Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Konstruksi rangka umumnya dibuat dari bahan kayu, dan digunakan
pada bangunan yang memiliki sistem struktur atap, seperti bangunan
sekolah, perkantoran, rumah sakit, rumah tinggal, tempat ibadah, ruang
serba guna, pabrik, dan lain-lain; dengan bahan penutup atap dari genteng,
seng, asbes, maupun metal sheet. Kayu kamper, kayu bengkirai, kayu
keruing, kayu meranti, dan kayu kelapa adalah jenis material kayu yang
telah lama dikenal dan umum digunakan, tetapi memiliki kelemahan-
kelemahan antara lain kualitas kayu yang tidak merata, pelapukan yang
disebabkan oleh serangan rayap, memuai ataupun menyusut karena
perubahan cuaca, mudah terbakar dan langkanya material kayu saat ini.
Banyaknya kelebihan yang dimiliki oleh baja ringan memberikan alternatif
yang efektif dan efisien dalam hal kegunaannya sebagai rangka atap. Saat
ini baja ringan menjadi material bangunan yang sedang tren, rangka atap
baja ringan lebih dominan terkenal dibanding material baja ringan untuk
struktur lainnya. Penggunaan baja ringan sebagai rangka atap menarik untuk
dikaji. Banyaknya kelebihan baja ringan dibandingkan material lain yang
biasa digunakan untuk struktur rangka atap hendaknya menjadikan baja
ringan sebagai pilihan utama masyarakat dalam hal pembuatan rangka atap
untuk bangunan-bangunan gedung mereka. Munculnya tren baru
penggunaan baja ringan sebagai material pembuatan rangka atap mendorong
nalar kami untuk mengkaji lebih dalam fenomena ini dalam suatu tulisan
yang berjudul “PENGGUNAAN BAJA RINGAN SEBAGAI
KONSTRUKSI PENGGANTI KAYU”.
1.2 Rumusan Masalah
Berpijak pada latar belakang tersebut, penulis dapat merumuskan
masalah yang menjadi pedoman bagi penulis dalam penyusunan makalah
ini:
1. Apa itu kayu dan baja ringan?
2. Bagaimana perbandingan kayu dengan baja ringan?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Mendeskripsikan kayu dan baja ringan.
2. Mendeskripsikan alasan menggunakan baja ringan.

1.4 Lingkup Penulisan


Dalam penulisan karya tulis ini, kami membatasi lingkup pembahasan
hanya pada tinjauan deskriptif kayu dan baja ringan.

BAB II

DASAR TEORI
Di zaman yang serba praktis, dinamis, dan cepat ini rumah bukan sekadar
tempat tumpukan perabot hias dan ornamen berkelas. Sesuai dengan fungsinya,
rumah yang ideal harus memberikan kenyamanan, keamanan, sekaligus
higienitas. Esensi inilah yang melahirkan tren minimalis. (kompas.com)

Sejak dulu, penggunaan kayu sebagai kerangka bangunan memang sangat


lazim digunakan, apalagi di Indonesia sendiri terdapat berbagai jenis kayu dengan
kualitas dan harga yang berbeda-beda. Namun, untuk sekarang ini sudah ada
alternatif pengganti kayu yang biasa digunakan sebagai kerangka konstruksi, yaitu
baja ringan adalah salah satunya. Bangunan yang berkelanjutan adalah bangunan
yang memakai metode dan bahan bangunan yang sangat memprioritaskan kualitas
lingkungan, vitalitas ekonomi dan keuntungan sosial melalui perencanaan
pembangunan, operasional bangunan, perawatan dan dekonstruksi lingkungan
binaan tersebut. Bangunan yang berkelanjutan menekankan pada lingkungan,
ekonomi dan pengaruh sosial pada proyek pembangunan sebagai suatu integrasi
yang utuh dan bukan memandang salah satu faktor sebagai individu yang
berlainan.

