Anda di halaman 1dari 3

BAB II

PEMBAHASAN

A. Definisi Normatif

B. Definisi Teologis

C. Definisi Tinjauan Normatif Teologis


Tinjauan normatif teologis secara sederhana dapat diartikan sebagai
suatu cara memahami sesuatu dengan menggunakan ajaran yang diyakini
berada dari Tuhan sebagaimana terdapat didalam wahyu yang diturunkan-
Nya. Sebagai sebuah ajaran yang berasal dari Tuhan yang memiliki segala
sifat kesempurnaan, maka dapat dipahami bahwa ajaran tersebut sangat
ideal, mutlak benar, absolut, berlaku sepanjang zaman, tidak terbatas.1
Melalui tinjauan normatif teologis ini, seseorang akan dibawa kepada
suatu keadaan melihat masalah berdasarkan perspektif Tuhan dalam batas-
batas yang dapat dipahami manusia. Dengan tinjauan ini seseorang akan
memiliki pegangan yang kokoh dalam melihat suatu masalah.2
Tinjauan normatif teologis ini perlu dilakukan untuk membangun
komitmen dan melihat sesuatu dalam perspektif yang ideal sebagaimana
dikehendaki oleh Tuhan dalam firman-firman-Nya.3

D. Pandangan Al-Qur’an dan Al-Sunnah tentang Ilmu Agama dan Ilmu


Umum

1
Abuddin Nata, dkk, Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum,(Jakarta: UIN Jakarta Press, 2003), h,
67.
2
Abuddin Nata, dkk, Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum,(Jakarta: UIN Jakarta Press, 2003), h,
67.
3
Abuddin Nata, dkk, Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum,(Jakarta: UIN Jakarta Press, 2003), h,
68.
E. Pandangan Al-Qur’an dan Al-Sunnah tentang Ilmu Agama dengan
Ilmu Umum
Menurut Al-Qur’an dan Al-Sunnah sesungguhnya tidak ada istilah
ilmu agama dan ilmu umum. Yang ada adalah ilmu itu sendiri dan
seluruhnya bersumber dari Allah SWT. Namun dilihat dari sifat dan
jenisnya sulit dihindari adanya paradigma ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu
umum.4
Dikalangan masyarakat Barat yang sekuleristik, ilmu dijauhkan
dengan agama dengan mengatakan bahwa ilmu pengetahuan adalah urusan
Universitas, Politik urusan Istana, dan agama urusan gereja, maka dalam
islam sekurang-kurangnya ada tiga pandangan sebagai berikut:
1. Aliran yang berpendirian bahwa Islam bukanlah semata-mata
agama dalam pengertian Barat, yakni hanyamenyangkut
hubungan manusia dengan Tuhan, sebaliknya Islam adalah
Agama yang sempurna dan lengkap dengan pengaturan segala
aspek kehidupan manusia.
2. Aliran yang berpendapat bahwa Islam adalah agama dalam
pengertian Barat, yang tidak ada hubungannya dengan urusan
kenegaraan.
3. Aliran ini berpendirian bahwa dalam Islam tidak terdapat sistem
ketatanegaraan, tetapi terdapat seperangkat tata nilai etika bagi
kehidupan bernegara.5

Didalam Al-Qur’an dan Al-Hadits sendiri tercermin pada ayat-ayat


dan matannya bahwa ilmu agama dan ilmu umum tidak dapat dipisahkan.
Agama menyuruh manusia untuk berfikir, menggunakan akal pikiran dan
segenap potensi lainnya di dalam Al-Qur’an dengan menggunakan istilah
tatafakkarun, tatadabbarun, tatazakkarun, ta’akul, dan seterusnya.

4
Abuddin Nata, dkk, Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum,(Jakarta: UIN Jakarta Press, 2003), h,
81.
5
Abuddin Nata, dkk, Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum,(Jakarta: UIN Jakarta Press, 2003), h,
81-82.
Perinntah-perintah agama yang demikian itu dapat dijumpai prakteknya
dalam ilmu pengetahuan. Dengan kata lain kerja ilmu pengetahuan
merupakan perintah agama.6
Selanjutnya didalam hadits Rasulullah SAW yang artinya, “setiap
orang yang melakukan perbuatan tanpa didukung oleh ilmu pengetahuan,
maka ibadahnya tidak akan diterima oleh Allah SWT”.7 Dengan kata lain
dapat disimpulkan bahwa didalam agama Islam, kegiatan beragama harus
dilaksanakan dengan menggunakan ilmunya.

6
Abuddin Nata, dkk, Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum,(Jakarta: UIN Jakarta Press, 2003), h,
84-85.
7
Abuddin Nata, dkk, Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Umum,(Jakarta: UIN Jakarta Press, 2003), h,
85.