Anda di halaman 1dari 39

MAKALAH KEDARURATAN BENCANA

“Manajemen Penanggulangan Bencana Alam Tsunami”

Disusun oleh :

Nama : Riska Novitasari


NIM : P07134115045
Semester : VII (Tujuh)
Prodi/Jurusan : DIV Analis Kesehatan

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN MATARAM

JURUSAN ANALIS KESEHATAN

2018
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat serta kasih
sayang dan karunia-Nya yang telah diberikan kepada seluruh ciptaan- Nya, shalawat dan
salam semoga dilimpahkan kepada Nabi besar Muhammad SAW. Alhamdulillah berkat
kemudahan yang diberikan Allah SWT, saya dapat menyelesaikan makalah Kedaruratan
Bencana yang berjudul “Manajemen Penanggulangan Bencana Alam Tsunami”

Adapun tujuan dari Penyusunan makalah ini adalah sebagai salah satu tugas
sekaligus nilai ujian mata kuliah kedaruratan bencana. Dalam Penyusunan makalah ini,
saya banyak mengalami kesulitan dan hambatan, hal ini disebabkan oleh keterbatasan
ilmu pengetahuan yang saya miliki. Saya berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi saya pada khususnya, dan bagi para pembaca pada umumnya. Aamiin. Saya sebagai
penyusun sangat menyadari bahwa dalam Penyusunan makalah ini masih banyak
kekurangan dan jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, saya sangat mengharapkan
kritik dan saran yang ditujukan untuk membangun.

Mataram, 28 November 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................................................ i


DAFTAR ISI..............................................................................................................................ii
BAB I ......................................................................................................................................... 3
PENDAHULUAN ..................................................................................................................... 3
A. Latar Belakang ................................................................................................................ 3
B. Rumusan Masalah ........................................................................................................... 5
C. Tujuan ............................................................................................................................. 5
BAB II........................................................................................................................................ 5
PEMBAHASAN ........................................................................................................................ 6
A. Pengertian Bencana Alam Tsunami ................................................................................ 6
B. Tahap Pra-Bencana ......................................................................................................... 9
1. Pencegahan dan Mitigasi Bencana Tsunami ............................................................... 9
2. Kesiapsiagaan Bencana Tsunami .............................................................................. 12
C. Tanggap Darurat Bencana Tsunami (Saat Bencana) .................................................... 19
D. Manajemen Pemulihan(Pasca Bencana) Bencana Tsunami ......................................... 23
E. Sistem Informasi Penanggulangan Krisis Kesehatan Bencana Tsunami ...................... 25
BAB III .................................................................................................................................... 35
PENUTUP................................................................................................................................ 35
A. Kesimpulan ................................................................................................................... 35
B. Saran ............................................................................................................................. 36
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................. 36

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau serangkaian
peristiwa yang disebabkan oleh alam yang tidak dapat dihindari diantaranya berupa
peristiwa gempa bumi, gunung meletus, angin topan, banjir, kekeringan, dan tanah
longsor yang dapat mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan,
kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Indonesia merupakan negara yang sangat rawan terhadap bencana alam. Hal ini
dikarenakan negara Indonesia secara geografis terletak diantara dua lempengan yaitu
lempengan Eurasia dan lempengan India-Australia. Dengan wilayah yang sangat
dipengaruhi oleh pergerakan lempeng tektonik ini maka Indonesia rawan untuk
mengalami tsunami.
Tsunami berasal dari bahasa jepang yaitu Tsu = pelabuhan dan Nami =
gelombang. Jadi Tsunami berarti pasang laut besar dipelabuhan. Secara singkat Tsunami
dapat dideskripsikan sebagai gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan
oleh oleh suatu gangguan impulsive yang terjadi pada medium laut, seperti gempa bumi,
erupsi vulkanik atau longsoran (Ramli, 2010). Gangguan impulsive tsunami biasanya
berasal dari tiga sumber utama, yaitu : gempa didasar laut, letusan gunung api di dasar
laut, dan longsoran yang terjadi di dasar laut. Gelombang tsunami yang ditimbulkan oleh
gaya impulsive bersifat transien yaitu gelombangnya bersifat sesar. Gelombang semacam
ini berbeda dengan gelombang laut lainnya yang bersifat kontinyu, seperti gelombang
laut yang ditimbulkan oleh gaya tarik benda angkasa.
Sejak awal tahun 1990 hingga saat ini, tercatat telah terjadi 9 kali tsunami dengan
korban jiwa lebih dari 2000 meninggal dunia. Kejadian tsunami yang paling besar di
Indonesia adalah bencana Tsunami yang melanda Pantai Barat-Utara Sumatera, utamanya
wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan sebagian Sumatera Utara, yang terjadi
pada tanggal 26 Desember 2004, yang telah menelan korban lebih dari 70.000 orang.
Adapun daerah-daerah lain yang rawan tsunami di Indonesia berdasarkan daerah yang
pernah terjadi dan berdasarkan peta tektonik adalah meliputi daerah sepanjang pantai
Selatan, Pulau Jawa dan Bali, Kepulauan Nusa Tenggara dan Maluku, sebagian Sulawesi
dan Pantai Utara Irian Jaya. Dengan demikian, kecuali Pulau Kalimantan, hampir seluruh
wilayah Indonesia adalah rawan Tsunami (Nugrahadi, 2014).

3
Periode tsunami ini berkisar antara 10-60 menit. Gelombang tsunami mempunyai
panjang gelombang yang besar sampai mencapai 100 km. Kecepatan rambat gelombang
tsunami di laut dalam mencapai 500-1000 km/jam. Apabila tsunami mencapai pantai,
kecepatannya dapat mencapai 50 km/jam dan energinya sangat merusak daerah pantai
yang dilaluinya. Gelombang tsunami yang pernah terjadi di Indonesia mencapai 36 meter
yang terjadi saat letusan gunung api krakatau (Tika, 2012).
Tsunami dapat terjadi setiap saat, pada pagi, siang, sore maupun malam hari. Oleh
karena itu perlu kesiapsiagaan bagi seluruh warga yang bertempat tinggal pada daerah
yang berisiko terhadap tsunami seperti kawasan pesisir pantai. Sehingga mereka harus
mengetahui apa yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah tsunami agar risiko
bencana alam tsunami dapat diminimalisir. Dengan ditetapkannya Undang - undang
Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, maka penanggulangan bencana
diharapkan akan semakin efektif dalam meminimalisir dampak dari bencana tersebut.

4
Penanggulangan bencana dapat dilakukan secara terarah mulai pra-bencana, saat tanggap
darurat, dan pasca bencana.

Berdasarkan uraian di atas penulis tertarik untuk menulis makalah mengenai


manajemen penanggulangan bencana tsunami mulai dari pra-bencana,saat tanggap
darurat, dan pasca bencana.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini yaitu

1. Apa pengertian dari bencana alam tsunami?


2. Bagaimana tahap pra-bencana/manajemen risiko bencana tsunami?
3. Bagaimana tahap tanggap darurat/manajemen kedaruratan bencana tsunami?
4. Bagaimana tahap penanggulangan pasca bencana/manajemen pemulihan
bencana tsunami?
5. Bagaimana system informasi penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana
tsunami?

