Anda di halaman 1dari 15

“ AGAMA DAN TIPE-TIPE

MASYARAKAT ”
di susun untuk memenuhi tugas mata kuliah materi sosiologi agama
Dosen pengampu :
Dr. CHASIRU ZAINAL ABIDIN, M.Pd.I

Disusun Oleh :
MOCHAMMAD NURWAHYUDI (5.16.05.12.0.023)

UNIVERSITAS ISLAM MAJAPAHIT


Fakultas pendidikan islam
Pendidikan agama islam
Tahun 2018
BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Kaitan agama dengan masyarakat banyak dibuktikan oleh pengetahuan

agama yang meliputi penulisan sejarah dan figur nabi dalam mengubah kehidupan

sosial, argumentasi rasional tentang arti dan hakikat kehidupan, tentang Tuhan dan

kesadaran akan maut menimbulkan religi, dan sila Ketuhanan Yang Maha Esa

sampai pada pengalaman agamanya para tasawuf. Bukti diatas sampai pada pendapat

bahwa agama merupakan tempat mencari makna hidup yang final. Kemudian pada

urutannya agama yang diyakininya merupakan sumber motivasi tindakan individu

dalam hubungan sosial dan kembali kepada konsep hubungan agama dengan

masyarakat, dimana pengalaman keagamaan akan terefleksikan pada tingkatan

sosial, dan individu dengan masyarakat seharusnya tidak bersifat antagonis.

Membicarakan peranan agama dalam kehidupan sosial menyangkut dua hal yang

sudah tentu hubungannya erat, memiliki aspek-aspek yang terpelihara. Yaitu

pengaruh dari cita-cita agama dan etika agama dalam kehidupan individu dari kelas

sosial dan grup sosial, perseorangan dan kolektivitas, dan mencakup kebiasaan dan

cara semua unsur asing agama diwarnainya. Yang lainnya juga menyangkut

organisasi dan fungsi lembaga agama sehingga agama dan masyarakat itu berwujud

kolektivitas ekspresi nilai-nilai kemanusiaan, yang mempunyai seperangkat arti

mencakup perilaku sebagai pegangan individu dengan kepercayaan dan taat kepada

agamanya. Agama sebagai suatu sistem mencakup individu dan masyarakat, seperti

adanya emosi keagamaan, keyakinan terhadap sifat faham, ritual, serta umat atau
kesatuan sosial yang terkait agamanya. Agama dan masyarakat dapat pula

diwujudkan dalam sistem simbol yang memantapkan peranan dan motivasi

manusianya, kemudian terstrukturnya mengenai hukum dan ketentuan yang berlaku

umum, seperti banyaknya pendapat agama tentang kehidupan dunia seperti masalah

keluarga, bernegara, konsumsi, produksi, hari libur, prinsip waris, dan sebagainya.

Kebutuhan dan pandangan kelompok terhadap prinsip keagamaam berbeda-beda.

Karena itu kebhinekaan kelompok dalam masyarakat akan mencerminkan perbedaan

jenis kebutuhan keagamaan.

1.2. Rumusan Masalah

1. Apa pengertian agama dan masyarakat ?

2. Bagaimana fungsi agama sebagai aspek penting nilai, kebudayaan,sosial

kelembagaan agamadalam masyarakat?

BAB II

PEMBAHASAN

2.1Pengertian Agama dan Masyarakat

Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip

kepercayaan kepada Tuhan, atau juga disebut dengan nama Dewa atau nama lainnya

dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan

kepercayaan tersebut. Sedangkan Agama di Indonesia memegang peranan penting


dalam kehidupan masyarakat. Hal ini dinyatakan dalam ideologi bangsa Indonesia,

Pancasila: “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Masyarakat sebagai terjemahan istilah society adalah sekelompok orang yang

membentuk sebuah sistem semi tertutup atau semi terbuka, dimana sebagian besar

interaksi adalah antara individu-individu yang berada dalam kelompok

tersebut. Kata "masyarakat" sendiri berakar dari kata dalam bahasa Arab, musyarak.

Lebih abstraknya, sebuah masyarakat adalah suatu jaringan hubungan-hubungan

antar entitas-entitas. Masyarakat adalah sebuah komunitas yang interdependen

(saling tergantung satu sama lain). Umumnya, istilah masyarakat digunakan untuk

mengacu sekelompok orang yang hidup bersama dalam satu komunitas yang teratur.

Menurut Syaikh Taqyuddin An-Nabhani, sekelompok manusia dapat

dikatakan sebagai sebuah masyarakat apabila memiliki pemikiran, perasaan, serta

sistem/aturan yang sama. Dengan kesamaan-kesamaan tersebut, manusia kemudian

berinteraksi sesama mereka berdasarkan kemaslahatan.

