Anda di halaman 1dari 55

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Balita merupakan bayi yang berusia dari 0-5 tahun. Usia balita

lebih sering terkena penyakit dibandingkan orang dewasa, yang

pertumbuhan dan perkembangannya sudah lengkap. Hal ini disebabkan

sistem pertahanan tubuh pada balita terhadap penyakit infeksi masih dalam

tahap perkembangan (Sastroasmoro, Sudidgo, 2010).

Salah satu penyakit infeksi yang paling sering diderita oleh balita

adalah Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Infeksi ini mengenai

saluran pernafasan yang merupakan organ yang sangat peka sehingga

kuman penyakit mudah berkembang biak. Apalagi daya tahan tubuh balita

belum kuat (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat

Jenderal Pengendalian penyakit dan Penyehatan Lingkungan, 2011).

ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) merupakan salah satu

penyakit terbanyak yang ada di masyarakat. ISPA meliputi infeksi akut

saluran pernapasan bagian atas dan infeksi akut saluran pernapasan bagian

bawah. ISPA adalah suatu penyakit yang terbanyak diderita oleh anak-

anak, baik di negara berkembang maupun di negara maju dan sudah

mampu, dan banyak dari mereka perlu masuk rumah sakit karena

penyakitnya cukup gawat. Penyakit-penyakit saluran pernapasan pada

masa bayi dan anak-anak dapat pula memberi kecacatan sampai pada,

masa dewasa dimana ditemukan adanya hubungan dengan terjadinya

1
2

Chronic Obstructive Pulmonary Disease (Behrman.,Kliegman. &

Arvin, 2010).

ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena

menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1

dari 4 kematian yang terjadi. 40%-60% dari kunjungan di Puskesmas

adalah oleh penyakit ISPA. Dari seluruh kematian yang disebabkan oleh

ISPA mencakup 20%-30% (Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, 2009).

Banyak faktor yang mempengaruhi terjadinya ISPA pada balita,

antara lain: faktor lingkungan, faktor individu anak serta faktor perilaku.

Faktor lingkungan meliputi: pencemaran udara dalam rumah (asap rokok

dan asap hasil pembakaran bahan dapur dengan konsentrasi yang tinggi),

ventilasi rumah dan kepadatan hunian. Faktor individu anak meliputi:

umur anak, Berat Badan Lahir, status gizi, Vitamin A dan status imunisasi.

Faktor perilaku meliputi perilaku pencegahan dan penanggulangan ISPA

pada balita atau peran aktif keluarga atau masyarakat dalam menangani

penyakit ISPA serta perilaku kebiasaan yang merugikan kesehatan seperti

merokok dalam keluarga (Maryunani dan Nurhayati, 2009).

Berdasarkan laporan Badan Lingkungan Hidup Amerika

(EPA/Environmental Protection Agency) mencatat tidak kurang dari 300

ribu anak berusia 0-5 tahun menderita bronchitis dan pneumonia, karena

turut menghisap asap rokok yang dihembuskan orang disekitarnya

terutama ayah dan ibunya (Ramli, 2011).


3

Sedangkan paparan asap rokok merupakan salah satu unsur dari

polutan lingkungan, menjadikannya salah satu faktor resiko terjadinya

ISPA pada balita karena dapat mengganggu fisiologi saluran pernafasan

(Depkes Kota Surabaya, 2008).

Kebiasaan anggota keluarga yang merokok di dalam rumah dapat

berdampak negatif bagi anggota keluarga lainnya khususnya balita.

Indonesia merupakan negara dengan jumlah perokok aktif sekitar 27,6%

dengan jumlah 65 juta perokok atau 225 miliar batang per tahun (World

Health Organization, 2008).

Perilaku merokok dalam rumah memiliki kecenderungan

meningkatkan kejadian ISPA pada balita dan anak – anak (Depkes Kota

Surabaya, 2008).

Berdasarkan hasil laporan Puskesmas Kedungsari pada bulan

Januari sampai Agustus 2017 angka kejadian ISPA di Desa Mojowiryo

mencapai 20% dari jumlah keseluruhan yaitu 2.606 balita.

Berdasarkan uraian tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan

penelitian analisis korelasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui

serta membuktikan adanya hubungan antara perilaku orang tua atau

anggota keluarga lain yang merokok di dalam rumah dengan peningkatan

angka kejadian ISPA pada balita di Desa Mojowiryo, Kecamatan

Kemlagi, Kabupaten Mojokerto.


4

B. Rumusan Masalah

“Adakah hubungan antara perilaku anggota keluarga merokok di

dalam rumah dengan angka kejadian ISPA pada balita di Desa Mojowiryo,

Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto?”

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Mengetahui hubungan perilaku anggota keluarga merokok di dalam

rumah dengan angka kejadian ISPA pada balita di Desa Mojowiryo,

Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto

2. Tujuan Khusus

a. Mengetahui perilaku merokok di dalam rumah pada anggota

keluarga perokok aktif dengan kejadian ISPA pada balita

b. Mengetahui angka kejadian ISPA pada balita dengan anggota

keluarga yang merokok di dalam rumah

c. Menganalisis hubungan antara anggota keluarga yang merokok di

dalam rumah dengan angka kejadian ISPA pada balita

D. Manfaat Hasil Penelitian

1. Untuk masyarakat mengetahui dan memahami bagimana cara menjaga

balita agar tidak sampai terkena ISPA, dengan melakukan tindakan –

tindakan preventif seperti menjauhkan balita dari perokok dan asap

rokok. Serta membuat rumah berventilasi udara yang cukup untuk

pertukaran udara.
5

2. Untuk Puskesmas Kedungsari dapat bekerja sama dengan warga Desa

Mojowiryo, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto untuk

program bebas asap rokok dan perindangan taman rumah.

3. Untuk Pemerintah Kota Mojokerto diharapkan dapat melakukan

kerjasama yang bersinergi dengan Dinas Kesehatan Kota Mojokerto

untuk berperan aktif dalam menggerakkan warga dan petugas-petugas

kesehatan dalam memerangi rokok dengan memberikan penyuluhan

kesehatan atau larangan merokok ditempat-tempat tertentu agar dapat

menurunkan angka kejadian ISPA di Desa Mojowiryo, Kecamatan

Kemlagi, Kabupaten Mojokerto.

4. Untuk peneliti, penelitian ini diharapkan mampu menambah ilmu dan

diharapakan bisa membekali diri peneliti apabila dikemudian hari

dihadapkan dengan kasus serupa. Penelitian ini juga diharapkan

bermanfaat untuk pengembangan ilmu pengetahuan, dimana dengan

adanya makalah ini diharapkan bisa memberikan solusi untuk kasus-

kasus serupa.
6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep ISPA.

1. Pengertian ISPA.

Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) adalah infeksi saluran

pernafasan akut yang menyerang tenggorokan, hidung dan paru-paru

yang berlangsung kurang lebih 14 hari, ISPA mengenai struktur

saluran di atas laring, tetapi kebanyakan penyakit ini mengenai bagian

saluran atas dan bawah secara stimulan atau berurutan (Muttaqin, Arif,

2008).

ISPA adalah penyakit yang menyerang salah satu bagian dan

atau lebih dari saluran pernafasan mulai dari hidung hingga alveoli

termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan

pleura. Jadi disimpulkan bahwa ISPA adalah suatu tanda dan gejala

akut akibat infeksi yang terjadi disetiap bagian saluran pernafasan atau

struktur yang berhubungan dengan pernafasan yang berlangsung tidak

lebih dari 14 hari. Batas 14 hari diambil untuk menunjukkan

berlangsungnya proses akut (Behrman.,Kliegman. & Arvin, 2010).

2. Etiologi ISPA.

Infeksi saluran pernafasan akut merupakan kelompok penyakit

yang komplek dan heterogen, yang disebabkan oleh berbagai etiologi.

Etiologi ISPA terdiri dari 300 lebih jenis virus, bakteri, riketsia dan

jamur. Virus penyebab ISPA antara lain golongan mikrovirus


7

(termasuk di dalamnya virus influenza, virus pra-influensa dan virus

campak), dan adenovirus. Bakteri penyebab ISPA misalnya:

streptokokus hemolitikus, stafilokokus, pneumokokus, hemofils

influenza, bordetella pertusis dan karinebakterium. Bakteri tersebut di

udara bebas akan masuk dan menempel pada saluran pernafasan

bagian atas yaitu tenggorokan dan hidung. Biasanya bakteri tersebut

menyerang anak-anak yang kekebalan tubuhnya lemah (Suhandayani,

2007).

