Anda di halaman 1dari 11

SABRI KOEBANU, S.S., M.PD.

Implikatur merupakan salah satu bagian dalam pragmatik. Berkaitan dengan


pengertian, berikut beberapa pengertian tentang implikatur yang dikemukakan oleh ahli-ahli
bahasa. Menurut Brown dan Yule (1996 : 31) istilah implikatur dipakai untuk menerangkan apa
yang mungkin diartikan, disarankan, atau dimaksudkan oleh penutur yang berbeda dengan
apa yang sebenarnya yang dikatakan oleh penutur. Pendapat itu bertumpu pada suatu makna
yang berbeda dengan makna tuturan secara harfiah.
Senada dengan pendapat itu, Grice, H.P., menunjukkan bahwa sebuah implikatur
merupakan sebuah proposisi yang diimplikasikan melalui ujaran dari sebuah kalimat dalam
suatu konteks, sekalipun proposisi itu sendiri bukan suatu bagian dari hal yang dinyatakan
sebelumnya (Gazdar, 1979:38). HampIr sama dengan pendapat Brown dan Yule, tetapi Grice
mencoba mengaitkan suatu konteks yang melingkupi suatu tuturan yang turut memberi
makna. Lebih singkat lagi, Grice, H.P (Suyono, 1990:14) mengatakan implikatur percakapan
sebagai salah satu aspek kajian pragmatik yang perhatian utamanya adalah mempelajari
‘maksud suatu ucapan’ sesuai dengan konteksnya.
Implikatur cakapan dipakai untuk menerangkan makna implisit dibalik “apa yang
diucapkan atau dituliskan” sebagai “sesuatu yang dimplikasikan”. Berangkat dari beberapa
pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa implikatur percakapan adalah suatu bagian dari
kajian pragmatik yang lebih mengkhususkan kajian pada suatu makna yang implisit dari suatu
percakapan yang berbeda dengan makna harfiah dari suatu percakapan. Untuk lebih
memperjelas pemahaman tentang implikatur ini, berikut akan dipaparkan beberapa ciri-ciri
implikatur menurut beberapa ahli. Menurut Nababan (1987:39) ada 4, sebagai berikut:
1. Sesuatu implikatur percakapan dapat dibatalkan dalam hal tertentu, umpamanya dengan
menambahkan klausa yang mengatakan bahwa seseorang tidak mau memakai
implikatur percakapan itu, atau memberikan suatu konteks untuk membatalkan
implikatur itu.
2. Biasanya tidak ada cara lain untuk mengatakan apa yang dikatakan dan masih
mempertahankan implikatur yang bersangkutan.

