Anda di halaman 1dari 18

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA DAN KEBIJAKAN


2.1. Defnisi dan Teori Pengembangan Infrastruktur
2.1.1. Pengertian Infrastruktur
Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2015 Infrastruktur adalah fasilitas teknis, fisik,
sistem, perangkat keras dan lunak yang diperlukan untuk melakukan pelayanan kepada masyarakat
dan mendukung jaringan struktur agar pertumbuhan ekonomi dan sosial masyarakat dapat berjalan
dengan baik.
Infrastruktur merujuk pada sistem fisik yang menyediakan transportasi, pengairan,
drainase, bangunan-bangunan gedung dan fasilitas publik lainnya yang dibutuhkan untuk
memenuhi kebutuhan dasar manusia dalam lingkup sosial dab ekonomi (Grigg dan Kodoatie,
2003:8). Sistem infrastruktur merupakan pendukung utama fungsi-fungsi sistem sosial dan sistem
ekonomi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Sistem infrastruktur dapat didefinisikan sebagai
fasilitas-fasilitas atau struktur-struktur dasar, peralatan-peralatan, instalasi yang dibangun dan
yang dibutuhkan untuk berfungsinya sistem sosial dan sistem ekonomi masyarakat.
 Menurut stone dalam kodoatie (2003,101), infrastruktur didefinisikan sebagai fasilitas-
fasilitas fisik yang dikembangkan atau dibutuhkan oleh agen-agen publik untuk fungsi-
fungsi pemerintah dalam penyediaan air, tenaga listrik, pembuangan limbah, transportasi
dan pelayanan-pelayanan similar untuk memfasilitasi tujuan-tujuan ekonomi dan sosial.
 Menurut Grigg dalam Kodoatie (2003:101), infrastuktur dapat dibagi kedalam 13 kategori,
yaitu:
1. Sistem penyediaan air: waduk, penampungan air, transmisi dan distribusi, fasilitas
pengelolaan air (treatment plant)
2. Sistem pengelolaan air limbah: pengumpulan, pengolahan, pembuangan, daur ulang
3. Fasilitas pengelolaan limbah padat
4. Fasilitas pengendali banjir, berupa drainase dan irigasi
5. Fasilitas lintas air dan navigasi
6. Fasilitas transportasi: jalan, rel, bandar udara. Termasuk didalamnya adalah tanda-
tanda lalu lintas, fasilitas pengontrol

Studio Perencanaan Wilayah Sektor Infrastruktur 1 - 1


7. Sistem transit public
8. Sistem kelistrikan: produksi dan distribus
9. Fasilitas gas alam
10. Gedung publik: sekolah, rumah sakit
11. Fasilitas perumahan public
12. Taman kota sebagai daerah resapan, tempat bermain teermasuk stadion
13. Komunikasi

2.1.2. Jenis- Jenis Infrastruktur


a. Infrastruktur transportasi, antara lain:
1. Penyediaan dan/atau pengelolaan fasilitas dan/atau pelayanan jasa
kebandarudaraan, termasuk fasilitas pendukung seperti terminal penumpang dan
kargo;
2. Penyediaan dan/atau pengelolaan fasilitas dan/atau pelayanan jasa kepelabuhanan;
3. Sarana dan/atau prasarana perkeretaapian;
4. Sarana dan prasarana angkutan massal perkotaan dan lalu lintas; dan/atau
5. sarana dan prasarana penyeberangan laut, sungai, dan/atau danau.
b. Infrastruktur jalan, antara lain:
1. Jalan arteri, jalan kolektor dan jalan lokal;
2. Jalan tol; dan/atau
3. Jembatan tol.
c. Iinfrastruktur sumber daya air dan irigasi,
1. Saluran pembawa air baku; dan/atau
2. Jaringan irigasi dan prasarana penampung air beserta bangunan pelengkapnya,
antara lain waduk, bendungan, dan bendung.
d. Infrastruktur air minum,
1. Unit air baku;
2. Unit produksi; dan/atau
3. Unit distribusi.
e. Infrastruktur sistem pengelolaan air limbah terpusat,
1. Unit pelayanan;

Studio Perencanaan Wilayah Sektor Infrastruktur 1 - 2


2. Unit pengumpulan;
3. Unit pengolahan;
4. Unit pembuangan akhir; dan/atau
5. Saluran pembuangan air, dan sanitasi.
f. Infrastruktur sistem pengelolaan persampahan
1. Pengangkutan;
2. Pengolahan; dan/atau
3. Pemrosesan akhir sampah.
g. Infrastruktur telekomunikasi dan informatika,
1. Jaringan telekomunikasi;
2. Infrastruktur e-government; dan/atau
3. Infrastruktur pasif seperti pipa saluran media transmisi kabel (ducting).

2.2. Tinjauan Kebijakan Penataan Ruang


Perencanaan pembangunan suatu wilayah, baik itu rencanontro a tata ruang wilayah
maupun rencana rinci, tidak akan lepas dari kebijakan-kebijakan pemerintah. Kebijakan yang
berhubungan dengan penataan ruang ditingkat nasional antara lain Undang-Undang Penataan
Ruang No.26 Tahun 2007 sebagai induk dari hukum tata ruang. Peraturan Pemerintah Republik
Indonesia Nomor 26 Tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional (RTRWN) juga
sebagai payung dari rencana tata ruang wilayah.