Golongan virus penyebab ISPA antara lain golongan

miksovirus (termasuk di dalamnya virus para-influenza, virus

influenza, dan virus campak) dan adenovirus. Virus para-influenza

merupakan penyebab terbesar dari sindroma batuk rejan, bronkiolitis

dan penyakit demam saluran nafas bagian atas. Untuk virus influenza

bukan penyebab terbesar terjadinya sidroma saluran pernafasan kecuali

hanya epidemi-epidemi saja. Pada bayi dan anak-anak, virus influenza

merupakan penyebab terjadinya lebih banyak penyakit saluran nafas

bagian atas dari pada saluran nafas bagian bawah (Suhandayani, 2007).

Jumlah penderita infeksi pernapasan akut sebagian besar terjadi

pada anak. Infeksi pernapasan akut mempengaruhi umur anak, musim,

kondisi tempat tinggal, dan masalah kesehatan yang ada (Suhandayani,

2007).
8

3. Patofisiologi ISPA.

Terjadinya infeksi antara bakteri dan flora normal di saluran

nafas. Infeksi oleh bakteri, virus dan jamur dapat merubah pola

kolonisasi bakteri. Timbul mekanisme pertahanan pada jalan nafas

seperti filtrasi udara inspirasi di rongga hidung, refleksi batuk, refleksi

epiglotis, pembersihan mukosilier dan fagositosis. Karena menurunnya

daya tahan tubuh penderita maka bakteri pathogen dapat melewati

mekanisme sistem pertahanan tersebut akibatnya terjadi invasi di

daerah-daerah saluran pernafasan atas maupun bawah (Fuad, 2008).

4. Klasifikasi ISPA.

Mengklasifikasikan penyakit Infeksi saluran Pernapasan Akut

(ISPA) atas infeksi saluran pernapasan akut bagian atas dan infeksi

saluran pernapasan akut bagian bawah sebagai berikut :

a. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) bagian atas.

Adalah infeksi-infeksi yang terutama mengenai struktur-

struktur saluran nafas di sebelah atas laring. Kebanyakan penyakit

saluran nafas mengenai bagian atas dan bawah secara bersama-

sama atau berurutan, tetapi beberapa di antaranya adalah

Nasofaringitis akut (salesma), Faringitis akut (termasuk Tonsilitis

dan Faringotositilitis) dan rhinitis (Fuad, 2008).

b. Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) bagian bawah.

Adalah infeksi-infeksi yang terutama mengenai struktur-

struktur saluran nafas bagian bawah mulai dari laring sampai


9

dengan alveoli. Penyakit-penyakit yang tergolong Infeksi saluran

pernapasan akut (ISPA) bagian bawah : Laringitis, Asma

Bronchial, Bronchitis akut maupun kronis, Broncho Pneumonia

atau Pneumonia (Suatu peradangan tidak saja pada jaringan paru

tetapi juga pada brokioli ) (Fuad, 2008).

5. Klasifikasi ISPA berdasarkan kelompok umur.

a. Kelompok umur kurang dari 2 bulan, diklasifikasikan atas:

1. Pneumonia berat.

Apabila dalam pemeriksaan ditemukan adanya penarikan

yang kuat pada dinding dada bagian bawah ke dalam dan

adanya nafas cepat, frekuensi nafas 60 kali per menit atau lebih

(Fuad, 2008).

2. Bukan pneumonia (batuk pilek biasa).

Bila tidak ditemukan tanda tarikan yang kuat dinding dada

bagian bawah ke dalam dan tidak ada nafas cepat, frekuensi

nafas kurang dari 60 kali per menit (Fuad, 2008).

b. Kelompok umur 2 bulan - < 5 tahun diklasifikasikan atas :

1. Pneumonia berat.

Apabila dalam pemeriksaan ditemukan adanya tarikan

dinding dada bagian bawah kedalam.

2. Pneumonia.

Tidak ada tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam,

adanya nafas cepat, frekuensi nafas 50 kali atau lebih pada


10

umur 2 - < 12 bulan dan 40 kali per menit atau lebih pada umur

12 bulan - < 5 tahun.

3. Bukan pneumonia.

Tidak ada tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam,

tidak ada nafas cepat, frekuensi nafas kurang dari 50 kali per

menit pada anak umur 2 – <12 bulan dan kurang dari 40 kali

permenit 12 bulan – <5 tahun.

6. Tanda dan gejala ISPA.

a. Gejala dari ISPA ringan

Seseorang anak dinyatakan menderita ISPA ringan jika ditemukan

satu atau lebih gejala-gejala sebagai berikut :

1) Batuk.

2) Serak, yaitu anak bersuara parau pada waktu mengeluarkan

suara (misalnya pada waktu berbicara atau menangis).

3) Pilek, yaitu mengeluarkan lendir atau ingus dari hidung.

4) Panas atau demam, suhu badan lebih dari 370C.

b. Gejala dari ISPA sedang

Seseorang anak dinyatakan menderita ISPA sedang jika

dijumpai gejala dari ISPA ringan disertai satu atau lebih gejala-

gejala sebagai berikut :

1) Pernafasan cepat (fast breating) sesuai umur yaitu :

Untuk kelompok umur kurang dari 2 bulan frekuensi nafas

60 kali per menit atau lebih dan kelompok umur 2 bulan - <5
11

tahun: frekuensi nafas 50 kali atau lebih untuk umur 2 – <12

bulan dan 40 kali per menit atau lebih pada umur 12 bulan – <5

tahun.

2) Suhu lebih dari 390C (diukur dengan termometer)

3) Tenggorokan berwarna merah

4) Timbul bercak-bercak merah pada kulit menyerupai bercak

campak

5) Telinga sakit atau mengeluarkan nanah dari lubang telinga

6) Pernafasan berbunyi seperti mengorok (mendengkur).

c. Gejala dari ISPA berat

Seseorang anak dinyatakan menderita ISPA berat jika dijumpai

gejala-gejala ISPA ringan atau ISPA sedang disertai satu atau lebih

gejala-gejala sebagai berikut :

1) Bibir atau kulit membiru

2) Anak tidak sadar atau kesadaran menurun

3) Pernafasan berbunyi seperti mengorok dan anak tampak

gelisah

4) Sela iga tertarik kedalam pada waktu bernafas

5) Nadi cepat lebih dari 160 kali per menit atau tidak teraba

6) Tenggorokan berwarna merah


12

7. Faktor-faktor Penyebab ISPA.

1. Faktor agent (Bibit penyakit).

Proses terjadinya penyakit disebabkan adanya interaksi antara

agent atau faktor penyebab penyakit, manusia sebagai pejamu atau

host dan faktor lingkungan yang mendukung (environment). Ketiga

faktor tersebut dikenal sebagai trias penyebab penyakit. Berat

ringannya penyakit yang dialami amat ditentukan oleh sifat- sifat

dari mikroorganisme sebagai penyebab penyakit seperti :

patogenitas, virulensi, antigenitas, dan infektivitas.

Lebih dari 300 jenis bakteri, virus dan riketsia. Bakteri

penyebab ISPA antara lain adalah dari genus Strepcococcus,

Stafilococcus, Pneumococcus, Haemophylus, Bordetella, dan

Corynebakterium. Virus penyebab ISPA terbesar adalah virus

pernafasan antara lain adalah group Mixovirus (Orthomyxovirus ;

sug group Influenza virus, Paramyxovirus ; sug group Para

Influenza virus dan Metamixovirus; sub group Rerpiratory

sincytial virus/RS-virus), Adenovirus, Picornavirus, Coronavirus,

Mixoplasma, Herpesvirus. Jamur Penyebab ISPA antara lain

Aspergilus SP, Candida albicans, Histoplasma. Selain itu ISPA

juga dapat disebabkan oleh karena aspirasi : makanan, Asap

kendaraan bermotor, BBM (Bahan Bakar Minyak) biasanya

minyak tanah, benda asing (biji-bijian).


13

2. Faktor host (Pejamu).

a. Umur.

Umur mempunyai pengaruh yang cukup besar untuk

terjadinya ISPA. Oleh sebab itu kejadian ISPA pada bayi dan

anak balita akan lebih tinggi jika dibandingkan dengan orang

dewasa. Kejadian ISPA pada bayi dan balita akan memberikan

gambaran klinik yang lebih berat dan jelek, hal ini disebabkan

karena ISPA pada bayi dan anak balita umumnya merupakan

kejadian infeksi pertama serta belum terbentuknya secara

optimal proses kekebalan secara alamiah. Sedangkan orang

dewasa sudah banyak terjadi kekebalan alamiah yang lebih

optimal akibat pengalaman infeksi yang terjadi sebelumnya.

b. Jenis kelamin.

Berdasarkan hasil penelitian dari berbagai negara

termsuk Indonesia dan berbagai publikasi ilmiah, dilaporkan

berbagai faktor risiko yang meningkatkan insiden ISPA adalah

anak dengan jenis kelamin laki-laki.

3. Faktor lingkungan (Environment).

Rokok bukan hanya masalah perokok aktif tetapi juga perokok

pasif. Asap rokok terdiri dari 4.000 bahan kimia, 200 diantaranya

merupakan racun antara lain Carbon Monoksida (CO), Polycyclic

Aromatic Hidrocarbons (PAHs) dan lain-lain.