C. Tujuan
Tujuan dibuatnya makalah ini antara lain:

1. Untuk mengetahui pengertian dari bencana alam tsunami.


2. Untuk mengetahui tahap pra-bencana/manajemen risiko bencana tsunami.
3. Untuk mengetahui tahap tanggap darurat/manajemen kedaruratan bencana
tsunami.
4. Untuk mengetahui tahap penanggulangan pasca bencana/manajemen pemulihan
bencana tsunami.
5. Untuk mengetahui system informasi penanggulangan krisis kesehatan bencana
tsunami.

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Bencana Alam Tsunami


Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam yang tidak dapat dihindari diantaranya
berupa peristiwa gempa bumi, gunung meletus, angin topan, banjir, kekeringan, dan
tanah longsor yang dapat mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan,
kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
Tsunami berasal dari bahasa jepang yaitu Tsu = pelabuhan dan Nami =
gelombang. Jadi Tsunami berarti pasang laut besar dipelabuhan. Secara singkat Tsunami
dapat dideskripsikan sebagai gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan
oleh oleh suatu gangguan impulsive yang terjadi pada medium laut, seperti gempa bumi,
erupsi vulkanik atau longsoran (Ramli, 2010). Gangguan impulsive tsunami biasanya
berasal dari tiga sumber utama, yaitu : gempa didasar laut, letusan gunung api di dasar
laut, dan longsoran yang terjadi di dasar laut. Gelombang tsunami yang ditimbulkan oleh
gaya impulsive bersifat transien yaitu gelombangnya bersifat sesar. Gelombang semacam
ini berbeda dengan gelombang laut lainnya yang bersifat kontinyu, seperti gelombang
laut yang ditimbulkan oleh gaya tarik benda angkasa.

Tsunami adalah serangkaian gelombang tinggi yang disebabkan oleh


perpindahan sejumlah besar air laut secara tiba-tiba. Tsunami disebabkan oleh gempa
bawah laut, meletusnya gunung berapi di bawah laut, tanah longsor atau perpindahan
tanah di bawah air, jatuhnya meteor, maupun tanah pesisir yang longsor ke dalam laut.
Kebanyakan tsunami terjadi di “Lingkaran Api” Pasifik, yang merupakan tempat
aktivitas terkait dengan gempa bumi yang paling sering terjadi. Tsunami biasanya
diklasifikasikan menjadi tsunami lokal atau tsunami jauh. Tsunami lokal biasanya terjadi

6
dalam waktu yang kurang untuk memberi peringatan, dan mungkin juga diiringi
kerusakan akibat gempa pemicu seperti tanah bergerak, surface faulting, liquefaction,
atau tanah longsor. Tsunami jauh bisa berjalan selama berjam-jam sebelum melanda
pesisir. Di lautan terbuka, tinggi suatu tsunami bisa hanya beberapa puluh centimeter,
tapi mampu bergerak sampai 800 km/jam. Ketika tsunami memasuki perairan dekat
pesisir, kecepatannya berkurang, panjang ombak berkurang, dan tinggi bertambah
drastis. Namun, ombak pertama biasanya bukan ombak terbesar, beberapa ombak yang
lebih besar dan ganas seringkali mengikuti ombak pertama. Walau kecepatan ombak
tsunami biasanya berkurang saat mendekati pesisir, gelombang tetap berjalan lebih cepat
daripada kemampuan seorang pelari jarak jauh olimpiade – lebih dari 24 km/jam.
Konfigurasi pesisir, bentuk dasar laut, serta karakteristik dari gelombang yang
mendekat, menentukan keganasan gelombang. Sebuah gelombang bisa jadi kecil di satu
titik pada pesisir dan sangat besar di titik lain. Teluk, inlet, sungai, kali, perbukitan lepas
pantai, pulau-pulau dan kanal-kanal pengendalian banjir dapat mempengaruhi, terkadang
dapat menyebabkan kerusakan yang lebih besar dari yang diperkirakan.
Tidak seperti gempa bumi yang dapat
merusak wilayah luas – biasanya ribuan hektar –
tsunami merusak sepanjang pesisir linear (garis
lurus) dan biasanya mencapai daratan hingga jarak
yang tak terlalu jauh. Ketika mendarat di pesisir,
gelombang akan terpantul kembali ke laut dan dapat
kembali menyerang pesisir dalam bentuk gelombang
beruntun. Indikasi kasat mata pertama dari
datangnya tsunami adalah surutnya air (drawdown)
yang disebabkan oleh lembah gelombang yang
mendahului bukit gelombang besar yang sedang
menuju daratan. Drawdown yang cepat dapat
menyebabkan arus kuat di ceruk-ceruk pelabuhan
dan kanal yang dapat mengakibatkan kerusakan besar pada bangunan-bangunan di
pesisir. Efek kerusakan arus tersebut diperkuat oleh adanya erosi di sekitar dermaga dan
tiang-tiang dermaga. Seiring dengan menurunnya tingkat air, dermaga dapat juga dirusak
oleh kapal-kapal yang menarik dan kadang memutuskan tali tambat. Kapal-kapal
tersebut kadang terbalik atau karam karena arus kuat, tabrakan dengan benda lain, atau
tabrakan dengan sisi bawah dermaga. Sebaliknya, naiknya permukaan laut juga bisa
menjadi salah satu pertanda awal datangnya tsunami. Tsunami yang datang bisa saja

7
terlihat seperti arus kuat yang menaikkan permukaan laut seperti pada waktu pasang, tapi
arus tsunami naik lebih cepat dan tidak berhenti digaris pesisir. Meskipun gelombang tak
terlihat terlalu tinggi, misalnya 90 hingga 180 cm, kekuatan arus yang mengikuti
gelombang tersebut bisa mematikan. Ombak setinggi pinggang dapat menimbulkan arus
yang mengapungkan mobil, bangunan kecil, ataupun puing-puing. Kapal-kapal dan
puing-puing seringkali terbawa ke daratan oleh arus dan dibiarkan terlantar ketika arus
surut. Arus balik yang mengikuti terpaan juga mengakibatkan arus kencang yang
menghancurkan bangunan dan menghajarnya dengan puingpuing, serta menyebabkan
erosi pada pantai dan bangunan pesisir.
Tsunami yang mendekat memiliki
beberapa bentuk seperti ombak yang tingginya
meningkat dengan cepat, gelombang yang
menukik, atau ombak yang berbentuk mata bor.
Fenomena mata bor bersifat seperti tangga dalam
perubahan level air yang meningkat dengan

