Anda di halaman 1dari 8

PROFESI

A. Pengertian Profesi
Belum ada kata sepakat mengenai pengertian profesi karena tidak ada standar pekerjaan/tugas
yang bagaimanakah yang bisa dikatakan sebagai profesi. Ada yang mengatakan bahwa
profesi adalah “jabatan seseorang walau profesi tersebut tidak bersifat komersial”. Secara
tradisional ada 4 profesi yang sudah dikenal yaitu kedokteran, hukum, pendidikan, dan
kependetaan. Beberapa catatan tentang profesi, profesional dan etika profesional sebagai
pelayan masyarakat ditinjau dari sudut pandang bidang keilmuan masing-masing penulis :
a) Reader (jenis profesi dari sudut pandang sejarawan): Dalam perjalanan sejarah, hanya ada
3 (tiga ) jenis profesi yang liberal yakni dibidang : kerohanian, fisik dan hukum. Pengertian
fisik dalam tulisan Reader mengacu pada profesi kedokteran dan pelayan kesehatan lainnya
Reader,W.J, (Professional men: The Rise of Professional Classses in Nine-teenth Century
England. London: Weidenfeld & Nicholson, 1966).
b) Hakim Brandeis memberikan pengertian profesi sebagai : pekerjaan yang awalnya
memerlukan pelatihan intelektual, yang menyangkut pengetahuan sampai tahap tertentu
(kesarjanaan), yang berbeda dari sekedar keahlian atau kecakapan semata. Pekerjaan ini
bukan hanya demi diri sendiri tapi sebagian besar demi kebaikan (pro bono) orang lain
(bersifat altruistis), dan imbalan tidak diterima sebagai ukuran keberhasilan. Ada beda
mendasar antara pengetahuan dan keahlian seorang profesional. Sasaran profesional adalah
kebaikan klien. Kebaikan ada didalam pengetahuan. Kebaikan memiliki kekuatan dan fungsi
untuk mengatur perolehan dan penerapan ilmu, sedang keahlian merupakan pengetahuan
yang diterapkan oleh praktisi untuk melayani suatu tujuan. Pengertian profesi dari Brandeis
lebih ditekankan pada ‟motivasi‟ sebagai netralitas moral keahlian sebagai ‟ciri‟ seorang
profesional. (Brandeis, Louis, Business-A Proffesion., Boston: Hale, Cushman & Flint, 1933).
c) Menurut May, perbedaan mendasar antara seorang profesional dengan seorang ahli adalah:
Seorang profesional yang menyatakan ikrar kepada publik, mempunyai ikatan moral khusus
dengan klien, sedangkan ahli tidak. Dengan kata lain seorang ahli adalah warga masyarakat
biasa (bukan profesional). (May, William F, The Physician’s Covenant: Images of the Healer
in Medical Ethics, Philadelphia: Westminster Press, 1983).

Pengertian yang sampai saat ini dipahami di Indonesia adalah bahwa profesi bukan semata-
mata pekerjaan (okupasi), dan syarat profesional (orang yang melakukan profesi) adalah:
Melalui pendidikan formal setara kesarjanaan (pendidikan di Universitas)

1
Mempunyai nilai-nilai (values) yang dipertaruhkan
Memiliki dan mengamalkan kode etik profesi
Mempunyai tujuan/sasaran tertentu yakni demi kebaikan klien

Bila dicermati, dalam pemikiran yang tertuang dalam buku-buku diatas, terdapat semacam
pesan moral/keprihatinan/kritik (warning) tentang perilaku para profesional seperti misal
dibawah ini:
1. Kaum profesional mempunyai kewajiban prima facie untuk menjaga kepercayaan klien.
Sebagai ‟profesional pelayan masyakat‟ diharapkan dapat melayani masyarakat dengan
penuh etika serta menghormati motto: Uberrima fides (kesetiaan diatas segala-galanya).
Kewajiban tersebut merupakan konsekuensi yang harus dihayati, untuk melindungi hak setiap
warga masyarakat. Risiko, merupakan bagian dari konsekuensi profesional yang juga harus
memperhatikan hak pribadinya sebagai anggota masyarakat, seperti misalnya asas jaga
rahasia (merupakan kewajiban profesional) yang nampaknya semakin sulit dilaksanakan.

