Anda di halaman 1dari 12

Integrasi Islam dan ilmu Pengetahuan

Ilmu adalah bagian dari pengetahuan yang terklasifikasi, tersistem, dan terukur, serta
dapat dibuktikan kebenarannya secara empiris. Ilmu menurut Al-Qur’an adalah rangkaian
keterangan yang bersumber dari Allah yang diberikan kepada manusia baik melalui Rasul-
Nya atau langsung kepada manusia yang menghendakinya tentang alam semesta sebagai
ciptaan Allah yang bergantung menurut ketentuan dan kepastian-Nya.
Berbeda dengan pengertian di atas, Harold H. Titus sebagaimana termaktub dalam buku
“Ilmu Pendidikan Islam: Filsafat dan Pengembangan” karya Mahfud Junaedi, menjelaskan
bahwa science atau ilmu adalah
1. A method of obtaining knowledge that is objective and veriviable;
2. A body of systematic knowledge built up through experimentation ang observation and
having a valid theoretical base.
Dari definisi yang dikemukakan tersebut dapat dipahami bahwa “ilmu” meliputi tiga
kompenen yang saling bertautan dan merupakan kesatuan logis yang mesti ada serta
berurutan. (1) ilmu harus diusahakan dengan aktifitas manusia, (2) aktifitas itu harus
dilaksanakan dengan metode tertentu, dan (3) akhirnya aktifitas metodis itu mendatangkan
pengetahuan yang sistematis.
Bagan di atas menggambarkan kesatuan dan interaksi antara aktivitas, metode, dan
pengetahuan, sebagaimana digambarkan oleh The Liang Gie.
Sementara itu, pengetahuan adalah keseluruhan pengetahuan yang belum tersusun, baik
mengenai metafisik maupun fisik. Dapat juga dikatakan bahwa pengetahuan adalah
informasi yang berupa common sense, sedangkan ilmu sudah merupakan bagian yang lebih
tinggi dari itu karena memiliki metode dan mekanisme tertentu.
Islam adalah agama yang mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan dan agama merupakan
sesuatu yang saling berkaitan dan saling melengkapi. Agama merupakan sumber ilmu
pengetahuan dan ilmu pengetahuan merupakan sarana untuk mengaplikasikan segala
sesuatu yang tertuang dalam ajaran agama. Di dalam Al-Qur’an terdapat sekitar 750 ayat
yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan itu merupakan bukti bahwa Islam adalah
agama yang sangat menekankan pada pengembangan ilmu pengetahuan.
Marpuji Ali dalam karyanya yang berjudul “Buku Kultum: Integritas Iman, Ilmu, dan
Amal” menjelaskan bahwa penopang utama kegemilangan peradaban ialah ilmu
pengetahuan dan teknologi. Peradaban Barat berkembang dari perpaduan unsur-unsur
kebudayaan-kebudayaan, filsafat, nilai-nilai, dan aspirasi Yunani dan Roma Kuno, fusi
dengan agama Yahudi, agama Kristen, peradaban Barat. Perkembangan dan pembentukan
lebih lanjut dilakukan oleh bangsa-bangsa Latin, Germanik, Keltik, Nordik, dan Salvik.
Esensi Sains Islam
Wawasan tentang Dzat berkuasa atas segala sesuatu, yang telah dihilangkan dari “Konsepsi
Barat” tentang sains merupakan kritik fokus utama dalam teori Islami. Sesungguhnya faktor
pembeda cara berpikir Islami dari cara Barat ialah perihal keyakinan yang fundamental dari
cara berpikir yang pertama, bahwa semua filsuf muslim, baik dari dunia Islam di Timur
yang berpusat di Baghdad, Irak, seperti al-Kindi, ar-Razi, al-Farabi, para tokoh Ikhwan as
Safa, Ibnu Maskawaih, dan Ibnu Sina, maupun dari dunia Islam belahan Barat yang
berpusat di Cordova, Spanyol seperti Ibnu Bajjah, Ibnu Tufail, dan Ibnu Rusyd, menyakini
bahwa Allah berkuasa atas segala hal dan bahwa segala sesuatunya, termasuk pengetahuan,
berasal dari satu-satunya sumber yang tidak lain, adalah Allah.
The Unity of Knowledge atau Integrasi Keilmuan
Lima ayat pertama surah Al-Alaq, menunjukkan perintah Allah terkait dengan sains,
perintah membaca, menelaah, menghimpun pengetahuan dengan kalimat iqra’ bismi rabbik,
menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak sekedar memerintahkan untuk membaca, tetapi
“membaca” adalah lambang dari segala yang dilakukan oleh manusia baik yang sifatnya
aktif maupun pasif. Bisa aktif mengkaji sifat-sifat Allah, sifat Allah yang disebutkan dalam
kitab suci merupakan sumber otentik pengetahuan tentang Allah. Salah satu sifat Allah yang
disebutkan dalam Al-Qur’an ialah Al-Alim, yang berarti “yang memiliki sains”. Karena
memiliki sains yang membedakan dari malaikat dan dari semua makhluk lainnya, dan
melalui sains orang dapat menggapai kebenaran, dan kebenaran adalah nama lain dari Yang
Riil dan Al-Haqq.
Dari dimensi Al-Haqq sebagai sumber semua kebenaran. Sudah barang tentu Al-Qur’an
sebagai mediumnya, filsafat Islam berupaya menjelaskan cara Allah menyampaikan
kebenaran hakiki, dengan bahasa pemikiran yang intelektual dan rasional. Tujuan seorang
filsuf, menurut Al-Kindi ialah “mendapatkan kebenaran dan mengamalkannya, sedangkan
bagian paling luhur dari filsafat adalah filsafat pertama, yakni mengetahui kebenaran
pertama (Tuhan) dinamakan filsafat pertama karena dalam pengetahuan tentang sebab
pertama itu terkandung pengetahuan tentang semua bagian lainnya dari filsafat”. Dengan
demikian The Unity of Knowledge atau kesatuan ayat Qur’aniyyah dengan ayat Kawniyyah,
merupakan integrasi keilmuan yang dapat menjadi sarana penting meningkatkan keimanan
dan haqqa tuqatih (taqwa yang sebenar-benarnya).1[2]
Agama Islam memperhatikan pentingnya iman sama dengan pentingnya ilmu pengetahuan.