14

Berdasarkan hasil penelitian Pradono dan Kristanti (2003),

secara keseluruhan prevalensi perokok pasif pada semua umur di

Indonesia adalah sebesar 48,9% atau 97.560.002 penduduk. Prevalensi

perokok pasif pada laki-laki 32,67% atau 31.879.188 penduduk dan

pada perempuan 67,33% atau 65.680.814 penduduk. Sedangkan

perokok aktif pada laki-laki umur 10 tahun ke atas adalah sebesar

54,5%, pada perempuan 1,2%.

Prevalensi perokok pasif pada balita sebesar 69,5 %, pada

kelompok umur 5-9 tahun sebesar 70,6% dan kelompok umur muda

10-14 tahun sebesar 70,5%. Tingginya prevalensi perokok pasif pada

balita dan umur muda disebabkan karena masih tinggal serumah

dengan orangtua ataupun saudaranya yang merokok dalam rumah.

8. Pencegahan ISPA.

Menurut (Depkes RI, 2002) pencegahan ISPA antara lain:

1. Menjaga kesehatan gizi agar tetap baik.

Dengan menjaga kesehatan gizi yang baik maka itu akan

mencegah kita atau terhindar dari penyakit yang terutama antara

lain penyakit ISPA. Misalnya dengan mengkonsumsi makanan

empat sehat lima sempurna, banyak minum air putih, olah raga

dengan teratur, serta istirahat yang cukup, kesemuanya itu akan

menjaga badan kita tetap sehat. Karena dengan tubuh yang sehat

maka kekebalan tubuh kita akan semakin meningkat, sehingga


15

dapat mencegah virus / bakteri penyakit yang akan masuk ke

tubuh kita.

2. Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan.

Membuat ventilasi udara serta pencahayaan udara yang baik

akan mengurangi polusi asap dapur / asap rokok yang ada di

dalam rumah, sehingga dapat mencegah seseorang menghirup

asap tersebut yang bisa menyebabkan terkena penyakit ISPA.

Ventilasi yang baik dapat memelihara kondisi sirkulasi udara

(atmosfer) agar tetap segar dan sehat bagi manusia.

3. Mencegah anak berhubungan dengan penderita ISPA.

Infeksi saluran pernafasan akut (ISPA) ini disebabkan oleh

virus/ bakteri yang ditularkan oleh seseorang yang telah terjangkit

penyakit ini melalui udara yang tercemar dan masuk ke dalam

tubuh. Bibit penyakit ini biasanya berupa virus / bakteri di udara

yang umumnya berbentuk aerosol (anatu suspensi yang melayang

di udara). Adapun bentuk aerosol yakni Droplet, Nuclei (sisa dari

sekresi saluran pernafasan yang dikeluarkan dari tubuh secara

droplet dan melayang diudara), yang kedua duet (campuran antara

bibit penyakit).

B. Konsep Rokok.

1. Pengertian rokok.

Rokok adalah silinder dari kertas berukuran panjang antara 70

hingga 120 mm (bervariasi tergantung negara ) dengan diameter


16

sekitar 10 mm yang berisi daun-daun tembakau yang telah dicacah dan

dibakar pada salah satu ujungnya, kemudian dibiarkan membara agar

asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lain.

Tembakau sebagai bahan baku pembuatan rokok berada pada

peringkat pertama penyebab kematian yang dapat dicegah di dunia.

Tembakau menyebabkan satu dari 10 kematian orang dewasa di

seluruh dunia, dan mengakibatkan 5,4 juta kematian pada tahun 2006.

Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata terjadi satu kematian setiap 6,5

detik. Jika hal itu terus berlanjut, maka diperkirakan kematian pada

tahun 2020 akan mendekati dua kali jumlah kematian saat ini.

Merokok merupakan salah satu faktor risiko penting untuk

beberapa penyakit, diantaranya batuk menahun, penyakit menahun

seperti penyakit paru obstruktif menahun (PPOM), bronkhitis, dan

empisema, ulkus peptikum, infertiliti, gangguan kehamilan, arthero

sklerosis sampai penyakit jantung koroner, beberapa jenis kanker

seperti kanker mulut, kanker paru, dan kanker sistem pernapasan

lainnya.

2. Bahan-bahan di dalam rokok.

a. Nikotin.

Nikotin dalam jumlah kecil mempunyai pengaruh

menenangkan, tetapi kadang-kadang bisa meradang. Nikotin

merupakan bahan kimia yang tidak berwarna dan merupakan

salah satu racun paling keras yang kita kenal. Kedua pendapat ini
17

memberikan penjelasan tentang dampak nikotin pada tubuh dan

karakterisiknya. Hal ini tentunya tergantung pada jumlah dan

keadaan fisiologis serta psikologis orangnya. Dalam jumlah besar,

nikotin sangat berbahaya, yaitu antara 20 mg sampai 50 mg

nikotin dapat menyebabkan terhentinya pernapasan.

Menghisap satu batang rokok berarti telah menghisap 2 – 3

mg nikotin. Jika asapnya tidak dihisap, nikotin yang terhisap hanya

1 – 1,5 mg saja. Bagi orang – orang yang bukan perokok atau yang

tidak biasa merokok, dengan menghisap 1 – 2 mg nikotin saja

sudah menyebabkan pusing, sakit kepala, mual, muntah,

berkeringat dan terasa sakit di daerah lambung. Nikotin menaikkan

tekanan darah dan mempercepat denyut jantung hingga pekerjaan

jantung menjadi lebih berat. Selanjutnya, nikotin juga

menyebabkan ketagihan. Seperti yang kita ketahui bahwa nikotin

mempunyai pengaruh menenangkan. Nikotin mengganggu sistem

saraf simpatis dengan akibat meningkatnya kebutuhan oksigen

miokard. Bahan ini, selain meningkatkan kebutuhan oksigen, juga

mengganggu suplai oksigen ke otot jantung (miokard) sehingga

merugikan kerja miokard. Selain menyebabkan ketagihan

merokok, nikotin juga merangsang pelepasan adrenalin,

meningkatkan frekuensi denyut jantung, tekanan darah, kebutuhan

oksigen jantung, serta menyebabkan gangguan irama jantung. Oleh

karena itu, semakin banyak rokok dihisap, semakin hebat jantung


18

dipacu. Nikotin juga mengganggu kerja saraf, otak, dan banyak

bagian tubuh lainnya. Nikotin mengaktifkan trombosit dengan

akibat timbulnya adhesi trombosit (penggumpalan) ke dinding

pembuluh darah.

b. CO2 (Karbon Monoxisida).

Karbon monoksida merupakan gas beracun yang tidak berbau

sama sekali. Gas ini bisa kita jumpai pada asap yang dikeluarkan

mobil. Karbon monoksida yang terkandung dalam rokok dapat

mengikat dirinya pada HB darah dengan akibat oksigen tersingkir

dan tidak dapat digunakan oleh tubuh ( padahal yang diperlukan

tubuh adalah oksigen). Tanpa oksigen ini,baik otak maupun organ

tubuh yang lain tidak dapat berfungsi. Seperti halnya mesin yang

perlu udara untuk membakar bensin agar mesin tersebut bergerak,

maka tubuh kita perlu oksigen untuk membakar makanan yang

disimpan dalam jaringan tubuh untuk memberikan energi.

Selanjutnya, efek dari karbon monoksida adalah bahwa jaringan

pembuluh darah akan menyempit dan mengeras sehingga akhirnya

dapat mengakibatkan peyumbatan. Satu batang rokok yang dibakar

mengandung 3-6% karbon monoksida dan dalam darah kadarnya

mencapai 5%. Pada orang yang bukan perokok, kadarnya adalah

1%. Perokok dengan kadar karbon monoksida 5% ke atas

mendapat serangan 3 kali lipat dibanding dengan bukan perokok.

Gabungan karbon monoksida dengan nikotin akan mempermudah


19

para perokok menderita penyakit penyempitan dan penutupan

pembuluh darah dengan akibat-akibatnya.

c. Tar.

Lebih dari 2000 zat kimia baik berupa gas, maupun partikel

padat terkandung dalam asap rokok. Diantara zat-zat tersebut ada

yang mempunyai efek karsinogen. Tar adalah komponen dalam

asap rokok yang tinggal sebagai sisa sesudah dihilangkan nikotin

dan tetesan-tetesan cairannya. Sebatang rokok menghasilkan 10-

30 mg tar. Cerutu dan rokok pipa justru menghasilkan tar yang

lebih banyak. Tar merupakan kumpulan berbagai zat kimia yang

berasal dari daun tembakau sendiri, maupun yang ditambahkan

pada tembakau dalam proses pertanian dan industri sigaret serta

bahan pembuat rokok lainnya. Oleh karena itu, kadar tar yang

terkandung dalam rokok inilah yang berhubungan dengan resiko

timbulnya kanker karena tar mempunyai efek karsinogen.

