Anda di halaman 1dari 55

Operasi dan Pemelihraan Lokasi TPA

BAB III
STANDAR OPERASI PROSEDUR ( SOP ) DAN
MANAJEMEN CONTROLLED LANDFILL

3.1 TEKNIK OPERASIONAL CONTROLLED LANDFILL


3.1.1 PERSIAPAN OPERASI PADA LAHAN CONTROLLED LANDFILL
Sebelum lahan TPA diisi dengan sampah, maka perlu dilakukan penyiapan
lahan agar kegiatan pembuangan berikutnya dapat berjalan dengan lancar.
Beberapa kegiatan penyiapan lahan tersebut akan meliputi :
 Penutupan lapisan kedap air dengan lapisan tanah setempat yang dimaksudkan
untuk mencegah terjadinya kerusakan atas lapisan tersebut akibat operasi alat
berat di atasnya. Umumnya diperlukan lapisan tanah setebal 5,0-50,0 cm yang
dipadatkan di atas lapisan kedap air tersebut .
 Persediaan tanah penutup perlu disiapkan di dekat lahan yang akan
dioperasikan untuk membantu kelancaran penutupan sampah. Perletakan tanah
penutup harus memperhatikan kemampuan operasi alat berat yang ada.

Sel harian yang telah ditentukan ukuran panjang, lebar dan tebalnya perlu
dilengkapi dengan patok-patok yang jelas. Hal ini dimaksudkan untuk membantu
petugas atau operator dalam melaksanakan kegiatan pembuangan sehingga sesuai
dengan rencana yang telah dibuat.

Beberapa pengaturan perlu disusun dengan rapih diantaranya :


 Perletakan tanah penutup.
 Letak titik pembongkaran sampah.
 Manuver kendaraan saat pembongkaran.

1
Operasi dan Pemelihraan Lokasi TPA

Sebelum dimulainya penimbunan di fase pelaksanaan penimbunan yang


baru, yaitu :
 Penyiapan ruas perletakan jalan kerja di lokasi yang sudah ditentukan.
 Pemindahan kantor direksi lapangan dan pemasangan tenda garasi sementara
di lokasi yang ditentukan.
 Penempatan alat-alat berat dan kebutuhan operasionil lainnya.
 Penempatan cadangan tanah penutup antara dan harian untuk kebutuhan satu
fase pelaksanaan penimbunan.
Sebelum dimulainya suatu hari operasi, yaitu :
 Penempatan cadangan tanah penutup harian di suatu lokasi yang berdekatan
dengan sel harian.
 Penentuan lokasi sel harian dan lintasan pencapaiannya oleh pihak pengawas
operasionil.
 Pemasangan jaring pelindung disekitar lokasi sel harian dengan
memperhatikan arah angin.

3.1.1.1 Penempatan Cadangan Tanah Penutup


Lokasi cadangan tanah penutup (stockpile area) berada di daerah yang
tidak akan mengganggu perlintasan kendaraan operasional, yaitu :
Lokasi cadangan tanah penutup harian tidak boleh terletak berjauhan dari
lokasi sel harian tersebut. Penentuan lokasi ini ditentukan oleh :
 Jarak maksimal antara lokasi cadangan tanah harian dengan rencana
penempatan sel adalah 20 meter.
 Sebaiknya ditempatkan pada lokasi yang tidak dilalui kendaraan operasionil
seperti dipermukaan atau didepan timbunan sel yang sudah terbentuk dihari
sebelumnya atau didaerah rencana penempatan lokasi sel untuk keesokan
harinya.
Walaupun demikian penempatan lokasi ini sebaiknya berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan praktis dilapangan.

2
Operasi dan Pemelihraan Lokasi TPA

3.1.1.2 Penempatan Peralatan Operasional


Peralatan operasionil seperti alat berat, lampu penerangan lapangan, dan
lain-lain, ditempatkan pada garasi sementara yang berdekatan dengan kantor
direksi lapangan. Penempatan peralatan ini dilakukan pada lokasi yang tidak
mengganggu perlintasan kendaraan operasional.

3.1.2 KEGIATAN OPERASIONAL PADA CONTROLLED LANDFILL


Petunjuk sistem dan pola operasional ini dibuat agar dalam pelaksanaan
dilapangan bisa berjalan sesuai dengan yang direncanakan, begitu pula bila
terdapat hambatan atau penyimpangan di lapangan bisa dievaluasi untuk
mendapatkan hasil yang optimal.

3.1.2.1 Pokok-pokok Kegiatan Operasional


Kegiatan pengoperasian TPA meliputi :
 Pendataan truk bermuatan sampah yang masuk ke TPA, seperti pemeriksaan
registrasi atau penerimaan izin masuk. Setiap kendaraan yang ingin
melakukan penimbunan di lokasi Controlled Landfill harus memiliki Surat
Izin Penimbunan (SIP) yang dikeluarkan oleh Dinas Kebersihan dan
Pertamanan Kabupaten Kebumen, dengan tujuan untuk mencegah adanya
kendaraan pengangkutan yang ingin melakukan penimbunan di dalam lahan.
Di dalam SIP tercantum data-data antara lain mengenai :
 Nomor Surat Tanda Nomor Kepolisian (STNK)
 Nomor bukti Pengujian Kendaraan Bermotor (PKB)
 Nomor daftar kendaraan pengangkutan
 Jenis kendaraan pengangkutan
 Berat kosong kendaraan
 Nama pengemudi pengemudi
 Tanda pengesahan dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten
Kebumen
 Penimbangan beban truk sampah

3
Operasi dan Pemelihraan Lokasi TPA

Penimbangan dilakukan terhadap berat kendaraan pengangkut dalam


keadaan penuh, sehingga dari data berat kendaraan kosong yang tercantum
dalam SIP akan didapat berat sampah yang terangkat. Penimbangan ini
bertujuan untuk mengetahui jumlah sampah yang sudah masuk ke dalam lahan
berdasarkan data yang tercatat dalam satuan waktu tertentu (harian, mingguan,
atau bulanan).
 Pengaturan lalu lintas truk sampah dan sekaligus
pengarahannya ke dan dari ruang manuver.
 Operasi penimbunan sampah selanjutnya akan terbagi ke dalam
empat tahapan utama, yaitu :
 Operasi penurunan sampah (tipping atau unloading), yang dilakukan di
lokasi kerja penurunan. Penurunan sampah dari truk di tempat curah ke
tempat penimbunan oleh crawler tractor.
 Operasi pemindahan sampah (removing) yang bertujuan untuk
memindahkan sampah dari lokasi kerja penurunan ke suatu lokasi yang
dekat dengan lokasi kerja penimbunan. Lokasi ini disebut lokasi
perletakan sampah sementara.
 Operasi penimbunan sampah, merupakan operasi yang bertujuan untuk
memindahkan sampah menuju ke dalam lokasi kerja penimbunan. Operasi
ini meliputi :
 Pengambilan dan penyebaran sampah (feeding dan spreading-in)
 Pemadatan sampah (compacting). Perataan sampah oleh alat berat
dilakukan lapis demi lapis agar tercapai kepadatan optimum yang
diinginkan. Dengan proses pemadatan yang baik diharapkan kepadatan
sampah meningkat hampir dua kali. Pemadatan tanah bertujuan untuk
memadatkan tanah yang tersebar di seluruh bagian permukaan
timbunan. Pemadatan arah sebaiknya dilakukan pada hari itu juga,
tetapi mengingat keterbatasan waktu, maka pekerjaan juga dapat
dilakukan keesokan harinya. Operasi ini dilakukan oleh alat berat yang
memiliki kapasitas berat, seperti excavator.

4
Operasi dan Pemelihraan Lokasi TPA

 Operasi penutupan. sampah (covering), merupakan operasi yang bertujuan


untuk melapisi atau menutup timbunan sampah padat dengan tanah.
Penyebaran tanah bertujuan untuk menutup timbunan sampah padat
dengan tanah penutup, oleh karena itu tahap ini baru dapat dilakukan
setelah pekerjaan pemadatan sampah selesai. Penyebaran tanah dilakukan
dengan menggunakan yang sejenis dengan alat berat penyebar sampah
bulldozer. Operasi ini merupakan kegiatan terakhir dalam satu hari kerja.
Operasi ini meliputi :
 Pengalian tanah (soil exavation)
 Pengangkutan tanah (soil removing)
 Pengumpulan tanah (stockpiling),
 Penyebaran tanah diatas timbunan sampah padat (soil spreading)
 Pemadatan tanah penutup (soil compacting).
 Pemeliharaan saluran lindi dan pengolahan lindi.
 Pemeliharaan saluran drainase
 Perawatan dan pemeliharaan jalan menuju dan di dalam TPA.
 Pemeliharaan dan perawatan pagar disekeliling TPA
 Pemeliharaan atau perawatan taman di bagian depan TPA.
 Perawatan atau pemeliharaan segenap peralatan kerja agar
selalu siap beroperasi dengan baik.
 Pengamanan dan pemeliharaan ketertiban dikawasan TPA guna
menjaga kelancaran seluruh kegiatan operasi TPA.

5
Operasi dan Pemelihraan Lokasi TPA

6
Operasi dan Pemelihraan Lokasi TPA

6.1.2.2 Uraian Pelaksanaan Operasional


A. Arus Muatan Sampah Dalam Truk
Kedatangan truk sampah
 Truk sampah memasuki areal TPA melalui pos pemeriksaan di
pintu masuk tempat petugas pemeriksa atau pendata TPA berada.
 Berhenti didepan pintu masuk, kemudian pengemudi melaporkan
kedatangannya kepada petugas TPA dan menyerahkan formulir pengisian
atau surat perintah jalan untuk diketahui oleh petugas TPA.
 Petugas TPA akan mencatat nama truk, asal muatan dan mencatat
kubikasi muatan berdasarkan volume sampah yang diangkut berdasarkan
formulir yang telah ada atau menimbang berat sampah dengan
membandingkan berat truk bermuatan penuh dan truk kosong.

Pengaturan ke dan dari areal manuver


 Truk sampah menuju areal manuver di lokasi pembuangan melalui
rute yang telah ditetapkan dan mengikuti rambu-rambu yang dipasang.
 Petugas TPA akan mengatur lalu lintas truk dan mengarahkannya
ke areal manuver.
 Sesuai dengan pengarahan petugas TPA, truk sampah mengatur
posisi ke lokasi pembuangan yang ditentukan dan selanjutnya bermanuver
untuk melaksanakan penurunan (unloading) muatan sampahnya.

Penurunan (unloading) muatan sampah


 Truk dalam mengambil posisi utnuk menurunkan sampahnya,
harus dibimbing dan diarahkan oleh petugas TPA.
 Atas perintah petugas TPA itu pula truk melalukan penurunan
sampahnya ke lokasi yang telah ditetapkan.
 Penurunan sampah berdasarkan rencana operasi pembuangan akhir.
Proses kedatangan truk sampah, penurunan muatan sampah dan
kembalinya truk dari ruang manuver diharapkan memakan waktu tidak lebih
dari 6 menit untuk dump truk sedangkan 15-20 menit untuk truk standar.