‫ش ْيءٍ ِم ْن ِع ْل ِم ِه إِ اَل بِ َما شَا َء‬ ُ ‫َو ََل ي ُِحي‬


َ ِ‫طونَ ب‬
“Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka
tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya” (Al-
Baqarah: 255).

Allah juga memuliakan para ahli ilmu pengetahuan dengan firman-Nya:


ُ ‫َّللاُ لَ ُك ْم َو ِإذَا قِي َل ا ْن‬
‫ش ُزوا‬ ‫سح ِ ا‬ َ ‫س ُحوا يَ ْف‬َ ‫س ُحوا ِفي ْال َم َجا ِل ِس فَا ْف‬ ‫يَا أَيُّ َها الاذِينَ آ َ َمنُوا إِذَا قِي َل لَ ُك ْم تَفَ ا‬
)۱۱( ‫ير‬ ٌ ‫َّللاُ ِب َما ت َ ْع َملُونَ َخ ِب‬
‫ت َو ا‬ ٍ ‫َّللاُ الاذِينَ آَ َمنُوا ِم ْن ُك ْم َوالاذِينَ أُوتُوا ْال ِع ْل َم دَ َر َجا‬
‫ش ُزوا َي ْرفَعِ ا‬ ُ ‫فَا ْن‬
Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam
majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila
dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-
orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa
derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Mujadalah: 11)
Kebudayaan Islam, pada masa jayanya dan masa perkembangannya memberikan warisan
yang membanggakan pada umat manusia, berdasarkan atas observasi dan berpikir induktif,
klasifikasi dan verifikasi serta konfirmasi. Orang Eropa menerima warisan tersebut, lalu
melakukan loncatan-loncatan yang jauh ke depan dan melengkapi kegiatan penelitian-
penelitian dengan alat-alat canggih.2[3]
Teori pengetahuan menurut Islam tidak hanya menonjolkan sudut yang khusus dari mana
kaum Muslim memandang ilmu, akan tetapi juga menekankan keharusan yang mendesak
untuk mencari ilmu. Seperti diketahui perintah Allah yang pertama kepada Nabi melalui
wahyu pertama yang diterimanya adalah “bacaan dengan (menyebut) nama Allah”, dan dari
sudut pandang Islam, membaca itu bukan hanya pintu menuju ilmu, akan tetapi juga cara
untuk mengetahui dan menyadari Allah. Oleh sebab itu, ilmu mempunyai dua tujuan, yakni
tujuan Ilahi dan tujuan duniawi. Ilmu berfungsi sebagai pertanda Allah, sebab orang yang
mempelajari alam dan proses-prosesnya dengan seksama dan mendalam akan menjumpai
banyak kasus yang menunjuk kepada tangan yang tidak tampak, yang membina dan
mengawasi semua kejadian di dunia
A. HAKIKAT AYAT – AYAT ALLAH

