Anda di halaman 1dari 8

EFEKTIVITAS STRONG ACID WATER (PH 2.5) DAN AIR ALKALI (PH 8.5 DAN 9.

5) DALAM PENYEMBUHAN
LUKA BAKAR PADA MENCIT

Sunardi, Adriyan Suhada, Nurhikmatul Aulia, Ika Nurfajri Mentari


Program Studi DIII Analis Kesehatan Politeknik Medica Farma Husada mataram
Idranus777@gmail.com, adriyan_suhada@yahoo.com

ABSTRAK

Penelitian yang telah dilakukan ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas Strong Acid Water (PH 2.5)
dan air alkali (PH 8.5 dan 9.5) dalam penyembuhan luka bakar pada Mencit. Penelitian ini dilakukan
dengan metode eksperimental laboraturium, dimana mencit yang menjadi hewan uji diberi perlakuan
luka bakar pada lapisan kulitnya. Variabel yang diteliti adalah perubahan diameter luka bakar pada
mencit. Kelompok kontrol negatif pada penelitian ini yaitu dengan memberikan aquadest pada luka
bakar, kelompok kontrol positif dengan memberikan bioplasenta, dan kelompok eksperimen dengan
memberikan Strong Acid Water (PH 2.5) dan Air Alkali (PH 8.5 dan 9.5).
Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat perubahan rata-rata diameter luka bakar pada mencit,
yaitu 0.64 pada kelompok 1 (kontrol negatif), 0.50 pada kelompok 2 (kontrol positif), 0.41 pada
kelompok uji 3 (PH 2.5 dan 8.5), dan 0.31 pada kelompok uji 4 (PH 2.5 dan 9.5). Data hasil penelitian ini
memberikan persentasi penyembuhan rata-rata diameter luka bakar pada mencit sebesar; 36% untuk
kelompok 1, 50.3% untuk kelompok 2, 58% untuk kelompok 3, dan 67.3% untuk kelompok 4. Oleh
karena itu, disimpulkan bahwa panjang luka bakar pada mencit dapat kering lebih cepat dengan
perlakuan strong acid dan air alkali pH 9,5 yaitu sebesar 67.3%.

Kata Kunci: Strong Acid, Air Alkali, Luka Bakar

1
THE EFFECTIVENESS OF STRONG ACIDIC WATER (PH 2.5) AND ALKALYZE WATER (PH 8.5 AND 9.5) IN
CURING MICE BURN WOUND
Sunardi, Adriyan Suhada, Nurhikmatul Aulia, Ika Nurfajri Mentari
Program Studi DIII Analis Kesehatan Politeknik Medica Farma Husada mataram
Idranus777@gmail.com, adriyan_suhada@yahoo.com

ABSTRACT

Research has been conducted on "Effectiveness of Strong acid Water (PH 2.5) and alkaline water (PH 8.5
and 9.5) in Curing Burns in Mice". This research was carried out by an experimental laboratory method,
where mice that were tested, treated with burns on the skin. The variable of this study is the change in
diameter of the burns degree in mice. Negative control by giving aquadest to burns, positive control is
to give bioplasenta, while treatment is to give Strong Acid Water (PH 2.5) and Alkali Water (PH 8.5 and
9.5).
The results showed that there were changes in the average diameter of burns in mice, namely 0.64 in
group 1 (negative control), 0.50 in group 2 (positive control), 0.41 in the test group 3 (PH 2.5 and 8.5),
and 0.31 in the group Test 4 (PH 2.5 and 9.5). Data from this study give a percentage of healing the
average diameter of burns in mice as big as; 36% for group 1, 50.3% for group 2, 58% for group 3, and
67.3% for group 4. Therefore, it was concluded that the length of burns in mice can dry faster with
strong acid treatment and alkaline water pH 9, 5 which is equal to 67.3%.

