Anda di halaman 1dari 40

PERANG DUNIA 2

Oleh :

Rizkita Putri Sa’diyah (A72218072)

Nur Wasia (A92218121)

A. Latar Belakang terjadinya Perang Dunia 2


Perang Dunia 2 adalah perang lanjutan dari Perang Dunia 1 karena Jerman
mengalami kekalahan dari Sekutu dan diadakannya Perjanjian Versailles yang
membuat Jerman semakin tak berdaya. Kondisi seperti itu dimanfaatkan oleh
Adolf Hitler melalui Nazi untuk membangkitkan Jerman dari keterpurukan dan
membalas dendamnya akibat dulu kalah. Secara garis besar Perang Dunia 2
memiliki dua sebab yaitu :
1. Sebab Umum
a) Kegagalan Liga Bangsa-bangsa (LBB) dalam menciptakan perdamaian
dunia. LBB bukan lagi alat untuk mencapai tujuan, tetapi menjadi alat
politik negara-negara besar untuk mencari keuntungan. LBB tidak dapat
berbuat apa-apa ketika negara-negara besar berbuat semaunya, misalnya
pada tahun 1935 Italia melakukan serangan terhadap Ethiopia.
b) Negara-negara maju saling berlomba memperkuat militer dan
persenjataan. Dengan kegagalan LBB tersebut, dunia Barat terutama
Jerman dan Italia mencurigai komunisme Rusia tetapi kemudian Rusia
mencurigai fasisme Italia dan nasionalis-sosialis Jerman. Oleh karena
saling mencurigai akhirnya negara-negara tersebut memperkuat militer
dan persenjataannya.
c) Adanya politik aliansi (mencari kawan persekutuan). Kekawatiran akan
adanya perang besar, maka negara-negara mencari kawan dan
muncullah dua blok besar yakni;
 Blok Fasis, terdiri atas Jerman, Italia dan Jepang
 Blok Sekutu, terdiri atas :

Blok Demokrasi yaitu Prancis, Inggris, Amerika Serikat, dan


Belanda.

Blok Komunis yaitu Rusia, Polandia, Hongaria, Bulgaria,


Yugoslavia, Rumania dan Cekoslovakia.

d) Adanya pertentangan -pertentangan ekspansi

 Jerman mengumumkan Lebensaroumnya (Jerman Raya) yang


meliputi Eropa Tengah.
 Italia menginginkan Italia Irredenta yang meliputi seluruh laut
Tengah dan Abyssinia.
 Jepang mengumumkan Kemakmuran Bersama di Asia Timur Raya.
2. Sebab Khusus
Sebab yang memicu Perang Dunia 2 ada dua front yaitu front Eropa
dan Asia Pasifik. Pada Front Eropa dipicu oleh serangan Jerman atas
Polandia pada 1 September 1939. Menurut Hitler, Kota Danzig adalah kota
yang ikut wilayah Rusia Timur (Jerman) karena mayoritas yang tinggal
disana adalah warga berkebangsaan Jerman akan tetapi Polandia menolak
pengakuan tersebut. Malah Polandia mengadakan perundingan dengan
Inggris , Prancis, Rumania dan Yunani untuk menjamin kemerdekaanya.
Sedangkan Perang Dunia 2 di wilayah Asia Pasifik diawali dengan Jepang
melakukan pengeboman pangkalan laut di pearl Harbour, Hawai pada
tanggal 7 Desember 1941. Pemboman ini menghancurkan 188 pesawat
Amerika. Setelah itu Amerika menyatakan perang. Inilah yang memicu
Perang Asia Timur Raya atau Perang Pasifik.1

B. Jalan Terjadinya Perang Dunia 2

1
Wahyudi Djaja, Sejarah Eropa Dari Eropa Kuno Hingga Eropa Modern (Yogyakarta: Penerbit
Ombak, 2012), hlm. 197.
Perang Dunia II bermula dari sekelompok ultranasionalis
yang lahir di tiga negara. Di Jerman, Adolf Hitler lahir sebagai
pemimpin Partai Nazi, partai antisemit yang menginginkan
kekuasaan ras Arya. Adolf Hitler menggunakan kekuatannya
untuk melengserkan Republik Weimar yang membuat Jerman
mengalami krisis moneter luar biasa.
Setelah Hitler berkuasa pada 1933, dia segera memperkuat
militer untuk bersiap-siap memulai pertempuran demi
kekuasaan. Dengan semangat Lebensraum (ruang tinggal), dia
menginginkan tanah kekuasaan yang lebih luas untuk ras Arya.
Di Italia, diktator Benito Mussolini meraih tampuk
kekuasaan setelah paham fasisme yang ia anut berhasil
mengalahkan komunisme dan sosialisme. Mussolini
menginginkan Italia berkuasa sebagaimana pada masa
Kekaisaran Romawi Suci dahulu.
Dia mendapat kepercayaan dari Raja Italia untuk
membangun pemerintahan, dan Mussolini segera membangun
pemerintahan keras dan fasis, yaitu paham dimana kepentingan
negara berada di atas segala-galanya. Dia juga kawan akrab
Hitler, yang kemudian mengadakan Aliansi Berlin-Roma.
Kaisar Hirohito memang secara de facto menjadi kaisar
sah di Jepang. Akan tetapi, sadarkah sang kaisar, bahwa yang
berkuasa dan menjalankan roda pemerintahan sesungguhnya
ialah Jenderal Hideki Tojo. Dengan demikian, militer dalam hal
ini secara jelas telah mengambil alih pemerintahan sipil di
Jepang.
 Awal Perang

