Anda di halaman 1dari 4

Sejarah KOHATI

Dalam teater kemanusiaan, diskursus mengenai perempuan sudah ada sejak manusia itu
dilahirkan, baik status, tugas, juga hak dan kewajiban. Perkembangan pemikiran seiring
dengan paradigma masyarakat pada masanya (gradual), begitu dalam dengan masalah
perempuan.

Pada awalnya tugas dan peranan perempuan berada pada bidang mengurusi anak, rumah
dan sekitarnya (domestik) kemudian kini mulai merambah pada sektor publik. Isu
marginalisasi satu jenis dari lainnya serta beberapa perilaku ketidak adilan menjadi headline
pembicaraan masyarakat. Begitu pula halnya dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). (1)

Sejak berdirinya, kontribusi besar perempuan sudah nampak. Hal itu dapat dilihat pada sosok
dan peran aktif dua orang hawa yaitu Maesaroh Hilal dan Siti Zaenah yang secara struktural
terlibat dalam kepengurusan (Maesaroh Hilal bendahara II). Kemudian menyusullah HMI-Wati
lainnya seperti Tejaningsih, Siti Baroroh Bried, dan Tujimah. Mereka adalah inang–inang
pengasuh HMI pada awal kelahiran KOHATI. (2)

Dari tahun ke tahun, pase ke pase berikutnya aktifitas dan peran HMI-Wati include dalam
rangkaian kegiatan organisatoris HMI dengan mengikuti dinamikanya mulai dari revolusi fisik,
mempertahankan kedaulatan sampai dengan pemberontakan PKI. Pada masa orde lama,
orde baru dan reformasi, internal organisasi, secara nominal, data base anggota HMI terus
meningkat. The sleeping giant mungkin julukan yang dapat dilekatkan pada HMI- Wati saat
itu karena potensi yang sangat besar yang dimiliki, akan tetapi perempuan hanya menjadi
objek pengkaderan saja di HMI.

Masalah-masalah kewanitaan di HMI semula kurang mendapat porsi pengarapan yang wajar.
Kegiatan-kegiatan HMI-Wati hanya ditampung dalam bentuk seksi atau departemen-
departemen keputrian. Dalam kaderisasi informal, HMI-Wati ditempatkan pada bagian- bagian
yang kurang strategis (seksi komsumsi, perlengkapan, paling tinggi sekretaris) untuk
menunjukkan peran dan potensi mereka yang sebenarnya, jarang sekali HMI-Wati diposisikan
pada bagian yang layak disandang.

Secara kualitas, kader kader HMI-Wati memiliki potensi besar untuk itu, tapi budaya patriarki
yang masih merambah dalam aktifitas HMI sehingga menyulitkan HMI-Wati untuk tumbuh dan
berkembang. Belum lagi image tentang kiprah aktivis perempuan yang dibatasi oleh
perspektif lingkungan sekitarnya pun membuat HMI-Wati makin tertinggal dalam hal
kaderisasi. HMI secara organisasi memiliki konsep pengkaderan yang sangat mapan di
bandingkan dengan organisasi pemuda lainnya, seharusnya tidak memandang bulu dalam
menjalankan roda organisasi. Tetapi segala bentuk kemapanan akan melahirkan pergolakan
HMI-Wati mulai sadar bahwa potensi mereka perlu ditingkatkan dari hanya sekedar objek
menjadi subjek, sehingga mereka dapat mengembangkan diri secara khusus dan dibutuhkan
adalah sebuah wadah akselerator tersendiri bagi kaderisasi HMI-Wati, dengan tidak
menafikkan ruang yang sudah ada. (3)

Maka lahirlah ide pembentukan KOHATI. Gagasan pembentukan KOHATI lahir pas
musyawarah kerja HMI Jaya pada tanggal 12 desember 1965 dengan maksud lebih
meningkatkan kualitas dan kuantitas anggota HMI Putri dan ikut serta dalam melaksanakan
cita- cita perjuangan bangsa melalui satu wadah dan membentuk HMI-WAti menjadi kader-
kader yang peduli pada organisasi kemasyarakatan, sosial politik serta bidang kewanitaan.(4)
Kemudian KOHATI dikukuhkan dengan surat keputusan no 239/A/Sek/1966 tertanggal 11 juni
tentang pembentukan Korp HMI Wati.
Untuk sementara korp ini dibentuk dalam tingkatan cabang, komisariat dan rayon dengan
status semi otonom. Pembentukan KOHATI secara nasional dilaksanakan pada kongres VII
HMI di Surakarta tanggal 10-17 september 1966, dalam sub komisi musyawarah HMI-Wati
telah memtuskan mendirikan Korps HmI-Wati disingkat KOHATI tanggal 17 september
1966.(5)

