Anda di halaman 1dari 23

RESUME

NEONATUS RESIKO TINGGI

Disusun oleh :
Nama : Yuniar Rozalina
Npm : 17.15401.11.17
Kelas : PSKB 3 Reg A2

Dosen Pengampu :
Suci Sulistyorini, SST, M.Kes

PROGRAM STUDI KEBIDANAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
BINA HUSADA
PALEMBANG
2019
1. BAYI BARU LAHIR RENDAH
A. Definisi
Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) ~ Bayi yang lahir dengan berat badan
kurang dari 2500 gram, yang ditimbang pada saat lahir sampai dengan 24 jam
pertama setelah lahir. Bayi Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) yaitu bayi baru lahir
yang berat badannya 2500 gram atau lebih rendah tanpa memandang masa
gestasi.Dalam definisi ini tidak termasuk bayi-bayi dengan berat badan kurang
daripada 1000 gram. Berat lahir adalah berat bayi yang ditimbang dalam 1 jam
setelah lahir.

B. Etilogi
Menurut Winkjosastro (2006), faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya
BBLR, yaitu antaralain :
a. Faktor Ibu :
1. Hipertensi
2. Perokok
3. Gizi buruk
4. Riwayat kelahiran Prematur sebelumnya
5. Pendarahan antepartum
6. Malnutrisi
7. Hidraminon
8. Umur ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
9. Jarak dua kehamilan yang terlalu dekat
10. Infeksi dan trauma
b. Faktor Janin :
1. Kehamilan ganda
2. Kelainan kromosom
3. Cacat bawaan
4. Infeksi dalam kandungan
5. Hidramnion
6. Ketuban pecah dini
c. Keadaan sosial ekonomi yang rendah
d. Kebiasaan : pekerjaan yang melelahkan, merokok

C. Klarifikasi
Klasifikasi BBLR dapat dibagi berdasarkan derajatnya dan masagestasinya.
Berdasarkan derajatnya, BBLR diklasifikasikan menjadi tiga kelompok,antara
lain:
1. Berat bayi lahir rendah (BBLR) ataulow birth weight (LBW) dengan berat
lahir 1500-2499 gram.
2. Berat bayi lahir sangat rendah (BBLSR) atau very low birth weight (VLBW)
dengan berat badan lahir 1000–1499 gram.
3. Berat bayi lahir ekstrem rendah (BBLER) atau extremely low birth weight
(ELBW) dengan berat badan lahir <1000 gram (Meadow & Newell, 2005).

Berdasarkan masa gestasinya, BBLR dapat di bagi menjadi duagolongan, yaitu:


1. Prematuritas murni/Sesuai Masa Kehamilan (SMK)Bayi dengan masa
kehamilan kurang dari 37 minggu dan berat badan sesuai dengan berat badan
untuk usia kehamilan. Kepala relatif lebih besar dari badannya, kulit
tipis,transparan, lemak subkutan kurang, tangisnya lemah dan jarang.
2. Dismaturitas/Kecil Masa Kehamilan (KMK)Bayi dengan berat badan kurang
dari berat badan yang seharusnya untuk usia kehamilan,hal tersebut
menunjukkan bayi mengalami retardasi pertumbuhan intrauterin (Surasmiet
al., 2003;Syafrudin &Hamidah, 2009; Rukmono, 2013).
D. Penatalaksanaan
Bayi berat lahir rendah (BBLR) memerlukan penanganan yang tepat untuk
mengatasi masalah-masalah yang terjadi. Penanganan BBLR meliputi hal-hal berikut:
1. Mempertahankan suhu dengan ketat. BBLR mudah mengalami hipotermia.
Oleh karena itu, suhu tubuhnya harus dipertahankan dengan ketat.
2. Mencegah infeksi dengan ketat. Dalam penanganan BBLR harus
memperhatikan prinsip prinsip pencegahan infeksi karena sangat rentan. Salah
satu cara pencegahan infeksi, yaitu dengan mencuci tangan sebelum
memegang bayi.
3. Pengawasan nutrisi dan ASI. Refleks menelan pada BBLR belum sempurna.
Oleh karena itu, pemberian nutrisi harus dilakukan dengan hati-hati.
4. Penimbangan ketat. Penimbangan berat badan harus dilakukan secara ketat
karena peningkatan berat badan merupakan salah satu status gizi/nutrisi bayi
dan erat kaitannya dengan daya tahan tubuh(Syafrudin &Hamidah, 2009).