3. Implikatur percakapan mempersyaratkan pengetahuan terlebih dahulu arti konvensional


dari kalimat yang dipakai. Oleh karena itu, isi implikatur percakapan tidak termasuk
dalam arti kalimat yang dipakai.
4. Kebenaran isi dari suatu implikatur percakapan bukan tergantung pada kebenaran yang
dikatakan. Oleh karena itu, implikatur tidak didasarkan atas apa yang dikatakan, tetapi
atas tindakan yang mengatakan hal itu.
Senada dengan pendapat sebelumnya Grice, H.P (Mujiyono, 1996:40) mengemukakan
ada 5 ciri-ciri dari implikatur percakapan, yakni:
1. Dalam keadaan tertentu, implikatur percakapan dapat dibatalkan baik dengan cara
eksplisit ataupun dengan cara kontektual (cancellable).
2. Ketidakterpisahan implikatur percakapan dengan cara menyatakan sesuatu. Biasanya
tidak ada cara lain yang lebih tepat untuk mengatakan sesuatu itu, sehingga orang
memakai tuturan bermuatan implikatur untuk menyampaikannya (nondetachable).
3. Implikatur percakapan mempersyaratkan makna konvensional dari kalimat yang
dipakai, tetapi isi implikatur tidak masuk dalam makna konvensional kalimat itu
(nonconventional).
4. Kebenaran isi implikatur tidak tergantung pada apa yang dikatakan, tetapi dapat
diperhitungkan dari bagaimana tindakan mengatakan apa yang dikatakan (calcutable)
5. Implikatur percakapan tidak dapat diberi penjelasan spesifik yang pasti sifatnya
(indeterminate).
Masih tentang ciri-ciri, menurut Levinson, C. Stephen (1997:119) terdapat 4 ciri utama dari
suatu implikatur percakapan, yakni:
1. Cancellability, maksudnya sebuah kesimpulan yang tidak mungkin bisa ditarik jika ada
kemungkinan untuk menggagalkannya dengan cara menambah beberapa premis/alasan
tambahan pada premis-premis asli.
2. Non-detachability, adalah implikatur dilekatkan pada isi semantik dari apa yang
dituturkan, tidak pada bentuk linguistik, maka implikatur tidak dapat dipisahkan dari
suatu tuturan
3. Calculability, dimaksudkan untuk setiap implikatur yang diduga harus memungkinkan
untuk menyusun suatu argumen yang menunjukkan bahwa makna harfiah suatu tuturan
dipadu dengan prinsip kerja sama dan maksim-maksimnya.
4. Non-conventionality, artinya untuk mengetahui makna harfiah, dapat diduga
implikaturnya dalam suatu konteks, implikatur tidak dapat sebagai bagian dari makna
itu.
Tiga pendapat tentang ciri-ciri dari suatu implikatur percakapan pada dasarnya sama.
Ketiga pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa suatu implikatur percakapan memiliki
ciri-ciri, yakni : (1) Sesuatu implikatur percakapan dapat dibatalkan dalam hal tertentu
(cancellability), (2) Biasanya tidak ada cara lain untuk mengatakan apa yang dikatakan dan
masih mempertahankan implikatur yang bersangkutan (nondetachable), (3) Implikatur percakapan
mempersyaratkan pengetahuan terlebih dahulu arti konvensional dari kalimat
yang dipakai (nonconventional), dan (4) Kebenaran isi dari suatu implikatur percakapan bukan
tergantung pada kebenaran yang dikatakan (calcutable). Ada beberapa jenis implikatur
percakapan.
Menurut Grice (Mudjiono, 1996 : 32-33) ada tiga jenis implikatur percakapan yakni:
implikatur konvensional, praanggapan, dan implikatur nonkonvensional. Implikatur
konvensional lebih mengacu pada makna kata secara konvensional, makna percakapan
ditentukan oleh „arti konvensional‟ kata-kata yang digunakan. Implikatur praanggapan, lebih
mengacu pada suatu pengetahuan bersama antara penutur dan mitra tutur. Implikatur
nonkonvensional, merupakan suatu implikatur yang lebih mendasarkan maknanya pada suatu
konteks yang melingkupi suatu percakapan. Lebih ringkas lagi, Stephen C. Levinson mengatakan
hanya ada dua jenis implikatur percakapan yaitu implikatur percakapan umum (implikatur yang
yang munculnya di dalam percakapan dan tidak memerlukan konteks khusus) dan implikatur
percakapan khusus (suatu implikatur yang kemunculannya memerlukan konteks khusus).

...

IMPLIKATUR

Pragmatik merupakan cabang ilmu bahasa (linguistik) yang belakangan ini semakin dikenal.
Salah satu bagian pragmatik yang akan dibahas dalam makalah ini adalah Implikatur. Konsep
implikatur pertama kali dikenalkan oleh H.P Grice (1975) untuk memecahkan persoalan
makna bahasa yang tidak dapat diselesaikan oleh teori semantik biasa. Implikatur bahasa
dipakai untuk memperhitungkan apa yang disarankan atau apa yang dimaksud oleh penutur
sebagai hal yang berbeda dari apa yang dinyatakan secara harafiah (Brown dan Yule, 1983:31
dalam Abdul Rani, 2006:176). Untuk lebih jelasnya, akan dijelaskan bahasan implikatur
secara rinci di bawah ini.

A. Pengertian Implikatur
Dijelaskan lebih lanjut bahwa Grice (dalam Suseno,1993:30 via Mulyana) mengemukakan
bahwa implikatur adalah ujaran yang menyiratkan sesuatu yang berbeda dengan yang
sebenarnya diucapkan. Sesuatu "yang berbeda" tersebut adalah maksud pembicara yang
dikemukakan secara eksplisit. Dengan kata lain, implikatur adalah maksud, keinginan, atau
ungkapan-ungkapan hati yang tersembunyi.