2.2.1 Kebijakan UU No 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang.


Penataan ruang sebagai suatu sistem perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang, dan
pengendalian pemanfaatan ruang merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan antara yang satu
dan yang lain dan harus dilakukan sesuai dengan kaidah penataan ruang sehingga diharapkan (i)
dapat mewujudkan pemanfaatan ruang yang berhasil guna dan berdaya guna serta mampu
mendukung pengelolaan lingkungan hidup yang berkelanjutan; (ii) tidak terjadi pemborosan
pemanfaatan ruang; dan (iii) tidak menyebabkan terjadinya penurunan kualitas ruang. Penataan
ruang yang didasarkan pada karakteristik, daya dukung dan daya tampung lingkungan, serta
didukung oleh teknologi yang sesuai akan meningkatkan keserasian, keselarasan, dan
keseimbangan subsistem. Hal itu berarti akan dapat meningkatkan kualitas ruang yang ada.

Studio Perencanaan Wilayah Sektor Infrastruktur 1 - 3


Karena pengelolaan subsistem yang satu berpengaruh pada subsistem yang lain dan pada
akhirnya dapat mempengaruhi sistem wilayah ruang nasional secara keseluruhan, pengaturan
penataan ruang menuntut dikembangkannya suatu sistem keterpaduan sebagai ciri utama. Hal itu
berarti perlu adanya suatu kebijakan tentang penataan ruang yang dapat memadukan berbagai
kebijakan pemanfaatan ruang. Seiring dengan maksud tersebut, pelaksanaan pembangunan yang
dilaksanakan, baik oleh Pemerintah, pemerintah daerah, maupun masyarakat, baik pada tingkat
pusat maupun pada tingkat daerah, harus dilakukan sesuai dengan rencana tata ruang yang telah
ditetapkan. Dengan demikian, pemanfaatan ruang oleh siapa pun tidak boleh bertentangan dengan
rencana tata ruang.

Sesuai dengan UU Nomor 26 Tahun 2007, kebijakan dan strategi penataan ruang,
merupakan landasan bagi pembangunan yang memanfaatkan ruang. Kebijakan dan strategi
penataan ruang wilayah dirumuskan dengan mempertimbangkan ilmu pengetahuan dan teknologi,
ketersediaan data dan informasi, serta pembiayaan pembangunan. Kebijakan dan strategi penataan
ruang, antara lain, dimaksudkan untuk meningkatkan daya saing wilayah dalam menghadapi
tantangan global, serta mewujudkan Wawasan Nusantara dan Ketahanan Nasional.

2.2.2 Peraturan Pemerintah No 26 Tahun 2007 Tentang RTRW Nasional


Dalam RTRWN tahun 2007, yang terkait langsung dengan arahan pengembangan di
Kabupaten Wonosobo salah satunya adalah Peningkatan kualitas jangkauan prasarana dan sarana
wilayah, Percepatan Perwujudan fungsi dan peran pusat kegiatan, dan pengembangan kota-kota
berbasis agroindustri dan pariwisata yang didukung langsung oleh pertanian berkelanjutan.
2.2.3 Peraturan Presiden No.28 Tahun 2012 Tentang Rencana Tata Ruang Jawa-Bali.
RTR Pulau Jawa - Bali berfungsi untuk memberikan dasar pencapaian keterpaduan,
keserasian dan keterkaitan ruang lintas wilayah provinsi dan lintas sektor sebagai suatu kesatuan
dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan ruang. RTR Pulau Jawa - Bali merupakan penjabaran
struktur dan pola ruang wilayah nasional ke dalam kebijakan dan strategi penataan ruang Pulau
Jawa – Bali.
RTR Pulau Jawa-Bali disusun berdasarkan kebijaksanaan berikut:
a. Mempertahankan Pulau Jawa-Bali sebagai lumbung pangan nasional melalui berbagai upaya
menetapkan dan mempertahankan kawasan produksi pangan;

Studio Perencanaan Wilayah Sektor Infrastruktur 1 - 4


b. Mempertahankan dan merehabilitasi kawasan lindung yang semakin terdesak oleh kegiatan
budidaya hingga mencapai luasan minimal 30% dari keseluruhan luas wilayah Pulau Jawa-Bali,
khususnya di Pulau Jawa bagian Selatan dan Pulau Bali bagian Tengah;
c. Mempertahankan sumber-sumber air dan merehabilitasi daerah resapan air untuk menjaga
ketersedian air sepanjang tahun
d. Mengendalikan pertumbuhan pusat-pusat permukiman perkotaan dan perdesaan yang
berpotensi mengganggu kawasan-kawasan yang rawan bencana serta mengancam keberadaan
kawasan lindung dan kawasan produksi pangan melalui pengendalian aspek kependudukan dan
kegiatan sosial-ekonominya;
e. Mengendalikan secara ketat pengembangan industri hingga ambang batas toleransi lingkungan
yang aman bagi keberlanjutan pembangunan;
f. Mendorong pusat-pusat permukiman perkotaan sebagai pusat pelayanan jasa koleksi dan
distribusi di Pulau Jawa-Bali;
g. Mengembangkan zona-zona pemanfaatan minyak dan gas untuk wilayah perairan laut dan/atau
lepas pantai;
h. Mempertahankan dan merehabilitasi kawasan cagar budaya.
Kebijakan yang tertuang dalam RTR Pulau Jawa antara lain meliputi :
a. Strategi pemanfaatan ruang Pulau Jawa yang berisi :
 Strategi pengembangan struktur ruang; dan
 Strategi pengelolaan pola ruang.
b. Strategi pengembangan struktur ruang mencakup:
 Strategi pengembangan sistem pusat permukiman;
 Strategi pengembangan sistem jaringan prasarana wilayah.
c. Strategi pengelolaan pola ruang mencakup:
 Strategi pengelolaan ruang kawasan lindung;
 Strategi pengelolaan ruang kawasan budidaya

