Anda di halaman 1dari 13

TUGAS KELOMPOK

ASPEK PSIKOSOSIAL dan BUDAYA di IGD

Dosen Pembimbing :

Dadang Sulaeman

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Disusun oleh :

1. Mimin Sumirah,AMK
2. Agus Ramdan, AMK
3. Ai Ifah Hanifah, AMK
4. Andang cahyadi,AMK
5. Arni Rahmania, AMK
6. Cucu Suryani,AMK
7. Dian Puspitasari,AMK
8. Elys Tety Sugiartiny,AMK
9. Eti Warsiti, AMK
10. Reni Noor Rachmini,AMK
11. Lina Meilina, AMK
12. Nurwulan Febrianty ,AMK
13. Wahyu, AMK

PROGRAM B KELAS KARYAWAN RSU SUMEDANG

PROGRAM STUDI ILMU KEPERWATAN STIKes SEBELAS APRIL SUMEDANG


BAB I

PENDAHULUAN

Aspek psikosososial dari sakit kritis merupakan suatu tantangan yang unik bagi perawat pada
keperawatan kritis. Perawat harus secara seimbang dalam memenuhi kebutuhan fisikdan
emosional dirinya maupun kliennya dalam suatu lingkungan yang dapat menimbulkan stres dan
dehumanis.Untuk mencapai keseimbangan ini perawat harus mempunyai pengetahuan tentang
bagaimana keperawatan kritis yang dialami mempengaruhi kesehatan psikososial pasien,
keluarga dan petugas kesehatn.Dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien yang
dirawat di IGD selalu mempertimbangkan aspek biologis,psikososial , sosiologis, spiritual, secara
komprehenshif. Hal ini berarti pasien yang di rawat di IGD membutuhkan asuhan keperawatan
tidak hanya masalah patofisiologi tetapi juga asalah psikososial,lingkungan dan keluarga yang
secara erat terkait dengan penyakit fisiknya.

Tujuan yang di dapat yaitu :

1. Mengetahui definisi psikososial


2. Memahami masalah psikososial pada pasien gawat darurat
3. Mengetahui intervensi psikososial pada keperawatan gawat darurat

Manfaat yang di dapat :

1. Bagi ilmu keperawatan hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran atau
informasi untuk di jadikan bahan dalam mengembangkan program pendidikan keperawatan
terhadap psikososial pada pasien gawat darurat.
2. Bagi perawat apat menambah wawasan perawat tentang pengetahuan tentang respon
psikososial pada pasien gawat darurat .

BAB II
KAJIAN TEORITIS

A. DEFINISI PSIKOSOSIAL dan BUDAYA


Psikososial adalah istilah yang di gunakan untuk menggambarkan hubungan antara kondisi
sosial seseorang dengan kesehatan mental/emosionalnya.
Psikososial istilah di gunakan untuk menekankan hubungan yang erat antara aspek
psikososial dari pengalaman manusia dan pengalaman sosial yang lebih luas .Efek psikososial
yang adalah mereka yang mempengaruhi berbagai tingkat fungsi termasuk kognitif ( persepsi
dan memori sebagai dasar untuk pengalaman dan pembelajaran),afektif ( emosi ) , dan
perilaku. Damppak sosial keprihatinan hubungan, keluarga, dan jaringan komunitas,tradisi
budaya dan status ekonomi termasuk tugas tugas kehidupan.
Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah
kelompok orang dan di wariskan dari generasi ke generasi .
Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh.Budaya bersifat kompleks abstrak dan luas
banyak aspek budaya turut menentukan prilaku komunikatif.
Psikologi lintas budaya adalah kajian mengenai persamaan dan perbedaan dalam fungsi
individu secara fsikologis dalam berbagai budaya dan kelompok etnik; mengenai hubungan
hubungan diantara budaya psikologis dan sosio budaya ekologis dan ubahan biologis serta
mengenai perubahan perubahan yang berlangsung dalam budaya tersebut .
Definisi ini mengarahkan perhatian pada dua hal pokok keragaman perilaku manusia di dunia
dan kaitan antar perilaku yang terjadi . definisi ini relatif sederhana dan memunculkan
banyak persoalan sejumlah definisi lain mengungkapkan beberapa segi baru dan
menekankan beberapa komplekssitas riset lintas budaya dalam psikologi adalah
perbandingan sistematik dan eksplisif antara variabel psikologis di bawah kondisi kondisi
perbedaan budaya dengan maksud mengkhususkan antesede-anteseden dan proses proses
yang memperantarai kemunculan perbedaan perilaku.