E. Pencegahan
Menurut Manuaba (2006), dengan mengetahui berbagai faktor penyebab berat
badan lahir rendah dapat dipertimbangkan langkah pencegahan dengan cara:
1. Melakukan pengawasan hamil dengan seksama dan teratur.
2. Melakukan konsultasi terhadap penyakit yang dapat menyebabkan kehamilan
dan persalinan preterm
3. Memberi nasehat tentang :
a. Gizi saat hamil
b. Meningkatkan pengertian keluarga berencana internal
c. Memperhatikan tentang berbagai kelainan yang timbul dan segera
melakukan konsultasi.
d. Menganjurkan untuk pemeriksaan tambahan sehingga secara dini penyakit
ibu dapat diketahui dan diawasi/diobati
Menurut Erlina (2008), pada kasus Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
Mencegah/preventif adalah langkah yang penting. Dan hal-hal yang dapat dilakukan
diantaranya:
1. Meningkatkan pemeriksaan kehamilan secara berkala minimal 4 kali selama
kurun kehamilan dan dimulai sejak umur kehamilan muda. Ibu hamil yang
diduga berisiko, terutama faktor risiko yang mengarah melahirkan bayi BBLR
harus cepat dilaporkan, dipantau dan dirujuk pada institusi pelayanan
kesehatan yang lebih mampu.
2. Penyuluhan kesehatan tentang pertumbuhan dan perkembangan janin dalam
rahim, tanda-tanda bahaya selama kehamilan dan perawatan diri selama
kehamilan agar mereka dapat menjaga kesehatanya dan janin dalam
kandunganya dengan baik.
3. Hendaknya ibu dapat merencanakan persalinanya pada kurun waktu
reproduksi sehat (20-34 tahun).
4. Perlu dukungan sektor lain yang terikat untuk turut berperan dalam
meningkatkan pendidikan ibu dan status ekonomi keluarga agar mereka dapat
meningkatkan akses terhadap pemanfaatan pelayanan antenatal dan status gizi
ibu selama hamil

F. Gambar Berat Bayi Lahir Rendah


2. ASFIKSIA
A. Definisi
Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara
spontan dan teratur. Bayi dengan riwayat gawat janin sebelum lahir, umumnya akan
mengalami asfiksia pada saat dilahirkan. Masalah ini erat hubungannya dengan
gangguan kesehatan ibu hamil, kelainan tali pusat, atau masalah yang mempengaruhi
kesejahteraan bayi selama atau sesudah persalinan (Asuhan Persalinan Normal,
2007).
Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas scr
spontan dan teratur setelah lahir.Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus
dan hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan,
persalinan, atau segera setelah bayi lahir. Akibat-akibat asfiksia akan bertambah
buruk apabila penanganan bayi tidak dilakukan secara sempurna. Tindakan yang akan
dikerjakan pada bayi bertujuan mempertahankan kelangsungan hidupnya dan
membatasi gejala-gejala lanjut yang mungkin timbul. (Wiknjosastro, 1999).

B. Etiologi
Beberapa kondisi tertentu pada ibu hamil dapat menyebabkan gangguan sirkulasi
darah uteroplasenter sehingga pasokan oksigen ke bayi menjadi berkurang.Hipoksia
bayi di dalam 6econ ditunjukkan dengan gawat janin yang dapat berlanjut menjadi
asfiksia bayi baru lahir.
Beberapa faktor tertentu diketahui dapat menjadi penyebab terjadinya asfiksia pada
bayi baru lahir, diantaranya adalah faktor ibu, tali pusat clan bayi berikut ini:
1. Faktor ibu
a. Preeklampsia dan eklampsia
b. Pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)
c. Partus lama atau partus macet
d. Demam selama persalinan Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV)
e. Kehamilan Lewat Waktu (sesudah 42 minggu kehamilan)
2. Faktor Tali Pusat
a. Lilitan tali pusat
b. Tali pusat pendek
c. Simpul tali pusat
d. Prolapsus tali pusat
3. Faktor Bayi
a. Bayi 7econium7 (sebelum 37 minggu kehamilan)
b. Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ekstraksi
vakum, ekstraksi forsep)
c. Kelainan bawaan (kongenital)
d. Air ketuban bercampur 7econium (warna kehijauan)