BAB III
PEMBAHASAN

3.1 Kayu

Kayu adalah bagian keras Tanaman yang digolongkan kepada Pohon


dan Semak belukar. Kayu digunakan untuk berbagai keperluan, mulai dari
memasak, membuat perabot (meja, kursi), bahan bangunan (pintu, jendela,
rangka atap), bahan kertas, dan banyak lagi.
Kayu juga dapat dimanfaatkan sebagai hiasan- hiasan rumah tangga dan
sebagainya. Secara kimia, kayu tersusun atas beberapa bagian utama yaitu
selulosa dan lignin. (wikipedia.com). Pengertian kayu secara umum adalah
suatu bahan konstruksi yang pertama dalam sejarah umat manusia. Dalam
pemakaianya kayu tersebut harus memenuhi syarat: mampu menahan
bermacam- macam beban yang bekerja dengan aman dalam jangka waktu
yang direncanakan; mempunyai ketahanan dan keawetan yang memadai
melebihi umur pakainya; serta mempunyai ukiran penampang dan panjang
yang sesuai dengan pemakainya dalam konstruksi.
Kayu mempuyai kekuatan yang tinggi dan berat yang rendah,
mempunyai daya penahan tinggi terhadap pengaruh kimia dan listrik, dapat
mudah dikerjakan, relatif murah, dapat diganti dengan mudah, dan bisa
dalam waktu singkat. Abdurachman dan Nurwaati Hadjib dalam
Makalahnya Pemanfaatan Kayu Hutan Rakyat Untuk Komponen Bangunan.
(2006) menuliskan tentang bahan konstruksi dari kayu. Bahan konstruksi
adalah bahan yang dipergunakan untuk mendukung beban dalm arti
memerlukan perhitungan yang cukup cermat, dan untuk kayu mencakup
bahan-bahan untuk kuda-kuda, jembatan ,tiang pancang dan sebagainya.
Wirjomartono (1977) menunjukan bahwa penggunaan kuda-kuda kayu
dapat menghemat biaya sekitar 40-50% dibandingkan dengan
menggunakan baja IWF. Diperkirakan sekitar 80% konsumsi kayu
diperuntukan pada bangunan rumah/gedung. Sedangkan yang 20% untuk
perancang jembatan, dermaga dan lain-lain. Penggunaan kayu untuk
pembangunan jembatan dan tiang pancang tidak lebih dari 5%. Jika kita
akan bicaraa tentang kayu sebagai bahan struktur bangunan, maka yang
harus diperhatikan antara lain adalah kekuatan dan keawetan kayu, karena
tujuan umum para pemilik bangunan maupun perencana adalah
membangun/mempunyai gedung yang aman dan kuat konstruksinya biaya
konstuksinya murah, umur bangunan cukup lama serta pemeliharaanya
ringan. (Wildensyah 2010:24)

3.2 Baja Ringan

Baja ringan atau disebut juga Cold Formed Steel (baja canai dingin)
adalah komponen struktur baja dari lembaran atau pelat baja dengan proses
pengerjaan dingin. Baja menjadi material bangunan yang sedang tren saat
ini. Rangka atap baja ringan lebih dominan terkenal dibanding baja ringan
untuk struktur lainnya. Hal ini karena gencarnya iklan-iklan yang
menawarkan produk rangka atap baja ringan menggantikan rangka atap baja
ringan menjadi satu pilihan para kontarktor atau owner dalam membangun
rumah. Selain karena faktor keawetan dan tahan rayap dan karat, rangka
atap baja ringan mempunyai kelebihan yaitu kekuatan struktur yang lebih
bagus, seperti kuat dan lebih kaku. (Wildensyah 2010:28).