3. Paparan asap rokok.

Variabel merokok sebagai variabel independen dalam suatu

penelitian mempunyai variasi yang cukup luas dalam kaitannya dengan

dampak yang diakibatkannya. Oleh karena itu, paparan rokok perlu di

identifikasi selengkapnya dari berbagai segi diantaranya:

a. Jenis perokok: perokok aktif atau perokok pasif

b. Jumlah rokok yang dihisap: dalam satu batang, bungkus, atau pak

perhari.
20

c. Jenis rokok yang dihisap: keretek, cerutu atau rokok putih, pakai

filter atau tidak.

d. Cara menghisap rokok: menghisap dangkal, di mulut saja atau isap

dalam.

e. Alasan mulai merokok: sekedar ingin hebat, ikut-ikutan, kesepian,

pelarian,sebagai gaya, meniru orang tua.

f. Umur mulai merokok: sejak umur 10 tahun atau lebih.

4. Perokok Pasif

Perokok pasif adalah orang yang ikut menghirup asap rokok

yang dikeluarkan oleh perokok aktif pada saat merokok. Menghirup

asap rokok orang lain lebih berbahaya dibandingkan menghisap rokok

sendiri. Bahkan bahaya yang harus ditanggung perokok pasif tiga kali

lipat dari perokok aktif. Penyakit yang dapat diderita perokok pasif ini

tidak lebih baik dari perokok aktif.

Asap rokok lingkungan (ETS) terdiri asap arus utama

(mainstream smoke, MS) dan asap arus samping (sidestream smoke,

SS). Asap arus utama adalah asap yang dihisap dari batang rokok,

disaring oleh paru-paru perokok dan dihembuskan ke udara.

Di dalam tubuh si perokok MS meninggalkan sisa partikel-

partikel di saluran nafasbesar si paru-paru.Asap arus samping (SS)

adalah asap yang beredar langsung keudara yang berasal dari api yang

menyala kecil di ujung rokok di antara dua hisapan. Lebih kurang 85%
21

paparan perokok pasif diperoleh dari arus samping, sedangkan 15%

sisanya berasal dari arus utama.

Konsentrasi kandungan kimia fisik di dalam MS dan SS secara

kualitatif adalah sama tetapi berbeda secara kuantitatif. Partikel SS

sangat mempunyai diameter yang lebih kecil daripada partikel MS,

sehingga partikel SS sangat mungkin untuk tersimpan di dalam alveoli

yang paling jauh dari paru-paru. Partikel yang lebih besar dari 5 mikron

berpengaruh terhadap saluran nafas atas mulai dari hidung,

sinus,pharing sampai bronkus utama. Sedangkan partikel yang lebih

kecil dan gas-gas iritan bergerak jauh ke bawah masuk ke percabangan

bronkus dan alveoli.

Merokok di ruang tertutup akan meningkatkan konsentrasi

partikel asap rokoksebagian di antaranya adalah toksik (beracun).

Pengukuran dari EPA menunjukkan bahwa konsentrasi partikel di

ruangan umum dimana terdapat perokok selalu lebih besar dari 24 jam

standar kualitas udara EPA (260 mcg). Kehadiran perokok

menyebabkan respirable particulates RSP menjadi 3 hingga 12 kali

lebih tinggi didalam ruangan daripada di luar ruangan. Paparan asap

rokok menyebabkan terjadinya efek patofisiologis seperti perubahan

jalan nafas sentral dan perifer, perubahan system kekebalan tubuh.

Hasil studi penelitian epidemologi menunjukkan bukti yang kuat

bahwa paparan asap rokok lingkungan terhadap anak berkaitan

peningkatan jumlah penyakit saluran nafas bawah, eksaserbasi asma,


22

dan SIDS. Paparan semasa kanak-kanak juga dapat menyebabkan

pertumbuhan kanker semasa dewasa. Penelitian meta analisis yang

dilakukan Strachan dan Cook menyimpulkan bahwa hubungan orang

tua perokok dan penyakit saluran nafas bawah akut pada bayi sangat

mungkin. Paparan asap rokok lingkungan (salah satu keluarga adalah

perokok) setelah bayi lahir menyebabkan peningkatan resiko penyakit

pernafasan akut pada anak. Juga terbukti ada hubungan antara orang tua

perokok khususnya dengan penyakit saluran nafas bawah akut

padatahun kedua dan tahun ketiga kehidupan anak.

Suatu penelitian polusi udara pada anak sekolah dasar

menunjukkan bahwa paparan asap rokok akan meningkatkan batuk

malam hari, ngorok, infeksi pernafasan selama 2 tahun pertama

kehidupan. Sedangkan anak-anak yang kedua orang tuanya merokok

kejadian menderiata asma lebih tinggi. Data lain membuktikan bahwa

ibu yang merokok selama hamil mempunyai pengaruh yang lebih besar

terhadap penurunan fungsi baru bayinya dari pada ibu yang merokok

setelah melahirkan.

Perokok pasif merupakan salah satu resiko untuk terjadinya

SIDS. Bayi yang terpapar dengan kadar asap rokok dari ibu yang

merokok lebih 20 batang sehari akan mengalami perubahan struktur

nafas di mana terjadi penebalan dinding saluran nafas yang dapat

menyebabkan penyempitan saluran nafas hebat dan mengakibatkan

kematian mendadak.
23

Konsentrasi zat berbahaya di dalam tubuh perokok pasif lebih

besar karena racun yang terhisap melalui asap rokok perokok aktif tidak

terfilter. Sedangkan racun rokok dalam tubuh perokok aktif terfilter

melalui ujung rokok yang dihisap. Namun konsentrasi racun perokok

aktif bisa meningkat jika dia kembali menghirup asap rokok yang ia

hembuskan. Kandungan rokok terbesar dihasilkan oleh asap yang

mengepul dari ujung rokok yang sedang dihisap. Sebab asap yang

dihasilkan berasal dari pembakaran tembakau yang tidak sempurna.

Asap rokok mengandung sekitar 4000bahan kimia, dan 43 diantaranya

merupakan bahan kimia yang bersifat karsinogen (zatkimia yang

menimbulkan kanker). Dari begitu banyaknya bahan kimia, yang

dihirup perokok aktif hanya 15 persen. Sementara 85 persen lain

dilepaskan dan dihirup para perokok pasif.

Asap rokok yang dihirup perokok pasif disebut sidestream

smoke (asap samping). Dari sebatang rokok yang terbakar, dihasilkan

asap samping dua kali lebih banyak dari pada asap utama. Resiko

kesehatan perokok pasif sebenarnya tidak jauh berbeda dengan perokok

aktif.

Terdapat seorang perokok atau lebih dalam rumahakan

memperbesar resiko anggota keluarga menderita sakit, seperti gangguan

pernapasan, memperburuk asma dan memperberat penyakit angina

pectoris serta dapat meningkatkan resiko untuk mendapat serangan


24

ISPA khususnya pada balita. Anak-anak yang orang tuanya perokok

lebih mudah terkena penyakit saluran pernapasan seperti flu, asma

pneumonia dan penyakit saluran pernapasan lainnya.

Berikut sejumlah zat berbahaya yang terkandung di sebuah

batang rokok : (1) Tar, Dalam tubuh manusia, tar memicu terjadinya

iritasi paru-paru dan kanker. Dalamtubuh perokok pasif, tar akan

terkonsentrasi tiga kali lipat dibandingkan dalam tubuhperokok aktif.

(2). Nikotin. Dalam tubuh manusia menimbulkan efek adiksi atau

candu yang memicu peningkatan konsumsi. Dalam tubuh perokok

pasif, nikotin akan terkonsentrasi tiga kali lipat dibandingkan dalam

tubuh perokok aktif. (3) Karbon monoksida. Merupakan gas berbahaya

yang dapat menurunkan kadar oksigen dalam tubuh. Pengikatan

oksigen oleh karbon monoksida inilah yang kemudian memicu

terjadinya penyakit jantung. Dalam tubuh perokok pasif, gas berbahaya

ini akan terkonsentrasi tiga kali lipat dibandingkan dalam tubuh

perokok aktif. (4). Bahan kimia berbahaya. Berupa gas dan zat

berbahaya yang jumlahnya mencapai ribuan. Di tubuh manusia, bahan

kimia berbahaya ini meningkatkan risiko penyakit kanker. Dalam tubuh

perokok pasif, bahan kimia berbahaya ini akan terkonsentrasi 50 kali

lipat dibandingkan dalam tubuh perokok aktif.