2.2 Ruang Lingkup Agama

Secara garis besar ruang lingkup agama mencakup :

1. Hubungan manusia dengan tuhannya

Hubungan dengan tuhan disebut ibadah. Ibadah bertujuan untuk mendekatkan diri

manusia kepada tuhannya.

2. Hubungan manusia dengan manusia

Agama memiliki konsep-konsep dasar mengenai kekeluargaan dan kemasyarakatan.

Konsep dasar tersebut memberikan gambaran tentang ajaran-ajaran agama mengenai

hubungan manusia dengan manusia atau disebut pula sebagai ajaran kemasyarakatan.
Sebagai contoh setiap ajaran agama mengajarkan tolong-menolong terhadap sesama

manusia.Hubungan manusia dengan makhluk lainnya atau lingkungannya.

Di setiap ajaran agama diajarkan bahwa manusia selalu menjaga keharmonisan

antara makluk hidup dengan lingkungan sekitar supaya manusia dapat melanjutkan

kehidupannya.

2.3Fungsi Agama

Fungsi agama dalam masyarakat ada tiga aspek penting yang selalu dipelajari,

yaitu kebudayaan, system social, dan kepribadian. Ketiga aspek tersebut merupakan

kompleks fenomena social terpadu yang pengaruhnya dapat diamati dalam perilaku

manusia, sehingga timbul pertanyaan, sejauh mana fungsi lembaga agama dalam

memelihara system, apakah lembaga agama terhadap kebudayaan sebagai suatu

system, dan sejauh manakah agama dalam mempertahankan keseimbangan pribadi

melakukan fungsinya. Pertanyaan itu timbul sebab, sejak dulu sampai saat ini, agama

itu masih ada dan mempunyai fungsi, bahkan memerankan sejumlah fungsi.

Teori fungsional dalam melihat kebudayaan pengertiannya adalah, bahwa

kebudayaan itu berwujud suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-

norma, peraturan, dan system social yang terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia-

manusia yang berinteraksi, berhubungan, serta bergaul satu dengan lain, setiap saat

mengikuti pola-pola tertentu berdasarkan adat tata kelakuan, bersifat kongkret terjadi

di sekeliling. Dalam hal ini kebudayaan menentukan situasi dan kondisi bertindak,

mengatur dengan system social berada dalam batasan sarana dan tujuan, yang

dibenarkan dan yang dilarang.

Manusia yang berbudaya menganut berbagai nilai, gagasan, dan orientasi yang

terpola mempengaruhi perilaku, bertindak dalam konteks terlembaga dalam lembaga


situasi, di mana peranan dipaksakan oleh sanksi positif dan negative, menolakan

penampilannya, tetapi yang bertindak, berpikir dan merasa adalah individu. Teori

fungsionalisme melihat agama sebagai penyebab social yang dominan dalam

terbentuknya lapisan social, perasaan agama, dan termasuk konflik social. Agama

dipandang sebagai lembaga social yang menjawab kebutuhan mendasar yang dapat

dipenuhi kebutuhan nilai-nilai duniawi.

Aksioma teori fungsional agama adalah segala sesuatu yang tidak berfungsi akan

lenyap dengan sendirinya, karena agama sejak dulu sampai saat ini masih ada,

mempunyai fungsi, dan bahkan memerankan sejumlah fungsi. Teori fungsionalis

agama juga memandang kebutuhan “sesuatu yang mentransendensikan pengalaman”

sebagai dasar dari karakteristik dasar eksistensi manusia meliputi: pertama, manusia

hidup dalam kondisi ketidakpastian, hal penting bagi keamanan dan kesejahteraan

manusia berada di luar jangkaun. Kedua, kesanggupan manusia untuk

mengendalikan dan mempengaruhi kondisi hidupnya terbatas, dan pada titik dasar

tertentu kondisi manusia dalam kaitan konflik antara keinginan dengan lingkungan

ditandai oleh ketidak berdayaan. Ketiga, manusia harus hidup bermasyarakat, dimana

ada lokasi yang teratur dari berbagai fungsi, fasilitas, dan ganjaran. Ini mencakup

pembagian kerja dan produk.

Jadi, seorang fungsionalis memandang agama sebagai petunjuk bagi manusia

untuk mengatasi diri dari ketidakpastian, ketidakberdayaan, dan kelangkaan dan

agama dipandang sebagai mekanisme penyesuaian yang paling dasar terhadap unsur-

unsur tersebut.

