Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

DHF (Dengue Haemorhagic Fever)

Disusun oleh
Nama : Irfan Sofyan
Nim : S161
Kelas : S16 B

PROGAM STUDY SARJANA KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KUSUMA HUSADA
SURAKARTA
2019
Definisi
Demam dengue/DF dan demam berdarah dengue/DBD (dengue
haemorhagic fever//DHF) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus
dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot atau nyeri sendi yang
disetai leucopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan ditesis
hemoragik. Pada DBD terjadi perembesan plasma yang ditandai dengan
hemokonsentrasi (peningkatan hemotokrit) atau penumpukan cairan dirongga
tubuh. Sindrom renjatan dengue (dengue shock syndrome) adalah demam
berdarah dengue yang ditandai oleh renjatan atau syok (Sudoyo Aru, dkk
2009)
Dengue Haemorhagic Fever adalah penyakit yang menyerang anak dan
orang dewasa yang disebabkan oleh virus dengan manifestasi berupa demam
akut, perdarahan, nyeri otot dan sendi. Dengue adalah suatu infeksi Arbovirus
(Artropod Born Virus) yang akut ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegepty atau
oleh Aedes Albopictus (Titik Lestari, 2016)
A. Etiologi
Pada umumnya masyarakat kita mengetahui penyebab dari Dengue
Haemoragic Fever adalah melalui gigitan nyamuk Aedes Aegypti. Virus
Dengue mempunyai 4 tipe, yaitu : DEN 1, DEN 2, DEN 3, dan DEN 4, yang
ditularkan melalui nyamuk Aedes Aegypti. Nyamuk ini biasanya hidup
dikawasan tropis dan berkembang biak pada sumber air yang tergenang.
Keempatnya ditemukan di Indonesia dengan DEN-3 serotipe terbanyak.
Infeksi salah satu serotip akan menimbulkan antibodi yang terbentuk terhadap
serotipe yang lain sangat kurang, sehingga tidak dapat memberikan
perlindungan yang memadai terhadap serotipe yang lain tersebut. Seseorang
yang tinggal di daerah endemis dengue dapat terinfeksi oleh 3 atau 4 serotipe
selama hidupnya. Keempat serotipe virus dengue dapat ditemukan diberbagai
daerah di Indonesia (Sudoyo dkk. 2010)
F. Manifestasi Klinis
1. Demam dengue
Merupakan penyakit demam akut selama 2-7 hari, ditandai dengan dua lebih
manifestasi klinis sebagai berikut :
- Nyeri kepala
- Nyeri retro-orbital
- Mialgia / artralgia
- Ruam kulit
- Manifestasi perdarahan(petekie atau uji bending positif)
- Leucopenia
- Pemeriksaan serologi dengue positif, atau ditemukan DD/DBD yang sudah
dikonfirmasi pada lokasi dan waktu yang sama
2. Demam berdarah dengue
a. Demam atau riwayat demam akut 2-7 hari, biasanya bersifat bifasik.
b. Manifestasi perdarahan yang biasanya berupa :
- Uji tourniquet positif
- Petekie, ekimosis, atau purpura
- Perdarahan mukosa (epitaksis, perdarahan gusi), saluran cerna,tempat
bekas suntik.
- Hematemesis atau melena
c. Trombositopenia <100.00/ul
d. Kebocoran plasma yang ditandai dengan:
- Peningkatan nilai hematokrit ≥20% dari nilai baku sesuai umur dan jenis
kelamin.
- Penurunan nilai hematokrit ≥20% setelah pemberian cairan yang adekuat
e. Tanda kebocoran plasma seperti :
- Hipoproteinemia
- Asites
- Efusi pleura

3. Sindrom syok dengue


Seluruh kriteria DBD diatas ditandai dengan tanda kegagalan sirkulasi yaitu:
- Penurunan kesadaran, gelisah
- Nadi cepat, lemah
- Hipotensi
- Tekanan darah turun <20mmHg
- Perfusi perifer menurun
- Kulit dingin, lembab.
(Wiwik dan Hariwibowo, 2008)