7
Operasi dan Pemelihraan Lokasi TPA

B. Aliran Truk Kosong atau Pembersihan Truk Sampah


Truk sampah menuju landasan pencucian
Setelah selesai menurunkan muatan sampahnya, truk kosong ini
selanjutnya meninggalkan areal manuver. Apabila truk kosong ini telah selesai
dengan tugasnya maka selanjutnya menuju landasan pencucian untuk
membersihkan rodanya dari kotoran sampah agar tidak mengotori jalan yang
akan dilewati.

Keberangkatan truk sampah


 Truk sampah yang sudah selesai menurunkan muatan sampahnya
dan telah dicuci rodanya dapat segera keluar lewat jalur yang ditentukan.
 Dipintu keluar pengemudi melaporkan penyelesaian proses
pemuatan sampahnya kepada petugas pemeriksa di pos pemeriksaan.
 Truk sampah berangkat keluar dari areal TPA tersebut.
 Petugas TPA mencatat waktu keluar dari truk tersebut.
 Waktu yang dibutuhkan untuk seluruh kegiatan ini adalah 5 menit
(tanpa halangan).

Pembersihan truk sampah


Pembersihan truk sampah dilakukan oleh awak kendaraan pada akhir operasi
hari tersebut sebelum kembali ke pool kendaraan. Pencucian mobil dilakukan
setiap hari.

C. Arus Sampah dalam TPA


Operasional alat berat (dozer)
 Operator menyiapkan dozer untuk beroperasi
 Dozer berada dilokasi penimbunan sampah untuk mendorong,
meratakan dan memadatkan sampah di tempat dimana sel penimbunan
sampah telah ditetapkan.

8
Operasi dan Pemelihraan Lokasi TPA

 Setelah jam kerja selesai, dozer tetap ditinggal ditempat operasi


tetapi ditutup dengan terpal atau plastik pelindung hujan.
 Operator mengisi formulir lamanya jam operasi dari dozer pada
hari tersebut, juga melaporkan tentang kerusakan atau hambatan yang
dialami pada hari tersebut.
 Formulir diberikan kepada koordinator lapangan.
Pengangkutan sampah dari areal manuver
 Sampah yang diturunkan di daerah manuver akan segera didorong
oleh bulldozer ke lokasi penimbunan yang sudah disiapkan sebelumnya,
sejalan dengan pentahapan dalam program dan pedoman operasi.
 Operasi bulldozer harus mampu mengimbangi frekuensi penurunan
sampah dari truk sampah yang datang agar tidak terjadi penumpukan
sampah.

Penimbunan dan pemadatan


 Sampah yang sudah berada dilokasi penimbunan kemudian di
hampar atau didorong dan dipadatkan oleh bulldozer.
 Lapisan timbunan sampah dipadatkan dengan cara digiling oleh
bulldozer sebanyak 8-10 kali sehingga didapatkan kepadatan optimum
600-650 kg/m3.
 Operasi kerja bulldozer harus diatur dengan baik agar tidak
mengganggu lalu lintas operasi pengangkutan.

Pelapisan atau penutupan lapisan sampah


 Pada akhir penimbunan sampah harus dilakukan penutupan
timbunan tersebut dengan tanah urugan yang sudah disiapkan sebelumnya.
 Tanah penutup disiapkan dan diambil dari bukit di sebelah lokasi
TPA.
 Penggalian dan penumpukan tanah penutup dilakukan sebaiknya
oleh excavator. Apabila belum ada alat tersebut bisa digunakan alat berat
bulldozer.

9
Operasi dan Pemelihraan Lokasi TPA

 Setelah lapisan penutup dihamparkan kemudian langsung


dipadatkan kembali dengan bulldozer 1-3 kali sehingga diperoleh
ketebalan lapisan penutup sekitar 15-20 cm untuk bidang datar dan 30-40
cm pada bidang miring.
 Penutupan sampah dengan tanah urugan sesuai dengan program
operasi.
 Pengangkutan tanah penutup dilakukan dengan menggunakan truk
khusus untuk mengangkut tanah.
3.1.3 PENGATURAN LALU LINTAS
Arus kendaraan pengangkut yang diperkirakan sangat padat, sehingga
akan menimbulkan kemacetan lalu lintas di jalan menuju ke lokasi. Oleh karena
itu pengaturan kendaraan arus dimulai sebelum kendaraan pengangkut melewati
pintu masuk lahan Controlled Landfill Tunjungseto Kabupaten Kebumen, yaitu
pada ruas jalan antara Jalan Raya Semarang Bawen. Untuk pengaturan pada jalur
sibuk ini hendaknya DKP Kabupaten Semarang bekerja sama dengan DLLAJR
Kabupaten Semarang.
Pengaturan lalu lintas untuk jalan akses menuju Controlled Landfill
Tunjungseto Kabupaten Kebumen bertujuan untuk :
1. Menertibkan arah pergerakan lalu lintas kendaraan seperti :
 Kendaraan pengangkut hanya akan berhenti atau berjalan apabila
diperintahkan oleh petugas yang bersangkutan.
 Kendaraan pengangkut berjalan di jalur sebelah kiri arah jalannya.
 Kendaraan pengangkut jenis trailer hanya diijinkan bergerak di atas jalan
penghubung, sedangkan jenis non-trailer dapat bergerak di atas ruas
perletakan jalan kerja.
 Dahulukan kendaraan yang akan keluar dari lokasi kerja penurunan atau
dari ruas perletakan jalan kerja dan ingin kembali ke jalan penghubung.
 Pengaturan lokasi dan posisi kendaraan pengangkut dalam menurunkan
muatan sampahnya harus ditentukan oleh pengawas lapangan, tetapi
sebaiknya bagian muka kendaraan menghadap ke arah jalan.

10
Operasi dan Pemelihraan Lokasi TPA

2. Mencegah kemacetan yang timbul sebagai akibat perubahan arah kendaraan,


seperti :
 Kendaraan pengangkut tidak dapat berhenti dan berbalik arah di seberang
tempat, terutama di tepat yang dapat menyulitkan perlintasan kendaraan
lainnya. Kendaraan pengangkut hanya dapat berbalik arah di tempat
khusus, pada tempat yang telah ditentukan.
 Kendaraan pengangkut yang mogok harus segera di pindahkan ke tempat
yang tidak mengganggu perlintasan, seperti halaman kantor pengelola.
 Kendaraan pengangkut hanya diperbolehkan berada di lokasi lahan sesuai
dengan keperluannya. Kendaraan pengangkut harus segera bergerak ke
luar lahan setelah menurunkan muatan sampah.
3. Mencegah timbulnya kecelakaan lalu lintas, seperti :
 Kecepatan maksimum kendaraan di jalan yang lurus adalah 20 Km/jam.
 Kendaraan pengangkut dilarang saling mendahului, kecuali diperintahkan
oleh petugas.

Menjaga ketertiban lalu lintas ini diperlukan perangkat bantuan seperti :


 Rambu-rambu petunjuk lalu lintas.
 Tanda pembatas di setiap lokasi kerja penurunan.
 Tindakan tegas bagi para pelanggar ketentuan pengaturan lalu lintas di dalam
lokasi lahan.
 Petugas-petugas pengawas yang cukup.

3.1.4 PENGATURAN LAHAN


Cukup sulit untuk menghasilkan suatu Controlled Landfill yang teratur dan
tersusun dengan rapi, sehingga perlu adanya suatu pengaturan lahan yang diawali
dengan pembongkaran, pemadatan dan penutupan sampah pada lokasi secara
efisien sehingga menimbulkan kesan yang baik. Pengaturan tersebut meliputi :

a. Pengaturan Sel

11
Operasi dan Pemelihraan Lokasi TPA

Pada sistem Controlled Landfill dalam desain ini, satu zona terdiri dari
beberapa subzona yang dapat menampung timbunan sampah >10 hari,
subzona terdiri dari sel-sel harian yang dapat menampung sampah selama satu
hari. Sel-sel harian ini akan ditutup dengan tanah penutup harian, setiap akhir
jam operasi, untuk menghindari penyebaran populasi lalat yang dapat berperan
sebagai vektor penyakit, dengan asumsi dalam jangka waktu 7 hari, telur lalat
akan mengalami penetasan dalam sampah.

Untuk pengaturan sel perlu diperhatikan beberapa faktor sebagai berikut :


 Lebar sel direncanakan 5,0-25,0 m, dengan pertimbangan alat berat dapat
bermanuver sehingga lebih efisien.
 Ketebalan sel direncanakan sebesar 1,0 m. Ketebalan terlalu besar akan
menurunkan stabilitas permukaan, sementara terlalu tipis akan
menyebabkan pemborosan tanah penutup.
 Panjang sel 5,0-20,0 m, dihitung berdasarkan volume padat dibagi dengan
lebar dan tebal sel.
Batas sel dibuat jelas dengan pemasangan patok patok dan tali agar operasi
penimbunan sampah dapat berjalan dengan lancar.

b. Pengaturan Subzona/Blok
Blok operasi merupakan bagian dari Controlled Landfill yang digunakan
untuk penimbunan sampah selama periode operasi menengah. Pada
perencanaan ini periode operasi yang digunakan adalah satu bulan. Karenanya
luas blok akan sama dengan luas sel dikalikan perbandingan periode operasi
menengah dan pendek.

c. Pengaturan Zona
Zona operasi merupakan bagian lahan TPA yang digunakan sesuai dengan
keadaan topografi lahan yang tersedia. Pada perencanaan ini zona operasi
dibagi menjadi 5 zone yaitu :

12
Operasi dan Pemelihraan Lokasi TPA

1. Zona I
 Ketinggian sel akhir direncanakan 18,0 m
 Satu zone terdiri atas 22 blok
 Satu blok terdiri dari 10-20 sel harian.
 Volume tampungan sampah sebesar 54618,50 m 3.
2. Zona II
 Ketinggian sel akhir direncanakan 14,5 m
 Satu zone terdiri atas 23 blok
 Satu blok terdiri dari 10-20 sampah harian.
 Volume tampungan sampah sebesar 32557,00 m 3.
3. Zona III
 Ketinggian sel akhir direncanakan 14,0 m.
 Satu zone terdiri atas 9 blok
 Satu blok terdiri dari 10-20 sel harian.
 Volume tampungan sampah sebesar 25972,60 m 3.
4. Zona IV
 Ketinggian sel akhir direncanakan 27,0 m
 Satu zone terdiri atas 10 blok
 Satu blok terdiri dari 10-20 sel harian.
 Volume tampungan sampah sebesar 34795,40 m 3.
5. Zona V
 Ketinggian sel akhir direncanakan 14,0 m
 Satu zone terdiri atas 21 blok
 Satu blok terdiri dari 10-20 sel harian.
 Volume tampungan sampah sebesar 48294,80 m 3.

3.1.5 PEMBONGKARAN SAMPAH


Letak titik pembongkaran harus diatur dan diinformasikan secara jelas
kepada pengemudi truk agar mereka membuang pada titik yang benar sehingga
proses berikutnya dapat dilaksanakan dengan efisien.