Dalam artikelnya yang berjudul Logic and Conversation mengemukakan bahwa sebuah
tuturan dapat mengimplikasikan proposisi yang bukan merupakan bagian dari tuturan
bersangkutan. Proposisi yang diimplikasikan itu disebut implikatur (implicature). Karena
implikatur bukan merupakan bagian tuturan yang mengimplikasikannya, hubungan kedua
proposisi itu bukan merupakan konsekuensi mutlak (necessary consequence).

Secara etimologis, implikatur diturunkan dari kata implicatum dan secara nomina kata ini
hampir sama dengan kata implication, yang artinya maksud, pengertian, keterlibatan
(Echols,1984:313 via Mulyana).
Secara structural, implikatur berfungsi sebagai jembatan/rantai yang menghubungkan antara
"yang diucapkan" dengan "yang diimplikasikan".

Menurut PWJ Nababan (1987:28) dalam Abdul Rani menyatakan bahwa implikatur
berkaitan erat dengan konvensi kebermaknaan yang terjadi di dalam proses komunikasi.
Konsep itu kemudian dipahami untuk menerangkan perbedaan antara hal "yang diucapkan"
dengan hal "yang diimplikasikan".

B. Jenis-jenis Implikatur

Grice (1975) dalam Abdul Rani (2006: 171) menyatakan, bahwa ada dua macam
implikatur, yaitu (1) conventional implicature (implikatur konvensional), dan (2)
conversation implicature (implikatur percakapan).Berikut ini merupakan penjelasan dua
macam implikatur tersebut:

1. Implikatur konvensional

Implikatur konvensional yaitu implikatur yang ditentukan oleh "arti konvensional


kata-kata yang dipakai". Maksudnya adalah pengertian yang bersifat umum,
semua orang umumnya sudah mengetahui tentang maksud atau pengertian sesuatu
hal tertentu.

Contoh:

(1). Lestari putri Solo, jadi ia luwes.


Implikasi umum yang dapat diambil antara putri Solo dengan luwes pada contoh
di atas bahwa selama ini, kota Solo selalu mendapat predikat sebagai kota
kebudayaan yang penuh dengan kehalusan dan keluwesan putrid-putrinya.
Implikasi yang muncul adalah, bahwa perempuan atau wanita Solo umumnya
dikenal luwes penampilannya.

Implikatur konvensional bersifat nontemporer. Artinya, makna atau pengertian


tentang sesuatu bersifat lebih tahan lama. Suatu leksem, yang terdapat dalam suatu
bentuk ujaran, dapat dikenali implikasinya karena maknanya "yang tahan lama"
dan sudah diketahui secara umum.

2. Implikatur percakapan

Implikatur jenis ini dihasilkan karena tuntutan dari suatu konteks pembicaraan
tertentu. Implikatur percakapan ini memiliki makna dan pengertian yang lebih
bervariasi. Pasalnya, pemahaman terhadap hal "yang dimaksudkan: sangat
bergantung kepada konteks terjadinya percakapan. Jadi, bila implikatur
konvensional memiliki makna yang tahan lama, maka implikatur percakapan ini
hanya memiliki makna yang temporer yaitu makna itu berarti hanya ketika terjadi
suatu percakapan tersebut/terjadi pembicaraan dalam konteks tersebut.

Dalam suatu dialog (percakapan), sering terjadi seorang penutur tidak


mengutarakan maksudnya secara langsung. Hal yang hendak diucapkan justru
'disembunyikan', diucapkan secara tidak langsung, atau yang diucapkan sama
sekali berbeda dengan maksud ucapannya.

Contoh:

(2) Ibu : Ani, adikmu belum makan.

Ani : Ya, Bu. Lauknya apa?

Pada contoh di atas, percakapan antara Ibu dengan Ani mengandung implikatur
yang bermakna 'perintah menyuapi'. Dalam tuturan itu, tidak ada sama sekali
bentuk kalimat perintah. Tuturan yang diucapkan Ibu hanyalah pemberitahuan
bahwa 'adik belum makan'. Namun, karena Ani dapat memahami implikatur yang
disampaikan Ibunya, ia menjawab dan kesiapan untuk melaksanakan perintah
ibunya tersebut.