cepat (dari 16 km per jam hingga 96 km per


jam). Ombak mata bor normal yang terjadi di
Teluk Fundy, Kanada, Kekuatan dan kehancuran
yang disebabkan oleh tsunami tidak boleh
diremehkan. Pada beberapa lokasi, gelombang
terdepan yang mendekat adalah bagian yang
paling menghancurkan. Dalam keadaan lain, kerusakan terbesar dapat disebabkan oleh
arus balik yang kembali ke laut di antara terpaan ombak, menyapu semua yang
menghalanginya serta merusak jalanan, gedung, kapal-kapal, serta bangunan lainnya.
Arus balik ini dapat membawa serta puing-puing yang berukuran sangat besar dan
mengakibatkan kerusakan lebih lanjut. Kapal besar dan kecil, jika tak dipindahkan dari
pesisir, bias terbanting ombak dan mengenai pelabuhan, dermaga, serta kapalkapal lain
dan dapat terdampar di darat setelah perginya air laut. Kekuatan dan kehancuran yang
disebabkan oleh tsunami tidak boleh diremehkan. Pada beberapa lokasi, gelombang
terdepan yang mendekat adalah bagian yang paling menghancurkan. Dalam keadaan
lain, kerusakan terbesar dapat disebabkan oleh arus balik yang kembali ke laut di antara
terpaan ombak, menyapu semua yang menghalanginya serta merusak jalanan, gedung,
kapal-kapal, serta bangunan lainnya. Arus balik ini dapat membawa serta puing-puing
yang berukuran sangat besar dan mengakibatkan kerusakan lebih lanjut. Kapal besar dan

8
kecil, jika tak dipindahkan dari pesisir, bias terbanting ombak dan mengenai pelabuhan,
dermaga, serta kapal kapal lain dan dapat terdampar di darat setelah perginya air laut.

B. Tahap Pra-Bencana

1. Pencegahan dan Mitigasi Bencana Tsunami


Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 21 tahun 2008
tentang Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana, mitigasi adalah serangkaian
upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun
penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.
Risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada
suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit,
jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta,
dan gangguan kegiatan masyarakat.
Mitigasi bencana merupakan bagian dari kegiatan pra bencana yang
merupakan upaya untuk mencegah atau mengurangi dampak yang ditimbulkan
dari suatu bencana untuk itu dalam pelaksanaan mitigasi bencana harus dilakukan
secara terencana dan komperhensif.
Terdapat empat upaya pendekatan dalam melakukan upaya mitigasi bencana
yaitu pendekatan teknis, manusia, administratif, dan kultural. Adapun upaya
mitigasi bencana tsunami yang dapat dilakukan berdasarkan empat pendekatan
tersebut adalah:
a. PENDEKATAN TEKNIS
Pendekatan secara teknis dalam mitigasi bencana tsunami mengarah
dalam pembuatan sistem, rancangan, teknis pengamanan, atau membuat
material yang dapat memberikan efek dalam mengurangi dampak terjadinya
bencana tsunami(Ramli, 2010). Salah satu yang dapat dilakukan ialah
pembangunan system peringatan dini tsunami, seperti Tsunami Early
Warning System.
Indonesia Tsunami Early Warning System yang disingkat InaTEWS
merupakan proyek nasional yang melibatkan berbagai institusi dalam negeri
dibawah koordinasi Kementerian Negara Riset dan Teknologi (RISTEK).
Gejala-gejala seperti gempa bumi yang berpusat di laut serta titik pusat
dimana terjadinya gempa akan terdeteksi oleh tsunami warning system.

9
Badan yang berwenang untuk mengelola data tersebut adalah BMKG yang
berpusat di Jakarta.
Terdapat dua komponen utama yang ada di dalam InaTEWS. Pertama
adalah komponen struktural (sensor-sensor pendeteksi tsunami). Contohnya
adalah seismometer, stasiun pasang surut dan tsunami buoy. Seismometer
dioprasikan oleh BMKG, sedangkan stasiun pasang surut digunakan untuk
mengukur keadaan muka air laut yang dipasang di pantai atau di pelabuhan.
Tsunami buoy adalah sebuah alat yang dipasang di laut dalam.
Di Indonesia sekarang menggunakan 4 jenis buoy yang sedang
beroperasi di perairan Indonesia, yaitu Buoy Tsunami Indonesia, Deep Ocean
Assessment and Reporting Tsunamis (DART) Amerika, German-Indonesian
Tsunami Warning System (GITWS) dan Buoy Wavestan. Pada buoy ini
terdapat OBU (Ocean Bottom Unit) dimana nantinya alat inilah yang
mendeteksi adanya gelombang yang berpotensi sebagai tsunami yang lewat di
atasnya. Komponen yang kedua adalah komponen kultural (BMKG, 2010).
Kekurangan dari tsunami warning system ini adalah manusia tidak
dapat terlindungi dari tsunami yang terjadi secara mendadak. Dengan kata
lain, system peringatan dini tsunami belum pernah menyelamatkan seorang
pun dari bencana tsunami yang secara tiba-tiba. sistem peringatan dini
tsunami ini dapat bekerja efektif jika jarak pusat gempa sangat jauh. Sehingga
masyarakat dan pihak berwenang dapat mengevakuasi sehingga dapat
meminimalisasi kerusakan yang akan terjadi setelah bencana itu terjadi.
InaTWES juga menggunakan teknologi DSS atau Decision Support
System. Adanya sistem ini berguna untuk mengumpulan informasi yang ada.
Informasi tersebut di dapatkan dari berbagai sumber lain yang mengarah pada
ciri ciri datangnya tsunami. Isi dari informasi tersebut antara lain sistem
monitoring gempa, simulasi tsunami, deformasi kerak bumi setelah terjadi
gempa. Hal lain yang dapat dilakukan yaitu pembangunan rumah yang tahan
terhadap bahaya tsunami sebagai sebuah rencana kedaruratan dalam
menghadapi tsunmai, kemudian dapat juga membangunan tembok penahan
tsunami pada garis pantai yang berisiko, seperti bangunan pemecah ombak
atau penahan gelombang. Penanaman mangrove serta tanaman lainnya
sepanjang garis pantai meredam gaya air tsunami juga dapat dilakukan
sebagai bentuk mitigasi bencana tsunami. Pembangunan tempat-tempat

10
evakuasi yang aman di sekitar daerah pemukiman. Tempat atau bangunan ini
harus cukup tinggi dan mudah diakses untuk menghidari ketinggian tsunami.
b. PENDEKATAN MANUSIA
Hal ini dilakukan supaya dapat membentuk pemahaman masyarakat
untuk mengatahui dan sadar mengenai bencana tsunami, sehingga dalam
pendekatan ini perilaku dan cara hidup manusia dapat diperbaiki. Misalnya
pemerintah ataupun lembaga dapat memerikan pendidikan kepada masyarakat
tentang karakteristik dan pengenalan bahaya tsunami. Selain mengenai
pengenalan bahaya masyarakat perlu mengetahui bagaimana memahami cara
penyelamatan jika terlihat tanda-tanda tsunami.
Masyarakat juga perlu dikenalkan dengan peta rawan bencana, peta
risiko bencana tsunami, guna menambah pemahaman masyarakat mengenai
bencana tsunami. Sasaran pendidikan tsunami adalah masyarakat di wilayah
yang rawan gempa dan dibawah sebuah waduk.
Di Indonesia wilayah yang rawan gempa dan tsunami terdapat
diseluruh pantai mulai dari ujung Aceh, pantai barat Sumatera, pantai selatan
Jawa, Bali, NTB, NTT kemudian membelok ke kepulauan Maluku. Juga
terdapat diseluruh pantai di kepulauan Sulawesi dan pantai timur laut Papua
(Tika, 2009).
c. PENDEKATAN ADMINISTRATIF
Pendekatan ini dilakukan oleh pihak pemerintah ataupun organisasi
secara administratif dalam melakukan manajemen bencana, hal yang dapat
dilakukan misalnya menyusun payung hukum yang efektif dalam
mewujudkan upaya-upaya mitigasi bencana seperti penyusunan produk
hukum yang mengatur pelaksanaan upaya mitigasi, pengembangan peraturan
dan pedoman perencanaan dan pelaksanaan bangunan penahan bencana, serta
pelaksanaan peraturan dan penegakan hukum terkait mitigasi.
Memberikan perlindungan kepada kehidupan masyarakat,
infrastruktur, dan lingkungan pesisir serta Pemerintah juga perlu
menyelenggarakan sebuah simulasi terhadap bencana tsunami sebagai bentuk
upaya mitigasi bencana dalam pendekatan administratif.
Hal penting lainnya yang perlu pemerintah dan organisasi lakukan
adalah melakukan peningkatan peran dan kerjasama yang sinergis dari
berbagai pihak, pengembangan forum koordinasi dan integrasi program antar

