Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH AGRONOMI

PEMANGKASAN PADA KOMODITI KELAPA SAWIT

OLEH :
KELOMPOK 4
1. FAJAR BAKTI SATRIYO 1805004
2. CARLY SUROSO 1805005
3. RANI NUR FAZIRA 1805008
4. YUSRIL YUDA PRATAMA 1805014
5. FAHREVI AGUSTIANSYAH 1805000

PROGRAM DIPLOMA IV
BUDIDAYA TANAMAN PERKEBUNAN
POLITEKNIK LPP
YOGYAKARTA
2019
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, senantiasa kita ucapkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang hingga
saat ini masih memberikan kita nikmat iman dan kesehatan, sehingga saya diberi kesempatan
yang luar biasa ini yaitu kesempatan untuk menyelesaikan tugas penulisan makalah dengan
judul “Pemankasan Pada Komoditi Perkebunan”

Shalawat serta salam tidak lupa selalu kita haturkan untuk junjungan nabi gung kita,
yaitu Nabi Muhammad SAW yang telah menyampaikan petunjukan Allah SWT untuk kita
semua, yang merupakan sebuah pentunjuk yang paling benar yakni Syariah agama Islam
yang sempurna dan merupakan satu-satunya karunia paling besar bagi seluruh alam semesta.

Adapun penulisan makalah ini merupakan bentuk dari pemenuhan beberapa tugas
mata kuliah Agronomi. Pada makalah ini akan dibahas mengenai pengertian pemangkasan,
jenis pemangkasan, cara pemangkasan yang baik dan benar dan tujuan dari pemangkasan.

Kami ucapkan terimakasih yang sebanyak-banyaknya kepada setiap pihak yang telah
mendukung serta membantu kami selama proses penyelesaian makalah ini hingga
rampungnya makalah ini. Penulis juga berharap semoga makalah ini dapat memberikan
manfaat bagi setiap pembaca.

Tak lupa dengan seluruh kerendahan hati, kami meminta kesediaan pembaca untuk
memberikan kritik serta saran yang membangun mengenai penulisan makalah kami ini, untuk
kemudian kami akan merevisi kembali pembuatan makalah ini di waktu berikutnya.

Yogyakarta, 9 Mei 2019


I.PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Perkebunan adalah segala kegiatan yang mengusahakan tanaman tertentu pada tanah
dan/atau media tumbuh lainnya dalam ekosistem yang sesuai, mengolah dan memasarkan
barang dan jasa hasil tanaman tersebut, dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi,
permodalan serta manajemen untuk mewujudkan kesejahteraan bagi pelaku usaha
perkebunan dan masyarakat.

Untuk memperoleh profit dari sektor perkebunan tentu perlu dilakukan teknis
budidaya yang sesua dengan aturan atau SOP yang ada. Sehingga tanaman yang dihasilkan
mampu tumbuh dengan baik yang pada akahirnya juga akan memiliki produktivitas sesuai
dengan apa yang kita harapkan sebelumnya.

Teknis-teknis budidaya tersebut ada banyak macam dan prosesnya. Baik mulai dari
pembibitan, pengolahan tanah dan penanaman, pemupukan, pemangkasan, pengairan,
pengendalian OPT (Organisme Pengganggu Tanaman), dan pemanenan. Teknis budidaya
tersebut tentu memiliki fungsi dan tujuan yang berbeda pada tiap bagiannya. Misalnya pada
pembibitan, pada tahap ini teknis budidaya yang baik dan benar sesuai SOP perlu dilakukan
agar diperoleh bibit dari benih yang benar-benar unggul sehingga memiliki pertumbuhan
vegetatif dan generatif yang baik. Dampak yang dirasakan adalah kelak setelah memasuki
pada fase TM (Tanaman Menghasilkan). Tanaman akan memiliki produktivitas yang baik
dan sesuai dengan apa yang kita harapkan dari awal sehingga akan menghasilkan keuntungan
bagi pelaku usaha budidaya tersebut.

Selain pembibitan teknis pemangkasan juga tidak kalah penting dalam budidaya
tanaman. Untuk lebih mengenal tentang teknis pemangkasan maka penulis berusaha
menjelaskannya dalam makalah ini. Baik itu definisi, tujuan, hingga manfaat. Semua kami
sajikan dalam makalah ini dengan mengambil dari sumber yang kredibel sehingga apa yang
kami sajikan sesuai dengan aturan atau SOP yang ada.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud pemangkasan pada kelapa sawit?
2. Apa tujuan dari pemangkasan?
3. Bagaimana cara pemangkasan yang baik dan benar?
4. Apa saja jenis dari pemangkasan?