Masyarakat zaman sekarang memperlakukan Al-Qur'an sama sekali berbeda dengan


tujuan yang sebenarnya dari diturunkannya Al-Qur'an. Secara umum, di dunia Islam sedikit
sekali orang yang mengetahui isi Al-Qur'an.

Sebagian di antara mereka seringkali menggantukan Al-Qur'an yang dibungkus dengan


sampul yang bagus pada dinding rumah mereka dan orang-orang tua sesekali membacanya.
Mereka beranggapan bahwa Al-Qur'an melindungi orang yang membacanya dari
"kemalangan dan kesengsaraan". Dengan kepercayaan ini mereka memperlakukan Al-Qur'an
seperti halnya jimat penangkal sial.

Namun ayat-ayat Al-Qur'an menyatakan bahwa tujuan diwahyukannya Al-Qur'an sama sekali
berbeda dengan apa yang tersebut di atas. Sebagai contoh, dalam surat Ibrahim ayat 52 Allah
menyatakan: "(Al-Quran) ini adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya
mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Ilah Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang
berakal mengambil pelajaran". Di banyak ayat yang lain Allah menegaskan bahwa salah satu
tujuan paling utama diturunkannya Al-Qur'an adalah untuk mengajak manusia berpikir dan
merenung.

Dalam Al-Qur'an Allah mengajak manusia untuk tidak mengikuti secara buta kepada
kepercayaan dan norma-norma yang diajarkan masyarakat. Akan tetapi memikirkannya
dengan terlebih dahulu menghilangkan segala prasangka, hal-hal yang tabu dan yang
mengikat pikiran mereka.

Manusia harus memikirkan bagaimana ia menjadi ada, apa tujuan hidupnya, mengapa ia
suatu saat akan mati dan apa yang terjadi setelah kematian. Ia hendaknya mempertanyakan
bagaimana dirinya dan seluruh alam semesta menjadi ada dan bagaimana keduanya tersu-
menerus ada. Ketika melakukan hal ini, ia harus membebaskan dirinya dari segala ikatan dan
prasangka. Dengan berpikir menggunakan akal dan nurani yang terbebaskan dari segala
ikatan sosial, ideologis dan psikologis; seseorang pada akhirnya akan merasakan bahwa
seluruh alam semesta termasuk dirinya telah diciptakan oleh sebuah kekuatan Yang Maha
Tinggi. Bahkan ketika ia mengamati tubuhnya sendiri atau segala sesuatu di alam ia akan
melihat adanya keserasian, perencanaan dan kebijaksanaan dalam perancangannya.

Al-Qur'an memberikan petunjuk kepada manusia dalam masalah ini. Dalam Al-Qur'an Allah
memberitahu kepada kita apa yang hendaknya kita renungkan dan amati. Dengan cara
perenungan yang diajarkan dalam Al-Qur'an, seseorang yang memiliki keimanan kepada
Allah akan merasakan secara lebih baik kesempurnaan, hikmah abadi, ilmu dan kekuasaan
Allah dalam ciptaan-Nya.