C. Klarifikasi
Klasifikasi Asfiksia menurut (Dewi Vivian, 2010:102)
1. Asfiksia berat (nilai APGAR 0-3)
Pada kasus asfiksia berat, bayi akan mengalami asidosis, sehingga memerlukan
perbaikan dan resusitasi aktif dengan segera.Tanda dan gejala yang muncul pada
asfiksia berat adalah sebagai berikut:
Frekuesi jantung kecil, yaitu < 40 kali per menit
a. Tidak ada usaha napas.
b. Tonus otot lemah bahkan hampir tidak ada.
c. Bayi tidak dapat memberikan reaksi jika diberikan rangsangan.
d. Bayi tampak pucat bahkan sampai berwarna kelabu.
e. Terjadi kekurangan oksigen yang berlanjut sebelum atau sesudah persalinan.
2. Asfiksia sedang (nilai APGAR 4-6)
Pada asfiksia sedang, tanda dan gejala yang muncul adalah sebagai berikut:
a. Frekuensi jantung menurun menjadi 60-80 kali per menit.
b. Usaha napas lambat
c. Tonus otot biasanya dalam keadaan baik
d. Bayi masih bisa bereaksi terhadap rangsangan yang diberikan
e. Bayi tampak sianosis
f. Tidak terjadi kekurangan oksigen yang bermakna selama proses persalinan.
3. Asfiksia ringan (nilai APGAR 7-10)
Pada asfiksia ringan, Tanda dan gejala yang sering muncul adalah sebagai
berikut:
a. Takipnea dengan napas lebih dari 60 kali per menit
b. Bayi tampak sianosis
c. Adanya retraksi sela iga
d. Bayi merintih (grunting)
e. Adanya pernapasan cuping hidung
f. Bayi kurang aktivitas.
g. Dari pemeriksaan auskultasi diperoleh hasil ronchi, rales, dan wheezing
positif.

D. Penatalaksanaan
Tindakan resusitasi bayi baru lahir mengikuti tahapan-tahapan yang dikenal
sebagai ABC resusitasi, yaitu :
1. Memastikan saluran terbuka
a. Meletakkan bayi dalam posisi kepala defleksi bahu diganjal 2-3 cm.
b. Menghisap mulut, hidung dan kadang trachea.
c. Bila perlu masukkan pipa endo trachel (pipa ET) untuk memastikan saluran
pernafasan terbuka.
2. Memulai pernafasan
a. Memakai rangsangan taksil untuk memulai pernafasan
b. Memakai VTP bila perlu seperti : sungkup dan balon pipa ETdan balon atau
mulut ke mulut (hindari paparan infeksi).
3. Mempertahankan sirkulasi
a. Rangsangan dan pertahankan sirkulasi darah dengan cara
b. Kompresi dada.
c. Pengobatan

E. Pencegahan
Tidak semua kasus asfiksia neonatorum dapat dicegah.Ibu hamil disarankan untuk
melakukan kontrol secara teratur ke dokter kandungan.Kontrol teratur bisa membantu
memastikan kondisi kehamilan dan kesehatan janin dalam kondisi baik.Dengan
demikian risiko bayi mengalami asfiksia neonatorum pun bisa menuruN.

F. Gambar Asfiksia

G. Table APGAR SCORE


3. SINDROM GANGGUAN PERNAFASAN
A. Definisi
Sindrom gangguan napas ataupun sering disebut sindrom gawat napas
(Respiratory Distress Syndrome/RDS) adalah istilah yang digunakan untuk disfungsi
pernapasan pada neonatus. Gangguan ini merupakan penyakit yang berhubungan
dengan keterlambatan perkembangan maturitas paru (Whalley dan Wong, 1995).
Gangguan ini biasanya juga dikenal dengan nama Hyaline membranedisease (HMD)
ataupenyakit membran hialin, karena pada penyakit ini selalu ditemukan membran
hialin yang melapisi alveoli.
Sindrom gangguan pernapasan adalah kumpulan gejala yang terdiri dari
dispnea atau hiperapnea dengan frekuensi pernapasan lebih dari 60 kali/menit,
sianosis, rintihan pada ekspirasi dan kelainan otot-otot pernapasan pada inspirasi.