BAB III
MASALAH PSIKOSOSIAL

Masalah yang timbul pada aspek psikososial dan budaya di IGD :


1. Gangguan Citra Tubuh
Citra tubuh adalah sikap, persepsi keyakinan dan pengetahuan individu secara sadar atau
tidak sadar terhadap tubuhnya yaitu ukuran,bentuk struktur, fungsi keterbatasan, serta
makna dan objek yang kontak secara terus menerus.
Tanda dan gejala:
a. Menolak melihat dan menyentuh bagian tubuh yang berubah.
b. Tidak menerima perubahan tubuh yang telah terjadi atau akan terjadi.
c. Menolak penjelasan perubahan tubuh.
d. Persepsi negatif pada tubuh.
e. Preokupasi dengan bagian tubuh yang hilang
f. Mengungkapkan keputus asaan
g. Mengungkapakan ketakutan
2. Kecemasan (ansietas )
Ansietas adalah suatu perasaan tidak santai yang samar samar karena ketidak nyamanan
atau rasa takut yang disertai suatu respon ( sumber sering kali tidak spesifik atau tidak
tiketahui oleh individu ) : suatu perasaan takut akan terjadi sesuatu yang di sebabakan
oleh antisipasi bahaya. Hal ini merupakan sinyal yang menyadarkan bahwa peringatan
tentang bahaya yang akan datang dan memperkuat individu dengan mengambil tindakan
menghadapi ancaman.
a. Faktor Resiko
1. Kurang kontrol atas peristiwa yang terjadi
2. Ancaman terhadap kontrol diri
3. Ancaman sakit atu penyakit
4. Ancaman lingkungan rumah sakit
5. Terpisah dari orang lain
6. Perubahan peran
7. Gangguan sensorimotor
8. Masalah finansial
9. Ancaman kematian
10. Percerain
11. Pengangguran
12. Pension yang dipaksakan
13. Ancaman prosedur invasive atau alat pendukung
14. Krisis situasi atau maturase
15. Kehilangan status
16. Tatanan lingkungan yang tidak dikenal
17. Ketidakmampuan untuk memahami konsekuensi sakit
18. Hambatan dalam mencapai tujuan
19. Ketrgantungan
20. Kurang pengetahuan
21. Kehilangan kekuasaan dalam mengambil keputusan
b. Tanda dan gejala
1.palpitasi
2. mual
3. peningkatan frekuensi pernafasan
4.peningkatan frekuensi jantung
5. diaphoresis
6. ketegangan otot
7.vertigo
8. peningkatan tekanan darah
9. tremor tangan
10. peningkatan keringat pada telapak tangan
11.peningkatan aktivitas gastrointestinal
12. insomnia
13.sering brkemih dilatasi pupil
14. Flushing
15. Pingsan
16. Mulut kering
17.paresthesia
18.Muntah
19.Dilatasi bronkiolus
20.Kelemahan

2. kemarahan

Kemarahan adalah pertahanan emosional yang terjadi dalam upaya untuk melindungi integritas
individu dan tindakan melibatkan unsur destruktif. Kemarahan adalah respon otomatis yang relative
terjadi ketika individu terancam dan kemarahan dapat di internalisasi atau dieksternalisasi.

a. Faktor Resiko
Ekspresi kemarahan di hambat internalisasi persepsi ancaman yang meliputi :
1. Tujuan terhambat
2. Kegagalan individu untuk memmenuhi harapan pasien
3. Kekecewaan
4. Meningkatnya konsep diri
5. Sakit dirasakan mengancam jiwa
6. Ketergantungan fisik
7. Perbuhan integritas social
b. Tanda dan gejala
1. Peningkatan tekanan darh
2. Peningkatan denyut nadi
3. Ketegangan otot
4. Perspirsai
5. Kulit kemerahan
6. Mual
7. Mulut kering

