Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH TAHSIN

NUN SUKUN

Disusun oleh

MUHAMMAD MASLUHA

WICITRA GARDA

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SULTAN SYARIF KASIM RIAU

2018/2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatNYA sehingga makalah ini
dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan banyak terimakasih atas bantuan
dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para
pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar
menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih banyak
kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan saran dan kritik yang
membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Pekanbaru, November 2018

Penyusun

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tajwid secara bahasa adalah membaguskan, sedangkan menurut istilah adalah


mengeluarkan setiap huruf dari tempat keluarnya dengan memberikan hak danmustahaknya.
Yang dimaksud dengan hak huruf adalah sifat asli yang selalu bersamanya seperti sifat al-jahr,
isti’la, istif’al, dan sebagainya. Adapun yang dimaksud dengan mustahak huruf adalah sifat yang
tampak sewaktu-waktu, seperti tafkhim, tarqiq, ikhfa, iqlab, dan sebagainya.

Para ulama telah menyusun ilmu tajwid, serta menyusun pokok-pokoknya dan menyimpulkan
hukum-hukumnya dari tata cara membaca yang diwariskan oleh Nabi Muhammad saw, para
sahabatnya dan para tabi’in. Tujuan mempelajari ilmu tajwid adalah menjaga lisan dari kesalahan
tatkala membaca al-Quran. Oleh karena itu, hukum dan aturan-aturan dalam membaca al-Quran
adalah fardhu ‘ain bagi setiap mukallaf. Panduan ringkas hukum-hukum tajwid ini akan dimulai
dengan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan para ulama tajwid yaitu
hukum isti’azah dan basmalah.

Hukum membaca Alquran sesuai dengan kaidah ilmu tajwid adalah fardhu 'ain. Jadi,
mungkin saja terjadi seorang Qori' bacaannya bagus dan benar, namun sama sekali ia tidak
mengetahui istilah-istilah ilmu Tajwid semisal izh-har, mad dan lain sebagainya. Baginya hal itu
sudah cukup bila kaum muslimin yang lain telah banyak yang mempelajari teori ilmu Tajwid,
karena -sekali lagi- mempelajari teorinya hanya fardhu kifayah. Akan lain halnya dengan orang
yang tidak mampu membaca Alquran sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu Tajwid. Menjadi wajib
baginya untuk berusaha membaguskan bacaannya sehingga mencapai standar yang telah
ditetapkan oleh Rasulullah SAW. Ilmu Tajwid adalah ilmu yang sangat mulia. Hal ini karena
keterkaitannya secara langsung dengan Alquran. Bahkan dalam dunia ilmu hadits, seorang alim
tidak akan mengajarkan hadits kepada muridnya sehingga ia sudah menguasai ilmu Alquran.
Tujuan mempelajari ilmu tajwid adalah untuk menjaga lidah agar terhindar dari kesalahan dalam
membaca Alquran.

3
BAB II

HUKUM NUN MATI DAN TANWIN

A. Pengertian Nun Mati

Nun mati ialah huruf n n yang tidak berbaris seperti ِِّّ‫ن‬ ِِّ ِ‫ م‬dan ‫ِن‬
ِِّ ‫ع‬tanwin ialah baris ganda
baik atas sepertiِِّّ ًِّ (fathatain), bawah seperti ًِّ(kasrotain), dan dhommahًِِّّ(dhommatain).

Tanwin dipersamakan hukumnya dengann n mati karena kedua-duanya dalam pelafalannya


terdengar bunyi yang sama.[1]

B. Pembagian Nun Mati dan Tanwin

Dalam membaca Al-quran kita akan mendapatkan n n mati atau tanwin yang ada dalam
setiap ayat. Pengucapan n n mati atau tanwinada yang harus jelas, ada yang harus samar,
ada yang harus lebur sehingga n n mati atau tanwin tersebut tidak tampak, dan ada
pula yang berubah menjadi mim. Secara umum, n n mati (ْ‫ )ن‬dan tanw mempunyai
empat hukum bacaan yaitu: izh r,adgh m, iql b, dan ikhf ’. Namun secara lebih rinci,
hukum bacaannya dibagi menjadi lima yakni: izh r halqi ,idgh m bigunnah , idgh m
bila gunn h, iql b, dan ikhf ’ haqiqi Untuk itu mari kita bahas satu persatu hukum-
hukum tersebut.[2]

