Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PENDAHULUAN

BAYI DENGAN SEPSIS NEONATORIUM

NAMA: ANRI.HERMAWAN NIM: 0801100055

A.Masalah kesehatan
Sepsis neonatorum adalah infeksi berat yang diderita neonatus dengan gejala
sistemik dan terdapat bakteri dalam darah. Perjalanan penyakit sepsis
neonatorum dapat berlangsung cepat sehingga sering kali tidak terpantau, tanpa
pengobatan memadahi bayi dapat meninggal dalam 24 sampai 48 jam.

B.Gangguan pemenuhan KDM


a. Patofisiologi: mikroorganisme atau kuman penyebab infeksi dapat mencapai
neonatus melalui beberapa cara, yaitu :
Pada masa antenatal atau sebelum lahir. Pada masa ini, kuman dari ibu
setelah melewati plasenta dan umbilicus masuk ke dalam tubuh bayi
melalui sirkulasi darah janin. Kuman penyebab infeksi adalah kuman yang
dapat menembus plasenta, antara lain virus rubella, herpes, sitomegalo,
koksaki, hepatitis, influenza, parotitis.bakteri yang dapaty melalui jalur ini
antara lain malaria, sifilis, dan toksoplasma.
Pada masa intranatal atau saat persalinan. Infeksi pada saat persalinan
terjadi karena kuman yang ada pada vagina dan serviks naik mencapai
korion dan amnion.akibatnya terjadi amnionitis dan korionitis,
selamjutnya kuman melalui umbilicus masuk ke dalam tubuh bayi.
Infeksi pascanatal atau sesudah persalinan. Infeksi ini umumnya terjadi
akibat infeksi nosokomial dari lingkungan di luar rahim (mis. Melalui alat-
alat: pengisap lender, selang endotrakea, infuse, selang nasogastrik, botol
minuman atau dot). Perawat atau profesi lain yang ikut menangani bayi
dapat menyebabkan terjadinya infeksi nosokomial. Infeksi juga dapat
terjadi melalui luka umbilicus.
b. Etiologi
Penyebab dari sepsis terbesar adalah bakteri gram (-) dengan prosentase 60
sampai 70 % kasus, yang menghasilkan berbagai produk dapat menstimulasi
sel imun. Sel tersebut akan terpacu untuk melepaskan mediator inflamasi.
Produk yang berperan penting terhadap sepsis adalah lipopolisakarida
(LPS). LPS merupakan komponen utama membrane dari bakteri gram
negative. LPS merangsang peradangan jaringan, demam dan syok pada
penderita yang terinfeksi. Struktur lipid A dalam LPS bertanggung jawab
terhadap reaksi dalam tubuh penderita.
Staphylococci, Pneumococci,cdan strepoccoci dan bakteri gram positif
lainnya jarang menyebabkan sepsis, dengan angka kejadian 20 sampai 40%
dari keseluruhan kasus. Selain itu jamur oportunistik, virus(dengue dan
herves) atau protozoa (Falciparum malariae) dilaporkan dapat menyebabkan
sepsis,walaupun jarang.
Peptidoglikan merupakan komponen dari dinding sel dari semua kuman,
pemberian infuse substansi ini pada binatangakan memberikan gejala mirip
pemberian endotoksin. Peptidoglikan diketahui dapat menyebabkan agregasi
trombosit.
Eksotoksin yang dihasilkan oleh berbagai macam kuman, misalnya α-
hemolisis (S. Aurens), E. Coli haemolisin (E. Coli) dapat merusak integritas
membrane sel imun secara langsung.

c. Factor predisposisi
Terdapat berbagai factor predisposisi terjadinya sepsis,baik dari ibu maupun
bayi sehingga dapat dilakukan tindakan antisipasi terhadap kemungkinan
terjadinya sepsis. Factor predisposisi tersebut ialah
1. Penyakit infeksi yang diderita ibu selama kehamilan.
2. Perawatan antenatal yang tidak memadai.
3. Ibu menderita eklamsia diabetes militus.
4. Pertolongan persalinan yang tidak higenis, partus lama, partus dengan
tindakan.
5. Kelahiran kurang bulan,BBLR, cacat bawaan.
6. Adanya trauma lahir, asfiksia neonatus, tindakan invasive pada neonatus.
7. Tidak menerapkan rawat gabung.
8. Sarana perawatan yang tidak baik,bangsal yang penuh sesak.
9. Ketuban pecah dini, amnion hijau kental dan berbau.
10. Pemberian minum menggunakan botol, dan pemberian minum buatan.