Fungsi agama di bidang social adalah fungsi penentu, dimana agama

menciptakan suatu ikatan bersama, baik diantara anggota-anggota beberapa


masyarakat maupun dalam kewajiban-kewajiban social yang membantu

mempersatukan mereka.

Fungsi agama dalam pengukuhan nilai-nilai, bersumber pada kerangka acuan

yang bersifat sacral, maka normanya pun dikukuhkan dengan sanksi-sanksi sacral.

Dalam setiap masyarakat sanksi sacral mempunyai kekuatan memaksa istimewa,

karena ganjaran dan hukumannya bersifat duniawi dan supramanusiawi dan ukhrowi.

Fungsi agama sebagai sosialisasi individu ialah individu, pada saat dia tumbuh

menjadi dewasa, memerlukan suatu system nilai sebagai semacam tuntunan umum

untuk (mengarahkan) aktivitasnya dalam masyarakat, dan berfungsi sebagai tujuan

akhir pengembangan kepribadiannya. Masalah fungsionalisme agama dapat

dianalisis lebih mudah pada komitmen agama, dimensi komitmen agama, menurut

Roland Robertson (1984), diklasifikasikan berupa keyakinan, praktek, pengalaman,

pengetahuan, dan konsekuensi.

a. Dimensi keyakinan mengandung perkiraan atau harapan bahwa orang yang religious

akan menganut pandangan teologis tertentu, bahwa ia akan mengikuti kebenaran

ajaran-ajaran agama.

b. Dimensi pengetahuan dikaitkan dengan perkiraan, bahwa orang-orang yang bersikap

religious akan memiliki informasi tentang ajaran-ajaran pokok keyakinan dan

upacara keagamaan, kitab suci, dan tradisi-tradisi keagamaan mereka.

c. Dimensi konsekuensi dari komitmen religius berbeda dengan tingkah laku

perseorangan dan pembentukan citra pribadinya.

d. Dimensi pengalaman memperhitungan fakta, bahwa semua agama mempunyai

perkiraan tertentu, yaitu orang yang benar-benar religius pada suatu waktu akan
mencapai pengetahuan yang lansung dan subjektif tentang realitas tertinggi, mampu

berhubungan, meskipun singkat, dengan suatu perantara yang supernatural.

e. Praktek agama mencakup perbuatan-perbuatan memuja dan berbakti yaitu perbuatan

untuk melaksanakan komitmen agama secara nyata.

2.3Pelembagaan Agama

Agama begitu universal, permanen(langsung), dan mengatur dalam

kehidupan. Sehingga bila tidak memehami agama, akan sukar memahami

masyarakat. Hal yang perlu dijawab dalam memahami lembaga agama adalah apa

dan mengapa agama ada, unsur-unsur dan bentuknya serta fungsinya dan struktur

agama.Dimensi ini mengidentifikasi pengaruh-pengaruh kepercayaan, praktek,

pengalaman, dan pengatahuan keagamaan didalam kehidupan sehari-hari.

Terkandung makna ajaran “kerja” dalam pengertian teologis.

Dimensi keyakinan, praktek, pengalaman dan pengetahuan dapat diterima

sebagai dalil atau dasar analitis, Namun hubungan-hubugnan antara keempatnya

tidak dapat diungkapkan tanpa data empiris. Kaitan agama dan masyarakat dapat

mencerminkan tiga tipe, meskipun tidak menggunakan sebenarnya secara utuh

(Elizabeth K. Nottingham, 1995).

A. Masyarakat yang terbelakang dan nilai-nilai sakral

Masyarakat tipe ini kecil, terisolasi, dan terbelakang. Anggota masyarakat menganut

agama yang sama. Oleh karenanya keanggotaan mereka dalam masyarakat dan

dalam kelompok keagamaan adalah sama. Agama menyusup kedalam kelompok

aktivitas yang lain. Sifat-sifatnya :


1). Agama memasukan pengaruhnya yang sakral kedalam sistem nilai masyarakat

secara mutlak.

2.) Dalam keadaan lembaga lain selain keluarga relatif belum berkembang, agama

jelas menjadi fokus utama bagi pengintegrasian dan persatuan dari masyarakat secara

keseluruhan. Dalam hal ini nilai-nilai agama sering meningkatkan konservatisme dan

menghalangi perubahan.

B. Masyarakat praindustri yang sedang berkembang

Masyarakatnya tidak terisolasi, ada perkembangan teknologi. Agama

memberi arti dan ikatan kepada sistem nilai dalam tiap masyarakat, pada saat yang

sama, lingkungan yang sakral dan yang sekular masih dapat dibedakan. Fase

kehidupan sosial diisi dengan upacara-upacara tertentu. Di pihak lain, agama tidak

memberikan dukungan sempurna terhadap aktivitas sehari-hari, agama hanya

memberikan dukungan terhadap adat-istiadat.