B. Etiologi
Sindrom gangguan pernapasan dapat disebabkan karena :
1. Obstruksi saluran pernapasan bagian atas (atresia esofagus, atresia koana bilateral
2. Kelainan parenkim paru (penyakit membran hialin, perdarahan paru-paru)
3. Kelainan di luar paru (pneumotoraks, hernia diafragmatika)

C. Klasifikasi
Sindrom gangguan pernapasan terbagi menjadi tiga yaitu :
1. Gangguan napas berat
Dikatakan gangguan napas berat bila : Frekuensi napas dari 60 kali/menit dengan
sianosis sentral dan tarikan dinding dada atau merintih saat ekspirasi.
2. Gangguan napas sedang
Dikatakan gangguan napas sedang apabila : Pemeriksaan dengan tarikan dinding
dada atau merintih saat ekspirasi tetapi tanpa sianosissentral.
3. Gangguan napas ringan
Dikatakan gangguan napas ringan apabila : Frekuensi napas 60-90 kali/menit
tanda tarikan dinding tanpa merintih saat ekspirasi atau sianosis sentral.
E. Penatalaksanaan
Bidan sebagai tenaga medis di lini terdepan diharapkan peka terhadap
pertolongan persalinan sehingga dapat mencapai well born baby dan well health
mother. Oleh karena itu bekal utama sebagai Bidan adalah :
1.Melakukan pengawasan selama hamil
2.Melakukan pertolongan hamil resiko rendah dengan memsnfaatkan partograf WHO
3.Melakukan perawatan Ibu dan janin baru lahir
Berdasarkan kriteria nilai APGAR maka bidan dapat melakukan penilaian
untuk mengambil tindakan yang tepat diantaranya melakukan rujukan medik
sehingga keselamatan bayi dapat ditingkatkan.
Penatalaksanaan RDS atau Sindrom gangguan napas adalah sebagai berikut :
1. Bersihkan jalan nafas dengan menggunakan penghisap lendir dan kasa steril
2. Pertahankan suhu tubuh bayi dengan membungkus bayi dengan kaki hangat
3. Atur posisi bayi dengan kepala ekstensi agar bayi dapat bernafas dengan
leluasa
4. Apabila terjadi apnue lakukan nafas buatan dari mulut ke mulut
5. Longgarkan pakaian bayi
6. Beri penjelasan pada keluarga bahwa bayi harus dirujuk ke rumah sakit
7. Bayi rujuk segera ke rumah sakit
Penatalaksanaan medik maka tindakan yang perlu dilakukan adalah sebagsai
berikut :
1. Memberikan lingkungan yang optimal
2. Pemberian oksigen, tidak lebih dari 40% sampai gejala sianosis menghilang
3. Pemberian cairan dan elektrolit (glukosa 5% atau 10%) disesuaikan dengan
berat badan (60-125 ml/kgBB/hari) sangat diperlukan untuk mempertahankan
homeostatis dan menghindarkan dehidrasi
4. Pemberian antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder
5. Pemberian surfaktan oksigen
E. Pencegahan
Faktor yang dapat menimbulkan kelainan ini adalah pertumbuhan paru yang
belum sempurna. Karena itu salah satu cara untuk menghindarkan penyakit ini ialah
mencegah kelahiran bayi yang maturitas parunya belu sempurna. Maturasi paru dapat
dikatakan sempurna bila produksi dan fungsi surfaktan telah berlangsung baik
(Gluck, 1971) memperkenalkan suatu cara untuk mengetahui maturitas paru dengan
menghitung perbandingan antara lesitin dan sfigomielin dalam cairan amnion.
Bila perbandingan lesitin/sfingomielin sama atau lebih dari dua, bayi
yangakan lahir tidak akan menderita penyakit membrane hialin, sedangkan bila
perbandingan tadi kurang dari tiga berati paru-paru bayi belum matang dan akan
mengalami penyakit membrane hialin. Pemberian kortikosteroid dianggap dapat
merangsang terbentuknya surfaktan pada janin. Cara yang paling efektif untuk
menghindarkan penyakit ini ialah mencegah prematuritas.
Untuk mencegah sindrom gangguan pernapasan juga dapat dilakukan dengan
segera melakukan resusitasi pada bayi baru lahir, apabila bayi :
1. Tidak bernapas sama sekali/bernapas dengan mengap-mengap
2. Bernapas kurang dari 20 kali/menit

F. Gambar sindrom Gangguan Pernafasan


4. IKTERUS
A. Definisi
Ikterus neonatorum adalah perubahan warna menjadi kuning yang terjadi pada
neonatus atau bayi-bayi yang baru lahir.Perubahan warna ini dapat dilihat pada mata,
rongga mulut, dan kulit.Ikterus neonatorum dapat bersifat fisiologis atau normal
terjadi pada bayi baru lahir, atau patologis atau yang tidak normal pada bayi baru
lahir dan dapat mengancam nyawa.Sekitar 65% dari bayi baru lahir menderita ikterus
pada minggu pertama setelah lahir dan sekitar 1% dari bayi baru lahir mengalami
ikterus hingga dapat mengancam nyawa atau yang disebut juga sebagai kernikterus.
Pada orang-orang dengan ras Asia ditemukan lebih sering mengalami ikterus
neonatorus dengan kadar bilirubin > 12 mg/dL dibandingkan ras kulit putih dan
negro. Pada bayi-bayi premature terjadi peningkatan angka kejadian ikterus
neonatorum dibandingkan dengan bayi-bayi yang cukup bulan.