Sebelum perang meletus, Spanyol telah jatuh dalam perang


saudara antara sayap kiri (sosialis, komunis, dan rakyat biasa
yang mendukung republik) dan sayap kanan (tuan tanah kaya
raya, perwira, gereja katholik, dan Partai Fasis Falange yang
menginginkan raja untuk kembali berkuasa). Sayap kiri
didukung oleh Uni Soviet, sementara sayap kanan dipimpin
Jerman dan Italia.
Ketika perang meletus, sayap kiri sempat berkuasa ketika
datang sayap liberal dari negara lain, yakni Laurie Lee. Sayap
kiri jatuh dan loyalis liberal menguasai sejumlah kota besar.
Hingga akhirnya sayap kanan yang di dukung Jenderal Franco,
berhasil menghancurkan pertahanan loyalis di Madrid dan
menduduki kursi kekuasaan hingga 1975.
Uni Soviet adalah negara besar yang terletak di Eropa
Timur, membentang jauh hingga Siberia dan Asia Tengah. Uni
Soviet didirikan oleh Vladimir Lenin yang berhasil
menggulingkan Tsar Rusia, Nicholas II, dalam Revolusi Oktober
1917. Negara ini dipimpin oleh seorang diktator komunis Joseph
Stalin sejak 1924, yang mengambil kekuasaan setelah Lenin
meninggal.
Meskipun Jerman dan Uni Soviet merupakan sesama
negara sosialis, tetapi Uni Soviet bukan antisemit. Yahudi adalah
agama terbesar ketiga di Uni Soviet setelah Gereja Ortodoks
Rusia dan Islam, itulah yang membuat Poros tak bisa bersekutu
dengan negara ini.
Ketiga negara mulai menunjukkan keagresifannya sejak
tahun 1930-an. Kebangkitan ekonomi dan militer Jerman
meresahkan Inggris dan Perancis, yang trauma akan Perang
Dunia I (PD I) yang berakhir pada 1919 dengan
ditandatanganinya Perjanjian Versailles yang sangat merugikan
Jerman dan sekutunya. Perjanjian itu diharapkan dapat
mengakhiri perang secara permanen, akan tetapi justru menjadi
20 tahun menuju perang baru.
Jepang menyerbu Manchuria dan dengan mudah
menduduki Korea. China yang masih dikuasai oleh Partai
Kuomintang yang lemah, harus mengakui, bahwa Jepang
menguasai separuh negaranya di bagian utara.
Italia, yang masih menjajah Libya, mengikuti pada 1935,
menyerbu Abessynia (sekarang Ethiopia) sebagai tanda
berdirinya 'Kekaisaran Roma Baru'. Sebelumnya pada tahun
1896, Italia pernah dikalahkan Abessynia saat negara itu
mencoba mendapatkan ibukota Addis Ababa.
16 Maret di tahun yang sama, wajib militer diterapkan di
Jerman. Setahun kemudian, pasukan Jerman menduduki
Rhineland. Italia mengalahkan Abessynia dan mendapatkan
Addis Ababa pada 1936. Pasukan China dan Jepang bentrok di
dekat Beijing, dan insiden itu disebut "Insiden Jembatan Marco
Polo" yang terjadi pada 7 Juli 1937. Setahun kemudian, tepatnya
15 Oktober 1938, tentara Jerman memasuki Sudetenland.
Jerman adalah negara yang paling banyak mengambil andil
dalam setiap langkah Poros. Pada 1938, ia merebut Wina,
menduduki Austria dan kemudian mengambil Cekoslovakia pada
16 Maret 1939. Setelah kedua negara tersebut jatuh, Jerman
mengalihkan perhatiannya pada Polandia.
Inggris dan Perancis berjanji akan membantu, jika
Polandia akan menjadi korban selanjutnya. Akan tetapi, Hitler
tak pernah mengira janji ini akan dipenuhi. Musim panas 1
September 1939, tentara Jerman menyerbu masuk ke dalam
Polandia melalui rawa-rawa yang telah kering. Dua hari
kemudian Inggris, Perancis, Australia, dan Selandia Baru
menyatakan perang terhadap Jerman.
Sebelum menyerang Polandia, Hitler telah menandatangani
Pakta Non-Agresi dengan Stalin. Hitler tak pernah berniat untuk
memenuhi pakta ini. Dia hanya tak ingin Soviet mengganggu,
sementara dia sedang sibuk melumat Polandia dan menggilas
Eropa Barat. Swedia, Spanyol, Switzerland, dan Portugal segera
menyatakan kenetralannya.
Italia tak mau kalah dengan keberhasilan sekutunya,
Jerman. Dengan semangat Italia Irridenta (Italia yang belum
dibebaskan), Mussolini memutuskan menyerbu Albania pada 7
April 1939. Setelah berhasil menguasai Kekaisaran Abessynia
pada Mei 1936, Italia merasa dirinya cukup kuat untuk terjun
lebih jauh lagi ke dalam ranah pertempuran.
Albania dikejutkan dengan serangan Italia melalui Laut
Adriatik, laut yang memisahkan Semenanjung balkan dengan
Semenanjung Italia. Tentara Italia dengan agresif menyerbu
masuk ke dalam Albania yang berhasil dilumpuhkan secara total.
Albania jatuh jauh lebih cepat daripada Abessynia ataupun
negara-negara lain yang ditaklukkan Italia. Albania adalah
negara paling cepat lengser nomor dua dalam Perang Dunia II
(PD II). Italia hanya perlu waktu 5 hari saja untuk merampas
Tirana dan menguasai seluruh Albania.
Belum puas dengan Polandia, Uni Soviet mencoba
membentangkan sayapnya ke timur, dan menoleh pada
Finlandia. Invasi Uni Soviet terhadap Finlandia ini dimulai pada
30 November 1939. Tentara Merah Uni Soviet menyerbu ke
dalam Finlandia, dan mencoba menguasainya meski gagal.
Serbuan kedua kalinya kembali dijalankan, tetapi Soviet
harus menerima, bahwa pasukan Finlandia, yang dibantu
Spanyol, Swedia, Hungaria, dan militan Estonia, mampu
memukul mundur pasukan Soviet, hingga ke perbatasan.
Melihat keadaan seperti ini, Stalin mulai merasa geram.
Dia segera melancarkan 3 juta tentara sekaligus, untuk
membungkam Finlandia. Alhasil, Stalin dapat duduk kembali
dengan tenang di kursinya. Tentara Merah dengan cepat mampu
mendorong tentara Finlandia, yang semakin terdesak ke dalam
negaranya.
Dibantu dengan bantuan logistik, serta persenjataan yang
lebih memadai, kota-kota penting di Finlandia berhasil direbut,
dan Stalin serta para jenderalnya, mulai memandang ibukota
Helsinki sebagai tambang emas yang menggiurkan.
Melihat keadaannya yang semakin terdesak, pemerintah
Finlandia segera menawarkan perundingan dengan Uni Soviet.
Tawaran ini diterima, dan perundingan diadakan di Moskow.
Ditandatangani pada 12 Maret 1940, Finlandia menyerahkan
sebagian Karelia, termasuk tanah genting Karelia, serta lahan
besar di utara Danau Ladoga.
Daerah ini termasuk kota Viipuri, kota terbesar kedua di
Finlandia yang diserahkan pada Uni Soviet. Viipuri adalah kota
industri dan wilayah signifikan di Finlandia yang masih
dipegang oleh tentara Finlandia. Penyerahan kota Viipuri
mendapat protes keras dari banyak rakyat Finlandia yang merasa
pemerintah mereka terlalu 'loyo', tetapi pemerintah Finlandia
menganggap Viipuri adalah bayaran murah sebagai pengganti
Helsinki dan seluruh Finlandia.
 Perang Yang Sesungguhnya