Ketika orang yang beriman mulai berpikir menurut cara yang diajarkan Al-Qur'an, ia segera
menyadari bahwa keseluruhan alam semesta adalah sebuah isyarat karya seni dan kekuasaan
Allah, dan bahwa "alam semesta adalah sebuah hasil kreasi seni, dan bukan pencipta kreasi
seni itu sendiri." Setiap karya seni memperlihatkan keahlian yang khas dan unik serta
menunjukkan pesan-pesan dari sang pembuatnya.

Dalam Al-Qur'an, manusia diseru untuk merenungi berbagai kejadian dan benda-benda alam
yang dengan jelas menunjukkan kepada keberadaan dan ke-Esaan Allah beserta Sifat-sifat-
Nya. Di dalam Al-Qur'an segala sesuatu yang menunjukkan kepada suatu kesaksian (adanya
sesuatu yang lain) disebut sebagai "ayat-ayat", yang berarti "bukti yang telah teruji
(kebenarannya), pengetahuan mutlak dan pernyataan kebenaran." Jadi ayat-ayat Allah terdiri
atas segala sesuatu di alam semesta yang memperlihatkan dan mengkomunikasikan
keberadaan dan sifat-sifat Allah. Mereka yang dapat mengamati dan senantiasa ingat akan hal
ini akan memahami bahwa seluruh jagad raya hanya tersusun atas ayat-ayat Allah.

Sungguh, adalah kewajiban bagi manusia untuk dapat melihat ayat-ayat Allah…Dengan
demikian orang tersebut akan mengenal Sang Pencipta yang menciptakannya dan segala
sesuatu yang lain, menjadi lebih dekat kepada-Nya, menemukan arti keberadaan dan
kehidupannya, dan menjadi orang yang beruntung (dunia dan akhirat). Segala sesuatu, nafas
manusia, perkembangan politik dan sosial, keserasian kosmik di alam semesta, atom yang
merupakan materi terkecil, semuanya adalah ayat-ayat Allah, dan semuanya berjalan di
bawah kendali dan pengetahuan-Nya, mentaati hukum-hukum-Nya. Menemukan dan
mengenal ayat-ayat Allah memerlukan kerja keras individu. Setiap orang akan menemukan
dan memahami ayat-ayat Allah sesuai dengan tingkat pemahaman dan nalarnya masing-
masing.

Tidak diragukan, sejumlah petunjuk mungkin akan membantu. Pertama-tama, seseorang


dapat mempelajari subyek-subyek tertentu yang ditekankan dalam Al-Qur'an dalam rangka
memperoleh mentalitas berpikir yang memungkinkannya untuk dapat merasakan seluruh
alam semesta sebagai penjelmaan dari segala sesuatu ciptaan Allah.

Beberapa masalah yang kita diperintahkan agar merenungkannya dalam Al-Qur'an. Ayat-ayat
Allah di alam semesta ditegaskan dalam surat An-Nahl ayat 10 – 17 :

10) Dia-lah yang telah menurunkan air hujan dari langit untuk kamu, sebagiannya menjadi
minuman dan sebagiannya menyuburkan tumbuh-tumbuhan, yang pada (tempat tumbuhnya)
kamu menggembalakan ternakmu.

11) Dia menumbuhkan bagi kamu dengan air hujan itu tanam-tanaman; zaitun, korma,
anggur, dan segala macam buah-buahan. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
ada tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan.

12) Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-
bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya),

13) dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan
berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda
(kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.
14) Dan Dia-lah, Allah yang menundukkan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan
daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang
kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari
(keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.

15) Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak goncang
bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat
petunjuk,

16) dan Dia ciptakan) tanda-tanda (penujuk jalan). Dan dengan bintang-bintang itulah
mereka mendapat petunjuk.

17) Maka apakah (Allah) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat
menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?