B. Etiologi
Pada bayi yang baru lahir terjadi perubahan dari sel darah merah atau eritrosit
saat di dalam kandungan menjadi sel darah merah di luar kandungan. Sel-sel darah
merah yang ada di dalam kandungan akan hancur dan digantikan oleh sel darah
merah di luar kandungan. Sel darah merah yang hancur tersebut di dalam proses
penghancurannya menghasilkan bilirubinindirek. Bilirubin indirek ini agar dapat
dibuang dari dalam tubuh memerlukan enzim uridildiphosphoglukoronil transferase
(UDPGT). Proses tersebut dilakukan di dalam hati menjadi bilirubin direk lalu masuk
ke dalam usus. Di dalam usus, lalu diproses bersama dengan kuman-kuman di dalam
usus.Hasil akhirnya lalu dibuang bersama dengan buang air besar (BAB).
Pada bayi-bayi yang baru lahir, terjadi perubahan sel darah merah di dalam
kandungan menjadi sel darah merah di luar kandungan dalam jumlah besar sehingga
produksi dari bilirubin indirek menjadi tinggi.Pada bayi baru lahir kemampuan
UDPGT di dalam hati untuk dapat mengubah seluruh bilirubin indirek menjadi
bilirubin direk belum maksimal.Selain itu, usus bayi baru lahir juga masih bersih
belum terdapat kuman-kuman yang dapat mengubah bilirubin direk agar dapat
dibuang bersama dengan BAB dan pergerakan atau motilitasnya juga belum
maksimal sehingga bilirubin direk tersebut dapat diserap kembali melalui usus dan
masuk ke dalam hati lagi.
Kadar bilirubin indirek yang tinggi dapat berbahaya karena bilirubin tersebut
dapat masuk dan menembus sawar otak sehingga menimbulkan kernikterus dan
mengancam nyawa. Selain karena proses normal dari perubahan sel darah merah di
dalam kandungan menjadi sel darah merah di luar kandungan, ikterus neonatorum
dapat bersifat patologis karena disebabkan oleh:
1. Inkompatibilitas golongan darah, inkompatibilitas rhesus. Hal ini terjadi
apabila terjadi perbedaan antara golongan dara ibu dengan golongan darah
atau rhesus bayi sehingga terjadi pernghancuran dari sel darah merah bayi;
2. Bentuk dari sel darah merah yang tidak normal sehingga mudah pecah atau
hancur;
3. Gangguan enzim di dalam sel darah merah, contohnya G6PD;
4. Lebam yang luas di kepala karena proses persalinan yang lama dan
penggunaan vakum untuk membantu persalinan;
5. Infeksi yang berat;
6. Sumbatan di saluran pencernaan.
Selain itu, ikterus juga dapat disebabkan oleh:
1. Kurangnya asupan dari ASI pada awal-awal proses menyusui karena produksi
yang masih rendah sehingga terjadi peningkatan penyerapan bilirubin direk di
dalam usus;
2. Pada bayi-bayi yang diberi ASI terjadi peningkatan penyerapan bilirubin direk
di dalam usus karena kandungan yang terdapat di ASI. Apabila bayi tampak
sehat, berat badan bertambah, dan tidak terdapat tanda-tanda adanya gangguan
lain maka pemberian ASI dapat diteruskan dan tidak berbahaya.
C. Klasifikasi
1. Ikterus Hemolitik
Ikterus hemolitik disebabkan oleh lisis (penguraian) sel darah merah yang
berlebihan. Ikterus hemolitik merupakan penyebab prahepatik karena terjadi akibat
faktor-faktor yang tidak harus berkaitan dengan hati.Ikterus hemolitik dapat terjadi
pada destruksi sel darah merah yang berlebihan dan hati tidak dapat
mengkonjugasikan semua bilirubin yang dihasilkan. Ikterus ini dapat dijumpai pada
reaksi transfuse, atau lisis sel darah merah akibat gangguan hemoglobin, misalnya
anemia sel sabit dan talasemia..
2. Ikterus Hepatoseluler
Penurunan penyerapan dan konjugasi bilirubin oleh hati terjadi pada disfungsi
hepatosis dan disebut ikterus hepatoseluler.Disfungsi hati dapat terjadi apabila
hepatosit terinfeksi dan oleh virus, misalnya pada hepatitis, apabila sel sel hati rusak
akibat kanker atau sirosis.Sebagian kelainan kongenital juga mempengaruhi
kemampuan hati untuk menangani bilirubin, Obat-obatan tertentu termasuk hormone
steroid, sebagian anti biotic dan anestetik halotan juga dapat mengganggu sel
hati. Apabila hati tidak dapat mengkonjugasikan bilirubin, kadar bilirubin
terkonjugasi akan meningkat sehingga timbul ikterus.
3. Ikterus Obstruktif
Sumbatan terhadap aliran empedu keluar hati atau duktus biliaris disebut ikterus
obstruktif.Ikterus obstruktif dianggap berasal intrahepatik apabila disebabkan oleh
sumbatan aliran empedu melintasi duktus biliaris.Obstruksi intra hepatik dapat terjadi
apabila duktus biliaris tersumbat oleh batu empedu atau tumor.
Pada kedua jenis obstruksi tersebut, hati tetap mengkonjugasikan bilirubin, tetapi
bilirubin tidak dapat mencapai usus halus.Akibatnya adalah penurunan atau tidak
adanya ekskresi urobilinogen di tinja sehingga tinja berwarna pekat.Bilirubin
terkonjugasi tersebut masuk ke aliran darah dan sebagian besar di ekskresikan melalui
ginjal sehingga urin berwarna gelap dan berbusa. Apabila obstruksi tersebut tidak di
atasi maka kanalikulus biliaris di hati akhirnya mengalami kongesti dan rupture
sehingga empedu tumpah ke limfe dan aliran darah.