3.konvusi

Konfusi ( kebingungan ) adalah deficit perhatian.konfusi juga menggambungkan kemampuan individu


mengintegrasikan stimulus yang akan terjadi.

a. Faktor Resiko
1. Gangguan medis
a. Hipoksia
b. Penyakit paru
c. Gagal jantung kongestif
d. Ketidakseimbangan cairan dan elektrolit
e. Gangguan tiroid, paratiroid, dan kelenjar adrenal
f. Devisiense vitamin B
g. Alkoholisme
h. Malnutrisi
i. Infeksi seperti pneumonia,septicemia,meningitis atau encefalitis
j. Distitmia
2. Gangguan pembedahan
a. Anasthesia
b. Obat nyeri
c. Hipotermia
d. Ansietas pasca oprasi
e. Agitasi
f. Depresi
3. Gangguan Intolsikasi
a. Intoksikasi atau putus alkohol
b. Intoksikasi atu puus apioid
c. Antiokonilergik
d. Stimulant
e. Sedative
f. Vasopressor
g. Steroid
4. Gangguan neurologis
a. Penyakit neurologis
b. Kejang
c. Trauma kepala
d. Anoksia serebral
e. Ensefalopati hipertensi
f. Neoplasama intrakranial
5. Gangguan sensori persepsi
a. Imobilisasi atau tirah baring lama
b. Gangguan penglihatan atau pendengaran saat ini
c. Amputasi
d. Balutan atau fraktur
e. Nyeri yang tidak berkurang
f. Kelebihan beban sensor
g. Deprivasi tidur
b. Tanda dan gejala
1. Inkontenensia
2. Disritmia
3. Peningkatan frekuensi jantung
4. Peningkatan frekuensi pernafasan
5. Kulit lembab

5.DEPRESI

Depresi adalah penurunana performa normal, seperti kelambatan aktifitas psikomotor atau
penurunan fungsi intelektual. Depresi mencakup rentang luas perubahan status apektif yang
keparahan nya berkisar dari alam persaan sedih atau murung yang normal dan terjadi setiap hari
sampai episode psikotik dengan resiko bunuh diri.

A. Faktor Resiko
1. Penyakit
a. Penyakit akkut yang mengancam jiwa
b. Penyakit kronis atau tahp akhir
2. Obat obatan
a. Tranquilizer
b. Antihiperttensi
c. Kortikosteroid
3. Ketidakseimbangan elektrolit
a. Kelebihan bicarbonat
b. hiperkalaesmia
c. Hypomagnesimia
d. Hyperkalemia
e. Hypokalemia
f. Hyponatremia
4. Kehilangan
a. Masalah financial
b. Kehilangan kontrol
c. Sparasiatau kehilangan orang terdekat
d. Kehilangan fungsi tubuh
e. Perasaan tidak berdaya atau mersa bersalah
f. Perubahan peran atu gaya hidup
B. Tanda dan gejala
1. Konsifasi
2. Diare
3. Sakit kepala
4. Dyspepsi
5. Insomnia
6. Perubahan menstruasi
7. Nyeri otot
8. Mual
9. Takikardi
10. Ulkus
11. Penurunan atau penambahan berat badan
12. Anorexia

6.KEPUTUSASAAN

Kepuutusasaan adalah keadaan emosional ketika individu mempeerhatkan perasaan tidak mungkin
dan perasan bahwa hidup terlalu banyak untuk ditangani, keputusasaan merupakan kedaaan
subjektif ketika individu melihat alternativ yang terbatas atau tidak ada alteernative atau pilihan
personal yang terssedia atu tidak mampu mempengaruhi energy untuk kepentingan nya sendiri.

