Anda di halaman 1dari 30

MODUL SOSIOLOGI KELAS X Semester 1

A. KONSEP DASAR SOSIOLOGI


1. Definisi Sosiologi
Sosiologi sebagai bagian dari ilmu pengetahuan lahir pada abad XIX yang
dipelopori oleh seorang ahli filsafat Perancis yang bernama AUGUSTE COMTE (
1798 – 1857 ), Dalam salah satu karyanya yang bejudul The Positive Philosophy
yang terbit pada tahun 1838, Comte menyebut kajian tentang kehidupan sosial
manusia dengan kata Sosiologi.
Kata sosiologi berasal dari bahasa latin, yaitu dari kata Socius dan Logos,
Socius berarti teman dan logos berarti berbicara, mengajar, atau ilmu. Sehingga
secara etimologi, sosiologi berarti ilmu tentang teman ( teman mempunyai
makna yang luas tidak sekedar teman dalam kehidupan sehari-hari).
2. Definisi Sosiologi menurut para ahli
a. Auguste Comte
Comte mempunyai pandangan menarik bahwa Sosiologi merupakan Ratu
ilmu-ilmu sosial. Menurut pandangannya berdasarkan hirarkhi ilmu,
Sosiologi menempati kedudukan teratas diatas Astronomi, fisika, kimia dan
biologi.
Menurut Comte Sosiologi adalah studi tentang statika sosial (social statics)
dan dinamik sosial ( social dinamics) . Statika sosial mewakili Stabilitas
dan dinamika sosial mewakili perubahan. Comte menggunakan analogi
biologi untuk menyatakan bahwa hubungan antara statika sosial dengan
dinamika sosial dapat disamakan dengan hubungan antara anatomi dan
fisiologi dan menganggap masyarakat sepeto organisme hidup, atinya
masyarakat dapat dilihat sebagai suatu sistem yang terdiri dari bagian-
bagian yang saling bergantung satu sama lain,
b. Max Weber
Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial.
Masyarakat meupakan poduk dari tindakan individu-individu yang bebuat
dalam kerangka fungsi nilai, motif, dan kalkulasi rasional.
Weber menyatakan ;ima cii pokok yang menjadi sasaran penelitian ilmu
sosial yang betitik tolak dari konsep dasar tentang tindakan sosial yaitu :
1. Tindakan manusia yang menurut si aktor mengandung makna yang
subjektif
2. Tindakan nyata dan yang bersifat membatin membatin sepenuhnya
dan besifat subjektif.
3. Tindakan yang meliputi pengaruh positif dari suatu situasi, tindakan
yang sengaja diulang serta tindakan dalam bentuk persetujuan secara
diam-diam
4. Tindakan itu diarahkan kepada seseoang atau kepada beberapa
individu
5. Tindakan itu memeatikan tindakan orang lain dan terarah kepada
orang lain.
c. Pitiim A Sorokhin
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hal-hal beikut :
1. Hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala
sosial ( gejala ekonomi dengan agama, keluarga dengan
moral, hukum dengan ekonomi, gerak masyarakat dengan politik dsb.
2. Hubungan dan pengaruh timbal balik antara gejala sosial dengan gejala
non sosial ( gejala geografis dengan gejala biologis dsb )
3. Ciri-ciri umum semua jenis gejala – gejala sosial
d. Roucek dan Werren
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antar manusia dalam
kelompok –kelompok.
e. Soerjono Soekanto
Sosiologi adalah ilmu yang memusatkan perhatian pada segi-segi
kemasyaakatan yang bersifat umum dan berusaha untuk pendapatkan pola
umum kehidupan masyaakat.
f. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi
Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses
sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial.
3. Objek Sosiologi
Objek kajian sosiologi adalah Masyarakat yang dilihat dari sudut hubungan antar
manusia dan proses yang timbul dari hubungan manusia di dalam masyarakat.Oleh
karena itu, pada hakekatnya sosiologi mempelajari masyarakat dan perilaku sosial
manusia dengan meneliti kelompok yang dibangunnya. Kelompok yang dimaksud
meliputi keluarga, suku bangsa, komunikasi dan pemerintahan, berbagai organisasi
sosial, organisasi agama, politik,bisnis dsb. Sosiologi mempelajai perilaku dan
interaksi kelompok, menelusuri asal-usul pertumbuhannya, serta menganalisis
pengaruh kegiatan kelompok terhadap para anggotanya.
Pengertian masyarakat dalam kajian sosiologi adalah sejumlah manusia yang
telah sekian lama hidup bersama dan menciptakan berbagai pergaulan hidup
sehingga membentuk kebudayaan.
Menurut Melville J Herkovits masyarakat adalah kelompok individu yang
diorganisasikan dan mengikuti satu cara hidup tetentu.
Bedasarkan definisi tersebut maka disebut masyaakat apabila memenuhi syaat Sbb
:
1. Adana sejumlah manusia yang hidup bersama dalam waktu yang relatif
lama. Dalam proses hidup bersama tersebut manusia menjadi saling
mengerti, merasa, dan memiliki harapan dan dalam hidup bersama tsb
terdapat pula sistem komunikasi serta peraturan yang mengatur hubungan
antar manusia dalam masyarakat tersebut.
2. Manusia yang hidup bersama tesebut merupakan suatu kesatuan
3. Manusia yang hidup bersama tersebut melahirkan suatu sistem hidup
bersama yang menimbulkan kebudayaan dan sikap anggota masyarakat
akan merasa dirinya terkait dengan kelompok tsb
Secara garis besar terdapat Toga pendapat tentang objek sosiologi yaitu :
a. Individu
b. Kelompok Masyarakat
c. Realitas sosial
Menurut Meyer Nimkoff Sosiologi terbagi menjadi 7 (tujuh) objek besar
yaitu :
1. Faktor dalam kehidupan sosial manusia
2. Kebudayaan
3. Sifat hakiki manusia
4. Kelakuan kolektif
5. Persekutuan hidup
6. Lembaga Sosial
7. Perubahan sosial
4. Sifat Hakekat Sosiologi
1. Sosiologi merupakan ilmu sosial bukan ilmu pengetahuan alam
2. Sosiologi meupakan disiplin ilmu kategoris bukan normatif
3. Sosiologi adalah ilmu pengetahuan murni (pure science)
4. Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang abstrak bukan ilmu konkrit
5. Sosiologi adalah ilmu pengetahuan empiis dan rasional
6. Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang umum bukan ilmu pengetahuan
khusus
5. Ciri-ciri Sosiologi
Sebagai ilmu pengetahuan, sosiologi memiliki ciri-ciri Sbb :
a. Empiris, artinya Sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang berdasarkan fakta
/ kenyataan sebenarnya dalam masyarakat.
b. Teoritis, artinya sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang berusaha
menyusun teori berdasarkan hasil-hasil observasi dan disusun secara logis
untuk menjelaskan hubungan sebab akibat.
c. Kumulatif, artinya teoi-teori dalam sosiologi disusun dari teoi yang sudah
ada dengan pengembangan dan perluasan sesuai perkembangan masyarakat.
d. Nonetis, artinya sosiologi tidak mempermasalahkan baik atau buuknya
suatu fakta/fenomena dalam masyarakat, tetapi beusaha menjelaskan fakta
tersebut secara logis dan analitis.
6. Tokoh Perintis Sosiologi
a. Auguste Marie Francois Xavier Comte ( 1798 – 1857 )
Comte lahir tanggal 17 Januari 1798 di kota Montpellier, Prancis. Ia
diakui sebagai Bapak Sosiologi karena merupakan orang pertama kali
memakai istilah sosiologi untuk analisisnya terhadap masyarakat
manusia. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah The Positive
Philosophy. Menurut Comte, perkembangan masyarakat terjadi melalui
toga tahap :
1. Tahap fiktif / Teologi ( agama ), di mana cara berfikir dan
bertindak manusia masih diwarnai oleh apa yang disebut sebagai
fetitisme, animisme, politeisme, dan monoteisme. Semua gejala
sosial dianggap disebabkan secara langsung oleh roh, dewa atau
Yang Mahakuasa.
2. Tahap Metafisika, di mana semua gejala tidak lagi dilihat sebagai
hal yang disebabkan secara langsung oleh roh atau dewa. Dalam
tahap metafisika ini hukum alam, kodrat manusia keharusan
mutlak (nasib) dsb disebut sebagai penyebab. Pada tahap ini orang
sudah menggunakan akal budi untuk mencari penjelasan mengenai
keadaan sosial atau alam, meskipun masih dalam taraf yang sangat
sederhana.
3. Tahap Positivisme, diman gejala alam diterangkan dengan akal
budi berdasarkam hukum-hukumnya yang dapat ditinjau, diuji dan
dibuktikan secara ilmiah empiris. Dari tahap inilah yang
kemudian mengantarkan manusia ke era industri seperti sekarang
ini.Comte dianggap sebagai perintis positivisme, Ciri metode
positivisme adalah obyek yang dikaji beupa fakta, bermanfaat, dan
mengarah pada kepastian serta kecermatan.
Beliau juga memberikan pemikiran bahwa Intelektualitas yang
dibangun manusia harus berdasarkan pada sebuah moralitas,
Kesejahteraan, kebahagiaan, dan kemajuan sosial tergantung pada
perkembangan perasaan altruistik serta pelaksanaan tugas
meningkatkan kemanusiaan sehingga masyarakat yang tertib,
maju dan modern dapat terwujud.
b. Emile Durkheim ( 1858 – 1917 )
Dukheim menyatakan bahwa sosiologi meneliti lembaga-lembaga dalam
masyaakat dan proses-poses sosial. Ia adalah salah seorang peletak dasar
sosiologi modern. Dalam sebuah majalah sosiologi yang pertama “ L’annee
Sociologique “ Ia mengadakan pembagian sosiologi atas tujuh seksi yaitu :
- Sosiologi Umum yang mencakup kepribadian individu dan
kelompok manusia.
- Asosiologi Agama
- Sosiologi hukum dan moral yang mencakup organisasi
politik, sosial, perkawinan dam keluarga.
- Sosiologi tentang kejahatan
- Sosiologi ekonomi yang mencakup ukuran-ukuran penelitian
kelompok kerja.
- Sosiologi tentang demografi yang mencakup masyarakat
perkotaan dan pedesaaan.
- Sosiologi Estetika
Beberapa hasil karyanya yang terkebal adalah :
1. The sosial Division of Labor ( 1893 )
2. The Rules of sosiological Method ( 1895 )
3. The Elementary Forma of Religius Life ( 1912 )
Durkheim menggunakan lima metode untuk mempelajari
sosiologi yaitu :
a. Sosiologi harus bersifat ilmiah, dimana fenomena-fenomena
sosial harus dipelajari secara objektif dan menunjukkan sifat
kausalitasnya.
b. Sosiologi harus memperlihatkan kaakteristik sendiri yang
berbeda dengan ilmu-ilmu lain.
c. Menjelaskan kenormalan patologi
d. Menjelaskan masalah sosial secara “sosial “ pula.
e. Menggunakan metode komparatif secara sistematis. Metode
tersebut telah diterapkan dalam sebuah penelitian tentang
gejala bunuh diri yang melanda masyarakat Eropa saat itu
dengan judul “ Sucide “.
c. Karl Marx ( 1818 – 1883 )
Karl Marx lahir di Trier, Jerman pada tanggal 5 Mei 1818 dan wafat di
London 14 Maret 1883. Beliau terkenal sebagai tokoh Ekonomi Namun
beliau juga merupakan tokoh sosiologi , peran beliau dalam sosiologi
adalah teori kelas dimana ia menyatakan bahwa sejarah masyarakat manusia
adalah sejarah pejuangan kelas , Menuutnya perkembangan pembagian
kerja dalam ekonomi kapitalisme menimbulkan dua kelas yang tidak sama
yaitu :
1. Kaum Borjuis / kapitalis yaitu kelas yang terdii dari orang-orang
yang menguasai modal dan alat-alat produksi.
2. Kaum proleta yaitu kelas yang terdii dari orang-orang yang tidak
mempunyai modal dan alat produksi, sehingga mereka
dieksploitasi demi kepentingan kaum borjuis semata.
d. Herbart Spencer ( 1820 – 1903 )
Dalam bukunya yang berjudul The Pinciples of sociology Herbart Spencer
menguraikan materi sosiologi secara sistematis. Spencer mengatakan bahwa
objek sosiologi yang pokok adalah keluarga, politik, agama, pengendalian
sosial, dan industri Beliau menambahkan assosiasi , masyarakat setempat,
pembagian kerja, stratifikasi sosial,, sosiologi pengetahuan dan ilmu
pengetahuan serta penelitian terhadap kesenian dan keindahan.
Tidak lupa juga dia menekankan bahwa ilmu sosial harus menyoroti
hubungan timbal balik antara unsur-unsur masyarakat misalnya pengaruh
berbagai norma atas kehidupan keluarga, hubungan antar lembaga-lembaga
politik dengan lembaga-lembaga keagamaan Spencer juga menganggap
pentingnya penelitian atas perkembangan masyarakat dan perbandingan
antara masyarakat tersebut.
e. Max Weber ( 1864 – 1920 )
Max Weber lahi di Erfurt, Jeman tgl 21 April 1864 dan wafat di Muich 14
Juni 1920. Menuutnya Sosiologi adalah suatu ilmu yang berusaha
memberikan pengertian tentang aksi-aksi sosial. Beliau seorang Sosiolog
Jerman yang membeikan pengertian mengenai perilaku manusia dan
sekaligus menelaah sebab-sebab terjadinya interaksi sosial. Beliau terkenal
dengan metode “ pengertiannya” ( method of understanding ), ia juga
terkenal dengan teori “ Ideal typus-nya” yaitu suatu konstuksi dalam pikiran
seorang peneliti yang dapat digunakan sebagai suatu alat untuk
menganalisis suatu gejala-gejala dalam masyarakat. Sumbangsih ajaran
beliau adalah Analisis mengenai wewenang, birokrasi, sosiologi agama,
organisasi ekonomi dsb. Karya beliau yang terkenal antara lain :
1. The history of trading Companies Duing the Moddie Ages (
disertasi 1889).
2. Economic and Society ( 1920 )
3. Collected Essay on Sociology og Religion ( 3 Jilid. 1921 )
4. Collected Essay on Sociology and Social Problems ! 1924 )
5. From Max Weber : Essay on Sociology ( diterjemahkan dan diedit
oleh H.H Gerth dan C. Wright Mills, 1946 )
6. The Theory of Social and Economic Organization ( diterjemahkan
oleh Talcott Parsons 1947 )
7. Alex Weber on the Methodology of Social Sciences (
diterjemahkan oleh E.A Shils dan H.A Finch, 1949 )
f. Selo Soemarjan ( 1915 – 2003 )
Selo Soemardjan lahir di Jogjakarta pada tanggal 23 Mei 1915 dan wafat di
Jakarta tanggal 11 ajuni 2003 Beliau mendapat gelar Bapak Sosiologi
Indonesia, Ia mengajar sosiologi di Universitas Indonesia setelah meraih
gelar doktornya di Univesitas Corneli, Amerika Serikat. Ia adalah pendiri
dan sekaligus dekan petama Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan
yang sekarang menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UI. Ia
meneima Bintang Mahaputra Utama dari pemerintah pada tanggal 17
Agustus 1994, Sedangkan pada tanggal 30 Agustus 1994 ia meneima gelar
Ilmuwan Utama Sosiologi. Beberapa hasil karyanya yang terkenal adalah :
1. Social Changes in Jogjakarta ( 1962 )
2. Gerakan 10 Mei 1963 di Sukabumi ( 1963 )
B. SEJARAH PERKEMBANGAN SOSIOLOGI
Kehidupan bermasyarakat telah ads di zaman prasejarah walaupun secara sederhana
dengan membentuk kelompok-kelompok keluarga. Pihak laki-laki mengembara,
berburu, dan meramu untuk mencari makanan, sedangkan perempuan mengasuh
anak-anak di rumah. Pembagian kerja tersebut menunjukkan adanya perilaku
masing-masing anggota kelompok untuk menjaga kelangsungan hidupnya.
Beberapa ilmuwan berusaha menemukan suatu sistem pengetahuan yang mampu
menjelaskan adanya hubungan antarmanusia dan perilaku sosial budaya melalui
kehidupan bermasyarakat.
Sftuasi dan kondisi kehidupan masyarakat yang penuh dengan konflik dan tidak adanya
suatu dukungan apa pun tentang sebuah konsep masyarakat. Ketika masyarakat
menghadapi ancaman terhadap hal-hal yang selama ini dianggap sebagai krisis sosial,
maka mulailah orang-orang berpikir tentang sosiologis.
Di Etiopia pertama kali terjadi pemikiran terhadap konsep masyarakat yang lambat
lawn melahirkan ilmu yang dinamakan sosiologi tersebut. Hal tersebut
didorong oleh beberapa faktor antara lain karena semakin meningkatnya
perhatian terhadap masyarakat dan adanya perubahan perubahan yang terjadi
dalam masyarakat, khususnya masyarakat Eropa.