1. izh r halqi (‫)ﺇظهرِّحلقي‬

Secara bahasa izh r artinya terang dan jelas dan halqi bearti tenggorokan. Sedangkan
menurut ilmu tajwid adalah pembacaan nun mati atau tanwin sesuai dengan makhrojnya
tanpa dighunnahkan (dengung) apabila bertemu dengan salah satu
huruf halqiyah(tenggorokan). Huruf-hurufnya adalah: ِّ‫غ‬-‫ع‬-‫خ‬-‫ح‬-‫ه‬-‫ ء‬cara membacanya juga
dengan terang dan jelas karena bertemu dengan huruf halqi, dan karena makhrojnya atau
tempat keluar suaranya dari mulut, ada pada kerongkongan atau tenggorokan. Sebagai
contoh bacaan dapat dilihat pada table berikut ini:

Nun mati Tanwin Izhar dalam dua kata

َْ‫يَنأَون‬ ْ‫عي ٍن َءانِ َي ٍة‬


َ َْ‫َمنِّْ َءاِّ َمن‬

َْ‫َين َهون‬ ‫فَ ِريقًا َه َدى‬ ْ‫ِمنِّْهَا ٍد‬


َْ‫أَنعَمت‬ َ ‫فيِّْ َجنَّ ٍة‬
ْ‫عا ِل َي ٍة‬ ِْ ْ‫ِمنِّْ ِعل ٍم‬

ِّ‫يَ ْن ِحت ُ ْو َن‬ ِّ‫ع ِليْمِّ َح ِكيْم‬


َ َ ‫ِم ْنِّ َح‬
ِّ‫سنَة‬

4
2. idghom

secara bahasa idghom bearti memasukkan atau men-tasydid-kan, sedangkan


menurut istilahidghom adalah membaca dua huruf jadi satu karena huruf yang pertama
dimasukkan pada huruf yang kedua, sehingga seperti tasydid. Atau pengucapan dua huruf
seperti dua huruf yang ditasydidkan. Idghom terbagi menjadi dua macam, yaitu idghom
bigunnahdan idghom bila ghunnah.

a. idghom bigunnah yaitu apabila adan nun mati atau tanwin bertemu dengan salah
satu dari pada hurufnya yaitu : ‫و‬-‫م‬-‫ن‬-‫ ى‬maka hukum bacaannya disebut idghom
bigunnahcara membacanya harus dimasukkan atau ditasydidkan kedalam salah satu
huruf yang empat itu dengan suara mendengung. Karena bighunnah sendiri artinya
dengan dengung.Idghom ighunnah juga dinamakan idghom naqishkarena nun mati dan
tawin lebur kedalam empat hurufidghom kecuali yang masih tetap adalah sifatnya yaitu
dengung sepanjang dua harakat. Sebagai contoh dapat dilihat pada table berikut:

Huruf idghom tanwin Nun mati


bighunnah
‫ي‬ ُ‫َخيْرا َي َر ِّه‬ َ ‫أ َ ْنِّ َيض ِْر‬
ِّ‫ب‬
‫ن‬ ِّ‫يَ ْو َمئِذِّنَّا ِع َمة‬ َ ‫فَ َم ْنِّنَّ َك‬
ِّ‫ث‬
‫م‬ َ ‫ش ُرر َّم ْرفُ ْو‬
ِّ‫عة‬ ُ ِّ‫َم ْنِّ َّم ْش َهد‬
‫و‬ ِّ‫ِّو ََلن َْوم‬
َ ‫ِسنَة‬ ِ‫ي‬ َ ‫َم ْن‬
ِّ ‫ِّوِّ ِل‬
Akan tetapi ketentuan hukum tersebut tidak berlaku apabia nun mati atau tanwin
bertemu salah satu huruf yang empat tersebut dalam satu perkataan maka bukanlah
bacaan idghom namanya dan tidak pula ditasydidkan akan tetapai harus dibaca terang
dan jelas atau izhar disebut juga dengan izhar mutlaq(wajib). Misalnya:

b. Idghom Bila Ghunnah yaitu apabila nun mati dan tanwin bertemu dengan salah
satu huruf Idghom Bila Ghunnah yaitu: ‫ل‬-‫ ر‬dan cara membacanya dengan membaca
dua huruf jadi satu yang kedua dengan tasydid dan tidak dibarengi dengung. Sebagai
contoh :

Huruf idghom tanwin Nun mati


bighunnah
‫ر‬ ‫َماَللُّ َبدَا‬ ِّ‫َم ْنِّلَ ْم‬
‫ل‬ ِّ‫غفُ ْو ُر َّر ِحيْم‬
َ ِّ‫ِم ْن َّر ِحيْق‬

5
3. Iqlab

Iqlab, secara bahasa artinya merubah. Sedangkan menurut istilah adalah pengucapan nun
mati atau tanwin yang bertemu dengan huruf ba' yang berubah menjadi mim dan disertai
dengan ghunnah -sebagian Ulama' menambahkan ikhfa', yakni suara mim tidak terdengar
sempurna karena dua bibir tidak merapat dengan sempurna). Seperti yang dikatakan lmam
Al Jamzuri,