Baja adalah logam campuran yang tediri dari besi (Fe) dan karbon (C).
Jadi baja berbeda dengan besi (Fe), alumunium (Al), seng (Zn), tembagga
(Cu), dan titanium (Ti)yang merumakan logam murni. Dalam senyawa antaa
besi dan karbon (unsur nonlogam) terrsebut besi menjadi unsur yang lebih
dominan dibanding karbon. Kandungan kabon berkisar antara 0,2 – 2,1%
dari berat baja, tergantung tingkatannya. Secara sederhana, fungsi karbon
adalah meningkatkan kwalitas baja, yaitu daya tariknya (tensile strength)
dan tingkat kekerasannya (hardness). Selain karbon, sering juga
ditambahkan unsur chrom (Cr), nikel (Ni), vanadium (V), molybdaen (Mo)
untuk mendapatkan sifat lain sesuai aplikasi dilapangan seperti antikorosi,
tahan panas, dan tahan temperatur tinggi. Besi ditemukan digunakan
pertama kali pada sekitar 1500 SM Tahun 1100 SM, Bangsa hittites yang
merahasiakan pembuatan tersebut selama 400 tahun dikuasai oleh bangsa
asia barat, pada tahun tersebut proses peleburan besi mulai diketahui secara
luas. Tahun 1000 SM, Bangsa Yunani, Mesir, Jews, Roma, Carhaginians dan
Asiria juga mempelajari peleburan dan menggunakan besi dalam
kehidupannya. Penggunaan logam sebagai bahan struktural diawali dengan
besi tuang untuk bentang lengkungan (arch) sepanjang 100 ft (30 m) yang
dibangun di Inggris pada tahun 1777-1779. Dalam kurun waktu 1780- 1820.
Dibangun lagi sejumlah jembatan dari besi tuang, kebanyakan berbentuk
lengkungan dengan balok-balok utama dari potongan-potongan besi tuang
indivudual yang membentuk batang-batang atau kerangka (truss)
konstruksi. Besi tuang juga digunakan sebagai rantai penghubung pada
jembatan-jembatan suspensi sampai sekitar tahun 1840. (wordpress.com)

2.3 Perbandingan Kayu dan Baja Ringan

Secara sederhana dalam konteks lingkungan, dampak dan proses


reduksinya bisa dibandingkan sebagai berikut:

Kayu Baja Ringan


Tidak mengalami perubahan dan Mengalami perubahan dan proses
dapat dikembalikan kepada alam reduksinya lama Terdegradasi secara
(tereduksi cepat)Terdegradasi secara fisik(Non-recyclable)
biologis(Recyclable)
Tidak mencemari lingkungan Limbah B3 berpotensi Mencemari
lingkungan.
Tersedia di lokasi, ketersediaannya Harus mendatangkan dari luar, proses
memadai jika regulasi pembalakan produksinya melalui beberapa tahap.
dilaksanakan dengan baik

Dari tabel ini bisa dilihat bagaimana kayu dan baja ringan memiliki
beberapa kondisi yang sangat bertolak belakang dalam kriteria bahan
bangunan ramah lingkungan. Kayu misalnya, berdasarkan kriteria bahan
yang mudah tereduksi sehingga masa kembali terurai di alam, Kayu
memiliki waktu yang sangat cepat tereduksi di bandingkan baja ringan.
Dengan demikian kayu lebih ramah lingkungan di bandingkan dengan baja
ringan.

Kelemahan kayu ketika proses pasca konstruksi adalah tidak awet, ada
kecenderungan waktu pasca konstruksi lebih cepat rusak dibandingkan
dengan baja ringan. Tetapi ketersediaan kayu bisa menjadi alternatif untuk
mengganti sementara baja ringan, ketersediaannya terbatas karena masuk
kategori sumber daya alam tidak terbaharui. Sekilas tampak bahwa
penggunaan kayu itu tidak ramah lingkungan karena berpotensi merusak
hutan, tetapi jika dikaji lebih dalam proses penambangan baja dari bijih besi
membutuhkan proses yang panjang dan energi yang banyak. Selain itu
ketersediaan bahan dari bijih besi terbatas. Sementara kayu, dapat
diperbaharui dengan melakukan reboisasi dalam jangka waktu tertentu.

2.4 Alasan Memilih Rangka Baja Ringan Daripad Kayu

1. Rangka baja ringan tidak akan dimakan rayap.

Seperti kita ketahui, kualitas kayu yang banyak digunakan maupun


yang ada di pasaran saat ini adalah kayu dengan kualitas 3 kebawah atau
kurang baik. Tidak banyak lagi, bahkan sudah sangat jarang yang
menyediakan atau menggunakan kayu kualitas bagus seperti kayu jati untuk
membangun sebuah bangunan. Oleh karena itu, pemilihan rangka baja
ringan merupakan hal mutlak jika rangka anda ingin memiliki usia yang
lebih awet

2. Baja ringan akan mempercepat durasi atau waktu pengerjaan suatu


bangunan.
Baja ringan yang sudah siap pasang tentunya akan banyak menghemat
waktu pengerjaan berbagai proyek bangunan yang anda kerjakan. Bahkan
sebuah rumah dengan type 36 bisa diselesaikan dalam waktu kurang lebih 1
minggu dengan menggunakan rangka baja ringan.