Terclapat beberapa peristiwa atau perubahan besar pada masa tersebut yang akhknya
Ti cu lahirnya masyarakat baru. Sosiologi lahir pada abad ke -19 yaitu pada
saat transisi menuju nwisyamier u tersebut. Beberapa peristiwa besar yang
mengisi lahirnya sosiologi antara lain sebagai berilluA
a. Revolusi Prancis (Revolusi Politik)
Pada masa Revolusi Prancis terjadi perubahan masyarakat yang sangat luar
biasa baik di bidang ekonomi, politik, clan sosial budaya. Semangat
liberalisme muncul di segala bidang antara lain penerapan dalam hukum can
undang-undang. Lambat lawn pembagian masyarakat terhapus
_,\\
dan semua diberikan hak yang sama dalam hukum.
b. Revolusi Industri (Revolusi Ekonomi)
Revolusi Inclustri terjadi pada abad ke-18. Terdapat manifestasi
dari hiruk pikuknya perekonomian antara lain berkembangnya kapitalisme
perdagangan, mekanisme proses dalam pabrik, terciptanya unit-unit produksi
yang lu gs, terbentuknya kelas buruh, dan terjadinya urbanisasi.
Struktur masyarakat mengalami perubahan dengan munculnya kelas
majikan can kelas buruh. Perekonomian dikuasai oleh kelas majikan
sehingga kelas buruh melemah. Kemudian kelas buruh bersatu membentuk
perserikatan.
Auguste Comte berpandangan bahwa perubahan-perubahan tersebut
menimbulkan dampak negatif yaitu terjadinya konflik antar kelas dalam
masyarakat. Terjadinya konflik karena ketidaktahuan masyarakat dalam
mengatasi perubahan akibat revolusi can hukum-hukum yang dapat dipakai
untuk mengatur tatanan sosial masyarakat.
Comte menganjurkan supaya penelitian-penelitian tentang masyarakat
ditingkatkan sebagai sebuah ilmu yang berdiri sendiri. Comte pun
membayangkan suatu penemuan hukum-hukum yang dapat mengatur
gejala-gejala sosial. Namun, Comte belum dapat mengembangkan hukum -
hukum sosial sebagai suatu ilmu tersendiri clan hanya memberi istilah "sosiologi"
untuk ilmu tersebut.
Pada tahun 1839, istilah sosiologi muncul pertama kali pada
keterangan sebuah paragraf dalam pelajaran ke-47 Cours de la philosophie
(kuliah filsafat) karya Auguste Comte. Sebelumnya Comte menyebut ilmu
pengetahuan tersebut dengan sebutan fisika sosial. Namun, Adolphe
Quetelet telah menggunakan istilah tersebut dalam studi barunya tentang
statistik kependuclukan. Kemudian, Comte memberi istilah baru yaitu
sosiologi yang berasal dari bahasa Yunani yaitu socius can logos. Dengan
clemikian diharapkan bahwa tujuan sosiologi adalah untuk menemukan hukum-
hukum masyarakat can menerapkan pengetahuan itu demi kepentingan
pemerintahan kota yang baik.
2. Perkembangan Sosiologi di Negara-Negara Barat
Jika kita menengok sejarah masyarakat Eropa di abad pertengahan,
maka pada abad itulah terjadi berbagai perubahan besar dalam sistem dan
struktur masyarakat sebagai akibat dari revolusi inclustri. Akan tetapi,
sebenarnya perubahan-perubahan sosial skala besar itu ticlak hanya terjadi di
abad pertengahan, tetapi juga terjadi jauh sebelumnya. Misalnya ketika di
abad ke-4 SM ketika Alexander menaklukkan negara-negara Yunani, yang
akhirnya mengubah sistem negara kota menjadi negara kekaisaran. Tokoh-
tokoh pemikir yang dapat kita catat pada masa ini misalnya Plato,
Aristoteles, Herodotus, Tucydides, Polybios, can Cicero. Tokoh-tokoh di
abad Helenistik inilah yang kemudian mengedepankan "alam pikiran Yunani".
Pembagian tahap-tahap perkembangan sosiologi dibagi menjadi tiga
tahap sebagai berikut. a. Masa Sebelum Auguste Comte
Sebelum Auguste Comte memberi Hama sosiologi pada ilmu
kemasyarakatan ada banyak tokoh yang sudah memperbincangkannya.
Tokoh-tokoh pemikir (filsuf) tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.
1) Socrates
Socrates lahir tahun 470 SM can meninggal tahun 399 SM. la
anak dari seorang pematung yang kemudian keahlian itu juga
diwarisinya. Ajaran Socrates yang penting yaitu mengenai clitekankannya
logika sebagai dasar bagi semua ilmu pengetahuan termasukfilsafat.
Bagi Socrates, kecerdasan merupakan dasar dari semua tabiat
yang baik. Dengan kecerdasan clan pengetahuan menjaclikan orang
bijaksana. Kebajikan adalah sesuatu yang dapat dicapai dengan
kecerdasan manusia. Socrates menganjurkan agar kita "membangun
masyarakat" tersebut berlandaskan/didasarkan ilmu pengetahuan ilmiah.
2. Plato adalah murid Socrates, yang lahir tahun 429 SM clan meninggal tahun
347 SM. la berasal dari keluarga bangsawan. Setelah Socrates meninggal, Plato
mengembara ke berbagai negeri seperti Mesir, Asia Minor, Sicilia, dan Italia. Pada
tahun 387 SM is kembali ke Athena clan mendirikan sekolah yang cliberi nama
Academia. Karena banyak menarik pemuda-pemuda Yunani, Academia itu dapat disebut
sebagai universitas pertama di Eropa. Karya Plato yang terkenal berjudul The Republic
(Negara) dan The Law (Hukum). Dalam tulisannya The Republic, Plato menyuguhkan
kepada kita karya yang pertama clan terbesar yang bersifat sosiologis.
Ajaran Plato tentang masyarakat menerangkan bahwa pada dasarnya
masyarakat itu merupakan bentuk perluasan dari individu. Dengan kata lain, individu
itu paralel dengan masyarakat (Pemikiran demikian clikenal sebagai pemikiran dari
mazhab atau aliran "organis" atau "biologic'. Plato bertindak sebagai pelopornya).
Karena individu menurut Plato memiliki tiga sifat, maka masyarakat pun memiliki
tiga sifat. Tiga sifat atau elemen itu adalah nafsu atau perasaan-perasaan, semangat
atau kehendak, clan kecerdasan atau akal.
Berdasarkan ketiga elemen tersebut, Plato membeclakan adanya tiga lapisan
atau kelas sosial masyarakat yaitu sebagai berikut.
a) Bagi yang mengabdikan hidupnya untuk memenuhi nafsu clan perasaannya seperti
halnya memelihara tubuh manusia, maka dengan demikian juga akan
memelihara nafsu dan perasaan masyarakat. Mereka itulah "kelas pekerja Langan"
seperti buruh dan budak.
b) Karena semangat atau kehendak berfungsi melindungi tubuh manusia, yang
berarti harus pula melindungi masyarakat. maka yang bisa melaksanakan hal itu
adalah militer.
c) Karena mereka mengembangkan akal d;;n kecerdasan untuk membimbing
tubuh manusia, maka mereka juga bertugas mengembangkan akal guna
memerintah dan memimpin masyarakat. Mereka ini masuk dalam kelas penguasa.
Lebih jauh Plato juga menunjukkan bahwa kehidupan yang baik tergantung
pada dapat tidaknya pikiran clan kehendak manusia itu berkembang. Sedangkan
pikiran dan kehendak manusia hanya dapat berkembang jika dalam masyarakat itu
terdapat "keadilan". Akan tetapi, bagaimana keadilan dapat tercapai? Menurut
Plato,keadila u at terca ai melalui tata tertib sosial. Jacli, kehidupan yang baik
adalah tujuan dari keadilan dan keadilan adalah tujuan dari organisasi sosial (yang bisa
menciptakan tertib sosial).
Aristoteles
Aristoteles lahir tahun 384 SM di Macedonia dan meninggal tahun 322
SM. lbunya merupakan ahli kesehatan Raja Amyntas II (kakek Alexander
Agung). Aristoteles adalah murid Plato. Pada akhirnya, Aristoteles menjadi guru
Alexander Agung, raja Macedonia itu. Berkat bantuan Alexander Agung itu pula,
Aristoteles mendirikan perpustakaan clan museum yang pertama kali di Yunani.
Karyanya yang terkenal adalah The Politics dan The Nicomachean Ethics.
Dalam menganalisis keadaan masyarakat, Aristoteles menggunakan "metode
incluktif", yaitu menarik kesimpulan umum dari fakta-fakta yang bersifat khusus.
Ajaran Aristoteles tentang masyarakat terdapat dalam bukunya The Politics.
Dikatakannya bahwa kelompok manusia yang dasar clan esensial adalah
pengelompokan (asosiasi) antara prig dan wanita untuk memperoleh keturunan, clan
asosiasi antara penguasa dengan yang dikuasai.
Kedua bentuk asosiasi ini bersifat alamiah, tidak disengaja. Keduanya akan
terlihat dalam hubungan antara swami istri, orang tua -anak, serta antara tuan
clan budak atau pembantu di dalam keluarga.
Kenapa manusia secara ilmiah membentuk kelompok (asosiasi)? Menurut
Aristoteles ~al terseb is,abkan karena manusia pada dasarnya adalah
makhluk sosial. Karena makhluk sosial, maka manusia sekaligus adalah
makhluk yang bermasyarakat. Berdasarkan pengertian ini, Aristoteles
menyatakan bahwa manusia berasosiasi membentuk keluarga, kemudian
keluarga berasosiasi membentuk dusun/kampung, clan dusun berasosiasi
membentuk negara. Negara tumbuh secara alamiah seperti halnya keluarga clan dusun.
Masyarakat negara yang baik menurutnya dikelola oleh pemerintah yang
ada pembagian fungsi legislatif, eksekutif, clan yudikatif. Dengan demikian,
dimaksudkan agar terdapat pengawasan satu dengan yang lain. Orang atau kelompok
macam apa yang dinilai
Aristoteles pantas memegang pemerintahan negara?