Pasukan Jerman, dengan taktik blitzkrieg (langkah kilat),


melaju dengan cepat menghajar pertahanan Polandia, dan
mendekati ibukota Warsawa dalam waktu satu minggu. Dalih
Hitler untuk menyerang Polandia saat itu adalah untuk merebut
kota Danzig yang banyak ras Arya-nya. Tapi dalih itu hanyalah
dalih palsu belaka.
Polandia yang melihat dirinya tidak siap akan serangan
Jerman ini, saking putus asanya, Polandia mengerahkan pasukan
kavaleri berkudanya untuk melawan tank-tank dan pesawat
Jerman, yang kemudian dibantai habis oleh Jerman tak bersisa.
Belum selesai mengurus Jerman, Polandia dikejutkan
kembali dengan serangan Uni Soviet dari timur. Pasukan Soviet
menyapu bersih dari timur, sementara Jerman dari barat.
Kemudian, akhirnya bertemulah kedua pasukan tersebut di
Warsawa dan membuat garis demarkasi. 20 September 1939,
seluruh Polandia sudah jatuh ke tangan Jerman dan Uni Soviet,
dan para pemimpin negaranya dipaksa untuk menyelamatkan diri
ke Rumania.
Setelah Polandia jatuh, tak ada lagi perang untuk
sementara waktu. Secara resmi, Jerman telah berada dalam status
perang dengan Inggris, Perancis, Australia, dan Selandia Baru,
tetapi kenyataannya tidak ada pertempuran sama sekali.
Situasi ini disebut Phoney War (Perang Palsu). Situasi ini
dimanfaatkan oleh para seniman untuk menggambarkan era
perang. Bahkan, ada beberapa yang mengolok-olok Hitler,
seperti komedian pantomim "Charlie Chaplin". Sehingga, Hitler
pun sangat benci dengan orang itu.
Di Polandia, orang-orang Yahudi, termasuk anak-anak,
wanita, dan lansia, ditangkapi. Mereka untuk sementara
ditampung di Ghetto (tempat terkumuh) Warsawa, sebelum
akhirnya dibawa ke kamp tahanan di Auschwitz untuk disiksa.
Orang-orang Yahudi yang disiksa dan dibunuh ini disebut
korban holocaust, salah satu kejadian paling mengerikan dalam
sejarah umat manusia yang akan terus berlanjut, hingga
kejatuhan Nazi pada 1945. Phoney War ini lantas oleh para
seniman disebut juga sitzkrieg.
Phoney War berakhir pada 9 April 1940, ketika sitzkrieg
kembali lagi menjadi blitzkrieg. Jerman mengejutkan Sekutu
dengan menyerbu negara-negara Eropa Utara, Denmark dan
Norwegia.
Denmark menyerah dengan cepat, sementara Norwegia
mencoba bertahan. Inggris dan Perancis segera datang untuk
membantu Norwegia yang semakin terdesak. Tujuan utama
Hitler menduduki Skandinavia ialah untuk mengambil alih
kendali atas Lautan Atlantik, yang bisa memblokir jalur
perdagangan Inggris ke Eropa Utara.
Inggris dan Perancis tampak tergesa-gesa dalam
menyelamatkan Norwegia, akan tetapi hasilnya sama saja.
Norwegia ambruk beberapa bulan kemudian. Ini telah merubah
pandangan Perancis terhadap Jerman, karena sebelumnya
angkatan perang Perancis cukup percaya diri, mengingat
negaranya pernah mengalahkan Jerman pada Perang Dunia I.
Tapi kali ini berbeda, Jerman yang dulu tidak seperti yang
Perancis kira. Jerman dalam 3 dasawarsa telah bangkit dengan
jumlah rakyat 3 kali lebih besar daripada Perancis, dan memiliki
teknologi tempur yang tinggi serta armada perang yang kuat.
Oleh karenanya, Perancis merasa terancam setelah
Norwegia dan Denmark ambruk seketika. Ternyata benar, Hitler
telah meminta para jenderalnya untuk menyusun taktik
mencaplok Eropa Barat. Hitler memandang Perancis sebagai
tempat yang "pas" sebagai tempat tinggal ras Arya.
Hitler tak ingin seperti Uni Soviet yang hanya
mendapatkan 11% wilayah Finlandia. Dia ingin menaklukkan
Perancis secara utuh, dan kemudian daratan Britania Raya, serta
selanjutnya Irlandia.
Perancis segera membuat pertahanan. Berdasarkan
pengalaman pada Perang Dunia I, Perancis mengira Jerman akan
menyerbu wilayahnya melalui Belgia. Karena itulah Perancis
mempersiapkan pasukan yang hebat di perbatasan Belgia.
Hanya ada satu jalur lagi yang bisa digunakan Jerman
untuk menyerbu Perancis, yaitu melalui sebuah hutan lebat,
dataran tak menentu di Ardennes, sebelah selatan Luksemburg.
Perancis tak pernah mengira Hitler akan menyerang lewat jalur
ini, sebab mereka yakin, bahwa Hitler bukan seorang yang segila
itu dan akan mampu berbuat hal semacam itu.
Dan benar, ternyata mereka salah. Hitler memang orang
gila yang memiliki strategi gila untuk melewati Ardennes. Dia
membabat hutan Ardennes dan memaksa tank, kendaraan lapis
baja, dan para tentaranya untuk menyeberangi hutan tersebut.
Sempat terjadi kemacetan saat Hitler menggunakan trik ini.
Tetapi hasilnya sama saja, Perancis dikejutkan oleh serangan gila
ini. Pada 10 Mei 1940, Perancis dan Inggris dikejutkan oleh
serangan mendadak yang tak pernah diperkirakan selama ini.
Dengan cepat pasukan Jerman melindas Luksemburg, sebuah
negara kecil yang menurutnya hanyalah menjadi penghalang tak
berarti bagi dirinya untuk menuju Paris.
Luksemburg yang sudah dilindas dan sekarat, tak bisa
berbuat apa-apa selain menyerah hari itu juga, menjadi satu-
satunya negara dalam Perang Dunia II yang bisa dilumpuhkan
hanya dalam waktu kurang dari 24 jam, dan membiarkan Jerman
memasuki Perancis melalui wilayahnya.
Pada hari yang sama itu pula, pasukan parasut Jerman
berhasil mendarat di Belanda dan Belgia. Angkatan perang
Belanda menyerah pada 15 Mei, selang beberapa jam setelah
pengeboman berat di kota Rotterdam.
Pasukan gabungan Inggris-Perancis sudah berusaha mati-
matian, tetapi pasukan Jerman terlalu perkasa dan berhasil
mengepung mereka di sebuah tempat bernama Dunkirk, pesisir
utara Perancis, pada 26 Mei 1940.
Belgia mencoba bertahan hingga titik darah penghabisan,
akan tetapi hasilnya sama saja. Perjuangan mempertahankan
tanah air di Belgia akhirnya terhenti. Belgia telah runtuh pada 28
Mei, ketika raja-nya mengumumkan, bahwa angkatan perangnya
sudah berada di ambang batas.
Selama dua bulan berikutnya, tentara yang terkepung di
Dunkirk mulai dievakuasi ke Inggris. Tak ada lagi serangan
terhadap Perancis hingga 6 Juni. Perancis kini dalam kondisi
sendirian. Inggris tak mampu membantu lebih lanjut, karena
dirinya pun harus mempersiapkan diri akan kemungkinan
terburuk yang sewaktu-waktu bisa terjadi.
Austria, Belgia, Belanda, dan Luksemburg yang menjadi
tameng pembatasnya, telah tergilas oleh pasukan Jerman.
Semenanjung Hispanik, yaitu Spanyol dan Portugal, netral, dan
tak mungkin dia menaruh harapan pada negara kecil seperti
Andorra, Liechtenstein, atau Monako yang lebih memilih netral
daripada digilas seperti Benelux.
Meskipun akhirnya tentara Perancis mampu mematahkan
bala bantuan untuk Jerman yang datang dari Italia, tetapi
sesungguhnya Jerman tak membutuhkan bantuan sama sekali
dari sekutu lemahnya itu untuk menumpas Perancis.
Setelah itu, tentara Perancis tak dapat berbuat banyak,
ketika tentara Jerman menyerbu dengan ganasnya ke negara
mereka. Hanya perlu waktu sebelas hari saja bagi Jerman untuk
menundukkan Perancis.
Pada 17 Juni 1940, pemimpin Perancis, Marsekal Petain,
menawarkan perundingan dengan Jerman ketika negara itu
berhasil menduduki Paris. Perundingan itu akhirnya
ditandatangani pada 22 Juni.
Jerman diberikan hak untuk mengendalikan pesisir utara
dan perairan Atlantik. Seluruh Perancis takluk pada kekuasaan
Jerman. Pemerintahan Perancis yang baru disebut Perancis
Vichy, sementara Charles de Gaulle membangun pemerintahan
Perancis darurat di London.