2.2.4 Peraturan Daerah No 6 Tahun 2010 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi
Jawa Tengah
Penetapan Sistem Perwilayahan utamanya ditujukan sebagai arahan umum bagi para
pelaku pembangunan di Provinsi Jawa Tengah tentang keterkaitan fungsional kota-kota dan

Studio Perencanaan Wilayah Sektor Infrastruktur 1 - 5


hinterland yang ada di Jawa Tengah. Jadi, suatu satuan wilayah dapat dipandang sebagai suatu
subsistem kota-kota dan hinterland-nya dalam kesatuan sistem kota-kota dan hinterland lingkup
Jawa Tengah. Perencanaan sarana dan prasarana, misalnya, terutama yang terkait dengan
pelayanan lebih dari satu kabupaten/kota, akan memerlukan pertimbangan keterkaitan fungsional
pada tingkat sub sistem ini.

Menurut Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Tengah, rencana sistem perwilayahan di
Jawa Tengah adalah sebagai berikut.

 Purwomanggung; meliputi Kabupaten Purworejo, Kabupaten Wonosobo, Kabupaten


Magelang, Kota Magelang dan Kabupaten Temanggung, dengan fungsi pengembangan sebagai
Pusat Pelayanan Lokal dan Provinsi. Untuk skala provinsi, pengembangan fasilitas diarahkan
pada fasilitas perhubungan darat (Terminal Tipe A), kawasan industri dan pergudangan, jasa-
jasa keuangan (perbankan) dan simpul pariwisata.

Menurut Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Tengah, rencana struktur ruang wilayah
Provinsi Jawa Timur terdiri atas sistem pusat pelayanan dan sistem jaringan prasarana wilayah
Provinsi. Penjelasan lebih lanjut adalah sebagai berikut:

 PKN (Pusat Kegiatan Nasional), Kawasan perkotaan diklasifikasikan sebagai PKN memiliki
fungsi pelayanan dalam lingkup nasional atau melayani beberapa provinsi. Kawasan perkotaan
yang diarahkan untuk berfungsi sebagai PKN di Provinsi Jawa Tengah adalah kawasan
perkotaan Kendal, Demak, Ungaran, Semarang dan Purwodadi, Kawasan Perkotaan Surakarta
dan Cilacap.
 PKW (Pusat Kegiatan Wilayah), Kawasan perkotaan yang diklasifikasikan sebagai PKW
memiliki fungsi pelayanan dalam lingkup Provinsi atau beberapa kabupaten. Kawasan yang
diarahkan untuk berfungsi sebagai PKW diwilayah pesisir Provinsi Jawa Tengah adalah
Purwokerto, Kebumen, Wonosobo, Boyolali, Klaten, Cepu, Kudus, Kota Magelang, Kota
Salatiga, Kota Pekalongan dan Kota Tegal.
 PKL (Pusat Kegiatan Lokal), Kawasan perkotaan yang diklasifikasikan sebagai PKL
berfungsi sebagai pusat pelayanan pada lingkup lokal, yaitu skala kabupaten atau beberapa
kecamatan. Kawasan perkotaan yang diarahkan untuk berfungsi PKL di wilayah pesisir
Provinsi Jawa Timur yakni Kroya, Majenang, Wangon, Ajibarang, Banyumas, Purbalingga,

Studio Perencanaan Wilayah Sektor Infrastruktur 1 - 6


Bobotsari, Sokaraja, Banjarnegara, Klampok, Gombong, Karanganyar Kebumen, Prembun,
Kutoarjo, Purworejo, Mungkid, Muntilan, Mertoyudan, Borobudur, Secang, Ampel,
Sukoharjo, Kartasura, Wonogiri, Karanganyar, Sragen, Jaten, Delanggu, Prambanan,
Tawangmangu, Blora, Purwodadi, Gubug, Godong, Rembang, Pati, Juwana, Tayu, Jepara,
Pecangaan, Demak, Mranggen, Ungaran, Ambarawa, Temanggung, Parakan, Kendal, Boja,
Kaliwungu, Weleri, Sukorejo, Batang, Kajen, Wiradesa, Comal, Pemalang, Slawi-
Adiwerna, Ketanggungan-Kersana, Brebes dan Bumiayu.