Aristoteles memberi tiga macam bentuk pemerintahan dilihat dari


segi ju r - ah pemegang kekuasaan itu.
a) Pemerintahan oleh seseorang. Jika seorang penguasa itu baik, maka ia
disebut monarld,
b) dan jika ia memerintah dengan buruk, maka disebut tirani.
c) Pemerintahan oleh orang banyak, untuk yang baik atau yang buruk akan disebut
demokrasi.
Masih ada banyak tokoh lain yang mengemukakan tentang ilmu
kemasyarakatan sebelum Comte yang tidak dapat diuraikan di sini satu per
satu di antaranya adalah Ibnu Khaldun, seorang ahli filsafat dari Arab,
Thomas More dan N. Machiavelli yang turut mewarnai ilmu
kemasyarakatan pada zaman Renaissance, Hobbes, John Locke, dan J.J.
Rousseau yang ajarannya bersifat rasionalistis, dan lain-lain.
b. Masa Auguste Comte
Pemikiran sosiologi atau pemikiran mengenai manusia dan masyarakat
sudah dirintis oleh generasi Socrates, Plato, dan Aristoteles di sekitar abad ke-4 SM.
Pada saat itu Yunani mengalami perubahan-perubahan sosial yang menyangkut
struktur maupun sistem kehidupan yang ada.
Pergolakan sosial yang kemudian muncul di abad pertengahan, lama setelah
Eropa tenggelam dalam abad kegelapan. Kalau di Yunani ditandai dengan
munculnya filsuf-filsuf seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles, maka pergolakan
di Eropa ditandai dengan munculnya cerdik-cendekia seperti J.J. Rousseau,
Montesquieu, dan John Locke termasuk kemudian Auguste Comte.
Walaupun demikian Comte telah berhasil memberi istilah untuk ilmu
yang hendak lahir tersebut dengan Hama sosiologi. Sosiologi berkembang
menjadi sebuah ilmu yang berdiri sendiri setelah Emile Durkheim
mengembangkan suatu metodologi sosiologi yang ia kemukakan melalui
bukunya yang berjudul The Rules of Sociological Method.
Meskipun demikian, Auguste Comte tetap disebut sebagai Bapak
Sosiologi untuk menghormati jasanya terhadap lahirnya sosiologi. Walaupun
Comte yang memunculkan istilah sosiologi, namun istilah tersebut
dipopulerkan oleh Herbert Spencer dalam bukunya yang berjudul
Principles of Sociology. Di dalam buku tersebut, Spencer mengembangkan
sistem penelitian mengenai masyarakat di mana ia menerapkan teori evolusi
organik pada masyarakat manusia serta mengembangkan teori besar mengenai
evolusi sosial yang diterima oleh masyarakat secara lugs.
Menurut Comte, suatu organ akan lebih sempurna apabila organ
tersebut bertambah kompleks dengan adanya proses pembedaan
(diferensiasi) di setiap bagiannya. Senada dengan hal tersebut, Spencer
memandang masyarakat sebagai suatu sistem yang terdiri dari bagian bagian
yang sating bergantung seperti halnya pada organisms hidup. Pada dasarnya,
evolusi dan perkembangan sosial akan mempunyai makna apabila ada
peningkatan diferensiasi dan integrasi, peningkatan pembagian kerja, serta
suatu transisi dari homogen ke heterogen dari kondisi yang sederhana ke
kondisi yang kompleks.
Sejak Auguste Comte, metode positif (yaitu menggunakan pendekatan ilmu
alam) dipakai sebagai panutan para ahli sosiologi kemudian. Dalam pengertian
tradisional, metode positif yang digunakan oleh Comte selalu disebut sebagai
"pendekatan ilmu alam". Bahkan menurut Comte, sosiologi memang merupakan
ilmu'lisika sosial". Latar belakang Comte menggunakan pendekatan ilmu alam dan
menyebut sosiologi sebagai fisika sosial adalah dalam rangka menciptakan
sosiologi sebagai ilmu yang mandiri dan lepas dari campur baur filsafat (sosial) dan
psikologi (sosial) pada zamannya.
c. Masa Setelah Auguste Comte
Perkembangan sosiologi dari abad XIX ke abad XX sangat pesat. Pada
kurun waktu ini, perkembangan ditandai oleh munculnya berbagai aliran
berpikir (school of thought) yang sangat bervariasi. Aliran-aliran itu di antaranya
sebagai berikut.
1) Ekologisme, tokohnya Amos H. Hawley, O. Dudley Duncan, dan Leo F. Schnore.
2) Demografisme, tokohnya N.B. Ryder.
3) Psikologisme dan materialisme, tokohnya George C. Homans.
4) Teknologisme, tokohnya William Fielding Ogburn.
5) Strukturalisme fungsional, tokohnya Robert K. Merton, Talcott Parsons.
6) Strukturalisme pertukaran, tokohnya Peter M. Blau,
7) Strukturalisme konflik, tokohnya Ralf Dahrendorf, Pierre L. Van den Berghe, Lewis
Coser.
8) Interaksionisme simbolik, tokohnya George Hebert Mead.
9) Atomisme sosial, tokohnya John Finley Scott,
d)

C. SOSIOLOGI SEBAGAI ILMU PENGETAHUAN


1. Hakikat Ilmu Pengetahuan
Seorang manusia yang terlahir di dunia ini dilengkapi dengan akal budi,
sehingga melalui akal budinya manusia dapat berpikir dan_)Disa mendapatkan
ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan terdiri dari dua komponen yaitu ilmu dan
pengetahuan. Umu adalah kumpulan pengetahuan yang disusun secara
sistematis dan diperoleh dari aktivitas berpikir manusia melalui metode
tertentu yang kebenarannya dapat diuji secara kritis oleh orang lain. Sedangkan
pengetahuan adalah kesan dalam pikiran manusia sebagai hasil penggunaan
pancaindranya. Jacli,jLrn~ungetahuan adalah pengetahuan_ yang tersusun
secara sistematis dengan menggunakan kekuatan pikiran/pemikiran yang selalu
dapat diperiksa, ditelaah, ataupun clikontrol secara kritis oleh siapa pun yang ingin
mengetahuinya.
Berdasarkan pada definisi di atas, maka ilmu pengetahuan mencakup
beberapa unsur (elements) sebagai berikut.
a. Pengetahuan adalah kesan dalam pikiran manusia sebagai hasil
penggunaan pancaindra yang berbeda dengan kepercayaan dan informasi
yang keliru. Pengetahuan berbeda dengan buah pikiran, karena tidak semua
buah pikiran merupakan pengetahuan.
b. Tersusun secara sistematis, tidak semua pengetahuan merupakan
ilmu, karena hanya pengetahuan yang tersusun secara sistematis saja
yang dapat dikatakan sebagai ilmu pengetahuan sehingga jelas
tergambar garis besarnya. Sistematika berarti urut -urutan tertentu dari
unsur-unsur yang merupakan suatu keutuhan.
c. Menggunakan pemikiran, pengetahuan diperoleh dengan
melihat/memandang sendiri fakta/ kenyataan (misalnya radio, televisi,
film, surat kabar, dan lain-lain). Diterima dengan pancaindra, selanjutnya
diolah oleh otak, itulah yang dinamakan pemikiran.
d. Objektif, ilmu pengetahuan harus bisa diketahui/dikontrol oleh masyarakat
umum yang mungkin berbeda dengan yang kita kemukakan. Seorang
ilmuwan harus mampu menjelaskan dengan jujur tentang
pengetahuannya dan rahasia-rahasia yang berkaitan dengan pengetahuan
tersebut tidak boleh disembunyikan, kecuali demi kepentingan negara atau
pemerintah.