 Perang Dunia II

Sejak Juni 1940, Inggris harus bertahan sendirian dalam


menghadapi keperkasaan angkatan perang Jerman. Inggris
menyaksikan sendiri, bagaimana angkatan bersenjata Jerman
yang perkasa itu mencaplok Austria, merobohkan Cekoslovakia,
kemudian menghancurkan Polandia, meruntuhkan Denmark dan
Norwegia, melindas Belanda, Belgia, dan Luksemburg, serta
bagaimana cara Jerman memberangus sekutu karibnya dengan
sangat tragis, Perancis.
Ditambah lagi, pada 10 Juni 1940, Italia menyatakan
perang terhadap Inggris dan Perancis. Ini bukan masalah besar,
hanya tinggal menunggu waktu hingga Italia runtuh dengan
sendirinya.
Pada 5 Juli, pemerintah Perancis Vichy memutuskan
hubungan diplomatik dengan Britania Raya dan Irlandia Utara
(United Kingdom). Masalah besarnya adalah, bagaimana kalau
Jerman sampai berpikir untuk menyerang Kepulauan Inggris.
Hanya Selat Inggris yang memisahkan Inggris dengan Eropa
Daratan, yang mana hampir seluruhnya telah dikendalikan Nazi
Jerman yang tengah menjalankan holocaust.
Lagi-lagi, Inggris masih sendirian, bahkan Amerika Serikat
dan Uni Soviet masih belum terlibat. Australia, Selandia Baru,
dan India yang menjadi sekutu Inggris pun, masih sibuk
menghadapi ekspansi Jepang. Irlandia yang masih meributkan
sengketa wilayah di Irlandia Utara, tak akan sudi membantu, dan
Semenanjung Hispanik telah netral.
Pada 10 Juli 1940, ketakutan Inggris terbukti. Jerman
dengan angkatan lautnya mencoba menyeberangi Selat Inggris.
Usaha Jerman ini selalu gagal, karena angkatan laut Inggris
terlalu kuat. Meskipun Jerman mengerahkan hampir semua kapal
selamnya, namun semua seperti percuma.
Inggris menyadari kapal-kapal perang yang ia buat
bersama Perancis, yang kini telah takluk, akan menjadi ancaman
bagi dirinya. Sebab kapal perang itu kini ada di tangan Perancis,
tepatnya di salah satu tanah jajahan Perancis yaitu di Algiers,
Aljazair.
Sebelum Jerman menyadari keberadaan kapal tersebut, dan
sebelum pemerintah Perancis Vichy benar-benar berkhianat,
Inggris bersama Royal Air Force (RAF), angkatan udara
Kerajaan Inggris, menyerbu pangkalan angkatan laut kolonial
Perancis di Algiers, Aljazair.
Serangan tersebut sukses menenggelamkan seluruh kapal
yang dianggap berbahaya bagi Inggris, hal itu jelas
menggambarkan bagaimana suksesnya dan betapa kejamnya
Inggris membantai mantan sekutu karibnya itu.
Merasa terkhianati, Perancis Vichy merencanakan untuk
bergabung bersama Jerman untuk mencaplok Inggris, tetapi
Petain menolak. Dia mengatakan, "Sudah cukup satu kekalahan
dan tak akan ada lagi hal serupa."
Keinginan untuk menjajah Inggris akhirnya ditunda oleh
Hitler. Dia merasa Inggris akan jatuh dengan sendirinya, apabila
dia berhasil membombardir daratannya. Dengan angkatan udara-
nya yang kuat, Luftwaffe, Jerman memulai aksinya mengebom
kota-kota penting di Inggris, yaitu London, Portsmouth, serta
kota-kota lainnya.
Seketika Inggris menderita kehancuran besar, tetapi masih
berani dengan nyali yang tersisa untuk membalas dengan
membombardir Bremen dan Dresden. RAF yang selama ini
menjadi rival abadi Luftwaffe, mau tak mau harus mengakui,
bahwa mereka memang benar-benar imbang.
Pertempuran di Selat dan daratan Inggris ini disebut Battle
of Britain (Pertempuran Britania). Blitzkrieg di daratan Inggris
berlangsung pada 7 September 1940 dan menghancurkan
sebagian besar London, termasuk daerah East End. Kehancuran
juga terjadi di Glasgow, Coventry, dan Portsmouth.
Sehari sebelum Battle of Britain, Italia yang masih
menjajah Libya mencoba menginvasi Mesir yang dikuasai
Inggris. Melalui pesisir utara, tentara Italia menyeberangi
perbatasan dan mulai mengadakan penyerangan menuju Kairo.
Tujuannya adalah mengambil alih Terusan Suez yang vital, yang
bisa melumpuhkan ekonomi Inggris.
Namun, Italia justru mengalami kemalangan. Pasukan
Inggris yang dibantu tentara pelarian Perancis di bawah
pemerintahan darurat di London, malah menyerang balik dan
Italia terpukul mundur kembali ke Libya.
Invasi Italia atas Mesir gagal pada 16 September 1940. Di
saat bersamaa, Inggris dan Perancis berhasil mengambil sebagian
wilayah utara Libya dan Italia mulai terdesak mundur.
Ini merupakan kekalahan Italia yang untuk kali
pertamanya, setelah sebelumnya berhasil menang atas Abessynia
dan Albania. Italia segera membuat Front Sidi Barrani Timur
yang diharapkan mampu membendung kekuatan Inggris di
Libya. Tapi sekali lagi, ini tak berfungsi sama sekali.
Melihat kesuksesan Jerman, Italia jadi semakin termotivasi
dan tak pantang menyerah, meski sudah mengalami kekalahan di
Afrika Utara. Dengan semangat membara, Mussolini
memutuskan untuk menyerbu Semenanjung Balkan lebih dalam
lagi, yaitu dua negara besar, Yugoslavia dan Yunani.
Italia menyerbu masuk ke dalam Yunani pada 28 Oktober
1940. Meski begitu, tentara Italia harus menerima, bahwa dirinya
dihabisi oleh pasukan gabungan Yunani dan Yugoslavia yang
disokong oleh Inggris. Italia bahkan lari terbirit-birit kembali ke
Albania, karena dikejar-kejar calon mangsanya sendiri.
Pasukan Yunani, Yugoslavia, dan Inggris bahkan bisa
menyerang balik dan mendesak pertahanan Italia di Albania.
Italia benar-benar gagal total dalam menginvasi seluruh Balkan
pada Maret 1941. Melihat sekutunya dipermalukan dengan
sangat tak terhormat, Jerman dengan baik hati mengirim bala
bantuan yang langsung mendapat kemenangan kembali atas
Albania.
Di Afrika Utara, perang terus berlanjut antara Italia yang
lemah melawan Inggris, Perancis, Australia, Mesir, Selandia
Baru, dan, kemudian Amerika Serikat sejak Desember 1941.
Pasukan Sekutu menyerang dari timur, merebut Tobruk
pada 22 Januari, setelah sebelumnya berhasil mengambil Bardia.
Pada 6 Februari, kota Benghazi direbut oleh Sekutu dan Italia
mulai kewalahan menghadapi pemberontakan rakyat Libya yang
mulai merasa kolonial Italia sudah semakin lemah.
Tripoli yang dijadikan ibukota kolonial pun, mengalami
kerusuhan yang hebat. Melihat hal ini, lagi-lagi Jerman berbaik
hati dan segera datang membantu di bawah komando Jenderal
Erwin Rommel yang dijuluki "serigala padang pasir".
Setelah menduduki Albania kembali dengan sukses,
Jerman dan Italia berencana mendapatkan Yugoslavia, negara
terbesar di Semenanjung Balkan. Invasi atas Yugoslavia diberi
nama Operasi 25 (Operation 25), yang dimulai pada 6 April
1941. Bersamaan dengan itu, Operasi Marita (Operation Marita)
juga dilancarkan, yaitu serangan Jerman terhadap Yunani.
Yugoslavia jatuh pada 17 April 1941 dan Yunani menyusul
sepuluh hari setelahnya.
Dengan dikalahkannya Yugoslavia, Jerman dan Italia
memecah-mecah negara tersebut menjadi tiga, yaitu negara
independen Kroasia, negara boneka Serbia yang dikendalikan
oleh Jerman, dan Montenegro yang menjadi negara protektorat
Italia.
Di Yunani, bendera swastika Nazi mulai berkibar sejak
Athena dirampas pada 27 April 1941. Tentara Inggris yang
beroperasi di Yunani mencoba melarikan diri ke Pulau Kreta.
Melalui Operasi Merkur (Operation Merkur), pasukan Jerman
membersihkan Pulau Kreta dari sisa-sisa tentara Inggris dan
memaksanya lari tunggang langgang menyelamatkan diri ke
Pulau Malta di Laut Mediterania.
Turki, bekas sekutu Jerman dalam Perang Dunia I (PD I),
yang juga memiliki wilayah kecil di Semenanjung Balkan,
segera mengerahkan pasukannya agar Jerman dan Italia tidak
bergerak lebih jauh lagi menuju Istanbul.
Operasi Merkur dijalankan begitu Hitler menghentikan
Battle of Britain pada Mei 1941, ketika Jerman merasa perang
tersebut tak menghasilkan apa-apa, akan tetapi Inggris
diuntungkan berkat keputusan Hitler itu.
RAF, meski kuat, tetapi benar-benar sudah habis-habisan
saat itu. Jika seandainya Jerman bersabar sedikit saja dan
meneruskan perang, maka tak akan ada lagi masa depan bagi
Kerajaan Inggris.
Pada Juni 1941, Angkatan Darat Australia dan Sekutu,
menginvasi Suriah dan Lebanon, merebut Damaskus pada 17
Juni 1941. Di Irak, terjadi penggulingan kekuasaan atas
pemerintah yang pro-Inggris oleh kelompok Rashid Ali yang
pro-Nazi.
Pemberontakan di dukung oleh Mufti Besar Jerusalem,
Haji Amin al-Husseini. Karena garis belakangnya terancam,
Inggris mengirimkan bala bantuan dari India dan menduduki
Irak. Pemerintahan pro-Inggris kembali berkuasa, sementara
Rashid Ali dan Haji Amin al-Husseini melarikan diri ke Iran.
Tetapi kemudian pasukan Inggris yang dibantu Uni Soviet,
menyerbu Iran dan menggulingkan rezim shah Iran yang pro-
Nazi. kedua tokoh itu kemudian menyelamatkan diri ke Eropa
melalui Turki, di mana mereka lalu bekerja sama dengan Hitler
untuk menyingkirkan orang Inggris dan Yahudi.
Uni Soviet sudah tak ingin lagi terlibat lebih jauh dalam
perang. Setelah puas melumat Finlandia, Stalin kini bisa duduk-
duduk dengan santai di kursi kekuasaannya. Ia masih saja
bermimpi membagi Eropa bersama Jerman, tetapi mimpinya itu
pupus di tengah jalan, ketika Operasi Barbarossa dimulai pada
22 Juni 1941, tiga minggu setelah Operasi Markur berakhir.
Tetapi pada kenyataannya, kedua belah pihak sama sekali
tak berniat memenuhi pakta yang telah mereka tanda tangani