A. Faktor resiko
1. Ancaman terhadap sumber intternal
a. Otonomi
b. Harga diri
c. Kemandirian
d. Kekuatan
e. Integritas
f. Keamanan biologis
2. Ancaman terhadap persepsi tentang sumber eksternal
a. Ligkungan
b. Staf
c. Keluarga
d. Pengabaian
e. Kegagalan atau deteriorasi
f. Stres jangka panjang
B. Tanda dan gejala
1. Penurunan berat badan
2. Kehilanagan nafsu makan
3. Kelemahan
4. Gangguan tidur

7.KETIDAKBERDAYAAN

Ketidakberdayaan adalah perasaan kurang kendali pada situasi fisiologis,psikologis, dan situasi
lingkunngan saat ini dan yang akan datang.

A. Faktor resiko
1. Kehilangan sensorimotor
2. Ketidakmampuan berkomunitas
3. Ketidakmampuan untuk melaksanakan peran
4. Kurang pengetahuan
5. Kurang privasi
6. Isolasi social
7. Ketidakmampuan untuk mengendalikan perawatn personal
8. Terpisah dari orang terdsekat
9. Kehilangan kendalin terhadap orang lain
10. Kurang kendali dalm mengambil keputusan
11. Ketakutan terhadap nyeri
B. Tanda dan gejala
1. Kelelahan
2. Keletihan
3. Pusing
4. Sakit kepala

8.DEPRIVASI

Deprivasi adalah tidak adekuatnya waktu tidur atau waktu bermimpi yang berhubungan dengan pola
tidur sebelumnya atau pola tidur yang tidak lazim, kuantitas atau kualitas actual perubahan pola
tidur individu menyebabkan perubahan gaya hidup yang di inginkan.

A. Faktor resiko
1. Suara gaduh yang berlebihan
2. Nyeri
3. Penyakit
4. Ansietas
5. Pengobatan
6. Kurang olahraga
7. Depresi
8. Kekuatan terhadap kematian
9. Strres
10. Kesepian dibangunkan untuk terapi dan prosedur diagnostic
B. Tanda dan gejaa
1. Perilaku
2. Pengaturan tidur
3. Penurunan tekanan darah
4. Penurunan frrekuensi jantung
5. Penurunan volume urina
6. Penurunan volume plasma
7. Penurunana laju metabolisme perilaku pengaturan tidur
8. Peningkatan prekuensi pernafasan
9. Peningkatan aktifitas otonom
10. Peningkatan aktivitas metabolik

BAB IV

INTERVENSI KEPERAWATAN DALAM MASALAH PSIKOSOSIAL

DI KEGAWATDARURATAN

Intervensi keperawatan dalam masalah psikososial di kegawatdaruratan antara lain :