d. Komplikasi
1. Sindrom distress pernafasan dewasa (ARDS/adult respiratory
disease syndrome)
2. Koagulasi intravaskuler diseminata (KID)
3. Gagal ginjal akut
4. Perdarahan usus
5. Gagal hati
6. Disfungsi system saraf pusat
7. Gagal jantung
8. Kematian
Indikasi komplikasi tersebut yang dilaporkan pada SIRS (Sistemic
Inflammation Respons Syndrome) dan sepsis dalam penelitian berbeda adalah
19% untuk disfungsi CNS, 2-8% untuk ARDS, 12% untuk gagal hati, 9-23%
untuk gagal ginjal akut, dan 8-18% untuk DIC. Pada syok septic, ARDS
dijumpai pada sekitar 18%, DIC pada 38%, dan gagal ginjal 50%.

e. Manifestasi klinis
a. Tanda dan gejala infeksi sistemik pada bayi tidak terlihat atau tidak pasti,
keluhan yang mungkin di tunjukkan hanyalah bahwa bayi terlihat atau
bersikap tidak seperti biasanya. Jarang terlihat tanda infeksi lokalitasi.
b. Tanda dan gejala awal padat berupa:
1.Makan dan menghisap ASI yang buruk/lemah
2. Tangisan lemah
3. Letargi
4. Iritabilitas
c. Tanda dan gejala berikutnya berupa:
1. Pucat, sianosis, atau bercak;bercak pada kulit.
2. Penurunan respon nyeri.
3. Hipotensi
4. Denyut jantung abnormal (takikardi)
5. Pernapasan tidak teratur
6. Ikterik
7. Dehidrasi
8. Suhu tidak stabil (hipotermi atau hipertermi)
9. Gangguan gastrointestinal
10. Kejang
11. Hipotonia
12. Tremor
13. Fontanel menutup sempurna
14. Henti jantung
d. Manifestasi yang paling sering tampak pada awitan sepsis lanjutn(lebih
dari usia 4 bulan) adalah meningitis.

f. Terapi
Tiga prioritas utama dalam terapi sepsis, yaitu:
1. stabilisasi pasien langsung
2. darah harus cepat dibersihkan dari mikroorganisme
3. focus infeksi awal harus diobati

C. Masalah Keperawatan :
1. Infeksi yang berhubungan dengan penularan infeksi pada bayi sebelum,
selama, dan sesudah kelahiran
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan yang berhubungan dengan minum sedikit
atau intoleransi terhadap minuman.
3. Gangguan pola pernafasan yang berhubungan dengan apnea
4. Resiko tinggi terhadap cedera yang berhubungan dengan penularan infeksi
pada bayi oleh petugas.
5. Koping individu tidak efektif yang berhubungan dengan kesalahan dan
kecemasan, penularan infeksi pada bayi dan konsekwensi yang serius dari
infeksi.

D. Pemeriksaan diagnostic dan laboratorium


a.Kultur darah dapat menunjukkan organisme penyebab.
b.Analisis kultur urine dan cairan cerebrospinal(CSS) (dengan lumbal pungsi)
dapat mendeteksi organisme
c.DPL menunjukan peningkatan hitung sel darah putih (SDP) dengan
meningkatkan neotrofil immature, yang menyatakan adanya infeksi.
d.Laju endap darah (LED) dan protein reaktif-C (CRP) akan meningkat,
menandakan adanya inflamasi.

E. Intervensi keperawatan

Diagnosa keperawatan : infeksi yang berhubungan dengan penularan infeksi


pada bayi sebelum, selama, dan sesudah kelahiran

Tujuan 1 : Mengatasi secara dini bayi yang mempunyai resiko menderita


infeksi

Intervensi:
a.kaji bayi yang memiliki resiko menderita infeksi meliputi,
 Kecil untuk masa kehamilan, besar untuk masa kehamilan, premature.
 Nilai apgar di bawah normal.
 Bayi mengalami tindakanoperasi
 Epidemic infeksi di bangsal bayi dengan kuman E.coli dan streptokokus
 Bayi yang mengalami prosedur invasive
 Kaji riwayat ibu, status social ekonomi, flora vagina, ketuban pecah dini,
dan infeksi yang diderita ibu
b.kaji adanya tanda infeksi meliputi suhu tubuh yang tidak stabil, apnea,
ikterus, refleks menghisap kurang, minum sedikit, distensi abdomen,
letargi atau iritabilitas.
c.kaji tanda infeksi yang berhubungan dengan system organ, apnea, takipnea,
sianosis, syok, hipotermi, hipertermi, letargi, hipotoni, hipertoni, ikterus,
ubun-ubun cembung, muntah, diare
d.kaji hasil pemeriksaan laboratorium
e.dapatkan sample untuk pemeriksaan kultur

Tujuan 2: Mencegah dan meminimalkan infeksi dan pengaruhnya

Intervensi:
a.Berikan suhu tubuh yang netral
b.Berikan cairan dan nutrisi yang dibutuhkan melalui infuse intra vena sesuai
berat badan, usia dan kondisi
c.Pantau tanda vital secara berkelanjutan
d.Berikan anti biotic sesuai pesanan
e.Siapkan dan berikan cairan plasma secara intra vena sesuai pesanan
f.Siapkan untuk trasfusi tukar dengan packed cel darah merah atas indikasi
sepsis

Diagnosa Keperawatan: Nutrisi kurang dari kebutuhan yang berhubungan


dengan minum sedikit atau intoleransi terhadap minuman.