pra-jatuhnya Polandia. Hitler hanya ingin Stalin diam, sementara
dia menggilas Eropa Barat, dan sebaliknya Stalin ingin Hitler
bungkam sementara, dia membangun tentara untuk
mempertahankan wilayahnya yang paling barat, yakni Polandia
bagian timur dan Ukraina.
Stalin tahu pasti, cepat atau lambat Hitler akan tergoda
untuk menyerang Uni Soviet yang begitu luas, yang dianggap
tambang emas sebenarnya oleh Nazi Jerman. Akan tetapi dia tak
mengira Hitler akan sudi terlibat dalam banyak pertempuran
untuk waktu yang relatif dekat.
Akibat kelalaian Stalin yang belum juga menempatkan
pasukan di perbatasan barat, lebih dari 3 juta serdadu Jerman
menyeberangi perbatasan menuju wilayah Uni Soviet. Serangan
tersebut hanya mengalami sedikit perlawanan. Hitler bahkan
berhasil menduduki Ukraina dan merebut Kiev.
Banyak warga Ukraina yang menuntut kemerdekaan dari
Uni Soviet, sehingga banyak yang membangkang dan bergabung
dengan Jerman. Sasaran utama Hitler ada dua, menguasai kota
Leningrad dan Moskow. Taktik Blitzkrieg digunakan lagi dalam
pertempuran ini, dengan harapan mampu meraih kemenangan
gemilang seperti yang sudah-sudah.
Tetapi kali ini berbeda. Jerman semakin terdesak, ketika
mencoba memasuki Uni Soviet lebih dalam. Perlawanan besar
terjadi beberapa mil di luar pintu gerbang ibukota Moskow.
Pasukan Soviet yang kuat, yang sukses mengalahkan Finlandia,
kini berhadapan langsung dengan pasukan negara yang telah
menaklukkan Eropa Barat. Pertempuran habis-habisan akan
dimulai, yang menjadi pertempuran paling berdarah di sepanjang
sejarah.
Di Asia, Jepang berhasil menguasai sejumlah negara-
negara di Kepulauan Pasifik. Hanya ada tiga musuh besar bagi
Jepang, yakni Australia, India yang dikendalikan Inggris, dan
Selandia Baru.
Pada 16 September 1940, RUU yang diajukan Presiden
Amerika Serikat, Franklin Delano Roosevelt, tentang mobilisasi
pasukan disetujui, dan ini membuat Jepang merasa terancam.
Hanya ada dua pilihan bagi Jepang, menyerang terlebih dahulu
dan menang atau menunggu hingga Amerika Serikat datang dan
menentangnya.
Maka pada 7 Desember 1941, pangkalan militer Amerika
Serikat di Hawaii, Pearl Harbor, dibombardir dan
menenggelamkan empat ratus kapal Amerika Serikat. Anehnya,
kapal-kapal penting dan kuat tidak ada di sana. Yang ada
hanyalah kapal-kapal tua yang lemah, yang mungkin bisa
tenggelam kapan saja tanpa diserang.
2403 orang meninggal, termasuk 68 warga sipil. Mereka
seperti korban yang sudah disiapkan Roosevelt, agar memiliki
alasan untuk ikut dalam pertempuran dalam Perang Dunia II (PD
II) ini. Maka sehari setelahnya, Amerika Serikat dan Inggris
menyatakan perang terhadap Jepang.
Sehari setelah menyerang Pearl Harbor, Jepang segera
menyerbu Filipina yang juga dikuasai Amerika Serikat. Serangan
bom menjadi awal penyerangan, dan berubah menjadi serangan
darat dua minggu kemudian.
Pasukan Amerika Serikat dan Filipina mencoba
mempertahankan wilayah, tetapi Jepang lebih kuat. Amerika
Serikat yang dipimpin Jenderal Douglas McArthur tergusur.
Langkah Jepang sangat gemilang, yang dapat disamakan dengan
blitzkrieg Jerman.
Jerman melihat Jepang sebagai sebuah kekuatan besar di
Asia yang dapat diandalkan. Angkatan perang Jepang berhasil
dengan sukses menghajar pertahanan negara-negara kolonial
Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat di Asia-Pasifik.
Hitler mencoba merangkul Jepang, dengan harapan dengan
itu Jepang akan sudi membantunya dengan menyerang Uni
Soviet dari timur, hal yang sebelumnya tak pernah dilakukan
Tokyo. Hitler menggambarkan keinginannya bersekutu dengan
Jepang melalui pernyataan perang dengan Amerika Serikat, hal
yang ditentang banyak anggota Nazi.
Para jenderal memohon agar Hitler tidak melakukan hal
tersebut. Mereka tak ingin berhadapan dengan dua legenda
sekaligus, Amerika Serikat dan Uni Soviet. Pertempuran front
timur sudah melelahkan, dan menambah-nambah front hanya
akan mengukir nisan Nazi saja.
Akan tetapi Hitler ingin menjadi orang yang memutuskan.
Akhirnya, pada 11 September 1941, Jerman dan Italia
menyatakan perang terhadap Amerika Serikat dalam waktu
hampir bersamaan.
Afrika Utara menjadi medan pertempuran yang panas.
Jerman dan Italia berhasil mengembalikan wilayah yang semula
direbut oleh Sekutu. Maroko, Tunisia, Aljazair, dan Sahara Barat
yang menrupakan jajahan Perancis yang sudah runtuh, otomatis
telah berada di bawah kontrol Jerman.
Dengan bala bantuan dari Jerman, Poros berhasil
memasuki Mesir dan membuat Sekutu terdesak. Jepang di Asia
berhasil merebut pulau-pulau Pasifik, seperti Pulau Guam dan
Wake yang dikuasai Amerika Serikat.
Pada Maret 1941, ketika pertempuran di Rusia dan Afrika
Utara semakin memanas, Jepang menyerbu Birma dan
menguasainya. Jepang kemudian mulai terfokus pada Port
Moresby di Papua Nugini, yang menjadi koloni Inggris.
Sekali lagi, Poros di Afrika Utara terjepit, karena Hitler
tengah terfokus pada Uni Soviet dan tidak terlalu memperhatikan
pertahanan di Afrika.
Jerman menyerahkan keamanan Laut Mediterania pada
angkatan laut Italia yang berjaga-jaga di sepanjang perairan, dari
Perancis hingga Tripoli, Libya. Italia berjaga-jaga dengan jumlah
pasukan yang banyak, yang diyakini Mussolini tak akan berhasil
ditembus Sekutu dengan usaha sekeras apapun.
Namun, kenyataannya lain. Kesalahan justru terjadi akibat
kelengahan tentaranya. Angkatan Udara Kerajaan Inggris
menyerbu Laut Mediterania dan menenggelamkan sebagian
besar kapal-kapal Italia yang berpatroli di lautan. Serangan ini
tak mampu ditahan Italia, karena tidak siaga.
Meski mendapat teguran dari Hitler, Mussolini dan Italia-
nya memang tak bisa diandalkan sejak awal. Kemudian tak lama
setelah itu gabungan angkatan udara Amerika Serikat dan Inggris
menyerang angkatan laut Italia lagi, dan sekali lagi, angkatan
laut Italia dapat dilumpuhkan secara total akibat ketidaksiagaan
pasukannya.
Dalam keadaan putus asa dan semakin terdesak, Rommel
meminta pengunduran dirinya pada Hitler, tetapi ditolak. Dia
dipaksa melanjutkan pertempuran, bahkan hingga sebagian besar
angkatan perang Italia telah lumpuh dan bantuan logistik telah
diblokir, karena Laut Mediterania telah berhasil direbut Sekutu.
Hitler lebih fokus pada Uni Soviet yang bertempur habis-habisan
dengan persenjataan yang lebih hebat.
Di tahun yang sama, Jepang menyerbu Hongkong, koloni
utama Inggris di China. Pasukan Inggris mencoba
mempertahankan Pulau Hongkong, tetapi hasilnya sama saja.
Pada 25 Desember 1941, bertepatan dengan hari Natal, seluruh
Hongkong sudah jatuh ke tangan Jepang.
Hari Natal yang seharusnya disambut dengan bahagia,
justru menjadi duka di pihak Inggris. Poros di Afrika Utara
semakin babak belur. Kota Benghazi di Libya berhasil dikuasai
oleh Inggris, dan Ajdabiya juga jatuh sehari setelahnya. Rommel
mendapat pukulan hebat ketika harus menelan kekalahan di front
El Agheila, Libya.
Pada 1 Januari 1942, bertepatan dengan tahun baru
Masehi, Deklarasi Persatuan Bangsa-Bangsa ditandatangani oleh
26 negara. Sembilan belas hari kemudian, Konferensi Wannsee
diadakan Nazi untuk membahas 'Solusi Akhir Pertanyaan
Yahudi'.
Berdasarkan hasil konferensi itu, jutaan orang Yahudi
mulai dieksekusi di kamp-kamp tahanan, holocaust sudah
semakin merajalela di seluruh Jerman. Salah satu korban
holocaust paling terkenal adalah Anne Frank, seorang Yahudi
Belanda yang kemudian menulis buku harian pengalamannya
selama di kamp. Bahkan, satu hal yang nyaris dilakukan Hitler,
dia hampir mengubah nama Berlin menjadi Germania.
Rommel tetap bertahan setelah permintaan mundurnya
ditolak Hitler. Dengan sukses dia mendapatkan kembali
Ajdabiya pada 23 Januari dan Benghazi enam hari kemudian.
Pasukan Jerman di tanah Rusia semakin terdesak. Jerman, yang
berperan sebagai pasukan garis depan, mengandalkan Italia,
Rumania, Hungaria, dan Bulgaria sebagai pasukan garis
belakang.
Tapi itulah kesalahan paling fatal Hitler. Tanpa
disadarinya, pasukan garis belakang yang dipimpin Italia
mengalami kehancuran setelah diserang mendadak oleh Tentara
Merah Soviet. Jerman mendapati dirinya terjebak tanpa
perlindungan belakang, dan mereka tidak siap menghadapi
musim dingin Rusia yang sangat kejam.
Pada Februari 1942, segelintir pasukan Jepang berhasil
meluluhlantakkan pasukan Inggris yang berjumlah jauh lebih
banyak di Singapura. Pulau Singapura dan sekitarnya jatuh ke
tangan Jepang pada hari itu juga, yang menjadi kekalahan paling
memalukan dalam sejarah angkatan bersenjata Inggris.
Pada bulan dan tahun yang sama, Jepang mulai mengincar
Semenanjung Malaya. Angkatan udara Jepang membombardir
Kuala Lumpur, Malaysia, yang dikendalikan Inggris. Pasukan
Inggris segera mempertahankan Brunei Darussalam, yang
merupakan tambang minyak incaran Jepang.
1 Maret 1942, Jawa yang dikendalikan Belanda, menyerah
tanpa syarat setelah Jepang mendarat di Tarakan dan mulai
mengancam akan mengebom Bandung. Seluruh wilayah Hindia
Belanda (sekarang menjadi Indonesia) telah jatuh ke tangan
Jepang. Sekitar 100 ribu tentara Belanda, Australia, Amerika
