Anda di halaman 1dari 6

PENCEGAHAN PENYAKIT MENULAR

(P2M)

DEMAM BERDARAH DENGUE

Pembimbing:

DR. Sudung Nainggolan, MHSc

Disusun Oleh:

Sarah Febriyanti Sirait

1765050093

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

PERIODE 6 MEI – 20 JULI 2019

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA

JAKARTA
A. Definisi Pencegahan Penyakit Menular (P2M)
Program pencegahan dan pemberantasan penyakit menular pada dasarnya
menerapkan konsep epidemiologi yaitu interaksi faktor agent-host-environment, dengan
tujuan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat ketidak seimbangan dari
ketiga faktor tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan peran serta dan
tanggung jawab dari lintas program, lintas sektoral dan masyarakat serta swasta. Program
ini bertujuan menurunkan angka kesakitan, kematian, dan kecacatan akibat penyakit
menular.

B. Latar Belakang
Demam Berdarah Dengue (DBD) sampai saat ini masih merupakan masalah

kesehatan baik bagi tenaga kesehatan khususnya, maupun masyarakat luas pada umunya.

Hal ini dikarenakan penyakit ini dapat menimbulkan wabah yang apabila penanganannya

tidak tepat dapat mengakibatkan kematian. Penyakit ini disebabkan oleh virus dengue

yang ditularkan oleh nyamuk dari family Flaviviridae yaitu Aedes aegypty, Aedes

albopictus, dan beberapa spesies Aedes lainnya. Gejala klinis dari demam berdarah

dengue bersifat dinamis dan terdiri dari tiga fase, yaitu fase febris, fase kritis dan

penyembuhan.

Demam dengue (DD) adalah suatu penyakit infeksi akut, yang disebabkan oleh

virus Dengue yang mempunyai 4 macam serotipe (DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4).

Dengan ciri-ciri demam yang bersifat bifasik, mialgia, sakit kepala, nyeri di beberapa

bagian tubuh, rash, limfadenopati, dan leukopenia. Dalam kebanyakan kasus, DD bersifat

self-limited, akan tetapi ada resiko perkembangan progresif menjadi demam berdarah

dengue (DBD) atau sindrom syok dengue (SSD). Demam berdarah dengue adalah

penyakit virus dengan vektor nyamuk yang paling cepat tersebar penularannya di dunia.

Dalam lima puluh tahun terakhir, jumlah kasus dengue telah meningkat tiga puluh kali
dan telah menyebar ke negara-negara baru, sehingga kurang lebih lima puluh juta infeksi

dengue yang telah terjadi pada masa tersebut dan sekitar 2,5 miliar populasi beresiko

terjangkit virus ini karena tinggal di daerah endemis.

Masyarakat di Asia Tenggara memiliki resiko yang sangat besar terhadap

penularan virus dengue. Dari 2,5 miliar orang yang beresiko tertular, sekitar 1,8 miliar

tinggal di negara-negara Asia Tenggara dan region pasifik Barat. Negara yang memiliki

kerentanan terhadap serangan endemis dengue antara lain Indonesia, Malaysia, Thailand

dan Timor Leste. Hal ini disebabkan karena cuaca yang tropis dan masih merupakan area

equatorial dimana Aedes aegypti menyebar di seluruh daerah tersebut.

Di Indonesia DBD pertama kali ditemukan di Surabaya pada tahun 1968. 5 Sejak

awal ditemukan, jumlah kasus menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat baik

dalam jumlah maupun luas wilayah yang terjangkit dan secara sporadik selalu terjadi

KLB tiap tahun. Daerah rawan DBD merata hampir di seluruh pulau di Indonesia. DKI

Jakarta, Kalimantan Timur, Bali, Sulawesi Utara, Kepulauan Riau, Yogyakarta, Jawa

Barat dan Papua Barat merupakan provinsi-provinsi yang pernah tercatat sebagai pemilik

lima besar angka insiden DBD dalam jangka 4 tahun (2005-2009). Namun, data Depkes

RI 2009 menyebutkan bahwa daerah resiko DBD dari tahun 2005-2009 juga pernah

mencatat Jawa Tengah, Lampung, Sulawesu Tengah dan Gorontalo sebagai daerah

dengan resiko tinggi.

Aedes aegypti sebagai vektor utama DBD bisa berkembang biak di air bersih.

Tempat penampungan air, sampah yang menampung air hujan dan bentuk bangunan yang

mampu menampung air hujan seperti pagar bambu merupakan tempat yang digunakan

Aedes aegypri untuk berkembang biak. Normalnya, nyamuk Aedes aegypri tidak terbang
terlalu jauh. Jangkauannya 100 meter dari tempat tinggalnya. Maka, sarang nyamuk

Aedes aegypri tidak akan jauh dari masyarakat dan nyamuk Aedes aegypri aktif saat pagi

dan siang hari.

C. Tema
Gambaran Penemuan Kasus Baru DBD pada Balita di Puskesmas Kecamatan X

D. Definisi Operasional
 Demam Berdarah Dengue/ DBD adalah penyakit virus yang ditularkan oleh
nyamuk. Virus dengue ditularkan oleh nyamuk betina terutama dari spesies aedes
aegepty dan aedes albopiktus.
 Gejala klasis DBD meliputi demam tinggi hingga 40’ C, Sakit kepala, nyeri pada
retro orbita, myalgia, mual muntah, ruam/ petechie
 Faktor faktor yang mempengaruhi DBD meliputi usia, daerah tempat tinggal,
curah hujan atau iklim suhu, dan penyebaran.
 Kasus baru pada Balita yang terkana DBD meliputi anak usia 2-5 tahun yang baru
pertama kali terkena penyakit DBD.

E. Indikator Input
 Man: Petugas kesehatan.
 Money: BPJS
 Material: Fasilitas pemeriksaan dan laboratorium
 Method: Pemeriksaan Rumpleed dan Pemeriksaan Darah Rutin

F. Indikator Output
Jumlah pasien balita kasus baru yang terkena DBD dalam 1 tahun
X 100%
Jumlah seluruh pasien balita terkana DBD dalam 1 tahun
(periode yang sama)

G. Rumusan Indikator: Kuantitatif

No Klasifikasi Persen
1 Kasus Baru DBD 60%
2 Kasus Lama DBD 40%

Tabel 1. Perbandingan jumlah kasus baru dan kasus lama pada balita yang terkena DBD
di Puskesmas X

H. Rumusan Indikator: Diagram


Jumlah Balita dengan DBD

Kasus Lama

Persentase

Kasus Baru

0 10 20 30 40 50 60