Pada clasarnya ilmu pengetanuan muncul karena adanya hasrat ingin


tahu dalam diri manusia clan hasrat ingin tahu tersebut timbul karena terdapat
berbagai macam aspek kehidupan yang masili gelap (belum diketahui) bagi
manusia.
Manusia menclapatkan ilmu pengetahuan melalui berbagai cara yaitu sebagai
berikut.
a. Penemuan secara kebetulan yaitu penemuan pengetahuan yang
sitatnya tanpa direncanakan dan diperhitungkan terlebih dahulu.
Meskipun penemuan jenis ini terkadang bermanfaat, namur, tidak bisa
dipakai dalam suatu cara kerja yang ilmiah karena keadaannya yang
tidak pasti ataupun kurang mendekati Kepastian sehingga
munculnya suatu penemuan tidak dapat diperhitungkan secara
berencana clan tidak selalu memberikan gambaran yang sesungguhnya
b. Penemuan secara coba-coba (trial and error) yaitu suatu penemuan melalui
percobaan clan kesalahan kesalahan. Pada prinsipnya penemuan
semacam ini hampir sama dengan penemuan secara kebetulan, hanya
saja pads penemuan secara cobs-cobs manusia bersikap lebih aktif
untuk mengadakan percobaan-percobaan meskipun tidak ada
pengetahuan yang pasti tentang hasilnya. Suatu kesalahan clan kegagalan
dalam percobaan akan diperbaiki pads percobaan beriKutnya.
c. Kewibawaan yaitu suatu pengetanuan yang didasarkan pads penghormatan
terhadap pendapat." penemuan yang clihasilkan oleh seseorang/lembaga
tertentu yang dianggap mempunyai kewibawaan/wewenang, sehingga
Serino kali pendapat/penemuan tersebut tidak diuji terlebih dahulu
kebenarannya padahal kemungkinan terjadinya kesalahan tetaplah ada
meskipun hal tersebut dinyatakan oleh seseorang yang berwibawa.
d. Penemuan melalui usaha-usaha yang bersifat spekulatif yaitu suatu
pengetahuan yang diperoleh dengan jalan memilih salan sate dari banyak
keff iungkinan mengenai suatu hal meskipun pilihan tersebut tidak
didasarkan pads keyakinan apakan pilihan tersebut merupakan cara yang
paling tepat/jawaban yang seuenarriya.
e. Pengalaman yaitu suatu pengetahuan yang didasarkan pads pemikiran yang
kritis. Meskipun demikian, pengalaman belum tentu teratur dan bertujuan
sehingga kebenarannya belum bisa dipastikan.
t Penelitian ilmiah yaitu suatu metode yang bertujuan untuk mempelajari
sesuatu atau beberapa gejala melalui serangkaian proses clan analisis
serta pemenksaan yang mendalam terhadap fakta atau masalah yang
diamati untuk kernudiai, n-iengusahakan pemecahannya. Penelitian
ilmiah merupakan sarana menyalurkan hasrat ingin tahu manusia yang telah
mencapai taraf keilmuan.
2. Ciri Sosiologi sebagai Ilmu Pengetahuan
Ciri-ciri sosiologi sebagai ilmu pengetahuan adalar, sebagai berikut.
a. Sosiologi bersifat empiris yaitu didasarkan pads observasi clan akal
sehat serta hasilnya tidak bersifat spekulatif.
b. Sosiologi bersifat teoretis yaitu selalu berusaha menyusun abstraksi
dari basil-basil observasi Sosiologi bersifat kumulatif yaitu teori-teori
sosiologi dibentuk berclasarkan teori yang sudah ada kemudian diperbaiki,
diperluas. dan diperhaius.
d. Sosiologi bersifat nonetis yaitu t i dak mempersoalkan baik/buruk suatu
fakta tertentu, tetapi untuk menjelaskan fakta tersebut
Untuk mencegah terjebak dalam perangkap teoretis, kita akan mencoba
mendiskusikan dimensidimensi ilmu sosial. Berikut empat jenis dimensi yang
dikenal dalam pendekatan teori sosial.
a. Dimensi kognitif, dalam dimensi ini ilrnuwan sosial akan selalu
berbicara mengenai teori sosial sebagai cara untuk membangun
pengetahuan tentan g dunia sos ial. Di sini terletak epistem.ologi yang
membangun berbagai meiodologi penelitian sosial.
b. Dimensi afektif, merupakan sebuari kondisi di*mana teori yang
dibangun memuat pengalaman clan perasaan dari teoretisi yang
bersangkutan. Dimensi ini memengaruhi keinginan untui mengetahui
(to know) clan menjadi benar (to be right). Kedua hal ini neriftik berat kepada
kejadian tertentu clan realitas eksternal.
c. Dimensi reflektif, di sini teuri sosial harus menjadi bagian dari dunia
sebagaimana teori tersebut menjadi cara untuk memahami dunia Dengan
kata lain. teori sosial harus mencerminkan apa yang terjadi di luar sans
clan apa yang terjadi pads kita sebagai salah satu elemen dari sistem
sosial yang ada.
d. Dimensi normatif yang memperluas dimensi reflektif, dalam
dimensi ini teori sosial sepantasnya memuat secara implisit ataupun
eksplisit tentang bagaimana seharusnya dunia yang direfleksikannya itu.
Keempat dimensi itu membangun seluruh pendekatan proses konstruksi teori-
teori sosial yang ada. Sosiologi memiliki keempat dimensi tersebut, sehingga
sosiologi menjadi satu bagian dari ilmu sosial

. Metode Sosiologi
Metode adalah cara kerja atau jaian yang ditempuh alam pikiran untuk
mencapai tujuannya- Bag sosiologi, metode sangatlah penting. Metode
yang digunakan dalam sosiologi adalah metode ilmiah. Berikut ini akan
diuraikan beberapa penggglongan metode sosiologi.
a. Metode Kualitatif dan Kuantitatif
1) Metode Kualitatif
Menggunakan bahan-bahan yang sukar diukur dengan angka-
angka atau ukuran lain yang eksak. Disebut juga metode
berdasarkan verstehen (Jerman) yaitu pemahaman/pengertian.
Metode kualitatif dalam sosiologi meliputi sebagai berikut.

a. M etode historis, menggunakan analisis atau peristiwa-


peristiwa masa silam untuk menentukan prinsip-
prinsip umum. Contoh: menyelidiki akibat-akibat
revolusi secara
umum dengan menggunakan bahan-bahan sejarah
yaitu dengan meneliti revolusi-revolusi yang terjadi
pada masa siiam.
b) Metode komparatif, mementingkan perbandingan
antara macam-macam masyarakat dari berbagai
aspek untuk memperoleh persamaan dan perbedaan
dalam rangka memberi petunjuk peri kelakuan
masyarakat pada masa silam dan masa
sekarang serta masyarakat yang mempunyai tingkat
peradaban yang berbeda atau yang sama.
c) Metode historis komparatif, kombinasi dari kedua
metode sebelumnya.
d) Metode studi kasus, mempelajari salah satu gejala
nyata dalam kehidupan masyarakat dengan sedalam-
dalamnya guna mendapatkan dalil-dalil umum.
2) Metode Kuantitatif
Menggunakan bahan-bahan keterangan dengan angka-
angka sehingga gejala yang diteliti dapat diukur
dengan skaia-skaia. indeks-indeks, label-label, dan
formula-formula yang semuanya sedikit banyak
menggunakan ilmu pasti. Metode kuantitatif meliputi
sebagai berikut
or a) Metode statistilk, menguku,- gejala-gejala sosial
secara matematis untuk mengetahui
ALkorelasi/hubungannya.
b) Metode eksperi men, Imetode dengan menggunakan
percobaa n-pe rcobaan.

b. Metode P enj eni san


3w Metode penjenisan ini meliputi sebagai berikut.
1) Metode induktif, mempelajari suatu gejala
yang khusus untuk mendapatkan kaidah-kaidah
dalam wilayah yang lebih lu g s. Dengan kata
lain, metode ini digunakan untuk memperoleh
prinsip-prinsip umum dari observasi/pengamatan
tentang tingkah laku yang sedang dipelajari.
2) Metode deduktif , menggunakan kaidah-kaidah yang
dianggap berlaku umum, untuk selanjutnya
dipelajari dalam keadaan khusus. Dengan kata lain,
metode ini merupakan pengetrapan prinsip-prinsip
umum pada peristiwa khusus.
c. Metode Empiris -Rasionalistis
1) Metode empiric. metode ini menyandarkan diri pada
keadaan-keadaan nyata (realita) dalam masyarakat dan
diwujudkan dalam suatu penelitian.
2) Metode rasionalistis, mengutamakan pemikiran
dengan logika untuk mencapai pengertian mengenai
masalah kemasyarakatan.

e. Metode Fungsional

Bertujuan meneliti kegunaan-kegunaan lembaga kemasyarakatan


dan struktur sosial dalam masyarakat.dan memiliki hubungan
timbal balik yang saling mempengaruhi.

D. MAZHAB-MAZHAB DALAM SOSIOLOGI


Pada perkembangan sosiologi setelah Auguste Comte muncul berbagai teori dalam
ilmu sosiologi yang dipengaruhi oleh ilmu-ilmu lain. Pengelompokan sosiologi ke
dalam mazhab-mazhab tertentu didasarkan pada faktor ilmu pengetahuan lain yang
sedikit banyak memengaruhi perkembangan sosiologi. Adapun mazhab-mazhab tersebut
meliputi sebagai berikut.
1. Mazhab Geografi dan Lingkungan
Tokoh yang ajarannya banyak digunakan dalam mazhab ini adalah
Edward Buckle dan Le Play. Dalam karyanya yang berjudul History of Civilization
in England, Buckle mencoba melanjutkan ajaran-ajaran sebelumnya tentang
pengaruh keadaan alam terhadap masyarakat. Dalam analisisnya is menemukan
beborapa keteraturan hubungan antara keadaan alam dengan tingkah laku
manusia, contohnya fenomena bunuh diri akibat rendahnya penghasilan, sedangkan
tinggi rendahnya penghasilan sedikit banyak dipengaruhi oleh kondisi alam,
terlebih iklim daerah. Sehingga taraf kemakmuran suatu masyarakat sangat
bergantung pada kondisi alam di mana masyarakat tersebut tinggal.
Intl dari mazhab ini adalah bahwa keadaan alam memiliki hubungan dengan
faktor-faktor struktur dan organisasi sosial. Ajaran dan tend dalam mazhab geografi dan
lingkungan mengungkapkan adanya hubungan (korelasi) antara tempat tinggal dengan
berbagai karaktedstik kehidupan sosial suatu masyarakat tertentu.
2. Mazhab Organis dan Evolusioner
Pada perkembangannya, sosiologi banyak dipengaruhi oleh ajaran-ajaran dan
teori-teori di bidang biologi. Tokoh yang mengembangkan mazhab ini di antaranya
adalah Herbert Spencer, Emile Durkheim, dan Ferdinand Tunnies. Herbert
Spencer merupakan orang pertama yang menulis tentang masyarakat atas dasar data
empiris yang konkret. Menurut Spencer, suatu organisms akan bertambah sempurna
jika bertambah kompleks dan disertai adanya diferensiasi antara bagian-bagiannya.
Dalam buku yang berjudul Principles of Sociology, Spencer mengatakan bahwa pada
masyarakat industri yang telah terdiferensiasi dengan mantap akan menciptakan
stabilitas menuju keadaan hidup yang damai.