13
Operasi dan Pemelihraan Lokasi TPA

Titik bongkar umumnya diletakkan ditepi sel yang sedang dioperasiken


dan berdekatan dengan jalan kerja sehingga kendaraan truk dapat dengan mudah
mencapai. Beberapa pengalaman menunjukkan bahwa titik bongkar yang ideal
sulit dicapai pada saat hujan karena licinnya jalan kerja. Hal ini perlu diantisipasi
oleh penanggung jawab Controlled Landfill agar tidak terjadi.
Jumlah titik bongkar setiap sel harian ditentukan oleh beberapa faktor :
 Lebar sel
 Waktu bongkar rata-rata
 Frekuensi kedatangan truk pada jam puncak
3.1.6 PERATAAN DAN PEMADATAN SAMPAH
Perataan dan pemadatan sampah dimaksudkan untuk mendapatkan kondisi
pemanfaatan lahan yang efisien dan stabilitas permukaan Controlled Landfill
yang baik. Kepadatan sampah yang tinggi di Controlled Landfill akan
memerlukan volume lebih kecil sehingga daya tampung Controlled Landfill
bertambah, sementara permukaan yang stabil akan sangat mendukung
penimbunan lapis berikutnya.
Pekerjaan perataan dan pemadatan sampah sebaiknya dilakukan dengan
memperhatikan efisiensi operasi alat berat.
 Pada Controlled Landfill dengan intensitas ritase truk yang tinggi, perataan
dan pemadatan perlu segera dilakukan setelah sampah dibongkar. Penundaan
pekerjaan akan menyebabkan sampah menggunung sehingga pekerjaan
perataannya akan kurang efisien dilakukan.
 Pada Controlled Landfill dengan intensitas ritase truk yang rendah, perataan
dan pemadatan sampah dapat dilakukan secara periodik misalnya pagi atau
siang.

Kriteria perataan dan pemadatan sampah yang baik perlu dilakukan


dengan memperhatikan :
 Perataan dilakukan lapis demi lapis.
 Setiap lapisan diratakan sampah setebal 20,0-50,0 cm, desain pelaksanan
diambil 50,0 cm dengan cara mengatur ketinggian blade alat berat.

14
Operasi dan Pemelihraan Lokasi TPA

 Pemadatan sampah yang telah rata dilakukan dengan menggilas sampah


tersebut 3-5 kali.
 Perataan dan pemadatan dilakukan sampai ketebalan sampah mencapai
ketebalan rencana.

3.1.7 PENUTUPAN RENCANA


Penutupan Controlled Landfill dengan tanah penutup mempunyai fungsi
sebagai berikut :
 Untuk memotong siklus hidup lalat, khususnya dari telur menjadi lalat.
 Mencegah perkembangbiakan tikus.
 Mengurangi rembesan air hujan yang akan membentuk lindi.
 Mengurangi bau.
 Mengisolasi sampah dan gas yang terbentuk.
 Menambah kestabilan permukaan
 Meningkatkan estetika lingkungan

Frekuensi penutupan sampah dengan tanah disesuaikan dengan metode


yang diterapkan dan ketersediaan tanah sebagai media penutup. Penutupan
sampah sesuai dengan metode Controlled Landfill akan dilakukan setiap hari.
Ketebalan tanah penutup yang direncanakan :
 Tanah penutup harian, untuk penutupan sel harian adalah dengan lapisan tanah
padat setebal 10,0 cm.
 Tanah penutup harian, untuk penutupan sel antara adalah dengan lapisan tanah
padat setebal 30,0 cm.
 Tanah penutup akhir, untuk penutupan akhir adalah dengan lapisan tanah
padat setebal 50,0 cm.

3.1.8 FASILITAS PENGAMANAN GAS


Gas yang yang terbentuk di TPA umumnya gas karbon dioksida (CO 2) dan
gas methana (CH4) dengan komposisi yang hampir sama, dan gas-gas lain yang

15
Operasi dan Pemelihraan Lokasi TPA

sangat sedikit jumlahnya. Kedua gas merupakan gas yang berbahaya, karena
mudah terbakar dan meledak karenanya perlu dilakukan pengendalian pada gas
tersebut.
Pengendalian dilakukan dengan pemasangan ventilasi penyaluran gas,
secara vertikal dan horisontal agar gas dapat keluar dari timbunan sampah pada
titik-titik tertentu. Untuk ini perlu diperhatikan kualitas tanah penutup. Tanah
penutup yang banyak memiliki rekahan dapat menyebabkan gas lebih mudah
lepas ke udara babas.
Pemasangan pipa gas di letakkan pada setiap jarak radius 50,0 m arah
memanjang dan 50,00 m arah melintang serta memperhatikan juga arah angin
yang bertiup di TPA.
3.2 PEMELIHARAAN CONTROLLED LANDFILL
3.2.1 UMUM
Pemeliharaan Controlled Landfill dimaksudkan untuk menjaga agar setiap
prasarana dan sarana yang ada dalam kondisi siap operasi dengan petunjuk kerja
yang baik.
Program pemeliharaan umumnya mengutamakan kegiatan pemeliharaan
yang bersifat preventif untuk mencegah terjadinya kerusakan dengan
melaksanakan pemeliharaan rutin.
Pemeliharaan korektif dimaksudkan untuk segera melakukan perbaikan
kerusakan-kerusakan kecil agar tidak berkembang menjadi besar dan kompleks.

3.2.2 PEMELIHARAAN ALAT BERAT


Alat berat penting pada operasi Controlled Landfill sehingga kinerja perlu
dijaga dan dirawat dengan baik. Buku manual pengoperasian dan pemeliharaan
alat berat harus selalu dijalankan dengan benar agar alat berat terhindar dari
kerusakan. Kegiatan penggantian minyak pelumas baik mesin maupun transmisi
harus diperhatikan sesuai ketentuan pemeliharaannya. Perlu dihindari kelalaian
penggunaan komponen seperti baterai, filter-filter dan lain-lain, serta perlunya
dilakukan efisiensi dalan penggunaanya.

16
Operasi dan Pemelihraan Lokasi TPA

3.2.3 PEMELIHARAAN JALAN


Kerusakan jalan Controlled Landfill umumnya dijumpai pada ruas jalan
masuk dimana kondisi jalan bergelombang maupun berlubang yang disebabkan
oleh beratnya beban truk sampah yang melintasinya.
Jalan yang berlubang atau bergelombang menyebabkan kendaraan tidak
dapat melintasinya dengan lancar sehingga terjadi penurunan kecepatan yang
berarti menurunnya efisiensi pengangkutan, disamping lebih cepat ausnya
beberapa komponen seperti kopling, rem dan lain-lain.
Keterbatasan dana pemeliharaan seringkali menjadi kendala perbaikan
sehingga kerusakan jalan dibiarkan berlangsung lama tanpa disadari telah
menurunkan efisiensi pengangkutan. Hal ini sebaiknya diantisipasi dengan
melengkapi manajemen Controlled Landfill dengan kemampuan memperbaiki
kerusakan jalan sekalipun bersifat temporer seperti misalnya perkerasan dengan
pasir dan batu.
Bagian lain yang juga sering mengalami kerusakan dan kesulitan adalah
jalan operasi dimana kondisi jalan tersebut memiliki kestabilan yang rendah.
Khususnya bila dibangun diatas sel harian. Jalan operasi dibanyak Controlled
Landfill juga memiliki faktor kesulitan lebih tinggi pada saat hari hujan sehingga
secara keseluruhan menyebabkan waktu operasi pengangkutan di Controlled
Landfill menjadi lebih panjang. Pengurugan dengan sirtu umumnya sangat efektif
memperbaiki jalan yang bergelombang dan berlubang.

3.2.4 PEMELIHARAAN LAPISAN PENUTUP


Lapisan penutup Controlled Landfill perlu dijaga kondisinya agar tetap
dapat berfungsi dengan baik. Perubahan temperatur dan kelembaban udara dapat
menyebabkan timbulnya retakan permukaan tanah yang memungkinkan
terjadinya aliran gas keluar dari lahan ataupun mempercepat rembesan air hujan
pada saat musim hujan. Untuk itu keretakan yang terjadi perlu segera ditutup
dengan tanah sejenis.
Proses penurunan permukaan tanah juga sering tidak berlangsung seragam
sehingga ada bagian yang menonjol ataupun melengkung kebawah. Perbedaan

17
Operasi dan Pemelihraan Lokasi TPA

permukaan ini perlu diratakan dengan mengontrol kemiringan ke arah saluran


drainase. Penanaman rumput disarankan untuk mengurangi efek retakan tanah
melalui jaringan akar yang dimilikinya.
Pemeriksaan kondisi permukaan Controlled Landfill perlu dilakukan
minimal sebulan sekali atau beberapa hari setelah hujan untuk memastikan tidak
terjadinya erosi air hujan.

3.2.5 PEMELIHARAAN SALURAN DRAINASE


Pemeliharaan saluran drainase secara umum sangat mudah dilakukan.
Pemeliharaan rutin tiap minggu khususnya pada musim hujan perlu dilakukan
untuk menjaga agar tidak terjadi kerusakan saluran yang serius.
Saluran drainase perlu dipelihara dari tanaman rumput atau semak yang
mudah sekali tumbuh akibat endapan tanah hasil erosi tanah penutup dan erosi
akibat aliran air yang deras.
Lapisen semen yang retak atau pecah perlu segera diperbaiki agar tidak
mudah lepas oleh erosi air, sementara saluran tanah yang berubah profilnya akibat
erosi perlu segera dikembalikan ke dimensi semula agar dapat berfungsi
mengalirkan air dengan baik.

3.2.6 PEMELIHARAAN INSTALASI PENGOLAHAN LINDI


Seperti diketahui bersama bahwa setiap jenis pengolahan diperlukan
kondisi tertentu yang dapat mendorong terjadinya proses yang optimal. Pada
proses anaerobik, pertumbuhan lumpur anaerobik di instalasi adalah sangat lambat
dan ini hanya mungkin jika kondisi-kondisi tertentu dapat dicapai. Kondisi
(environmental factors) yang diperlukan sehingga tercapai proses yang optimal
dapat dilihat pada tabel 3.1. dibawah ini.

Tabel 3.1. Kondisi yang diperlukan untuk proses pengolahan anaerobik


No Parameter Kondisi

18
Operasi dan Pemelihraan Lokasi TPA

1 Ternperatur > 10° C


2 pH 6,2 - 7,5
3 Alkalinity Sufficient buffer capacity
4 Nutrien untuk tumbuh harus tersedia
5 Zat-zat beracun hanya dalam jumlah kecil
Sumber : Dasar-dasar Pengolahan Air Limbah, Dinas Kimpraswil Kal-
sel.

Agar dapat tercapai kinerja yang baik dari sistem pengolahan anaerobik
perlu dihindarkan terjadinya fluktuasi yang besar pada temperatur dan beban
organik (organic loading).