11
sektor, antar level birokrasi, guna meningkatkan efisiensi dan efektivitas
dalam penanggulangan bencana, khususunya bencana tsunami.
d. PENDEKATAN KULTURAL
Masih banyak anggapan oleh masyarakat bahwa terjadinya bencana
adalah takdir yang harus diterima dengan apa adanya, anggapan ini tidak
benar dan dapat membuat masyarakat melakukan tindakan pencegahan dan
penanggulangan yang sebenarnya dapat mereka lakukan. Dalam hal ini
masyarakat sebaiknya diberikan pemahanan secara lebih dengan melakukan
pendekatan yang sesuai dengan kultur masyarakat sekitar, yang dapat
dilakukan juga selain dengan pemahaman kita dapat mendorong
keberlanjutan aktivitas ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat
pesisir melalui melakukan kegiatan mitigasi yang mampu meningkatkan nilai
ekonomi kawasan, meningkatkan keamanan dan kenyamanan kawasan pesisir
untuk kegiatan perekonomian (Kemendagri, 2006). Hal tersebut akan lebih
diterima oleh masyarakat karena selain mereka mengetahui hal apa yang
dilakukan dalam mitigasi bencana, kegiatan ekonomi masyarakat juga dapat
meningkat.

2. Kesiapsiagaan Bencana Tsunami


Kesiapsiagaan dilaksanakan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya
bencana guna menghindari jatuhnya korban jiwa, kerugian harta benda dan
berubahnya tata kehidupan masyarakat.
Definisi lain dari kesiapsiagaan dapat dilihat pada definisi yang disampaikan
oleh International Federation of Redcross and Red Crescent Societies (IFRC).
Kesiapsiagaan adalah suatu kegiatan yang membuat perencanaan dalam menghadapi
bencana.Perencanaan yang dibuat haruslah bersifat efektif, realistis dan terkoordinasi,
dan memaksimalkan peran seluruh aspek dalam masyarakat, rumah tangga dan
komunitas siaga bencana. Tidak hanya berhenti pada perencanaan, kegiatan
kesiapsiagaan juga akan melakukan respon terhadap upaya-upaya kesiapsiagaan yang
telah dilakukan. Kegiatan kesiapsiagaan pada dasarnya bertujuan untuk mencegah
situasi yang lebih buruk dari bencana itu sendiri dan juga bertujuan untuk
menyelamatkan sebanyakbanyaknya kehidupan dan pada akhirnya juga untuk
membantu korban agar dapat kembali pada kehidupan normal setelah terjadinya
bencana dalam jangka waktu yang
singkat.

12
Upaya kesiapsiagaan gempa bumi dan tsunami yang menempatkan warga
masyarakat yang tinggal di daerah rawan terhadap bencana gempa dan tsunami
tersebut sebagai pelaku utama, sebagai subjek yang berpartisipasi dan bukan objek,
akan lebih berkelanjutan dan berdaya guna.
Kerangka kerja kesiapsiagaan menghadapi bencana tsunami mengacu pada
parameter, variabel dan indikator yang telah dikembangkan oleh LIPI – UNESCO dan
mengakomodir 9 indikator kesiapsiagaan BNPB. Parameter di dalam pedoman ini
merupakan faktor-faktor kritis yang sangat dibutuhkan terhadap kesiapsiagaan
masyarakat dalam mengantisipasi bencana tsunami. Terdapat 5 parameter yang
menjadi acuan dalam kerangka kerja kesiapsiagaan menghadapi bencana tsunami,
yaitu:
a. Parameter pertama adalah pengetahuan dan sikap terhadap risiko bencana.
Pengetahuan merupakan faktor utama dan menjadi kunci untuk kesiapsiagaan.
Pengetahuan yang dimiliki dapat mempengaruhi sikap dan kepedulian
masyarakat untuk siap dan siaga dalam mengantisipasi bencana, terutama bagi
masyarakat yang tinggal di daerah rentan terhadap bencana alam.
b. Parameter kedua adalah kebijakan dan panduan yang berkaitan dengan
kesiapsiagaan untuk mengantisipasi bencana alam. Kebijakan merupakan upaya
konkrit untuk melaksanakan kegiatan siaga bencana. Kebijakan-kebijakan
dituangkan dalam berbagai bentuk, tetapi akan lebih bermakna apabila
dicantumkan secara konkrit dalam peraturan-peraturan, seperti SK (Surat
Keputusan) atau Perda (Peraturan Daerah) yang disertai dengan tugas pokok
fungsinya yang jelas. Agar kebijakan dapat diimplementasikan dengan dengan
optimal, maka dibutuhkan panduan-panduan operasionalnya.
c. Parameter ketiga adalah rencana untuk keadaan darurat bencana. Rencana ini
menjadi bagian yang penting dalam kesiapsiagaan, terutama berkaitan dengan
evakuasi, pertolongan dan penyelamatan, agar korban bencana dapat
diminimalkan.
d. Parameter keempat adalah sistem peringatan bencana gempabumi-tsunami.
Sistem ini meliputi tanda peringatan dan distribusi informasi akan terjadinya
bencana. Dengan peringatan bencana, masyarakat dapat melakukan tindakan
yang tepat untuk mengurangi korban jiwa, harta benda dan kerusakan lingkungan.
e. Parameter kelima adalah mobilisasi sumber daya. Sumber daya yang tersedia,
baik sumber daya manuasia (SDM), pendanaan dan sarana-prasarana penting

13
untuk keadaan darurat merupakan potensi yang dapat mendukung atau sebaliknya
menjadi kendala dalam kesiapsiagaan bencana.
Lima parameter tersebut diterjemahkan menjadi variabel-variabel yang dapat
menjadi acuan dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat. Berikut adalah variabel
dari kelima paratemer di atas.
a. Parameter pengetahuan dan sikap terdiri dari empat variabel, yaitu :
• Pemahaman tentang bencana alam
• Pemahaman tentang kerentanan lingkungan
• Pemahaman tentang kerentanan bangunan fisik dan fasilitas-fasilitas penting
untuk keadaan darurat bencana
• Sikap dan kepedulian terhadap risiko bencana
Pada tabel 1 dapat dilihat contoh-contoh tindakan yang dilakukan terkait
membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi Gempabumi Tsunami.