2. Profesi tertentu seperti hukum dan kedokteran, memiliki keterlibatan khusus dengan klien
dan berjanji menggunakan keahliannya demi kebaikan klien. Warga negara dengan demokrasi
liberal Barat lebih menyukai pengaturan profesi dan tidak tergantung pada pengawasan
negara, meskipun hal tersebut tidak bisa serta merta berlaku bagi profesi yang sama dinegeri
yang berbeda.

3. Profesional bukanlah seorang dermawan yang mencintai kehidupan umat manusia. Dengan
otoritas yang dimiliki, bisa memanfaatkan karakteristik profesinya untuk mempertahankan
status tertentu,

4. Dalam kenyataan, profesi sering terkait dalam satu bentuk perdagangan yang tersamar dan
terorganisir dengan baik. Dengan lebih berorientasi pada keuntungan, kekayaan dan sikap
hedonistik, para profesional dapat memperdaya klien demi kepentingan diri sendiri atau
kelompoknya (pro lucro) Pengertian Profesionalisme, Profesional dan Profesi
Profesionalisme adalah suatu paham yang mencitakan dilakukannya kegiatan-kegiatan kerja
tertentu dalam masyarakat, berbekalkan keahlian yang tinggi dan berdasarkan rasa
keterpanggilan -- serta ikrar (fateri/profiteri) untuk menerima panggilan tersebut -- untuk

2
dengan semangat pengabdian selalu siap memberikan pertolongan kepada sesama yang
tengah dirundung kesulitan ditengah gelapnya kehidupan (Wignjosoebroto, 1999).

Dengan demikian seorang profesional jelas harus memiliki profesi tertentu yang diperoleh
melalui sebuah proses pendidikan maupun pelatihan yang khusus, dan disamping itu pula ada
unsur semangat pengabdian (panggilan profesi) didalam melaksanakan suatu kegiatan kerja.

Secara umum ada 3 ciri sebuah profesi. Adapun ciri itu ialah:
- Sebuah profesi mensyaratkan pelatihan ekstensif sebelum memasuki sebuah profesi.
Pelatihan ini dimulai sesudah seseorang memperoleh gelar sarjana. Sebagai contoh mereka
yang telah lulus sarjana baru mengikuti pendidikan profesi seperti okter, dokter gigi,
psikologi, apoteker, farmasi, arsitektut untuk Indonesia. Di berbagai negara, pengacara
diwajibkan menempuh ujian profesi sebelum memasuki profesi.
- Pelatihan tersebut meliputi komponen intelektual yang signifikan. Pelatihan tukang batu,
tukang cukur, pengrajin meliputi ketrampilan fisik. Pelatihan akuntan, engineer, dokter
meliputi komponen intelektual dan ketrampilan. Walaupun pada pelatihan dokter atau dokter
gigi mencakup ketrampilan fisik tetap saja komponen intelektual yang dominan. Komponen
intelektual merupakan karakteristik profesional yang bertugas utama memberikan nasehat
dan bantuan menyangkut bidang keahliannya yang rata-rata tidak diketahui atau dipahami
orang awam. Jadi memberikan konsultasi bukannya memberikan barang merupakan ciri
profesi.
- Tenaga yang terlatih mampu memberikan jasa yang penting kepada masyarakat. Dengan
kata lain profesi berorientasi memberikan jasa untuk kepentingan umum daripada
kepentingan sendiri. Dokter, pengacara, guru, pustakawan, engineer, arsitek memberikan jasa
yang penting agar masyarakat dapat berfungsi; hal tersebut tidak dapat dilakukan oleh
seorang pakar permainan catur misalnya. Bertambahnya jumlah profesi dan profesional pada
abad 20 terjadi karena ciri tersebut. Untuk dapat berfungsi maka masyarakat modern yang
secara teknologis kompleks memerlukan aplikasi yang lebih besar akan pengetahuan khusus
daripada masyarakat sederhana yang hidup pada abad-abad lampau. Produksi dan distribusi
enersi memerlukan aktivitas oleh banyak engineers. Berjalannya pasar uang dan modal
memerlukan tenaga akuntan, analis sekuritas, pengacara, konsultan bisnis dan keuangan.
Singkatnya profesi memberikan jasa penting yang memerlukan pelatihan intelektual yang
ekstensif.