Grice menjelaskan bahwa implikatur percakapan itu mengutip prinsip kerjasama


atau kesepakatan bersama, yakni kesepakatan bahwa hal yang dibicarakan oleh
partisipan harus saling berkait. Grice mengemukakan pula bahwa prinsip
kerjasama yang dimaksud sebagai berikut: Berikanlah sumbangan Anda pada
percakapan sebagaimana yang diperlukan sesuai dengan tujuan atau arah
pertukaran pembicaraan Anda terlihat di dalamnya. Dengan prinsip umum
tersebut, dalam perujaran, para penutur disarankan untuk menyampaikan
ujarannya sesuai dengan konteks terjadinya peristiwa tutur, tujuan tutur, dan
giliran tutur yang ada. Prinsip kerjasama ini, ditopang oleh seperangkat asumsi
yang disebut prinsip-prinsip percakapan (maxims of conversation) yang meliputi:
(1) prinsip kuantitas, memberi informasi sesuai dengan yang diminta (2) prinsip
kualitas, menyatakan hanya yang menurut kita benar atau cukup bukti
kebenarannya (3) prinsip hubungan, memberi sumbangan informasi yang relevan
dan (4) prinsip cara, menghindari ketidakjelasan pengungkapan, menghindari
ketaksaan, mengungkapkan secara singkat, mengungkapkan secara beraturan.
Tiga yang pertama berkenaan dengan 'apa yang dikatakan', dan yang keempat
berkenaan dengan 'bagaimana mengatakannya'.

Namun, prinsip kerjasama ini disanggah oleh Leech (1985:17) via Abdul Rani
(2006) yang mengatakan bahwa, dalam pragmatik, komunikasi bahasa merupakan
gabungan antara tujuan ilokusi dan tujuan sosial. Dengan demikian, dalam
komunikasi bahwa itu, di samping menyampaikan amanat dan bertindak tutur,
kebutuhan dan tugas penutur adalah menjaga agar percakapan berlangsung lancar,
tidak macet, tidak sia-sia, dan hubungan sosial antara penutur pendengar tidak
terganggu. Untuk itu, menurut Leech, prinsip kerjasama Grice harus
berkomplemen (tidak hanya sekedar ditambah) dengan prinsip sopan santun agar
prinsip kerjasama terselamatkan dari kesulitan menjelaskan antara makna dan
daya.

Contoh:

(3) Ibu (I) : "Ada yang memecahkan pot ini"

Anak (A) : "Bukan saya!"

Dari contoh di atas, si Anak (A) memberikan jawaban yang seakan-akan tidak
gayut (pelanggaran prinsip hubungan): A bereaksi seolah-olah dia harus
menyelamatkan dirinya dari suatu perbuatan jahat padahal dalam kalimat si Ibu (I)
tidak ada kata-kata menuduh A melakukan perbuatan tersebut. Dalam situasi
seperti itu, jawaban berupa penyangkalan A sebetulnya dapat diramalkan dan
ketidakgayutan (pelanggaran prinsip hubungan) dapat dijelaskan sebagai berikut.

Kita andaikan I tidak tahu siapa yang melakukan perbuatan tersebut,


tetapi ia mencurigai A. Karena I ingin bersifat sopan, I tidak
mengucapkan tuduhan langsung. Sebagai pengganti, ia membuat
pernyataan yang kurang informatif, tetapi benar, yaitu mengganti
pronominal kamu dengan 'ada yang'. A menangkap maksud I dan
pernyataan I ditafsirkan oleh A sebagai suatu tuduhan tidak langsung.
Akibatnya, ketika A mendengar pernyataan itu, A memberi respons
sebagai orang yang dituduh, yaitu A menyangkal suatu perbuatan yang
belum dituduhkan secara terbuka. Jadi, pelanggaran maksum hubungan
dalam jawaban A disebabkan oleh implikatur di dalam ujaran I, sebuah
implikatur tidak langsung yang dimotivasi oleh sopan santun. Jadi,
sasaran jawaban A adalah implikatur ini, bukan ujaran I yang
sesungguhnya diucapkan.
Menurut Levinson (1983) via Abdul Rani (2006:173), ada empat macam faedah
konsep implikatur, yaitu:

1. Dapat memberikan penjelasan makna atau fakta-fakta kebahasaan yang


tidak terjangkau oleh teori-teori linguistik.
2. Dapat memberikan penjelasan yang tegas tentang perbedaan lahiriah dari
yang dimaksud si pemakai bahasa
3. Dapat memberikan pemerian semantik yang sederhana tentang hubungan
klausa yang dihubungkan dengan kata penghubung yang sama.
4. Dapat memerikan berbagai fakta yang secara lahiriah kelihatan tidak
berkaitan, malah berlawanan (seperti metafora).