Serikat, dan Inggris ditawan di Indonesia.
Setelah menguasai hampir sebagian Asia Tenggara, Jepang
kembali fokus pada Filipina yang menyerah pada 9 April 1942 di
Tanjung Bataan, dan kemudian seluruh Filipina jatuh pada
kendali Jepang pada 6 Mei di Pulau Corregidor. Jenderal
Douglas McArthur yang dievakuasi ke Australia berkata "Aku
akan kembali", sebelum dia dibawa ke Australia.
Meski Jerman menggunakan serangan yang menyasar ke
sipil, sebenarnya Amerika Serikat dan Inggrislah yang
memulainya. Kedua negara memasuki Jerman daratan dan
mengebom kota-kota penting, membunuh rata-rata 100 sipil
dalam waktu sehari. Kota Hamburg dan Dresden nyaris hancur
total.
Jepang lebih menderita lagi, karena sebagian besar rumah-
rumahnya berdekatan dan terbuat dari kayu. Serangan udara
Amerika Serikat ke daratan Jepang pada 10 Maret 1942,
membuat badai api di angkasa Jepang, dan banyak warga sipil
yang tewas akibat serangan ini.
Dua hari sebelum menyerahnya Amerika Serikat di
Filipina, sebuah pertempuran di Coral Sea telah dimulai dan
dimenangkan Sekutu pada 8 Mei 1942. Kota Tobruk di Libya
bagian timur berhasil diambil lagi oleh Poros. Operasi
Barbarossa mengalami kebuntuan.
Pasukan Jerman semakin terjepit, meski sudah mengepung
Leningrad. Akhirnya Hitler merubah tujuannya. Dari semula
menggilas Uni Soviet, menjadi mendapatkan Rusia Selatan.
Namun, Stalin tak akan membiarkan hal itu terjadi.
Jepang dan Amerika Serikat bertempur di Midway, sebuah
pertempuran laut dimana pesawat-pesawat Amerika Serikat
berhasil menenggelamkan tiga kapal induk Jepang dalam waktu
yang begitu singkat, satu menit. Jepang tak pernah pulih sejak
kekalahannya disini.
Pada akhir bulan Juni, pertempuran El Alamien I
berlangsung dan dimenangkan Poros. Perlawanan Soviet di
Crimea berakhir pada 5 Juli 1942 dan kini Stalin bisa lebih
leluasa memfokuskan diri pada kecoa-kecoa Hitler di negaranya.
Melihat kekuatan yang sudah tak memungkinkan, Jerman
menarik diri dari Rusia Utara, menuju selatan.
Meski telah mengepung Leningrad selama 900 hari, tetapi
Perlawanan kuat dari Uni Soviet membuat Jerman tak bisa
menguasainya. Front Moskow mengalami kekalahan telak, dan
Hitler mencoba mengulur kekalahan dengan berusaha
mendapatkan sebuah kota di selatan, Stalingrad.
Langkah Jerman menuju Stalingrad bermula pada 9 Juli
1942. Ketika Jepang mulai melancarkan bombardir terhadap
Australia Utara, Jenderal Alexander dan Montgomery
mengambil alih komando Sekutu atas front di Timur Tengah
pada 13 Agustus 1942.
Kedua jenderal ternyata berhasil memusingkan Rommel.
Hitler, semakin pusing mendapat laporan hasil pertempuran
dimana-mana. Jepang harus mempertahankan wilayah yang
begitu luas dengan persenjataan yang semakin tipis. Pada 23
Agustus, pesawat-pesawat Jerman menyerang Stalingrad.
Di Afrika Utara, Rommel gagal melancarkan aksi di Alam
el Halfa. Pertempuran pecah di kota Stalingrad pada 13
September 1942. Kali ini Tentara Merah Soviet muncul dengan
kekuatan yang baru.
Georgy Zhukov, seorang jenderal cemerlang di pihak Uni
Soviet, merasa Jepang tak akan menyerang wilayahnya di Timur
Jauh, karena negara tersebut sedang sibuk mengurus musuh
utamanya, Amerika Serikat.
Zhukov mengerahkan pasukannya dari Siberia yang
dibantu persenjataan dan dukungan Tentara Merah. Orang-orang
Siberia adalah rakyat mahir berburu dan tidak takut dingin. Kini
mereka akan memulai perburuan lagi. Tapi sasarannya bukan
rusa ataupun beruang, melainkan tentara Jerman.
Pertempuran Stalingrad adalah pertempuran paling
berdarah sepanjang sejarah umat manusia. Kurang lebih tujuh
serdadu tewas setiap lima menitnya. Tentara Soviet mati-matian
mempertahankan kota dan Jerman yang semakin terdesak
dipaksa Hitler untuk tidak menyerah.
Hitler lupa kemampuan istimewa Soviet dalam
memobilisasi pasukan. Bantuan yang terus berdatangan
membuat Jerman benar-benar dihancurkan. Musim dingin Rusia
dimanfaatkan dengan sangat baik oleh pasukan Soviet. Banyak
tentara Jerman yang mati akibat penyakit dan kelaparan.
Satu-satunya tujuan mereka merebut Stalingrad bukan
karena paksaan dari Hitler, melainkan untuk mempertahankan
hidup. Pasukan Jerman yang kedinginan bisa saling bunuh,
hanya karena berebut gubuk dan jerami untuk menghangatkan
diri. Tapi Soviet berbeda, mereka bekerja sebagai seorang
profesional di medan perang dingin dan bersalju.
Perang Stalingrad berlangsung penuh darah. Soviet berada
di puncak pertempuran sejak 19 November 1942. Jerman
kebingungan menghadapi dua front sekaligus, di Eropa dan
Afrika Utara. Italia sudah tak bisa diandalkan dan Jepang terlalu
jauh dari jangkauan.
Montgomery melancarkan Operation Lightfoot di El
Alamien yang membuat pertahanan Poros di kota itu kocar-kacir
dan berhasil beralih kendali ke tangan Sekutu. Tiga hari
kemudian, yaitu pada 8 November 1942, Jenderal Dwight
Eisenhower dari Amerika Serikat melancarkan Operasi Obor
(Operation Torch) guna merebut Maroko dan Aljazair yang
dikendalikan pemerintah Perancis Vichy.
Hanya dalam waktu sehari, Sidi Barrani diambil alih lagi
oleh Sekutu, begitu juga dengan Tobruk empat hari kemudian.
Pada 15 Desember, Inggris merebut Derna, sementara Amerika
Serikat berhasil mendarat di Maroko dan Aljazair setelah
mengalahkan gabungan tentara Jerman dan Perancis Vichy pada
16 November 1942. Jerman dan Amerika Serikat lalu bertemu di
kota Djebel Abiod, Tunisia, sehari setelahnya.
Rommel kesulitan menghadapi dua jenderal jenius
sekaligus. Serdadu Sekutu yang dinamai Eighth Army, berhasil
menduduki Benghazi pada 20 November. Tentara Amerika
Serikat berjalan dan dalam waktu seminggu berhasil mencapai
kota Terbourba dan Djedeida, 12 mil dari Tunis, pusat
pertahanan Poros.
Akan tetapi Rommel berhasil mendorong mundur pasukan
tersebut di Medjez el Bab, dan memaksanya bertahan di
Terbourba yang kemudian gagal dipertahankan oleh Amerika
Serikat. Sementara itu, di timur, Eighth Army berhasil merebut
Sirte.
Jepang tak pernah memulai aksi dan terus bertahan sejak
Pertempuran Midway. Negara kecil itu harus mempertahankan
wilayah luasnya dari gempuran Amerika Serikat, Australia,
Selandia Baru, dan Inggris.
Ibukota kolonial Italia di Tripoli dirampas oleh Inggris
pada 23 Januari 1943. Rommel dan tentaranya terseok-seok
menyelamatkan diri ke Garis Mareth, perbatasan selatan Tunisia
dengan Libya. Dari Jalan Faid di pusat Tunis, Poros melangkah
menuju pertempuran Zizi Bouzid, dan tiba di Sbeteila dua hari
kemudian. Poros benar-benar semakin terdesak di Afrika Utara.
Di Stalingrad, Jerman sudah tak punya harapan untuk
menang, tetapi Hitler tetap bersikeras untuk menguasai kota.
Stalin menganggap Hitler melakukan aksi yang sia-sia, dan dia
tetap menolak menyerahkan Stalingrad sebagaimana Finlandia
menyerahkan Viipuri.
Serdadu Jerman akhirnya terkepung di kota, tanpa
makanan, tanpa bantuan logistik, tanpa persenjataan, dan Soviet
sudah siap melakukan strategi 'sapu habis', hingga akhirnya
serdadu Jerman menyerah pada 2 Februari 1943. Sisa-sisa
tentara Jerman ditawan, tapi perlakuan sebagai tawanan masih
lebih baik daripada kedinginan dan melanjutkan pertarungan
yang sia-sia di Stalingrad.
Stalingrad, sebuah kota di daratan Rusia, akhirnya menjadi
awal dari akhir para pasukan Nazi, yang dengan tak sengaja telah
mengukir batu nisannya sendiri. Pertempuran itu adalah
kekalahan pertama Jerman, sekaligus patokan dari kekalahan-
kekalahan Jerman pada pertempuran berikutnya.
Operation Vulcan yang dilancarkan Sekutu pada 7 Mei
1943 berhasil menyelesaikan Front Timur Tengah. Mereka
menyerbu masuk ke dalam Tunisia, satu-satunya wilayah
kekuasaan Poros yang tersisa di Afrika Utara. Bantuan tak bisa
lagi dikirim, karena Laut Mediterania yang tadinya diberikan
pada Italia, justru jatuh ke tangan Inggris, Australia, dan
Selandia Baru.
Rommel hanya tinggal menanti kekalahannya yang
pertama. Meski begitu, Nazi Jerman tetap mati-matian
mempertahankan Tunisia dengan percuma. Pertempuran besar
terjadi di Sfax, Sidi Bouzid, Terbourba, dan Djedeida. Garis
Mareth berhasil dikuasai Sekutu terlebih dahulu pada 23 Maret
1943.
Akhirnya Amerika Serikat dapat melaju kembali ke
Tunisia, setelah mendapat kebuntuan di Terbourba, setelah
Inggris berhasil menerobos pertahanan timur dan selatan Jerman
di Tunisia.
Pada 7 Mei 1943, pasukan Inggris memasuki ibukota
Tunis, Amerika Serikat mengambil kendali atas kota Bizerte, dan
Rommel dievakuasi kembali ke negaranya. Sisa-sisa serdadu
Jerman dan Italia menyerah di Tunis, Tunisia, pada 13 Mei 1943.
Front Afrika dan Timur Tengahpun berakhir di sini.
Jatuhnya Tunis dan kekalahan Poros di Afrika Utara dan
Stalingrad, adalah awal dari kekalahan beruntun Italia dan
Jerman, sementara kekalahan Jepang atas Midway adalah titik
balik yang signifikan.
Setelah kekalahan Poros di Afrika Utara, Uni Soviet dan
Amerika Serikat mulai mengambil andil dalam pembebasan Asia
dan Eropa. Pakta Non-Agresi telah gagal disepakati dan Soviet
kini mulai tergiur melihat Jerman yang sudah lemah, setelah
kegagalan atas Stalingrad.
C. Akhir Perang Dunia 2