Di dalam Al-Qur'an, Allah mengajak orang-orang yang berakal agar memikirkan hal-hal
yang biasa diabaikan orang lain, atau yang biasa dikatakan sebagai hasil "evolusi",
"kebetulan", atau "keajaiban alam" belaka. Sebagaimana kita lihat dalam ayat tersebut, orang-
orang yang berakal melihat ayat-ayat Allah dan berusaha untuk memahami ilmu, kekuasaan
dan kreasi seni-Nya yang tak terhingga dengan mengingat dan merenungkan hal-hal tersebut,
sebab ilmu Allah tak terbatas, dan ciptaan-Nya sempurna tanpa cacat.

Bagi orang yang berakal, segala sesuatu di sekeliling mereka adalah tanda-tanda penciptaan
oleh Allah..

B. KESATUAN ANTARA AYAT-AYAT QAULIYAH DAN KAUNIYAH

Allah swt. tidak menampilkan wujud DzatNya Yang Maha Hebat di hadapan
makhluk-makhlukNya secara langsung dan dapat dilihat seperti kita melihat sesama makhluk.
Maka, segala sesuatu yang tampak dan dapat dilihat dengan mata kepala kita, pasti itu bukan
tuhan. Allah menganjurkan kepada manusia untuk mengikuti Nabi Muhammad SAW supaya
berpikir tentang makhluk-makhluk Allah. Jangan sekali-kali berpikir tentang Dzat Allah.
Makhluk-makhluk yang menjadi tanda kebesaran dan keagungan Allah inilah yang
disarankan di dalam banyak ayat Al-Qur’an agar menjadi bahan berpikir tentang kebesaran
Allah.

1. Pengertian Ayat Qauliyah dan Kauniyah

a) Ayat Qauliyah

Ayat-ayat qauliyah adalah ayat-ayat yang difirmankan oleh Allah swt. di dalam Al-Qur’an.
Ayat-ayat ini menyentuh berbagai aspek, termasuk tentang cara mengenal Allah.

QS. At-Tin (95) ayat 1-5 , yang artinya : Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, dan demi bukit
Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman; sesungguhnya Kami telah menciptakan
manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang
serendah-rendahnya (neraka).
b) Ayat Kauniyah

Ayat kauniyah adalah ayat atau tanda yang wujud di sekeliling yang diciptakan oleh
Allah. Ayat-ayat ini adalah dalam bentuk benda, kejadian, peristiwa dan sebagainya yang ada
di dalam alam ini. Oleh karena alam ini hanya mampu dilaksanakan oleh Allah dengan segala
sistem dan peraturanNya yang unik, maka ia menjadi tanda kehebatan dan keagungan
Penciptanya.
QS. Nuh (41) ayat 53 , yang artinya :

Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah
bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah
benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu ?

2. Keserasian Ayat-Ayat Qauliyah Dan Kauniyah

Allah SWT menurunkan ayat-ayat (tanda kekuasaan)-Nya melalui 2 jalur formal yaitu
ayat qauliyah dan jalurnon-formal yaitu ayat kauniyah. Ayat qauliyah adalah kalam Allah
(Al-Qur’an) yang diturunkan secara formal kepada Nabi Muhammad SAW. Sedangkan ayat
kauniyah adalah fenomena alam, jalurnya tidak formal dan manusia mengeksplorasi sendiri.

Al-Qur’an Al-Karim, yang terdiri dari 6.236 ayat itu, menguraikan berbagai persoalan
hidup dan kehidupan, antara lain menyangkut alam raya dan fenomenanya. Uraian-uraian
sekitar persoalan sering tersebut sering di sebut ayat-ayat kauniyah. Tidak kurang dari 750
ayat yang secara tegas menguraikan hal-hal diatas. jumlah ini tidak termaksud ayat-ayat yang
menyinggungnya secara tersirat.

3. Al-Quran dan Alam Raya

Dalam bericara tentang alam dan fenomenanya. Paling sedikit ada dua hal yang dapat
dikemukakan menyangkut hal tersebut :

a. Al-Quran memerintah kan atau menganjurkan kepada manusia untuk memperhatikan


dan mempelajari alam rayadalam rangka memperolh manfaat dan kemudahan-
kemudahan bagi kehidupanyadan mengantarkan kepada kesadaran-kesadaran akan
keesaan dan kemahakuasaan Allah SWT.
b. Alam dan segala isinya beserta hokum-hukum yang mengaturnya, diciptakan,
dimiliki, dan dibawah kekuasaan Allah SWTsertadiatut dengan sangat teliti. Alam
raya tidak bias dilepaskan dari ketetapan-ketapan tersebut, kecuali jika dikehendaki
oleh Allah SWT.

