Anda di halaman 1dari 9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Teoritis

2.1.1 Kesiapsiagaan

2.1.1.1 Definisi kesiapsiagaan

Kesiapsiagaan merupakan serangkaian kegiatan yang dilkukan untuk


mengantisipasi bencana melalui pengorganisasian serta melalui langkah yang
tepat guna dan berdaya guna (BNPB,2017).
.

2.1.1.2 Penggolongan Gangguan Jiwa

Menurut Yosep (2007) penggolongan gangguan jiwa dan dibedakan


menjadi :
1) Neurosa
Neurosa ialah kondisi psikis dalam ketakutan dan kecemasan yang kronis
dimana tidak ada rangsangan yang spesifik yang menyebabkan kecemasan
tersebut.
2) Psikosa
Psikosis merupakan gangguan penilaian yang menyebabkan ketidakmampuan
seseorang menilai realita dengan fantasi dirinya. Hasilnya, terdapat realita baru
versi orang psikosis tersebut. Psikosis dapat pula diartikan sebagai suatu
kumpulan gejala atau sindrom yang berhubungan gangguan psikiatri lainnya,
tetapi gejala tersebut bukan merupakan gejala spesifik penyakit tersebut.

2.1.1.3 Ketrampilan Psikososial Gangguan Jiwa


Abroms dalam Stuart (2006) menekankan 4 keterampilan penting
psikososial pada klien gangguan jiwa yaitu:
1) Orientation
Orientaton adalah pencapaian tingkat orientasi dan kesadaran terhadap realita
yang lebih baik. Orientasi berhubungan dengan pengetahuan dan pemahaman
klien terhadap waktu, tempat atau maksud/ tujuan, sedangkan kesadaran dapat
dikuatkan melalui interaksi dan aktifitas pada semua klien.
2) Assertion
Assertion yaitu kemampuan mengekspresikan perasaan sendiri dengan tepat.
Hal ini dapat dilakukan dengan cara mendorong klien dalam mengekspresikan diri
secara efektif dengan tingkah laku yang dapat diterima masyarakat melalui
kelompok pelatihan asertif, kelompok klien dengan kemampuan fungsional yang
rendah atau kelompok interaksi klien.
3) Accuption
Accuption adalah kemampuan klien untuk dapat percaya diri dan berprestasi
melalui keterampilan membuat kerajinan tangan. Hal ini dapat dilakukan dengan
cara memberikan aktifitas klien dalam bentuk kegiatan sederhana seperti teka-
teki (sebagai aktivitas yang bertujuan) mengembangkan keterampilan fisik seperti
menyulam. Membuat bunga, melukis dan meningkatkan manfaat interaksi sosial.
4) Recreation
Recreation adalah kemampuan menggunakan dan membuat aktifitas yang
menyenangkan dan relaksasi. Hal ini memberi kesempatan pada klien untuk
mengikuti bermacam reaksi dan membantu klien menerapkan keterampilan yang
telah ia pelajari seperti: orientasi asertif, interaksi sosial, ketangkasan fisik.
Contoh aktifitas relaksasi seperti permainan kartu, menebak kata dan jalan-jalan,
memelihara binatang, memelihara tanaman, sosio- drama, bermain musik dan
lain-lain.