1. Konferensi Postdam antaraSekutu dan Jerman (2 Agustus 1945)

a) Jerman dibagi menjadi empat daerah pendudukan, yaitu Jerman Barat


dikuasai Amerika Serikut, Inggris, dan Perancis, sedangkan Jerman
Timur dikuasai Rusia.
b) Kota Berlin dibagi dua, yaitu Berlin Barat dikuasai oleh Amerika
Serikat, Inggris, dan Perancis, sedangkan Berlin Timur dikuasai Rusia.
c) Kota Danzig dikembalikan kepada Polandia.
d) Penjahat perang harus dihukum.
e) Jerman harus membayar ganti akibat kerugian perang.

2. Pertemuan Sekutu dan Jepang di Kapal Missouri (2 September 1945)

Pada 2 September 1945 berlangsung pertemuan antara Sekutu (Amerika


Serikat) dan Jepang dikapan l Missouri di Teluk Tokyo. Hasil keputusan
yang dicapai adalah pernyataan penyerahan Jepang tanpa syarat kepada
pihak sekutu.

3. Perdamaian Paris antara Sekutu dan Italia (Februari1947)

a) Semua jajahan Italia di Afrika Utara diambil Inggris.


b) Daerah Italia diperkecil.
c) Italia harus membayar kerugian perang.
d) Abessynia dan Albania dimerdekakan kembali.
e) Trieste menjadi Negara merdeka dibawah PBB.

D. Tokoh-tokoh dalam Perang Dunia 2


Banyak yang terllibat dalam Perang Dunia 2. Jadi tidak heran kalau
banyaknya tokoh yang berpengaruh dalam Perang Dunia 2. Salah satunya akan
dibahas dibawah :
1. Adolf Hitler

Seorang politisi Jerman dan ketua Partai Nazi Dalam diskusi pribadi tahun
1939, Hitler menyatakan Britania sebagai musuh utama yang perlu
dikalahkan dan pemusnahan Polandia adalah prasyarat yang diperlukan
demi mencapai tujuan tersebut. Sisi timur akan di amankan dan daratannya
dimasukkan dalam Lebensraum Jerman. Dalam sebuah pidato di
Wilhelmshaven pada acara peluncuran kapal perang Tirpitz tanggal 1 April,
ia mengancam akan membatalkan Perjanjian Laut Inggris Jerman jika
Britania terus menjamin kemerdekaan Polandia, yang ia pandang sebagai
kebijakan "pengepungan".
2. Benito Mussolini

Seorang diktator Italia yang menganut Fasis. Ia adalah diktator Italia


pada periode 1922-1943. Mussolini dipaksa mundur dari jabatan Perdana
Menteri Italia pada 28 Juli 1943 setelah serangkaian kekalahan Italia di
Afrika. Setelah ditangkap, ia diisolasi. 28 April 1945, ia dieksekusi gantung
dan dipertontonkan kepada publik di Como, Italia utara.2 Mussolini
mengakhiri sebuah dekade seperti di Jerman yang dilakukan diktator Adolf
Hitler dengan Nazi-nya.

3. Kaisar Hirohito
Lahir di Puri Aoyama,
Tokyo, Jepang, 29 April 1901
meninggal 7 Januari 1989 pada
umur 87 tahun adalah kaisar
Jepang yang ke-124. Dalam

22
Marvin Perry, Peradaban Barat: Dari Revolusi Perancis Hingga Zaman Global. (Jakarta:
Kreasi Wacana, 2014), hlm. 399.
sejarah Jepang dia adalah Kaisar terlama yang memerintah (1926-1989)
dan merupakan salah satu tokoh penting pada masa Perang Dunia II dan
pembangunan kembali Jepang. Menjelang akhir perang (1945), Jepang
sudah praktik kalah perang. Angkatan Lautnya bisa dikatakan hampir
habis dan Angkatan Daratnya kewalahan.

4. Doughlas Mac Arthur


Douglas MacArthur
adalah pejuang terkenal yang
memainkan peran yang
mencolok dalam Perang Pasifik
dalam Perang Dunia 2 yang
selanjutnya mencapai klimaks di
Hiroshima dan Nagasaki (Bom),
sehingga menarik Jepang untuk
menyerah. Untuk layanan yang
luar biasa dalam Kampanye
Filipina, Jenderal MacArthur
dianugerahi Medali Kehormatan.
Selain melayani sebagai Pengawas dari Akademi Militer Amerika Serikat
di West Point, ia juga menjabat sebagai Penasihat Militer kepada
Pemerintah Persemakmuran Filipina.
5. Jendral Erwin Rommel

Johannes Erwin Eugen


Rommel lahir di Heidenheim
pada 15 November 1891.
Dihormati oleh pasukan sendiri
dan pasukan lawan karena
menjadi petugas murah hati,
Erwin Rommel adalah Marsekal
Lapangan Jerman selama Perang Dunia 2 yang memimpin pasukan Jerman
melawan Sekutu selama invasi Normandia. Dihitung di antara salah satu
komandan paling berpengalaman dari gurun perang, Jenderal Rommel
yang populer dikenal dengan julukan "Desert Fox." Sepanjang pelayanan,
ia tidak pernah dituduh melakukan kejahatan perang, dan lebih jauh lagi,
ia menentang untuk membunuh tentara atau warga sipil yang ditangkap.