D. Penatalaksanaan
1. Pemberian makanan dini (ASI) dengan jumlah cairan dan kalori yang sesuai
dengan kebutuhan bayi baru lahir.
2. Mengajarkan ibu cara perawatan bayi dengan baik.
Contoh : memandikan bayi dan perawatan tali pusat (Asrining Surasmi,
2003).
3. Tindakan menjemur bayi kuning di bawah sinar matahari, bilirubin akan
menyerap sinar dengan panjang gelombang 450-460 nm. Caranya : Lakukan
antara jam 07.00 sampai jam 09.00 bayi dijemur selama ½ jam dengan posisi
¼ jam dalam keadaan terlentang dan ¼ jam lagi dalam keadaan telungkup
(Rumahzakat, 2007).

E. Pencegahan
1. Pencegahan infeksi pada bayi baru lahir
2. Pengawasan antenatal yang baik
3. Menghindari obat yang dapat meningkatkan ikterus pada bayi pada masa
kehamilan dan kelahiran.
4. Pemberian minum sedini mungkin dengan jumlah cairan dan kalori yang
mencukupi. Pemberian minum sedini mungkin akan meningkatkan motilitas
usus dan juga menyebabkan bakteri diintroduksi ke usus (Asrining Surasmi,
2003).
G. Gambar Ikterus Pada Bayi

5. KEJANG
A. Definisi
Kejang merupakan keadaan darurat atau tanda bahaya yang sering terjadi pada
neonatus karena kejang dapat mengakibatkan hipoksia otak yang cukup berbahaya
bagi kelangsungan hidup bayi atau dapat mengakibatkan sekuele di kemudian hari.
Kejang pada neonatus secara klinis dapat diartikan sebagai perubahan paroksimal dari
fungsi neurologik seperti perubahan perilaku, sensorik, motorik, dan fungsi autonom
sistem saraf yang terjadi pada bayi berumur sampai dengan 28 hari.

B. Etiologi
1. Metabolik
a. Hipoglikemia
Bila kadar darah gula kurang dari 30 mg% pada neonatus cukup bulan dan
kurang dari 20 mg% pada bayi dengan berat badan lahir rendah. Hipoglikemia
dapat dengan/tanpa gejala.Gejala dapat berupa serangan apnea, kejang
sianosis, minum lemah, biasanya terdapat pada bayi berat badan lahir rendah,
bayi kembar yang kecil, bayi dari ibu penderita diabetes melitus, asfiksia.
b. Hipokalsemia
Yaitu keadaan kadar kalsium pada plasma kurang dari 8 mg/100 ml atau
kurang dari 8 mg/100 ml atau kurang dari 4 MEq/L. Gejala: tangis dengan
nada tinggi, tonus berkurang, kejang dan diantara dua serangan bayi dalam
keadaan baik.

