Anda di halaman 1dari 66

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Instalasi farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari
sistem pelayanan kesehatan rumah sakit, merupakan suatu unit atau bagian yang
menyelenggarakan pelayanan kefarmasian yang mencakup perencanaan;
pengadaan; produksi; penyimpanan perbekalan kesehatan/sediaan farmasi;
dispensing obat berdasarkan resep bagi penderita rawat inap dan rawat jalan;
pengendalian mutu; pengendalian distribusi dan penggunaan seluruh perbekalan
kesehatan di rumah sakit serta pelayanan farmasi klinik umum dan spesialis.
Pelayanan farmasi mencakup pelayanan langsung pada penderita dan pelayanan
klinik yang merupakan program rumah sakit secara keseluruhan (Siregar &
Amalia, 2003).
Pelayanan farmasi mempunyai arti yang sangat penting di rumah sakit
karena merupakan pelayanan penunjang yang menjadi cost centre dan diharapkan
dapat menjadi revenue centre bagi rumah sakit. Penyediaan obat-obatan yang
merupakan bagian dari pelayanan farmasi rumah sakit membutuhkan perhatian
khusus agar dapat dikelola dengan baik karena obat-obatan adalah salah satu hasil
dari tekhnologi kesehatan yang paling sering digunakan baik untuk pencegahan
maupun pengobatan penyakit (WHO, 2011; Stephens, 2011). Obat bisa dikatakan
merupakan pusat dari segala intervensi pelayanan kesehatan, khususnya di rumah
sakit karena sekitar 97% pasien yang ke rumah sakit menggunakan obat-obatan
(Stephens, 2011; Tetteh, 2007).
Obat merupakan salah satu komponen yang menyerap biaya terbesar dari
anggaran kesehatan, yaitu lebih dari 15,2% dari total anggaran kesehatan dunia
pada tahun 2000 (WHO, 2011). Menurut Khurana, et al., (2011) dan Mahatme, et
al., (2012) sekitar 35% dari anggaran belanja rutin rumah sakit dihabiskan untuk
pembelian perbekalan farmasi termasuk di dalamnya adalah obat-obatan. Data
penelitian di Thailand yang dilakukan oleh Laeiddee (2010), didapatkan bahwa
biaya instalasi farmasi adalah sebesar 25% sampai 27% dari total biaya

1
2

pengeluaran rumah sakit. Di negara-negara berkembang seperti Indonesia belanja


obat menyerap 40-50% biaya keseluruhan rumah sakit atau dapat dikatakan
merupakan komponen terbesar dari pengeluaran rumah sakit (Depkes RI dan
JICA, 2008).
Di Amerika dan di negara-negara maju, pembiayaan belanja obat
mencapai 10-20% dari total anggaran kesehatan (WHO, 2011). Di Inggris dalam
tahun 2009, National Health Service (NHS) menghabiskan dana 12,3 Billion £
atau sekitar 187 Trilyun Rupiah untuk belanja obat-obatan (Stephens, 2011).
Peningkatan biaya obat di rumah sakit di Iowa adalah sebesar 3% rata-rata per
tahunnya dan bahkan di rumah sakit tersebut biaya obat onkologi meningkat 6%
pada tahun 2012 (Bates & Richards, 2013).
Dari data di atas dapat dilihat betapa besarnya anggaran yang harus
dikeluarkan untuk pembiayaan perbekalan farmasi khususnya obat-obatan.
Namun, sesungguhnya selain sebagai pelayanan penunjang yang merupakan cost
centre bagi rumah sakit, pelayanan farmasi sebenarnya juga merupakan salah satu
revenue centre karena lebih dari 90% pelayanan kesehatan di rumah sakit
menggunakan perbekalan farmasi dan 50% dari seluruh pendapatan rumah sakit
berasal dari Farmasi, dan oleh karenanya jika perbekalan farmasi ini tidak dikelola
secara tepat dapat diprediksi akan menyebabkan penurunan pada pendapatan
rumah sakit (Suciati & Adisasmito, 2006; Khurana, et al., 2011). Pengelolaan
perbekalan farmasi haruslah menjadi perhatian khusus bagi pihak manajemen
rumah sakit untuk dapat dikelola secara baik dan benar.
Pentingnya pengelolaan perbekalan farmasi yang baik juga disadari betul
oleh pihak manajemen RSUD Kabupaten Rote Ndao, karena sebagai rumah sakit
yang didirikan sejak tahun 1907 yang merupakan milik dari pemerintah kabupaten
Rote Ndao, rumah sakit ini diharapkan mampu menjalankan perannya untuk
menjamin kelangsungan dan mutu pelayanan kesehatan bagi seluruh masyarakat
Rote Ndao. Rumah Sakit yang memiliki visi “Bersatu untuk maju dan sejahtera
dalam bidang pelayanan dan pendidikan kesehatan” ini merupakan pusat rujukan
di wilayah kabupaten Rote, dan memiliki poliklinik umum, anak, kebidanan,
Penyakit Dalam dan Bedah untuk pasien dari bayi sampai lansia.
3

Pelayanan yang diberikan oleh Instalasi Farmasi


RSUD Kabupaten Temanggung meliputi :
1. Peracikan dan pendistribusian obat
2. Informasi dan pelayanan obat
3. Penyimpanan obat
4. Pelayanan One day dose (ODD)
Instalasi Farmasi RSUD (IFRSUD) Kabupaten Temanggung sampai tahun
2018 ini memiliki tenaga sebanyak 22 orang dengan latar belakang pendidikan
sebagai berikut:
- Apoteker: 1 orang
- Asisten apoteker: 7 orang
- SMK/sederajat SMA: 2 orang
Berdasarkan Standar Prosedur Operasional (SPO) RSUD Kabupaten Rote
Ndao tentang Perencanaan Perbekalan Farmasi Tahun 2013 dalam kebijakannya
disebutkan bahwa agar pelayanan kesehatan di RSUD Kabupaten Rote Ndao
terjangkau seluruh lapisan masyarakat, diutamakan penggunaan obat generik di
samping obat paten yang sudah dipilih secara seksama mengingat mutu dan
harganya; perencanaan untuk obat Farmasi dilakukan untuk 1 tahun anggaran
dengan pelaksanaan pengadaan tiap bulan agar penggunaan biaya lebih efisien;
perencanaan dibuat berdasarkan dengan metode konsumtif, menyesuaikan
anggaran belanja dan sisa stok.
Prosedur perencanaan perbekalan farmasi di RSUD Kabupaten Rote Ndao
sebagaimana tertuang dalam SPO Intalasi Farmasi rumah sakit dapat digambarkan
dalam alur pada gambar 4.
4

Laporan Analisa Perencana


•Instalasi
Pemakaian perencana Kepala Instalasi an dan •Pejabat
Farmasi Pengadaan
Bulanan an Farmasi Pengadaan
•Instalasi •PPK/PPTK
koordinasi
Laboratorium •Komite Farmasi
dengan bagian
•Gudang keuangan dan Terapi
Farmasi •Direktur

Sumber: SPO IFRSUD Kabupaten Rote Ndao

Gambar 1. Alur Proses Perencanaan Perbekalan Farmasi di IFRSUD


Kabupaten Rote Ndao

Usulan perencanaan perbekalan farmasi dilakukan oleh Instalasi farmasi, Instalasi


Radiologi dan gudang farmasi dengan melihat laporan pemakaian bulanan yang
kemudian diusulkan ke Kepala Instalasi Farmasi. Kepala Instalasi Farmasi
melakukan analisa kebutuhan kemudian mengajukan hasilnya ke Pejabat
Pengadaan, Pejabat Pembuat Komitmen/Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan,
Komite Farmasi dan terapi serta Pengguna Anggaran/Direktur. Setelah disetujui
oleh Direktur, proses pengadaan pun dilakukan sesuai instruksi direktur RS.
Selama tahun 2018, biaya yang dikeluarkan untuk belanja obat dan alat
kesehatan (alkes) dan bahan medis habis pakai (BMHP) di RSUD Kabupaten
Rote Ndao menelan anggaran sekitar 11,1 Milyar Rupiah. Dengan jumlah
pelayanan resep perhari yaitu sekitar 235 resep. Pihak Instalasi Farmasi RSUD
Kabupaten Rote Ndao menyadari bahwa dengan biaya obat yang cukup besar
sesungguhnya membutuhkan pengelolaan yang tepat. Permasalahan yang sering
terjadi di RSUD Kabupaten Rote Ndao, menurut informasi dari pihak farmasi
adalah sering terdapat obat yang overstock atau sebaliknya juga tidak jarang
terjadi obat yang out of stock. Informasi yang didapat ini tidak didukung oleh data
yang akurat karena pihak farmasi mengakui bahwa mereka tidak memiliki arsip
data obat yang overstock. Keadaan ini tentu saja menyebabkan terjadinya
kehilangan pendapatan karena pasien akan membeli obat-obat yang diresepkan
yang tidak tersedia (out of stock) di apotik luar rumah sakit, sementara untuk obat-
5

obat yang overstock akan menyebabkan pengendapan dana.


Selama ini RSUD Kabupaten Temanggung menggunakan metode
konsumsi dalam proses perencanaan jumlah kebutuhan obat. Metode ini
merupakan metode standar yang dapat memberikan prediksi keakuratan yang baik
terhadap perencanaan obat, namun tidak selalu dapat memberikan hasil yang
memuaskan karena metode ini tidak dapat memberikan informasi tentang
perencanaan obat berdasarkan prioritas nilai investasinya (Quick, 2012).
Dengan pengelolaan yang tepat yaitu melalui evaluasi terhadap
ketersediaan obat maka instalasi farmasi dapat merencanakan obat yang memang
dibutuhkan, disediakan dengan jumlah yang cukup, dengan pemilihan jenis obat
yang terjangkau harganya serta dapat mengurangi jumlah obat yang hampir atau
tidak dibutuhkan, sehingga hal ini diharapkan dapat menurunkan anggaran belanja
obat namun tetap menjamin ketersediaan obat bermutu dengan harga terjangkau
yang pada akhirnya dapat meningkatkan mutu pelayanan.
Dalam penelitian ini, analisis yang dilakukan terhadap ketersediaan obat
adalah dengan menggunakan metode ABC dan VEN di mana hal ini belum pernah
dilakukan di RSUD Kabupaten Rote Ndao, yang hasilnya diharapkan dapat
digunakan oleh pihak rumah sakit sebagai dasar perencanaan obat periode
berikutnya. Analisis dengan menggunakan metode ABC dan VEN terhadap
ketersediaan obat sangat sesuai untuk dilakukan oleh instalasi farmasi karena
dapat memberikan penghematan untuk biaya obat dan dapat merencanakan jenis
obat yang tepat dan dibutuhkan (Suciati & Adisasmito, 2006; Gupta, et al., 2006;
Thawani, et al., 2004).

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka dirumuskan masalah


penelitian ini adalah bagaimana hasil analisis ABC dan VEN terhadap
ketersediaan obat di Instalasi Farmasi RSUD Kabupaten Rote Ndao tahun 2019,
2020 dan 2021?
6

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah mendeskripsikan pengelolaan obat
di Instalasi Farmasi RSUD Kabupaten Rote Ndao tahun 2019, 2020 dan 2021
dengan analisis ABC dan VEN .
2. Tujuan Khusus
a. Mendeskripsikan ketersediaan obat di Instalasi Farmasi RSUD Kabupaten
Rote Ndao yang dianalisis dengan metode ABC tahun 2019, 2020 dan
2021.
b. Mendeskripsikan ketersediaan obat di Instalasi Farmasi RSUD Kabupaten
Rote Ndao yang dianalisis dengan metode VEN tahun 2019, 2020 dan
2021.
c. Mengidentifikasi perbandingan harga obat 10 besar kategori A tahun 2019,
2020 dan 2021
d. Mendeskripsikan analisa VEN dan tingkat ketersediaan terhadap 10 besar
kategori A, B dan C tahun 2019, 2020 dan 2021
e. Mengidentifikasi jumlah generik dan branded tahun 2019, 2020 dan 2021
f. Mengidentifikasi kesesuaian item obat dengan formularium RS dan DOEN
tahun 2011

D. Manfaat Penelitian

1. Hasil penelitian ini bermanfaat bagi RSUD Kabupaten Rote Ndao untuk
pertimbangan melakukan perencanaan obat periode berikutnya berdasarkan
hasil analisis ABC dan VEN terhadap ketersediaan obat periode sebelumnya.
Selain itu, penelitian ini juga menjadi masukan bagi pihak manajemen untuk
melakukan supervisi dan pemantauan terhadap pola peresepan staf medik
dalam hal ini dokter sehingga dalam pelayanannya berupa pemberian obat
bagi pasien adalah yang rasional bukan saja hanya menguntungkan secara
ekonomis, namun yang juga benar-benar bermanfaat bagi pasien.
7

3. Bagi peneliti, penelitian yang dilakukan menambah pengetahuan dan


meningkatkan kemampuan mengidentifikasi permasalahan, menganalisa dan
memecahkannya sesuai dengan keilmuan dan metode yang didapatkan
selama masa pembelajaran dan penelitian.
8

E. Keaslian Penelitian
Tabel 2. Keaslian Penelitian

Nama Tujuan Lokasi Rancangan Subyek Pengumpulan


penelitian Penelitian data
Priyono Melakukan analisa terhadap pengelolaan RSAD Gatot Studi kasus non Instalasi Farmasi Penelusuran data
(2005) obat, meliputi perencanaan, penyimpanan, Soebroto eksperimental Rumah Sakit sekunder,
distribusi dan penggunaan dan menentukan Jakarta yang bersifat kuesioner dan
faktor-faktor yang mempengaruhi deskriptif wawancara
pengelolaan obat dan penyusunan upaya eksploratif mendalam
perbaikan pengelolaan obat.
Sari (2009) Mengetahui proses perencanaan dan RS Pertamina Studi kasus Sub Unit Apotik Pengamatan dan
pengendalian persediaan obat serta Jaya deskriptif pengisian
mengetahui dampak metode ABC indeks kuesioner serta
kritis dan EOQ dalam proses tersebut data sekunder
Puspasari Mengetahui proses perencanaan obat dan RSUD Kota Studi kasus Pengelolaan Penelusuran dan
(2011) gambaran kebutuhan obat berdasarkan Yogyakarta pendekatan logistik instalasi observasi data
metode ABC di RSUD Yogyakarta tahun kualitatif deskriptif farmasi sekunder serta
2010 wawancara
mendalam
Sudarsono Mengevaluasi pola penggunaan obat sebelum RSUD Deskriptif analitik Pasien Rawat Observasi
(2011) dan sesudah penerapan BLU serta kepuasan Panembahan Jalan dokumen,
pasien terhadap pelayanan obat di Instalasi Senopati kuesioner serta
Farmasi RSUD Panembahan Senopati Bantul Bantul wawancara
mendalam
Peneliti Mendeskripsikan ketersediaan obat dengan RSUD Observasional IFRSUD Observasi
(2013) menggunakan analisis ABC dan VEN tahun Kabupaten dengan rancangan kabupaten dokumen dan
2010, 2011 dan 2012 Temanggung Cross sectional Temanggung analisa data
9

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Telaah Pustaka

1. Instalasi Farmasi Rumah Sakit


Pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari
sistem pelayanan kesehatan rumah sakit yang berorientasi kepada pelayanan
pasien, penyediaan obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik yang
terjangkau bagi semua lapisan masyarakat (Depkes RI, 1999). Instalasi farmasi
merupakan satu-satunya unit di rumah sakit yang bertanggung jawab dalam
pengelolaan seluruh sediaan farmasi dan perbekalan kesehatan mulai dari
perencanaan, pengadaan, pengendalian mutu, penyimpanan, pelayanan resep,
distribusi bagi penderita, pemantauan efek dan pemberian informasi (Siregar &
Amalia, 2003). Perbekalan farmasi adalah sediaan farmasi yang terdiri dari obat,
bahan obat, obat tradisional, kosmetika, alat kesehatan, reagensia, radio farmasi
dan gas medis (DepKes RI, 2004).
Dari segi administrasi dan pengelolaan, sesuai dengan Keputusan Menteri
Kesehatan No. 1197 tahun 2004, terdapat beberapa unsur yang harus dipenuhi
oleh Instalasi farmasi di rumah sakit yaitu, sebagai berikut:
a. Adanya bagan organisasi yang menggambarkan uraian tugas, fungsi,
wewenang dan tanggung jawab serta hubungan koordinasi di dalam
maupun di luar pelayanan farmasi yang ditetapkan oleh pimpinan rumah
sakit.
b. Bagan organisasi dan pembagian tugas dapat direvisi kembali setiap tiga
tahun.
c. Kepala Instalasi Farmasi harus terlibat dalam perencanaan manajemen dan
penentuan anggaran serta penggunaan sumber daya.
d. Instalasi farmasi harus menyelenggarakan rapat pertemuan untuk
membicarakan masalah-masalah dalam peningkatan pelayanan farmasi.
Hasil pertemuan tersebut disebarluaskan dan dicatat untuk disimpan.