Eksplorasi terhadap ayat kauniyah inilah yang kita kenal sebagai sains, yang kemudian
dalam aplikasinya disebut teknologi. Sains dan teknologi (saintek) ini adalah implementasi
dari tugas manusia sebagai khalifah fil ardhi untukmemakmurkan bumi. Karenanya bagi
seorang muslim, saintek adalah sarana hidup untuk mengelola bumi, bukan membuat
kerusakan.
Paradigma seorang muslim terhadap ayat-ayat Allah ini, baik ayat qauliyah (Al-Qur’an)
maupun kauniyah (fenomena alam) adalah mutlak benar dan tidak mungkin bertentangan,
karena keduanya berasal dari Allah. Pada faktanya sains yang telah ”proven” (qath’i) selaras
dengan Al Qur’an seperti tentang peredaran bintang, matahari dan bumi pada orbitnya.
Namun sains yang masih dzanni (teori) kadang bertentangan dengan yang termaktub dalam
Al-Qur’an seperti teori evolusipada manusia.

Allah swt. menuangkan sebagian kecil dari ilmu-Nya kepada umat manusia dengan dua
jalan. Pertama, dengan ath-thariqah ar-rasmiyah (jalan resmi) yaitu dalam jalur wahyu
melalui perantaraan malaikat Jibril kepada Rasul-Nya, yang disebut juga dengan ayat-ayat
qauliyah. Kedua, dengan ath-thariqah ghairu rasmiyah (jalan tidak resmi) yaitu melalui ilham
secara kepada makhluk-Nya di alam semesta ini (baik makhluk hidup maupun yang mati),
tanpa melalui perantaraan malaikat Jibril. Karena tak melalui perantaraan malaikat Jibril,
maka bisa disebut jalan langsung (mubasyaratan). Kemudian jalan ini disebut juga dengan
ayat-ayat kauniyah.

Ayat-ayat qauliyah mengisyaratkan kepada manusia untuk mencari ilmu alam semesta (ayat-
ayat kauniyah), oleh sebab itu manusia harus berusaha membacanya, mempelajari,
menyelidiki dan merenungkannya, untuk kemudian mengambil kesimpulan. Allah swt.
berfirman: “Bacalah (ya Muhammad) dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah
menciptakan manusia dari ‘alaq. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang
Mengajar (manusia) dengan perantaraan alam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang
tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq:1-5)

Dalam sejarah peradaban Islam, para ilmuwan adalah juga ahli dalam agama karena
memahami kedudukan saintek dalam Islam. Mereka belajar ayat qouliyah dan juga belajar
ayat kauniyah. Kontribusi ilmu pengetahuan para ilmuwan muslim menjadi tonggak
kemajuan iptek di barat. Dalam bidang matematika ada algorithm, algebra yang merupakan
nama matematikawan muslim (Alkhawarizm, Aljabar). Juga angka Arab yang dengannya
perhitungan menjadi mudah. Dalam bidang kimia ada istilah alkemi (chemistry), alkali,
alkohol. Nama-nama ilmuwan muslim spt IbnuSina (Avicena), Ibnu Rusyd (Averous), Ibnu
Khaldun menjadi nama yang gemilang. Bidang-bidang yang sangat gemilang pada masa
kejayaan peradaban Islam adalah kedokteran, matematika, dan astronomi, karena menjadi
kebutuhan langsung seperti menentukan kiblat dan waktu-waktu ibadah.

C. INTERKONEKSITAS DALAM MEMAHAMI AYAT QAULIYAH DAN


KAUNIYAH

Secara garis besar, Allah menciptakan ayat dalam dua jalan keduanya saling
menegaskan dan saling terkait satu sama lainnya. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan
manusia untuk memaham keduanya adalah keniscayaan. Allah tidak hanya memberikan
perintah untuk sekedar memahami ayat-ayat Allah berupa Qauliyah, tetapi juga untuk melihat
fenomena alam ini.