B. Patofisiologi
Virus dengue yang telah masuk ke tubuh akan menimbulkan demam karena
proses infeksi. Hal tersebut akan merangsang hipotalamus sehingga terjadi
termoregulasi yang akan meningkatkan reabsorsi Na dan air sehingga terjadi
hipovolemi, selain itu juga terjadi kebocoran plasma karena terjadi peningkatan
permeabilitas membran yang juga mengakibatkan hipovolemi, syok dan jika tak
teratasi akan terjadi hipoksia jaringan yang dapat mengakibatkan kematian.
Selain itu kerusakan endotel juga dapat mengakibatkan trombositopenia
yang akan mengakibatkan perdarahan, dan jika virus masuk ke usus akan
mengakibatkan gastroenteritis sehingga terjadi mual dan muntah.

Pathway
G. Pemeriksaan Penunjang
1. Darah
a. Pada kasus DHF yang dijadikann pemeriksaan penunjang yaitu
menggunakan darah atau disebut lab serial yang terdiri dari hemoglobin,
PCV, dan trombosit. Pemeriksaan menunjukkan adanya tropositopenia
(100.000 / ml atau kurang) dan hemotoksit sebanyak 20% atau lebih
dibandingkan dengan nilai hematoksit pada masa konvaselen.
b. Hematokrit meningkat > 20 %, merupakan indikator akan timbulnya
renjatan. Kadar trombosit dan hematokrit dapat menjadi diagnosis pasti
pada DHF dengan dua kriteria tersebut ditambah terjadinya
trombositopenia, hemokonsentrasi serta dikonfirmasi secara uji serologi
hemaglutnasi (Brasier dkk 2012).
c. Leukosit menurun pada hari kedua atau ketiga
d. Hemoglobin meningkat lebih dari 20 %
e. Protein rendah
f. SGOT/SGPT bisa meningkat

H. Penatalaksanaan
1. Tirah baring
2. Diet makan lunak
3. Minum banyak (2 - 2,5 liter/24 jam) dapat berupa susu, teh manis,
sirup dan beri penderita oralit, pemberian cairan merupakan hal yang
paling penting bagi penderita DHF.
4. Pemberian cairan intravena (biasanya Ringer Laktat, NaCl faali).
Ringer Laktat merupakan cairan intravena yang paling sering
digunakan, mengandung Na+ 130 mEg/l, K+ 4 mEg/l, korektor basa 28
mEg/l, Cl- 109 mEg/l, dan Ca++ 3 mEg/l.
5. Monitor tanda-tanda vital tiap 3 jam (suhu, nadi, tensi, pernapasan).
Jika kondisi pasien memburuk, observasi ketat tiap jam.
6. Periksa Hb, Ht dan Trombosit setiap hari.
7. Pemberian obat antipiretik sebaiknya dari golongan asetaminofen,
eukinin, dan dipiron (kolaborasi dengan dokter).
8. Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut.
9. Pemberian antibiotika bila terdapat kekhawatiran infeksi sekunder
(kolaborasi dengan dokter).
10. monitor tanda-tanda dini renjatan meliputi keadaan umum, perubahan
tanda-tanda vital, hasil-hasil pemeriksaan laboratorium yang
memburuk.
11. Bila timbul kejang dapat diberikan diazepam (kolaborasi dengan
dokter).