Ajaran Durkheim yang dapat dikategorikan dalam mazhab


ini tertuang dalam karyanya yang berjudul The Social Division of
Labor. Durkheim mengatakan bahwa unsur baku dalam masyarakat
adalah faktor solidaritas. la menyebutkan adanya dua solidaritas yaitu
solidaritas mekanis dan solidaritas organis. Pada masyarakat dengan
solidaritas mekanis, warga masyarakat belum memiliki sistem
pembagian dan diferensiasi, masyarakatnya juga memiliki
kepentingan dan kesadaran yang sama. Sedangkan pada
masyarakat dengan solidaritas organis yang merupakan
perkembangan dari masyarakat dengan solidaritas mekanis telah
memiliki sistem pembagian kerja yang ditandai dengan adanya
derajat spesialisasi tertentu, dan apabila solidaritas tersebut
mengalami kemunduran maka ada kemungkinan terjadinya anomie,
yaitu keadaan di mana para warga masyarakat tidak lagi memiliki
pedoman untuk mengukur kegiatan-kegiatannya dikarenakan tidak
adanya nilai dan norma dalam masyarakat.
Ferdinand Tonnies berpendapat bahwa dasar hubungan
tentang bagaimana warga suatu masyarakat melaksanakan
interaksi dengan sesamanya akan menentukan bentuk kehidupan
sosial dari masyarakat yang bersangkutan. Hubungan suatu
masyarakat yang mendasarkan pada faktor perasaan, simpati
pribadi, dan kepentingan bersama disebut paguyuban
(gemeinschaft), sedangkan hubungan masyarakat yang didasari
atas kepentingan-kepentingan rasional dan ikatan yang sifatnya
tidak permanen disebut patembayan (gesellschaft). Tonnies
menggunakan kedua bentuk kehidupan sosial tersebut sebagai dasar
untuk menganalisis setiap aspek atau bagian dari masyarakat.
3. Mazhab Formal
Tokoh-tokoh yang mengembangkan mazhab ini pada umumnya
berasal dari Jerman dan banyak dipengaruhi oleh ajaran-ajaran serta
filsafat Immanuel Kant. Tokoh-tokoh tersebut di antaranya adalah
George Simmel, Leopold Von Wiese, dan Alfred Vierkandt.
George Simmel mengemukakan bahwa elemen-elemen
masyarakat akan mencapai kesatuan rnelalui bentuk-bentuk yang
mengatur hubungan antara elemen-elemen itu sendiri. Selain itu, ia
juga mengemukakan bahwa berbagai lembaga yang ada pada
masyarakat terwujud dalam bentuk superioritas, subordinasi, dan
konflik.
Seluruh hubungan sosial, keluarga, agama, peperangan,
perdagangan, dan kelas-kelas bisa diberi karakteristik menurut
salah satu bentuk di atas maupun ketiga-tiganya. Menurutnya,
seseorang menjadi warga masyarakat untuk menjalani proses
sosialisasi dan individualisasi sehingga orang tidak akan
mengalami proses interaksi dengan orang/kelompok lain tanpa
menjadi warga masyarakat. Dengan kata lain, setiap individu
memiliki peranan yang harus dijalankannya. Oleh karena itu,
interaksi individu dengan kelompok hanya dapat dipahami dan
dimengerti dalam kerangka peranan yang dilakukan oleh individu
tersebut.
Tokoh lain Leopold Von Wiese berpendapat, bahwa
sosiologi harus memusatkan perhatian pada hubungan
antarmanusia tanpa mengaitkannya dengan tujuan maupun kaidah,
serta mulai dengan pengamatan terhadap perilaku konkret tertentu.
Ajaran Wiese bersifat empiris dan ia mencoba untuk melakukan
kuantifikasi terhadap proses -proses sosial yang terjadi.
Menurutnya, proses sosial merupakan hasil perkalian atas sikap
dan keadaan yang masing-masing dapat diurai ke dalam unsur-
unsurnya secara sistematis.
Sedangkan Alfred Vierkandt mengemukakan bahwa
sosiologi menyoroti situasi-situasi mental. Situasi tersebut tidak
dapat dianalisis secara tersendiri, melainkan hasil perilaku yang
timbul akibat adanya interaksi antarindividu dan kelompok dalam
masyarakat. sehingga sosiologi bertugas untuk menganalisis dan
mengadakan sistematika terhadap gejala sosial dengan cara
menguraikannya ke dalam bentuk-bentuk kehidupan mental, dan
hal tersebut dapat ditemukan dalam gejala-gejala berupa harga diri,
perjuangan. simpati, imitasi, dan lain-lain.
4. Mazhab Psikologi
Salah satu tokoh yang mendasarkan teori pada psikologi
adalah Gabriel Tarde dari Prancis. Berawal dari pandangannya
yang menyebutkan bahwa gejala sosial memiliki sifat psikol ogis
yang terdiri dari interaksi antarjiwa individu, di mana jiwa tersebut
tersusun atas kepercayaan-kepercayaan dan keinginan-keinginan.
Menurut Gabriel, bentuk utama dari interaksi mental individu-
individu adalah imitasi, oposisi, adaptasi, dan penemuan baru.
Dalam prosesnya, imitasi berhadapan dengan oposisi yang
menuju pada bentuk adaptasi baru, sehingga terjadilah perubahan
sosial yang disebabkan adanya penemuanpenemuan baru dan
kemudian terjadi imitasi, oposisi, penemuan -penemuan baru,
perubahanperubahan, dan seterusnya.

Selain Gabriel Tarde, tokoh yang menggunakan teori psikologi dalam


analisis sosiologinya adalah Albion Small. Horton Cooley, dan L.T.
Habhouse. Habhouse merupakan salah satu pelopor psikologi sosial dan orang
yang memelopori penggunaan metode-metode perbandingan dalam sosiologi.
la sangat tertarik pada konsep pembangunan dan perubahan sosial, dan is
menolak penerapan prinsip-prinsip biologis terhadap studi masyarakat
manusia. Menurutnya, kriteria yang diperlukan untuk mengukur perubahan
sosial adalah psikologi dan etika. sebagai pengikut mazhab psikologi,
Habhouse memberi banyak perhatian pada kondisi-kondisi psikologis
kehidupan sosial. la mencoba membuktikan bahwa kehidupan sosial
berkembang ke arah keadaan yang lebih rasional dan harmonis, sehingga
perkembangan sosial terjadi apabila kesadaran dan kebutuhan sosial meningkat.
5. Mazhab Ekonomi
Tokoh yang analisisnya banyak dipakai dalam mazhab ini adalah
Karl Marx dan Max Weber. Karl Marx menggunakan metode sejarah
dan filsafat untuk membangun suatu teori mengenai perubahan yang
mengindikasikan terjadinya perkembangan masyarakat menuju suatu
keadaan di mana ada keadilan sosial. Marx menyatakan bahwa selama
masyarakat masih terbagi dalam kelas-kelas, maka segala kekuatan dan
kekayaan akan terhimpun dalam kelas yang berkuasa.
Menurut Karl Marx, hukum, filsafat, agama, dan kesenian adalah suatu
refleksi dari status ekonomi kelas sosial yang ada dalam masyarakat,
meskipun hukum perubahan berperan dalam sejarah sehingga keadaan
tersebut dapat berubah baik dengan jalan revolusi maupun damai. Namun
selama kelas yang berkuasa masih ada, maka eksploitasi terhadap kelas yang
lebih lemah akan tetap berlangsung. sehingga selamanya akan tetap terjadi
pertikaian antarkelas sosial dalam masyarakat. Pertikaian tersebut akan
berakhir tatkala salah satu kelas (yaitu kelas proletar) menang dan terbentuklah
masyarakat tanpa kelas.
Sedangkan Weber menyatakan bahwa semua bentuk organisasi
sosial harus diteliti menurut perilaku warganya yang memiliki motivasi
dan harapan yang sama, untuk mengetahuinya digunakan metode pengertian
(verstehen).
Menurut Weber tingkah laku individu dalam masyarakat dapat
dikelompokkan atas empat tipe ideal aksi sosial yaitu sebagai berikut.
a. Aksi yang bertujuan, yaitu tingkah laku yang ditujukan untuk mendapatkan
hasil-hasil yang efisien.
b. Aksi yang berisikan nilai yang telah ditentukan, merupakan perbuatan
untuk merealisasikan dan mencapai tujuan.
c. Aksi tradisional yang menyangkut tingkah laku dalam melaksanakan suatu
aturan yang bersanksi.
d. Aksi yang emosional, hal ini menyangkut perasaan seseorang.
Berdasarkan pada empat hal tersebut, maka lahirlah hubungan-hubungan
sosial dalam masyarakat.
6. Mazhab Hukum
Durkheim memberi perhatian besar terhadap hukum kaitannya dengan
jenis-jenis solidaritas yang terdapat dalam masyarakat. Menurut Durkheim,
hukum adalah kaidah-kaidah yang bersanksi dan berat ringannya tergantung
pada sifat pelanggaran, anggapan-anggapan, serta keyakinan masyarakat
mengenai baik buruknya suatu tindakan. Menurutnya, di dalam
masyarakat terdapat dua macam sanksi yaitu sanksi represif dan restitutif.
Pada masyarakat yang didasarkan pada solidaritas mekanis pada umumnya
menerapkan kaidah-kaidah hukum dengan sanksi represif, sedangkan
masyarakat dengan solidaritas organis menerapkan sanksi restitutif. Suatu
kaidah hukum dibuat untuk mengembalikan keadaan pada situasi semula
sebelum terjadinya suatu keguncangan akibat dilanggarnya suatu kaidah hukum.
Durkheim berpendapat bahwa dengan adanya peningkatan diferensiasi
dalam masyarakat, reaksi kolektif yang kuat terhadap penyimpangan-
penyimpangan menjadi berkurang dalam sistem yang bersangkutan, sehingga
hukum yang bersifat represif berkecenderungan untuk berubah menjadi hukum
yang restitutif.
Selain Durkheim, Max Weber juga banyak menyoroti persoalan
hukum dalam kajian sosiologinya. Weber telah mempelajari pengaruh
faktor-faktor agama, ekonomi, dan politik terhadap perkembangan hukum.
Menurut Weber terdapat empat tipe ideal hukum yaitu sebagai berikut.
a. Hukum irasional dan material, pembentukan undang-undang dan hakim
mendasarkan keputusankeputusannya semata-mata pada nilai-nilai
emosional tanpa menunjuk pada satu kaidah pun.
b. Hukum irasional dan formal, pembentukan unclang-undang dan hakim
berpedoman pada kaidahkaidah di luar akal, karena keputusannya
didasarkan pada wahyu/ramalan.
c. Hukum rasional dan material, keputusan-keputusan para pembentuk
undang-undang dan hakim menunjuk dada suatu kitab suci, kebijakan-
kebijakan penguasa, atau ideologi.
d. Hukum rasional dan formal, hukum dibentuk semata-mata atas clasar
konsep-konsep abstrak dari ilmu hukum.

