetapi juga dengan adanya
akses-akses informasi, kenyamanan, kebersihan, serta mudahnya akses
transportasi, serta faktor-faktor pendukung lainnya seperti fasilitas
kesehatan, pangan, penginapan, dan lain-lain juga harus dimiliki. Ini agar
para wisatawan dan masyarakat yang ingin Ke Kutai Barat merasa nyaman
dan betah dengan fasilitas yang sudah disediakan. Ini diharapkan agar
wisatawan yang sudah berkunjung mendapatkan kepuasan.
Pengelolaan objek-objek di Kabupaten Kutai Barat tentunya juga
menjadi salah satu daya Tarik wisatawan untuk tetap membuat wisatawan
terpuaskan selama berlibur di Kabupaten Kutai Barat. Pengelolaan tersebut
bisa dilihat dalam kegiatan sosialisasi yang dilakukan oleh penentu
kebijakan untuk para pelaku wisata.
Dalam kaitannya dengan pengembangan kepariwisataan, daerah
diharapkan bisa memiliki komoditas strategis yang akan dikembangkan
dan mempunyai nilai ekonomis tinggi serta memberikan keuntungan yang
besar kepada masyarakat dan memiliki keunggulan komparatif sehingga
bisa bersaing di dalam era otonomi daerah. Untuk melakukan semua itu
pemerintah daerah tidak perlu menunggu petunjuk dari pemerintah pusat.
Sehingga tujuan peningkatan pendapat masyarakat meningkat.
Upaya pengembangan kunjungan wisata di Kabupaten Kutai Barat,
selain peningkatan objek wisatanya yang perlu dibenahi juga Peningkatan

1431
eJournal Administrasi Bisnis, Volume 5, Nomor 4, 2017: 1420-1434

akses dan akomodasi wisata, sehingga menimbulkan daya tarik bagi


wisatawan untuk berkunjung ke Kabupaten Kutai Barat.
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan diperoleh informasi
mengenai Peningkatan akses dan akomodasi wisata sudah menjadi program
dari Pemerintah dalam hal ini Dinas pariwisata Kabupaten Kutai Barat,
namun maksimal. Sehingga kedepannya peran dari stakehoulder dalam
mendukung sektor kepariwisataan di Kabupaten Kutai Barat sangat
diperlukan.
Pengembangan objekwisata alam hendaknya merancang langkah-
langkahyang terarah dan terpaduterutama terkait perencanaan
pengembanganfisik yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan hidup.
Keterkaitan antara keduanyadiharapkan membuat pengembangantersebut
menjadi realistis danproporsional. Menurut Soekadijo(2006), sebuah objek
wisata yang baikharus dapat menarik wisatawansebanyak-banyaknya,
menahanwisatawan untuk tinggal dalam waktuyang cukup lama dan
memberikepuasan kepada wisatawan.
Peningkatan kunjungan wisatawan, pihak Pemerintah Kabupaten
Kutai Barat melakukan langkah-langkah untuk menarik minat para
wisatawan untuk berkunjung ke Kabupaten Kutai Barat, misalnya
melakukan pembenahan objek-objek wisata dan melakukan promosi wisata.
Promosi merupakan variable khusus pemasaran untuk menarik perhatian
wisatawan potensial ke destinasi tertentu dan menikmati berbagai kegiatan
yang dirancang dalam parawisata. Dalam konteks bisnis promosi dimaknai
untuk menginfornasikan, membujuk, dan mengingatkan wisatawan baik
secara langsung maupun tidak langsung tentang suatu produk atau brand
yang dijual kepada calon wisatawan tentang produk yang ditawarkan dengan
memberitahukan tempat-tempat dimana orang dapat melihat atau melakukan
pembelian pada waktu dan tempat yang tepat.
Upaya meningkatkan kunjungan wisata di Kabupaten Kutai Barat,
berdasarkan hasil wawancara dengan beberapa informan dilakukan dengan
pengembangan wisata alam, dan pengelola kawasan perlu melibatkan
stakeholder terkait.Stakeholders dalam sektor ekowisata adalah siapapun
yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh sektor ekowisata. Mereka adalah
penduduk lokal, pemerintah daerah, sektor swasta, pengunjung maupun
pihak lain yang tidak secara langsung terkait dengan ekowisata.

Penutup
Pengelolaan daya tarik wisata alam dalam rangka meningkatkan
kunjungan wisata, dilakukan melalui beberapa aspek, yakni: Program
pengembangan wisata alam, Pelaksanaan pengembangan objek wisata
alam,Pengembangan sarana prasarana wisata,dan melakukan promosi wisata
serta Evaluasi proses dan hasil pengelolaan daya tarik wisata. Melalui aspek
ini, pihak Kepala Dinas Pariwisata mencoba untuk menetapkan arah organisasi