3.2.6.1 Operasi dan Pemeliharaan Bak Pengumpul Sementara dan


Bak Equalisasi
Bak pengumpul sementara dan bak equalisasi merupakan unit tambahan di
dalam instalasi pengolahan lindi. Bak pengumpul sementara dan bak equalisasi
merupakan unit penerima lindi dari saluran pipa pengumpul lindi dari yang
berfungsi untuk meratakan aliran serta menanggulangi beban lindi yang
bervariasi, sehingga efluen dari bak pengumpul dapat dialirkan secara terkendali
ke dalam unit pengolahan berikutnya. Dengan penempatan bak ini yang terletak di
hulu unit pengolahan lainnya, maka dapat dipastikan bahwa unit ini memerlukan
pemeliharaan yang seksama karena adanya endapan akan berakumulasi di
dalamnya.
Hal yang perlu diperhatikan adalah pengaliran efluen dari bak pengumpul
ke dalam kolam anaerobik, jangan sampai merusak lapisan kerak buih yang
menutupi kolam, karena lapisan ini berfungsi juga untuk mencegah keluarnya bau
ke lingkungan sekitar kolam.

3.2.6.2 Operasi dan Pemeliharaan Kolam Anaerobik


Kolam anaerobik diletakkan setelah bak equalisasi, sehingga lindi
dialirkan secara langsung ke unit ini. Dalam hal demikian perlu diperhatikan agar
curahan lindi yang baru tidak memecahkan lapisan kerak buih yang sudah
terbentuk. Hal-hal lain yang perlu diperhatikan adalah :

19
Operasi dan Pemelihraan Lokasi TPA

a. Kolam anaerobik beroperasi tanpa adanya oksigen terlarut (DO)


b. Pada kolam anaerobik yang dioperasikan secara baik, permukaan kolam akan
tertutup lapisan kerak buih yang membantu kondisi kolam dalam keadaan
anaerobik serta mengurangi bau yang timbul.
c. Hal penting yang perlu diingat, antara lain:
 pH air di dalam kolam harus +7.0 agar kondisi bakteri seimbang.
 Mencegah timbulnya bau dengan mempertahankan DO=0 dan lapisan
kerak putih.
 Beban organik dipertahankan (100-400) g/m3 hari.
 Resirkulasi terbatas efluen kolam fakultatif.
3.2.6.3 Operasi dan Pemeliharaan Kolam Fakultatif
Pada proses pengolahan lindi yang terjadi di dalam kolam fakultatif terdiri
dari dua zone yakni pada lapisan bagian atas kolam terjadi proses penyesuaian
secara aerobik, sedangkan di bagian dasar kolam proses penguraiannya secara
anarobik.
Kondisi fakultatif dapat terjadi pada kedalaman kolam antara 1-2,4 meter,
dimana oksigen yang tersedia disuplai dari angin dan alga (proses fotosintetis)
yang terjadinya dipermukaan, tidak mampu menembus lapisan air sampai di
bagian dasar kolam.
Beban BOD yang mampu diolah oleh kolam fakultatif berkisar antara
(40 - 60) g/m3 hari. Efektivitas dari kolam tersebut tergantung dari lamanya waktu
tinggal lindi di dalam kolam (biasanya antara 20-40 hari) selama proses
pengolahan. Dalam kondisi demikian penurunan kadar BOD dapat mencapai 70-
90% dan menurunkan koliform antara 60-99%.
Pemeliharaan selama masa operasi perlu dilaksanakan secara rutin
mengingat kondisi yang terjadi selama proses pengolahan sangat bervariasi oleh
adanya komponen organik maupun anorganik yang terbentuk dan yang paling
spesifik adalah kemungkinan terjadinya alga bloom (pertumbuhan alga yang
berlebihan) sehingga dapat menimbulkan bau septik (busuk).
Kolam stabilisasi adalah salah satu sistem pengolahan yang mempunyai
ciri khusus yang dioperasikan secara menerus sehingga mampu menghasilkan

20
Operasi dan Pemelihraan Lokasi TPA

efluen dengan kualitas yang sangat baik. Sebaliknya apabila cara pengoperasian
tersebut tidak rutin (kemungkinan tersendat) maka efluen yang dihasilkan dari
adanya proses yang terjadi di dalam kolam tersebut akan sangat rendah
kualitasnya, disamping akan banyak nyamuk yang berdiam di kolam maupun bau
(busuk) yang terjadi.
Adapun pengoperasian dan pemeliharaan yang perlu dilakukan, antara lain
1. Tanaman yang ada pada tanggul kolam harus diusahakan pendek (tanaman
perdu) dan tidak diizinkan meluas ke dalam kolam. Tanaman rumput
dibolehkan tumbuh kearah bawah di bagian tepi tanggul untuk melindungi
talud (pasangan) bila hal ini dipakai.
2. Buih (scum) dari kolam fakultatif dikurangi dan dibersihkan. Buih dan alga
yang terbentuk tidak diperbolehkan tinggal dipermukaan air tetapi harus
diangkat dan dikeringkan dan dibuang di tempat pembuangan yang
direncanakan tidak perlu jauh dari lokasi kolam.
3. Inlet dan outlet dari kolam untuk pengaliran lindi harus bebas dari endapan.
4. Beberapa tumbuhan yang tumbuh di bagian tepi pelindung tanggul kolam
yang keras atau dari air yang ada di kolam harus dibersihkan.
5. Pemeriksaan harus dilakukan terhadap kerusakan tanggul dari gangguan
akibat liang/lubang binatang pengerat, ulat, semut dan sebagainya. Apabila hal
seperti ini terjadi pada tanggul kolam, maka harus dibenahi kembali dengan
segera dari binatang atau serangga harus dibersihkan dari kolam dengan
penyemprotan, penyediaan lebih banyak pencegah kerusakan lingkungan atau
bila diperlukan dengan racun atau perangkap.
6. Petugas yang menangani pemeliharaan kolam stabilisasi, khususnya kolam
fakultatif harus diberikan instruksi secara jelas mengenai kewajiban dan waktu
pemeliharaan yang perlu dilakukan.

3.2.6.4 Operasi dan Pemeliharaan Kolam Maturasi


Pengoperasian dan pemeliharaan kolam maturasi, antara lain :
1. Inlet dan outlet harus dijaga kelancaran pengolahannya, terutama untuk inlet,
harus bebas dari endapan, karena sistem ini merupakan kelanjutan dari kolam

21
Operasi dan Pemelihraan Lokasi TPA

fakultatif yang mana kemungkinan penyumbatan inlet akibat endapan bisa


terjadi.
2. Alga yang terbentuk di permukaan harus diangkat karena nantinya
menimbulkan bau.
3. Tidak dibolehkan adanya tumbuhan besar pada tanggul kolam, dan biasanya
hanya tanaman sejenis perdu yang tidak merusakkan tanggul. Tumbuhan
rumput dapat ditanam di pinggiran tanggul dan talud sebagai pelindung, tetapi
tidak diperbolehkan sampai tumbuh ke arah dasar kolam.
4. Untuk mengetahui kualitas efluen, maka pencatatan secara rutin terhadap
aliran inlet dan outlet harus dilakukan, beberapa besar debit yang masuk dan
keluar untuk mengetahuinya kualitas efluen.
5. Terhadap bahaya kerusakan tanggul, harus dilakukan pemeriksaan yang
seksama tentang kemungkinan adanya pengrusakan dari binatang pengerat,
ular, semut dan lain sebagainya. Apabila hal ini terjadi, maka perlu dilakukan
tindakan pencegahan lebih lanjut misalnya dengan dilakukan penyemprotan
atau pemakaian racun terhadap hewan perusak tersebut. Sedangkan untuk
pengamanan terhadap kolam sendiri, perawatan sebaiknya dilakukan.

Beberapa indikasi gangguan dan penanggulangan yang disarankan dapat


dilihat pada tabel 3.2.

Kolam penampungan dan pengolahan lindi seringkali mengalami


pendangkalan akibat endapan suspensi. Hal ini akan menyebabkan semakin
kecilnya volume efektif kolam yang berarti semakin berkurangnya waktu tinggal
yang selanjutnya akan berakibat pada rendahnya efilsiensi pengolahan yang
berlangsung. Untuk itu perlu adanya perawatan agar kedalaman efektif kolam
dapat dijaga.
Lumpur endapan yang mulai tinggi melampaui dasar efektif harus segera
dikeluarkan. Lumpur yang terkumpul yang selanjutnya dapat dibiarkan mengering
dan dimanfaatkan sebagai tanah penutup harian.

22
Operasi dan Pemelihraan Lokasi TPA

Tabel 3.2. Permasalahan dan penanggulangan yang sering terjadi pada IPL
Jenis Gangguan Penanggulangan
Bila terjadi bau pada kolam 1. Hal ini biasanya terjadi akibat akumulasi
fakultatif busa (scum) dan khususnya meningkatnya
produksi alga. Hal ini terjadi akibat
kondisi anaerobik mendominasi proses
dalam sistem. Bentuk itu dapat dicegah
dengan membersihkan buih (scum) dan
alga yang tumbuh di permukaan air
pinggiran kolam.
2. Bila pH<7 maka tambahkan kapur pada
inletnya.
Tingkat perembesan yang tinggi Kondisi yang sebagian besar terjadi pada
pada kolam pengoperasian dasar kolam, umumnya akhirnya akan
tertutup/terhenti dengan sendirinya. Namun
bila keadaan perapatan dengan sendirinya
tidak dapat terbentuk/terjadi, maka kolam
memerlukan adanya pematusan dan proteksi
dari bahan impermeable, misalnya lapisan
plastik, soil cement dan lain-lain. Alternatif
lainnya dapat juga dilakukan penutupan
(sealing) secara menyeluruh dengan tanah
liat dengan menaburkannya kedalam kolam.

Tanaman yang tumbuh selama Semua jenis tanaman harus dijauhkan dari
kolam akan diisi dasar kolam sebelum diisi. Kedalaman
cairan harus lebih besar dari 1 meter. Bila
memungkinkan kolam harus diisi
secepatnya. Beberapa tanaman yang tumbuh
dipermukaan air pada kolam selama masa
pengisian harus dibuang.
Perkembangan pertumbuhan Hentikan terjadinya lapisan alga dengan
lapisan alga pada kolam fakultatif penyemprotan air bertekanan tinggi
dan maturasi. kepermukaan secara teliti. Dapat juga
ditambahkan CuSO4 ke dalam kolam pada
pengenceran 1 mg/liter. Alga yang diambil
dari kolam dapat dikeringkan dilapisan atas
tumbuhan rumput pada tanggul atau dibakar
(setelah kering).
Ketinggian tanaman yang tumbuh Pematangan dilakukan secara periodik
pada tanggul kolam untuk menjaga agar tanaman tersebut dapat
dikendalikan dan tidak tumbuh liar.

23
Operasi dan Pemelihraan Lokasi TPA

Sambungan Tabel 3.2.