E. RUANG LINGKUP KAJIAN DAN MANFAAT SOSIOLOGI SERTA PERAN


SOSIOLOGI

1. Ruang Kajian Sosiologi )


Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mengkaji masyarakat dalam
keseluruhannya dan hubungan-hubungan antara orang-orang dalam masyarakat
tersebut. Melalui sosiologi diharapkan berbagai persoalan dan fenomena dalam
masyarakat dapat ditafsirkan. Penafsiran terhadap berbagai fenomena dan
persoalan yang terjadi dalam masyarakat akan sangat bermanfaat dalam me -
nyelesaikan masalah-masalah yang timbul dalam masyarakat itu sendiri. Selain
itu juga bermanfaat untuk menjadi landasan prediksi sehingga orang bisa
memprediksi apa yang mungkin terjadi dan melakukan berbagai persiapan
untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan terburuknya
Untuk memahami ruang kajian sosiologi, berikut penjelasan mengenai konsep-
konsep dasar sosiologi. a. Masyarakat
Emile Durkheim menyatakan bahwa masyarakat bukan sekadar suatu
penjumlahan individu semata, tetapi masyarakat merupakan suatu sistem yang
dibentuk dari hubungan anggota masyarakat. Kata masyarakat berasal dari
bahasa Arab "syaraka" yang berarti ikut serta atau berpartisipasi. Sedangkan
dalam bahasa Inggris, masyarakat adalah society yang artinya mencakup
interaksi sosial, perubahan sosial, dan rasa kebersamaan.
Masyarakat dalam istilah sehari-hari sering kita artikan sebagai himpunan
orang-orang dalam satuan wilayah tertentu. Pada hakikatnya yang dimaksud
dengan masyarakat adalah kumpulan orang yang hidup di suatu wilayah tertentu
dan membina kehidupan bersama dalam berbagai aspek kehidupan atas dasar norma
sosial tertentu.
Suatu masyarakat terbentuk karena manus ia menggunakan pikiran,
perasaan, serta keinginannya dalam memberikan reaksi terhadap lingkungannya.
Hal tersebut dapat terjadi karena manusia memiliki dua keinginan pokok, yaitu
keinginan untuk menjadi satu dengan manusia yang lain serta keinginan untuk
menyatu dengan lingkungan alam di mana manusia tersebut tinggal.
Setiap manusia memiliki naluri untuk selalu berhubungan dengan makhluk
sesamanya. Dari hubungan timbal balik yang berkesinambungan tersebut akan
menghasilkan pola pergaulan atau lebih sering disebut sebagai pola interaksi sosial.
Dalam proses pergaulan menghasilkan pandangan mengenai kebaikan dan keburukan.
Pandangan-pandangan itu menjadi nilai-nilai manusia yang pada akhirnya sangat
memengaruhi cara dan pola perilakunya dalam kehidupan bermasyarakat.
Unsur-unSL;r pokok masyarakat adalah sebagai berikut.
1) Adanya individu-individu yang cenderung bersifat heterogen dalam
berbagai hat seperti usia, jenis kelamin, latar belakang pendidikan, dan lain-lain.
2) Adanya hubungan timbal balik yang secara otomatis terjadi dalam setiap
masyarakat tanpa henti-hentinya dan meliputi oetbagai aspek kehidup an
Gaiam bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, serta dalam bidang
pertahanan dan keamanan.
3) Adanya daerah dengan batas-batas tertentu yang merupakan wadah tempat
berlangsungnya suatu tata kehidupan bersama.
4) Adanya sistem norma tertentu yang berfungsi sebagai pedoman dalam sistem
tata kelakuan dan hubungan warga masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya.
. Kebudayaan
Secara etimologis, istilah kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu
buddhayah yang merupakan bentukjamak dari kata buddhiyang berarti akal.
Sehingga kebudayaan diartikan sebagai hat-hat yang bersangkutan dengan budi/akal.
Sementara Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi (sosiolog) merumuskan
kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta manusia. Maksud dari aspek-
aspek itu sebagai berikut.
1) Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan
kebendaan/jasmaniah (material culture) yang diperlukan oleh manusia untuk
menguasai alam sekitarnya.
2) Rasa yang di dalamnya adalah jiwa manusia, melahirkan kaidah-kaidah dan
nilai-nilai sosial yang diperlukan untuk mengatur masalah-masalah
kemasyarakatan dalam arti yang lugs.
3) Cipta merupakan kemampuan mental, sebagai hasil kemampuan berpikir
manusia dalam hidup bermasyarakat.
Karya merupakan aspek material manusia, sedangkan aspek spiritual yang
ada dalam diri manusia adalah cipta, rasa, dan karsa, yaitu kemampuan menghasilkan
kaidah kepercayaan, kesopanan, dan hukum.
Manusia berusaha mendapatkan ilm ;u pengetahuan dengan menggunakan
Iogilka,
menyerasikan perilaku terhadap kaidah-kaidah yang ada dalam masyarakat melalui
etika dan
mendapatkan keindahan melalui estetika dan semua hat itu merupakan kebudayaan.
Koentjaraningrat menyatakan tentang adanya tiga wujud kebudayaan yaitu
sebagai berikut.
1) Kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai. norma-norma,
peraturan, dan sebagainya. Wujud ini disebut dengan wujud ideal dari kebudayaan,
dengan sifatnya yang abstrak, tidak dapat diraba maupun difoto dan berada dalam
kepala manusia (ada di alam bawah radar/alam pikiran warga masyarakat).
Adakalanya pemikiran tersebut dituanakan dalam bentuk tulisan Sehingga terbentuk
karangan dan buku-buku. Ide-ide atau gagasan-gagasan yang hidup dalam
masyarakat dan sating berkaitan akan membentuk suatu sistem yang disebut
dengan sistem budaya (cultural system). Di Indonesia wujud ideal kebudayaan
dikenal dengan istilah adat.

2) Kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas dan tindakan


berpola dari manusia dalam masyarakat. Wujud ini dikenal dengan istilah
sistem sosial (social system). Sistem sosial terdiri dari aktivitas-aktivitas
manusia yang berinferaksi, berhubungan, serta bergaul dari waktu ke waktu
menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sistem sosial
bersifat konkret, dapat diobservasi, difoto, dan didokumentasikan serta terjadi di
sekeliling kita sehari-hari.
3) Kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Wujud ini
disebut kebudayaan fisik atau artefak dengan sifat konkret dan dapat
dirasakan keberadaannya secara nyata/riil dalam kehidupan sehari-hari.
Pemikiran Koentjaraningrat mengenai tiga wujud kebudayaan di atas
senada dengan apa yang dikemukakan oleh J.J. Honigmann dalam bukunya
The World of Man (1959), yang menyatakan bahwa terdapat tiga "gejala
kebudayaan" yang meliputi ideas, activities, dan artifacts.
Kebudayaan secara universal terdiri dari tujuh unsur utama yaitu sebagai berikut.
1) Sistem komunikasi (bahasa).
2) Sistem kepercayaan (religi).
3) Sistem kesenian (seni).
4) Sistem organisasi sosial (sistem kemasyarakatan).
5) Sistem mata pencaharian.
6) Sistem ilmu pengetahuan.
7) Sistem peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi).
Setiap kebudayaan memiliki sifat hakikat yang berlaku umum bagi
seluruh kebudayaan yang ada di muka bumf. Sifat hak ikat kebudayaan tersebut
meliputi hal-hal sebagai berikut.
1) Kebudayaan terwujud dan tersalurkan melalui perilaku manusia.
2) Kebudayaan telah ada sebelum lahirnya suatu generasi tertentu da n tidak
akan coati dengan habisnya usia generasi yang bersangkutan.
3) Kebudayaan diperlukan oleh manusia dan d"VVL.iUdkan dalam tingkah lakunya.
4) Kebudayaan meliputi aturan-aturan yang berisikan kewajiban-kewajiban
dan tindakantindakan, baik yang diterima maupun ditolak, serta tindakan-
tindakan yang dilarang maupun tindakan yang diizinkan.
c. Interaksi Sosial
Di satu sisi interaksi sosial merupakan bentuk-bentuk aktivitas individu
dalam memenuhi kebutuhannya. Dalam arti lain, interaksi sosial adalah hubungan
dan pengaruh timbal batik antara individu dengan individu, antara individu dengan
kelompok individu, serta antara kelompok individu dengan kelompok individu yang
lain.
Dalam satu interaksi sosial terdapat empat subkomponen yang dapat
mendukung terwujudnya suatu interaksi sosial. Komponen-komponen itu antara lain
sebagai berikut.
1) Rangsangan (stimulan) yaitu suatu rangsangan yang mendorong pada
seseorang untuk memberikan respons atau tanggapan.
2) Tanggapan (respons) yaitu suatu aktivitas tanggapan yang muncul karena
adanya stimulan, baik stimulan yang pasif maupun stimulan yang aktif.
3) Aktivitas aksi yaitu aktivitas permulaan yang menjadi penyebab munculnya
interaksi sosial.
4) Aktivitas reaksi yaitu suatu aktivitas tanggapan yang muncul setelah
adanya aksi dari pihak pertama.
d. Sosialisasi
Sosialisasi merupakan suatu proses pergaulan seseorang terhadap banyak
orang di dalam masyarakat. Proses sosialisasi seorang individu berlangsung
sejak iahir hingga akhir hayatnya. Melalui proses sosialisasi seorang individu
akan memperoleh pengetahuan-pengetahuan, nilainilai, dan norma-norma yang
akan membekali individu tersebut dalam proses pergaulan.
e. Kebutuhan Hidup
Kebutuhan hidup merupakan suatu perwujudan dari manusia sebagai makhluk
hidup, sebagai makhluk sosial, dan sebagai makhluk yang memiliki akal budi.
Kebutuhan hidup ini terdiri dari tiga macam antara lain sebagai berikut.
1) Kebutuhan mendasar yaitu kebutuhan yang harus dipenuhi dan apabila tidak
dipenuhi maka kelangsungan hidupnya akan terganggu. Contohnya makan,
minum, pakaian, dan perumahan.
2) Kebutuhan sosial yaitu kebutuhan manusia untuk bersama -sama dengan
manusia yang lain. Contohnya berkomunikasi, pendidikan, dan lain-lain.
3) Kebutuhan integratif yaitu kebutuhan kejiwaan manusia. Contohnya
berekreasi, mengungkapkan rasa estetika, mengungkapkan harga diri, dan lain-
lain.