2.2.5 RPJMD Jawa Tengah 2013-2018


Berdasarkan data BPS Tahun 2012 di dalam dokuman RPJMD Jawa Tengah, terdapat 15
kabupaten di Jawa Tengah dengan persentase penduduk miskin di atas rata-rata angka Jawa
Tengah dan nasional, yaitu Wonosobo, Kebumen, Rembang, Purbalingga, Brebes, Banyumas,
Pemalang, Banjarnegara, Demak, Sragen, Klaten, Purworejo, Grobogan, Cilacap dan Blora.
Berdasarkan hasil analisis Tipologi Klassen, diketahui bahwa masih cukup banyak kabupaten yang
berada pada kelompok relatif tertinggal (pertumbuhan ekonomi dan pendapatan perkapita di
bawah rata-rata) yaitu Kabupaten Kebumen, Purworejo, Wonosobo, Klaten, Blora, Rembang,
Demak, Temanggung, Batang, Pekalongan, Pemalang, Tegal, dan Brebes. Oleh karena itu perlu
adanya upaya lebih intensif untuk mengurangi kesenjangan antar wilayah dengan memprioritaskan
pembangunan pada wilayah-wilayah tertinggal tersebut.

Menurut Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Jawa Tengah, rencana sistem perwilayahan di
jawa tengah adalah sebagai berikut:

 Wilayah Purwomanggung meliputi Kabupaten Purworejo, Wonosobo, Magelang, Kota


Magelang dan Kabupaten Temanggung, berfungsi sebagai PKW dan PKL di bagian tengah
dan selatan Jawa Tengah, yang berbatasan dengan Daerah Istimewa Yogyakarta. Potensi
unggulan yang dapat dikembangkan adalah pertanian, pariwisata, pertambangan, industri,
perikanan, didukung oleh sektor perkebunan, dan peternakan. Simpul utama sebagai
penggerak ekonomi adalah Kota Magelang dan sekitarnya sebagai pusat kegiatan berskala
nasional, didukung oleh koridor perkotaan Magelang-Mungkid-Borobudur-Muntilan-Salam,
koridor perkotaan Purworejo-Kutoarjo, koridor perkotaan Temanggung-Parakan, Wonosobo,

Studio Perencanaan Wilayah Sektor Infrastruktur 1 - 7


Kertek, dan Wadas Lintang. Sedangkan potensi regional yang dimiliki wilayah
pengembangan Purwomanggung adalah:
(1) primer berupa pertambangan, pertanian, perkebunan, dan peternakan;
(2) sekunder berupa industri kayu dan pengolahan buah; dan
(3) tersier berupa pariwisata.
Potensi unggulan yang dimiliki dan dapat terus dikembangkan yaitu:
a. Kabupaten Purworejo: industri unggulan mebel, bambu, gula kelapa; Agropolitan Bagelen,
STA Krendetan di Kecamatan Bagelen, dengan komoditas unggulan kambing Etawa, buah-
buahan, padi; klaster gula kelapa, kambing Etawa Kaligesing, jagung; serta destinasi wisata
Gua Seplawan, Pantai Jatimalang dan Ketawang.
b. Kabupaten Wonosobo: industri unggulan gula kelapa, pupuk organik Agropolitan
Rojonoto, STA Sempol di Kecamatan Sukoharjo, dengan komoditas unggulan salak,
jagung, durian, kelapa dan kambing; klaster carica, wisata Desa Reco, domba; dan destinasi
wisata Dieng.
c. Kabupaten Magelang: industri unggulan batu pahat, karoseri; Agropolitan Merapi
Merbabu, STA Sewukan di Kecamatan Dukun, dengan komoditas unggulan cabai, tomat,
kobis, buncis perancis, jeruk manis, klengkeng, duku, jagung, ketela pohon, ketela rambat,
sapi, bunga potong, produk olahan, dendeng abon, kripik nangka, durian; klaster pariwisata
Borobudur, pahat batu, slondok, salak nglumut; serta destinasi wisata yaitu kawasan wisata
Candi Borobudur, Mendut, Pawon dan Ketep Pass.
d. Kota Magelang: industri unggulan makanan; klaster pengolahan makanan ringan,
kerajinan, batik, konveksi; dan destinasi wisata Taman Kyai Langgeng;
e. Kabupaten Temanggung: industri unggulan kopi, tenun; STA Soropadan, Agropolitan
Kota Tani Utama, STA Kranggan di Kecamatan Kranggan, dengan komoditas unggulan
kopi dan durian; klaster kopi, genteng dan batu bata, kerajinan tangan, makanan ringan,
batik; serta destinasi wisata Mata Air Jumprit dan Air Terjun Lawe.

Studio Perencanaan Wilayah Sektor Infrastruktur 1 - 8


2.2.6 RPJM Kabupaten Wonosobo Tahun2016-2021
STRATEGI DAN ARAH KEBIJAKAN
Strategi dan arah kebijakan pembangunan merupakan rumusan perencanaan
komprehensif berdasarkan arah kebijakan tahunan dalam mencapai tujuan dan sasaran dengan
efektif dan efisien. Untuk mewujudkan visi pembangunan jangka menengah Kabupaten
Wonosobo Tahun 2016-2021 yang dilaksanakan melalui 5 (lima) misi dan agar lebih terarah
dalam mencapai tujuan dan sasaran.

