Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN CAMPAK PADA ANAK

OLEH

ZAHRATIH AHSANA TAQWIM

2B/0801100100

DEPARTEMEN KESEHATAN RI

POLITEKNIK KESEHATAN MALANG

PRODI KEPERAWATAN

2009
LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN CAMPAK PADA ANAK

Nama Mahasiswa : Zahratih Ahsana Taqwim NPM : 0801100100

MASALAH KESEHATAN
1. PENGERTIAN
Campak merupakan salah satu jenis penyakit menular yang umum terjadi
pada anak-anak dibawah usia 10 tahun, yang disebabkan oleh jenis virus yang
sangat menular dan berpindah dari satu anak ke anak lain dalam waktu
singkat. (dr. Anies, Mengatasi Gangguan Kesehatan Pada Anak- Anak, Hal
21)

2. ETIOLOGI
Disebabkan oleh suatu virus RNA, yang termasuk famili para
miksoviridae, genus morbilivirus yang ditemukan dalam sekresi nosofaring,
darah dan air kemih, paling tidak selama periode prodromal dan untuk waktu
singkat setelah munculnya ruam kulit.

3. MANIFESTASI KLINIS
Masa tunas 10 – 20 hari dan kemudian timbul gejala-gejala yang dibagi dalam
3 stadium :

a. Stadium Kataral ( prodromal )


Berlangsung 4 – 5 hari. Gejala menyerupai influenza, yaitu demam,
malaise, batuk, fotofobia, konjungtivitis dan koriza. Gejala khas
( patognomonik ) adalah timbulnya bercak koplik menjelang akhir stadium
kataral dan 24 jam sebelum timbul enatem. Bercak koplik berwarna
kelabu, sebesar ujung jarum dikelilingi oleh eritema dan berlokasi di
muara bukalis berhadapan dengan molar bawah.

b. Stadium Erupsi
Gejala pada stadium kataral bertambah dan timbul enatem di palatem
durum dan palatum mole. Kemudian terjadi ruam eritematosa yang
berbentuk makula papula disertai meningkatnya suhu badan. Ruam mula-
mula timbul dibelakang telinga, dibagian atas lateral tengkuk, sepanjang
rambut dan bagian belakang bawah. Dapat terjadi perdarahan ringan, rasa
gatal dan muka bengkak. Ruam mencapai anggota bawah pada hari ketiga
dan menghilang sesuai urutan terjadinya. Dapat terjadi pembesaran
kelenjar getah bening mandibula dan leher bagian belakang, splenomegali,
diare dan muntah. Variasi lain adalah black measles, yaitu morbili yang
disertai perdarahan pada kulit, mulut, hidung dan traktus digestivus.

c. Stadium Konvalesensi
Gejala-gejala pada stadium kataral mulai menghilang, erupsi kulit
berkurang dan meninggalkan bekas di kulit berupa hiperpigmentasi dan
kulit bersisik yang bersifat patognomonik.

4. KOMPLIKASI
i. Bronkopneumonia
Dapat disebabkan oleh virus morbili atau oleh pneumococus, streptococus,
staphylococus. Bronkopneumonia ini dapat menyebabkan kematian bayi
yang masih muda, anak dengan malnutrisi energi protein, penderita
penyakit menahun ( misal tuberkulosis ), leukemia dan lain-lain, oleh
karena itu pada keadaan tertentu perlu dilakukan pencegahan.

ii. Ensefalitis morbili


Dapat terjadi sebagai komplikasi pada anak yang sedang menderita
morbili atau dalam 1 bulan setelah mendapatkan imunisasi dengan vaksin
virus morbili hidup (ensefalitis morbili akut), pada penderita yang sedang
mendapat pengobatan imunosupresif ( immunosupresive measles
encephalopathy ) dan sebagai subacute sclerosing panencephalitis
( SSPE ).

iii. SSPE
Adalah penyakit degenerasi yang jarang dari susunan saraf pusat. Penyakit
ini progresif dan fatal serta ditemukan pada anak dan orang dewasa. Di
tandai oleh gejala yang terjadi secara tiba-tiba seperti kekacauan mental,
disfungsi motorik, kejang dan koma. Perjalanan klinis lambat dan sebagian
besar penderita meninggal dunia dalam 6 bulan – 3 tahun setelah terjadi
gejala 1. Meskipun demikian remisi spontan masih bisa terjadi. Penyebab
SSPE tidak jelas tapi ada bukti-bukti bahwa virus morbili memegang
peranan dalam patogenesisnya. Biasanya anak menderita morbili sebelum
umur 2 tahun sedangkan SSPE bisa timbul sampai 7 tahun setelah morbili.
SSPE yang terjadi setelah vaksinasi morbili didapatkan kira-kira 3 tahun
kemudian.

iv. Immunosupresive Measles Encephalopathy


Di dapatkan pada anak-anak dengan morbili yang sedang menderita
defisiensi imunologik karena keganasan / karena pemakaian obat-obatan
imunosupresif.