f. Nilai clan Norma


Nilai adalah segala sesuatu yang dianggap baik dan benar oleh
suatu kelompok masyarakat yang merupakan sesuatu . yang diidam-idamkan.
Sedangkan norma merupakan perwujudan konkret dari nilai-nilai sosial.
Norma dibuat oleh warga masyarakat untuk melaksanakan nilai-nilai sosial
yang ada dalam masyarakat tersebut yang telah dianggap baik clan benar. Agar
norma dapat dipatuhi oleh semua warga masyarakat, maka norma dilengkapi
dengan sanksi.
g. Kepribadian
Kepribadian merupakan gambaran umum dari perilaku individu yang sangat
khas dan dapat terlihat dari perilaku sehari-hari. Adapun wujud dari kepribadian
antara lain sebagai berikut.
1 Perangai 5) Kegemaran
2) Sikap atau perilaku 6) Keimanan clan ketakwaan
3) Tutur kata 7) Tanggung jawab
4) Persepsi 8) Prakarsa
)
h. Perilaku Menyimpang
Perilaku menyimpang merupakan bentuk-bentuk perilaku warga
masyarakat yang tidak sesuai dengan norma dan nilai yang ada dalam masyarakat
tersebut.
Adapun sumber dari perilaku menyimpang tersebut antara lain sebagai berikut.
1) Memburuknya situasi sosial budaya masyarakat, seperti adanya resesi clan depresi
ekonomi.
2) Lemahnya penegak hukum dalam melakukan tindakan penegakan hukum.
3) Adanya peperangan ataupun situasi keamanan dan ketertiban masyarakat yang
memburuk.
4) Tidak berhasilnya proses pewarisan budaya dari generasi tua kepada generasi muds.
i. Pengendalian Sosial
Pengendalian sosial adalah semua usaha yang dilakukan oleh warga
masyarakat agar warganya dapat berperilaku sesuai norma clan nilai yang
ada dalam masyarakat. Untuk melaksanakan pengendalian sosial dapat
dilakukan secara preventif maupun represif. Tujuan pengendalian sosial yaitu
terciptanya tertib sosial dalam masyarakat.
j. Struktur Sosial
Struktur sosial merupakan cars suatu masyarakat mengorganisasikan diri
dalam hubunganhubungan yang dapat diprediksikan melalui pola perilaku
secara berulang-ulang yang dilakukan antarindividu clan antarkelompok dalam
masyarakat.
Struktur sosial memiliki empat elemen clasar yaitu sebagai berikut.
1) Status sosial 3) Kelompok
2) Peranan/peran sosial 4) Institusi
Dalam Struktur sosial masyarakat tercipta ketidaksamaan sosial yang
pads akhirnya melahirkan stratifikasi clan diferensiasi sosial.
k. Mobilitas Sosial
Mobilitas sosial merupakan gerak perpindahan seseorang ataupun sekelompok
orang dari status sosial satu menuju status sosial yang lain. Secara umum
terdapat tiga jenis mobilitas sosial yaitu sebagai berikut.
1) Mobilitas sosial horizontal adalah perpindahan status sosial yang dialami
oleh seseorang/ sekelompok orang dalam lapisan sosial yang sama.
2) Mobilitas sosial vertikal adalah perpindahan status sosial
seseorang/sekelompok orang dalam lapisan yang berbeda.
3) Mobilitas antargenerasi adalah perbedaan status sosial antara anak
dengan orang tua, yaitu ditandai dengan adanya perkembangan taraf hidup
dalam satu garis keturunan.
I. Pranata Sosial
Pranata sosial merupakan sistem norma yang mengatur segala tindakan
manusia untuk memenuhi kebutuhan pokoknya dalam hidup bermasyarakat.
m. Perubahan Sosial
Perubahan sosial merupakan perubahan yang terjadi paGa iembaga
kemasyarakatan di dalam suatu masyarakat yang memengaruhi sosial baik
dalam hal nilai, sikap -sikap, maupun pola perilaku di antara kelornpck-
kelompc,, -cilam masyarakat.

2. Manfaat Sosiologi
Sosiologi mempunyai empat macam manfaat bagi masyarakat, yaitu dalam
bidang perencanaan sosial, penelitian, pembangunan, clan pemecahan masalah
sosial. Berikut ini pembahasan mengenai keempat manfaat sosiologi bagi
masyarakat.
a. Perencanaan Sosial
Perencanaan merupakan kegiatan untuk mempersiapkan masa
depan kehidupan masyarakat secara ilmiah dan bertujuan untuk
mengatasi berbagai hambatarl. Sifat dari perencanaan sosial adalah
preventif, sehingga kegiatannya meliputi pengarahan -pengarahan dan
bimbingan sosial tentang cara-cara hidup masyarakat agar menjadi lebih baik.
Manfaat sosiologi dalam perencanaan sosial adalah sebagai berikut.
1) Sosiologi memahami perkembangan kebudayaan masyarakat, balk
masyarakat tradisional maupun modern sehingga proses penyusunan
clan pemasyarakatan suatu perencanaan sosial relatif muclah dilakukan.
2) Sosiologi memahami hubungan antara manusia dengan lingkungan
alam, hubungan antargolongan, serta proses perubahan dan pengaruh
penemuan barn terhadap masyarakat. Hal ini berarti bahwa perencanaan
sosial yang diberikan oleh sosiologi relatif dapat dipercaya karena disusun
berdasarkan kenyataan yang faktual dalam masyarakat.
3) Sosiologi mempunyai disiplin ilmiah yang didasarkan atas objektivitas,
sehingga pelaksanaan suatu perencanaan sosial cliharapkan lebih kecil
penyimpangannya.
4) Melalui sosiologi, suatu perencanaan sosial bisa dimanfaatkan untuk
mengetahui tingkat kemajuan maupun tingkat ketertinggalan suatu
masyarakat ditinjau dari suclut kebudayaannya.
5) Berdasarkan suclut pandang sosiologi, pe rencanaan sosial merupakan alai
untuk mengetahui perkembangan masyarakat yang berfungsi
menghimpun kekuatan sosial demi menciptakan ketertiban masyarakat.
b. Penelitian
Melalui adanya penelitian dan penyelidikan sosiologi akan diperoleh
berbagai fakta sosial yang sangat bermanfaat dalam membuat perencanaan
pembangunan ataupun pemecahan masalah sosial yang terjadi dalam
masyarakat. Misalnya pencegahan perilaku menyimpang melalui kontrol
sosial dan proses sosialisasi yang matang dalam keluarga, sekolah, ataupun
masyarakat.
Kelebihan sosiologi apabila dibandingkan dengan ilmu yang lain dalam
bidang penelitian masyarakat adalah sebagai berikut.
1) Sosiologi mampu memahami simbol kata-kata, kode, serta istilah-
istilah yang digunakan oleh masyarakat sebagai objek penelitian empiris.
2) Sosiologi memahami pola-pola tingkah laku manusia dalam masyarakat.
3) Sosiologi mampu mempertimbangkan berbagai fenomena s osial
yang timbul dalam kehidupan masyarakat.
4) Sosiologi mampu melihat berbagai kecenderungan arch perubahan pola
tingkah laku anggota masyarakat yang disebabkan oleh hal-hal tertentu.
5) Sosiologi berhati-hati dalam menjaga pemikiran yang rasional sehingga
tidak terjebak dalam pola pikir yang tidak jelas.
c. Pembangunan
Pembangunan adalah suatu proses perubahan di segala bidang
kehidupan yang dilakukan dengan sengaja atas dasar suatu rencana tertentu.
Adapun tujuan dari proses pembangunan adalah untuk meningkatkan taraf
hidup rakyat secara material dan spiritual.
Peningkatan taraf hidup masyarakat mencakup suatu perangkat cita -
cita yang meliputi hal-hal berikut.
1) Pembangunan harus bersifat rasionalistis.
2) Adanya perencanaan dan proses pembangunan.
3) Peningkatan produktivitas.
4) Peningkatan standar kehidupan.
5) Kesempatan yang sama untuk berpartisipasi.
Sosiologi sangat berguna dalam memberikan data sosial yang
diperlukan pada tiga tahap proses pembangunan yaitu tahap perencanaan, tahap
pelaksanaan, dan tahap penilaian.

Pada tahap perencanaan, sosiologi memberikan berbagai fakta clan


informasi yang. merupakan kebutuhan sosial dalam masyarakat untuk
dijadikan sebagai bahan dalam membuat perencanaan pembangunan,
sehingga pembangunan yang hendak dijalankan sesuai dengan kebutuhan
sosial masyarakat akan menjadi tepat sasaran.
Pada tahap pelaksanaan, hal yang penting untuk diperhatikan adalah
kekuatan sosial dalam masyarakat beserta perubahan sosialnya, clan
sosiologi memberikan informasi mengenai hal tersebut. sehingga
pembangunan yang dilaksanakan akan sesuai dengan kemampuan serta
memerhatikan dampak perubahan sosial yang diakibatkannya.
Sedangkan pada tahap penilaian, sosiologi akan memberikan analisis
alas dampak sosial yang terjadi akibat proses pembangunan yang dijalankan,
sehingga pihak-pihak terkait dapat mencari solusi atau tindakan lebih lanjut
guna menyempurnakan proses pembangunan yang dijalankan.
d. Pemecahan Masalah sosial
Masalah sosial merupakan suatu ketidaksesuaian di antara unsur -unsur
sosial yang bisa membahayakan kehidupan masyarakat. Manfaat
sosiologi dalam hal ini adalah menyelidiki berbagai persoalan umum yang
terjadi di masyarakat dengan maksud untuk menemukan clan menafsirkan
berbagai kenyataan dalam kehidupan masyarakat. Untuk bisa memecahkan
berbagai masalah sosial yang ada, maka diperlukan sebuah kerja sama
antarilmu pengetahuan kemasyarakatan pada khususnya.
3. Peran Sosiolog
Sosiolog merupakan orang yang ahli dalam bidang ilmu sosiologi. Sebagai
orang yang ahli dalam bidang kemasyarakatan, tentunya is sangat berperan
dalam proses pembangunan masyarakat. Adapun peran tersebut meliputi sebagai
berikut.
a. Sosiolog sebagai Ahli Riset
Sebagai orang yang ahli di bidangnya, para sosiolog menaruh perhatian yang
besar terhadap perkembangan ilmu yang digelutinya tersebut sehingga
mereka melakukan riset ilmiah untuk memperoleh berbagai data mengenai
kehidupan sosial suatu masyarakat yang kemudian diolah menjadi suatu
karya ilmiah. Temuan tersebut akan berguna dalam pengambilan
keputusan (decission making) untuk menyelesaikan berbagai masalah sosial
dalam masyarakat.
Melalui karya ilmiah yang dibuat, para sosiolog harus mampu
menjernihkan berbagai kesalahpahaman asumsi (anggapan keliru) yang
berkembang dalam masyarakat yaitu dengan menghadirkan kebenaran-
kebenaran, sehingga dampak negatif yang ditimbulkan dari kekeliruan
pemahaman dalam masyarakat dapat berkurang/dihindari. Melalui
penelitian clan karya ilmiah yang dilakukan para sosiolog juga dapat
menghadirkan ramalan sosial berdasarkan pada po lapola kecenderungan,
serta perubahan yang mungkin terjadi.
b. Sosiolog sebagai Konsultan Kebijakan
Dalam proses pembangunan sosiolog juga berperan sebagai konsultan
kebijakan yaitu dengan memberikan informasi atau ramalan sosiologi.
Melalui ramalan sosiologi dapat diketahui kecenderungan kebijakan
sosial yang mungkin terjadi. Karena setiap keputusan kebijakan sosial
pada clasarnya merupakan suatu ramalan, yang berarti bahwa
kebijakan tersebut diambil dengan suatu harapan dapat menghasilkan
pengaruh atau dampak yang diinginkan. Meskipun kadang kala kebijakan
yang diambil tidak memenuhi harapan yang diinginkan. Salah satu faktor
penyebabnya adalah ketidakakuratan kesimpulan ataupun kesalahan
dalam menganalisis permasalahan.
c. Sosiolog sebagai Teknisi
Selain melakukan penelitian clan menjadi konsultan kebijakan, sosiolog juga
dapat terlibat langsung dalam proses perencanaan clan pelaksanaan kegiatan
masyarakat. Dalam hal ini, para sosiolog memberikan saran penyelesaian
berbagai masalah sosial yang muncul dalam pola interaksi masyarakat.
d. Sosiolog sebagai Guru atau Pendidik
Sebagai orang yang ahli dalam suatu bidang tertentu, seorang sosiolog harus
mampu menyajikan clan mentransfer pengetahuan yang dimiliki kepada orang lain atau
khalayak agar ilmu tersebut semakin berkembang clan juga bermanfaat bagi
masyarakat lu g s. Sprat yang harus dilakukan oleh sosiolog dalam menyajikan suatu fakta
adalah sikap netral clan objektif