b.
Parameter kebijakan, peraturan dan panduan dijabarkan kedalam tiga variabel,
yaitu :
• Jenis-jenis kebijakan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi bencana alam,
seperti : organisasi pengelola bencana, rencana aksi untuk tanggap darurat,
sistem peringatan bencana, pendidikan masyarakat dan alokasi dana
• Peraturan-peraturan yang relevan, seperti : Perda dan SK
• Panduan-panduan yang relevan

14
Pada tabel 2 dapat dilihat contoh-contoh tindakan yang dilakukan terkait
membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi Gempabumi Tsunami.

c. Parameter rencana untuk keadaan darurat terdiri dari delapan variabel, yaitu :
• Organisasi pengelola bencana, termasuk kesiapsiagaan bencana
• Rencana evakuasi, termasuk lokasi dan tempat evakuasi, peta, jalur dan
rambu-rambu evakuasi
• Posko bencana dan prosedur tetap (Protap) pelaksanaan
• Rencana pertolongan pertama, penyelamatan, keselamatan dan keamanan
ketika terjadi bencana
• Rencana pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk makanan dan minuman,
pakaian, tempat/tenda pengungsian, air bersih, MCK dan sanitasi lingkungan,
kesehatan dan informasi tentang bencana dan korban
• Peralatan dan perlengkapan evakuasi
• Fasilitas-fasilitas penting untuk keadaan darurat (Rumah sakit/posko
kesehatan, pemadam kebakaran, PDAM, Telkom, PLN, pelabuhan, bandara)
• Latihan dan simulasi evakuasi

Pada tabel 3 dapat dilihat contoh-contoh tindakan yang dilakukan terkait


membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi Gempabumi Tsunami.

15
d. Parameter sistem peringatan bencana tsunami dijabarkan kedalam tiga variabel,
yaitu :
• Sistem peringatan bencana secara tradisional yang telah berkembang/berlaku
secara turun temurun dan/atau kesepakatan lokal
• Sistem peringatan bencana berbasis teknologi yang bersumber dari
pemerintah, termasuk instalasi peralatan, tanda peringatan, penyebaran
informasi peringatan dan mekanismenya
• Latihan dan simulasi

Pada tabel 4 dapat dilihat contoh-contoh tindakan yang dilakukan terkait


membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi Gempabumi Tsunami.

16
e. Parameter kemampuan memobilisasi sumber daya terdiri dari enam variabel,
yaitu :
• Pengaturan kelembagaan dan sistem komando
• Sumber daya manusia, termasuk ketersediaan personil dan relawan,
keterampilan dan keahlian
• Bimbingan teknis dan penyediaan bahan dan materi kesiapsiagaan bencana
alam
• Mobilisasi dana
• Koordinasi dan komunikasi antar stakeholder yang terlibat dalam
kesiapsiagaan bencana
• Pemantauan dan evaluasi kegiatan kesiapsiagaan bencana

Pada tabel 5 dapat dilihat contoh-contoh tindakan yang dilakukan terkait


membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi Gempabumi Tsunami.

17
Tindakan-Tindakan Pra bencana Tsunami

18
C. Tanggap Darurat Bencana Tsunami (Saat Bencana)
Tahap Tanggap Darurat merupakan tahap penindakan atau pengerahan pertolongan
untuk membantu masyarakat yang tertimpa bencana, guna menghindari bertambahnya
korban jiwa. Penyelenggaraan penanggulangan bencana pada saat tanggap darurat
meliputi:

1. pengkajian secara cepat dan tepat terhadap lokasi, kerusakan, kerugian, dan
sumber daya;
2. penentuan status keadaan darurat bencana;
3. penyelamatan dan evakuasi masyarakat terkena bencana;
4. pemenuhan kebutuhan dasar;
5. perlindungan terhadap kelompok rentan; dan
6. pemulihan dengan segera prasarana dan sarana vital.

Tahapan Tanggap Darurat Tsunami

19
20
21
22
D. Manajemen Pemulihan(Pasca Bencana) Bencana Tsunami
Menurut Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 11
Tahun 2008 upaya pasca bencana dibagi menjadi upaya rehabilitasi dan upaya
rekonstruksi. Upaya rehabilitasi bertujuan memperbaiki dan memulihan semua aspek
pelayanan public atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca
bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua
aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pascabencana. Sedangkan
dalam upaya rekonstruksi merupakan perumusan kebijakan dan usaha serta langkah-
langkah nyata yang terencana baik, konsisten dan berkelanjutan untuk membangun
kembali secara permanen semua prasarana, sarana dan sistem kelembagaan, baik di
tingkat pemerintahan maupun masyarakat, dengan sasaran utama tumbuh
berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan
ketertiban, dan bangkitnya peran dan partisipasi masyarakat sipil dalam segala aspek
kehidupan bermasyarakat di wilayah pasca bencana. Bertujuan untuk tercapainya
kehidupan masyarakat pasca-bencana yang lebih baik dan lebih aman dari sebelum
terjadinya bencana, yang mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan kondisi dan
situasi baru pasca-bencana. Oleh karena itu perlu upaya-upaya penanggulangan bencana
dalam hal ini adalah pasca bencana yang baik yang selaras dengan yang diamanatkan
dalam Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana
(Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 66, Tambahan Lembaran
Negara Republik Indonesia Nomor 47). Penyelenggaraan penanggulangan bencana ini
merupakan tanggung jawab semua pihak, baik pemerintah (pusat dan daerah), sektor
swasta maupun masyarakat umum dan individu.
Manajemen bencana merupakan suatu proses terencana yang dilakukan untuk
mengelola bencana dengan baik dan aman. Salah satu tahapan penting setelah terjadinya
bencana yaitu rehabilitasi dan rekontruksi.
Menurut Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana nomor 11 tahun
2008, Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau
masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana dengan sasaran
utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar. Sedangkan, rekonstruksi adalah
pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayah
pascabencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran
utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya
hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek
kehidupan bermasyarakat pada wilayah pasca bencana.

23
1. Sasaran dalam tahap rehabilitasi adalah terlaksananya perbaikan pelayanan publik
pada tahap yang memadai sehingga tercapai kondisi:
• pulihnya kondisi sumberdaya manusia
• pulihnya sarana ekonomi, keuangan dan perbankan
• pulihnya prasarana dan sarana umum dasar pada wilayah terkena bencana termasuk
akses transportasi dan komunikasi antar wilayah
• terbangunnya fasilitas perumahan sementara
• pulihnya fungsi pemerintahan dan pelayanan publik
• tegaknya hukum dan terjaminnya ketertiban umum
• pulihnya hak atas tanah
2. Sasaran dalam tahap rekonstruksi adalah terlaksananya pembangunan kembali
masyarakat dan kawasan yang meliputi:
• revitalisasi tatanan sosial dan budaya
• pembangunan sistem perekonomian yang mencakup perdagangan, perindustrian
dan perbankan beserta sarana dan prasarananya
• pembangunan sarana dan prasarana regional dan lokal termasuk system
transportasi,
• sistem telekomunikasi dan permukiman
• pembangunan sistem kelembagaan dan peningkatan kapasitas institusi pemerintah
• penataan ruang daerah yang terkena bencana secara partisipatif dan dengan
memperhatikan kerentanan lingkungan dan hak-hak masyarakat atas tanah secara
adil(Kementrian PPN, 2006).