Dari keterangan itu, jelas bahwa kalimat-kalimat yang secara lahiriah kita lihat tidak
berkaitan, tetapi bagi orang yang mengerti penggunaan bahasa itu dapat menangkap pesan
yang disampaikan oleh pembicara, seperti:

(4).
Suami : "Si Cuplis menangis minta mimik ibunya!"

Istri : "Saya sedang menggoreng."

Kedua kalimat di atas secara konvensional struktural tidak berkaitan. Tetapi, bagi pendengar
yang sudah terbiasa dengan situasi yang demikian akan paham apa arti kalimat kedua itu. Si
istri tidak menjawab ujaran suami bahwa Si Cuplis (anaknya) menangis karena diduga oleh si
suami haus dan minta minum susu ibunya, tetapi hanya menyatakan bahwa dirinya sedang
menggoreng. Dan, jelas kalimat tersebut hanya dapat dijelaskan oleh kaidah-kaidah
pragmatik saja.

Keberadaan implikatur dalam suatu percakapan (wacana dialog) diperlukan antara lain untuk:

1. Memberi penjelasan fungsional atas fakta-fakta kebahasaan yang tidak


terjangkau oleh teori-teori linguistik struktural.

2. Menjembatani proses komunikasi antarpenutur.


3. Memberi penjelasan yang tegas dan eksplisit tentang bagaimana kemungkinan
pemakai bahasa dapat menangkap pesan, walaupun hal yang diucapkan secara
lahiriah berbeda dengan hal yang dimaksud.
4. Dapat menyederhanakan pemerian semantik dari perbedaan hubungan
antarklausa, meskipun klausa-klausa itu dihubungkan dengan kata dan struktur
yang sama.
5. Dapat menerangkan berbagai macam fakta dan gejala kebahasaan yang secara
lahiriah tidak berkaitan (Levision dalam PWJ Nababan, 1987:28).

Istilah implikatur berantonim dengan kata eksplikatur. Menurut Grice (Brown & Yule,
1986:31 dalam Abdul Rani (2006), istilah implikatur diartikan sebagai "what a speaker can
imply, or mean, as distinct from what a speaker literally says". Senada dengan itu, Pratt
menyatakan (1981; 1977 via Abdul Rani) "what is said is implicated together from the
meaning of the utterance in that context." Dari pengertian dia atas. diketahui bahwa
implikatur adalah makna tidak langsung atau makna tersirat yang ditimbulkan oleh apa yang
terkatakan (eksplikatur). Menggunakan implikatur dalam berkomunikasi berarti menyatakan
sesuatu secara tidak langsung.

Contoh:

(5) (Konteks: Udara sangat dingin. Seorang suami yang mengatakan pada istrinya yang
sedang berada di sampingnya).

Suami : "Dingin sekali!"

Transkip ujaran suami yang tidak disertai dengan konteks yang jelas dapat ditafsirkan
bermacam-macam, antara lain:

(5a) permintaan kepada istrinya untuk mengembalikan baju hangat, jaket, atau selimut,
atau minuman hangat untuk menghangatkan tubuhnya

(5b) permintaan kepada istrinya untuk menutup jendela agar angin tidak masuk kamar
sehingga udara di dalam ruangan menjadi hangat.

(5c) pemberitahuan kepada istrinya secara tidak langsung bahwa kesehatannya sedang
terganggu.

(5d) permintaan kepada istrinya agar ia dihangati dengan tubuhnya.

Makna dari keempatnya tersebut merupakan makna implikatur. Makna umum secara tersurat
(literal), yang biasa disebut eksplikatur, contoh di atas adalah "informasi bahwa keadaan (saat
itu) sangat dingin". Dari sini, terlihat jelas perbedaan makna implikatur dan ekplikatur.