10
10

e. Adanya Komite/Panitia Farmasi dan Terapi di rumah sakit dan apoteker


IFRS menjadi sekretaris komite/panitia
f. Adanya komunikasi yang tetap dengan dokter dan paramedik, serta selalu
berpartisipasi dalam rapat yang membahas masalah perawatan atau rapat
antar bagian atau konferensi dengan pihak lain yang mempunyai relevansi
dengan farmasi.
g. Hasil penilaian/pencatatan konduite terhadap staf didokumentasikan secara
rahasia dan hanya digunakan oleh atasan yang mempunyai wewenang
untuk itu.
h. Dokumentasi yang rapi dan rinci dari pelayanan farmasi dan dilakukan
evaluasi terhadap pelayanan farmasi setiap tiga tahun
i. Kepala instalasi farmasi harus terlibat langsung dalam perumusan segala
keputusan yang berhubungan dengan pelayanan farmasi dan penggunaan
obat.
Dalam Standar Pelayanan Farmasi tahun 2003 disebutkan bahwa pelaksanaan
farmasi di apotik terdiri dari pelayanan obat non resep, pelayanan komunikasi-
informasi-edukasi (KIE), pelayanan obat resep dan pengelolaan obat (Direktorat
Jenderal Pelayanan Farmasi, 2003).

2. Pengelolaan Obat
Obat sebagai salah satu barang atau jasa dalam pelayanan kesehatan
karena obat dapat menjaga dan meningkatkan kesehatan, meningkatkan
kepercayaan terhadap pelayanan kesehatan, obat adalah biaya dan bukanlah
komoditi dagang biasa yang dituntut untuk dapat dikelola dengan baik dalam
penyediaan dan penggunaannya. Obat yang dimaksud adalah obat yang secara
medis memang diperlukan yang sesuai dengan keadaan pola penyakit setempat,
dan telah terbukti secara ilmiah bermanfaat dan aman untuk dipakai di rumah
sakit (Quick, 2012).
Sistem pengelolaan obat berdasarkan Standar Pelayanan Farmasi tahun
2003 adalah suatu siklus kegiatan yang dimulai dari pemilihan, perencanaan,
pengadaaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, pengendalian,
11

penghapusan, administrasi dan pelaporan serta evaluasi yang diperlukan bagi


kegiatan pelayanan (Depkes RI, 2006).
Siklus pengelolaan obat mencakup empat fungsi dasar sistem pengelolaan
obat, yaitu: perumusan kebutuhan obat (selection), pengadaan (procurement),
distribusi (distribution) dan penggunaan obat (drug use). Keempat fungsi ini
didukung oleh sistem penunjang (management support) yaitu organisasi,
pembiayaan, sistem informasi dan sumber daya manusia, seperti yang terlihat
pada siklus manajemen obat berikut ini :

SELECTION

Management
support :
Organisation
USE source PROCUREMENT
SIM
Finance

DISTRIBUTION

Sumber: Quick (2012)

Gambar 2. Siklus Manajemen Obat

Manajemen pengelolaan obat di rumah sakit adalah cara mengelola semua


tahap-tahap kegiatan tersebut agar dapat berjalan dengan baik dan saling
melengkapi agar tujuan dari pengelolaan obat untuk selalu dapat menyediakan
obat ketika dibutuhkan dalam jumlah yang cukup dan dengan mutu yang terjamin
dapat tercapai (Quick, 2012).
12

a. Perencanaan
Perencanaan merupakan kegiatan pemilihan jenis, jumlah dan harga
perbekalan farmasi yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran untuk
menghindari kekosongan obat. Tujuan perencanaan obat adalah untuk
menetapkan jenis dan jumlah obat sesuai dengan pola penyakit dan kebutuhan
pelayanan kesehatan (Depkes RI & JICA, 2008).
Proses pemilihan obat dalam perencanaan mengikuti pedoman seleksi
yaitu: memilih obat yang telah terbukti efektif dan merupakan drug of choice,
mencegah duplikasi obat, memilih obat yang minimal untuk suatu jenis
penyakit, melaksanakan evaluasi kontraindikasi dan efek samping secara
cermat. Biaya merupakan faktor pertimbangan utama pada pemilihan obat,
untuk obat-obat yang secara klinis memberikan efek penyembuhan yang sama
maka sebaiknya di ambil yang lebih murah, misalnya dengan menggunakan
obat generik (Halloway & Green, 2003). Kriteria dalam melakukan pemilihan
obat adalah sebagai berikut:
1) Relevan dengan pola penyakit yang ada
2) Teruji manfaat dan keamanannya
3) Terjamin kualitas obat/barang farmasi (bioavailability dan stability)
4) Menguntungkan dalam rasio cost-benefit dilihat dari total biaya obat
5) Dasar pemilihan adalah pada pengetahuan tentang faramakokinetik dan
farmakodinamik obat, ketersediaan di pasar, serta kemudahan
mendapatkan obat. (Quick, 2012).
Dengan perencanaan yang baik diharapkan akan mencegah terjadinya
kelebihan atau kekurangan stok. Nilai persediaan yang tinggi karena kelebihan
stok akan memerlukan biaya penyimpanan yang berlebih. Metode yang
digunakan dalam perencanaan obat meliputi metode konsumsi, morbiditas
atau metode kombinasi (Quick, 2012). Demikian juga menurut Depkes RI
(2006), tahap perencanaan menggunakan metode yang dapat
dipertanggungjawabkan dan dasar-dasar perencanaan yang telah ditentukan
antara lain konsumsi, epidemiologi, kombinasi metode konsumsi dan
epidemiologi disesuaikan dengan anggaran yang tersedia.
13

Pedoman perencanaan meliputi :


1) Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN), Formularium rumah sakit,
Standar Terapi Rumah Sakit, Ketentuan setempat yang berlaku.
2) Data catatan medik
3) Anggaran yang tersedia
4) Penetapan prioritas
5) Siklus penyakit
6) Sisa persediaan
7) Data pemakaian periode yang lalu
8) Rencana pengembangan
DOEN dan formularium dijadikan standar acuan dalam perencanaan obat di
sebuah rumah sakit. Hal ini dimaksudkan untuk mengendalikan biaya obat dan
mendukung peresepan yang rasional. Pada rumah sakit pemerintah di sebagian
besar negara-negara berkembang, daftar obat dalam formularium sama dengan
daftar obat esensial (Quick, 2012).
Sistem formularium adalah suatu metode yang digunakan staf medik dari
suatu rumah sakit yang bekerja melalui komite dengan tujuan mengevaluasi,
menilai dan memilih dari berbagai zat aktif obat dan produk obat yang
dianggap paling berguna dalam perawatan pasien yang harus disetujui oleh
komite medik dan staf medik fungsional (Siregar & Amalia, 2004).
Formularium harus terus menerus direvisi agar selalu akomodatif bagi
kepentingan pasien dan staf profesional pelayanan kesehatan berdasarkan data
konsumtif dan data morbiditas, serta pertimbangan klinik staf medik rumah
sakit itu. Formularium berfungsi untuk memberikan informasi tentang obat
yang digunakan di rumah sakit, baik mengenai nama generik, preparat
kombinasi, bentuk dan kekuatan sediaan serta kemasan obat, klasifikasi
farmakologis dan prosedur penggunaan obat di rumah sakit (Hassan, 1986).
Obat yang masuk dalam formularium merupakan obat pilihan utama dan
obat-obat alternatifnya. Dasar pemilihan obat-obat alternatif itu tetap harus
mengindahkan prinsip manajemen sebagai obat yang paling bermanfaat,
paling aman, paling ekonomis dan rasional. Oleh karena itu formularium
14

rumah sakit harus menjadi arahan bagi pemakai obat (klinis) untuk
menggunakan obat-obat terpilih dengan efektif, aman dan rasional (Quick,
2012).
Perencanaan dilakukan dengan metode konsumsi yang didasarkan atas
analisa data konsumsi obat sebelumnya. Perencanaan kebutuhan obat menurut
pola konsumsi mempunyai langkah-langkah sebagai berikut: pengumpulan
dan pengolahan data, perhitungan perkiraan kebutuhan obat dan penyesuaian
jumlah kebutuhan obat dengan alokasi dana. Metode konsumsi menggunakan
perhitungan kebutuhan riil obat yang dikonsumsi tahun lalu sebagai dasar
perencanaan dengan penyesuaian dan koreksi, dengan cara menghitung dari
catatan obat yang diresepkan pada pasien (diberikan kepada pasien) atau
dengan menghitung dari catatan stok awal ditambah obat yang masuk
kemudian dikurangi stok akhir (Quick, 2012)
Metode epidemiologi didasarkan pada jumlah kunjungan, frekuensi
penyakit dan standar pengobatan. Langkah-langkah metode ini berupa :
1) Menentukan jumlah penduduk yang akan dilayani
2) Menentukan jumlah kunjungan kasus berdasarkan frekuensi penyakit
3) Menyediakan standar pengobatan yang digunakan untuk perencanaan
4) Menghitung perkiraan kebutuhan obat
5) Penyesuaian kebutuhan obat dengan alokasi dana (Quick, 2012).
Setelah dilakukan perhitungan kebutuhan obat, maka kemudian akan
dievaluasi dengan menggunakan beberapa cara atau metode yaitu: analisis
ABC (untuk evaluasi aspek ekonomi), kriteria VEN (untuk evaluasi aspek
medik/terapi), atau kombinasi ABC dan VEN (Depkes RI & JICA, 2008).
Metode kombinasi antara ABC dan VEN banyak direkomendasikan untuk
digunakan karena dapat membantu rumah sakit dalam membuat perencanaan
obat dengan mempertimbangkan nilai investasi, kekritisan obat dalam hal
penggolongan obat vital, esensial dan non esensial (Suciati & Adisasmito,
2006; Gupta, et al., 2007). Demikian juga dengan penelitian yang dilakukan di
rumah sakit kelas III di India Tengah, analisa ABC-VEN juga
direkomendasikan untuk evaluasi dalam perencanaan kebutuhan obat
15

(Mahatme et al., 2012). Pendapat yang sejalan juga ditemui dalam artikel
penelitian yang dilakukan tahun 2003 di India tentang analisis ABC dan VEN
dalam pengendalian perbekalan medis, yang merekomendasikan ABC dan
VEN sebagai metode yang paling cocok digunakan untuk pengendalian
perbekalan farmasi (Gupta et al., 2007).
1) Analisis ABC
Analisis ABC juga dikenal dengan nama analisis Pareto yang diambil
dari nama seorang ekonom Italia Vilfredo Pareto. Hukum Pareto
menyatakan bahwa dalam sebuah kelompok selalu memiliki persentase
terkecil yang bernilai (20%) atau yang bernilai terbesar (80%), karena itu
analisis Pareto sering disebut juga 80/20 rule (Chu, et al., 2008; Ng, 2006;
Mohanta et al., 2005). Kelompok dalam analisis ABC ini terdiri dari 3
golongan, yaitu :
a) Kelompok A adalah inventory (perbekalan) dengan jumlah sekitar 10-
20% dari total item dengan nilai investasi sekitar 70% dari total nilai
investasi.
b) Kelompok B adalah inventory dengan jumlah sekitar 10-20% dari item
obat lainnya dengan nilai investasi sekitar 20% dari total nilai
investasi.
c) Kelompok C adalah inventory dengan jumlah sekitar 70% dari total
item dengan nilai investasi sekitar 10% dari total nilai investasi
(Quick, 2012; Wong, 2007).
Kelompok A adalah kelompok yang sangat kritis sehingga perlu
pengontrolan secara ketat, dibandingkan kelompok B yang kurang kritis.
Sedangkan kelompok C mempunyai dampak yang kecil terhadap aktivitas
gudang dan keuangan.
Prinsip ABC ini dapat diterapkan dalam pengelolaan pembelian,
inventory, penjualan dan sebagainya (Mohanta et al., 2005).
Pengelompokan persediaan dengan analisis ABC ini dapat digunakan
untuk:
16