C. Tujuan
1. Mengetahui pemangkasan pada kelapa sawit
2. Mengetahui tujuan dari pemangkasan
3. Mengetahui cara pemangkasan yang baik dan benar
4. Mengetahui jenis-jenis pemangkasan

D. Tinjauan Pustaka
1. Pengenalan Kelapa Sawit
Sejak pertengahan 2000, kelapa sawit telah menyusul kacang kedelai menjadi
tanaman minyak yang paling penting di dunia. Produksi minyak sawit terutama didukung
oleh penanaman intensif selama dua dekade terakhir di Malaysia dan Indonesia yang sejauh
dua utama produsen minyak sawit (Frank,2013).

Tanaman ini dapat tumbuh di luar daerah asalnya, termasuk Indonesia. Tanaman
kelapa sawit memiliki arti penting bagi pembangunan nasional (Syahputra,2011).

Pulp buah dan kacang yang menyediakan sawit dan minyak inti, masing-masing
kelapa sawit dibuat yang unggul penghasil minyak tanaman. Buah sawit (Elaeis guineensis)
adalah sumber dari kedua minyak sawit (diekstraksi dari buah kelapa) dan minyak inti sawit
(diekstrak dari biji buah) (Mukherjee,2009).

Kelapa sawit merupakan salah satu komoditi perkebunan yang menghasilkan minyak
nabati sehingga diandalkan untuk meningkatkan ekspor dan penerimaan devisa negara.
Dibandingkan komoditi lain seperti kelapa, kacang tanah dan kedelai, kelapa sawit adalah
penyumbang minyak nabati terbesar di dunia (Pambudi,2010).

Untuk masa umur ekonomis pada tanaman kelapa sawit yang cukup lama sejak mulai
tanaman mulai menghasilkan, yaitu sekitar 25 tahun menjadikan jangka waktu perolehan
manfaat dari investasi di sektor ini menjadi salah satu pertimbangan yang ikut menentukan
bagi kalangan dunia (Krisnohardi,2011).

Agar memenuhi peningkatan permintaan untuk minyak sawit, perbaikan tanaman


dalam budidaya diperlukan. bibit kelapa sawit dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu benih
atau bibit liar, bibit unggul dan bibit kultur jaringan. Bibit yang berasal dari kultur jaringan
dianggap lebih praktis dan mutunya lebih dapat dipercaya. Namun, belum semua perkebunan
kelapa sawit dapat memproduksinya (Hartawan, R, 2008).

Kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik pada daerah beriklim tropis dengan curah
hujan 2000 mm/tahun dan kisaran suhu 22-330C (Ebrahimi,2013).

Perbanyakan klonal kelapa sawit melalui kultur jaringan telah dikembangkan untuk
perbanyakan massal bahan tanam elit. Meskipun cara ini digunakan dalam industri kelapa
sawit sat ini akan tetapi, tingkat embriogenesis rendah dan proporsi tanaman kultur jaringan
yang berasal dipamerkan kelainan.Oleh karena itu, penting untuk memahami molekul
peristiwa yang terjadi selama somatik embriogenesis dan kultur in vitro untuk meningkatkan
produksi skala dan efisiensi biaya dari proses kultur jaringan. Biasanya untuk kombinasi
media yang baik adalah media bungkil kelapa sawit dan dedak padi yang difermentasi
adalah untuk mengurangi penggunaan bungkil kelapa sawit dengan melihat pengaruh
kombinasi media sehingga diketahui kombinasi terbaik untuk produksi maggot tertinggi
(Arief,2012).

Tanah sedikit mengandung unsur hara tetapi memiliki kadar air yang cukup tinggi.
Sehingga cocok untuk melakukan kebun kelapa sawit karena memiliki kemampuan tumbuh
yang baik, memiliki daya adaptif yang cepat terhadap lingkungan (Adriadi,2012).

Adapun untuk meningkatkan produksi dari tanaman kelapa sawit dengan


memperhatikan cara pemeliharaan dari budidaya salah satunya adalah pemagkasan. Karena
pemangkasan sangat penting dalam peningkatan produksi salah satunya adalah tanaman
kelapa sawit. Biasanya pemangkasan dilakukan dengan memperhatikan umur tanaman dan
baian daun yang tidak bermanfaat lagi.
II. PEMBAHASAN

A. Pengertian Pemangkasan Kelapa Sawit


Pengertian dari pemangkasan atau disebut juga penunasan yaitu proses pembuangan
daun-daun tua atau yang tidak produktif pada tanaman salah satunya adalah kelapa sawit.
Pada tanaman muda sebaiknya tidak dilakukan pemangkasan, kecuali dengan maksud
mengurangi penguapan oleh daun pada saat tanaman akan dipindahkan dari pembibitan ke
areal perkebunan.

