Anda di halaman 1dari 4

Finding Home For Christian Youth Today:i

Peran Gereja Bagi Pemuda

Linna Gunawanii

Kejutan, Kejutan!

Satu dua tahun belakangan ini saya terkejut dengan sejumlah data tentang
kehidupan gereja di Amerika. Diana Butler Bass dalam artikelnya pada Huffington
Post yang berjudul “The End of Church” menyebutkan penurunan anggota gereja
besar-besaran terjadi pada hampir seluruh gereja di Amerika. Bukan hanya gereja
Katolik, Protestan mainline, tetapi juga gereja-gereja evangelikal. Memang ada
beberapa gereja yang tetap hidup dan memiliki pertumbuhan anggota yang besar,
namun secara umum gereja mengalami penurunan. Oleh karena itu Bass menyebut
masa sekarang sebagai masa kematian Gereja (Bass 2012).iii
Kejutan berikutnya saya terima dari hasil penelitian Barna Group, perusahaan
survei religiositas di Amerika, tentang orang Kristen muda yang meninggalkan
gereja. Dalam survei tersebut, Barna Group menyebutkan 59% kaum muda
meninggalkan atau “drop out” dari gereja. David Kinnaman, yang mengangkat hasil
survei Barna menjadi sebuah buku berjudul You Lost Me, menyebutkan berbagai
alasan mengapa kaum muda pergi dari gereja, salah satunya adalah gereja
“menyesatkan” mereka. Gereja membuat mereka bingung dan tidak mampu
memberikan jawaban yang cukup bagi pertanyaan-pertanyaan kaum muda seputar
iman, Tuhan dan hidup (Kinnaman 2012).
Kinnaman memberi nama generasi muda yang banyak meninggalkan gereja
dengan nama generasi mozaik. Generasi mozaik adalah kelompok usia 18 – 29
tahun. Kinnaman mengategorikan kaum muda yang “drop out” dalam tiga kelompok
(Kinnaman 2012, 26):
 Nomad (pengelana): tidak terlibat dalam gereja tapi masih menganggap diri
mereka orang Kristen.
 Prodigals (anak yang hilang): kehilangan iman, menggambarkan diri
mereka bukan orang Kristen.
 Exiles (orang buangan): iman Kristen masih tertanam diri hanya mereka
merasa terjebak di antara gereja dan iman.
Bagaimana dengan Indonesia? Apakah berita mengejutkan ini terjadi pula di
Indonesia? Sayangnya Indonesia tidak mempunyai data seperti ini karena belum
pernah gereja atau lembaga agama mengadakan survei sejenis. Namun pertanyaan
reflektif: apakah gereja kita juga telah ditinggalkan oleh kaum muda? Apakah gereja-
gereja di Indonesia mengalami penurunan anggota gereja secara besar-besaran,
atau sedikit demi sedikit namun kemudian menjadi besar?

