Anda di halaman 1dari 4

Khutbah Pertama:

‫ وأشهد أن ال إله إال هللا‬،‫ ونشكره على ما أوالنا‬،‫ نحمده على ما أعطانا‬،‫ وضرب آجالهم‬،‫الحمد هلل الذي خلق عباده فقسم أرزاقهم‬
‫ وأشهد أن محمدا‬،‫ فمن رضي فله الرضا ومن سخط فعليه السخط‬،‫وحده ال شريك له؛ ال يقضي على المؤمن بقضاء إال كان خيرا له‬
‫عبده ورسوله؛ صلى هللا وسلم وبارك عليه وعلى آله وصحبه؛ والتابعين لهم بإحسان إلى يوم الدين‬.

‫{يا أيها الذين أمنوا اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجاال كثيرا ونسا ًء واتقوا هللا الذي‬:‫أما بعد‬
‫{تساءلون به واألرحام إن هللا كان عليكم رقيبا‬

Ibadallah,

Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,

َ َّ‫ب ْال ُكف‬


ُ‫ار نَبَاتُهُ ث ُ َّم يَ ِهي ُج فَت ََراه‬ َ ‫ث أ َ ْع َج‬
ٍ ‫غ ْي‬ َ ‫ا ْعلَ ُموا أَنَّ َما ْال َحيَاة ُ ال ُّد ْنيَا لَعِبٌ َولَ ْه ٌو َو ِزينَةٌ َوتَفَا ُخ ٌر بَ ْينَ ُك ْم َوتَكَاث ُ ٌر فِي ْاأل َ ْم َوا ِل َو ْاأل َ ْوال ِد َك َمث َ ِل‬
ِ ‫ع ْالغُ ُر‬
‫ور‬ ُ ‫ان َو َما ْال َحيَاة ُ ال ُّد ْنيَا ِإ َّال َمت َا‬ ِ َّ َ‫شدِي ٌد َو َم ْغف َِرة ٌ مِ ن‬
ٌ ‫َّللا َو ِرض َْو‬ َ ٌ‫عذَاب‬ َ ِ‫طاما ً َوفِي ْاْلخِ َرة‬ َ ‫صف َّرا ً ث ُ َّم يَ ُكونُ ُح‬ْ ‫ُم‬

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang
melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan
tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan
para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning
kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari
Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang
menipu.” [Quran Al-Hadid: 20].

Dia juga berfirman,

ُ ‫اَّلل ْالغ َُر‬


‫ور‬ ِ َّ ‫َّللاِ َح ٌّق فَال تَغُ َّرنَّ ُك ُم ا ْل َح َياة ُ ال ُّد ْن َيا َوال َيغُ َّرنَّ ُك ْم ِب‬ ُ َّ‫َيا أ َ ُّي َها الن‬
َّ ‫اس ِإ َّن َو ْع َد‬

“Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan
dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu,
memperdayakan kamu tentang Allah.” [Quran Fatir: 5].

Ibadallah,

Sesungguhnya dunia ini adalah nafas-nafas yang terbatas, waktu-waktu yang telah
diketahui kadarnya, dan rezeki yang terbagi. Allah Ta’ala berfirman,

‫ب‬
ٍ ‫ع ُم ِر ِه ِإال فِي ِكت َا‬ ْ ‫ص‬
ُ ‫مِن‬ ُ َ‫َو َما يُ َع َّم ُر مِ ن ُّم َع َّم ٍر َوال يُنق‬

“Dan sekali-kali tidak dipanjangkan umur seorang yang berumur panjang dan tidak pula
dikurangi umurnya, melainkan (sudah ditetapkan) dalam Kitab (Lauh Mahfuzh). [Quran Fatir:
11].

Dunia hanyalah tempat melintas. Sedangkan akhirat adalah tempat yang kekal. Karena itu,
berbekallah Anda dari tempat melintas ini untuk tempat tinggal Anda yang sebenarnya.
Bersiaplah untuk hari dimana Anda dihadapkan kepada Rabb Anda sekalian. Sekarang
adalah beramal dan bukan waktunya dihisab. Nanti adalah dihisab bukan lagi waktunya
beramal.

Sesungguhnya dunia ini adalah tempat bermain-main yang melalaikan. Seberapa pun usia
seseorang di dunia, hakikatnya adalah singkat. Karena itu, kenikmatan yang ada di
dalamnya juga singkat. Sesingkat usia tumbuhan ketika menghijau yang membuat
pemiliknya sibuk dengannya. Sedangkan pemilik kebun tidak menghabiskan seluruh
waktunya untuk tanaman. Dan tanama itu tidak selamanya pula indah. Dia akan cepat
menguning kemudian kering dan hancur. Setelah itu, pemiliki kebun kembali bercapek-
capek menumbuhkan tanaman baru.
Lihatlah, taman-taman. Ada masanya taman-taman itu hijau dan bunganya banyak. Tapi hal
itu tidak bertahan lama. Bunganya akan layu dan mengering. Demikianlah kehidupan dunia.
Dunia itu diliputi oleh yang disenangi hati, tapi akhir jalannya adalah sesuatu yang tidak
disukai. Hari-hari kenikmatan di dalamnya, dilihat dari umur manusia, adalah hari-hari yang
sebentar saja.