Pendekatan rasional terhadap agama dengan penjelasan ilmiah biasanya akan

mengacu dan berpedoman pada tingkah laku yang sifatnya ekonomis dan teknologis

dan tentu akan kurang baik. Karena adlam tingkah laku, tentu unsur rasional akan

lebih banyak, dan bila dikaitkan dengan agama yang melibatkan unsur-unsur

pengetahuan di luar jangkauan manusia (transdental), seperangkat symbol dan

keyakinan yang kuat, dan hal ini adalah keliru. Karena justru sebenarnya, tingkah

laku agama yang sifatnya tidak rasional memberikan manfaat bagi kehidupan

manusia.

Agama melalui wahyu atau kitab sucinya memberikan petunjuk kepada

manusia untuk memenuhi kebutuhan mendasar, yaitu selamat di dunia dan akhirat.
Dalam perjuangannya, tentu tidak boleh lalai. Untuk kepentingan tersebut, perlu

jaminan yang memberikan rasa aman bagi pemeluknya. Maka agama masuk dalam

sistem kelembagaan dan menjadi sesuatu yang rutin. Agama menjadi salah satu aspek

kehiduapan semua kelompok sosial, merupakan fenomena yang menyebar mulai dari

bentuk perkumpulan manusia, keluarga, kelompok kerja, yang dalam beberapa hal

penting bersifat keagamaan.

Adanya organisasi keagamaan, akan meningkatkan pembagian kerja dan

spesifikasi fungsi,juga memberikan kesempatan untuk memuaskankebutuhan

ekspresif dan adatif.

Pengalaman tokoh agama yang merupakan pengalaman kharismatik, akan

melahirkan suatu bentuk perkumpulan keagamaan yang akan menjadi organisasi

keagamaan terlembaga. Pengunduran diri atau kematian figure kharismatik akan

melahirkan krisis kesinambungan. Analisis yang perlu adalah mencoba memasukkan

struktur dan pengalaman agama, sebab pengalaman agama, apabila dibicarakan, akan

terbatas pada orang yang mengalaminya. Hal yang penting untuk dipelajari adalah

memahami “wahyu” atau kitab suci, sebab lembaga keagamaan itu sendiri

merupakan refleksi dari pengalaman ajaran wahyunya.

Lembaga keagamaan pada puncaknya berupa peribadatan, pola ide-ide dan

keyakinan-keyakinan, dan tampil pula sebagai asosiasi atau organisasi. Misalnya

pada kewajiban ibadah haji dan munculnya organisasi keagamaan.

Lembaga ibadah haji dimulai dari terlibatnya berbagai peristiwa. Ada nama-

nama penting seperti Adam a.s, Ibrahim a.s, Siti Hajar, dan juga syetan; tempatnya

adalah Masjidil-Haram, Mas’a, Arafah, Masy’ar, Mina, serta Ka’bah yang


merupakan symbol penting; ada peristiwa kurban, pakaian ihram, tawaf, sa’I, dan

sebagainya.

Adam dan Hawa dalam keadaan terpisah, kemudian keduanya berdoa : “Ya,

Tuhan kami, kami telah menganiaya diri sendiri, dan jika engkau tidak mengampuni

kami dan memberi rahmat kepada kami, niscayalah kami termasuk orang-orang yang

merugi.” (Q.S al-A’raf : 23).

Setelah itu Allah SWT memerintahkan Adam untuk ibadah haji (pergi ke

sesuatu untuk mengunjunginya). Saat sampai di suatu tempat (Arafah= tahu, kenal),

maka bertemulah ia dengan Hawa setelah diusir dari surge. Sebab itu dalam

pelaksanaan ibadah haji, ada ketentuan wukuf (singgah).

Nama nabi Ibrahim a.s selalu dikaitkan dengan Ka’bah sebagai pusat rohani

agama Islam (Kiblatnya Islam). Pada suatu peristiwa Allah memerintahkan Jibril

membawa Ibrahim a.s, Siti Hajar dan Ismail a.s putranya yang masih kecil ke

Makkah dari Palestina. Di suatu tempat, Ibrahim a.s atas perintah Allah SWT supaya

meninggalkan istri dan putranya. Kemudian Ismail menangis meminta air, tentu saja

Siti Hajar menjadi khawatir dan gelisah, maka ia pun berlari mencari air ke bukit

Shafa dan Marwa sebanyak tujuh kali.

