Anda di halaman 1dari 5

SATUAN ACARA PENYULUHAN

( SAP )

Topik : Gizi Kurang


Sasaran : Peserta Sapa sehat Posyandu Rose ( Bugel Rw 02 )
Jam : 07.30 WIB
Waktu : 35 menit
Tanggal : 24 Februari 2017
Tempat : Lapangan wilayah Posyandu Rose ( Bugel Rw 02 )
Nama Penyuluh : dr Harianto DT

A. TUJUAN
a. Tujuan Umum
Setelah di lakukan penyuluhan warga dapat mengetahui apa itu Gizi Kurang

b. Tujuan Khusus
Setelah di lakukan penyuluhan,di harapkan :
 Keluarga Dapat Mengetahui Pengertian Gizi Kurang
 Keluarga Dapat Mengetahui Penyebab Gizi Kurang
 Keluarga Dapat Mengetahui Tanda dan Pejala Gizi Kurang
 Keluarga Dapat Mengetahui cara Memantau Gizi Kurang
 Keluarga Dapat Mengetahui Penatalaksanaan Gizi Kurang
B. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Diskusi
C. MEDIA/ ALAT
a. Leaflet
b. Lembar balik
D. PELAKSANAAN KEGIATAN

No Tahap Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Metode


Kegiatan Peserta
1 Orientasi 5 menit 1. Mengucapkan salam  Menjawab salam Ceramah dan
2. Memperkenalkan  Mendengarkan Tanya jawab
diri  Memperhatikan
3. Menjelaskan tujuan  Brain storming
kegiatan yang akan mengenai Gizi
dilakukan Kurang
2 Kegiatan 10 1. Menjelaskan  Mendengarkan Ceramah dan
menit pengertian Gizi Tanya jawab
Kurang
2. Menjelaskan  Memperhatikan.
penyebab Gizi
Kurang
3. Menjelaskan tanda  menyimak
dan gejala Gizi
Kurang
4. Menjelaskan
Memantau Gizi
Kurang
5. Menjelasakan
Penatalaksanaan
Gizi Kurang
3 Terminasi 15 1. Memberi  Mendengarkan. Ceramah dan
menit kesempatan pada Tanya jawab
keluarga untuk  Memperhatikan.
bertanya.
2. Beri pujian  Menjawab salam
3. Menyimpulkan hasil
penyuluhan
4. Mengucapkan
salam.

E. MATERI : Terlampir

F. MEDIA : Leafleat, Lembar balik


GIZI KURANG

1. Definisi.

Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang di konsumsi


secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transfortasi, penyimpanan
metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan
kehidupan dan fungsi normal dari organ-organ serta menghasilkan energi. Gizi
kurang adalah kekurangan bahan-bahan nutrisi seperti protein, karbohidrat, lemak
dan vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh.

2. Penyebab Gizi Kurang

Gizi kurang dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :

a) Faktor diet / makanan.