a) Mengukur tingkat kebutuhan di mana konsumsi aktual merefleksikan


kebutuhan masyarakat dan morbiditas
b) Mengurangi level persediaan dan biaya dengan mencari harga yang
lebih rendah atau pengiriman kuantitas item kelompok A yang lebih
kecil
c) Meminimalkan biaya yang terbesar dengan mencari harga yang lebih
rendah untuk item yang termasuk dalam kelompok A
d) Mengontrol persediaaan dan memastikan bahwa pesanan dalam jumlah
besar dari item kelompok A dapat dikelola secara tepat (Quick, 2012).
2) Analisis VEN
Analisis VEN adalah suatu cara untuk mengelompokkan obat yang
berdasarkan pada dampak tiap jenis obat pada kesehatan. Semua jenis obat
dalam daftar obat dapat dikelompokkan ke dalam tiga kelompok, yaitu:
a) Kriteria V adalah kelompok obat-obat vital, sangat esensial yang
tergolong life saving drugs, obat-obatan untuk pelayanan kesehatan
pokok dan obat-obatan untuk mengatasi penyakit penyebab kematian
terbanyak;
b) Kriteria E adalah obat-obatan yang esensial yaitu obat-obatan yang
bekerja kausal atau bekerja pada sumber penyakit;
c) Kriteria N adalah obat-obat non esensial yang merupakan obat-obatan
penunjang yang kerjanya ringan dan bisa menimbulkan kenyamanan
atau untuk mengatasi keluhan ringan (Quick, 2012; Devnani, et al.,
2010).
Klasifikasi obat-obat berdasarkan VEN dapat mempengaruhi hal-hal
sebagai berikut:
a) Memantau pemesanan: pemesanan terhadap obat-obat vital dan
esensial harus dilakukan secara ketat, karena jika terjadi kekurangan
akan mempengaruhi pelayanan.
b) Stok pengaman: Stok pengaman harus tinggi untuk obat-obat vital dan
esensial. Sedangkan untuk yang non esensial dapat dikurangi.
17

c) Kuantitas pemesanan: memastikan bahwa obat-obat yang vital dan


esensial dibeli terlebih dahulu.
d) Pemilihan pemasok: hanya pemasok-pemasok terpercaya yang
diperbolehkan untuk memasok obat-obat vital dan esensial (Quick,
2012).
3) Kombinasi ABC dan VEN
Metode berdasarkan nilai ekonomi atau investasi dilihat dengan
pendekatan ABC dan metode berdasarkan nilai medik/terapi dilihat
dengan pendekatan VEN, sehingga dapat memberikan kesimpulan bahwa
seharusnya jenis obat yang termasuk dalam kategori A (analisis ABC)
adalah benar-benar yang diperlukan untuk menanggulangi penyakit
terbanyak dan berdasarkan analisa VEN maka obat tersebut haruslah
termasuk dalam kriteria E dan sebagian V. Sebaliknya untuk obat-obat
yang termasuk dalam kriteria N (dalam analisis VEN) haruslah masuk
dalam kategori C (dalam analisis ABC) (Devnani, et al., 2010; Depkes RI
dan JICA, 2008).
Kombinasi antara ABC dan VEN banyak direkomendasikan untuk
penyesuaian dana perencanaan obat agar sesuai dengan yang dibutuhkan
(Suciati & Adisasmito, 2006; Gupta, et al., 2006; Thawani, et al., 2004).
Kombinasi ABC dan VEN dapat memberikan arti yang sangat penting
dalam pengendalian terhadap pasokan bahan-bahan perbekalan kesehatan
atau obat, di mana bisa dikategorikan dalam 3 kelompok yaitu:
a) Kategori I: semua obat yang tergolong vital dan esensial dan mahal
(AV, BV, CV, AE, AN)
b) Kategori II: semua obat yang tersisa dari kelompok E dan B (BE, CE,
BN).
c) Kategori III: obat yang non esensial dan murah (investasi paling
rendah) (CN) (Devnani et al., 2010).
b. Pengadaan
Tujuan dari pengadaan adalah mendapatkan perbekalan farmasi
dengan harga yang layak, dengan mutu yang baik, pengiriman barang
18

terjamin dan tepat waktu, proses berjalan lancar dan tidak memerlukan
tenaga serta waktu berlebihan (Depkes RI & JICA, 2008). Menurut Quick
(2012), metode pengadaan terdiri dari proses-proses sebagai berikut:
1) Tender terbuka untuk semua rekanan yang terdaftar, dan sesuai dengan
kriteria yang telah ditentukan. Pada penentuan harga lebih
menguntungkan
2) Tender terbatas, sering disebut dengan lelang tertutup. Hanya
dilakukan pada rekanan tertentu yang sudah terdaftar dan punya
riwayat yang baik. Harga masih bisa dikendalikan.
3) Pembelian dengan tawar menawar dilakukan bila jenis barang tidak
urgent dan tidak banyak, biasanya dilakukan pendekatan langsung
untuk jenis tertentu.
4) Pengadaan langsung, pembelian jumlah kecil, perlu segera tersedia.
Harga tertentu relatif agak mahal.
Obat yang mahal atau sering dipakai sebaiknya pembelian dilakukan
sebulan sekali, sedangkan untuk obat yang murah dan jarang
digunakan dapat dibeli setahun sekali atau setiap 6 bulan sekali
(Istinganah & Santoso, 2006).
Menurut WHO (1999), ada empat strategi dalam pengadaan obat yang
baik, yaitu:
1) Pengadaan obat-obat dengan harga mahal dengan jumlah yang tepat
2) Seleksi terhadap supplier yang dapat dipercaya dengan produk yang
berkualitas
3) Pastikan ketepatan waktu pengiriman obat
4) Mencapai kemungkinan termurah dari harga total.
c. Penyimpanan dan Distribusi
Penyimpanan adalah suatu kegiatan menyimpan dan memelihara dengan
cara menempatkan perbekalan farmasi yang diterima pada tempat yang dinilai
aman dari pencurian serta gangguan fisik yang dapat merusak mutu obat
Penyimpanan ini bertujuan untuk: memelihara mutu sediaan farmasi,
menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab, menjaga
19

ketersediaan, memudahkan pencarian dan pengawasan (Depkes RI & JICA,


2008).
Tujuan dari tahapan distribusi adalah tersedianya perbekalan farmasi di
unit-unit pelayanan secara tepat waktu, tepat jenis dan jumlah (Depkes RI &
JICA, 2008; Quick, 2012). Proses ini adalah suatu rangkaian kegiatan
mendistribusikan perbekalan farmasi di rumah sakit untuk pelayanan individu
yang menjalani proses terapi baik di rawat inap maupun di rawat jalan
(Depkes RI & JICA, 2008).
d. Penggunaan
Penggunaan perbekalan farmasi adalah suatu tahapan kegiatan yang
dimulai dari proses peresepan sampai penyerahan dan digunakan oleh pasien.
Tahapan ini merupakan proses yang penting karena dokter sebagai pemberi
resep diharapkan mampu memberikan pengobatan yang rasional dan tepat
dengan memperhatikan efek samping dan kontraindikasi. Dalam proses ini,
pihak apotik atau instalasi farmasi juga turut berperan sebagai bagian yang
menyiapkan resep dan menyerahkan kepada pasien dengan memberikan
informasi yang tepat kepada pasien (Depkes RI & JICA, 2008; Quick et al,
2012).
20

B. Kerangka teori

INPUT

Sumber Daya Manusia

Kebutuhan  Panitia Farmasi dan terapi

Obat  KaSie Pelayanan


 KaSub Bag Keuangan
 Ka. Instalasi Farmasi
Anggaran/Dana

 Analisis ABC
OUTPUT
 Analisis VEN PROSES
 Kombinasi ABC dan
Ketersediaan
VEN Perencanaan
obat yang tepat
 Metode konsumsi Pengadaan
dan bermutu
Penyimpanan
 Metode Epidemiologi dalam jumlah
Pendistribusian
 EOQ yang cukup
 ROP
 Just in Time
 Safety Stock
OUTCOME

Penghematan biaya

Sumber: Quick (2012)


Gambar 3. Kerangka Teori
21

C. Kerangka Konsep

- Data ketersediaan
Analisis Perencanaan
obat tahun 2016,
berdasarkan ABC Pengadaan
2017 dan 2018
Analisis Penyimpanan
- Biaya obat tahun
berdasarkan VEN Pendistribusian
2016, 2017 dan
2018

- Jumlah dan harga


generik dan branded
- Kesesuaian item obat
dengan formularium
RS
- Kesesuaian item obat
dengan DOEN tahun
2011

Gambar 4. Kerangka Konsep

D. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian dan


tinjauan pustaka, didapatkan beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1. Bagaimana analisis ABC terhadap ketersediaan obat di IFRSUD
kabupaten Rote Ndao tahun 2016, 2017 dan 2018?
2. Bagaimana analisis VEN terhadap ketersediaan obat di IFRSUD
kabupaten Rote Ndao tahun 2016, 2017 dan 2018?
22

3. Bagaimana perbandingan harga obat 10 besar kategori A di IFRSUD


kabupaten Rote Ndao tahun 2016, 2017 dan 2018?
4. Bagaimana analisa VEN dan tingkat ketersediaan terhadap 10 besar
kategori A, B dan C di IFRSUD kabupaten Rote Ndao tahun 2016, 2017
dan 2018?
5. Bagaimana perbandingan jumlah obat generik dan branded pada kategori
A, B dan C di IFRSUD kabupaten Rote Ndao tahun 2016, 2017 dan 2018?
6. Bagaimana kesesuaian item obat dengan formularium RSUD kabupaten
Rote Ndao tahun 2016, 2017 dan 2018 dan DOEN tahun 2011?
23

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Disain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan rancangan cross


sectional. Analisa yang digunakan terhadap data obat yang ada adalah dengan
ABC dan VEN yang merupakan teknik untuk mengontrol inventory.

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Instalasi Farmasi RSUD Kabupaten Rote Ndao


selama 5 bulan yaitu dari bulan Januari sampai Mei 2018.

C. Subjek penelitian

1. Batasan populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh data ketersediaan dan biaya
obat di Instalasi Farmasi RSUD Kabupaten Rote Ndao tahun 2016, 2017 dan
2018. Data yang diobservasi dan dicatat berupa data pada faktur pembelian dan
laporan penerimaan bulanan selama tahun 2016, 2017 dan 2018.
2. Subyek penelitian
Subyek dalam penelitian ini adalah seluruh data obat yang tersedia yang
dibeli dan biaya obat di Instalasi Farmasi RSUD Kabupaten Rote Ndao tahun
2016, 2017 dan 2018.
3. Cara pengambilan data
Cara pengambilan data adalah melalui observasi serta pengumpulan dan
pencatatan jumlah obat yang tersedia dan dibeli serta biaya obat yang didapat dari
faktur pembelian obat yang ada di IFRSUD kabupaten Rote Ndao tahun 2016,
2017 dan 2018.

24
24

D. Identifikasi Variabel Penelitian

Tabel 3. Identifikasi variabel penelitian

Nama Variabel Definisi Operasional

Data ketersediaan Jumlah obat yang tersedia yang dibeli selama satu tahun (Januari-Desember)
obat yang dilihat dari laporan penerimaan obat bulanan

Biaya obat Jumlah obat dikalikan dengan harga beli per item obat

Kelompok A Kelompok obat yang jumlahnya sekitar 10-20% dari total item obat, dengan
biaya sekitar 70% dari total investasi obat.

Kelompok B Kelompok obat yang jumlahnya sekitar 10-20% dari total item obat, dengan
nilai investasi sekitar 20% dari total investasi obat.

Kelompok C Kelompok obat yang jumlahnya sekitar 70% dari total item obat dengan nilai
investasi sekitar 10%.

Kelompok V Kelompok obat yang masuk dalam Formularium Nasional, yang sangat
esensial dan tergolong life saving drugs, obat-obatan untuk pelayanan
kesehatan pokok dan obat-obatan untuk mengatasi penyakit penyebab
kematian terbanyak (masuk dalam DOEN tahun 2011)

Kelompok E Kelompok obat yang masuk dalam Daftar Obat Esensial Nasional, yang
esensial yaitu obat-obatan yang bekerja kausal atau bekerja pada sumber
penyakit (masuk dalam DOEN tahun 2011)

Kelompok N Kelompok obat yang tidak termasuk dalam daftar obat esensial tahun 2011
yang merupakan obat-obat non esensial penunjang, yang kerjanya ringan dan
bisa menimbulkan kenyamanan atau untuk mengatasi keluhan ringan (tidak
termasuk dalam DOEN tahun 2011)

Obat Generik Obat dengan nama resmi International Non Propietary Names (INN) yang
ditetapkan dalam Famakope Indonesia atau buku standar lainnya untuk zat
berkhasiat yang dikandungnya

Obat branded Obat generik dengan nama dagang yang menggunakan nama milik produsen
obat yang bersangkutan

Formularium Himpunan obat yang diterima/disetujui oleh Komite Farmasi dan Terapi
25

(KFT) untuk digunakan di rumah sakit dan dapat direvisi pada setiap batas
waktu yang ditentukan

E. Instrumen Penelitian
1. Lembar kerja pengisian data ketersediaan dan biaya obat tahun 2016, 2017
dan 2018
2. Lembar kerja untuk analisis ABC dan melakukan pencatatan untuk
pengelompokkan dalam 3 kelompok
3. Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) tahun 2011
4. Formularium RSUD kabupaten Rote Ndao tahun 2016, 2017 dan 2018
5. Lembar kerja untuk analisis VEN

F. Cara Analisis Data


Tahapan analisis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Mengumpulkan dan mencatat ketersediaan obat dan biaya obat yang
dilihat dari laporan penerimaan obat bulanan tahun 2016, 2017 dan 2018.
2. Melakukan analisis ABC terhadap data ketersediaan dan biaya obat yang
telah dicatat.
Analisis ABC dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Memasukkan semua item obat dan harganya per unit dalam lembar
kerja
b. Memasukkan semua total jumlah obat yang dibeli
c. Menghitung nilai atau biaya obat dengan mengalikan jumlah item obat
dan harga/unit item obat, kemudian menjumlahkan total nilai
keseluruhannya dan hasilnya dituliskan pada baris paling bawah dari
kolom biaya obat
d. Menghitung persentase dari biaya tiap item obat. Caranya adalah
dengan membagi nilai/biaya dari setiap item obat dengan total
nilai/biaya obat kemudian dikalikan 100%. Hasilnya dimasukkan pada
kolom selanjutnya
26

e. Menyusun daftar obat yang sudah didapat dari biaya terbesar sampai
yang terkecil
f. Menghitung persentase kumulatif dari total biaya per item obat
g. Pengelompokkan cutoff points dilakukan dengan cara:
Kelompok A merupakan item obat dengan jumlah 10-20% dari
keseluruhan item obat dengan menggunakan biaya sebesar 70% dari
total biaya obat
Kelompok B merupakan item obat dengan jumlah 10-20% dari
keseluruhan item obat lainnya dengan menggunakan biaya sebesar
20% dari total biaya obat
Kelompok C merupakan item obat dengan jumlah 70% dari
keseluruhan item obat dengan menggunakan biaya sebesar 10% dari
total biaya obat
3. Analisis VEN dilakukan berdasarkan DOEN tahun 2011 dan WHO VEN
list 2008. Untuk item obat yang masuk dalam DOEN tahun 2011 dan
WHO VEN list 2008 masuk dalam kategori V dan E, sedangkan yang di
luar daftar tersebut masuk dalam kategori N.
4. Dari hasil yang ada, dibagi dalam 3 kelompok untuk kombinasi ABC dan
VEN, yaitu:
a. Kategori I: semua obat yang tergolong vital dan esensial dan mahal
(AV, BV, CV, AE, AN)
b. Kategori II: semua obat yang tersisa dari kelompok E dan B (BE, CE,
BN).
c. Kategori III: obat yang non esensial dan murah (investasi paling
rendah) (CN).
5. Dari hasil analisa yang diperoleh, dilakukan identifikasi harga per satuan
dan item obat yang masuk dalam kategori A setiap tahunnya dengan obat
yang sama namun dengan branded berbeda yang ada di kategori yang
sama atau di kategori lainnya (B dan C).
27

6. Dilakukan analisis VEN dan menghitung tingkat ketersediaan obat pada


10 besar kategori A, B dan C. Tingkat ketersediaan dihitung dengan
menggunakan rumus:

Jumlah obat yang tersedia selama setahun


Tingkat
ketersediaan =
(bulan) Rata-rata pemakaian perbulan

7. Menghitung jumlah item obat generik dan branded dalam kategori A, B


dan C
8. Menghitung kesesuaian formularium RSUD kabupaten Rote Ndao dengan
DOEN tahun 2011.
9. Langkah-langkah yang sama dilakukan untuk tahun 2011 dan 2012.
28

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Penelitian ini dilakukan di instalasi farmasi RSUD (IFRSUD) Kabupaten
Rote Ndao. Data dikumpulkan melalui observasi data obat dan dokumen yang
berkaitan dengan proses perencanaan obat selama tahun 2016, 2017 dan 2018.
Hasil penelitian dituliskan dalam laporan penelitian sebagai berikut.
1. Anggaran Obat di RSUD kabupaten Temanggung
Selama tahun 2016, 2017 dan 2018 biaya yang telah dikeluarkan untuk
pembelanjaan obat-obatan dan perbekalan kesehatan adalah berturut-turut
sebanyak Rp. 7.537.518.000, Rp. 7.416.720.000 dan Rp. 11.144.000.000.