2.1.1.4 Tanda Dan Gejala Gangguan Jiwa

Tanda dan gejala gangguan jiwa menurut Yosep (2007) adalah sebagai berikut:
a) Ketegangan (tension), rasa putus asa dan murung, gelisah, cemas, perbuatan-
perbuatan yang terpaksa (convulsive), hysteria, rasa lemah, tidak mampu
mencapai tujuan, takut, pikiran-pikiran buruk.
b) Gangguan kognisi pada persepsi: merasa mendengar (mempersepsikan) sesuatu
bisikan yang menyuruh membunuh, melempar, naik genting, membakar rumah,
padahal orang di sekitarnya tidak mendengarnya dan suara tersebut sebenarnya
tidak ada hanya muncul dari dalam diri individu sebagai bentuk kecemasan
yang sangat berat dia rasakan. Hal ini sering disebut halusinasi, klien bias
mendengar sesuatu, melihat sesuatu atau merasakan sesuatu yang sebenarnya
tidak ada menurut orang lain.
c) Gangguan kemauan: klien memiliki kemauan yang lemah (abulia) susah
membuat keputusan atau memulai tingkah laku, susah sekali bangun pagi,
mandi, merawat diri sendiri sehingga terlihat kotor, bau dan acak-acakan.
d) Gangguan emosi: klien merasa senang, gembira yang berlebihan (Waham
kebesaran). Klien merasa sebagai orang penting, sebagai raja,pengusaha,
orang kaya, titisan Bung karno tetapi di lain waktu ia bias merasa sangat
sedih, menangis, tak berdaya (depresi) sampai ada ide ingin mengakhiri
hidupnya.
e) Gangguan psikomotor : Hiperaktivitas, klien melakukan pergerakan yang
berlebihan naik ke atas genting berlari, berjalan maju mundur, meloncat-
loncat, melakukan apa-apa yang tidak disuruh atau menentang apa yang
disuruh, diam lama tidak bergerak atau melakukan gerakan aneh. (Yosep,
2007).