1432
Efektivitas Pengelolaan Daya Tarik Wisata Alam (Chrys)

menjadi lebih baik dengan berbagai perencanaan yang disusun secara matang
dan segala Tujuan, Kebijakan dan Program yang dilakukan Dinas Pariwisata
yang yang bertujuan untuk meningkatkan kunjungan wisata di Kutai Barat.
Pengelolaan daya tarik wisata yang dilakukan oleh Dinas PariwisataKutai
Barat dalam meningkatkan kunjungan wisatawan, melalui :
a. Peningkatan daya tarik objek wisata alam dimata wisatawan yang dilakukan
terfokus pada pembenahan sarana prasarana, sehingga dengan sarana
prasarana yang baik agar dapat menarik minat wisatawan untuk berkunjung
ke Kabupaten Kutai Barat, agar pembangunan di daerah ini dapat
berkembang sehingga perekonomian masyarakat dapat meningkat.
b. Peningkatan akses dan akomodasi pariwisata, sebagai penunjang
kepariwisataan, ini sudah dilakukan bekerjasama dengan pihak swasta.
c. Terpeliharanya objek wisata alam dan kelestarian lingkungan hidup,
dengan cara mengidentifikasi secara menyeluruh terhadap obyek yang akan
dikembangkan agar dapat menyusun segala perencanaan dengan sebaik-
baiknya dan melakukan Koordinasi yang terus dilakukan kepada pemerintah
dan warga sekitar kawasan obyek wisata
d. Peningkatan kunjungan wisatawan baik lokal maupun mancanegara, dengan
cara melibatkan semua elemen-elemen yang terkait dengan pengembangan
yang akan dilakukan sehingga pengembangan tersebut dapat kita lakukan
dengan membuahkan hasil yang diharapkan bersama.
Pengembangan yang dilakukan terkait dengan obyek wisata alam yang
ada di Kabupaten Kutai Barat dapat terealisasi secepatnya sehingga baik
pemerintah, wisatawan dan terlebih lagi masyarakat setempat dapat merasakan
manfaat yang besar dari pengembangan yang dilakukan tersebut.
Untuk meningkatkan daya dukung sektor kepariwisataan, hendaknya
pihak pemerintah berusaha keras membuat rencana dan berbagai kebijakan
yang mendukung kearah kemajuan sektor ini. Salah satu kebijakan tersebut
adalah menggali, menginventarisir dan mengembangkan obyek-obyek wisata
serta memperbaiki sarana prasarana penunjangnya.
Salah satu kunci sukses dalam bersaing di bidang kepariwisataan yaitu
pada promosi objek wisata. Untuk mendukung promosi wisata maka
diperlukan peran pemerintah dalam rangka mengembangkan objek-objek
wisata, karena keberadaannya harus ditingkatkan karena membawa dampak
terhadap peningkatan pembangunan.
Hendaknya Proses perencanaan pengelolaan daya tarik wisata alam perlu
mengkombinasikan pendekatan topdown dan bottom up. Masyarakat lokal
secara langsung akan terkena dampak bagi kebijakan pemerintah dalam
pembangunan. Peran aktif masyarakat dalam perencanaan pengembangan
pengelolaan daya tarik wisata alam perlu ditingkatkan melalui pertemuan-
pertemuan atau diskusi dengan tim perencana. Pemikiran dan ide dari
masyarakat dapat menjadi masukan dalam perencanaan pengembangan wisata
alam di Kabupaten Kutai Barat.

1433
eJournal Administrasi Bisnis, Volume 5, Nomor 4, 2017: 1420-1434

Dalam perencanaan pengembangan wisata alam sebelumnya perlu


adanya kesepahaman antara pihak-pihak terkait. Kesepahaman tersebut perlu
diikat secara legal melalui Memorandum of Understanding (MoU) atau nota
kesepahaman, agar pelaksanaannya bisa berjalan secara efektif.

Daftar Pustaka
Adiyoso, Wignyo. 2009. Menggugat Perencanaan Partisipatif dalam
Pemberdayaan Masyarakat. Surabaya: CV. Media Putra Nusantara.
Ahmar, Nurlinda, Mustafa Muhani, 2012. Peranan Sektor Pariwisata Dalam
Meningkatkan Pendapatan Asli Daerah Kota Palopo, Jurnal Tidak
Dipublikasikan.
Anonim.Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan
Daerah, Jakarta.
______, Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 2009, Tentang
kepariwisataaan, Jakarta.
______, UU Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara
pemerintah Pusat dan Daerah. Jakarta.
______, Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2009 tentang Rencana
PembangunanJangka Panjang Daerah (RPJPD) Kabupaten Kutai Barat
tahun 2005– 2025., Tentang kepariwisataaan, Sendaawar.
Arikunto. Suharsimi. 2008. Prosedur Penelitian : Suatu Pendekatan Praktek.
Edisi Revisi. Jakarta : PT. RinekaCipta.
Damanik, Janianton dan Helmut F. Weber. 2006. Perencanaan Ekowisata.
Yogyakarta: CV. Andi Offset.
Ibnu Syamsi. 2008.Asar-dasar Kebijaksanaan Keuangan Negara. Jakarta:
BinaAksara.
Komarudin. 2007.Ensiklopedia Manajemen. Edisi Revisi. Jakarta: Bumi
Aksara
Nazir.Moh. 2011.Metode Penelitian. Edisi Revisi, Ghalia Indonesia. Bogor.
Pasalong, Harbani, 2013, Metode Penelitian Administrasi, Alfabeta, Bandung.
Pitana, I Gde dan Diarta, I Ketut Surya, 2009.Pengantar Ilmu
Pariwisata.Yogyakarta: Andi.
Rina Masruroh, Neni Nurhayati, 2016, Strategi Pengembangan Pariwisata
Dalam Rangka Peningkatan Pendapatan Asli Daerah di Kabupaten
Kuningan. Jurnal Tidak Dipublikasikan.
Resky Sirupang Kanuna, 2014. Peranan Pemerintah Daerah Dalam
Pengelolaan Potensi Pariwisata di Kabupaten Toraja Utara. Jurnal
Tidak Dipublikasikan.
Salah Wahab. 2007.Manajemen Kepariwisataan. Edisi revisi, Jakarta, Pradnya
Paramita.
Sugiyarto, 2014, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, Alfabeta,
Bandung

1434