A. Strategi Umum
Dalam upaya mencapai misi RPJMD 2016-2021 sesuai tujuan dan sasran yang sudah
dijelaskan, maka Pemkab Wonosobo menetapkan strategi umum/dasar untuk mencapai visi misi
tujuan dan sasaran, sebagai berikut:
1. Strategi pertama adalah membangun sinergi dan kemitraaan antara pemerintah,
masyarakat, dunia usaha serta pemangku kepentingan lainnya. Ini didasari oleh fakta
keterbataan sumber daya finansial pemerintah di satu sisi, sedangkan di sisi lain kita
memilik potensi sumber daya alam yang harus dikelola bersama secara berkelanjutan.
Mengingat keterbatasan sumber daya pemerintah, maka strategi sinergi dan kemitraan
ini menjadi salah satu dasar dalam penyelenggaraan pemerintahan.
2. Strategi kedua adalah meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan yang responsif dan
adaptif, sebagai perwujudan konsep “negara hadir” dalam kehidupan bermasyarakat
berbangsa dan bernegara, dan memenuhi aspirasi masyarakat. Strategi ini salah satunya
bertujuan agar proses reformasi birokasi bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,
tidak sekedar merupakan kesibukan dan kebutuhan Pemerintah semata.
3. Strategi ketiga adalah pemantapan demokrasi, kesetaraan, serta perluasan akses dan
kapasitas bagi masyarakat untuk meningkatkan derajat dan perannya dalam
pembangunan. Rasionalitas strategi ini adalah apabila masyarakat meningkat
kapasitasnya, masyarakat bisa mejadi potensi pembangunan, bukan menjadi beban.
4. Strategi keempat adalah penyebaran pusat-pusat pertumbuhan tidak hanya di perkotaan
saja, tetapi juga dengan menciptakan pusat pertumbuhan kawasan perdesaan. Kawasan
ini akan mendekatkan layanan sosial ekonomi masyarakat sehingga pembangunan akan
menjadi efektif dan efisien, dan mengurangi biaya masyarakat maupun beban perkotaan.
5. Strategi kelima adalah tetap menjaga prinsip berkelanjutan dan berkesinambungan.
Prinsip ini menyangkut keberlanjutan sumber daya maupun meningkatkan derajat
penghidupan berkelanjutan (sustainable livelihood). Strategi ini sekaligus memperkuat
upaya pengentasan kemiskinan secara berkelanjutan, memastikan kelompok rentan akan
memiliki daya tahan dan kemampuan untuk mengentaskan dirinya dari kemiskinan.
Dengan strategi ini, upaya percepatan pembangunan untuk pengentasan kemiskinan
tidak akan merusak sumber daya alam yang tersedia, justru bisa memperkluat.

B. Strategi dan Arah Kebijakan


Untuk mencapai visi pembangunan Kabupaten Wonosobo 2016-2021, perlu ditetapkan stategi
dan arah kebijakan untuk merumuskan kebijakan pembangunan tahunan atau tahapan

Studio Perencanaan Wilayah Sektor Infrastruktur 1 - 9


pembangunan pertahunnya yang akan dilaksanakan selama lima tahun ke depan. Hal ini nantinya
akan memudahkan dan membantu dalam pembuatan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).

2.2.7 Peraturan Daerah No.2 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah
Kabupaten Wonosobo.
Ruang lingkup RTRW Kabupaten Wonosobo ini mencakup seluruh wilayah Kabupaten
Wonosobo yang meliputi ruang daratan, ruang udara, dan ruang dalam bumi menurut peraturan
perundang-undangan.
1. Rencana Struktur Ruang Wilayah
1) Rencana struktur ruang wilayah Daerah meliputi
a. Rencana sistem pusat kegiatan
b. Rencana sistem jaringan prasarana wilayah
2) Rencana struktur ruang digambarkan dalam peta dengan tingkat ketelitian 1:50.000
sebagaimana tercantum dalam Lampiran I merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari
Peraturan Daerah ini.
2. Rencana Sistem Pusat Kegiatan
Menurut RTRW Kabupaten Wonosobo 2011-2031 di kabupaten Wonosobo memiliki sistem
pusat kegiatan yang terdiri dari sistem perkotaan dan sistem perdesaan. Sistem perkotaan sendiri
terdiri dari 3 jenis sistem di dalam nya, yaitu:
a. PKW (Pusat Kegiatan Wilayah).
Kawasan perkotaan yang diklasifikasikan sebagai PKW memiliki fungsi pelayanan dalam
lingkup Provinsi atau beberapa kabupaten. Dengan fungsi utama pengembangan kawasan sebagai
pusat pemerintahan, pusat perdagangan dan jasa, pusat pendidikan, dan pusat kesehatan. Kawasan
yang di arahkan sebagai PKW pada Kabupaten Wonosobo berada di Kecamatan Wonosobo.
b. PKLp (Pusat Kegiatan Lokal Promosi).
Kawasan perkotaan yang diklasifikasikan sebagai PKLp memiliki fungsi utama
pengembangan kawasan sebagai Pemerintahan Kecamatan, Perdagangan dan Jasa, Pendidikan
Menengah, Jasa Pariwisata, Pertanian, Pelayanan Sosial dan ekonomi Skala Regional,
Pengembangan Pemukiman, Peruntukan Industri. Kawasan yang di arahkan sebagai PKLp pada
Kabupaten Wonosobo berada di Kecamatan Kertek dan Kecamatan Selomerto.