F. Hubungan Sosiologi dengan Ilmu Lain


G. I. Hubungan Sosiologi dengan Ilmu Politik
H. Ilmu politik mempelajari satu segi khusus dari kehidupan masyarakat yang
berkaitan dengan kekuasaan, yaitu daya upaya untuk memperoleh kekuasaan,
usaha mempertahankan kekuasaan, penggunaan kekuasaan, dan juga bagaimana
menghambat penggunaan kekuasaan, dan sebagainya.
I. Di sini istilah "politik" berbeda dengan istilah "politik" yang digunakan sehari-hari; yang
diartikan sebagai pembinaan kekuasaan negara yang bukan merupakan ilmu pengetahuan
tetapi merupakan seni (art).
J. Sosiologi memusatkan perhatiannya pada segi -segi masyarakat yang bersifat
umum dan berusaha untuk mendapatkan pola-pola umum daripadanya, misalnya
coal daya upaya untuk mendapatkan kekuasaan digambarkan oleh sosiologi sebagai
salah satu bentuk persaingan (competition) atau bahkan pertikaian (conflict).
K. 2. Hubungan Sosiologi dengan Antropologi
L. Sosiologi berobjekkan masyarakat dan masyarakat selalu berkebudayaan. Oleh
karenanya masyarakat dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan. Masyarakat dan
kebudayaan tidak sama, tetapi berada dalam hubungan yang erat sekali.
Masyarakat menjadi pokok utama dari sosiologi dan kebudayaan merupakan
pokok utama dari antropologi. Hal ini disebabkan adanya hubungan yang erat antara
kebudayaan dengan masyarakat: semut dan lebah ber"masyarakat" tetapi tidak
berkebudayaan. Sehingga dapat ditarik kesimpulan, bahwa masyarakat lebih dasar,
lebih umum, dan merupakan tanah di mana kebudayaan itu tumbuh, kebudayaan selalu
berbentuk/bercorak kepada masyarakatnya.
M. Sebelum Perang Dunia II, antropologi memusatkan perhatiannya pada masyarakat-
masyarakat sederhana di luar dunia Barat, sedang sosiologi menyelidiki
masyarakat-masyarakat modern yang sudah kompleks di dunia Barat. Tetapi sesudah
Perang Dunia II, antropologi banyak memerhatikan masyarakat-masyarakat modern,
masa transisi (dari masa tradisional ke masa modern) seperti di Asia, Afrika, dan
Amerika Latin. Sosiologi berkaitan erat dengan antropologi, sehingga hanya bisa
dibedakan pangkal tolak dan sejarahnya saja.

Masa peralihan adalah sebagai proses sating memengaruhi antara unsur-unsur


zadisional dengan unsur-unsur modern, makaantropologibertitiktolak pada
unsurtradisiortaJ. sedw sosiologi memerhatikan unsur-unsur modern atau
barn. Hal ini disebabkan adanya pe<err-.;an antara masyarakat dan
kebudayaan Eropa-Amerika dengan masyarakat dan kebudayaar , Jain. serta
suasana kola modern yang berpengaruh di desa. Makin berkurangnya
masyarakat-rnasyarakat primitif di dunia ini mengakibatkan makin
mendekatnya kedua ilmu ini, namun cJeffWdan masih juga ada perbedaannya.
Akhirnya, tentang metodenya juga berbeda. Sosiologi pada umumnya rr*r) p p j-
akan penyelidikan perpustakaan, daftar pertanyaan, statistik, dan lain -lain,
sedangkan anrocooa adalah field research di lapangan dengan literatur-literatur kecil.
3. Hubungan Sosiologi dengan Psikologi
Psikologi umum bertujuan untuk menyelidiki dan menerangkan
kegiatan4wgiatan manusia pada umumnya, sedang psikologi khusus bertujuan
untuk menerangkan dan r h enyelidiki segisegi khusus daripada jiwanya itu.
Dan di antara beberapa cabang psikokx* khusus tersebut, terdapatlah
psikologi sosial yang menguraikan dan menerangkan kegiatan-kegiatan
manusia dan khususnya kegiatan-kegiatan di dalam hubungannya dengan
situasi-situasi sosial. Situasi sosial adalah situasi di mana terdapat interaksi
(hubungan timbal batik) antarorang ataupun antara orang dengan hasil
kebudayaannya.
Jadi, sosiologi juga mempelajari perilaku individu dalam kehidupan bersarna.
antara lain pergaulan, pembentukan kepribadian, dan lain sebagainya;
mempelajari perVaaffw dan tingkah laku individu yang telah dipengaruhi situasi-
situasi sosial.
Metode yang digunakan pada ilmu sosiologi dan psikologi juga berbeda- Psbu)iogi
menyelidiki manusia secara khusus mengenai kegiatan-kegiatan mereka sebagai
individu dalam hubungannya dengan lingkungan sekitar, sedangkan sosiologi
menyelidiki masyarakat sec&-a umum.
Tetapi kedua ilmu ini bertemu di dalam bidang ilmu jiwa sosial atau imu Pwa
kemasyarakatan. Ada aliran yang mencoba menguraikan fenomena-fenomena
(gejala sosial kebudayaan) sosial dari sudut psikologis, yaitu yang berusaha
untuk menerangkan atau mengerb Waor-faiaor perubahan sosial atas dasar
pengertian tertentu yang telah dikembangkan dalam i"u ?ice rnisalnya ilmu jiwa
dalam sosiologi.
4. Hubungan Sosiologi dengan Sejarah
Para sosiolog menggunakan metode historic dan selalu memben*an persoalan-
persoalan kepada para ahli sejarah, sehingga ilmu sejarah dipengaruhi oleh
perkemba rxjar, sosiologi. Keduanya mempelajari kejadian-kejadian dan hubungan-
hubungan yang dialami masyarakat manusia.
Sejarah menyelidiki peristiwa -peristiwa yang terjadi pada mass silam sejak
manusia mengenai peradaban yang kemudian dihubungkan peristiwa -
peristiwa pada mana silam dan mencari sebab-sebab terjadinya peristiwa-
peristiwa tersebut untuk dapat cbmengerti mengapa sampai terjadi demikian.
Sosiologi juga memerhatikan mana silam tetapi terbatas pada peristiwa yang
merupakan proses kemasyarakatan yang timbul dari hubungan antarmanusia
dalam situasi dan kondisi yang berbeda-beda.
5. Hubungan Sosiologi dengan Ilmu Ekonomi
Ilmu ekonomi pada hakikatnya mempelajari usaha-usaha manusia untuk nx 3-rvwuhi
kebutuhan yan(' jumlahnya tidak terbatas dengan alat pemenuhan yang jumlahnya
terbatas_ Kebdakseimbangan antara jumlah kebutuhan masyarakat dengan
terbatasnya alat pemenuhan kebutuhan akan menimbulka suatu kontradiksi yang
mengakibatkan terganggunya sistem hubungan antara warga satu denga warga yang
lain dalam masyarakat yang bersangkutan. Misalnya. persediaan pangan dengan jump
penduduk yang tidak seimbang akan menimbulkan reaksi sosial pada penduduk
yang mera., kekurangan pangan, sehingga hat tersebut akan menimbulkan konflik
sosial. Melalui ilmu sosiolc kita bisa mempelajari masyarakat dan hubungan antara
orang-orang daiam masyarakat terseb sehingga kita bisa memecahkan berbagai
persoalan yang timbul karena ketidakseimbangan anti jumlah kebutuhan
masyarakat dengan keterbatasan alat pemenuhan kebutuhan dalam su masyarakat.

N. DATA SOSIOLOGI MENGENAI REALITAS DAN PERMASALAHAN SOSIAL


Data sosiologi mengenai fenomena sosial adalah beberapa
permasalahan yang timbul dan terjadi di masyarakat. Permasalahan
sosial yang ada dalam masyarakat timbul akibat dari ketidakteraturan
dan ketidaktertiban sosial.
Sebuah masalah sosial pada hakikatnya merupakan akibat dari
interaksi sosial antara individu satu dengan individu lain, antara
individu dengan kelompok, maupun antara suatu kelompok dengan
kelompok lain. Interaksi sosial yang dilakukan dalam keadaan yang
normal dapat menghasilkan integrasi atau tercipta keadaan yang
selaras dengan norma yang berlaku dalam masyarakat. Akan tetapi,
interaksi sosial I . uga bisa menghasilkan guncangan dalam pola hubungan
antarindividu maupun kelompok.
Menurut Soerjono ono Soekanto, masalah sosial adalah suatu
ketidaksesuaian antara unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat yang
membahayakan kehidupan kelompok sosial. Apabila unsur -unsur
tersebut mengalami benturan ataupun bentrokan, hubungan sosial
akan terganggu sehingga timbul kegoyahan dalam kehidupan kelompok
atau masyarakat.
Unsur utama masalah sosial adalah adanya perbedaan yang
mencolok antara nilai-nilai dalam suatu masyarakat dengan
realita sosial yang terjadi. Hal ini berarti bahwa ada
ketidakcocokan antara anggapan-anggapan masyarakat tentang
apa yang seharusnya terjadi dengan apa yang telah terjadi dalam
kenyataannya. Adapun tingkat perbedaan tersebut akan berbeda
pada tiap-tiap masyarakat, hall ini tergantung pada nilai-nilai yang
dianut oleh masyarakat tersebut. Contoh: di Indonesia, hamil
sebelum menikah merupakan suatu perbuatan asusila dan menjadi
masalah, tetapi di Amerika tidak.
Soerjono Soekanto membedakan masalah sosial menjadi empat sebagai
berikut.
1. Masalah sosial dari faktor ekonomis, misalnya kemiskinan dan pengangguran.
2. Masalah sosial dari faktor biologic, misalnya penyakit menular.
3. Masalah sosial dari faktor psikologis, misalnya penyakit saraf (mental) dan
bunuh diri.
4. Masalah sosial dari faktor kebudayaan, misalnya perceraian
dan kenakalan remaja. Selain penggolongan masalah sosial
seperti yang dikemukakan oleh Soerjono Soekanto di atas,
masih terdapat pengelompokan masalah sosial lainnya yang
didasarkan pada hal-hal berikut.
1. Kepincangan warisan fisik yang disebabkan oleh adanya
pengurangan atau pembatasan-pembatasan cumber daya alam.
2. Warisan sosial, contohnya pertumbuhan dan berkurangnya
penduduk, pembatasan kelahiran, migrasi, angka harapan hidup,
kualitas hidup, pengangguran, depresi, pendidikan, politik, Berta
supremasi hukum.
3. Kebijakan sosial, contohnya perencanaan ekonomi, perencanaan sosial, dan
sebagainya.
' Data-data sosiologi dapat berupa hal-hal yang menjadi
penyebab fenomena sosial budaya atau hal-hal yang berkaitan
dengan masalah yang dipecahkan. Data-data tersebut diperoleh
melalui wawancara dan pengamatan terhadap pola kehidupan
masyarakat.
Fenomena-fenomena sosial di Indonesia merupakan data -
data sosiologi yang perlu mendapat perhatian dari seluruh
komponen bangsa. Adapun data-data sosiologi tersebut antara lain
sebagai berikut.
1. Demoralisasi
__ Demoralisasi adalah suatu keadaan ketika kualitas moral warga
masyarakat mengalami penurunan. Fenomena ini disebabkan oleh
bentuk kehidupan yang semakin kompetitif, sehingga banyak orang
melakukan jalan pintas dengan mengabaikan prinsip-prinsip moral termasuk
nilai-nilai keagamaan