Keywords: Strong Acid, Alkaline Water, Burns

2
PENDAHULUAN

Luka bakar adalah rusaknya sebagian jaringan tubuh yang disebabkan karena perubahan suhu yang
tinggi, sengatan listrik, ledakan, maupun terkena bahan kimia. Smeltzer & Bare, 2010). luka bakar
mengakibatkan berbagai masalah yaitu masalah kematian, kecacatan, hilangnya kepercayaan diri dan
mengeluarkan biaya yang relatif banyak untuk penyembuhan (Sjamsuhidajat & Wim, 2005).
Luka bakar merupakan salah satu trauma yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, bahkan sering
kali pada kecelakaan masal dan paling terbanyak ditemukan terjadi di rumah adalah luka bakar derajat II
(Nurdiana, , Hariyanto, & Musrifah, 2008). Luka bakar tergolong kasus epidemik yang serius dalam setiap
tahun. Sebuah penelitian di Amerika menunjukkan prevalensi pasien dengan luka bakar sebanyak 10
juta kasus (Driscoll, Patrick, 2009) dan setiap tahun, sekitar 1 juta orang menderita luka bakar (Edelman,
2009), sedangkan menurut Departemen Kesehatan Replublik Indonesia (2008) prevalensi luka bakar di
Indonesia sebesar 2,2%.
Luka bakar dapat diobati dengan berbagai cara (Harianie dkk., 2003). Pengobatan yang cukup dikenal
dalam dunia kesehatan adalah pengobatan sintetik maupun pengobatan alamiah (Triana dan
Nurhidayat, 2006). Contoh obat yang sering digunakan adalah Silver Sulfadiazine, Bioplacenton,
Hidrogell, Moist Exposed Burn Ointment (MEBO), maupun pengobatan tradisional seperti madu dan
lidah buaya (Rovikoh, 2011).
Salah satu obat luka bakar yang dijadikan standar pengobatan adalah bioplacenton (Hindy, 2009). MEBO
mulai digemari penggunaannya dalam pengobatan luka bakar karena proses penyembuhan luka bakar
yang relatif cepat (Allam dkk., 2007). Menurut penelitian Jewo dkk. (2009), MEBO mampu mengobati 90
% lebih cepat dibanding Silver Sulfadiazin. Penggunaan MEBO ternyata memiliki hambatan berupa harga
yang relatif tinggi dibandingkan jenis obat luka bakar lainnya (Allam dkk., 2007).
Saat ini banyak beredar produk strong acid dan kangen water yang memiliki pH basa yang banyak
digunakan untuk tujuan kesehatan dengan harga yang terjangkau. Strong acid diketahui memiliki
potensi antibakteri dan banyak digunakan sebagai disinfektan, sedangkan air alkali yang mengandung
antioksidan banyak digunakan sebagai anti peradangan (Fitta 2015). Strong acid adalah air yang memiliki
pH 2,5 yang diolah dengan mesin Lavelux. Strong acid disebut memiliki banyak manfaat yaitu sebagai
antibakteri, desinfektan, antiseptik dan untuk perawatan kulit luar bukan untuk diminum (Brewer, C.
2010). Oleh karena itu, penelitian ini mencoba untuk menggunakan strong acid dan air alkali sebagai
alternatif obat luka bakar sebagai pengganti MEBO dan bioplacenton. Karena MEBO dan bioplacenton
selain memiliki harga yang relative mahal juga memiliki efek samping hipersensitivitas terhadap kulit.

3
Berdasarkan uaraian diatas maka penelitian ini bertujuan mengetahui ”Efektivitas Strong Acid Dan Air
Alkali Dalam Penyembuhan Luka Bakar Pada Mencit”.

METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian eksperimental untuk mengetahui efektivitas Strong Acid dan Air
Alkali dalam penyembuhan luka bakar pada mencit.
B. Populasi dan Sampel
Populasi pada penelitian ini adalah 30 ekor mencit. Sampel pada penelitian ini adalah 20 ekor
mencit. Dan 10 ekor sebagai cadangan apabila terdapat mencit yang mati dalam proses penelitian.
C. Teknik Pengumpulan Data
Data yang di dapatkan dalam penelitian ini adalah data primer berupa pengukuran diameter luka
bakar pada mencit yang diberikan strong acid dan air alkali pH 8.5 dan strong acid dan air alkali pH
9.5.
D. Alur Kerja

20 ekor mencit

Mencit diadaptasikan selama 1 minggu


Diberikan pakan standar dan air minum

Mencukur bulu punggung dan pembuatan


luka bakar dibuat dengan ukuran 1 x 1 cm
ke dalam sampai area subkutan

Kelompok I Kelompok II Kelompok Kelompok


III IV

Control Mencit luka Mencit


negative Control bakar luka bakar
positif disemprot disemprot
disemprot dioleskan strong acid
aquadest dan strong acid
bioplasentn 4 dan minum dan
minum dan minum minum air
air alkali Ph
aquadest aquadest 8,5 alkali Ph
9,5
Pengukuran diameter luka bakar mencit selama 3 hari