Oleh karena itu, di antara bentuk kerendahan dunia, Allah tidak memberikan dunia ini
sebagai balasan atas seorang muslim yang menaati-Nya. Tapi, Allah menjadikan dunia
untuk orang muslim dan kafir. Untuk orang yang mukmin dan yang fajir. Untuk orang shalih
dan yang rusak. Dia memberikan dunia kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan mengambil
keindahan dunia ini kepada siapapun sesuai dengan yang telah Dia tetapkan. Seperti
tanaman yang dimakan manusia juga dimakan oleh hewan. Dunia bukan bagian istimewa
hanya untuk seorang muslim saja, menunjukkan bahwa dunia ini rendah nilainya.

Ibadallah,

Inilah cerita tentang dunia hingga episode akhirnya. Renungkanlah! Berapa banyak kita
memiliki teman. Berapa banyak dari mereka yang telah kita kuburkan? Berapa banyak kita
mengantar tetangga-tentagga kita menuju kuburannya?

Setiap anak manusia akan kembali, betapa panjang pun umurnya. Hari-hari yang mereka
lewati akan berlalu. Dan mati itu tidak mengenal yang sehat dan yang sakit. Tidak pula
mengenal tua atau muda. Betapa banyak orang sehat mati tanpa sebab. Dan betapa
banyak orang sakit hidup hingga waktu yang lama.

Karena itu, -ibadallah- persiapkanlah diri untuk kematian. Sebelum dia datang dengan tiba-
tiba. Menjelang wafat, Abu Darda radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Tidakkah seseorang
beramal untuk sekarat ini? Tidakkah seseorang beramal untuk waktu seperti ini waktuku ini?
Tidakkah seseorang beramal untuk hari seperti hariku ini?” Kemudian beliau menangis.
Istrinya berkata padanya, “Apakah engkau menangis, padahal engkau telah (memiliki
kedudukan agung) bersahabat dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?” Abu Darda
menjawab, “Apa alasanku untuk tidak menangis. Aku tidak tahu dosa yang mana yang akan
membuatku celaka.”

Diriwayatkan oleh Ibnu al-Mubarak bahwasanya Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu menangis
saat ia sedang sakit. Orang-orang bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?” Ia
menjawab, “Aku tidak menangis karena dunia kalian ini. Tapi karena jauhnya perjalananku.
Dan sedikitnya bekalku. Aku telah berjalan naik dan turun menuju surga atau neraka. Aku
tidak tahu, mana yang diberikan untukku.”

Ibadallah,

Renungkanlah, saat Anda terbaring menatap kematian. Pikirkanlah tempat Anda berikutnya
setelah menginjakkan kaki di dunia ini, yaitu alam kubur. Renungkan, bagaimana malam
pertama Anda dalam kesendirian. Dalam lubang yang sempit. Gelap. Dan tertutup.
Renungkanlah malam pertama Anda di tempat tersebut. Anda akan ditanya di dalam kubur
itu: Siapa Rabbmu? Apa agamamu? Apa yang kau katakan tentang seorang laki-laki yang
diutus di tengah kalian?

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam az-Zuhd dari Anas radhiallahu ‘anhu, ia berkata,
“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang dua hari dan dua malam, yang belum pernah
di dengar oleh seluruh ciptaan hari seperti hari-hari itu. Ia menyebutkan di antaranya adalah
malam pertama di alam kubur ini.
Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dan dihasankan oleh al-Albani dari Anas bin Malik
radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ْ َ‫ َوأ َ ْن ي‬، ‫ط ُرقًا‬


‫ظ َه َر َم ْوتُ ْالفُ َجا َء ِة‬ ُ ‫اج َد‬
ِ ‫س‬َ ‫ َوأ َ ْن تُت َّ َخذَ ْال َم‬، ‫ ِللَ ْيلَتَي ِْن‬: ‫ فَيُقَا ُل‬، ‫ع ِة أ َ ْن ي َُرى ْال ِهال ُل قِ َبال‬ ِ ‫مِ ِن ا ْقت َِرا‬
َ ‫ب السَّا‬

“Di antara dekatnya hari kiamat, hilal akan terlihat nyata sehingga dikatakan ‘ini tanggal
dua’, masjid-masjid akan dijadikan jalan-jalan, dan munculnya (banyaknya) kematian
mendadak.”