Generasi Muda Masa Kini

Majalah Time edisi 20 Mei 2013 mengupas tentang generasi muda yang
disebut sebagai “the me me me generation.” Sebutan ini mau menunjukkan bahwa
generasi muda saat ini lebih egois, lebih individualitik dibandingkan generasi
sebelumnya. Ada banyak sebutan terhadap generasi muda, antara lain generasi
milenial, generasi Y maupun generasi tech. Sebutan-sebutan itu tentu saja terkait
dengan situasi kaum muda ketika dilahirkan mereka dilahirkan sudah sangat akrab
dengan teknologi, sebagai awal munculnya milenium baru. Mereka adalah orang-
orang yang lahir pada era tahun 1980 sampai tahun 2000.
Generasi milenial muncul pada saat teknologi internet mulai dikenal. Email,
telefon genggam, sosial media, televisi, musik, video menjadi teman generasi ini.
Situasi membuat informasi menjadi mudah untuk diakses. Hal ini menyebabkan
generasi milenial menjadi generasi yang terbuka dengan dunia luar. Mereka dengan
mudah mendapatkan informasi yang mereka butuhkan termasuk dalam urusan
agama, iman, maupun spiritualitas. Kalau dulu orang mendatangi gereja (dhi.
pendeta atau penatua) untuk bertanya soal-soal keimanan, sekarang mereka
dengan mudah mencari jawabannya dari internet.
Kedekatan kaum muda dengan teknologi menjadikan mereka sebagai
generasi yang terbuka. Internet membuat mereka mudah untuk melihat dunia luar,
bahkan dunia yang jauh dari tempat mereka tinggal. Sosial media membuat mereka
terhubung dengan orang-orang dari belahan dunia lainnya, sehingga pertemanan
mereka tidak lagi dibatasi oleh wilayah tempat tinggal. Hubungan seperti ini
membuat generasi milenial sangat terbuka terhadap siapa saja. Mereka bisa
menerima perbedaan apapun, yang penting bagi mereka, teman adalah seseorang
yang bisa menerima mereka apa adanya, memberikan kenyamanan, dan mengerti
mereka (Rainer 2011, 19-20). Apapun latar belakang agama, prinsip hidup, dll., tidak
jadi persoalan selama mereka saling terhubung satu sama lain.
Keterbukaan informasi membuat kebenaran menjadi relatif, tergantung
pilihan-pilihan yang kita lakukan. Inilah pula yang dianut oleh kaum muda saat ini.
Ketergantungan mereka pada relasi yang kuat menyebabkan ukuran kebenaran dan
pilihan yang mereka buat tergantung pada pendapat teman-teman mereka. Karena
itu generasi milenial dikenal sebagai generasi yang kuat di dalam kerja tim. Mereka
menjadi sangat berdayaguna ketika ada bersama dengan tim.iv
Generasi muda muncul sebagai generasi yang percaya diri. Hal ini
disebabkan karena mereka tumbuh dalam kalimat-kalimat motivasi seperti “Kamu
pasti bisa!” “Tidak ada yang mustahil!” Ajang pencarian bakat yang menjadikan
orang cepat popular, seperti Indonesian Idol, menjadikan mereka terobsesi ingin
menjadi orang terkenal, yang memiliki harta berlimpah, asisten pribadi, rumah
mewah, dan bisa memenuhi gaya hidup mereka. Time menyebut gaya hidup seperti
ini sebagai narcissistic personality (Stein 2013).
Kemudahan mendapatkan informasi bahkan kebutuhan-kebutuhan hidup
memberi pengaruh pada kaum muda masa kini. Mereka memiliki mentalitas instan,
hidup mudah, santai, nyaman dan bahagia. Mereka rentan terhadap tekanan,
sekalipun mereka adalah kaum muda yang kreatif. Karena itu pula mereka menjadi
generasi muda yang hidup “untuk hari ini,” sulit diajak untuk berpikir jauh ke depan.
Mereka sangat pragmatis (McCrindle 2008)
Kemudahan melihat dunia luar dan keadaan sosial-ekonomi-politik yang
buruk melahirkan generasi muda yang peka dan peduli dengan lingkungan. Mereka
senang dengan kegiatan-kegiatan sosial tanpa perlu terikat pada satu organisasi
tertentu (Rainer 2011). Selain itu situasi politik yang buruk membuat mereka enggan
terlibat dalam urusan politik, bahkan cenderung menghindar.
Keengganan mereka terhadap lembaga agama muncul karena berbagai
sebab. Keteladanan dalam iman maupun spiritulitas yang berkurang dari para tokoh
agama maupun orangtua menyebabkan mereka agak menarik diri dari agama.
Belum lagi beberapa peristiwa kekerasan kemanusiaan menggunakan agama
sebagai dasarnya menjadikan mereka muak dengan agama. Karena itu pada era
mereka muncul gejala yang disebut “spiritual but not religious” atau “spiritual and
religious.”

Menemukan Rumah Bagi Kamu Muda Kristen

Pada suatu pertemuan gereja, saya terlibat dalam diskusi dengan para
pengurus gereja yang gelisah dengan kurangnya kehadiran kaum muda dalam
kegiatan-kegiatan gereja selain kebaktian hari Minggu. Para pengurus gereja
mengeluhkan keadaan ini dan bertanya mengapa hal ini bisa terjadi.
Kenda Creasy Dean, pakar pelayanan kaum muda, mengatakan bahwa sejak
lama gereja “mengeluarkan” kaum mudanya dari gereja. Hal inilah yang
menyebabkan mengapa gereja akhirnya sekarang ini sulit untuk menemukan kaum
muda ada di dalam gereja. Sekalipun gereja mengadakan kegiatan-kegiatan untuk
kaum muda, tetapi gereja tidak pernah membiarkan kaum muda terlibat dalam
kehidupan gereja. Dean menyebut situasi ini sebagai model “The one-ear Mickey
Mouse” (Dean 1998).