E. Analisa Data
Pengukuran rata-rata diameter luka bakar dilakukan dengan:
D 1,2 yaitu rata-rata diameter luka bakar setiap ulangan perlakuan dan dibagi banyaknya perlakuan.
Dihitung dengan menggunakan rumus
𝑑1+𝑑2+𝑑3+𝑑4+𝑑5
dx= untuk hasil pengukuran diameter rata-rata luka bakar (cm) dari setiap hewan
5

uji. Selanjutnya menghitung persentase penyembuhan luka bakar dilakukan dengan rumus P%
𝑑12 −𝑑𝑥 2
= 𝑑12
𝑥 100%

HASIL PENELITIAN

Tabel 1. Hasil Pengukuran Luasan Luka Bakar Pada Mencit


Rata-rata diameter luka setiap replikasi
Rata-
Pengamatan
Perlakuan rata
hari ke 5
1 2 3 4

H1 P 0,9 0,98
1 1 1 1

0,9 0,94
P1 H2 P 0,9 1 1 0,9

0 0
H3 P 0 0 0 0

0,9 0,86
H1 P 0,9 0,7 0,9 1

0,8 0,63
H2 P 0,8 0,7 0,8 0,9
P2
0
0
H3 P 0 0 0 0

5
0,6 0,64
H1 P 0,6 0,6 0,7 0,7

0,7 0,60
P3 H2 P 0,5 0,6 0,6 0,6

0 0
H3 0 0 0 0 0

0,5 0,54
H1 P 0,5 0,6 0,6 0,5

0,4 0,44
P4 H2 P 0,4 0,5 0,5 0,4

0 0
H3 P 0 0 0 0

Table 2. Hasil Pengukuran Rata-Rata Diameter Luka Bakar Pada Mencit Selama 3 Hari
Perlakuan

Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Kelompok 4


Hari (Control (control positif) disemprot Disemprot
negative) strong acid dan strong acid dan
air alkali pH 8,5 air alkali pH 9,5

H1 0,98 0,86 0,64 0,54

H2 0,94 0,63 0,60 0,44

H3 0 0 0 0

Rata- 0,64 0,5 0,41 0,32


rata

Tabel 3. Presentase Penyembuhan Rata-Rata Diameter Luas Luka Bakar pada Mencit
Perlakuan

Kelompok 1 Kelompok 2 Kelompok 3 Kelompok 4


Hari (Control (control positif) disemprot Disemprot
negative) strong acid dan strong acid dan
air alkali pH 8,5 air alkali pH 9,5

H1 2% 14% 36% 46%

H2 6% 37% 40% 56%

H3 100% 100% 100% 100%

Rata- 67,3%
36% 50,3 % 58%
rata

6
PEMBAHASAN

Hasil penelitian pada table 3 menunjukkan bahwa kelompok eksperimen (kelompok 3 dan 4) efektif
dalam menyembuhkan luka bakar pada mencit, dengan persentase penyembuhan sebesar 58% untuk
kelompok 3 dan 67.3% untuk kelompok 4. Pada kelompok 3 diberikan perlakuan dengan menggunakan
strong acid pH 2.5 dan air alkali pH 8.5 sehingga memberikan efek penyembuhan yang hampir sama
dengan control positif. Hal ini berarti bahwa strong acid pH 2.5 sebagai obat luka karena bekerja sebagai
antibaktari yang dapat membunuh bakteri yang terdapat didalam luka bakar mencit sehingga
menyebabkan luka bakar cepat kering. Dan air alkali pH 8.5 merupakan air yang banyak mengandung
antioksidan. Pada pH basa kuat, air memiliki potensi reduksi oksidasi (ORP) dari -700 sampai -850 mV,
sehingga dapat menangkal radikal bebas dan mengurangi peradangan.
Kelompok 4 pada tabel 3 menunjukan hasil yang lebih tinggi daripada kelompok 3 yaitu 67.3%. Pada
kelompok ini terdapat perbedaan pH air alkali yang lebih tinggi, yaitu pH 9.5. Tentunya dengan
perbedaan pH ini memberikan perbedaan kekuatan antioksidan dan anti peradangan. Sehingga
persentase hasilnya lebih tinggi, bahkan lebih efektif dari kelompok control positif dengan persentase
50.3%.
Kelompok kontrol positif yang menggunakan bioplacenton dan diberikan minum aquadest menunjukan
efek penyembuhan yang lebih cepat dibandingkan dengan kontrol negatif. Pada penelitian ini
persentase luka bakar pada mencit dengan menggunakan kontrol positif (bioplacenton). Bioplacenton
mengandung zat aktif yaitu ekstrak placenta dan neomycin sulfat, dan merupakan salah satu obat luka
bakar yang sudah dipakai secara luas oleh masyarakat.
Adapun perlakuan terhadap kelompok kontrol negatif yang disemprot dengan aquadest dan diberikan
minum aquades, dampak penyembuhan merupakan yang paling lama jika diperhatikan dari ukuran
diameter dan keadaan luka bakar, dibandingkan dengan kelompok perlakuan lainnya. Pada penelitian ini
persentase luka bakar pada mencit dengan menggunakan kontrol negatif yaitu sebesar 36%. Hal ini
menunjukkan lebih lambatnya penyembuhan luka bakar yang terjadi disebabkan karena tidak adanya
zat aktif yang terdapat didalam control negatif yang dapat membantu proses penyembuhan luka bakar
dibandingkan dengan perlakuan kelompok lain.