Jenis Gangguan Penanggulangan
Tumbuhan yang berkembang Kedalaman kolam harus ditambah
sampai dipermukaan kolam. atau tingkatkan beban untuk menutup
cahaya dari dasar kolam.
Hilangkan rumput liar tersebut dari
dasar kolam dengan memakai alat perahu.
Untuk mencegah kerusakan pada lapisan
kedap air, maka selama pembersihan harus
dilakukan secara hati-hati. Buang beberapa
lumpur yang telah terakumulasi yang
mengakibatkan pendangkalan.
Lubang hewan dan serangga Lubang yang ada harus ditutup,
pada tanggul kolam Hindarkan keberadaan makanan
hewan yang mungkin tumbuh disekitar IPL.
Perangkap atau racun serangga bila
diperlukan dapat dipakai dengan melakukan
penyemprotan, secara hati-hati.
Gangguan hewan terbang atau Agar diusahakan kolam dan bagian
nyamuk pinggir kolam kondisinya bersih dari
tumbuhan liar. Khususnya untuk kolam
fakultatif dan maturasi harus bebas dari
buih/busa/alga yang terakumulasi
dipermukaan. Semprot dengan air
bertekanan tinggi dipermukaan air tersebut.
Konsentrasi kandungan alga Hentikan aliran dari bawah kepermukaan
yang cukup tinggi pada efluen dimana populasi dari
pada aliran penerirna, alga adalah rendah (mungkin sangat
variatif). Pakai aliran horisontal dengan
filter dari batu kerikil.
Terjadinya aliran pendek yang Perbaikan sistem aliran dengan
mengakibatkan efisiensi menambahkan inlet atau outlet dengan
pengolahan rendah atau timbul penyekat (baffles). Perbaiki sistem sirkulasi
Baru. arah angin bila mungkin dan bersihkan
lumpur
(bila diperlukan) serta daur ulang (bila
perlu).
Sumber : Dasar-dasar Pengolahan Air Limbah, Dinas Kimpraswil Kal-sel.

24
17

3.2.6.5 Operasi dan Pemeliharaan Bak Pengering Lumpur


Unit pengering lumpur merupakan rangkaian terakhir dari sistem IPL.
Lumpur yang dikeringkan di unit pengeringan ini berasal dari kolam fakultatif dan
atau kolam maturasi. Lamanya waktu yang diperlukan untuk mengeringkan
lumpur pada unit pengering antara 1 -2 minggu, (tergantung dari ketebalan lumpur
yang terapung).
Mengingat lumpur yang ditampung pada unit pengering relatif masih
belum stabil, maka untuk menghindarkan pencemaran lain akibat terkena curahan
air hujan (di musim hujan) pada unit pengering tersebut dilengkapi dengan saluran
yang mengalir ke arah kolam fakultatif.
Apabila lumpur yang ditampung dalam unit pengering tersebut sudah
kering, maka lumpur tersebut dapat diangkat secara periodik dan dapat digunakan
sebagai pupuk atau campuran bahan penimbun lahan yang memerlukan urugan.
Mengingat lumpur yang dialirkan ke unit pengering relatif cukup pekat maka
pemeliharaan saluran yang menghubungkan antara unit-unit yang dihubungkan
harus dijaga kelancaran alirannya, untuk menghindarkan penyumbatan yang
mungkin terjadi akibat aliran kurang lancar.

Sistem pengolahan anaerobik memberikan beberapa keunggulan untuk


diterapkan, antara lain:
 Biaya investasi rendah.
 Biaya pemeliharaan dan biaya pengoperasian rendah.
 Teknologi sederhana (tidak memerlukan electromechanical equipment)
 Sederhana dalam pengoperasian sehingga tidak memerlukan tenaga skill yang
tinggi
 Penggunaan energi yang rendah.
 Lumpur yang dihasilkan sedikit dan sudah stabil

Namun disamping beberapa keunggulan tersebut diatas, juga perlu


diperhatikan beberapa kekurangan, sebagai berikut:
 Tidak bisa menerima beban organik yang mendadak.
18

 Temperatur influen tidak boleh jauh berbeda dengan temperatur kolam.


 Influen tidak boleh mengandung zat beracun baik bagi mikroba anaerobik dan
alga.
 Dapat terjadi penyumbatan (clogging) jika perawatan kurang memadai
 Sering terjadi gangguan lalat dan bau.
 Membutuhkan lahan yang cukup luas

3.2.7 PEMELIHARAAN FASILITAS LAIN.


Fasilitas-fasilitas lain seperti bangunan kantor, pos jaga, garasi dan
sebagainya perlu dirawat fasilitas yang lain. Pemeliharaan dapat berupa
pengecatan dan lain sebagainya.

3.3 PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN CONTROLLED


LANDFILL
3.3.1 PENGAWASAN KEGIATAN PEMBANGUNAN
3.3.1.1 Tujuan Pengawasan dan Pengendalian
Pengawasan dan pengendalian Controlled Landfill dimaksudkan untuk
meyakinkan bahwa setiap kegiatan pada Controlled Landfill dilaksanakan sesuai
dengan rencana yang telah ditentukan dan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan
sebagai berikut :
 Apakah sampah yang dibuang merupakan sampah perkotaan dan bukan jenis
sampah yang lain
 Apakah volume dan berat sampah yang masuk diukur dan dicatat dengan baik
 Apakah sel pembuangan dan titik bongkar sudah ditentukan.
 Apakah pengemudi sudah diarahkan ke lokasi yang benar.
 Apakah truk pengangkut membongkar pada lokasi yang benar.
 Apakah tanah penutup telah tersedia
 Apakah perataan dan pemadatan dilakukan sesuai dengan rencana
 Apakah penutupan telah dilakukan dengan baik
19

 Apakah prasarana dan sarana dioperasikan dan dipelihara dengan baik


3.3.1.2 Tata Cara Pengawasan dan Pengendalian
Pengawasan dilakukan dengan kegiatan pemeriksaan yang meliputi :
 Pemeriksaan kedatangan sampah.
 Pemeriksaan rute pembuangan.
 Pemeriksaan operasi pembuangan.
 Pemeriksaan unjuk kerja fasilitas
Pengendalian aktifitas Controlled Landfill untuk mengarahkan operasional
pembuangan dan kinerja fasilitas sesuai fungsinya, seperti :
 Pemberian petunjuk operasi pembuangan.
 Pemeriksaan kualitas pengolahan lindi dan pemberian petunjuk cara
pengoperasian yang baik.

3.3.2 PENDATAAN DAN PELAPORAN


3.3.2.1 Pendataan Controlled Landfill
Data-data TPA yang diperiukan akan mencakup :
 Data kedatangan kendaraan pengangkutan sampah dan volume sampah yang
diperlukan untuk mengetahui kapasitas pembuangan harian, yang akan
digunakan untuk mengevaluasi perencanaan Controlled Landfill yang telah
disusun berkaitan dengan kapasitas tampung dan usia pakai Controlled
Landfill. Data ini dapat dikumpulkan di pos pengendalian Controlled Landfill
dimana terdapat petugas yang secara teliti memeriksa, mengukur dan mencatat
data tersebut dengan bantuan form kedatangan truk.
 Data kondisi instalasi pengolahan lindi khususnya kualitas parameter
pencemar untuk mengetahui efisiensi pengolahan lindi dan potensi
pencemaran yang masih ada. Data ini diperoleh melalui pemeriksaan kualitas
lindi di laboratorium.
 Data operasi dan pemeliharaan alat berat yang merupakan data kinerja alat
berat dan pemantauan pemeliharaan.
20

3.3.2.2 Pelaporan
Data-data diatas perlu dirangkum dengan baik menjadi suatu laporan yang
dengan mudah memberikan gambaran mengenai kondisi pengoperasian dan
pemeliharaan Controlled Landfill kepada para pengambil keputusan maupun
perencana bagi pengembangan Controlled Landfill berikutnya.

3.3.3 PENGENDALIAN CONTROLLED LANDFILL


3.3.3.1 Pengendalian Lalat
Pengembangan lalat dapat terjadi dengan cepat yang umumnya disebabkan
oleh terlambatnya penutupan sampah dengan tanah, sehingga tersedia cukup
waktu bagi telur lalat untuk berkembang biak menjadi larva dan lalat dewasa.
Karenanya perlu diperhatikan dengan seksama jangka waktu paling lama untuk
penutupan tanah. Semakin pendek periode penutupan tanah akan semakin kecil
pula kemungkinan perkembangan lalat.
Apabila lalat telah berkembang biak, dapat dilakukan penyemprotan
insektisida dengan menggunakan mistblower. Tersedianya pepohonan dalam hal
ini sangat membantu pencegahan penyebaran lalat ke lingkungan luar Controlled
Landfill.

3.3.3.2 Pencegahan Kebakaran atau Asap


Kebakaran di dalam Controlled Landfill dapat ditimbulkan oleh :
1. Hal-hal yang bersumber dari alat berat, seperti :
 Hubungan singkat pada sistem listrik alat berat
 Kebocoran bahan bakar, oli dan lainnya.
2. Hal-hal yang disebabkan oleh kelalaian atau kesengajaan manusia, seperti :
 Terbuangnya puntung rokok diatas sampah yang mudah terbakar.
 Melakukan pembakaran sampah secara liar dengan maksud mengurangi
beban pekerjaan.
3. Hal-hal yang bersumber dari timbunan sampah itu seperti bereaksinya jenis
sampah yang mudah terbakar dengan panas yang ditimbulkan oleh gas.
21

4. Kebakaran atau asap dapat terjadi karena gas methana (CH4) terlepas tanpa
kendali dan bertemu dengan sumber api. Bebasnya gas methana seperti telah
dibahas sebelumnya dapat ditentukan oleh kondisi dan kualitas tanah penutup.

Cara terbaik dalam perlindungan bahaya kebakaran ini adalah melakukan


langkah-langkah pencegahan. Beberapa langkah pencegahan bahaya kebakaran ini
antara lain :
1. Melakukan pemeriksaan berkala terhadap semua alat berat yang akan
dioperasikan, terutama guna mencegah terjadinya kebocoran-kebocoran bahan
bakar atau sistem listrik alat berat.
2. Melengkapi setiap alat berat dengan pemadam kebakaran, sebagai
penanggulangan awal apabila terjadi kebakaran .
3. Melarang seluruh pekerja untuk merokok atau melakukan pembakaran di
dalam lahan terutama di musim kemarau.
4. Melakukan pemeriksaan singkat terhadap jenis sampah yang masuk ke dalam
lokasi.
5. Menyiapkan satu sarana hubungan komunikasi dengan unit pemadam
kebakaran terdekat.
6. Sampah yang tidak tertutup tanah sangat mudah terjadi kebakaran, karena
penyebaran gas ke seluruh permukaan Controlled Landfill. Untuk mencegah
kasus ini perlu dilakukan pemeliharaan lapisan tanah penutup.

3.3.3.3 Pencegahan Pencemaran Air


Pencegahan pencemaran air sekitar Controlled Landfill dilakukan dengan
menjaga agar lindi yang dihasilkan dari Controlled Landfill dapat :
 Terbentuk sekecil mungkin dengan mencegah rembesan air hujan melalui
konstruksi drainase dan tanah penutup yang baik.
 Terkumpul pada kolam pengumpul dengan lancar
 Terolah dengan baik pada IPL, dan kadarnya secara periodik diperiksa.
Adapun pencegahan pencemaran air disekitar Controlled Landfill dapat
dilakukan dengan :
22

 Membuat Instalasi Pengolah Limbah (IPL) berdekatan dengan sumber lindi.