5. Bahaya Rokok Terhadap Kesehatan.

Asap rokok yang dihirup seorang perokok mengandung

komponen gas dan partikel. Komponen gas terdiri dari karbon


25

monoksida, karbon dioksida, hidrogen sianida, amoniak, oksida dari

nitrogen dan senyawa hidrokarbon. Adapun komponen partikel terdiri

dari tar, nikotin, benzopiren, fenol, dan kadmium. Berdasarkan

penjelasan di atas, rokok dan asapnya mempunyai dampak yang buruk

bagi kesehatan. Tidak hanya bagi perokok itu sendiri, tetapi juga bagi

perokok pasif yang hanya ikut menghirup asapnya saja.

Asap yang dihembuskan para perokok dapat dibagi atas asap

utama (main stream smoke) dan asap samping (side stream smoke).

Asap utama merupakan asap tembakau yang dihirup langsung oleh

perokok, sedangkan asap samping merupakan asap tembakau yang

disebarkan ke udara bebas, yang akan dihirup oleh orang lain atau

perokok pasif. Telah ditemukan 4.000 jenis bahan kimia dalam rokok,

dengan 40 jenis di antaranya bersifat karsinogenik (dapat menyebabkan

kanker), racun ini lebih banyak didapatkan pada asap samping,

misalnya karbon monoksida (CO) 5 kali lipat lebih banyak ditemukan

pada asap samping dari pada asap utama, benzopiren 3 kali, dan

amoniak 50 kali. Bahan–bahanini dapat bertahan sampai beberapa jam

lamanya dalam ruang setelah rokok berhenti. Asap rokok yang baru

mati di asbak mengandung 3 kali lipat bahanpemicu kanker di udara

dan 50 kali mengandung bahan pengiritasi mata dan pernapasan.

Seseorang yang mencoba merokok biasanya akan ketagihan karena

rokok bersifat candu.


26

Rokok merupakan faktor risiko untuk sekurang – kurangnya 25

jenis penyakit, diantaranya adalah kanker pundi kencing, kanker perut,

kanker usus dan rahim, kanker mulut, kanker esophagus, kanker tekak,

kanker pancreas, kanker payudara, kanker paru, penyakit saluran

pernapasan kronik, strok, osteoporosis, jantung, kemandulan, putus haid

awal, melahirkan bayi yang cacat, keguguran bayi, bronchitis, batuk,

penyakit ulser peptic, emfisima, otot lemah, penyakit mulut, dan

kerusakan mata.

Sekarang ini kebanyakan perokok tahu bahwa merokok dapat

menyebabkan beberapa penyakit berbahaya. Namun mereka biasanya

masa bodoh terhadap hal itu dan menganggap bahwa merokok adalah

urusan pribadi mereka, tetapi sebenarnya merokok bukan urusan

pribadi. Asap rokok tidak hanya berpengaruh kepada perokok aktif,

tetapi juga mengotori udara sekitar. Orang – orang yang bukan perokok,

tetapi ikut menghirup udara yang tercemar asap rokok dinamakan

perokok pasif ('passive smoking'). Perlu diketahui bahwa asap yang

dihasilkan dari rokok yang mengepul ke udara luar ditambah dengan

asap yang dihembuskan oleh perokok mengandung zat kimia yang lebih

tinggi dari pada yang dihisap oleh perokok sendiri yang labil. Mereka

yang peka sebagai perokok pasif terutama adalah bayi dan anak-anak.

Risiko yang akan diterima perokok pasif antara lain dapat mengalami

kanker paru dan penyakit jantung, masalah pernapasan termasuk radang


27

paru dan bronchitis, sakit atau pedih mata, bersin, batuk – batuk, dan

sakit kepala.

Di samping itu, perokok pasif juga mempunyai risiko yang lebih

tinggi untuk mengidap berbagai penyakit, 30 % penyakit jantung dan

25% kanker. Bagi ibu hamil yang merokok akan mengalami pengaruh

buruk antara lain akan mengalami keguguran, pendarahan, bayi lahir

prematur, bayi meninggal/ meninggal setelah lahir, bayi lahir dengan

berat badan rendah ( lebih rendah dari normal ) dan bayi sering sakit.

Penyakit – penyakit yang timbul akibat merokok selain mempengaruhi

kesehatan, juga akan mempengaruhi penyediaan tenaga kerja, terutama

tenaga terampil atau tenaga eksekutif. Dengan kematian mendadak atau

kelumpuhan yang timbul jelas menimbulkan kerugian besar bagi

perusahaan. Penurunan produktivitas tenaga kerja menimbulkan

penurunan pendapatan perusahaan, juga beban ekonomi yang tidak

sedikit bagi individu dan keluarga. Dari sudut ekonomi kesehatan,

dampak penyakit yang timbul akibat merokok jelas akan menambah

biaya yang dikeluarkan, baik bagi individu, keluarga, perusahaan,

bahkan negara.
28

BAB III

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Kerangka Konsep

LINGKUNGAN

Ventilasi udara Kepadatan Bahan bakar


kurang hunian masak

Merokok di dalam
Rumah ISPA

Perilaku Merokok Faktor internal

Stress, Kebiasaan,
Waktu senggang

Gambar III.1
Kerangka Konsep

Yang diteliti

Tidak diteliti
29

ISPA disebabkan oleh beberapa faktor yaitu faktor lingkungan dan

faktor internal. Faktor lingkungan terdiri dari ventilasi udara yang kurang,

asap rokok, kepadatan hunian dan bahan bakar masak. Peneliti akan

membahas salah satu faktor resiko dari ISPA yaitu paparan asap rokok.

Asap rokok timbul karena perilaku merokok dari suatu individu. Perilaku

merokok biasanya disebabkan karena kebiasaan, stress dan adanya waktu

senggang. Paparan asap rokok yang terus menerus dapat menyebakan

ISPA pada balita dengan orang tua perokok aktif. Paparan asap rokok

yang terus menerus dapat menurunkan kemampuan makrofag dalam

membunuh bakteri yang menyebabkan terjadi infeksi di saluran

pernapasan.

Peneliti akan membahas salah satu faktor resiko dari ISPA yaitu

paparan asap rokok, karena sebagian besar balita di desa Mojowiryo,

kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto mendapatkan paparan asap

rokok dari orang tua atau anggota keluarganya yang merokok di dalam

rumah.

B. Hipotesis Penelitian

Dari kerangka konsep diatas dapat disusun hipotesis sebagai berikut: Ada

hubungan antara anggota keluarga merokok didalam rumah dengan

kejadian ISPA pada balita.


BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Rancang Bangun Penelitian

Jenis penelitian ini adalah observasional, Dilihat dari waktunya ,

penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional (hubungan dan

asosiasi).

Pada jenis ini variabel independen perilaku anggota keluarga merokok

yang tinggal serumah dan variabel dependen yakni angka kejadian ISPA pada

balita dinilai secara simultan pada suatu saat jadi tidak ada tindak lanjut.

Pendekatan pada penelitian ini secara cross sectional dengan mengukur

atau mengumpulkan data pada variabel dependent mengenai angka kejadian

ISPA pada balita dan selanjutnya mencari hubungan perilaku keluarga yang

merokok sebagai variabel bebas.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di Desa Mojowiryo, Kecamatan Kemlagi,

Kabupaten Mojokerto Pada bulan September 2017.

30
31

C. Populasi dan Sampel Penelitian

a. Populasi

Pada penelitian ini populasinya adalah balita di Desa Mojowiryo

sebanyak 2.606 dan sebagai respondennya adalah ibu yang memiliki

balita.

b. Sampel

Besar sampel pada penelitian ini adalah untuk menetukan jumlah

sampel pada suatu penelitian. Rumus yang digunakan untuk menentukan

besar sampel adalah sebagai berikut :

Z2 α pq 𝑍 2 𝑝 (1−𝑝)
𝑛= =
𝑑2 𝑑2

Keterangan :

n = besar sampel minimum

Z1-/2 = nilai distribusi normal baku (tabel Z) pada  tertentu

p = harga proporsi kejadian ISPA


32

d = kesalahan (absolut) yang dapat ditolerir

1,962 x 0,2 (1 − 0,2)


𝑛=
0,12

3,84 x 0,2 x 0,8


𝑛=
0,01

0,6144
𝑛=
0,01

𝑛 = 61,44 = 62 sampel

c. Teknik pengambilan sampel

Teknik Simple Random Sampling digunakan untuk tehnik

pengambilan sampel dimana semua individu dalam populasi baik secara

sendiri-sendiri atau bersama-sama diberi kesempatan yang sama untuk

dipilih sebagai anggota sampel.

d. Kriteria inklusi dan ekslusi

1. Kriteria inklusi

a. Ibu yang memiliki balita di Desa Mojowiryo

b. Ibu yang bisa baca dan tulis

c. Ibu yang bersedia mengisi kuisioner


33

2. Kriteria eksklusi

1. Ibu yang pada saat pengambilan data tidak ada di rumah

2. Ibu dengan sakit parah atau kecacatan

D. Variabel Penelitian

1. Variabel bebas

Variabel bebas pada penelitian ini adalah: perilaku anggota keluarga

merokok didalam rumah

2. Variabel terikat

Variabel terikat pada penelitian ini adalah kejadian ISPA

E. Definisi Istilah/Definisi Operasional

Tabel : Definisi, Kategori/Kriteria, Alat Ukur dan Skala Data Variabel.