v. Pneumonitis sel raksasa


Infiltrasi paru difus yang jarang terjadi, menyebabkan gagal pernapasan.

vi. Parensefalitis sklerotik subacut


Reaktivitas virus laten dalam otak setelah 5 – 7 tahun, menyebabkan
ensephalitis yang mematikan.
Gangguan Pemenuhan Kebutuhan Dasar (dikaitkan dengan Patofisiologi,
insiden, dan prognosis penyakit):

ETIOLOGI

Virus Morbili

Limfatik lokal

Kelenjar getah bening lokal

Menyebar ke sel jaringan limfo retikuler

Infeksi awal

Virus masuk ke dalam pembuluh darah

Menyebar ke permukaan epitel

Kulit Usus Oropharing Konjungtiva Saluran nafas

Eritema, pruritus, Mual, Bercak koplik Selaput Batuk, pilek


measles muntah konjugtiva merah

Kerusakan Perubahan nutrisi kurang Gangguan Bersihan jalan


integritas kulit dari kebutuhan tubuh penglihatan nafas tak efektif
Penularan terjadi secara droplet dan kontak virus ini melalui saluran pernafasan
dan masuk ke system retikulo endothelial, berklembang biak dan selanjutnya
menyebar ke seluruh tubuh. Hal tersebut akan menimbulkan gejala pada saluran
pernafasan, saluran cerna, konjungtiva dan disusul dengan gejala patoknomi
berupa bercak koplik dan ruam kulit. Antibodi yang terbentuk berperan dalam
timbulnya ruam pada kulit dan netralisasi virus dalam sirkulasi. Mekanisme
imunologi seluler juga ikut berperan dalam eliminasi virus.

MASALAH KEPERAWATAN:

1. Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan produksi sekret


berlebih.
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kesulitan menelan, mual muntah.
3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan bercak koplik,
eritema,measles.
4. Gangguan sensori perseptual berhubungan dengan peredaran darah pada
konjungtiva.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK:

1. Pemeriksaan darah tepi hanya ditemukan adanya leukopeni.


2. Dalam sputum, sekresi nasal, sediment urine dapat ditemukan adanya
multinucleated giant sel yang khas.
3. Pada pemeriksaan serologi dengan cara hemaglutination inhibition test
dan complement fiksatior test akan ditemukan adanya antibody yang spesifik
dalam 1 – 3 hari setelah timbulnya ras dan mencapai puncaknya pada 2 – 4
minggu kemudian.
4. Hitung darah lengkap
5. Pemeriksaan sitologik. Pada pemeriksaan sitologik ditemukan sel
raksasa pada lapisan mukosa hidung dan pipi
6. Pemeriksaan serologik. Pada pemeriksaan serologik didapatkan IgM
spesifik
INTERVENSI KEPERAWATAN:

Dx 1 : Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan produksi sekret


berlebih.

Tujuan : Mempertahankan bersihan jalan nafas klien

Kriteria hasil :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien dapat :

- mempertahankan jalan nafas


- mengeluarkan sekret tanpa bantuan
- berpartisipasi dalam program, dalam tingkat kemampuan /
situasi
Intervensi :

1. Kaji fungsi pernapasan, contoh bunyi nafas,


kecepatan, irama dan kedalaman serta penggunaan otot aksesori
Rasional : Penurunan bunyi nafas dapat menunjukkan atelektasis. Ronchi,
mengi menunjukkan akumulasi sekret / ketidakmampuan untuk
membersihkan jalan nafas yang dapat menimbulkan penggunaan otot
aksesori pernapasan dan peningkatan kerja pernapasan.

2. Catat kemampuan untuk mengeluarkan mukosa /


batuk efektif, catat karakter, jumlah sputum
Rasional : Pengeluaran sulit bila sekret sangat tebal ( misal efek infeksi
dan atau tidak adekuat hidrasi )

3. Berikan posisi klien semi / fowler tinggi. Bantu klien


untuk batuk dan latihan nafas dalam
Rasional : Posisi membantu memaksimalkan ekspansi paru dan
menurunkan upaya pernapasan. Ventilasi maksimal membuka area
atelektasis dan meningkatkan gerakan sekret ke dalam jalan nafas besar
untuk dikeluarkan
4. Pertahankan masukan cairan sedikitnya 2500 ml / hari
kecuali kontraindikasi
Rasional : Pemasukan tinggi cairan membantu untuk mengencerkan
sekret, membuatnya mudah untuk dikeluarkan

Dx 2 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


kesulitan menelan, mual muntah.