Analisis ABC
a. Analisis ABC Terhadap Jumlah Item dan Biaya Obat
Jumlah item obat yang dibelanjakan di IFRSUD kabupaten Rote Ndao
selama tahun 2016, 2017 dan 2018 adalah sebanyak 942 (tahun 2016), 790
(tahun 2017) dan 763 (tahun 2018 item, dan menyerap biaya berturut-turut
sebesar Rp. 5.326.732.342; Rp. 6.244.458.094 dan Rp. 7.524.127.254.
Analisis ABC dilakukan terhadap semua item dan biaya obat, hasilnya dibagi
dalam 3 kelompok, yaitu: kelompok A merupakan kelompok item obat yang
menggunakan biaya terbesar, yaitu sekitar 10-20% itemnya menggunakan
70% dari total biaya obat. Kelompok B menunjukkan 10-20% item obat
lainnya menggunakan sebanyak 20% dari total biaya obat, dan kelompok C
merupakan 70% dari total item obat yang menggunakan 10% dari total biaya
obat

Selama tahun 2016, 2017 dan 2018 seperti, terjadi penurunan jumlah item
obat yang dibelanjakan yaitu sebanyak 942 di tahun 2010, 790 di tahun 2011
dan 763 item obat di tahun 2012, walaupun untuk total biayanya menunjukkan
peningkatan dari tahun ke tahun yaitu berturut-turut sebesar Rp.
5.326.732.342, Rp. 6.244.458.094 dan Rp. 7.524.127.254.
29

b. Sepuluh besar obat kategori A, B dan C


Dari keseluruhan item obat, setelah disusun dari yang terbesar biayanya
sampai yang paling kecil, diperoleh 10 besar obat pada tiap kategorinya.
Setiap tahunnya obat-obat dalam kategori A didominasi oleh obat-obat
sediaan injeksi, hal ini bisa dipahami karena pada umumnya obat dengan
sediaan injeksi mempunyai harga yang lebih mahal dari sediaan yang lain.
Untuk kategori B dan C, sediaan yang ada berupa oral, topikal dan inhalasi,
walaupun masih juga ditemukan sediaan injeksi dalam kategori tersebut
Hal lain yang cukup menyita perhatian juga terlihat dari nama-nama
branded yang mendominasi 10 besar kategori A, B dan C. Bisa terlihat bahwa
hampir sebagian besar obat pada kategori tersebut bukan merupakan obat-obat
generik
Tabel 1. Daftar Sepuluh Besar Obat Kategori A di IFRSUD
kabupaten Rote Ndao Tahun 2016, 2017 dan 2018

No Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2018


Nama Obat Sediaan Nama Obat Sediaan Nama Obat Sediaan

1. Kalsium Klorida, Kalium Injeksi Na Laktat, Na Cl, Injeksi Natrium Laktat, Injeksi
Klorida, Na Laktat (Otsu Kalium Klorida Na Cl, Kalium
Rl) (Ringer Laktat) Klorida
(Ringer Laktat)

2. Seftazidim Injeksi Ketorolak Injeksi Ketorolak Injeksi


(Lacedin Inj) (Ketorolac Inj) (Ketorolac Inj)

3. Ketorolak Injeksi Na, Kalium, Klorida, Injeksi Sitikolin Injeksi


(Ketorolac Inj) Kalsium, Asetat, (Brainact)
Dekstrosa Anhidrat
(Assering)

4. Sefotaksim Injeksi Klopidogrel Oral Pioglitazon Oral


(Cefotaxim 1gr) (Vaclo) (Pionix)

5. Seftazidim Injeksi Sitikolin Injeksi Seftazidim Injeksi


(Ceftazidime) (Brainact) (Lacedin Inj)

6. Sitikolin Injeksi Pioglitazon Oral Na, Kalium, Injeksi


(Brainact) (Pionix) Klorida, Ca,
Asetat, Dekstrosa
Anhidrat
30

(Assering)

7. Echinaceae, Oral Seftazidim Injeksi Ketokoasid Oral


Kurkuminoid, Silimarin, (Lacedin Inj) (Ketosteril)
Kolin, Vit B6 (Hepatin)

8. Zinc Pikolinat, Oral Sefotaksim Injeksi Seftriakson Injeksi


Echinaceae, Selenium, As (Cefotaxime 1gr) (Socef)
Askorbat
(Imunos)

9. Sefoperazon, Sulbaktam Injeksi Seftazidim Injeksi Levofloksasin Oral


(Soperam) (Ceftazidime) (Elvacin 500)

10. Na, Kalium, Klorida, Ca, Injeksi Natrium Klorida Injeksi Ranitidin Injeksi
Asetat, Dekstrosa (Nacl 0.5) (Rantin)
Anhidrat (Assering)
31

Tabel 2. Daftar Sepuluh Besar Obat Kategori B di IFRSUD


kabupaten Rote Ndao Tahun 2016, 2017 dan 2018

No Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2018


Nama Obat Sediaan Nama Obat Sediaan Nama Obat Sediaan

1. Atorvastatin Oral Metronidazol Oral Lisinopril Oral


(Lipitor 10mg) (Promuba) (Noperten 5)

2. Lisinopril Oral Akarbose Oral Fenoterol Inhalasi


(Interpril 10) (Glucobay 100) (Berotec Mdi)

3. Misoprostol Oral Furosemid Injeksi Atorvastatin Oral


(Cytotec) (Farsix) (Truvast 20)

4. Siprofloksasin Oral Asam Mefenamat Oral Metampiron, Oral


(Quinobiotic) (Mefinal 500) Diazepam
(Opineuron)

5. Insulin Injeksi Ketorolak Injeksi Pirasetam Injeksi


(Humulin 30/70) (Ketopain) (Piracetam 1gr)

6. Amlodipin Oral Glimepirid Oral Amoksisilin, Asam Oral


(Amlodipin 10) (Metrix 1) Klavulanat
(Claneksi)

7. Klopidogrel Oral Lansoprazol Oral Salbutamol, Gliseril Oral


(Pidovix) (Lancid) Guaiakolat
(Lasal Exp)

8. Ketamin Injeksi Permetrin Topikal Amlodipin Oral


(Ketamin) (Scabimite) (Amlodipin 5)

9. Tizanidin Oral Serapeptase, Tiamin, Oral Propofol Injeksi


(Zitanid) Riboflavin, (Trivam)
Piridoksin,
Sianokobalamin,
Nikotinamid,
Tokoferol (Dansera)

10. Bupivakain Injeksi Pirasetam Injeksi Epoetin Alfa Injeksi


(Bupivacain) (Piracetam 3gr) (Hemapo Inj)
32

Tabel 7. Daftar Sepuluh Besar Obat Kategori C di IFRSUD


kabupaten Rote Ndao Tahun 2016, 2017 dan 2018
No Tahun 2016 Tahun 2017 Tahun 2018
Nama Obat Sediaan Nama Obat Sediaan Nama Obat Sediaan

1. Dobutamin Injeksi Betametason, Oral Amoksisilin Oral


(Dominic) Deksklorfeniramin (Amoxan Syr)
Maleat
(Colergis Syr)

2. Furosemid Injeksi Amoksisilin Injeksi Klenbuterol Oral


(Impugan) (Pehamoxil) (Spiropent)

3. Isoksuprin Oral Sefiksim Oral Midazolam Injeksi


(Duvadilan) (Cefspan 50) (Midazolam)

4. Kalsium Glukonat Injeksi Valsartan Oral Asetazolamid Oral


(Ca Gluconas) (Valsartan 160) (Glaucon)

5. Karbazokrom Oral Pirasetam Oral Vit B1, Vit B2, Vit Oral
(Adona Ac-17) (Piracetam 400) B6, Vit B12, Vit C,
Vit E, Kalsium
Pantetenat,
Nikotinamid
(Becom C)

6. Aqua pro injeksi Injeksi Metilprednisolon Oral Sulbenisilin Injeksi


(Aqua 25) (Lameson 16) (Kedacillin)

7. Vitamin K Injeksi Parasetamol Injeksi Diltiazem Oral


(Vit K Inj) (Farmadol) (Diltiazem)

8. Metilprednisolon Oral Furosemid Injeksi Akar Curcuma Oral


(Lameson 4) (Furosemid Inj) (Curcuma)

9. Anti Bisa Ular Injeksi Furosemid Injeksi Amonium Klorida, Oral


(Abu) (Impugan) Succus Liquiritiae,
Amonium
(OBH)

10. Pirasetam Oral Asam Asetil Salisilat Oral Gentamisin Topikal


(Revolan 800) (Miniaspi) (Gentamycin Zm
Cendo)
33

2. Analisis VEN
Seluruh item obat yang ada sepanjang tahun 2016, 2017 dan 2018 setelah
diubah dalam zat aktifnya, dilihat kesesuaiannya dengan Daftar Obat Esensial
Nasional (DOEN) 2011 dan daftar obat esensial WHO. Obat-obatan yang tidak
masuk dalam kedua daftar tersebut, dimasukkan dalam kategori non esensial.
a. Analisis VEN terhadap jumlah item dan biaya obat
Sepanjang tahun 2016, 2017 dan 2018, hasil analisa VEN menunjukkan
bahwa rumah sakit membelanjakan lebih dari 50% biaya obatnya adalah untuk
obat-obat non esensial.

b. Analisis VEN dan tingkat ketersediaan 10 besar kategori A, B, dan C


Analisis VEN dan perhitungan tingkat ketersediaan dilakukan terhadap 10
besar obat kategori A, B dan C. Hasilnya seperti pada tabel 9,10 dan 11.

Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012


Nama Obat Tingkat V Nama Obat Tingkat V Nama Obat Tingkat V
Keter- E Keter- E Keter- E
sediaan N sediaan N sediaan N
(bulan) (bulan) (bulan)
Kalsium Klorida, 10,00 V Na Laktat, Na Cl, 13,61 V Na Laktat, Na Cl, 12,16 V
Kalium Klorida, Na Kalium Klorida Kalium Klorida
Laktat (Otsu Rl) (Ringer Laktat) (Ringer Laktat)

Seftazidim 12,00 N Ketorolak 12,01 N Ketorolak 14,47 N


(Lacedin Inj) (Ketorolac Inj) (Ketorolac Inj)

Ketorolak 12,00 N Na, Kalium, 17,21 N Sitikolin 12,00 N


(Ketorolac Inj) Klorida, Kalsium, (Brainact)
Asetat, Dekstrosa
Anhidrat
(Assering)

Sefotaksim 12,00 N Klopidogrel 12,14 N Pioglitazon 14,20 N


(Cefotaxim 1gr) (Vaclo) (Pionix)

Seftazidim 12,00 N Sitikolin 12,00 N Seftazidim 12,00 N


(Ceftazidime) (Brainact) (Lacedin Inj)
34

Sitikolin 12,00 N Pioglitazon 12,00 N Na, Kalium, Klorida, 12,00 N


(Brainact) (Pionix) Ca, Asetat, Dekstrosa
Anhidrat (Assering)

Echinaceae, 12,25 N Seftazidim 10,00 N Ketokoasid 13,69 N


Kurkuminoid, (Lacedin Inj) (Ketosteril)
Silimarin, Kolin,
Vit B6 (Hepatin)

Zinc Pikolinat, 12,73 N Sefotaksim 12,80 N Seftriakson 12,92 E


Echinaceae, (Cefotaxime 1gr) (Socef)
Selenium, As
Askorbat
(Imunos)

Sefoperazon, 13,93 N Seftazidim 12,06 N Levofloksasin 14,45 N


Sulbaktam (Ceftazidime) (Elvacin 500)
(Soperam)

Na, Kalium, 12,00 N Natrium Klorida 14,22 V Ranitidin 13,52 V


Klorida, Ca, Asetat, (Nacl 0,5) (Rantin)
Dekstrosa Anhidrat
(Assering)
Tabel 9. Analisis VEN dan Tingkat Ketersediaan 10 Besar Obat Kategori A
di IFRSUD kabupaten Temanggung Tahun 2010, 2011 dan 2012
Tabel 10. Analisis VEN dan Tingkat Ketersediaan 10 Besar Obat Kategori B
di IFRSUD kabupaten Temanggung Tahun 2010, 2011 dan 2012

Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012


Nama Obat Tingkat V Nama Obat Tingkat V Nama Obat Tingkat V
Keter- E Keter- E Keter- E
sediaan N sediaan N sediaan N
(bulan) (bulan) (bulan)
Atorvastatin 24,34 N Metronidazol 11,00 V Lisinopril 12,25 E
(Lipitor 10mg) (Promuba) (Noperten 5)

Lisinopril 3,00 E Akarbose 9,00 N Fenoterol 11,00 N


(Interpril 10) (Glucobay 100) (Berotec Mdi)

Misoprostol 34,84 N Furosemid 12,23 V Atorvastatin 23,31 N


(Cytotec) (Farsix) (Truvast 20)

Siprofloksasin 7,30 E Asam 10,00 N Metampiron, 12,51 N


(Quinobiotic) Mefenamat Diazepam
(Mefinal 500) (Opineuron)
35

Insulin 4,94 N Ketorolak 10,00 N Pirasetam 12,00 N


(Humulin 30/70) (Ketopain) (Piracetam 1gr)