Studio Perencanaan Wilayah Sektor Infrastruktur 1 - 10


c. PPK (Pusat Pelayanan Kawasan).
Kawasan perkotaan yang diklasifikasikan sebagai PPK memiliki fungsi utama pengembangan
kawasan sebagai Pemerintahan Kecamatan, Pertanian, Pendidikan, Perternakan, Pariwisata,
Perkebunan, Jasa dan Pelayanan Sosial ekonomi skala kecamatan atau beberapa desa. Kawasan
yang di arahkan sebagai PKW pada Kabupaten Wonosobo berada di Kecamatan Mojotengah,
Kecamatan Kejajar, Kecamatan Sapuran. Sistem Perdesaan di Kabupaten Wonosobo berupa PPL
(Pusat Pelayanan Lokal) Kawasan perdesaan yang diklasifikasikan sebagai PPK memiliki fungsi
utama pengembangan kawasan sebagai Pemerintahan Kecamatan, Pusat Pemerintahan desa, Pusat
Pemukiman desa, Pertanian, Agropolitan, Jasa dan Pelayanan Sosial ekonomi skala antar desa,
Pendukung aktivitas Wisata. Kawasan yang di arahkan sebagai PPL pada Kabupaten Wonosobo
berada di Kecamatan Kepil, Kecamatan Kaliwiro, Kecamatan Wadaslintang, Kecamatan Leksono,
Kecamatan Kalikajar, Kecamatan Garung, Kecamatan Watumalang, Kecamatan Sukoharjo; dan
Kecamatan Kalibawang.
1) Rencana sistem pusat kegiatan meliputi:
a. Sistem Perkotaan
i) PKW meliputi di kecamatan Wonosobo dan mempunyai fungsi utama yaitu:
 Pusat pemerintahan
 Pusat perdagangan dan jasa
 Pusat pendidikan
 Pusat kesehatan
ii) PKLP meliputi kedua kecamatan yakni kecamatan Kertek dan Kecamatan Selomerto
serta mempunyai fungsi utama yaitu:
 Pemerintahan kecamatan
 Perdagangan dan jasa
 Pendidikan menengah
 Jasa pariwisata
 Pertanian
 Pelayanan sosial dan ekonomi skala regional
 Pengembangan permukiman
 Peruntukan industri.

Studio Perencanaan Wilayah Sektor Infrastruktur 1 - 11


iii) PPK meliptuti ketiga kecamatan yakni Kecamatan Mojotengah, Kecamatan Kejajar, dan
Kecamatan Sapuran serta mempunyai fungsi utama yaitu:
 pemerintahan kecamatan
 pertanian
 pendidikan
 peternakan
 pariwisata
 perkebunan
 jasa dan pelayanan sosial ekonomi skala kecamatan atau beberapa desa.
iv) Sistem perdesaan sebagaimana berupa pengembangan PPL
PPL meliputi di beberapa kecamatan yaitu:
 Kecamatan Kepil
 Kecamatan Kaliwiro
 Kecamatan Wadaslintang
 Kecamatan Leksono
 Kecamatan Kalikajar
 Kecamatan Garung
 Kecamatan Watumalang
 Kecamatan Sukoharjo
 Kecamatan Kalibawang
PPL mempunyai fungsi utama yaitu:
a. Pemerintahan kecamatan
b. Pusat pemerintahan desa
c. Pusat permukiman desa
d. Pertanian
e. Agropolitan
f. Jasa dan pelayanan sosial ekonomi skala antar desa
g. Pendukung aktivitas wisata
b. Operasionalisasi RTRW

Studio Perencanaan Wilayah Sektor Infrastruktur 1 - 12


Untuk operasionalisasi RTRW Kabupaten Wonosobo disusun Rencana Rinci Tata
Ruang berupa Rencana Detail Tata Ruang (RDTR). Penyusunan Rencana Detail Tata Ruang
(RDTR) Daerah meliputi:
1) Kecamatan Wonosobo
2) Kecamatan Kertek
3) Kecamatan Selomerto
4) Kecamatan Mojotengah
5) Kecamatan Kejajar
6) Kecamatan Sapuran
7) lbukota Kecamatan Kepil
8) lbukota Kecamatan Kaliwiro
9) lbukota Kecamatan Wadaslintang
10) Ibukota Kecamatan Leksono
11) Ibukota Kecamatan Kalikajar
12) lbukota Kecamatan Garung
13) Ibukota Kecamatan Watumalang
14) Ibukota Kecamatan Sukoharjo
15) lbukota Kecamatan Kalibawang
c. Sistem pusat permukiman perdesaan
Sebagaimana dimaksud pada dilakukan dengan membentuk pusat pelayanan perdesaan
secara hierarkhi.
 Sistem jaringan prasarana wilayah terdiri atas :
- Sistem jaringan prasaran utama
- Sistem jaringan prasarana lainnya.
 Sistem jaringan prasarana utama terdiri atas:
- Sistem jaringan transportasi darat
- Sistem jaringan transportasi laut.
 Sistem jaringan prasarana lainnya terdiri atas:
- Sistem jaringan energi
- Sistem jaringan telekomunikasi dan informatika
- Sistem jaringan sumber daya air