Tindakan Setelah Bencana Tsunami


Beberapa tindakan perlu diketahui masyarakat setelah tsunami berlalu yaitu:

24
• Hindari instalasi listrik bertegangan tinggi dan laporkan jika menemukan
kerusakan kepada PLN.
• Hindari memasuki wilayah kerusakan kecuali setelah dinyatakan aman.
• Jauhi reruntuhan bangunan.
• Laporkan diri ke lembaga pemerintah, lembaga adat atau lembaga keagamaan.
• Upayakan penampungan sendiri kalau memungkinkan. Ajaklah sesame warga
untuk melakukan kegiatan yang positif. Misalnya, mengubur jenazah,
mengumpulkan benda-benda yang dapat digunakan kembali, sembahyang
bersama, dan lain sebagainya. Tindakan ini akan dapat menolong kita untuk
segera bangkit dan membangun kembali kehidupan.
• Bila diperlukan, carilah bantuan dan bekerja sama dengan sesama warga serta
lembaga pemerintah, adat, keagamaan atau lembaga swadaya masyarakat.
• Ceritakan tentang bencana ini kepada keluarga, anak, dan teman Anda untuk
memberikan pengetahuan yang jelas dan tepat. Ceritakan juga apa yang harus
dilakukan bila ada tanda-tanda tsunami akan datang.
• Mendengarkan radio dan televisi lokal yang memberitakan informasi dan
instruksi. Otoritas lokal akan menyediakan jalan keluar yang sesuai dengan
situasi terakhir.
• Memeriksa luka-luka. Memberi bantuan P3K untuk diri sendiri dan kemudian
membantu orang lain sampai mendapat bantuan.
• Membantu tetangga yang memerlukan bantuan khusus, bayi, orang jompo,
orang disabilitas dan orang lain yang membutuhkan bantuan.
• Melihat kemungkinan kerusakan di rumah. Bencana dapat menyebabkan
kerusakan yang besar karenanya kita harus berhati-hati.
• Menggunakan lampu senter atau lentera yang menggunakan baterai.
• Menghindari penggunaan lilin. Lilin dapat menyebabkan kebakaran.
• Memeriksa saluran listrik dan gas yang dapat mengakibatkan kebakaran.
• Memeriksa bagian bangunan yang dianggap rawan untuk segera dirobohkan.
• Mengambil gambar dari kerusakan untuk kebutuhan klaim asuransi.
• Hubungi anggota keluarga lain untuk pemberitahuan.

E. Sistem Informasi Penanggulangan Krisis Kesehatan Bencana Tsunami


Bencana alam tsunami menimbulkan krisis kesehatan antara lain lumpuhnya
pelayanan kesehatan, korban mati, korban luka, pengungsi, masalah gizi, masalah
ketersediaan air bersih, masalah sanitasi lingkungan,penyakit menular dan

25
stres/gangguan kejiwaan. Permasalahan yang dihadapi dalam penanganan krisis
kesehatan akibat bencana, antara lain:

1. Sistem informasi yang belum berjalan dengan baik


2. Mekanisme koordinasi belum berfungsi dengan baik
3. Mobilisasi bantuan dari luar lokasi bencana masih terhambat akibat masalah
transportasi
4. Sistem pembiayaan belum mendukung
5. Sistem kewaspadaan dini belum berjalan dengan baik
6. Keterbatasan logistic
Salah satu kunci keberhasilan dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana
adalah pengelolaan informasi dan komunikasi yang mudah dijangkau termasuk
ketersediaan data terkini yang cepat, tepat dan akurat. Hal ini dibutuhkan oleh semua
pemangku kepentingan(stakeholders) yang terkait untuk menetapkan keputusan dan
langkah-langkah dalam penanggulangan bencana baik dalam situasi sedang tidak terjadi
bencana (pra bencana), tanggap darurat (saat bencana) maupun pasca bencana (pasca
bencana). Untuk kegiatan pra bencana, sistem informasi yang terangkai dengan sistem
peringatan dini multi hazard berbasis masyarakat, penting peranannya dalam
mewujudkan pengurangan risiko bencana. Mengingat pentingnya informasi dan
komunikasi dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana, maka upaya
pemantapan dan pengembangannya merupakan suatu langkah yang perlu diwujudkan.
Salah satu pengaplikasiannya adalah dengan membentuk Pos informasi PK-AB yang
akan berfungsi sebagai koordinator dalam pengelolaan informasi dan komunikasi
penanggulangan krisis akibat bencana. Sebagai acuan bagi pembentukan dan
pengelolaan Pos Informasi Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana, baik yang
sudah ada maupun yang akan dibentuk, maka perlu disusun Pedoman Pos Informasi
Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana.
a. Pengorganisasian
Berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
145/Menkes/SK/I/2007 Tanggal 31 Januari 2007 Tentang Pedoman Penanggulangan
Bencana Bidang Kesehatan, Dinas kesehatan Provinsi dan Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota berkewajiban untuk mengembangkan sistem informasi dan
komunikasi. Upaya penyediaan data dan informasi penanggulangan krisis kesehatan
berpedoman pada Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
064/Menkes/SK/II/2006 tanggal 1 Pebruari 2006 Tentang Pedoman Sistem
Informasi Penanggulangan Krisis Akibat Bencana.

26
1. Kedudukan dan Alur Informasi Kedudukan
Pos Informasi adalah unit pelaksana fungsional di Dinas Kesehatan Provinsi
dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota yang dipimpin oleh seorang Koordinator
dan bertanggung jawab kepada Kepala Seksi yang menangani Penangggulangan
Krisis Kesehatan Akibat Bencana dan ditetapkan dengan Surat Keputusan
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota.
Pos Informasi di provinsi yang menjadi PPK Regional dan Sub Regional
sekaligus menjadi Pos Informasi Regional dan Pos Informasi Sub Regional.

27
2. Struktur, Tugas dan Fungsi
a. Struktur Pos Informasi

b. Tugas
Pos informasi mempunyai tugas melaksanakan pengumpulan data,
pengolahan data, penyajian data dan distribusi informasi.

Bagi Provinsi yang menjadi PPK Regional dan PPK Sub Regional wajib
mengelola data dan informasi dari Anggota Regional dan Anggota Sub
Regional.