6. Winston Churchill
Nama lengkapnya adalah Sir
Winston Leonard Spencer
Churchill, lahir di Oxfordshire
Inggris pada 30 November 1874
dan meninggal tepat pada umur 90
tahun di tanggal 24 Januari 1965
dan dimakamkan di Gereja St.
Martin, Bladon. Beliau merupakan
tokoh politik, pengarang buku dan
Perdana Menteri Britania Raya
masa jabatan 10 Mei 1940-26 Juli
1945. Dikenal sebagai orator ulung, ahli strategi dan politisi membuatnya
masuk tokoh paling berpengaruh di Sejarah Dunia. Pada tahun 1953,
Churchill mendapat penghargaan Nobel karena memberi sumbangan di
bidang literatur lewat buku karangannya tentang bahasa Inggris dan sejarah
dunia. Salah satu penggalan Churchill dalam berorasi “Pertempuran Inggris
masih baru dimulai, kelangsungan hidup peradaban Kristen tergantung
kepada pertempuran ini... jika kita gagal, maka.... semua yng kita kenal dan
kita pedulikan akan tenggelam ke jurang dalam Zaman Kegelapan baru.”3

3
Ibid., hlm. 390
7. Jendral Bernard L. Montgomery

Field Marshal Bernard Law Montgomery, 1st Viscount Montgomery


of Alamein, KG, GCB, DSO, PC (lahir di London, Inggris, 17 November
1887 – meninggal di Alton, Hampshire, Inggris, 24 Maret 1976 pada umur
88 tahun), yang dijuluki "Monty" atau "Spartan General", adalah seorang
perwira Angkatan Darat Britania Raya. Ia menjadi terkenal karena berhasil
memimpin pasukan Sekutu dalam Pertempuran El Alamein, sebuah
pertempuran penting pada Perang Dunia II, di mana pasukannya berhasil
mengusir pasukan Blok Poros dari Afrika Utara yang dipimpin oleh
Jenderal Erwin Rommel.4 Ia lalu menjadi komandan penting di Front Italia
dan Eropa Barat, di mana ia mengkomandani seluruh pasukan darat Sekutu
pada Invasi Normandia.
E. Dampak dari Perang Dunia 2
Tentunya setiap peristiwa mempunyai dampak, baik itu dampak positif
maupun negatif. Apalagi ini termasuk peristiwa yang melibatkan sebagian besar

4
Ibid., 399.
dari penduduk bumi. Pada pembahasan ini dikaji dampak dari sudut aspek
kehidupan yaitu ekonomi, politik dan sosial.5
1. Bidang Politik
a) Amerika serikat dan Uni Soviet muncul sebagai negara raksasa
b) Terjadi perebutan pengaruh antar Amerika dan Uni Soviet sehingga
muncul Blok Barat dan Blok Timur dengan NATO dan Pakta
Warsanya.
c) Tumbangnya beberapa imperialis di Asia dan pasifik
d) Terbentuknya organisasi perdamaian dunia PBB (Perserikatan Bangsa-
Bangsa)
e) Banyak negara-negara di Asia Afrika mendapatkan kemerdekaan

2. Bidang Ekonomi
a) Sektor-sektor ekonomi dunia mengalami kerusakan
b) Sarana dan prasarana kehidupan, seperti rumah, gedung, jembatan, jalan
raya hancur
c) Amerika menjadi negara penyumbang pinjaman (kreditur dunia)
 Truman Doctrin, bantuan ekonomi kepada Turki dan Yunani.
 Point Four Truman, bantuan ekonomi dan militer kepada negara
yang terbelakang, termasuk Jerman dan Jepang karena kalah
dalam perang.
 Marshall Plan, bantuan ekonomi, keuangan dan Eropa kepada
negara-negara Eropa yang hancur akibat perang.

3. Bidang Sosial
a) Perang Dunia 2 menelan korban jiwa mencapai 50 juta, termasuk 20
juta orang Rusia.
b) Iptek berkembang dengan pesat seiring dengan pertahanan diri negara
masing-masing.

5
Ibid., 401-403.
c) Untuk membantu penduduk yang menderita, PBB membentuk UNRRA
yang bertugas :
 Memberi makan kepada orang-orang yang terlantar
 Mendirikan rumah sakit

 Mengurus pengungsi & mempertemukan dengan keluarganya


 Memperbaiki kembali tanah yang rusak akibat perang.

F. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi pada Perang Dunia 2


1. Silbervogel bomber

Silbervogel disebut sebagai Pembom Roket pada akhir 1930-an


yang dirancang untuk pembom sub-orbital. Senjata ini dirancang dengan
serba kuat lengkap dengan tenaga roket. Pembom roket ini digunakan oleh
orang Jerman dalam Perang Dunia II.

2. Kapal perang Yamato-Class


Yamato-Class dianggap sebagai kapal perang paling kuat selama
Perang Dunia II dengan muatan penuh sekitar 72.000 ton. Kapal itu adalah
kapal perang Jepang yang terdiri dari artileri terberat yang dipasang di
kapal. Kerang yang dipasang pada artileri itu seberat 1.460 kg dan mampu
menembus apapun dalam perjalanan ke jarak 42 km

3. Tikus peledak

Tikus peledak juga dikenal sebagai bom tikus oleh Eksekutif Operasi Khusus
Inggris untuk melawan orang-orang Jerman selama Perang Dunia II. Churchill
memainkan peran penting dalam membuat Eropa kacau, tempat tikus-tikus
berbahaya ini muncul.

Bangkai tikus penuh dengan bahan peledak dan didistribusikan di dekat ruang
boiler Jerman. Selanjutnya tebak saja, banyak kekacauan di seluruh kota yang
menyebabkan kerugian ekonomi dan sosial bagi orang Jerman selama Perang
Dunia II.

4. The V2 Rocket
Roket V-2
merupakan rudal balistik
jarak jauh pertama dan
dikembangkan oleh
orang Jerman selama
Perang Dunia II sebagai senjata balas dendam.
Diluncurkan secara vertikal, roket V2 menjadi objek buatan pertama yang
melintasi batas ruang. Roket ini sangat mematikan di mana mampu
bergerak secara vertikal sejauh enam mil sebelum menembus jalan
menjadi horisontal. 'Monster' ini memiliki kecepatan 4.000 mil per jam
dan menggali beberapa kaki di tempat yang ditargetkan sebelum meledak.
Selain itu, roket ini mampu membunuh lebih dari 9.000 orang di
sekitarnya.

5. Bom atom
Bom atom merupakan penemuan terbesar dan mematikan di dunia
sepanjang masa. Amerika Serikat merupakan negara pertama yang

menggunakan bom atom untuk menyerang dua kota di Jepang, Hiroshima


dan Nagasaki pada tahun 1945. Satu bom atom memiliki energi setara 10
juta TNT. Selain itu, ledakan dan penghancurannya memang mengerikan.
Namun radiasi dari bom ini jauh lebih berbahaya yang bisa menyebabkan
mutasi pada manusia dan hewan.
6. Tank goliat

Tak hanya membuat Fritz-X yang terbang di angkasa, Nazi Jerman


juga mengembangkan Goliath. Senjata ini memiliki bentuk seperti tank,
tapi bentuknya mini. Goliath dirancang untuk membawa 60 atau 100
kilogram bahan peledak tinggi dan berjalan hingga 10 kilometer per jam.
Senjata ini dioperasikan menggunakan kendali jarak jauh. Ada dua yang
dikembangkan, satu menggunakan listrik dan satunya menggunakan
bensin. Karena berfungsi dengan ledakan, hanya digunakan sekali pakai.
Goliath mulai dikerahkan pada awal 1942 dan akan terus digunakan di
semua lini perang tempat pasukan Jerman bertempur. Meskipun bertubuh
kecil, Goliath punya kemampuan untuk menghancurkan bangunan dan
struktur lain, seperti jembatan.

7. Jet Tempur Kyushu J7W1 Shinden


Kyushu J7W1 Shinden, pesawat terbang super cepat yang digunakan oleh
tentara Jepang pada perang dunia ke 2.

Walaupun hanya sebatas protipe, sekutu tertarik dengan senjata ini.


Hingga perang berakhir Shinden menjadi basis pengembangan Curtiss
Wright XP-55 Ascender, pesawat Shinden memiliki bentuk yang tidak
biasa dengan meletakan baling-baling pada bagian belakang dan sepasang
sirip canard pada bagian depan pesawat.

8. Zielgerat 1229
ZG 1229 Vampir 1229 ( ZG 1229 ), juga dikenal dengan nama kode
Vampir, adalah perangkat inframerah aktif yang dikembangkan untuk
Wehrmacht untuk senapan serbu Sturmgewehr 44 selama Perang Dunia 2,
yang dimaksudkan terutama untuk penggunaan malam hari. Tentara NAZI
sukses menggunakan senjata ini untuk membunuh tentara sekutu, memiliki
bentuk yang besar dan masih menggunakan batre aki sebagai sumber
tenaga dengan cara digendong seperti ransel.

DAFTAR PUSTAKA

Djaja, Wahjudi. 2012. Sejarah Eropa Dari Eropa Kuno Hingga Eropa Modern.
Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Perry, Marvin. 2014. Peradaban Barat: Dari Revolusi Perancis Hingga Zaman
Global. Jakarta: Kreasi Wacana.

Mandasari, Rizki (07 November 2017) https://www.brilio.net/wow/10-senjata-


paling-mematikan-saat-perang-dunia-ii-ada-tikus-anjing-171107f.html.
(diakses pukul 23.40 tanggal 16 Juni 2019).