Tujuan: Memelihara kebutuhan nutrisi bayi, berat badan bayi tidak turun,
menunjukkan kenaikan berat badan

Intervensi:
a.Kaji intoleransi terhadap minuman
b.Hitung kebutuhan minum bayi
c.Ukur masukan dan keluaran
d.Timbang berat badan setip hari
e.Catat perilaku makan dan aktivitas secara akurat
f.Pantau koordinasi refleks menghisap dan menelan
g.Ukur barat jenis urine
h.Berikan minuman yang adekuat dengan cara pemberian sesuai kondisi
i.Pantau distensi abdomen (redusi lambung)

Diagnosa keperawatan: Gangguan pola pernafasan yang berhubungan


dengan apnea

Tujuan: Mengatur dan membantu usaha bernafas dan kucukupa oksigen

intervensi:
a. Kaji perubahan pernafasan meliputi takipnea, pernafasan cuping hidung,
grunting, sianosis, ronki kasar, periode apnea yang lebih dari 10 detik.
b.Pantau denyut jantung dengan secara elektronik untuk mengetahui
takikardia atau bradikardia dan perubahan tekanan darah
c.Sediakan oksigen yang lembab dan hangat dengan kadar TiO2 yang rendah
untuk menjaga pengeluaran enegi dan panas
d.Sediakan alat Bantu pernafasan atau ventilasi mekanik
e. Isap lender atau bersihkan jalan nafas secara hati-hati
f.Amati gas darah yang ada atau pantau tingkat analisis gas darah sesuai
kebutuhan
g.Atur pearwatan bayi dan cegah penanganan yang berlebihan

Diagnosa keperawatan: Resiko tinggi terhadap cedera yang berhubungan


dengan penularan infeksi pada bayi oleh petugas.

Tujuan: Mencegah terjadinya infeksi nosokomial


Intervensi:
a.Lakukan tindakan pencegahan umum, taati aturan/kebijakan kebersihan
kamar bayi.
b.Isolasi bayi yang datang dari luar ruang keperawatan sampai hasil kultur
dinyatakan negative.
c.Keluarkan bayi dari ruang keperawatan atau isolasi yang ibunya menderita
infeksi dan beritahu tentang penyakitnya.
d.Semua personel atau petugas perawatan didalam ruangan atau aat merawat
bayi tidak menderita demam, penyakit pernafasan atau gastrointestinal, luka
terbuka dan penyakit menular lainya.
e.Sterilkan semua peralatan yang dipakai, ganti selang dan air humidifier
dengan yang steril setiap hari atau sesuai ketentuan rumah sakit.
f.Bersihkan semua tempat tidur bayi dan incubator beserta peralatannya
dengan larutan antiseptic sesudah digunakan
g.Laksanakan secara steril semua prosedur tindakan dalam melakukan
perawatan
h.Semua parawat atau petugas lain mencuci tangan sesuai ketentuan setiap
sebelum dan sesudahmerawat atau memegang bayi.
i.Ambil sample untuk kultur dari peralatan, bahan persediaan dan banyak
bahan lain yang terkontaminasi di ruang perawatan
j.Jelaskan pada orang tua atau keluarga, ketentuan yang harus ditaati saat
mengunjungi bayi.

Diagnosa keperawatan: Koping individu tidak efektif yang berhubungan


dengan kesalahan dan kecemasan, penularan infeksi pada bayi dan
konsekwensi yang serius dari infeksi.

Tujuan: Meminimalkan kesalahan orang tua dan memberi dukungan koping


saat krisis
Intervensi:
a.kaji ekspresi verbal dan non verbal, perasaan dan gunakan mekanisme
koping
b.bantu orang tua untuk mengatakan konsepnya tentang penyakit bayi,
penyebab infeksi, lama perawatan, dan komplikasi yang mungkin terjadi.
c.berikan informasi yang akurat tentang kondisi bayi, kemajuan yang dicapai,
perawatan selanjutnya dan komplikasi yang dapat terjadi.
d.besarkan perasaan orang tua saat berkunjung, beri kesempatan untuk
merawat bayi.
Daftar pustaka

Mascari, Mary E.2005. Panduan Belajar Keperawatan Pediatrik Edisi 3. Jakarta :


Buku Kedokteran EGC.
Surasmi, Asrining. Dam Handayani, Siti. 2003. Perawatan Bayi Resiko Tinggi.
Jakarta : Buku Kedokteran EGC.
Sudoyo,Aru. W. 2006. ILMU PENYAKIT DALAM. Jakarta : Puast Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.