 Membuat drainase keliling dan drainase dalam lahan TPA.
 Membuat sumur pemantauan di hulu dan hilir lokasi
 Membuat lapisan dasar lahan Controlled Landfill yang kedap air.
Air permukaan akan dikendalikan dengan membuat saluran drainase
sementara di atas timbunan sampah yang telah selesai dikerjakan. Saluran digali
dengan manual atau dengan bantuan alat berat, seperti back-hoe. Mengingat
tipisnya lapisan tanah penutup, saluran drainase sementara harus dibuat,
sebaiknya hanya menggunakan tenaga manusia (manual). Saluran dibuat dengan
kriteria antara lain memiliki kemiringan sekitar 0,5 % mengarah menuju keluar
wilayah fase pelaksanaan penimbunan, lebar saluran 30,0-50,0 cm dengan
kedalaman maksimal 30,0 cm.

3.3.3.4 Pemulungan Sampah


Pemulungan sampah (salvaging) adalah usaha pergambilan sampah yang
sudah berada di atas lahan pembuangan akhir dengan maksud untuk mendapat
kembali benda-benda yang memiliki nilai ekonomis. Tindakan beroperasinya para
pemulung sampah ini mempunyai akibat baik dan buruk bagi operasi Controlled
Landfill.
Akibat baik dari pemulungan sampah ini adalah :
 Berkurangnya volume sampah yang akan ditimbun, adanya pemanfaatan
kembali sampah yang masih dapat digunakan lagi (recycling)
 Memberikan kesempatan kerja bagi para pemulung.
Akibat buruk dari pemulungan sampah ini adalah :
 Mengganggu operasi Controlled Landfill
 Menimbulkan kecelakaan kerja.

Pemulungan sampah sebaiknya dilarang keras di dalam lokasi, karena


pemulungan sampah seharusnya dilakukan di daerah timbulan sampah atau di
TPS yang berada di wilayah Kabupaten Kebumen. Apabila pemulungan
23

diperbolehkan berlangsung di dalam lokasi maka sebaiknya dilakukan langkah-


langkah sebagai berikut :
 Pembatasan lokasi kerja para pemulung dengan tegas. Lokasi yang
diperbolehkan adalah lokasi kerja penurunan dan lokasi perletakan sampah
sementara.
 Pemulung di dalam lokasi kerja penimbunan sama sekali tidak diizinkan,
karena hal ini akan menghambat dan mengacaukan pekerjaan penyebaran
ataupun pemadatan. Para pelanggar sebaiknya ditindak tegas, misalnya dengan
menyita peralatannya atau tidak mengizinkan pelanggar itu untuk bekerja lagi
di dalam lahan.
 Pembatasan jumlah pemulung dan melakukan pendaftaran pemulung yang
diperbolehkan bekerja di dalam lahan.
 Membuat suatu program penerangan bagi para pemulung yang ada di daerah
itu. Program penerangan ini akan antara lain :
 Penerangan mengenai akibat baik dan buruk dari kehadiran mereka.
 Penerangan mengenai jenis-jenis sampah yang berbahaya dan jenis
sampah yang masih dapat berguna.
 Penerangan singkat mengenai prosedur kerja Controlled Landfill dan
beberapa hal yang harus dituruti oleh para pemulung, seperti lokasi kerja
pemulung, jam kerja pemulung, dan lain-lain.
 Kerja sama lain yang diharapkan dari para pemulung misalnya dalam
menjaga ketertiban di antara mereka sendiri atau turut serta menjaga
kebersihan lahan.
 Keamanan kerja dan tindakan yang harus ditempuh apabila terjadi
kecelakaan.
 Tindakan tegas yang akan diambil apabila terjadi pelanggaran.

3.4 PEMANTAUAN LINGKUNGAN


Pemantauan lingkungan pada Controlled Landfill Tunjungseto Kabupaten
Kebumen bertujuan untuk :
 Mendeteksi adanya perubahan kondisi lingkungan.
24

 Menemukan adanya dampak negatif pada Controlled Landfill Tunjungseto


Kabupaten Kebumen, misalnya pencemaran terhadap air tanah, bau yang
timbul, dan sebagainya.
 Menentukan tindakan-tindakan perbaikan atau pengananan terhadap dampak
negatif yang timbul.
 Mendapatkan parameter-parameter acuan rencana yang dapat digunakan untuk
perencanaan Controlled Landfill berikutnya.
Guna mencapai tujuan-tujuan di atas maka usaha-usana pemantauan
lingkungan yang akan dilakukan meliputi :
 Pemantauan terhadap air tanah.
 Pemantauan terhadap air permukaan
 Pemantauan terhadap gas, dan
 Pemantauan terhadap kualitas lindi.

3.4.1 PEMANTAUAN TERHADAP AIR TANAH


Pemantauan terhadap air tanah dilakukan dengan membuat beberapa
sumuran pemeriksa di sekitar lahan Controlled Landfill. Penentuan lokasi
sumuran dilakukan dengan mempertimbangkan arah aliran air tanah yang
melintasi lahan, yaitu :
a. Satu buah sumuran sebelum lokasi Controlled Landfill (hulu atau upgradient
aliran air tanah), yang merupakan indikator awal kualitas air tanah.
b. Satu buah sumuran setelah lokasi Controlled Landfill (hilir atau
downgradient aliran air tanah), yang merupakan indikator tingkat pencemaran
lindi terhadap air tanah.
c. Dua buah sumuran setelah lokasi Controlled Landfill (downgradient aliran air
tanah) tetapi dalam arah yang menyamping. Sumuran ini merupakan indikator
tingkat penyebaran lindi dalam arah melintang.

Pemeriksaan air tanah dilakukan secara berkala dengan mengambil sampel


dari sumur pemeriksa. Parameter-parameter kualitas air tanah yang harus
diperiksa dalam pemantauan ini dapat dilihat pada tabel 3.3.
25

3.4.2 PEMANTAUAN TERHADAP AIR PERMUKAAN


Pemantauan terhadap air permukaan akan di lakukan pada Sungai
Tunjungseto Kabupaten Kebumen yang melintas di dekat lahan. Beberapa hal
yang dapat mempengaruhi kualitas air sungai antara lain :
1. Lindi yang merembes keluar dari bukit timbunan dan mengalir di atas lereng
bukit.
2. Aliran air tanah yang berpotongan dengan aliran air sungai, sehingga turut
mempengaruhi kualitas air permukaan.
3. Limpasan dari bukit timbunan yang dapat membawa sedimen.
4. Pengaruh dari efluen Instalasi Pengolahan Lindi (IPL)

Parameter-parameter kualitas air permukaan yang perlu diperiksa dapat


dilihat pada tabel 3.3. Untuk setiap aliran kali diperlukan tiga buah lokasi
sampling, yaitu pada :
1. Hulu kali, pada bagian kali sebelum memasuki lokasi Controlled Landfill.
2. Bagian kali yang berada di dalam wilayah Controlled Landfill tetapi sebelum
terdapatnya titik buangan dari IPL. Dari sampling bagian ini juga dapat
diperoleh kualitas air permukaan sebagai pengaruh dari limpasan air dari bukit
atau drainase.
3. Hilir kali, pada bagian kali setelah melalui lokasi Controlled Landfill dan
melalui titik pelepasan effluen dari IPL.

Sampling dilakukan 4 kali dalam setahun, yaitu :


1. Pada musim kemarau dan hari kering, untuk mengetahui pengaruh dari
Controlled Landfill terhadap aliran kali pada saat kondisi kali sedang tidak
maksimum.
2. Pada musim hujan dan hari hujan, untuk mengetahui pengaruh dari Controlled
Landfill terhadap aliran kali pada saat kondisi kali sedang tidak minimum.
26

3.4.3 PEMANTAUAN TERHADAP GAS


Pemantauan terhadap gas dari suatu Controlled Landfill diperlukan untuk :
1. Memantau perpindahan gas di bawah permukaan tanah keluar lokasi. Dari
hasil pemantauan ini dapat diketahui efektifitas sistem pengendalian gas yang
ada. Pemantauan konsentrasi dan jenis gas di lokasi selama penimbunan juga
diperlukan, untuk menjamin keamanan pekerja.
2. Memantau bangunan di sekitar lokasi, untuk mencegah kemungkinan
akumulasi gas di dalam bangunan. Akumulasi gas dalam ruangan tertutup
akan mudah mencapai konsentrasi dapat meledak, yaitu 5% volume gas
metana (CH4) terhadap udara.

Pemantauan gas Controlled Landfill berada pada titik sebagai berikut :


1. Berdekatan dengan perbatasan Controlled Landfill, yaitu bersebelahan dengan
pagar hijau pelindung. Pemantauan dillakukan dengan sumuran-sumuran.
Kedalaman sumuran sekitar 1,0–2,0 m, dengan syarat dasar sumur terletak di
atas muka air tanah, karena muka air tanah berfungsi sebagai lapisan
impermeabel terhadap perpindahan gas.
2. Pemantauan di dalam bangunan. Konsentrasi maksimum gas methana (CH 4)
di bangunan sekitar lokasi 1,25% dari volume udara.

3.2.4 PEMANTAUAN TERHADAP LINDI


Pemantauan terhadap kualitas dan kuantitas lindi dilakukan pada :
1. Bak pengumpul sementara saluran lindi di tiap saluran primernya.
Sampling dari titik ini berguna untuk mengetahui kualitas dan kuantitas lindi
yang tertampung dari tiap-tiap zona pembagian lahan.
2. Bak penampung pada IPL. Sampling dari titik ini berguna untuk
mengetahui kualitas dan kuantitas influen dari suatu IPL.
3. Jaringan pipa efluen IPL. Sampling dari titik ini berguna untuk
mengetahui kualitas dan kuantitas efluen dari IPL, sehingga akan diperoleh
angka efisiensi dari IPL.
27

Sampling dilakukan empat kali dalam setahun, yaitu :


1. Pada musim kemarau dan hari kering, yang dimaksudkan untuk mengetahui
karakteristik lindi pada kondisi produksi sedang tidak maksimum.
2. Pada musim hujan dan hari hujan, yang dimaksudkan untuk mengetahui
karakteristik lindi pada kondisi produksi sedang tidak minimum.

Parameter-parameter kualitas lindi yang harus diperiksa dalam


pemantauan ini dapat dilihat pada tabel 6.3.
Selain dapat dipantaunya efisiensi dari IPL dan karakteristik lindi dari
masing-masing zona dan mempertimbangkan perkiraan kuantitas lindi yang
terbentuk, hasil pemantauan terhadap air tanah dan air permukaan, maka dapat
diperoleh :
a) Pengaruh lindi dengan karakteristik tertentu terhadap suatu perairan yang
memiliki suatu karakteristik awal. Hal ini tentunya akan berkaitan dengan
tingkat pengenceran dari suatu perairan.
b) Pengaruh lindi dengan karakteristik tertentu terhadap karakteristik air tanah.
c) Penurunan pengaruh lindi dengan karakteristik tertentu terhadap jarak
pengaliran air tanah tertentu.
d) Perkiraan tingkat lolosnya lindi dalam aliran air tanah dan air permukaan.
28

Tabel 3.3. Parameter kualitas pemantauan.