Amlodipin 13,70 E Glimepirid 12,09 N Amoksisilin, Asam 13,47 N


(Amlodipin 10) (Metrix 1) Klavulanat
(Claneksi)

Klopidogrel 12,60 N Lansoprazol 12,69 N Salbutamol, Gliseril 13,46 N


(Pidovix) (Lancid) Guaiakolat
(Lasal Exp)

Ketamin 11,00 V Permetrin 5,42 E Amlodipin 13,48 E


(Ketamin) (Scabimite) (Amlodipin 5)

Tizanidin 13,00 N Serapeptase, 11,01 N Propofol 14,40 V


(Zitanid) Tiamin, (Trivam)
Riboflavin,
Piridoksin,
Sianokobalamin,
Nikotinamid,
Tokoferol
(Dansera)

Bupivakain 13,33 E Pirasetam 24,88 N Epoetin Alfa 9,44 N


(Bupivacain) (Piracetam 3gr) (Hemapo Inj)
36

Tabel 11. Analisis VEN dan Tingkat Ketersediaan 10 Besar Obat Kategori C
di IFRSUD kabupaten Temanggung Tahun 2010, 2011 dan 2012

Tahun 2010 Tahun 2011 Tahun 2012


Nama Obat Tingkat V Nama Obat Tingkat V Nama Obat Tingkat V
Keter- E Keter- E Keter- E
sediaan N sediaan N sediaan N
(bulan) (bulan) (bulan)
Dobutamin 18,00 V Betametason, 13,50 N Amoksisilin 16,24 V
(Dominic) Deksklorfeniramin (Amoxan Syr)
Maleat
(Colergis Syr)

Furosemid 9,00 V Amoksisilin 22,29 V Klenbuterol 15,11 N


(Impugan) (Pehamoxil) (Spiropent)

Isoksuprin 8,40 N Sefiksim 15,93 N Midazolam 14,11 E


(Duvadilan) (Cefspan 50) (Midazolam)

Kalsium Glukonat 18,46 V Valsartan 34,97 N Asetazolamid 15,83 V


(Ca Gluconas) (Valsartan 160) (Glaucon)

Karbazokrom 16,25 N Pirasetam 12,74 N Vit B1, Vit B2, Vit 18,92 N
(Adona Ac-17) (Piracetam 400) B6, Vit B12, Vit C,
Vit E, Kalsium
Pantetenat,
Nikotinamid
(Becom C)

Aqua 8,00 E Metilprednisolon 18,31 N Sulbenisilin 11,00 N


(Aqua 25) (Lameson 16) (Kedacillin)

Vitamin K 7,00 V Parasetamol 10,00 V Diltiazem 13,56 E


(Vit K Inj) (Farmadol) (Diltiazem)

Metilprednisolon 16,50 E Furosemid 9,23 V Akar Curcuma 22,12 N


(Lameson 4) (Furosemid Inj) (Curcuma)

Anti Bisa Ular 8,00 V Furosemid 8,00 V Amonium Klorida, 14,85 N


(Abu) (Impugan) Succus Liquiritiae,
Amonium
(OBH)

Pirasetam 14,40 N Asam Asetil 10,01 E Gentamisin 13,02 E


(Revolan 800) Salisilat (Gentamycin ZM
(Miniaspi) Cendo)
37

Biaya besar yang telah dikeluarkan oleh rumah sakit untuk


membelanjakan obat-obatan yang masuk dalam 10 besar kategori A sepanjang
tahun 2016, 2017 dan 2018 lebih banyak diperuntukkan bagi obat-obat yang
tergolong non esensial. Di tahun 2016 hanya terlihat 1 obat yang vital yang
masuk dalam 10 besar tersebut, tahun 2017 ada 2 obat vital dan tahun 2018
hanya terdapat 2 obat esensial dan 1 vital. Hal yang tidak jauh berbeda juga
ditemukan pada 10 besar obat kategori B, obat non esensial mendominasi
posisi pada kategori tersebut.
Pada kategori C, terlihat hal yang berbeda, yaitu pada tahun 2011
didominasi oleh obat vital dan esensial, sementara di tahun 2011 dan 2012,
terdapat 5 obat yang esensial dan vital dan sisanya adalah obat non esensial
(tabel 11).
Tingkat ketersediaan obat-obatan yang berada pada 10 besar kategori A, B
dan C bervariasi. Untuk kategori A pada umumnya berada antara 12-18 bulan,
yang bisa dikatakan sudah sesuai dengan standar ketersediaan obat. Namun
terdapat 2 item obat yaitu Kalsium Klorida, Kalium Klorida, Na Laktat (Otsu
Rl) dan Seftazidime (Lacedim Inj) yang tingkat ketersediaannya kurang yaitu
di bawah 12 bulan, padahal kedua obat tersebut merupakan golongan obat
vital (tabel 9). Terlihat juga adanya obat dengan tingkat ketersediaan berlebih
pada kategori ini. Pada kategori B dan C secara umum terlihat bahwa ada
beberapa obat yang tergolong esensial tapi dengan tingkat ketersediaan
rendah, sementara ada beberapa obat non esensial justru memiliki tingkat
ketersediaan yang tinggi (tabel 10 dan 11).
3. Analisis ABC-VEN
Hasil ABC dan VEN yang didapatkan, disilangkan dalam sebuah matriks
dan didapatkan hasil analisa VEN nya terhadap tiap kategori A, B dan C.
Sepanjang tahun 2010-2012 rumah sakit mengeluarkan biaya obat terbesar untuk
obat-obat non esensial (N), hasil analisis menunjukkan bahwa sebanyak 69,12%
dari total biaya obat di kategori A pada tahun 2010 digunakan untuk obat-obat
non esensial (N), angka ini menurun sebesar 4,15% di tahun 2011, namun
meningkat cukup besar di tahun 2012 yaitu sebesar 6,77% (Tabel 12). Untuk
38

setiap kategori baik A, B maupun C didapatkan hasil yang sama, yaitu biaya
terbesar dikeluarkan oleh rumah sakit untuk pembelian obat-obatan non esensial
(tabel 12).
Dari hasil matriks ABC-VEN pada tabel 12, diperoleh pengelompokkan
dalam 3 kategori untuk mempermudah pemilihan prioritas pengendalian dan
pengelolaannya. Kategori pengelompokkannya, yaitu: kategori I merupakan total
dari kategori AV, BV, CV, AE dan AN; kategori II merupakan total dari kategori
BN, BE dan CE; dan kategori III merupakan total dari kategori CN (tabel 13).
Tabel 13 menunjukkan bahwa sebanyak 287 item obat yang menggunakan
75,03% (Rp. 3.996.716.960) dari total biaya obat di tahun 2010, 231 item obat
yang menggunakan 74,52% (Rp. 4.653.415.187) dari total biaya obat tahun 2011
dan 222 item obat yang menggunakan 73,99% (Rp. 5.567.086.115) dari total
biaya obat di tahun 2012 membutuhkan perhatian khusus dan lebih ketat dalam
pengelolaannya karena tergolong obat-obat yang vital, mahal serta esensial dan
mahal.
39

Tabel 12. Matriks Analisis ABC-VEN di IFRSUD kabupaten Temanggung Tahun 2010, 2011 dan 2012

Kategori A B C
Biaya Jumlah Biaya Jumlah Biaya Jumlah
Item Item Item
Jumlah (Rp) Persen (%) Jumlah (Rp) Persen (%) Jumlah (Rp) Persen (%)
Tahun V 798.011.180 21,37 30 167.760.434 15,79 36 95.245.830 17,94 98
2010
E 354.931.207 9,51 20 273.332.079 25,73 56 111.752.442 21,05 147
N 2.580.768.309 69,12 103 621.114.611 58,47 130 323.816.250 61,00 322
Total 3.733.710.696 100 153 1.062.207.124 100 222 530.814.522 100 567

Tahun V 967.140.920 22,10 26 153.895.339 12,37 22 124.208.640 19,88 86


2011
E 565.542.065 12,93 22 232.780.682 18,70 34 134.083.775 21,47 127
N 2.842.628.223 64,97 75 857.818.207 68,93 117 366.360.243 58.65 281
Total 4.375.311.208 100 123 1.244.494.228 100 173 624.652.658 100 494

Tahun V 894.691.290 17,00 19 183.100.425 12,12 21 121.927.876 16,24 86


2012
E 592.357.555 11,26 17 303.757.250 20,10 33 185.309.885 24,68 131
N 3.775.008.969 71,74 79 1.024.341.986 67,78 112 443.632.018 59,08 265
Total 5.262.057.814 100 115 1.511.199.661 100 166 750.869.779 100 482
V: Vital; E: Esensial; N: Non esensial
40

Tabel 13. Jumlah dan Biaya Obat Berdasarkan Kategori I, II dan III
di IFRSUD kabupaten Temanggung Tahun 2010, 2011 dan 2012

Kategori I Kategori II Kategori III Total


Tahun Jumlah 287 333 322 942
2010 Obat
Persen 30,47 35,35 34,18 100
(%)
Biaya 3.996.716.960 1.006.199.132 323.816.250 5.326.732.342
(Rp)
Persen 75,03 18,89 6,08 100
(%)

Tahun Jumlah 231 278 281 790


2011 Obat
Persen 29,24 35,19 35,57 100
(%)
Biaya 4.653.415.187 1.224.682.664 366.360.243 6.244.458.094
(Rp)
Persen 74,52 19,61% 5,87 100
(%)

Tahun Jumlah 222 276 265 763


2012 Obat
Persen 29,10 36,17 34,73 100
(%)
Biaya 5.567.086.115 1.513.409.121 443.632.018 7.524.127.254
(Rp)
Persen 73,99 20,11 5,90 100
(%)
Kategori I : AV + BV + CV + AE + AN
Kategori II : BN + BE + CE
Kategori III : CN

4. Perbandingan Harga Obat Berdasarkan Zat Aktif Obat pada 10 Besar


Kategori A
Berdasarkan pengelompokkan obat-obat dalam zat aktifnya, diperoleh
duplikasi yaitu variasi branded obat yang sama zat aktifnya yang berada pada
kategori yang sama atau berbeda dengan harga yang variatif. Tabel 14, 15 dan 16
41

menyajikan daftar nama obat yang masuk dalam 10 besar kategori A, yang telah
diubah ke dalam zat aktifnya dan diperoleh nama branded berbeda namun
memiliki zat aktif yang sama yang berada di kategori yang sama atau di kategori
B dan C dengan harganya masing-masing per unit.
Seftazidime (Lacedin) yang selama 3 tahun berada pada 10 besar kategori
A ternyata mempunyai nama obat generik dengan harga yang jauh lebih murah
dibandingkan branded yang lain yaitu Seftazidime (Ceftazidime). Dengan zat
aktif yang sama terdapat berbagai macam nama branded obat yang telah
dibelanjakan oleh rumah sakit dengan harga yang variatif yang bisa menjadi
alternatif pengelola obat untuk menentukan obat yang lebih murah dalam
perencanaannya. Terlihat juga bahwa sebagian besar obat-obat generik pada daftar
tersebut mempunyai harga yang jauh lebih murah dari obat branded.
42

Tabel 14. Perbandingan Harga 10 Besar Obat Kategori A dengan Zat Aktif
yang Sama di IFRSUD kabupaten Temanggung Tahun 2010

Zat aktif Nama obat Harga/unit Kategori


(Rp)
Seftazidim Lacedin inj* 162.868 A
Ceftazidime * 35.374 A
Pharodime 160.000 A
Ceftamax 111.431 A
Acet cetacim/cetazum 180.000 B
Biozym 150.000 C

Ketorolak Ketorolac inj* 11.735 A


Ketopain inj 29.459 A
Torasic inj 8.938 A
Scelto inj 15.754 A
Trolac inj 23.500 A
Lantipain inj 24.167 C
Toramin inj 23.000 C

Sefotaksim Cefotaxim 1gr* 7.420 A


Renxon inj 165.000 A
Kalfoxim 1g 111.000 A
Taxegram 108.650 A
Glocef 115.000 A
Ethiclaf inj 92.959 A

Sitikolin Brainact inj* 34.878 A


Citicolin 250 inj 12.557 A
Serfac inj 20.000 A
Lancolin inj 27.000 C

 : Nama Obat yang masuk 10 besar kategori A


43

Tabel 15. Perbandingan Harga 10 Besar Obat Kategori A dengan Zat Aktif
yang sama di IFRSUD kabupaten Temanggung Tahun 2011

Zat aktif Nama obat Harga/unit Kategori


(Rp)
Ketorolak Ketorolac inj* 12.441 A
Torasic inj 13.347 A
Trolac inj 23.500 A
Ketopain inj 30.000 B
Scelto inj 14.331 B

Klopidogrel Vaclo* 12.000 A


Clopisan 10.515 A
CPG 7.462 A

Sitikolin Brainact inj* 36.535 A


Citicolin 250 inj 10.404 A
Serfac inj 22.000 A
Cholimed inj 30.000 B
Lancolin inj 34.560 C

Pioglitazon Pionix tab* 3.636 A


Deculin 30 tab 8.800 C
Deculin 15 5.800 C

Seftazidim Lacedin inj* 169.079 A


Ceftazidime* 34.437 A
Pharodime 160.000 A
Biozym 160.000 B
Ceftamax 115.500 B

Sefotaksim Cefotaxim 1gr* 7.798 A


Glocef 119.507 A
Renxon 165.000 A
Taxegram 111.400 A
Ethiclaf 98.502 A
Kalfoxim 1g 110.723 B
Kalfoxim 0.5 g 60.000 C
* : Nama Obat yang masuk 10 besar kategori A
44

Tabel 16. Perbandingan Harga 10 Besar Obat Kategori A dengan Zat Aktif
yang Sama di IFRSUD kabupaten Temanggung Tahun 2012

Zat aktif Nama obat Harga/unit Kategori


(Rp)
Ketorolak Ketorolac inj* 9.213 A
Torasic 6.819 A
Trolac 25.038 A
Ketopain 33.000 A

Sitikolin Brainact* 26.038 A


Lancolin 10.228 A
Citicolin 250 inj 12.518 B
Serfac inj 18.985 B

Seftazidim Lacedin inj* 167.871 A


Ceftamax 130.625 A
Biozym 167.200 A
Ceftazidime 30.421 A

Seftriakson Socef* 167.678 A


Ceftriaxon 6.774 A
Cephaplox 172.425 B
Foricef inj 167.200 C

Levofloksasin Elvacin 500* 27.500 A


Cravox 500 24.480 A

Ranitidin Rantin Inj* 17.604 A


Ranitidin inj 1.879 A
 : Nama Obat yang masuk 10 besar kategori A

5. Jumlah Obat Generik dan Branded pada Kategori A, B Dan C


Hasil analisis menunjukkan bahwa penggunaan branded di RSUD
kabupaten Temanggung mendominasi daftar obat yang ada dibandingkan dengan
obat generik. Dari tahun ke tahun jumlah item obat branded menunjukkan angka
yang cukup besar yaitu mencapai angka 75-77%. Angka ini menunjukkan
penurunan dari tahun ke tahun, yaitu sebesar 1,01% di tahun 2011 dan 0,85% di
45

tahun 2012. Pada setiap kategorinya baik A, B maupun C juga didominasi oleh
obat branded (tabel 17).