ASUHAN KEPERAWATAN DHF

A. Pengkajian
1. Identitas pasien Keluhan utama
2. Riwayat penyakit sekarang
3. Riwayat penyakit dahulu
4. Riwayat tumbuh kembang, penyakit yang pernah diderita, apakah pernah
dirawat sebelumnya.
5. Riwayat penyakit keluarga
Apakah ada anggota keluarga yang pernah mengalami kejang demam,
apakah ada riwayat penyakit keturunan, kardiovaskuler, metabolik, dan
sebagainya.
6. Riwayat psikososial
Bagaimana riwayat imunisasi, bagaimana pengetahuan keluarga mengenai
demam serta penanganannya.
H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Peningkatan suhu tubuh (hipertermia) berhubungan dengan penyakit
(viremia)..
2. Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan kondisi tubuh
yang lemah.
3. Gangguan rasa nyaman (nyeri) berhubungan dengan mekanisme
patologis (proses penyakit).
4. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit, diet, perawatan dan
obat-obatan pasien selama sakit berhubungan dengan kurangnya
informasi. (Lynda Juall Carpenito, 1999)

I. INTERVENSI KEPERAWATAN
DP TUJUAN INTERVENSI RASIONAL

Peningkatan Suhu tubuh 1. Mengobservasi 1. Tanda-tanda vital merupakan


suhu tubuh menurun, setelah tanda-tanda vital : acuan untuk mengetahui
(hipertermia) dilakukan tindakan suhu, nadi, tensi, keadaan umum klien.
berhubungan keperawatan selama pernafasan setiap 2. Peningkatan suhu tubuh
dengan penyakit 1x24 jam dengan 3 jam / lebih mengakibatkan penguapan
(viremia). kriteria hasil : sering. tubuh meningkat sehingga
 Suhu 2. Menganjurkan perlu diimbangi dengan
tubuh normal pasien untuk asupan cairan yang banyak.
 Pasien banyak minum  3. Kompres akan mambantu
bebas dari 2,5 liter / 24 jam menurunkan suhu tubuh.
demam dan jelaskan 4. Pakaian yang tipis akan
manfaatnya bagi membantu mengurangi
pasien. penguapan tubuh.

3. Memberikan 5. Pemberian cairan sangat


kompres (pada penting bagi pasien dengan
daerah axilla dan suhu tinggi.
lipat paha).
4. Menganjurkan
untuk tidak
memakai selimut
dan pakaian yang
tebal.
5. Memberikan
terapi cairan
intravena dan
obat-obatan
sesuai dengan
program
(masalah
kolaborasi).

1. Mengkaji
Gangguan setelah dilakukan keluhan pasien 1. Untuk mmengidentifikasi
aktivitas sehari- tindakan masalah-masalah pasien.
hari keperawatan selama 2. Mengkaji hal-hal
berhubungan 1x24 jam dengan yang mampu / 2. Untuk mengetahui tingkat
dengan kondisi kriteria hasil : tidak mampu ketergantungan pasien dalam
tubuh yang  Kebutuhan dilakukan oleh memenuhi kebutuhannya.
lemah. aktivitas sehari- pasien 3. Pemberian bantuan sangat
hari terpenuhi. berhubungan diperlukan oleh pasien pada
 Pasien dengan saat kondisinya lemah dan
dapat mandiri kelemahan perawat mempunyai tanggung
setelah terbebas fisiknya. jawab dalam pemenuhan
dari demam. kebutuhan dan sehari-hari
3. Membantu pasien pasien tanpa membuta pasien
memenuhi mengalami ketergantungan
kebutuhan pada perawat.
aktivitasnya 4. Akan membantu pasien untuk
sehari-hari memenuhi kebutuhan sendiri
berhubungan tanpa bantuan orang lain.
dengan tingkat 5. Agar pasien dapat segera
keterbatasan meminta bantuan perawat saat
pasien seperti membutuhkannya.
mandi, makan,
eliminasi.
4. Meletakkan
barang-barang
ditempat yang
mudah dijangkau
oleh pasien.