Dalam buku lain dijelaskan latar belakang berdirinya KOHATI karena situasi politik akibat
meletusnya Gestapu /PKI. Untuk mempersatukan seluruh guna menumpas kekuatan gerakan
30 september, muncullah kesatuan kesatuan aksi termasuk Kesatuan Aksi Wanita Indonesia
(KAWI). Dan sebagai perwakilan HmI-Wati dibentuklah KOHATI. Selain itu situasi intern HMI
sendiri, didirikan lembaga-lembaga khusus yang bertujuan mengembangkan keahlian dari
anggotanya. Lahirlah KOHATI dimaksudkan untuk meningkatkan dan mengembangkan
kegiatan serta pembinaan HMI-Wati di bidang kewanitaan baik intern maupun ekstern HMI.

Agusalim dalam makalah yang disampaikan pada seminar sejarah KOHATI di Yogyakarta 19-
20 november 1982, memaparkan bahwa yang menjadi latar belakang berdirinya KOHATI
adalah:
1. Karena semangat dan jiwa islam yang tertanam pada setiap anggota HMI- Wati
yang menempatkan wanita pada tempat wajar.
2. Karena semangat dan realisasi emansipasi wanita yang diperjuangkan oleh
RA Kartini.
3. Karena tuntutan HMI sendiri, karena secara kuantitas maupun kualitas
memungkinkan sekali mendirikan KOHATI sebagai badan khusus yang bergerak di
bidang kewanitaan.
4. Kondisi intern yaitu dengan berdirinya sebagai korp di kalangan angkatan
bersenjata, memacu semangat HMI-Wati mendirikan wadah sejenis.
5. Faktor politik, agar HMI-Wati ikut bersama kelompok wanita lain bekerjasama
menumpas Gestapu/ PKI.
6. Karena berdirinya lembaga –lembaga khusus dalam HMI seperti LDMI, LKMI,
LSMI, LPMI, LAPMI, dan lain lain.
7. Dalam rangka peningkatan dan pengembangn kegiatan dan pembinaan HMI-
Wati di bidang kewanitaan dalam rangka pembentukan kader HMI-Wati sebagai patriot
komplit.
Seperti yang dilaporkan PB HMI bahwa perkembangan KOHATI sangat cepat karena HMI
sebagai induknya sudah ada di berbagai cabang, komisariat, rayon di Indonesia. Pada
usianya yang kedua setengah tahun, KOHATI berhasil membentuk 70 cabang dari 110
cabang HMI.

Dari perkembangan ini, dibeberapa tempat konflik organisatoris disebabkan adanya


penyempurnaan organ KOHATI. Konflik tersebut timbul karena HMI kurang mampu
mengelola organisasi dengan baik, sehingga KOHATI terdorong kearah eksklusif. Hal ini pun
diakui KOHATI sendiri. Akibatnya dibeberapa cabang terjadi “salah tindak” dan “salah
pengertian” antar HMI-Wan dan HMI-Wati yang menimbulkan penilaian negatif terhadap
KOHATI, seperti anggapan bahwa HMI- Wati mengalami eksklusifisme dan sentrifugalisme.

Akibatnya HMI mengangap KOHATI ingin melepaskan diri dari HmI, ini semua terjadi karena
kurangnya koordinasi HMI. Adalah sangat wajar apabila sebuah komunitas yang heterogen
dipertanyakan masalah keterbukaan terhadap eksponen diluar komunitasnya. Terlebih lagi
tidak semua HMI-Wati masuk dan beraktifitas didalam wadah KOHATI. Bukan berarti
berbicara KOHATI menafikan peran HMI-Wati di luar struktur akan tetapi secara organisatoris,
berbicara KOHATI adalah berbicara kebutuhan dan kepentingan HMI-Wati. Dan peran
mereka pun patut diperhitungkan tidak dapat dipungkiri, terkadang HMI-Wati tidak mengerti
lembaga KOHATI dan sering kali mereka mengangap badan khusus ini “menganggu” aktivitas
HMI-Wati. Seyogyanya semua permasalahan organisasi ini diselesaikan dengan mekanisme
organisasi.
Pada perkembangan selanjutnya, berlandaskan ideologi pembebasan, beberapa cabang HMI
di daerah menguji cobakan bentuk bentuk baru dari wadah KOHATI, seperti bidang keadilan
gender (wilayah Jawa Tengah), lembaga peningkatan partisipasi HmI- Wati (Karawang),
bidang peningkatan gender (Ciputat ), dan wadah wadah lain. Hal hal tersebut
merupakan euphoria dan pesatnya pemikiran tentang kemandirian perempuan. HMI-Wati
menempatkan dirinya untuk mengadopsi pemikiran dari luar dengan berakar pada budaya
bangsa sebagaimana yang ditulis oleh mbak Aniswati M Kamaludin, seorang tokoh HMI-Wati:
1. KOHATI dituntut untuk tumbuh menjadi putra putri islam yang berpendidikan
tinggi
2. KOHATI dituntut untuk tumbuh menjadi istri- istri yang bijaksana, kekasih
suami yang serba bisa,
3. KOHATI dituntut untuk menjadi ibu ibu yang bisa membina anak anaknya
menjadi insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bertakwa kepada Allah SWT.
4. KOHATI dituntut untuk menjadi wanita-wanita dinamis, kreatif dan sadar
bahwa ia adalah masyarakat yang mempunyai tanggung jawab terhadap
pembangunan bangsa dan negaranya.
Upaya trial dan error tersebut membuktikan bahwa kepentingan anggota harus diakomodir
oleh satuan organisasi yang menyuntingkanya, dan untuk mengatur relasasi antar HMI-Wan
dan HMI-Wati harus mengunakan jalur konstitusi dengan memandang perlu dengan arti
kebijakan lokal cabang setempat.