3. Struktur rangka baja ringan yang tentunya lebih ringan daripada jika
menggunakan kayu sebagai rangka bangunan.

4. Rangka baja ringan hemat biaya.

Baja ringan tidak mudah lapuk. Bayangkan berapa banyak uang yang
bisa dihemat dengan fitur baja ringan ini terutama dalam segi biaya
perawatan bangunan anda kedepanya. Selain itu, menurut beberapa hasil
survei yang ada, rumah type 42 yang dibangun dengan struktur atap baja
ringan dan dinding bata, bisa dihemat biaya pembuatanya hingga di kisaran
angka 31 jutaan saja

5. Rangka baja ringan memiliki struktur atau material yang bisa disesuaikan
dengan keadaan geografis sebuah daerah.

Misalkan bangunan berada di pinggir laut atau pantai, maka rangka baja
ringan yang digunakan akan dilapisi dengan bahan tertentu yang akan
menyesuaikan dengan kontur wilayah pantai (tidak mudah berkarat
tentunya).

6. Untuk menjaga lingkungan.

Seperti yang kita tahu bahwa hutan di Indonesia tidak sehijau dahulu kala
akibat pembalakan liar. Oleh karena itu dengan kita menggunakan baja
ringan itu sama saja ikut menjaga lingkungan kita yang sudah terlanjur
rusak tidak menjadi lebih parah lagi.

2.5 Kelebihan atau Keuntungan Baja Ringan


1. Baja ringan tahan terhadap karat, rayap dan perubahan cuaca dan
kelembaban.

2. Bila dibandingkan dengan rangka kayu atau baja konvensional, pemasangan


rangka baja ringan relatif lebih cepat.

3. Baja ringan bersifat tidak merambatkan atau membesarkan api (non-


combustible). Karena dalam baja ringan terdapat sistem proteksi khusus
yang disebut fire resistance yakni rakitan sistem struktur untuk membatasi
penyebaran api pada suatu daerah atau kemampuan untuk secara menerus
berperan menahan struktur ketika terpapar api.

4. Baja ringan juga tidak memiliki nilai muai susut sebagaimana material kayu.

5. Baja ringan lebih efisien dan ekonomis karena biaya pemeliharaan lebih
kecil dan memiliki daya tahan lebih lama karena tidak terkena rayap dan
tidak lapuk sehingga masa waktu manfaatnya menjadi lebih lama.

2.6 Kekurangan Baja Ringan

1. Sistem struktur rangka baja ringan tersusun rapat, padat dan terlihat ramai,
terhubung & terkait satu dengan lainnya, sehingga kurang menarik jika
diekspose.

2. Membutuhkan perhitungan yang benar-benar matang, karena sistem


strukturnya yang seperti rangka ruang tersebut maka bila ada salah satu
bagian struktur yang salah hitung, salah pasang, akan membuat perlemahan
sehingga dapat menyebabkan kegagalan total.
BAB IV

PENUTUP

KESIMPULAN

Penggunaan baja ringan sekarang ini banyak digunakan sebagai pengganti


kayu kerangka bangunan karena alasan lebih awet, efesien dan ekonomis dari
pada kayu tetapi struktur pengerjaanya lebih rumit karena menggunakan
perhitungan.

SARAN

Penggunaan kayu itu tidak ramah lingkungan karena berpotensi merusak hutan.
Untuk menjaga kayu kita harus memperbaharui dengan reboisasi. Sedangkan
penggunaan baja mempunyai sifat yang ramah lingkungan, karena menggunakan
material yang bisa mengurangi pembalakan liar (illegal logging), namun dalam
prosesnya terlalu panjang dan ketersediaan bahan dari bijih besi terbatas.
DAFTAR PUSTAKA

Wildensyah, Iden. 2010. Rangka Atap Baja Ringan. Bandung: Alfabeta

Hardjapamekas, Eddy Djudy, Zulkifli Harahap, dan Hangga Situmorang. 2005.


Dasar-dasar Konstruksi Bangunan. Jakarta: Erlangga

jasaproperty21.wordpress.com/.../kelebihan-dan-kekurangan-rangka

http://blog.propertykita.com/arsitektur/pengertian-baja-ringan-dan-beberapa-
alasan-memilih-baja-ringan/

Kompas.com

Wikipedia.com
.