Makanan yang mengandung cukup energi tetapi kurang protein dapat
menyebabkan akan menderita Kwashiorkor sedangkan anak yang kurang energi
walaupun zat-zat gizi essensialnya seimbang akan menyebabkan anak
menderita marasmus.
b) Faktor sosial.
Dimasyarakat pedesaan masih memegang tradisi yang sebenarnya salah bila
dilihat dari segi kesehatan, pantangan untuk menggunakan bahan makanan
tertentu banyak sekali di temukan, dapat mempengaruhi status gizi terutama
anak-anak, faktor sosial yang lain diantaranya keluarga yang mempunyai
banyak anak dan berpenghasilan rendah.
c) Faktor infeksi/ penyakit.
Penyakit infeksi apapun dapat memperburuk keadaan gizi karena di sebabkan
karena penurunan daya tubuh terutama pada anak karena asupan yang kurang
akibat anak tidak nafsu makan.
d) Faktor kemiskinan.
Kemiskinan merupakan dasar penyakit KEP, serta penghasilan masyarakat
negara yang rendah dapat menyebabkan ketidakmampuan masyarakat
memenuhi bahan makanan sendiri di tambah dengan banyak timbulnya
penyakit infeksi dan lingkungan yang kotor, maka timbul gejala KEP lebih
cepat.
3. Manifestasi Klinis Gizi Kurang
Anak dengan gizi kurang memiliki gejala klinis yang terbagi menjadi 3 tahap antara
lain :
 Kurang energi protein ringan : Kurang energi ( malas ), Kenaikan berat badan
berkurang atau berhenti dan ada kalanya berat badan menurun, ukuran lingkar
lengan atas menurun, maturasi tulang terhambat, rasio berat terhadap tinggi
normal menurun, lipatan kulit normal kurang, aktivitas dan perhatian anak
berkurang dibandingkan anak yang sehat, kelainan kulit dan rambut jarang
ditemukan.
 Kurang enargi protein sedang : Pucat karna anemia, mata tampak besar dan
dalam, ubun-ubun besar dan cekung, terjadi atropi otot, perut membucit dan
cekung, rambut tipis, kulit kusam, kering dan bersisik.
 Kurang energi protein berat. Dibagi dalam tiga klasifikasi yaitu :
1) Kwashiorkor, gejala yang ditemukan : Pertumbuhan anak terganggu,
gangguan perkembangan mental, banyak menangi, edema, penderita tampak
lemah, tidak nafsu makan, rambut tipis dan mudah di cabut, kulit kering,
disertai penyakit infeksi, anemia dan terjadi diare.
2) Marasmus gejalanya yang ditemukan : Anak tampak sangat kurus, wajah
seperti orang tua, cengeng, rewel, kesadaran menurun, kulit biasanya
kering, dingin dan mengendur, terjadi atropi otot, anak sering diare, perut
cekung.
3) Marasmus dan kwashioorkor, gejala yang ditemukan: Gambaran klinis
memperlihatkan gejala campuran antara penyakit marasmus dan
kwshioorkor. Dengan penurunan berat badan dibawah 60% dari berat badan
normal serta memperlihatkan tanda-tanda kwashiorkor seperti, oedem, serta
adanya kelainan perrtumbuhan rambut dan jaringan kulit.
4. Untuk Memantau Gizi kurang
Untuk menangani kasus malnutrisi yang terjadi pada anak dibutuhkan perhatian
khusus dari keluarga dan harus adanya kerjasama yang terpadu dan konfrehensif
antara orang tua dan petugas kesehatan. Pemeriksaan kesehatan yang harus
dilakukan dokter dalam mendiagnosa Gizi buruk pada anak mencakup:
Pemeriksaan berat badan dan tinggi badan anak untuk menentukan Body Massa
Index, pemeriksaan darah dan pemiriksaan X-ray untuk mengetahui ada atau tidak
nya kelainan-kelainan pada organ tubuh dan kondisi penyakit tertentu yang
mungkin berpengaruh terhadap asupan nutrisi pada anak.
Kemudian setelah itu dianjurkan untuk konsultasi pada ahli gizi tentang pengaturan
pada pola makan, termasuk pada jenis serta jumlah makanan tertentu untuk
mencukupi kebutuhan gizi anak. Kemungkinan juga akan diberikan vitamin dan
berbagai suplemen tertentu.
Namun Apabila dari pemeriksaan dokter diketahui penyebab gizi buruk pada anak
karena penyakit dan kondisi medis tertentu maka dibutuhkan terapi lanjutan
lainnya.
5. Penatalaksanaan Gizi Kurang
Adapun cara mengatasi gizi kurang adalah:
 Pemberian makanan TKTP dengan ukuran yang telah dianjurkan dan diberikan
secara bertahap.
 Tetap memberikan ASI sesuai dengan aturan secara terus-menerus bagi anak
dibawah usia 2 tahun.
 Pemberian makanan tambahan.
 Pemberian terapi cairan dan elektrolit bila perlu.
 Kontrol berat badan secara rutin.
 Berikan obat/ vitamin sesuai dengan anjuran pengobatan.
 Penyuluhan tentang gizi seimbang terutama bagi orang tua yang memiliki anak
balita.