c. Hipomagnesemia
Yaitu kadar magnesium dalam darah kurang dari 1,2 mEg/l. biasanya terdapat
bersama-sama dengan hipokalsemia, hipoglikemia dan lain-lain. Gejala kejang
yang tidak dapat di atasi atau hipokalsemia yang tidak dapat sembuh dengan
pengobatan yang adekuat.
d. Hiponatremia dan hipernatremia
Yaitu kadar Na dalam serum kurang dari 130 mEg/l. gejalanya adalah kejang,
tremor. Hipertremia, kadar Na dalam darah lebih dari 145 mEg/l. Kejang yang
biasanya disebabkan oleh karena trombosis vena atau adanya petekis dalam
otak.
2. Perdarahan intracranial
Dapat disebabkan oleh trauma lahir seperti asfiksia atau hipoksia, defisiensi
vitamin K, trombositopenia. Perdarahan dapat terjadi sub dural, dub aroknoid,
intraventrikulus dan intraserebral.
3. Infeksi
Infeksi dapat menyebabkan kejang, seperti : tetanus dan meningitis
4. Genetik/kelainan bawaan
5. Penyebab lain

C.Klarifikasi
Volve (1977)membagi kejang pada bayi baru lahir sebagai berikut :
1. Bentuk kejang yang hampir tidak terlihat (Subtle) yang sering tidak di insafi
sebagai kejang. Terbanyak di dapat pada neonatus berupa :
a. Deviasi horizontal bola mata
b. Getaran dari kelopak mata (berkedip-kedip)
c. Gerakan pipi dan mulut seperti menghisap, mengunyah, mengecap, dan
menguap
d. Opnu berulang
e. Gerakan tonik tungkai
2. Kejang klonik multifokal (miogratory)
Gerakan klonik berpindah-pindah dari satu anggota gerak ke yang lain secara
tidak teratur, kadang-kadang kejang yang satu dengan yang lain dapat menyerupai
kejang umum.
3. Kejang tonik
Ekstensi kedua tungkai, kadang-kadang dengan flexi kedua lengan menyerupai
dekortikasi
4. Kejang miokolik
Berupa gerakan flexi seketika seluruh tubuh, jarang terlihat pada neonates
5. Kejang umum
Kejang seluruh badan, sianosis, kesadaran menurun
6. Kejang fokal
Gerakan ritmik 2-3 x/detik.Sentakan yang dimulai dari salah satu kaki, tangan
atau muka (gerakan mata yang berputar-putar, menguap, mata berkedip-kedip,
nistagmus, tangis dengan nada tinggi).

D. PENATALAKSANAAN
1. Prinsip dasar tindakan mengatasi kejang pada bayi baru lahir sebagai berikut:
1. Mengatasi kejang dengan memberikan obat anti kejang-kejang (Misal :
diazepam, fenobarbital, fenotin/dilantin)
2. Menjaga jalan nafas tetap bebas dengan resusitasi
3. Mencari faktor penyebab kejang
4. Mengobati penyebab kejang (mengobati hipoglikemia, hipokalsemia dan lain-
lain)
2. Penatalaksanaan kejang pada bayi baru lahir (Buku Acuan Nasional Maternal dan
Neonatal, 2002)
a. Bayi diletakkan dalam tempat yang hangat pastikan bahwa bayi tidak
kedinginan. Suhu dipertahankan 36,5oC - 37oC
b. Jalan nafas bayi dibersihkan dengan tindakan penghisap lendir di seputar
mulut, hidung sampai nasofaring
c. Bila bayi apnea dilakukan pertolongan agar bayi bernafas lagi dengan alat
bantu balon dan sungkup, diberikan oksigen dengan kecepatan 2 liter/menit
d. Dilakukan pemasangan infus intravena di pembuluh darah perifer di tangan,
kaki, atau kepala. Bila bayi diduga dilahirkan oleh ibu berpenyakit
diabetesmiletus dilakukan pemasangan infus melalui vena umbilikostis
e. Bila infus sudah terpasang di beri obat anti kejang diazepam 0,5 mg/kg
supositoria IM setiap 2 menit sampai kejang teratasi, kemudian di tambah
luminal (fenobarbital 30 mg IM/IV)
f. Nilai kondisi bayi selama 15 menit. Perhatikan kelainan fisik yang ada
g. Bila kejang sudah teratasi, diberi cairan dextrose 10% dengan kecepatan 60
ml/kg BB/hari
h. Dilakukan anamnesis mengenai keadaan bayi untuk mencari faktor penyebab
kejang
E. Gambar Kejang Pada Bayi