ِّ‫بِّ ِع ْند َ ْا َلبا ِءِّ◊ِّ ِميماِّب ِ ُغ َّنةِّ َم َعِّ ْا ِإل ْخ َفا ِء‬ ُ ‫َوا َّلثا‬
ُ ‫ِلثِّا ِإل ْق ََل‬
"Hukum yang ketiga (dari num mati dan tanwin) adalah Iqlab, yaitu apabila nun mati atau
tanwin bertemu dengan ba', maka berubah menjadi mim yang disertai ghunnah dan
ikhfa." [4]

Bentuk bacaan iqlab yakni :

a. Membalikan nun mati atau tanwin menjadi mim ketika huruf ba’ bertemu
dengan mim mati dalam satu kata, contoh: ‫أ َ ْنبَتْ ُه ِّْم‬

b. Menyamarkan bacaan mim pada huruf ba’ apabila dalam dua kata, contoh ِّ‫ِم ْن‬
ِّ‫بَ ْع ِد‬
c. Membaca dengung disertai dengan menyamarkan (ikhfa’) apabila terdapat
setelah tanwin dan mesti terjadi pada dua kata, contoh‫ْر‬
َِّ ‫صي‬
ِ َ‫س ِميْعِّب‬
َ [5]
Adapaun sebabnya ada istilah iqlab ini karena bacaan nun mati dan tanwin akan lebih
mudah diucapkan dengan membalik huruf nun menjadi huruf mim dan menyamarkan huruf
nun pada huruf ba’. Misalnya :

Nun mati tanwin


ِّ‫ت َ ْنبِيْه‬ ِّ‫صي َْر‬ َ ِّ‫ا َِّنِّهللا‬
ِ َ‫س ِميْعِّب‬

Ikhfa’ Haqiqi

secara bahasa artinya menutupi. Sedangkan yang dimaksud di sini adalah pengucapan nun
mati atau tanwin ketika bertemu dengan huruf-huruf Ikhfa' memiliki sifat antara Izhar dan
idgham dengan disertai ghunnah. Huruf-hurufnya berjumlah 15:-‫د‬-‫س‬-‫ق‬-‫ش‬-‫ج‬-‫ك‬-‫ث‬-‫ذ‬-‫ص‬
‫ظ‬-‫ض‬-‫ت‬-‫ف‬-‫ز‬-‫ ط‬agar mudah menghafalnya dirangkai menjadi:

َ ِّ‫ض ْع‬
‫ظ ِلما‬ َ ِّ‫اِّزدِّْفَىِّتُقى‬ َ ِّ‫س َماِّ◊ِّدُ ْم‬
ِ ‫طيِن‬ َ ِّْ‫فِّذَاثَنَا َك ْمِّ َجادَش َْخصِّقَد‬
ْ ‫ص‬
ِ [6]

6
Tingkatan khfa’

‫اإلخفاءاوسط‬ ‫اِّإلخفاءادنى‬ ‫اِّإلخفاءاعلى‬


Tengah-tengah Paling rendah Paling tinggi

‫عيرِّها‬ ‫ك‬ ‫ق‬ ‫ط‬ ‫د‬ ‫ت‬


Ikhfa’ ghunnah sama Ikhfa’nya lebih Ikhfa’nya lebih lama dari
sedang pendek dari ghunnahnya
ghunnahnya

Contoh ikhfa’ adalah :

- ِّ‫ِم ْنِّ ُج ْوع‬


- ِّ‫يَ ْن ِط ُق‬
- ‫[أ َ ْندَادا‬7]
Di samping pembagian ikhfa’ diatas, terdapat pula ikhfa’ yang disebut dengan ikhfa’
jaded(baru), yaitu mengucapkan huruf dengan samar-samar atau suara lirih, hamper tidak
terdengar, meskipun diucapkan dengan lisan. Huruf-huruf tersebut hanya terdiri dari 8 huruf
diantaranya:

1. Ra (‫ِِِِِِِِِّّّّّّّّّ )ر‬contoh: ‫الفجر‬


2. Dhal )‫ (ض‬contoh: ‫بعض‬
3. Lam)‫ِِّّ(ل‬ contoh: ‫فضل‬
4. Mim)‫ِّ(م‬ contoh: ‫ِّالخصم‬
5. Nun)‫(ن‬ contoh: ‫الدِّهن‬
6. Wau)‫(و‬ contoh: ‫الطو‬
7. Ha’)‫(ه‬ contoh: ‫واِّستغفره‬
8. Ya)‫(ي‬ contoh: ‫السعي‬