Tabel 17. Perbandingan Jumlah Obat Generik dan Branded dalam Kategori
ABC di IFRSUD kabupaten Temanggung Tahun 2010, 2011 dan 2012

Generik Branded Total


Jumlah Persen Jumlah Persen
Item Jumlah Item Jumlah
item (%) item
(%)
Tahun A 18 11,76 135 88,24 153
2010 B 44 19,82 178 80,18 222
C 155 27,34 412 72,66 567
217 23,04 725 76,96 942

Tahun A 18 14,63 105 85,37 123


2011 B 35 20,23 138 79,77 173
C 137 27,72 357 72,27 494
190 24,05 600 75,95 790

Tahun A 18 15,65 97 84,35 115


2012 B 31 18,67 135 81,32 166
C 141 29,25 341 70,75 482
190 24,90 573 75,10 763

6. Kesesuaian Item Obat yang Dibeli dengan DOEN Tahun 2011 dan
Formularium
Di tahun 2010 dari 942 total item obat yang dibeli didapatkan hanya
sekitar 23,35% (220 item) yang sesuai dengan DOEN dan Formularium RS,
namun dari tahun 2010 ke 2011 persentase ini turun sebesar 0,19% menjadi
23,16% (183 item), dan dari 2011 ke 2012 menunjukkan perbaikan karena ada
46

peningkatan sebesar 11,44% menjadi 34,60% (264 item). Hal ini memang dapat
dimaklumi, karena acuan penentuan VEN dari penelitian ini adalah berdasarkan
DOEN tahun 2011, sehingga terlihat pada tahun 2012 persentase kesesuaian
terlihat meningkat, walaupun tetap saja persentasenya kecil yaitu hanya 34,60%.
Pengadaan obat-obatan di RSUD kabupaten Temanggung selama tahun 2010-
2012 yang sesuai formularium pada tahun 2010 dan 2011 hanya sekitar 51,06%
dan 53,54% dari total obat yang ada, sementara itu di tahun 2012 terlihat adanya
perbaikan yang cukup besar karena 84,01% obat yang dibeli di tahun tersebut
sudah berdasarkan formularium rumah sakit.

Tabel 18. Kesesuaian Item Obat yang dibeli Sepanjang Tahun 2010, 2011
dan 2012 dengan DOEN Tahun 2011 dan Formularium
RSUD kabupaten Temanggung

DOEN 2011 Total Persen


Esensial Persen (%) Non Esensial Persen (%)
Formularium Ya 220 23,35 261 27,71 481 51,06
2010 Tidak 167 17,73 294 31,21 461 48,94
387 41,08 555 58,92 942 100

Formularium Ya 183 23,16 240 30,38 423 53,54


2011 Tidak 134 16,96 233 29,49 367 46,46
317 40,12 473 59,87 790 100

Formularium Ya 264 34,60 377 49,41 641 84,01


2012 Tidak 43 5,64 79 10,35 122 15,99
307 40,24 456 59,76 763 100
DOEN : Daftar Obat Esensial Nasional
47

B. Pembahasan

Sepanjang tahun 2016, 2017 dan 2018, RSUD kabupaten Rote Ndao telah
mengeluarkan anggaran per tahunnya berturut-turut sebesar Rp. 7.537.518.000,
Rp. 7.416.720.000 dan Rp. 11.144.000.000 untuk pembelian obat-obatan dan
perbekalan kesehatan. Porsi anggaran untuk obat pertahunnya berturut-turut
adalah sebesar Rp. 5.326.732.342, Rp. 6.244.458.094 dan Rp. 7.524.127.254.
Terlihat peningkatan yang cukup mencolok terjadi pada tahun 2018 yaitu hampir
sebesar 50% dari total anggaran obat dan perbekalan kesehatan di tahun 2016.
Peningkatan yang cukup tinggi di tahun 2018 berdasarkan data tersebut lebih
tertuju pada peningkatan anggaran untuk perbekalan kesehatan.
Peningkatan jumlah anggaran terhadap obat-obatan bisa dipahami karena
salah satu faktor penyebabnya adalah sepanjang tahun 2016-2018 terlihat adanya
peningkatan dalam jumlah kunjungan. Dari data jumlah kunjungan di RSUD
kabupaten Rote Ndao sepanjang tahun 2016-2018 terlihat adanya peningkatan
dari tahun ke tahun. Kestabilan dalam hal penganggaran dibutuhkan untuk
menjamin ketersediaan obat-obatan, karena ketika terjadi permintaan yang tinggi,
maka rumah sakit diperhadapkan dengan pilihan: melakukan penghematan,
menurunkan permintaan, meningkatkan sumber dan jumlah pendanaan atau harus
mengalami penurunan mutu dalam pelayanan kesehatan (Quick, 2012).
Porsi pembiayaan terhadap obat sepanjang tahun 2016-2018 merupakan
yang terbesar dibandingkan dengan perbekalan kesehatan, yaitu sekitar >50%
setiap tahunnya Menurut Gopalakrishnan (1985) seperti yang dikutip dalam
Khurana, et al., (2013) dan Manhas, et al., (2012) obat menggunakan hampir 60%
dari total pembelanjaan logistik rumah sakit. Hal ini memang tidaklah
mengherankan, karena obat adalah hal yang paling banyak dan selalu digunakan
oleh setiap pasien yang mengunjungi rumah sakit. Kekosongan obat-obat yang
dibutuhkan pasien dapat memberikan reputasi yang buruk terhadap pelayanan di
sebuah rumah sakit bahkan menyebabkan pelayanan sulit atau tidak berjalan
sebagaimana mestinya. Khurana, et al., (2011) juga menyebutkan bahwa
keseluruhan sistem dan sub sistem sebuah rumah sakit sangat bergantung pada
48

perbekalan kesehatan termasuk di dalamnya obat-obatan dan tanpa ketersediaan


perbekalan kesehatan tersebut, pelayanan sebuah rumah sakit tidak akan berjalan.
Dalam Standar Prosedur Operasional tentang Perencanaan Perbekalan
Farmasi RSUD Kabupaten Rote Ndao tertulis bahwa perencanaan dilakukan
melalui metode konsumtif, namun dari keterangan pihak farmasi sendiri selama
ini mereka hanya menggunakan metode konsumtif dalam perencanaannya. Alasan
belum dilakukannya metode ini dalam proses perencanaannya adalah karena
keterbatasan jumlah tenaga yang dimiliki, dan dapat dimaklumi dengan
diperolehnya sejumlah fakta, yaitu rumah sakit ini memiliki 55 tempat tidur,
jumlah kunjungan pasien menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun, jumlah
pelayanan resep sekitar 120 resep perhari serta 7 pelayanan yang menjadi
tanggung jawab mereka, hal-hal tersebut yang memungkinkan belum dapat
dilaksanakannya proses perencanaan seperti yang ada dalam SPO mereka.
Menurut standar pelayanan kefarmasian di rumah sakit maka rasio jumlah
apoteker dan tempat tidur adalah 1:30 untuk rawat inap dan 1:50 untuk rawat
jalan.
Analisis ABC dan VEN tidak bisa diabaikan jika rumah sakit ingin
mendapatkan perbaikan dalam pengelolaan logistik farmasinya. Analisis ini dapat
sangat membantu rumah sakit dalam hal merencanakan jenis dan pemilihan obat
yang tepat, pemesanan dan penyediaan stok yang sesuai dan menjamin
ketersediaan obat yang esensial dan vital dalam jumlah yang sesuai kebutuhan.
Analisis ini banyak direkomendasikan dalam berbagai penelitian karena sangat
berguna bagi rumah sakit untuk melakukan pengendalian dan pengontrolan
terhadap obat-obatan yang telah dibeli sehingga rumah sakit dapat melakukan
penghematan dan dapat merencanakan jenis obat yang tepat sesuai dengan yang
dibutuhkan (Wandalkar, et al., 2013; Millstein, et al., 2013; Torabi, et al., 2012;
Suciati & Adisasmito, 2006; Gupta, et al., 2006; Kaur, et al., 2006; Thawani et
al., 2004).
Dari analisis ABC yang dilakukan untuk tahun 2016-2018 terlihat adanya
penurunan persentase jumlah item dan biaya obat yang masuk dalam kategori A
dan B, sementara untuk kategori C terlihat adanya peningkatan baik dari jumlah
49

item maupun biayanya. Perbedaan persentase biaya dari tahun ke tahun tidak
memperlihatkan adanya perbedaan yang cukup besar karena perlakuan yang
dilakukan dalam analisa ABC ini yaitu batasan pengkategorian obat-obatan yang
masuk dalam kategori A, B dan C setiap tahunnya adalah sama. Persentase jumlah
item obat kategori A hanya sekitar 15-16% dari total obat yang ada namun
memakai biaya terbesar yaitu sebesar 70%. Persentase jumlah obat pada kategori
A dan B merupakan kelompok obat yang jumlahnya sekitar 40% dari total obat
yang ada, namun menyerap biaya 90% dari total biaya obat per tahunnya. Obat
yang masuk pada kategori ini adalah obat yang harga per unit cost nya mahal dan
ada juga yang walaupun murah, namun dibeli dalam jumlah yang banyak. Hal ini
jelas terlihat seperti pada perhitungan tingkat ketersediaan yang dilakukan
terhadap obat kategori A dan perbandingan harganya (tabel 9, 14, 15 dan 16).
Dalam hal ini tentu saja rumah sakit sangat membutuhkan informasi dan
data yang diperoleh dari analisis ini untuk dapat melihat item obat apa saja dan
jumlah obat yang telah dibeli yang ada dalam kategori A ini, sehingga dapat
melakukan pengontrolan dengan cara mengurangi jumlahnya atau memilih item
obat lain yang lebih murah. Stok untuk item obat kategori A dan B hendaknya
ditekan serendah mungkin, tetapi frekuensi pembelian dilakukan lebih sering.
Penelitian lain yang sejenis juga dapat menjadi perbandingan untuk analisis ini
telah dilakukan pada beberapa rumah sakit di India (Khurana, et al., 2013; Anand,
et al., 2013; Gupta, et al., 2007; Kaur, et al., 2006) dan di Indonesia (Suciati &
Adisasmito, 2006; Nofriana, 2011; Carla, 2010). Analisa dan pengendalian
terhadap obat-obat yang memakai biaya mahal atau tinggi dapat memberikan
penghematan sebesar 20% (Pillans, et al., 1992 dalam Manhas, et al., 2012).
Dari penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa jumlah item obat di
RSUD kabupaten Temanggung menunjukkan penurunan dari tahun 2010-2012.
Jumlah item obat yang banyak dapat disebabkan oleh beberapa hal di antaranya
adalah walaupun adanya keleluasaan pada setiap dokter untuk mengusulkan 2
nama obat yang akan masuk dalam formularium yang disetujui melalui rapat Sub
Komite Farmasi dan Terapi (SKFT), namun pada kenyataannya masih banyak
obat yang dibeli tidak masuk dalam formularium, yaitu hampir 50% pada tahun
50

2010 dan 2011, dan mengalami perbaikan menjadi hanya 15,99% di tahun 2012
(tabel 18). Hal lain yang ditemukan juga adalah banyaknya penggunaan obat
branded yang tentu saja menyebabkan banyaknya jumlah item obat yang tersedia
sekaligus mempengaruhi besarnya biaya obat di rumah sakit ini. Penggunaan
branded di RSUD kabupaten Temanggung bila dibandingkan dengan obat generik
bisa dikatakan cukup tinggi. Banyaknya jumlah item dan branded obat di rumah
sakit ini menurut pihak farmasi dibeli dan dipesan sesuai dengan permintaan dari
dokter (by request) yang melakukan pelayanan. Hal ini tentu saja tidak sesuai
dengan SPO Farmasi RSUD kabupaten Temanggung, karena menjadi terkesan
pembelian obat mengabaikan formularium yang ada.
Dalam hal obat yang digunakan dalam pelayanan, memang tidak bisa
dipungkiri bahwa dokter adalah pemegang kendali utama dalam penggunaan jenis
dan jumlah yang akan digunakan. Menurut Kelle, et al., (2012), dokter merasa
bahwa dia memiliki kebebasan untuk memilih obat yang menurut dia terbaik dan
sesuai dengan kebutuhan yang spesifik bagi pasiennya sehingga para dokter
biasanya membutuhkan obat dalam jenis yang beragam. Para dokter juga biasanya
dipengaruhi oleh pabrik obat untuk menambah jenis obat baru dalam formularium
atau dalam peresepannya. Pernyataan yang serupa juga oleh Konigbauer (2007)
yang mengemukakan bahwa pemasaran obat oleh pabrik obat adalah melalui para
dokter, karena dokter juga yang akan memiliki kendali untuk menentukan apakah
akan menggunakan generik atau branded dalam peresepannya. Sementara itu,
pihak farmasi dan manajemen merasa perlu untuk mengurangi jumlah item obat
dengan maksud untuk menurunkan biaya baik dalam penyimpanan dan
pengadaannya.
Menurut Anna (2012) volume penjualan obat generik di Indonesia sudah
mencapai angka 38%, namun angka ini masih berada di bawah angka penjualan
obat branded. Penyebabnya adalah salah satunya adalah ketidakpercayaan baik
masyarakat maupun dokter sendiri terhadap keefektifan obat generik. Fridman, et
al., (1987) dalam Konigbauer (2007) menemukan bahwa hanya setengah dari 245
dokter yang disurvey dalam penelitiannya yang mempercayai bahwa obat generik
adalah efektif untuk pengobatan. Pengaruh promosi pabrik obat dan
51