Rasa nyeri 1. Mengkaji tingkat


Gangguan rasa berkurang / hilang, nyeri yang 1. Untuk mengetahui berapa
nyaman (nyeri) setelah dilakukan dialami pasien berat nyeri yang dialami
berhubungan tindakan dengan memberi pasien. Reaksi pasien
dengan keperawatan selama rentang nyeri (0 – terhadap nyeri dapat
mekanisme 1x24 jam dengan 10). Biarkan dipengaruhi oleh berbagai
patologis (proses kriteria hasil : pasien faktor dan dengan mengetahui
penyakit)  Rasa menentukan faktor-faktor tersebut maka
nyaman tingkat nyeri perawat dapat menentukan
terpenuhi. yang dialami intervensi yang sesuai dengan
 Nyeri pasien, respon masalah pasien.
berkurang atau pasien terhadap
hilang. nyeri yang 2. Respon individu terhadap
dialami. nyeri sangat berbeda atau
2. Memberikan bervariasi, sehingga perawat
posisi yang perlu mengkaji lebih lanjut
nyaman, untuk menghindari kesalahan
usahakan situasi persepsi terhadap kondisi
ruangan yang yang dialami pasien.
tenang.
3. Menganjurkan 3. Untuk mengurangi rasa nyeri.
pasien untuk Dengan melakukan aktivitas
membaca buku, lain, pasien dapat sedikit
mendengarkan melipakan perhatiannya
musik, nonton terhadap nyeri yang dialami.
TV (mengalihkan 4. Berhubungan dengan orang-
perhatian). orang terdekat / teman akan
4. Memberikan membuat pasien gembira /
kesempatan bahagia dan dapat
pasien utnuk mengalihkan perhatiannya
berkomunikasi terhadap nyeri.
dengan teman- 5. Obat-obat analgetik dapat
temannya. membantu menekan atau
5. Memberikan mengurangi rasa nyeri pasien.
obat-obat
analgetik.

Pengetahuan Pasien 1. Mengkaji tingkat 1. Untuk memberikan informasi


Kurangnya / keluarga pengetahuan pada pasien / keluarga,
pengetahuan meningkat, setelah pasien / keluarga perawat perlu mengetahui
tentang proses dilakukan tindakan tentang penyakit sejauh mana informasi /
penyakit, diet, keperawatan selama DHF. pengetahuan tentang penyakit
perawatan dan 1x24 jam dengan 2. Mengkaji latar yang diketahui pasien serta
obat-obatan kriteria hasil : belakang kebenaran informasi yang
pasien selama  Pengetahu pendidikan telah didapatkan sebelumnya.
sakit an pasien / pasien / keluarga. 2. Agar perawat dapat
berhubungan keluarga 3. Menjelaskan memberikan penjelasan
dengan tentang proses tentang proses sesuai dengan tingkat
kurangnya penyakit, diat, penyakit, diet, pendidikan mereka sehingga
informasi. perawatan dan perawatan dan penjelasan dapat dipahami
obat-obatan obat-obatan pada dan tujuan yang direncanakan
bagi penderita pasien dengan tercapai.
DHF meningkat bahasa dan kata- 3. Agar informasi dapat diterima
dan pasien / kata yang mudah dengan mudah dan tepat
keluarga dimengerti sehingga tidak menimbulkan
mampu (dipahami). kesalahpahaman.
menceritakan 4. Menjelaskan 4. Dengan mengetahui semua
kembali. semua prosedur prosedur / tindakan yang akan
yang akan dialami, pasien akan lebih
dilakukan dan kooperatif dan mengurangi
manfaatnya bagi kecemasan.
pasien. .
DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. (2009). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8.


Jakarta : EGC
Effendi, Christantie. (2005). Ensiklopedia Demam Berdarah. Edisi Revisi.
Jakarta : Insan Utama.
Mansjoer, A. (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi IV. Jakarta : EGC

Nelson. (2009). Ilmu Kesehatan Anak. Edisi XII. Jakarta : EGC

Tjokronegoro Arjatmo, Utama Hendra. (2006). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.
Jakarta : FKUI