Dari penjelasan di atas, ternyata implikatur dapat dibedakan menjadi beberapa macam
berdasarkan bentuk eksplikaturnya. Berikut ini paparannya lebih lanjut:
1. Implikatur yang berupa makna yang tersirat dari sebuah ujaran (between the line),
merupakan implikatur yang sederhana.

2. Implikatur yang berupa makna yang tersorot dari sebuah ujaran (beyond the line),
yang merupakan lanjutan dari implikatur yang pertama.
3. Implikatur yang berkebalikan dengan eksplikaturnya. Meskipun berkebalikan, hal itu
pada umumnya tidak menimbukan pertentangan logika.

C. Ciri-ciri Implikatur

Gunarwan (dalam Rustono, 1999:89 via guru-umarbakri.blogspot.com) menegaskan


adanya tiga hal yang perlu diperhatikan berkaitan dengan implikatur, yaitu:

(1) implikatur bukan merupakan bagian dari tuturan,

(2) implikatur bukanlah akibat logis tuturan,

(3) sebuah tuturan memungkinkan memiliki lebih dari satu implikatur, dan itu bergantung
pada konteksnya.

D. Contoh Implikatur

* Latihan

1. A : Bambang datang

B : a. Rokoknya disembunyikan

b. Aku akan pergi dulu

c. Kamarnya dibersihkan

I mp : a. Mungkin Bambang adalah perokok, tapi ia tidak pernah membeli rokok.


Merokok kalau ada yang memberi, dan tidak pernah member temannya, dsb.

b. Mungkin tidak senang dengan Bambang

c. Mungkin Bambang adalah seorang pembersih. Ia akan marah-marah melihat


sesuatu yang kotor.
2. Bapak : Baju Bapak belum diseterika

Ibu : Ibu sedang menyuapi adek, Pak

Imp : Ibu menolak menyetrikakan baju Bapak karena sedang menyuapi adek makan

3. (Konteks: Jam menunjukkan pukul 10 malam. Seorang ibu kos menegur anak kos yang
masih duduk di depan bersama teman-temannya)

Ibu Kos : "Sudah jam sepuluh, Mbak!"

Imp : a.Ibu kos meminta teman-teman anak kosnya untuk segera pulang

b. Ibu kos bermaksud memberi tahu bahwa jam berkunjung sudah lewat dari batasnya

4. Kemarin aku bertemu dengan si Ucok yang pembawaannya keras. Pantas saja, ternyata dia
orang Batak.

Selama ini, orang Batak selalu dipandang sebagai orang yang berwatak keras, implikasi
yang muncul adalah orang Batak, pembawaannya keras.

5. Deni bak orang Negro, jadi dia hitam

Selama ini kita tahu bahwa Orang Negro identik dengan kulit hitam, maka implikasi
yang muncul adalah orang Negro berkulit hitam.

6. Janganlah seperti Linling, yang perhitungan, kamu bukan orang Cina.

Selama ini kita tahu nama Lingling identik dengang nama orang Cina. Orang Cina
juga identik dengan pelit atau perhitungan dengan uang. Implikasi yang muncul adalah orang
Cina perhitungan/pelit.

7. Dia orang Padang, dia suka sekali makanan pedas.


Selama ini, orang Padang selalu suka makan pedas, implikasi yang muncul adalah
Orang Padang suka makanan yang pedas.

8. A : Aduh, perutku keroncongan.

B : Ok, kita ke warung Rata-rata saja.

Implikatur : …

9. A : Bu Guru sudah datang

B : a. Cepat keluarkan buku di atas meja!

b. Jangan ramai!

c. Cepat duduk ditempat masing-masing!

d. PRmu sudah kamu kerjakan belum?

Implikatur : a. …

b. …

c. …

d. …

10. (Konteks: Malam minggu, pria dan wanita sedang pendekatan)

Pria : "Wah, nanti malam sudah malam minggu nih…"

Implikatur : ….
Daftar Pustaka

guru-umarbakri.blogspot.com. Pragmatik diakses 3 Februari 2010 pukul 15.00

Rani, Abdul, dkk. 2006. Analisis Wacana. Jawa Timur: Banyumedia Publishing

Subagyo, Ari P. Pragmatik 1 (handout). Yogyakarta: Universitas Sanata Dharma

Widharyanto, B. handout perkuliahan: Unsur-Unsur Wacana

...