ketidakpercayaan terhadap obat generik ini memang membuka peluang besar


banyaknya penggunaan obat branded dalam praktek-praktek pelayanan kesehatan
termasuk di fasilitas milik pemerintah.
Rumah sakit diharapkan dapat mengurangi jumlah item obatnya, terutama
pada obat kategori A karena sebenarnya sebagian besar masalah kesehatan yang
dialami dalam sebuah populasi dapat diobati dengan sebagian kecil saja obat-
obatan yang dipilih dengan cermat. Pelatihan dan pengalaman klinis cukup
difokuskan pada beberapa item obat saja. Jumlah item obat yang tidak banyak
juga dapat mempengaruhi proses pengadaan, distribusi dan kegiatan lain dalam
siklus manajemen obat menjadi lebih ekonomis dan efisien karena terbatasnya
jumlah obat yang ada. Pasien juga mendapat keuntungan dari keterbatasan jumlah
obat yang ada yaitu informasi yang lebih baik mengenai efektivitas suatu obat
(Quick, 2012)
Jika melihat trend jumlah item dan biaya obat pada analisa ABC dalam
tahun 2010, 2011 dan 2012, terlihat adanya perbaikan dari jumlah item, di mana
rumah sakit melakukan pengendalian dengan mengurangi jumlah item obat pada
kategori A, sementara kategori C jumlah itemnya meningkat. Walaupun demikian,
dari analisa terhadap 10 besar obat dalam kategori A, B dan C, masih ditemukan
adanya duplikasi (obat dengan zat aktif yang sama namun branded berbeda) yang
ditemukan baik pada kategori yang sama, maupun pada kategori yang berbeda
(tabel 5, 6 dan 7). Hasil ini tentu saja memberikan potensi bagi rumah sakit untuk
melakukan penghematan dengan membatasi atau mengurangi duplikasi obat. Dari
hasil analisa ABC ini, salah satunya diharapkan rumah sakit dapat meminimalkan
biaya yang terbesar yang ada pada kategori A dengan mencari harga yang lebih
rendah. Duplikasi obat sebaiknya dihindari, dari data yang diperoleh ditemukan
ada sejumlah branded yang memiliki zat aktif yang sama dengan harga yang
bervariasi (tabel 14, 15 dan 16). Sebagian besar data menunjukkan bahwa harga
obat generik memang berada jauh di bawah obat branded. Sebagai contoh
Seftazidim (Ceftazidime) pada branded lain harganya bisa berbeda 3-4 kali lipat,
demikian juga dengan Sefotaksim (Cefotaxim) yang berbeda sampai >10 kali lipat
dari obat yang sama dengan branded berbeda. Dengan memilih obat yang lebih
52

murah, maka rumah sakit tentu saja dapat melakukan penghematan dalam biaya
obat. Penelitian yang dilakukan oleh Azis et al (2000) menunjukkan bahwa
perbedaan harga obat generik dengan obat nama dagang (branded) sejenis di
Indonesia berkisar antara 1,37-22.34 kalinya.
Dalam hal pengendalian biaya obat, pemerintah sebenarnya telah
menerapkan kebijakan obat esensial dan obat generik, karena selain hubungannya
dengan biaya namun juga untuk meningkatkan kerasionalan penggunaan obat.
Penerapan tersebut bertujuan untuk menghemat dana pengadaan obat,
meningkatkan kerasionalan penggunaan obat, meningkatkan jangkauan cakupan
pelayanan kesehatan dan pengendalian harga obat (Suryawati & Annisa, 2001).
Kebijakan penghematan biaya ini juga telah dilakukan di Prancis, yaitu dengan
membatasi dokter dalam meresepkan obat mahal/branded dan menggantinya
dengan obat generik (Dewi S, 2013).
RSUD kabupaten Temanggung sebagai rumah sakit milik pemerintah
tentu saja diharapkan dapat menjalankan aturan seperti yang digariskan dalam
Permenkes RI No 068 tahun 2010 yaitu tentang kewajiban menggunakan obat
generik di fasilitas pelayanan kesehatan. Hal ini tentu saja penting untuk
dilakukan untuk mengendalikan biaya obat yang tinggi di rumah sakit ini,
terutama pengendalian terhadap biaya dan jumlah item obat pada kategori A yang
70% di dominasi oleh obat-obat branded.
Selain hasil dari analisis ABC yang membutuhkan perhatian dan
pengontrolan dari pihak manajemen, maka analisis VEN juga ikut melengkapi
hasil yang ada dari ABC, karena jika hanya melihat dari hasil analisis ABC maka
rumah sakit hanya akan terfokus pada obat-obatan yang masuk pada kategori A
yang menggunakan biaya yang paling besar dan melupakan bahwa ada juga obat-
obatan vital dan esensial di kategori C yang juga membutuhkan perhatian khusus.
Rumah sakit diharapkan untuk tidak terfokus hanya ada salah satu faktor saja
apakah itu biaya/ekonomi (ABC) ataupun faktor medik (VEN). Khurana, et al.,
(2011) juga menuliskan hal yang serupa. Analisis VEN dapat membantu
mengoptimalkan pemilihan obat dan memaksimalkan pemanfaatan dana yang
tersedia.
53

Dari hasil analisis VEN yang dilakukan menunjukkan bahwa sebagian


besar item obat yang ada sepanjang tahun 2010, 2011 dan 2012 merupakan obat
kategori non esensial yang menggunakan biaya terbesar dari total biaya obat
setiap tahunnya (tabel 8 dan 12). Data persentase jumlah item obat vital dan
esensial menunjukkan penurunan dari tahun 2010 ke 2011 dengan nilai lebih
besar daripada kenaikan persentasenya dari tahun 2011 ke 2012 (gambar 7).
Beberapa penelitian serupa yang pernah dilakukan memberikan hasil yang hampir
sama yaitu penelitian yang dilakukan oleh Nofriana (2011) di RSUD Dr. Soedarso
yang menemukan ada sebanyak 56,8% item obat tahun 2010 merupakan obat non
esensial, demikian juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Kaur, et al.,
(2006) di mana mereka mendapatkan bahwa ada begitu besar biaya yang
dikeluarkan untuk pembelian obat-obat yang mahal namun non esensial.
Penelitian yang dilakukan oleh Manhas, et al., (2012) memberikan hasil sebesar
41,66% obat yang tersedia merupakan obat non esensial. Sementara itu hasil yang
berbeda dapat dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan oleh Carla (2010)
di RSUD Paniai (Papua) yang mendapatkan hasil yaitu dari keseluruhan jumlah
item obat tahun 2007 dan 2008, hanya 16,7% di tahun 2007 bahkan menurun
menjadi 7,0% di tahun 2008 yang merupakan obat dengan kriteria non esensial.
Bervariasinya hasil ini bisa disebabkan oleh banyak hal, di antaranya adalah status
kelembagaan rumah sakit, jenis pelayanan yang diberikan, kebijakan tentang
pengelolaan obat yang berlaku di tiap rumah sakit tersebut dan ketersediaan jenis
obat-obatan yang dipengaruhi oleh letak geografis.
Jumlah obat non esensial yang besar ini menunjukkan tingginya angka
ketidaksesuaian obat yang dibeli dengan DOEN. Dari total item obat yang dibeli
sepanjang tahunnya menunjukkan bahwa masih kecilnya angka obat yang
walaupun sudah masuk dalam formularium ternyata tidak terdapat dalam DOEN
2011 (tabel 18). Walaupun hasil ini tidak menunjukkan seberapa besar
ketidaksesuaian seluruh isi item obat dalam formularium dengan DOEN, namun
dapat memberikan gambaran bagi RS untuk dapat menjadikan DOEN sebagai
bahan acuan dalam penyusunan Formularium, sehingga dapat menjamin
ketersediaan dan kerasionalan dalam penggunaan obat-obatan dalam pelayanan.
54

Tingginya angka obat non esensial yang ada di rumah sakit ini,
menunjukkan bahwa pengelolaan dalam hal pemilihan obat di rumah sakit ini
masih membutuhkan perbaikan dan perhatian khusus dari pihak manajemen.
Rumah sakit diharapkan lebih mengutamakan ketersediaan obat-obatan yang vital
dan esensial. Obat-obat dalam kriteria vital adalah obat-obat yang sangat esensial
yang tergolong life saving, obat-obatan untuk pelayanan kesehatan pokok dan
untuk mengatasi penyakit penyebab kematian terbanyak, oleh karenanya obat
dalam kriteria ini membutuhkan pengendalian yang ketat dan selalu tersedia dan
tidak boleh terjadi kekosongan (Quick, 2012; Devnani, et al., 2010). Klasifikasi
obat-obat berdasarkan VEN diharapkan dapat membantu rumah sakit dalam
mengendalikan terutama obat vital dan esensial dalam hal pemesanan harus lebih
ketat, menyediakan stok pengaman yang tinggi, mengutamakan kuantitas
pemesanan lebih banyak daripada yang non esensial dan memilih pemasok yang
terpercaya untuk menjamin kualitas dari obat vital dan esensial (Quick., 2012).
Untuk obat yang non esensial hanya diperlukan untuk mengatasi penyakit dengan
keluhan ringan, oleh karenanya kekosongan obat-obat ini dapat ditoleransi,
pemesanannya juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan dana yang tersedia.
Prioritas pengadaan untuk obat-obat yang esensial tentu saja berdampak
pada kualitas pelayanan kepada pasien. Obat-obat yang masuk daftar esensial
adalah obat-obat yang sudah melalui review secara mendalam mengenai efek
terapi dan efek sampingnya yang tentu saja memberikan hasil yang optimal bagi
pasien. Daftar obat esensial yang mengacu pada formularium dan daftar obat
esensial nasional memberikan keuntungan yang penting bagi rumah sakit di
antaranya adalah membantu menjamin mutu dan ketepatan penggunaan obat,
dapat menjadi bahan pembelajaran bagi staf medis dalam hal ini dokter tentang
terapi obat yang tepat dan tentu saja memberi rasio manfaat-biaya yang tertinggi.
Dari analisa VEN yang dilakukan terhadap 10 besar obat kategori A, B
dan C, terlihat bahwa pada kategori A didominasi oleh obat non esensial (tabel 9).
Untuk 10 besar kategori C justru banyak terdapat obat yang vital dan esensial
(tabel 11). Secara umum didapatkan dari matriks ABC dan VEN dari tahun 2010-
2012, rumah sakit telah mengeluarkan biaya terbesarnya untuk setiap kategori,
55

baik A, B dan C adalah untuk obat-obatan non esensial (tabel 12). Hal-hal yang
menyebabkan fenomena dominasi item obat oleh yang non esensial memang tidak
dapat dijelaskan lebih detail dan mendalam, karena keterbatasan dalam jenis
penelitian ini.
Dalam pengelolaannya, diharapkan untuk obat-obat yang masuk dalam
kategori A adalah obat-obat yang memang dibutuhkan dan digunakan untuk
menanggulangi penyakit terbanyak yang berarti dalam analisa VEN harus masuk
dalam kriteria V dan E, dan sebaliknya untuk obat-obat yang non esensial
haruslah masuk dalam kategori C dalam analisis ABC. Pendapat yang sejalan juga
dikemukakan oleh Devnani, et al., (2010) dan dapat dilihat dalam Depkes RI &
JICA (2008).
Dari hasil perhitungan tingkat ketersediaan sepuluh besar obat kategori A,
B dan C setiap tahunnya ditemukan adanya obat-obatan yang vital dan esensial
dengan tingkat ketersediaannya sangat rendah, sementara obat-obatan yang non
esensial justru dengan tingkat ketersediaan berlebih. Faktor yang bisa
menyebabkan rendahnya tingkat ketersediaan obat-obatan tersebut adalah karena
banyaknya item obat yang sama dengan branded berbeda. Tingkat ketersediaan
branded tertentu terlihat rendah, namun tidak terjadi kekosongan pada obat yang
sama karena tersedia branded lainnya. Hal ini ikut juga menunjukkan bahwa
dengan banyaknya jumlah obat dan duplikasi membuat manajemen lebih sulit
untuk mengendalikan dan mengontrol obat yang tersedia, selain itu item obat yang
banyak malah akan semakin menyulitkan bagi para staf medik terutama dokter
dalam menguasai efek terapi dan efek samping dari setiap item obat yang pada
akhirnya dapat berpengaruh terhadap semakin sedikitnya informasi tentang obat
tersebut yang akan disampaikan kepada pasien.
Rumah sakit tentu saja diharapkan lebih memperhatikan ketersediaan dari
obat-obatan yang vital dan esensial sehingga tidak boleh terjadi kekosongan.
Sebaliknya untuk obat-obatan non esensial sebaiknya tidak mengalami overstock
karena sesungguhnya obat-obat tersebut bukanlah yang dibutuhkan oleh
masyarakat. Untuk menjamin ketersediaan, penggunaan obat generik sangat
56

disarankan apalagi dengan harga obat generik yang lebih murah daripada obat
branded (Cameron, et al., 2009).
Dari hasil persilangan antara ABC dan VEN yang disajikan dalam sebuah
matriks, diperoleh pembagian dalam 3 kategori (tabel 12 & 13). Pembagian ini
dimaksudkan untuk memudahkan manajemen dalam melakukan prioritas
pengendalian dan pengontrolan. Hasil yang diperoleh pada kategori I
menunjukkan bahwa terdapat sejumlah obat pada sub kategori AV, AE dan BV
yang merupakan daftar obat yang vital dan mahal sehingga tidak dapat ditoleransi
bila terjadi kekosongan dalam obat tersebut karena akan sangat mempengaruhi
pelayanan kesehatan. Untuk mencegah terjadinya biaya simpan atau macetnya
modal pada obat-obat di sub kategori ini, maka buffer stock tidak boleh terlalu
banyak, namun manajemen perlu terus memantau dengan ketat tingkat konsumsi
dan melihat sisa stok yang ada, untuk mencegah kekosongan persediaan. Obat-
obat pada kategori I ini membutuhkan pengontrolan langsung dari top
management dalam hal ini direktur, karena menyangkut penentuan obat yang
harus masuk dalam kategori vital yang tentu saja melibatkan selain Komite
Farmasi dan Terapi (KFT), juga Komite Medik dan para dokter dan spesialis yang
melakukan pelayanan sehingga obat-obat tersebut harus dimasukkan dalam
formularium rumah sakit. Obat-obat pada kategori ini membutuhkan pengontrolan
dan pengendalian yang sangat ketat, di mana untuk obat yang sangat mahal
dipertimbangkan nilai kevitalannya dalam pelayanan kesehatan, sehingga obat
yang vital ketersediaannya harus selalu terjamin, sementara yang non esensial
menjadi prioritas terakhir bahkan bisa dihilangkan dari daftar perencanaan obat.
Untuk subkategori CV pada kategori I ini merupakan obat yang low cost,
namun vital, pemesanan bisa dilakukan setahun sekali. Pada sub kategori AN
dalam kategori I ini, harus dimonitor dan dikendalikan dengan cara melihat
kerasionalan penggunaannya. Sangat dimungkinkan juga untuk mengeluarkan
jenis obat ini dari daftar pemesanan, karena merupakan obat yang non esensial
namun memakai biaya yang besar. Tidak tersedianya obat dalam sub kategori ini
tidak akan mempengaruhi mutu pelayanan pada pasien.
57

Obat-obat yang masuk dalam kategori II frekuensi pemesanannya tidak


perlu terlalu sering, bisa dilakukan 1 atau 2 kali dalam setahun sehingga bisa
dilakukan penghematan terhadap biaya pemesanan dan mengurangi kerepotan dari
manajemen tanpa menyebabkan pengendapan dana yang besar. Hal serupa juga
bisa dilakukan untuk obat-obat dalam kategori III. Beberapa penelitian melakukan
rekomendasi pengkategorian ini untuk membantu rumah sakit dalam menentukan
prioritas pengendalian pengelolaan obat, seperti yang dilakukan oleh Khurana, et
al., (2013); Wandalkar, et al., (2013); Manhas, et al., (2012); Devnani et al.,
(2010).
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat dibuatkan suatu skema hasil
penelitian dan pembahasan seperti dalam gambar 6 berikut ini
58