6. PERDARAHAN TALI PUSAT


A. Definisi
Yaitu adanya cairan(darah) yang keluar di sekitar tali pusat bayi. Akibat dari
trauma pengikatan tali pusat yang kurang baik atau kegagalan proses pembentukkan
trombus normal. Tetapi merupakan hal yang normal apabila pendarahan yang terjadi
disekitar tali pusat dalam jumlah yang sedikit. Dimana, pendarahan tidak melebihi
luasan uang logam dan akan berhenti melalui penekanan yang halus selama 5 menit.
Selain itu perdarahan pada tali pusat juga bisa sebagi petunjuk adanya penyakit pada
bayi.

B. Etiologi
Perdarahan tali pusat dapat terjadi karena robekan umbilikus, robekan
pembuluh darah, serta plasenta previa dan abrupsio plasenta.
1. Robekan umbilikus normal, yang biasanya terjadi karena :
2. Partus presipitatus
3. Adanya trauma atau lilitan tali pusat
4. Umbilikus pendek, sehingga menyebabkan terjadinya tarikan yang berlebihan
pada saat persalinan
5. Kelalaian penolong persalinan yang dapat menyebabkan tersayatnya dinding
umbilikus atau plasenta sewaktu SC
6. Robekan umbilikus abnormal, biasanya terjadi karena :
7. Adanya hematoma pada umbillikus yang kemudian hematoma tersebut pecah,
namun perdarahan yang terjadi masuk kembali ke dalam plasenta. Hal ini
sangat berbahaya bagi bayi karena dapat menimbulkan kematian pada bayi.
8. Varises juga dapat menyebabkan perdarahan ketika varises tersebut pecah
9. Aneurisma pembuluh darah pada umbilikus, yaitu terjadi pelebaran pembuluh
darah setempat saja karena salah dalam proses perkembangan atau terjadi
kemunduran dinding pembuluh darah. Pada aneurisma, pembuluh darah
menyebabkan pembuluh darah rapuh dan mudah pecah.

C. Penatalaksanaan
1. Penanganan disesuaikan dengan penyebab dari perdarahan tali pusat yang terjadi.
2. Untuk penanganan awal, harus dilakukan tindakan pencegahan infeksi pada tali
pusat.
a. Jaga agar tetap kering
b. Kenakan popok di bawah tali pusat
c. Biarkan tali pusat terbuka,tidak tertutup pakaian bayi sesering mungkin
d. Bersihkan area di sekitar tali pusat. Lakukan sekali disetiap mengganti popok
bayi. Gunakan kassa atau cotton bud untuk membersihkannya.
e. Angkat tali pusat dan dan bersihkan tepat pada area bertemunya pangkal tali
pusat dan tubuh. Tidak perlu takut hal ini akan menyakiti bayi .
f. Jangan basahi tali pusat sampai tidak terjadinya perdarahan. Karena tali pusat
akan terlepas sendiri dalam waktu 1-2 minggu. Tapi yang perlu diingat adalah
jangan menarik tali pusat walaupun sudah terlepas setengah atau sebagian.
g. Hindari penggunaan bedak atau lotion pada area sekitar tali pusat.
D. Pencegahan
1. Pada perdarahan umbilikus akibat ikatan yang longgar, dapat di kencangkan
kembali pengikat tali pusat. Perdarahan juga dapat disebabkan oleh repitan atau
tarifan dari kiem.Jika perdarahan tidak berhenti setelah 15-20 menit maka tali
pusatnya harus segera di lakukan beberapa jahitan pada luka bekas pemotongan
tersebut.
2. Perdarahan umbilikus akibat robekan umbilikus harus segera di jahit. Kemudian
segera lakukan rujukan untuk mengetahui apakah ada kelainan lain seperti
kelainan anatomik pembuluh darah sehingga dapat segera di lakukan tindakan
oleh dokter atau rumah sakit.
3. Perdarahan pada abrupsio plasenta, plasenta previa dan kelainan lainnya, bidan
harus segera merujuk. Bahkan rujukan lebih baik segera di lakukan jika kelainan
tersebut sudah di ketahui sebelum bayi lahir sehingga dapat di lakukan tindakan
sesegera mungkin untuk membuat peluang bayi lahir hidup lebih besar

E. Gambar Perdarahan Tali Pusat