Variabel Definisi Cara Kategori Skala
pengukuran
Kejadian ISPA Kejadian ISPA dalah semua Kuisioner 1. sedang ISPA Nominal
balita yang datang dengan 2. Tidak ISPA
gejala, demam, batuk, pilek
serta whizing dan stridor jika
ditemukan.

Perilaku Perilaku Merokok, adalah Kuisioner 1. Merokok didalam Nominal


merokok sebuah kegitan menghisap rumah > 5x/hari
asap rokok. 2. merokok di luar
Pada penelitian ini rumah / tidak
dibedakan menjadi perilaku merokok
merokok di dalam rumah dan
tidak merokok diluar
rumah/tidak merokok

F. Prosedur Penelitian

Teknik pengumpulan data

Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:


34

1. Dokumentasi yaitu alat pengumpul data dengan dokumen untuk mencatat

data yang dibutuhkan dalam penelitian. Data yang dapat diperoleh dengan

alat dokumentasi dalam penelitian ini berupa daftar balita.

2. Kuesioner yaitu untuk mengetahui karakteristik responden meliputi usia

kelamin dan jenis balita, dikategorikan menjadi 2 yaitu ISPA dan tidak

ISPA.

Populasi

Orang tua yang memiliki anak usia 0-5 tahun di desa Mojowiryo

Besar Sampel
62

Tehnik Pengambilan Sampel


Menggunakan simple random sampling

Pengumpulan Data
1. Penjelasan, 2. Mengisi/penandatanganan informed
consent, 3. Pengisian kuesioner/wawancara

Pengolahan dan Analisis Data

Hasil Penelitian

Kesimpulan

Gambar IV.1 Alur penelitian tentang hubungan anggota keluarga


merokok di dalam rumah dengan kejadian ISPA pada balita di Desa
Mojowiryo, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto Tahun 2017
35

G. Jadwal pengumpulan data


No Kegiatan I II III IV VV
1 Pembuatan Proposal
2 Penelitian &
Penyuluhan
3 Pengolahan data
4 Penyusunan Laporan
5 Presentasi
Tabel IV.2 Jadwal Pengumpulan Data

H. Analisa Data

Mengingat penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antar

variabel independent dengan variabel dependent yaitu keberadaan anggota

keluarga yang merokok, variabel independent skala datanya nominal, variabel

dependent skala datanya nominal maka analisa data yang digunakan adalah uji

Chi Square.
BAB V

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Desa Mojowiryo Kecamatan Kemlagi pada

bulan September 2017. Desa Mojowiryo adalah salah satu desa yang terletak

di Kecamatan Kemlagi Kabupaten Mojokerto. Luas wilayah yaitu 122.074 ha

dengan jumlah penduduk terdiri dari 473 KK dan jumlah balita 2606 orang.

Penduduk dalam desa Mojowiryo mempunyai pekerjaan sebagai petani dan

Ibu Rumah Tangga.

Batas wilayah Desa Mojowiryo sebagai berikut :

1. Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Mojogebang

2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Mojojajar

3. Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Mojosarirejo

4. Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Berat Kulo

36
37

B. Karateristik Responden

Berdasarkan hasil penyebaran kuesioner di Desa Mojowiryo, diperoleh

data yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

1. Umur Responden Balita

Tabel V.1 Distribusi balita Berdasarkan Umur di Desa Mojowiryo


Kecamatan Kemlagi , Kabupaten Mojokerto Tahun 2017
Umur Frekuensi Persentase %
0-1 tahun 17 26
2-3 tahun 32 52
4-5 tahun 13 22
Total 62 100
Sumber: Hasil Survei, 2017

umur balita

22% 26%

0-1 tahun
2-3 tahun
52% 4-5 tahun

Gambar V.1 Proporsi Responden Berdasarkan Umur di Desa


Mojowiryo, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto Tahun 2017
Tabel V.1 dan Gambar V.1 menunjukkan bahwa sebagian besar

responden memiliki balita usia berusia 2-3 tahun.


38

2. ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas)

Tabel V.2 Distribusi Responden Berdasarkan balita yang


menderita penyakit ISPA dan yang tidak ISPA di Desa Mojowiryo,
Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto Tahun 2017

ISPA Frekuensi Persentase %


Sedang ISPA 48 78
Tidak ISPA 14 22

Total 62 100

Sumber: Hasil Survei, 2017

ISPA

22%

78% Pernah ISPA


Tidak Pernah ISPA

Gambar V.2 Proporsi Responden Berdasarkan balita yang


menderita penyakit ISPA dan yang tidak ISPA di Desa Mojowiryo,
Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto Tahun 2017

Tabel V.2 dan Gambar V.2 menunjukkan bahwa sebagian besar

responden memiliki balita yang sedang terkena penyakit ISPA (78%).


39

3. Merokok

Tabel V.3 Distribusi Responden Berdasarkan anggota keluarga


yang merokok di dalam rumah dan diluar rumah di Desa
Mojowiryo, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto Tahun
2017

Merokok Frekuensi Persentase %


Didalam rumah 46 73
Diluar rumah 16 27

62 100
Total
Sumber: Hasil Survei,2017

Merokok

27%
Merokok di dalam rumah
merokok di luar rumah
73%

Gambar V.3 Proporsi Responden Berdasarkan Berdasarkan


Anggota Keluarga Yang Merokok Di Dalam Rumah Dan Diluar
Rumah di Desa Mojowiryo, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten
Mojokerto Tahun 2017
Tabel V.3 dan Gambar V.3 menunjukkan bahwa di Desa

Mojowiryo masyarakat pada umumnya memiliki perilaku merokok

didalam rumah (73 %).


40

C. Analisis

Setelah diketahui karakteristik masing-masing variabel (univariat) dapat

diteruskan dengan analisis bivariat untuk mengetahui hubungan antar variabel.

Berikut ini akan disajikan hasil pengujian menggunakan uji Chi-Square.

Tabel V.4 Kejadian ISPA dan tidak ISPA pada balita menurut ada
atau tidaknya Anggota keluarga yang merokok di dalam rumah dan
diluar rumah di desa Mojowiryo, kecamatan Kemlagi, Kabupaten
Mojokerto Tahun 2017
Merokok ISPA Total p value
ISPA Tidak ISPA
Di Dlm rumah 39 (84,8%) 7 (15,2%) 46 (100%)
0.034
Di Luar rumah 9 (56,3%) 7 (43,7%) 16 (100%)

Total 48 (77,4%) 14 (22,5%) 62 (100%)

Tabel V.4 dijelaskan bahwa responden yang memiliki anggota keluarga

yang merokok didalam rumah didapatkan 84,4 % balita yang menderita ISPA.

Sedangkan pada responden yang tidak memiliki anggota keluarga yang

merokok diluar rumah didapatkan 56,3 % balita yang terkena ISPA.

Dan berdasarkan hasil uji statistik Tabel V.5 dengan uji Chi-Square

diperoleh nilai Sig. p = 0.034. Sedangkan untuk melihat apakah ada hubungan

atau tidak maka nilai signifikan dibandingkan dengan nilai α (0.05). Setelah

dibandingkan nilai signifikan (0.034) <α (0.05) yang artinya ada hubungan

positif antara anggota keluarga merokok didalam rumah dengan angka kejadian

Infeksi Saluan Pernafasan Akut ( ISPA ) pada balita.

Berdasarkan hasil Contingency Coefficient didapatkan hasil 0.286 yang

berarti terdapat hubungan yang lemah antara perilaku anggota keluarga yang

merokok di dalam rumah dengan angka kejadian ISPA pada balita.


BAB VI

PEMBAHASAN

A. Penyakit ISPA

ISPA merupakan salah satu penyakit menular yang meliputi infeksi

saluran pernafasan akut bagian atas dan infeksi saluran pernafasan akut bagian

bawah (Pneumonia). ISPA bagian atas mengakibatkan kematian pada anak

dalam jumlah kecil, tetapi dapat menyebabkan kecacatan misalnya otitis

media yang merupakan penyebab ketulian.

ISPA merupakan penyakit yang sering dialami oleh balita dengan gejala

seperti batuk, pilek, panas selama 2 minggu terakhir. Banyak faktor yang

dapat menyebabkan tingginya angka kejadian ISPA. Terjadinya Infeksi

Saluran Pernapasan Akut (ISPA) juga dapat dipengaruhi keadaan daya tahan

tubuh (status nutrisi, imunisasi) dan keadaan lingkungan (rumah yang kurang

ventilasi, lembab, basah, dan kepadatan penghuni). Selain itu, faktor resiko

yang secara umum dapat menyebabkan terjadinya ISPA adalah keadaan sosial

ekonomi menurun, gizi buruk, pencemaran udara dan asap rokok (Depkes RI,

2002).