Studio Perencanaan Wilayah Sektor Infrastruktur 1 - 13


- Sistem jaringan prasarana lingkungan
 Sistem jaringan prasarana lainnya terdiri atas:
- Sistem jaringan energi
- Sistem jaringan telekomunikasi dan informatika
- Sistem jaringan sumber daya air
- Sistem jaringan prasarana lingkungan
3. Rencana Pola Ruang Wilayah
 Kawasan lindung sebagaimana terdiri atas :
Kawasan hutan lindung
Kawasan yang memberikan perlindungan terhadap kawasan bawahannya;
Kawasan perlindungan setempat;
Kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya;
Kawasan rawan bencana alam;
Kawasan lindung geologi;
 Kawasan budi daya terdiri atas:
Kawasan peruntukan hutan produksi;
Kawasan hutan rakyat;
Kawasan peruntukan pertanian;
Kawasan peruntukan perikanan;
Kawasan peruntukan pertambangan;
Kawasan peruntukan industri;
Kawasan peruntukan pariwisata;
Kawasan peruntukan permukiman; dan
Kawasan peruntukan lainnya.
 Kawasan Lindung
Arahan penetapan kawasan lindung bawahan yang ada pada rencana pola ruang Kabupaten
Wonosobo adalah sebagai berikut :
a. Penetapan kawasan lindung yang dikelola oleh masyarakat seluas kurang lebih 13.059 Ha,
meliputi kecaman garung, kalikajar, kejajar, kepil, mojo tengah, sapuran, sukaharjo dan
kecamatan watu malang.

Studio Perencanaan Wilayah Sektor Infrastruktur 1 - 14


b. Penetapan kawasan resapan air meliputi, kecamatan kejajar, mojotengah, watumalang,
wonosobo, garung, kertek kalikajar, sapuran, dan kecamatan kepil.
c. Penetapan kawasan sempadan sungai yang meliputi seluruh kecamatan yang dilewati sungai,
meliputi sub Daerah Aliran Sungai (DAS)tulis, DAS preng, DAS sanggaluwang, DAS beber,
DAS putih, DAS begaluh, DAS bogowonto, DAS kodil, DAS jurang, DAS mawar, DAS
medono dan DAS luk ulo.
 Kawasan suaka alam, pelestarian alam dan cagar budaya;
Kawasan suaka alam meliputi :
a. Kawasan cagar alam seluas kurang lebih 4 Ha berada di cagar alam pantodomas kecamatan
sapuran;
b. Kawasan seluas kurang lebih 40 Ha berada di kompleks taman wisata alam (TWA) telogo
warno/ telogo pengilon kecamatan kejajar;
c. Situs tuk bimalukan berada di desa bieng kecamatan kejajar.
d. Kawasan RTH perkotaan seluas kurang lebih 1.698 Ha atau 31% dari luas perkotaan daerah.
2.2.6 RPJMD Kabupaten Wonosobo

2.2.7 RKPD Kab. WONOSOBO Tahun 2018

2.3 Tinjauan Kebijakan Terkait Infrastruktur


2.3.6 Peraturan Pemerintah Pekerjaan Umum nomor 5 tahun 2015 Pedoman Umum
Impeletasi Kontruksi Berkelanjutan pada Penyelenggaraan Infrastruktur Bidang
Pekerjaan Umum dan Permukiman .

Infrastruktur Bidang Pekerjaan Umum dan Permukiman adalah fasilitas fisik untuk
mendukung kegiatan masyarakat dalam hal sumber daya air, jalan dan jembatan, bangunan
gedung, perumahan dan kawasan permukiman. Infrastruktur berkelanjutan adalah infrastruktur
bidang pekerjaan umum dan permukiman yang diselenggarakan dengan menggunakan
pendekatan konstruksi berkelanjutan. Penyelenggaraan infrastruktur adalah kegiatan yang
meliputi tahapan pemrograman, perencanaan teknis, pelaksanaan konstruksi, pemanfaatan serta
pembongkaran.

Studio Perencanaan Wilayah Sektor Infrastruktur 1 - 15


Tahap perencanaan teknis infrastruktur berkelanjutan meliputi beberapa kegiatan berikut:
1. Mengidentifikasi pihak yang berkepentingan, dan melibatkannya pada kegiatan
perencanaan teknis;
2. Jika perencanaan teknis dilakukan oleh penyedia jasa, proses pemilihan penyedia jasa
dilakukan berdasarkan kualitas penyedia jasa dengan kriteria seleksi yang
mempertimbangkan pengetahuan, keahlian, dan pengalaman yang bersangkutan dalam
perencanaan teknis infrastruktur berkelanjutan atau mengacu kepada proses pengadaan
berkelanjutan (sustainable procurement) yang berlaku;
3. Mengkomunikasikan kembali tujuan, lingkup, dan target penyelenggaraan infrastruktur
berkelanjutan kepada seluruh pihak yang terlibat dalam perencanaan teknis;
4. Menetapkan kriteria rancangan infrastruktur berkelanjutan dengan mengacu kepada
persyaratan teknis dan administratif terkait;
5. Memproses perencanaan teknis yang terintegrasi dengan semua pihak yang terlibat untuk
mencapai tujuan infrastruktur berkelanjutan;
6. Memastikan kualitas hasil perencanaan teknis dengan melakukan kaji ulang baik secara
internal tim maupun menggunakan pihak independen jika diperlukan; dan
7. menyiapkan laporan akhir tahap perencanaan teknis berupa laporan rencana teknis,
dokumen gambar, dokumen spesifikasi, dan perkiraan biaya siklus hidup penyelenggaraan
infrastruktur berkelanjutan.
2.3.2 Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2005 Kerjasama Pemerintah Dengan Badan Usaha
Dalam Penyediaan Infrastruktur