3
Di samping ketiga syarat itu ciri profesi berikutnya. Ketiga ciri tambahan tersebut tidak
berlaku bagi semua profesi. Adapun ketiga ciri tambahan tersebut ialah:
- Adanya proses lisensi atau sertifikat. Ciri ini lazim pada banyak profesi namun tidak selalu
perlu untuk status profesional. Dokter diwajibkan memiliki sertifikat praktek sebelum
diizinkan berpraktek. Namun pemberian lisensi atau sertifikat tidak selalu menjadikan sebuah
pekerjaan menjadi profesi. Untuk mengemudi motor atau mobil semuanya harus memiliki
lisensi, dikenal dengan nama surat izin mengemudi. Namun memiliki SIM tidak berarti
menjadikan pemiliknya seorang pengemudi profesional. Banyak profesi tidak mengharuskan
adanya lisensi resmi. Dosen diperguruan tinggi tidak diwajibkan memiliki lisensi atau akta
namun mereka diwajibkan memiliki syarat pendidikan, misalnya sedikitdikitnya bergelar
magister atau yang lebih tinggi. Banyak akuntan bukanlah Certified Public Accountant dan
ilmuwan komputer tidak memiliki lisensi atau sertifikat.
- Adanya organisasi. Hampir semua profesi memiliki organisasi yang mengklaim mewakili
anggotanya. Ada kalanya organisasi tidak selalu terbuka bagi anggota sebuah profesi dan
seringkali ada organisasi tandingan. Organisasi profesi bertujuan memajukan profesi serta
meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Peningkatan kesejahteraan anggotanya akan berarti
organisasi profesi terlibat dalam mengamankan kepentingan ekonomis anggotanya.
Sungguhpun demikian organisasi profesi semacam itu biasanya berbeda dengan serikat kerja
yang sepenuhnya mencurahkan perhatiannya pada kepentingan ekonomi anggotanya. Maka
hadirin tidak akan menjumpai organisasi pekerja tekstil atau bengkel yang berdemo menuntut
disain mobil yang lebih aman atau konstruksi pabrik yang terdisain dengan baik.
- Otonomi dalam pekerjaannya. Profesi memiliki otonomi atas penyediaan jasanya. Di
berbagai profesi, seseorang harus memiliki sertifikat yang sah sebelum mulai bekerja.
Mencoba bekerja tanpa profesional atau menjadi profesional bagi diri sendiri dapat
menyebabkan ketidakberhasilan. Bila pembaca mencoba menjadi dokter untuk diri sendiri
maka hal tersebut tidak sepenuhnya akan berhasil karena tidak dapat menggunakan dan
mengakses obat-obatan dan teknologi yang paling berguna. Banyak obat hanya dapat
diperoleh melalui resep dokter. sepuluh ciri lain suatu profesi:
1. Memiliki fungsi dan signifikasi sosial
2. Memiliki keahlian/keterampilan tertentu
3. Keahlian/keterampilan diperoleh dengan menggunakan teori dan metode ilmiah
4. Didasarkan atas disiplin ilmu yang jelas
5. Diperoleh dengan pendidikan dalam masa tertentu yang cukup lama

4
6. Aplikasi dan sosialisasi nilai- nilai profesional
7. Memiliki kode etik
8. Kebebasan untuk memberikan judgement dalam memecahkan masalah dalam lingkup
kerjanya
9. Memiliki tanggung jawab profesional dan otonomi
10. Ada pengakuan dari masyarakat dan imbalan atas layanan profesinya. Tiga Watak
Profesional

Lebih lanjut Wignjosoebroto [1999] menjabarkan profesionalisme dalam tiga watak kerja
yang merupakan persyaratan dari setiap kegiatan pemberian "jasa profesi" (dan bukan
okupasi) ialah :
- bahwa kerja seorang profesional itu beritikad untuk merealisasikan kebajikan demi
tegaknya kehormatan profesi yang digeluti, dan oleh karenanya tidak terlalu mementingkan
atau mengharapkan imbalan upah materiil;
- bahwa kerja seorang profesional itu harus dilandasi oleh kemahiran teknis yang berkualitas
tinggi yang dicapai melalui proses pendidikan dan/atau pelatihan yang panjang, ekslusif dan
berat;
- bahwa kerja seorang profesional -- diukur dengan kualitas teknis dan kualitas moral -- harus
menundukkan diri pada sebuah mekanisme kontrol berupa kode etik yang dikembangkan dan
disepakati bersama didalam sebuah organisasi profesi. Ketiga watak kerja tersebut
mencobamenempatkan kaum profesional (kelompok sosial berkeahlian) untuk tetap
mempertahankan idealisme yang menyatakan bahwa keahlian profesi yang dikuasai bukanlah
komoditas yang hendak diperjual-belikan sekedar untuk memperoleh nafkah, melainkan
suatu kebajikan yang hendak diabdikan demi kesejahteraan umat manusia.
- Kalau didalam pengamalan profesi yang diberikan ternyata ada semacam imbalan
(honorarium) yang diterimakan, maka hal itu semata hanya sekedar "tanda kehormatan"
(honour) demi tegaknya kehormatan profesi, yang jelas akan berbeda nilainya dengan
pemberian upah yang hanya pantas diterimakan bagi para pekerja upahan saja.