1. ANSIETAS
Intervensi psikososial pada pasien ansietas :
a. Bina hubungan interpersonal dengan pasien
b. Berikan informasi tentang situasi yang mengancam atau yang menyebabkan stress
termasuk prosedur invasive dan sensasi yang mungkin di perkirakan
c. Gunakan istilah sederhana dan repetisi untuk memmberikan informasi tentang penyakit
saat ini, tujuan intervensi dan perubahan perawatan
d. Dorong pasien untuk mengakui dan menyatakan ketakutan mereka, klarifikasi reaksi
pasien terhadap ansietas
e. Minimalkan stimulus yang menyebabkan ansietas di lingkungan dan dorong penggunaan
relaksasi otot progresif biofeedback,hipnosis,relaksasi autogenic,meditasi,atau imajinasi
f. Gunakan sentuhan therapeutikuntuk menenangkanpasiensebelum dan selama situasi
stres yang dirasakan.
g. Bantu pasien menetapkam tujuan, dengan mengetahui bahwa sedikit penetapan dapat
meningkatkan perasaan mandiri dan harga diri serta ,emungkinkan pasien untuk
mencapai derajat kontrol.
h. Berikan umpan balik positifkepda pasien ketika strategi koping alternativ digunakan
untuk menghilangkan perasaan ansietas
i. Diskusikan rencana pemindahan dari unit perawtan intensive dengan pasien agar pasien
tetap menyadari kemajuan nya dan pemindahan nya yang akan dilakukan
j. Berikan agenes anti ansietas dan pantau respon pasien, dengan memperhatikan efek
samping potensial
2. Kemarahan
Intervensi psikososial pada pasien kemarahan :
a. Bina hubungan interpersoanal yang menenangkan dan dorongan pasien untuk mengakui
dan mengekspresikan rasa marah
b. Bantu pasien dalam mengidentifikasi situasi yang menyebabkan ekpresi marah
c. Gali alasan pasien mengalami perasaan marah dan perilaku yang dapat berubah
d. Ajarkan pasien untuk mengevaluasi perasaan yang menimbulkan internalisasi atau
eksternalisasi kemarahan
e. Dorong keluarga untuk menerima perilaku pasien tanpa menghakimi
f. Dorong pasien untuk ikut serta dalam pengambilan keputusan dan perwatan diri.
g. Berikan aktifitas pengalihan sebagi cara untuk mengulangi stres
h. Ajarkan pasien untuk menggunakan tekhnik relaksasi posesif,meditasi atau
imajinasiterbimbing guna mengurangi perasaan marah dan permusuhan
i. Bantu pasien dalam mengidentifikasiaspek positif dari penyakit atau cedera dan bantu
pasien dalam menggunakan strategi koping alternatif
3. Konfusi
Intervensi psikososial pada pasien konvusi :
a. Anjurkan pertanyaan yang mendorong jawaban yang menggambarkan persepsi realitas
b. Lindunginpasien dari cedera pada saat pasien mengalami konvusi
c. Identifikasi situasi atau faktor yang menyebabkan konvusi
d. Dengarkan pertanyaan konvusi pasien dan bantu dengan orientasi realitas
e. Dengarkan kehawatiran, ketakutan, ansietas keluarga
f. Kurangi kebutuhan untuk fungsi kognitif ketika pasien sakit atau letih
g. Tenangkan pasien bahwa konvusi itu bersifat sementara
h. Kenali pengalaman baru secara bertahap
i. Orientasikan kembali kepada pasien pada setiap interaksi
j. Evaluasi frekuensi konvusi
k. Orientasikan pasien terhadap waktu, temp[at dan orang
l. Akui konvusi dan waham pasien sehingga konvusi dan waham tersebut dapat dia
jelaskan secara realistis dengan cara yang aman
m. Ajarkan pasien tentang semua prosedur tepat sebelum prosedur tersebut dilakukan.
4. Depresi
Intervensi psikososial pada pasien depresi :
a. Bantu pasien dalam mengidentifikasi situasi yang menyebabkanperasaan depresi
b. Dorong pasien untuk membahas penyakit, therapi, atau prognosis
c. Bantu pasien dalam mencapai pandangan positif tentang diri sendiri dengan
memfasilitasi persepsi yang akurat tentang sakit, penyakit, atau cedera
d. Bantu pasien dalam menetapkan tujuan yang realistis, dengan mengetahui bahwa sedikit
pencapai dalam meningkatkan perasan positif tentang masa depan
e. Dorong pasien untuk berpartisipasi dalam perawatan diri dan mengambil kontrol
pembuatan keputusan dalam keperawatan
f. Bantu pasien dalam memfasilitasi penilaian realistis tentang perubahan peran
g. Berikan ruang persoanl kepada pasien dalam lingkungan teknis
h. Berikan umpan balik positif kepada pasien ketika pasien menyelesaikan tugas spesifik
i. Berikan agens antidepresi dan pantau respon pasien, dengan memperhatikan efek
samping potensial
5. Keputusasaan
Intervensi psikososial pada pasien keputusasaan :
a. Beriakn suasana harapan realistis
b. Informasikan pasien mengenai perkembangan sakit,penyakit dan cedera
c. Ajarkan pasien mengenai cara mengidentifikasi perasan putus asa dan dorong pasien
untuk menerim a bantuan dari orang lain
d. Dorong pasien untuk mengungkapkan perasaan tentang diri sendiri dan penyakit dengan
mendengar aktif dan mengajukan pertanyaan terbuka
e. Evaluasi apakah ketidaknyamanan fisik menyebabkan perasaan putusasaan pasien
f. Ciptakan lingkungan untuk memfasilitasi partisipasi aktif dalam perawatan diri
g. Dorong pasien untuk melakukan aktifitas fisik yang memberikan perasan maju dan
harapan kepada pasien
h. Berikan umpan balik positif kepada pasien atas upaya yang berhasil terlibat dalam
perawatan diri
i. Bantu pasien dalam mengidentifikasi dan menggunakan mekanisme koping alternative
6. Ketidakberdayaan
Intervensi psikososial pada pasien ketidakberdayaan :
a. Sediakan anggota perawatan kesehatan yang konsisten untuk memberikan perwatan dan
informasi mengenai penyakit, therapi, dan prognosis
b. Dorong pasien untuk mengungkapkan perasan tentang diri sendiri dan penyakit serta
situasi ketika keberdayaan dirasakan
c. Teriman persaan marah pasien yang disebabkan hilngnya kendali dan berikan berikan
kesempatan untukmelakukan pengendalain
d. Dorong penggunaan tekhnik relaksasi progresif, meditasi, dan imajinasi terbimbing untuk
mengucapakan perasan menerima atau mengendalikan
e. Dorong pasien untuk mengajukan pertanyaan, mencari informasi, dan berpartisipasi
dalam mengambil keputusan yang berhubungan dengan perawatan diri
f. Ajarkan pasien tentang cara menerima penyakit dan perubahan potensial gaya hidup
g. Dengarkan diskusi pasien mengenai kemungkinan perubahan peran dan masalah
finansial serta bantu pasin dalam menjelaskan kembali situasi penyakit untuk
mengidentifikasi aspek positif.
h. Ajarkan pasien tentang cara mendokumentasikan kemajuan dengan tetap membuat
catatn harian.
7. Deprivasi tidur
Intervensi psikososial pada pasien deprivasi tidur :
a. Evaluasi frekuensi dan lamanya tidur
b. Ikuti riyual watu tidur pasien
c. Hilangkan stimulus luar seperticahaya aktifitas yang tidak perlu. Suara gaduh dan
pembicaraan staf,jika realistis.
d. Atur posis pasien sehingga ia merasa nyaman
e. Berikan sentuhan yang bermakna dengan gosokan pada punggung.
f. Berikan penutup telinga untuk menghilangkan stimulus lingkungan luar jika perlu
BAB V

