Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

Homeostasis berasa dari kata haima (darah) dan stasis (berhenti). Hal ini merupakan suatu proses
yang sangat kompleks, berlangsung secara terus menerus dan mencegah kehilangan darah secara
spontan, serta menghentikan perdarahan akibat kerusakan sistem pembuluh darah. Adanya gangguan
pada homeostasis dapat menyebabkan perdarahan atau trombosis.
Trombosis adalah terjadinya bekuan darah di dalam sistem kardiovaskuler termasuk arteri, vena,
ruangan jantung dan mikrosirkulasi. Menurut Robert Virchow, terjadinya trombosis adalah sebagai
akibat kelainan dari pembuluh darah, aliran darah dan komponen pembekuan darah (Virchow triat).
Kematian terjadi sebagai akibat lepasnya trombus vena, membentuk emboli yang dapat
menimbulkan kematian mendadak apabila sumbatan terjadi pada arteri di dalam paru-paru (emboli
paru).
Insidens trombosis vena di masyarakat sangat sukar diteliti, sehingga tidak ada dilaporkan secara
pasti. Banyak laporan-laporan hanya mengemukakan data-data penderita yang di rawat di rumah
sakit dengan berbagai diagnosis. DVT terjadi pada sekitar 800.000 pasien per tahun, dimana pada
80% kasus terjadi pada vena daerah betis. Di Amerika Serikat, dilaporkan 2 juta kasus trombosis
vena dalam yang di rawat di rumah sakit dan di perkirakan pada 600.000 kasus terjadi emboli paru
dan 60.000 kasus meninggalkarena proses penyumbatan pembuluh darah. Pada kasus-kasus yang
mengalami trombosis vena perlu pengawasan dan pengobatan yang tepat terhadap trombosisnya dan
melaksanakan pencegahan terhadap meluasnya trombosis danterbentuknya emboli di daerah lain,
yang dapat menimbulkan kematian.
DVT merupakan kelainan kardiovaskular tersering nomor tiga setelah penyakit koronerarteri
dan stroke (Patterson, 2011). DVT terjadi pada kurang lebih 0,1% orang/tahun. Insidennya
meningkat 30 kali lipat dibanding dekade yang lalu. Insiden tahunan DVT di Eropa dan Amerika
Serikat kurang lebih 50/100.000 populasi/tahun (JCS Guidelines, 2011). Faktor resiko DVT antara
lain faktor demografi/lingkungan (usia tua, imobilitas yang lama), kelainan patologi (trauma,
hiperkoagulabilitas kongenital, antiphospholipid syndrome, vena varikosa ekstremitasbawah,
obesitas, riwayat tromboemboli vena, keganasan), kehamilan, tindakan bedah, obat-obatan
(kontrasepsi hormonal, kortikosteroid) (JCS Guidelines, 2011; Goldhaber, 2010; Sousou,2009;
Bailey, 2009). Meskipun DVT umumnya timbul karena adanya faktor resiko tertentu, DVT juga
dapat timbul tanpa etiologi yang jelas (Idiopathic DVT) (Bates, 2004; Hirsh, 2002). Untuk
meminimalkan resiko fatal terjadinya emboli paru diagnosis dan panatalaksanaan yang tepat sangat
diperlukan. Kematian dan kecacatan dapat terjadi sebagai akibat kesalahan diagnosa, kesalahan
terapi dan perdarahan karena penggunaan antikoagulan yang tidak tepat, oleh karena itu penegakan
diagnosa dan penatalaksanaan yang tepat sangat diperlukan (Bates, 2004; Hirsh, 2002).
Berdasarkan pemaparan diatas, penatalaksanaan yang tepat sangat dibutuhkan dalam kasus
DVT, termasuk penatalaksanaan di bidang rehabilitasi medik. Dan dikarenakan belum terlalu
banyaknya penjelasan terntang penatalaksanaan DVT di bidang rehabilitasi medik, maka kami
tertarik untuk membahas lebih dalam pada makalah ini.