 Koordinator Pos Informasi mempunyai tugas :

a. Penanggung jawab dalam pengoperasionalan Pos Informasi.


b. Penanggung jawab terhadap perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan
evaluasi kegiatan pengumpulan, pengolahan dan penyajian data dan
informasi dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dan
masalah kesehatan lain selama 24 jam.
 Pelaksana Pemantauan mempunyai tugas :
a. Melaksanakan pemantauan penanggulangan krisis dan masalah kesehatan
lain melalui media cetak,elektronik (televisi,radio,website dan internet) dan
komunikasi radio.
b. Melaksanakan pengumpulan data yang berhubungan dengan
penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana.
c. Melaksanakan penyusunan data pelaksanaan penanggulangan krisis
kesehatan akibat bencana untuk disampaikan kepada pimpinan.

28
d. Melaksanakan pendistribusian data penanggulangan krisis kesehatan
akibat bencana.
 Pelaksana Informasi mempunyai tugas :
a. Melaksanakan analisa data dan informasi yang berhubungan dengan
penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana.
b. Melaksanakan penyajian informasi yang berhubungan dengan
penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana melalui website,news
letter,GIS dan sebagainya.
 Pelaksana Komunikasi Radio mempunyai tugas :
a. Melaksanakan pencatatan komunikasi radio dalam penanggulangan krisis
kesehatan akibat bencana.
b. Melaksanakan pemeliharaan, perawatan peralatan radio komunikasi dalam
Penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana.
c. Fungsi
Pos informasi adalah sebagai pengelola data dan informasi penanggulangan
krisis kesehatan akibat bencana.
b. Tata Hubungan Kerja dan Mekanisme Kerja
1. Tata Hubungan Kerja
 Di Pos Informasi
Tata hubungan kerja di Pos Informasi yaitu :
a. Hubungan kerja antara Kepala Dinas Kesehatan Provinsi,
Kabupaten/Kota dengan Koordinator adalah koordinasi fungsional.
b. Hubungan kerja antara Koordinator dengan Pelaksana merupakan
hubungan teknis fungsional di bidang pengelolaan data
penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana.
c. Hubungan antar Pelaksana merupakan hubungan komunikatif,
konsultatif dan konfirmatif dibidang teknis pengelolaan data
penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana.
 Pos Informasi dengan Lintas Program
Tata hubungan kerja antara Pos Informasi dengan Penanggung Jawab
Program yang terkait dengan penanggulangan krisis kesehatan akibat
bencana merupakan hubungan koordinasi fungsional.
 Pos Informasi dengan Lintas Sektor
Tata hubungan kerja Pos Informasi yang berada di bawah kendali Dinas
Kesehatan Provinsi/Kabupaten/Kota dengan Badan Penanggulangan

29
Bencana Daerah pada saat pra bencana merupakan hubungan koordinatif
teknis fungsional dan pada saat bencana merupakan hubungan komando.

2. Mekanisme Kerja
Informasi yang dikumpulkan oleh Pos Informasi adalah informasi yang terkait
dengan bencana baik pada tahap pra bencana, tahap saat bencana maupun
tahap pasca bencana. Informasi tersebut dapat berasal dari lingkungan jajaran
kesehatan, lintas sektor, media dan masyarakat.

 Pra Bencana
Informasi yang dikumpulkan pada saat pra bencana adalah :

a. Informasi sumber daya baik tenaga, dana, sarana dan prasarana dalam
rangka penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana (Form
Kesiapsiagaan pada Pedoman Sistem Informasi Penangggulangan
Krisis Akibat Bencana). Informasi tersebut bersumber dari Puskesmas,
Rumah Sakit, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan Dinas Kesehatan
Provinsi.
b. Informasi dari lintas sektor terkait, misalnya meteorologi dan geofisika
dalam rangka penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana yang
disebabkan oleh fenomena cuaca dan iklim (prakiraan cuaca
harian/mingguan, prakiraan hujan bulanan dan prakiraan musim
hujan/kemarau) serta informasi gempa bumi dan tsunami yang
bersumber dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika.

c. Informasi nomor telepon, faksimili (kantor dan rumah) serta nomor


telepon genggam/mobile dari petugas yang telah ditunjuk untuk
bertanggung jawab dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat
bencana baik dari lintas program maupun lintas sektor untuk
membangun jaringan informasi dan komunikasi ( contact person).

Informasi tersebut bersumber dari Puskesmas, Rumah Sakit, Dinas


Kesehatan Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan Provinsi dan lintas sektor
yang terkait dalam penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana.

Berdasarkan informasi yang telah dikumpulkan tersebut kemudian


dilakukan pengolahan , dengan melakukan :

a. Penyusunan tabel bencana

30
b. Penyusunan peta daerah rawan krisis kesehatan akibat bencana.
c. Penyusunan buku profil penanggulangan krisis kesehatan akibat
bencana yang berisi informasi tentang sumber daya baik tenaga,
dana, sarana dan prasarana dalam rangka penanggulangan krisis dan
masalah kesehatan lain.
d. Penyusunan buku informasi penanggulangan krisis kesehatan akibat
bencana yang pernah terjadi.
e. Pembuatan website.
f. Pembuatan peta jalur evakuasi sarana kesehatan pada daerah rawan
bencana (ring 1, ring 2 dan ring 3)
Informasi yang telah diolah tersebut kemudian disebarluaskan dengan
memanfaatkan teknologi informasi untuk lebih memudahkan
penyampaian informasi ke seluruh pengguna yang membutuhkan
informasi secara cepat dengan biaya yang relatif murah.

 Saat Bencana
Informasi yang dikumpulkan pada saat bencana adalah :

a. Informasi awal penanggulangan krisis dan masalah kesehatan lain


(Form B1 dan B4 pada Pedoman Sistem Informasi Penanggulangan
Krisis Akibat Bencana).
b. Informasi perkembangan penanggulangan krisis dan masalah kesehatan
lain (Form B2 pada Pedoman Sistem Informasi Penanggulangan Krisis
Akibat Bencana).
Informasi tersebut bersumber dari Puskesmas, Rumah Sakit, Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan Provinsi, instansi terkait,
masyarakat, media cetak dan media elektronik. Berdasarkan informasi
yang telah dikumpulkan tersebut kemudian diolah, dengan melakukan :

a. Penyusunan laporan awal penanggulangan krisis kesehatan akibat


bencana.

b. Penyusunan laporan perkembangan penanggulangan krisis kesehatan


akibat bencana.

31
Sesuai dengan kebutuhan akan informasi, pemantauan dan pelaporan
penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat dilakukan sesering
mungkin. Semua data dan informasi yang didapatkan akan menjadi
landasan dalam pengambilan langkah dan strategi penanggulangan krisis
kesehatan akibat bencana. Pemantauan ini terus berlangsung hingga
penangulangan krisis kesehatan akibat bencana dapat ditangani terutama
pada masa tanggap darurat.

Informasi yang telah diolah tersebut kemudian disebarluaskan dengan


memanfaatkan teknologi informasi/elektronik untuk lebih memudahkan
penyampaian informasi ke seluruh pengguna yang membutuhkan
informasi secara cepat dengan biaya yang relatif murah dengan membuat
Media Center di Pos Informasi.