SOLUSI
TEMUAN
(HASIL)
Pengendalian dan pengontrolan
item A MANFAAT
ABC
Kurangi jumlah item obat
A: trend menurun
Batasi duplikasi
B: trend menurun
Obat kategori A dan B: Vital dan Penghematan
C: trend meningkat
esensial biaya
A & B: 40% item; 90%
Obat kategori C: non esensial
anggaran
Mengutamakan penggunaan obat
VEN
generik
Didominasi oleh non
Pemilihan obat sesuai dengan
esensial
formularium yang mengacu pada
DOEN
Memilih jenis item obat dengan
harga lebih murah
Generik & Branded
Didominasi oleh branded
Harga generik lebih murah
Formularium dan DOEN 2011
Kesesuaian item obat masih
rendah terutama terhadap
DOEN

Gambar 8. Skema Hasil dan Pembahasan


59

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan pada


bab sebelumnya, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1. Sepanjang tahun 2010-2012, hasil analisa ABC menunjukkan bahwa terlihat
adanya pengendalian yang dilakukan terhadap jumlah item pada kategori A,
yaitu adanya trend penurunan persentase jumlah item pada kategori A dari
tahun ke tahun.
2. Dari analisa VEN, sepanjang tahun 2010-2012 menunjukkan bahwa jumlah
item obat non esensial mendominasi total item obat yang ada, yaitu rata-rata
sekitar 59,52% tiap tahunnya. Obat kategori vital menunjukkan penurunan
persentase 0,45% setiap tahunnya sepanjang 2010-2012.
Hal ini juga menunjukkan bahwa rata-rata kesesuaian obat yang ada dengan
DOEN masih rendah.
3. Perbandingan harga obat 10 besar kategori A sepanjang tahun 2010, 2011 dan
2012 menunjukkan bahwa secara umum obat generik harganya lebih murah
daripada obat branded.
4. Tingkat ketersediaan dari 10 besar obat kategori A, B dan C menunjukkan
adanya obat non esensial yang tersedia dalam jumlah berlebih sementara ada
obat vital dan esensial justru tersedia dalam jumlah yang kurang.
5. Jumlah item obat branded adalah yang paling banyak terdapat di RSUD
kabupaten Temanggung, sementara obat generik hanya rata-rata sekitar 24%
dari total obat yang ada tiap tahunnya sepanjang 2010, 2011 dan 2012.
6. Jumlah obat yang dibeli yang sesuai dengan formularium RSUD kabupaten
Temanggung untuk tahun 2010 dan 2011 hanya 51,06%, dan 53,54%,
sedangkan tahun 2012 terlihat adanya peningkatan yaitu 84,01% dari total
obat yang ada.

65
60

B. Saran

1. Melakukan review secara reguler setiap 3 tahun sekali untuk semua obat dan
minimal setahun sekali atau jika diperlukan untuk Formularium RSUD
kabupaten Temanggung. Review dilakukan oleh Komite Farmasi dan Terapi
(KFT), bagian Farmasi serta Komite Medik yang melibatkan para dokter
fungsional.
3. Perlu pengontrolan dan ketegasan dari pihak manajemen dalam hal ini top
management seperti membuat regulasi yang mewajibkan untuk menggunakan
dan meresepkan obat generik seperti yang dimandatkan dalam Permenkes RI
Nomor 068 tahun 2010.
4. Pihak manajemen perlu untuk memberikan pelatihan tentang pengelolaan obat
di rumah sakit bagi pengelola obat dalam hal ini staf IFRSUD kabupaten
Temanggung.
5. Manajemen perlu mempertimbangkan untuk melakukan e-prescribing untuk
memudahkan manajemen pengelolaan obat.
6. Manajemen atau peneliti lain dapat mempertimbangkan untuk melakukan
sejumlah analisa tambahan untuk pengendalian perbekalan farmasi seperti
analisis kategori berdasarkan efek terapi, analisis perbandingan harga, analisis
lead time dan payment time, analisis obat kadaluwarsa dan hidden cost
analysis untuk melengkapi analisis ABC dan VEN yang telah dilakukan.
7. Sebagai masukan bagi rumah sakit dalam hal ini bagian Farmasi, langkah-
langkah praktis di bawah ini dapat dijadikan pertimbangan bagi rumah sakit
dalam mengaplikasikan hasil dari analisis ABC dan VEN (tabel 19).
61

Tabel 19. Aplikasi ABC dan VEN dalam Siklus Manajemen Obat

Proses ABC VEN


Selection  Menemukan item lain yang lebih  Mengidentifikasi obat yang
murah terutama pada kategori A menjadi prioritas pemesanan yaitu
 Mengidentifikasi obat yang tidak item kriteria V dan E
sesuai formularium atau DOEN  Mengidentifikasi obat yang tidak
sesuai formularium atau DOEN

Procurement  Frekuensi pemesanan item A lebih  Memperketat monitoring terhadap


sering, namun dengan jumlah yang pemesanan obat V dan E
lebih sedikit  Stok pengaman terhadap obat V
 Mencari harga dan suplier yang dan E lebih tinggi dari obat N
lebih murah  Jika dana terbatas, maka obat V
 Memonitor prioritas pembelian dan E haruslah diprioritaskan
yang disesuaikan dengan analisa dalam pembeliannya
VEN  Menggunakan suplier yang
 Membandingkan kesesuaian obat terpercaya untuk obat kriteria V
yang dibeli dengan obat yang dan E, untuk N bisa dibeli dari
direncanakan suplier baru

Distribution  Pemantauan terhadap umur simpan  Perhatian khusus terhadap


& Inventory obat kategori A ketersediaan obat-obat V dan E
 Membagi pengiriman obat A  Ketersediaan obat kriteria V dan E
dalam beberapa kali pengiriman tidak boleh kosong, sebaliknya
untuk memperpanjang umur untuk kriteria N agar tidak berlebih
simpannya.
 Perhitungan ketersediaan secara
periodik terutama untuk kategori A
 Kontrol yang ketat terhadap obat
kategori A, dapat meminimalisasi
terjadinya waste, dan pencurian
terhadap obat-obatan

Use  Review terhadap item yang paling  Review analisis VEN dapat
banyak dipakai/dibeli dapat memberikan hasil berupa
memberikan hasil berupa item penggunaan/pembelian yang tinggi
yang digunakan secara berlebihan untuk V dan E serta
maupun yang sangat rendah penggunaan/pembelian yang
penggunaannya. rendah untuk item N
62

DAFTAR PUSTAKA

Anand, T., Ingle, G. K., Kishore, J., Kumar, R. (2013). ABC-VED Analysis of a
Drug Store in the Department of Community Medicine of a Medical College
in Delhi. Indian Journal of Pharmaceutical Sciences. 75(1). 113-7

Anna, L. K. (2012). 95 Persen Bahan Baku Obat Diimpor. Diambil dari:


http://health.kompas.com/read diakses 20 Mei 2014.

Suryawati, S., Annisa, E. (2001). Pengaruh Ketersediaan Dana Kontan Terhadap


Pengadaan Dan Penggunaan Obat Tingkat Puskesmas. Jurnal Manajemen
Pelayanan Kesehatan. 4(01). 53-61

Azis, S., Sasanti, R. H., Herman. (2000). Analisis Komponen Harga Obat. Buletin
Penelitian Kesehatan. 28(1). 399-408

Bates, C., & Richards, B. S. (2013). Healthcare Cost Containment: Reducing


Pharmacy Costs Through Improved Utilization, (February), 1–4. Diambil
dari: http://www.theclarogroup.com/wp-content/uploads/2013/03/HCC-
Reducing-Pharmacy-Costs-Through-Improved-Utilization-Feb-13 diakses
23 Februari 2014

Cameron, A., Ewen, M., Ross-Degnan, D., Ball, D., Laing, R. (2009). Medicine
Prices, Availability, And Affordability In 36 Developing And Middle-Income
Countries: A Secondary Analysis. Thelancet. 373. 240-9

Carla, S. (2010). Evaluasi Anggaran Dan Ketersediaan Obat Tahun 2007 dan
2008 Di RSUD Paniai, Papua. Tesis Manajemen Rumah Sakit. Universitas
Gadjah Mada

Chu, W. C., Liang, G. S., Liao, C. T. (2008). Controlling Inventory by Combining


ABC Analysis and Fuzzy Classification. Computers & Industrial
Engineering. 55. 841-51

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1999). Standar Pelayanan Rumah


Sakit. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2006). Standar Pelayanan Farmasi


di Rumah Sakit. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Devnani, M., Gupta, A. K., Nigah, R. (2010). ABC And VEN Analysis of The
Pharmacy Store of A Tertiary Care Teaching, Research and Referral
Healthcare Institute of India. J Young Pharm. 2 (2). 201-5.

68
63

Dewi, S. (2013). Sinergi Kebijakan Upaya Penghematan Anggaran Belanja


Jaminan Kesehatan di Perancis. Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia. 2(4).
161-2

Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan alat Kesehatan Departemen Kesehatan


RI dan Japan International Cooperation Agency. (2008). Pedoman
pengelolaan perbekalan farmasi di rumah sakit. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI

Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan alat Kesehatan Departemen Kesehatan


RI dan Japan International Cooperation Agency. (2003). Materi pelatihan
pengelolaan obat di kabupaten/kota. Jakarta: Departemen Kesehatan RI

Gupta, R., Jain, B. R., Garg, R. K. (2007). ABC and VED Analysis In Medical
Store Inventory Control. MJAFI. 63(4). 325-7.

Halloway, K., Green, T. (2003). Drug and Therapeutics Committee: A Practical


Guide. Arlington: WHO.

Istinganah, Danu, S. S., Santoso, A.P. (2006). Evaluasi Sistem Pengadaan Obat
dari Dana APBD Tahun 2001-2003 Terhadap Ketersediaan dan Efisiensi
Obat. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan. 9. 31-41. Diambil dari:
http://www.jmpk-online.net/files/05-istinganah

Kaur, J., Bapna, J., Bhoi, N., Singh O. P. (2006). Management Of Hospital
Pharmacy In Private Sector. Journal of Health Management. 8(1). 132

Kelle, P., Woosley J., Schneider H. (2012). Pharmaceutical Supply Chain


Spesifics and Inventory Solutions For A Hospital Case. Operations Research
for Health Care. 1. 54-63

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1197. (2004). Standar Pelayanan Farmasi


Rumah Sakit. Jakarta

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 2500. (2011). Daftar Obat Esensial


Nasional 2011. Jakarta

Khurana, S., Chhillar, N., Gautam, V. K. S. (2011). Inventory Control Techniques


in Medical Stores of A Tertiary Care Neuropsychiatry Hospital in Delhi.
SciRes. 5(1). 8-13

Konigbauer, I. (2007). Advertising and Generic Market Entry. Journal of Health


Economics. 26. 286-305
64

Laeiddee, C. (2010). Improvement Of Reorder Point For Drug Inventory


Management at Ramathibodi Hospital. Thesis Of The Defree Of Master Of
Science In Pharmacy. Mahidol University.

Mahatme, M. S., Dakhale, G. N., Hiware, S. K., Shinde, A. T. (2012). Medical


Store Management: An Integrated Economic Analysis of A Tertiary Care
Hospital in Central India. Journal of Young Pharmacists. 4(2). 114-8

Manhas, A. K., Aubid, M., Rashid, H., Mushtaq, S., Syed, A, T. (2012). Analysis
of Inventory of Drug and Pharmacy Department of A Tertiary Care Hospital.
JIMSA. 25(3). 183-5

Millstein, A. M., Yang, L., Li, H. (2013). Optimizing ABC Inventory Grouping
Decisions. Int. J, Production Economics. 148. 71-80

Mohanta, G. P., Manna, P. K., Manavalan, R., Madhusudhan, S. (2005). Abc


Analysis A Powerfull Tool In Medicine Management. Diambil dari
http://saffron.pharmabiz.com/article/detnews.asp?articleid diakses 26 Juni
2013

Ng, W. L. (2007). A Simple Classifier For Multiple Criteria ABC Analysis.


European Journal of Operational Research. 177. 344-53

Nofriana, E. (2011). Analisis ABC dan VEN Terhadap Belanja Obat di RSUD Dr.
Soedarso Pontianak Tahun 2010. Tesis Manajemen Rumah Sakit. Jogjakarta:
Universitas Gadjah Mada

Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 068. (2010). Kewajiban Menggunakan


Obat Generik di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Pemerintah. Jakarta

Quick, J. D. (2012). Managing Access to Medicines And Health Technologies.


Arlington: Management Sciences for Health.

RSUD Kabupaten Temanggung. (2012). Profil RSUD Kabupaten Temanggung.


Temanggung.

Siregar, C., Amalia, L. (2003). Farmasi Rumah Sakit: Teori dan Penerapan.
Jakarta: EGC.

Stephens, M. (2011). Hospital Pharmacy. (2nd edition). Britain: Pharmaceutical


Press.

Suciati, S., Adisasmito, B. (2006). Analisis Perencanaan Obat Berdasarkan ABC


Indeks Kritis di Instalasi Farmasi. Jurnal Manajemen Pelayanan Kesehatan.
9. 19-26.
65

Tetteh, E. K. (2007). Providing Affordable Essential Medicines to African


Households: The Missing Policies and Institutions For Price Containment.
Social Science & Medicine. 66. 569-81.

Thawani, V. R., Turankar, A. V., Sontakke, S. D., Pimpalkhute, S. V., Dakhale,


G. N., Jaiswal, K. S., Gharpure, K. J., Dharmadhikari, S. D. (2004).
Economic Analysis of Drug Expenditure in Government Medical College
Hospital, Nagpur. Indian J Pharmacol. 36(1). 15-19.

Torabi, S. A., Hatefi, S. M., Pay, B. S. (2012). ABC Inventory Classification In


The Presence of Both Quality and Qualitative Criteria. Computer &
Industrial Engineering. 63. 530-7

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44. (2009). Rumah Sakit. Jakarta

Wandalkar, P., Pandit, P. T., Zite, A. R. (2013). ABC And VED Analysis of The
Drug Store of A Tertiary Care Teaching. Indian Journal Of Basic and Applied
Medical Research. 3(1). 126-131

World Health Organization. (1995). Estimating Drug Requirements: A Practical


Manual, Action Programme On Essential Drug. Geneva: WHO

World Health Organization. (1999). Operational Principles For Good


Pharmaceutical Procurement. Essential Drugs And Medicines Policy
Interagency Pharmaceutical Coordination Group. Geneva: WHO

World Health Organization. (2008). List of Vital Essential & Necessary (VEN)
Drugs and Medical Sundries For Public Health Institutions. Jamaica: WHO

World Health Organization. (2011). The World Medicines Situation 2011.


Geneva: WHO.

Wong, C. (2007). Using ABC Analysis for Inventory Control. APICS article.
Diambil dari: http://www.apics-redwood.org/articles/art0302BCW.htm
diakses tanggal 26 Juni 2013.
66