Parameter Air tanah Air permukaan Lindi
Fisika Suhu Suhu Suhu
Konduktifitas Kekeruhan Suspended solid
Kekeruhan
Konduktifitas
Kimiawi pH pH pH
Klorida Kesadahan Klorida
Nitrat Nitrat Nitrat
Nitrit Nitrit Nitrit
Amonia Amonia Amonia
Zn DO Sufat
Mn COD Zn
DO BOD Mn
COD Logam berat DO
BOD COD
TOC BOD
Logam berat TOC
Logam berat
Biologis Total koliform Fecal koliform Total koliform
Fecal koliform
Sumber : Parametrix, Inc. Solid Waste Landfill Design Manual.

3.5 ORGANISASI OPERASI DAN KEBUTUHAN


PERSONALIA PADA CONTROLLED LANDFILL
3.5.1 STRUKTUR ORGANISASI PENGELOLA CONTROLLED
LANDFILL
Pelaksanaan Controlled Landfill dapat berjalan baik dan mencapai sasaran
yang diharapkan apabila disertai dengan organisasi pengelola yang baik. Usulan
struktur organisasi pengelolaan Controlled Landfill Tunjungseto Kabupaten
Kebumen dapat dilihat pada gambar 3.2. Sedangkan tabel 3.4. menunjukkan
kesimpulan jumlah anggota struktur organisasi ini. Uraian tiap komponen dalam
struktur organisasi tersebut, sebagai berikut :
29
30

1. Kepala sanitary landfil1 Tunjungseto Kabupaten Kebumen.


Tugas dan kewajiban, yaitu :
 Merupakan orang pertama yang mewakili DKP Kabupaten Semarang dan
DPLH Kota Salatiga dalam menangani masalah-masalah yang dijumpai di
lapangan.
 Bertanggung jawab kepada DKP Kabupaten Semarang dan DPLH Kota
Salatiga mengenai kelangsungan operasi dan kelancaran administrasi pada
Controlled Landfill ini.
 Memimpin koordinasi antar kepala bagian.
 Memberikan informasi atau hubunga n yang dioerlukan untuk masyarakat
atau pemerintah daerah Kabupaten Kebumen

2. Kepala Bagian Umum.


Tugas dan kewajiban, yaitu :
 Bertanggung jawab kepada kepala Controlled Landfill Tunjungseto
Kabupaten Kebumen mengenai masalah administrasi, keuangan, dan
kepegawaian guna menunjang kelangsungan operasi Controlled Landfill.
 Melakukan koordinasi dengan setiap kepala bagian.
 Membawahi seksi administrasi, keuangan, dan kepegawaian.
 Memberi persetujuan mengenai suatu permohonan untuk pengeluaran
biaya.

3. Kepala Bagian Perencanaan dan Pengawasan


Tugas dan kewajiban, yaitu :
 Bertanggung jawab kepada kepala Controlled Landfill mengenai masalah
perencanaan dan pengawasan pelaksanaan operasi Controlled Landfill.
 Melakukan koordinasi dengan setiap kepala bagian.
 Membawahi seksi perencanaan dan pengawasan.
 Melakukan koordinasi mengenai pemantauan lingkungan
31

4. Kepala Bagian Pemeliharaan


Tugas dan kewajiban, yaitu :
 Bertanggung jawab kepada kepala Controlled Landfill mengenai masalah
pemeliharaan seluruh peralatan dan fasilitas Controlled Landfill.
 Melakukan koordinasi dengan setiap kepala bagian.
 Membawahi seksi pemeliharaan peralatan mekanis dan seksi pemeliharaan
fasilitas pendukung.
 Mengajukan usulan anggaran biaya pemeliharaan dan menyampaikan
laporan penggunaan keuangan kepada kepala Controlled Landfill.

5. Kepala Bagian Operasi


Tugas dan kewajiban, yaitu :
 Bertanggung jawab kepada kepala Controlled Landfill. mengenai
kelangsungan operasi Controlled Landfill.
 Melakukan koordinasi dengan setiap kepala bagian.
 Membawahi koordinator peralatan mekanis, koordinator pekerjaan manual
dan koordinator Instalasi Pengolah Lindi..
 Mengajukan usulan anggaran biaya operasi dan menyampaikan laporan
penggunaan keuangan kepada kepala Controlled Landfill.

6. Seksi Administrasi.
Beranggotakan satu orang yang bertanggung jawab langsung pada kepala
bagiannya. Tugas dan kewajiban, yaitu :
 Bertanggung jawab kepada kepala bagiannya mengenai kelancaran seluruh
urusan administrasi.
 Melakukan pencatatan dan penyimpanan arsip-arsip tentang :
 Jumlah dan jenis peralatan/perlengkapan lainnya.
 Pemakaian bahan bakar.
 Pemakaian minyak pelumas, suku cadang, dan lainnya.
32

 Jumlah sampah, jumlah kendaraan, jenis kendaraan, asal sampah, hari,


tanggal, bulanan hasil monitor lainnya yang diperlukan,
 Surat keluar atau masuk.
 Peraturan-peraturan pemerintah, persetujuan atau keputusan yang
berkaitan dengan pelaksanaan Controlled Landfill.

7. Seksi Keuangan.
Beranggotakan satu orang yang bertanggung jawab langsung pada kepala
bagiannya. Tugas dan kewajiban, yaitu :
 Bertanggung jawab kepada kepala bagiannya mengenai masalah keuangan
Controlled Landfill.
 Membuat pembukuan dan laporan keuangan bulanan dan tahunan.
 Mengajukan usulan dan meminta persetujuan ke kepala bagian atas suatu
pengeluaran biaya. Melakukan pembayaran atas suatu permohonan biaya
yang telah disetujui.
 Mengkoordinasikan pembayaran gaji pegawai dan segala bentuk
tunjangan kerja lainnya.
 Menyusun usulan rencana anggaran tahunan yang nyata berdasarkan
pengalaman pelaksanaan Controlled Landfill pada tahun sebelumnya
sebagai masukan kepada pihak yang berwenang.

8. Seksi Kepegawaian.
Beranggotakan satu orang yang bertanggung jawab langsung pada kepala
bagiannya. Tugas dan kewajiban, yaitu :
 Bertanggung jawab kepada kepala bagiannya mengenai masalah
kepegawaian Controlled Landfill.
 Melakukan pencatatan seluruh kegiatan pegawai di lapangan, seperti data
pribadi, absensi, gaji pegawai, dan lainnya.
 Menyusun usulan dan mengatur pelaksanaan pendidikan latihan.dan
pengembangan kemampuan pegawai.
33

9. Seksi Keamanan.
Beranggotakan seorang kepala keamanan yang membawahi beberapa
tenaga satuan keamanan. Tugas dan kewajiban, yaitu :
 Bertanggung jawab kepada kepala bagian umum mengenai masalah
keamanan di dalam Controlled Landfill.
 Melakukan koordinasi dengan setiap petugas lapangan.
 Membawahi beberapa anggota satuan pengamanan.
 Mengajukan usulan mengenai sarana atau biaya keamanan yang
dibutuhkan.

10. Seksi Perencanaan


Beranggotakan satu orang yang bertanggung jawab langsung pada kepala
bagiannya. Tugas dan kewajiban, yaitu :
 Bertanggung jawab kepada Kabag Perencanaan dan Pengawasan
mengenai masalah yang berkaitan dengan tugasnya.
 Melakukan koordinasi dengan seksi pengawasan mengenai rencana
pelaksanaan operasi.
 Menyusun rencana mengenai operasi penimbunan seperti :
 Penentuan arah lalu-lintas.
 Penentuan lokasi penurun.
 Penentuan lokasi penimbunan.
 Penentuan lokasi pengambilan tanah penutup.
 Penentuan lokasi penutupan tanah, usulan pembukaan sub-zona kerja.
 Penentuan penggunaan alat, dan
 Pemindahan sub-zona kerja, misalnya karena perubahan musim

11. Seksi Pengawasan


Beranggotakan satu orang yang bertanggung jawab langsung pada kepala
bagiannya. Tugas dan kewajiban, yaitu :
34

 Bertanggung jawab kepada kepala bagiannya mengenai pengawasan


kelangsungan operasi sanitary Iandfill.
 Melakukan koordinasi dengan seksi Perencanaan mengenai rencana
pelaksanaan operasi.
 Melakukan pengawasan dari pelaksanaan rencana.
 Melakukan pengukuran lapangan untuk membagi kapling pembuangan
sampah (memasang tanda batas lokasi kerja).
 Melakukan persiapan daerah penurunan dan penimbunan, termasuk
memasang jaring pelindung angin.
 Melakukan kegiatan pemantauan lingkungan.

12. Seksi Pemeliharaan Peralatan Mekanik


Beranggotakan seorang yang membawahi tugas pemeliharaan. Tugas dan
kewajiban, yaitu :
 Bertanggung jawab kepada kepala bagiannya mengenai pemeliharaan
peralatan mekanis yang dimiliki, seperti alat-alat berat dan jembatan
timbang.
 Memberi laporan mengenai kondisi peralatan mekanis.
 Mengusulkan penggantian beberapa komponen peralatan atau bahan lain
yang dibutuhkan.
 Memberi masukan kepada Kabag Pemeliharaan Peralatan Mekanik
mengenai biaya pemeliharaan fasilitas pendukung bulanan atau tahunan.
 Melakukan pemanasan dan pemeriksaan mesin setiap pagi sebelum
beroperasi.
 Melakukan penambahan atau penggantian pelumas mesin sesuai dengan
aturan pemeliharaan mesin.
 Melakukan perbaikan bila diperlukan.
 Melakukan pemeriksaan semua peralatan setiap hari pada saat tenaga
operasi bekerja dan setiap sore hari setelah melakukan pencucian alat
mesin, pengisian bahan bakar.
35

 Melakukan pemeliharaan mesin-mesin sesuai dengan aturan


pemeliharaannya.
 Melakukan pemeliharaan jembatan timbang dengan aturan
pemeliharaannya.

13. Seksi Pemeliharaan Fasilitas Pendukung.


Beranggotakan dua orang yang bertanggung jawab akan pemeliharaan
fasilitas pendukung. Tugas dan kewajiban, yaitu :
 Bertanggung jawab kepada Kabag Pemeliharaan Fasilitas Pendukung
mengenai pemeliharaan beberapa fasilitas gedung kantor, hanggar,
bangunan penunjang.
 Memberi laporan mengenai kondisi fasilitas penunjang.
 Mengusulkan penggantian atau bahan lain yang dibutuhkan dalam
pemeliharaan.
 Memberi masukan kepada kepala bagian mengenai biaya pemeliharaan
fasilitas pendukung bulanan atau tahunan.
 Tugas dan kewajiban yaitu setiap hari melakukan pembersihan pada
bangunan kantor, penyapuan halaman kantor, pembersihan bagian jalan,
hanggar, tempat cuci, IPL dan lain-lain.