Oleh karena itu Dean mengusulkan agar model pendekatan bagi pelayanan
kaum muda adalah “the mutant Mickey”

Gereja

Dean mengajak gereja untuk memberi tempat bagi kaum muda terlibat dan menjadi
bagian dari gereja dalam segala hal. Kaum muda dengan segala potensinya bisa
terlibat dalam berbagai kehidupan gereja, dalam ibadah, pengambilan keputusan,
memperhatikan kehidupan gereja, dll. (Dean 1998).
Dalam hal spiritualitas, kaum muda menyukai segala hal yang berbau
pencarian makna hidup dan hubungannya dengan Tuhan. Karena itu isi pembinaan
spiritualitas bagi kaum muda, tidak cukup hanya satu model spiritualitas, seperti doa
dan baca Alkitab saja. Ada begitu banyak model spiritualitas yang perlu
dikembangkan seperti refleksi, kepedulian sosial, menggunakan talenta, dll. Isi dari
pembinaan tersebut pun harus sesuai dengan kebutuhan kaum muda yang tidak
terlepas dari budaya yang membentuknya.
Salah satu kebutuhan kaum muda dalam spiritualitas adalah pembimbing
yang bukan menjadi petunjuk jalan, tetapi para pembimbing yang mau berjalan
bersama mereka dalam perjalanan iman mereka. Richard R. Dunn menyebut
pembimbing yang mau belajar menyentuh hati kaum muda, memahami mereka dan
menerima mereka apa adanya bukan pembimbing yang menghakimi mereka
dengan ayat-ayat Alkitab (Dunn 2001). Inilah komunitas yang kaum muda perlukan
dalam gereja: komunitas cinta kasih Allah.

Kayu Putih, 5 September 2013

Bibliography
Bass, Diana Butler. Christianity After Religion. New York: HarperCollins, 2012.

—. The End of Church. February 18, 2012. http://www.huffingtonpost.com/diana-butler-bass/the-


end-of-church_b_1284954.html (accessed February 18, 2012).

Dean, Kenda Creasy & Foster, Ron. The Godbearing Life. Nashville: Upper Room, 1998.

Dunn, Richard S. Shaping the Spiritual Life of Students. Illinois: InterVarsity Press, 2001.

Kinnaman, David. You Lost Me: Mengapa Orang Kristen Muda Meninggalkan Gereja dan Memikirkan
Ulang tentang Iman Mereka. Bandung: PT. Visi Anugerah Indonesia, 2012.

McCrindle, Mark. The Australian Leadership Foundation. 2008. http://ec-


web.elthamcollege.vic.edu.au/principal/pdf/Understanding%20Generation%20Y.pdf
(accessed Januari 15, 2010).

Rainer, Thom S. & Rainer, Jess W. The Milennials. Nashville: B&H Publishing Group, 2011.

Stein, Joel. "The New Greatest Generation: Why Millennials will save us all." Time Magazine (Time
Magazine ), 2013: 27-34.

i
Makalah ini saya persiapan untuk acara Sharing dan Dialog Teologi Pemuda Gereja dengan tema:
“Gereja dan Tantangan di Masa Kini dan Implikasinya pada pelayanan Gereja di Masa Depan” yang
diselenggarakan oleh PGI-PKN pada tanggal 5 September 2013 di Pondok Remaja, Cipayung.
ii
Pendeta jemaat GKI Kayu Putih sejak 1998. Pengajar di STT Jakarta untuk bidang studi homiletika.
Studi terakhir mendalami Pelayanan Kaum Muda (Youth Ministry) dan Pendidikan Religiositas
Kristiani.
iii
Bass menjelaskan dalam bukunya bahwa banyak orang yang bosan dengan lembaga agama,
termasuk gereja. Mereka bosan dengan bentuk gereja apapun juga (church-as-usual; church-as-club;
church-as-entertainment atau church-as-work) dan meninggalkan gereja (Bass, Christianity After
Religion 2012, 17).
iv
Menyadari munculnya generasi milenial ini, banyak perusahaan sekarang ini mengubah gaya
kerjanya. Para perusahaan umumnya memberikan tugas-tugas kepada karyawan dari generasi ini
dengan cara memberikan proyek-proyek yang dikerjakan dalam satu tim kerja.