Ibadallah,

Mengingat kematian akan membuat kita mensedikitkan semua yang banyak dan
membanyakkan semua yang sedikit. Kita akan menjadi zuhud di dunia. Bersegera beramal
shaleh. Wahai orang-orang yang dunia kesibukkannya, semangatnya, dan cita-citanya.
Kematian akan datang tiba-tiba. Kuburanlah kotak amal.

Dunia akan berakhir dan akhirat akan datang. Dunia dan akhirat memiliki anak-anak yang
setia. Jadilah Anda anak-anak akhirat. Jangan menjadi anak-anak dunia. Janganlah Anda
disibukkan oleh angan-angan. Karena angan-angan akan menghalangi Anda dari taubat.
Hati-hatilah dari hawa nafsu. Karena hawa nafsu menghalangi dari kebenaran.

Bahaya yang sesungguhnya adalah kita berhenti dari mengingat kematian dan sebab-
sebabnya. Sedangkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memesankan kepada kita:

َ‫ت َي ْعنِي ْال َم ْوت‬


ِ ‫أ َ ْكث ُِروا ِذ ْك َر هَاذ ِِم اللَّذَّا‬

“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan. Yakni kematian.” (HR. ath-Thabrani).


Allah Ta’ala berfirman,

ِ َ‫( ك ََّال بَ ْل تُحِ بُّونَ ْالع‬21)


َ ‫( َوتَذَ ُرونَ ْاْلخِ َرة‬20) َ‫اجلَة‬

“Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan


dunia, dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.” [Quran Al-Qiyamah: 20-21].

Dalam firman-Nya yang lain:

‫( َو ْاْلخِ َرة ُ َخي ٌْر َوأ َ ْبقَى‬16) ‫( بَ ْل تُؤْ ث ُِرونَ ْال َحيَاة َ ال ُّد ْنيَا‬17)

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat
adalah lebih baik dan lebih kekal.” [Quran Al-A’la:17].

Dalam Shahihain, dari Amr bin Auf al-Anshari radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ُ َ‫علَـى َم ْن َكانَ قَ ْبلَ ُك ْم فَتَنَاف‬


‫سو َها َك َما تَنَافَسُوهَا َوت ُ ْه ِل َك ُك ْم‬ َ ‫علَ ْي ُك ُم ال ُّد ْنيَا َك َما بُ ِس‬
َ ْ‫طت‬ َ ‫علَ ْي ُك ْم أ َ ْن ت ُ ْب‬
َ ‫س‬
َ ‫ط‬ َ ‫َوهللاِ َما ْالفَ ْق َر أ َ ْخشَى‬
َ ‫ َولَ ِكنِّي أ َ ْخشَى‬،‫علَ ْي ُك ْم‬
‫ َك َما أ َ ْهلَ َكتْ ُه ْم‬.

“Demi Allah, bukanlah kefakiran yang lebih aku takutkan menimpa kalian, akan tetapi yang
aku takutkan atas kalian jika dunia dibentangkan kepada kalian sebagaimana telah
dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, sehingga kalian berlomba-lomba
sebagaimana mereka berlomba-lomba, dan (dunia) menghancurkan kalian sebagaimana
(dunia) telah menghancurkan mereka.” [Muttafaq ‘alaihi].

Ibadallah,
Mari kita persiapkan diri kita untuk kematian. Bagaimana mungkin disebut dengan bersiap
untuk kematian, orang-orang yang lama tak membaca Alquran, meremehkan shalat
berjamaah di masjid. Tidak disebut bersiap untuk kematian, orang-orang yang masih suka
berghibah, mengadu domba, memenuhi hatinya dengan kedengkian, masih mendengarkan
musik, menyia-nyiakan waktu dan umurnya dalam masalah yang belum diketahui benar atau
salah.

Janganlah Anda terpengaruh saudara-saudara sekalian. Siapa yang mengerjakan


perbuatan-perbuatan buruk ini, maka mereka akan rugi dengan kerugian yang nyata. Allah
Ta’ala berfirman,

َ ‫( َو َم ْن أ َ َرا َد ْاْلخِ َرة َ َو‬18) ‫ورا‬


‫س َعى لَ َها‬ ْ ‫عج َّْلنَا لَهُ فِي َها َما نَشَا ُء ِل َمن نُّ ِري ُد ث ُ َّم َج َع ْلنَا لَهُ َج َهنَّ َم َي‬
ً ‫ص َالهَا َم ْذ ُمو ًما َّم ْد ُح‬ ِ ‫َّمن َكانَ ي ُِري ُد ْال َع‬
َ َ‫اجلَة‬
‫ورا‬ ُ ْ
ً ‫س ْعيُ ُهم َّمشك‬ َ َ ُ َ ٌ
َ َ‫س ْعيَ َها َوه َُو ُمؤْ مِ ن فأولئِكَ كان‬ َ (19)

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya


di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan
baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan
barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan
sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang
usahanya dibalasi dengan baik.”[Quran Al-Isra:18-19].