Pemangkasan pada tanaman kelapa sawit dilakukan sejak pada tanaman belum
menghasilkan dan diteruskan hingga tanaman sudah menghasilkan dengan tujuan untuk
mempengaruhi produksi dari kelapa sawit tersebut. Pemangkasan daun juga dapat
mengurangi bahaya pohon tumbang karena tiupan angin (Pahan,2004).

Teknik pemangkasan dilakukan secara teratur sesuai dengan perkembangan atau umur
tanaman yang ada (Setyamidjaja,2006).

Adapun tujuan pemangkasan pada tanaman secara umum adalah adalah sebagai
berikut :
1. Memperbaiki sirkulasi udara di sekitar tanaman sehingga dapat membantu proses
penyerbukan secara alami
2. Mengurangi penghalangan pembesaran buah dan kehilangan brondolan buah terjepit
pada pelepah daun.
3. Membantu dan memudahkan pada waktu panen
4. Mengurangi perkembangan epifir
5. Agar proses metabolisme tanaman berjalan lancar, terutama proses fotosintesis dan
respirasi.

Macam-macam pemangkasan pada umumnya terdapat 3 macam sesuai dengan tujuan.


Adapun macam akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Pemangkasan pasir, adalah proses pemangkasan yang dilakukan terhadap tanaman
dengan persyaratan tanaman berumur 16-20 bulan dengan tujuan agar untuk
membuang daun-daun kering dan buah buah pertama yang busuk sehingga tidak
mengganggu pertumbuhan tanaman.
2. Pemangkasan produksi adalah proses pemangkasan yang dilakukan pada tanaman
dengan syarat umur 20-28 bulan dengan memotong daun-daun tertentu sebagai
persiapan pelaksanaan panen. Daun yang dipangkas adalah songgo dua (yaitu daun
yang tumbuhnya saling menumpuk satu sama lain), juga buah buah yang busuk.
3. Pemangkasan pemeliharaan, adalah proses pemangkasan yang dilakukan setelah
tanaman berproduksi dengan tujuan membuang daun-daun songgo dua sehingga
setiap saat pada pokok hanya terdapat daun sejumlah 28-54 helai. Sisa daun pada
pemangkasan ini harus sependek mungkin, agar tidak mengganggu kegiatan panen.

B. Tujuan Pemangkasan
1. Agar tajuk pada tanaman dapat menghasilkan fotosintat yang optial, karena
pengelolaan tajuk yang tepat merupakan aspek kunci maksimalisasi produksi kelapa
sawit. Efisiensi tajuk merubah radiasi sinar matahari menjadi karbohidrat. Pasokan
karbohidrat untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif tanaman di tentukan oleh ukuran
luas permukaan hijau daun.
2. Mempermudah panen.
3. Pengamatan buah matang lebih mudah.
4. Mengurangi brondolan buah yang terjepit pada pelepah daun / ketiak daun.
5. Memungkinkan buah bertambah besar.
6. Mengurangi terangkutnya brndolan.
7. Memperlancar penyerbukan alami.
8. Melakukan sanitasi kebun guna mencegah cendawan Marasmius dan menghindari
pertumbuhan tanaman pakis.

C. Cara Pemangkasan Kelapa Sawit


Pruning atau pemangkasan pada tanaman kelapa sawit adalah proses pembuangan
pelepah- pelepah yang sudah tidak produktif / pelepah kering pada tanaman kelapa sawit.
Pruning / pemangkasan merupakan termasuk dalam kegiatan persiapan panen dengan tujuan
agar tidak mengganggu proses pemanenan pula. Pemangkasan daun pada tanaman kelapa
sawit harus dilakukan, karena tidak mudah rontok, meskipun sudah tua atau kering, terkadang
baru rontok setelah beberapa tahun kemudian (Vidanarko,2011). Tujuan dari pemangkasan
pada tanama elapa sawit yaitu menentukan bilangan pelepah yang perlu ditinggalkan di atas
pokok supaya sentiasa mencukupi untuk memberi keluasan daun yang optimum. Kerana daun
pada umumnya memainkan peranan penting untuk efisiensi distribusi fotosintat melalui
proses fotosintesis ke bagian tanaman.