2.1.2 Penanganan Pada Penderita Gangguan Jiwa

a. Terapi psikofarmaka

Psikofarmaka atau obat psikotropik adalah obat yang bekerja secara selektif
pada Sistem Saraf Pusat (SSP) dan mempunyai efek utama terhadap aktivitas
mental dan perilaku, digunakan untuk terapi gangguan psikiatrik yang
berpengaruh terhadap taraf kualitas hidup klien (Hawari, 2001).
Obat psikotropik dibagi menjadi beberapa golongan, diantaranya: antipsikosis,
anti-depresi, anti-mania, anti-ansietas, antiinsomnia, anti-panik, dan anti obsesif-
kompulsif,. Pembagian lainnya dari obat psikotropik antara lain: transquilizer,
neuroleptic, antidepressants dan psikomimetika (Hawari, 2001).
b. Terapi somatic
Terapi ini hanya dilakukan pada gejala yang ditimbulkan akibat gangguan jiwa
sehingga diharapkan tidak dapat mengganggu system tubuh lain. Salah satu
bentuk terapi ini adalah Electro Convulsive Therapy.
Terapi elektrokonvulsif (ECT) merupakan suatu jenis pengobatan somatik
dimana arus listrik digunakan pada otak melalui elektroda yang ditempatkan pada
pelipis. Arus tersebut cukup menimbulkan kejang grand mal, yang darinya
diharapkan efek yang terapeutik tercapai. Mekanisme kerja ECT sebenarnya tidak
diketahui, tetapi diperkirakan bahwa ECT menghasilkan perubahan-perubahan
biokimia di dalam otak (Peningkatan kadar norepinefrin dan serotinin) mirip
dengan obat anti depresan. (Townsend alih bahasa Daulima, 2006).
c. Terapi Modalitas
Terapi modalitas adalah suatu pendekatan penanganan klien gangguan yang
bervariasi yang bertujuan mengubah perilaku klien gangguan jiwa dengan
perilaku maladaptifnya menjadi perilaku yang adaptif.
Ada beberapa jenis terapi modalitas, antara lain:
1) Terapi Individual
Terapi individual adalah penanganan klien gangguan jiwa dengan
pendekatan hubungan individual antara seorang terapis dengan seorang klien.
Suatu hubungan yang terstruktur yang terjalin antara perawat dan klien untuk
mengubah perilaku klien. Hubungan yang dijalin adalah hubungan yang
disengaja dengan tujuan terapi, dilakukan dengan tahapan sistematis (terstruktur)
sehingga melalui hubungan ini terjadi perubahan tingkah laku klien sesuai
dengan tujuan yang ditetapkan di awal hubungan. Hubungan terstruktur dalam
terapi individual bertujuan agar klien mampu menyelesaikan konflik yang
dialaminya. Selain itu klien juga diharapkan mampu meredakan penderitaan
(distress) emosional, serta mengembangkan cara yang sesuai dalam memenuhi
kebutuhan dasarnya.
2) Terapi Lingkungan
Terapi lingkungan adalah bentuk terapi yaitu menata lingkungan agar terjadi
perubahan perilaku pada klien dari perilaku maladaptive menjadi perilaku
adaptif. Perawat menggunakan semua lingkungan rumah sakit dalam arti
terapeutik. Bentuknya adalah memberi kesempatan klien untuk tumbuh dan
berubah perilaku dengan memfokuskan pada nilai terapeutik dalam aktivitas dan
interaksi.
3) Terapi Kognitif
Terapi kognitif adalah strategi memodifikasi keyakinan dan sikap yang
mempengaruhi perasaan dan perilaku klien. Proses yang diterapkan adalah
membantu mempertimbangkan stressor dan kemudian dilanjutkan dengan
mengidentifikasi pola berfikir dan keyakinan yang tidak akurat tentang stressor
tersebut. Gangguan perilaku terjadi akibat klien mengalami pola keyakinan dan
berfikir yang tidak akurat. Untuk itu salah satu memodifikasi perilaku adalah
dengan mengubah pola berfikir dan keyakinan tersebut. Fokus asuhan adalah
membantu klien untuk reevaluasi ide, nilai yang diyakini, harapan-harapan, dan
kemudian dilanjutkan dengan menyusun perubahan kognitif.
4) Terapi Keluarga
Terapi keluarga adalah terapi yang diberikan kepada seluruh anggota keluarga
sebagai unit penanganan (treatment unit). Tujuan terapi keluarga adalah agar
keluarga mampu melaksanakan fungsinya. Untuk itu sasaran utama terapi jenis
ini adalah keluarga yang mengalami disfungsi; tidak bisa melaksanakan fungsi-
fungsi yang dituntut oleh anggotanya.
Dalam terapi keluarga semua masalah keluarga yang dirasakan diidentifikasi
dan kontribusi dari masing-masing anggota keluarga terhadap munculnya
masalah tersebut digali. Dengan demikian terlebih dahulu masing-masing
anggota keluarga mawas diri; apa masalah yang terjadi di keluarga, apa
kontribusi masingmasing terhadap timbulnya masalah, untuk kemudian mencari
solusi untuk mempertahankan keutuhan keluarga dan meningkatkan atau
mengembalikan fungsi keluarga seperti yang seharusnya.
5) Terapi Kelompok
Terapi kelompok adalah bentuk terapi kepada klien yang dibentuk dalam
kelompok, suatu pendekatan perubahan perilaku melalui media kelompok.
Dalam terapi kelompok perawat berinteraksi dengan sekelompok klien secara
teratur. Tujuannya adalah meningkatkan kesadaran diri klien, meningkatkan
hubungan interpersonal, dan mengubah perilaku maladaptive. Terapi Perilaku
Anggapan dasar dari terapi perilaku adalah kenyataan bahwa perilaku timbul
akibat proses pembelajaran. Perilaku sehat oleh karenanya dapat dipelajari dan
disubstitusi dari perilaku yang tidak sehat. Teknik dasar yang digunakan dalam
terapi jenis ini adalah: Role model, Kondisioning operan, Desensitisasi
sistematis, Pengendalian diri dan Terapi aversi atau rileks kondisi.
6) Terapi Bermain
Terapi bermain diterapkan karena ada anggapan dasar bahwa anak-anak akan
dapat berkomunikasi dengan baik melalui permainan dari pada dengan ekspresi
verbal. Dengan bermain perawat dapat mengkaji tingkat perkembangan, status
emosional anak, hipotesa diagnostiknya, serta melakukan intervensi untuk
mengatasi masalah anak tersebut.

2.1.3 Konsep Keluarga

2.1.3.1 Definisi Keluarga

Keluarga adalah satu atau lebih individu yang tinggal bersama,sehingga


mempunyai ikatan emosional dan mengembangkan dalam interelasi social, peran
dan tugas (Spredley, 1996 dalam Murwani, 2008).
Menurut Salvicion G. Bailon & Aracelis Maglaya (1989) dalam Murwani
(2008) menjelaskan bahwa keluarga adalah dua atau lebih dari dua individu yang
tergabung karena hubungan darah, hubungan perkawinan atau pengangkatan dan
mereka hidup dalam suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain, dan di dalam
perannya masing – masing menciptakan serta mempertahankan kebudayaan.
Keluarga sebagai sumber dukungan social dapat menjadi factor kunci
dalam penyembuhan penderita gangguan jiwa.walapun anggota keluarga tidak
selalu merupakan sumber positif dalam kesehatan jiwa,mereka paling sering
menjadi bagian penting dalam penyembuhan,(Kumfo,1995,dalam Videbeck,2008)