Alam adalah ayat Allah SWT yang tidak tertuang dalam bentuk perkataan Allah untuk
dibaca dan dihafal. Tetapi alam adalah ayat Allah yang semestinya dieksplore dan digali
sedalam-dalamnya untuk semakin manusia mendekatkan diri pada kemahakuasaan Allah
SWT .

Berangkat dari kesadaran tentang realitas atas tangkapan indra dan hati, yang
kemudian diproses oleh akal untuk menentukan sikap mana yang benar dan mana yang salah
terhadap suatu obyek atau relitas. Cara seperti ini bisa disebut sebagai proses rasionalitas
dalam ilmu. Sedangkan proses rasionalitas itu mampu mengantarkan seseorang untuk
memahami metarsional sehingga muncul suatu kesadaran baru tentang realitas metafisika,
yakni apa yang terjadi di balik obyek rasional yang bersifat fisik itu. Kesadaran ini yang
disebut sebagai transendensi.

Firman Allah (QS. Al-Imran : 191), yang artinya :

(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan
berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya
Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka
peliharalah kami dari siksa api neraka

Dalam pandangan seorang muslim ayat qauliyah akan memberikan petunjuk/isyarat bagi
kebenaan ayat kauniyah, misalnya surat An-Nur (24):43 mengisyaratkan terjadinya hujan,
surat Al-Mukminun (23) : ayat 12-14 mengisyaratkan tetang keseimbangan dan kesetabilan
pada istem tata surya, surat Al-Ankabut (29) : ayat 20 mengisyaratkan adanya evolusi pada
penciptaan makhluk di bumi, surat AZ-Zumar (39) : ayat 5 dan surat an-Naml (27) : ayat 28
mengisyaratkan adanya rotasi bumi dan bulatnya bumi, sebaliknya ayat kauniyah akan
menjadi bukti (Al-Burhan) bagi kebenaran ayat qauliyah (lihat surat Al-Fushshilat 41: ayat
53)

1. Ayat / Fenomena Kauniyah

Dari hasil observasi dan penelitian yang berulang-ulang bahwa “siklus hidrologi” atau
sikulasi air (hydrologi cycle) dapat dijelaskan sebagai berikut:
Siklus hidrologi adalah sirkulasi air yang terjadi akibat radiasi/panas matahari, sehingga air
yang dilaut, sungai, dan juga air pada tumbuh-tumbuhan mengalami penguapan ke udara
(transpiration), sehingga dikenal sebagai evapotranspiration, lalu uapair tersebut pada
ketinggian tertentu menjadi dinggin dan terkondensasi menjadi awan. Akibat
angin,bekumpulan awan dengan ukuran tertentu dan terbuat awan hujan, karena pengaruh
berat dan gravitasi kemudian terjadilah hujan (presipitasion).

Beberapa air hujan ada yang mengalir di atas permukaan. Tanah sebagai aliran
limpasan (overland flow) dan ada yang terserap kedalam tanah (infiltrasioan). Aliran
limpasan selanjutnya dapat mengisi tampungan-cekungan (depresioan storage). Apabila
tampungan ini telah terpenuhi, air akan menjadi limpasan-permukaan (surface runoff) yang
selanjutnya mengalir kelaut. Sedangkan air yang terinfiltrasi, bisa keadaan formasi geologi
memungkinkan, sebagian dapat mengalir literal di lapisan tidak kenyang air sebagai aliran
antara (subsurface flow/interflow).
Sebagian yang lain mengalir vertikal yang disebut dengan “perkolasi” (percolation) yang
akan mencapai lapisan kenyang air (saturated zone/aquifer). Air dalam akifer akan mengalir
sebagai air tanah (grounwter flow/base flow) kesungai atau ketampungan dalm (deep
storage). Siklus hirologi ini terjadi terus-menerus atau berulang-ulang dan tidak terputus.