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan sebagian besar balita 78%

menderita ISPA. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa balita yang

menderita ISPA di desa Mojowiryo lebih tinggi dibandingkan dengan yang

tidak terkena ISPA. Dalam penelitian ini sampel dirasakan kurang akurat

karena tidak mengetahui jumlah keluarga merokok didalam rumah dan banyak

41
42

faktor yang menyebabkan ISPA yaitu daya tahan tubuh (status nutrisi,

imunisasi) dan keadaan lingkungan (rumah yang kurang ventilasi, lembab,

basah, dan kepadatan penghuni) selain asap rokok. Dalam penelitian yang

dilakukan kelemahannya dari pendidikan orangtua balita dalam menjawab

kuisioner yang diberikan peneliti.

B. Umur anak

Pada penelitian ini jumlah balita yang diteliti adalah 62 orang. Dalam

penelitian pada balita 0 sampai 5 tahun supaya penelitian ini bisa dijadikan

sedikit dasar penelitian mengenai Hubungan Anggota Keluarga yang

merokok di dalam rumah dengan Kejadian Ispa Pada Balita Di Desa

Mojowiryo, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto.

Dari hasil data pada Bab 5 dapat kita lihat bahwa jumlah balita

berjumlah 62 orang. Yang menunjukkan bahwa dari 62 responden yang

diteliti, sebagian besar responden di Desa Mojowiryo sebanyak 26% berusia

0-1 tahun, 52% berusia 2-3 tahun dan sebanyak 22% berusia 4-5 tahun.

Kejadian ISPA pada bayi dan balita akan memberikan gambaran klinik

yang lebih berat dan jelek, hal ini disebabkan karena ISPA pada bayi dan anak

balita umumnya merupakan kejadian infeksi pertama serta belum

terbentuknya secara optimal proses kekebalan secara alamiah (Hartono,

Rahmawati, 2012).
43

C. Keberadaan dan konsumsi rokok

Keberadaan rokok pada masyarakat disekitar puskesmas Mojokerto

masih menjadi permasalahan yang sulit ditangani. Hal ini disebabkan oleh

banyak faktor. Baik dari individu masing-masing maupun pengaruh orang

lain. Dari data yang diperoleh, didapatkan bahwa keberadaan anggota

keluarga yang merokok didalam rumah masih sangat tinggi yaitu pada 73%

responden yang diteliti sedangkan 27% responden memiliki anggota keluaga

yang merokok diluar rumah. Kebiasaan anggota keluarga yang merokok di

dalam rumah dapat berdampak negatif bagi anggota keluarga lainnya

khususnya balita.

Hubungan Kejadian ISPA pada Balita dengan Anggota Keluarga Perokok di


Puskesmas Kedungsari Kabupaten Mojokerto.

Sesuai dengan hasil penelitian didapatkan bahwa ada hubungan antara

penyakit ISPA dengan merokok yang diuji menggunakan Uji Chi – Square dan

didapat hasil P value = 0.034 yang artinya ada hubungan positif antara anggota

keluarga perokok aktif dengan angka kejadian Infeksi Saluan Pernafasan Atas

(ISPA) pada balita. Hasil penelitian sama dengan hasil penelitian yang telah ada

menyatakan bahwa ada hubungan antara penyakit ISPA dengan keberadaan

perokok. Dengan demikian konsumsi rokok tetaplah tidak sehat seperti yang telah

ditulisakan sebelumnya rokok memiliki berbagai macam dampak buruk baik

untuk perokok aktif maupun untuk perokok pasif. Selain penyakit paru perokok

pasif juga memiliki resiko yang sama untuk penyakit jantung iskemik, penyakit

pernafasan obstruksi kronis, stroke bahkan asma. Bayi yang belum lahir berada
44

dalam resiko, demikian juga anak – anak yang orang tuanya merokok dan juga

orang dewasa yang bukan perokok. Meskipun resiko orang perokok lebih besar

daripada yang bukan perokok, jenis penyakit dan kelainan yang timbul serupa.

oleh sebab itu agar kesehatan balita dan keluarga bisa terjaga akan lebih baik jika

dalam sebuah rumah didapatkan adanya perokok untuk tidak merokok di dalam

rumah dan dekat dengan anggota keluarga lain yang tidak merokok.

Kebiasaan anggota keluarga yang merokok di dalam rumah dapat

berdampak negatif bagi anggota keluarga lainnya khususnya balita. Dapat dilihat

hasil penelitian ini dari 84,8% responden yang memiliki anggota keluarga yang

merokok didalam rumah didapatkan juga balita menderita ISPA sedangkan 15,2%

balita tidak menderita ISPA.

Berdasarkan hasil penelitian dari 62 responden, didapatkan 56,3% respoden

yang anggota keluarganya merokok diluar rumah atau tidak merokok didapatkan

juga balita yang terkena ISPA sedangkan 43,7% balita tidak ISPA. Dari hasil

tersebut dapat diketahui bahwa angka kejadian ISPA pada balita di Desa

Mojowiryo lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak terkena ISPA walaupun

perilaku anggota keluarga merokok diluar rumah.

Kejadian ISPA pada balita tidak hanya dipengaruhi oleh faktor asap rokok

yang ditimbulkan dari keluarga yang mempunyai kebiasaan merokok didalam

rumah. Banyak faktor yang dapat menyebabkan tingginya angka kejadian ISPA.

ISPA bisa oleh faktor internal / lingkungan dalam rumah yang meliputi faktor

individu balita seperti misalnya umur, jenis kelamin, status gizi, dan status

imunisasi. Serta faktor lingkungan fisik rumah yang kurang mempunyai ventilasi
45

yang cukup untuk sirkulasi udara, faktor prilaku, faktor sosial-demografi.

(Hartono,2012) Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa prevalensi ISPA pada

balita di Desa Mojowiryo lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak terkena

ISPA.

Pada perhitungan odds ratio didapatkan hasil 4,33 yang artinya balita ya

mempunyai keluarga yang merokok didalam rumah kemungkinan terkena ISPA 4

kali lipat dibandingkan dengan balita dari keluarga yang tidak merokok.

Berdasarkan hasil Contingency Coefficient didapatkan hasil 0.286 yang

berarti terdapat hubungan yang lemah antara perilaku anggota keluarga yang

merokok di dalam rumah dengan angka kejadian ISPA pada balita. Hal ini

menjelaskan bahwa merokok di dalam rumah bukan satu – satunya penyebab

ISPA pada balita karena masih banyak faktor lain.

Keluarga merokok didalam rumah masih banyak untuk mengurangi

kebiasaan merokok didalam rumah dengan cara memberikan penyuluhan dan

pengetahuan bahaya rokok bagi balita dan keluarga didalam rumah. Cara lain

untuk mengurangi merokok didalam rumah yaitu :

1. Mengganti kebiasaan merokok dengan makan permen atau coklat agar mulut

terasa nyaman.

2. Bila kebiasaan merokok karena pengaruh pikiran bisa mencari aktivitas yang

mengurangi beban pikiran dan berbagi permasalahan kepada istri atau

saudara.

3. Mengubah kebiasaan merokok dengan mencari kegiatan yang dapat

mengurangi merokok.
BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Dari 62 balita sebagian besar sedang menderita ISPA sebanyak 78 % balita

sedangkan 22 % tidak menderita ISPA

2. Sebagian besar warga Desa Mojowiryo mempunyai kebiasaan merokok

didalam rumah 73% yang dimana lebih tinggi daripada yang mempunyai

kebiasaan merokok diluar rumah sebanyak 26%.

3. Angka kejadian Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) pada balita dengan

anggota keluarga yang mempunyai perilaku merokok di dalam rumah masih

sangat tinggi di wilayah desa Mojowiryo sebanyak 62%. Sedangkan angka

kejadian ISPA pada balita dengan perilaku anggota keluarga merokok diluar

rumah sebanyak 16%

4. Ada hubungan anggota keluarga perokok aktif dengan kejadian ISPA pada

balita di Desa Mojowiryo, Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto

antara yang di tunjukkan dengan hasil uji Chi-Square diperoleh nilai Sig. =

0,034 (>0,05).

46
47

B. Saran

1. Diadakan penyuluhan dan sosialisasi terhadap masyarakat sekitar

puskesmas Kedungsari secara bertahap dan berkesinambungan agar

penerapan hidup bebas dari asap rokok bisa terrealisasikan dengan baik,

2. Kurangi merokok didalam rumah dengan jarak yang dekat pada anak yang

sedang pada tahap perkembangan.