2.1.3.2 Struktur keluarga menurut Mubarak (2009) antara lain :

1. Struktur komunikasi
Komunikasi dalam keluarga dikatakan berfungsi apabila : jujur, terbuka,
melibatkan emosi, konflik selesai dan ada hirarki kekuatan, komunikasi keluarga
bagi pengirim : memberikan pesan, memberikan umpan balik dan valid.
Komunikasi dalam keluarga dikatakan tidak berfungsi apabila: tertutup, adanya
issu atau gosip negatif, tidak berfokus pada satu hal dan selalu mengulang issu
dan pendapat sendiri, komunikasi keluarga bagi pengirim bersifat asumsi, ekspresi
perasaan tidak jelas, judgemental exspresi dan komunikasi tidak sesuai. Penerima
gagal mendengar, diskualifikasi, ofensif (bersifat negatif), terjadi miskomunikasi
dan kurang atau tidak valid.
2. Struktur peran
Struktur peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai dengan
posisi sosial yang diberikan. Jadi pada struktur peran bisa bersifat formal atau
informal.
3. Struktur kekuatan
Struktur kekuatan adalah kemampuan dari individu untuk, mengontrol,
mempengaruhi atau mengubah perilaku orang lain.
4. Struktur nilai dan norma
Nilai adalah sistem ide-ide, sikap keyakinan yang mengikat anggota keluarga
dalam budaya tertentu. Sedangkan norma adalah pola perilaku yang diterima pada
lingkungan sosial tertentu, lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat
sekitar keluarga.
2.1.3.3 Ciri – Ciri Keluarga

Robert macler dan Charles morton page menjelaskan ciri-ciri keluarga :

a) Keluarga merupakan hubungan perkawinan


b) Keluarga berbentuk sautu kelembagaan yang berkaitan dengan hubungan
perkawinan yang disengaja dibentuk atau dipelihara
c) Keluarga mempunyai suatu system tata nama (nomenclature),termasuk
perhitungan garis keturunan,
d) Keluarga yang mempunyai fungsi ekonomi yang dibentuk oleh anggota –
anggotanya berkaitan dengan kemampuan untuk mempunyai keturunan dan
membesarkan anak
e) Keluarga mempunyai tempat tinggal bersama,rumah,atau rumah tangga.

2.1.4 Pengetahuan Keluarga

Bloom (1956) dalam Potter dan Perry (2006) mengkategorikan


pengetahuan menjadi 3 domain,yaitu pengetahuan kognitif, afektif, dan
psikomotor ,pengetahuan kognitif terkait dengan pemahaman seseorang mengenai
suatu hal. Pengetahuan afektif terkait dengan perilaku seseorang setelah
memahami sesuatu,sedangkan pengetahuan psikomotor terkait dengan
pelaksanaan atas apa yang telah dipahami .

Menurut Notoatmodjo (2007) pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan


ini setelah orang melakukan penginderaan terhadap obyek tertentu.

Keluarga adalah orang-orang yang sangat dekat dengan pasien dan


dianggap paling banyak tahu kondisi pasien serta dianggap paling banyak
memberi pengaruh pada pasien, sehingga keluarga sangat penting artinya dalam
perawatan dan penyembuhan pasien.

Pengetahuan keluarga mengenai gangguan jiwa merupakan awal usaha


dalam memberikan iklim yang kondusif bagi anggota keluarganya. Keluarga
selain dapat meningkatkan dan mempertahankan kesehatan jiwa ,juga dapat
menjadi sumber masalah bagi anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa
akibat minimnya pengetahuan mengenai persoalan kejiwaan keluarganya.
(Notosoedirdjo & Latipun,2005)

2.2 Kerangka Teori

2.3 Hipotesis