Setelah itu dengan kuasa Tuhan, memancarlah air dari dekat kaki Ismail

(sekarang sumur air Zam-zam). Sebab itu, dalam rukun Haji ada Sa’I (berlari kecil)

sebanyak tujuh kali di bukit Shafa dan Marwa. Siti Hajar merupak lambang yang

bertanggung jawab, tidak pasrah, perjuangan fisik dan meniadakan diri tenggelam ke

dalam samudera cinta.

Kurban dikaitkan resmi dengan ibadah haji. Lembaga ini berhubungan

dengan sejarah rohani Ibrahim a.s yang diperintahkan oleh Alla SWT untuk
menyembelih putranya Ismail a.s, untuk menguji kesempurnaan tauhidnya. Sewaktu

penyembelihan akan dilaksanakan, syetan sempat menggoda Ibrahim a.s agar tidak

melaksanakan perintah Allah tersebut. Kemudian Ibrahim dan Ismail melemparkan

batu ke arah suara syetan itu berasal. Untuk mengenang peristiwa itu, dalam

pelaksanaan ibadah haji diwajibkan melempar jumrah (batu).

Sewaktu Ismail akan disembelih oleh Ibrahim a.s, ternyta Allah

menggantinya dengan seekor gibas (domba) jantan. Firman Allah : “Mengerjakan

haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah yaitu bagi orang yang sanggup

mengadakan perjalanan pergi kesana. Barang siapa yang kafir (terhadap kewajiban

haji), maka bahwasanya Allah Mahakuasa (tidak memerlukan sesuatu dari alam

semesta)” (Q.S 3:97).

Jadi, kewajiban tersebut, esensinya adalah evolusi manusia menuju Allah

dengan pengalaman agama yang penting. Mengandung simbolis dari filsafat

“pencptaan Adam”, “sejarah”, “keesaan”, “ideology islam”, dan “ummah”.

Organisasi keagamaan yang tumbuh secara khusus, bermula dari pengalaman

agama tokoh kharismatik pendiri organisasi keagamaan yang terlembaga.

Muhammadiyah, sebuah organisasi sosial Islam yang dipelopori oleh Kiai

Haji Ahmad Dahlan yang menyebarkan pemikiran Muhammad Abduh dari Tafsir

Al-Manar. Ayat suci Al-Quran telah memberi inspirasi kepada Ahmad Dahlan untuk

mendirikan Muhammadiyah. Salah satu mottonya adalah, Muhammadiyah

diapandang sebagai “segolongan dari kaum” mengajak pada kebaikan dan mencegah

perbuatan jahat (amar ma’ruf, nahi ’anil munkar)

Dari contoh sosial di atas, lembaga keagamaan berkembang sebagai pola

ibadah, pola ide-ide, ketentuan (keyakinan), dan tampil sebagai bentuk asosiasi atau
organisasi. Pelembagaan agama puncaknya terjadi pada tingkat intelektual, tingkat

pemujaan (ibadat), dan tingkat organisasi.

Tampilnya organisasi agama adalah akibat adanya “perubahan batin” atau

kedalaman beragama, mengimbangi perkembangan masyarakat dalam hal alokasi

fungsi, fasilitas, produksi, pendidikan, dan sebagainya. Agama menuju ke

pengkhususan fungsional. Pengaitan agama tersebut mengambil bentuk dalam

berbagai corak organisasi keagamaan.


BAB III

KESIMPULAN

Berdasarkan pembahasan yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa :

1. Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem atau prinsip

kepercayaan kepada Tuhan

2. Secara garis besar ruang lingkup agama mencakup:Hubungan manusia dengan

tuhannya danHubungan manusia dengan manusia

3. Fungsi agama dalam masyarakat ada tiga aspek penting yang selalu dipelajari, yaitu

kebudayaan, system social, dan kepribadian

4. Kaitan agama dan masyarakat dapat mencerminkan tiga tipe, meskipun tidak

menggunakan sebenarnya secara utuh yakni Masyarakat yang terbelakang dan nilai-

nilai sakral dan Masyarakat praindustri yang sedang berkembang


DAFTAR PUSTAKA

Afrianto, Anton. 2013. Makalah Agama dan Masyarakat. http://gadogadoinf.blogspot.com.


Diakses : 10 Juni 2015

Destiara, Cipta. 2013. Fungsi Agama dan Masyarakat Ilmu Sosial Dasar.
http://ciptadestiara.wordpress.com. Diakses : 10 Juni 2015
Harwantiyoko dan Neltje F. Katuuk. 1997. MKDU Ilmu Sosial Dasar.Jakarta: Pernerbit

Gunadarma