Anda di halaman 1dari 2

OPINI MENGENAI KASUS SIMBOL MENYERUPAI ILUMINATI PADA

DESAIN MASJID AL – SAFAR KARYA RIDWAN KAMIL


By : Iyan Irawan
NIM : 14 2016 020

Bismillah....
Assalamu’alaikum wr. wb
Awal kalimat saya mengucapkan terimah kasih kepada bapak Erfa M Kamil selaku
dosen mata kuliah Etika dan Keprofesian yang memberi kesempatan kepada saya
dan teman – teman mahasiswa lainnya untuk menyampaikan opininya berkenaan
dengan polemik masjid Al Safar yang sedang hangat dibahas 2 minggu terakhir.
Bentuk atau wujud arsitektur memang bisa ditafsirkan apa saja oleh masyarakat
atau pengamat tanpa harus meminta klarifikasi arsitek atau perancangnya. Apalagi
arsitektur yang dimaksudkan adalah bangunan publik, pandangan dan interpretasi
harus dihargai dan jangan dilecehkan ditambah lagi jika, yang mengintrepetasikan
itu adalah pengguna bangunan itu sendiri. Karena sehebat apapun karya arsitektur
tidak akan pernah ada yang sempurna dan pasti selalu saja ada celah
kekurangannya. Namun dalam
Disisi lain, saya sangat percaya bahwa sang arsitek dalam hal ini, hampir tidak
mungkin melakukan hal tersebut dengan tujuan untuk memperkenalkan simbol -
simbol yang berkenaan dengan iluminati yang menjadi musuh Islam secara halus
dan sembrono.
Bagi saya, sepanjang saya mengamati desain masjid Al Safar ini, tidak ada masalah
bagi saya dengan bentukan segitiga yang diterapkan seperti pada desain atap,
jendela, menara dan lainnya yang berbentuk segitiga kecuali pada bagian Mihrab,
ditambah lagi dengan adanya bulatan ( hiasan kaligrafi ) justru makin memperjelas
dan mendekatkan mirip dengan simbol iluminati yang berupa segitiga dengan mata
satu ditengahnya. Memang bentuk segitiga bukan bentuk yang terlarang untuk
diterapkan dalam arsitektur karena bentuk segitiga merupakan bentuk struktur
terkuat Hal ini mungkin bagi sebagian umat Islam yang beribadah menjadi
terganggu karena sholat menghadap simbolnya dajjal yang itu berarti Tuhan lain
selain Allah swt. Na’uzubillah. saya bertanya – tanya kenapa harus bentuk seperti
itu yang justru berpeluang besar ditafsirkan secara negatif oleh masyarakat, apakah
tidak ada bentukan lain ? saya jadi heran mmm
Apakah itu kreatif ? ya sangat kreatif tetapi KREATIVITAS TETAP PERLU
SENSITFITAS.
Seperti yang disampaikan oleh Dr. Eng Bambang Setia Budi dosen mata kuliah
Arsitektur Islam SAPPK ITB yang saya baca di facebook beliau menyampaikan
seperti ini, “ kasus masjid Al Safar dalam pandangan saya cukup kreatif dengan
bentukan masjid yang tidak biasa bahkan mungkin belum pernah ada, namun
kurang sensitif dalam mengelaborasikan bentuk – bentuk bidang sehinngga
khususnya pada bagian mihrab seakan menghadirkan sebuah bentukan dan simbol
segitiga iluminati dengan bulatan ditengahnya yang menjadi musuh utama umat
Islam akhir zaman dan itu berada di depan orang sedang berdiri, ruku dan sujud

Maka solusinya adalah bentuk mihrab harus segera di ridesain sehingga bentukan
yang mengindikasikan iluminati menjadi hilang sama sekali atau paling tidak bisa
direduksi.
Memang, setelah pihak MUI Jawa Barat telah mengadakan diskusi membahas
polemik masjid AL Safar yang memutuskan bahwa sholat dimasjid Al Safar sah
dan tidak haram, tetap sekali lagi karena ini menyangkut kenyaman pengguna
masjid tersebut. Maka alalngkah baiknya jika pihak terkait terutama IAI dan MUI
setempat tetap memberi intruksi agar hal tersebut segera dilaksanakan.
Sekian pendapat dari saya dan terimah kasih atas perhatiannya ,
Wa’alakumussalam wr. wb