Pemangkasan daun pada kelapa sawit bertujuan untuk memperoleh pohon yang bersih
dengan jumlah daun yang optimal dalam satu pohon serta memudahkan pamanenan
(Setyamidjaja,2006). Memangkas daun dilaksanakan sesuai dengan umur/tingkat
pertumbuhan tanaman. Pemangkasan perlu dilakukan untuk menjaga jumlah pelepah yang
optimal yang berguna untuk tempat munculnya bunga & pemasakan buah.
Pruning/pemangkasan dilakukan setelah dilakukan kastrasi & tanaman sudah mulai
memasuki tahap awal panen.Pemangkasna dimulai sejak masa tnaaman belum menghasilkan
(TBM) hingga masa tanaamn menghasilkan (TM) (Vidanarko,2011) Teknis
pruning/pemangkasan dilakukan dengan teknik yang benar sebagai berikut :
a. Memangkas pelepah searah dengan arah spiral / letak alur pelepah. Supaya
hasil dari pangkasan terlihat rapi.
b. Memangkas pelepah yang tidak produktif, dengan ciri-ciri :
c. Pelepah yang sudah tua dan kering
d. Pelepah sudah tidak dijadikan pelepah songgo ( minimal songgo 2).
e. Memangkas pelepah secara mepet & tepat pada bagian bawah pangkal
pelepah. Pelepah harus dipangkas mepet dengan tujuan untuk mencegah
tersangkutnya brondolan pada pelepah.
f. Menyusun pelepah hasil sisa pangkasan di Gawangan Mati atau disusun di
antara pokok tanaman & dipotong menjadi 3 bagian.

D. Jenis Pemangkasan Pada Kelapa Sawit


Di bawah ini merupakan ragam dari pemangkasan pelepah kelapa sawit yang patut Anda
ketahui.

1. Pemangkasan Sanitasi
Pemangkasan sanitasi dilaksanakan untuk membersihkan tanaman kelapa sawit dari
pelepah-pelepah yang mengganggu dan menjaga tingkat keseimbangannya. Waktu
pengerjaan pemangkasan ini bertepatan dengan saat melakukan kastrasi yakni ketika tanaman
sudah berusia sekitar 17-19 bulan. metode pelaksaannya ialah membuang pelepah-pelepah
sawit yang tampak mengering.
2. Pemangkasan Pertama
Pada umumnya, pemangkasan pertama dilakukan sebelum proses pemanenan yang
pertama kali dilaksanakan. Caranya adalah membuang seluruh pelepah yang terletak di
bawah TBS yang posisinya paling rendah sehingga pertumbuhan TBS akan lebih optimal.
Setelah pelakasanaan pemangkasan pertama, maka tidak perlu dilakukan lagi pemangkasan
lanjutan hingga usia pohon mencapai 4 tahun atau letak TBS yang terendah minimal berada 1
meter di atas permukaan tanah.

3. Pemangkasan 4 Tahun
Setelah 4 tahun berlalu sejak dilakukannya pemangkasan pertama, tanaman kelapa sawit
harus dipangkas lagi. Biasanya pada umur di kisaran ini pohon sawit sudah mempunyai
pelepah dalam jumlah yang cukup banyak. Jika dilaksanakan pemangkasan secara besar-
besaran berisiko mengakibatkan pohon kelapa sawit mengalami stres. Oleh karena itu,
metode pemangkasannya wajib dilakukan melalui dua tahap. Tahap pertama yaitu membuang
4 lingkaran pelepah apabila tanaman memiliki 8 lingkaran pelepah. Selanjutnya pada 2-3
bulan kemudian, 4 lingkaran pelepah sisanya tadi dibuang asalkan hanya sampai pada 2
pelepah di bawah TBS yang matang.

4. Pemangkasan 5-7 Tahun


Kelapa sawit yang telah berusia 5-7 tahun perlu dipangkas secara berkala setiap setahun
sekali. Metode pelakasanaannya yakni membuang semua pelepah yang berada sampai 2
pelepah di bawah TBS yang masak. Demi menjaga tingkat keseimbangan struktur pohon
kelapa sawit, usahakan pohon tersebut masih mempunyai 48-64 pelepah.

5. Pemangkasan 8-14 Tahun


Pada dasarnya, proses pengerjaan pelakasanaan pemangkasan tumbuhan sawit yang
berumur 8-14 tahun mirip seperti pemangkasan pada usia 5-7 tahun di atas. Yakni seluruh
pelepah yang tumbuh sampai 2 pelepah di bawah TBS yang masak perlu dibuang. Tetapi
bedanya jumlah pelepah yang masih tertinggal di pohon kelapa sawit berkisar antara 40-48
pelepah atau 5-6 lingkaran pelepah.
6. Pemangkasan 15 Tahun
Pelaksanaan pruning tanaman kelapa sawit yang berusia 15 tahun juga masih sama seperti
pemangkasan 8-14 tahun. Namun harus dicatat, jumlah pelepah yang tetinggal setelah
pengerjaan pemangkasan dan pemanenan harus 32 pelepah atau 4 lingkaran pelepah. Ingat,
proses pemangkasan ini wajib dilakukan secara bertahap dan terus-menerus sesuai dengan
ketentuan-ketentuan di atas agar hasilnya maksimal.
7. PENUTUP