DAFTAR PUSTAKA

Alfian, S. H. (2012). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok


Kepala dan Leher. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Alimul Hidayat, A. A. (2007). Metode Penelitian Keperawatan dan Teknik
Analisa Data. Jakarta: Penerbit Salemba Medika.
Behrman.,Kliegman. & Arvin. (2010). Nelson Ilmu Kesehatan Anak. Jakarta:
EGC.
Depkes Kota Surabaya. (2008). Kesehatan Lingkungan. Surabaya: Depkes.
Depkes RI. (2002). Pedoman Pemberantasan Penyakit Saluran Pernapasan Akut.
Jakarta: Departemen Kesehatan RI.
Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur. (2009). Tabel Lampiran Profil Kesehatan
Provinsi Jawa Timur. Jawa Timur: Dinas Kesehatan.
Fuad. (2008). Infeksi Saluran Pernapasan Akut. Jakarta: EGC.
Hadi, S. ( 2000). Metodologi Research. Yogyakarta : Andi Yogyakarta.
Hartono, Rahmawati. (2012). ISPA Gangguan Pernapasan pada Anak.
Yogyakarta: Nuha Medika.
Hidayat. (2007). Metode Penelitian Keperawatan dan Tekhnik Analisa Data.
Jakarta: Salemba Medika.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pengendalian
penyakit dan Penyehatan Lingkungan. (2011). Pedoman Pengendalian
Infeksi Saluran Pernafasan Akut. Jakarta: Kementrian Kesehatan RI.
Maryunani dan Nurhayati. (2009). Asuhan Kegawatdaruratan dan Penyulit Pada
Neonatus. Jakarta: Trans Info Media.
Muttaqin, Arif. (2008). Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Dengan Gangguan
Sistem Pernapasan. Jakarta: Salemba Medika.
Notoatmodjo, S. ( 2005). metodologi penelitian kesehatan. Jakarta: penerbit
rineka cipta.
Purwanto. (2007). Metodologi Penelitian Kuantitatif. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Ramli. (2011). Rokok dan Bahayanya untuk Kesehatan. Jakarta: Gramedia.
Sastroasmoro, Sudidgo. (2010). Membina Tumbuh Kembang Bayi dan Balita.
Jakarta: Sagung Seto.

48
49

Suhandayani. (2007). Infeksi Saluran Pernapasan Akut dan Penanggulangannya.


Medan: Universitas Sumatera Utara.
Supranto. (2003). Statistik dan Teori Aplikasi. Jakarta: Erlangga.
World Health Organization. (2008). Pencegahan dan Pengendalian ISPA di
Fasilitas Pelayanan Kesehatan. WHO .
Lampiran 1
Tabel SPSS

Chi-Square Tests

Asymp. Sig. (2-


Value df sided) Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided)

Pearson Chi-Square 5.528a 1 .019

Continuity Correctionb 4.017 1 .045

Likelihood Ratio 5.071 1 .024

Fisher's Exact Test .034 .026

Linear-by-Linear Association 5.439 1 .020

N of Valid Casesb 62

a. 1 cells (25.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 3.61.

b. Computed only for a 2x2 table

Symmetric Measures

Value Asymp. Std. Errora Approx. Tb Approx. Sig.a

Nominal by Nominal Contingency Coefficient .286 .019

Interval by Interval Pearson's R -.299 .137 -2.424 .018c

Ordinal by Ordinal Spearman Correlation -.299 .137 -2.424 .018c

N of Valid Cases 62

a. Not assuming the null hypothesis.

50
51

Lampiran 2
Informed consent

SURAT PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN


(Informed Consent)

Setelah mendapatkan penjelasan dengan baik tentang tujuan dan manfaat


penelitian yang berjudul “Hubungan Perilaku Anggota Keluarga Merokok
Didalam Rumah Dengan Kejadian ISPA Pada Balita Di Desa Mojowiryo,
Kecamatan Kemlagi, Kabupaten Mojokerto”, saya mengerti bahwa saya diminta
mengisi kuisioner dan menjawab pertanyaan tentang berbagai hal yang berkaitan
dengan penelitian tersebut.

Saya mengerti bahwa catatan mengenai data penelitian akan dirahasiakan,


dan kerahasiaan ini akan dijamin. Informasi mengenai identitas saya tidak akan
ditulis pada instrumen penelitian dan akan tersimpan secara terpisah ditempat
yang aman.
Saya mengerti bahwa saya berhak menolak untuk berperan sebagai
responden atau mengundurkan diri setiap saat tanpa adanya sanksi atau
kehilangan semua hak saya.
Saya telah diberi kesempatan untuk bertanya mengenai penelitian ini atau
mengenai keterlibatan saya dalam penelitian ini, dan telah dijawab dengan
memuaskan.
Secara sukarela saya sadar dan bersedia berperan dalam penelitian ini
dengan menandatangani Surat Persetujuan Menjadi Responden.
Mojokerto, September 2017
Responden,

(……………………………)
Saksi :
1. ……………………….. (tanda tangan)
……………………….. (nama terang)
2. ……………………….. (tanda tangan)
……………………….. (nama terang)
52

Lampiran 3
Kuisioner
KUISIONER PENELITIANHUBUNGAN
PERILAKU ANGGOTA KELUARGA
MEROKOK DIDALAM RUMAH DENGAN
KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI DESA
MOJOWIRYO, KECAMATAN KEMLAGI,
KABUPATEN MOJOKERTO

IDENTITAS
Nama anak : 5. Apakah anak ibu menderita
Umur anak : batuk, pilek disertai demam
Nama Ibu : lebih dari 14 hari / 2 minggu
Umur : ?
Pekerjaan : A. Ya
Pendidikan terakhir : B. Tidak
6. Apakah ada anggota keluarga
Pertanyaan : / tamu yang merokok didalam
1. Apakah anak ibu sedang rumah ?
menderita batuk ? A. Ya
A. Ya B. Tidak
B. Tidak 7. Berapa banyak anggota
2. Apakah Anak ibu sedang keluarga yang merokok ?
menderita pilek ? A. Satu
A. Ya B. Lebih dari satu
B. Tidak 8. Berapa kali dalam sehari
3. Ketika anak ibu menderita merokok di dalam rumah ?
batuk pilek apakah juga A. 1x /hari
disertai demam ? B. Lebih dari
A. Ya 1x/hari
B. Tidak 9. Bagaimana kebiasaan
4. Apakah anak ibu menderita anggota keluarga ibu dalam
batuk pilek lebih dari 14 hari merokok ?
/ 2 minggu ? A. Dekat dengan
A. Ya balita
B. Tidak B. Jauh dengan
balita
10. Apakah ketika mengetahui
ada anggota keluarga
merokok, keluarga lain
menasehati untuk berhenti
merokok ?
A. Ya
B. Tidak
53

Lampiran 4
Dokumentasi Penelitian
54

Lampiran 5

BERITA ACARA PERBAIKAN

HUBUNGAN ANTARA PERILAKU ANGGOTA KELUARGA MEROKOK DI


DALAM RUMAH DENGAN ANGKA KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI
DESA MOJOWIRYO, KECAMATAN KEMLAGI, KABUPATEN
MOJOKERTO

Pembimbing: dr. Ayu Cahyani N, M.KKK

NO. Penulisan Awal Setelah Perbaikan Tanda Tangan

1. Cara penulisan nama Telah ditambahkan yang


anggota kelompok, benar
pembimbing, dan
penguji pada cover,
lembar pengesahan
dan kata pengantar Prof. H. Didik Sarudji,
MSc
Nik. 09419 - ET
2. Cara penulisan nama Telah ditambahkan yang
anggota kelompok, benar
pembimbing, dan
penguji pada cover,
lembar pengesahan
dan kata pengantar Ayu Cahyani, dr., MKKK
11555-ET
3. Cara penulisan Telah ditambahkan yang
abstrak benar

Ayu Cahyani, dr., MKKK


11555-ET
4. Cara pembuatan Telah ditambahkan yang
kerangka konsep benar

Prof. H. Didik Sarudji,


55

MSc
Nik. 09419 - ET
5. Cara pembuatan Telah ditambahkan yang
criteria inklusi dan benar
eksklusi, definisi
operasinal

Prof. H. Didik Sarudji,


MSc
Nik. 09419 - ET

6. Kesimpulan tidak Telah ditambahkan yang


singkron dengan benar
tujuan umum dan
khusus

Prof. H. Didik Sarudji,


MSc
Nik. 09419 - ET
7. Penambahan lokasi Telah ditambahkan yang
dan tahun pada daftar benar
tabel dan daftar
gambar

Ayu Cahyani, dr., MKKK


11555-ET

8. Cara penulisan daftar Telah ditambahkan yang


pustaka benar

Ayu Cahyani, dr., MKKK


11555-ET

Surabaya, Oktober 2017

Mengetahui, Penguji 1/ Pembimbing


Penguji 2

Ayu Cahyani, dr., MKKK Prof. H. Didik Sarudji, M.Sc


NIK.11555-ET NIK. 09419 - ET