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Pasian pasien yang dirawat diruang IGD adalah pasien pasien yang sedang mengalami
keadaan kritis. Keadaan kritis merupakan suatu keadaan penyakit kritis yang mana pasien
sangat beresikountuk meninggal. Pada keadan kritis ini pasien mengalami masalah
psikososial yang cukup serius dan karenanya perlu perhatian dan penanganan yang serius
pula dari perawat dan tenaga kesehatan lain yang merawatnya.Dalam memberikan asuhan
keperawatan pada pasien kritis ini, perawat harus menujukan sikap profesional dan tulus
dengan pendekatan yang baik serta berkomunikasi yang efektif kepada pasien.
B. SARAN

Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kat sempurna, kedepan nya penulis akan
lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di atas dengan sumber sumber
yang lebih banyak yang dapat dipertanggungjawabkan.

Semoga makalh ini bermanfaat untuk semua kalangan terutama bagi kami sendiri
sebagai penulis dari makalah ini. Dan diharapkan dengan adanya makalah ini rekan
mahasiswa perawat lebih memahami tentang Aspek psikososial dan budaya di IGD serta
untuk lebih menambah wawasan mahasiswa sehingga bermanfaat di masa yang akan
datang.

I
BAB VI

DAFTAR PUSTAKA

1. Johal,sarb.2009, Foundation of psychosocial Support in Emergency Management.New


zealand : newzealandgo vt.nz
https://www.healt.govt.nz/system/file/dokuments/pages/foundations-of-psychosocial-
disaster-handbook.pdf
2. ARC resource pack.2009.foundation module 7: psychosocial support. www.Arc-online.org
www.unchcr.org/4c98a5169.pdf
3. Fitria, N. Dkk.2013. laporan pendahuluantentang masalh Psikososial. Jakarta :Salemba
Medika.
4. Stillwell,susan b.2011.pedoman keperawatan kritis. Edisi 3.Egc : Jakarta