7
SIMPULAN

Panjang luka bakar pada mencit dapat kering lebih cepat dengan perlakuan strong acid dan air alkali pH
9,5 sebesar 67,3%, dilanjutkan oleh strong acid dan air alkali pH 8,5 dan bioplacenton sebesar 50,3%
serta control negative sebesar 36%.

SARAN
Pada penelitian selanjutnya disarankan untuk menguji efektivitas strong acid dan air alkali terhadap
penyembuhan luka jenis lainnya, seperti luka sayatan dan luka diabetes.

DAFTAR PUSTAKA

Allam, A. M., W. Mostafa, E. Zayed, J. El-Gamaly. 2007. Management of The Acute Partial Thickness Burn
Hand Moist Exposed Burn Ointment of Silver sulvadiazine Cream Both Combined With A
Polyethylene bag Annals of Burn And FiveDisasters.Hal: 6.
Brewer, C. 2010. Variations in Phenol Coefficient Determinations of Certain Desinfectans. American
Journal of Public Health.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2008. Kesehatan dan Keselamatan Kerja
LaboratoriumKesehatan. Available from: http://www.depkes.go.id/downloads/Kesehatan Kerja
di Labkes.pdf. [Accesed 1 Juni 2018].
Edelman, C.L., & Mandle, C.L. 2006. Health Promotion Throughout The Life Span, sixt edition. Sr.Louis,
Missoury: Mosby.
Harianie, Liliek, M. Djamhuri. 2003. Kleoterapi endoskopi getah pohon pisang serta manfaatnya dalam
menyembuhkan luka. Universitas Islam Negeri Malang.
Hindy, A. 2009. Comparative Study Between Sodium Carboxymethyl Cellulose Silver, Moist Exposed Burn
Ointment And Saline Soaked Dressing For Treatment of Facial Burn. Annals of Burns and Fire
Disasters – Vol. XXII – N. 3.
Jewo, PI., IO. Fadeyibi, OS. Babalola, LC. Saalu, AS. Benebo, MC. Izegbu, OA. Ashiru. 2009. A comparative
Study of The Wound Healing Properties of Moist Exposed Burn Ointment (MEBO) and Silver
Sulphadiazine. Annals of Burns and Fire Disasters – Vol. XXII – N. 2.
Nurdiana, Hariyanto, Musrifah. (2008). Perbedaan kecepatan penyembuhan ;luka bakar derajat II
antara perawatan luka menggunakan virgin coconut oil (cocos nucifera) dan normal salin pada
tikus putih (rattus novergicus) strain wistar. Skripsi. Malang: FK UB.
Rovikoh. 2011. Formulasi Sediaan Gel Ekstrak Lidah Buaya (Aloe vera) dengan Gelling Agent
Hidroksipropil Metil Selulosa dan Uji Efek Penyembuhan Luka Bakar. Skripsi Thesis. Universitas
Muhammadiyah Surakarta.
Sjamsuhidayat R dan Wim DJ. 2003. Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed 3. Jakarta : EGC.
Triana, E., N. Nurhidayat. 2006. Pengaruh Pemberian Beras yang Difermentasi oleh Monascus purpureus
JMBA Terhadap Darah Tikus Putih (Rattus sp.) Hiperkolesterolemia. Biodiversitas- Vol.7.N.IV:
317-321.