Tujuan : Kebutuhan nutrisi klien sehari-hari tercukupi / terpenuhi

Kriteria hasil :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien dapat :

- menjelaskan alasan dan prosedur pengobatan


- mendapatkan pengalaman tentang nutrisi yang adekuat melalui
masukan oral
Intervensi :

1. Instruksikan / bantu individu untuk menyimpan


catatan pemasukannya dan melakukan kebersihan mulut segera setelah
makan
Rasional : Mengkaji intake / pemasukan nutrisi dan menentukan
intervensi selanjutnya

2. Ajarkan teknik untuk mempertahankan pemasukan


nutrisi yang adekuat dan merangsang nafsu makan
Rasional : Untuk mempertahankan pemasukan nutrisi yang adekuat
diperlukan makanan-makanan yang dapat merangsang nafsu makan
seseorang

3. Untuk masalah kesulitan menelan hal-hal yang perlu


diperhatikan adalah :
a. Sebelum memulai makan, kaji tingkat kesadaran dan respon secara
tepat, kemampuan mengontrol mulut, batuk / reflek batuk dan
kemampuan untuk menelan saliva sendiri
b. Lakukan penghisapan dengan alat yang tersedia dan dapat berfungsi
dengan baik
c. Membenarkan posisi
- duduk tegak 600 – 900 pada kursi / tepi tempat tidur jika
memungkinkan
- pertahankan posisi selama 10 – 15 menit sebelum dan sesudah
makan
- fleksikan kepala ke depan pada garis tengah tubuh 45 0 untuk
mempertahankan kepatenan esofagus
d. Kurangi rangsangan yang berbahaya
e. Anjurkan / bantu klien untuk :
- bersihkan mulut yang baik sebelum dan sesudah makan
- hindari makanan yang pedas, asam / makanan yang asin
- rendam makanan yang kering agar lunak
Rasional : Membantu klien mendapatkan pengalaman tentang nutrisi
yang adekuat melalui pemasukan oral

Dx 3 : Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan bercak koplik, eritema,


measles

Tujuan : Klien terhindar dari resiko kerusakan integritas kulit lebih lanjut

Kriteria Hasil :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien dapat :

- menunjukkan tingkah laku / teknik untuk mencegah kerusakan


kulit / meningkatkan kesembuhan
- menunjukkan kemajuan pada luka / penyembuhan lesi
Intervensi :
1. Kaji kulit setiap hari. Catat warna, turgor, sirkulasi
dan sensori. Gambarkan lesi dan amati perubahan
Rasional : Menentukan garis dasar dimana perubahan pada struktur dapat
dibandingkan dan melakukan intervensi dengan tepat

2. Pertahankan / instruksikan dalam higiene kulit,


misalnya membasuh kemudian mengeringkannya dengan hati-hati
Rasional : Mempertahankan kebersihan karena kulit yang kering dapat
menjadi barier infeksi. Pembasuhan kulit kering sebagai pengganti
menggaruk menurunkan resiko trauma dermal pada kulit yang kering /
rapuh

3. Secara teratur ubah posisi, ganti sprei sesuai


kebutuhan. Lindungi penonjolan tulang dengan bantal, bantalan tumit /
siku
Rasional : Mengurangi stress pada titik tekanan, meningkatkan aliran
darah ke jaringan dan meningkatkan proses penyembuhan

4. Pertahankan sprei bersih, kering dan tidak berkerut


Rasional : Friksi kulit disebabkan oleh kain yang kerut dan basah
menyebabkan iritasi dan potensial terhadap infeksi

5. Bersihkan area perineal dengan membersihkan feses


dengan menggunakan air
Rasional : Mencegah maserasi yang disebabkan oleh diare dan menjaga
agar lesi perianal tetap kering

Dx 4 : Gangguan sensori perseptual ( penglihatan ) berhubungan dengan


peredaran darah pada konjungtiva

Tujuan : Gangguan penglihatan teratasi / kembali normal

Kriteria Hasil :

Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien dapat :


- meningkatkan ketajaman penglihatan dalam batas situasi
individu
- mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap
perubahan
Intervensi :

1. Tentukan ketajaman penglihatan, catat apakah satu /


kedua mata terlibat
Rasional : Kebutuhan individu dan pilihan intervensi bervariasi sebab
kehilangan penglihatan terjadi lambat dan progresif

2. Orientasikan klien terhadap lingkungan, staf, orang


lain disekitarnya
Rasional : Memberikan peningkatan kenyamanan dan kekeluargaan,
menurunkan cemas

3. Perhatikan tentang suram / penglihatan kabur dan


iritasi mata, dimana dapat terjadi bila menggunakan tetes mata
Rasional : Gangguan penglihatan dapat berakhir 1 – 2 jam setelah tetesan
mata tetapi secara bertahap menurun dengan penggunaan obat tetes mata
DAFTAR PUSTAKA

Addy, DP. 1991. Buku Pintar Kesehatan ‘Kesehatan Anak’. Jakarta: Arcan

Hidayat, Aziz Alimul A. 2006. Pengantar Keperawatan Anak Edisi I. Jakarta:


Salemba Medika

Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak. 2005. Buku kuliah 2 Ilmu Kesehatan Anak.
Jakarta : Infimedika Jakarta