5
OKUPASI

Definisi Pekerjaan/Okupasi:

 Setiap kegiatan yang menggunakan fisik dan/atau pikiran untuk mencapai tujuan

tertentu

 Penggunaan tenaga dan/atau pikiran untuk mendapatkan imbalan guna memenuhi

kebutuhannya sebagai manusia.

Pekerjaan dapat diklasifikasikan menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu :

a) Pekerjaan dalam arti umum, yaitu pekerjaan apa saja yang mengutamakan kemampuan

fisik, baik sementara atau tetap dengan tujuan memperoleh pendapatan (upah).

b) Pekerjaan dalam arti tertentu, yaitu pekerjaan yang mengutamakan kemampuan fisik dan

intelektual, baik sementara atau tetap dengan tujuan pengabdian.

c) Pekerjaan dalam arti khusus, yaitu pekerjaan bidang tertentu, mengutamakan kemampuan

fisik dan intelektual, bersifat tetap, dengan tujuan memperoleh pendapatan.

Suatu pekerjaan belum tentu merupakan suatu profesi, tetapi suatu profesi pasti merupakan

suatu pekerjaan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, profesi merupakan bidang

pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian tertentu. Henry Campbell Black memberikan

definisi sebagai berikut:

“Profession: A vocation or occupation requiring special, usually advanced, education,

knowledge, and skill; e.g. law or medical professions. Also refers to whole body such

profession. The labor and skill involved in profession is predominantly mental or intellectual,

rather than physical or manual. The term originally contemplated only theology, law, and

medicine, but as applications of science and learning are extended to other departments of
6
affairs, other vacations also receive the name which implies professed attainments in special

knowledge as distinguished from mere skill. Act or professing; a public declaration

respecting something. Profession of faith in a religion”.

Menurut pendapat Terence J. Johnson, ada 7 (tujuh) elemen untuk menempatkan okupasi

(pekerjaan) sebagai Profesi, antara lain :

a. Skill based on teoritical knowledge (keterampilan yang didasarkan pada pengetahuan yang

bersifat teoritik);

b. The provision of training and education (aturan-aturan yang menyangkut latihan dan

pendidikan);

c. Testing the competence of member (uji kompetensi dari anggota);

d. Organization (ada organisasi profesi);

e. Adherence to professional code conduct (menati aturan-aturan tentang profesi/kode etik

profesi);

f. Altruistic service – characteristic of professional rule (mengutamakan pelayanan –

karakteristik profesi bukan untuk mencari kekayaan);

g. Independence practice (adanya kebebasan berpraktek, memiliki kemandirian (otonomi)

dalam melaksanakan tugas keprofesiannya)

Kemudian Brandeis mengatakan bahwa:

Pekerjaan yang awalnya memerlukan pelatihan intelektual, yang menyangkut pengetahuan

sampai tahap tertentu (kesarjanaan), yang berbeda dari sekedar keahlian atau kecakapan

semata. Pekerjaan ini bukan hanya demi diri sendiri tapi sebagian besar demi kebaikan (pro
7
bono) orang lain (bersifat altruistis), dan imbalan tidak diterima sebagai ukuran keberhasilan.

Ada beda mendasar antara pengetahuan dan keahlian seorang profesional. Sasaran

profesional adalah kebaikan klien. Kebaikan ada didalam pengetahuan. Kebaikan memiliki

kekuatan dan fungsi untuk mengatur perolehan dan penerapan ilmu, sedang keahlian

merupakan pengetahuan yang diterapkan oleh praktisi untuk melayani suatu tujuan.

Anda mungkin juga menyukai