Dalam perkembangan selanjutnya, KOHATI secara organisatoris merupakan badan


pembantu HMI setingkat sebagai perpanjangan tangan mewujudkan tujuan HMI.
1. Untuk internal organisasi HMI, periode pertama KOHATI adalah menata
wadah atau konsolidasi, bagi segi struktur operasional maupun personil.
2. Disektor eksternal HMI, KOHATI berperan sebagai LSM Perempuan dan ikut
serta berperan aktif dalam federasi organisasi keperempuanan di masing masing
tingkatanya. KOHATI duduk di forum kerja sama wanita sekber Golkar, KAWI, BKOW
(Badan Koordinasi Organisasi Wanita) dan PEMIAT (Persatuan Mahaiswa Islam Asia
Tenggara). Kemudian tahun tahun berikutnya KOHATI bergabung dengan KOWANI
dan BMOWI (Badan Musyawarah Organisasi Wanita Islam ) bahkan sejak KOHATI
ikut bergabung dalam federasi tersebut, kader kader terbaik KOHATI menjadi
pengurus organisasi tersebut di tahun tahun berikutnya sampai dengan hari ini.
Dimensi eksternal KOHATI pun menyentuh spektrum internasional. Hal tersebut
terlihat dengan keterlibatan KOHATI sebagai peninjau bahkan peserta penuh dalam
even even internasional (Internasional Seminar, Peace Youth Foundation, AMSEC
Meeeting, dll.

Ini membuktikan bahwa kiprah KOHATI terbukti berhasil. Dan dibawah koordinasi kementrian
negara pemberdayaan perempuan dan LSM Perempuan, KOHATI ikut serta berpartisipasi
dalam kegiatan kegiatan pemberdayaan perempuan. Setelah selesai mengabdi di HMI,
peranan HMI-Wati terus menerus tanpa henti, aktivitas KOHATI bermunculan di yayasan yang
bergerak di bidang sosial, pendidikan dan kewanitaan bahkan ada yang bergerak di bidang
bisnis, travel, jurnalistik, catering, dll.

Bahkan dunia politikpun di gandrungi oleh alumni KOHATI. Dan senior KOHATI pun
membentuk sebuah forum yang hampir sama dengan KAHMI dengan nama Forum Alumni
Kohati (FORHATI) pada tanggal 12 desember 1998 di Jakarta.

Daftar Bacaan
Sitompul, Agusalim, Histiografi Himpunan mahasiswa Islam (HmI) tahun 1947- 1993,
(Jakarta : intermasa, 1995 )
…………….., Menyatu Dengan Umat Menyatu Dengan Bangsa, Pemikiran Keislaman
Keindonesiaan HMI (1947-1997 ), (Jakarta, Logos, 2002)
KOHATI PB Periode 1994- 1996, KOHATI Dalam Sejarah 1966-1994

Footnotes
1. Agusalim sitompul, Histiografi Himpunan mahasiswa Islam Tahun 1947-1993, (Jakarta
: Intermassa, 1995), hal 75
2. Ibid, hal 209
3. Agusalim sitompul, Menyatu Dengan Umat Menyatu Dengan Bangsa, Pemikiran
Keislaman Keindonesiaan HmI 1947-1997, (jakarta :logos,2002), hal 229-230
4. Korps HMI Wati Dalam Sejarah,1966-1994, KOHATI PB HMI Periode 1994-1996
(Jakarta), hal 13
5. Agusalim, Histiografi, Op.Cit, hal 210-211.
6. Ibid, hal 174 7. Ibid, hal 210
7. Agusalim, Menyatu Dengan Umat, Op, Cit, hal 230
8. Agusalim, histiografi, Op, Cit, hal 176