A. Kesimpulan
Pemangkasan atau disebut juga penunasan yaitu proses pembuangan daun-daun tua
atau yang tidak produktif pada tanaman salah satunya adalah kelapa sawit.
Adapun tujuan pemangkasan pada tanaman secara umum adalah adalah sebagai
berikut :
1. Memperbaiki sirkulasi udara di sekitar tanaman sehingga dapat membantu proses
penyerbukan secara alami
2. Mengurangi penghalangan pembesaran buah dan kehilangan brondolan buah
terjepit pada pelepah daun.
3. Membantu dan memudahkan pada waktu panen
4. Mengurangi perkembangan epifir
5. Agar proses metabolisme tanaman berjalan lancar, terutama proses fotosintesis
dan respirasi.

Adapun jenis pemangkasan sebagai berikut


1. Pemangkasan Sanitasi
2. Pemangkasan Pertama
3. Pemangkasan 4 Tahun
4. Pemangkasan 5-7 Tahun
5. Pemangkasan 8-14 Tahun
6. Pemangkasan 15 Tahun

B. Saran

Kedepannya akan lebih baik lagi jika praktim dalam lapangan selalu berdasarkan SOP
walaupun terkesan kaku dan bertele-tele dalam praktiknya namun jika dilihat dari hasil tentu
pengerjaan teknis budidaya yang sesuai dengan SOP akan menghasilkan proktivitas yang
lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA

Adriadi, A. dkk. 2012. Analisis Vegetasi Gulma pada Perkebunan Kelapa Sawit (Elais
quineensis jacq.) di Kilangan, Muaro Bulian, Batang Hari. Jurnal Biologi Universitas
Andalas (J. Bio. UA.) 1 (2): 108-115.

Arief, M., dkk. 2012. Pengaruh Kombinasi Media Bungkil Kelapa Sawit dan Dedak Padi
Yang Difermentasi Terhadap Produksi Maggot Black Soldier Fly (Hermetia Illucens)
Sebagai Sumber Protein Pakan Ikan. Ilmiah Perikanan dan Kelautan, 4 (1) : 34.

Ebrahimi, M, dkk. 2013. Oil Palm (Elaeis guineensis Jacq.) Frond Feeding of Goats in
the Humid Tropics. Animal and Veterinary, 12 (4) : 431-438.

Frank, N. EG. el all. 2013. Breeding oil palm (Elaeis guineensis jacq.) for fusarium wilt
tolerance: an overview of research programmes and seed production potentialitiees in
Cameroon. International Journal of Agricultural Sciences 3 (5) :513-520.

Hartawan, R. 2008. Variabilitas Pertumbuhan Bibit Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq.)
asal Benih Unggul dan Liar. Media Akademik 2 (1) : 34-43.

Kasno, A., dan Nurjaya. 2011. Pengaruh Pupuk Kiserit Terhadap Pertumbuhan Kelapa Sawit
Dan Produktivitas Tanah. Littri 17 (4): 133-134.

Krisnohardi, A. 2011. Analisis Pengembangan Lahan Gambut Untuk Tanaman Kelapa Sawit
Kabupaten Kubu Raya . J. Tek. Perkebunan & Psdl (1):1-7.

Lane, Lee.2012. Economic growth, climate change, confusion and rent seeking: The case of
palm oil. Journal of Oil Palm & The Environment (3):1-8.

Mukherjee, dkk. 2009. Health Effects of Palm Oil. J Hum Ecol 26 (3):197-203.

Pahan, I. 2004. Paduan Lengkap Kelapa Sawit. Jakarta: Penerbar Swadaya.


Pambudi, D., dan Hermawan, B. 2010. Hubungan antara Beberapa Karakteristik Fisik Lahan
dan Produksi Kelapa Sawit. Akta Agrosia 13 (1) : 35-39.

Setyamidjaja, D. 2006. Budidaya Kelapa Sawit. Jogyakarta: Kanisius.

Syahputra, E., dkk. 2011. Weeds Assessment Di Perkebunan Kelapa Sawit Lahan Gambut. J.
Tek. Perkebunan & PSDL (1):37-42.

Vidanarko. 2011. Buku Pintar Kelapa Sawit. Jakarta: Agromedia Pustaka