2. Ayat / Fenomena Qauliyah

Pada penjelasan fenomena kauliyah, dapat kita tarik kesimpulan bahwaq “siklus
hidrologi” memiliki 4 (empat) macam proses yang saling menguatkan, yaitu :

a. hujan/presipitasi.
b. penguapan/evaporasi.
c. infiltrasi dan perkolasi (peresapan).
d. lipahan permukaann (surface runoff) dan limpasan iar tanah (subsurface rzrnoff)

Isyarat adanya fenomena “siklus hidrologi” dapat kata lihat pada surat An-Nur (24) ayat 43,
yaitu:

Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, Kemudian mengumpulkan


antara (bagian-bagian)nya, Kemudian menjadikannya bertindih-tindih, Maka kelihatanlah
olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es
dari langit, (yaitu) dari (gumpalan-gumpalan awan seperti) gunung-gunung, Maka
ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-
Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan
penglihatan. ( QS. An – Nur : 43 )

Pada ayat diatas, menunjukkan adanya proses inti yang sedang berlangsung dan
merupakan bagian dari proses “siklus hidrologi.”Kedua proses itu, yaitu proses penguapan
(evaparasi)yang ditunjukkan dengan kata “awan”dan proses hujan (presipitasi)yang berupa
keluarnya air dan butiran es dari awan.

Dengan demikian, pada pasal ini akan dijelaskan dan diberikan contoh hubungan
antara ayat Qauliyah sebagai petunjuk wahyu yang memberikan isyarat global tentang
fenomena iptek, untuk membantu menjelaskan dan mencocokkan terhadap ayat Kauniyah.
Banyak sekali contoh yang dapat dikemukakan, akan tetapi karena keterbatasan ruang, maka
dalam hal ini akan dikemukakan dua contoh saja yang amat terkenal yaitu “Siklus Hidrologi”
dan “Konsep Tentang Alam Semesta”.
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Berdasarkan dari pemaparan di atas maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa :

1. Allah SWT menuangkan sebagian kecil dari ilmu Nya kepada umat manusia. Dalam
Al-Qur'an, manusia diseru untuk merenungi berbagai kejadian dan benda-benda alam
yang dengan jelas menunjukkan kepada keberadaan dan ke-Esaan Allah beserta Sifat-
sifat-Nya.
2. Hubungan antara ayat Qauliyah sebagai petunjuk wahyu yang memberikan isyarat
global tentang fenomena iptek, untuk membantu menjelaskan dan mencocokkan
terhadap ayat Kauniyah.

B. SARAN

Mungkin inilah yang bisa kami sampaikan pada penulisan tugas makalah “INTEGRASI
ISLAM DAN ILMU PENGETAHUAN ”. Meskipun penulisan ini jauh dari sempurna
minimal kita dapat mengambil manfaat dan ilmu dari tulisan ini. Masih banyak kesalahan
dari penulisan yang saya tuliskan, karena saya hanyalah manusia yang adalah tempat salah
dan dosa, dan saya juga butuh saran/ kritikan agar bisa menjadi motivasi untuk masa depan
yang lebih baik daripada masa sebelumnya.

Dengan selesainya makalah ini kami berharap dapat mendekatkan diri kepada sang Khalik
sebagai rasa syukur kita terhadap belas kasihnya yang telah mengutus orang pilihan-Nya
kepada kita, dan tak lupa kami sebagai manusia yang tak luput dari salah tentunya meminta
maaf atas ketidaksempurnaan penyusunan makalah ini karena kami sadar kita masih dalam
tahap belajar.
DAFTAR PUSTAKA

Al-Quran terjemahnya.1998. Semarang. Asy-Syifa.

Quraish shihab,1996. membumikan Al-Quran dan peraan wahyu dalam kehidupan


masyarakat, bandung, Mizan.

http://Id.harunyahya.com/id/Artikel/4510/kemampuan-memahami-ayat-ayat-allah

http://sikathati.blogspot.com/2008/11/ayat-qauliyah-dan-ayat-kauniyah.html

http://iismim.blogspot.com/2010/03/keserasian-ayat-ayat-qauliyah-dan.html