Penyediaan infrastruktur adalah kegitan yang meliputi pekerjaan kontruksi untuk


membangun atau meningkatkan kemampuan infrastruktur dan kegiatan pengelolaan
infrastruktur dan atau pemeliharaan infrastruktur dalam rangka meningkatkan kemanfaatn
infrastruktur .
Jenis infrastruktur yang dapar dikerjsamakan dengan Badan Usaha mencakup :
a. Infrastruktur transportasi meliputi pelabuhan laut, sungai atau danau, bandar udara,
jaringan rel dan stasiun kereta api.
b. Infrastruktur jalan, meliputi jalan tol dan jembatan tol.
c. Infrastruktur pengairan, meliputi sauran pembawa air bangku.
d. Infrastruktur air minum yang meliputi saluran pembawa air baku.

Studio Perencanaan Wilayah Sektor Infrastruktur 1 - 16


e. Infrastruktur air minum yang meliputi bangunan pengambilan air baku, jaringan tranmisi,
jaringan distribusi, intalasi pengolahan air minum.
f. Infrastruktur air limbah yang meliputi instalasi pengolah air limbah, jaringan pengumpul
dan jaringan utama dan sarana persampahan yang meliputi pengangkut dan tempat
pembuangan .
g. Infrastruktur telekomunikasi, meliputi jaringan telekomunikasi.
h. Infrastruktur ketenagalistrikan, meliputi pembangkit, transmisi atau distribusi tenaga listrik
dan ;
i. Infrastruktur minyak dan gas bumi meliputi pengolahan, penyimpanan, pengakutan,
tranmisi, atau distribusi minyak dan gas bumi.
Pengadaan Badan Usaha dalam penyediaan Infrastruktur berdasarkan izin pengusahaan
dilakukan melalui lelang izin (auction), Badan usaha dpat mengajukan prakarsa proyek
kerjasama penyediaan infrastruktur yang tidak termasuk dalam daftar prioritas proyek.
2.3.3 Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2015 Tata Cara Pelaksanaan Kerjasama
Pemerintah dengan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur.

Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha yang selanjutnya disebut KPBU adalah kerjasama
antara pemerintah dan badan usaha dalam penyediaan infrastruktur untuk kepentingan umum
dengan mengacu kepada spesifikasi yang. telah ditetapkan sebelumnya oleh penanggung jawab
proyek kerjasama, yang sebagian atau seluruhnya menggunakan sumber daya badan usaha dengan
memperhatikan pembagian risiko antara para pihak. Tata Cara Pelaksanaan KPBU yang
selanjutnya disebut Panduan Umum adalah pedoman mengenai tata cara pelaksanaan kerjasama
yang menjadi acuan bagi penanggung jawab proyek kerjasama dan pemangku kepentingan dalam
pelaksanaan KPBU berdasarkan perjanjian KPBU.
Tujuan ditetapkannya Panduan Umum ini adalah untuk:
1. Memberikan pedoman bagi Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah dalam penyusunan
panduan pelaksanaan KPBU sesuai dengan kewenangan masing-masing;
2. Memberikan pedoman bagi Menteri/Kepala Lembaga/Kepala Daerah untuk melaksanakan
KPBU dalam rangka mendorong partisipasi Badan Usaha dalam Penyediaan Infrastruktur;
3. Memberikan pedoman bagi Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, badan
usaha swasta yang berbentuk badan hukum Perseroan Terbatas, badan hukum asing dan
Koperasi dalam rangka pelaksanaan KPBU; dan 4. Memberikan informasi bagi pemangku

Studio Perencanaan Wilayah Sektor Infrastruktur 1 - 17


kepentingan lainnya, termasuk otoritas pemberi izin yang diperlukan dalam rangka
pelaksanaan KPBU
2.3.4 Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2014 Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas.

Infrastruktur prioritas adalah infrastruktur yang berdampak signitifikan terhadap


perekonomian baik ditingkat pusat maupun daerah, sehingga penyediaan infrastruktur prioritas.
Penyediaan infrastruktur prioritas adalah pekerjaan konstruksi untuk membangun atau
meningkatkan kemampuan infrastruktur prioritas, kegiatan pengelolaan inrastruktur dan/ atau
pemeliharaan infrastruktur prioritas dalam rangka meningkatkan kapasitas atau layanan
infrastruktur prioritas.
Pengaturan presiden ini bertujuan untuk :
a. Percepatan penyediaan infrastruktur prioritas secara efketif, efisien, tepat sasaran
dantepat waktu.
b. Penyelesaian hambatan- hambatan yang timbul dalam penyediaan infrastruktur prioritas
dan ;
c. Pencapaian target penyediaan infrastruktur prioritas melalui persiapan yang cermatdan
koordinasi yang efektif antar pemangku kepentingan.
Infrastruktur ditetapkan sebagai infrastruktur prioritas jika telah memenuhi kriteria yaitu
memiliki kesesuaian dengan rencana pembangunan jangka menengah nasioanl / daerah dan
rencana strategis sektor infrastruktur, memiliki peran strategis terhadap perekonomian,
kesejahteraan sosial, pertahanan dan keamanan nasional, dan keterkaitan anatar sektor
infratsruktur dan antar wilayah.

Studio Perencanaan Wilayah Sektor Infrastruktur 1 - 18