 Pasca Bencana
Informasi yang dikumpulkan pada saat pasca bencana adalah :
a. Informasi pemulihan/rehabilitasi dan pembangunan
kembali/rekonstruksi sarana/prasarana kesehatan yang mengalami
kerusakan.

b. Informasi upaya pelayanan kesehatan (pencegahan KLB,


pemberantasan penyakit menular, perbaikan gizi), kegiatan surveilans
epidemiologi, promosi kesehatan dan penyelenggaraan kesehatan
lingkungan dan sanitasi dasar di tempat penampungan pengungsi
maupun lokasi sekitarnya yang terkena dampak.
c. Informasi relawan, kader dan petugas pemerintah yang memberikan
KIE kepada masyarakat luas, bimbingan pada kelompok yang
berpotensi mengalami gangguan stress pasca trauma dan memberikan
konseling pada individu yang berpotensi mengalami gangguan stress
pasca trauma.
d. Informasi pelayanan kesehatan rujukan dan penunjang.
e. Informasi rujukan korban yang tidak dapat ditangani dengan konseling
awal dan membutuhkan konseling lanjut, psikoterapi atau penanggulangan
lebih spesifik.
Informasi tersebut bersumber dari Puskesmas, Rumah Sakit, Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota, Dinas Kesehatan Provinsi dan lintas sektor.

32
Berdasarkan informasi yang telah dikumpulkan tersebut kemudian diolah,
dengan melakukan :

a. Penyusunan informasi dengan program terkait dalam rangka upaya


pemulihan/rehabilitasi dan pembangunan kembali/rekonstruksi
sarana/prasarana kesehatan yang mengalami kerusakan.

b. Penyusunan informasi dengan program terkait dalam upaya pelayanan


kesehatan (pencegahan KLB, pemberantasan penyakit menular,
perbaikan gizi), kegiatan surveilans epidemiologi, promosi kesehatan
dan penyelenggaraan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar di
tempat penampungan pengungsi maupun lokasi sekitarnya yang
terkena dampak.

c. Penyusunan informasi dengan program terkait tentang upaya relawan,


kader dan petugas pemerintah yang memberikan KIE kepada
masyarakat luas, bimbingan pada kelompok yang berpotensi
mengalami gangguan stress pasca trauma dan memberikan konseling
pada individu yang berpotensi mengalami gangguan stress pasca
trauma.

d. Penyusunan informasi dengan program terkait dalam rangka upaya


pelayanan kesehatan rujukan dan penunjang.

e. Penyusunan informasi dengan program terkait dalam rangka upaya


rujukan korban yang tidak dapat ditangani dengan konseling awal dan
membutuhkan konseling lanjut, psikoterapi atau penanggulangan
lebih spesifik.

Informasi yang telah diolah tersebut kemudian disebarluaskan dengan


memanfaatkan teknologi informasi untuk lebih memudahkan
penyampaian informasi ke seluruh pengguna yang membutuhkan
informasi secara cepat dengan biaya yang relatif murah.

Bagan mekanisme pelaksanaan pos informasi dapat dilihat sebagai


berikut:

33
34
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
• Bencana alam tsunami adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam yang tidak dapat dihindari
diantaranya berupa gelombang laut yang besar di pelabuhan dengan periode
panjang yang ditimbulkan gangguan impulsif yang terjadi pada medium laut.
Gangguan impulsif itu bias berupa gempa bumi tektonik di laut, erupsi vulkanik
(meletusnya gunung api) di laut, longsoran di laut, atau jatuhnya meteor di
laut.yang dapat mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan,
kerugian harta benda, dan dampak psikologis.
• Wilayah Indonesia merupakah wilayah yang rawan bencana tsunami sehingga
perlu Tsunami dapat terjadi setiap saat, pada pagi, siang, sore maupun malam
hari. Oleh karena itu perlu kesiapsiagaan bagi seluruh warga yang bertempat
tinggal pada daerah yang berisiko terhadap tsunami seperti kawasan pesisir
pantai. Sehingga mereka harus mengetahui apa yang harus dilakukan sebelum,
saat, dan setelah tsunami agar risiko bencana alam tsunami dapat diminimalisir.
• Manajemen penanggulangan bencana alam tsunami terdiri dari pra-bencana,saat
bencana, dan pasca bencana.
• Manajemen Pra bencana dilakukan untuk mengurangi resiko terhadap bahaya
atau ancaman bencana tsunami berupa pencegahan dan mitigasi serta
kesiapsiagaan.
• Manajemen Saat bencana atau tanggap darurat merupakan upaya yang dilakukan
segera pada saat kejadian bencana, untuk menanggulangi dampak yang
ditimbulkan, terutama berupa penyelamatan korban dan harta benda, evakuasi
dan pengungsian.
• Manajemen Pasca bencana atau pemulihan dibagi menjadi upaya rehabilitasi dan
upaya rekonstruksi. Rehabilitasi adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek
pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah
pasca bencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara
wajar. Sedangkan, rekonstruksi adalah pembangunan kembali semua prasarana
dan sarana, kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat
pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan
berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan

35
ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan
bermasyarakat pada wilayah pasca bencana.
• Pembentukan Pos Informasi Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat
Bencana di seluruh PPK Regional/Sub Regional yang berkualitas, akan lebih
melancarkan arus informasi secara cepat, tepat dan akurat mulai dari
pengumpulan, pengolahan, dan penyajian data, sehingga pengambilan
keputusan dalam penanggulangan bencana dapat berjalan secara efisien dan
efektif. Dan tentu saja ini erat kaitannya untuk mewujudkan kegiatan
pengurangan risiko bencana.

B. Saran
Semua orang mempunyai risiko terhadap potensi bencana, sehingga penanganan
bencana merupakan urusan semua pihak (everybody’s business). Oleh sebab itu, perlu
dilakukan berbagi peran dan tanggung jawab (shared responsibility) dalam peningkatan
kesiapsiagaan di semua tingkatan, baik anak, remaja, dan dewasa untuk meningkatkan
kekuatan dan potensi yang dimiliki oleh perorangan, keluarga dan masyarakat yang
membuat mereka mampu mencegah, mengurangi, siap-siaga, menanggapi dengan cepat
atau segera pulih dari suatu kedaruratan dan bencana Seperti yang telah dilakukan di
Jepang, untuk menumbuhkan kesadaran kesiapsiagaan bencana.

(Nasional and Bencana, 2008)(Nugroho and Si, 2016)(Purnama, 2017)(Triyono, 2017)

36
DAFTAR PUSTAKA

Dudley, W. C. and Lee, M. (1988) Tsunami! University of Hawaii Press.

Krisis, P. P., Kesehatan, D. and Indonesia, R. (2009) ‘Penanggulangan krisis kesehatan akibat bencana
di indonesia’, (Februari).

Nasional, B. and Bencana, P. (2008) ‘Pedoman penyusunan rencana penanggulangan bencana’.

Nugroho, S. P. and Si, M. (2016) ‘Manajemen Bencana di Indonesia’.

Purnama, S. G. (2017) ‘Modul manajemen bencana’, pp. 1–89.

Triyono, T. (2017) ‘Pedoman Kesiapsiagaan Menghadapi Gempa Bumi dan Tsunami’, (December).

37
1