C. Cara Membaca Huruf Nun DanMim Bertasydid

Nun dan mim bertasydid wajib dibaca dengan ghunnah (dengung), baik dalam
keadaan bersambunga maupun dalam keadaan berhenti (waqaf), dan bila terletak di
tengah maupun di akhir kata. Ukuran panjang bunyi ghunnah tersebut adalah dua
harakat. Adapun sebagian sebagian ulama Qiro'at menetapkannya dengan cara
menutup jari atau membukanya dengan gerakan yang tidak terlalu cepat dan tidak
terlalu lambat. Imam Al Jamzuri mengatakan:

7
‫غنَّةٍْبَ َدا‬ َ ‫س ِمْ ُكالَّْ َحر‬
ُ ْ‫ف‬ َ ‫اْ*ْو‬ ُ ْ‫ْمي ًماْنُونًا‬
َ ‫ش ِد َد‬ ُ ْ‫َو‬
ِ ‫غ َّن‬
"Dan ghunnahkanlah setiap mim dan nun yang bertasydid. Dan sebutlah masing-masing sebagai
huruf ghunnah."[8]

Contoh : ِّ‫ِث‬ َ ‫َوِّأ َ َّماِّ ِبنِ ْع َم ِة‬


ْ ‫ِّر ِبكَ ِّفَ َحد‬

D. Uraian Tentang Ghunnah

Ghunnah menurut bahasa adalah bunyi yang keluar dari lubang hidung. Sedangkan
menurut istilah tajwid, ghunnahadalah bunyi dengung yang melekat pada huruf nun dan mim
yang terdengar secara indah.

Tempat keluar bunyi dengung adalah khaisyum yaitu lubang hidung yang bersambung
dengan organ dalam langit-langit atas di dalam mulut. Panjang bunyi dengung tersebut ialah 2
harakat yang ukuran 1 harakat itu adalah selama membuka atau menutup jari tangan.

Bunyi ghunnah juga terdapat pada huruf mim yang dibaca samar (mukhaffafah), yang
dibaca idgham atau yang ber-tasydid, seperti halnya juga pada huruf nun yang dibaca samar.

Bobot dengung (ghunnah) terbagi menjadi 5 tingkatan:

1. Bobot ghunnah secara penuh pada saat mim dan nun ber-tasydid.

2. Bobot ghunnah menjadi lebih ringan pada saat mim dan nundibaca idgham.

3. Bobot ghunnah menjadi lebih ringan dari yang di atas pada


saat mim dan nun dibaca ikhfa’.

4. Bobot ghunnah menjadi lebih ringan lagi dari yang dua di atas pada
saat mim dan nundibaca izhar.

5. Bobot ghunnah menjadi lebih ringan dari yang tersebut di atas pada
saat mim dan nun dibaca berbaris.[9]

8
BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Nun mati ialah huruf n n yang tidak berbaris seperti ِِّّ‫ن‬ ِِّ ِ‫ م‬dan ‫ِن‬
ِِّ ‫ع‬tanwin ialah baris ganda baik
atas sepertiِِّّ ًِّ (fathatain), bawah seperti ًِّ(kasrotain), dan dhommahًِِّّ(dhommatain). Secara

ِّْ ) dan tanw


umum, n n mati (‫ن‬ mempunyai empat hukum bacaan yaitu: izh r,adgh m, iql

b, dan ikhf ’.Namun secara lebih rinci, hukum bacaannya dibagi menjadi lima yakni: izh r halqi

,idgh m bigunnah , idgh m bila gunn h, iql b, dan ikhf ’ haqiqi.

Ghunnah menurut bahasa adalah bunyi yang keluar dari lubang hidung. Sedangkan menurut
istilah tajwid, ghunnahadalah bunyi dengung yang melekat pada huruf nun dan mim yang
terdengar secara indah. Nun dan mim bertasydid wajib dibaca dengan ghunnah (dengung), baik
dalam keadaan bersambunga maupun dalam keadaan berhenti (waqaf), dan bila terletak di
tengah maupun di akhir kata.

Tempat keluar bunyi dengung adalah khaisyum yaitu lubang hidung yang bersambung dengan
organ dalam langit-langit atas di dalam mulut. Panjang bunyi dengung tersebut ialah 2 harakat
yang ukuran 1 harakat itu adalah selama membuka atau menutup jari tangan.

9
DAFTAR PUSTAKA

Aziz, Abdul A.R. 2003. Pedoman Dauroh Al-Qur’an. Kenanga: Markaz Al-Qur’an.

Lembaga Bahasa Dan Budaya Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Mataram. 2013. Dirasah Al-
Qur’an (Dasar-Dasar Pengajaran Tajwid Al-Qur’an). Mataram: Laboratorium Al-Qur’an.

Zarkasyi, Imam. 1995. Pelajaran Tajwid. Gontor Ponorogo: Trimurti Press.

10