14. Seksi Operasi Peralatan Mekanik.


Beranggotakan antara tiga orang untuk 2 unit alat berat dan 1 unit
jembatan timbang. Tugas dan kewajiban, yaitu :
 Bertanggung jawab kepada kepala bagiannya mengenai operasi peralatan
mekanik yang dimiliki, seperti alat-alat berat, pompa bahan bakar dan
jembatan timbang.
 Memberi laporan mengenai pemakaian dan kondisi peralatan mekanis,
termasuk juga diantaranya jumlah jam pemakaian.
 Memberi masukan kepada kepala bagian mengenai biaya operasi peralatan
mekanik bulanan atau tahunan.
36

 Melakukan pengaduan tentang kerusakan atau kegagalan operasi alat berat


lainnya ke bagian Pemeliharaan setelah disetujui oleh kepala Bagian
Operasi.
 Mengoperasikan alat berat dan jembatan timbangan sesuai dengan
ketentuannya.
 Melakukan pengaduan tentang kerusakan atau kegagalan operasi peralatan
mekanis bagian Pemeliharaan setelah disetujui oleh Kepala Bagian
Operasi.
 Membantu tenaga pemeliharaan mesin setiap pagi sebelum beroperasi.
 Turut serta menjaga terpeliharanya peralatan mekanis.
 Khusus untuk tenaga operasi jembatan timbang, bertanggung jawab
mengenai pelaksanaan operasi di jembatan timbang.
 Melaksanakan penimbangan kendaraan pengangkut sampah.

15. Seksi Operasi Pekerjaan Manual.


Beranggotakan dua orang pada pekerjaan manual. Tugas dan kewajiban,
yaitu :
 Bertanggung jawab kepada kepala bagian mengenai operasi yang
terlibatkan, secara langsung (non-mekanik) pada perkerjaan saluran
permukaan, penurunan, pengangkut, kebersihan dan lainnya.
 Memberi laporan mengenai peralatan manual yang digunakan.
 Memberi masukan kepada kepala bagian mengenai biaya operasi peralatan
manual bulanan atau tahunan.
 Melakukan pembuatan saluran permukaan, penurunan sampah dari
kendaraan pengangkut, penyebaran sampah, penggalian tanah, penyebaran
tanah penutup, dan lain.
 Turut serta menjaga kebersihan lokasi kerja.
 Turut serta menjaga keselamatan kerja.
 Memberi masukan mengenai pemakaian dan kondisi peralatan yang
digunakan, seperti pacul, penggaruk sampah, dan lainnya.
37

 Membantu pekerjaan-pekerjaan lain yang sifatnya tidak dapat dijangkau


oleh peralatan mekanis.

16. Seksi Operasi Instalasi Pengolahan Lindi (IPL)


Beranggotakan satu orang yang bertanggung jawab langsung pada kepala
bagiannya. Tugas dan kewajiban, yaitu :
 Bertanggung jawab kepada kepala bagiannya mengenai operasi IPL.
 Menghidupkan dan mematikan mesin pompa pada saat dibutuhkan,
melakukan penjagaan operasi pompa.
 Melakukan penambahan bahan kimia atau lainnya sesuai dengan tata-cara
operasionil.
 Membawahi dan mengkoordinasikan beberapa tenaga operasi IPL.
 Memberi laporan mengenai pemakaian dan kondisi peralatan di dalam
IPL.
 Memberi masukan kepada kepala bagian mengenai biaya operasi IPL
kepada bagian Pemeliharaan setelah disetujui oleh kepala Bagian Operasi.

17. Tenaga Satuan Keamanan.


Berjumlah satu orang dengan tugas dan kewajiban sebagai berikut :
 Membantu pengaturan kendaraan pada pintu masuk dan lalu lintas di luar
lahan kerja. Melakukan penertiban terhadap orang-orang yang tidak
berkepentingan atau orang-orang yang mengganggu operasi.
 Melakukan pengamanan pada seluruh fasilitas, bangunan, peralatan, dan
lain-lainnya dari pencurian atau perusakan.
 Melakukan pengamanan di daerah penurunan sampah sampai ke daerah
penimbunan, supaya keiancaran pekerjaan tetap terjamin dan mencegah
terjadinya kecelakaan.
 Melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan.
38

Tabel 3.4. Perincian kebutuhan pekerja (SDM) pada Controlled Landfill


Tunjungseto Kabupaten Kebumen
No Jabatan Jumlah
1 2 3
1 Kepala Controlled Landfill Tunjungseto 1
2 Kabupaten Kebumen 1
3 Kabag Umum. 1
4 Kabag Perencanaan dan Pengawasan 1
5 Kabag Pemeliharaan 1
6 Kabag Operasi 1
7 Seksi Administrasi 1
8 Seksi Keuangan 1
9 Seksi Kepegawaian 1
Seksi Keamanan 1
10 - Tenaga satuan keamanan 1
11 Seksi Perencanaan 1
12 Seksi Pengawasan
Seksi Pemeliharaan Peralatan Mekanik 1
13 - Penanggung jawab dan tenaga pemeliharaan
Seksi Pemeliharaan Fasilitas Pendukung 2
14 - Penanggung jawab dan tenaga pemeliharaan
Seksi Operasi Peralatan Mekanik 3
15 - Penanggung jawab dan tenaga operasi
Seksi Operasi Pekerjaan Manual 2
16 - Penanggung jawab dan tenaga operasi 1
Seksi Operasi IPL
Jumlah 21
Sumber : Hasil Analisis, 2003

3.6 BIAYA OPERASIONAL DAN PEMELIHARAAN


CONTROLLED LANDFILL TUNJUNGSETO
KABUPATEN KEBUMEN
39
40

TABEL HARIAN
Daftar Monitoring Kendaraan Sampah

Hari / Tangga :
No Nomor Jam Ritase rit Jam Ukuran Volume terangkut
Kendaraan Tiba Kembali Kendaraan (m3/ton)
1 2 3 4 5 6 7

JUMLAH
41

Ungaran, …………….
Pengurus Controlled Landfill
Tunjungseto Kabupaten Kebumen

(…………………………..)

TABEL BULANAN
Monitoring Pengangkutan Sampah ke Controlled Landfill

Bulan :
No Tanggal Volume terangkut Keterangan
(m3/ton)
1 2 3 4

JUMLAH
42

Ungaran, …………….
Kepala Seksi Operasional Pengurus Controlled Landfill
Tunjungseto Kabupaten Kebumen

(…………………………..) (…………………………..)

TABEL TAHUNAN
Monitoring Pengangkutan Sampah ke Controlled Landfill

Tahun :
No Bulan Volume terangkut Keterangan
(m3/ton)
1 2 3 4

JUMLAH

Ungaran, …………….
Kepala Seksi Operasional Pengurus Controlled Landfill
Tunjungseto Kabupaten Kebumen
43

(…………………………..) (…………………………..)

Kepala Seksi Operasional

(…………………………..)
44

BAB III STANDAR OPERASI PROSEDUR ( SOP ) DAN MANAJEMEN


CONTROLLED LANDFILL TUNJUNGSETO KABUPATEN KEBUMEN............249

6.1 TEKNIK OPERASIONAL CONTROLLED LANDFILL..........................................249


6.1.1 PERSIAPAN OPERASI PADA LAHAN CONTROLLED LANDFILL................................249
6.1.1.1 Penempatan Cadangan Tanah Penutup............................................................250
6.1.1.2 Penempatan Peralatan Operasional.................................................................250
6.1.2 KEGIATAN OPERASIONAL PADA CONTROLLED LANDFILL......................................251
6.1.2.1 Pokok-pokok Kegiatan Operasional................................................................251
6.1.2.2 Uraian Pelaksanaan Operasional.....................................................................254
6.1.3 PENGATURAN LALU LINTAS.................................................................................258
6.1.4 PENGATURAN LAHAN..........................................................................................259
6.1.5 PEMBONGKARAN SAMPAH...................................................................................261
6.1.6 PERATAAN DAN PEMADATAN SAMPAH.................................................................262
6.1.7 PENUTUPAN RENCANA........................................................................................262
6.1.8 FASILITAS PENGAMANAN GAS...........................................................................263
6.2 PEMELIHARAAN CONTROLLED LANDFILL......................................................264
6.2.1 UMUM................................................................................................................264
6.2.2 PEMELIHARAAN ALAT BERAT................................................................................264
6.2.3 PEMELIHARAAN JALAN.......................................................................................264
6.2.4 PEMELIHARAAN LAPISAN PENUTUP.....................................................................265
6.2.5 PEMELIHARAAN SALURAN DRAINASE..................................................................265
6.2.6 PEMELIHARAAN INSTALASI PENGOLAHAN LINDI...............................................266
6.2.6.1 Operasi dan Pemeliharaan Bak Pengumpul Sementara dan
Bak Equalisasi................................................................................................................267
6.2.6.2 Operasi dan Pemeliharaan Kolam Anaerobik..................................................267
6.2.6.3 Operasi dan Pemeliharaan Kolam Fakultatif...................................................268
6.2.6.4 Operasi dan Pemeliharaan Kolam Maturasi....................................................269
6.2.6.5 Operasi dan Pemeliharaan Bak Pengering Lumpur............................................273
6.2.7 PEMELIHARAAN FASILITAS LAIN.......................................................................274
6.3 PENGAWASAN DAN PENGENDALIAN CONTROLLED LANDFILL..............................274
6.3.1 PENGAWASAN KEGIATAN PEMBANGUNAN............................................................274
6.3.1.1 Tujuan Pengawasan dan Pengendalian............................................................274
6.3.1.2 Tata Cara Pengawasan dan Pengendalian........................................................275
6.3.2 PENDATAAN DAN PELAPORAN.............................................................................275
6.3.2.1 Pendataan Controlled Landfill.........................................................................275
6.3.2.2 Pelaporan........................................................................................................276
6.3.3 PENGENDALIAN CONTROLLED LANDFILL.............................................................276
6.3.3.1 Pengendalian Lalat..........................................................................................276
6.3.3.2 Pencegahan Kebakaran atau Asap...................................................................276
6.3.3.3 Pencegahan Pencemaran Air...........................................................................277
6.3.3.4 Pemulungan Sampah.......................................................................................278
6.4 PEMANTAUAN LINGKUNGAN................................................................................279
6.4.1 PEMANTAUAN TERHADAP AIR TANAH....................................................280
6.4.2 PEMANTAUAN TERHADAP AIR PERMUKAAN..........................................281
45

6.4.3 PEMANTAUAN TERHADAP GAS..................................................................282


6.2.4 PEMANTAUAN TERHADAP LINDI.................................................................282
6.5 ORGANISASI OPERASI DAN KEBUTUHAN PERSONALIA PADA CONTROLLED
LANDFILL.......................................................................................................................284
6.5.1 STRUKTUR ORGANISASI PENGELOLA CONTROLLED LANDFILL...................284
6.6 biaya operasional dan pemeliharaan Controlled Landfill TUNJUNGSETO
KABUPATEN KEBUMEN............................................................................................294
12
12